Anda di halaman 1dari 29

LBM 1 MP REZTRY

Step 1

 Epistimologis :
Cara yang digunakan untuk mengkaji ilmu
 Aksiologis :
Penerapan ilmunya untuk diterapkan dikehidupan sehari hari
 Ontologis :
Objek yang akan ditelaah
 Berfikir deduktif :
Proses berfikir yang dimulai dari masalah umum  khusus ( semua makhluk  joni
mempunyai mata )
 Berfikir induktif :
Proses berfikir yang dimulai dari masalah khusus  umum ( data  teori ) (joni mempunyai
mata  semua makhluk )
 Masalah umum :
Dari teori, fakta dan fenomena. Dan ada masalah yang nantinya mendasari.

Step 2
1. Apa syarat membuat latar belakang, rumusan masalah, rumusan tujuan penelitian?,
2. Apa yang dimaksud dengan berfikir sistematis?, dan apa saja sikap yang harus dimiliki seorang peneliti
yang baik?
3. Apa saja manfaat dari penelitian?
4. Bagaimana langkah langkah dalam melakukan penelitian?
5. Apa sajakah aplikasi landasan ilmu dalam penelitian?
6. Bagaimana perbedaan masalah penelitian dan masalah kesehatan?
7. Bagaimana kriteria dan cara menemukan suatu masalah?
8. Bagaimana cara menerapkan berfikir secara deduktif dan induktif? Sertakan contoh?
9. Apa perbedaan berfikir secara ilmiah dan non ilmiah?
10. Apa saja macam macam penelitian?

Step 3

1. Apa yang dilakukan manusia untuk memenuhi hasrat keingin tahunya?

Berdasarkan kodratnya manusia dibekali dengan hasrat ingin tahu. Dengan adanya hasrat
ingin tahu, selalu timbul berbagai pertanyaan dalam diri mansuia. Oleh karena itu, manusia
selalu berusaha mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Berdasarkan akal budinya
manusia manusia mengembangkan pengetahuan yang berguna untuk kelangsungan
hidupnya.
Hasrat ingin tahu dalam memenuhi kelangsungan hidupnya, manusia harus memperoleh
pengetahuan baru, atau pemecahan masalah, sebagai jawaban atas pertanyaan.
Pengetahuan yang diinginkan adalah pengetahuan yang benar, atau secara singkat disebut
kebenaran.Untuk memperoleh pengetahuan yang benar (kebenaran) tersebut, maka dapat
digunakan dua pendekatan, yaitu: pendekatan Non Ilmiah dan pendekatan Ilmiah.
www.univpgri-palembang.ac.id/perpus-fkip/.../Artikel/vita%20file.doc

2. Apa itu penelitian?

Penelitian adalah:

1. Suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi
untuk menyelesaikan masalah-masalah (Cooper & Emory, 1995)
2. Usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru
dan juga sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia (Suparmoko, 1991)

Metode Penelitian adalah: Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah = didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu
rasional, empiris, dan sistematis.

1. Rasional = Penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal shg terjangkau oleh
penalaran manusia.
2. Empiris = cara yang digunakan dapat diamati dengan indera manusia.
3. Sistematis = proses penelitian menggunakan langkah2 ttt yang bersifat logis.

www.univpgri-palembang.ac.id/perpus-fkip/.../Artikel/vita%20file.doc

3. Apa saja macam macam penelitian?, dan jelakan!!

Penelitian Kualitatif
Paradigma kualitatif ini merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada pemahaman
mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural
setting yang holistis, kompleks, dan rinci. Penelitian yang menggunakan pendekatan induksi
yang mempunyai tujuan penyusunan konstruksi teori atau hipotesis melalui pengungkapan
fakta merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif. Paradigma ini disebut
juga dengan pendekatan konstruktifis, naturalistik atau interpretatif (constructivist, naturalistic
or interpretative approach), atau perspektif post-modern.

Penelitian Kuantitatif
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variable penelitian
dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang
menggunakan pendekatan deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan
penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan
paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau
empiris (empiricist). Jenis penelitian yang termasuk dalam paradigma penelitian kuantitatif
dibedakan berdasarkan tujuan penelitian dan karakteristik masalah
http://usupress.usu.ac.id/files/Metode%20Penelitian%20Bisnis%20Edisi%202_Normal_bab%201.pdf

Penggolongan jenis penelitian sangat tergantung pada segi peninjauannya.

1. Berdasarkan Hasil yang Diperoleh


Berdasar hasilnya, secara umum penelitian dapat dibagi atas dua jenis yang dapat saling
mengisi:
1.1. Penelitian Dasar
Jenis penelitian ini disebut juga sebagai basic research, dan diselenggarakan dalam rangka
memperluas dan memperdalam pengetahuan secara teoretis.
1.2. Penelitian Terapan
jenis ini disebut sebagai applied research, dan diselenggarakan dalam rangka mengatasi
masalah nyata dalam kehidupan, untuk mencari sesuatu yang lebih bak

2. Berdasarkan Bidang yang Diteliti


Berdasarkan bidangnya, penelitian dibedakan antara:
2.1. Penelitian Bidang Sosial
Penelitian ini secara khusus berbentuk penelitian pendidikan, ekonomi, hukum, psikologi, dan
lain-lain.
2.2. Penelitian Bidang Eksakta
Penelitian ini secara khusus berbentuk penelitian ilmu pengetahuan alam, penelitian
Kedokteran, dan sebagainya.

3. Berdasarkan Tempat Penelitian


Dari sudut tempat dilakukannya suatu penelitian, terutarna dalam rangka pengumpulan data,
penelitian dibedakan menjadi:
3.1. Penelitian Laboratorium
Kegiatan penelitian ini dilakukan dalam laboratorium.
3.2. Penelitian Kepustakaan
Kegiatannya dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagal literatur, baik dari
perpustakaan maupun tempat lain.
3.3. Penelitian Lapangan
Kegiatan Penelitian ini dilakukan di lingkungan masyarakat tertentu.

4. Atas Dasar Cara dan Taraf Pembahasan Masalahnya


Atas dasar ini penelitian dapat dibedakan menjadi:
4.1. Penelitian Deskiptif
Penelitian ini terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana
adanya, sehingga hanya merupakan penyinglcapan fakta.
4.2. Penelitian Inferensial
Jenis penelitian ini bermaksud mengungkapkan suatu masalah, keadaan atau peristiwa dengan
memberikan penilaian secara menyeluruh, luas dan mendalam dari sudut pandangan ilmu yang
relevan.

