Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Penyusunan makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Unit
Operasi.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini, mulai dari Dosen Unit Operasi Ibu Budhi Primasari serta
segala pihak yang turut bepartisipasi.

Kami berharap sebagai penulis makalah ini bisa kami jadikan sebagai sarana untuk kami
menambah wawasan dan tentunya kami berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi
pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
dengan segala kerendahan hati, kami menerima kritik dan saran agar penyusunan
makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima
kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Padang, 13 September 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. 1


DAFTAR ISI................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 3
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 3
1.2 Tujuan........................................................................................... 3
1.3 Rumusan Masalah ........................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 5
2.1 Umum........................................................................................... 5
2.2 Proses yang Terjadi Saat Pengadukan dalam Pengolahan Air
Minum.......................................................................................... 5
2.3 Pengadukan Hidrolis..................................................................... 7
2.4 Pengadukan Mekanis.................................................................... 9
2.5 Pengadukan Pneumatis................................................................. 18
BAB III PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Contoh dan Pembahasan............................................................... 19
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan................................................................................... 23
4.2 Saran............................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 24

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Unit operasi merupakan tahapan dasar dalam suatu proses. Unit operasi tidak
hanya mengubah suatu zat seperti reaksi di dalam reaktor kimia namun juga
terjadi perubahan fisik maupun fasa seperti pemisahan, kristalisasi, penguapan,
filtrasi dan beberapa contoh lainnya. Salah satu unit proses dalam pengolahan air
minum adalah proses mixing. Pengadukan (mixing) merupakan suatu aktivitas
operasi pencampuran dua atau lebih zat agar diperoleh hasil campuran yang
homogen. Pada media fase cair, pengadukan ditujukan untuk memperoleh
keadaan yang turbulen (bergolak).

Pengadukan dapat diaplikasikan pada bidang teknologi lingkungan untuk proses


fisika seperti pelarutan bahan kimia dan proses pengentalan (thickening), proses
kimiawi seperti koagulasi-flokulasi dan disinfeksi, proses biologis untuk
mencampur bakteri dan air limbah. Mixing mempunyai aplikasi yang luas di
dalam proses pengolahan di bidang teknologi lingkungan seperti dalam proses
fisika yaitu untuk pelarutan bahan kimia dan proses pengentalan (thickening),
dalam proses kimia yaitu koagulasi–flokulasi dan desinfeksi, proses biologis
untuk mencampur bakteri dan air limbah.

Koagulasi merupakan proses destabilisasi koloid dan partikel dalam air dengan
menggunakan bahan kimia (disebut koagulan) yang menyebabkan pembentukan
inti gumpalan (presipitat). Flokulasi adalah proses penggabungan inti flok
sehingga menjadi flok berukuran lebih besar. Proses koagulasi & flokulasi hanya
dapat berlangsung bila ada pengadukan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:


1. Memenuhi tugas mata kuliah Unit Operasi;
2. Mengetahui hakikat dari mixing;
3. Mengetahui proses yang terjadi dalam pengadukan (mixing);
4. Mengetahui jenis-jenis dari alat pengaduk.
1.3 Rumusan Masalah

3
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan proses mixing?
2. Bagaimana proses yang terjadi dalam mixing?
3. Apa saja alat-alat yang digunakan dalam proses pengadukan?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

4
2.1 Umum
Pengadukan atau mixing sangat penting dalam proses pengolahan air minum
maupun air buangan, karena menyangkut pada perataan konsentrasi kandungan
dalam air olahan dan percepatan kontak antar zat yang dimaksudkan untuk
membentuk reaksi kimia maupun biokimia. Pencampuran dibedakan atas dua:
mixing, merupakan suatu operasi yang dimaksudkan untuk mencampur dua atau
lebih materi hingga mencapai tingkat keseragaman yang diinginkan biasanya
digunakan untuk proses koagulasi. Sedangkan agitasi dimaksudkan untuk
memperoleh turbulensi didalam cairan. Agitasi ditujukan untuk pertumbuhan flok
yang biasa disebut flokulasi. Pengadukan dapat dilakukan dengan tiga cara:
pertama, memanfaatkan pengadukan alami dengan terjunan air, putaran aliran
melewati baffle vertikal maupun horizontal. Hal ini dikenal dengan pengadukan
hidrolis. Kedua dengan cara mekanis, menggunakan alat-alat pembantu berupa
pedal yang digerakan dengan motor. Ketiga dengan pneumatis, meniupkan
gelembung udara ke dalam cairan hingga akan menyebabkan turbulensi aliran
(Abuzar,2005).

