Anda di halaman 1dari 32

LCD Text Generator at TextSpace.

net

Selasa, 22 Februari 2011


makalah korupsi

Peran Serta Masyarakat Dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia *)

Sebagai bukti tekad dan maksud yang sangat kuat dari pembentuk undang-undang dalam
usaha memberantas korupsi ialah telah dimasukannya ketentuan tentang peran serta
masyarakat dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia. Peran serta ini dilatarbelakangi
oleh pandangan bahwa (1) dengan diberikannya hak dan kewajiban masyarakat dalam usaha
penanggulangan korupsi dipandang sebagai hal positif dalam upaya pencegahan dan
pengungkapan kasus-kasus korupsi yang terjadi dan (2) persoalan penanggulangan korupsi
dipandang bukan semata-mata menjadi urusan pemerintah atau penegak hukum, melainkan
merupakan persoalan semua rakyat dan urusan bangsa. Setiap orang harus berparsitipasi dan
berperan aktif dalam usaha mennaggulangi kejahatan yang menggerogoti negara ini.[1]
Pandangan pembentuk undang-undang itu tertuanhg dalam rumusan Pasal 41 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menyatakan bahwa; masyarakat mempunyai
hak dan tanggung jawabmdalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
korupsi.

Bentuk peran serta tersebut, dalam Pasal 41 ayat (2) telah ditentukan wujudnya, yaitu sebagai
berikut;
1. hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak
pidana korupsi;
2. hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh dan memberikan informasi
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani
perkara tindak pidana korupsi;
3. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum
yang menangani perkara tindak pidana korupsi;
4. hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada
penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari;
5. hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal :
1) melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c;
2) diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan di sidang pengadilan sebagai
saksi pelapor, saksi, atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku;
Adapun yang dimaksud dengan hak memberikan informasi ialah hak untuk menyampaikan
segala macam informasi mengenai dugaan telah terjadinya tindak pidana korupsi yang salah
satu bentuknya ialah “pelaporan” yang disampaikan kepada penegak hukum atau komisi
pemberantasan tindak pidana korupsi. Penegak hukum yang dimaksud disini ialah kepolisian
dan kejaksaan. Pelapor yang dimaksud dalam pengertian Undang-undang ini tidak sama
dengan pengertian pelapor yang dimaksud oleh Pasal 1 butir 24 KUHAP. Pelapor dalam hal
ini khusus pada adanya dugaan terjadinya tindak pidana korupsi, sedangkan menurut
KUHAP, pelapor adalah orang yang memberikan informasi untuk semua jenis tindak pidana.
Adapun mengenai tata cara peslaksanaan peran serta masyarakat dalam bentuk pelaporan
dalam mencegah dan pemberantasan tindak pidana korupsi diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000. Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa “setiap orang,
organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat berhak mencari, memperoleh, dan
memberikan informasi adanya dugaa telah terjadi tindak pidana korupsi serta menyampaikan
saran serta pendapat kepada penegak hukum dan atau komisi mengenai tindak pidana
korupsi”.
Selanjutnya Pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa”setiap orang, organisasi masyarakat, atau
lembaga swadaya masyarakat yang dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) berhak mendapatkan
perlindungan hukum, baik mengenai status maupun rasa aman”. Dengan demikian dapat
diketahui bahwa warga masyarakat yang menyampaiakn informasi berhak mandapatkan
perlindungan hukum dari nesgara malalui lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk
hal itu. Adapun bentuk perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada pelapor tindak
pidana korupsi yang dimaksud, dapat berupa (1) perlindungan hukum mengenai status hukum
dan (2) perlindungan hukum mengenai rasa aman.
Mengenai status hukum diterangkan dalam penjelasan Pasal 5 ayat (1) yang menyatakan
bahwa “Yang dimaksud dengan "status hukum" adalah status seseorang pada waktu
menyampaikan suatu informasi, saran, atau pendapat kepada penegak hukum atau Komisi
dijamin tetap, misalnya status sebagai pelapor tidak diubah menjadi sebagai tersangka”.
Pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari strategi pemberantasan tindak pidana korupsi
merupakan langkah yang jitu memiliki tingkat keberhasilan di negara-negara lain.
Masyarakat dan aparat penegak hukum merupakan ujung tombak yang keberadaannya saling
melengkapi satu sama lain. Masyarakat yang berdaya atau berperan dapat mengontrol,
bahkan jika proses penegakan hukum lemah dam tidak dapat menghadapi kejahatan ini
(korupsi), maka masyarakat dapat tampil ke depan untuk sementara mengambil alih tugas-
tugas aparat penegak hukum, syaratnya masyarakat harus diberi ruang dan kesempatan luas
untuk berpartisipasi melalui sistem dan tatanan yang demokratis dan transparan.
Semua pilar-pilar yang terkait dengan upaya dan proses penegakan hukum harus menopang
dan memperkuat sehingga korupsi dapat ditekan ketitik yang dapat dikendalikan. Dengan
demikian proses penegakan hukum merupakan rangkaian panjang dan saling terkait antar
aspek yang saling mempengaruhi dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.
Pemerintah jangan sampai kehilangan dukungan dari masyarakat akibat ketidakseriusannya
memberantas tindak pidana korupsi. Dengan alasan apapun pemerintah tidak boleh mengulur
waktu untuk memberantas tindak pidana korupsi kelas kakap. Apabila pemerintah takut
berhadapan dengan koruptor kelas kakap dan hanya mengadili atau memproses koruptor
kelas teri, maka resikonya adalah kehilangan kepercayaan masyarakat dan menumbuhkan
rasa ketidakpercayaan kepada pemerintah bahkan masyarakat akan berpikir bahwa
pemerintah melindungi para koruptor kelas kakap.
Untuk melakukan sesuatu kita harus mengetahui terlebih dahulu apa sebab dan jenisnya.
Begitu juga untuk memberantas tindak pidana korupsi, kita harus memahami dan mengerti
apa saja jenis-jenis korupsi dan penyebabnya. Korupsi dapat berakibat sangat besar baik
secara ekonomi, politik, maupun sosial budaya dan hukum. Masyarakat banyak tidak
menyadari bahwa perbuatan korupsi berakibat sangat buruk bagi kehidupan berbangsa dan
bernegara, tetapi masyarakat jarang dapat langsung merasakannya. Masyarakat hanya
berasumsi yang dirugikan oleh perbuatan korupsi adalah keuangan dan perekonomian negara,
pada hal secara tidak langsung yang dirugikan adalah masyarakat itu sendiri.
Di bawah ini ada beberapa contoh dampak dari akibat yang ditimbulkan dari permasalahan
korupsi, yaitu ditinjau dari dampak ekonomi, dampak politik, dampak pelayanan publik,
dampak hukum dan dampak sosial budaya.
1. Dampak Ekonomi
Dampak dari sektor ekonomi dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu :
a. Bantuan pendanaan untuk petani, usaha kecil, maupun koperasi tidak pernah sampai
ketangan masyarakat, yang artinya korupsi menghambat pembangunan ekonomi rakyat;
b. Harga barang menjadi mahal;
c. Sebagian besar uang hanya berputar pada segelintir orang elit ekonomi dan elit politik saja;
d. Rendahnya upah buruh;
e. Produk petani Indonesia tidak dapat bersaing;
f. Korupsi membuat utang bangsa Indonesia menjadi banyak; dan
g. Korupsi mengurangi minat para investor untuk menginvestasikan uangnya atau modalnya
di Indonesia.

2. Dampak Politik
Politik yang seharusnya sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahtaraan rakyat dan sebagai
sarana untuk memberantas tindak pidana korupsi, malah dibuat sebagai sarana untuk merebut
dan mempertahankan kekuasaan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab tanpa
memikirkan masyarakat kecil. Dampak dari perbuatan korupsi di dalam sektor ini, yaitu :
a. Korupsi menjadi sumber utama untuk membiayai aktifitas politik dan mempertahankan
kekuasaan;
b. Hampir sebagian besar posisi elit politik dipegang oleh orang-orang yang tidak
bertanggungjawab, yang disebabkan karena pemilihan untuk memilih para elit politik
tersebut tidak demokratis;
c. Korupsi yang sistemik membuat masyarakat tidak lagi mempercayai penyelenggara negara
baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif;
d. Sistem politik yang dipegang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengancam
keabsahan pemerintah dan pada akhirnya berdampak pada produk hukum yang dibuat yang
dianggap ilegal oleh masyarakat;
e. Lembaga negara yang dibentuk hasil politik akan tidak berjalan sebagaimana mestinya jika
dipegang oleh orang-orang yang korup dan tidak bertanggungjawab; dan
f. Korupsi dapat menghancurkan integritas bangsa.

3. Dampak Pelayanan Publik


Akibat perbuatan para pejabat yang tidak bertanggungjawab dapat berakibat pada pelayanan
publik yang kurang memihak pada masyarakat kecil. Dalam hal ini dampak dari perbuatan
korupsi pada pelayanan publik, yaitu :
a. Pelayanan publik buruk, karena birokrasi tidak berorientasi pada pelayanan masyarakat
kecil;
b. Semangat profesionalisme pegawai yang bersih dan jujur makin luntur; dan
c. Berubahnya fungsi-fungsi pelayanan publik.

4. Dampak Hukum
Hukum sebagai pilar untuk menekan laju pertumbuhan tindak pidana korupsi, malah
dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mendapatkan uang yang banyak atau dengan kata
lain hukum dijadikan sebagai salah satu sarang dari perbuatan korupsi. Dampak-dampak dari
perbuatan korupsi dibidang hukum, yaitu :
a. Banyak para aparat penegak hukum yang tidak bersih dikarenakan pada awalnya meraka
melakukan pelanggaran hukum;
b. Hukum dijual belikan oleh aparat penegak hukum itu sendiri, sehingga putusan yang
dihasilkan menjadi tidak adil; dan
c. Menjadikan rakyat tidak percaya lagi pada mekanisme hukum yang dikarenakan mental
para aparat penegak hukum sengat rendah.

5. Dampak Sosial Budaya


Perubahan lain dari perbuatan korupsi adalah perubahan paradikma atau cara pandang
masyarakat itu sendiri, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional, yang
dulunya Bangsa Indonesia adalah bangsa yang jujur dan ternyata sekarang semua itu berubah
menjadi salah satu bangsa yang terkorup di dunia. Dampak-dampak dari korupsi dibidang ini
adalah :
a. Korupsi yang bersifat sistematis menyebabkan masyarakat tidak lagi menghiraukan aspek-
aspek profesionalisme dan kejujuran;
b. Runtuhnya bangunan moral bangsa; dan
c. Perbuatan korupsi yang berkepanjangan akan menghilangkan harapan masa depan yang
lebih baik.m Kemiskinan sebagai produk korupsi yang menimbulkan depresi masyarakat
yang berkepanjangan.
Peran serta masyarakat jelas sangat dibutuhkan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan
korupsi. Masyarakat yang memiliki informasi dan sadar mengenai hak-haknya dan berusaha
menegakkan hukum untuk memperjuangkan hak-haknya tersebut. Sedangkan masyarakat
yang apatis dan bersikap menyerah pada penyalahgunaan wewenang oleh pejabat pemerintah
merupakan lahan yang subur bagi koruptor untuk menjalankan atau melakukan perbuatan
korupsi.
Peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi
diwujudkan dalam bentuk antara lain mencari, memperoleh, memberikan data atau informasi
tentang tindak pidana korupsi dan hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung
jawab terhadap pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.
Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang memberikan hak kepada
masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif mengenai
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, maka dalam Peraturan Pemerintah ini
diatur mengenai hak dan tanggung jawab masyarakat dalam upaya pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, kebebasan menggunakan hak tersebut
haruslah disertai dengan tanggungjawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang
sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta
hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Masyarakat berhak menyampaikan keluhan, saran, atau kritik tentang upaya pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana korupsi yang dianggap tidak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengalaman dalam kehidupan
sehari-hari menunjukkan bahwa keluhan, saran, atau kritik masyarakat
tersebut sering tidak ditanggapi dengan baik dan benar oleh pejabat yang berwenang. Dengan
demikian, dalam rangka mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan
dan pemberantasan tindak pidana korupsi, pejabat yang berwenang atau Komisi
pemberantasan tindak pidana korupsi diwajibkan untuk memberikan jawaban atau keterangan
sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Kewajiban tersebut diimbangi pula
dengan kesempatan pejabat yang berwenang atau Komisi pemberantasan tindak pidana
korupsi menggunakan hak jawab berupa bantahan terhadap informasi yang tidak benar dari
masyarakat.
BAB I
&nb sp; &nb sp; Pendahuluan

Sering kita dengar istilah “korupsi”, namun apakah kita benar - benar paham akan pengertian
yang sebenarnya, begitu juga apakah kita tahu alasan apa yang membuat orang – orang
terlibat korupsi, serta apa dampak yang ditimbulkan oleh korupsi itu………?? Kita perlu
tahu, kita perlu paham, dan kita perlu mengerti, karena terutama di negara kita sendiri.
Indonesia, sering sekali kita dengar di media – media komunikasi yang memberitakan tentang
tindakan korupsi. Kita mengenal bahwa dampak dari korupsi itu sangat merugikan.
Definisi KORUPSI

Asal kata Korupsi

Korupsi berawal dari bahasa latin ”corruption” atau “corruptus”. Corruptio berasal dari kata
corrumpere, suatu kata latin yang lebih tua. Dari bahasa latin itulah turun ke banyak bahasa
Eropa seperti Inggris yaitu corruption, corrupt; Prancis yaitu corruption; dan Belanda yaitu
corruptie, korruptie. Dari Bahasa Belanda inilah kata itu turun ke Bahasa Indonesia yaitu
korupsi.
(Andi Hamzah, 2005, Pemberantasan Korupsi).

