Anda di halaman 1dari 28

TUGAS PENYUTRADARAAN FRAGMENT

NASKAH
“Sepasang Merpati Tua”
KARYA : BAKDI SOEMANTO

OLEH:
ANDRE IRWANTONI
NIM: 05202318

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


INSTITUT SENI INDONESIA PADANGPANJANG
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
SENI TEATER
2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyutradaraan adalah orang yang bertugas menggarap sebuah pertunjukan dari awal

pertunjukkan sampai pertunjukan itu selesai.dalam drama tradisional disebut “dalang” Peran

sutradara dalam teater tradisional tidak sepenting dan tidak sebesar peran sutradara dalam

teater modern. Seluruh pementasan teater modern adalah tanggung jawab sutradara,tugas

sutradara drama modern adalah melatih mengkoordinasikan aktor juga juga mengatur urusan

pentas seperti :penata lampu,penata setting,penata musik,penata rias,penata costum,dan

petugas lainnya.

Dalam penyutradaraan kali ini saya sebagai pengkarya menggarap sebuah naskah yang

berjudul Sepasang Merpati Tua karya Bakdi Soemanto yang menceritakan tentang kehidupan

kakek nenek yang masih bersama, hal yang paling menarik di dalam naskah ini menurut saya

adalah ketika sang nenek cemburu ketika si kakek bersolek terus dan selalu berandai-andai

menjadi seorang pemimpin. Dan oleh karena itu saya sebagai pengkarya memilih naskah ini

untuk digarap sesuai dengan kejadian yang ada pada naskah tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai

berikut

1. Bagaimana analisis struktur dan tekstur dalam naskah Sepasang Merpati Tua untuk

kebutuhan penyutradaraan.

2. Bagaimana penyutradaraan dalam naskah tersebut.

3.Bagaimana nilai moral yang terkandung dalam naskah Sepasang Merpati Tua.
C. Tinjauan Karya

Tinjauan karya ini dimaksudkan untuk mengevaluasi karya yang telah di tampilkan mulai
dari awal penggarapan sampai penggarapan selesai, merancang karya hingga menjadi sebuah
karya.. Tinjauan Sepasang Merpati Tua karya Bakso Soemanto dijabarkan sebagai berikut:
.Disutradarai oleh Agressam (1 maret 2015),Komonitas Seni Loboalif (8Januari 2016),
Prewedding Alif(3 Januari 2017) dan Teater Gethuk(8Januari 2018).

D.Tujuan Penyutradaraan

1. Mengetahui struktur dan tekstur naskah lakon Sepasang Merpati Tua

2. .Memvisualkan kehidupan yang ada dalam naskah Sepasang Merpati Tua keatas panggung

3. Menginformasikan tentang nilai moral yang terkandung dalam naskah Sepasang Merpati

Tua, yang dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat.

E. Manfaat

Dengan menganalisis naskah drama ”Sepasang Merpati Tua” dengan menggunakan

pendekatan semiotik Primer, maka kita akan mengetahui apa arti dari tanda-tanda yang terdapat

dalam naskah drama tersebut yang dapat memberi petunjuk tentang makna yang terkandung

dalam naskah yang tentunya merupakan suatu refleksi dari jiwa pengarang yang merupakan

gambaran dari dunia nyata yang dapat memberi pengajaran pada para pembaca dalam

memaknai kehidupan yaitu kita bisa belajar cara mempertahankan hubungan antara sesama

manusia agar tetap baik seperti yang ditunjukkan dalam naskah drama”Sepasang Merpati Tua”

yang mengisahkan tentang dua pasang suami istri yang selalu rukun sampai menginjak masa

tua dimana mereka terus mempertahankan hubungan perkawinan mereka dengan penuh

kemesraan.

F. Sistematika Penulisan
Untuk memahami lebih jelas laporan ini, maka materi-materi yang tertera pada Laporan konsep

penyutradaraan ini dikelompokkan menjadi beberapa sub bab dengan sistematika penyampaian

sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang, perumusan masalah,Tinjauan Karya, tujuan dan manfaat

penyutradaraan Sepasang Merpati Tua, dan sistematika penulisan.

BAB II ANALISIS STRUKTUR

Bab ini membahas tentang biografi pengarang sinopsis naskah,Penokohan yang ada di dalam

naskah,setting,tema dan sudut pandang.

