Anda di halaman 1dari 8

TUGAS KIMIA KOLOID DAN ANTAR MUKA

“PENGERTIAN, SIFAT, JENIS, DAN PENERAPAN KOLOID DI DALAM


KEHIDUPAN SEHARI-HARI”

DISUSUN OLEH :

YULIA SALTIANI
A1C116044

DOSEN PENGAMPU :

NAZARUDIN, S.Si., M.Si., PhD

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS JAMBI

2019
1. PENGERTIAN

Sistem koloid sangat berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cairan
tubuh, seperti darah adalah sistem koloid, bahan makanan seperti susu, keju, nasi, dan roti
adalah sistem koloid. Cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga
merupakan sistem koloid. Karena sistem koloid sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-
hari, kita harus mempelajarinya lebih mendalam agar kita dapat menggunakannya dengan
benar dan dapat bermanfaat untuk diri kita.

Koloid sendiri diperkenalkan pada tahun 1861 oleh Thomas Graham. Dari hasil
pengamatannya mengenai gelatin yang merupakan kristal yang sukar mengalami difusi,
padahal umumnya kristal itu mudah mengalami difusi. Sehingga zat semacam gelatin tersebut
dinamakan koloid. Istilah koloid berasal dari kata "kolia" dalam bahasa yunani berarti "lem".
Pengertian Koloid atau disebut dispersi koloid atau sistem koloid adalah sistem dispersi
yang memiliki ukuran partikel lebih besar dari larutan, tetapi lebih kecil dari pada suspensi.

Koloid adalah campuran heterogen dari dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat
berukuran antara 1 hingga 1000 nm terdispersi (tersebar) merata dalam medium zat lain. Zat
yang terdispersi sebagai partikel disebut fase terdispersi, sedangkan zat yang menjadi
medium mendispersikan partikel disebut medium pendispersi. Secara makroskopis, koloid
terlihat seperti larutan, di mana terbentuk campuran homogen dari zat terlarut dan pelarut.
Namun, secara mikroskopis, terlihat seperti suspensi, yakni campuran heterogen di mana
masing-masing komponen campuran cenderung saling memisah.

Jika ditelisik lebih dalam, perbedaan antara ketiga jenis campuran ini (larutan, suspensi,
dan koloid) terdapat pada kondisi campuran yang terjadi. Larutan merupakan kondisi yang
menggambarkan dua macam zat dapat tercampur dengan sempurna, suspensi
menggambarkan dua macam zat yang sama sekali tidak dapat tercampur, dan koloid
menggambarkan kondisi dua macam zat yang seakan – akan terlihat seperti tercampur
padahal sesungguhnya tidak tercampur dengan sempurna (di antara larutan dan suspensi).

Keadaan koloid adalah suatu keadaan antara larutan dan suspensi. Suatu kumpulan dari
beberapa ratus atau beberapa ribu partikel yang membentuk partikel lebih besar dengan
ukuran sekitar 10 Å sampai 2 000 Å dikatakan berada dalam keadaan koloid. Dalam suatu
sistem koloid, partikel-partikel koloid terdispersi (tersebar) dalam medium pendispersinya.
Zat terdispersi maupun medium pendispersi koloid dapat berupa zat padat, dari partikel
koloid dibandingkan dengan ukuran medium di mana partikel itu tersebar, maka disini tidak
digunakan istilah zat terlarut dan pelarut melainkan fase terdispersi dan medium pendispersi.

Sistem disperse adalah sistem dimana suatu zat terbagi halus atau terdispersi dalam zat
lain, koloid merupakan suatu sistem dispersi, karena terdiri dari dua fasa, yaitu fasa
terdispersi (fasa yang tersebar halus) dan fasa pendispersi. Fase terdispersi umumnya
memiliki jumlah yang lebih kecil atau mirip dengan zat terlarut dan fasa pendispersi
jumlahnya lebih besar atau mirip pelarut dalam suatu larutan. Zat yang terdispersi tersebut
berjarak ukuran antara dimensi partikel-partikel atomic dan molekular sampai partikel
partikel yang berukuran milimeter, ukurannya dapat diklasifikasikan baik yang sebagai
membentuk dispersi molekular maupun disperse koloidal. Beberapa suspensi dan emulsi
dapat mengandung suatu jarak ukuran partikel sedemikian sehingga partikel-partikelnya yang
kecil masuk dalam jarak koloidal,sedangkan yang besar-besar dapat diklasifikasikan sebagai
partikel-partikel kasar.