Arti kata Korupsi

1. Korup : busuk; palsu; suap


(Kamus Bahasa Indonesia, 1991)
2. buruk; rusak; suka menerima uang sogok; menyelewengkan uang/barang milik perusahaan
atau negara; menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi
(Kamus Hukum, 2002)
3. Korupsi : kebejatan; ketidakjujuran; tidak bermoral; penyimpangan dari kesucian
(The Lexicon Webster Dictionary, 1978)
4. penyuapan; pemalsuan
(Kamus Bahasa Indonesia, 1991)
5. penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan sebagai tempat seseorang
bekerja untuk keuntungan pribadi atau orang lain
(Kamus Hukum, 2002)
Diambil dari buku KPK ‘Mengenali dan Memberantas Korupsi’

Alasan mengapa orang melakukan tindakan KORUPSI

Baru-baru ini media massa mengekspose kembali berita korupsi yang tentang tertangkapnya
seorang Markus ( Makelar Kasus ) di Departemen Perpajakan, Yakni, seorang PNS dengan
hanya Gol. III/A, bisa menggelapkan dana Negara dengan jumlah Milyaran. Kasus terakhir
ini adalah sebuah noktah dari rentetan kejadian yang beberapa kasus korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN) yang dapat diungkap oleh lembaga penegak hukum. Dari beberapa kasus
tersebut ada hal yang dapat kita cermati terutama kasus yang terkait dengan beberapa anggota
wakil rakyat. Seperti kita ketahui bahwa para anggota wakil rakyat tersebut sering dikritisi
oleh elemen masyarakat karena fasilitas negara yang disediakan untuk mereka baik berupa
gaji, tunjangan dan segala kenikmatan lainnya sudah tergolong bagus dan mengundang
perasaan iri dari masyarakat pada umumnya. Dari kasus terakhir ini mungkin dapat
mematahkan persepsi masyarakat pada umumnya bahwa penyebab utama perilaku korupsi
adalah karena penghasilan yang rendah dan tidak memadai. Namun ternyata dengan
penghasilan dan fasilitas yang baguspun masih mendorong orang untuk melakukan KKN.
Jadi hal apa yang melandasi orang melakukan tindakan korupsi ?
Pada dasarnya motif /alasan yang mendorong seseorang melakukan tindakan korupsi ada dua
penyebab yaitu dorongan kebutuhan (need driven) dan dorongan kerakusan (greed driven).
Memang sama2 korupsi namun ternyata latar belakang orang melakukan perilaku tercela itu
memang berlainan. Sebenarnya perilaku korupsi ini telah mengakar di elemen masyarakat
luas, tidak hanya terjadi di institusi baik pemerintah ataupun swasta baik dilakukan oleh
aparatur pemerintah ataupun pegawai swasta.
Praktek korupsi berkembang pada situasi dimana job security tinggi dengan tingkat
profesionalitas yang rendah sehingga para pegawai tersebut sering menyalah gunakan
kewenangannya untuk memenuhi keinginannya daripada pelaksanaan tugas yang seharusnya
dia laksanakan. Namun kalau ditelaah sebenarnya penyebab timbulnya perilaku korup
disebabkan adanya beberapa faktor, yaitu :
1. Perilaku yang bersumber budaya masyarakat.
2. Jenjang diskresi yang dimiliki.
3. Tiadanya transparansi/keterbukaan.
4. Ketiadaan akuntabilitas.
5. Ketiadaan lembaga pengawas.

BAB II
Dampak Korupsi

Dampak Korupsi

Sesungguhnya korupsi memiliki beberapa dampak yang sangat membahayakan kondisi


perekonomian sebuah bangsa. Dampak-dampak tersebut antara lain:

1. Menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.


- Menurut Chetwynd et al (2003), korupsi akan menghambat pertumbuhan investasi. Baik
investasi domestik maupun asing. Mereka mencontohkan fakta business failure di Bulgaria
yang mencapai angka 25 persen.
Maksudnya, 1 dari 4 perusahaan di negara tersebut mengalami kegagalan dalam melakukan
ekspansi bisnis dan investasi setiap tahunnya akibat korupsi penguasa. Selanjutnya, terungkap
pula dalam catatan Bank Dunia bahwa tidak kurang dari 5 persen GDP dunia setiap tahunnya
hilang akibat korupsi. Sedangkan Uni Afrika menyatakan bahwa benua tersebut kehilangan
25 persen GDP-nya setiap tahun juga akibat korupsi.
- Menurut Mauro (2002),
Setelah melakukan studi terhadap 106 negara, ia menyimpulkan bahwa kenaikan 2 poin pada
Indeks Persepsi Korupsi (IPK, skala 0-10) akan mendorong peningkatan investasi lebih dari 4
persen. Sedangkan Podobnik et al (2008) menyimpulkan bahwa pada setiap kenaikan 1 poin
IPK, GDP per kapita akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,7 persen setelah melakukan
kajian empirik terhadap perekonomian dunia tahun 1999-2004.
- Menurut Gupta et al (1998),
Menyatakan fakta bahwa penurunan skor IPK sebesar 0,78 akan mengurangi pertumbuhan
ekonomi yang dinikmati kelompok miskin sebesar 7,8 persen. Ini menunjukkan bahwa
korupsi memiliki dampak yang sangat signifikan dalam menghambat investasi dan
pertumbuhan ekonomi.

2. Korupsi melemahkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dalam menjalankan program


pembangunan.
Pada institusi pemerintahan yang memiliki angka korupsi rendah, layanan publik cenderung
lebih baik dan lebih murah. Terkait dengan hal tersebut, Gupta, Davoodi, dan Tiongson
(2000) menyimpulkan bahwa tingginya angka korupsi ternyata akan memperburuk layanan
kesehatan dan pendidikan. Konsekuensinya, angka putus sekolah dan kematian bayi
mengalami peningkatan.
3. Sebagai akibat dampak pertama dan kedua, maka korupsi akan menghambat upaya
pengentasan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.
Terkait dengan hal ini, riset Gupta et al (1998) menunjukkan bahwa peningkatan IPK sebesar
2,52 poin akan meningkatkan koefisien Gini sebesar 5,4 poin. Artinya, kesenjangan antara
kelompok kaya dan kelompok miskin akan semakin melebar. Hal ini disebabkan oleh
semakin bertambahnya aliran dana dari masyarakat umum kepada para elit, atau dari
kelompok miskin kepada kelompok kaya akibat korupsi.
4. Korupsi berdampak pada penurunan kualitas moral dan akhlak.
Baik individual maupun masyarakat secara keseluruhan. Selain meningkatkan ketamakan dan
kerakusan terhadap penguasaan aset dan kekayaan korupsi juga akan menyebabkan hilangnya
sensitivitas dan kepedulian terhadap sesama.
Rasa saling percaya yang merupakan salah satu modal sosial yang utama akan hilang.
Akibatnya, muncul fenomena distrust society, yaitu masyarakat yang kehilangan rasa
percaya, baik antar sesama individu, maupun terhadap institusi negara. Perasaan aman akan
berganti dengan perasaan tidak aman (insecurity feeling). Inilah yang dalam bahasa Al-Quran
dikatakan sebagai libaasul khauf (pakaian ketakutan).
Terkait dengan hal tersebut, Uslaner ( 2002 ) menemukan fakta bahwa negara dengan tingkat
korupsi yang tinggi memiliki tingkat ketidakpercayaan dan kriminalitas yang tinggi pula. Ada
korelasi yang kuat di antara ketiganya.

BAB III
Penutup

Kesimpulan

Sudah sangat jelas diketahui bahwa dimanapun berada istilah korupsi sudah sangat dikenal di
Negara – negara manapun, dan kita tahu bahwa dampak tindakan korupsi sangat
menyengsarakan, khususnya bagi kita sendiri, Bangsa Indonesia. Sebagai putra – putri
Bangsa Indonesia apakah kita tidak sedih, melihat saudara kita yang taraf ekonomi kebawah (
miskin) yang harus tinggal di lingkungan yang tidak selayaknya, dan bahkan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya sulit, begitu sangat terlihat dampak korupsi dari kesenjangan
Ekonomi. Jelaslah, korupsi memeberi dampak yang buruk bagi kita semua.
Sebagai generasi penerus Bangsa Indonesia, niatkan dalam hati untuk merubah bangsa kita
ini menjadi bangsa yang jauh lebih baik, katakan : “TIDAK PADA KORUPSI!!”

Dampak Korupsi Bagi Rakyat Miskin


Juli 13, 2008 oleh pakarpangan
Korupsi, tentu saja berdampak sangat luas, terutama bagi kehidupan masyarakat miskin di
desa dan kota. Awal mulanya, korupsi menyebabkan Anggaran Pembangunan dan Belanja
Nasional kurang jumlahnya. Untuk mencukupkan anggaran pembangunan, pemerintah pusat
menaikkan pendapatan negara, salah satunya contoh dengan menaikkan harga BBM.
Pemerintah sama sekali tidak mempertimbangkan akibat dari adanya kenaikan BBM tersebut
; harga-harga kebutuhan pokok seperti beras semakin tinggi ; biaya pendidikan semakin
mahal, dan pengangguran bertambah.
Tanpa disadari, masyarakat miskin telah menyetor 2 kali kepada para koruptor. Pertama,
masyarakat miskin membayar kewajibannya kepada negara lewat pajak dan retribusi,
misalnya pajak tanah dan retribusi puskesmas. Namun oleh negara hak mereka tidak
diperhatikan, karena “duitnya rakyat miskin” tersebut telah dikuras untuk kepentingan
pejabat. Kedua, upaya menaikkan pendapatan negara melalui kenaikan BBM, masyarakat
miskin kembali “menyetor” negara untuk kepentingan para koruptor, meskipun dengan dalih
untuk subsidi rakyat miskin. Padahal seharusnya negara meminta kepada koruptor untuk
mengembalikan uang rakyat yang mereka korupsi, bukan sebaliknya, malah menambah
beban rakyat miskin.
Realitas kemiskinan yang menimpa perempuan, selama ini tidak pernah menjadi perhatian
para pejabat kita yang korup. Kesejahteraan perempuan masih diabaikan, padahal negara
menjamin kesamaan hak bagi seluruh warga negara, baik laki-laki maupun perempuan (Pasal
27 UUD 1945). Akibatnya, kesejahteraan perempuan tidak pernah meningkat, mereka tidak
bisa mendapatkan layanan kesehatan, seperti periksa hamil gratis dan mendapatkan layanan
KB gratis, mendapatkan beasiswa. Mereka semakin terpuruk, sementara para pejabat semakin
kaya. Sebagai korban, perempuan tidak mampu berbuat apa-apa. Perempuan, tidak lagi
menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan, sebagai layanan dasar yang harus dipenuhi
negara. Di bidang kesehatan, perempuan harus mengeluarkan biaya mahal untuk berobat,
karena negara tidak menyediakan dana untuk layanan kesehatan yang murah dan berkwalitas.
Fenomena korupsi terjadi mulai dari pejabat di Pusat (Jakarta), sampai pamong di tingkat
desa atau dusun. Pejabat tidak lagi memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin yang
terus menerus menderita. Pejabat tanpa rasa salah dan malu terus menerus menyakiti hati
rakyatnya. Bahkan disaat Presiden SBY memerangi setan korupsi ini, DPR dengan entengnya
justeru meminta Dana Serap Aspirasi. Ini menjadi bukti dan tanda bahwa korupsi adalah
budaya, bukan aib yang memalukan. Pemerintah yang seharusnya menjadi mandat rakyat
untuk memajukan pembangunan dan mensejahterakan rakyatnya justeru seperti “Antara Ada
Dan Tiada “. Masyarakat bingung dan saya sendiri sempat merinding bulu kuduk ketika
hampir setiap pagi di berita-berita media eletronik maupun media cetak tertulis dan tersiar
banyak pejabat yang ditahan karena diduga sebagai pelaku korupsi. Bahkan di kota kita
tercinta ini, masih segar dalam ingatan kita yaitu korupsi di tubuh Dinas Kesehatan Promal
melalui pengadaan Alkes.

