Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum ke-8 Hari/ Tanggal : Senin, 25 Maret 2019

Kesehatan Hewan Dosen : Drh. Henny Endah A, MSc


Laboratorium dan Satwa Aquatik Asisten : Nadya Aulia, Amd
Kevin, Amd

TEKNIK DAN PEMBERIAN OBAT SECARA ORAL PADA


HEWAN LABORATORIUM

Disusun oleh :

Kelompok 4/P2

Ester Mustika Simbolon J3P117004


David Juan Christian J3P117015
Aldona Tegar S J3P117026
Raudhotul Jannah J3P117053
Vannesha Oliveia J3P217074
Safira Afifah Putri J3P217078

PROGRAM STUDI PARAMEDIK VETERINER


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
LATAR BELAKANG

Pendahuluan
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran
atau biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau
sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan tertentu antara lain persyaratan
genetik atau keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya,
disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan
reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Tjay et al 2002).
Hewan coba yang sering digunakan yakni mencit (Mus musculus), tikus putih
(Rattus Norvegicus), kelinci (Oryctolagus cuniculus), dan hamster. Sekitar 40-80
% penggunaan mencit sebagai hewan model laboratorium karena siklus hidupnya
yang relatif pendek, jumlah anak per kelahiran banyak, variasi sifat-sifatnya
tinggi, mudah ditangani, dan sifat anatomis dan fisiologinya terkarakterisasi
dengan baik (Mangkoewidjojo 2006). Metode pemberian obat pada hewan
laboratorium ada 3, yaitu per oral, injeksi, dan topikal. Metode per oral
menggunakan alat sonde lambung. Penggunaan sonde lambung hanya untuk tikus
dan mencit, sedangkan kelinci lebih sering melalui nasogastric. Sonde lambung
ada 2 jenis, yaitu sonde metal dan sonde fleksibel.
Pemberian obat secara injeksi dapat melalui intramuskular (IM), intra dermal
(ID), intra peritoneal (IP), intra vena (IV), dan subkutan (SC). Intramuskular tidak
dianjurkan untuk mencit. Lokasi intramuskular untuk tikus dan kelinci quadriceps
(caudal thigh) dan lumbar. Pemberian obat secara injeksi sebelum obat
dimasukkan dilakukan aspirasi terlebih dahulu, kecualli pada intra dermal tidak
dilakukan aspirasi terlebih dahulu.

Tujuan
Praktikum kali ini untuk mengetahui beberapa cara pemasukan obat atau
cairan pada hewan laboratorium.

METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Maret 2019 pukul
08.00-12.00 WIB di Klinik Hewan Sekolah Vokasi IPB.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah spoit 3cc, termometer,
spidol, penggaris, amplas, gergaji kecil, timah, gunting, kanula dan nasogastric
tube. Bahan yang digunakan adalah air matang, ky jelly, tikus, mencit, kelinci.
Cara Kerja

A) Aplikasi Per Oral pada Mencit


Alat dan bahan disiapkan. Selanjutnya hewan di-handle dengan benar.
Mencit dihandle dengan satu tangan dengan posisi kepala mencit tegak lurus
sejajar dengan punggung. Sonde lambung mencit disambungkan dengan kabel
plastik. Jarak antara ujung mulut sampai lambung diukur dan diberi tanda pada
sonde. Sonde lambung diposisikan di sebelah kiri atau kanan dari lidah.
Kemudian, dilakukan aspirasi jika ada respon balik pada spoit maka obat langsung
dimasukkan secara perlahan dan tunggu sampai ada reflek menelan.

B) Aplikasi Per Oral pada Tikus


Alat dan bahan disiapkan. Tikus dihandle dengan benar. Tikus dihandle
dengan satu tangan dengan posisi kepala tegak lurus sejajar dengan punggung.
Sonde lambung untuk tikus tidak disambungkan dengan kabel plastik. Jarak
antara ujung mulut sampai lambung diukur dan diberi tanda pada sonde. Sonde
lambung diposisikan di sebelah kiri atau kanan dari lidah. Kemudian dilakukan
aspirasi jika ada respon balik pada spoit maka obat langsung dimasukkan secara
perlahan dan tunggu sampai ada reflek menelan.

