Anda di halaman 1dari 15

KANKER OVARIUM

Konsep Kemoterapi

Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika yaitu suatu
zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker (Hidayat, 2008) :

1. Prinsip Kerja Obat Kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker Sebagian besar obat
kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker
yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka
semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif, sebaliknya semakin lambat
prolifersainya maka kepekaannya semakin rendah, hal ini disebut Kemoresisten.

Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :

a. Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obst
golongsn ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel
tersebut tidak bisa melakukan replikasi.

b. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang
berakibat menghambat sintesis DNA.

c. Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada


gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.

d. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis


protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker
tersebut.

2. Pola Pemberian Kemoterapi

a. Kemoterapi Induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah sel kanker,
contoh pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor) atau pada
keganasan darah seperti leukemia atau limfoma, disebut juga dengan pengobatan
penyelamatan.

b. Kemoterapi Adjuvan

Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau radiasi,
tujuannya adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa atau
metastase kecil yang ada (micro metastasis).

c. Kemoterapi Primer

Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas, diberikan pada kanker
yang bersifat kemosensitif, biasanya diberikan dahulu sebelum pengobatan yang lain
misalnya bedah atau radiasi.23

d. Kemoterapi Neo-Adjuvan

Diberikan mendahului/sebelum pengobatan /tindakan yang lain seperti pembedahan


atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi lagi. Tujuannya adalah
untuk mengecilkan massa tumor yang besar sehingga operasi atau radiasi akan lebih
berhasil guna.

3. Cara pemberian obat kemoterapi


a. Intra vena (IV)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini, dapat berupa bolus IV pelan-pelan
sekitar 2 menit, dapat pula per drip IV sekitar 30 – 120 menit, atau dengan continous
drip sekitar 24 jam dengan infusion pump upaya lebih akurat tetesannya.
b. Intra tekal (IT)
Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan tumor dalam cairan
otak (liquor cerebrospinalis) antara lain MTX, Ara.C.
c. Radiosensitizer, yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum radiasi, tujuannya
untuk memperkuat efek radiasi, jenis obat untukl kemoterapi ini antara lain
Fluoruoracil, Cisplastin, Taxol, Taxotere, Hydrea.

d. Oral

Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran®, Alkeran®,Myleran®,


Natulan®, Puri-netol®, hydrea®, Tegafur®, Xeloda®, Gleevec®.24

e. Subkutan dan intramuscular

Pemberian sub kutan sudah sangat jarang dilakukan, biasanya adalah L-


Asparaginase, hal ini sering dihindari karena resiko syok anafilaksis. Pemberian per
IM juga sudah jarang dilakukan, biasanya pemberian Bleomycin.

f. Topikal

g. Intra arterial Intracavity

h. Intraperitoneal/Intrapleural Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites


hemoragis yang banyak pada kanker ganas intra-abdomen, antara lain Cisplastin.
Pemberian intrapleural yaitu diberikan kedalam cavum pleuralis untuk memusnahkan
sel-sel kanker dalam cairan pleura atau untuk mengehntikan produksi efusi pleura
hemoragis yang amat banyak , contohnya Bleocin.

4. Tujuan Pemberian Kemoterapi

a. Pengobatan

b. Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.

c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.


d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.25

5. Persiapan dan syarat kemoterapi

a. Persiapan Sebelum pengotan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan


yang meliputi:

1) Darah tepi; Hb, Leuko, hitung jenis, Trombosit.

2) Fungsi hepar; bilirubin, SGOT, SGPT, Alkali phosphat.

3) Fungsi ginjal; Ureum, Creatinin dan Creatinin Clearance Test bila serim creatinin
meningkat.

4) Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum)

5) EKG (terutama pemberian Adriamycin, Epirubicin).

b. Syarat

1) Keadaan umum cukup baik.

2) Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi,

informed concent.

3) Faal ginjal dan hati baik.

4) Diagnosis patologik

5) Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi.

6) Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya.

7) Pemeriksaan laboratorium menunjukan hemoglobin > 10 gram %,

leukosit > 5000 /mm³, trombosit > 150 000/mm³.


6. Efek samping kemoterapi

Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :

a. Efek amping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24 jam
pertama pemberian, misalnya mual dan muntah.

b. Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari
sampai beberapa minggu kemudian, misalnya netripenia dan stomatitis.

c. Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul dalam
beberapa hari sampai beberapa bulan, misalnya neuropati perifer, neuropati.

d. Effek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang timbul dalam beberapa
bulan sampai tahun, misalnya keganasan sekunder.

Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian,
maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda
walaupun dengan dosis dan obat yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai
pengaruh bermakna. Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal,
supresi sumsum tulang, kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah
mual, muntah, diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah
biasanya timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dab berlangsung tidak
melebihi 24 jam.

Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih
(leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum
tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian, pada supresi
sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari
ke-8 sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar
laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar
leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke
empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati
normal pada minggu keenam. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh, trombositopenia
dapat mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada traktus
gastrointestinal.

Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan dampai pada kebotakan. efek
samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung, sterilitas,
fibrosis paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis, gangguan
syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya
kanker baru.

Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit diatasi, sebagian besar
penderita meninggal karena “pump failure”, fibrosis paru umumnya iireversibel, kelainan hati
terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang
dimetabolisir dalam hati, efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif kecil
dan lebih mudah diatasi.

I. Penatalaksanaan

1. Pembedahan

Merupakan pilihan utama, luasnya prosedur pembedahan ditentukan oleh insiden


dan seringnya penyebaran ke sebelah yang lain (bilateral) dan kecenderungan untuk
menginvasi korpus uteri.

2. Biopsi

Dilakukan di beberapa tempat yaitu omentum, kelenjar getah lambung, untuk


mendukung pembedahan.

3. Second look Laparotomi

Untuk memastikan pemasantan secara radioterapi atau kemoterapi lazim dilakukan


laparotomi kedua bahkan sampai ketiga.
4. Kemoterapi

Merupakan salah satu terapi yang sudah diakui untuk penanganan tumor ganas
ovarium. Sejumlah obat sitestatika telah digunakan termasuk agens alkylating
seperti itu (cyclophasphamide, chlorambucil) anti metabolic seperti : Mtx /
metrotrex xate dan 5 fluorouracit / antibiotikal (admisin).

5. Penanganan lanjut

a. Sampai satu tahun setelah penanganan, setiap 2 bulan sekali

b. Sampai 3 bulan setelah penanganan, setiap 4 bulan

c. Sampai 5 tahun penanganan, setiap 6 bulan

d. Seterusnya tiap 1 tahun sekali


KANKER OVARIUM PADA KEHAMILAN

Kanker adalah suatu masalah, terutama jika dialami oleh seorang wanita yang sementara
hamil, apalagi jika kehamilan tersebut sangat diharapkan Walaupun kanker merupakan penyebab
kedua terbanyak penyebab kematian pada usia reproduktif, namun angka kejadian kanker pada
wanita hamil relatif jarang ditemukan. Penanganan diagnostik dan terapeutik terhadap wanita
hamil sangat sulit dan diperlukan suatu kehati-hatian mengingat menyangkut dua jiwa, ibu dan
janin yang dikandungnya.

