Anda di halaman 1dari 99

DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN

PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG


DI KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH

DONI SAHAT TUA MANALU

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Daya Saing dan Dampak
Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara,
Jawa Tengah adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2014

Doni Sahat Tua Manalu


NRP. H351120071
RINGKASAN

DONI SAHAT TUA MANALU. Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah
terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah.
Dibimbing oleh SUHARNO dan NETTI TINAPRILLA.

Kebijakan sektor pertanian secara umum dapat memberikan dampak


sektoral, baik yang dikehendaki maupun tidak dikehendaki. Secara lebih khusus
kebijakan pertanian dalam hal perdagangan hasil pertanian akan mengubah
struktur insentif pelaku usahatani. Policy Analysis Matrix (PAM) memberikan
kerangka dan alat analisis dampak kebijakan secara sederhana dan terukur, di sini
diterapkan pada dampaknya terhadap perubahan daya saing usahatani kentang di
Banjarnegara, sebagai satuan sample.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dampak kebijakan terhadap
daya saing komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Lokasi
penelitian dilakukan di Kabupaten Banjarnegara, Metode analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif.
Metode kualitatif digunakan untuk mendeksripsikan gambaran umum lokasi
penelitian sedangkan metode kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis daya
saing kentang dan dampak kebijakan pemerintah yaitu analisis Policy Analysis
Matrix. Hasil analisis yang diperoleh adalah usahatani komoditas kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah memiliki daya saing dengan nilai PCR
sebesar 0,852 dan DRC sebesar 0,981 masing-masing lebih kecil dari satu serta
menguntungkan secara finansial dan ekonomi sehingga usahatani komoditas
kentang di Kabupaten Banjarnegara memiliki daya saing dan layak untuk
dijalankan. Kebijakan pemerintah terhadap output serta terhadap input sudah
mendukung peningkatan daya saing usahatani komoditas kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah.
Pada analisis sensitivitas, digunakan empat asumsi skenario yaitu terjadi
peningkatan harga pupuk sebesar 15 persen diperoleh hasil bahwa usahatani
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah masih memberikan keuntungan
secara finansial maupun ekonomi dan masih layak untuk dijalankan. Skenario
peningkatan harga obat-obatan sebesar 10 persen, memperoleh hasil bahwa
usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah masih memberikan
keuntungan secara finansial maupun ekonomi dan masih layak untuk dijalankan.
Skenario penurunan harga kentang yang dijual ke pasar sebesar 50 persen
diperoleh hasil bahwa usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah tidak berdaya saing dan tidak layak untuk dijalankan. Skenario
peningkatan harga pupuk sebesar 15 persen dan obat-obatan 10 persen, usahatani
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah masih memiliki keunggulan
kompetitif akan tetapi sudah tidak memiliki keunggulan komparatif.

Kata Kunci : Daya Saing, Kentang, PAM


SUMMARY
DONI SAHAT TUA MANALU. Competitiveness and Impact of Government
Policy on Commodity Potatoes in Banjarnegara District, Central Java. Supervised
by SUHARNO and NETTI TINAPRILLA.

Agricultural policy in any country causes intended and unintended impact


on related sectors. Essentially, introduction of new commodity policy changes
incentive structure to participating farmers of the sector. Policy analysis matrix
(PAM) provides a framework and tools of analysis regarding the impact of policy
change in simple but quantitative measure. This PAM analysis concerned mainly
on the potato sector at sample area, Banjarnegara.
The aim of this study was to analyze the impact of policies on the
competitiveness of potatoes in Banjarnegara district, Central Java. Location of the
research conducted in Banjarnegara district, the analysis method that used in this
study are qualitative and quantitative analysis.
Qualitative method is used to study the location decribe general description
while quantitative method is used to analyze the competitiveness of the potato and
the impact of government policies that analyzes the Policy Analysis Matrix. The
analysis showed on the potato farm commodity Banjarnegara district, Central Java
competitive with PCR values of 0.852 and 0.981 for the DRC each smaller than
one as well as financially and economically profitable to farm potatoes in
Banjarnegara commodity competitiveness and eligible to run. Government policy
on output and the input support increased competitiveness of farm commodities
potatoes in Banjarnegara district, Central Java.
In the sensitivity analysis, which used four scenarios assuming an increase
in the price of fertilizer by 15 percent obtained the result that farming in the
potatoes Banjarnegara district, Central Java still provide benefit financially and
economically and is still eligible to run. Scenario increase in pesticide prices by
10 percent, obtaining results that potato farming in Banjarnegara district, Central
Java still provide benefit financially and economically feasible. Scenario
reduction in prices of potatoes by 50 percent obtained the result that farming in
the potatoes Banjarnegara district, Central Java is not competitive and is not
eligible to run. Scenario increase in fertilizer prices by 15 percent and 10 percent
medicine, farming potatoes in Banjarnegara district, Central Java will still have a
competitive advantage but it does not have a comparative advantage.

Keywords: Competitiveness, Potatoes, Policy Analysis Matrix (PAM)


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu
masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam
bentuk apa pun tanpa izin IPB
DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN
PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG
DI KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH

DONI SAHAT TUA MANALU

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Magister Sains Agribisnis

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Dosen Penguji Ujian Tesis Luar Komisi : Dr Ir Anna Fariyanti, MSi

Penguji Program Studi : Dr Amzul Rifin, SP MA


Judul Tesis : Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas

Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Nama : Doni Sahat Tua Manalu


NIM : H351120071

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Dr Ir Suharno, M.Adev Dr Ir Netti Tinaprilla, MM


Ketua Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Magister Sains Agribisnis

Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS Dr Ir Dahrul Syah, M.Sc Agr

Tanggal Ujian: 07 Mei 2014 Tanggal Lulus :


PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Judul yang
dipilih dalam penelitian ini yaitu Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah
terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Suharno M.Adev dan
Ibu Dr Ir Netti Tinaprilla MM selaku dosen pembimbing, serta Ibu Dr Ir Anna
Faryanti, MSi dan Bapak Dr Amzul Rifin, SP MA selaku dosen penguji pada saat
pelaksanaan ujian tesis yang telah banyak memberikan masukan dan arahan
kepada penulis. Demikian juga kepada Ibu Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS selaku
Kaprodi Program Studi Magister Sains Agribisnis atas dukungan dan arahan yang
diberikan kepada penulis sejak memulai studi di Program Studi Magister Sains
Agribisnis hingga penyelasaian studi. Di samping itu, penghargaan penulis
sampaikan kepada seluruh Petani responden, Bapak Kepala Desa Bakal dan
Kepala Desa Batur, Bapak Sukamto, SP dari penyuluh di Kecamatan Batur, Para
pedagang kentang dan pemilik toko pertanian di Kecamatan Batur Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah yang telah bersedia sebagai responden pada penelitian
ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Almarhum Ayahanda
tercinta Bapak B. Manalu dan Ibunda tercinta Thioland Boru Sinambela serta
seluruh keluarga besar Opung Eko Manalu atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2014

Doni Sahat Tua Manalu


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL Vi
DAFTAR GAMBAR Vi
DAFTAR LAMPIRAN Vi
1. PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian 8
Manfaat Penelitian 8
Ruang Lingkup Penelitian 9
2. TINJAUAN PUSTAKA 9
Teori Daya Saing 9
Metode Daya saing 12
Analisis Daya Saing dengan Metode Policy Analisis Matrix 14
Pengaruh Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing 15
Studi Empiris Kentang (Solanum tuberosum L.) 16
3. KERANGKA PENELITIAN 18
Kerangka Teoritis 18
Kerangka Pemikiran Operasional 31
4. METODE PENELITIAN 33
Lokasi dan Waktu Penelitian 33
Jenis dan Sumber Data 34
Metode Pengambilan Responden 34
Metode Analisis Data 35
5. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 43
Gambaran Umum Wilayah Penelitian 43
Karakteristik Petani Responden 46
Kepemilikan Lahan 48
Keragaan Usahatani 48
Lembaga Pemasaran 50
Keuntungan Usahatani 51
Kebijakan Input pada Usahatani Kentang 53
Kebijakan Output pada Usahatani Kentang 54
6. HASIL DAN PEMBAHASAN 54
Analisis Daya Saing Usahatani Kentang di Kabupaten 54
Banjarnegara, Jawa Tengah
Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing 59
Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
Analisis Sensitivitas Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, 65
Jawa Tengah
7. SIMPULAN DAN SARAN 69
Simpulan 69
Saran 70
DAFTAR PUSTAKA 70
LAMPIRAN 74
RIWAYAT HIDUP 80
DAFTAR TABEL

1. Produk Domestik Bruto (PDB) Tahun 2008-2011 1


2 Volume, Nilai, dan Neraca Ekspor-Impor Kentang Segar di 6
Indonesia Tahun 2004-2012
3. Tipe Alternatif Kebijakan Pemerintah 23
4. Policy Analisys Matrix 29
5. Tabulasi Matrix Analisis Kebijakan 36
6. Luas Wilayah Kecamatan Batur menurut Desa dan Presentase 44
7 Kepadatan Penduduk setiap Desa di Kecamatan Batur 45
8. Mata Pencaharian Penduduk Kecamatan Batur 45
9. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Umur, Pendidikan, Pengalaman 47
dan Keanggotaan dalam Kelompok Tani di Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah
10. Sebaran Petani Responden Menurut Luas Garapan Kentang di Kecamatan 48
11. Sebaran Petani Responden Menurut Lembaga Pemasaran 50
12 Policy Analysis Matrix (PAM) Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, 55
Jawa Tengah
13. Nilai Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Usahatani Kentang di Kabupaten 56
Banjarnegara
14. Indikator-Indikator Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Usahatani Kentang 60
di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
15. Perubahan Indikator Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap 66
Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

16 Tabulasi PAM Skenario Kenaikan Harga Pupuk sebesar 15 persen (Rp/Ha) 66


17. Tabulasi PAM Skenario Kenaikan Harga Obat-obatan sebesar 10 persen (Rp/Ha) 67
18. Tabulasi PAM Skenario Harga Kentang Turun sebesar 50 persen (Rp/Ha) 68
19. Tabulasi PAM Skenario Kenaikan Harga Pupuk Sebesar 15 Persen dan Kenaikan 69
Harga Obat-obatan Sebesar 10 Persen (Rp/Ha)

DAFTAR GAMBAR

1. Persentase Produksi Sayuran Potensi Menurut Provinsi Tahun 2011 2


2. Kondisi Produksi Kubis, Kentang, Tomat, Bawang Merah, dan Cabai Besar dari 3
Tahun 2006 hingga Tahun 2011 di Indonesia
3. Perkembangan Produksi Kentang di Jawa Tengah Tahun 2009-2011 3
4. Aliran Perdagangan Internasional 20
5. Dampak Subsidi Positif terhadap Produsen dan Konsumen Barang Impor 25
Pajak dan Subsidi pada Input Tradable 27
6. Pajak dan Subsidi pada Input Non Tradable 28
7. Kerangka Pemikiran Operasional 33
8. Peta Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah 43
DAFTAR LAMPIRAN

1. Analisis Keuntungan Usahatani dan Persentase Komponen Biaya Usahatani Kentang 74


di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
2. Alokasi Biaya Komponen Domestik dan Asing pada Sistem Komoditas Kentang 75
3. Perhitungan Standar Convertion Factor dan Shadow Price Exchange Rate, Tahun 76
2013
4. Perhitungan Harga Bayangan Output 76
5. Budget Privat dan Sosial Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah 77
1

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia adalah negara agraris dan beriklim tropis, memiliki potensi alam
yang mendukung pertumbuhan berbagai macam tanaman dan salah satunya adalah
hortikultura. Komoditas hortikultura merupakan komoditas potensial yang
mempunyai nilai ekonomi dan permintaan pasar yang tinggi. Pembangunan
hortikultura juga meningkatkan nilai dan volume perdagangan internasional atas
produk hortikultura nasional dan ketersediaan sumber pangan masyarakat.
Pembangunan hortikultura bertujuan untuk mendorong berkembangnya
agribisnis hortikultura yang mampu menghasilkan produk hortikultura yang
berdaya saing, mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan petani
dan pelaku usaha di bidang hortikultura, memperkuat perekonomian wilayah serta
mendukung pertumbuhan pendapatan nasional (Direktorat Jenderal Hortikultura,
2012). Oleh sebab itu diperlukan pembangunan hortikultura yang mengarah pada
terciptanya pertanian yang efisien supaya mampu memenuhi permintaan domestik
dan jika memungkinkan dapat mengekspor ke luar negeri. Indikator ekonomi
makro berupa Produk Domestik Bruto (PDB) pada Tabel 1 dapat digunakan
sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui peranan dan kontribusi hortikultura
terhadap pendapatan nasional.
Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun 2008-2011
Nilai PDB (Milyar Rupiah)
No Komoditas
2008 % 2009 % 2010 % 2011 %
1 Buah-buahan 47 060 55.97 48 437 54.83 45 482 52.54 46 736 52.60
2 Sayuran 28 205 33.55 30 506 34.54 31 244 36.09 33 137 37.30
3 Tanaman Hias 4 960 5.90 5 494 6.22 6 174 7.13 5 984 6.73
4 Biofarmaka 3 853 4.58 3 897 4.41 3 665 4.24 2 995 3.37
Hortikultura 84 078 2.47 88 334 -1.01 86 565 1.30 88 851
Sumber : Ditjen Hortikultura (2012)
Berdasarkan Tabel 1, dari tahun 2008 sampai tahun 2009 nilai kontribusi
sub sektor hortikultura terhadap PDB nasional mengalami peningkatan sebesar
2.47 persen. Namun pada tahun 2010, nilai PDB hortikultura mengalami
penurunan sebesar 1.01 persen. Penurunan PDB hortikultura pada tahun 2010
disebabkan oleh penurunan jumlah produksi dan harga berlaku dari komoditas
buah-buahan dan tanaman biofarmaka. Kemudian pada tahun 2011, nilai PDB
hortikultura mengalami peningkatan kembali sebesar 1.30 persen.
BPS (2012) mencatat bahwa pada sub sektor hortikultura perkembangan
PDB selama kurun waktu 2008-2011, diikuti dengan penyerapan tenaga kerja
yang relatif meningkat di sub sektor tersebut. Pada tahun 2009 tenaga kerja yang
dapat diserap sebanyak 2.95 juta orang, sementara tahun 2010 penyerapan tenaga
kerja naik sebesar 3.00 juta orang dan tahun 2011 menjadi 3.32 juta orang. Pada
tahun 2012 penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan sebesar 3.10 juta
orang. Proporsi rata-rata kontribusi subsektor hortikultura dalam penyerapan
tenaga kerja selama kurun waktu tahun 2009 – 2012 sebesar 8.25 persen dari
keseluruhan pekerja di sektor pertanian. Melihat kontribusinya dalam PDB dan
2

penyerapan tenaga kerja yang terjadi di sub sektor hortikultura membuat


pentingnya sub sektor ini dibangun.
Komoditas hortikultura khususnya sayuran dan buah-buahan mempunyai
beberapa peranan strategis, yaitu : (1) sumber bahan makanan bergizi bagi
masyarakat yang kaya akan vitamin dan mineral, (2) sumber pendapatan dan
kesempatan kerja serta kesempatan berusaha, (3) bahan baku agroindustri, (4)
sebagai komoditas potensial ekspor yang merupakan sumber devisa negara, (5)
pasar bagi sektor non pertanian, khususnya industri hulu (Rahmawati, 2006).
Menurut Rahmawati (2006), meskipun komoditas hortikultura mempunyai
beberapa peran strategis akan tetapi masih terdapat permasalahan yang dihadapi,
secara umum adalah belum mampunya memenuhi kuantitas, kualitas dan
kontinuitas pasokan yang sesuai dengan permintaan pasar. Hal tersebut berkaitan
dengan faktor-faktor berikut : (1) pola kepemilikan lahan yang sempit dan
tersebar; (2) rendahnya penguasaan teknologi mulai dari pembibitan, sistem
usahatani, panen dan pasca panen; (3) harga berfluktuasi ; (4) lemahnya
permodalan petani, sementara budidaya sayuran tergolong padat modal; dan (5)
kurangnya informasi bagi pengusaha swasta (investor) tentang kelayakan finansial
dan ekonomi usahatani sayuran.
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sayuran dan buah-buahan
yang potensial. Berdasarkan data BPS tahun 2012, menunjukkan bahwa beberapa
daerah di Indonesia yang berpotensi untuk memproduksi kentang seperti terdapat
pada Gambar 1 yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan
wilayah lain.

Gambar 1. Persentase Produksi Sayuran Potensi Menurut Provinsi di Indonesia


pada Tahun 2011
Sumber BPS, 2012
Gambar 1 menunjukkan bahwa provinsi penghasil kentang pada tahun 2011
secara berturut-turut adalah provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara,
dan Jawa Timur. Keempat Provinsi tersebut menyumbang sebesar 26.21 persen,
23.04 persen, 12.88 persen dan 8.95 persen. Total produksi yang dihasilkan
keempat provinsi tersebut yaitu : 71.07 persen dan provinsi lainnya sebesar 28.93
persen. Berdasarkan data tersebut maka dapat diketahui bahwa provinsi Jawa
Tengah adalah salah satu sentra produksi kentang di Indonesia.
Data nasional tahun 2006 menunjukkan bahwa produksi kentang dari tahun
2006 sampai 2008 berfluktuasi dan cenderung mengalami penurunan, meskipun
pada tahun 2009 terjadi peningkatan produksi akan tetapi pada tahun 2010
3

kembali mengalami penurunan. Kondisi produksi kubis, kentang, tomat, bawang


merah, dan cabai besar dari tahun 2006 hingga tahun 2011 di Indonesia dapat
dilihat pada Gambar 2 yang memperlihatkan pola serta data tentang kenaikan dan
penurunan produksi setiap tahunnya.

Gambar 2. Kondisi Produksi Kubis, Kentang, Tomat, Bawang Merah, dan


Cabai Besar dari Tahun 2006 hingga Tahun 2011 di Indonesia
Sumber BPS, 2012
Penurunan produksi yang sangat drastis pada tahun 2010 dikarenakan
adanya impor kentang dari negara China dan Bangladesh. Adanya impor kentang
tersebut menimbulkan persaingan dengan kentang lokal. Harga kentang impor
ternyata lebih rendah jika dibandingkan dengan harga kentang lokal, hal ini sangat
berpengaruh terhadap penurunan permintaan kentang lokal, kondisi tersebut
menunjukkan bahwa kentang lokal tidak mampu bersaing dengan kentang impor.
Ketidakmampuan kentang lokal dalam bersaing perlu diketahui
penyebabnya, oleh karena itu diperlukan penelitian yang mendukung khususnya
di sentra produksi kentang agar dapat menggambarkan kondisi daya saing
kentang lokal. Di Indonesia, Provinsi Jawa Tengah adalah Provinsi terbesar yang
memproduksi kentang dan beberapa daerah di Jawa Tengah yang memproduksi
kentang dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Perkembangan Produksi Kentang di Jawa Tengah Tahun 2009-2011


Sumber BPS, 2012

Gambar 3 menunjukkan bahwa Banjarnegara adalah daerah yang


memproduksi kentang paling tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya
4

yang ada di Jawa Tengah. Menurunnya produksi kentang di Banjarnegara sejak


tahun 2009 hingga tahun 2011 diakibatkan terjadinya beberapa permasalahan
yang ada, terutama dari sisi kebijakan pemerintah, adanya issue penting
sehubungan dengan adanya ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) dan
penetapan tarif impor nol persen sehingga tingkat keuntungan finansial dan
ekonomi usahatani komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
mengalami penurunan.
Kondisi di atas tidak terlepas dari sudah sejauh mana penerapan sistem
agribisnis yang terdapat pada komoditas kentang khususnya di Kabupaten
Banjarnegara. Kualitas dan kontinuitas benih kentang yang masih kurang (hulu),
Penurunan harga kentang segar (hilir) yang berakibat pada penurunan produksi
kentang yang terdapat di subsistem usahatani (onfarm) serta adanya kebijakan
pemerintah yang mengatur perdagangan kentang yang terdapat di subsistem
penunjang (supporting system) dalam sistem agribisnis. Menurut Saragih (2010),
agribisnis merupakan suatu cara pandang baru untuk melihat pertanian sebagai
suatu sistem bisnis yang terdiri dari empat subsistem yang saling berkaitan satu
sama lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar dapat meningkatkan daya
saing adalah dengan penerapan konsep pengembangan sistem agribisnis karena
apabila sistem agribisnis yang terdiri dari subsistem sarana produksi (Hulu),
subsistem usahatani (onfarm), subsistem pengolahan dan pemasaran (Hilir) serta
subsistem penunjang (supporting system) dikendalikan dengan tepat dan
terintegrasi dengan baik maka hal tersebut akan dapat meningkatkan daya saing
suatu komoditas.
Daya saing suatu komoditas dapat dilihat dengan mengetahui bahwa setiap
tempat atau wilayah mempunyai keunggulan tertentu karena kekhasan
wilayahnya, oleh karena itu komoditas sayuran yang dikembangkan merupakan
komoditas spesifik yang sesuai dengan kekhasan wilayah tersebut sehingga
diharapkan komoditas sayuran tersebut mampu bersaing baik di pasar regional,
nasional maupun internasional karena memiliki keunggulan komparatif yang
berasal dari kelimpahan dan kekhasan wilayahnya tersebut. Mekanisme pasar
akan mendorong suatu daerah untuk bergerak ke arah sektor dimana daerah
tersebut memiliki keunggulan komparatif, akan tetapi mekanisme pasar seringkali
bergerak lambat dalam mengubah struktur ekonomi suatu daerah. Pengetahuan
akan keunggulan komparatif suatu daerah dapat digunakan para penentu kebijakan
untuk mendorong perubahan struktur perekonomian daerah ke arah sektor yang
mengandung keunggulan komparatif tersebut (Tarigan, 2004).
Keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu komoditas tertentu tidak
dapat menjamin terjadinya keunggulan kompetitif. Demikian halnya dengan
kondisi yang terjadi pada pasar kentang, setiap kebijakan yang ada akan dapat
mempengaruhi keunggulan komparatif dan kompetitif seperti dengan adanya
perkembangan pasar komoditas sayuran yang semakin kompetitif dan
diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas baik multilateral melalui WTO
(World Trade Organization) maupun regional dan bilateral melalui FTA (Free
Trade Agreement).
Tanaman kentang pada dasarnya dapat tumbuh dengan baik di daerah
dataran tinggi (1,500 – 3,000 m dpl) dan pada awalnya kentang tumbuh di negara
yang memiliki suhu dingin. Kemudian seiring berjalannya waktu kentang tersebar
ke negara yang beriklim tropis dan subtropis dan ternyata dapat tumbuh serta
5

beradaptasi dengan baik akan tetapi harus ditanam pada daerah yang bersuhu
dingin atau sejuk, suhu udara ideal untuk tanaman kentang adalah 150-180 celcius.
Keunggulan kompetitif dan komparatif kentang yang terdapat di Indonesia
khususnya di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah adalah dipengaruhi oleh
beberapa permasalahan lain yang juga masih terjadi yaitu (1) kebijakan
pemerintah yang mempengaruhi input dan output belum berpihak kepada petani,
(2) menurunnya produksi kentang yang berindikasi kepada menurunnya
pendapatan petani kentang di Kabupaten Banjarnegara, (3) kurangnya
infrastruktur dan teknologi pertanian yang dapat membantu para petani dalam
mengelola usahanya mulai sejak tanam hingga panen serta pasca panen, (4)
lemahnya permodalan petani, sementara budidaya sayuran tergolong padat modal.
Pada akhirnya setiap permasalahan yang ada pada sektor agribisnis kentang akan
mempengaruhi daya saing komoditas kentang dan dengan adanya beberapa
permasalahan tersebut maka orientasi sistem produksi komoditas kentang tersebut
harus dikembangkan ke arah peningkatan daya saing. Sehubungan dengan itu,
usahatani komoditas kentang harus lebih diarahkan pada penerapan teknologi
tepat guna serta efisien dalam pemanfaatan sumberdaya, baik sumberdaya alam
maupun sumberdaya manusia.
Kondisi aktual yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara serta beberapa
kebijakan yang telah dijelsakan di atas akan mempengaruhi pendapatan usahatani
kentang baik dari sisi biaya input, output dan transportasi lalu pada akhirnya akan
berdampak pada daya saing kentang di Indonesia secara khusus di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah. Selain itu, adanya arus globalisasi atau era
perdagangan bebas akan mendorong para produsen kentang dalam negeri untuk
dapat meningkatkan daya saing agar mampu bersaing dengan kentang dari negara
lain Oleh karena itu penelitian tentang daya saing dan dampak kebijakan
pemerintah terhadap komoditas kentang sangat penting untuk dilakukan.

Perumusan Masalah

Dari sisi kebijakan pemerintah, terdapat issue penting yang mempengaruhi


daya saing yaitu diberlakukannnya perjanjian perdagangan bebas melalui ACFTA
(ASEAN China Free Trade Agreement) pada awal tahun 2010, hal ini adalah
implementasi kebijakan liberalisasi pasar pertanian yang dihasilkan dari perjanjian
perdagangan bebas baik multilateral melalui WTO maupun regional dan bilateral
melalui FTA (Free Trade Agreement) tersebut sehingga beberapa komoditas dari
China masuk ke Indonesia tanpa dikenakan tarif masuk nol persen. Komoditas
yang masuk dalam kategori nol persen tersebut diatur dalam skema Early Harvest
Program (EHP) (Lemhannas, 2012). Terdapat 530 pos tarif lainnya yang resmi
diberlakukan melalui Keputusan Menteri Keuangan RI No. 355/KMK.01/2004 21
Juli 2004 tentang penetapan tarif bea masuk dalam skema EHP.
Adanya arus globalisasi atau era perdagangan bebas akan mendorong para
produsen kentang dalam negeri untuk dapat meningkatkan daya saing agar
mampu bersaing dengan kentang dari negara lain sehingga dapat meningkatkan
pendapatan petani, kondisi ini juga didukung pemerintah pusat dengan
diberlakukannya penghentian sementara keran impor 13 jenis produk hortikultura,
salah satunya komoditas kentang mulai bulan Januari sampai Juni 2013. Adanya
6

Peraturan Menteri Keuangan No.241/PMK.011/2010 yang menaikkan pajak


impor 5 persen atas produk bahan baku pertanian seperti, pupuk dan obat-obatan
serta Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2007 mengenai Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) sebesar 10 persen atas input-input produksi seperti peralatan, pupuk
dan obat-obatan.
Akibat langsung yang terjadi karena adanya kebijakan pemerintah pada
tahun 2010 tentang penetapan tarif impor kentang sebesar nol persen adalah
volume impor kentang terus meningkat. Ketersediaan kentang Indonesia yang
masih di bawah 5 kg/kapita/tahun, membuat Indonesia mengalami penurunan
khususnya dari sisi ekspor kentang segar. Tabel 2 menunjukkan bahwa volume
ekspor kentang di Indonesia tahun 2004 hingga 2012 (triwulan 1) mengalami
penurunan yang cukup besar hingga 15,022 ton sehingga nilai ekspornya menurun
hingga 2,971,000 US$, sedangkan volume impor kentang mengalami peningkatan
yang tinggi sebesar 7,528 ton dalam 8 tahun terakhir sehingga nilai impor kentang
segar mencapai peningkatan hingga 5,506,000 US$.
Penurunan juga terlihat pada neraca volume sebesar -9,275 ton di tahun
2012 (triwulan 1). Di tahun yang sama, neraca nilai kentang segar menjadi -
6,146,000 US$ sementara di tahun sebelumnya mencapai penurunan terbesar yaitu
-43,833,000 US$ hal ini dapat lebih jelas dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Volume, Nilai, dan Neraca Ekspor-Impor Kentang Segar di Indonesia


Tahun 2004-2012
Tahun
Keterangan 2012
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
(Tw.1)
Volume
16 422 13 644 85 922 9 652 7 958 6 320 6 771 5 117 1 400
Ekspor (ton)
Volume Impor
3 148 5 031 4 211 5 559 5 345 11 727 24 204 78 419 10 676
(ton)
Nilai Ekspor
3 547 3 526 5 917 2 855 2 340 2 160 2 426 2 579 576
(000 US$)
Nilai Impor
1 217 2 248 1 959 2 686 2 880 6 689 14 591 46 412 6 723
(000 US$)
Neraca
13 274 8 612 81 712 4 093 2 612 -5 407 -17 433 -73 301 -9 275
Volume (ton)
Neraca Nilai
2 330 1 278 3 959 169 -540 -4 529 -12 165 -43 833 -6 146
(000 US$)
Sumber : BPS, 2012
Kebijakan (intervensi) pemerintah dengan melakukan impor kentang
sebenarnya telah dilakukan secara sistematis dan terencana oleh pemerintah, akan
tetapi hadirnya tindakan (kebijakan/intervensi) pemerintah mungkin saja
mengakibatkan terjadinya distorsi (penyimpangan) pasar dan distorsi tersebut
dapat membawa keuntungan atau kerugian bagi pelaku pasar tertentu baik
konsumen maupun produsen, tergantung tujuan intervensi yang dilakukan.
Kebijakan impor kentang yaitu penetapan tarif impor sebesar nol persen yang
telah dilakukan pada tahun 2010 semula bertujuan untuk melindungi konsumen
yang ada di dalam negeri, akan tetapi disisi lain justru dapat merugikan para
petani (produsen) kentang di Indonesia dan khususnya di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah sebagai salah satu pusat produksi kentang di
Indonesia.
7

Kondisi di pasar sebelum terjadinya peningkatan impor kentang adalah


harga jual kentang lokal di daerah Banjarnegara rata-rata Rp5,000 – Rp6,000 per
kg, setelah meningkatnya jumlah impor kentang yang masuk ke Indonesia maka
harga kentang mengalami penurun sehingga harga rata-rata menjadi Rp3,000 –
Rp4,000 per kg. Sementara harga rata-rata kentang impor yang dijual di pasar
hanya Rp2,500 – Rp3,500 per kg (Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan
Kabupaten Banjarnegara, 2012). Hal ini menunjukkan kompetisi yang kuat antara
produk kentang lokal dengan impor, sehingga perlu upaya yang dilakukan agar
dapat meningkatkan daya saing kentang lokal.
Untuk membatasi impor kentang yang masuk ke dalam negeri pemerintah
melalui kementerian perdagangan dan kementerian pertanian telah mengeluarkan
kebijakan mengenai impor produk hortikultura, diatur melalui Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 60 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk
Hortikultura dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60 Tahun 2012 tentang
ketentuan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Kedua beleid tersebut
merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang
Hortikultura. Dari kebijakan tersebut diharapkan ada pengelolaan impor kentang
yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dalam negeri, akan tetapi penerapan
kebijakan tersebut perlu dievaluasi karena belum terlihat bagaimana dampaknya
terhadap daya saing komoditas kentang di dalam negeri.
Selain itu, posisi daya saing usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara,
Jawa Tengah dipengaruhi oleh kebijakan lain yang berdampak pada input dan
output usahatani kentang seperti Peraturan Menteri Keuangan
No.241/PMK.011/2010 tentang kenaikkan bea masuk (pajak impor) sebesar 5
persen atas produk bahan baku pertanian seperti, pupuk dan obat-obatan,
Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 87/Permentan/SR.130/12/2011 tentang
Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk bersubsidi untuk sektor
pertanian tahun anggaran 2012, Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2007
mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen atas input-input
produksi seperti peralatan, pupuk dan obat-obatan1. Kebijakan subsidi Bahan
Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp3,000 pada tahun 2013 yang tertuang dalam
Pengumuman Nomor 07 PM/12/MPM/2013 tentang penyesuaian harga eceran
BBM bersubsidi, sesuai ketentuan pasal 4, pasal 5 dan pasal 6 Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2013, tentang harga jual eceran dan konsumen
penggguna jenis BBM tertentu dan peraturan Menteri Energi Sumber Daya
Mineral (ESDM) Nomor 18 Tahun 2013 tentang harga jual eceran jenis BBM
tertentu untuk konsumen pengguna tertentu2.
Melalui penjelasan mengenai kondisi agribisnis kentang di atas maka dapat
dirumuskan beberapa permasalahan usahatani yang terjadi di Banjarnegara adalah
(1) kebijakan pemerintah yang mempengaruhi input dan output belum berpihak
kepada petani, (2) menurunnya produksi kentang yang berdampak pada
menurunnya pendapatan petani di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, (3)
kurangnya infrastruktur dan teknologi pertanian yang dapat membantu para petani
dalam mengelola usahanya mulai sejak tanam hingga panen serta pasca panen, (4)
lemahnya permodalan petani, sementara budidaya sayuran tergolong padat modal.
Setiap permasalahan yang ada pada agribisnis kentang akan mempengaruhi
supply petani sebagai respon terhadap kebijakan dan dinamika pasar yang ada
sehingga dapat dilihat kinerja industri kentang, ukuran kinerja dalam hal ini dapat
8

dilihat melalui keuntungan finansial dan ekonomi usahatani serta daya saing
agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah sehingga perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan uraian di atas, maka timbul pertanyaan yang akan di kaji
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana respon sisi supply (petani) terhadap kebijakan dan dinamika pasar
yang menyertai, sebagaimana digambarkan dalam rumusan masalah di atas?
2. Bagaimana kinerja industri kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah? Ukuran kinerja dalam hal ini dapat dilihat melalui keuntungan
finansial dan ekonomi usahatani serta daya saing agribisnis kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan
dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Adapun tujuan khusus penelitian ini
adalah untuk :
1. Menganalisis tingkat keuntungan finansial dan ekonomi usahatani pada
agribisnis Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
2. Menganalisis daya saing agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah melalui keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.
3. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing agribisnis
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dengan adanya penelitian ini adalah :


1. Bagi peneliti, sarana dalam peningkatan kompetensi diri, baik pengetahuan
maupun keterampilan dalam menganalisis potensi serta permasalahan yang
terjadi pada daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap
komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
2. Bagi pelaku agribisnis, penelitian ini dapat menambah referensi mengenai
daya saing komoditas kentang dan pengambilan keputusan pengembangan
usaha.
3. Bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, hasil analisis dampak
kebijakan pemerintah diharapkan dapat menjadi acuan dan bahan
pertimbangan dalam merumuskan dan mengimplementasikan instrumen–
instrument kebijakan yang lebih efektif dan efisien bagi pengembangan
agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

1
Suwarta. 2012. Peraturan pajak: 32 Peraturan Menteri Keuangan.
ttp://www.wartapajak.com/index.php.
2
Ariyanti, Fiki dan Eko, Pebriyanto. 2013. Premium Rp 6.500, Solar Rp 5.500 Mulai Sabtu
Pukul 00.00. http://bisnis.liputan6.com/read/619242.
9

Ruang Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian dari studi mengenai “Daya Saing dan Dampak


Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara
Jawa Tengah” ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini hanya sebatas menganalisis tingkat keuntungan finansial dan
ekonomi usahatani pada agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah.
2. Penelitian ini hanya sebatas menganalisis daya saing dan dampak kebijakan
pemerintah terhadap komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara Jawa
Tengah.
3. Analisis dilakukan pada tingkat usahatani di Kabupaten Banjarnegara Jawa
Tengah.