C) Aplikasi Nasogastric pada Kelinci


Alat dan bahan disiapkan. Kelinci dihandle dengan benar. Kelinci dihandle
dengan dua tangan. Jarak antara ujung hidung sampai lambung diukur dan diberi
tanda. Kemudian, nasogastric tube dimasukkan melalui hidung kelinci hingga
masuk ke dalam lambung. Kemudian, dilakukan aspirasi jika ada respon balik
maka obat langsung dimasukkan secara perlahan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar Keterangan

Syringe 3 ml yang
dihubungkan dengan kanula
(kabel) untuk alat cekok
mencit.
Syringe 3 ml yang disolder
ujungnya menjadi tumpu
untuk alat cekok tikus.

Nasogastric tube yang


dihubungkan dengan spoit
kosong untuk alat cekok
kelinci.

Alat Nasogastric tube

Alat cekok yang diisi air


untuk dimasukan ke dalam
lambung mencit dan tikus.
Alat cekok sesudah diisi air
diolesi KY gel di sisi kanula.

Alat cekok sebelum diisi air


dan diolesi gel diukur
terlebih dahulu dari mulut-
rusuk terakhir pada mencit.

Posisi hewan dan alat cekok


tegak lurus serta hewan
tidak dalam keadaan
terbius.

Alat cekok dimasukkan dari


kiri/kanan mulut

Alat cekok tanpa kanula


yang dimasukkan ke dalam
mulut tikus.

Pemasangan Nasogastric
tube pada kelinci

Rute pemberian obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi


efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang
berbeda. Jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu
akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzung 2001). Menurut
Priyanto (2008), rute pemberian obat dibagi menjadi 2 yaitu enternal dan
parenteral. Jalur enternal merupakan pemberian obat melalui saluran
gastrointestinal, seperti pemberian obat melalui oral, bukal, rektal, dan sublingual.
Pemberian obat melalui jalur enternal merupakan jalur pemberian obat
yang sering digunakan karena mudah, murah, dan aman. Selain itu, pemberian
obat secara enternal juga praktis dan tidak menimbulkan rasa sakit. Namun,
kekurangan dari pemberian obat melalui jalur enternal adalah absorpsinya lambat,
tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar atau dalam keadaan terbius,
pasien yang tidak dapat menelan, dan pasien yang sedang mengalami muntah
(Priyanto 2008).
Terdapat 4 jalur yang termasuk ke dalam jalur parenteral, yaitu injeksi,
transdermal (topikal), endotracheal (pemberian obat ke dalam trakea
menggunakan endotracheal tube), dan inhalasi. Pemberian obat secara parenteral
dapat menimbulkan efek sistemik atau lokal (Kementan 2016). Setiap jalur
pemberian obat terdapat keuntungan dan kerugiannya masing-masing.
Keuntungan dari pemberian obat secara per oral adalah mudah, ekonomis, dan
aman. Sedangkan kerugiannya adalah rasa yang tidak enak dan kemungkinan
dapat menimbulkan iritasi usus dan lambung, menginduksi mual dan pasien harus
dalam keadaan sadar (Mangkoewidjojo 2006).
Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan adalah pemberian obat
peroral. Dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus, karena
memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas. Pemberian secara oral, sebelum
obat masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, obat
diabsorbsi terlebih dahulu pada saluran cerna. Kerugian pemberian per oral adalah
banyak faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat. Bioavaibilitas merupakan
kecepatan dan jumlah (rate and extent) bahan aktif atau senyawa aktif terserap
dari produk obat dan menjadi tersedia di tempat kerjanya (FDA 2014). Karena
tidak semua obat yang diabsorpsi akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian
akan dimetabolisme oleh enzim yang ada di dinding usus dan hati.
Pemberian obat secara per oral pada tikus dan mencit menggunakan sonde
lambung ungsi sonde lambung adalah untuk memasukkan cairan ke dalam
lambung. Terdapat dua macam sonde lambung, yaitu sonde metal dan sonde
fleksibel, sedangkan pada kelinci pemberian obat menggunakan alat nasogastric
tube (Musrifatul dan Azis 2008).
Handling pada tikus dan mencit pada saat pencekokan yang benar adalah
posisi kepala tikus dan mencit lurus dengan punggungnya. Sedangkan handling
yang salah adalah leher dan kepalanya dalam kondisi tertekuk. Selain itu, alat
bantu cekok juga tidak sejajar dengan esofagus. Kondisi leher dan kepala tikus
dan mencit tertekuk dapat mengakibatkan sonde lambung sulit untuk masuk,
sehingga akan terjadi pemasukan sonde lambung dengan paksaan dan
mengakibatkan tikus dan mencit kesakitan (Katzung 2001).
Pemasukan sonde lambung pada tikus dan mencit harus benar-benar
masuk ke lambung, hal ini dapat dipastikan sebelum obat atau cairan dimasukkan
dilakukan aspirasi. Tujuan dilakukannya aspirasi sebelum pemasukan obat adalah
untuk memastikan bahwa sonde benar-benar masuk ke dalam lambung (Metheny
2001). Apabila pada saat dilakukan aspirasi ada respon balik maka sonde benar
masuk ke lambung dan dilanjutkan dengan pemasukan obat atau cairan,
sedangkan pada saat aspirasi tidak ada respon balik pada sonde maka sonde salah
masuk ke dalam paru-paru, sehingga sonde harus dikeluarkan lagi. Apabila tetap
tidak ada respon ballik namun obat atau cairan tetap dimasukkan akan terjadi silk
pneumonia (Metheny 2001).
Pemasangan nasogastric tube adalah metode pemenuhan nutrisi yang
dilakukan dengan menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidung
melewati esofagus menuju ke lambung (National Collaborating Centre 2006).
Kesalahan penempatan selang umumnya terjadi pada esofagus, dan kesalahan
penempatan selang ini dapat memicu terjadinya distensi perut, muntah, dan
perubahan tingkat kesadaran (Walley and Wong 2001). Pemberian obat per oral
dengan nasogastric tube digunakan untuk kelinci, karena selain lebih mudah juga
lebih aman. Kelinci memiliki kebiasaan menggigit, sehingga apabila pemberian
obat per oral dengan pencekokan tidak efektif untuk kelinci.
Pemberian obat untuk hewan laboratorium selain secara per oral juga bisa
secara injeksi. Pemberian obat secara injeksi lebih cepat penyerapan atau
absorpsinya daripada secara per oral. Karena secara injeksi obat langsung masuk
ke dalam pembuluh darah dan langsung menyebar. Secara injeksi dapat dilakukan
melalui intra muscular (IM), intra dermal (ID), intra peritoneal (IP), intra vena
(IV), dan subcutan (SC) (Katzung 2001).
Pemberian obat melalui intra muscular (IM) tidak direkomendasikan untuk
mencit, karena ukuran mencit yang terlalu kecil sehingga sulit untuk menemukan
pembuluh darahnya. Lokasi injeksi melalui intra muscular (IM) untuk tikus dan
kelinci ada 2, yaitu quadriceps (caudal taugh) dan lumbar. Pemberian obat secara
injeksi juga dilakukan aspirasi sebelum pemasukan obat, namun secara intra
dermal tidak dilakukan aspirasi.