5. Atas Dasar Tujuannya.


Pernbedaan penelitian atas dasar ini menghasilkan beberapa jenis.
5.1. Penelitian Penjajagan
Tujuan penelitian eksploratif adalah menemukan masalah-masalah baru.
5.2. Penelitian Pengujian
Penelitian verifikatif bertujuan untuk menguji kebenaran atau pengetahuan.
5.3. Penelitian Pengembangan
Penelitian developmental bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan yang sudah ada.
Kecuali yang disebutkan di atas, masih ada beberapa jenis penggolongan lainnya. Perlu
dikemukakan bahwa dasar penggolongan tersebut tidak selalu sama.
Sumber : Singarimbun, M., Effendi, S., 1995, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta
Singarimbun, M., Effendi, S., 1995, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta

4. Apa saja fungsi dan manfaat dari penelitian?

FUNGSI

(PENELITIAN)

 Dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan apa yang di teliti


 Dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan sumber daya dan kemungkinan sumber
daya tsb. Digunakan untuk mendukung pengembangan apa yang diteliti
 Dapat dijadikan sarana diagnosa dalam mencari sebab masalah yang diteliti atau
kegagalan yang terjadi di dalam masalah yang diteliti
 Dapat dijadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan dalam menyusun strategi
pengembangan system yang diteliti
 Dapat melukiskan kemampuan dalam pembiayaan, peralatan, pembekalan, ketenagaan baik
secara kuantitas maupun kualitas guna mendukung yang diteliti
(metodologi penelitian kesehatan, Soekidjo)

Pada hakikatnya, penelitian mempunyal fungsi menemukan, mengembangkan atau menguji


kebenaran suatu pengetahuan. Secara terinci, penelitian berfungsi sebagai berikut.
1. Penjajagan
Fungsi ini juga disebut fungsi eksploratif. Maksudnya ialah bahwa Penelitian berfungsi dalam
menemukan sesuatu yang belum ada. Dengan demikian penelitian mengisi kekosongan atau
kekurangan ilmu.
2. Pengujian
Fungsi ini disebut juga sebagai fungsi Verifikatif. Maksudnya penelitian berfungsi untuk
menguji kebenaran suatu pengetahuan yang sudah ada.
3. Pengembangan
Fungsi ini disebut fungsi Developmental. Maksudnya penelitian berfungsi mengembangkan
pengetahuan yang sudah ada.
Sumber : Metodologi penelitian kesehatan Dr Soekidjo Notoadmojo

MANFAAT

Manfaat :

1. Dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan atau situasi kesehatan individu,
kelompok atau masyarakat.
2. Dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan sumber daya dan kemungkinan sumber
daya tersebut, guna mendukung pengembangan, pelayanan kesehatan yang direncanakan.
3. Dapat dijadikan sarana diagnosis dalam mencari sebab masalah kesehatan, atau kegagalan-
kegagalan yang terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan.
4. Dapat dijadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan dalam menyusun strategi pengembangan
sistem pelayanan kesehatan.
5. Dapat melukiskan kemampuan dalam pembiayaan, peralatan, pembekalan dan ketenagaan baik
secara kuantitas maupun kualitas guna mendukung sistem pelayanan kesehatan.
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Rineka Cipta. 2005

Manfaat :

1. Dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan atau situasi kesehatan individu,
kelompok atau masyarakat.
2. Dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan sumber daya dan kemungkinan
sumber daya tersebut, guna mendukung pengembangan, pelayanan kesehatan yang
direncanakan.
3. Dapat dijadikan sarana diagnosis dalam mencari sebab masalah kesehatan, atau kegagalan-
kegagalan yang terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan.
4. Dapat dijadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan dalam menyusun strategi
pengembangan sistem pelayanan kesehatan.
5. Dapat melukiskan kemampuan dalam pembiayaan, peralatan, pembekalan dan ketenagaan
baik secara kuantitas maupun kualitas guna mendukung sistem pelayanan kesehatan.
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Rineka Cipta. 2005

Manfaat penelitian
Manfaat penelitin adalah manfaat untuk pengembangan ilmu (teoritis), pemecahan
masalah-masalah praktis dan/atau pengembangan metodologi.
Manfaatkepentingan aplikatifnya, dapat diterapkan dimayarakat dlm bidang kesehatan,
iptek, dll.
Diuraikan manfaat apa yang diharapkan dari penelitian yang akan dilakukan. Biasanya
disebutkan manfaat dalam bidang akademik atau ilmiah, bidang pelayanan masyarakat,
serta pengembangan penelitian itu sendiri. Penelitian dapat bersifat quick yielding (hasil
penelitian dapat segera diterapkan dalam praktik atau kebijakan seperti kebanyakan
penelitian klinis) dan non-quick yielding (hasilnya tidak segera diterapkan.

 Diuraikan manfaat apa yang di harapkan dari penelitian yang dilakukan nanti.
 Biasanya disebutkan manfaat dalam bidang akademik atau ilmiah, pelayanan
masyarakat, serta pengembangan penelitian itu sendiri.
Dasar-dasar metodologi penelitian klinis, Prof. Dr. Dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(k), 2002

5. Pentingnya tujuan penelitian?

Tujuan Penelitian

Ada tujuan tertentu yang akan dicapai melalui penelitian. Berdasarkan kesimpulan tentang pengertian
penelitian sebagaimana dikemukakan di atas dapat diidentifikasi tujuan penelitian, yaitu sebagai
berikut.

1. Untuk memperoleh data empiris yang dapat digunakan dalam merumuskan, memperluas, dan
memverifikasi teori. Tujuan penelitian seperti ini dimiliki oleh ilmu-ilmu murni (pure science)
2. Untuk memecahkan persoalan yang ada dalam kehidupan. Tujuan penelitian semacam ini
terdapat pada ilmu-ilmu terapan (applied sciences)
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Rineka Cipta. 2005
Secara umum, penelitian bertujuan untuk mengembangkan khazanah ilmu dengan
memperoleh pengetahuan berupa fakta baru, sehingga kemudian dapat disusun teori,
konsep, hukum, kaidah, atau metodologi yang baru.