2 TINJAUAN PUSTAKA

Teori Daya Saing

Pada dasarnya cakupan daya saing tidak hanya pada suatu negara,
melainkan dapat diterapkan pada suatu komoditas, sektor atau bidang, dan
wilayah. Pengembangan komoditas di daerah sesuai dengan kondisi sumberdaya
alam untuk meningkatkan daya saing memberikan banyak manfaat, selain dapat
meningkatkan efisiensi, menjaga kelestarian sumberdaya alam, juga dapat
meningkatkan aktivitas pertanian dan perdagangan sehingga mampu
meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat. Daya saing merupakan
kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan biaya
yang cukup rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional
kegiatan produksi tersebut menguntungkan (Simanjuntak, 1992).
Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur daya saing suatu
komoditas adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam
pengusahaan komoditas tersebut. Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi yaitu
keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi pengusahaan
komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif.
Keunggulan komparatif adalah kemampuan suatu wilayah atau negara
dalam memproduksi satu unit dari beberapa komoditas dengan biaya yang relatif
rendah dari biaya imbangan sosialnya dan dari alternatif lainnya. Keunggulan
komparatif merupakan suatu konsep yang diterapkan suatu negara untuk
membandingkan beragam aktivitas produksi dan perdagangan di dalam negeri
terhadap perdagangan dunia.
Suatu negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan dengan negara
lain bila negara tersebut berspesialisasi dalam komoditas yang dapat diproduksi
dengan lebih efisien (mempunyai keunggulan absolut) dan mengimpor komoditas
yang kurang efisien (mengalami kerugian absolut). Konsep keunggulan
komparatif yang dipopulerkan oleh David Ricardo menyatakan bahwa sekalipun
suatu negara mengalami kerugian atau ketidakunggulan absolut untuk
10

memproduksi dua komoditas jika dibandingkan dengan negara lain, namun


perdagangan yang saling menguntungkan masih dapat berlangsung. Negara yang
kurang efisien akan berspesialisasi dalam memproduksi komoditas ekspor pada
komoditas yang mempunyai kerugian absolut kecil. Dari komoditas ini negara
tersebut mempunyai keunggulan komparatif dan akan mengimpor komoditas yang
kerugian absolut lebih besar. Dari komoditas inilah negara mengalami kerugian
komparatif (Salvatore, 1997).
Perbedaan dan perubahan pada sumberdaya yang dimiliki suatu negara atau
daerah mengakibatkan keunggulan komparatif secara dinamis akan mengalami
perkembangan. Pearson (2005) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi
keunggulan komparatif, yaitu : (1) perubahan dalam sumberdaya alam, (2)
perubahan faktor-faktor biologi, (3) perubahan harga input, (4) perubahan
teknologi, (5) biaya transportasi yang lebih murah dan efisien.
Melihat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keunggulan komparatif di
atas, maka keunggulan komparatif merupakan suatu hal yang tidak stabil dan
dapat diciptakan. Keadaan ini mengacu pada kemampuan mengelola secara
dinamis dari suatu wilayah yang mempunyai keterbatasan sumberdaya dengan
dukungan tenaga kerja, modal dan dari segi pengolahannya.
Keunggulan kompetitif suatu komoditas adalah suatu keunggulan yang
dapat dikembangkan, jadi keunggulan ini harus diciptakan untuk dapat
memilikinya. Konsep keunggulan kompetitif dikembangkan pertama kali oleh
Porter (1991), ada empat faktor utama yang menentukan daya saing yaitu kondisi
faktor (factor condition), kondisi permintaan (demand condition), industri terkait
dan industri pendukung yang kompetitif (related and supporting industry), serta
kondisi struktur, persaingan dan strategi industri (firm strategy, structure, and
rivalry). Ada dua faktor yang mempengaruhi interaksi antara keempat factor
tersebut yaitu faktor kesempatan (chance event) dan faktor pemerintah
(goverment). Secara bersama-sama faktor-faktor ini membentuk sistem dalam
peningkatan keunggulan daya saing yang disebut porter’s diamond theory.
1. Kondisi faktor (factor condition)
Sumberdaya yang dimiliki suatu bangsa merupakan suatu faktor produksi
yang sangat penting untuk bersaing. Faktor sumberdaya terdiri dari lima
kelompok : (1) sumberdaya manusia terdiri dari jumlah tenaga kerja yang tersedia,
kemampuan manajerial dan keterampilan yang dimiliki, tingkat upah yang berlaku
juga etika kerja. kesemuanya ini sangat berpengaruh pada daya saing nasional. (2)
sumberdaya fisik atau alam yang mencakup biaya, aksebilitas, mutu dan ukuran.
Selain itu juga ketersediaan air, mineral, energi serta sumberdaya pertanian,
perikanan termasuk kelautan, perkebunan, perhutanan serta sumberdaya lainnya,
baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Begitu juga
kondisi cuaca dan iklim, luas wilayah geografis, kondisi topografis, dan lain-lain.
(3) sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Sumberdaya ini terdiri
dari ketersediaan pengetahuan pasar, pengetahuan teknis, pengetahuan ilmiah
yang menunjang dan diperlukan dalam memproduksi barang dan jasa. Sama
halnya dengan ketersediaan sumber-sumber pengetahuan dan teknologi, seperti
perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga statistik,
literatur bisnis dan ilmiah, basis data, laporan penelitian, serta sumber
pengetahuan dan teknologi lainnya. (4) sumberdaya modal yang terdiri dari
11

jumlah dan biaya yang tersedia, jenis pembiayaan atau sumber modal,
aksetabilitas terhadap pembiayaan, kondisi lembaga pembiayaan dan perbankan.
Selain itu juga diperlukan peraturan keuangan, peraturan moneter dan fiskal
untuk mengetahui tingkat tabungan masyarakat dan kondisi moneter dan fiskal.
(5) sumberdaya infrastruktur terdiri dari ketersediaan jenis, mutu dan biaya
penggunaan infrastruktur yang mempengaruhi daya saing. Seperti sistem
transportasi, komunikasi, pos dan giro, serta sistem pembayaran dan transfer dana,
air bersih, energi listrik, dan lain-lain. Kelima kelompok sumberdaya tersebut
sangat mempengaruhi daya saing nasional.
2. Kondisi Permintaan (demand condition)
Kondisi permintaan sangat mempengaruhi penentuan daya saing, terutama
mutu permintaan. Mutu permintaan merupakan sarana pembelajaran bagi
perusahaan-perusahaan untuk bersaing secara global. Mutu persaingan
memberikan tantangan bagi perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya
dengan memberikan tanggapan terhadap persaingan yang terjadi. Ketika kondisi
permintaan konsumsi dalam ekonomi lebih banyak akan menjadi tekanan terbesar
bagi perusahaan untuk bergerak secara konstan bersaing melalui inovasi produk
dan peningkatan kualitas.
3. Industri Terkait dan Industri Pendukung (related and supporting industry)
Keberadaan industri terkait dan pendukung (related and supporting
industry) mempengaruhi daya saing secara global. Diantaranya adalah industri
hulu yang mampu memasok input bagi industri utama dengan harga lebih murah,
mutu yang lebih baik, pelayanan yang cepat, pengiriman tepat waktu dan jumlah
yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sama halnya dengan industri hilir yang
menggunakan produk industri utama sebagai bahan bakunya. Apabila industri
hilir memiliki daya saing global maka akan dapat menarik industri hulu untuk
memiliki daya saing pula.
4. Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan (firm strategy, structure, and
rivalry)
Tingkat persaingan bagi perusahaan akan mendorong kompetisi dan inovasi.
Keberadaan pesaing lokal yang handal merupakan penggerak untuk memberikan
tekanan pada perusahaan lain untuk meningkatkan daya saing.
Perusahaan yang teruji dalam persaingan yang ketat akan memenangkan
persaingan dibandingkan perusahaan yang berada dalam kondisi persaingan yang
rendah. Struktur perusahaan maupun struktur industri menentukan daya saing
dengan cara melakukan perbaikan dan inovasi. Hal ini jika dikembangkan dalam
situasi persaingan akan berpengaruh pada strategi yang dijalankan oleh
perusahaan.
5. Peran Pemerintah (goverment)
Peranan pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap upaya
peningkatan daya saing global, tetapi berpengaruh terhadap faktor-faktor penentu
daya saingnya. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator agar perusahaan dan
industri senantiasa meningkatkan daya saingnya. Pemerintah dapat mempengaruhi
tingkat daya saing global melalui kebijakan yang memperlemah atau memperkuat
faktor penentu daya saing industri, tetapi pemerintah tidak dapat menciptakan
keunggulan bersaing secara langsung. Peran pemerintah dalam upaya peningkatan
daya saing adalah memfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki
kondisi faktor daya saing sehingga bisa dimanfaatkan secara aktif dan efisien.
12

6. Peran Kesempatan (chance event)


Peran kesempatan berada di luar kendali perusahaan maupun pemerintah
namun mempengaruhi tingkat daya saing. Beberapa hal yang dianggap
keberuntungan merupakan peran kesempatan, seperti adanya penemuan baru yang
murni, biaya perusahaan yang tidak berlanjut akibat perubahan harga minyak atau
depresiasi mata uang. Selain itu juga terjadinya peningkatan permintaan produk
industri yang lebih besar dari pasokannya atau kondisi politik yang
menguntungkan bagi peningkatan daya saing.
Sudaryanto dan simatupang (1993) menyebutkan secara operasional
keunggulan kompetitif dapat di definisikan sebagai kemampuan untuk memasok
barang dan jasa pada waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen, baik
di pasar domestik maupun pasar internasional. Pada harga yang sama atau lebih
baik dari yang ditawarkan pesaing serta memperoleh laba setidaknya sesuai
dengan biaya ongkos penggunaannya (opportunity cost) sumberdaya. Selanjutnya
Sudaryanto dan Simatupang (1993) menegaskan bahwa agribisnis dan
pembangunan pertanian yang berorientasi pada peningkatan produksi dengan
harga serendah mungkin atau pembangunan pertanian yang berwawasan produk
sudah tidak sesuai dengan keadaan pasar global saat ini. Berdasarkan kondisi
tersebut untuk mengantisipasi keadaan pasar, usaha produksi komoditas pertanian
pada saat ini harus lebih berorientasi pada konsumen.
Kondisi ini menyebabkan keunggulan kompetitif tidak saja ditentukan
oleh keunggulan komparatif (menghasilkan barang yang lebih murah dari
pesaing) akan tetapi juga ditentukan oleh kemampuan untuk memasok produk
dengan atribut (karakter) yang sesuai dengan keinginan konsumen. Analisis
keunggulan kompetitif merupakan alat untuk mengukur keuntungan privat
(private profitability) atau kelayakan dari suatu aktivitas yang dihitung
berdasarkan harga pasar dan nilai tukar uang resmi yang berlaku. Dalam hal ini,
suatu negara akan dapat bersaing di pasar internasional jika negara tersebut
memiliki keunggulan kompetitif dalam menghasilkan suatu komoditas dengan
asumsi adanya sistem pemasaran dari intervensi pemerintah.
Kondisi ini mengakibatkan suatu negara yang tidak memiliki keunggulan
komparatif ternyata memiliki keunggulan kompetitif, sehingga pemerintah
memberikan proteksi terhadap komoditas yang diproduksi pada aktivitas ekonomi
tersebut, misalnya melalui jaminan harga, kemudian perijinan dan kemudahan
fasilitas lainnya (Sudaryanto dan Simatupang, 1993). Walaupun demikian konsep
keunggulan kompetitif ini bukan merupakan suatu konsep yang sifatnya saling
menggantikan terhadap keunggulan komparatif, akan tetapi merupakan konsep
yang sifatnya saling melengkapi.

Metode Daya Saing

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung maupun menilai


daya saing suatu komoditas pertanian yang telah dilakukan pada penelitian-
penelitian sebelumnya antara lain Revealed Comparative Adventage (RCA),
Berlian porter, dan Policy Analysis Matrix (PAM). Beberapa metode ini dapat
digunakan sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan.
13

Revealed Competitive Adventage (RCA) dapat digunakan untuk mengukur


keunggulan kompetitif suatu komoditas dalam kondisi perekonomian aktual,
(Karim dan Ismail, 2007). Banyak penelitian yang berkaitan dengan penetapan
komoditas di daerah tertentu untuk meningkatkan daya saing karena banyak
manfaat yang dihasilkan, terutama untuk meningkatkan perekonomian daerah
berbasiskan sumberdaya lokal (Sembiring, 2009). Beberapa penelitian yang telah
dilakukan untuk melihat pentingnya penetapan komoditas daerah dalam
meningkatkan daya saing seperti daerah Brebes Jawa Tengah yang memiliki
potensi tanaman bawang merah (Purmiyanti, 2002).
Berbeda dengan metode Revealed Competitive Adventage (RCA), metode
Berlian Porter (Porter’s Diamond) digunakan untuk mengukur dan menganalisis
keunggulan kompetitif suatu komoditas, Berlian Porter (Porter’s diamond)
adalah model yang diciptakan oleh Michael Porter untuk membantu dalam
memahami konsep keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu negara,
berbeda dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) yang
menyatakan bahwa suatu negara tidak perlu menghasilkan suatu produk apabila
produk tersebut telah dapat dihasilkan oleh negara lain dengan lebih baik, unggul,
dan efisien secara alami, konsep keunggulan kompetitif adalah sebuah konsep
yang menyatakan bahwa kondisi alami tidaklah perlu untuk dijadikan penghambat
karena keunggulan pada dasarnya dapat diperjuangkan dan dikompetisikan
dengan berbagai perjuangan dan keunggulan suatu negara bergantung pada
kemampuan perusahaan-perusahaan di dalam negara tersebut untuk berkompetisi
dalam menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar.
Suatu komoditas mungkin saja dinyatakan berdaya saing dengan analisis
deskriptif kualitatif atau kuantitatif, akan tetapi jika dianalisis dengan metode
Berlian Porter ternyata tidak berdaya saing, seperti penelitian yang dilakukan oleh
Fadillah (2011) yang menggunakan metode Teori Berlian Porter untuk
menganalisis daya saing komoditas unggulan perikanan tangkap di Kabupaten
Sukabumi. Selain menggunakan Metode Berlian Porter yang digunakan untuk
analisis deskriptif kualitatif, peneliti juga menggunakan Analisis Location
Quotient (LQ) untuk menganalisis data secara kuantitatif. Hasil perhitungan nilai
LQ menunjukkan bahwa ikan Kuwe, Tembang, Lisong, Cakalang, Albaroka,
Madidihang, Tuna Mata Besar, Layu Kakap Putih, dan Belanak memiliki
keunggulan secara komparatif di Kabupaten Sukabumi. Sedangkan berdasarkan
Metode Berlian Porter disimpulkan bahwa komoditas unggulan perikanan tangkap
di Kabupaten Sukabumi belum memiliki daya saing yang optimal karena masih
terdapat kendala dalam tiap komponen daya saing yang diteliti. Oleh karena itu
manfaat penggunaan metode berlian porter dalam menilai daya saing sebuah
komoditas dapat memberikan gambaran yang lebih jelas karena analisis yang
dilakukan terhadap komoditas tersebut lebih komprehensif.
Selain metode Revealed Comparative Adventage (RCA) dan metode Berlian
Porter (Porter’s Diamond) yang dapat digunakan untuk mengukur daya saing,
terdapat juga metode Policy Analysis Matrix (PAM) merupakan metode yang
menggunakan tiga analisis ukuran yakni keuntungan privat, keuntungan sosial
atau ekonomi, dan analisis daya saing berupa keunggulan komparatif dan
kompetitif serta analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas.
Pendekatan untuk meningkatkan daya saing suatu komoditas adalah tingkat
keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditas tersebut.
14

Keuntungannya dapat dilihat dari dua hal, yakni keuntungan privat dan
keuntungan sosial. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dengan
analisis perbedaan harga finansial dan ekonomi dapat diketahui nilai daya saing
suatu komoditas dan bagaimana dampak kebijakan yang dilakukan pemerintah
terhadap penerimaan petani (Ugochukwu dan Ezedinma 2011, Kasimin dan
Suyanti 2012).
Dari beberapa metode yang telah dijelaskan di atas, masing-masing
memiliki kelebihan dan keterbatasan jika digunakan dalam suatu penelitian
tertentu. Oleh karena itu perlu diperhatikan dengan baik tujuan penelitian yang
akan dilakukan sebelum menentukan metode analisis daya saing yang ada agar
pemilihan metode yang ditetapkan sesuai.

Analisis Daya Saing dengan Metode Policy Analisis Matrix (PAM)

Metode PAM membantu mengambil kebijakan baik di pusat, maupun di


daerah untuk menelaah tiga isu sentral analisis kebijakan pertanian. Isu pertama
berkaitan dengan pertanyaan apakah sebuah sistem usahatani memiliki daya saing
pada tingkat harga dan teknologi yang ada, Isu kedua ialah dampak investasi
publik, Isu ketiga berkaitan dengan dampak investasi baru dalam bentuk riset atau
teknologi pertanian terhadap tingkat efisiensi sistem usahatani. (Pearson S,C dan
S. Bahri 2005).
Isu pertama berkaitan dengan pertanyaan apakah sebuah sistem usahatani
memiliki daya saing pada tingkat harga dan teknologi yang ada, yakni apakah
petani, pedagang dan pengolah mendapatkan keuntungan pada tingkat harga
aktual. Sebuah kebijakan harga akan mengubah nilai output atau biaya input dan
dengan sendirinya keuntungan privat (private profitability). Perbedaan
keuntungan privat sebelum dan sesudah kebijakan menunjukkan pengaruh
perubahan kebijakan atas daya saing pada tingkat harga aktual (harga pasar).
Isu kedua ialah dampak investasi publik, dalam bentuk pembangunan
infrastruktur baru, terhadap tingkat efisiensi sistem usahatani. Efisiensi diukur
dengan tingkat keuntungan sosial (sosial profitability), yaitu tingkat keuntungan
yang dihitung berdasarkan harga efisien. Investasi publik yang berhasil (misal
investasi dalam bentuk jaringan irigasi atau transportasi) akan meningkatkan nilai
output atau menurunkan biaya input. Perbedaan keuntungan sosial sebelum dan
sesudah adanya investasi publik menunjukkan peningkatan keuntungan sosial.
Isu ketiga berkaitan erat dengan isu kedua, yaitu dampak investasi baru
dalam bentuk riset atau teknologi pertanian terhadap tingkat efisiensi sistem
usahatani. Sebuah investasi publik dalam bentuk penemuan benih baru, teknik
budidaya, atau teknologi pengolahan hasil akan meningkatkan hasil usahatani atau
hasil pengolahan dan dengan sendirinya meningkatkan pendapatan atau
menurunkan biaya. Perbedaan keuntungan sosial sebelum dan sesudah investasi
dalam bentuk riset menunjukkan manfaat dari investasi tersebut. Tiga tujuan
utama dari metode PAM pada hakekatnya ialah memberikan informasi dan
analisis untuk membantu pengambilan kebijakan pertanian dalam ketiga isu
tersebut.
Penelitian tentang daya saing bukanlah yang pertama kali dilakukan, banyak
penelitian terdahulu yang menggunakan metode PAM. Dalam analisis yang
15

dilakukan pada dasarnya adalah mampu melihat ketiga tujuan utama yang telah
dijelaskan di atas.
Feryanto (2010) yang melakukan penelitian dengan menggunakan metode
PAM, menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya daya saing
pada umumnya terdiri dari teknologi, produktivitas, harga, biaya input, struktur
industri, kualitas permintaan domestik dan ekspor. Faktor-faktor tersebut dapat
dibedakan menjadi (1) faktor yang dikendalikan oleh unit usaha, seperti strategi
produk, teknologi, pelatihan, riset dan pengembangan, (2) faktor yang
dikendalikan oleh pemerintah, seperti lingkungan bisnis (pajak, suku bunga,
exchange rate), kebijakan perdagangan, kebijakan riset dan pengembangan,
pendidikan dan pelatihan, dan regulasi pemerintah, (3) faktor semi terkendali,
seperti kebijakan harga input, dan kualitas permintaan domestik, dan (4) faktor
yang tidak dapat dikendalikan seperti lingkungan alam. Hasil yang sama
dikemukakan oleh Dewanata (2011) yang melakukan penelitian tentang Analisis
daya saing dan kebijakan pemerintah terhadap komoditas jeruk siam di Kabupaten
Garut Jawa Barat. Oleh karena itu faktor yang dikendalikan oleh unit usaha, faktor
pemerintah dan faktor semi terkendali perlu di perhatikan agar komoditas yang
diusakan dapat memiliki daya saing.
Sebuah komoditas mungkin saja dapat berdaya saing secara komparatif dan
kompetitif, seperti penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2011)
menunjukkan bahwa pengusahaan komoditas belimbing dewa di kota depok
memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Namun penelitian Oguntade
(2009) mengenai pengolahan komoditas padi di Nigeria hanya memiliki
keunggulan kompetitif, karena memiliki keuntungan privat yang lebih besar dari
nol, yakni 9.445 dan didukung dengan nilai PCR yang kurang dari satu, yakni
0.78. Namun pengolahan padi ini tidak memiliki keunggulan komparatif, karena
nilai keuntungan sosial yang dimiliki bernilai negatif, -26.256 dengan DRC
mencapai 4.88 sehingga tidak memiliki keunggulan komparatif. Hal ini terjadi
karena bermula dari masalah yang terjadi yakni pasar-pasar sekunder kekurangan
infrastruktur dan tidak sistematisnya pemasaran yang dilakukan.
Kemungkinan lain yang dapat terjadi pada daya saing dengan menggunakan
metode PAM adalah ditemukannya sebuah komoditas yang dapat berdaya saing
dalam pasar domestik di suatu negara akan tetapi tidak dapat berdaya saing di
pasar internasional. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh
Najarzadeh R et al (2011) yang menyatakan bahwa komoditas yang berdaya saing
dalam pasar domestik di suatu negara belum tentu memiliki daya saing dalam
pasar internasional.

Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing

Penelitian yang dilakukan oleh Rum (2010) menunjukkan bahwa


pendapatan finansial usahatani memberikan keuntungan kepada petani karena
adanya dampak proteksi pemerintah terhadap input tradeble dari indikator EPC,
mempunyai arti bahwa secara umum petani diuntungkan dengan adanya intervensi
pemerintah dan kebijakan yang ada juga membuat komoditas yang diusahakan
memiliki daya saing. Penelitian lain mengenai kebijakan pemerintah juga telah
dilakukan oleh Rooyen, et al. (2001) yang menyatakan bahwa terjadi keunggulan
16

kompetitif dan keunggulan komparatif industri bunga Afrika selatan bersaing di


pasar lokal dan internasional, demikian halnya dengan penelitian Sabaoni, et al.
(2011), Muthoni dan Nyamongo (2009) yang menyatakan bahwa adanya
intervensi pemerintah dapat membantu suatu komoditas memiliki daya saing di
sebuah negara.
Hal yang berbeda diperoleh pada penelitian yang dilakukan oleh
Rasmikayati dan Nurasiyah (2004), Kasimin (2012) menyatakan bahwa secara
umum usahatani kentang di Provinsi Jawa Barat dan di Provinsi Aceh tidak
mendapat proteksi dari kebijakan pemerintah serta telah terjadi transfer harga dari
produsen ke konsumen, dimana transfer tersebut lebih besar terjadi pada sistem
usahatani kentang di Provinsi Aceh dibanding di Provinsi Jawa Barat akan tetapi
dalam kondisi tersebut kentang di Provinsi Jawa Barat dan di Provinsi Aceh
memiliki daya saing. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Rooyen
(2001) dan Kirsten menyatakan bahwa kebijakan pemerintah mempengaruhi pasar
input untuk produksi kentang di Afrika Selatan dan menghambat industri kentang
sehinga dengan adanya kebijakan pemerintah maka pasar kentang di Afrika
selatan tidak memiliki keunggulan komparatif. Hasil yang sama diperoleh pada
penelitian Joubert et al. (2010) yang menganalisis keunggulan komparatif kentang
di Afrika selatan menghasilkan bahwa adanya kebijakan pemerintah terhadap
kegiatan produksi kentang justru menyebabkan kentang tidak memiliki
keunggulan komparatif di Afrika Selatan.
Pranoto (2011) menganalisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap
Keuntungan dan Daya Saing Lada Putih (Muntok White Pepper) di Provinsi
Bangka Belitung dengan menggunakan metode PAM (Policy Analysis Matrix),
hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani lada putih di provinsi Bangka
Belitung layak untuk diusahakan. Adanya kebijakan pemerintah tidak berdampak
positif dan tidak memberikan perlindungan yang efektif bagi petani lada putih
untuk berproduksi yang ditunjukkan dengan nilai koefisien proteksi efektif (EPC)
sebesar 0.89. Berdasarkan analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usahatani lada
putih lebih peka (sensitif) terhadap penurunan produksi sebesar 20 persen dan
penurunan harga output lada putih sebesar 20 persen. Perubahan ini menyebabkan
usahatani lada putih di Bangka Belitung tidak memiliki daya saing baik secara
kompetitif maupun komparatif sehingga tidak efisien lagi untuk diproduksi di
dalam negeri.
Penelitian terdahulu yang menggunakan PAM memberikan gambaran yang
jelas bahwa metode analisis ini digunakan pada komoditas yang dapat melihat
kebijakan pemerintah mulai dari input, output usahatani serta kebijakan pada
perdagangan domestik maupun internasional dalam menganalisis daya saing
suatu komoditas.

Studi Empiris Kentang (Solanum tuberosum L.)