Power tends to c

orrupt, absolute power corrupts absolutely (Lord Acton). Kata-kata bijak merupakan
pernyataan yang sangat populer ketika orang membicarakan tentang kekuasaan dan
hubungannya dengan korupsi. Korupsi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak berkaitan
dengan ekonomi-politik dan kekuasaan tetapi seringkali orang lupa bahwa ada dimensi
manusia sebagai pelaku korupsi.
Samuel Huntington dalam buku Political Order in Changing Societies, mendefinisikan
korupsi sebagai “behavior of public officials which deviates from accepted norms in order to
serve private ends (1968: 59). Korupsi merupakan perilaku menyimpang dari para pegawai
publik (public officials) dari norma-norma yang diterima dan dianut masyarakat dengan
tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Berkaitan dengan definisi tersebut, jelas terlihat bahwa korupsi tak hanya menyangkut aspek
hukum, ekonomi, dan politik, tapi juga menyangkut perilaku manusia yang menjadi bahasan
utama ilmu psikologi.
Sayangnya, ranah psikologi, khususnya di Indonesia, masih berorientasi pada sektor industri.
Secara umum bidang yang diminati psikologi berkutat pada sumber daya manusia untuk
kepentingan ekonomi dan psikologi konsumen. Dimensi sosial, khususnya psikologi dan
perilaku korupsi hampir tak pernah dibicarakan, apalagi menjadi kajian akademis. Padahal
problem korupsi di Indonesia menjadi persoalan besar, dan sering disebut sebagai
extraordinary crime (kejahatan luar biasa).
Indeks Persepsi Korupsi hasil survei Tranparency International dalam lima tahun terakhir
skornya cuma naik 0,5 dari 1,9 (2001) ke 2,4 (2006) sehingga Indonesia masih bertahan
dalam kelompok negara terkorup. Governance Assessment Survey (2007) UGM-PGR
terhadap enam indikator tata kelola pemerintahan (governance) versi Bank Dunia di 10
provinsi dan 10 kabupaten, salah satunya menyimpulkan, pungutan liar (pungli) masih lazim,
dan pemberantasan korupsi terhambat keseriusan pemerintah dan lembaga bukan pemerintah.
Ragam Korupsi
Alatas (1975: 46) menyebutkan ciri-ciri korupsi. Antara lain: Biasanya melibatkan lebih dari
satu orang; Melibatkan keserbarahasiaan kecuali telah berurat berakar; Melibatkan elemen
kewajiban dan keuntungan timbal balik (tidak selalu uang); Pelaku biasanya berlindung di
balik pembenaran hukum; Pelaku adalah orang yang mampu mempengaruhi keputusan;
Mengandung penipuan kepada badan publik atau masyarakat umum; Pengkhianatan
kepercayaan; Melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif; Melanggar norma-norma tugas dan
pertanggungjawaban; Dan kepentingan umum di bawah kepentingan khusus.
Lebih lanjut Alatas (1975: 46) menjelaskan beberapa hal yang menjadi penyebab korupsi.
Antara lain: Ketiadaan/kelemahan kepemimpinan dalam posisi kunci yang mempengaruhi
tingkah laku menjinakkan korupsi; Kelemahan pengajaran agama dan etika; Konsumerisme
dan globalisasi; Kurangnya pendidikan; Kemiskinan; Tidak adanya tindak hukuman yang
keras; Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti-korupsi; Struktur
pemerintahan; Dan perubahan radikal/transisi demokrasi.
Menurut Aditjondro (2003: 22) ada tiga model lapisan korupsi. Yaitu: Pertama, Korupsi
Lapis Pertama. Berupa penyuapan (bribery) dengan prakarsa yang datang dari pengusaha atau
warga yang membutuhkan jasa dari birokrat atau petugas pelayanan publik, atau pembatalan
kewajiban membayar denda ke kas negara, pemerasan (extortion) diprakarsai untuk meminta
‘balas jasa’ yang datang dari birokrat atau petugas pelayanan publik lainnya.
Kedua, Korupsi Lapis Kedua. Yaitu jejaring korupsi (cabal) antara birokrat, politisi, aparat
penegakan hukum dan perusahaan yang mendapatkan kedudukan istimewa. Biasanya ada
ikatan nepotistis di antara beberapa anggota jejaring korupsi, yang dapat berlingkup nasional.
Ketiga, Korupsi Lapis Ketiga. Yaitu jejaring korupsi (cabal) berlingkup internasional, dengan
kedudukan aparat penegakan hukum pada model korupsi lapis kedua digantikan oleh
lembaga-lembaga penghutang dan/atau lembaga-lembaga internasional yang punya otoritas di
bidang usaha maskapai-maskapai mancanegara yang produknya terpilih oleh pimpinan rezim
yang jadi anggota jejaring korupsi internasional tersebut.
Namun Irwan (2003: 32) menegaskan, bahwa korupsi tidak selalu harus menyangkut
hubungan segitiga antara pemerintah, bisnis dan masyarakat, baik di level nasional maupun
internasional. Korupsi dapat terjadi di bidang-bidang yang tidak langsung berhubungan
dengan pemerintah dan bisnis.
Menurut Irawan, ada empat lingkar pelaku korupsi: Pertama, korupsi yang melibatkan
pemerintah pusat, pemerintah daerah dan bisnis. Kedua, korupsi yang melibatkan kreditor
multilateral, pemerintah pusat dan daerah. Ketiga , korupsi yang melibatkan LSM dan
lembaga donor asing. Dan keempat, korupsi yang baik pelaku maupun korban adalah rakyat
kelas menengah ke bawah.
Perilaku Korupsi
Berbicara tentang perilaku korupsi, dari kacamata psikologi tak lepas dari pengaruh aliran
behaviorisme. Tokoh berpengaruh dari aliran ini salah satunya adalah J.B Watson (1878-
1958) yang terkenal dengan stimulus-response theory.
Ia mempelajari bahwa setiap tingkah laku pada hakikatnya merupakan tanggapan atau
balasan (response) terhadap rangsang (stimulus), karena itu rangsang sangat mempengaruhi
tingkah laku manusia. Watson bahkan sampai pada kesimpulan bahwa setiap perilaku
ditentukan dan diatur oleh rangsang. Perilaku korupsi tak akan terjadi jika tak ada stimulus
dari luar. Stimulus dapat berupa rangsangan uang dan kesempatan untuk melakukan tindakan
korupsi.
Yang dimaksud dengan rangsang (stimulus) adalah peristiwa baik yang terjadi di luar
maupun di dalam tubuh manusia yang memungkinkan tingkah laku terjadi. Perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari adanya rangsang itu disebut “tingkah laku balas” (response).
Hubungan stimulus-response yang sudah sangat kuat akan menimbulkan “reflex” yaitu
tingkah laku balas yang dengan sendirinya timbul bila terjadi suatu rangsang tertentu. Reflex
dalam teori rangsang-balas merupakan dasar dari proses belajar.
Teori Watson ini dikembangkan lebih jauh oleh B.F. Skinner dan C.L Hull. Istilah yang juga
sering digunakan dalam teori-teori rangsang balas adalah dorongan (drive). Menurut kaum
mediationist (Hull dan lain-lain), dorongan adalah semacam energi (daya) yang mengarahkan
individu kepada pilihan tingkah laku tertentu. Pilihan-pilihan tingkah laku ini ditimbulkan
oleh kebutuhan (need).
Di era modernitas saat industrialisasi dan konsumerisme tumbuh subur, kebutuhan (need)
menjadi meningkat, sehingga pemenuhan kebutuhan seakan tidak mencapai pemuasan,
hingga merangsang orang melakukan korupsi untuk pemenuhan kebutuhannya.
Dengan demikian, kebutuhan dan dorongan merupakan variabel atau faktor yang ada antara
rangsangan dan tingkah laku balasnya. Seringkali kebutuhan dan dorongan berjalan searah.
Misalkan, seseorang butuh barang-barang mewah lalu ia memiliki kesempatan untuk
melakukan tindakan korupsi, maka ia akan melakukannya. Tapi ada kalanya dorongan tak
sejalan dengan kebutuhan. Seperti meski ada kebutuhan tapi gaji pas-pasan, namun jika tak
ada dorongan, maka orang tak akan melakukan tindakan korupsi.
Dollard dan Miller (1941) sepaham dengan Hull tentang ada dua dorongan pada manusia:
primer dan sekunder. Dorongan primer adalah dorongan bawaan, seperti lapar, haus, sakit
dan seks. Dorongan sekunder adalah dorongan-dorongan yang bersifat sosial yang dipelajari,
seperti dorongan untuk mendapatkan upah, pujian, penghargaan dan sebagainya.
Namun demikian, Skinner tidak menganggap penting konsep dorongan ini. Konsep ini
menurut Skinner hanya menggambarkan kuat lemahnya suatu perilaku tertentu. Dorongan
tidak mempunyai peranan penting dalam proses hubungan rangsang-balas. Skinner
mengemukakan tiga fungsi dari rangsang yang diistilahkan sebagai pembangkitan (elicition),
diskriminasi (discrimination) dan penguat (reinforcement).
Pembangkitan adalah rangsang langsung yang menimbulkan tingkah laku balas. Seperti
melihat uang atau makanan yang langsung membangkitkan air liur. Pada rangsang
diskriminasi hanya merupakan pertanda, misalkan suara penjaja makanan atau iming-iming
penyuapan. Sedangkan rangsang penguat adalah untuk memperkuat atau memperlemah
perilaku. Contohnya pujian, dorongan lingkungan atau hukuman.
Konsep-konsep lain yang sering dikemukakan dalam teori rangsang-balas adalah
penyamarataan (generalization) dan diskriminasi (dicrimination). Penyamaraan adalah proses
ketika suatu rangsang menimbulkan balas yang pernah dipelajari dari rangsang lain serupa
atau hampir serupa. Contoh: seseorang melakukan pelanggaran, kemudian mempelajari
bahwa dapat terhindar dari tilang dengan menyogok polisi. Dengan beberapa kali
melakukannya, ia dapat melakukan generalisasi bahwa semua polisi bisa disuap.
Konsep diskriminasi berlaku sebaliknya. Diskriminasi berarti timbulnya tingkah laku balas
yang berbeda terhadap rangsangan yang berbeda-beda pula. Contoh: kasus penyuapan di
tubuh KPU beberapa tahun lalu (Mulyana W. Kusuma kepada Khairiansyah dari BPK).
Ternyata, penyuapan tidak berhasil dalam semua kasus. Hal ini kemungkinan menimbulkan
efek jera untuk melakukan penyuapan pada auditor BPK.
Perilaku korupsi juga dapat dipelajari melalui prinsip-prinsip psikologi belajar yang
dikemukakan Miller dan Dollard (1941). Menurutnya, ada empat prinsip belajar: dorongan
(drive), isyarat (cue), tingkah laku balas (response), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip
ini sangat kait mengait dan dapat saling dipertukarkan.
Dalam tindakan korupsi, juga melewati prinsip belajar ini yaitu ada dorongan baik internal,
seperti kebutuhan (need), atau eksternal seperti dari sesama pegawai publik atau atasan.
Kemudian, ada isyarat atau kesempatan, sehingga terjadi tindakan (respons). Perilaku ini
dapat diperkuat dengan reward atau diperlemah dengan sistem punishment.
Rekomendasi Psikologi Sosial
Fenomena korupsi di Indonesia dapat dipahami secara kultural melalui pendapat Huntington.
Menurutnya, korupsi memerlukan “some recognition of the differences between public role
and private interest” (1968: 60).
Huntington memberi ilustrasi tentang peran publik dan kepentingan pribadi lewat peran
seorang raja. Jika budaya politik yang berlaku tidak membedakan peran raja sebagai seorang
pribadi dan perannya sebagai raja, maka tak mungkin orang dapat menuduh raja melakukan
korupsi ketika ia menggunakan dana-dana publik.
Lebih lanjut menurut Hunttington, ”some notion of this distiction, however, is necessary to
reach any conclusion as to whether the action of the king are proper or corrupt” (1968: 60).
Pejabat di Indonesia semestinya juga bisa membedakan ranah peran publik dan kepentingan
pribadi.
Tindakan salah, seperti perilaku korupsi, adalah penyalahgunaan wewenang sebagai pribadi.
Sehingga jika ia (pejabat) memikirkan kepentingan masyarakat luas, idealnya ia akan berani
mengakui kesalahan dan menanggung resiko perbuatan. Hal ini masih sangat jarang kita
jumpai pada diri pejabat publik di negeri ini.
Dalam strategi pemberantasan korupsi, rekomendasi yang bisa diberikan dalam kerangka
psikologi sosial adalah perlunya memperkuat reward-punishment. Meski UU Anti-Korupsi
telah dibuat beserta perangkat UU yang lengkap, namun sampai kini belum ada terapi kejut
yang dapat membuat para koruptor jera. Selain itu perlu juga dipikirkan mekanisme reward
atau penghargaan bagi para pejabat, masyarakat, tokoh agama, dan khususnya whistle
blowers yang berani menolak dan berjasa memberantas tindakan korupsi.
Makalah Korupsi di Indonesia
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peraturan perundang-undangan (legislation) merupakan wujud dari politik hukum institusi
Negara dirancang dan disahkan sebagai undang-undang pemberantasan tindak pidana
korupsi. Secara parsial, dapat disimpulkan pemerintah dan bangsa Indonesia serius melawan
dan memberantas tindak pidana korupsi di negeri ini. Tebang pilih. Begitu kira-kira pendapat
beberapa praktisi dan pengamat hukum terhadap gerak pemerintah dalam menangani kasus
korupsi akhir-akhir ini.
Gaung pemberantasan korupsi seakan menjadi senjata ampuh untuk dibubuhkan dalam teks
pidato para pejabat Negara, bicara seolah ia bersih, anti korupsi. Masyarakat melalui LSM
dan Ormas pun tidak mau kalah, mengambil manfaat dari kampanye anti korupsi di
Indonesia. Pembahasan mengenai strategi pemberantasan korupsi dilakakukan dibanyak
ruang seminar, booming anti korupsi, begitulah tepatnya. Meanstream perlawanan terhadap
korupsi juga dijewantahkan melalui pembentukan lembaga Adhoc, Komisi Anti Korupsi
(KPK).
Celah kelemahan hukum selalu menjadi senjata ampuh para pelaku korupsi untuk
menghindar dari tuntutan hukum. Kasus Korupsi mantan Presiden Soeharto, contoh kasus
yang paling anyar yang tak kunjung memperoleh titik penyelesaian. Perspektif politik selalu
mendominasi kasus-kasus hukum di negeri sahabat Republik BBM ini. Padahal
penyelesaiaan kasus-kasus korupsi besar seperti kasus korupsi Soeharto dan kroninya, dana
BLBI dan kasus-kasus korupsi besar lainnya akan mampu menstimulus program
pembangunan ekonomi di Indonesia.
B. PERMASALAHAN
Bagaimana korupsi mempengaruhi pembangunan ekonomi di Indonesia?
Strategi apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisir praktek korupsi tersebut?
Bagaimana multiplier effect bagi efesiensi dan efektifitas pembangunan ekonomi di
Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Makna Tindak Pidana Korupsi
Jeremy Pope dalam bukunya Confronting Coruption: The Element of National Integrity
System, menjelaskan bahwa korupsi merupakan permasalahan global yang harus menjadi
keprihatinan semua orang. Praktik korupsi biasanya sejajar dengan konsep pemerintahan
totaliter, diktator –yang meletakkan kekuasaan di tangan segelintir orang. Namun, tidak
berarti dalam sistem sosial-politik yang demokratis tidak ada korupsi bahkan bisa lebih parah
praktek korupsinya, apabila kehidupan sosial-politiknya tolerasi bahkan memberikan ruang
terhadap praktek korupsi tumbuh subur. Korupsi juga tindakan pelanggaran hak asasi
manusia, lanjut Pope.
Menurut Dieter Frish, mantan Direktur Jenderal Pembangunan Eropa. Korupsi merupakan
tindakan memperbesar biaya untuk barang dan jasa, memperbesar utang suatu Negara, dan
menurunkan standar kualitas suatu barang. Biasanya proyek pembangunan dipilih karena
alasan keterlibatan modal besar, bukan pada urgensi kepentingan publik. Korupsi selalu
menyebabkan situasi sosial-ekonomi tak pasti (uncertenly). Ketidakpastian ini tidak
menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi dan peluang bisnis yang sehat. Selalu terjadi
asimetris informasi dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Sektor swasta sering melihat ini
sebagai resiko terbesar yang harus ditanggung dalam menjalankan bisnis, sulit diprediksi
berapa Return of Investment (ROI) yang dapat diperoleh karena biaya yang harus dikeluarkan
akibat praktek korupsi juga sulit diprediksi. Akhiar Salmi dalam makalahnya menjelaskan
bahwa korupsi merupakan perbuatan buruk, seperti penggelapan uang, penerimaan uang
sogok dan sebagainya.
Dalam makalahnya, Salmi juga menjelaskan makna korupsi menurut Hendry Campbell Black
yang menjelaskan bahwa korupsi “ An act done with an intent to give some advantage
inconsistent with official duty and the right of others. The act of an official or fiduciary
person who unlawfully and wrongfully uses his station or character to procure some benefit
for himself or for another person, contrary to duty and the right of others.” Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, pasal 1 menjelaskan bahwa tindak pidana korupsi
sebagaimana maksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
tindak pidana korupsi. Jadi perundang-undangan Republik Indonesia mendefenisikan korupsi
sebagai salah satu tindak pidana. Mubaryanto, Penggiat ekonomi Pancasila, dalam artikelnya
menjelaskan tentang korupsi bahwa, salah satu masalah besar berkaitan dengan keadilan
adalah korupsi, yang kini kita lunakkan menjadi “KKN”. Perubahan nama dari korupsi
menjadi KKN ini barangkali beralasan karena praktek korupsi memang terkait koneksi dan
nepotisme. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa dampak “penggantian” ini tidak baik karena
KKN ternyata dengan kata tersebut praktek korupsi lebih mudah diteleransi dibandingkan
dengan penggunaan kata korupsi secara gamblang dan jelas, tanpa tambahan kolusi dan
nepotisme.
B. Korupsi dan Politik Hukum Ekonomi
Korupsi merupakan permasalah mendesak yang harus diatasi, agar tercapai pertumbuhan dan
geliat ekonomi yang sehat. Berbagai catatan tentang korupsi yang setiap hari diberitakan oleh
media massa baik cetak maupun elektronik, tergambar adanya peningkatan dan
pengembangan model-model korupsi. Retorika anti korupsi tidak cukup ampuh untuk
memberhentikan praktek tercela ini. Peraturan perundang-undang yang merupakan bagian
dari politik hukum yang dibuat oleh pemerintah, menjadi meaning less, apabila tidak
dibarengi dengan kesungguhan untuk manifestasi dari peraturan perundang-undangan yang
ada. Politik hukum tidak cukup, apabila tidak ada recovery terhadap para eksekutor atau para
pelaku hukum. Konstelasi seperti ini mempertegas alasan dari politik hukum yang dirancang
oleh pemerintah tidak lebih hanya sekedar memenuhi meanstream yang sedang terjadi.
Dimensi politik hukum yang merupakan “kebijakan pemberlakuan” atau “enactment policy”,
merupakan kebijakan pemberlakuan sangat dominan di Negara berkembang, dimana
peraturan perundang-undangan kerap dijadikan instrumen politik oleh pemerintah, penguasa
tepatnya, untuk hal yang bersifat negatif atau positif. Dan konsep perundang-undangan
dengan dimensi seperti ini dominan terjadi di Indonesia, yang justru membuka pintu bagi
masuknya praktek korupsi melalui kelemahan perundang-undangan. Lihat saja Undang-
undang bidang ekonomi hasil analisis Hikmahanto Juwana, seperti Undang-undang Perseroan
Terbatas, Undang-undang Pasar Modal, Undang-undang Hak Tanggungan, UU Dokumen
Perusahaan, UU Kepailitan, UU Perbankan, UU Persaingan Usaha, UU Perlindungan
Konsumen, UU Jasa Konstruksi, UU Bank Indonesia, UU Lalu Lintas Devisa, UU Arbitrase,
UU Telekomunikasi, UU Fidusia, UU Rahasia Dagang, UU Desain Industri dan banyak UU
bidang ekonomi lainnya. Hampir semua peraturan perundang-undangan tersebut memiliki
dimensi kebijakan politik hukum “ kebijakan pemberlakuan”, dan memberikan ruang
terhadap terjadinya praktek korupsi.
Fakta yang terjadi menunjukkan bahwa Negara-negara industri tidak dapat lagi menggurui
Negara-negara berkembang soal praktik korupsi, karena melalui korupsilah sistem ekonomi-
sosial rusak, baik Negara maju dan berkembang. Bahkan dalam bukunya “The Confesion of
Economic Hit Man” John Perkin mempertegas peran besar Negara adidaya seperti Amerika
Serikat melalui lembaga donor seperti IMF, Bank Dunia dan perusahaan Multinasional
menjerat Negara berkembang seperti Indonesia dalam kubangan korupsi yang merajalela dan
terperangkap dalam hutang luar negeri yang luar biasa besar, seluruhnya dikorup oleh
penguasa Indonesia saat itu. Hal ini dilakukan dalam melakukan hegemoni terhadap
pembangunan ekonomi di Indonesia, dan berhasil. Demokratisasi dan Metamorfosis Korupsi
Pergeseran sistem, melalui tumbangnya kekuasaan icon orde baru, Soeharto. Membawa
berkah bagi tumbuhnya kehidupan demokratisasi di Indonesia. Reformasi, begitu banyak
orang menyebut perubahan tersebut. Namun sayang reformasi harus dibayar mahal oleh
Indonesia melalui rontoknya fondasi ekonomi yang memang “Buble Gum” yang setiap saat
siap meledak itu. Kemunafikan (Hipocrasy) menjadi senjata ampuh untuk membodohi rakyat.
Namun, apa mau dinyana rakyat tak pernah sadar, dan terbuai oleh lantunan lembut lagu dan
kata tertata rapi dari hipocrasi yang lahir dari mulut para pelanjut cita-cita dan karakter orde
baru. Dulu korupsi tersentralisasi di pusat kekuasaan, seiring otonomi atau desentralisasi
daerah yang diikuti oleh desentralisasi pengelolaan keuangan daerah, korupsi mengalami
pemerataan dan pertumbuhan yang signifikan. Pergeseran sistem yang penulis jelaskan,
diamini oleh Susan Rose-Ackerman, yang melihat kasus di Italy, Rose menjelaskan
demokratisasi dan pasar bebas bukan satu-satunya alat penangkal korupsi, pergeseran
pemerintah otoriter ke pemerintahan demokratis tidak serta merta mampu menggusur tradisi
suap-menyuap. Korupsi ada di semua sistem sosial –feodalisme, kapitalisme, komunisme dan
sosialisme. Dibutuhkan Law effort sebagai mekanisme solusi sosial untuk menyelesaikan
konflik kepentingan, penumpuk kekayaan pribadi, dan resiko suap-menyuap. Harus ada
tekanan hukum yang menyakitkan bagi koruptor. Korupsi di Indonesia telah membawa
disharmonisasi politik-ekonomi-sosial, grafik pertumbuhan jumlah rakyat miskin terus naik
karena korupsi.
Dalam kehidupan demokrasi di Indonesia, praktek korupsi makin mudah ditemukan
dipelbagai bidang kehidupan. Pertama, karena melemahnya nilai-nilai sosial, kepentingan
pribadi menjadi pilihan lebih utama dibandingkan kepentingan umum, serta kepemilikan
benda secara individual menjadi etika pribadi yang melandasi perilaku sosial sebagian besar
orang. Kedua, tidak ada transparansi dan tanggung gugat sistem integritas public. Biro
pelayanan publik justru digunakan oleh pejabat publik untuk mengejar ambisi politik pribadi,
semata-mata demi promosi jabatan dan kenaikan pangkat. Sementara kualitas dan kuantitas
pelayanan publik, bukan prioritas dan orientasi yang utama. Dan dua alasan ini menyeruak di
Indonesia, pelayanan publik tidak pernah termaksimalisasikan karena praktik korupsi dan
demokratisasi justru memfasilitasi korupsi. Korupsi dan Ketidakpastian Pembangunan
Ekonomi Pada paragraf awal penulis jelaskan bahwa korupsi selalu mengakibatkan situasi
pembangunan ekonomi tidak pasti. Ketidakpastian ini tidak menguntungkan bagi
pertumbuhan ekonomi dan bisnis yang sehat. Sektor swasta sulit memprediksi peluang bisnis
dalam perekonomian, dan untuk memperoleh keuntungan maka mereka mau tidak mau
terlibat dalam konspirasi besar korupsi tersebut. High cost economy harus dihadapi oleh para
pebisnis, sehingga para investor enggan masuk menanamkan modalnya disektor riil di
Indonesia, kalaupun investor tertarik mereka prepare menanamkan modalnya di sektor
financial di pasar uang.
Salah satu elemen penting untuk merangsang pembangunan sektor swasta adalah
meningkatkan arus investasi asing (foreign direct investment). Dalam konteks ini korupsi
sering menjadi beban pajak tambahan atas sektor swasta. Investor asing sering memberikan
respon negatif terhadap hali ini(high cost economy). Indonesia dapat mencapai tingkat
investasi asing yang optimal, jika Indonesia terlebih dahulu meminimalisir high cost
economy yang disebabkan oleh korupsi. Praktek korupsi sering dimaknai secara positif,
ketika perilaku ini menjadi alat efektif untuk meredakan ketegangan dan kebekuan birokrasi
untuk menembus administrasi pemerintah dan saluran politik yang tertutup. Ketegangan
politik antara politisi dan birokrat biasanya efektif diredakan melalui praktek korupsi yang
memenuhi kepentingan pribadi masing-masing. Pararel dengan pendapat Mubaryanto, yang
mengatakan “Ada yang pernah menyamakan penyakit ekonomi inflasi dan korupsi. Inflasi,
yang telah menjadi hiperinflasi tahun 1966, berhasil diatasi para teknokrat kita. Sayangnya
sekarang tidak ada tanda-tanda kita mampu dan mau mengatasi masalah korupsi, meskipun
korupsi sudah benar-benar merebak secara mengerikan. Rupanya masalah inflasi lebih
bersifat teknis sehingga ilmu ekonomi sebagai monodisiplin relatif mudah mengatasinya.
Sebaliknya korupsi merupakan masalah sosial-budaya dan politik, sehingga ilmu ekonomi
sendirian tidak mampu mengatasinya. Lebih parah lagi ilmu ekonomi malah cenderung tidak
berani melawan korupsi karena dianggap “tidak terlalu mengganggu pembangunan”. Juga
inflasi dianggap dapat “lebih menggairahkan” pembangunan, dapat “memperluas pasar” bagi
barang-barang mewah, yang diproduksi. “Dunia usaha memang nampak lebih bergairah jika
ada korupsi”! Apapun alasannya, korupsi cenderung menciptakan inefisiensi dan pemborosan
sektor ekonomi selalu terjadi. Output yang dihasilkan tidak sebanding dengan nilai yang
dikeluarkan, ancaman inflasi selalu menyertai pembangunan ekonomi. GDP turun drastis,
nilai mata uang terus tergerus. Akibat efek multiplier dari korupsi tersebut. Mubaryanto
menjelaskan, Kunci dari pemecahan masalah korupsi adalah keberpihakan pemerintah pada
keadilan. Korupsi harus dianggap menghambat pewujudan keadilan sosial, pembangunan
sosial, dan pembangunan moral. Jika sekarang korupsi telah menghinggapi anggota-anggota
legislatif di pusat dan di daerah, bahayanya harus dianggap jauh lebih parah karena mereka
(anggota DPR/DPRD) adalah wakil rakyat. Jika wakil-wakil rakyat sudah “berjamaah” dalam
berkorupsi maka tindakan ini jelas tidak mewakili aspirasi rakyat, Jika sejak krisis
multidimensi yang berawal dari krismon 1997/1998 ada anjuran serius agar pemerintah
berpihak pada ekonomi rakyat (dan tidak lagi pada konglomerat), dalam bentuk program-
program pemberdayaan ekonomi rakyat, maka ini berarti harus ada keadilan politik.
Keadilan ekonomi dan keadilan sosial sejauh ini tidak terwujud di Indonesia karena tidak
dikembangkannya keadilan politik. Keadilan politik adalah “aturan main” berpolitik yang
adil, atau menghasilkan keadilan bagi seluruh warga negara. Kita menghimbau para filosof
dan ilmuwan-ilmuwan sosial, untuk bekerja keras dan berpikir secara empirik-induktif, yaitu
selalu menggunakan data-data empirik dalam berargumentasi, tidak hanya berpikir secara
teoritis saja, lebih-lebih dengan selalu mengacu pada teori-teori Barat. Dengan berpikir
empirik kesimpulan-kesimpulan pemikiran yang dihasilkan akan langsung bermanfaat bagi
masyarakat dan para pengambil kebijakan masa sekarang. Misalnya, adilkah orang-orang
kaya kita hidup mewah ketika pada saat yang sama masih sangat banyak warga bangsa yang
harus mengemis sekedar untuk makan. Negara kaya atau miskin sama saja, apabila tidak ada
itikad baik untuk memberantas praktek korup maka akan selalu mendestruksi perekonomian
dalam jangka pendek maupun panjang. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa skandal
ekonomi dan korupsi sering terjadi dibanyak Negara kaya dan makmur dan juga terjadi dari
kebejatan moral para cleptocrasy di Negara-negara miskin dan berkembang seperti Indonesia.
Pembangunan ekonomi sering dijadikan alasan untuk menggadaikan sumber daya alam
kepada perusahaan multinasional dan Negara adi daya yang didalamnya telah terkemas
praktik korupsi untuk menumpuk pundit-pundi harta bagi kepentingan politik dan pribadi
maupun kelompoknya.

