Anda di halaman 1dari 5

TUGAS BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA KLINIS

“APPLIED CLINICAL PHARMACOKINETICS”


(RESUME)

OLEH

WILDHAN ALVIAN HAKIM


3351182100/ A

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
2018
BAB I
KONSEP FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK

1.1. Pendahuluan
Farmakokinetika klinik merupakan disiplin ilmu yang mengaplikasikan konsep
farmakokinetik dalam tubuh manusia guna mendesain regimen dosis yang terindividualisasi
dimana akan menghasilkan respon terapi yang optimal sekaligus mengurangi reaksi obat yang
tidak diinginkan. Farmakokinetik mempelajari absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi
dari obat. Saat obat diberikan secara ekstravaskular, proses absorpsi harus terjadi agar molekul
obat mencapai sirkulasi sistemik. Distribusi terjadi saat molekul obat yang telah sampai ke
sistem vascular dapat melewati aliran darah ke berbagai jaringan dan organ. Metabolisme
adalah proses koversi kimiawi molekul obat, yang biasanya terjadi secara enzimatik dan
menghasilkan zat yang disebut metabolit. Metabolit dapat memiliki efek farmakologis yang
sama atau berbeda dari bentuk utuhnya atau bahkan memiliki efek toksik. Ekskresi merupakan
mekanisme pembuangan obat yang irreversible dari dalam tubuh dan biasanya terjadi melalui
ginjal atau saluran empedu.
Farmakodinamik merupakan hubungan antara konsentrasi obat dengan respon farmakologis.
Sangat penting untuk diketahui bahwa obat dapat menimbulkan efek saat terbentuk kompleks
obat-reseptor. Namun efek samping obat dapat juga terjadi saat terjadi kompleks obat-reseptor
tersebut. Dalam situasi klinis, pasien dapat mentoleransi beberapa efek samping untuk
mencapai efek farmakologis maksimal dari obat.

1.2. Farmakokinetik Linear VS Non-Linear


Saat obat diberikan dalam kecepatan konstan seperti pemberian infus intravena atau obat rute
oral yang diberikan setiap 12 jam, konsentrasi obat dalam serum akan meningkat sampai batas
dimana kecepatan pemberian obat sama dengan kecepatan metabolisme dan ekskresi obat.
Pada titik tersebut, konsentrasi obat dalam serum menjadi konstan saat pemberian infus
intravena atau menunjukkan pola berulang dari masing-masing interval untuk pengobatan yang
telah terjadwalkan. Misalnya saat pemberian infus teofilin dengan dosis 50 mg/jam, serum
teofilin akan meningkat sampai ekskresi teofilin jalur hepatik dan ekskresi ginjal sama dengan
50 mg/jam. Kondisi tersebut disebut “keadaan tunak”, dimana sangat penting dalam
farmakokinetik klinis karena biasanya serum pada keadaan tunak digunakan untuk menilai
respon pasien terhadap obat. Sebagian besar obat mengikuti farmakokinetik linear, dimana
1
konsentrasi obat dalam darah dapat meningkat dan menurun secara proporsional tergantung
dosis. Namun dalam beberapa kasus, konsentrasi obat dalam darah tidak berubah secara
proporsional dari dosis yang diberikan, hal ini disebut farmakokinetik non-linear.

1.3. Klirens
Klirens merupakan salah satu parameter farmakokinetik yang penting karena menentukan
dosis pemeliharaan yang dibutuhkan untuk mendapatkan keadaan tunak dari konsentrasi serum
obat dalam darah. Jika klirens suatu obat diketahui, dan ingin mencapai serum konsentrasi pada
keadaan tunak, akan sangat mudah memperkirakan dosis pemeliharaan yang dibutuhkan.
Serum konsentrasi pada keadaan tunak biasanya biasanya ditentukan berdasarkan penelitian
pada pasien sebelumnya yang menunjukkan konsentrasi dosis efektif minimal dan konsentrasi
dosis efektif maksimal yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek farmakologis yang
diinginkan namun tidak mencapai efek toksik. Rentang dosis ini disebut therapeutic range,
yang sebaiknya dipertimbangkan sebagai panduan awal dari konsentrasi obat untuk pasien
yang spesifik. Definisi dari klirens sendiri merupakan volume serum atau darah yang
dibersihkan dari obat per satuan waktu. Hati merupakan organ yang bertanggungjawab untuk
metabolisme obat sementara ginjal yang bertanggungjawab untuk ekskresi. Dinding
gastrointestinal dan paru-paru juga dapat melakukan metabolisme obat namun persentasinya
kecil. Metabolisme obat dibagi menjadi reaksi fase I, dimana pada reaksi ini terjadi oksidasi
molekul obat, dan fase II, dimana terjadi glukoronidasi atau sulfatase ester pada molekul obat.
Pada kedua fase tersebut dihasulkan metabolit yang lebih larut air dan lebih mudah dikeluarkan
lewat urin.