2. SIFAT-SIFAT KOLOID
1. Efek Tyndall
Ketika seberkas cahaya diarahkan kepada larutan, cahaya akan diteruskan.
Namun, ketika berkas cahaya diarahkan kepada sistem koloid, cahaya akan
dihamburkan. Efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid ini disebut efek
Tyndall. Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dari larutan.
Penghamburan cahaya ini terjadi karena ukuran partikel koloid hampir sama dengan
panjang gelombang cahaya tampak (400 – 750 nm).
2. Gerak Brown
Secara mikroskopis, partikel-partikel koloid bergerak secara acak dengan jalur
patah-patah (zig-zag) dalam medium pendispersi. Gerakan ini disebabkan oleh
terjadinya tumbukan antara partikel koloid dengan medium pendispersi. Gerakan acak
partikel ini disebut gerak Brown. Gerak Brown membantu menstabilkan partikel
koloid sehingga tidak terjadi pemisahan antara partikel terdispersi dan medium
pendispersi oleh pengaruh gaya gravitasi.
3. Koagulasi
Muatan listrik sejenis dari partikel-partikel koloid membantu menstabilkan
sistem koloid. Jika muatan listrik tersebut hilang, partikel-partikel koloid akan
menjadi tidak stabil dan bergabung membentuk gumpalan. Proses pembentukan
gumpalan-gumpalan partikel ini disebut koagulasi. Setelah gumpalan-gumpalan ini
menjadi cukup besar, gumpalan ini akhirnya akan mengendap akibat pengaruh
gravitasi.
4. Adsorpsi
Sifat koloid yang pertama adalah adsorpsi. Sifat ini disebabkan oleh
keberadaan gaya Van der Waals di bagian permukaan partikel yang mampu membuat
atom – atom dari zat lain tertarik. Akibatnya padatan yang pada dasarnya memiliki
sifat adsorben (memiliki kemampuan menyerap), tetap terserap oleh koloig, karena
luas permukaan kolid jauh lebih besar dari padatan.
5. Elektroforesis
Bila arus listrik dengan tegangan rendah dialirkan ke dalam dispersi koloid,
maka partikel-partikel koloid bergerak menuju elektrode positif atau elektrode
negatifnya. Ini membuktikan bahwa partikel-partikel koloid dalam medium
pendispersinya bermuatan listrik. Gerak partikel koloid dalam medan listrik disebut
elektroforesis.
6. Sedimentasi
Pengendapan (sedimentasi) Partikel-partikel koloid mempunyai kecendrungan
untuk mengendap karena pengaruh gravitasi bumi. Hal tersebut bergantung pada rapat
massa partikel terhadap mediumnya. Jika rapat massa partikel lebih besar dari
medium pendispersinya, maka partikel tersebut akan mengendap. Sebaliknya bila
rapat massanya lebih kecil akan mengapung. Koagulasi endapan koloid larutan.
Akibatnya partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. Bila partikel koloid
yang bermuatan ditempatkan pada medan listrik, maka partikel tadi akan bergerak ke
arah salah satu elektroda bergantung pada muatannya. Proses ini dikenal dengan nama
elektroforesis. Laju gerakan partikel (cm/det) dalam medan listrik dengan gradien
potensial (volt/cm) dikenal sebagai mobilitas partikel tersebut.

3. JENIS-JENIS KOLOID

Sistem koloid terdiri atas dua fase atau bentuk, yakni fase terdispersi (fase dalam) dan
fase pendispersi (fase luar, medium). Zat yang fasenya tetap, disebut zat pendispensi.
Sementara itu, zat yang fasenya berubah merupakan zat terdispensi. Berdasarkan fase zat
terdispersi, sistem koloid terbagi atas tiga bagian, yaitu koloid sol, emulsi, dan buih.

Berdasarkan fase mediumnya, sol, emulsi, dan buih masih terbagi atas beberapa jenis:
1. KOLOID SOL
Koloid sol terdiri atas bagian-bagian berikut:
a. Sol padat (padat-padat)
Sol padat ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat.
Contoh: logam paduan, kaca berwama, intan hitam, dan baja.
b. Sol cair (padat-cair)
Sol cair ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair.
Berarti, Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh: cat,
tinta, dan kanji.
c. Sol gas (padat-gas)
Sol gas (aerosol padat) ialah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase
gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh: asap dan
debu.
2. KOLOID EMULSI
Koloid emulsi terbagi ke dalam tiga jenis, yakni sebagai berikut:
a. Emulsi padat (cair-padat)
Emulsi padat (gel) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat.
Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contoh: mentega,
keju, jeli, dan mutiara.
b. Emulsi cair (cair-cair)
Emulsi cair (emulsi) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair.
Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase cair. Contoh: susu, minyak
ikan, dan santan kelapa.
c. Emulsi gas (cair-gas)
Emulsi gas (aerosol cair) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase
gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase gas. Contoh: obat-obat
insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.
3. KOLOID BUIH
Kolodi buih erdiri atas dua jenis, , yaitu sebagai berikut:
a. Buih padat (gas-padat)
Buih padat ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini
berarti zat terdispersi fase gas dan medium fase padat. Contoh: busa jok dan batu
apung.
b. Buih cair (gas-cair)
Buih cair (buih) ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair.
Berarti, zat terdispersi faso gas dan medium fase cair. Contoh: buih sabun, buih
soda, dan krim kocok.