Pengadukan dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan pengadukan dan metoda


pengadukan. Berdasarkan kecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi
pengadukan cepat dan pengadukan lambat. Berdasarkan metodanya, pengadukan
dibedakan menjadi pengadukan mekanis, pengadukan hidrolis, dan pengadukan
pneumatis (Kurniawan,2011).

2.2 Proses yang Terjadi Saat Pengadukan dalam Pengolahan Air Minum

Pengadukan bertujuan untuk memberikan kesempatan kontak antara zat


penggumpal/koagulan (biasanya digunakan Aluminium Sulfat, Al2(SO4)3) dengan
partikel yang bersifat koloid atau flokulen yang tersuspensi dalam air olahan,
Proses ini disebut dengan koagulasi. Kontak tersebut diharapkan akan membentuk
flok yang akan mengendap akibat gaya beratnya sendiri, proses ini dikenal dengan
flokulasi. Kecepatan suatu partikel berbentuk sferik atau mendekati sferik akan
meningkat sejalan dengan peningkatan ukuran partikel. Karenanya stabilitas
suspensi yang menyebabkan tumbukan antara partikel tersuspensi yang terjadi
akan menghasilkan sedimentasi. Pada gambar 2.1 terlihat bahwa dengan

5
menganggap partikel-partikel berukuran DP1 dan DP2, tersuspensi di dalam suatu
cairan dengan kondisi aliran adalah viskos (Rich,1961).

Gambar 2.1 Sketsa Definisi dari Kemungkinan Kontak dalam Flokulasi

Agar terjadi kontak, titik tengah kedua partikel harus ada dalam jarak ½ (D P1 +
DP2) antara satu sama lainnya. Konsekuensinya, jumlah partikel berdiameter DP2
yang akan kontak dengan partikel berdiameter DP1 per satuan waktu adalah sama
dengan jumlah parttikel kedua N2 per satuan volume cairan yang mengalir melalui
radius sferik ½ (DP1 + DP2) dalam satuan waktu. Untuk suatu gradien kecepatan
ttitik du/dy, volume cairan yang mengalir secara laminer melalui ketebalan dx
dalam satuan waktu adalah :
 du 
dq   x 
 2 r 2  x 2  dx
 dy 
0, 5
 .................................................................(2.1)
aliran total melalui sferik akan :

 xdx
r
q  2
du
dy
2 r 2  x2  0 ,5

1 du
q  D P1  D P 2  3 ..........................................................................(2.2)
6 dy

Dengan demikian jumlah kontak yang dibuat oleh partikel-partikel N 2 berdiameter


DP2 dengan partikel-partikel berdiameter DP1 adalah:
1 du
N'  N2  D P1  D P 2  3 ...................................................................(2.3)
6 dy

Untuk partikel-partikel N1 persatuan volume diameter DP1, jumlah total persatuan


waktu adalah :

6
1 du
N "  N 1  D
6 dy

...............................................................................................................(2.4)
Dan dalam sistem keseluruhan:
1 du
N "  N 1 N 2
6 dy

...............................................................................................................(2.5)
dengan: du/dy = G = gradien kecepatan rata-rata di dalam sistem.
Menurut persamaan (2.5), laju flokulasi berbanding langsung terhadap gradien
kecepatan rata-rata yang terjadi di dalam sistem. Laju mencapai nilai tertinggi
untuk konsentrasi tinggi dan partikel-partikel berukuran besar.