Sebagai sarana ilmiah, sehingga dapat dilakukan penelaahan secara teratur dan cermat
atau memungkinkan kita menelaah ilmu dengan baik.
Sebagai sarana untuk mendapatkan kumpulan pengetahuan melalui penelitian ilmiah
atau sebagai cara untuk mendapatkan kebenaran ilmu pengetahuan
(Sastroasmoro, S & Ismail, S. 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Sagung Seto. Edisi 4)
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan merupakan pertanyaan untuk menjawab maslah. Tujuan yang ingin dicapai, dapat
dibedakan menjadi tujuan umum dan khusus.
 Tujuan umum, dinyatakan secara kategoris apakah tujuan akhir penelitian yang hendak
dilaksanakan tersebut, mengacu pada aspek yang lebih luas atau tujuan jangka panjang
penelitian
 Tujuan khusus, disebutkan secara jelas dan tajam hal-hal yang akan langsung di ukur, di
nilai, atau diperoleh dari penelitian.
Sumber : Dasar-dasar metodologi penelitian klinis, Prof. Dr. Dr. Sudigdo Sastroasmoro,
Sp.A(k), 2002

6. Apa syarat membuat latar belakang, rumusan masalah, rumusan tujuan penelitian?

Latar belakang penelitian

 Feasible (kemampulaksanaan )
o Tersedia subjek penelitian
o Tersedia dana
o Tersedia waktu, alat, dan keahlian
 Interesting (menarik)
o Menarik bagi peneliti
 Novel (memberikan sesuatu yang baru)
o Membantah / mengkofirmasi penemuan terdahulu
o Melengkapi, mengembangkan penelitian terdahulu
o Menemukan sesuatu baru
 Ethical (etis)
o Tidak bertentangan dengan etika
 Relevant
o Bagi ilmu pengetahuan
o Untuk tata laksana pasien
o Untuk dasar pengetahuan
Rumusan masalah

 Dikemukan dalam kalimat tanya (research question)


 Substansi yang dimaksud hendaknya bersifat khas, tidak bermakna ganda
 Bila terdapat banyak pertanyaan penelitian, maka harus dipetanyakan secara terpisah
Rumusan tujuan

 Tujuan umum, dinyatakan secara kategoris apakah tujuan akhir penelitian yang hendak
dilaksanakan tersebut, mengacu pada aspek yang lebih luas atau tujuan jangka panjang penelitian
 Tujuan khusus, disebutkan secara jelas dan tajam hal-hal yang akan langsung di ukur, di nilai, atau
diperoleh dari penelitian.
Manfaat penelitian

 Diuraikan manfaat apa yang di harapkan dari penelitian yang dilakukan nanti.
 Biasanya disebutkan manfaat dalam bidang akademik atau ilmiah, pelayanan masyarakat, serta
pengembangan penelitian itu sendiri.
Dasar-dasar metodologi penelitian klinis, Prof. Dr. Dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(k), 2002

7. Apa yang dimaksud dengan berfikir sistematis?, dan apa saja sikap yang harus dimiliki
seorang peneliti yang baik?
Ilmu pengetahuan ialah sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan runtut melalui
metode ilmiah. Metode ilmiah atau disebut juga metode penelitian adalah prosedur atau langkah-
langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan. Langkah-langkah sistematis tersebut meliputi:

(1) Mengidentifikasi dan Merumuskan masalah,

(2) Menyusun kerangka Pemikiran,


(3) Merumuskan Hipotesis,


(4) Menguji hipotesis, dan

(5) Menarik kesimpulan.

http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._MANAJEMEN_FPEB/196006021986011-
SURYANA/FILE__7.pdf

Berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris: Dibahas secara
mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. (Hillway,1956).

Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan,


mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengethuan. Atau
menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
uripsantoso.wordpress.com

Menurut Salam (1997:139)Pengertian berpikir ilmiah)

1. Proses atau aktivitas manusia untuk menemukan/ mendapatkan ilmu.


2. Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
3. Sarana berpikir ilmiah.
4. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai
langkah yang harus ditempuh.
5. Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir
ilmiah yang baik.
6. Merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya dengan baik.
7. Mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan
pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses m2etode ilmiah.

http://galeriilmiah.wordpress.com/2012/03/27/definisi-berpikir-ilmiah/

Kriteria seorang peneliti


 Kompeten
- Menguasai dan mampu melakukan penelitian
- Bidang Ilmu sesuai dengan bidang penelitian
 Obyektif
- Tidak mencampuradukkan pendapat sendiri dengan kenyataan
 Jujur
- Tidak memaksakan unsur subyektifitas ke dalam fakta
 Faktual
- Bekerja berdasarkan fakta
 Terbuka
- Bersedia menerima masukan dari orang lain
- Bersedia diuji kebenaran hasil penelitiannya oleh orang lain

Cara berpikir dan sikap untuk seorang peneliti

1) Skeptik

Adalah upaya untuk selalu menanyakan bukti-bukti atau fakta-fakta terhadap setiap pernyataan.

2) Analitik

Adalah kegiatan untuk selalu menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang
relevan, mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya.

3) Kritik

Adalah berupaya untuk mengembangkan kemampuan menimbangnya selalu obyektif. Untuk ini maka
dituntut agar data dan pola berpikimya selalu logis.

Watik Pratiknya. 2003. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran & Kesehatan.

(1)Sikap ingin tahu, yaitu memiliki sikap bertanya atau selalu penasaran terhadap sesuatu yang gelap,
yang tidak wajar, dan kesenjangan.
(2) Skeptik, yaitu bersikap ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang belum kuat dasar
pembuktiannya.

(3) Kritis, yaitu cakap dalam menunjukkan batas-batas soal, mampu menunjukkan perbedaan-
perbedaan (divergensi) dan persamaan- persamaan (konvergensi), serta cakap menempatkan
pengertian- pengertian yang tepat.

(4) Objektif, yaitu mementingkan objektivitas (tidak memihak).

(5) Fre from etique, bahwa ilmu itu monologis, yaitu menilai apa yang benar dan apa yang salah,
tetapi harus memperhatikan apa yang baik dan apa yang buruk bagi kemanusiaan.

http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._MANAJEMEN_FPEB/196006021986011-
SURYANA/FILE__7.pdf

Sikap apa saja yang harus dimiliki peneliti:


 Skeptik : sll menyakan bukti/fakta thdp setiap pertanyaan
 Analitik: kegiatan untuk sll menimbang-nimbang permasalahan yang dihadapi, mana relevan
mana masalah utama
 Kritik: mengembangkan kemampuan sll objektif. Dituntuk untuk sll berfikir logis (objektif:
antara fakta dan opini)
 Jujur dan tidak melebih-lebihkan hasil penelitiannya

berfikir sistematis:

Dalam menyusun penelitian, harus buat kerangka. Ada 4 tahap:

 Deduksi: berdasarkan pengalaman


 Hipotesis: dari teori/pengalaman, tarik dugaan sementara
 Verifikasi: pembuktian untuk hipotesis
 Induksi: hasil penelitian yang didapatkan disusun umum
 langkahnya harus bertahap karena dapat mempengaruhi hasil penelitian.