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu tanaman pangan di


dunia dan yang paling produktif serta banyak ditanam di dunia. Secara global,
kentang menempati urutan keempat tanaman pangan paling penting setelah
jagung, gandum dan beras. Ini menghasilkan sekitar dua kali lebih banyak kalori
per hektar jika dibandingkan dengan beras atau gandum. Karena kentang memiliki
17

adaptasi yang luas, sehingga dapat ditanam di kedua lingkungan tropis dan
subtropis dan ketinggian dari permukaan laut hingga 4.000 m (Singh et al. 2012)
Kentang merupakan tanaman penting dari dunia dan ditanam di sekitar 18,3
juta hektar dengan produksi 295 juta ton. Hasil rata-rata dunia adalah 50,5
kg/tahun. Kentang menyumbang sekitar 1,23 persen terhadap produksi bruto dari
kegiatan pertanian dan sekutu di India. Singh et al (2012), Manhokwe et al.
(2010). Petani kentang di pulau Jawa memiliki produktivitas rata-rata 10-25
ton/ha. Besarnya produktivitas ini tergantung dari lokasi budidaya. Varietas
kentang yang banyak ditanam petani yaitu Granola. Sementara itu, varietas lain
seperti Atlantic, Cipanas, Agriya, Herta, Aquila, Ritek, Lamping, Kennebec,
Grata, dan Marita, tidak banyak ditanam petani. Permasalahan yang dihadapi para
petani kentang di Indonesia diantaranya: penyakit pada tanaman kentang, harga
pupuk dan pestisida yang tinggi, perubahan iklim yang tidak menentu, kesulitan
transportasi, dan kesulitan mendapatkan tambahan modal kerja. Sementara itu,
permasalahan yang dihadapi sebagian besar para pedagang kentang adalah
kesulitan mendapatkan kentang yang berkualitas baik seperti kentang dari Dieng,
harga beli yang tinggi, ulah pedagang besar yang mempermainkan harga, serta
kentang yang membusuk (Andarawati, 2011).
Penelitian Sunaryono (2007) menyatakan bahwa usaha (bisnis) komoditas
kentang baik di dalam maupun di luar negeri masih memiliki potensi yang baik
sehingga perlu penanganan yang serius agar kentang lokal memiliki daya saing,
beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pengembangan usaha
(bisnis) komoditas kentang adalah (1) Peluang pasar dan permintaan konsumen,
(2) Lahan dan kondisi agroklimat, (3) Tingkat keuntungan, dan (4) Ketersedian
bibit dan modal. Andrawati (2011) menyatakan bahwa terjadi penurunan
produktivitas kentang di Kecamatan Batur, Jawa Tengah. Hal ini di duga karena
ketersediaan dan penggunaan benih kentang yang kurang berkualitas di daerah
tersebut, dari hasil Stochastic Frontier diperoleh bahwa varibel yang bernilai
positif dan berpengaruh signifikan terhadap produksi kentang yakni benih dan
pupuk organik. Sedangkan berdasarkan model inefisiensi teknis pengalaman
usahatani, pendidikan formal, dan luas lahan merupakan faktor yang memberikan
pengaruh negatif dan faktor umur merupakan satu-satunya faktor yang
berpengaruh positif dan signifikan terhadap inefisiensi teknis usahatani kentang.
Meskipun demikian, penelitian Novianto (2012) menyatakan bahwa pengusahaan
kentang di Kecamatan Kejajar di provinsi yang sama dengan penelitian
Andrawati (2011) yaitu Jawa Tengah menyatakan bahwa dengan sistem usahatani
kentang yang ada ternyata usahatani kentang memiliki keunggulan kompetitif dan
komparatif.
Daya saing sangat erat kaitannya dengan kualitas dan produktivitas suatu
komoditas, hal ini tidak terlepas dari peranan pemerintah. Untuk menunjukkan hal
tersebut maka penelitian tentang daya saing dan dampak kebijakan pemerintah
khususnya pada komoditas kentang penting untuk dilakukan karena di Indonesia
khususnya kebijakan pemerintah masih sangat dibutuhkan para petani (produsen)
maupun konsumen domestik serta mengingat bahwa komoditas pertanian
memiliki karakteristik yang unik dan memiliki peran yang sangat penting bagi
perekonomian nasional. Sebagian besar peneliti yang menganalisis daya saing
suatu komoditas dengan mengakomodasi kebijakan pemerintah mulai dari input,
output usahatani serta kebijakan pada perdagangan domestik maupun international
18

adalah menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Dengan pertimbangan


tersebut, peneliti memilih menggunakan PAM untuk menganalisis daya saing dan
kebijakan pada agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

3 KERANGKA PENELITIAN

Kerangka Teoritis

Teori Perdagangan Internasional


Secara teoritis, perdagangan internasional terjadi karena dua alasan utama.
Pertama, negara-negara berdagang karena pada dasarnya mereka berbeda satu
sama lain. Setiap negara dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan
sesuatu yang relatif lebih baik. Kedua, negara-negara melakukan perdagangan
dengan tujuan untuk mencapai skala ekonomi (economic of scale) dalam produksi.
Maksudnya, jika setiap negara hanya memproduksi sejumlah barang tertentu,
mereka dapat menghasilkan barang-barang tersebut dengan skala yang lebih besar
dan karenanya lebih efisien jika dibandingkan kalau negara tersebut memproduksi
segala jenis barang. Adapun berbagai macam teori perdagangan internasional
diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Merkantilisme
Eksposisi pemikiran merkantilisme pertama kali ditulis oleh Antinio Serra
pada tahun 1613, selanjutnya paham-paham ini dikembangkan oleh Sin James
Steuart, Thomas Mun, Gerald de Malynes, dan Dudley Giggs. Merkantilisme
belum mengenal konsep keunggulan komparatif sebagai penentu pola
perdagangan, dan karenanya juga mempengaruhi struktur produksi dan distribusi
pendapatan. Pada teori merkantilisme menyebutkan bahwa, negara berupaya
sekuat mungkin untuk meningkatkan ekspor dan menekan impor.negara dalam
meningkatkan pertumbuhan dan kesejahteraan menjadi sangat dominan.

2. Adam Smith
Adam Smith mengajukan teori keuntungan absolut yang menyatakan bahwa
keuntungan absolut merupakan basis perdaganga internasional. Setelah teori-teori
tersebut, timbul teori-teori perdagangan yang menekankan bahwa keunggulan
komparatif merupakan basis perdagangan internasional, yaitu terdiri dari The
Ricardian Model, Mercantilsm, Adam Smith’s Theory, dan Ricardo’s Theory
dikategorikan sebagai The Classical Model of International Trade, sedangkan The
Heckscher-Ohlin model merupakan The Modern Theory of International Trade.

3. Teori Ricardian
Teori ini menyatakan bahwa keunggulan komparatif timbul karena adanya
perbedaan teknologi antar negara. Hal ini berarti bahwa berlangsungnya
perdagangan internasional merupakan akibat adanya perbedaan produktivitas
antar negara.
19

4. Teori Heckscher-Ohlin (Modern Theori of Comparative Advantage)


Dengan mengabaikan perbedaan teknologi, di pihak lain Heckscher-Ohlin
model (the H-O model) menekankan bahwa keunggulan komparatif ditentukan
oleh perbedaan relatif kekayaan faktor produksi dan penggunaan faktor tersebut
secara relatif intensif dalam kegiatan produksi barang ekspor.

Konsep Daya Saing


Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi
suatu komoditas dengan biaya yang cukup rendah sehingga kegiatan produksi
tersebut menguntungkan pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional
(Simanjuntak 1992). Menurut Kadariah et al (1978), efisien tidaknya produksi
suatu komoditas yang bersifat tradable tergantung pada daya saingnya di pasar
dunia. Artinya, apakah biaya produksi riil yang terdiri dari pemakaian sumber
domestik cukup rendah sehingga harga jualnya dalam rupiah tidak melebihi
tingkat harga batas yang relevan (border price).
Daya saing identik dengan masalah produktivitas, yakni dengan melihat
tingkat ouput yang dihasilkan untuk setiap input yang digunakan. Meningkatnya
produktivitas ini disebabkan oleh peningkatan jumlah input fisik modal maupun
tenaga kerja, peningkatan kualitas input yang digunakan, dan peningkatan
teknologi (Porter, 1991). Konsep daya saing dalam perdagangan internasional
sangat terkait dengan keunggulan yang dimiliki oleh suatu komoditas atau
kemampuan suatu negara dalam menghasilkan suatu komoditas tersebut secara
efisien dibanding negara lain.
Krugman dan Obstfeld (2004) menyatakan bahwa setiap negara melakukan
perdagangan internasional karena dua alasan utama, yang masing-masing menjadi
sumber bagi adanya keuntungan perdagangan (gain from trade) bagi mereka.
Alasan pertama negara berdagang adalah karena mereka berbeda satu sama lain.
Kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan untuk mencapai
skala ekonomis (economies of scale) dalam produksi. Maksudnya, seandainya
setiap negara bisa membatasi kegiatan produksinya untuk menghasilkan sejumlah
barang tertentu saja, maka mereka berpeluang memusatkan perhatian dan segala
macam sumber dayanya sehingga ia dapat menghasilkan barang-barang tersebut
dengan skala yang lebih besar dan lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut
mencoba memproduksi berbagai jenis barang secara sekaligus.
Perdagangan internasional terjadi karena adanya perbedaan dalam hal
kepemilikan sumberdaya dan cara pengolahannya di tiap-tiap negara. Suatu
negara akan mengekspor sejumlah barang, jasa, dan faktor produksi untuk
ditukarkan dengan impor barang, jasa, dan faktor produksi lain yang hanya dapat
diproduksi dengan cara yang kurang efisien atau tidak diproduksi sama sekali.
Dengan demikian akan berkembang hubungan saling ketergantungan dan peranan
perdagangan internasional dari setiap negara akan menjadi penting. Secara lebih
jelas aliran perdagangan internasional terdapat pada Gambar 4.
20

P P P
P Sb

A” A’
P3 Sa S
Ekspor
E* B’
P2 B* E’
B E
P1 A* D Impor
A Db
Da X X X
0 0 0
Pasar Negara A Pasar Dunia Pasar Negara B
AA A Gambar 4. Aliran Perdagangan Internasional
Sumber: Salvator 1997
Keterangan:
P2 :Harga keseimbangan di pasar dunia
P3 :Harga keseimbangan di negara B sebelum berdagang
P1 :Harga keseimbangan di negara A sebelum berdagang
Da :Permintaan domestik negara A
Sa :Penawaran domestik negara A
D :Permintaan di pasar dunia
S :Penawaran di pasar dunia
Sb :Permintaan domestik negara B
Db :Penawaran domestik negara B
Daya saing atas suatu komoditas sering diukur dengan menggunakan
pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan bersaing negara-
negara mencakup tersedianya sumberdaya dan melihat lebih jauh pada keadaan
negara yang mempengaruhi daya saing perusahaan-perusahaan internasional pada
industri yang berbeda. Sebagian besar sumberdaya yang penting seperti keahlian
tenaga kerja yang tinggi, teknologi dan sistem manajemen yang canggih
diciptakan melalui investasi. Atribut yang merupakan faktor-faktor keunggulan
bersaing industri nasional, yakni kondisi faktor sumberdaya (resources factor
conditions), kondisi permintaan (demand conditions), industri pendukung dan
terkait, serta persaingan, struktur dan strategi perusahaan. Daya saing
didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk mempertahankan keuntungan dan
menjaga pangsa pasar secara berkelanjutan melalui pemanfaatan keunggulan
komparatifnya (Porter 1990).
Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur daya saing suatu
komoditas adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam
pengusahaan komoditas tersebut. Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi yaitu
keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi pengusahaan
komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif.

Konsep Keunggulan Komparatif


Keunggulan komparatif adalah kemampuan suatu wilayah atau negara
dalam memproduksi satu unit dari beberapa komoditas dengan biaya yang relatif
rendah dari biaya imbangan sosialnya dan dari alternatif lainnya. Keunggulan
komparatif merupakan suatu konsep yang diterapkan suatu negara untuk
21

membandingkan beragam aktivitas produksi dan perdagangan di dalam negeri


terhadap perdagangan dunia.
Konsep daya saing berasal dari konsep keunggulan komparatif yang
pertama kali dikenal dengan model Ricardo. Hukum keunggulan komparatif (the
law of comparative advantage) dari Ricardo menyatakan bahwa sekalipun suatu
negara tidak memiliki keunggulan absolut dalam memproduksi dua jenis
komoditas jika dibandingkan negara lain, namun perdagangan yang saling
menguntungkan masih bisa berlangsung, selama rasio harga antar negara masih
berbeda jika dibandingkan tidak ada perdagangan. Ricardo menganggap
keabsahan teori nilai berdasar tenaga kerja (labor theory of value) yang
menyatakan bahwa hanya satu faktor produksi yang penting untuk menentukan
nilai suatu komoditas yaitu tenaga kerja. Nilai suatu komoditas adalah
proporsional (secara langsung) dengan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk
menghasilkannya. Salah satu kelemahan teori Ricardo adalah kenapa tenaga kerja
adalah satu-satunya faktor produksi, kenapa output persatuan input tenaga kerja
dianggap konstan.
Teori keunggulan komparatif Ricardo disempurnakan oleh G. Haberler yang
menafsirkan bahwa labor of value hanya digunakan untuk barang antara, sehingga
menurut G. Haberler teori biaya imbangan (theory opportunity cost) dipandang
lebih relevan. Argumentasi dasarnya adalah bahwa harga relatif dari komoditas
yang berbeda ditentukan oleh perbedaan biaya. Biaya dalam hal ini menunjukkan
produksi komoditas alternatif yang harus dikorbankan untuk menghasilkan
komoditas yang bersangkutan.
Salvatore (1997) menyatakan bahwa keunggulan komparatif masih dapat
dilakukan sekalipun suatu negara mengalami kerugian memproduksi dua jenis
komoditas jika dibandingkan dengan negara lain. Negara yang kurang efisien akan
berspesialisasi dalam produksi dan mengekspor komoditas yang mempunyai
keunggulan komparatif, sebaliknya negara tersebut akan mengimpor komoditas
yang mempunyai kerugian absolut yang besar. Dinamisnya keunggulan
komparatif yang berarti suatu negara yang memiliki keunggulan komparatif di
sektor tertentu secara potensial harus mampu mempertahankan dan bersaing
dengan negara lain. Keunggulan komparatif berubah karena faktor yang
mempengaruhinya antara lain ekonomi dunia, lingkungan domestik dan teknologi.
Konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing yang akan
dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Oleh karena
itu konsep keunggulan komparatif tidak dapat dipakai untuk mengukur daya saing
suatu kegiatan produksi pada kondisi perekonomian aktual.

Konsep Keunggulan Kompetitif


Keunggulan kompetitif merupakan suatu alat yang digunakan untuk
mengukur daya saing suatu aktivitas pada kondisi perekonomian aktual. Konsep
keunggulan kompetitif didasarkan pada keadaan perekonomian yang tidak berada
dalam keadaan distorsi, namun hal ini sulit ditemukan dalam dunia nyata.
Keunggulan kompetitif lebih sesuai untuk menganalisis kelayakan finansial dari
suatu aktivitas. Kelayakan finansial melihat manfaat proyek atau aktivitas
ekonomi dari sudut lembaga atau individu yang terlibat dalam aktivitas tersebut,
sedangkan analisa ekonomi menilai suatu aktivitas atas manfaat bagi masyarakat
22

secara keseluruhan (Kadariah et al. 1978). Komoditas yang memiliki keunggulan


kompetitif dikatakan juga memiliki efisiensi secara finansial.
Suatu komoditas mungkin saja mempunyai keunggulan komparatif
sekaligus keunggulan kompetitif, hal ini menunjukkan bahwa komoditas tersebut
sangat menguntungkan untuk diproduksi. Di samping itu, ada juga komoditas
yang mempunyai keunggulan komparatif tetapi tidak memiliki keunggulan
kompetitif sehingga dapat diperkirakan ada distorsi pasar yang tidak
menguntungkan produksi komoditas tersebut. Oleh karena itu, pemerintah perlu
melakukan deregulasi terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat produksi
komoditas tersebut.

Konsep Efisiensi
Menurut Lau dan Yotopaulus (1971) dalam Kurniawan (2011) konsep
efisiensi pada dasarnya mencakup tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis, efisiensi
alokatif (harga) serta efisiensi ekonomis. Efisiensi teknis mencerminkan
kemampuan petani untuk memperoleh output maksimal dari sejumlah input
tertentu. Efisiensi alokatif mencerminkan kemampuan petani untuk menggunakan
input dengan dosis atau syarat yang optimal pada masing-masing tingkat harga
input dan teknologi yang dimiliki sehingga produksi dan pendapatan yang
diperoleh maksimal. Efisiensi ekonomis adalah kombinasi antara efisiensi teknis
dan efisiensi alokatif. Secara umum konsep efisiensi didekati dari dua sisi yaitu
pendekatan dari sisi penggunaan input dan pendekatan dari sisi output yang
dihasilkan (Farrel, 1957 dalam Coelli et al.,2005).
Pearson S,C dan S. Bahri (2005) menyatakan bahwa efisiensi dapat diukur
dengan tingkat keuntungan sosial (sosial profitability), yaitu tingkat keuntungan
yang dihitung berdasarkan harga efisien. Investasi publik yang berhasil (misal
investasi dalam bentuk jaringan irigasi atau transportasi) akan meningkatkan nilai
output atau menurunkan biaya input. Perbedaan keuntungan sosial sebelum dan
sesudah adanya investasi publik menunjukkan peningkatan keuntungan sosial.

Konsep Kebijakan Pemerintah


Kebijakan pemerintah ditetapkan dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor
ataupun sebagai usaha dalam melindungi produk dalam negeri agar dapat bersaing
dengan produk luar negeri. Kebijakan tersebut biasanya diberlakukan untuk input
dan output yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara harga input dan harga
output yang diminta produsen (harga privat) dengan harga yang sebenarnya terjadi
jika dalam kondisi perdagangan bebas (harga sosial). Kebijakan yang ditetapkan
pemerintah pada suatu komoditas ada dua bentuk yaitu subsidi dan hambatan
perdagangan. Kebijakan subsidi terdiri dari subsidi positif dan subsidi negatif
(pajak), sedangkan hambatan perdagangan berupa tarif dan kuota. Menurut
Monke dan Pearson (1989) perbedaan kebijakan perdagangan dengan subsidi
berbeda dalam tiga aspek yaitu pada budget pemerintah, tipe alternatif kebijakan
yang dilakukan, dan tingkat kemampuan penerapan kebijakannya. Beberapa tipe
alternatif kebijakan yang dilaksanakan pemerintah terdapat pada Tabel 3.
23

Tabel 3. Tipe Alternatif Kebijakan Pemerintah


Instrumen Dampak pada Produsen Dampak pada Konsumen
Kebijakan Subsidi
Kebijakan Subsidi Subsidi pada produsen Subsidi Pada Konsumen
1. Tidak merubah harga 1. Pada barang-barang 1. Pada barang-barang
2. Merubah harga pasar substitusi impor (S+PI; substitusi impor (S+CI;
pasar dalam negeri S-PI) S-CI)
2. Pada barang-barang 2. Pada barang-barang
orientasi ekspor (S+PE; orientasi ekspor
S-PE) (S+CE; S-CE)
Kebijakan Perdagangan Hambatan pada barang Hambatan pada barang
(Merubah harga pasar impor (TPI) ekspor (TPE)
dalam negeri)
Sumber : Monke and Pearson, 1989
Keterangan :
S+ : Subsidi
S- : Pajak
PE : Produsen Barang Orientasi Ekspor
PI : Produsen Barang Substitusi Impor
CE : Konsumen Barang Orientasi Ekspor
CI : Konsumen Barang Substitusi Impor
TCE : Hambatan Barang Ekspor
TPI : Hambatan Barang Impor

Tabel 3 menunjukkan bahwa kebijakan harga dapat dibedakan dalam tiga


kriteria. Pertama : tipe instrumen yang berupa subsidi atau kebijakan
perdagangan. Kedua : kelompok penerima, meliputi produsen atau konsumen, dan
ketiga : tipe komoditas yang berupa komoditas dapat di impor atau dapat di
ekspor.
1. Tipe Instrumen
Dalam kebijakan tipe instrumen, dibedakan pengertian antara subsidi dan
kebijakan perdagangan. Subsidi adalah pembayaran dari atau untuk pemerintah,
apabila dibayar dari pemerintah maka disebut subsidi positif, sedangkan apabila
dibayar untuk pemerintah disebut subsidi negatif (pajak). Pada dasarnya, subsidi
positif dan negatif bertujuan untuk menciptakan harga domestik agar berbeda
dengan harga internasional untuk melindungi konsumen atau produsen dalam
negeri.
Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada ekspor
atau impor suatu komoditas. Pembatasan dapat diterapkan baik terhadap harga
komoditas yang diperdagangkan (dengan suatu pajak perdagangan) atau dengan
pembatasan jumlah komoditas (dengan kuota perdagangan) untuk menurunkan
jumlah yang diperdagangkan secara internasional dan mengendalikan antara harga
internasional (harga dunia) dengan harga domestik (harga dalam negeri). Untuk
barang yang di impor misalnya dapat dilakukan dengan menekan tarif per unit
(pajak impor) maupun pembatasan kuantitas (kuota impor) untuk membatasi
kuantitas yang di impor dan meningkatkan harga domestik di atas harga
internasional.
24

Kebijakan perdagangan ekspor dimaksudkan untuk membatasi jumlah yang


di ekspor melalui penekanan baik pajak ekspor maupun pembatasan jumlah
ekspor sehingga harga domestik lebih rendah bila dibandingkan dengan harga di
pasar dunia. Kebijakan subsidi dan perdagangan berbeda dalam tiga aspek.
Pertama, yang berimplikasi pada anggaran pemerintah, kedua berupa alternatif
kebijakan dan ketiga adalah kemampuan penerapan.
a. Implikasi pada Anggaran Pemerintah
Kebijakan perdagangan tidak mempengaruhi anggaran pemerintah,
sedangkan subsidi positif akan mengurangi anggaran pemerintah dan subsidi
negatif (pajak) akan menambah anggaran pemerintah.
b. Tipe Alternatif Kebijakan
Ada delapan tipe subsidi untuk produsen dan konsumen pada barang
orientasi ekspor (PE) dan barang substitusi impor (SI) yaitu :
a. Subsidi positif kepada produsen barang substitusi impor (S+PI)
b. Subsidi positif kepada produsen barang orientasi ekspor (S+PE)
c. Subsidi negatif kepada produsen barang substitusi impor (S-PI)
d. Subsidi negatif kepada produsen barang orientasi ekspor (S-PE)
e. Subsidi positif kepada konsumen barang substitusi impor (S+CI)
f. Subsidi positif kepada konsumen barang orientasi ekspor (S+CE)
g. Subsidi negatif kepada konsumen barang substitusi impor (S-CI)
h. Subsidi negatif kepada konsumen barang orientasi ekspor (S-CE)
Subsidi positif yang diterapkan pada produsen maupun konsumen membuat
harga yang diterima menjadi lebih tinggi bagi produsen dan lebih rendah bagi
konsumen. Kondisi ini lebih baik jika dibandingkan tanpa ada kebijakan subsidi
positif sedangkan penerapan subsidi negatif (pajak) membuat harga yang diterima
produsen lebih rendah dan jika diterapkan pada konsumen akan menyebabkan
harga lebih tinggi. Kondisi ini bagi produsen dan konsumen menjadi lebih buruk
jika dibandingkan dengan kondisi sebelum subsidi negatif (pajak) diterapkan.
Pada kebijakan perdagangan hanya terdapat dua tipe yaitu hambatan
perdagangan pada barang impor dan hambatan perdagangan pada barang ekspor.
Aliran impor atau ekspor dapat dibatasi oleh pajak perdagangan atau kebijakan
kuota sepanjang pemerintah dapat memiliki mekanisme yang efektif untuk
mengontrol penyelundupan, sedangkan dampak dari perluasan ekspor atau impor
tidak dapat diciptakan oleh kebijakan perdagangan. Negara hanya dapat
melakukan subsidi impor atau ekspor dan memperluas perdagangan.
c. Tingkat Kemampuan Penerapan
Kebijakan subsidi dapat diterapkan untuk setiap komoditas baik komoditas
tradable maupun komoditas non tradable, sedangkan kebijakan perdagangan
hanya diterapkan untuk barang-barang yang diperdagangkan (tradable).
2. Kelompok Penerima
Kelompok kedua dari klasifikasi kebijakan adalah apakah kebijakan
dimaksudkan untuk konsumen atau produsen. Subsidi atau kebijakan perdagangan
mengakibatkan terjadinya transfer diantara produsen, konsumen dan keuangan
pemerintah. Jika tidak ada kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan,
pemerintah melalui anggarannya harus membayar keseluruhan transfer, ketika
produsen memperoleh keuntungan dan konsumen mengalami kerugian, dan
sebaliknya ketika konsumen memperoleh keuntungan dan produsen mengalami
kerugian.
25

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa keuntungan yang didapatkan oleh


satu pihak hanya menjadi pengganti dari kerugian yang dialami pihak lain, tetapi
dengan adanya transfer yang diikuti oleh efisiensi ekonomi yang hilang. Maka
keuntungan yang diperoleh akan lebih kecil daripada kerugian yang diderita. Oleh
karena itu, manfaat yang diperoleh kelompok tertentu (konsumen, produsen atau
keuangan pemerintah) adalah lebih kecil dari jumlah yang hilang dari kelompok
yang lain.
3. Tipe Komoditas
Klasifikasi tipe komoditas bertujuan untuk membedakan antara komoditas
yang dapat diekspor dan komoditas yang dapat diimpor. Apabila tidak ada
kebijakan harga, maka harga domestik adalah sama dengan harga di pasar
internasional, dimana untuk barang yang di ekspor digunakan harga FOB (free on
board) yaitu harga di pelabuhan ekspor dan untuk barang yang dapat di impor
digunakan harga CIF (cost, insurance, freight) atau harga pelabuhan impor.
Kebijakan harga yang ditetapkan pada input dapat berupa kebijakan subsidi baik
subsidi positif maupun subsidi negatif (pajak) dan kebijakan hambatan
perdagangan yang berupa tarif dan kuota.

Kebijakan Pemerintah pada Harga Output


Kebijakan terhadap output baik berupa subsidi mapun pajak dapat
diterapkan pada barang ekspor maupun impor. Kebijakan pemerintah terhadap
output dijelaskan dengan menggunakan Transfer Output (TO) dan Koefisien
Proteksi Output Nominal (Nominal Protection Coefficient On Output/NPCO).
Dampak dari subsidi positif terhadap produsen dan konsumen pada barang impor
terdapat pada Gambar 5.

Gambar 5 Dampak Subsidi Positif terhadap Produsen dan Konsumen Barang


Impor
Sumber : Monke dan Pearson 1989
26

Keterangan :
Pw : Harga di Pasar Internasional
Pd : Harga di Pasar Domestik
Pp : Harga di tingkat produsen setelah diberlakukan pajak dan subsidi
S + PI : Subsidi kepada produsen untuk barang impor
S + CI : Subsidi kepada konsumen untuk barang impor
Gambar 5(a) merupakan gambar subsidi positif untuk produsen barang
impor dimana harga yang diterima oleh produsen domestik lebih tinggi dari harga
di pasar internasional. Hal ini menyebabkan output produksi dalam negeri
meningkat dari Q1 menjadi Q2 sedangkan konsumsi tetap pada Q3. Harga yang
diterima konsumen akan tetap sama dengan harga di pasar dunia. Subsidi ini akan
menyebabkan jumlah impor turun dari Q3-Q1 menjadi Q3-Q2. Tingkat subsidi
per output sebesar (Pp – Pw) pada output Q2, maka transfer total dari pemerintah
kepada produsen sebesar Q2 x (Pp – Pw) atau PpABPw. Subsidi menyebabkan
barang yang seharusnya diimpor menjadi diproduksi sendiri dengan biaya
korbanan sebesar Q1CAQ2, sedangkan opportunity cost yang diperoleh jika
barang tersebut diimpor adalah sebesar Q1CBQ2. Dengan adanya subsidi tersebut,
maka akan terjadi kehilangan efisiensi sebesar CAB. Gambar 5(b) menunjukkan
subsidi untuk produsen barang ekspor. Adanya subsidi dari pemerintah
menyebabkan harga yang diterima produsen lebih tinggi dari harga yang berlaku
di pasar dunia. Harga yang tinggi berakibat pada peningkatan output produksi
dalam negeri dari Q3 ke Q4, sedangkan konsumsi menurun dari Q1 ke Q2
sehingga jumlah ekspor meningkat dari Q3 ke Q4. Tingkat subsidi yang diberikan
pemerintah adalah sebesar GABH.
Gambar 5(c) menunjukkan subsidi positif untuk konsumen untuk output
yang diimpor. Kebijakan subsidi sebesar Pw–Pd kepada konsumen menyebabkan
produksi menurun dari Q1 menjadi Q2 sedangkan konsumsi akan meningkat dari
Q3 menjadi Q4 karena kebijakan subsidi akan merubah harga dalam negeri
menjadi lebih rendah. Subsidi ini akan menyebabkan peningkatan impor dari Q3-
Q1 menjadi Q4-Q2. Transfer pemerintah terdiri dari dua bagian, yaitu transfer dari
pemerintah ke konsumen sebesar ABGH dan transfer dari produsen ke konsumen
sebesar PwAPd. Dengan demikian akan terjadi kehilangan efisiensi ekonomi pada
sisi konsumsi dan produksi. Di sisi produksi, output turun dari Q2 menjadi Q1
menyebabkan hilangnya pendapatan sebesar Q2FAQ1 atau sebesar Pw x (Q2-Q1),
sehingga terjadi inefisiensi ekonomi sebesar AFB. Di sisi konsumsi opportunity
cost akibat peningkatan konsumsi adalah sebesar Pw x (Q4 – Q3) atau sebesar
Q3EGHQ4 dengan kemampuan membayar konsumen sebesar Q3EHQ4 sehingga
terjadi inefisiensi sebesar EGH. Dengan demikian total inefisiensi yang terjadi
adalah sebesar AFB dan EGH.
Gambar 5(d) menunjukkan subsidi untuk barang ekspor, pada grafik
tersebut harga dunia (Pw) lebih besar dari harga yang diterima produsen (Pp).
Harga yang lebih rendah menyebabkan konsumsi barang ekspor menjadi
meningkat dari Q1 menjadi Q2. Perubahan ini akan menyebabkan opportunity
cost sebesar Pw x (Q2 –Q1) atau area yang sama dengan kemampuan membayar
konsumen yaitu Q1CAQ2, dengan inefisiensi yang terjadi yaitu sebesar CBA.
27

Kebijakan Pemerintah pada Harga Input


Kebijakan terhadap input dapat diterapkan pada input tradable (input impor)
dan input non tradable (input domestik). Pada kedua input tersebut, kebijakan
dapat berupa subsidi positif dan subsidi negatif (pajak) sedangkan kebijakan
hambatan perdagangan tidak diterapkan pada input domestik (non tradable)
karena input non tradable diproduksi dan di konsumsi di dalam negeri.