2.3 Pengadukan Hidrolis


Pengadukan alami lebih mudah dalam hal operasional dan biaya, namun biasanya
membutuhkan lahan lebih luas. Pengadukan hidrolis dapat dilakukan dengan 3
cara:
2.3.1 Terjunan Air

h
Gambar 2.2 Profil Hidrolis
Terjunan Air

7
2.3.2 Aliran dalam pipa

d v

Gambar 2.3 Profil Aliran Dalam Pipa

L.v 2
h f ..........................................................................................(2.6)
D.2 g

2.3.3 Saluran terbuka berbentuk baffle

VL

VB

Gambar 2.4 Profil Aliran Dalam Saluran Terbuka Berbentuk Baffle

2 2 2 2
vL v n .v .L.
hn  (n  1) B  m 4 L 3 .....................................................(2.6)
2g 2g R

Dimana : L = Panjang saluran total = Σ l nm = koefisien manning

N = Jumlah saluran R = Jari-jari Hidrolis

VL = Kecepatan saluran lurus

VB = Kecepatan slauran belok

Sedangkan power yang dihasilkan akibat gerakan aliran tersebut :

P   .h..Q ..........................................................................................(2.7)

8
Sehingga gradien kecepatan pengadukannya:

P  .h.Q  .h. ...................................................(2.8)


G .  .  .
 .V  .V  .t d

Dimana : ρ = Berat jenis air

μ = Viskositas absolut air

V = Volume bak atau kapasitas air yang diolah

Q = Debit aliran air olahan

td = Waktu detensi

Gradien kecepatan untuk koagulasi (pengadukan cepat) berkisar antara 200-


1200/dt dan waktu detensinya 90-120 dt, sedangkan untuk proses flokulasi
(pengadukan lambat) berkisar antara 10-900/dt dan waktu detensinya 600-1200 dt.

2.4 Pengadukan Mekanis

2.4.1 Tipe Mekanis yang digunakan

Pemilihan pengaduk yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam
menghasilkan proses dan pencampuran yang efektif. Pengaduk jenis baling-baling
(propeller) dengan aliran aksial dan pengaduk jenis turbin dengan aliran radial
menjadi pilihan yang lazim dalam pengadukan dan pencampuran. Banyak type
mekanis yang dapat digunakan dalam operasi mixing dan agitasi ini, diantaranya
(Reynold,1982):

1. Paddle
Impeller paddle bervariasi dalam desain. Dari paddle tunggal dan datar pada shaft
vertikal sampai flokulator banyak blade yang dipasang pada shaft horizontal yang
panjang seperti terlihat pada gambar 2.5 berikut ini.

9
Gambar 2.5 Impeller Paddle Shaft Horizontal

Paddle dapat berjalan pada kecepatan rendah sampai sedang (2 sampai 150 rpm)
dan terutama digunakan sebagai agitator untuk melarutkan suspensi atau sebagai
pencampur pada aplikasi viskositas tinggi. Arus utama yang diperoleh merupakan
radial dan tangensial terhadap rotating paddle.

2. Turbine
Turbine impeller merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai macam bentuk
impeller. Yang banyak digunakan adalah turbine impeller jenis yang terlihat pada
gambar 2.6. Jenis ini terdiri dari beberapa blade lurus yang terpasang vertikal
pada suatu piringan datar. Rotasi berlangsung pada kecepatan sedang dan aliran
fluida terbentuk pada arah radial dan tangensial.

Gambar 2.6.1. Pengaduk Turbin pada bagian variasi.

10
Gambar 2.6.2 Turbine Impeller

3. Propeller
Impeler tipe marine propeller merupakan yang berukuran kecil namun
berkecepatan tinggi (400 rpm untuk propeller beerdiameter besar sampai 175 rpm
untuk yang berdiameter kecil) dan digunakan secara luas dalam aplikasi viskositas
rendah. Impeller ini mempunyai laju pemindahan aliran tinggi dan menghasilkan
arus kuat pada arah aksial.

