Anda di halaman 1dari 37

TRANSIENT ISCHEMIC ATTACK

(TIA)
Oleh
dr. Ema Surya Pertiwi

Pembimbing:
AKBP dr. Bambang Pitoyo N Sp.S

Pendamping IGD
dr. Novieka Dessy M

RS Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso Banjarmasin


Mei 2018
BAHAN DISKUSI
Identitas

Nama :Tn. R
Usia : 55 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan : Swasta
Tanggal MRS: 15 Februari 2018

3
Deskripsi
• Laki-laki 55 tahun, nyeri kepala dan pusing sejak
3 jam SMRS. Nyeri kepala seperti di timpa
benda berat dan pusing berputar. 30 menit
SMRS pasien merasakan kebal di wajah sebelah
kanan dan merasakan kaku dan lemas di tangan
dan kaki kanan dan terasa berat untuk di
4

angkat.
DIAGNOSIS

Transient Ischemic Attack


(TIA)
Riwayat Pengobatan
• Pasien sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan yang serupa maupun berobat

Riwayat Kesehatan/Penyakit
• Nyeri kepala dan pusing sejak 3 jam SMRS. Nyeri kepala seperti di timpa benda
berat dan pusing berputar.
• 30 menit SMRS pasien merasakan kebal di wajah sebelah kanan dan merasakan
kaku dan lemas di tangan dan kaki kanan dan terasa berat untuk di angkat.
• Tidak di dapatkan penurunan kesadaran, mual maupun muntah, tidak di dapatkan
kesulitan berbicara, tidak pelo, BAB/BAK tidak ada keluhan. Wajah tampak tidak
simetris saat pasien berbicara dan diminta tersenyum + menggerutkan dahi
(lemah di bagian kanan).

Riwayat Penyakit Keluarga


• Tidak ada
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 GCS : E4V5M6

Tanda – Tanda Vital


 Tekanan darah : 180/100 mmHg
 Nadi : 80x/menit
 Laju nafas : 24x/menit
 Suhu : 37oC
• Konjungtiva anemis (-/-),
Mata
• Sklera ikterik (-/-)

Hidung • Epistaksis (-/-)

• JVP tidak meningkat


Leher
• Kaku kuduk (-)

• I = Bentuk simetris
Fremitus raba simetris
Thoraks Sonor
Suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-), BJ I II
(normal)
• I = supel
• A= bising usus (+) normal
Abdomen
• P = timpani
• P = nyeri tekan epigastrium (-), defans muscular (-)

• Edema (-)
Ekstremitas
• Akral hangat

• Jalan pikiran : baik


Orientasi • Daya ingat : baik
• Artikulasi : baik

• Kelainan Nervus Cranialis (-/-)


Status Neurologis • Meningeal Sign (-)
• Refleks Patologis (-/-)
ANGGOTA GERAK ATAS
Lengan atas Lengan bawah
Kiri Kanan Kiri Kanan
 Gerakan bebas terbatas bebas terbatas
 Kekuatan 5 4 5 4
 Tonus +N +N +N +N
 Trofi E E E E
ANGGOTA GERAK BAWAH
Tungkai atas Tungkai bawah
Kiri Kanan Kiri Kanan
 Gerakan bebas terbatas bebas terbatas
 Kekuatan 5 4 5 4
 Tonus +N +N +N +N
 Trofi E E E E
HASIL
PEMBELAJARAN
Diagnosis
• Klinis : Hipertensi Emergensi
• Topis : Hemisphere cerebri dextra
• Etiologis : TIA
• Banding : Stroke Iskemik
DEFINISI
 Serangan iskemik transien (transient ischemic attack, TIA) adalah
hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal secara cepat yang
berlangsung kurang dari 24 jam
 Diduga diakibatkan oleh mekanisme vaskular emboli, thrombosis, atau
hemodinamik.
 Beberapa episode transien/sementara berlangsung lebih dari 24 jam,
tetapi pasien mengalami pemulihan sempurna yang disebut reversible
ischemic neurological deficits (RIND).[1]
EPIDEMIOLOGI
 Antara 200,000 dan 500,000 TIA didiagnosis setiap tahun di
Amerika Serikat.
 TIA membawa risiko jangka pendek yang sangat tinggi terhadap
stroke, dan sekitar 15% dari stroke didiagnosa didahului oleh
TIA.
 Insiden TIA pada pria (101 kasus per 100.000 penduduk) secara
signifikan lebih tinggi dibanding perempuan (70 per 100.000
FAKTOR RISIKO