1. Kebijakan Input Tradable


Kebijakan pada input tradable dapat berupa kebijakan subsidi atau pajak
dan kebijakan hambatan perdagangan. Pengaruh subsidi dan pajak pada input
tradable dapat ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Pajak dan Subsidi pada Input Tradable


Sumber: Monke and Pearson, 1989
Keterangan :
S – II = Pajak untuk input impor
S + II = Subsidi untuk input impor
Gambar 6. menunjukkan pengaruh pajak terhadap input tradable yang
digunakan. Pada Gambar 6a, adanya pajak pada input menyebabkan biaya
produksi meningkat sehingga pada tingkat harga output yang sama. output
domestik turun dari Q1 ke Q2 dan kurva suplay bergeser ke kiri atas. Efisiensi
ekonomi yang hilang adalah sebesar ABC yang merupakan perbedaan antara nilai
output yang hilang Q1CA Q2 dengan ongkos produksi dari output Q2BC Q1.
Gambar 6b menggambarkan dampak subsidi input yang menyebabkan harga input
lebih rendah dan biaya produksi lebih rendah sehingga kurva supply bergeser ke
kanan bawah dan produksi naik dari Q1 ke Q2. Efisiensi ekonomi yang hilang
dari produksi adalah sebesar ABC yaitu perbedaan antara biaya produksi yang
bertambah dengan meningkatnya output dengan peningkatan nilai input.

2. Kebijakan Input Non Tradable


Pada input non tradable kebijakan pemerintah meliputi kebijakan pajak dan
subsidi karena input non tradable hanya diproduksi dan dikonsumsi di dalam
negeri. Sedangkan kebijakan perdagangan tidak dapat diterapkan pada input non
tradable. Ilustrasi mengenai kebijakan subsidi dan pajak yang diterapkan
pemerintah pada input non tradable dapat dilihat pada Gambar 7.
28

Gambar 7. Pajak dan Subsidi pada Input Non Tradable


Sumber : Monke and Pearson, 1989
Keterangan :
S – N = Pajak untuk Barang Non Tradable
S + N = Subsidi untuk Barang Non Tradable

Pada Gambar 7a terlihat dengan adanya pajak (PC - PP) menyebabkan


produksi yang dihasilkan turun dari Q1 menjadi Q2. Efisiensi ekonomi dari
produsen yang hilang sebesar BCA dan dari konsumen yang hilang sebesar DBA.
Pada subsidi positif (Gambar 7b), adanya subsidi menyebabkan produksi
meningkat dari Q1 ke Q2 karena harga yang diterima produsen naik menjadi Pp
dan harga yang diterima konsumen turun menjadi PC. Kehilangan efisiensi dapat
dilihat dari perbandingan antara peningkatan nilai output dengan meningkatnya
ongkos produksi dan meningkatnya keinginan konsumen untuk membayar.

Policy Analysis Matrix (PAM)


Menurut Monke dan Pearson (1989), PAM (Policy Analysis Matrix) adalah
alat yang digunakan untuk menganalisis pengaruh intervensi pemerintah dan
dampaknya pada sistem komoditas. Sistem komoditas meliputi empat aktivitas
yaitu aktivitas usahatani (farm production), penyampaian dari usahatani ke
pengolah, pengolahan, dan pemasaran. Metode PAM dapat digunakan untuk
mengidentifikasi tiga hal, yaitu analisis keuntungan (Privat dan Sosial), analisis
daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif), serta analisis dampak
kebijakan pemerintah. Asumsi yang digunakan dalam penelitian PAM adalah
komoditas yang ditelti merupakan barang tradable serta biaya input komoditas
tersebut bisa dibagi ke dalam biaya faktor domestik dan biaya input tradable.
PAM terdiri dari tiga baris dan empat kolom. Baris pertama untuk
mengestimasi keuntungan privat yaitu perhitungan penerimaan dan biaya
berdasarkan harga berlaku yang mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh
semua kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Baris kedua untuk
mengestimasi keunggulan ekonomi atau daya saing dalam keunggulan komparatif.
Istilah ekonomi mengacu pada peneimaan dan biaya berdasarkan harga efisien
dimana kegagalan pasar dan intervensi pemerintah tidak ada. Baris ketiga
merupakan selisih antara baris pertama dan baris kedua yang menggambarkan
adanya divergensi akibat adanya kebijakan pemerintah. Matriks PAM juga terdiri
dari 4 kolom yang secara berurutan terdiri dari kolom penerimaan, kolom biaya
input tradable, kolom biaya input domestik, dan kolom keuntungan yang
merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya. Tabel PAM selengkapnya
dapat dilihat pada Tabel 4.
29

Ada beberapa asumsi yang digunakan dalam metode PAM, diantaranya :


1. Perhitungan berdasarkan harga privat (privat cost) yaitu harga yang benar-
benar terjadi dan diterima oleh produsen dan konsumen atau harga yang benar-
benar terjadi setelah adanya kebijakan.
2. Perhitungan berdasarkan harga sosial (social cost) atau harga bayangan
(shadow price) yaitu harga pada kondisi pasar persaingan sempurna atau harga
yang terjadi apabila tidak ada kebijakan.
3. Output bersifat tradable (dapat diperdagangkan) dan input dapat dipasarkan ke
dalam input faktor domestik dan input tradable.
Eksternalitas positif dan negatif dianggap saling meniadakan
(Eksternalitas=0). Selain itu analisis metode PAM juga memiliki beberapa
kelebihan diantaranya :
1. Analisis PAM adalah perhitungan yang dapat dilakukan secara keseluruhan,
sistematis, dan output dapat beragam.
2. Analisis dapat digunakan pada sistem komoditas dengan berbagai daerah,
berbagai tipe usahatani dan teknologi.
Menurut Morrison dan Balcombe (2002), PAM juga memiliki beberapa
kelemahan sehingga memerlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan
indikator-indikator PAM, yaitu:
1. PAM bekerja pada kerangka kerja parsial dan statis, serta mengabaikan umpan
balik (feedback) dan efek multiplier.
2. Keakuratan data yang digunakan, diantaranya: pertama, harga pasar dan
kuantitas input yang digunakan pada baris pertama kerangka kerja PAM sering
dikumpulkan dalam keadaan sistem informasi pasar pertanian yang kurang
berkembang. Di sektor pertanian, keragaman harga-harga input dan output
tidak cukup digambarkan dengan harga rata-rata biasa. Kedua, umumnya harga
dunia (world price) digunakan untuk menyusun harga perbatasan (border
parity price), kemudian digunakan sebagai proxy dari harga ekonomi. Hal ini
menimbulkan kesulitan karena adanya hambatan perdagangan di banyak
negara menyebabkan variabilitas harga dunia cenderung tinggi, namun
variabilitas ini umumnya tidak ditransmisikan secara penuh ke harga domestik.

Tabel 4 Policy Analysis Matrix (PAM)


Biaya Input
Penerimaan
Uraian Non Keuntungan
Output Tradable
Tradable
Harga Privat A B C D
Harga Sosial E F G H
Dampak Kebijakan I J K L
Keterangan:
A : Penerimaan Privat G : Biaya Input non tradable Sosial
B : Biaya input Tradable Privat H : Keuntungan Sosial
C : Biaya input non tradable Privat I : Transfer Output
D : Keuntungan Privat J : Transfer input Tradable
E : Penerimaan Sosial K : Transfer Faktor
F : Biaya input tradable Sosial L : Laba Bersih
30

Harga Bayangan (Social Opportunity Cost)


Harga bayangan adalah harga yang akan menghasilkan alokasi sumberdaya
terbaik sehingga akan memberikan pendapatan nasional tertinggi (Pearson et al.
2005). Kondisi biaya imbangan sama dengan harga pasar akan sangat sulit
ditemukan, maka untuk memperoleh nilai yang mendekati biaya imbangan atau
harga sosial perlu dilakukan penyesuaian terhadap harga pasar yang berlaku
(Gittinger 1986). Alasan penggunaan harga bayangan adalah:
1. Harga bayangan tidak mencerminkan korbanan yang dikeluarkan jika sumber
daya tersebut dipakai untuk kegiatan lainnya.
2. Harga yang berlaku di pasar tidak menunjukkan apa yang sebenarnya
diperoleh masyarakat melalui suatu produksi dari aktivitas tersebut.
Penentuan harga dasar yang terjadi belum tentu dapat dipakai langsung
dalam analisis ekonomi karena tidak mencerminkan biaya imbangan sosial
(opportunity cost). Suatu komoditas akan mempunyai biaya imbangan sama
dengan biaya pasar jika berada pada pasar persaingan sempurna. Oleh karena itu,
untuk memperoleh suatu nilai yang mendekati nilai biaya imbangan sosial
diperlukan penyesuaian.
Penyesuaian menggunakan acuan seperti yang dilakukan Gittinger (1986).
Penelitian terhadap pengusahaan komoditas menggunakan CIF (Cost Insurance
and Freight) jika output dan input merupakan barang impor. Sedangkan
penggunaaan FOB (Free on Board) jika output dan input merupakan barang
ekspor.
Kelebihan model PAM adalah selain diperoleh koefisien DRC (Domestic
Resource Cost) sebagai indikator keunggulan komparatif. Analisis ini juga dapat
menghasilkan beberapa indikator lain yang terkait dengan variabel daya saing,
seperti PCR (Private Cost Ratio) untuk menilai keunggulan kompetitif, NPCO
(Nominal Protection Coefficient on tradable Output), NPCI (Nominal Protection
Coefficient on tradable Input), EPC (Effective Protection Coefficient), PC
(Profitability Coeffisient), dan SRP (Subsidy Ratio to Producers). Untuk
mendapatkan nilai-nilai koefisien tersebut, setiap unit biaya (input), output. dan
keuntungan dikelompokkan ke dalam harga pasar (privat) dan harga sosial.

Teori Sensitivitas
Analisis sensitivitas merupakan alat analisis yang digunakan secara
sistematis untuk melihat dan menguji perubahan dari suatu kelayakan ekonomi
bila ada kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang telah dibuat terhadap daya
saing kentang. Menurut Kadariah dan Grey (1978), analisis sensitivitas dilakukan
dengan beberapa cara: (1) mengubah besarnya variabel-variabel yang penting,
masing-masing terpisah atau beberapa dalam kombinasi dengan suatu persentase
dan menentukan seberapa besar kepekaan hasil perhitungan terhadap perubahan-
perubahan tersebut, dan (2) menentukan seberapa besar faktor yang berubah
sehingga hasil perhitungan membuat proyek tidak dapat diterima.
Analisis sensitivitas membantu menentukan unsur-unsur penting yang
berperan dalam menentukan hasil akhir dan mengubah suatu faktor kemudian
menentukan pengaruh dari perubahan tersebut terhadap hasil analisis. Kelemahan
dari analisis sensitivitas adalah :
1. Tidak digunakan untuk pemilihan proyek karena merupakan analisis parsial
yang hanya mengubah suatu parameter pada saat tertentu.
31

2. Hanya mencatat apa yang terjadi jika faktor berubah-ubah dan bukan untuk
menentukan layak atau tidaknya suatu proyek.
Analisis sensitivitas dilakukan juga untuk mengetahui bagaimana dampak
kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Analisis ini dilakukan untuk
mensubstitusi kelemahan metode sebelumnya yaitu Policy Analysis Matrix yang
hanya memberlakukan satu tingkat harga padahal dalam keadaan sebenarnya
tingkat harga yang berlaku untuk input dan output sangat bervariatif. Oleh karena
itu, analisis sensitivitas penting untuk dilakukan.

Kerangka Pemikiran Operasional

Berdasarkan data BPS 2012, salah satu komoditas hortikultura yang


termasuk dalam komoditas unggulan adalah kentang, oleh karena itu kentang
berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia
memiliki potensi dalam pengembangan komoditas kentang khususnya di daerah
Banjarnegara Jawa Tengah. Meskipun potensi kentang cukup baik di daerah
Banjarnegara akan tetapi terjadinya persaingan antara kentang lokal dan kentang
impor memberikan gambaran bahwa komoditas kentang domestik harus mampu
bersaing di pasar.
Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa prospek dalam pengembangan
agribisnis kentang khususnya di Kabupaten Banjarnegara sangat memungkinkan
untuk dilakukan. Meskipun dalam proses pengembangan tersebut masih
mengalami masalah atau kendala dalam usahataninya seperti (1) adanya kebijakan
pemerintah yang tidak berpihak pada petani kentang di Kabupaten Banjarnegara,
(2) menurunnya produksi kentang yang berindikasi kepada penurunan pendapatan petani,
(3) belum adanya jaminan atas kualitas dan kuantitas benih kentang di
Banjarnegara, (4) kurangnya infrastruktur dan teknologi pertanian yang dapat
membantu para petani dalam mengelola usahanya mulai sejak tanam hingga
panen serta pasca panen, (5) lemahnya permodalan petani, sementara itu budidaya
sayuran tergolong padat modal.
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu (1) menganalisis tingkat keuntungan
finansial dan ekonomi usahatani pada agribisnis kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah, (2) menganalisis daya saing agribisnis kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah melalui keunggulan kompetitif dan
keunggulan komparatif, (3) menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap
daya saing agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Maka
dibutuhkan evaluasi kebijakan yang ada pada sektor agribisnis diantaranya : dari
sisi kebijakan ada issue penting sehubungan adanya ACFTA sehingga ditetapkan
tarif nol persen untuk impor kentang, penerapan inovasi teknologi, kebijakan di
bagian input, pembiayaan agribisnis serta infrastruktur yang digunakan pada
agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Hadirnya tindakan
(kebijakan/intervensi) pemerintah mungkin saja mengakibatkan terjadinya distorsi
(penyimpangan) pasar dan distorsi tersebut dapat membawa keuntungan atau
kerugian bagi pelaku pasar tertentu baik konsumen maupun produsen tergantung
tujuan intervensi yang dilakukan, seperti telah dikemukakan dalam perumusan
masalah.
32

Penelitian ini akan menganalisis daya saing komoditas kentang dan dampak
kebijakan pemerintah di Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah dengan
menggunakan alat analisis Policy Analysis Matrix (PAM). Salah satu pendekatan
untuk melihat dampak dari suatu kebijakan dalam sektor agribisnis adalah dengan
menganalisis perbedaan antara harga-harga input, baik domestik (non tradable)
maupun asing (tradable) dan penerimaan secara finansial dan ekonomi dengan
menganalisis perbedaan harga-harga finansial dan ekonomi, maka dapat diketahui
tingkat daya saing suatu komoditas serta dampak kebijakan pemerintah terhadap
daya saing komoditas agribisnis tersebut. Analisis daya saing agribisnis kentang
dalam penelitian ini dilihat dari faktor input dan output. Faktor input meliputi :
saprodi (benih, pupuk, pestisida), alsintan, tenaga kerja, lahan, dan faktor output
meliputi harga kentang segar baik yang digunakan sebagai benih pada musim
tanam berikutnya maupun kentang segar yang dijual ke pasar.
Analisis dampak kebijakan pemerintah dapat dilihat melalu sistem
perdagangan, kebijakan moneter, adanya subsidi/pajak, investasi publik, research
and development. Apabila dengan kebijakan yang ada mampu memberikan
keunggulan kompetitif terhadap komoditas yang di analisis, maka kebijakan
tersebut dapat dipertahankan. Namun sebaliknya, dengan adanya kebijakan
tersebut ternyata menghambat atau mengurangi nilai kompetitif maka kebijakan
tersebut perlu dikaji ulang.
Kelebihan dari alat analisis PAM ini selain digunakan untuk menganalisis
daya saing baik dari segi keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif,
dapat juga digunakan melihat bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap
komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara. Metode PAM digunakan untuk
menganalisis daya saing sekaligus digunakan untuk menganalisis penerapan
kebijakan pemerintah pada harga input, kebijakan pada harga output, dan
kebijakan harga input-output. Kebijakan harga input dianalisis berdasarkan nilai
transfer (input transfer atau TI), koefisien proteksi input nominal (nominal
protection coefficient on input atau NPCI), tingkat proteksi input nominal
(nominal protection rate on input atau NPRI), dan transfer faktor (factor transfer
atau FT).
Setelah dianalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah, kemudian
akan dilakukan analisis sensitivitas dengan skenario berdasarkan fenomena
kebijakan pemerintah baik kebijakan yang sudah pernah terjadi, yang sedang
terjadi, maupun yang akan terjadi sehingga dapat diketahui dengan kondisi
kebijakan tersebut bagaimana keadaan daya saing kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah. Kemudian, setelah diperoleh kesimpulan dari hasil
penelitian selanjutnya akan diberikan saran terhadap implikasi kebijakan yang
dapat menjadi perhatian bagi stakeholder agribisnis kentang. Secara lengkap
kerangka penelitian operasional analisis daya saing dan dampak kebijakan
pemerintah terhadap komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
dapat diihat pada Gambar 8. di bawah ini :
33

Kondisi Umum
1. Potensi kentang di Kabupaten Banjarnegara
2. Persaingan kentang lokal dengan kentang impor

Kendala Usahatani Kentang


1. Kebijakan Pemerintah
2. Menurunnya produksi kentang
3. Infrastruktur dan Teknologi
4. Lemahnya permodalan petani

PAM
- Daya Saing
1. Keunggulan Komparatif :
Daya Saing Komoditas Kentang a. Keuntungan Sosial
Kebijakan Pemerintah
b. Rasio Sumber Daya
Input : Domestik (DRC)
- Perdagangan
- Saprodi :Benih, Pupuk, 2. Keunggulan Kompetitif :
- Moneter
Pestisida a. Keuntungan Privat
- Subsidi/Pajak
- Alsintan b. Rasio Biaya Privat (PCR)
- Investasi Publik
- Tenaga Kerja - Dampak Kebijakan
- Research and Development
- Lahan 1. Kebijakan Output
Output : Kentang Segar TO, NPCO
2. Kebijakan Input
IT, NPCI, TF
3. 3. Kebijakan Input‐Output
Analisis EPC, TB, PC, SRP
Sensitivitas

Implikasi Kebijakan

Keterangan :
Garis Faktor yang Menghubungkan
Garis Analisis yang digunakan
Gambar 8. Kerangka Pemikiran Operasional

4 METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Banjarnegera. Pemilihan lokasi


penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa
wilayah tersebut merupakan salah satu daerah sentra produksi kentang di Jawa
Tengah. Menurut data BPS (2012) beberapa sentra produksi kentang di Jawa
Tengah adalah Banjarnegara dengan luas lahan 7,339 ha Wonosobo dengan luas
lahan 3,156 ha, Brebes dengan luas lahan 3,182 ha, Batang dengan luas lahan
1,274 ha, Pemalang dengan luas lahan 745 ha. Selanjutnya dipilih Kecamatan
34

Batur karena memiliki luas lahan usahatani kentang terbesar di Kabupaten


Banjarnegara. Pengumpulan data dilakukan pada bulan September-November
2013.

Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui observasi, wawancara dan pemberian kuisioner dengan
beberapa pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Wawancara dilakukan
dengan beberapa nara sumber seperti petani, lembaga pemasaran, pedagang input
pertanian, stakeholder, pakar ahli di bidang kentang. Data sekunder merupakan
data yang diperoleh dari instansi atau lembaga yang terkait dengan penelitian
antara lain Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Banjarnegara, Badan Pusat Statistik dan lembaga-lembaga terkait (stakeholder)
dalam bidang komoditas kentang, Penyuluh pertanian Kecamatan Batur, Pemilik
Kios Pertanian yang ada di Kecamatan Batur yang dapat membantu penyediaan
data yang akan digunakan pada penelitian ini.

Metode Pengambilan Responden

Penentuan responden (petani contoh) dipilih secara purposive dengan


kriteria responden yang dipilih berdasarkan pekerjaan utama yaitu petani yang
pekerjaan utamanya adalah berusahatani kentang dan kesediaan petani untuk
dijadikan sebagai responden. Kemudian untuk Desa yang dipilih terdiri dari dua
Desa yaitu Desa Batur dan Desa Bakal karena merupakan pusat produksi kentang
terbesar di Kecamatan Batur. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah
sebanyak 40 petani dengan komposisi masing-masing 20 petani di setiap Desa.
Untuk penentuan responden terhadap lembaga pemasaran, pedagang input
pertanian, stakeholder, pakar ahli di bidang kentang terkait penelitian ditentukan
secara purposive dengan pertimbangan karena pihak tersebut dianggap paling
mengetahui informasi yang diharapkan sehingga dapat membantu peneliti dalam
memperoleh dan menggali informasi dari objek yang dibutuhkan. Pelabuhan
impor yang dijadikan acuan dalam penentuan harga perbatasan adalah pelabuhan
Tanjung Priok, DKI Jakarta karena sebagian besar penerimaan kentang impor
yang di kirim ke Banjarnegara berasal dari pelabuhan tersebut.
Penentuan jumlah sampel dan teknik pengambilan data dalam penelitian
ini berdasarkan pada Pearson et al. (2005) bahwa data yang diambil untuk PAM
bisa dari contoh yang tidak terlampau besar, baik dari segi petani, pedagang,
pelaku usaha, maupun pengolahan, karena data yang dimasukkan dalam PAM
merupakan modus (central tendency), bukan parameter yang diestimasi melalui
model ekonometrik dengan jumlah contoh yang valid secara statistik. Peneliti
dirangsang untuk mengumpulkan lebih banyak informasi baik dari segi aspek
maupun kedalaman, dibanding jumlah petani yang diwawancara.
35

Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk
mendeskripsikan gambaran umum lokasi penelitian, sedangkan metode kuantitatif
digunakan untuk menganalisis daya saing kentang dan dampak kebijakan
pemerintah yaitu analisis Policy Analysis Matrix.
1. Policy Analysis Matrix
Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian terdiri atas
beberapa tahap. Tahap pertama adalah penentuan input dan output usahatani
kentang. Tahap kedua adalah pengidentifikasian input ke dalam komponen input
tradable yaitu input yang diperdagangkan di pasar internasional baik di ekspor
maupun di impor dan identifikasi input non tradable yaitu input yang dihasilkan
di pasar domestik dan tidak diperdagangkan secara internasional. Tahap ketiga
yaitu penentuan harga privat dan harga bayangan input serta output, kemudian
tabulasi dan analisis indikator-indikator yang dihasilkan tabel PAM. Data yang
diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel.
Tahapan penyusunan Tabel PAM adalah sebagai berikut :
1. Penentuan input dan output usahatani kentang.
2. Metode pengalokasian komponen biaya domestik dan asing. penelitian ini
menggunakan pendekatan total dalam mengalokasikan biaya input tradable
dan non tradable.
3. Penentuan harga bayangan input dan output. Harga bayangan yang sebenarnya
akan terjadi dalam perekonomian jika pasar dalam keadaan persaingan
sempurna dan dalam kondisi keseimbangan (Gittinger. 1986).
a. Harga bayangan output, harga barang output yang diimpor ketika barang
diterima di pelabuhan kemudian dikonversi ke dalam nilai rupiah bayangan
dan ditambah dengan biaya tataniaga.
b. Harga bayangan input, sama dengan harga finansialnya.
Penentuan harga bayangan dengan mengeluarkan distorsi akibat kebijakan
pemerintah atau akibat kegagalan pasar. Dalam penelitian ini untuk
menentukan harga sosial komoditas yang diperdagangkan didekati dengan
harga batas (border price). Untuk komoditas yang selama ini diekspor
digunakan harga FOB (free on board) dan untuk komoditas yang diimpor
digunakan harga CIF (cost insurance freight). Untuk harga FOB, karena
merupakan harga batas di pelabuhan ekspor perlu dikurangi biaya transport
dan handling dari pedagang besar ke pelabuhan. Sementara itu untuk harga
CIF karena merupakan harga batas di pelabuhan impor, maka perlu ditambah
biaya transport dan handling dari pelabuhan ke lokasi penelitian.
4. Tabulasi dan analisis indikator matrix kebijakan.
Adapun Asumsi yang digunakan dalam analisis PAM ini adalah :
1. Harga pasar adalah harga yang benar-benar diterima petani yang
didalamnya terdapat kebijakan pemerintah (distorsi pasar).
2. Harga bayangan adalah harga pada kondisi pasar persaingan sempurna
yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya. Pada komoditas
tradable, harga bayangan adalah harga yang terjadi di pasar dunia
(internasional).
36

3. Output bersifat tradable sedangkan input dapat dipisahkan berdasarkan


faktor asing (tradable) dan faktor domestik (non tradable).
4. Eksternalitas dianggap sama dengan nol.
Secara lengkap Tabulasi Matrix Analisis Kebijakan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Tabulasi Matrix Analisis Kebijakan

Pendapatan Biaya Keuntungan


Uraian Input Input
tradable non tradable
Harga Privat A B C D
Harga Sosial E F G H
Efek Divergensi I J K L
Sumber : Monke and Pearson, 1989
Keterangan :
1. Keuntungan Privat (D) = A – (B + C)
2. Keuntungan Sosial (H) = E – (F + G)
3. Transfer Output (I) = A – E
4. Transfer Input Tradable (J) = B – F
5. Transfer Input Non Tradable (K) = C – G
6. Transfer Bersih (L) = I – (K + J)
7. Rasio Biaya Privat (PCR) = C/(A – B)
8. Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) = G/(E – F)
9. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) = A/E
10. Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) = B/F
11. Koefisien Keuntungan (PC) = D/H
Penjelasan :
1. Penentuan Input dan Output Usahatani Kentang
Input yang digunakan adalah pupuk, pestisida alami dan kimia, bibit,
peralatan, mesin, tenaga kerja, media tanam. Sedangkan output yang dihasilkan
adalah kentang segar.
2. Metode Alokasi Komponen Biaya Asing dan Domestik
Menurut Monke dan Pearson (1989), terdapat dua pendekatan
mengalokasikan biaya domestik dan asing yaitu pendekatan langsung (direct
approach) dan pendekatan total (total approach). Pendekatan langsung
mengasumsikan seluruh biaya input yang dapat diperdagangkan (tradable) baik
impor maupun produksi dalam negeri dinilai sebagai komponen biaya asing dan
dapat dipergunakan apabila tambahan permintaan input tradable tersebut dapat
dipenuhi dari perdagangan internasional. Dengan kata lain, input non tradable
yang sumbernya dari pasar domestik ditetapkan sebagai komponen domestik dan
input asing yang dipergunakan dalam proses produksi barang non tradable tetap
dihitung sebagai komponen biaya asing.
Sementara pada pendekatan total, setiap biaya input tradable dibagi ke
dalam komponen biaya domestik dan asing, dan penambahan input tradable dapat
dipenuhi dari produksi domestik jika input tersebut memiliki kemungkinan untuk
diproduksi di dalam negeri. Dengan demikian, pendekatan total lebih tepat
digunakan apabila produsen lokal dilindungi, sehingga tambahan input
didatangkan dari produsen lokal atau pasar domestik. Biaya produksi adalah
37

seluruh biaya yang dikeluarkan secara tunai maupun yang diperhitungkan untuk
menghasilkan komoditas akhir yang siap dipasarkan atau dikonsumsi. Biaya
domestik dapat didefinisikan sebagai nilai input yang digunakan dalam suatu
proses produksi. Penentuan alokasi biaya produksi ke dalam komponen asing
(tradable) dan domestik (non tradable) didasarkan atas jenis input, penentuan
biaya input tradable dan non tradable dalam biaya total input.
3. Metode Penentuan Harga Bayangan
Harga bayangan adalah sebagian harga yang terjadi dalam perekonomian
pada keadaan persaingan sempurna dan kondisinya dalam keadaan keseimbangan
(Gittinger 1982). Kondisi biaya imbangan sama dengan harga pasar sulit
ditemukan, maka untuk memperoleh nilai yang mendekati biaya imbangan atau
harga sosial perlu dilakukan penyesuaian terhadap harga pasar yang berlaku.
Alasan penggunaan harga bayangan adalah sebagai berikut :
a. Harga bayangan tidak mencerminkan korbanan yang dikeluarkan jika
sumberdaya tersebut dipakai untuk kegiatan lain.
b. Harga yang berlaku di pasar tidak menunjukkan apa yang sebenarnya
diperoleh masyarakat melalui suatu produksi dari aktivitas tersebut.
3.1. Harga Bayangan Output
Pendekatan untuk harga bayangan output kentang ditentukan berdasarkan
harga CIF karena merupakan harga batas di pelabuhan impor, maka perlu
ditambah biaya transport dan handling dari pelabuhan Tanjung Priok ke lokasi
penelitian. Dengan harga CIF yang dikonversi terlebih dahulu ke dalam rupiah
dengan biaya-biaya transportasi, bongkar muat, pemasaran, pengepakan, dan
sortasi. Namun, harus dilakukan perhitungan harga bayangan nilai tukar sebagai
berikut.

Dimana.
SER : Nilai Tukar Bayangan (Rp.US$)
OER : Nilai Tukar Resmi (Rp/US$)
SCFt : Faktor konversi Standar
Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan
ekspor ditambah pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut :

Dimana.
SCFt : Faktor konversi standar untuk tahun ke-t
Xt : Nilai ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)
Mt : Nilai impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)
Txt : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp)
Tmt : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp)
Menurut data BPS (2012), Indonesia saat ini lebih banyak mengimpor
kentang daripada mengekspor kentang, sehingga peningkatan produksi kentang
lebih diarahkan untuk substitusi impor. Jadi, dalam penelitian ini harga kentang
yang digunakan harga perbatasan CIF. Harga CIF kentang sebesar US$ 0.59 per
38

kg, dalam mata uang domestik menjadi Rp6,356.27 per kg. Selanjutnya dari harga
CIF kentang tersebut dilakukan penyesuaian dengan penambahan terhadap biaya
distribusi dan handling sampai ketingkat petani. Jadi harga bayangan kentang di
tingkat petani sebesar Rp6,711.27 per kg. Pehitngan harga bayangan kentang
dapat dilihat pada Lampiran 4.
3.2. Harga Bayangan Input
Pada prinsipnya dalam menentukan harga sosial atau bayangan input dan
peralatan yang termasuk komoditas tradable, tidak berbeda dengan menentukan
harga sosial output, jika inputnya adalah komoditas impor maka menggunakan
harga CIF karena merupakan harga batas di pelabuhan impor, maka perlu
ditambah biaya transport dan handling dari pelabuhan ke lokasi penelitian. Jika
komoditasnya adalah ekspor maka harga sosial ditentukan berdasarkan harga
border price yaitu FOB, sedangkan untuk input non tradable digunakan harga
pasar domestik.