Gambar 2.7 Propeller

4.PengadukHelical-Ribbon
Jenis pengaduk ini digunakan pada larutan pada kekentalan yang tinggi dan
beroperasi pada rpm yang rendah pada bagian laminer. Ribbon (bentuk seperti
pita) dibentuk dalam sebuah bagian helical (bentuknya seperti baling-balling

11
helicopter dan ditempelkan ke pusat sumbu pengaduk). Cairan bergerak dalam
sebuah bagian aliran berliku-liku pada bagiam bawah dan naik ke bagian atas
pengaduk .

Gambar 2.8. Pengaduk Jenis (a), (b) & (c) Hellical-Ribbon, (d) Semi-Spiral

Dalam operasi pengadukan dengan mekanis beberapa hal yang perlu


diperhitungkan diantaranya (Reynold,1982):

1. Baffling
Komponen aliran tangensial yang diinduksi oleh rotating impeller memberikan
pergerakan rotasi yang lebih dikenal dengan vorteks disekitar tiang impeller.
Vorteks menghalangi operasi pengadukan dengan cara mengurangi kecepatan
impeller relatif terhadap cairan. Sehingga lebih lanjutnya konsumsi daya yang
dibutuhkan menjadi lebih sulit dihitung. Karenanya vorteks dapat dikurangi
dengan baffling yang tepat. Pembatas vertikal ditempatkan sepanjang dinding
tangki untuk memecah pergerakan rotasi dengan mengalihkan cairan kembali
terhadap tiang impeller. Untuk operasi turbin impeller, kelebaran baffle harus
lebih kecil 1/10 sampai 1/12 diameter tangki.sedangkan pada operasi propeller,
lebar yang lebih kecil dapat digunakan.

2. Fluid Regime
Rotating impeller terjadi di dalam suatu pola aliran massa fluida yang terbentuk
tidak hanya akibat bentuk, ukuran dan kecepatan impeller tetapi juga karena
karakteristik kontainer fluida dan adanya baffling. Jika aliran bersifat viskos, tidak
ada mixing yang terjadi di dalam akibat difusi. Namun jika aliran turbulen,
partikel fluid bergerak dalam semua arah dan pengadukan terjadi terutama akibat
dari penempatan konveksi. Transfer moment yang berhubungan dengan
penempatan ini menghasilkan tegangan geser yang kuat di dalam fluida. Biasanya
aliran massa dan turbulensi atau hasilnya berupa tegangan fluida penting dalam

12
operasi pengadukan. Kebanyakan turbulensi dihasilkan dari adanya kontak antara
aliran fluida berkecepatan tinggi dengan yang berkecepatan rendah. Aliran
sepanjang sisi kontainer, blade impeller dan sepanjang baffle memberikan
turbulensi dalam tingkat yang lebih rendah.

3. Kurva Daya
Fluida regime yang terjadi akibat rotating impeller, sehingga gaya-gaya mayor
yang terjadi dalam fluida adalah:

 Gaya inersia yang ditandai dengan Power Number


P.g c
NP  ..................................................................................(2.12)
 .n 3 .D 5

 Gaya viskos yang digambarkan dalam Bilangan Reynold


n.D 2 .
N Re  ..................................................................................(2.13)

 Gaya gravitasi yang dideskripsikan dengan Bilangan Froude


D.n 2
N Fr  ......................................................................................(2.14)
g

Dimana: gc = faktor konversi hukum newton, 32,17 ft.lb


massa/dt2.lb.massa

Hubungan yang dapat disimpulkan dari ketiga gaya tersebut adalah :

p q
N P  K .N Re .N Fr ...................................................................................(2.15)

Dimana:
K = konstanta
p, q = Eksponen
nilai K,p dan q tergantung situasi pengadukan.