4. PENERAPAN SISTEM KOLOID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-

Sistem koloid banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti di alam (tanah, air,
dan udara), industri, kedokteran, sistem hidup, dan pertanian. Di industri sendiri, aplikasi
koloid untuk produksi cukup luas. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting,
yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara
homogen dan bersifat stabil untuk produksi skala besar.

1. Pemutihan Gula, Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan
melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah
diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-
partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat
berwarna putih.
2. Penggumpalan Darah, Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan
negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau
tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar
partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat
lebih mudah dilakukan.
3. Penjernihan Air, Untuk memperoleh air bersih perlu dilakukan upaya penjernihan
air. Kadang-kadang air dari mata air seperti sumur gali dan sumur bor tidak dapat
dipakai sebagai air bersih jika tercemari. Air permukaan perlu dijernihkan sebelum
dipakai. Upaya penjernihan air dapat dilakukan baik skala kecil (rumah tangga)
maupun skala besar seperti yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM).Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid
tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena
itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah
agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara
menambahkan tawas (Al2SO4)3. Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan
terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif.
4. Sebagai deodorant, Deodoran mengandung aluminium klorida yang dapat
mengkoagulasi atau mengendapkan protein dalam keringat.endapan protein ini dapat
menghalangi kerja kelenjer keringat sehingga keringat dan potein yang dihasilkan
berkurang.
5. Sebagai bahan makanan dan obat, Ada zat-zat yang tidak larut dalam air sehingga
harus dikemas dalam bentuk koloid sehingga mudah diminum. Contohnya obat dalam
bentuk kapsul.
6. Sebagai bahan kosmetik, Ada berbagai bahan kosmetik kosmetik berupa padatan,
tetapi lebih baik digunakan dalam bentuk cairan. Untuk itu biasanya dibuat berupa
koloid dengan tertentu.
7. Penggunaan Arang Aktif, Arang aktif merupakan contoh dari adsorben yang dibuat
dengan cara memanaskan arang dalam udara kering. Arang aktif memiliki
kemampuan untuk menjerap berbagai zat. Obat norit (obat sakit perut) mengandung
zat arang aktif yang berfungsi menjerap berbagai zat dan racun dalam usus. Arang
aktif ini juga digunakan para topeng gas, lemari es (untuk menghilangkan bau), dan
rokok filter (untuk mengikat asap nikotin dan tar)
8. Perebusan Telur, Telur mentah merupakan suatu sistem koloid dengan fase
terdispersi berupa protein. Jika telur tersebut direbus akan terjadi koagulasi sehingga
telur tersebut menggumpal.
9. Pembuatan Yoghurt, Susu dapat diubah menjadi yoghurt melalui fermentasi. Pada
fermentasi susu akan terbentuk asam laktat yang menggumpal dan berasa asam.
10. Pembuatan Tahu, Pada pembutan tahu dari kedelai, mula-mulai kedelai dihancurkan
sehingga terbentuk bubur kedelai (seperti susu). Kemudian, ditambahkan larutan
elektrolit, yaitu CaSO4.2H2O yang disebut batu tahu sehingga protein kedelai
menggumpal dan membentuk tahu.
11. Sebagai bahan pencuci, Prinsip koloid juga digunakan dalam proses pencucian
dengan sabun dan detergen. Dalam pencucian dengan sabun atau detergen, sabun/
detergen berfungsi sebagai emulgator. Sabun/detergen akan mengemulsikan minyak
dalam air sehingga kotoran-kotoran berupa lemak atau minyak dapat dihilangkan
dengan cara pembilasan dengan air.
12. Penghilang Kotoran pada Proses Pembuatan Sirup, Kadang-kadang gulam masih
mengandung pengotor sehingga jika dilaturkan tidak jernih, pada industri pembuatan
sirup, untuk menghilangkan pengotor ini biasanya digunakan putih telur. Setelah gula
larut, sambil diaduk ditambahkan putih telur sehingga putih telur tersebut
menggumpal dan mengadsorpsi pengotor. Selain putih telur, dapat juga digunakan zat
lain, seperti tanah diatome atau arang aktif.
13. Pembuatan es krim, Siapa sangka kalau makanan satu ini juga memanfaatkan sifat
koloid, yaitu koloid pelindung seperti halnya susu. Penambahan gelatin pada
pembuatan es krim dengan maksud agar es krim tidak cepat memisah sehingga tetap
kenyal.