Harga Bayangan Lahan


Penentuan harga bayangan lahan dapat didekati melalui: (1) pendapatan
bersih usahatani tanaman alternatif terbaik yang biasa ditanam pada lahan
tersebut, (2) nilai sewa yang berlaku di daerah setempat, dan (3) nilai tanah yang
hilang karena proyek, dan (4) tidak dimasukkan dalam perhitungan sehingga
keuntungan yang didapat petani merupakan return to management and land.
Penelitian ini menggunaka harga bayangan lahan akan dipakai seperti yang
diusulkan Gittinger (2008), yakni dengan nilai sewanya. Perhitungan harga
bayangan lahan menggunakan nilai sewa lahan per ha yang berlaku di daerah
penelitian. Rata-rata nilai sewa lahan sebesar Rp1,500,000 per ha.

Harga Bayangan Benih


Harga bayangan benih yang digunakan pada penelitian ini sama dengan
harga Privatnya, karena berdasarkan informasi yang diperoleh dari petani bahwa
sebesar 100 persen petani responden menggunakan benih kentang dari hasil panen
tanaman kentang sebelumnya dan diproduksi di dalam negeri. Informasi lain juga
diperoleh bahwa pada waktu penelitian dilakukan tidak ada impor kentang dari
negara lain yang masuk ke Indonesia. Rata-rata harga benih kentang yang berlaku
di daerah penelitian sebesar Rp7,582.50 seperti terdapat pada Lampiran 5.

Harga Bayangan Pupuk


Terdapat beberapa pupuk yang digunakan pada penelitian ini dan harga
bayangan yang berlaku pada setiap jenis pupuk dihitung sebagai berikut : Harga
pupuk Urea, SP36, ZA menggunakan harga perbatasan dengan nilai Free On
Board (FOB) pupuk Urea, SP36, ZA sebesar US$0.44, US$0.23, US$0.35 per
kilo gram. FOB digunakan karena Urea, SP36, ZA merupakan komoditas ekspor,
kemudian dihitung nilai tukar bayangan pada tahun 2013 sebesar Rp10,706.83,
sehingga diperoleh FOB Indonesia dalam mata uang domestik berturut-turut
Rp4,759.04, Rp2,410.17, Rp3,796.79 kemudian dihitung harga transportasi dan
handling eksportir masing-masing sebesar Rp71.23, ditambahkan dengan harga
paritas ekspor pedagang besar dengan harga Rp4.687,81, Rp2,338.94, Rp3,725.56
serta harga distribusi dan handling tingkat petani Rp890.31, Rp662.01, Rp2.200
39

maka diperoleh harga paritas ekspor di tingkat petani untuk pupuk Urea
Rp3,797.50, pupuk Sp-36 Rp1,676.93 dan pupuk ZA Rp1,525.56.
Untuk harga bayangan pupuk kandang, pupuk cap sarang burung, pupuk
petroganik didasarkan pada harga privatnya yaitu masing-masing sebesar Rp500
per kg dan Rp3,500 per kg serta Rp800 per kg.

Harga Bayangan Pestisida (obat-obatan) dan Tenaga Kerja


Harga bayangan pestisida (obat-obatan) didasarkan pada harga privatnya,
kemudian dihitung rasio kenaikan harga pestisida (obat-obatan) dari harga eceran
dan ditambah dengan biaya distribusi ke lokasi penelitian. Jadi, harga bayangan
pestisida di lokasi penelitian adalah untuk obat-obatan jenis fungisida Rp65,000
per liter, insektisida Rp45,000 per liter, herbisida Rp40,000 per liter.
Selanjutnya harga bayangan tenaga kerja disesuaikan dengan upah privat
ditingkat petani. Menurut Pearson et al. (2005), peneliti tidak banyak menemukan
divergensi yang mempengaruhi pasar tenaga kerja di Indonesia. Ketentuan upah
minimum tidak berlaku di sektor pertanian. Kisaran upah tenaga kerja ditingkat
petani yaitu Rp32,500-Rp33,750 per ha disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang
dilakukan pada saat melakukan produksi kentang.

Harga Bayangan Peralatan


Peralatan yang digunakan petani adalah cangkul, sabit, tugal, mulsa, ajir,
bambu kecil, mesin semprot (sprayer). Harga bayangan peralatan didasarkan pada
penyusutannya yaitu cangkul Rp14,000 per ha, sabit Rp7,000 per ha, tugal
Rp6,222 per ha, mulsa Rp34,375 per ha, ajir Rp53 per ha, bambu kecil Rp50 per
ha, mesin semprot (sprayer) Rp29,166.67 per ha.

Harga Bayangan Pengangkutan dan BBM


Biaya pengangkutan hasil panen kentang segar dari ladang ke gudang
(pemukiman warga) disesuaikan dengan harga privat ditingkat petani karena tidak
ada distorsi pasar. Biaya pengangkutan kentang sebesar Rp100 per Kg.
Selanjutnya harga bayangan BBM didasarkan pada harga privatnya,
kemudian dihitung rasio kenaikan harga BBM dari harga eceran tertinggi dan
ditambah dengan biaya distribusi ke lokasi penelitian. Jadi harga bayangan BBM
di lokasi penelitian adalah Rp9,700 per liter.

Harga Bayangan Nilai Tukar


Perhitungan SER tahun 2013 berdasarkan data BPS, dimana total nilai
ekspor Indonesia (Xt) pada tahun 2013 adalah sebesar Rp1,496,454.38 milyar,
nilai impor Indonesia (Mt) Rp1,560,234.79 milyar, penerimaan pemerintah dari
pajak ekspor (Txt) Rp18,899 milyar, dan penerimaan pemerintah dari pajak impor
(Tmt) sebesar Rp 23,535 milyar. Nilai tukar resmi rata-rata mata uang Rupiah
terhadap US Dollar pada tahun 2013 adalah sebesar Rp10,690.62 per US Dollar.
Berdasarkan data tersebut diperoleh nilai faktor konversi standar pada tahun 2013
adalah sebesar 0.9984 sehingga diperoleh nilai tukar bayangan mata uang Rupiah
terhadap US Dollar (SER) sebesar Rp10,706.83 per US Dollar. Perhitungan nilai
tukar bayangan disajikan pada Lampiran 3.
40

4. Analisis Indikator Matrix Kebijakan


A. Analisis keuntungan
1. Keuntungan Privat (D) = A – B – C
Keuntungan privat menunjukkan selisih antara penerimaan dengan seluruh
biaya yang dikeluarkan dan dihitung dengan menggunakan harga pasar. Nilai
keuntungan privat yang lebih besar dari nol berarti secara finansial komoditas
tersebut layak untuk diusahakan. Demikian sebaliknya, jika nilai keuntungan
privat kurang dari nol maka kegiatan usaha tersebut tidak menguntungkan pada
kondisi adanya intervensi pemerintah.
2. Keuntungan sosial (H) = E – F – G
Keuntungan sosial merupakan selisih antara penerimaan dengan seluruh
biaya yang dikeluarkan yang dihitung dengan menggunakan harga bayangan.
Apabila nilai keuntungan sosial lebih besar dari nol berarti pada kondisi pasar
persaingan sempurna, aktivitas pengusahaan komoditas tersebut menguntungkan
secara ekonomi.
B. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif
C
1. Rasio Biaya Privat (PCR) =
A-B
Rasio biaya privat merupakan rasio antara biaya input domestik privat
dengan selisih antara penerimaan privat dengan biaya input tradable privat. Jika
nilai PCR lebih kecil dari satu berarti aktifitas pengusahaan komoditas tersebut
efisien secara finansial atau memiliki keunggulan kompetitif pada kondisi terdapat
intervensi pemerintah, berlaku sebaliknya jika nilai PCR lebih besar dari satu.
G
2. Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) =
E-F
Apabila nilai Domestik Resousce Cost lebih kecil dari satu, maka kegiatan
pengusahaan suatu komoditas dikatakan efisien pada kondisi tanpa ada kebijakan
pemerintah atau memiliki keunggulan komparatif. Demikian sebaliknya apabila
hasil perhitungan DRC lebih besar dari satu.
C. Analisis Dampak Kebijakan
1. Kebijakan output
a. Transfer Output (I) = A – E
Transfer output merupakan selisih antara nilai penerimaan berdasarkan
harga finansial dan penerimaan berdasarkan harga sosial. Nilai transfer output
positif mencerminkan besarnya transfer dari masyarakat ke produsen karena
masyarakat membeli output dengan harga di atas harga yang seharusnya.
Sedangkan nilai transfer output negatif menunjukkan bahwa kebijakan yang
berlaku mengakibatkan harga output yang diterima produsen lebih rendah dari
harga seharusnya.
A
b. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) = E
Koefisien proteksi output nominal merupakan rasio antara penerimaan
berdasarkan harga finansial dan penerimaan berdasarkan harga sosial. Apabila
nilai NPCO lebih besar dari satu berarti kebijakan pemerintah mengakibatkan
harga output di pasar lokal lebih tinggi dibandingkan harga di pasar dunia.
41

2. Kebijakan Input
a. Transfer Input (J) = B – F
Transfer input merupakan selisih antara biaya berdasarkan harga finansial
dan biaya berdasarkan harga sosial. Nilai transfer input menunjukkan adanya
kebijakan pemerintah pada input tradable. Nilai transfer input positif
mencerminkan bahwa produsen harus membayar inputnya lebih mahal. Apabila
nilai transfer input negatif berarti bahwa produsen tidak perlu membayar secara
penuh korbanan sosial yang seharusnya dibayarkan.
B
b. Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) = F
Koefisien proteksi input nominal merupakan rasio antara biaya input
tradable berdasarkan harga finansial dan biaya input tradable berdasarkan harga
sosial. Nilai NPCI yang lebih besar dari satu menunjukkan adanya proteksi dari
pemerintah terhadap produsen input sehingga sektor yang menggunakan input
tersebut terpaksa dirugikan dengan tingginya biaya produksi.
c. Transfer Faktor (K) = C – G
Transfer faktor merupakan indikator yang digunakan untuk menganalisis
dampak kebijakan pemerintah terhadap input non tradable. Apabila transfer faktor
bernilai positif berarti terdapat kebijakan pemerintah yang sifatnya melindungi
produsen input domestik. Nilai transfer faktor diperoleh dari selisih antara biaya
input non tradable privat dengan biaya input non tradable sosial.
3. Kebijakan Input-Output
a. Transfer Bersih = D – H
Transfer bersih merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benar-
benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya.
A-B
b. Koefisien Proteksi Efektif (EPC) = E-F
Nilai EPC menggambarkan arah kebijakan pemerintah apakah bersifat
melindungi atau justru menghambat kegiatan pengusahaan suatu komoditas.
D
c. Koefisien Keuntungan =
H
Apabila nilai koefisien keuntungan lebih besar dari satu, berarti secara
keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen.
Sebaliknya apabila nilai koefisien keuntungan lebih kecil dari satu, berarti
kebijakan pemerintah mengakibatkan keuntungan yang diterima produsen lebih
kecil dibandingkan tidak ada intervensi pemerintah.
L
d. Rasio Subsidi bagi Podusen (SRP) =
A-B
Nilai SRP yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa kebijakan
pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen mengeluarkan biaya
di atas biaya sosial yang seharusnya dikeluarkan.
42

Alokasi Komponen Biaya Domestik dan Asing


Metode PAM memilah input yang digunakan dalam proses produksi
menjadi input yang dapat diperdagangkan di pasar internasional atau input
tradable dan input domestik /tidak diperdagangkan di pasar internasional. Alokasi
biaya ke dalam komponen domestik dan asing menurut Pearson et al (2005) ada
dua pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan total (total approach) dan
pendekatan langsung (direct approach). Pendekatan total mengasumsikan setiap
biaya input tradable dibagi ke dalam komponen biaya domestik dan asing dan
penambahan input tradable dapat dipenuhi dari poduksi domestik jika input
tersebut mempunyai kemungkinan untuk diproduksi di dalam negeri. Pendekatan
ini lebih tepat digunakan dalam analisis dampak kebijakan pemerintah atau untuk
memperkirakan biaya ekonomi atau sosial dari struktur proteksi yang di lakukan
oleh pemerintah. Sedangkan pendekatan langsung mengasumsikan seluruh biaya
input yang dapat diperdagangkan (input tradable) baik impor maupun produksi
dalam negeri dinilai sebagai komponen biaya asing dan dapat dipergunakan
apabila tambahan permintaan input tradable tersebut dapat dipenuhi dari
perdagangan internasional. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan total dengan mengalokasikan biaya ke dalam komponen asing
(tradable) dan domestik (non tradable).
Alokasi biaya komponen dan asing pada sistem komoditas kentang
(Lampiran 2) menunjukkan bahwa yang termasuk ke dalam 100% input domestik
adalah BBM, pupuk kandang, pupuk cap sarang burung, pupuk petroganik, benih
kentang, tenaga kerja, cangkul, sabit, tugal, mulsa, ajir, bambu kecil, mesin
semprot, sewa lahan, bunga modal. Selanjutnya, 100% input komponen asing
adalah herbisida. Herbisida diproduksi oleh perusahaan asing yang bekerja di
Indonesia (hampir sebagian besar komponennya impor). Pupuk Phonska, pupuk
SP-36 dan pupuk urea, pupuk ZA, Fungisida, Insektisida dimasukkan ke dalam
komponen domestik 64% dan 36% asing. Hal ini karena hampir sebagian besar
komponennya dari domestik.

Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari
perubahan harga baik peningkatan maupun penurunan input produksi maupun
output yang dihasilkan serta pengaruhnya terhadap daya saing komoditas kentang
di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Simulasi kebijakan dilakukan
berdasarkan perubahan harga-harga input, dan jumlah output yang berpengaruh
terhadap daya saing komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Analisis sensitivitas dilakukan untuk mensubstitusi kelemahan metode
Policy Analysis Matrix yang hanya memberlakukan satu tingkat harga padahal
dalam keadaan sebenarnya harga tersebut sangat variatif, skenario pada analisis
sensitivitas ditetapkan berdasarkan fenomena kebijakan pemerintah dan fenomena
yang terjadi di lapang, sehingga skenario analisis sensitivitas usahatani kentang
tersebut dapat memperoleh bentuk kebijakan yang efektif.
Pemerintah memberikan subsidi pupuk dalam upaya membantu petani
dalam memproduksi kentang. Harga Eceran Tertinggi (HET) merupakan harga
jual pupuk yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian dalam bentuk Peraturan
Menteri Pertanian. Harga HET pupuk periode 2005-2009 meningkat sekitar 15
persen (Indrayani, 2011), harga obat-obatan yang setiap tahun meningkat rata-rata
43

sebesar 10 persen sedangkan kebijakan output berupa tarif impor kentang sebesar
nol persen pada tahun 2010 menyebabkan harga kentang turun sampai 50 persen
karena bersaing dengan harga kentang impor yang rendah.
Analisis sensitivitas usahatani kentang dibuat dalam bentuk simulasi,
selanjutnya akan dilakukan analisis sensitivitas untuk memperoleh bentuk
kebijakan yang efektif. Dalam penelitian ini, analisis sensitivitas dilakukan
dengan empat skenario berdasarakan fenomena yang sudah pernah terjadi, sedang
terjadi maupun yang akan terjadi. Adapun skenario yang beberapa skenario
tersebut, yaitu: (1) analisis sensitivitas harga pupuk naik 15 persen, (2) analisis
sensitivitas harga obat-obatan naik 10 persen, (3) analisis sensitivitas harga
kentang turun 50 persen, (4) analisis sensitivitas kombinasi harga pupuk naik 15
persen dengan harga obat-obatan naik sebesar 10 persen.

5 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Gambaran Umum Wilayah Penelitian

Kabupaten Banjarnegara termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah


dengan luas wilayah 106.971,01 Ha. Pusat pemerintahan Kabupaten Banjarnegara
berada di Kecamatan Banjarnegara. Secara geografis Kabupaten Banjarnegara
terletak diantara 7°12’ – 7°31’ Lintang Selatan dan diantara 109°20’10” – 109°
45’50” Bujur Timur. Secara administratif, Kabupaten Banjarnegara sebelah utara
berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang, sebelah timur
berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo, sebelah selatan berbatasan dengan
Kabupaten Kebumen, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga
dan Kabupaten Banyumas (Gambar 9).

Gambar 9. Peta Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Jumlah penduduk Kabupaten Banjarnegara sebanyak 885.216 jiwa yang


terdiri dari 442.391 jiwa penduduk laki-laki dan 442.825 jiwa penduduk
perempuan. Jumlah rumah tangga di Kabupaten Banjarnegara sebanyak 216.356
rumah tangga dengan kepadatan penduduk 828 jiwa per kilo meter persegi.
Ketinggian wilayah Kabupaten Banjarnegara antara 44 m.dpl sampai 2.800 m.dpl
dengan wilayah tertinggi adalah Kecamatan Batur yang terkenal melalui dataran
tinggi Diengnya memiliki ketinggian wilayah 1.633 m.dpl. Tingkat kemiringan di
44

wilayah Kabupaten Banjarnegara mulai dari landai dengan tingkat kemiringan 0 –


15 persen sampai curam dengan tingkat kemiringan lebih besar dari 40 persen,
dimana daerah topografi datar sampai agak curam umumnya terdapat di daerah
dataran rendah sedangkan daerah topografi curam terdapat pada dataran tinggi.
Kecamatan Batur merupakan bagian dari wilayah administrasi di
Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, atau terletak di bagian ujung
utara diantara 7.28° - 7.31° Lintang Selatan dan 2.40° - 3.47° Bujur Timur. Secara
geografis, Kecamatan Batur berada di daerah dataran tinggi atau pegunungan
Tabel 6. Luas Wilayah Kecamatan Batur menurut Desa dan Presentasenya

No Desa/Kelurahan Luas (Ha) Persentase (%)


1. Batur 1 212.142 25.70
2. Sumberejo 792.932 16.81
3. Pekasiran 719.217 15.25
4. Kepakisan 562.882 11.17
5. Karang tengah 488.811 10.36
6. Bakal 484.850 10.28
7. Dieng Kulon 337.846 7.16
8. Pasurenan 154.420 3.27

Jumlah 4 717.100 100,00


dengan
Sumberketinggian 1,663 meter
: BPS Kabupaten di atas Tahun
Banjarnegara permukaan
2012 laut sehingga memiliki iklim
yang cukup dingin dengan suhu rata-rata mencapai 15° Celcius.
Wilayah yang banyak digunakan untuk pertanaman kentang ini terhitung
cukup jauh dengan Ibu kota Kabupaten Banjarnegara hingga berjarak sekitar 42
kilo meter. Adapun batas-batas wilayah yang mengelilingi Kecamatan Batur
adalah sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Batang, sebelah Timur
berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo, berbatasan dengan sebelah Selatan
berbatasan dengan Kecamatan Pejawaran, sebelah Barat berbatasan dengan
Kecamatan Wanayasa.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara (2012) menyebutkan
bahwa Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara memiliki luas wilayah 47.17
kilo meter persegi yang terbagi menjadi delapan Desa, yakni Desa Batur, Sumber
Rejo, Pasurenan, Bakal, Dieng Kulon, Karang Tengah, Kepakisan dan Pekasiran.
Data luas wilayah Kecamatan Batur selangkapnya tersaji dalam Tabel 6.
Penduduk di Kecamatan Batur berjumlah 38,361 jiwa, terdiri dari penduduk
laki-laki sebanyak 19,502 jiwa dan perempuan 19,359 jiwa. Jumlah penduduk
terbesar terdapat di Desa Batur dengan jumlah 10,901 jiwa, sedangkan jumlah
penduduk terkecil terdapat di Desa Pasurenan sebanyak 2,715 jiwa. Diamati dari
kepadatan penduduk, per kilometer persegi mencapai angka kepadatan rata-rata
sebesar 824 jiwa. Data kepadatan penduduk selengkapnya tersaji pada Tabel 7.
45

Tabel 7. Kepadatan Penduduk setiap Desa di Kecamatan Batur


No Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk Luas Kepadatan
(Jiwa) (km²) Penduduk/km²
1. Batur 10 901 12.12 889
2. Sumberejo 5 552 7.93 700
3. Pekasiran 5 078 7.19 706
4. Karangtengah 4 686 4.89 958
5. Bakal 3 868 4.85 798
6. Dieng Kulon 3 265 3.38 966
7. Kepakisan 2 796 5.27 531
8. Pasurenan 2 715 1.54 1,763
Jumlah 38 861 47.17 7,311
Sumber : BPS Kabupaten Banjarnegara Tahun 2012
Mata pencaharian penduduk di Kecamatan Batur bervariasi baik dari jenis
maupun jumlahnya namun sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani
khususnya petani kentang. Penduduk di Kecamatan Batur sebanyak 13,449 jiwa
(47.74 persen) bermata pencaharian sebagai petani, sebesar 5,635 jiwa (20 persen)
sebagai buruh tani. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian disajikan pada
Tabel 8.
Tabel 8. Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Batur, Banjarnegara

No Desa/Kelurahan Jumlah (jiwa) Persentase (%)


1. Petani 13 449 47.74
2. Buruh Tani 5 635 20.00
3. Pedagang 3 054 10.84
4. Buruh Industri 2 727 9.68
5. Buruh Bangunan 843 2.99
6. Angkutan 658 2.35
7. PNS 479 1.70
8. Jasa Sosial 476 1.67
9. TNI/POLRI 258 0.95
10. Pensiunan 241 0.85
11. Pengusaha 23 0.08
12. Lain-lain 326 1.15
Jumlah 28 169 100.00
Sumber : BPS Kabupaten Banjarnegara Tahun 2012
Dari Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa persentase tertinggi mata
pencaharian penduduk di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara adalah
sebagai petani dan buruh tani yang berjumlah total untuk kedua bidang tersebut
sebesar 67.74 persen. Dapat disimpulkan bahwa pada umumnya (sebagian besar)
penduduk menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Meskipun demikian
penduduk di Kecamatan Batur, Banjarnegara ada juga yang berprofesi sebagai
pedagang, buruh industri, buruh bangunan, angkutan, PNS, jasa sosial, TNI/Polri,
pensiunan, pengusaha serta profesi lainnya. Dari data ini terlihat jelas bagaimana
peranan pertanian sangat penting dan menjadi prioritas utama bagi masyarakat
karena menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat.
46

Karakteristik Petani Responden

Petani yang dijadikan sebagai responden merupakan petani yang pekerjaan


utamanya berusahatani kentang. Petani pada umumnya berusahatani kentang dua
sampai tiga kali dalam setahun. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani
responden, diperoleh data dan informasi untuk menggambarkan karakteristik
petani. Beberapa karekteristik yang menggambarkan petani responden antara lain
: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anggota keluarga atau
tanggungan petani, komoditas pertanian yang diusahakan, pengalaman
berusahatani kentang, penguasaan atas lahan, pola penggunaan lahan pertanian.
Karakteristik responden berdasarkan umur (Tabel 9) menyatakan bahwa
sebesar 100 persen petani tergolong usia produktif (25-57 tahun). Hal ini
menunjukkan bahwa berdasarkan umur, petani dapat mengelola usahataninya
dengan baik. Berdasarkan pendidikan petani responden yaitu 48 persen
berpendidikan SD, 33 persen berpendidikan SMP, 10 persen berpendidikan SMA,
10 persen berpendidikan Sarjana. Meskipun ada petani responden yang sudah
berpendidikan sarjana, akan tetapi dari persentase keseluruhan dapat disimpulkan
bahwa pendidikan petani responden masih tergolong rendah karena sebesar 48
persen masih berpendidikan SD dan 33 persen berpendidikan SMP. Hal ini
menunjukkan tingkat pendidikan akan mempengaruhi teknik usahatani seperti
penggunaan teknologi dan hal lain yang berpengaruh terhadap kegiatan usahatani.
Petani cenderung tidak berminat untuk mengikuti kelompok tani, karena
menganggap bahwa tidak ada manfaat jika ikut dalam kelompok tani dan jarang
mendapat bantuan. Pada umumnya, kelompok tani tidak aktif dan sebagian besar
kelompok tani digunakan hanya untuk saluran menerima bantuan dari pemerintah.
Namun setelah bantuan tersebut turun, ternyata hanya orang tertentu yang
memperoleh manfaat sementara ada juga anggota kelompok tani yang tidak
memperolehnya sama sekali.
Peran kelompok tani sebagai salah satu bentuk kelembagaan tani
sesungguhnya sangat dibutuhkan fungsinya oleh masyarakat tani di daerah
penelitian, karena melalui kelompok tani tersebut para petani dapat membangun
kekuatan yang lebih besar. Kekuatan akan terbentuk diberbagai aspek seperti
posisi tawar petani, kekuatan permodalan, kepastian pasar dan kekuatan lainnya.
Oleh karena itu sebaiknya kelembagaan tani baik berupa kelompok tani maupun
bentuk lainnya sebaiknya dibentuk di daerah penelitian karena dapat membantu
petani dalam banyak hal sehingga petani dapat meningkatkan pendapatannya dan
juga bermanfaat bagi kesejahteraan petani.
Berdasarkan pengalaman berusahatani kentang, sebagian besar petani
responden telah lama berprofesi sebagai petani kentang karena merupakan usaha
turun temurun di daerah tersebut. Petani yang telah memiliki pengalaman
berusahatani kentang lebih dari 10 tahun sebesar 62 persen. Oleh sebab itu,
penerapan sistem usahatani yang turun temurun tersebut yang banyak digunakan
oleh petani. Karakteristik petani kentang yang lain yang termasuk dalam
penelitian ini adalah keanggotaannya dalam kelompok tani sebesar 37.50 persen,
yang tidak ikut kelompok tani sebesar 62.50 persen untuk lebih jelasnya, dapat
dilihat pada Tabel 9.
47

Tabel 9.Sebaran Petani Responden Berdasarkan Umur, Pendidikan, Pengalaman


dan Keanggotaan dalam Kelompok Tani di Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah
No Karakteristik Responden Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Berdasarkan Umur (tahun)
a. 20-30 9 23.50
b. 31-40 13 32.50
c. 41-50 12 30.00
d. 51-60 6 15.00
2. Berdasarkan Pendidikan
a. SD (1-6 tahun) 19 47.50
b. SMP (7-9) 13 32.50
c. SMA/SMK (10-12) 4 10.00
d. Sarjana (>12 tahun) 4 10.00
3. Berdasarkan Pengalaman (tahun)
a. 1-5 6 15.00
b. 6-10 9 22.50
c. 11-15 8 20.00
d. 16-20 9 22.50
e. 21-25 2 5.00
f. >25 6 15.00
4. Berdasarkan Keanggotaannya dalam
Kelompok Tani
a. Anggota 15 37.50
b. Bukan Anggota 25 62.50
Menurut informasi yang diperoleh saat penelitian bahwa kondisi ini banyak
dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang bermain di pasar kentang di daerah
Banjarnegara khususnya pihak yang berperan sebagai tengkulak. Beberapa hal
yang dapat dimanfaatkan tengkulak dari kondisi yang ada adalah dengan
memberikan pinjaman/kredit maupun menyediakan input pertanian bagi petani
yang membutuhkan permodalan kemudian setelah petani memiliki pinjaman
kepada pedagang pengumpul (tengkulak) maka biasanya petani akan menjual
hasil panen kentangnya kepada tengkulak tersebut dan hal ini akan
memperngaruhi harga yang berlaku. Biasanya harga yang ditetapkan oleh
tengkulak kepada petani yang memiliki hutang bisa saja lebih rendah jika
dibandingkan harga yang ditetapkan oleh tengkulak kepada petani yang tidak
meminjam uang.
Petani yang memiliki hutang kepada tengkulak terkadang merasa bahwa hal
tersebut wajar untuk dilakukan tengkulak karena petani sudah dibantu dari segi
permodalan, tanpa disadari bahwa hal tersebut sebenarnya sudah menyebabkan
menurunnya pendapatan petani. Dalam hal ini, apabila ada kelembagaan tani yang
kuat dan perannya berfungsi dengan baik maka akan dapat menggantikan fungsi
tengkulak tersebut, sehingga dapat membantu petani dalam meningkatkan
pendapatannya dan kelembagaan tani tersebut juga akan menjadi besar dan
hasilnya dapat dinikmati bersama oleh para petani yang menajadi naggota
kelembagaan tani tersebut.
48

Kepemilikan Lahan

Sebagian besar kepemilikan lahan di daerah penelitian adalah lahan milik


sendiri sebesar 88.37 persen, sewa 10.40 persen sedangkan lahan bagi hasil
sebesar 1.23 persen. Rata-rata harga sewa lahan di daerah penelitian sebesar
Rp1,500,000 per musim tanam atau sekitar Rp4,500,000-Rp5,000.000 per hektar
per tahun. Pada umumnya sistem bagi hasil di daerah penelitian adalah petani
menyediakan lahan dan tenaga kerja, sementara input lain seperti benih, pupuk
dan pestisida berasal dari petani mitra sedangkan hasil usahatani kentang dibagi
dua oleh petani dan pemilik. Luas garapan petani responden di lokasi penelitian
sebagian besar masih skala kecil dan pada umumnya untuk musim tanam 1 dan 2
luasanya sama, seperti tertera pada Tabel 10.
Tabel 10 Sebaran Petani Responden Menurut Luas Garapan Kentang di Kecamatan
Batur, Kabupaten Banjarnegara
No Luas Lahan Jumlah Responden Persentase (%)
1. a. 0.25 – 2.00 27.00 67.50
b. 2.10 – 4.00 9.00 22.50
c. 4.10 – 6.00 13.00 2.50
d. 6.10 – 20.00 12.00 7.50
Total 40.00 100.00
Rata-rata 23.81
Minimum 0.25
Maksimum 20.00

Tabel 10 menunjukkan bahwa persentase tertinggi kepemilikan lahan di


Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara adalah pada lahan 0.25-2.00 hektar
yaitu sebesar 67.50 persen, kemudian diurutan kedua adalah kepemilikan dengan
luas lahan 2.10-4.00 hektar sebesar 22.50 persen. luas lahan yang dimiliki petani
tersebut sifatnya adalah warisan yang diterima dari orang tuanya.
Kondisi kepemilikan lahan pertanian yang relatif kecil dengan luas 0.25-
2.00 hektar sebesar 67.50 persen tersebut dapat menyebabkan posisi tawar petani
yang lemah, karena jika tiba saat panen kentang jika produksi yang dihasilkan
hanya sedikit maka ini dapat menyebabkan ketidak sesuai volume yang
diinginkan pasar dan juga ketidak kontinuan produk kentang yang dijual ke pasar.
Akibatnya para pemain yang ada di pasar akan memanfaatkan kondisi tersebut
untuk berperan menjadi pengumpul yang dapat mengumpulkan dari setiap petani
yang memilik lahan kecil tersebut dan menghubungkannya kepada pasar yang
pada umumnya terdapat di luar Banjarnegara, Jawa Tengah.