Gaya gravitasi yang digambarkan dalam bilangan Froude menjadi efektif hanya
jika aliran turbulen dan oleh karenanya jika vorteks terbentuk disekitar impeller.
Plotting logaritmik persamaan (2.15) untuk impeller tertentu diperlihatkan pada
gambar 2.8 berikut. Disini bilangan Reynold diplotkan terhadap fungsi daya:

13
Gambar 2.8 Karakteristik Daya Mixing Impeller

Untuk kontainer baffle tanpa vorteks:


P.g c
  NP  .....................................................................................(2.16)
 .n 3 .D 5

Kurva ABCD menggambarkan hubungan fungsi daya dan bilangan Reynold Jika
vorteks tidak terbentuk. Dan jika vorteks terbentuk:

q
NP P.g c  D.n 2 
    ..................................................................(2.17)
N Fr
q
 .n 3 .D 5  g 

Kurva ABE memberikan hubungan jika terjadi vorteks.

Pada bilangan reynold rendah, kedua kurva bertemu, menunjukkan eksponen q


sama dengan nol dan :

p
  N P  K .N Re .......................................................................................(2.18)

Berlaku untuk kedua kurva diatas.

Sampai pada bilangan reynold 10, kemiringan kurva daya mendekati sama dengan
–1. Substitusi nilai ini untuk p pada persamaan (2.18)
P.g c   
NP   K  2  ..................................................................(2.19)
 .n .D
3 5
 D. .n. 

14
K
P . .n 2 .D 3 ........................................................................................(2.20)
gc

Jika kondisi turbulen sepenuhnya terjadi di dalam kontainer dimana vorteks


dihilangkan (dari C ke D pada kurva ABCD) nilai eksponen p adalah nol.

  N P  K .................................................................................................(2.21)
K
P . .n 3 .D 5 ........................................................................................(2.22)
gc

Dalam sistem diatas, turbulensi terjadi pada bilangan reynold = 100.000.

Bagian kurva ABE yang terjadi pada daerah aliran turbulen adalah irregular.
Konsekuensinya, tidak ada persamaan yang dapat dibuat untuk input daya jika
aliran turbulen dan adanya pembentukkan vorteks. Nilai konstanta K tergantung
pada bentuk, ukuran impeller serta jumlah baffle dan variabel lainnya yang tidak
termasuk dalam persamaan daya.

Kecepatan impeller adalah sebesar:


v i  2 .r.n ................................................................................................(2.9)

Sedangkan kecepatan relatif yang terjadi akibat pergerakan impeller dan


perlawanan air (va) adalah :
v  v i  v a ...................................................................................................(2.9)

Sehingga gaya yang dibutuhkan untuk pengadukan adalah sebesar:


1
FD  . .C D . A.v 2 ..................................................................................(2.10)
2

Power yang dibutuhkan dalam mendesain mekanis sebagaimana disebutkan diatas


adalah sebesar:

P = FD . v.....................................................................................................(2.11)

4. Scale up

Hanya sedikit informasi yang ada hubungannya dengan operasi pengadukan pada
kinerja proses. Maka konsekuensinya, identifikasi fluid regime optimum untuk
mencapai hasil proses yang diinginkan. Sehingga harus didapatkan informasi
berdasarkan percobaan laboratorium atau pilot-plant. Jika fluid regime optimum

15
teridentifikasi, metode scaling up untuk operasi skala kecil dapat digunakan untuk
mendesain operasi dengan ukuran yang diinginkan yang memiliki dinamika yang
sama. Dua sistem yang sama secara geometrik jika rasio dimensi dalam satu
sistem sama dengan rasio pada sistem yang lainnya kesamaan kinematik tercapai
jika gerakan fluida sama pada kedua sistem yang secara geometrik sama. Sistem-
sistem akan memiliki kesamaan dinamik jika selain sama secara geometrik dan
dinamik, juga mempunyai rasio-rasio gaya yang sama pada titik tertentu di dalam
sistem. Jadi sejauh ini scale up akan tepat tercapai hanya di dalam sistem yang
secara dinamik sama.