8. Bagaimana langkah langkah dalam melakukan penelitian?

Langkah-langkah metode ilmiah


 Perumusan masalah dan tujuannya
Suatu masalah dapat timbul dalam pikiran seseorang melalui pengamatan, pembacaan,
pembicaraan atau diskusi sehingga menimbulkan pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

1. apakah kegunaan memecahkan masalah itu


2. apakah hasil penelitian masalah itu merupakan hal baru sehingga akan memberi
sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan
3. apakah saya memiliki pengetahuan dasar dan ketrampilan cukup untuk
memecahkan masalah itu
4. apakah dapat diperoleh data-data (misalnya dari kepustakaan) mengenai pokok
masalah itu
5. apakah tersedia fasilitas, peralatan, bahan, keuangan dan waktu untuk pemecahan
masalah itu
6. apakah masalah itu cukup terbatas, tidak terlalu luas dan umum sifatnya, sebab
pembatasan akan memudahkan dan menyederhanakan penelitian
7. apakah masalah itu betul-betul menarik dan menimbulkan motivasi yang kuat,
supaya saya tidak lekas menyerah dan berputus asa apabila mengalami kesulitan
dalam penelitian
jika masalah telah ditetapkan dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka sekarang
masalah itu dicoba dirumuskan dengan baik dan jelas. Perumusan masalah yang baik akan
memberi arah dan pembatasan kepada jalan mencari pemecahannya. Jadi, tujuan penelitiannya
yaitu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam masalah.

 Perumusan suatu hipotesis


Dalam menyusun suatu keterangan sementara atau hipotesis terhadap masalah yang akan
diselidiki diperlukan pengetahuan, baik berupa teori, hukum dan dalil serta data-data lain yang
berhubungan dengan masalah itu.

Fungsi hipotesis ialah menjelaskan hubungan-hubungan khusus yang logis dan sistematis
fenomena-fenomena yang diselidiki, sehingga dapat merupakan penjelasan atau jawaban
terhadap masalah.

Hipotesis yang baik adalah bilamana perumusannya sederhana, faktor-faktor atau variabel-
veriabel yang berperan dan berkaitan dengan masalah terlihat dengan terang, sehingga dapat
dipikirkan pembuktian kebenaran atau kesalahan hipotesis itu secara empiris.

 Penetapan metode kerja dan bahan penelitian


Pada waktu orang memilih dan merumuskan masalah dan hipotesis, sesungguhnya orang telah
mempunyai gambaran atau pemikiran tentang metode dan teknik yang akan dipakainya. Metode
penelitian haruslah sesuai dengan sifat dan bidang penelitian.

Bahan penelitian haruslah diberi keterangan atau batasan yang jelas, baik tentang macam, umur,
jenis kelamin dan jumlah, maupun tentang sifat-sifat lain yang dianggap penting. Tanpa
keterangan yang baik, maka kemungkinan hasilnya akan berbeda banyak jika penelitian tersebut
diulang lagi baik oleh peneliti sendiri maupun orang lain, karena metode dan bahan yang dipakai
tidak sama. Mengenai jumlah bahan dan penelitian yang direncanakan perlu mendapat perhatian
khusus, karena jumlah itu berarti sekali dalam perhitungan statistik dan pengambilan kesimpulan.

 Pengumpulan data sebagai hasil penelitian


 Pengolahan data dan diskusinya
 Penyimpanan hasil-hasil penelitian
 Publikasi hasil-hasil penelitian
Tjokronegoro, Arjatmo dan Sumedi Sudarsono. 1999. Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran.
Jakarta: FK UI

 Periode perkembangan penelitian


1. Tahap persiapan (perencanaan)
Mencakup kegiatan-kegiatan pemilihan (perumusan) masalah sampai dengan penyusunan
instrumen (alat pengukur/ pengumpulan data). Kegiatan yang dilakukan biasanya dirumuskan
dalam bentuk usulan atau proposal penelitian.

2. Tahap pelaksanaan
 Pengumpulan data
1. Melalui pengamatan/observasi
2. Wawancara atau kuesioner
 Pengolahan
Menyederhanakan seluruh data yang terkumpul, menyajikannya dalam susunan yang baik
dan rapi untuk kemudian di analisa.

 Analisis Data
1. Analisis univariate yang dilakukan terhadap tiap variable dari hasil penelitian. Pada
umumnya hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variable.
2. Analisis bevariate yang dilakukan terhadap 2 variabel yang diduga berhubungan atau
berkorelasi.
3. Analisis ultivariate yang dilakukan terhadap lebih dari dua variabel. Biasanya
hubungan antara satu variabel terkait dengan beberapa variabel bebas.
3. Tahap penulisan hasil penelitian (laporan)
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Rineka Cipta. 2005

 Langkah-langkah Penelitian (Proses Kegiatan Ilmiah)

1. Mengidentikasi, Memilih dan merumuskan Masalah

1.1 Mengidentifikasi Masalah

(1) Mengidentifikasi masalah adalah mencari masalah yang paling relevan dan menarik untuk diteliti.

(2) Masalah dapat dicari melalui “Pancaindera”, yaitu pengamatan, pendengaran, penglihatan,
perasaan, dan penciuman.

(3). Permasalahan ada kalau ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan das sein , yaitu ada perbedaan
antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dengan
apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan. Masalah berkaitan dengan suatu kondisi yang
mengancam, mengganggu, menghambat, menyulitkan, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara
harapan dan kenyataan. “A problem as any situation where a gap exist between the actual and the
desire d ideal state (Sekaran, 1992).

1.2 Sumber Masalah

Masalah dapat diperoleh dari sumber-sumber sebagai berikut:

(1) Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan penelitian

(2) Seminar, diskusi dan lain-lain pertemuan ilmiah


(3) Pernyataan pemegang otoritas

(4) Pengamatan sepintas

(5) Pengalaman pribadi

(6) Perasaan intuitif.

1.3 Memilih Masalah/Pembatasan

Dalam mengidentifikasi masalah biasanya dijumpai lebih dari satu masalah, dan tidak semua masalah
dapat/layak diteliti. Oleh sebab itu perlu diadakan pemilihan/pembatasan masalah.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah:

(1) Masalaha tersebut layak atau tidaknya untuk diteliti, tergantung pada : * Ada/tidaknya sumbangan
terhadap teori dan ada/tidaknya teori yang relevan dengan itu , * Ada/tidaknya kegunaan untuk
pemecahan masalah-masalah praktis.

(2) Managebility,yaitu Cukup dana, cukup waktu, cukup alat, cukup bekal kemampuan teoritis, dan
cukup penguasaan metode yang diperlukan.

1.4 Merumuskan Masalah

Setelah masalah diidentifkasi dan dipilih/dibatasi, selanjutnya masalah tersebut hendaknya:(1)


Dirumuskan dalam kalimat tanya (?) yang padat dan jelas.(2) Memberikan petunjuk tentang
kemungkinan pengumpulan data guna menjawab pertanyaan dalam rumusan tersebut.