BAB III ANALISIS TEKSTUR

Bab ini membahas tentang dialog,mood/rhytem dan spektakel dalam naskah tersebut

BAB IV PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan yang telah diuraikan pada bab-bab

sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
BAB II

ANALISIS SKRUKTUR

A. Biografi Pengarang

Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U (lahir di Solo, Jawa Tengah, 29 Oktober

1941 – meninggal di Yogyakarta , 11 Oktober 2014 pada umur 72 tahun), adalah seorang

penulis Indonesia, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM. Lahir di Solo, Jawa Tengah, 29

Oktober 1941. Bernama asli Christophorus Soebakdi Soemanto. Ayahnya RM Soemanto

wafat, ketika ia berusia 13 tahun. Setelah menamatkan pendidikan SMA bagian A

(Sastra), ia melanjutkan pendidikannya di jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra

Univesitas Gajah Mada/UGM (lulus tahun 1977). Setelah itu mengikuti ‘American

Studies Program’ di Universitas Indonesia (1982), menyelesaikan program pascasarjana

di UGM( 1985), meraih gelar Doktor dalam Ilmu Sastra dari UGM (2002) dengan

disertasi berupa penelitian terhadap drama karya Samuel Becket, ‘Waiting for Godot’.

Menjadi pengajar di berbagai tempat, antara lain pernah mengajar di IKIP Sanata Dharma

(1971-1979), Akademi Kewanitaan Yogyakarta (1976-1979), Akademi Bahasa Asing

Kumendaman, Yogyakarta (1979-1982), Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo,

Jawa Tengah (1979-1982). Menjadi pengajar tamu memberikan kuliah sastra Indonesia
lewat terjemahan di Oberlin College, Ohio dan Northern Illionis University, Amerika

Serikat (1986-1987) dan terakhir menjadi Guru Besar pada jurusan Sastra Inggris,

Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Pengkajian Seni Pertunjukan serta Pengkajian Amerika,

Pasca Sarjana UGM, Pasca Sarjana Universitas Diponegoro/UNDIP, Semarang dan

Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI, Solo, Jawa Tengah.Pernah menjadi redaktur

majalah Basis (1965-1967), majalah Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah (1966-

1969), Peraba (1971-1976), dan Semangat (1975-1979). Mantan Ketua umum Dewan

Kesenian Yogyakarta (1979) ini juga pernah Beberapa kali diundang menyajikan makalah

pada seminar seni pertunjukan yang diselenggarakan oleh ASEAN dan SPAFA di

Singapura dan Bangkok, Thailand.Kerap menggunakan nama sang ayah ‘Soemanto’ di

belakang namanya untuk menghadirkan keberadaannya di saat berkarya. Kegemarannya

menulis telah ia lakoni sejak sebelum menjadi mahasiswa. Beberapa puisi dan cerpennya

pernah dimuat dalam majalah Basis dan harian kedaulatan rakyat. Di harian Kedaulatan

Rakyat ia juga mengisi kolom Glenak-Glenik sejak tahun 2007.Sajak-sajaknya juga

dimuat dalam Linus Suradi AG (ed.), Tugu (Bunga Rampai, 1987). Ia juga menerbitkan

karya-karya berupa kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Gramedia, kumpulan cerpen

‘Bibir, Doktor Plimin’ (2002) dan ‘Kartu Natal’ (1979). Ia juga menerbitkan beberapa

karyanya yang lain, antara lain, ‘Angan-angan Budaya Jawa: Analisis Semiotik

Pengakuan Pariyem’ (studi/kajian, 1999) dan ‘Kalung Tanda Silang’ (cerber). Penulis

yang di kenal dekat dengan WS. Rendra (alm) dan juga salah satu pendiri Bengkel Teater

ini, juga menerbitkan buku ‘Kumpulan Drama Remaja’ (1988). Sejumlah karya dramanya

juga di muat dalam A. Rumadi (ed.), dan masih banyak lagi karyanya yang lain.