Keragaan Usahatani

Komoditas kentang merupakan komoditas unggulan di Kecamatan Batur,


Kabupaten Banjarnegara, budidaya kentang sudah dilakukan sejak dahulu secara
turun temurun di wilayah tersebut. Selain berusahatani kentang, petani contoh
juga berusahatani kubis, wortel, cabai sebagai tumpang sari maupun tanaman
rotasi dan pada umumnya kentang sebagai tanaman utama yang ditanam.
49

Penanaman kentang pada umumnya terdiri dari 3 musim tanam dalam satu
tahun yaitu musim tanam I antara Januari-Februari dan musim tanam II antara
Mei-Juni dan musim tanam III antara September – November. Pola tanam yang
umum dilakukan oleh petani responden adalah kentang-kentang-kubis/wortel,
sehingga dalam waktu satu tahun idealnya dioptimalkan dua kali penanaman
kentang hanya saja petani masih cenderung menggunakan pola tanam kentang-
kentang-kentang karena merasa bahwa lebih menguntungkan menanam kentang
dibandingkan jika menanam komoditas lain. Sistem rotasi (pergiliran) tanaman
sebenarnya sangat dianjurkan untuk dilakukan karena dapat memperkecil risiko
serangan hama yang berlebihan, untuk mengembalikan unsur hara tanah. Musim
tanam yang digunakan sebagai data dalam penelitian ini adalah musim tanam II.
Pada umumnya usahatani di daerah penelitian dibiayai oleh modal sendiri
dan untuk pestisida biasanya dipinjam terlebih dahulu dari pedagang saprotan saat
musim tanam tiba kemudian dibayar setelah panen. Selain itu ada juga yang
meminjam modal kerja dari pedagang pengumpul Desa dan meminjam dari teman
atau keluarga, biasanya akan langsung dibayar setelah panen.
Tahapan usahatani kentang di lokasi penelitian pada umumnya dilakukan
sebagai berikut :
1. Pengolahan tanah merupakan salah satu kegiatan awal dalam budidaya
kentang, beberapa tahapan yang dilakukan untuk pengolahan tanah adalah
tanah dibajak (di cangkul) untuk membalik posisi tanah. Setelah itu diberi
pupuk dasar yaitu pupuk kandang (CM) yang diberikan dengan cara
mencampurkan pada tanah dengan kedalaman 20 cm sekaligus dilakukan saat
pembuatan guludan yang disesuaikan dengan kondisi tanah agar memperoleh
sinar matahari secara optimal.
2. Penanaman dilakukan pada umumnya seminggu setelah tahap persiapan
lahan. Langkah-langkah penanaman tersebut sebagai berikut : lubang tanam
disiapkan menggunakan tugal dengan kedalaman seukuran bibit atau kira-kira
7,5 – 10 cm. Kemudian benih kentang ditanam, benih yang ditanam harus
sudah tumbuh tunasnya sekitar 1 – 2 cm. Benih ditanam dengan posisi tunas
yang tumbuhnya paling baik menghadap ke atas, setelah itu ditimbun lagi
dengan tanah setebal 5 – 6 cm. Jarak tanam ideal sesuai anjuran yaitu jarak
antar barisan 70 – 80 cm dan jarak dalam barisan 30 cm, akan tetapi ada juga
petani yang melakukan jarak antar barisan 30 cm dan jarak dalam barisan 30
cm.
3. Pemeliharaan dilakukan agar pertumbuhan benih yang telah ditanam tetap
baik sehingga perlu dilakukan pemeliharaan dengan rutin selama masa
pertumbuhannya hingga panen. Produksi yang tinggi akan sulit dicapai apabila
tanaman kurang terpelihara dengan baik, oleh karena itu pemeliharaan
tanaman harus dilakukan seintensif mungkin. Pemeliharaan pada tanaman
kentang meliputi kegiatan pemupukan, penyiangan, pembumbunan,
pemangkasan bunga, penyemprotan dan pengairan/penyiraman.
4. Pemanenan dilakukan pada umur 90 – 160 hari setelah tanam (HST). Untuk
memperoleh hasil yang optimal, penentuan panen hendaknya berdasar pada
umur tanaman. Selain itu, waktu pemanenan (pagi, siang, sore) hendaknya
diperhatikan karena berpengaruh terhadap kualitas umbi yang dipanen. Pada
umumnya pemanenan dilakukan pada saat cuaca yang cerah di pagi hari atau
di sore hari. Tidak disarankan melakukan pemanenan disaat hujan, karena
50

umbi kentang akan mudah busuk. Pemanenan yang dilakukan pada siang hari
juga kurang baik, karena pada siang hari proses fotosintesa masih
berlangsung.
5. Pasca panen, kegiatan pasca panen dalam hal pengolahan kentang pada
umumnya tidak dilakukan karena petani langsung menjual kentang segar di
lahan atau di rumah petani. Kegiatan pasca panen biasanya hanya sebatas
melakukan grading dari hasil panen kentang segar maupun melakukan sortasi
untuk keperluan pemilihan benih kentang yang akan digunakan untuk musim
tanam berikutnya maupun untuk dijual kepada petani lain.
Petani di Kecamatan Batur, baik di Desa Batur maupun Desa Buntu pada
umumnya menjual kentang segar ke pedagang pengumpul Desa. Harga rata-rata
kentang yang berlaku pada saat musim tanam I dan musim tanam II tidak jauh
berbeda rata-rata berkisar antara Rp7,500 – Rp8,500.

Lembaga Pemasaran

Mayoritas responden menjual hasil panen kentang melalui pedagang


pengumpul Desa yaitu sebanyak 38 petani atau 95 persen, selain itu 2 petani
responden menjual hasil panen kentang kepada pedagang besar dalam hal ini
pedagang besar yang dimaksud adalah pedagang yang akan membawa kentang ke
pasar dan pedagang tersebut biasanya akan menampung kentang dari pedagang
pengumpul Desa. Hasil penelitian pada Tabel 11 menunjukkan bahwa sebagian
besar petani lebih memilih menjual kentangnya melalui pedagang pengumpul
Desa dibandingkan menjual sendiri ke pedagang besar. Hal ini karena
pertimbangan kepraktisan (petani cenderung tidak mau repot mencari penjual) dan
menghindari biaya transportasi, karena pada umumnya pedagang pengumpul Desa
akan berkeliling mencari kentang di masyarakat.
Tabel 11. Sebaran Responden Menurut Lembaga Pemasaran

No Pemasaran Jumlah Petani Persentase (%)


1. Pedagang Pengumpul Desa 38.00 95.00
2. Pedagang Besar 2.00 5.00
Jumlah 40.00 100.00
Selain itu ada juga responden yang mengatakan bahwa keputusannya
untuk menjual hasil panen kentang ke pedagang pengumpul Desa adalah karena
sudah memiliki hutang dan berjanji akan menjual hasil panennya kepada
pedagang pengumpul Desa tersebut. Hal ini sebenarnya dapat berakibat pada
posisi tawar petani yang semakin rendah karena sudah ada hal yang membuat
petani menjadi tidak bebas dalam menentukan kesepakatan harga disebabkan
adanya hutang tersebut.
Pedagang pengumpul Desa juga merupakan petani yang memiliki modal
lebih besar dibanding dengan petani lain. Harga jual kentang biasanya lebih
banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul/pedagang besar, namun petani juga
dapat dengan mudah mengetahui perkembangan informasi harga di pasar melalui
informasi dari sesama petani lainnya. Sistem pembayaran yang biasanya
dilakukan oleh pedagang pengumpul kepada petani adalah dengan sistem bayar
51

langsung (Cash On Delivery) atau tidak langsung (membayar setelah pulang dari
pasar).
Selanjutnya pedagang pengumpul Desa akan menjual kentang tersebut ke
pedagang besar yang ada di tingkat Kecamatan. Pedagang besar yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah pedagang besar yang biasanya berada di tingkat
Kecamatan dimana skala jual/belinya sudah lebih besar jika dibandingkan dengan
pedagang pengumpul Desa. Kemudian pedagang besar nantinya akan membawa
kentang tersebut ke pasar, pasar yang dituju bisa saja bermacam-macam seperti
pasar tradisional, pasar swalayan, Industri pengolahan baik yang ada di daerah
Banjarnegara maupun di luar wilayah Banjarnegara seperti pasar induk Kramat
jati, Jakarta, pasar Cibitung dan beberapa pasar lain yang ada di Jakarta, Bogor,
Semarang dan sekitarnya, Surabaya, serta pasar lainnya yang masih berada di
Pulau Jawa dan bahkan di luar Pulau Jawa seperti penjualan kentang ke Sumatera,
Kalimantan, dan pulau lainnya yang sudah biasa dilakukan oleh pedagang besar
hingga pernah sampai melakukan kegiatan ekspor ke luar negeri pada tahun-tahun
sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi penelitian, dapat
disimpulkan bahwa pada tahun 2010 setelah adanya penetapan tarif impor kentang
sebesar nol persen menyebabkan pengusahaan kentang yang ada di Banjarnegara,
Jawa Tengah menjadi terhambat dan para stakeholders terkait sempat mengalami
putus asa karena kentang yang di hasilkan dari usahatani di Banjarnegara tidak
laku terjual karena harga kentang impor yang jauh lebih murah. Kemudian kondisi
pasar mulai stabil kembali saat diberlakukannya tarif impor kentang serta adanya
Permentan No.3/2012 tentang rekomendasi impor produk hortikultura, dalam hal
ini Kementan mengeluarkan rekomendasi kuantitas (kuota) impor dan dialokasi
kepada importir terdaftar (IT) yang memenuhi syarat-syarat sesuai Permendag
No.30/2013. Permendag No.30/2012 tentang lisensi impor (IT) produk
hortikultura serta tahun 2013 dikeluarkannya kebijakan penutupan keran impor
produk hortikultura (termasuk kentang) dengan menutup pintu pelabuhan untuk
produk tersebut dengan harapan melalui adanya kebijakan ini maka dapat
menolong produsen/petani hortikultura di dalam negeri dalam meningkatkan daya
saing produk lokal serta mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Keuntungan Usahatani

Keuntungan atas biaya tunai usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara


sebesar Rp10,828,853.18 per ha (Lampiran 1) dan keuntungan petani atas biaya
total sebesar Rp5,015,478.73 per ha (penerimaan dikurangi dengan biaya total
produksi). Berdasarkan perhitungan tersebut, jika keuntungan yang ada dibagi per
bulan dengan waktu produksi selama empat bulan, maka keuntungan yang
diperoleh sebesar Rp1,253,870 per ha per bulan. Keuntungan usahatani kentang
yang diperoleh petani tergolong kecil dan menyebabkan petani sulit
mengembangkan usahatani kentang yang dikelolanya selama ini. Hal ini
dikarenakan petani perlu modal untuk menanam kentang pada musim tanam
berikutnya. Oleh sebab itu petani masih cenderung mengandalkan/bergantung
pada peminjaman modal baik pestisida dari pedagang saprodi maupun modal
kerja berupa uang dari tengkulak di lokasi penelitian.
52

Berdasarkan struktur biaya (Lampiran 1) maka dapat diketahui bahwa


alokasi biaya dalam usahatani kentang yang paling besar persentasenya yaitu
benih kentang sebesar 51,36 persen. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani
kentang sangat memerlukan benih kentang yang unggul dan memiliki
produktivitas yang tinggi agar petani dapat meningkatkan pendapatannya, karena
di daerah Banjarnegara ketersediaan benih kentang yang berkualitas masih sulit
dan kecenderungan benih yang tersedia harganya mahal, sehingga 100 persen
petani responden masih menggunakan benih kentang dari hasil panen sebelumnya
dan hal tersebut sangat mempengaruhi rendahnya produktivitas tanaman kentang
serta berdampak pada pendapatan petani kentang tersebut.
Komponen biaya produksi yang terbesar kedua adalah modal kerja yaitu
sebesar 10.38 persen, yang ketiga adalah biaya fungisida sebesar 8.82 persen hal
ini menunjukkan bahwa penggunaan fungisida pada usahatani kentang di
Kabupaten Banjarnegara cukup tinggi dan kondisi ini menggambarkan besarnya
serangan populasi fungi yang ada di lokasi pertanaman kentang demikian juga
halnya dengan biaya insektisida yang tergolong tinggi sebesar 3.14 persen yang
dapat juga menggambarkan besarnya serangan populasi insekta di lokasi
pertanaman kentang maka diharapkan ada penanganan yang baik untuk
menghadapi masalah tersebut seperti melakukan penanaman bergilir yaitu
menerapkan pola tanam yang tidak hanya menanam kentang saja sepanjang tahun
akan tetapi dapat dirotasi dengan tanaman lain sehingga dapat mengatasi serangan
fungi maupun insekta yang mengancam pertumbuhan tanaman kentang serta dapat
mempengaruhi penurunan produksi kentang.
Kemudian penggunaan tenaga kerja luar keluarga sebesar 6.49 persen dan
tenaga kerja dalam keluarga sebesar 2.78 persen menunjukkan bahwa usahatani
kentang masih sarat tenaga kerja (labor intensive). Komponen biaya sewa lahan
sebesar 5.19 persen juga menggambarkan biaya yang harus dipersiapkan oleh
petani jika harus menyewa lahan cukup tinggi dan akan mempengaruhi
pendapatan petani tersebut, serta komponen biaya pupuk organik (CM) sebesar
4.95 persen menggambarkan bahwa penggunaan pupuk organik yang sangat
tinggi dibandingkan dengan pupuk lainnya seperti pupuk ponska sebesar 2.64
persen dan diikuti besar komponen biaya pupuk yang lain (Pupuk petroganik, SP-
36, Urea, ZA, Pupuk cap sarang burung) berkisar antara 0.06-1.1 persen. Selain
itu, besar komponen biaya angkut kentang sebesar 1.45 persen disebabkan jarak
lahan kentang dengan gudang (tempat pemukiman masyarakat) relatif jauh dan
sebagian besar berbukit-bukit sehingga pada umumnya pengangkutan hasil panen
kentang dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia.
Dari struktur biaya tersebut dapat disimpulkan bahwa usahatani kentang di
Banjarnegara meskipun menguntungkan pada analisis usahataninya, namun perlu
perbaikan yang serius agar dapat meningkatkan pendapatan petani di waktu yang
akan datang, karena usahatani kentang yang selama ini ada masih mengarah
kepada sistem usahatani yang memerlukan padat modal dan padat karya hal ini
dapat disebabkan oleh cara bercocok tanam kentang di daerah Kabupaten
Banjarnegara masih menggunakan teknik usahatani tradisional yang turun
temurun diwariskan dari nenek moyang para petani dan penggunaan teknologi
yang diterapkan dalam usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara masih
sangat rendah, oleh karena itu perlu adanya perbaikan agar usahatani tersebut
53

dapat lebih menguntungkan lagi sehingga mampu meningkatkan pendapatan


petani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kebijakan Input pada Usahatani Kentang

Kebijakan input yang sudah diterapkan oleh Pemerintah Pusat terkait


dengan usahatani kentang di Indonesia yaitu kebijakan bea masuk produk bahan
baku impor sebesar 5 persen. Kebijakan pertama yang mempengaruhi input adalah
Pemerintah memberikan subsidi pupuk dalam upaya membantu petani dalam
memproduksi kentang, kemudian pada tanggal 22 Desember 2010, pemerintah
menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.241/PMK.011/2010 yang
menjadi dasar kebijakan kenaikan bea masuk atas impor barang. PMK
No.241/PMK.011/2010 merupakan perubahan keempat dari PMK Nomor
110/2006 tentang penetapan sistem klasifikasi barang dan pembebanan tarif bea
masuk atas barang impor. Perubahan ini terjadi dalam rangka melaksanakan
program harmonisasi tarif bea masuk Indonesia tahun 2005-2010 sebagaimana
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 591/KMK.010/2004
tentang program harmonisasi tarif bea masuk 2005-2010 untuk produk-produk
pertanian, perikanan, pertambangan, farmasi, keramik, dan besi baja.
Selanjutnya, peraturan yang juga sudah diterapkan oleh Pemerintah adalah
Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2007 mengenani Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) sebesar 10 persen atas input-input produksi seperti peralatan, pupuk, dan
obat-obatan. Oleh karena itu, input produksi kentang yaitu pupuk anorganik, obat-
obatan (pestisida) yang berasal dari impor terkena kebijakan pajak bea masuk
sebesar 5 persen dan PPN sebesar 10 persen. Dampak dari kebijakan ini adalah
terjadinya peningkatan harga pupuk anorganik dan obat-obatan yang akan
meningkatkan biaya produksi usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah yang akhirnya akan mengurangi keuntungan yang diperoleh petani.
Kebijakan lain yang juga berdampak pada input kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah adalah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Sejak
tanggal 22 Juni 2013, harga bensin jenis premium sebesar Rp6,500 per liter.
Kebijakan ini tertuang dalam Pengumuman Nomor 07.PM/12/MPM/2013 tentang
penyesuaian harga eceran BBM bersubsidi, sesuai ketentuan pasal 4, pasal 5 dan
pasal 6 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2013, tentang harga jual
eceran dan konsumen penggguna jenis BBM tertentu dan peraturan Menteri
ESDM Nomor 18 Tahun 2013 tentang harga jual eceran jenis BBM tertentu untuk
konsumen pengguna tertentu. Besarnya subsidi BBM jenis premium yang
dilakukan Pemerintah sejak dikeluarkannya peraturan tersebut adalah Rp3,000 per
liter. Subsidi BBM memang tidak berdampak secara langsung terhadap produksi
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun, subsidi BBM akan
memperkecil biaya pembelian bahan bakar pada aktivitas usahatani kentang di
Kabupaten Banjarnegar seperti biaya transportasi untuk membeli input, sehingga
biaya input aktual (privat) yang dikeluarkan petani kentang menjadi lebih kecil
dan pada akhirnya dapat membantu meningkatkan pendapatan petani.
54

Kebijakan Output pada Usahatani Kentang

Kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap output kentang adalah


adanya Permentan No.3/2012 tentang rekomendasi impor produk hortikultura,
dalam hal ini Kementan mengeluarkan rekomendasi kuantitas (kuota) impor dan
dialokasi kepada importir terdaftar (IT) yang memenuhi syarat-syarat sesuai
Permendag No.30/2013. Permendag No.30/2012 tentang lisensi impor (IT)
produk hortikultura serta tahun 2013 dikeluarkannya kebijakan penutupan keran
impor produk hortikultura (termasuk kentang) dengan menutup pintu pelabuhan
untuk produk tersebut dengan harapan melalui adanya kebijakan ini maka dapat
menolong produsen/petani hortikultura di dalam negeri dalam meningkatkan daya
saing produk kentang lokal serta mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri
untuk menjadikan produk kentang lokal menjadi produk substitusi impor.
Kebijakan lain terkait dengan output usahatani kentang adalah subsidi BBM
yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Subsidi BBM akan mengurangi biaya
pembelian bahan bakar dalam pemasaran output sehingga harga output bisa lebih
tinggi jika dibandingkan tidak ada subsidi BBM.

6 HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Daya Saing Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara,


Jawa Tengah

Salah satu ciri suatu produk memiliki daya saing yang tinggi jika produk
tersebut diproduksi secara efisien. Produksi yang efisien dapat terjadi jika
produksi menghasilkan produk yang optimal sehingga menyebabkan biaya
produksi menurun dan keuntungan akan semakin meningkat. Pengukuran daya
saing usahatani kentang menggunakan Tabel PAM. Daya saing dilihat dari
keunggulan kompetitif, keunggulan komparatif dan dampak kebijakan harga input
dan output yang mempengaruhi daya saing usahatani kentang.
Analisis PAM dimulai dengan analisa usahatani yaitu data penerimaan,
biaya produksi dan biaya tataniaga. Analisis usahatani digunakan untuk melihat
efisiensi produksi. Selanjutnya harga pada analisis usahatani dipisah berdasarkan
harga privat dan harga sosial selama umur produksi tanaman kentang. Masing-
masing data tersebut dihitung berdasarkan harga privat dan harga sosial
(bayangan). Selain itu, masing-masing biaya produksi pada harga privat dan sosial
dibagi ke dalam biaya input tradable dan faktor domestik. Proporsi biaya input
terhadap biaya input total usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah dapat dilihat pada Lampiran 2. Perhitungan standar convertion factor
shadow price exchange rate pada Lampiran 3 dan perhitungan harga bayangan
output pada Lampiran 4.
Setelah perhitungan dilakukan, maka disusunlah tabel PAM yang terdapat
pada Tabel 12. Data penerimaan, biaya dan keuntungan pada tabel tersebut
selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai-nilai yang menjadi indikator daya
saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
55

Tabel 12 Policy Analysis Matrix (PAM) Usahatani Kentang di Kabupaten Banjar


negara, Jawa Tengah (Rp/Ha)
Biaya
Uraian Penerimaan Faktor Keuntungan
Input Tradable
Domestik
Privat 33 930 658.84 1 669 649.89 27 476 981.22 4 784 027.72
Sosial 28 902 843.02 982 751.16 27 387 680.26 532 411.59
Dampak
Kebijakan 5 027 815.81 686 898.72 89 300.96 4 251 616,13
Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa dampak kebijakan yang
dihasilkan bernilai positif untuk penerimaan dan keuntungan, demikian juga
halnya dengan dampak kebijakan input tradable bernilai positif dan faktor
domestik bernilai positif. Input tradable bernilai positif, hal ini terjadi karena
harga privat pada input tradable yang lebih tinggi dari harga sosial dari input
tradable.
Harga beberapa input sosial yang diperoleh yaitu pupuk Urea, SP36, ZA
diperoleh dengan menggunakan harga perbatasan dengan nilai Free On Board
(FOB) pupuk Urea, SP36, ZA sebesar US$0.44, US$0.23, US$0.35 per kilo gram.
FOB digunakan karena Urea, SP36, ZA merupakan komoditas ekspor, kemudian
dihitung nilai tukar bayangan pada tahun 2013 sebesar Rp10,706.83, sehingga
diperoleh FOB Indonesia dalam mata uang domestik berturut-turut Rp4,759.04,
Rp2,410.17, Rp3,796.79 kemudian dihitung harga transportasi dan handling
eksportir masing-masing sebesar Rp71.23, ditambahkan dengan harga paritas
ekspor pedagang besar dengan harga Rp4.687,81, Rp2,338.94, Rp3,725.56 serta
harga distribusi dan handling tingkat petani Rp890.31, Rp662.01, Rp2.200 maka
diperoleh harga paritas ekspor di tingkat petani untuk pupuk Urea Rp3,797.50,
pupuk Sp-36 Rp1,676.93 dan pupuk ZA Rp1,525.56, masing-masing harga pupuk
ini menggambarkan bahwa harga pupuk yang ada ditingkat petani (harga private)
adalah harga hasil subsidi dari pemerintah sehingga harganya tidak terlalu tinggi
seperti pada harga sosial.
Untuk pupuk Phonska memiliki harga bayangan yaitu Rp2,961 dengan
perbedaan rasio antara subsidi dan non subsidi yaitu 2-5 kali dari Harga Eceran
Tertinggi (HET). Dikarenakan Phonska lebih banyak digunakan untuk produksi di
domestik dibandingkan untuk diekspor dan hanya diproduksi oleh satu perusahaan
yaitu PT Petrokimia Gresik. Harga Rp2,961 diperoleh dari 2.2 dikalikan dengan
Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk Pupuk Phonska yaitu Rp2,300 per kg
sehingga diperoleh harga bayangan pupuk Phonska di tingkat Desa sebesar
Rp5,060 kemudian dikurangi biaya distribusi sebesar Rp2,100 per kg. Maka
diperoleh harga bayangan ditingkat petani sebesar Rp2,961.
Berdasarkan Tabel 12 juga dapat dilihat bahwa usahatani kentang di
Banjarnegara, Jawa Tengah menguntungkan tanpa adanya kebijakan apapun
dengan jumlah keuntungan Rp4,784,027.726. Harga privat kentang Rp8,280
sedangkan harga sosialnya sebesar Rp6,711, penyebabnya tidak ada kebijakan
khusus yang memproteksi harga output kentang domestik. Kebijakan yang ada
selama ini adalah subsidi pupuk dan subsidi BBM sebesar Rp3,000 per liter untuk
jenis premium yang akan mengurangi biaya transportasi pemasaran output tetapi
tidak berpengaruh langsung untuk memproteksi harga output kentang domestik,
sementara jika kebijakan penetapan tarif impor kentang menjadi nol persen
dilakukan pada kondisi ini maka akan menyebabkan daya saing kentang domestik
56

semakin rendah dibanding dengan kentang impor yang harganya lebih murah.
Oleh karena itu, kebijakan terhadap output yang ada selama ini ada yaitu subsidi
BBM sebenarnya sudah berpihak kepada petani, namun kebijakan tersebut belum
mampu meningkatkan pendapatan petani dalam jumlah yang besar.
Kebijakan penutupan pintu impor bagi komoditas kentang di beberapa
pelabuhan yang diterapkan pada tahun 2013 sebenarnya sangat baik dalam
mendukung kentang nasional untuk dikonsumsi dalam negeri dan melakukan
ekspor jika ada permintaan dari negara lain, karena jika kentang dari luar negeri
(negara pengimpor kentang) tetap dapat masuk ke Indonesia dengan bebas maka
harga kentang domestik dikhawatirkan masih belum mampu bersaing dengan
harga kentang impor. Oleh sebab itu kebijakan penutupan pintu impor bagi
komoditas kentang di beberapa pelabuhan sudah berpihak kepada petani kentang
domestik, secara khusus petani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Selain kebijakan yang sudah ada, Pemerintah perlu membuat kebijakan baru
terkait proteksi output kentang lokal guna meningkatkan daya saingnya sebagai
komoditas dengan substitusi impor.
Selanjutnya, hasil dari Tabel PAM yang telah diperoleh digunakan untuk
melihat tingkat daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dapat dilihat dari keunggulan
komparatif dan kompetitif. Analisis keunggulan komparatif dapat diukur dengan
indikator Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) dan Keuntungan Sosial (KS).
Nilai dari indikator keunggulan komparatif dan kompetitif usahatani kentang di
Kabupaten Banjarnegara dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Nilai Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Usahatani Kentang di
Kabupaten Banjarnegara

Uraian Satuan Nilai


Keunggulan Kompetitif
Keuntungan Privat Rp/ha 4 784 027.726
Rasio Biaya Privat (PCR) 0.852
Keunggulan Komparatif
Keuntungan sosial Rp/ha 532 411.595
Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) 0.981
Analisis keunggulan kompetitif usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Privat (PCR) dan Keuntungan
Privat (KP). Nilai PCR dan KP dalam analisis keunggulan kompetitif merupakan
indikator yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan sumberdaya dan tingkat
keuntungan usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara secara finansial
(privat). Adapun nilai PCR usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara adalah
sebesar 0.852, artinya usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara memiliki
keunggulan kompetitif (PCR<1).
Nilai PCR sebesar 0.852 menunjukkan bahwa untuk mendapatkan nilai
tambah output usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara sebesar satu satuan
pada harga privat, maka diperlukan tambahan biaya faktor domestik kurang dari
satu satuan yaitu sebesar 0.852. Berdasarkan nilai PCR tersebut, usahatani
kentang di Kabupaten Banjarnegara dapat dikatakan memiliki keunggulan
kompetitif. Selain itu, dapat diartikan juga bahwa usahatani kentang di Kabupaten
57

