Anda di halaman 1dari 11

A.

Definisi
Demam typoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella typhi (Herawina, Lubis, & Loesnihari, 2016).
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala
demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau
tanpa gangguan kesadaran. Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes
atau thypus. Demam tifoid atau Typoid fever adalah penyakit demam akut yang
disebabkan akibat infeksi Salmonella typhi (Apriyadi & Sarwili, 2018)
Demam tifoid jika tidak segera ditangani secara baik dan benar dapat
menyebabkan kematian. Menurut data WHO memperkirakan angka insidensi diseluruh
dunia sekitar 17 juta jiwa pertahun, angka kematian akibat demam tifoid mencapai
600.000 dan 70% nya terjadi di Asia. Di Indonesia sendiri, penyakit tifoid bersifat
endemik, menurut WHO angka penderita demam tifoid di Indonesia mencapai 81% per
100.000. Sehingga sampai saat ini penyakit demam tifoid masih merupakan masalah
kesehatan di negara-negara tropis termasuk Indonesia dengan angka kejadian sekitar 760
sampai 810 kasus pertahun, dan angka kematian 3,1 sampai 10,4%.
Salmonella typhi (S. typhi) disebut juga Salmonella choleraesuisserovartyphi,
Salmonella serovartyphi, Salmonella entericaserovartyphi (Darmawati, 2009).
B. Etiologi
Penyakit thyoid merupakan penyakit sistematik akut yang disebabkan oelh infeksi
Salmonella typhosa/Eberthella tyhposa, suatu bakteri batang gram negative, motil
dan tidak menghasilkan spora (Rampengan, 2007). Mempunyai sekurang-kurangnya
3 macamantigen yaitu antigen antigen O (somatik, terdiri zat kompleks
lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi. Ketiga antigen tersebut didalam
tubuh akan menimbulkan pembentukan 3 macam antibody yang lazim disebut
agglutinin. Kuman ini dapat hidup pada suhu tubuh manusia maupun suhu sedikit
lebih rendah, sertra mati pada suhu 70°C ataupun oleh antiseptic (Ngastiyah, 2005).
Penyakit thypoid banyak terjadi di daerah yang sanitasi dan hygiene personalnya
rendah. Penyakit ini dapat menular melalui tangan yang kotor, sisa tinja dan urine.
Beberapa faktor yang berhubungan dengan penularan penyakit thypoid antara lain
kualitas sarana jamban/pembuangan tinja yang kurang baik serta kebiasaan tidak
mencuci tangan sebelum makan dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit
thypoid.
C. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang
dewasa. Masa tunas 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui
makanan, sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa
inkubasi mungkin ditemukan gejala, prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan,
lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu makan kurang. Gambaran
klinis yang bisa ditemukan adalah (Ngastiyah, 2005):
1. Demam
Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris
remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh
berangsur-angsur naik setiap har, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat
lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu keduapasien terus berada dalam
keadaan demam, pada minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal kembali
pada akhir minggu ketiga.
Demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal seperti pada
orang dewasa, kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa stepwise
pattern, dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39-41°C) serta dapat pula
bersifat ireguler terutama pada bayi dan tifoid kongenital.