Pernah meraih penghargaan dari Pemerintah Propinsi DI Yogyakarta, Universitas

Kebangsaan Malaysia, Oberlin College (Amerika Serikat), serta penghargaan Punakara

PNS 25 tahun. Menikah dengan Nin Bakdi Soemanto, dan dikaruniai tiga orang anak dan
tiga cucu. Menetap di Yogyakarta, setelah pensiun sebagai PNS, ia lebih banyak

menghabiskan waktu untuk mengajar dan menulis.Wafat pada Sabtu dinihari, pukul

03.45, 11 Oktober 2014 di RS Panti Rapih Yogyakarta pada usia 73 tahun, akibat

penyakit jantung dan diabetes.

B.Sinopsis

Pada drama Spasang Merpati Tua hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua.

Pada waktu malam hari sang nenek sedang duduk di ruang tengah rumahnya sambil

menyulam dan berbicara sendiri. Kemudian masuklah sang kakek keruang tengah sambil

mengenakan kopiah, nenek pun terkejut, dan akhirnya kakek duduk menyendiri sambil

membaca Koran. Kemudian nenek pun mendekati kakek, namun kakek Nampak kurang

suka, selanjutnya mereka berdua berbicara tentang cita-cita kakek dan tentang kehidupan

mereka berdua.

Kakek yang memiliki jiwa social memiliki cita-cita ingin menjadi diplomat, akan

tetapi hal itu ditentang oleh nenek karena kakek ingin menjadi diplomat kolong jembatan,

hal tersebut membuat nenek kesal pada kakek, hal tersebut sangat bertolek belakang

dengan keinginan nenek untuk menjadi terkenal, memiliki kedudukan, dan jabatan yang

tinggi, tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya yang hidupnya menderita.

Malam semakin larut mereka berdua masih duduk di ruang tengah, masih saja

membicarakan kehidupan mereka, dengan usia yang sudah semakin tua nenek pun

bertanya kepada kakek tentang kapan akan mati, selanjutnya menjelaskan bahwa memang

harus siap-siap. Nenek mulai ketakutan terlebih ketika mereka mendengarkan lonceng

jam dinding dua belas kali mereka berdua tidak hanya ketakutan namun juga
kebingungan, bawasannya sebentar lagi akan pagi dan merasa usia semakin bertambah,

namun sangakake masih dapat member pengertian pada nenek yang belum mengetahui

ukuran adanya kehidupan.

C. Penokohan

Penokohan dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu: Nenek, seorang wanita yang

baik, manja, pengkritik, cengeng, pemberani, gengsi, dan peduli. Kebaikannya tunjukan

ketika mau mendengarkan kata-kata Kakek walaupun ia selalu tidak arti dari kata-kata

Kakek,

Sedangkan si Kakek, seorang lelaki yang baik, bijaksana, suka bersolek, pemalu, peduli,

pemuji, pengkritik, percaya diri, dan semangat tinggi. Kebaikannya ia tunjukan dalam

jiwanya yang tertanam nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat, ia ingin meningkatkan

kesejahteraan masyarakat dengan mengubah pola pikir.

a) Jenis Tokoh

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu: Tokoh

utamanya, yaitu Nenek. Ia adalah tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai

pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.Tokoh protagonisnya, yaitu Nenek. Ia

merupakan tokoh yang baik Tokoh antagonisnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh

yang yang memberi konflik pada cerita tersebut.

b) Bentuk Karakter Tokoh


1) Nenek

Nenek adalah seorang yang sedikit mementingkan kedudukan dan kehormatan dalam

hidup.Tetapi, hal itu dikarenakan Nenek belum mengerti arti hidup dibandingkan dengan

Kakek.

2) Kakek

Kakek adalah seorang yang peduli terhadap kehidupan sosial dan memberikan banyak

pengertian hidup terhadap istrinya.

c) Bentuk-bentuk tipe perwatakan

Dalaam naskah Sepasang Merpati Tua terdapat dua tokoh yaitu :Kakek dan Nenek kali ini saya

akan membahas psikologis ,fisiologis dan moralitas pada tokoh tersebut.

 Psikologi

Psikologi merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan tentang

perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia secara ilmiah.Disini saya akan

membahas psikologi tokoh dalam naskah sepasang merpati tua.

Kakek Perwatakan kakek Tokoh kakek memiliki perwatakan yang tegas dan memiliki

emosi yang tinggi. ini bisa dibuktikan dalam bebrapa kutipan diolgnya, salah satunya

adalah kutipan berikut ini:

Kakek: ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi

diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keselamatan perkawinan kita.