Banjarnegara dapat membayar faktor domestiknya. Keunggulan kompetitif akan


meningkat jika biaya faktor domestik dapat diminimumkan dan atau
memaksimalkan nilai tambah output (Rooyen IM, J.F et al (2001), Pranoto (2011)
dan Najarzadeh R et al (2011)). Menurut Pranoto (2011) dan Najarzadeh R
(2011), peningkatan nilai tambah output dapat ditingkatkan dengan penggunaan
teknologi yang dapat menurunkan biaya per unit output. Menurut Pranoto (2011),
peningkatan nilai tambah output dapat dilakukan dengan penggunaan teknologi
yang dapat menurunkan biaya per unit output.
Hasil Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kapaj
et al. (2010) yang mengatakan bahwa nilai PCR<1 mengindikasikan bahwa
produsen memiliki keuntungan finasial (privat) positif atau memiliki keunggulan
kompetitif. Semakin kecil nilai PCR, maka semakin tinggi keunggulan
kompetitifnya. Dengan demikian, usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara
menunjukkan penggunaan sumberdaya yang efisien secara finansial sehingga
memiliki keunggulan kompetitif. Hal ini juga dapat menggambarkan bahwa
usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara mampu bersaing dengan komoditas
sejenis ketika ada impor.
Berdasarkan hasil analisis PAM, dapat diketahui bahwa nilai keuntungan
privat yang diperoleh selama umur produksi dari usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara bernilai positif yaitu sebesar Rp4,784,027.726 per hektar. Hal ini
menunjukkan bahwa secara finansial, yaitu pada kondisi adanya kebijakan dari
pemerintah terhadap usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara
menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
Nilai DRC usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara yang dihasilkan
oleh analisis PAM adalah 0.982. Artinya, jika usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara diproduksi di dalam negeri (Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah)
hanya membutuhkan biaya sebesar 0.982 satu satuan, sehingga terjadi
penghematan biaya sebesar 0.18 satu satuan. Artinya, memproduksi Kentang di
dalam negeri akan menjadi lebih murah dibandingkan jika mengimpor dari negara
lain sehingga kentang yang diproduksi di Kabupaten Banjarnegara berdayasaing
karena memiliki keunggulan komparatif.
Dengan demikian, usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara
menunjukkan penggunaan sumberdaya yang tergolong efisien secara ekonomi
(sosial) sehingga memiliki keunggulan komparatif (berdaya saing) dan hal ini
menunjukkan bahwa usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara masih mampu
bersaing dengan produk impor. Karena kondisi saat ini menggambarkan bahwa
usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah hanya memberikan
penghematan biaya hanya sebesar 0.18 satu satuan jika dibanding mengimpor
kentang dari negara lain. Nilai DRC dan PCR dari analisis yang telah dilakukan
dalam penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novianto
(2012) di Desa Dieng Kecamatan Kejajar, Jawa Tengah yang menunjukkan bahwa
nilai DRC dan PCR kentang lebih kecil dari satu sehingga dapat diartikan bahwa
komoditas kentang tersebut berdaya saing (memiliki keunggulan komparatif dan
kompetitif).
Hasil DRC yang diperoleh dari penelitian ini juga sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Najazadeh et al. (2011), Ugochukwu dan Ezedinma (2011),
dan Basavaraj et al. (2013) yang mengatakan bahwa nilai DRC<1
mengindikasikan suatu komoditas memiliki keunggulan komparatif. Semakin
58

kecil nilai DRC, maka semakin tinggi keunggulan komparatif komoditas tersebut.
Oleh karena itu, dikarenakan nilai PCR dan DRC yang diperoleh dari hasil
penelitian mendekati satu dan sebenarnya nilai ini sudah cukup besar (daya
saingnya rendah) maka hal ini menunjukkan bahwa nilai keunggulan komparatif
kentang di Indonesia perlu ditingkatkan daya saingnya.
Indikator keunggulan komparatif lainnya adalah nilai keuntungan sosial
(KS) yang diperoleh dari sistem komoditas yang diteliti. Berdasarkan hasil
analisis PAM dapat diketahui bahwa penerimaan dari usahatani kentang di
Kabupaten Banjarnegara secara ekonomi bernilai positif yaitu Rp532,411.595 per
hektar. Hal ini mengindikasikan bahwa usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara masih menguntungkan secara ekonomi sehingga layak diusahakan.
Jika dibandingkan dengan nilai DRC, nilai PCR yang dihasilkan ternyata
lebih rendah. Maka, dapat disimpulkan bahwa usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara memiliki keunggulan kompetitif yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan keunggulan komparatifnya, namun masih tetap berdaya
saing. Artinya, kebijakan terkait input-output yaitu pajak bea masuk atas input
produksi (pupuk anorganik dan obat-obatan) sebesar 5 persen, PPN 10 persen, dan
subsidi BBM untuk jenis premium sebesar Rp3,000 per liter terhadap usahatani
kentang yang sudah diterapkan selama ini sudah membantu usahatani kentang
memiliki keunggulan secara finansial dan memiliki keunggulan kompetitif yang
lebih baik.
Perbandingan selanjutnya yang dapat disimpulkan adalah nilai keuntungan
privat yang lebih besar dibandingkan keuntungan sosialnya. Hal ini berarti
pengusahaan usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara lebih menguntungkan
saat dengan adanya kebijakan dari pemerintah terhadap input yang dikeluarkan
dan output yang dihasilkan. Dampak kebijakan dari keuntungan menunjukkan
angka positif sebesar Rp4,251,616.131 per hektar. Artinya, penerapan kebijakan
pemerintah terhadap usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara masih dalam
batasan yang mendukung yaitu pajak bea masuk atas input produksi (pupuk
anorganik dan obat-obatan) sebesar 5 persen, PPN 10 persen, dan subsidi BBM
untuk jenis premium sebesar Rp3,000 per liter, penutupan pintu pelabuhan untuk
impor kentang pada tahun 2013 membuat petani kentang memperoleh keuntungan
sebesar Rp4,251,616.131 per hektar.
Jika dianalisis lebih lanjut sebenarnya nilai ini masih tergolong kecil, karena
dalam luasan lahan 1 ha (satu hektar) yang memerlukan sistem usahatani yang
padat modal dan padat karya dalam berusahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara maka usahatni tersebut masih sangat bergantung pada penggunaan
tenaga kerja yang banyak dan memerlukan modal yang besar, sementara itu faktor
cuaca juga dapat memberikan risiko besar terhadap produksi kentang karena
adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman kentang. Harga kentang juga
dapat berubah karena pengaruh hari besar seperti lebaran, natal, tahun baru dan
hari besar lainnya karena biasanya pada hari besar konsumsi kentang meningkat
sehingga permintaan akan kentang juga meningkat dan hal tersebut berpengaruh
pada harga yang meningkat. Oleh karena itu, kebijakan terkait komoditas kentang
yang sudah diterapkan selama ini masih perlu diperbaiki agar dapat meningkatkan
pendapatan petani.
Beberapa perbaikan yang perlu dilakukan adalah dengan menggunakan
benih kentang berkualiatas dengan produktivitas tinggi dan ini juga menjadi tugas
59

pihak terkait untuk dapat mewujudkannya seperti litbang pertanian yang ada di
Kabupaten Banjarnegara agar dapat melakukan kajian untuk memperoleh benih
kentang yang berkualitas dengan produktivitas tinggi, menerapkan teknologi yang
tepat guna dalam usahatani kentang dan membangun atau memperbaiki
infrastruktur usahantani seperti irigasi, jalan raya yang dapat membantu petani
dalam meningkatkan pendapatan usahataninya. Selain itu, penggunaan pupuk dan
pestisida sesuai dosis anjuran perlu diterapkan oleh setiap petani, aktif dalam
kelompok tani dan mengikuti pelatihan serta pembinaan usahatani karena melalui
kegiatan ini petani akan memperoleh pengetahuan yang baik dalam usahatani
kentang dan diharapakan dapat meningkatkan keuntungan finansial dan ekonomi
usahatani pada agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Keseluruhan dari kondisi kebijakan yang sudah dijelaskan di atas menggambarkan
bahwa, kebijakan pemerintah setelah tahun 2010 lebih berpihak kepada petani,
seperti kebijakan penutupan pintu impor secara khusus bagi produk kentang pada
tahun 2013 sangat membantu petani kentang di Kabupaten Banjarnegara dalam
menjalankan usahataninya.

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing


Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Kebijakan pemerintah dalam suatu aktivitas ekonomi dapat memberikan


dampak positif maupun negatif terhadap pelaku yang terdapat pada sektor
tersebut. Kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dapat menentukan
keberhasilan pengembangan usaha dalam rangka meningkatkan pendapatan
negara. Kebijakan dapat mempengaruhi keuntungan maupun produktivitas suatu
kegiatan ekonomi.
Berdasarkan hal tersebut, kebijakan pemerintah diduga mampu
mempengaruhi kondisi daya saing suatu komoditas. Kebijakan pemerintah yang
bisa diperhitungkan dalam analisis PAM terhadap daya saing kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah merupakan kebijakan yang diterapkan
oleh pemerintah pusat (Nasional) seperti penerapan pajak impor bahan baku
pertanian sebesar 5 persen dan PPN input produksi sebesar 10 persen yang
berpengaruh pada harga input produksi yaitu subsidi pupuk dan subsidi BBM
sebesar Rp3,000 per liter untuk jenis premium yang akan memperkecil biaya
transportasi pembelian input produksi dan pemasaran output usahatani kentang.
Dampak kebijakan pemerintah dapat dilihat dari analisis matrix PAM
melalui beberapa indikator. Indikator-indikator dampak kebijakan pemerintah
terhadap usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah terdiri dari
dampak kebijakan terhadap output (Transfer Output dan Kebijakan Proteksi
Output Nominal), dampak kebijakan terhadap input (Transfer Input, Transfer
Faktor, dan Koefisien Proteksi Input Nominal), dan dampak kebijakan terhadap
input-output (Koefisien Proteksi Efektif, Transfer Bersih, Koefisien Keuntungan,
dan Rasio Subsidi Produsen) terdapat pada Tabel 14.
60

Tabel 14 Indikator-Indikator Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Usahatani


Kentang di kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Indikator Satuan Nilai
Dampak Kebijakan Terhadap Output
Transfer Output (TO) Rp/ha 5 027 816
Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) 1.174
Dampak Kebijakan Terhadap Input
Transfer Input (TI) Rp/ha 686 898.728
Transfer Faktor (TF) Rp/ha 47 060.958
Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) 1.699
Dampak Kebijakan Terhadap Input-Output
Koefisien Proteksi Efektif (EPC) 1.155
Transfer Bersih (TB) Rp/ha 4 251 616.131
Keofisien Keuntungan (PC) 8.986
Rasio Subsidi Produsen (SRP) 0.147
Dampak Kebijakan terhadap Output
Sampai saat ini belum ada kebijakan pemerintah yang langsung mengenai
harga output kentang, kebijakan yang ada adalah larangan impor kentang yang
diterapkan pada tahun 2013 dan juga adanya kebijakan subsidi BBM yang
nantinya akan mempengaruhi biaya tataniaga dari distribusi output Kentang.
Kebijakan lainnya adalah subsidi BBM sebesar Rp3,000 per liter premium akan
memperkecil biaya transportasi tataniaga kentang. Dampak kebijakan pemerintah
terhadap output dapat dilihat dari dua indikator yaitu transfer output (TO) dan
koefisien proteksi output nominal (NPCO). Nilai transfer output (TO) yang
dihasilkan pada pengusahaan kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
adalah sebesar Rp5,027,816 per hektar. Artinya harga output kentang di pasar
domestik lebih mahal dari harga internasionalnya. Hal ini dapat terlihat dari harga
output pada struktur harga privat yang lebih rendah dibandingkan harga sosialnya
yaitu Rp8,280 per Kg (harga privat) dan Rp6,711 per Kg (harga sosial).
Pranoto (2011) menyatakan bahwa nilai TO negatif dapat diinterprestasikan
bahwa harga produk ditingkat petani atau domestik lebih rendah dari harga di
pasar internasional. Karena nilai TO pada penelitian ini bernilai positif, berarti
harga jual kentang domestik lebih mahal dari harga di pasar internasional. Artinya
meskipun ada kebijakan Pemerintah yang melindungi output kentang akan tetapi
belum dapat membuat kentang domestik menjadi lebih rendah dari harga kentang
impor.
Sementara itu, kebijakan yang sudah ada selama ini yaitu subsidi Pupuk dan
BBM ternyata belum mampu memberikan dampak yang besar bagi petani.
Berdasarkan nilai TO yang positif (TO>0) tersebut, maka yang terjadi adalah
konsumen tidak menerima insentif dari produsen (petani) kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah karena konsumen membeli kentang domestik dengan
harga yang mahal sehingga konsumen dirugikan dan dalam hal ini petani
(produsen) kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah memperoleh
keuntungan. Hal ini menggambarkan bahwa dengan harga kentang yang mahal
tersebut maka sangat besar peluang konsumen akan beralih pada kentang impor
(jika terjadi impor) yang harganya relatif lebih murah dan jika hal ini terjadi maka
dampaknya produsen dirugikan. Oleh karena itu, kebijakan subsidi BBM sebesar
Rp3,000 per liter untuk jenis premium yang berdampak pada biaya pemasaran
output kentang serta penutupan pintu impor kentang di pelabuhan pada tahun
61

2013 sudah berpihak pada petani (produsen) kentang khususnya di Kabupaten


Banjarnegara, Jawa Tengah dan hal yang perlu dievaluasi adalah penggunaan
input oleh petani kentang agar lebih efisien sehingga harga di tingkat konsumen
tidak terlalu tinggi dengan penggunaan biaya produksi yang lebih rendah.
Nilai koefisien proteksi output nominal (NPCO) adalah rasio antara
penerimaan yang dihitung berdasarkan harga bayangan, NPCO merupakan
indikasi dari Transfer Output (TO), dimana NPCO menunjukkan seberapa besar
harga privat berbeda dengan harga sosial. Nilai NPCO yang lebih kecil dari satu
(NPCO<1) menunjukkan bahwa harga domestik lebih rendah dari harga dunia.
Analisis dampak kebijakan terhadap output juga dapat dilihat dari nilai
Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO). Nilai NPCO adalah nilai rasio antara
penerimaan berdasarkan harga privat dengan penerimaan berdasarkan harga
sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPCO usahatani kentang di
Kabupaten Banjarnegara sebesar 1,174 (NPCO>1), artinya harga domestik untuk
output kentang lebih tinggi dari harga output internasionalnya karena nilai yang
lebih besar dari satu menunjukkan adanya proteksi pemerintah. Hasil analisis
memang menunjukkan bahwa harga kentang pada Rp8,280 per Kg (harga privat)
dan Rp6,711 per Kg (harga sosial), oleh karena itu kebijakan proteksi yang
dilakukan pemerintah dalam hal ini kebijakan penutupan pintu pelabuhan impor
kentang agar tidak terjadi persaingan antara kentang domestik dengan kentang
impor sudah berpihak pada petani. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian
Novianto (2012) yang menunjukkan nilai NPCO < 1 karena asumsi yang
digunakan adalah harga kentang di domestik masih lebih rendah dari harga dunia
di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar.
Menurut Novianto (2012) dan Ugochukwu dan Ezedinma (2011),
pengurangan penerimaan petani akibat tidak adanya kebijakan Pemerintah yang
melindungi output bisa disebabkan oleh lemahnya posisi tawar petani dalam
menentukan harga. Dari hasil observasi dan wawancara dengan responden pada
penelitian ini diperoleh hasil bahwa harga jual kentang di Kabupaten
Banjarnegara memang lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul
dibandingkan oleh petani, sehingga posisi petani dalam penentuan harga kentang
menjadi lemah. Petani cenderung tidak mau repot untuk mencari pasar sehingga
menjual ke pedagang pengumpul yang dikenal dan juga terdapat petani yang
sudah memiliki hutang terlebih dahulu kepada pedagang pengumpul (tengkulak)
di awal musim tanam sehingga berpengaruh kepada harga hasil produksi kentang
yang dijual tersebut biasanya lebih murah karena dalam hal ini petani
kecenderungan tidak memiliki posisi tawar. Untuk mengatasi kurangnya
permodalan petani, maka sebaiknya digerakkan kelembagaan tani (kelompok tani,
koperasi dan sebagainya) untuk dapat membantu petani dalam memperkuat
permodalan mereka melalui aktivitas kelembagaan petani yang ada serta
membantu petani untuk dapat meningkatkan pengetahuan mengenai informasi dan
perkembangan mengenai teknologi yang terkait dengan usahatani maupun industri
kentang agar melalui hal ini terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan
petani dalam meningkatkan keuntungan usahataninya.
Dalam penelitian ini nilai NPCO>1, hal ini berarti bahwa terjadi
penambahan penerimaan petani akibat adanya kebijakan pemerintah yang
melindungi output. Kebijakan terkait output kentang yang ada saat ini adalah
subsidi BBM dan penutupan pintu impor kentang di pelabuhan. Oleh karena itu,
62

kebijakan pemerintah untuk memproteksi output kentang demi melindungi


produsen dalam negeri yang ada saat ini sudah berpihak kepada petani kentang,
akan tetapi masih diperlukan kebijakan lain yang dapat memberikan jaminan
harga output (harga stabil/tidak berfluktuatif) dari hasil produksi kentang yang ada
di dalam negeri secara khusus di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah serta
memberikan jaminan kepastian pasar.
Dalam hal ini, tentunya diharapkan kerjasama dari setiap pihak yang terkait
agar hasil produksi kentang yang ada di daerah Banjarnegara tersebut dapat
memperoleh keuntungan yang lebih tinggi sehingga petani (produsen) kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah memperoleh keuntungan yang layak dan
di sisi lain, konsumen juga mengalami keuntungan dengan harga kentang yang
relatif lebih murah sehingga dalam hal ini apabila kentang impor masuk ke
Indonesia maka tidak akan menjadi masalah bagi kentang domestik dengan kata
lain kentang domestik khususnya di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
mampu bersaing dengan kentang impor dari negara lain.
Secara keseluruhan, analisis dampak kebijakan pemerintah yaitu Kebijakan
proteksi impor melalui penutupan pintu pelabuhan impor kentang, subsidi pupuk
dan BBM sebesar Rp3,000 per liter untuk jenis premium terhadap output kentang
di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah mengindikasikan bahwa kebijakan
tersebut memang memberikan insentif bagi petani (produsen) kentang, akan tetapi
belum mampu membuat daya saing kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah lebih baik dari kentang impor karena terbukti dari harga kentang domestik
yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga kentang impor. Dalam hal ini
jelas menggambarkan apabila diberlakukan tarif impor kentang sebesar nol persen
seperti pada tahun 2010, maka sangat mempengaruhi kondisi kentang domestik
yang dampaknya merugikan petani (produsen) sehingga perlu diterapkan
kebijakan proteksi impor baik melalui kuota (menutup pintu impor ketika
produksi dalam negeri tercukupi dengan jumlah permintaannya) serta penetapan
tarif terhadap kentang impor yang masuk ke Indonesia.

Dampak Kebijakan terhadap Input


Kebijakan pemerintah tidak hanya diterapkan dan berlaku untuk harga
output, namun berlakuk pula untuk harga input dari usahatani kentang yang
dijalankan. Pemerintah menetapkan kebijakan terhadap input seperti subsidi atau
pajak dan hambatan perdagangan terhadap input pertanian bertujuan agar
produsen dapat menggunakan sumberdaya secara optimal. Pengaruh pajak pada
input tradable menyebabkan harga input lebih tinggi dan biaya produksi
meningkat sehingga mengurangi pendapatan petani. Kebijakan terkait pajak yang
diterapkan pada input produksi kentang (pupuk anorganik dan obat-obatan) adalah
pajak impor 5 persen dan PPN 10 persen, sedangkan kebijakan subsidi adalah
pemerintah memberikan subsidi pupuk dalam upaya membantu petani dalam
memproduksi kentang, subsidi pupuk dan subsidi BBM sebesar Rp3,000 per liter
premium akan mengurangi biaya transportasi pada penyediaan input serta subsidi
pupuk (Urea, Ponska, ZA).
Besarnya dampak kebijakan pemerintah terhadap input produksi usahatani
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah ditunjukkan oleh nilai Transfer
Input (TI), Transfer Faktor (TF) dan Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI).
Berdasarkan hasil analisis, nilai TI yang diperoleh adalah positif atau lebih besar
63

dari nol yaitu sebesar Rp686,898.72 per hektar. Hal ini berarti harga sosial input
asing lebih rendah, akibatnya produsen tidak perlu membayar input lebih mahal.
Harga sosial untuk pestisida (obat-obatan) seperti harga Fungisida sebesar
Rp65,000 lebih rendah dibanding harga private sebesar Rp87,000, demikian juga
dengan harga sosial Insektisida sebesar Rp85,525 lebih rendah dibanding harga
private sebesar Rp45,000 serta harga sosial Insektisida sebesar Rp55,225 lebih
rendah dibanding harga private sebesar Rp40,000. Sementara itu, harga BBM
jenis premium pada budget privat sebesar Rp7,500 per liter lebih rendah dari
harga pada budget sosial yaitu Rp9,700 per liter. Oleh karena itu, kebijakan
terhadap input usahatani kentang yaitu bea masuk 5 persen atas bahan baku input
tradable (pupuk anorganik dan obat-obatan), PPN 10 persen, dan subsidi BBM
sebesar Rp3,000 per liter premium untuk biaya transportasi input secara umum
dapat menjadikan keuntungan yang diterima petani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah lebih besar dibandingkan tanpa adanya kebijakan
input dan oleh karena itu kebijakan tersebut berpihak kepada petani (produsen).
Selain input tradable, input lain yang digunakan dalam proses produksi
adalah input domestik (faktor domestik). Harga atas input tersebut ditentukan oleh
mekanisme pasar lokal atau di dalam negeri. Transfer Faktor (TF) merupakan
indikator dampak kebijakan pemerintah terhadap input produksi tersebut. TF
merupakan selisih antara biaya input domestik yang dihitung pada harga privat
dengan biaya input produksi pada harga bayangan (sosial), kebijakan pemerintah
pada input domestik yang dilakukan dalam bentuk subsidi dan pajak. Berdasarkan
hasil analisis, nilai Transfer Faktor (TF) menunjukkan besarnya subsidi BBM
terhadap input non tradable (faktor domestik) usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah bernilai positif, yaitu sebesar Rp47,060.958 per
hektar. Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat implisit subsidi positif pada
input non tradable (faktor domestik) dari Pemerintah yaitu subsidi BBM sebesar
Rp3,000 per liter untuk jenis premium dan juga subsidi pupuk (Urea, Ponska,
ZA), maka kebijakan tersebut efektif untuk tetap dilaksanakan.
Untuk menunjukkan tingkat proteksi atau kebijakan yang dibebankan
pemerintah pada input tradable apabila dibandingkan tanpa adanya kebijakan
pemerintah, dapat dilihat dari besarnya nilai Koefisien Proteksi Input Nominal
(NPCI). NPCI merupakan rasio antara biaya input tradable privat dengan biaya
input tradable sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa NPCI usahatani kentang
di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah bernilai lebih besar dari satu yaitu
sebesar 1.699. Nilai ini menunjukkan bahwa terdapat proteksi terhadap produsen
input asing (tradable), yang menyebabkan sektor yang menggunakan input
tersebut akan dirugikan dengan tingginya biaya produksi karena petani membeli
input tradable lebih mahal dari harga dunia akibat adanya pajak impor sebesar 5
persen dan PPN sebesar 10 persen pada input tradable (obat-obatan) Novianto
(2012) dan Pranoto (2011).

Dampak Kebijakan terhadap Input dan Output


Analisis kebijakan pemerintah terhadap input-ouput adalah analisis
gabungan antara kebijakan input dan kebijakan output. Dampak kebijakan
gabungan tersebut dapat dilihat melalui indikator Koefisien Proteksi Efektif
(EPC), Transfer Bersih (TB), Keofisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi
Produsen (SRP). Nilai EPC merupakan rasio antara selisih penerimaan dan biaya
64

input tradable pada harga privat (aktual) dengan selisih penerimaan dan biaya
input tradable pada harga sosial (bayangan). Nilai EPC tersebut menggambarkan
sejauhmana kebijakan pemerintah yaitu pajak bea masuk atas input produksi
sebesar 5 persen dan PPN sebesar 10 persen serta subsidi BBM untuk jenis
premium sebesar Rp3,000 per liter serta penutupan pintu pelabuhan untuk kentang
impor dalam melindungi atau menghambat produksi domestik secara efektif.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai EPC usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa tengah lebih besar dari satu atau sebesar 1,155. Hal ini berarti
bahwa kebijakan pemerintah terhadap input-output yang berlaku sudah efektif
melindungi petani usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah
karena petani membayar harga input tradable sudah relatif sesuai dengan harga
jual output kentang. Berbeda dengan Novianto (2012) menyatakan bahwa kondisi
kentang di Desa Dieng memiliki nilai EPC<1 karena kebijakan subsidi BBM dan
penutupan pintu pelabuhan untuk kentang impor pada penelitian itu belum
diterapkan.
Indikator lain yang menunjukkan adanya dukungan (proteksi) dari
pemerintah terhadap usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
adalah Transfer Bersih (TB). TB merupakan selisih antara keuntungan bersih yang
benar-benar diterima petani (privat) dengan keuntungan bersih sosial (pada
kondisi pasar bersaing sempurna). Hasil analisis menunjukkan nilai TB di lokasi
penelitian bernilai lebih dari nol atau bernilai positif sebesar Rp4,251,616.131 per
hektar. Nilai tersebut menunjukkan bahwa ada tambahan surplus produsen yang
disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang dilakukan pada input-output
usahatani kentang di Kaabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah atau dengan kata
lain kebijakan tersebut berpihak kepada petani. Oleh karena itu, kebijakan pajak
bea masuk atas input produksi sebesar 5 persen dan PPN sebesar 10 persen serta
subsidi BBM untuk jenis premium sebesar Rp3,000 per liter sudah efektif
diterapkan.
Nilai koefisien keuntungan (PC) juga menunjukkan adanya proteksi atau
dukungan dari pemerintah terhadap petani atau pelaku usahatani kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. PC merupakan rasio atau perbandingan
antara keuntungan privat dengan keuntungan sosial. Nilai PC dapat menjadi
indikator yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan output,
kebijakan input asing dan input domestik (net policy transfer). Nilai PC yang
dihasilkan dalam penelitian ini adalah lebih dari satu yaitu sebesar 8,986. Nilai
tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mengakibatkan keuntungan
yang diterima produsen lebih besar jika dibandingkan tanpa adanya kebijakan.
artinya, petani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah memperoleh
keuntungan yang lebih tinggi pada saat ada kebijakan dibandingkan pada saat
tidak ada kebijakan. Oleh karena itu, kebijakan pajak bea masuk atas input
produksi sebesar 5 persen dan PPN sebesar 10 persen serta subsidi BBM untuk
jenis premium sebesar Rp3,000 per liter sudah efektif untuk dijalankan.
Berikutnya, rasio subsidi bagi produsen (SRP) adalah rasio antara TB
dengan penerimaan berdasarkan harga sosial (bayangan). Nilai SRP menunjukkan
proporsi penerimaan pada harga sosial usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah yang dapat menutupi subsidi dan pajak sehingga
melalui SRP dapat memungkinkan membuat perbandingan tentang besarnya
subsidi perekonomian bagi usahatani kentang. Hasil analisis menunjukkan nilai
65

SRP di lokasi penelitian adalah 0,147 yang berarti bahwa kebijakan pemerintah
yang berlaku selama ini yaitu pajak bea masuk atas input produksi sebesar 5
persen dan PPN sebesar 10 persen serta subsidi BBM untuk jenis premium
sebesar Rp3,000 per liter untuk jenis premium menyebabkan petani atau pelaku
usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah mengeluarkan biaya
lebih rendah dari biaya sosialnya untuk berproduksi. Oleh karena itu, kebijakan
pajak bea masuk atas input produksi sebesar 5 persen dan PPN sebesar 10 persen
serta subsidi BBM untuk jenis premium sebesar Rp3 000 per liter sudah efektif
untuk diterapkan.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah
terhadap input-output yang ada selama ini yaitu pajak bea masuk 5 persen dan
PPN 10 persen atas input produksi seperti pupuk organik dan obat-obatan serta
subsidi BBM sebesar Rp3,000 per liter untuk jenis premiun sudah melindungi
petani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah secara efektif. Hal ini
terlihat dari hasil analisis yang dilakukan dengan adanya kebijakan penutupan
keran impor di beberapa pelabuhan yang dilakukan sejak tahun 2013, surplus
petani serta keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan
tanpa adanya kebijakan pemerintah. Kondisi tersebut dapat menguntungkan bagi
pengembangan daya saing kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Oleh karena itu, kebijakan pajak bea masuk atas input produksi sebesar 5 persen
dan PPN sebesar 10 persen serta subsidi BBM untuk jenis premium sebesar
Rp3,000 per liter sudah efektif untuk meningkatkan daya saing kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah..

Analisis Sensitivitas Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara,


Jawa Tengah

Analisis sensitivitas dilakukan untuk mereduksi kelemahan matrix analisis


kebijakan (PAM) yang bersifat statis yaitu hanya memberlakukan satu tingkat
harga dimana pada kenyataannya harga dapat bervariasi atau berfluktuatif.
Analisis sensitivitas ini juga digunakan pada penelitian Kapaj et al. (2010). Kapaj
et al. (2010) menggunakan skenario peningkatan dan penurunan harga output dan
luas lahan. Simulasi skenario pada analisis sensitivitas ini diperlukan untuk
mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi dalam sistem ekonomi yang
dinamis.
Pada penelitian ini digunakan empat skenario analisis sensitivitas, keempat
skenario tersebut adalah jika terjadi peningkatan harga pupuk sampai 15 persen,
skenario peningkatan harga obat-obatan sebesar 10 persen, skenario harga kentang
turun sampai 50 persen serta kombinasi antara peningkatan harga pupuk sampai
15 persen dan harga kentang turun sampai 50 persen. Keempat skenario tersebut
bersifat cateris paribus, yaitu jika terjadi perubahan pada satu variabel, maka
variabel lainnya dianggap tetap. Adanya perubahan terhadap harga input dan
jumlah produksi tersebut menyebabkan perubahan tingkat keuntungan dan
efisiensi usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Hal tersebut
juga akan berpengaruh terhadap daya saing usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah. Perubahan indikator daya saing (DRC, PCR) dan
dampak kebijakan pemerintah (NPCO, NPCI, EPC, PC, SRP) terhadap usahatani
66

kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah atas skenario yang diterapkan


dalam analisis sensitivitas terdapat pada Tabel 15.
Tabel 15 Perubahan Indikator Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah
terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Skenario
No Indikator Kondisi Normal
1 2 3 4
1 PCR 0,852 0.856 0.862 1.430 1.643
2 DRC 0,981 0.987 0.990 1.575 0.996
3 NPCO 1,174 1.174 1.174 1.137 1.174
4 NPCI 1,699 1.734 1.677 1.699 8.424
5 EPC 1,155 1.154 1.155 1.105 0.891
6 PC 8,986 13.114 15.398 0.826 -154.994
7 SRP 0,147 0.148 0.143 0.095 -0.555
Dampak Peningkatan Harga Pupuk 15 Persen
Analisis pertama yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan
privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif kentang di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah bila terjadi peningkatan harga Pupuk (SP-
36, Urea, ZA) yang merupakan input tradable sebesar 15 persen. Asumsi
penggunaan nilai 15 persen berdasarkan Harga Eceran Tertinggi (HET)
merupakan harga jual pupuk yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian dalam
bentuk Peraturan Menteri Pertanian. Harga HET pupuk periode 2005-2009
meningkat sekitar 16 persen (Indrayani, 2011). Hasil tabulasi PAM pada saat
terjadi kenaikan harga pupuk terdapat pada Tabel 16.
Tabel 16 Tabulasi PAM Skenario Kenaikan Harga Pupuk Sebesar 15 persen
(Rp/Ha)
Biaya
Uraian Penerimaan Input Faktor Keuntungan
Tradable Domestik
Privat 33 930 658.84 1 719 823.28 27 566 178.35 4 644 657.20
Sosial 28 902 843.02 991 662.84 27 557 002.09 354 178.09
Dampak
Kebijakan 5 027 815.81 728 160.43 9 176 262.00 4 290 479.11
Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan penetapan skenario ini
adalah usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah masih
memiliki daya saing baik dari sisi keunggulan komparatif dan kompetitifnya
meskipun nilai DRC dan PCR-nya lebih besar dari kondisi normal. DRC dan PCR
pada skenario ini masih bernilai kurang dari satu yaitu 0.989 dan 0.856 (Tabel
13). Hal ini juga dapat dilihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang masih
bernilai positif meskipun nilainya lebih rendah dari kondisi normal. Maka, bila
terjadi kenaikan harga pupuk sebesar 15 persen, usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa tengah masih memberikan keuntungan secara finansial
maupun ekonomi dan masih layak untuk dijalankan.
Hasil analisis sensitivitas pada skenario ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Indrayani (2011) yang menemukan bahwa peningkatan harga input
produksi, seperti pupuk 15 persen dapat menurunkan keuntungan yang diperoleh
67

petani terhadap komoditas tersebut namun masih layak diusahakan. Demikian


juga yang diutarakan oleh Puspitasari (2011) yang juga menggunakan skenario
peningkatan harga pupuk anorganik sebesar 10 persen pada komoditas Belimbing
Dewa. Menurut Puspitasari (2011), peningkatan harga pupuk anorganik sebesar
10 persen akan menurunkan keuntungan yang diterima petani namun masih layak
diusahakan. Jadi, pada harga finansial, setiap kenaikan harga pupuk sebesar 15
persen, maka keuntungan yang diperoleh dalam pengusahaan komoditas kentang
di lokasi penelitian berubah (menurun) menjadi Rp4,644,657.20 per hektar
dengan asumsi faktor lain tetap (cateris paribus). Analisis di atas dapat
disimpulkan bahwa jika terjadi peningkatan harga pupuk sebesar 15 persen dapat
menurunkan tingkat daya saing kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah.