SIMPULAN

Terdapat beberapa cara pemberian obat atau cairan pada hewan


laboratorium, yaitu per oral, injeksi, dan topikal. Per oral dapat menggunakan
sonde lambung untuk tikus dan mencit, sedangkan untuk kelinci menggunakan
nasogastric tube. Injeksi dapat dilakukan secara intramuscular (IM), intradermal
(ID), intraperitoneal (IP), intravena (IV), dan subcutan (SC).

DAFTAR PUSTAKA

Food and Drug Administration (FDA). 2001. Guidance for Industry Bioanalytical
Method Validation. Center for Drug Evaluation and Research. Rockville.
MD. USA. Pp 16.

Katzung BG. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta (ID) : Salemba
Medika.
Kementan. 2016. Penggunaan Dan Penanganan Hewan Coba Rodensis Dalam
Penelitian Sesuai Dengan Penelitian Sesuai Dengan Kesejahteraan Hewan.
Jakarta (ID) : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Mangkoewidjojo, Soesanto. 2006. Hewan Laboratorium dalam Penelitian


Biomedik. Yogyakarta (ID) : FKH UGM.
Metheny NA, Titler M. 2001. Assesing Placement of Feeding Tubes. American
Journal of Nursing. 101(5).

Musrifatul , A Aziz. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta (ID) :


Salemba Medika.

National Collaborating Centre for Acute Care. 2006. Nutrition Support for Adults
Oral Nutrition Support, Enteral Tube Feeding and Parenteral Nutrition.
London : Lincoln’s Inn Fields

Priyanto. 2008.Farmakologi Dasar. Yogyakarta (ID):Lensonkofi.

Tjay dan Rahardja. 2002. Obat-obat Penting Khasiat serta Pengunaaan dan Efek
Sampingnya. Edisi V. Jakarta (ID): PT Elex Media Komputindo Kelompok
Gramedia.

Walley and Wong. 2001. Paediatric Variations of Nursing Interventions. Clinical


Manual of Nursing Procedures. Tube Feeding in Children. 21 P680-682.