2. Gangguan pada sistem pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-
pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan
tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Hati dan limpa membesar disertai nyeri
pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau
normal.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis
sampai somnolen, jarang terjadi spoor, koma atau gelisah (kecuali penyakitnya
berat dan terlambat mendapatkan pengobatan). Pada punggung dan anggota gerak
dapat dapat ditemukan roseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil
dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-
kadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.
D. Patofisiologi
Kuman salmonella masuk bersama makanan / minuman. Sebagian kuman akan
dimusnakan dalam lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus
halus (Suriadi & Yuliani, 2010). Setalah berada dalam usus halus, Kuman
mengadakan infasi kejaringan limfoid usus halus (terutama plakpeyer ) dan jaringan
limfoid mesentrika. Setelah menyebabkan peradangandan nekrosis setempat kuman
lewat pembuluh limfe masuk ke darah (Bakteremia primer) menuju organ
retikuloendotelial system (RES) terutama hati dan limpa. Di tempat ini, kuman
difagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak di fagosit akan
berkembangbiak. Pada akhir masa inkubasi, berkisar 5-9 hari, kuman kembali masuk
ke darah dan menyebar ke seluruh tubuh (Bakteremia sekunder), dan sebagian kuman
masuk ke beberapa organ tubuh terutama limpa, usus, kandung empedu yang
selanjutnya kuman tersebut di keluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga
usus dan menyebabkan reinfeksi di usus. Dalam masa bakteremia ini, kuman
mengeluarkan endotoksin yang susunan kimianya sama dengan antigen somatik
(lipopolisakarida), yang semula diduga bertanggungjawab terhadap terjadinyagejala-
gejala dari demam tifoid (Ranpengan, 2007).
Pada penelitian lebih lanjut ternyata endotoksin hanya mempunyai peranan
membantu proses peradangan lokal. Pada keadaan tersebut kuman ini berkembang.
Deman tifoid di sebabkan oleh salmonella typhosa dan endotoksinya yang
merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang
meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah memengaruhi pusat
termoregulator di hypotalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam
(Ranpengan, 2007).
Akhir-akhir ini beberapa peneliti mengajikan pathogenesis terjadinya manifestasi
klinis sebagai berikut: Magkrofag pada penderita akan menghasilkan substansi aktif
yang disebut monokin, selanjutnya monokin ini dapat menyebabkan nekrosis seluler
dan merangsang sistem imun, instabilitas vaskuler, depresi sum-sum tulang, dan
panas.
Perubahan histopatologi pada umumnya ditemukan infiltrasi jaringan oleh
makrofag yang mengandung eritrosit, kiman, limfosit yang sudah berdegenerasi yang
dikenal. Di dapatkan dalam usus halus, jaringan limfemesentrium. Limpa, hati, sum-
sum tulang dan organ-organ yang terinfeksi.
Kelainan utama terjadi di ileum terminale dan plakpeyer yang hiperplasi (minggu
pertama), Nekrosis (minggu kedua), dan ulserasi (minggu ketiga) serta bila sembuh
tanpa adanya pembentukan jaringan parut. Sifat ulkus berbentuk bulat lonjong sejajar
dengan sumbu panjang usus dan ulkus ini dapat menyebabkan perdarahan bahkan
perforasi. Gambaran tersebut tidak didapatkan pada kasus demam tipoid yang
menyerang bayi maupun tipoid congenital.
E. Pathway