1.4. Volume Distribusi


Volume distribusi merupakan volume hipotetik yang menghubungkan konsentrasi serum darah
dengan jumlah obat dalam tubuh. Oleh karena itu dimensi dari volume distribusi dinyatakan
dalam satuan unit volume seperti liter atau milliliter. Pada waktu tertentu setelah obat diberikan
kepada pasien dan diabsorpsi di ekstravaskular dan konsentrasi obat dalam jaringan mencapai
kesetimbangan, konsentrasi obat dalam serum adalah sama dengan jumlah obat dalam seluruh
tubuh. Volume distribusi bisa saja kecil apabila obat hanya sedikit terkandung dalam darah,
dan bisa sangat besar apabila obat terdistribusi secara meluas ke seluruh tubuh dan terikat pada
jaringan.

2
1.5. Waktu Paruh dan Konstanta Kecepatan Eliminasi
Saat obat yang mengikuti farmakokinetik linear diberikan pada manusia, serum konsentrasi
akan berkurang seiring berjalannya waktu. Ketika data di plot dalam aksis semilogaritmik,
serum konsentrasi akan berkurang secara linear setelah fase absorpsi dan distribusi selesai.
Fase pengurangan tersebut disebut fase eliminasi. Waktu yang dibutuhkan serum konsentrasi
untuk berkurang setengahnya dalam fase eliminasi secara konstan disebut waktu paruh (t½).
Waktu paruh mendeskripsikan seberapa cepat serum obat dalam darah berkurang dalam tubuh
pasien setelah pemberian obat dalam satuan waktu. Waktu paruh digunakan untuk menentukan
waktu suatu obat mencapai kondisi tunak pada pemberian secara kontinyu atau pemberian obat
berulang. Waktu paruh dan kecepatan eliminasi adalah konstan karena nilainya tergantung oleh
klirens dan volume distribusi dari obat. Nilai konstan tersebut dapat berubah akibat perubahan
klirens dan volume distribusi, karena nilai klirens dan volume distribusi tergantung pada
parameter fisiologis dan dapat bervariasi pada tiap individu.

1.6. Farmakokinetik Michaelis-Menten


Obat-obatan yang dimetabolisme oleh enzim sitokrom P-450 dan enzim lain bisa saja melalui
farmakokinetik Michaelis-Menten atau saturable pharmacokinetic, yang merupakan tipe
farmakokinetik non-linear yang terjadi saat sejumlah molekul obat berlebih atau mengalami
kejenuhan enzim yang memetabolisme obat tersebut. Saat hal itu terjadi, keadaan tunak pada
konsentrasi serum obat meningkat secara tidak proporsional setelah peningkatan dosis. Dalam
kasus ini kecepatan eliminasi obat dijelaskan oleh Michaelis-Menten mengenai perbandingan
seluruh sistem enzim yang dibandingkan dengan kecepatan metabolisme. Implikasi klinis dari
farmakokintika Michaelis-Menten adalah saat klirens obat tidak konstan seperti
farmakokinetika linear, tetapi bergantung pada dosis. Ketika dosis meningkat, kecepatan
klirens berkurang karena enzim yang memetabolisme obat mencapai keadaan jenuhnya.

1.7. Bioavailabilitas
Ketika obat diberikan secara ekstravaskular, tidak seluruh dosis akan mencapai sirkulasi
sistemik. Fraksi dari dosis yang diberikan yang telah dihantarkan ke sirkulasi sistemik dikenal
dengan bioavailabilitas obat dan bentuk sediaan. Saat obat diberikan secara oral, intramuscular,
subkutan atau rute ekstravaskular lainnya, obat harus diabsorpsi terlebih dahulu melalui

3
beberap membrane biologis sebelum masuk ke sistem vaskular. Dalam kasus ini, konsentrasi
serum obat meningkat saat obat sedang diabsorpsi ke dalam pembuluh darah, mencapai
konsentrasi maksimal saat kecepatan absorpsi sama dengan kecepatan eliminasi, dan menurun
saat waktu paruh.
Saat masa paten dari obat telah habis, obat generik dapat diproduksi oleh industri lain dengan
nama dagang yang berbeda. Sebelum obat generik bermerk tersebut dipasarkan, obat tersebut
harus memiliki karakteristik yang sama dengan intovatornya yaitu pada profil
farmakokinetiknya (memiliki bioavailabilitas yang setara). Apabila telah memenuhi, produk
tersebut dinyatakan bioekivalen dengan produk inovatornya. Bioekivalensi dicapai ketika
kurva serum konsentrasi terhadap waktu dari obat generik bermerk dianggap tidak memiliki
perbedaan secara bermakna satu sama lain, dan dibuktikan melalui uji statistik (Bauer, 2008).

SUMBER:
Bauer, L. A. p(2008). Applied Clinical Pharmacokinetics (2nd ed.). New York: McGraw-Hill.