Kanker ovarium merupakan salah satu kasus keganasan ginekologik terbanyak yang
ditemukan pada wanita hamil setelah kanker serviks dan kanker payudara. Kurang lebih 1
diantara 1000 kehamilan terdeteksi adanya tumor ovarium. Walaupun demikian, kebanyakan
massa adneksa yang terdeteksi selama kehamilan bersifat jinak dan dapat mengecil dengan
sendirinya pada trisemester kedua. Berdasarkan beberapa data yang ada, mungkin hanya berkisar
3-6% massa adneksa yang terdeteksi selama kehamilan menunjukkan tanda-tanda keganasan. Di
Indonesia kanker ovarium sendiri menduduki urutan ke enam terbanyak dari keganasan pada
wanita setelah karsinoma serviks uteri, payudara, kolorektal, kulit dan limfoma. Kanker ovarium
merupakan tumor ganas ovarium yang dapat dikelompokkan atas 6 kelompok yaitu: epithelial,
sel germinal, stromal and sex-cord, sel lipid, sarcoma dan metastasis karsinoma. Sampai saat ini
faktor penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Diduga adanya keterkaitan
beberapa faktor antara lain: faktor lingkungan, diet, reproduksi, endokrin dan faktor herediter.
Prinsip penanganan kanker ovarium pada wanita hamil sama halnya dengan wanita tidak hamil.
Prognosisnya juga tampaknya tidak jauh berbeda pada wanita yang hamil maupun tidak hamil.
Anatomi Ovarium Indung telur pada seorang wanita dewasa sebesar ibu jari tangan, terletak di
kiri dan di kanan, dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium berhubungan dengan
uterus dengan ligamentum ovarii proprium. Pembuluh darah ke ovarium melalui ligamentum
ovarii (ligamentum infundibulo pelvikum). Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum
latum. Sebagian besar ovarium berada intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. Bagian
ovarium kecil berada di dalam ligamentum latum (hilus ovarii). Di situ masuk pembuluh-
pembuluh darah dan saraf ke ovarium. Lipatan yang menghubungkan lapisan belakang
ligamentum latum dengan ovarium dinamakan mesovarium. Bagian ovarium yang berada dalam
kavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik-silindrik, disebut epithelium germinativum. Di bawah
epitel ini terdapat tunika albuginea dan dibawahnya lagi baru ditemukan lapisan tempat folikel-
folikel primordial. Pada wanita diperkirakan terdapat banyak folikel. tiap bulan satu folikel,
kadang-kadang dua folikel, berkembang menjadi folikel de graaf. Folikel-folikel ini merupakan
bagian ovarium yang terpenting dan dapat ditemukan di korteks ovarii dalam letak yang
beraneka ragam, dan dapat pula dalam tingkat perkembangan dari satu sel telur yang dikelilingi
oleh satu lapisan sel-sel saja sampai folikel de graaf yang matang ini terisi liquor follikuli yang
mengandung estrogen dan siap untuk berovulasi.

Menurut strukturnya ovarium terdiri dari :


a. Kulit (korteks) atau zona parenkimatosa, terdiri dari :
1.Tunika albuginea, yaitu epitel berbentuk kubik
2.Jaringan ikat di sela-sela jaringan lain
3.Stroma, folikel primordial dan folikel de graaf
4. Sel-sel warthard
b.Inti (medulla) atau zona vaskulosa, terdiri dari:
1. Stroma berisi pembuluh darah
2.Serabut saraf
3. Beberapa otot polos
Pada waktu dilahirkan bayi mempunyai sekurang-kurangnya 750.000 oogonium. Jumlah
ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel-folikel. Pada umur 6-15 tahun
ditemukan 439.000, pada 16-25 tahun 159.000, antara umur 26-35 tahun menurun sampai
59.000, dan antara 34-45 tahun hanya 34.000. Pada masa menopause semua folikel sudah
menghilang.