Untuk pemakaian daya tertentu, rasio aliran massa-intensitas geser dapat


divariasikan dengan menggunakan impeller dengan ukuran berbeda dan secara
geometrik sama. Sehingga pada tingkat pilot plant, pertimbangkan dengan baik
rasio diameter impeller-tangki yang memberikan hasil proses optimum. Pengaruh
ukuran impeller terhadap laju reaksi pada dua jenis proses dapat dilihat pada
grafik berikut:

Gambar 2.9 Grafik Pengaruh Ukuran Impeller terhadap Laju Reaksi pada
Input Daya yang Sama

Karena rasio aliran massa terhadap intesitas geser dapat divariasikan pada input
daya sama dengan menggunakan impeller berbeda ukuran yang secara geometrik
sama, hanya sedikit justifikasi yang diperoleh dengan berbagai variasi bentuk
impeller. Seperti telah disinggung sebelumnya, bilangan Reynold berhubungan
dengan intensitas geser yang terjadi pada fluida turbulen. Jadi, data laju reaksi
yang tergantung pada ketebalan film cairan dapat dikorelasikan dengan bilangan
Reynold. Korelasi ini didemonstrasikan oleh Ruhton. Jika impeller dirotasikan

16
pada kecepatan berbeda dalam kisaran aliran yang sepenuhnya turbulen (dari C ke
D gambar 2.5), data yang diperoleh akan memberikan hubungan seperti pada
gambar 2.10 berikut:

Gambar 2.10 Korelasi Koefisien Laju, Sifat Fluida dan Gerakan Fluida

Bilangan Reynold diplot terhadap ψ:


w
h.D  c P . 
   ....................................................................................(2.23)
k  k 

Dimana : h = koefisien Transfer panas (BTU)/(ft2)(jam)(oF)


K= kondukrivita termal (BTU)(ft)/(ft2)(jam)(oF)
cp= panas spesifik pada tekanan konstan (BTU)/(lb)(oF)
w= eksponen
Dalam bentuk persamaan hubungannya adalah:
m w
h.D  D 2 .n.   c P . 
 K '     ..................................................................(2.24)
k     k 

Dimana : m = kemiringan kurva korelasi

Untuk menghasilkan nilai tertentu dari koefisien transfer h dalam sistem secara
geometris sama untuk ukuran berbeda, hubungan scale up dapat diperoleh dengan
membagi hubungan pada persamaan (2.24) yang diekspresikan dalam
perbandingan ukuran yang satu terhadap yang lain, jika fluida tidak berubah:
 2 m 1) / m 
n 2  D1 
  ......................................................................................(2.25)
n1  D 2 
Dimana : 1 dan 2 merujuk pada ukuran yang berbeda.

17
kebutuhan daya yang harus dipenuhi pada scale up ditentukan dari hubungan yang
dikembangkan dengan mengkombinasikan persamaan (2.22) dan (2.25):
 3 m  / m
P2  D2 
  ........................................................................................(2.26)
P1  D2 

nilai m tergantung pada geometrik khas tangki serta bentuk, ukuran dan lokasi
impeller serta kelengkapan lain di dalam tangki. Plot eksponen ini terhadap rasio
daya input persatuan volume di dalam sistem yang secara geometris sama sebagai
fungsi ukuran tangki dapat dilihat pada gambar 2.8 berikut:

Gambar 2.11 Hubungan Daya –Volume Terhadap Skala Eksponen

Terlihat dari kurva bahwa secara umum input daya persatuan volume bervariasi
dengan scale up. Selain itu, rasio bervariasi terhadap nilai m.

2.5 Pengadukan Pneumatis


Pengadukan dengan memanfaatkan pergerakan naiknya gelembung udara yang
menghasilkan fluid regime dilakukan menggunakan injeksi udara (gambar 2.12).