Kuman Salmonella

Saluranpencerna
an

Peningkatan Sebagianku
mandimusn Lambung Usushalus
asamlambu
ng akan

Mempengaruhitermo
Peradangan Nyeriakut
regulator di
Mual, muntah DemamTipoid
hipotalamus
Ulkususus
Pelepasanzatpi
Penurunannaf Peningkatansuhu halus
Peredarandara rogenOlehleuk
sumakan tubuh h osit

Beratbadanm Perdarahan
enurun Hipertermia

Hati Limpa Resikokekurang


Nutrisikurangd
arikebutuhantu an volume
buh cairan
Hepatomegali Splenomegali

Nyeri Mual Penurunannafs


umakan

Gangguan rasa
nyamanB.dgejalaterkait
Nutrisikurangdarikebutuhant
penyakit
ubuh
F. Komplikasi
Kompilkasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian (Ngastiyah, 2005):
a. Kompilkasi pada usus halus
1. Perdarahan usus, bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan
tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena, dapat disertai
nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan.
2. Perforasi usus, timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan
terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peristoritis hanya
dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati
menghilang dan terdapat udara di antara hati dan diafragma pada foto rontgen
abdomen.
3. Peritonitis, biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi
usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding
abdomen tegang (defence musculair)
b. Komplikasi di luar usus halus
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia), yaitu meningitis,
kolesistitis, ensefalopati, dan lain-lain. terjadi karena infeksi sekunder, yaitu
bronkopneumonia.
G. Penatalaksanaan
Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan
diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan
sebagai berikut (Ngastiyah, 2005):
 Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta.
 Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang
lama, lemah, anoreksia, dan lain-lain.
 Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali
(istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri
kemudian berjalan di ruangan.
 Diet, makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein.
Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan
menimbulkan gas. Susu dua gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun
diberikan makanan cair, melalui sonde lambung, jika kesadaran dan nafsu
makan anak baik dapat juga diberikan makanan lunak.
 Obat pilihan yaitu kloramfenikol, kecuali jika pasien tidak cocok dapat
diberikan obat kotrimoksazol. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi,
yaitu 100 mg/kg/BB/hari (maksimum 2 gram per hari), diberikan 4 kali sehari
per oral atau intravena. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi dapat
mempersingkat waktu perawatan dan mencegah relaps. Efek negatifnya
adalah pembentukan zat anti kurang karena basil terlalu cepat dimusnahkan.
 Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila terjadi
dehidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan sebagainya.
H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Darah tepi
Terdapat gambaran leucopenia, limfositosis relative dan aneosinofilia pada
permulaan sakit serta terdapat anemia dan trombositopenia ringan. Pemeriksaan
darah tepi berguna untuk membantu menemukan penyakitnya dengan cepat
(Ngastiyah, 2005).
2. Darah untuk kultur (biakan empedu) dan Widal
Biakan empedu untuk menemukan salmonella typhosa dan pemeriksaan
widal merupakan pemeriksaan yang dapat menentukan diagnosis tifus
abdominalis secara pasti. Pemeriksaan dikerjakan pada waktu masuk dan setiap
minggu berikutnya. (diperlukan darah vena sebanyak 5 cc untuk kultur/Widal).
Biakan empedu basil salmonella typhosa dapat ditemukan dalam darah pasien
pada minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urine dan
feses, dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama. Oleh karena itu,
pemeriksaan yang positif dari contoh darah digunakan utuk menegakkan
diagnosis, sedangkan pemeriksaan negative dari contoh urine dan feses 2 kali
berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa pasien telah benar sembuh dan
tidak menjadi pembawa kuman (carier) (Ngastiyah, 2005).
I. Asuhan Keperawatan