 UNMODIFIED : usia, jenis kelamin, ras, etnis, dan keturunan


 MODIFIED : hipertensi, merokok, diabetes mellitus, diet,
konsumsi alkohol, stres psikososial, depresi
ETIOLOGI
 Tromboemboli
 Lipohialinosis (pembuluh darah kecil intracranial)
 Emboli kardiogenik
 Etiologi yang lebih jarang adalah vaskulitis atau kelainan
hematologis.
PATOFISIOLOGI
Hilangnya fungsi
Faktor risiko sistem saraf pusat
fokal
Aterosklerosis
(thrombus atau Hipoksia
ateroma)

Penumpukan Penurunan
thrombus/emboli di sementara atau
Emboli arteri yang meyuplai penghentian aliran
darah ke otak darah otak
DIAGNOSA BANDING

Tumor intracranial,
malformasi vaskuler,
Migren disertai aura Epilepsi parsial Skelarosis multiple
atau hematoma
subdural kronik.

Lesi saraf perifer


Hiperventilasi dan
atau radiks saraf
Gangguan vestibuler Hipoglikemia proses psikogenik
(misalnya palsi
lainnya
nervus kranialis)
Dasar Diagnosis

Subyektif
Klinis Teori

• Nyeri kepala seperti tertindih • TIA atau serangan iskemik otak


benda berat, pusing berputar sejak sepintas (SOS) adalah penurunan
3 jam SMRS. aliran darah yang berlangsung
• Kebal pada wajah sebelah kanan sepintas (tidak menetap atau tidak
dan kaku pada ekstremitas kanan permanen) ke area tertentu dari
sejak 30 menit SMRS. otak, sehingga mengakibatkan
disfungsi neurologis yang
berlangsung singkat (kurang dari
24 jam).
20
Dasar Diagnosis

Subyektif
Klinis Teori

• Nyeri kepala seperti tertindih benda • Disfungsi neurologis fokal yang sering
berat ditemukan berupa:
• Pusing berputar • Kelemahan atau kelumpuhan salah satu
• Kebal pada wajah sebelah kanan sisi wajah, lengan, dan tungkai
• Kaku pada ekstremitas kanan • Gangguan sensorik pada salah satu sisi
wajah, lengan, dan tungkai
• Gangguan bicara (disartria)
• Gangguan berbahasa (afasia)
• Gangguan tersebut terjadi mendadak,
singkat, jarang sampai lebih dari 1-2 jam,
diikuti kesembuhan total tanpa gejala sisa.21
Dasar Diagnosis

Obyektif
Klinis Teori

• Usia : 55 th • Usia < 60 thn (0)


• Tekanan darah : 180/100 • TD > 140/90 (1)
• Kelemahan anggota gerak • Kelemahan unilateral dengan
atas bawah sebelah kanan atau tanpa gangguan bicara
tanpa gangguan berbicara (2)
• Durasi 30 menit SMRS • Durasi 10-59 menit (1)
• Tanpa riwayat diabetes • Tanpa riwayat diabetes (0)
22
Dasar Diagnosis
Kriteria Penilaian Resiko Transient Ischemic Attack
(ABCDD)
Faktor Resiko Ya atau Tidak Jumlah Poin
Ya 1 point
Age > 60 Tidak 0 point
Ya 1 point
BP > 140/90 Tidak 0 point
Kelemahan unilateral dengan atau tanpa 2 point
Clinical fitur TIA gangguan berbicara atau
Gangguan bicara tanpa kelemahan 1 point
60 menit atau lebih 2 point
Durasi 10-59 menit 1 point
< 10 menit 0 point
Ya 1 point
Diabetes Tidak 0 point
23
Dasar Diagnosis
Kriteria Penilaian Resiko Transient Ischemic Attack
(ABCDD)
Resiko munculnya stroke Poin
Dalam 2 hari 1-3 poin ( resiko rendah 1%)
4-5 poin ( resiko sedang 4,1%)
6-7 poin ( resiko tinggi 8,1%)
Dalam 7 hari 0-4 poin ( resiko rendah 0,4% )
5 poin ( resiko sedang 12% )
> 6 poin ( resiko tinggi 31% )