Kakek: Aku akan segera jadi diplomat sekarang juga. Di mana posku? Negara-negara

Barat? Timur? Asia? Atau PBB?

Nenek
Perwatakan tokoh nenek memiliki sifat manja dan cemburu ini bisa dilihat dari

kutipan dialognya berikut ini:

Nenek: (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya

tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis ynag suka

memandang. Hmmm.. (Mengambil cangkir, lalu meminumnya)

 Fisiologis

Fisiologis adalah sesuatu yang berkaitan dengan faal (ciri-ciri tubuh), misalnya bibir,

hidung, bentuk kepala, raut muka, tampang, rambut, warna kulit, aksesoris yang

dipakai (kacamata, tas, sepatu, pakaian, topi), jenis kelamin, dan usia. Psikologis

adalah bersifat kejiwaan, misalnya gejala dan pikiran, perasaan dan kemauannya.

Adapun sosiologis adalah sesuatu yang berkaitan dengan sosiologis, misalnya tentang

struktur sosial, proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial, dan masalah-

masalah sosial (KBBI, 2008:393).dan proses mental manusia secara ilmiah.Disini

saya akan membahas fisiologi tokoh dalam naskah sepasang merpati tua.

Kakek

Seorang lelaki tua bisa dilihat dari kutipan dialog berikut ini: Nenek : Malu? Kau

aneh. Malu pada siapa?

Kakek ilihat banyak orang tuuuh. (Menunjuk penonton). Sudah tua kenapa

pacaran terus…

Nenek

Seorang wanita tua bisa dilihat dari dialognya berikut ini:

Kakek : Tentu saja, karena kau belum mengerti hidup.

Nenek : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti
 Sosiologis

sosiologis adalah sesuatu yang berkaitan dengan sosiologis, misalnya tentang struktur

sosial, proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial, dan masalah-masalah

sosial (KBBI, 2008:393).Disini saya akan membahas sosiologi tokoh dalam naskah

sepasang merpati tua.

Kakek

Kakek adalah seorang yang peduli terhadap kehidupan sosial dan memberikan banyak

pengertian hidup terhadap istrinya.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog berikut :

Kakek : Banyak diplomat yang dikirim di pos-pos manapun di dunia ini. Tapi

pemerintah belum punya wakil utuk bicara-bicara dengan mereka yang ada dikolong

jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka, aku akan menyatakan diri. Maka aku akan

menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong

jembatan.

Kakek : Aku mau jadi teknorat dalam bidang….

Kakek : Bidang persampahan

Nenek : Apa?

Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah sebab adanya banjir di kota

ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-
jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa

banyaknya.

Nenek

Nenek adalah seorang yang sedikit mementingkan kedudukan dan kehormatan dalam

hidup. Tetapi, sesungguhnya Nenek belum mengerti arti hidup dibandingkan dengan

Kakek.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan dialog berikut :

Kakek : Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja…

Nenek : Ah, gila. Itu pekerjaan gila.

 Moralitas

Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan

baik dan buruk (Bertens, 2002:7). Moralitas juga berperan sebagai pengatur dan

petunjuk bagi manusia dalam berperilaku agar dapat dikategorikan sebagai manusia

yang baik dan dapat menghindari perilaku yang buruk (Keraf, 1993: 20).Disini saya

akan membahas Moralitas tokoh dalam naskah sepasang merpati tua.

Kakek

Kakek seorang manusia tua yang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya

sendiri dan hal itu wajib dicontoh .Hal ini dibuktikan dengan kutipan dialog berikut:

Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong.

Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu


perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan

timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada

orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada

wakil yang bisa membujuk….

Nenek

Seorang istri yang setia pada suaminya bahkan dia tak ingin suaminya hidup terhina

hal itulah yang wajib di contoh oleh para istri yang ada di dunia ini,Hal ini dapat

dilihat pada kutipan dialog berikut :

Kakek : Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi

pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di

kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku

menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong

jembatan.

Nenek : Tapi kau akan terhina

D.Setting

Adapun setting yang ada dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi

Soemanto sebagai berikut:

 Tempat

sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada

meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang
cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak di tengah ruangan itu terdapat sofa,

lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.

 Waktu

Waktu drama ini dimulai, saat itu hari menjelang malam,Nenek duduk sambil

menyulam. Sebentar-bentar ia menengok ke belakang,sampai dengan Terdengar

lonceng jam dinding dua belas kali.