A. Anamnesa
1. Data Demografi Klien
Menanyakan identitas klien seperti : nama, usia, jenis kelamin, suku atau bangsa,
alamat, agama, tanggal MRS, jam MRS diagnosa. Retensi urine biasa terjadi pada
usia lanjut dan jenis kelamin pria karena akibat hyperplasia prostat jinak/kelainan
prostat.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama pasien dengan kasus ini biasanya dapat berupa keluhan nyeri
suprapubis berat dan ketidakmampuan untuk miksi.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Bagaimana pola berkemih pasien, meliputi frekuensi waktu dan banyaknya urine.
Apakah klien merasakan nyeri.
4.Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya.
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita klien, kondisi neurologis (misalnya
cedera medulla spinalis pada S2, S3 dan S4), infeksi saluran kemih, BPH, kanker
prostat, batu saluran kemih, riwayat striktur uretra, dan trauma urologi.
b. Obat-obatan : beberapa obat menyebabkan retensi untuk yang mencakup
preparat antikoligenergik-anti spasmodik seperti, atropin : preparat anti depresan-
anti psikotik seperti, fenotiazin: preparat antihistamin, seperti pseudoefedrin
hidroklorida (Sudafed); preparat B-adrenergic, seperti propranolol; dan preparat
antihipertensi seperti hidralazin.
c. Riwayat operasi dan tindakan : Retensi dapat terjadi pada pasien pascaoperatif,
khususnya pasien yang menjalani operasi di daerah perineum atau anal sehingga
timbl spasme refluk sfinger. Anastesi umum akan mengurangi inervasi otot
kandung kemih dan dengan demikian dorongan untuk membuang air kecil
tertekan. Riwayat penggunaan alkohol.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan
klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan berhubungan dengan
masalah pada ginjal atau urologi.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Keadaan compos mentis namun tampak lemas
2. Tanda-tanda vital
Tekanan darah biasanya menigkat karena klien merasakan nyeri suhu meningkat jika
ditemukan adanya infeksi, nadi biasanya meningkat karena klien merasakan nyeri dan
RR biasanya meningkat karena klien merasakan nyeri.
3. Sistem tubuh
a. B1 (Breathing)
Perawat melakukan pengkajian adanya gangguan pada pola nafas klien, biasanya
klien sesak akibat adanya nyeri yang dialam dan penigkatan respiratory rate.
b. B2 (Blood)
Apakah terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah. Pada
retensi urin muncul adanya keringat dingin (Diaforesis) akibat nyeri pada distensi
kandung kemih.
c. B3 (Brain)
Klien ditemukan dalam kesadaran biasanya sadar penuh. Namun tetap diperhatikan
adanya tanda-tanda pasca trauma atau cedera pada SSP.
d. B4 (Bladder)
Disuria, ingin berkemih tetapi tidak ada urine yang keluar dan urine keluar sedikit-
sedikit karena ada overflow, urine yang keluar menetes, produksi urine sedikit,anuria
apabila ureter terjadi obstruksi bilateral.
e. B5 (Bowel)
Pemeriksaan auskultasi bising usus klien adalah peningkatan atau penurunan, serta
palpasi abdomen klien adanya nyeri tekan abdomen atau tidak ataupun
ketidaknormalan ginjal. Pada perkusi abdomen ditemukan ketidaknormalan atau
tidak.
f. B6 (Bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain,
adalah nyeri pada persendian. Retensi urine dapat terjadi pada pasien yang harus tirah
baring total. Perawat mengkaji kondisi kulit klien.
 Inspeksi
1. Daerah perineal : kemerahan, lecet namun tidak ditemukan adanya
pembengkakan.
2. Tidak ditemukannya adanya benjolan atau tumor spinal cord.
3. Ditemukan adanya tanda obesitas dan sempitnya ruang gerak pada pasien.
4. Periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena
adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai
keluarnya darah.
5. Apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada
meatus uretra, banyaknya kencing dan nyeri saat berkemih menandakan disuria
akibat dari infeksi.
 Palpasi
a. Ditemukan adanya distensi kandung kemih dan nyeri tekan.
b.Tidak teraba benjolan tumor daerah spinal cord.
 Perkusi: Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.
 Auskultasi : ditemukan peristaltik (+), bruit (+) jika terjadi obstruksi steanosis
arteri renalis.
DAFTAR PUSTAKA

Apriyadi, E., & Sarwili, I. (2018). Perilaku Higiene Perseorangan dengan Kejadian Demam
Tifoid. Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia , 8, 356.

Darmawati, S. (2009). Keanekaragaman Genetik Salmonella typhi. Jurnal Kesehatan , 2, 28.

Herawina, E., Lubis, Z., & Loesnihari, R. (2016). Deteksi Immunoglobulin M dengan antigen
Outer Membrane Protein (OMP) 50K-DA salmonella typhi pada demam tifoid. Majalah
Kedokteran Nusantara , 49, 91.

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit (2 ed.). (M. Ester, Ed.) Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.

Rampengan, T. H. (2007). Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak (2 ed.). (Rusmi, Ed.) Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.

Ranpengan, T. H. (2007). Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak (2 ed.). Jakarta: EGC.

Suriadi, & Yuliani, R. (2010). Asuhan keperawatan Pada Anak (2 ed.). (Haryanto, Ed.) Jakarta:
Sagung Seto.

Yonathan, D. Y. (2013). Hubungan Antara Kualitas Sarana & Prasarana Rumah dan Perilaku
Sehat Dengan Kejadian Demam Thypoid di Wilayah Kerja Puskesmas Ngaliyan Kota
Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat , 2 (1).