C. Korupsi dan Desentralisasi


Desentralisasi atau otonomi daerah merupakan perubahan paling mencolok setelah reformasi
digulirkan. Desentralisasi di Indonesia oleh banyak pengamat ekonomi merupakan kasus
pelaksanaan desentralisasi terbesar di dunia, sehingga pelaksanaan desentralisasi di Indonesia
menjadi kasus menarik bagi studi banyak ekonom dan pengamat politik di dunia.
Kompleksitas permasalahan muncul kepermukaan, yang paling mencolok adalah terkuangnya
sebagian kasus-kasus korupsi para birokrat daerah dan anggota legislatif daerah. Hal ini
merupakan fakta bahwa praktek korupsi telah mengakar dalam kehidupan sosial-politik-
ekonomi di Indonesia. Pemerintah daerah menjadi salah satu motor pendobrak pembangunan
ekonomi. Namun, juga sering membuat makin parahnya high cost economy di Indonesia,
karena munculnya pungutan-pungutan yang lahir melalui Perda (peraturan daerah) yang
dibuat dalam rangka meningkatkan PAD (pendapatan daerah) yang membuka ruang-ruang
korupsi baru di daerah. Mereka tidak sadar, karena praktek itulah, investor menahan diri
untuk masuk ke daerahnya dan memilih daerah yang memiliki potensi biaya rendah dengan
sedikit praktek korup. Akibat itu semua, kemiskinan meningkat karena lapangan pekerjaan
menyempit dan pembangunan ekonomi di daerah terhambat. Boro-boro memacu PAD.
Terdapat beberapa bobot yang menentukan daya saing investasi daerah. Pertama, faktor
kelembagaan. Kedua, faktor infrastruktur. Ketiga, faktor sosial – politik. Keempat, faktor
ekonomi daerah. Kelima, faktor ketenagakerjaan. Hasil penelitian Komite Pemantauan
Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menjelaskan pada tahun 2002 faktor kelembagaan,
dalam hal ini pemerintah daerah sebagi faktor penghambat terbesar bagi investasi hal ini
berarti birokrasi menjadi faktor penghambat utama bagi investasi yang menyebabkan
munculnya high cost economy yang berarti praktek korupsi melalui pungutan-pungutan liar
dan dana pelicin marak pada awal pelaksanaan desentralisasi atau otonomi daerah tersebut.
Dan jelas ini menghambat tumbuhnya kesempatan kerja dan pengurangan kemiskinan di
daerah karena korupsi di birokrasi daerah. Namun, pada tahun 2005 faktor penghambat utama
tersebut berubah. Kondisi sosial-politik dominan menjadi hambatan bagi tumbuhnya investasi
di daerah.
Pada tahun 2005 banyak daerah melakukan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara
langsung yang menyebabkan instabilisasi politik di daerah yang membuat enggan para
investor untuk menanamkan modalnya di daerah. Dalam situasi politik seperti ini, investor
lokal memilih menanamkan modalnya pada ekspektasi politik dengan membantu pendanaan
kampanye calon-calon kepala daerah tertentu, dengan harapan akan memperoleh kemenangan
dan memperoleh proyek pembangunan di daerah sebagai imbalannya. Kondisi seperti ini
tidak akan menstimulus pembangunan ekonomi, justru hanya akan memperbesar pengeluaran
pemerintah (government expenditure) karena para investor hanya mengerjakan proyek-
proyek pemerintah tanpa menciptakan output baru diluar pengeluaran pemerintah (biaya
aparatur negara). Bahkan akan berdampak pada investasi diluar pengeluaran pemerintah,
karena untuk meningkatkan PAD-nya mau tidak mau pemerintah daerah harus menggenjot
pendapatan dari pajak dan retrebusi melalui berbagai Perda (peraturan daerah) yang
menciptakan ruang bagi praktek korupsi. Titik tolak pemerintah daerah untuk memperoleh
PAD yang tinggi inilah yang menjadi penyebab munculnya high cost economy yang
melahirkan korupsi tersebut karena didukung oleh birokrasi yang njelimet.
Seharusnya titik tolak pemerintah daerah adalah pembangunan ekonomi daerah dengan
menarik investasi sebesar-besarnya dengan merampingkan birokrasi dan memperpendek jalur
serta jangka waktu pengurusan dokumen usaha, serta membersihkan birokrasi dari praktek
korupsi. Peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah), pengurangan jumlah pengangguran dan
kemiskinan pasti mengikuti.