18
Gambar 2.12 Pneumatic Mixing

Keuntungan lebih yang didapatkan bila dibanding dua cara sebelumnya:


 Pengadukan lebih besar (G dari pneumatis tinggi);
 Penambahan oksigen terlarut ke dalam air olahan.
Hanya saja karena gelembung udara sangat berpengaruh terhadap G. Padahal
diameter gelembung udara yang akan dimanfaatkan harus lebih kecil dari 2 mm,
sedangkan gelembung udara normal berkisar antara 3-8 mm sehingga cara ini
jarang dipakai. Power yang dibutuhkan untuk menghasilkan pengadukan dengan
pneumatis ini adalah sebesar:
 h  34 
p  8,15.Qu .Log  (2.27)
 34 
Dimana : Qu = Debit alir udara
H = Kedalaman diffuser.

19
BAB III
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN

1. Pada sebuah proses pengadukan, air olahan


disalurkan pada baffle channel (45 ft x 2,5 ft x 8 ft) dengan kecepatan 0,5 fps
dan kecepatan aliran pada belokan 2 fps. Jumlah belokan dalam bak 19 buah.
Tentukan (a) headloss dengan mengabaikan faktor gesekan saluran, (b) power,
(c) gradien kecepatan (G) dan nilai Gtd dengan debit 6,46 mgd (10 cfs), dengan
waktu detensi 30 m, temperatur 500F, μ = 2,74 x 10-5 lb. Force. sec/ ft2, (d)
beban saluran (Q/V)!
Penyelesaian :
(a) HL = 20 x (0,5)2/2.g + 19 x (0,5 + 1,5)2/2.g = 1,26 ft
(b) P = 10 x 62,4 x 1,26 = 790 ft.lb / sec
(c) G = 790 /( 2,74 x10 5 x (10 x30 x60))  40 / sec

Gtd = 40 x (30 x 60) = 7,2 x 104.


d) Q/V = 6,46 x 106/ (10x30x60) = 360 gpd/ft3.

2. Tentukan power dan luas paddle yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai
G= 50/dt dalam sebuah tangki bervolume 2500 m3. temperatur 150C, koefisien
drug 1,8 dan kecepatan paddle 0,6 m/dt, sedangkan kecepatan relatif 0,75 kali
kecepatan paddle!
Penyelesaian:
P
G .
 .V

P = G2.μ..V (μ = 1,1447 x 10-3 N dt/m2 pada T=50oC)

P = (50/dt)2.(1,1447 x 10-3 N dt/m2).(2500 m3)

P = 7154,375 N m/dt.

1
P = FD.v = . .C D . A.v 3
2

2.P
A (ρ = 999,1 Kg/m3 pada T=50oC)
 .C D .v 3

2. 7154,375
A  87,314m 2
 0,9991.1,8. [0,75 x0,6 3

20
3. Sebuah flokulator direncanakan untuk mengolah air dengan debit 20 MGD.
Panjang flokulator tersebut 100 ft, lebar 40 ft dan dalamnya 15 ft. Flokulator
menggunakan paddle yang berjumlah 4 unit. Paddle tersebut berukuran 40 ft.
Dengan lebar 1 ft dan jari-jari 6 ft dari shaft yang terletak ditengah-tengah
kedalaman tangki. Setiap paddle memiliki 2 blade yang diputar dengan
kecepatan 2,5 rpm. Jika kecepatan air yang timbul adalah ¼ dari kecepatan
paddle dan koefisien drugnya 1,8, temperatur air 500F, Viskositas absolut air
2,74 x 10-5 lb force/ft2. tentukan:
a. Kecepatan relatif
b. Power yang dibutuhkan
c. Waktu detensi
d. Gradien kecepatan
e. Flokulator loading
Penyelesaian:
a. v = vi – va = vi – 0,25.vi
v = 0,75.(2.π.6 ft.2,5 /menit)

v = 70,65 ft/menit = 1,18 ft/dt

1
b. P = FD.v = . .C D . A.v 3
2
1  62,4 
P= . lb / ft 3 .(1,8).(40 x1x 4 x 2) ft 2 .(1,18 ft / dt ) 3
2  32,2 

P = 916,996 lb ft2/dt3

c. td = V/Q
(100 x 40 x15) ft 3
td =
(20mgd  30,95 ft 3 / dt )

td = 1938,611 dt.