24
Dasar Diagnosis
Kriteria Penilaian Resiko Transient Ischemic Attack
(ABCDD)
Poin Tatalaksana
0-3 Pasien dipulangkan dari IGD dengan catatan dilakukan
pemeriksaan MRI dan kontrol ke poli syaraf dalam dua hari
4-5 Pemeriksaan radiologi, bila di temukan lesi maka rawat inap. Jika
tidak, di pulangkan namun kontrol 3 hari lagi
Diatas 5 Dirawat inapkan

25
Dasar Diagnosis

Obyektif

Neurologis

• Saraf Cranial : Parese NVII Perifer Dextra


• Meningeal sign : negatif
• Kekuatan otot : terdapat kelemahan anggota gerak kanan
• Refleks Patologis : negatif
• Fungsi Vegetatif : dbn
26
Dasar Diagnosis

Teori
• Hilangnya fungsi fokal Sistem Saraf Pusat secara mendadak
• Durasi kurang dari 24 jam
• Gejala tergantung tempat lesi

27
Dasar Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Teori

• DL, SGOT/SGPT, Bun Creatinin, • Kadar glukosa darah dan serum


Kadar Lipid dalam batas normal elektrolit sebaiknya diukur untuk
menyingkirkan adanya hipoglikemia
atau elektrolit imbalans yang dapat
menyebabkan penurunan kesadaran.
• Pemeriksaan kadar kolesterol
berguna untuk penentuan dosis
penggunaan awal statin untuk
mencapai target kadar LDL10.
28
Dasar Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Imaging
• Belum di lakukan pemeriksaan

Teori
• AHA/ASA merekomendasikan pemeriksaan neroimaging dalam
24 jam pertama setelah onset. MRI dipilih sebagai modalitas
karena lebih sensitif dibandingkan CTscan. Jika pasien telah
menjalani CT scan emergensi, MRI harus dilakukan sebgai follow-
up karena superioritasnya dalam mengidentifikasi infark serebri1 29
Dasar Diagnosis

Terapi Medikamentosa
Klinis Teori

• Oksigen 2-4 liter/menit • Optimalisasi perfusi jaringan


dengan mencegah terjadinya
hipoksia. Pemberian oksigen
telah terbukti memiliki
hubungan dengan
peningkatan perbaikan sel-
sel saraf.
30
Dasar Diagnosis

Terapi Medikamentosa
Klinis
• Amlodipin 5 mg 0-0-1

Teori
• AHA/ASA merekomendasikan terapi untuk menurunkan tekanan darah dimulai dalam 24
jam setelah terjadinya onset stroke iskemik akut.
• AHA/ASA merekomendasikan hanya pasien dengan tekanan darah > 220/120 mmHg yang
diberikan terapi antihipertensi, kecuali ditemukan indikasi pemberian antihipertensi lainnya
(Gagal Jantung Kongestif, Infark miokard, dan Aorta Diseksi). Alasannya adalah otak yang
iskemik dapat kehilangan kemampuannya dalam autoregulasi dan MAP yang lebih tinggi
diperlukan untuk memaksimalkan perfusi ke jaringan melalui pembuluh darah kolateral
31
Dasar Diagnosis
Terapi Medikamentosa
Klinis
• Amlodipin 5 mg 0-0-1