D. Memberantas Korupsi demi Pembangunan Ekonomi


Selain menghambat pertumbuhan ekonomi, korupsi juga menghambat pengembangan sistem
pemerintahan demokratis. Korupsi memupuk tradisi perbuatan yang menguntungkan diri
sendiri atau kelompok, yang mengesampingkan kepentingan publik. Dengan begitu korupsi
menutup rapat-rapat kesempatan rakyat lemah untuk menikmati pembangunan ekonomi, dan
kualitas hidup yang lebih baik. Pendekatan yang paling ampuh dalam melawan korupsi di
Indonesia. Pertama, mulai dari meningkatkan standar tata pemerintahan – melalui konstruksi
integritas nasional. Tata pemerintahan modern mengedepankan sistem tanggung gugat, dalam
tatanan seperti ini harus muncul pers yang bebas dengan batas-batas undang-undang yang
juga harus mendukung terciptanya tata pemerintah dan masyarakat yang bebas dari korupsi.
Demikian pula dengan pengadilan. Pengadilan yang merupakan bagian dari tata
pemerintahan, yudikatif, tidak lagi menjadi hamba penguasa. Namun, memiliki ruang
kebebasan menegakkan kedaulatan hukum dan peraturan. Dengan demikian akan terbentuk
lingkaran kebaikan yang memungkin seluruh pihak untuk melakukan pengawasan, dan pihak
lain diawasi. Namun, konsep ini penulis akui sangat mudah dituliskan atau dikatakan
daripada dilaksanakan. Setidaknya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun
pilar-pilar bangunan integritas nasional yang melakukan tugas-tugasnya secara efektif, dan
berhasil menjadikan tindakan korupsi sebagai perilaku yang beresiko sangat tinggi dengan
hasil yang sedikit.
Konstruksi integritas nasional, ibarat Masjidil Aqsha yang suci yang ditopang oleh pilar-pilar
peradilan, parlemen, kantor auditor-negara dan swasta, ombudsman, media yang bebas dan
masyarakat sipil yang anti korupsi. Diatas bangunan nan suci itu ada pembangunan ekonomi
demi mutu kehidupan yang lebih baik, tatanan hukum yang ideal, kesadaran publik dan nilai-
nilai moral yang kokoh memayungi integritas nasional dari rongrongan korupsi yang
menghambat pembangunan yang paripurna. Kedua, hal yang paling sulit dan fundamental
dari semua perlawanan terhadap korupsi adalah bagaimana membangun kemauan politik
(political will). Kemauan politik yang dimaksud bukan hanya sekedar kemauan para politisi
dan orang-orang yang berkecimpung dalam ranah politik. Namun, ada yang lebih penting
sekedar itu semua. Yakni, kemauan politik yang termanifestasikan dalam bentuk keberanian
yang didukung oleh kecerdasan sosial masyarakat sipil atau warga Negara dari berbagai
elemen dan strata sosial. Sehingga jabatan politik tidak lagi digunakan secara mudah untuk
memperkaya diri, namun sebagai tangggung jawab untuk mengelola dan bertanggung jawab
untuk merumuskan gerakan mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik.
Biasanya resiko politik merupakan hambatan utama dalam melawan gerusan korupsi terhadap
pembangunan ekonomi nasional. Oleh sebab itu, mengapa kesadaran masyarakat sipil
penting?.
Dalam tatanan pemerintahan yang demokratis, para politisi dan pejabat Negara tergantung
dengan suara masyarakat sipil. Artinya kecerdasan sosial-politik dari masyarakat sipil-lah
yang memaksa para politisi dan pejabat Negara untuk menahan diri dari praktek korupsi.
Masyarakat sipil yang cerdas secara sosial-politik akan memilih pimpinan (politisi) dan
pejabat Negara yang memiliki integritas diri yang mampu menahan diri dari korupsi dan
merancang kebijakan kearah pembangunan ekonomi yang lebih baik. Melalui masyarakat
sipil yang cerdas secara sosial-politik pula pilar-pilar peradilan dan media massa dapat
diawasi sehingga membentuk integritas nasional yang alergi korupsi. Ketika Konstruksi
Integritas Nasional berdiri kokoh dengan payung kecerdasan sosial-politik masyarakat sipil,
maka pembangunan ekonomi dapat distimulus dengan efektif. Masyarakat sipil akan
mendorong pemerintah untuk memberikan pelayanan publik yang memadai.masyarakat sipil
pula yang memberi ruang dan menciptakan ruang pembangunan ekonomi yang potensial.
Masyarakat melalui para investor akan memutuskan melakukan investasi yang sebesar-
besarnya karena hambatan ketidakpastian telah hilang oleh bangunan integritas nasional yang
kokoh. Jumlah output barang dan jasa terus meningkat karena kondusifnya iklim investasi di
Indonesia, karena kerikil-kerikil kelembagaan birokrasi yang njelimet dan korup telah
diminimalisir, kondisi politik stabil dan terkendali oleh tingginya tingkat kecerdasan sosial-
politik masyarakat sipil.
Para investor mampu membuat prediksi ekonomi dengan ekspektasi keuntungan tinggi.
Sehingga dengan begitu pembangunan ekonomi akan memberikan dampak langsung pada
pengurangan jumlah pengangguran dan masyarakat miskin, peningkatan PAD (Pendapatan
Asli Daerah) masing-masing daerah, peningkatan GDP dan pemerintah akan mampu
membangun sisten jaminan sosial warganya melalui peningkatan kualitas pendidikan dan
layanan kesehatan yang memberikan dampak langsung pada peningkatan kecerdasan
masyarakat sipil.

BAB III
KESIMPULAN
Merangkai kata untuk perubahan memang mudah. Namun, melaksanakan rangkaian kata
dalam bentuk gerakan terkadang teramat sulit. Dibutuhkan kecerdasan dan keberanian untuk
mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi yang menjadi penghambat utama lambatnya
pembangunan ekonomi nan paripurna di Indonesia. Korupsi yang telah terlalu lama menjadi
wabah yang tidak pernah kunjung selesai, karena pembunuhan terhadap wabah tersebut tidak
pernah tepat sasaran ibarat “ yang sakit kepala, kok yang diobati tangan “. Pemberantasan
korupsi seakan hanya menjadi komoditas politik, bahan retorika ampuh menarik simpati.
Oleh sebab itu dibutuhkan kecerdasan masyarakat sipil untuk mengawasi dan membuat
keputusan politik mencegah makin mewabahnya penyakit kotor korupsi di Indonesia. Tidak
mudah memang.

Tanggal 9 Desember adalah Hari Anti Korupsi se-Dunia. Bagi bangsa Indonesia peringatan
momentum tersebut memiliki arti penting dalam upaya mengeliminasi praktek-praktek
korupsi yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi
tantangan yang dihadapi kian berat.

Indikasi belum tuntasnya reformasi hukum dan institusi penegak hukum nampak terlihat dari
perseteruan antara KPK dengan Polri dan Kejagung belum lama ini. Sebuah konflik yang
pada hakekatnya telah mencoreng wajah peradilan kita.

Dalam perspektif agama korupsi ini merupakan akar penyebab kemiskinan sebuah bangsa.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyatakan bahwa "al-amanatu tajlibur rizqa wal
khiyanatu tajlibul faqra", yang artinya: perilaku amanah akan mendatangkan rezeki,
sedangkan perilaku khianat (korupsi) akan mendatangkan kemiskinan.

Karena itu memerangi korupsi merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya
pembangunan kesejahteraan masyarakat. Tidak mungkin sebuah bangsa akan menjadi
sejahtera apabila korupsi dibiarkan merajalela di semua sendi kehidupan.

Dampak Korupsi

Sesungguhnya korupsi memiliki beberapa dampak yang sangat membahayakan kondisi


perekonomian sebuah bangsa. Dampak-dampak tersebut antara lain:

Pertama, menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Chetwynd et al (2003),


korupsi akan menghambat pertumbuhan investasi. Baik investasi domestik maupun asing.
Mereka mencontohkan fakta business failure di Bulgaria yang mencapai angka 25 persen.

Maksudnya, 1 dari 4 perusahaan di negara tersebut mengalami kegagalan dalam melakukan


ekspansi bisnis dan investasi setiap tahunnya akibat korupsi penguasa. Selanjutnya, terungkap
pula dalam catatan Bank Dunia bahwa tidak kurang dari 5 persen GDP dunia setiap tahunnya
hilang akibat korupsi. Sedangkan Uni Afrika menyatakan bahwa benua tersebut kehilangan
25 persen GDP-nya setiap tahun juga akibat korupsi.

Yang juga tidak kalah menarik adalah riset yang dilakukan oleh Mauro (2002). Setelah
melakukan studi terhadap 106 negara, ia menyimpulkan bahwa kenaikan 2 poin pada Indeks
Persepsi Korupsi (IPK, skala 0-10) akan mendorong peningkatan investasi lebih dari 4
persen. Sedangkan Podobnik et al (2008) menyimpulkan bahwa pada setiap kenaikan 1 poin
IPK, GDP per kapita akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,7 persen setelah melakukan
kajian empirik terhadap perekonomian dunia tahun 1999-2004.

Tidak hanya itu. Gupta et al (1998) pun menemukan fakta bahwa penurunan skor IPK sebesar
0,78 akan mengurangi pertumbuhan ekonomi yang dinikmati kelompok miskin sebesar 7,8
persen. Ini menunjukkan bahwa korupsi memiliki dampak yang sangat signifikan dalam
menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, korupsi melemahkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dalam menjalankan


program pembangunan. Sehingga, kualitas pelayanan pemerintah terhadap masyarakat
mengalami penurunan. Layanan publik cenderung menjadi ajang 'pungli' terhadap rakyat.
Akibatnya, rakyat merasakan bahwa segala urusan yang terkait dengan pemerintahan pasti
berbiaya mahal.
Sebaliknya, pada institusi pemerintahan yang memiliki angka korupsi rendah, maka layanan
publik cenderung lebih baik dan lebih murah. Terkait dengan hal tersebut, Gupta, Davoodi,
dan Tiongson (2000) menyimpulkan bahwa tingginya angka korupsi ternyata akan
memperburuk layanan kesehatan dan pendidikan. Konsekuensinya, angka putus sekolah dan
kematian bayi mengalami peningkatan.

Ketiga, sebagai akibat dampak pertama dan kedua, maka korupsi akan menghambat upaya
pengentasan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Yang terjadi justru sebaliknya, korupsi
akan meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.

Terkait dengan hal ini, riset Gupta et al (1998) menunjukkan bahwa peningkatan IPK sebesar
2,52 poin akan meningkatkan koefisien Gini sebesar 5,4 poin. Artinya, kesenjangan antara
kelompok kaya dan kelompok miskin akan semakin melebar. Hal ini disebabkan oleh
semakin bertambahnya aliran dana dari masyarakat umum kepada para elit, atau dari
kelompok miskin kepada kelompok kaya akibat korupsi.

Keempat, korupsi juga berdampak pada penurunan kualitas moral dan akhlak. Baik
individual maupun masyarakat secara keseluruhan. Selain meningkatkan ketamakan dan
kerakusan terhadap penguasaan aset dan kekayaan korupsi juga akan menyebabkan hilangnya
sensitivitas dan kepedulian terhadap sesama.

Rasa saling percaya yang merupakan salah satu modal sosial yang utama akan hilang.
Akibatnya, muncul fenomena distrust society, yaitu masyarakat yang kehilangan rasa
percaya, baik antar sesama individu, maupun terhadap institusi negara. Perasaan aman akan
berganti dengan perasaan tidak aman (insecurity feeling). Inilah yang dalam bahasa Al-Quran
dikatakan sebagai libaasul khauf (pakaian ketakutan).

Terkait dengan hal tersebut, Uslaner (2002) menemukan fakta bahwa negara dengan tingkat
korupsi yang tinggi memiliki tingkat ketidakpercayaan dan kriminalitas yang tinggi pula. Ada
korelasi yang kuat di antara ketiganya.

Kondisi Indonesia

Sementara itu, bangsa Indonesia juga menghadapi persoalan korupsi yang akut. Hal itu
ditandai dengan rendahnya skor IPK kita yang mencapai angka 2,3 di tahun 2008, meskipun
mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan skor IPK tahun 2004 yang mencapai
angka 2,0 (Rizal Yaya, 2009). Sebuah perbaikan yang lumayan walaupun masih sangat
rendah.

Tentu saja angka tersebut harus ditingkatkan ke depannya apabila Indonesia berniat untuk
mendatangkan arus investasi lebih besar lagi. Sehingga target kebutuhan dana investasi
sebesar Rp 2 ribu triliun setiap tahunnya dapat terpenuhi.

Kemudian yang juga masih menjadi PR besar bangsa ini adalah high cost economy yaitu
tingginya biaya ekonomi yang memberatkan kalangan dunia usaha. Menurut Ari Kuncoro
(2008) berdasarkan penelitian yang dilakukannya di 37 kota/kabupaten di Pulau Jawa, dana
suap atau dana siluman untuk memuluskan sebuah proses bisnis, ternyata angkanya mencapai
6,5 persen dari keseluruhan biaya produksi. Artinya, dari setiap Rp 100 ribu biaya produksi,
maka Rp 6500 di antaranya merupakan komponen biaya suap.
Dengan kondisi seperti ini wajarlah jika daya saing dan produktivitas bangsa menjadi
berkurang. Namun demikian yang menarik adalah meskipun angka korupsi negeri ini relatif
tinggi Indonesia tetap memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif. Bahkan, yang terbesar
ketiga di Asia setelah China dan India pada tahun 2008.