Contoh:* Apakah diversifikasi usaha lebih lebih berhasil daripada intensifikasi usaha?* Bagaimana
hubungan tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja karyawan?

2. Penyususnan Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah konstruksi berfikir yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten
dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. Menurut Rusidi (1993), kerangka berfikir
berarti menduduk-perkarakan masalah dalam kerangka teoritis (theoritical framework) atau disebut
juga proses deduktif.

Untuk menyusun kerangka pemikiran, perhatikanlah hal-hal berkut ini:

(1) Cari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang relevan untuk dijadikan landasan
teoritis dalam penelitian. Teori- teori dan konsep-konsep tersebut berasal dari acuan umum yaitu dari
kepustakaan seperti buku teks, ensiklopedia, monografh dan sejeneisnya. Sedangkan generalisasi dapat
ditarik dari laporan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan masalah yang diteliti. Kriteria
sumber bacaan adalah prinsip kemutakhiran (recency) dan relevansi. Menurut Rusidi (1993), tahap
penguraian teori yang menjadi titik tolak berfikir untuk menjawab masalah kepada konsep-konsep yang
mengabstraksikan fenomena, disebut tahap conceptioning.
(2) Dari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi tersebut, lakukan perincian analisis melalui
penalaran deduktif. Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang terdahulu dilakukan pemaduan (sistesis)
dan generalisasi melalui penalaran induktif. Proses deduksi dan induksi itu dilakukan secara iteratif,
sehingga dihasilkan jawaban yang paling mungkin terhadap masalah. Jawaban inilah yang dijadikan
hipotesis penelitian.

3. Perumusan Hipotesis

. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang jawabannya harus diuji.

. Hipotesis dirangkum atau diturunkan dari kerangka pemikiran/kesimpulan teoritis.

. Ada dua jenis hipotesis:

(1) Hipotesis Deskriptif, yaitu hipotesis yang menunjukan pemaknaan suatu konsep dari sautu teori.

(2) Hipotesis verivikatif, yaitu hipotesis yang mengubungkan atau mempetautan dua veriabel atau lebih
untuk diuji.

 Hipotesis verifikatif hendaknya menyatakan pertauatan dua variabel atau lebih.


 Hipoteis dinyatakan dalam kalimat deklaratif/pernyataan yang jelas, padat dan spesifik.
 Harus teruji/dapat diuji.

4. Menguji Hipotesis Secara Empirik

(1) Menguji dengan alat statistik inverensial dan statistik deskriftif, untuk membuktikan apakah teori-
teori tersebut teruji secara meyakinkan (significant) atau tidak berdasarkan hasil uji fakta-fakta secara
empirik (Penelitian Kuantitatif).

(2)Menguji dengan tanpa statistis untuk mencari pemaknaan (Penelitian Kualitatif).

http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._MANAJEMEN_FPEB/196006021986011-
SURYANA/FILE__7.pdf

9. Apa pentingnya masalah dalam kegiatan penelitian?


Sebagai dasar untuk melakukan penelitian.

10. Apa saja Dasar dasar rancangan penelitian kedokteran?

Penelitian eksperimental : penelitian yang observasinya dilakukan terhadap efek dari manipulasi penelitian
terhadap satu atau sejumlah cirri ( variabel ) subyek penelitian.
Di kenal dua macam penelitian eksperimental, yaitu penelitian eksperimental MURNI dan penelitian
eksperimental KUASI (disebut eksperimental semu). Penelitian eksperimental MURNI adalah peneliatian
yang memungkinkan peneliti mengendalikan hampir semua variable luar (variable pengacau), sehingga
perubahan yang terjadi pada efek (variable yang dipelajari) hampir sepenuhnya karena pengaruh perlakuan
(variable eksperimental). Penelitian eksperimental KUASI ialah bila peneliti tidak mungkin mengontrol
semua variable luar, sehingga perubahan yang terjadi pada efek tidak sepenuhnya oleh pengaruh
perlakuan.
Penelitian non eksperimental : penelitian yang observasinya dilakukan terhadap sejumlah cirri ( variabel )
subyek menurut keadaan apa adanya ( in nature ), tanpa ada manipulasi atau intervensi peneliti.
Dr. Ahmad Watik Pratiknya. Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Rajawali
Pers.

o Deskriptif : penelitian diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu
komunitas atau masyarakat. Misalnya, distribusi penyakit di dalam masyarakat dan kaitannya dengan
umur, jenis kelamin, dan karakteristik lain.
 Survey
 Case study
 Komparatif study (perbandingan)
 Correlation study
 Predicsion study
 Evaluation study
o Analitik : penelitian diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi. Misalnya, mengapa
penyakit menyebar di suatu masyarakat, mengapa penyakit terjadi pada seseorang, mengapa masy tidak
menggunakan fasilitas yg telah tersedia, mengapa orang tidak mau membuat jamban keluarga, dsb.
 Penelitian cross sectional (data diambil pada waktu yang sama)
Dalam cross sectional, variable sebab atau resiko dan akibat atau kasus yg terjadi pada objek
penelitian diukur atau dikumplkan secara simultan (dalam waktu yg bersamaan). Mislanya, penelitian
tentang hubungan antara bentuk tubuh dengan hipertensi, hubungan antara kondisi sanitasi
lingkungan dng penyakit menular dsb.

 Penelitian case control (retrospective) kasus-kasus ke belakang


Penelitian ini adalah penelitian yg berusaha melihat ke belakang (backward looking), artinya
pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yg telah terjadi. Kemudian dari efek tersebut
ditelusuri penyebabnya atau variabel2 yg mempengaruhi akibat tersebut. Dengan kata lain, dalam
penelitian retrospektif ini berangkat dari dependent variables (variable akibat), kemdian dicari
independent variables (variable sebab). Misalnya, penelitian yg akan mencari hubungan antara
merokok dengan kanker paru.

 Penelitian cohort (prospective) kasus-kasus ke depan


Penelitian ini adalah penelitian yg bersifat melihat ke depan (forward looking), artinya penelitian
dimulai dari variable penyebab atau factor risiko, kemudian diikuti akibatnya pada waktu yg akan
datang. Dengan kata lain, penelitian ini berangkat dari variable independent kemudian diikuti akibat
dari independent variable tersebut terhadap dependent variable. Misalnya, penelitian tentang
hubungan antara merokok dan kanker paru2 tersebut, tidak dimulai dari kasus atau penderita, tetapi
dari orang yang merokok dan bukan merokok.
Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2005. Jakarta: Rineka Cipta.