 Suasana

Jengkel; perasaan Nenek kepada Kakek karena selalu bersolek dengan memakai
kopiah ketika membaca koran.
Romantis; suasana ketika Nenek duduk di samping Kakek sambil menyandarkan
kepalanya ke bahu kakek sebelah kiri.
Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan
kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
Berdebat:Sikap Nenek dan Kakek yang memperdebatkan jabatan menjadi profesor,
diplomat, dan teknokrat.

E.Tema

Dalam naskah drama “Sepasang Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto temanya

adalah sosio-politik. Ini bisa dilihat dari kutipan dialog berikut :

Nenek : Nah, paling terhormat jadilah diplomat wakil republik kita tercinta di

PBB… (Kakek geleng kepala)

Nenek : Aku sungguh tidak mengerti cita-citamu, Pak.

Kakek : Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja…
Nenek : Ah, gila. Itu pekerjaan gila.

Kakek : Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos manapun di dunia ini. Tapi

pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di

kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku

menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong

jembatan.

Nenek : Tapi kau akan terhina

Kakek : Selama kedudukan adalah diplomat, di manapun ditempatkan sama saja

terhinanya, sama saja mulianya

F. Sudut Pandang (Poin Of View)

Adapun sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam naskah drama “Sepasang
Merpati Tua” karya Bakdi Soemanto adalah sudut pandang orang ketiga tunggal ketika
pengarang menggunakan sapaan ibu-bapak. Ini dapat dilihat pada kutipan dialog-dialog
berikut :

Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?
Kakek : tidak kemana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca koran.
Nenek : mengapa membaca koran mesti pakai kopiah segala?
Kakek : Agar komplit, Bu

Dan pada dialog lain berikut

Kakek : Tindakan terpuji, itu namanya.


Nenek : He, apa sih maksudmu, Pak?

Dan selanjutnya menggunakan sudut pandang pengarang serba tahu di mana pengarang
mengetahui segala seluk-beluk dan isi rumah, hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas
sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang
cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak di tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna
gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-bentar ia menengok ke
belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam”.

BAB III

ANALISIS TEKSTUR

A. Dialog

Dialog adalah percakapan para pemain. Dialog memainkan peran yang amat penting
karena menjadi pengarah lakon drama. Artinya, jalannya cerita drama itu diketahui oleh
penonton lewat dialog para pemainnya. Agar dialog itu tidak hambar, pengucapannya harus
disertai penjiwaan emosional. Selain itu, pelafalannya harus jelas dan cukup keras sehingga
dapat didengar semua penonton. Seorang pemain yang berbisik, misalnya harus diupayakan
agar bisikannya tetap dapat didengarkan para penonton.

Nenek : (Bicara sendiri). “Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya
tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang.
Hmmm…”(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek : (Masuk). “Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?”
Nenek : “Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?”
Kakek : “Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.”
Nenek : “Mengapa membaca koran harus pakai kopyah segala?”
Kakek : “Agar komplit, Bu”
........... terdiri dari 153 dialog
Kutipan di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang.
Dan .Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara
bergantian oleh tokoh Nenek dan Kakek. http://pelangisahaba.blogspot.com/2012/06/analisis-
drama.html

B. Mood/Rhytem
mood adalah perasaan pemain(aktor)yang sedang memainkan drama. Perasaan pemain

terbagi menjadi 2. Ada yang alami dan ada yang dibuat buat. Mood yang di buat buat akan

terlihat sangat huuh tidak alami karena segala sesuatu yang di sengajakan akan terlihat tidak

bagus. Sedangkan, mood yang alami adalah hasil dari penghayatan para tokoh sehingga

menghasilkan drama yang bagus. Mood dalam drama bermacam macam. Sama seperti

manusia pada kenyataannya hanya saja tergantung dari penghayatan yang dilakukan oleh

para aktor . Semakin bagus penghayatannya maka semakin bagus drama yang di hasilkan.

Penghayatan drama yang rendah (di buat buat) termasuk dalam mood buatan dan dan

penghayatan drama yang tinggi (alami) termasuk mood alami.

C. Spektakel

Spektakel adalah suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel

terdiri dari setting, lighting,costum,make-up,musik,handprof.