Teori
• Target tekanan darah yang dianjurkan pada fase akut adalah 180/105 mmHg pada
pasien dengan hipertensi dan 160-180/90-100 mmHg pada pasien dengan tensi normal
(harus dinaikan). Dalam 24-48 jam pertama, diperlukan tekanan darah yang tinggi untuk
mengkompensasi aliran darah otak hingga sistem autoregulasi otak kembali.
• Fase selanjutnya, menurunkan tekanan darah untuk mencegah terjadinya edema
cerebri, stroke berulang, dan komplikasi kardiovaskuler. . Target yang direkomendasikan
pada fase setelah 48 jam adalah sesuai dengan JNC 7, yaitu <140/90 mmHg untuk
pasien tanpa komplikasi dan <130/80 dengan komplikasi 32
Rekomendasi AHA/ASA untuk penatalaksanaan Stroke Iskemik Akut

Pasien yang akan mendapatkan terapi trombolitik atau terapi reperfusi lainnya dengan tekanan
sistole 185 mmHg atau tekanan diastole 110 mmHg, harus diturunkan tekanan darahnya terlebih
dahulu. Sistole >180 mmHg diastole >110 mmHg kontraindikasi terapi trombolitik intravena.

Pasien yang memiliki indikasi penatalaksanaan cepat tekanan darah harus segera ditangani.

Pasien tanpa terapi trombolitik atau terapi reperfusi lainnya tekanan darah harus diturunkan jika
meningkat hingga 220 mmHg untuk tekanan sistole dan 120 mmHg untuk tekanan diastole.

Pasien dengan hipotensi, penyebab hipotensi harus dicari. Hipovolemia dan aritmia jantung harus
ditangani dengan cepat, dapat diberikan vasopresor untuk meningkatkan aliran darah otak.
Pengobatan antihipertensi diindikasikan untuk mencegah stroke berulang dan kejadian vaskuler lainnya.
Untuk stroke iskemik pengobat dilakukan setelah periode akut stroke (24 jam).
Target pasti untuk tekanan darah tidak ada, disesuaikan secara individual, manfaat penurunan tekanan darah
yang tercapai rata-rata 10/5 mmHg
Modifikasi pola hidup harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif
Obat pilihan sebagai terapi antihipertensi masih belum jelas, pilihan yang sering digunakan adalah diuretik
33

atau diuretic ditambah dengan ACE inhibitor, dianjurkan menggunakan laporan JNC 7 dalam memilih
antihipertensi untuk stroke iskemik.
Dasar Diagnosis

Terapi Medikamentosa
Klinis
• Aspirin 1x160 mg

Teori
• Pengobatan awal pada pasien TIA
• Aspirin 300 mg, dilanjutkan 75 mg (berikan PPI jika pasien mengalami dispepsia)
• Menurunkan resiko rekurensi stroke hingga 15%, pada dosis yang berkisar antara
50mg hingga 1500mg. Dosis 25 mg 2 kali sehari hingga 325 mg 4 kali sehari telah
menunjukan manfaat dalam pencegahan stroke pasca TIA
• Gunakan clopidogrel hanya apabila pasien memiliki intoleransi aspirin dan dispepsia
berat 34
Dasar Diagnosis

Terapi Non Medikamentosa

Memodifikasi faktor risiko untuk mencegah terjadinya TIA berulang

Memberi edukasi untuk kontrol hipertensi teratur

Memperbaiki kelemahan wajah dan anggota gerak dengan fisioterapi

35
Dasar Diagnosis

Prognosis
Teori
• Prognosis TIA berdasarkan dari berapa lama terjadinya gejala dan
seberapa cepat penanganan yang di lakukan. Resiko terjadinya stroke
dapat di ukur dengan skore ABCDD.
• Skore ABCDD pasien adalah 4, dengan resiko munculnya stroke dalam 2
hari sedang dan dalam 7 hari ringan.
• Dubius et bonam

36