Fisiologi Ovarium
Ovarium memiliki dua fungsi utama yaitu :
Fungsi proliferatif (generatif) yaitu sebagai sumber ovum selama masa reproduksi.
Di ovarium terjadi pembentukan folikel primer, folikel de graaf, peristiwa ovulasi dan
pembentukan korpus luteum
Fungi sekretorik (vegetatif), yaitu tempat pembentukan dan pengeluaran hormon
steroid (esterogen, progesteron dan androgen).
Terkait dengan fungsinya, ovarium memiliki siklus yang turut serta dalam
pengaturan haid. Siklus haid terjadi sebagai akibat pertumbuhan dan pengelupasan
apisan endometrium uterus, sedangkan perubahan endometrium dikontrol oleh siklus
ovarium. Rata-rata siklus 28 hari dan terdiri atas :
1. Fase folikular
Hari ke 1-8
Pada awal siklus, kadar FSH dan LH relatif tinggi dan memacu
perkembangan 0-20 folikel dengan satu folikel dominan. Folikel dominan tersebut
tampak pada mid-folikuler dan sisa folikel mengalami atresia. Selama dan segera
setelah haid kadar estrogen relatif rendah dan mulai meningkat karena terjadi
perkembangan folikel.
Hari ke 9-14
Sesuai peningkatan ukuran folikel, terjadi transformasi folikel primer menjadi
folikel de graaf, dimana dikelilingi oleh 2-3 lapis sel granulose yang disebut kumulus
ooforus. Sehubungan dengan pematangan folikel, terjadi kenaikan yang progresif
dalam produksi esterogen (terutama estradiol) oleh sel granulose folikel. Mencapai
puncak 18 jam sebelum ovulasi. Karena kadar esterogen meningkat, pelepasan
gonadotropin FSH dan LH ditekan untuk mencegah hiperstimulasi ovarium dan
pematangan banyak folikel.
2. Fase ovulasi
Hari ke-14
Ovulasi adalah pembesaran folikel secara cepat yang diikuti oleh protusi dari
permukaan korteks ovarium dan pecahnya folikel dengan ekskrusinya oosit yang
ditempeli oleh cumulus ooforus. Perubahan hormon yang terjadi yaitu :
estrogen meningkatkan sekresi LH (melalui hipotalamus) mengakibatkan
meningkatnya produksi androgen dan estrogen (umpan balik positif), segera sebelum
ovulasi terjadi penurunan kadar estradiol yang cepat dan peningkatan produksi
progesteron. Ovulasi terjadi dalam 8 jam dan mid-cycle surge LH
3. Fase luteal
Hari ke 15-28
Sisa folikel tertahan dalam ovarium dan dipenetrasi oleh kapilar dan fibroblast
dari teka. Sel granulose mengalami luteinisasi menjadi korpus luteum. Korpus
luteum merupakan sumber utama hormon steroid seks, estrogen dan progesterone
disekrei oleh ovarium pada fase pasca ovulasi. Korpus luteum meningkatkan
produksi progesteron dan estradiol. Kedua hormon tersebut diproduksi dari
prekursor yang sama. Selama fase luteal kadar gonadotropin mencapai nadir dan
tetap rendah sampai terjadi regresi korpus luteum yang terjadi pada hari ke 26-28.
Jika terjadi konsepsi dan implantasi, korpus luteum tidak mengalami regresi karena
dipertahankan oleh gonadotropin yang dihasilkan oleh trofoblas. Jika konsepsi dan
implantasi tidak terjadi korpus luteum akan mengalami regresi dan terjadilah haid.
Setelah kadar hormon steroid turun akan diikuti peningkatan gonadotropin untuk
inisiasi siklus berikutnya. Terkait dengan fungsi sekretorik, ovarium membentuk
hormon estrogen, progesteron dan sedikit andeogen. Estrogen secara umum
berfungsi untuk peningkatan sintesis protein. Terhadap endometrium, esterogen
berfungsi memicu proliferasi dan memperkuat kontraksi otot uterus. Terhadap
serviks, esterogen meningkatkan sekresi getah serviks dan mengubah konsentrasinya
pada saat ovulasi menjadi encer dan bening sehingga memudahkan penyesuaian dan
memperlancar perjalanan spermatozoa. Terhadap vagina, estrogen menyebabkan
perubahan selaput vagina, meningkatkan produksi getah dan meningkatkan kadar
glikogen, sehingga terjadi peningkatan produksi asam laktat oleh bakteri Doderlein.
Nilai pH yang rendah memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi. Terhadap
ovarium sendiri, estrogen berfungsi memicu sintesis reseptor FSH dan LH di sel-sel
teka, mengatur kecepatan pengeluaran ovum dan mempersiapkan spermatozoa dalam
genitalia wanita agar dapat menembus selubung ovum (proses kapisitasi).
Progesteron secara umum berfungsi mempersiapkan tubuh untuk menerima
kehamilan, sehingga merupakan syarat mutlak untuk konsepsi dan implantasi. Semua
fungsi progesterone terjadi karena ada pengaruh estradiol sebelumnya, karena
estradiol mensintesis reseptor untuk progesteron. Terhadap endometrium,
progesteron menyebabkan perubahan sekretorik yang mencapai puncaknya pada hari
ke-22 siklus haid normal. Bilamana progesteron terlalu lama memperngaruhi
endometrium, maka akan terjadi degenerasi, sehingga tidak cocok lagi untuk
menerima nidasi. Terhadap serviks pengaruh progesteron, jumlah getah serviks
berkurang dan membentuk jala tebal sehingga merupakan sawar yang tidak dapat
dilintasi oleh spermatozoa. Bersamaan dengan itu pula, porsio dan serviks menjadi
sangat sempit, getahnya menjadi kental dan daya membenang menghilang. Terhadap
miometrium progesteron menurunkan tonus, sehingga kontraksi berjalan lambat.
Dalam kehamilan, fungsi ini sangat penting karena membuat uterus menjadi tenang.
Progesterone juga menyebabkan peningkatan suhu badan basal segera setelah
ovulasi. Hal tersebut terjadi melalui peningkatan sekresi norepinefrin yang timbul
sekunder akibat meningkatnya kadar progesteron plasma terhadap pengaruh
termogenik pusat pengaturan panas di hipotalamus.