 Setting

Mengambarkan tempat kejadian yang ada di dalam naskah dan diwujudkan oleh tata

panggung dalam pementasan


 Lighting

Dalam pementasan ini menggunakan elemen pendukung yang berjenis zoom soot,varsnel,part

yang menggunakan filter kuning hambar.

 Costum

Dalam tahapan ini saya mencoba mencocokan beberapa kostum yang cocok di pakai untuk

aktor kakek dan nenek. Untuk nenek pengkarya menggunakan kostum yang biasa di pakai
oleh nenek-nenek dalam kehidupan sehari-hari , dan untuk kakek, kakek menggunakan

celana rumahan dan baju batik biasa di pakai kakek-kakek.

 Make-up

Dalam penggarapan naskah ini saya menggunakan make-up tua bagi aktor-aktor saya

agar sesuai dengan naskah yang saya garap.

 Musik

Dalam melakukan tahapan berikut,saya menggunakan bunyi bunyian malam

 Handprof

Kecamata yang di gunakan oleh kakek dan nenek dan peci yang dikenakan oleh kakek
BAB IV

PERANCANGAN PENYUTRADARAAN

A. KONSEP PENYUTRADARAAN

Proses penyutradaraan merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh seorang sutradara


dalam memimpin dan mempersiapkan pertunjukan teater. Rancangan pentas dibuat detil
untuk pencapaian penghayatan penonton terhadap latar tempat, waktu, dan kejadian di dalam
naskah.

Saya sebagai pengkaryamenginginkan aktor sebagai kreator yang peranannya cukup besar
dalam proses penciptaan. Saya sebagai sutradara memberikan kebebasan dalam pencarian
aktor terhadap karakter lalu mengarahkan sesuai dengan konsep yang saya rancang.

B. PROSES PENYUTRADARAAN

Tahap penyutradaraan ada beberapa proses yang pengkarya lalui,ada beberapa tahap proses
yang di lalui oleh aktor untuk sebuah pementasan. Tahap itu berada pada proses yang
pengkarya lakukan antara lain:

 Casting

Casting merupakan suatu proses untuk memilih pemain berdasarkan karakter yang dibutuhkan
dalam sebuah naskah. tahap pemain atau aktor, para aktor yang di casting bukanlah aktor yang
sudah bisa bermain dengan baik, tetapi para calon aktor yang masih ingin belajar bermain
dengan baik.casting ini akan dilakukan dalam beberapa kali pertemuan hingga seluruh aktor
mendapatkan peran yang sesuai menurut pengkarya. Gambaran pengkarya dalam pemilihan
tokoh yang akan bermain dalam naskah SEPASANG MERPATI TUA melihat dari interpretasi
pengkarya terhadap naskah.

Tokoh Kakek adalah tokoh yang berumur lebih dari 80 tahun , gambaran tokoh kakek
merupakan pria yang sudah tua akan tetapi dia masih memikirkan nasib negrinya sendiri.
Gambaran fisiologi pada tokoh kakek adalah, seorang pria tua memiliki tubuh yang agak
bongkok,tinggi, dan suka merayu istrinya, tokoh kakek memiliki suara yang serak layaknya
suara orang tua yang berumur 80 tahun lebih. Sedangkan tokoh nenek adalah perempuan tua,
suka cemburu yang berumur 80 tahun , merupakan seorang istri yang mencintai suaminya
walaupun umur mereka sudah tua.

Casting dilanjutkan dengan menilik bagaimana mencari tokoh yang sesuai,penyesuaian dari
pencarian tokoh tersebut pengkarya melihat dari keseharian yang ada.

 Reading

Reading adalah proses untuk mendapatkan tafsiran naskah yang ada,tafsiran ini menunjang
kerja kreatif yang pengkarya lalui. Reading ini dilakukan dalam beberapa kali pertemuan dalam
proses latihan gunanya untuk aktor agar bisa lebih memahami naskah.

 Dramatic Reading

Dalam proses dramatic reading ini pengkarya mengarahkan para aktor untuk mencoba
membangun dramatic kasar yang terdapat pada naskah.