Dampak Kenaikan Harga Obat-obatan (Pestisida) sebesar 10 Persen


Analisis kedua yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan
privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah bila terjadi kenaikan harga
obat-obatan (pestisida) sampai 10 persen. Asumsi penggunaan nilai 10 persen
berdasarkan harga berdasarkan rata-rata peningkatan harga Obat-obatan
(Fungisida, Insektisida, Herbisida) setiap tahun yang dirasakan petani Kentang di
daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dapat dilihat seperti hasil tabulasi
PAM pada pada Tabel 17.
Tabel 17 Tabulasi PAM Skenario Kenaikan Harga Obat-obatan sampai 10%
(Rp/Ha)
Biaya
Uraian Penerimaan Input Keuntungan
Faktor Domestik
Tradable
Privat 33 930 658.845 1 803 165.961 27 698 143.784 4 429 349.101
Sosial 28 902 843.028 1 075 085.168 27 540 096.265 287 661.595
Dampak
Kebijakan 5 027 815.817 728 080.793 158 047.518 4 141 687.506
Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan penetapan skenario ini
diperoleh bahwa komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
masih memiliki daya saing baik dari sisi keunggulan kompetitif akan tetapi secara
komparatif sudah tidak berdaya saing, meskipun nilai PCR yang diperoleh lebih
besar dari kondisi normal akan tetapi PCR dan DRC-nya masih bernilai kurang
dari satu yaitu 0.056 dan 0.990 (Tabel 15) artinya dengan adanya kenaikan harga
obat-obatan sebesar 10 persen maka komoditas kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah masih memiliki daya saing secara kompetitif dan
komparatif.
Hal ini juga dapat dilihat dari nilai keuntungan privat dan keuntungan
sosialnya yang bernilai positif. Maka, bila terjadi kenaikan harga obat-obatan pada
usahatani kentang sebesar 10 persen, usahatani kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah masih memberikan keuntungan secara finansial dan
ekonomi sehingga dalam kondisi ini usahatani kentang masih layak untuk
dijalankan.
68

Hasil analisis sensitivitas pada skenario ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Puspitasari (2011) yang menemukan bahwa peningkatan harga
input produksi, seperti obat-obatan 10 persen dapat menurunkan keuntungan yang
diperoleh petani terhadap komoditas yang dikelola namun masih layak diusahakan
secara finansial dan ekonomi. Pada harga finansial, setiap kenaikan harga obat-
obatan sebesar 10 persen, maka keuntungan yang diperoleh dalam usahatani di
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah berubah (menurun) menjadi
Rp4,429,349.101 per hektar dengan asumsi faktor lain tetap (cateris paribus).
Demikian juga pada harga sosial maka keuntungan yang diperoleh berubah
menjadi (menurun) Rp287,661.595. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
jika terjadi peningkatan harga obat-obatan sebesar 10 persen dapat menurunkan
tingkat daya saing usahatani di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dampak Harga Kentang Turun sebesar 50 Persen


Analisis ketiga yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan
privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif bila terjadi
penurunan harga kentang sebesar 50 persen. Tabel 18 menunjukkan tabulasi PAM
saat terjadi skenario penurunan harga 50 persen.
Tabel 18 Tabulasi PAM Skenario Penurunan Harga Kentang sebesar 50 persen
(Rp/Ha)
Biaya
Uraian Penerimaan Faktor Keuntungan
Input Tradable
Domestik
Privat 20 888 584.45 9 001 243.76 40 510 925.87 -28 623 585.18
Sosial 18 374 676.54 1 084 327.35 27 715 697.76 -10 425 348.57
Dampak
Kebijakan 2 513 907.90 7 916 916.41 12 795 228.11 -18 198 236.61
Hasil yang diperoleh dengan penetapan skenario ini adalah usahatani
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah tidak memiliki daya saing baik
dari sisi keunggulan komparatif dan kompetitifnya ditunjukkan dengan nilai DRC
dan PCR lebih besar dari 1 (Tabel 14) serta keuntungan privat dan sosial,
keuntungan dari dampak kebijakan yang terjadi lebih kecil dari kondisi normal
dan bernilai negatif. Dapat disimpulkan bahwa jika terjadi penurunan harga
kentang sebesar 50 persen (seperti yang terjadi pada tahun 2010) maka hal ini
menunjukkan bahwa kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah tidak
berdaya saing baik kompetitif maupun komparatif sehingga tidak layak untuk
dijalankan.

Dampak Kenaikan Harga Pupuk 15 Persen dan Kenaikan Harga Obat-


obatan 10 Persen
Analisis keempat yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan
privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif adalah kombinasi
ketika terjadi kenaikan harga pupuk sebesar 15 persen bersamaan dengan
kenaikan harga obat-obatan sebesar 10 persen. Hasil analisis dapat dilihat pada
tabulasi PAM saat terjadi skenario kenaikan harga pupuk sebesar 15 persen dan
kenaikan harga obat-obatan sebesar 10 persen pada Tabel 19.
69

Tabel 19 Tabulasi PAM Skenario Kenaikan Harga Pupuk Sebesar 15 Persen dan
Kenaikan Harga Obat-obatan sebesar 10 Persen (Rp/Ha)

Biaya
Uraian Penerimaan Input Keuntungan
Faktor Domestik
Tradable
Privat 20 888 584.451 1 669 649.896 27 476 981.224 -8 258 046.668
Sosial 18 374 676.542 982 751.168 27 387 680.265 -9 995 754.891
Dampak
Kebijakan 2 513 907.908 686 898.728 89 300.958 1 737 708.223

Hasil yang diperoleh dengan penetapan skenario ini adalah usahatani


kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah tidak memiliki keunggulan
kompetitif ditunjukkan dengan nilai PCR lebih besar dari 1 (Tabel 15), meskipun
nilai PCR<1 yaitu sebesar 0.996 akan tetapi keuntungan privat dan sosialnya lebih
kecil dari kondisi normal dan bernilai negatif sehingga dapat disimpulkan, apabila
terjadi kenaikan harga pupuk sebesar 15 persen dan kenaikan harga obat-obatan
sebesar 10 persen maka usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah tidak layak untuk dijalankan. Oguntade (2011) menyatakan bahwa apabila
terjadi peningkatan harga input maka diperlukan adanya perbaikan infrastruktur
dan sistem pemasaran yang baik agar dapat membantu petani mengefisienkan
biaya yang akan digunakan dalam memproduksi suatu komoditas sehingga
usahatani yang dijalankan tetap memberikan keuntungan bagi petani.
Dapat disimpulkan bahwa jika terjadi kenaikan harga pupuk sebesar 15
persen dan kenaikan harga obat-obatan sebesar 10 persen maka akan
mengakibatkan komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
tidak berdaya saing baik kompetitif maupun komparatif sehingga tidak layak
untuk dijalankan.

7 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka simpulan yang dapat
diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Usahatani komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
menguntungkan secara finansial dan ekonomi dengan keuntungan finansial
sebesar Rp4,784,027.72 dan keuntungan ekonomi sebesar Rp532,411.59.
2. Usahatani komoditas kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
memiliki daya saing baik keunggulan kompetitif maupun keunggulan
komparatif karena efisien secara produksi dengan nilai PCR dan DRC lebih
kecil dari satu yaitu PCR sebesar 0.852 dan DRC sebesar 0.981.
3. Kebijakan pemerintah terhadap input serta output yang terjadi saat ini sudah
mendukung peningkatan daya saing usahatani komoditas kentang di Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah
4. Skenario kebijakan yang dilakukan pada analisis sensitivitas memperlihatkan
bahwa kenaikan dan penurunan harga input maupun output yang
70

mempengaruhi usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah


sensitif dan sangat mempengaruhi daya saing komoditas kentang.

Saran

Berdasarkan hasil analisis dan simpulan yang diperoleh maka dapat


dirumuskan beberapa saran implikasi kebijakan, yaitu :
1. Petani harus menggunakan benih kentang yang memiliki produktivitas tinggi,
menggunakan pupuk dan pestisida sesuai dosis anjuran, aktif dalam kelompok
tani dan mengikuti pelatihan serta pembinaan usahatani agar dapat
meningkatkan keuntungan finansial dan ekonomi usahatani pada agribisnis
kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
2. Pemerintah tetap memproteksi impor kentang yang masuk ke Indonesia,
dengan menutup pintu pelabuhan untuk impor kentang maupun dalam
menerapkan sistem kuota dan tarif agar dapat meningkatkan daya saing
agribisnis kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah melalui
keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif secara khusus sebagai
produk substitusi impor.
3. Pemerintah perlu membuat kebijakan khusus untuk melindungi petani dalam
hal menjaga kestabilan harga output kentang (subsidi harga output) dan juga
menjaga kestabilan harga input.
4. Bagi pihak yang tertarik untuk melakukan penelitian selanjutnya diharapkan
dapat menganalisis efisiensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi
usahatani kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Penelitian
efisiensi dibutuhkan untuk mengetahui faktor-faktor produksi usahatani yang
belum efisien dalam rangka peningkatkan daya saing kentang.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Statistik Banjarnegara. Jawa Tengah : Badan
Pusat Statistik.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Statistik Tanaman Buah-buahan dan Sayuran
Tahunan. Jakarta : Badan Pusat Statistik.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Statistik Perdagangan Luar Negeri (Ekspor
dan Impor). Jakarta : Badan Pusat Statistik.
[Ditjenhorti] Direktorat Jendral Hortikultura Kementrian Pertanian. 2012. Nilai
PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku tahun 2006-2010. Jakarta
(ID). [diunduh 2013 November 10]. Tersedia pada:
http://Ditjenhorti.deptan.go.id.
Andrawati, Arini Ungki. 2011. Efisiensi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor
yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara
[Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Coelli, T, D.S.P. Rao, C.J. O′Donnell and G.E. Battese. 2005. An Introduction to
Efficiency and Productivity Analysis. Second Edition. New York (US):
Springer.
71

Dewanata, O.P. 2011. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah
terhadap Komoditas Jeruk Siam di Kabupaten Garut (Studi Kasus
Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat [Skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara. 2012. Data
primer potensi wilayah dan Agro Ekosistem. Banjarnegara: Dinas
Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara.
Fadillah, Achmad. 2011. Analisis Daya saing Komoditas Unggulan Perikanan
Tangkap Kabupaten Sukabumi [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Feryanto. 2010. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap
Komoditas Susu Sapi Lokal di Jawa Barat [Tesis]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Gittinger, J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Terjemahan.
Edisi Kedua. Jakarta (ID). UI-Press dan John Hopkins.
Indrayani, Ida. 2011. Analisis Produksi dan Daya Saing Usaha Penggemukan Sapi
Potong di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat [Tesis]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Joubert, C.J, Phahlane, N.H, Jooste, A, Dempers, C, Kotze, L. 2010. Comparative
advantage of potato production in seven regions of South Africa [Internet].
[diunduh 2013 Nov 30]; 10(13). Tersedia pada:
http://ageconsearch.umn.edu/bitstream/96432/2/177.pdf.
Kadariah LK. dan Gray C. 1978. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Revisi. Jakarta
(ID): Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Kapaj AM, Kapaj I, Halbrendt CC, Totojani O. 2010. Assesing the Comparative
Advantage of Albanian Olive Oil Production. International Food
Agribusiness Management Review. International Food Agribusiness
Management Association (IAMA) [Internet]. [diunduh 2013 Nov
30];13(1). Tersedia pada: http://ageconsearch.umn.edu/items.
Karim IE, Ismail IS. 2007. Potential for agricultural trade in COMESA region: a
comparative study of Sudan, Egypt and Kenya [Internet]. [diunduh 2013
Nov 30];2 (10), Tersedia pada: http://ageconsearch.umn.edu/items-by-
author?author=karim/handle/36948.
Kasimin, Suyanti. 2012. Daya Saing Agribisnis Kentang di aceh Pendekatan
Policy Analysis Matrix (PAM) [Internet]. [diunduh 2013 Nov 30]; siap
terbit. Tersedia pada :http://bappeda.acehprov.go.id/v2/file/journal/V5N2_
Suryati.pdf.
Krugman, P. R. and M. Obstfeld 2004. Ekonomi Internasional. Jakarta (ID): PT
Indeks Kelompok Gramedia.
Kurniawan, AY. 2011. Analisis Daya Saing Usahatani Jagung pada Lahan Kering
di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan [Internet]. [diunduh 2013
Nov 30];1 (02). Tersedia pada: http://www.google.com/.ipb.ac.id%2
Findex.php%2Fforumpasca.bmk.
Lemhannas. 2012. Peningkatan Daya Saing Industri Indonesia [Internet].
[diunduh 2013 Agustus 10]. Tersedia pada :
http://www.lenhamnas.go.id/portal/images/stories/humas/jurnal/jurnal_
international.pdf.
72

Manhokwe, Parawira W, Tekere M, 2009. An evaluation of a mesophilic reactor


or treating wastewater from a Zimbabwean potato-processing plant.
[Internet]. [diunduh 2013 Nov 30]; 3 (4):091-096. Tersedia pada :
http://www.academicjournals.org/journal/AJEST/articlefulltext.../701189.
Morrison J. and K. Balcombe. 2002. Policy Analysis Matrices: Beyond Simple
Sensitivity Analysis. Journal of International Development [Internet].
[diunduh 2013 Nov 30]; 14 (4): 459-471. Tersedia pada:
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/jid.887/abstract.
Muthoni J, D.O. Nyamongo. 2009. A review of constraints to ware Irish potatoes
production in Kenya [Internet]. [diunduh 2013 Agustus 10]; 1(7):098-102.
Tersedia di http://www.academicjournals.org/article/article1379686338_
Muthoni%20and%20Nyamongo.pdf.
Monke AE, Pearson SR. 1989. Policy Analysis Matrix for Agricultural Develop
ment. New York (US) : Cornell University Press.
Najarzadeh R, Rezag M, Saghaian, Reed, Aghaie. 2011. The impact of Trade
Liberalization on Persian Rug : A Policy Analysis Matrix Spproach.
Journal of Food Distribution Research Kenya [Internet]. [diunduh 2013
Agustus 10];42(1). Tersedia pada :http://www.//ageconsearch.umn.edu/
bitstream/139335/2/Najarzadeh_42_1.pdf.
Novianto, J. 2012. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah
terhadap Daya Saing Komoditas Kentang di Kabupaten, Wonosobo.
[skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Oguntade, Adegboyega. 2011. Assessment of Protection and Comparatif
Advantage In Rice Processing in Nigeria.Jurnal Departement of
Agricultural and Extension, Federal University of Technology, Akure,
Nigeria [Internet]. [diunduh 2013 Agustus 10];11(2). Tersedia pada
:http://www.//ageconsearch.umn.edu/bitstream/139335/2/ Oguntade.pdf.
Pearson S, Carl G, Bahri S. 2005. Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian
Indonesia. Jakarta (ID): Yayasan Obor.
Porter, M.E. 1991. Strategi Bersaing. Terjemahan. Jakarta (ID): Erlangga.
Pranoto SY. 2011. Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Keuntungan dan Daya
Saing Lada Putih (Muntok White Paper) di Provinsi Bangka Belitung
[tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Purmiyanti, Sri. 2002. Analisis Produksi dan Daya Saing Bawang Merah di Kabu-
paten Brebes, Jawa Tengah [Thesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Puspitasari, Eka. 2011. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah
terhadap Usaha Belimbing Dewa di Kota Depok [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Rahmawati, Yunita. 2006. Perbandingan Pendapatan dan Keuntungan Usaha Tani
Kentang dengan menggunakan Varietas Granola dan Varietas Atlantik
[Skripsi]. Padang (ID). Universitas Andalas.
Rasmikayati E, Iis Nurasiyah. 2004. The Competitiveness and Efficiency of Potato
Farming In Pangalengan, [Internet]. [diunduh 2013 Agustus 10]; siap
terbit. tersedia pada :http://www.stanford.edu/RI/indonesia/research/
potatoes.pdf.
Rooyen IM, J.F. Kirsten, C.J. Van Rooyen. 2001. The Competitiveness of the
South African and Australian Flower Industries: an Application of Three
Methodologies. Paper presented at the 45th Annual Conference of the
73

Australian Agricultural and Resource Economics Society, January 23 to


25, 2001, Adelaide, South Australia [Internet]. [diunduh 2013 Nov 30];
1(2): 18-20. Tersedia pada: http://ageconsearch.umn.edu/handle/143498.
Rum M. 2010. Analisis Usahatani dan Evaluasi Kebijakan Pemerintah terkait
Komoditas Cabai Besar di Kabupaten Malang dengan Menggunakan
Policy Analisis Matix (PAM) [Internet]. [diunduh 2013 Nov 30]; 7(2).
Tersedia pada: http://www.pustakakti.com/halaman_r.php?page=.
Sabaouhi M, Ghanbari A, Rastegaripour, Tavassoli A, Smaeilia Y. 2011.
Economic evaluation and Applications of the Policy Analysis Matrix of
sole and intercropping of leguminous and cereals Case study: Shirvan
city-Iran. African Journal of Biotechnology [Internet]. [diunduh 2013 Nov
30]; 10(78). Tersedia pada: http://www.ajol.info/index.php/ajb/ article
/view/98521.
Saragih, Bungaran. 2010. Suara dari Bogor : Membangun Opini Sistem
Agribisnis. Bogor (ID): IPB Press
Salvatore D. 1994. Ekonomi Internasional. Terjemahan. Edisi Ke-5. Prentice Hall.
Jakarta (ID): Erlangga.
Sembiring, Elianor. 2009. Kajian Peluang Bisnis Bagi Sepuluh Komoditas
Unggulan di Sumatera Utara. Media Litbang Provinsi Sumatera Utara.
[Internet]. [diunduh 2013 Nov 30]; 6(4). Tersedia pada:
http://issuu.com/balitbang/docs/inovasi_12_2009.
Simanjuntak B.S. 1992. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijaksanaan
Pemerintah terhadap Daya Saing Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia
[Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Singh, R.K. Agnihotri, S. Bhadauria, Rashmi Vamil, R. Sharma. 2011.
Comparative study of potato cultivation through micropropagation and
conventional farming method [Internet]. [diunduh 2013 Nov 30]; 11(48).
Tersedia pada: scholar.google.co.in/citations?user=cKK9YCsAAAAJ.
Sudaryanto, T. P.Simatupang. 1993. Arah Pengembangan Agribisnis : Suatu
Catatan Kerangka Analisis dalam Prosiding Perspektif Pengembangan
Agribisnis di Indonesia. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian,
Departemen Pertanian. Bogor.
Sunaryono, H Hendro.2007. Petunjuk Praktis Budidaya Kentang. Jakarta (ID):
Agromedia.
Tarigan, R. 2004. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta (ID): Bumi
Aksara.
Ugochukwu AI, Ezedinma CI. 2011. Intensification of Rice Production Systems
In South Eastern Nigeria : A Policy Analysis Matrix Approach.
International Journal of Agricultural Management & Development
[Internet]. [diunduh 2013 Nov 30]; 1(2): 89-100. Tersedia pada:
http://ageconsearch.umn.edu/handle/143498.
Zulkarnain, Z. 2007. Analisis Daya Saing Buah Pisang (Musa Paradisiaca L) di
Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat [Skripsi]. Bogor (ID). Institut
Pertanian Bogor.
74

Lampiran 1 Analisis Keuntungan Usahatani dan Persentase Komponen Biaya Usahatani


Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
Uraian Nilai Rata-rata (Rp/Ha) Persentase (%)
A. Penerimaan 33 930 658.85
B. Biaya
B1. Biaya Tunai
Pupuk Ponska 764 225.76 2.64
Pupuk SP-36 69 300.00 0.24
Pupuk Urea 67 680.00 0.23
Pupuk ZA 27 931.03 0.10
Fungisida 2 549 100.00 8.82
Insektisida 906 565.00 3.14
Herbisida 91 121.25 0.32
Pupuk kandang (CM) 1 431 660.90 4.95
Pupuk Cap Sarang Burung 17 801.72 0.06
Petroganik 320 000.00 1.11
Benih Kentang 14 850 420.00 51.36
Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) 1 876 000.00 6.49
BBM 130 000.00 0.45
B2. Biaya Tidak Langsung
Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) 804 000.00 2.78
Penyusutan Cangkul 14 000.00 0.05
Penyusutan Sabit 7 000.00 0.02
Penyusutan Tugal 6 222.00 0.02
Penyusutan Mulsa 34 375.00 0.12
Penyusutan Ajir 53.00 0.00
Penyusutan Bambu Kecil 50.00 0.00
Penyusutan Mesin Semprot/Sprayer 29 166.67 0.10
Pengangkutan Hasil Panen 418 507.79 1.45
Modal Kerja 3 000 000.00 10.38
Sewa Lahan (ha) 1 500 000.00 5.19
Total Biaya Tunai (B1) 23 101 805.67
Total Biaya (B1+B2) 28 915 180.12
Keuntungan Atas Biaya Tunai (A-B1) 10 828 853.18
Keuntungan Atas Total Biaya (A-
B1+B2) 5 015 478.73
R/C Biaya Tunai 1.47
R/C Biaya Total 1.17
75

Lampiran 2. Alokasi Biaya Komponen Domestik dan Asing pada Sistem Komoditas Kentang
No Sektor Jenis Biaya Domestik (%) Asing (%)
1 Industri pupuk dan pestisida Pupuk Ponska 64 36
2 Industri pupuk dan pestisida Pupuk SP-36 64 36
3 Industri pupuk dan pestisida Pupuk Urea 64 36
4 Industri pupuk dan pestisida Pupuk ZA 64 36
5 Industri pupuk dan pestisida Fungisida 64 36
6 Industri pupuk dan pestisida Insektisida 64 36

7 Industri pupuk dan pestisida


Energi dan Sumberdaya Herbisida 0 100
8 Mineral BBM 100 0

9 Sektor yang tidak jelas


batasannya Pupuk kandang (CM) 100 0

Pupuk Cap Sarang


10 Industri pupuk dan pestisida Burung 100 0

11 Industri pupuk dan pestisida Petroganik 100 0


12 NA Benih Kentang* 100 0
13 Upah dan gaji Tenaga Kerja 100 0
14 Industri barang dari logam Cangkul 100 0
Industri mesin, alat-alat dan
100 0
15 perlengkapan listrik Sabit
16 Sektor yang tidak jelas Tugal
100 0
batasannya
17 Industri barang karet dan Mulsa
100 0
plastik
18 Sektor yang tidak jelas Ajir
100 0
batasannya
19 Sektor yang tidak jelas Bambu Kecil
100 0
batasannya
20 Industri mesin, alat-alat dan Mesin Semprot
100 0
perlengkapan listrik
21 Real estate dan jasa Sewa Lahan
100 0
perusahaan
22 Lembaga Keuangan Bunga Modal 100 0
Sumber: input-output Indonesia (2008)
Keterangan : * data primer 2013 menyebutkan bahwa petani menggunakan benih hasil
panen sebelumnya.
NA = data tidak tersedia
76

Lampiran 3. Perhitungan Standar Convertion Factor dan Shadow Price


Exchange Rate, Tahun 2013

Uraian Nilai (Rp Milyar)


Total Nilai Ekspor (Xt)1 1 496 454.38
1
Total Nilai Impor (Mt) 1 560 234.79
2
Penerimaan Pajak Ekspor (TXt) 18 899.00
Penerimaan Pajak Impor (TMt)2 23 535.00
3
Nilai Tukar Rupiah /US$ (OER) 10 690.62
Xt + Mt 3 056 689.17
Xt –TXt 1 477 555.38
Mt + TMt 1 583 769.79
SCFt 0.9984
SER (Rp/US $) 10 706.830
Sumber:
1. Badan Pusat Statistik, 2013
2. Indikator Ekonomi, Badan Pusat Statistik, 2013
3. Nilai Tukar Valuta Asing di Indonesia, Bank Indonesia, 2013

Lampiran 4. Perhitungan Harga Bayangan Output


No Uraian Satuan Harga/Nilai
1
1 CIF Indonesia $/Kg 0.59
2 Nilai Tukar2 Rp/$ 10 706.83
3 Premium Nilai Tukar % 0.00
4 Nilai Tukar Ekuilibrium Rp/$ 10 706.83
5 CIF Indonesia dalam Mata Uang Domestik Rp/Kg 6 356.27
6 Biaya Distribusi dari pelabuhan ke pedagang besar3 Rp/Kg 100.00
7 Biaya Distribusi dari pedagang besar ke petani4 Rp/Kg 255.00
8 Harga Paritas Impor di Tingkat Petani Rp/Kg 6 711.27
Sumber:
1. Badan Pusat Statistik, 2013
2. Nilai Tukar Valuta Asing di Indonesia, Badan Pusat Statistik, 2013
3. Perusahaan Ekspedisi
4. Pedagang di Batur
62

Lampiran 5. Budget Privat dan Sosial Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
Privat Sosial
Jenis Input-Output Satuan Jumlah Harga Harga
Domestik Asing Domestik Asing
Pupuk (Kg/ha)
Pupuk Ponska Kg 332.27 2 300.00 489 104.49 5 121.27 2 960.50 934 506.89 49 184.57
Pupuk SP-36 Kg 33.00 2 100.00 44 352.00 24 948.00 1 407.09 44 112.27 2 321.70
Pupuk Urea Kg 33.84 2 000.00 43 315.20 24 364.80 3 797.50 122 082.00 6 425.37
Pupuk ZA Kg 19.40 1 440.00 17 875.86 10 055.17 1 525.56 28 111.03 1 479.53
Pestisida
Fungisida Liter 29.30 87 000.00 1 631 424.00 17 676.00 65 000.00 1 218 880.00 685 620.00
Insektisida Liter 10.60 85 525.00 580 201.60 26 363.40 45 000.00 305 280.00 171 720.00
Herbisida Liter 1.65 55 225.00 - 91 121.25 40 000.00 - 66 000.00
Pupuk kandang (CM) Kg 2 863.32 500.00 1 431 660.90 - 500.00 1 431 660.90 -
Pupuk Cap Sarang Kg 5.09 3 500.00 17 801.72 - 3 500.00 17 801.72 -
Burung
Petroganik Kg 400.00 800.00 320 000.00 - 800.00 320 000.00 -
Benih Kentang Kg 2 054.00 7 230.00 14 850 420.00 - 7 230.00 14 850 420.00 -
Tenaga Kerja Hari/Ha
Persiapan Lahan HOK 8.00 35 000.00 280 000.00 - 35 000.00 280 000.00 -
Penanaman HOK 20.00 32 500.00 650 000.00 - 32 500.00 650 000.00 -
Penyulaman/Pembersihan HOK 4.00 32 500.00 130 000.00 - 32 500.00 130 000.00 -
gulma/Matun
Penyiraman HOK 8.00 33 750.00 270 000.00 - 33 750.00 270 000.00 -

77
77
63

78
78

Lampiran 5. Budget Privat dan Sosial Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah (Lanjutan)
Privat Sosial
Jenis Input Satuan Jumlah Harga Harga
Domestik Asing Domestik Asing
Penyemprotan
270 000.00
Pestisida HOK 8.00 33 750.00 - 33 750.00 270 000.00 -
843 750.00
Panen HOK 25.00 33 750.00 - 33 750.00 843 750.00 -
236 250.00
Pasca Panen HOK 7.00 33 750.00 - 33 750.00 236 250.00 -
Peralatan (Unit/ha)
42 000.00
Penyusutan Cangkul Unit 3.00 14 000.00 - 14 000.00 42 000.00 -
14 000.00
Penyusutan Sabit Unit 2.00 7 000.00 - 7 000.00 14 000.00 -
49 776.00
Penyusutan Tugal Unit 8.00 6 222.00 - 6 222.00 49 776.00 -
34 375.00
Penyusutan Mulsa Unit 1.00 34 375.00 - 34 375.00 34 375.00 -
53 000.00
Penyusutan Ajir Unit 1 000.00 53.00 - 53.00 53 000.00 -
Penyusutan Bambu
100 000.00
Kecil Unit 2 000.00 50.00 - 50.00 100 000.00 -
Penyusutan Mesin
29 166.67
Semprot/Sprayer Unit 1.00 29 166.67 - 29 166.67 29 166.67 -

Pengangkutan Hasil Kg 4 185.08 100.00 418 507.79 - 100.00 418 507.79 -


Panen
3 000 000.00
Modal Kerja Rp 1.00 3 000 000.00 - 3 000 000.00 3 000 000.00 -
130 000.00
BBM Liter 20.00 6 500.00 - 9 700.00 194 000.00 -
1 500 000.00
Sewa Lahan (ha) Ha 1.00 1 500 000.00 - 1 500 000.00 1 500 000.00 -
64

Lampiran 5. Budget Privat dan Sosial Usahatani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah (Lanjutan)
Privat Sosial
Jenis Input Satuan Jumlah Harga Harga
Domestik Asing Domestik Asing

Kentang segar
dijadikan benih Kg/ha 1 034.82 7 582.50 7 846 510.06 7 582.50

Kentang segar dijual


ke pasar Kg/ha 3 150.26 8 280.00 26 084 148.79 6 711.27

Total Pendapatan 4 185.08 15 862.50 33 930 658.85 14 266.50


Total Biaya (tidak Rp/ha
termasuk lahan) 13 083.54 3 580 086.67 27 646 631.12

Keuntungan (tidak Rp/ha


termasuk lahan) 6 284 027.73 2 118 320.80
Keuntungan (termasuk Rp/ha
lahan) 4 784 027 73 618 320.80

79
65 80

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tapian Nauli, Kecamatan Kualuh Hulu,


Kabupaten Labuhan Batu Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 03 Oktober
1986. Penulis adalah anak dari pasangan Bapak B. Manalu (Alm) dan
Ibunda Thioland Boru Sinambela. Pendidikan Sarjana di tempuh di Program
Studi Agribisnis Penyelenggaraan Khusus, Fakultas Ekonomi Manajemen,
Institut Pertanian Bogor, Lulus pada tahun 2011.
Penulis menjadi Tim Pengajar Mata kuliah Tataniaga Benih dan
Manajemen Industri Benih di Program Diploma Institut Pertanian Bogor
sejak tahun 2009 sampai sekarang. Pada tahun 2012, penulis diterima di
Magister Sains Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Program
Pascasarjana IPB dengan sponsor Beasiswa Unggulan Dikti 2012.
Kemudian sejak tahun 2013 sampai sekarang menjadi Pengajar di Politeknik
Agroindustri Yayasan Pendidikan Sang Hyang Seri, Sukamandi, Subang.
Jawa Barat.