Jika saja korupsi ini bisa dieliminasi secara total boleh jadi angka pertumbuhan ekonomi akan
mencapai dua digit. Indonesia akan menjadi tempat tujuan investasi yang utama mengalahkan
Malaysia dan Singapura. Jika ini terjadi maka kesejahteraan ekonomi yang merata dan
berkeadilan hanya tinggal menunggu waktu.
Oleh karena itu, agar hal tersebut menjadi kenyataan, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan.

Pertama, perlunya reformasi sistem hukum dan penguatan institusi pemberantasan korupsi.
Di India, keberadaan undang-undang dan institusi anti korupsi telah mengurangi korupsi
hingga 18,5 persen, sehingga memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonominya
(Bhattacharyya dan Jha, 2009). Untuk itu, penulis berharap agar integritas dan komitmen
KPK, Polri, Kejagung, dan MA dalam penegakan supremasi hukum perlu ditingkatkan.

Kedua, pemangkasan ekonomi berbiaya tinggi untuk meningkatkan efisiensi dan


pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, agar pertumbuhan ekonomi tersebut
merata dan berkeadilan, maka peran instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf harus
mendapat prioritas dalam program pembangunan nasional.
Ketiga, menerapkan sistem reward and punishment yang adil dan efektif kepada aparat
negara, sehingga mereka bisa menunaikan kewajibannya dengan baik dan penuh tanggung
jawab. Wallahu'alam. (dc)
Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia adalah negara yang penuh dengan koruptor. Kasus-
kasus korupsi selalu terdengar beberapa tahun belakangan ini. Dampak korupsi pun bisa
dirasakan secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat luas.
Korupsi adalah suatu tindakan melanggar hukum dimana pelakunya akan berusaha
memperkaya diri dengan cara yang tidak semestinya. Contohnya “mencuri” uang negara
demi kepentingan pribadi atau golongan.
Korupsi sering dikait-kaitkan dengan kolusi dan nepotisme. Perbedaannya, korupsi adalah
menggelapkan uang, kolusi adalah tindakan penyuapan, sedangkan nepotisme adalah
tindakan untuk lebih memilih seseorang untuk bekerja sama berdasarkan hubungan pribadi
(keluarga atau teman dekat) daripada kemampuan kerjanya.

Mengapa Korupsi Bisa Terjadi?


Dampak korupsi yang buruk sebenarnya sudah bisa dirasakan, baik oleh pemerintah maupun
masyarakat luas. Tapi kenapa korupsi masih saja menjamur di negeri ini?
Berikut ini beberapa contoh penyebab korupsi yang sangat marak di Indonesia :
• Hampir semua kejahatan terjadi karena suatu alasan tertentu, begitu pula dengan kasus
korupsi. Penyebab korupsi yang paling utama tentu saja karena watak manusia yang selalu
merasa tidak puas, hingga akhirnya ia melakukan korupsi dan menumpuk kekayaan.
• Gaji atau pendapatan yang mungkin terlalu kecil, juga bisa mendorong terjadinya korupsi
dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri dengan harta yang tidak seharusnya.
• Lingkungan penuh koruptor juga bisa mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindak
korupsi. Seseorang yang semula bersih dari hal-hal berbau korupsi, bisa saja tergiur melihat
temannya yang mendadak kaya dengan cara korupsi. Ia pun meniru temannya untuk
mendapatkan kekayaan lebih tanpa memikirkan dampak korupsi itu sendiri.
Itulah beberapa penyebab yang memungkinkan seseorang untuk menggelapkan uang yang
bukan miliknya. Namun, kejahatan korupsi juga bisa terjadi karena ada faktor-faktor lain
yang mendukung. Berikut ini beberapa contohnya:
• Kurang atau bahkan tidak ada sama sekali transparansi keuangan dalam suatu sistem
pemerintahan, baik pemerintahan Indonesia secara global maupun pemerintahan skala kecil,
misalnya dalam suatu perusahaan.
• Lemahnya badan hukum negara. Dengan tidak adanya sangsi berat bagi koruptor, kasus
korupsi akan terus terjadi. Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa oknum-oknum di badan
hukum juga ikut terlibat KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).
• Lemahnya pimpinan negara dan seluruh pemerintahan dalam penanganan kasus korupsi.
Sampai saat ini, belum ada tindakan tegas yang benar-benar akan membuat koruptor jera.

Koruptor yang masuk penjara pun, masih bisa leluasa melakukan tindak KKN untuk hal-hal
tertentu. Misalnya mendapat fasilitas kamar penjara yang mewah, atau bahkan keluar masuk
tahanan sesuka hati.

Dampak Korupsi
• Dampak korupsi yang paling jelas adalah negara mengalami kerugian dan membuat rakyat
semakin miskin. Uang yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, malah
masuk ke kantong-kantong pejabat.
• Saat satu tindakan korupsi berhasil dilakukan dan tidak mendapat sanksi hukum yang
sesuai, hal ini akan memicu tindakan korupsi yang lain. Hal ini bisa menjadikan Indonesia
sebagai negara paling korup di dunia karena korupsi menjamur dengan suburnya.
• Citra badan hukum negara seperti kepolisian akan menjadi buruk di mata masyarakat. Hal
ini akan membuat warga Indonesia tidak lagi menghormati badan hukum negara.
• Tak hanya badan hukum, seluruh pemerintahan Indonesia juga akan mendapat pandangan
sinis dari masyarakat. Membuat warga tidak percaya lagi pada sistem pemerintahan.
• Pemilu tidak akan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan masyarakat
sudah malas untuk memilih pimpinan. Menurut masyarakat, mengikuti pemilu sama saja
memilih koruptor berikutnya.
• Bila kasus korupsi dibiarkan terus-menerus, dampak korupsi yang paling besar adalah
perlawanan dari rakyat karena ketidakpuasan pemerintahan.

Misalnya saja, tidak ada lagi masyarakat yang mau membayar pajak, terjadi demo besar-
besaran yang memungkinkan bisa menggulingkan pemerintahan, dan keadaan negara akan
kacau balau karena rakyat yang marah.
Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) merupakan tindakan sistemik yang banyak merugikan
negara dan masyarakat. Eksistensi KKN ini sudah ada sejak zaman orde baru. Terlebih di
zaman otoriter tersebut KKN secara implisit dilegalkan karena dilegitimasi langsung oleh
penguasa yang kongkalikong dengan pengusaha.
Korupsi kolusi nepotisme merupakan tindakan yang sudah akut terjadi, khususnya di
birokrasi-birokrasi negeri ini. Sebelum lebih jauh membahasnya, alangkan lebih baik jika
dijelaskan satu persatu. Apa itu korupsi? Apa itu kolusi? Dan apa itu nepotisme?
Korupsi
Korupsi merupakan tindakan memperkaya diri sendiri, golongan, kerabat dengan cara
melawan aturan hukum. Misalnya, kasus korupsinya Gayus Halomoan Tambunan yang
merugikan negara ratusan miliar rupiah. Atau dakwaan korupsinya Aulia Pohan yang
merugikan negara puluhan miliar rupiah. Seseorang disebut korupsi ketika ada uang negara
yang digunakan untuk memperkaya diri dan atau golongannya saja.
Menyadari begitu urgent dan sulitnya menangani korupsi di negeri ini, pemerintah pada 2003
mendirikan lembaga yang khusus ditujukan untuk memberantas tindak korupsi yang semakin
merajalela. Makanya hadir Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dimana ditunjuk sebagai
ketuanya Taufiqurrahman Ruki.
Perjalanan KPK rupanya makin banyak tak disenangi oleh para koruptor. Betapa tidak,
dibawah kepemimpinan Antasari Azhar (pengganti Ruki), KPK mampu menangkap koruptor-
koruptor kakap semacam Jaksa Urip Tri Gunawan dengan barang bukti senilai Rp 6 miliar,
Arthalita Suryani, dsb. Mungkin karena banyak pihak yang tak suka dengan kehadiran KPK
ini, makanya usaha-usaha untuk menumpulkan dan mengkriminalisasi KPK semakin
kencang.
Beruntung sampai sekarang lembaga KPK masih ada untuk mengurusi masalah-maalah
korupsi meski langkahnya semakin berat. Paling tidak melihat KPK sekarang makin
kekurangan taji dan taringnya. Manuver-manuver yang selama ini dilakukan sudah jauh
mengalami penurunan. Semoga saja KPK masih kuat dan bertaring dalam menangani korupsi
sebagai bagian dari korupsi kolusinepotisme.
Kolusi
Kolusi merupakan perilaku atau tindakan yang memiliki tendensi menguntungkan rekanan
dengan cara menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki. Misalnya, seorang bupati,
walikota atau pejabat negara lainnya, yang membuka tender hanya secara formalitas karena
sudah ditetapkan pemenang tender, jauh-jauh hari sebelum tender dibuka.
Kolusi tak akan terlihat secara kasat mata melainkan hanya bisa dirasakan dan dianalisis dari
indikasi-indikasi yang ditumbulkannya. Dengan pemberian privilege seorang pejabat kepada
pihak-pihak tertentu, membeda-bedakan para peserta tender, dsb.
Nepotisme
Nepotisme beda tipis dengan kolusi, yakni sikap atau tindakan seorang pejabat yang lebih
mendahulukan atau mengutamakan keluarga, teman dekat atau kerabat dibandingkan
masyarakat lainnya. Misalnya dalam penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) biasanya
praktik nepotisme ini sangat kental terjadi. Nah, keluarganya lebih didahulukan sekalipun,
mungkin, ketika tes kelayakannya anggota keluarganya tersebut tak lulus.

Inilah tantangan keIndonesiaan ke depan, yakni mencegah korupsi kolusi nepotisme yang
praktiknya semakin merajalela saja.
Korupsi menjadi musuh kita bersama. Manipulasi anggaran justru dilakukan oleh para
anggota legeslatif, baik di tingkat pusat maupun daerah. Praktek korupsi sudah biasa
dilakukan di tingkat birokrasi Indonesia, bahkan yang terendah, seperti misalnya contoh
kasus korupsi yang sangat jelas dilakukan di muka umum ketika rakyat mengurus KTP, SIM,
paspor, akte kelahiran, dan surat-surat penting lainnya.
Keberanian untuk berkorupsi para aparat di tingkat paling bawah, seperti oknum polisi dan
DLAAJ, justru makin merajalela.Belum lagi yang terjadi di jajaran menengah dan atas yang
tidak mudah diditeksi. Korupsi semacam ini biasanya dilakukan atas dasar sistem, sehingga
praktek korupsi menjadi tersamar dan biasanya dilakukan secara berjama’ah.

Hukuman Koruptor Sangat Ringan


Peluang atau kesempatan untuk melakukan tindak korupsi ini sangat berpengaruh pada
prilaku koruptor, apalagi hukumannya juga cukup ringan. Bandingkan dengan contoh kasus
korupsi di Cina, negara kita jauh lebih memanjakan para koruptor dengan hanya menghukum
kurungan. Padahal di Cina beberapa koruptor telah dihukum mati.
Contoh kasus korupsi di atas merupakan perbuatan yang sangat keji. Karena bisa
menyebabkan kacaunya anggaran negara, dan mengurangi aset negara yang diperuntukan
bagi kesejahteraan masyarakat.
Pengaruh korupsi terhadap kesejahteraan rakyat bersifat langsung. Apabila anggaran negara
terus defisit, bukan saja hutang luar negeri tidak terbayar, tetapi kinerja pemerintah juga
menjadi kacau.
Peningkatan gaji pegawai dan terutama gaji para penegak hukum tidak bisa dilakukan, karena
minimnya anggaran. Hal ini akan menyebabkan penindakan terhadap pelaku korupsi menjadi
tumpul dan penuh rekayasa.