11. Apa sajakah aplikasi landasan ilmu dalam penelitian?

a. Landasan Ontologis  tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus
mempunyai objek telaahan yang jelas. Dikarenakan diversifikasi ilmu terjadi atas dasar
spesifikasi objek telaahannya, maka tiap displin ilmu mempunyai landasan ontologi yang
berbeda.
b. Landasan Epistemologi  cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga
diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum metode ilmiah pada dasarnya untuk semua
disiplin ilmu, yaitu berupa proses kegiatan induksi-deduksi-verivikasi seperti telah
diuraikan diatas.
c. Landasan Aksiologi  berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka
memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan
ilmu terhadap pengembangan ilmu tersebut terhadap pengembangan ilmu itu serta
membagi peningkatan kualitas hidup manusia.
(Metode Penelitian Kesehatan, Dr. Soekidjo Notoatmojo)

Syarat ilmu pengetahuan adalah memiliki objek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi/aspek
sebagai berikut:

(1) Aspek Ontologis, yaitu berkenaan dengan apa yang dipelajari ilmu atau berkenaan dengan objek
studi. Aspek ontologis berkenaan dengan apa yang ingin diketahui, apa yang dipikirkan atau yang
menjadi masalah. Contoh : Aspek ontologis dalam ilmu ekonomi adalah perilaku manusia yang
dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia yang terbatas, dengan kebutuhan yang tidak
terbatas.

(2) Aspek Epistimologis, berkenaan dengan bagaimana ilmu mempelajari objek studinya dengan
menggunakan metode tertentu, yaitu metode keilmuan atau metode ilmiah yang didukung oleh
sarana berfikir ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya merupakan gabungan antara pola berpikir
induktif (dari hal-hal yang khusus, dianalisis menjadi hal-hal yang umum) dan pola berpikir deduktif .
(dari hal-hal yang umum kepda hal-hal yang khusus). Pola berpikir induktif dan deduktif disebut juga
proses “ Logico-hypotetico-verifikatif atau “deducto-hypotetico-verifikatif”, yang terdiri dari langkah-
langkah sebagai berikut: (1) Merumuskan masalah, (2) Menyusun kerangka berfikir (3) Merumuskan
hipotesis, (4) Menguji hipotesis, dan (5) Menarik kesimpulan.

(3) Aspek aksiologis, berkenaan dengan aspek gunalaksana atau manfaat ilmu. Nilai guna ilmu bisa
dilihat secara positif dan normatif. Secara positif nilai guna ilmu adalah untuk mendeskripsikan,
menjelaskan dan memprediksi berbagai fenomena yang sesuai dengan objek studi yang dipelajari.
Sedangkan secara normatif, nilai guna ilmu adalah untuk mengendalikan berbagai fenomena kearah
yang dinginkan. Secara normatif aspek aksiologis ilmu erat kaitannya dengan pertimbangan nilai, etika
dan moral. Dalam penelitian aspek aksilogis digambarkan dalam saran-saraan atau rekomendasi hasil
penelitian.

http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._MANAJEMEN_FPEB/196006021986011-
SURYANA/FILE__7.pdf

12. Bagaimana perbedaan masalah penelitian dan masalah kesehatan?

Masalah penelitian adalah suatu pernyataan yang memerlukan pembahasan , pemecahan


informasi yang menyiratkan adanya kemungkinan pengumpulan dan analisis data secara empiris
yang dapat dirumuskan melalui proses penelitian

Mencari Masalah Penelitian

Pada dasarnya terdapat beberapa cara menemukan masalah penelitian. Dua diantara cara
mencari masalah penelitian adalah:

1. berdasarkan identifikasi ‘penyimpangan-penyimpangan’ di lokus penelitian; dan


2. berdasarkan pemahaman teoritis

a. Identifikasi ‘penyimpangan-penyimpangan’ di lokus penelitian

Cara ini dilakukan dengan mencatat penyimpangan-penyimpangan di lokus penelitian. Penyimpangan


dalam hal ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Melalui cara ini, peneliti akan mendapat
banyak informasi mengenai penyimpangan yang ada di lokus penelitian.

Masalah penelitian harus dinyatakan secara jelas dan spesifik

Dapat diperoleh dari berbagai sumber yaitu : observasi terhadap praktek ,dedukasi dari
kepustakaan hasil penelitian dan masalah social

Masalah kesehatan adalah masalah kompleks yang merupakan hasil dari berbagai masalah
lingkungan yang bersifat alamiah maupun buatan manusia

Masalah kesehatan adalah masalah kompleks yang merupakan hasil dari berbagai masalah lingkungan
yang bersifat alamiah maupun buatan manusia.

Sumber: http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/universities-research-
institutions/2196151-arti-definisi-masalah-dalam-penelitian/#ixzz1yOreEN6M

13. Bagaimana kriteria dan cara menemukan suatu masalah?

A. Masalah terjadi apabila:

 Ada hambatan dalam memperoleh tujuan/mencapai sesuatu.


 Apa bila kenyataan tidak sesuai dengan harapan (tidak sesuainya antara das-soein
”kenyataan”dengan das-sollen”seharusnya”.
 Das-sein: Kenyataan, realitas empirik, fakta, hasil observasi, bukti dilapangan, di lembaga
pendidikan......
 Das-sollen: Teori, dalil, konsep

Menurut (Nasution, 2006:16), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh para calon peneliti
dalam mengangkat permasalahan penelitian, antara lain:
1) Apakah masalah itu sesuatu yang baru, menarik serta menimbulkan rasa ingin tahu pada calon
peneliti ?
2) Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan, dan latar belakang pendidikanya?
3) Apakah dengan metode tertentu dapat dikumpulkan data yang diperlukan?
4) Apakah calon peneliti dapat menanggung segala pembiayaannya?
5) Apakah penelitian itu mengandung bahaya, ancaman, atau resiko lainya?
6) Apakah calon peneliti dapat menyelesaikannya dalam waktu yang telah tersedia?

Selain pertimbangan tersebut di atas, ada beberapa hal yang juga harus dipertimbangkan secara ilmiah,
apakah penelitian itu memberikan sumbangan kepada perkembangan pengetahuan, antara lain:

1.Masalah itu hendaknya bertalian dengan konsep-konsep yang pokok.