Insiden
Pengunaan ultrasound (USG) dalam pemeriksaan kehamilan telah banyak membantu
dalam mendeteksi adanya massa adneksa pada wanita-wanita hamil, namun
kebanyakan massa adneksa yang terdeteksi selama kehamilan bersifat jinak. Estimasi
insiden tumor ovarium itu sendiri kurang lebih 1 diantara 1000 kehamilan dan hanya
sekitar 3%-6% dari massa adneksa tersebut yang bersifat ganas. Insiden kanker
ovarium dalam kehamilan ditemukan kurang lebih 1 : 15.000 hingga 1: 32.000
kehamilan yang ada. Ueda dan Ueki melaporkan dari 106 kasus massa ovarium yang
telah direseksi dari wanita hamil, 29% disebabkan oleh pembesaran fisiologis,
66%merupakan tumor jinak dan hanya 5% yang merupakan kanker ovarium.
Menurut Burtness Barbara, insiden tumor jinak yang ditemukan 1 diantara 112
kasus,sedangkan tumor ganas ditemukan 1 diantara 1684 kasus. Penelitian yang
dilakukan oleh Biomed Central, menemukan 603 kasuskanker ovarium selama
periode tahun 1991 hingga 2002, 23 kasus diantara dalam 73,9% ditemukan pada
stadium awal (stage 1), masa kehamilan. Rata-rata umur pasien tersebut dari 20-40
tahun. Gambaran histopatologi terbanyak yang ditemukan pada kelompok ini yaitu
germ cell tumorsebanyak 11 dari 23 kasus. Kebanyakan kasus kanker ovarium dalam
kehamilan didiagnosis pada stadium awal, hal ini sesuai dengan penelitian oleh BMC
yaitu 73,9% ditemukan pada stadium awal (stage 1), dan hanya 17,3% yang
ditemukan pada stadium lanjut yaitu stadium 3 dan 4.
PENGELOLAAN KANKER OVARIUM PADA KEHAMILAN

Pada dasarnya dalam kehamilan tumor ovarium yang lebih besar dari pada telur
angsa harus di keluarkan. Hal itu di dasarkan atas 3 pertimbangan yaitu:

1. Kemungkinan keganasan

2. Kemungkinan torsi

3. Kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetik yg gawat

Dalam triwulan 1 sebaiknya pengangkatan tumor di tunda sampai kehamilan


mencapai 16 mgg. Saat operasi yang paling baik ialah dalam kehamilan antara 16 dan
20 mgg. Operasi dalam kehamilan muda dapat di susul oleh abortus apabila korpus
luteum graviditatis yang menghasilkan progesteron ikut terangkat. Dalam hal
demikian perlu di berikan terapi penggantian dengaan suntikan progestin sampai
kehamilan lewat 16 mgg. Apabila operasi dilakukan setelah kehamilan mencapai 16
mgg , maka hal tersebut diatas tidak usah di khawatirkan karena placenta sudah
terbentuk lengkap, fungsi korpus luteum di ambil alih oleh placenta, dan produksi
progesteron berlangsung terus walaupun korpus luteum ikut terangkat. Sebaiknya,
operasi dalam kehamilan yg lebih dari 20 mgg tekniknya lebih sulit, sehingga
rangsangan mekanis pada uterus waktu operasi sukar di hindarkan dengan akibat
partus prematurus.

Apabila tumor baru diketahui dalam kehamilan tua dan tidak menyebabkan
penyulit obstetik atau gejala-gejala akut, atau tidak mencurigakan akan mengganas,
maka kehamilan dapat di biarkan samai berlangsung partus spontan. Dan operasi baru
dilakukan dalam masa nifas. Akan tetapi apabila tumor terkurung dalam panggul,
seksio cesarea merupakan tindakan pengakhiran kehamilan atau persalinan yang
paling aman; sekaligus tumor di angkat. Dan persalinan dapat dicoba secara hati – hati
reposisi tumor yang menghalang – halangi turunnya kepala, asal disadari bahwa tumor
kistik dapat dipecah. Apabila reposisi sudah berhasil, anak dibiarkan lahir spontan dan
tumor diangkat dalam masa nifas.Lain halnya dengan tumor yang dianggap ganas atau
yang disertai gejala – gejala akut. Dalam hal ini operasi harus segera dilakukan tanpa
menghiraukan umur kehamilan