 Bloking Kasar

Blocking kasar merupakan pencarian perpindahan gerakan pada aktor yang akan main pada
pertunjukan. Proses ini masih dalam pencarian agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

 Bloking Halus

Blocking halus merupakan bentuk dari pencarian bloking kasar yang akan di hadirkan melalui
pementasan yang akan terlihat lebih baik dan natural, sehingga tidak seperti di buat-buat.
C. RANCANGAN ARTISTIK

Suatu rencana yang berkaitan dengan segala unsur kreasi seni pendukung pementasan yang
menjadikan panggung lebih hidup yang terdiri atas:

 Musik

Dalam melakukan tahapan berikut,saya menggunakan bunyi bunyian malam

 Costum

Dalam tahapan ini saya mencoba mencocokan beberapa kostum yang cocok di pakai untuk
aktor kakek dan nenek. Untuk nenek pengkarya menggunakan kostum yang biasa di pakai oleh
nenek-nenek dalam kehidupan sehari-hari , dan untuk kakek, kakek menggunakan celana
rumahan dan baju batik biasa di pakai kakek-kakek.

 Propeti

Dalam naskah Sepasang Merpati Tua ini,pengkarya menggunakan properti seperti


meja,2kursi,2gelas,teko,sofa,kain untuk sulaman dan koran.

 Handprof

Kecamata yang di gunakan oleh kakek dan nenek dan peci yang dikenakan oleh kakek
 Setting Panggung

Mengambarkan tempat kejadian yang ada di dalam naskah dan diwujudkan oleh tata panggung
dalam pementasan

 Lighting

Dalam pementasan ini menggunakan elemen pendukung yang berjenis zoom soot,varsnel,part
yang menggunakan filter kuning hambar.

 Make-up

Dalam penggarapan naskah ini saya menggunakan make-up tua bagi aktor-aktor saya

agar sesuai dengan naskah yang saya garap.

D. PEMENTASAN

Tahapan pementasan merupakan penyajian keseluruhan unsur pentas dalam suatu

pertunjukan yang utuh. Masing-masing unsur merupakan kekuatan yang saling terkait dalam

menciptakan harmoni dan unity.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, terdapat beberapa kesimpulan yang bisa saya ditarik yaitu:pasangan

suami istri harus selalu menjaga kemesraan di antara mereka agar hubungan akan terus

terjaga kebahagiaan nya seperti yang telah dilakukan oleh tokoh Sepasang Merpati Tua yang

dapat mempertahankan perkawinannya sampai usia tua dan kesimpulan selanjutnya jika kita

berada di atas ingatlah orang yang berada di bawah mu hal itu dikarenakan roda itu selalu

berputar.

B. Saran

Saran yang bisa diberikan bagi kita semua melalui konsep penyutradaraan ini adalah kita

harus terbiasa untuk melatih diri dalam menganalisis suatu naskah agar kita bisa menggarap

ya dengan baik
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................

A. Latar Belakang.......................................................................................................

B. Rumusan Masalah..................................................................................................

C. Tinjauan Karya...................................................................................................

D. Tujuan Penyutradaraan.........................................................................................

E. Manfaat................................................................................................................

F. Sistematika Penulisan.......................................................................................

BAB II ANALISIS STRUKTUR...................................................................................

A. Biografi Pengarang...............................................................................................

B. Sinopsis...............................................................................................................

C. Penokohan........................................................................................................

D. Setting..................................................................................................................

E. Tema.....................................................................................................................

F. Sudut Pandang....................................................................................................

BAB III ANALISIS TEKSTUR........................................................................................

A.Dialog........................................................................................................................

Mood/Rhythem..........................................................................................................

C.Spektakel...................................,..............................................................................
BAB IV PERANCANGAN PENYUTRADARAAN........................................................

A. Konsep Penyutradaraan...............................................................................

B. Proses Penyutradaraan.............................................................................

C. Rancangan Artistik...................................................................................

D. Pementasan.............................................................................................

BAB V PENUTUP...................................................................................................

A. KESIMPULAN.................................................................................................

B. SARAN.......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/45264837/Analisis-Sepasang-Merpati-Tua.

http://sisiliaumiati.blogspot.com/2015/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-

none.html?m=1

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bakdi_Soemanto

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan

hidayahnya penulis dapat menyelesaikan laporan penyutradaraan Sepasang Merpati

Tua.Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Penyutradaraan Dasar
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari sempurna, baik dari

segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya.

Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun,

khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi

kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.

Padang Panjang, Januari 2019

Penyusun