2.Masalah itu hendaknya mengembangkan atau memperluas cara-cara mentes suatu teori.
3.Masalah itu memberi sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian dengan menemukan
alat, teknik, atau metode baru.
4.Masalah itu hendaknya memanfaatkan konsep-konsep teori, atau data dan teknik-teknik dari disiplin
ilmu yang bertalian.
5.Masalah itu hendaknya dituangkan dalam desain yang cermat dengan uraian yang teliti mengenai
variabel-variabelnya serta menggunakan metode-metode yang paling serasi. (lihat, Nasution, 2006:17)

b. Sumber Masalah Penelitian


Untuk memperoleh masalah dalam penelitian, dapat dilaksanalan melalui penelusuran beberapa
sumber, antara lain:

1.Pengalaman dan pengetahuan


2.Kepustakaan yang berhubungan dengan bidang studi kita
3.Mata kuliah-mata kuliah yang pernah diprogramkan
4.Jurnal, buku-buku, majalah-majalah, dan abstrak-abstrak.
5.Skripsi, tesis, disertasi
6.Profesor-profesor, teman

Untuk dapat menemukan masalah penelitian dari sumber-sumber tersebut di atas, perlu adanya
dukungan sikap seorang peneliti, yaitu sikap mandiri dalam menemukan dan mengolah permasalah
penelitian. Memang bukan suatu hal yang mudah, akan tetapi bukan hal yang terlalu sulit juga. Sikap
kemandirian akan dapat dicapai oleh peneliti apabila peneliti bersifat aktif dalam mencari dan
menemukan masalah. Ada beberapa yang dapat dilakukan oleh peneliti akan memiliki sikap yang
mandiri, antara lain:

1.Kepekaaan peneliti dalam menangkap fenomena problematic yang terjadi dalam praktek, baik dalam
labolatorium maupun masyarakat.
2.Kesiapan peneliti akan pengetahuan teori dan informasi penelitian-penelitian terdahulu di bidang
ilmu yang ditekuni.
3.Ketekunan peneliti mengikuti perkembangan mutakhir pada bidang ilmu yang ditekuni.

c. Karakteristik Masalah yang Baik

Hal yang yang penting dan perlu dikerhatikan oleh calon peneliti setelah menemukan masalah adalah,
apakah masalah yang akan diangkat memenuhi karakteristik masalah yang baik. Ada beberapa criteria
masalah penelitian yang baik, antara lain:

1.Topik atau judul menarik


2.Pemecahan masalah benar-benar bermanfaat bagi orang-orang dalam lapangan pekerjaan atau
bidang tertentu.
3.Masalah harus merupakan hal baru
4.Masalah harus mengandung rancangan yang lebih komplek.
5.Harus dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang diinginkan
6.Tidak bertentangan dengan etika dengan moral

Setelah menemukan masalah dalam penelitian, peneliti dapat merumuskan judul penelitian. Judul
penelitian yang baik harus mengandung beberapa unsur antara lain: variabel-variabel yang akan diteliti,
hubungan antara variable dan populasi sasaran
Sumber Masalah Penelitian

Sumber masalah penelitian menurut Turney dan Noble (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 93-97)
adalah sebagai berikut :

a. Pengalaman pribadi.

Pengalaman pribadi dapat berupa pengalaman masa lampau dan kekinian. Upaya
mewujudkan pengalaman pribadi menjadi permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan :
1) Mengidentifikasi pengalaman pribadi untuk fokus penelitian.

2) Mengidentifikasi sebab-sebab munculnya masalah tersebut. 3)Membuat keputusan


pribadi selaku calon peneliti untuk memecahkan masalah tersebut.

4) Merumuskan masalah penelitian.

b. Informasi yang diperoleh secara kebetulan.
Di mana pun, dari mana pun, dan kapan pun
calon peneliti berpeluang memperoleh informasi penting dan menarik untuk dijadikan topik
penelitian. Berdasarkan informasi yang diperoleh secara kebetulan , calon peneliti dapat
merumuskan masalah penelitian dengan latar belakang dan tujuan, serta hasil akhir yang
diharapkan.
Untuk mewujudkan informasi tersebut menjadi permasalahan penelitian, dapat
ditempuh langkah-langkah sebagai berikut.
1) Mengembangkan kepekaan selaku peneliti dalam merespons fenomena yang relevan.

2) Mendefinisikan keterangan yang diperoleh secara spesifik.
3) Mengidentifikasi penyebab munculnya masalah.
4)Membuat keputusan pribadi selaku calon peneliti untuk memecahkan masalah tersebut.
5) Merumuskan masalah penelitian.
c. Kerja dan kontrak profesional

Banyak peneliti mengembangkan atau merumuskan pertanyaan penelitian mereka sebagai
bagian aktivitas pekerjaan atau diskusi dengan rekan sekerja. Pada banyak kasus, diskusi
formal dan informal yang dilakukan oleh peneliti dengan rekan atau kelompok ahli lain
sangat membantu upaya penajaman terhadap masalah, baik teoritis maupun praktis
(Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 95).

Melalui diskusi akademik, masalah penelitian dipertajam dan dirumuskan. Untuk tujuan ini
peneliti dapat menempuh langkah- langkah sebagai berikut.
1) Mendifinisikan masalah bersama rekan sekerja.
2) Mengidentifikasi penyebab munculnya masalah.
3) Membuat keputusan untuk mengadakan penelitian.
4) Merumuskan pertanyaan penelitian.

d. Pengujian dan pengembangan teori


Tujuan penelitian antara lain adalah untuk melahirkan teori-teori baru dan merevisi teori
yang telah ada yang ternyata sudah tidak relevan lagi dengan kenyataan sekarang. Langkah-
langkah yang dapat ditempuh oleh peneliti berkenaan berkenaan dengan hal tersebut adala :

1) Memahami teori-teori yang relevan dengan bidangnya.


2) Menelaah proses penelitian sehingga diperoleh teori tersebut.
3) Membuat keputusan untuk menyelenggarakan penelitian.
4) Menentukan waktu dan situasi penelitian yang berbeda dengan 
penelitian sebelumnya.
5) Merumuskan masalah penelitian.

e. Analisis literatur professional dan hasil penelitian sebelumya. Masalah penelitian banyak
diperoleh melalui penelaahan terhadap literatur professional dan laporan atau jurnal hasil
penelitian. Dari hasil analisis terhadap literatur, laporan, jurnal, tsb. peneliti memilih dan
merumuskan masalah penelitiannya.
Dasar-dasar metodologi penelitian klinis, Prof. Dr. Dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(k), 2002

14. Jelaskan ilmu filsafat?


a. Menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak
terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalamdalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar
persoalan
b. Menurut Plato( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
c. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab
dan asas segala benda.
d. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
e. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu
pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
f. Immanuel kant (1724 – 1804) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala
pengetahuan yang mencakup didalamnya 4 persoalan : yaitu (1) apakah yang dapat kita ketahui
(dijawab dengan Metafisika) ,(2) Apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab dengan etika), (3)
Sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab dengan agama) (4) Apakah yang dinamakan
manusia (dijawab dengan antropologi)
g. Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat. adalah :
(1) satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta(Philosophy is an attitude toward life and
the universe)
(2) Filsafat adalah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan Akliah(Philosophy is a method
of reflective thinking and reasoned inquired)
(3) Filsafat adalah satu perangkat masalah ( philosophy is a group pf problems)
(4) Fissafat ialah satu perangkat teori atau isi pikiran (philosophy is a group of system of thouhg.
h.Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi universitas indonesia menyimpulkan bahwa filsafat
adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari radix suatu gejala dari akar suatu hal
yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk
sampai kepada kesimpulankesimpulan yang universal.
Sumber : DR. Ali Anwar,M si dkk Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama Dan Filsafat ,Pustaka Setia
Bandung, 2005.