P 916,996lb. ft 2 / dt 3
d. G . = G .
 .V (2,74.10 5 lb. force / ft 2 .60.000 ft 3

G = 23,617 /dt

e. Floading = Q/V = 30,95 ft3/dt : 60.000 ft3

21
Floading = 5,15x10-4 /dt

4. Pada sebuah bak koagulasi dasar berbentuk bujursangkar, dengan rasio


kedalaman air terhadap lebar bak = 1,25, debit olahan 2 mgd, gradien
kecepatan 790 /dt. Waktu detensi 40 dt, temperatur air 50 0F μ = 2,74 x 10-5 lb.
force. sec/ ft2 dan letak diffuser 0,5 ft diatas dasar bak. Tentukan (a) dimensi
bak, (b) power yang dibutuhkan, (c) debit udara yang dibutuhkan!

Penyelesaian :
a. V = (2 x 106 ) x 40 / (86400 x 7,48) = 123,79 ft3.
V = 123,79 ft3 = P x L x T = L x L x 1,25 L
L = 4,63 ft maka P = 4,63 ft dan T = 5,94 ft
b. P = (790)2 x 2,74 x 10-5 x 123,79 ft = 2116,85 ft.lb/dt
2116,85 / 81.5
Ga  
c. 5,94  34 371,43 ft3/min
log .( )
34
5. Operasi mixing dilakukan pada tanki yang dilengkapi dengan turbine impeller
2 ft dengan 6 plat yang secara geometri sama dengan data pada tabel 2.1.
Temperatur cairan sekitar 60 F (μ= 8.04 x 10-4 lbmass/(sec)(ft)). Vortex telah
dihilangkan dengan baffle.
a. Tentukan kecepatan rotasi (rps) impeller sehingga terjadi turbulensi.
b. Hitung konsumsi power (ft.lbf/sec)
Penyelesaian :
a. Turbulensi terjadi pada NRe = 100000,

b. Power pada 0.324 rps

22
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah:
1. Pengadukan/mixing merupakan suatu aktivitas operasi pencampuran dua atau
lebih zat agar diperoleh hasil campuran yang homogen;
2. tujuan pengadukan adalah memberikan kesempatan kontak antara zat
penggumpal/koagulan (biasanya digunakan Aluminium Sulfat, Al2(SO4)3)
dengan partikel yang bersifat koloid atau flokulen yang tersuspensi dalam air
olahan;
3. pengadukan dapat dilakukan dengan tiga cara: pertama, memanfaatkan
pengadukan alami dengan terjunan air, putaran aliran melewati baffle vertikal
maupun horizontal, yang dikenal dengan pengadukan hidrolis. Kedua dengan
cara mekanis, menggunakan alat-alat pembantu berupa pedal yang digerakan
dengan motor. Ketiga dengan pneumatis, meniupkan gelembung udara ke
dalam cairan hingga akan menyebabkan turbulensi aliran.

4.2 Saran
Adapun saran dari makalah ini adalah:
1. Diharapkan agar pemerintah maupun pihak-pihak terkait berkontribusi dalam
memperhatikan proses pengadukan/mixing dalam prakteknya agar tercapai
proses pengolahan air yang baik;
2. Sebagai seorang sarjana Teknik Lingkungan hendaknya bisa memberikan
sosialisasi kepada masyarakat tentang proses pengolahan air minum.

DAFTAR PUSTAKA

S. Abuzar, Suarni. Diktat Mata Kuliah Satuan Operasi (TLI 311). Teknik
Lingkungan Unand. Padang. 2005

23
Reynold, Tom D. Unit Operation and Processes In Environmental Engineering.
Brooks/Cole engineering division, Monterey, California. 1982

Rich, Linvil. G. Unit Operation of Sanitary Engineering. John Wiley & Sons.
Clemson, South California. 1961.

Kurniawan, Rahmat. 2011. Pengadukan dan Pencampuran. http://tekimku.


blogspot. com/2011/08/pengadukan-dan-pencampuran.html. Tanggal
akses: 06 September 2017

24