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN FILSAFAT DAN ILMU


PERSAMAAN:
 Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai ke-
akar-akarnya
 Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-
kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-akibatnya
 Keduanya hendak memberikan sistesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
 Keduanya mempunyai metode dan sistem
 Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia
[obyektivitas], akan pengetahuan yang lebih mendasar.

PERBEDAAN:
 Obyek material [lapangan] filsafat itu bersifat universal [umum], yaitu segala sesuatu yang ada
[realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya,
ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan
kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu
Obyek formal [sudut pandangan] filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari
segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat
fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti
bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita
 Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan
pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena
itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya
 Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas
sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak
tahu menjadi tahu
 Filsafat memberikan penjelasan yang terakhri, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar [primary
cause] sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang
sekunder [secondary cause]
Sumber : Filsafat Ilmu, Dr. Amaar Bakhtiar, Ma

Ilmu Filsafat Ilmu Pengetahuan

Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar Mencoba merumuskan pertanyaan atas Ilmu pengetahuan adalah penguasaan
dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti jawaban. Mencari prinsip-prinsip lingkungan hidup manusia.
umum, tidak membatasi segi
pandangannya bahkan cenderung
memandang segala sesuatu secara
umum dan keseluruhan
Obyek penelitian yang terbatas Keseluruhan yang ada Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang
dunia material.

Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai Menilai obyek renungan dengan suatu Ilmu pengetahuan adalah definisi
tertentu. makna, misalkan , religi, kesusilaan, eksperimental
keadilan dsb.
Bertugas memberikan jawaban Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu Ilmu pengetahuan dapat sampai pada
kebenaran melalui kesimpulan logis dari
pengamatan empiris

15. Perbedaan ilmu dan filsafat?


PERBEDAAN:
 Obyek material [lapangan] filsafat itu bersifat universal [umum], yaitu segala sesuatu yang ada
[realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya,
ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan
kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu
Obyek formal [sudut pandangan] filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari
segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat
fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti
bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita
 Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan
pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena
itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya
 Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas
sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak
tahu menjadi tahu
 Filsafat memberikan penjelasan yang terakhri, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar [primary
cause] sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang
sekunder [secondary cause]
Sumber : Filsafat Ilmu, Dr. Amaar Bakhtiar, Ma

Ilmu Filsafat Ilmu Pengetahuan

Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar Mencoba merumuskan pertanyaan atas Ilmu pengetahuan adalah penguasaan
dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti jawaban. Mencari prinsip-prinsip lingkungan hidup manusia.
umum, tidak membatasi segi
pandangannya bahkan cenderung
memandang segala sesuatu secara
umum dan keseluruhan
Obyek penelitian yang terbatas Keseluruhan yang ada Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang
dunia material.

Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai Menilai obyek renungan dengan suatu Ilmu pengetahuan adalah definisi
tertentu. makna, misalkan , religi, kesusilaan, eksperimental
keadilan dsb.
Bertugas memberikan jawaban Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu Ilmu pengetahuan dapat sampai pada
kebenaran melalui kesimpulan logis dari
pengamatan empiris

16. Bagaimana penjelasan filsafat ilmu sebgai landasan kegiatan penelitian?


Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat. adalah :
(1) satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta(Philosophy is an attitude toward life and
the universe)
(2) Filsafat adalah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan Akliah(Philosophy is a method
of reflective thinking and reasoned inquired)
(3) Filsafat adalah satu perangkat masalah ( philosophy is a group pf problems)
(4) Fissafat ialah satu perangkat teori atau isi pikiran (philosophy is a group of system of thouhg.
h.Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi universitas indonesia menyimpulkan bahwa filsafat
adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari radix suatu gejala dari akar suatu hal
yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk
sampai kepada kesimpulankesimpulan yang universal.
Sumber : DR. Ali Anwar,M si dkk Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama Dan Filsafat ,Pustaka Setia
Bandung, 2005.

17. Bagaimana cara menerapkan berfikir secara deduktif dan induktif? Sertakan contoh?

Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-
keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum, lawannya induksi (Kamus Umum
Bahasa Indonesia hal 273 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006)

Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang
bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang
dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. (Filsafat
Ilmu.hal 48-49 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih
dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Deduksi dikatakan tepat jika premis (alasan) dan konklusi benar dan
sahih, hal ini berarti:
1. Alasan (premis) yang diberikan untuk kesimpulan harus sesuai dengan
kenyataan (benar).
2. Kesimpulan harus diambil dari alasan-alasannya (sahih).
Berikut ini contoh sederhana tentang proses pengambilan kesimpulan

berdasarkan deduksi:

Semua dosen yang telah mengikuti pelatihan metodologi penelitian dapat


membuat proposal penelitian dengan baik (Premis 1).
Erlina adalah dosen yang telah mengikuti pelatihan metodologi penelitian
(Premis 2).
Erlina adalah dosen yang dapat membuat proposal penelitian dengan baik

(konklusi).

Jika semua premis benar dan pengambilan kesimpulan tidak salah, maka proses deduksi dianggap
valid. Konklusi hanya dapat diterima jika semua premisnya benar dan valid. Jika ada premisnya yang
tidak sesuai dengan kenyataan, maka deduksinya tidak dapat diterima. Dari contoh yang diberikan di
atas, ternyata Erlina telah mengikuti pelatihan metodologi
penelitian tetapi dia bukan dosen, maka premisnya tidak benar dan konklusinya ditolak.

1.4.2 Induksi
Induksi didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan (atau pembentukan hipotesis)

Berpikir Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk
menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444 W.J.S.Poerwadarminta.
Balai Pustaka 2006)

Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai
kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-
pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi
yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri
Pustaka Sinar Harapan. 2005)

Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke
umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang
belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com)

Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan
jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi
mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar,
maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.

air buat mandi. Dengan cara berpikir, yang biasa dipakainya sebagai pemikir besar, ia bisa bangunkan
satu undang yang setiap pemuda yang mau jadi manusia sopan mesti mempelajari dalam sekolah di
seluruh pelosok dunia sekarang.

18. Apa perbedaan berfikir secara ilmiah dan non ilmiah?, jelaskan!!