Perlunya Kontrol Pengawasan


Contoh kasus korupsi di atas juga dapat menyebabkan permasalahan ganda. Hal ini akan
menjadi lebih terasa apabila masyarakat tidak perduli dengan masalah ini. Saat ini kontrol
dari media sudah cukup kuat, tetapi kita juga tahu bahwa media juga terkadang bisa dibeli.
Seringkali kasus korupsi menguap di tengah jalan, tanpa diketahui dengan jelas apa
penyebabnya.
Media yang pada awalnya sangat gencar memuat berita-berita tentang kasus korupsi tersebut,
lama kelamaan frekuensi tayangannya berkurang dan akhirnya kasus itu lenyap. Demo-demo
anti korupsi marak, tetapi hasilnya juga kurang maksimal, selama korupsi telah menjadi
budaya bangsa.
Kurangnya kontrol pengawasan akan memperparah bangsa kita menjadi bangsa yang korup
apabila tidak dari sekarang dibenahi. Artinya, kontrol pengawasan baik itu dari aparat-aparat
yang berwenang seperti misalnya komisi pemberantasan korupsi, kepolisian, maupun
kejaksaan harus lebih dioptimalkan.
Dan yang lebih penting lagi adalah kontrol atau pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat.
Ketika mengetahui ada tindak korupsi di sekitar Anda, segera laporkan.

Bentuk-Bentuk Korupsi dan Sistem Operasinya

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Sudah puluhan tahun, negara kita terpuruk dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Banyak kasus korupsi yang semakin hari bukannya makin menurun, namun justru makin
merajalela. Bentuk bentuk korupsi ini juga semakin bertambah, baik jenis maupun modus
operasinya.
Korupsi adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri
dengan cara mengambil uang yang sebenarnya milik negara. Korupsi mulai berjangkit dan
tumbuh subur di Indonesi ketika pemerintahan dikendalikan oleh Orde Baru.
Setelah pemerintahan Orde baru tumbang dan digantikan dengan Orde Reformasi, budaya
korupsi tidak ikut mati. Malah semakin subur keberadaannya. Padahal salah satu tujuan dari
lahirnya Orde Reformasi untuk memberantas korupsi hingga tuntas. Agaknya cita-cita ini
tinggal mimpi belaka.

Bentuk - Bentuk Korupsi


Di Indonesia bentuk-bentuk korupsi banyak sekali. Beberapa diantaranya adalah:
• Menggunakan kekuasaan atau wewenang yang diberikan kepadanya. Ini sering terjadi pada
pejabat tingkat tinggi. Misalnya dia menjadi kepala suatu departemen, kemudian departemen
tersebut mengadakan suatu proyek pembangunan yang proses tendernya dimenangkan oleh
pihak tertentu. Kemudian pejabat ini akan mendapat imbalan dari pemenang proyek tesebut.
• Pembayaran yang fiktif. Kasus ini sering terjadi pada pegawai yang sering melakukan
belanja untuk keperluan kantor. Caranya adalah dengan membuat laporan atau nota palsu
yang menuliskan harga barang lebih mahal dari yang sebenarnya. Selisih harga barang
tersebut akan masuk ke kantor pribadi.
• Menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi. Ini juga merupakan salah satu
bentuk korupsi yang sering dilakukan oleh pegawai kantor maupun kepala atau pimpinannya
sendiri.

Misalnya menggunakan telepon untuk menelpon orang lain yang urusannya tidak ada sama
sekali dengan pekerjaan. Atau menggunakan mobil dinas untuk kepentingan sendiri, padahal
bensin yang digunakan adalah milik kantor.
• Bekerja tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Ini biasanya sering disebut dengan
korupsi waktu. Misalnya jam kerja kantor ditentukan mulai pukul sembilan pagi hingga
empat sore. Namun yang terjadi adalah seorang pegawai atau kepala dinas datang lebih siang
dan pulangnya lebih awal. Padahal masih banyak perkerjaan yang harus segera diselesaikan.
• Menyelenggarakan perjalanan dinas fiktif. Sistem operasinya adalah dengan mengajukan
dana untuk melakukan perjalanan dinas ke luar kota, misalnya dengan alasan untuk study
banding. Kenyataannya, dia hanya istirahat di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun juga.
Dana yang semestinya untuk perjalanan dinas dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
• Mengurangi kualitas barang yang dibeli. Misalnya seorang pegawai mendapat tugas untuk
membeli sebuah komputer dengan kualitas yang tinggi, namun komputer tersebut kualitasnya
biasa saja bahkan di bawah standar. Tentu saja harga komputer ini lebih murah. Sisa uang
dari pembelian komputer menjadi milik pegawai tersebut.

Di luar tujuh contoh diatas, tentu masih banyak bentuk-bentuk korupsi lain, yang cara
operasinya juga menggunakan modus yang berbeda. Bila hal ini tidak segera ditangani tentu
akan semakin menyengsarakan negara.
Banyak sekali contoh kasus korupsi di Indonesia, sudah diberitakan di mana-mana. Bahkan
kuping ini sudah kebal dan kabar burungnya terdengar lalu memantul, misalnya kasus Gayus
di dewan perpajakan, sudah gaji dua belas juta sebulan, yang bagi Pegawai Negeri Sipil muda
itu sungguh gaji yang sangat besar, namun ia masih korupsi.
Memang manusia itu tidak pernah puas. Bila dapat sedikit, ingin banyak. Jika dapat banyak,
ingin lebih banyak lagi.
Selain kasus korupsi Gayus Tambunan, masih banyak lagi contoh-contoh kasus korupsi di
Indonesia, misalnya kasus Abdullah Puteh, kasus Al Amin, kasus Artalita, kasus cicak buaya,
kasus sogok-menyogok ala masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS), bahkan saat masuk sekolah
atau kuliah saja juga menyogok, dan lain-lain. Sungguh ironis negeri ini, banyak sekali
contoh kasus korupsi di Indonesia.

Kasus Gayus yang Maknyus


Namun, ketika ada Susno Duaji yang bintangnya bertaburan di area kepolisian tingkat tinggi
itu melapor, beliau langsung ditekan sana-sini, maknyus. Beliau juga sempat dikurung ke
dalam sel tahanan, maknyus! Jenderal bintang tiga! Hmm.
Jika seorang jenderal saja yang mengadu ditahan, apalagi kita yang bukan siapa-siapa, hanya
rakyat biasa. Mungkin kalau berlaku seperti Susno Duaji, belum melapor kita sudah mati
ditembak duluan?!

Gayus Berkeliaran
Gayus berkeliaran di Indonesia, memakai topi dan rambut palsu. Gayus memang keren juga.
Ada apa dengan kepolisian?! Silakan buat penelitian sendiri. Kan lumayan untuk sidang
skripsi. Tesis sekalian!

Kisah Penilangan Polisi


Semua orang butuh uang, namun ada jalan yang dihalalkan dan juga ada jalan yang
terbelokkan dari fitrah kita sebagai manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Polisi yang mencari uang dengan tingkah buruk, maka keburukannya itu untuk dirinya
sendiri.
Sudah menjadi rahasia umum. Kasus penilangan hanya kasus untuk mendapatkan uang bagi
polisi kebanyakan. Tentu saja semoga itu hanya sedikit, namun kenyataannya berbalik.

Kisah Bank Century


Bank Century tak tahu arah ke mana lagi akan berjalan. Sejalannya waktu, bank century
hanya menjadi saksi atas nafsu brutal manusia yang mengahambakan uang. Inilah salah satu
contoh kasus korupsi di Indonesia yang sulit dipecahkan.

Macam-macam Solusi Korupsi

Korupsi, Penggadai Harga Diri


Bagi Anda para peminat tayangan film layar lebar tentu saja tak asing lagi dengan sebuah
film tema kritik sosial garapan artis senior Dedi Mizwar berjudul ‘Alangkah Lucunya Negeri
ini’. Film yang dipenuhi adegan-adegan komedi ini merupakan bentuk kritikan harus yang
disampaikan putera puteri bangsa terhadap budaya klasik yang memalukan harga diri bangsa,
yakni korupsi.
Solusi korupsi di Indonesia kerap diamputasi dengan ringkihnya sistem penegakan hukum
dan peradilan Indonesia sendiri. Korupsi seolah dipandang sebagai warisan budaya nenek
moyang yang harus tetap dilestarikan, susah diberantas. Orang yang berupaya memberantas
dan coba untuk bersih dari korupsi malah tak jarang difitnah dan dituding sebagai sosok sok
suci.
Solusi korupsi perlu ditemukan dan dilaksanakan. Salah satu penggadai harkat martabat harga
diri bangsa Indonesia adalah budaya korupsi yang sudah cukup akut menjangkiti sistem
birokrasi dalam negeri. Ada banyak bentuk korupsi yang terjadi di tengah masyarakat. Dari
yang level kecil hingga bernilai milyaran rupiah. Korupsi merupakan bentuk penyalah gunaan
fungsi pendidikan yang sudah dijalani oleh seseorang.
Sebagai contoh, seorang yang berpendidikan rendah bisa saja melakukan korupsi kecil-
kecilan seperti mencopet, menjambret dan sebagainya. Sementara mereka orang yang
berpendidikan akan melakukan korupsi, sebuah tindakan yang jauh lebih hina dan berbahaya
dari mencopet atau mencuri.
Korupsi dan Solusinya
Ada beberapa bentuk tawaran solusi korupsi yang cukup realistis untuk dilaksanakan.
Korupsi bisa dikatakan sebagai biang keladi keterpurukan sistem perekonomian Indonesia.
Betapa tidak, ratusan milyar uang negara dicuri dan dimasukkan ke kantong-kantong para
koruptor. Berikut ini beberapa bentuk solusi korupsi yang memungkinkan untuk
dilaksanakan;
1. Memulai dari diri sendiri

Sebelum jauh-jauh menuding orang melakukan tindakan korupsi, marilah kita memeriksa
kebersihan diri kita sendiri dari perbuatan keji ini. Ada banyak bentuk korupsi yang
terkadang tanpa sengaja kita lakukan. Jika kita seorang pengajar, terkadang kita berupaya
mengkorupsi waktu belajar mengajar di kelas, kita memberikan jawaban soal ujian terhadap
siswa, membiarkan siswa mencontek dan sebagainya.
Sebagai pendidik kita menjadi contoh teladan bagi para peserta didik. Jika bentuk-bentuk
korupsi kecil itu dibiarkan, maka jangan heran jika generasi Indonesia yang akan datang juga
akan tetap mengidap penyakit korupsi sebagai tularan dari sikap kita sendiri.
2. Pemimpin memberi contoh

Kewajiban seorang pemimpin adalah memberi suri tauladan kebaikan bagi orang yang
dipimpin. Seorang pemimpin harus berupaya memikirkan solusi korupsi yang sudah menjadi
tradisi klasik di tanah air. Pemimpin harus memberikan contoh bersih diri dari perbuatan-
perbuatan korupsi. Contoh ini otomatis akan memberikan kekuatan bagi seorang pemimpin
untuk mampu menegakkan hukuman bagi para pelaku korupsi secara tegas.

Selain itu, contoh ini sekaligus akan membuat para pejabat yang berada di bawah perintah
seorang pemimpin merasa segan, malu, dan akhirnya juga berupaya untuk meninggalkan
budaya korupsi.
3. Penegakan hukum

Para koruptor perlu diberi hukuman yang seberat-beratnya yang membuat mereka jera.
Sistem penegakan hukum di Indonesia kerap terhambat dengan sikap para penegak hukum itu
sendiri yang tidak serius menegakkan hukum dan undang-undang.

Para pelaku hukum malah memanfaatkan hukum itu sendiri untuk mencari keuntungan
pribadi, ujungnya juga pada tindakan korupsi. Alih-alih muncullah istilah mavia hukum,
yakni mereka yang diharapkan mampu menegakkan hukum dan peradilan malah sebaliknya
mencari hidup dari hukum dan peradilan tersebut.

Buruknya Akibat Korupsi

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Fakta yang terjadi akibat korupsi sungguh menyedihkan. Korupsi siapa sih yang tak kenal
kata ini? Bahkan yang paling memalukan adalah bila korupsi disangkut pautkan dengan nama
bangsa Indonesia. Yang hingga kini belum bisa tuntas mengatasi korupsi.
Ada aneka bentuk korupsi yang paling umum terjadi, antara lain :
• Kecurangan, penggelapan, penipuan, pemerasan
Korupsi jenis ini cenderung bersifat individu. Biasanya mereka yang berkesempatan
melakukan hal ini adalah seorang pimpinan dari suatu lembaga atau instansi atau perusahaan
yang dipimpinnya.

Bentuknya antara lain dengan menggunakan fasilitas kantor atau lembaga yang dipimpinnya
untuk keperluan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Seperti menggunakan mobil kantor
untuk keperluan pribadi, memakai telepon kantor untuk urusan keluarga, dll. Atau melakukan
mark up anggaran kantor atau melebihkannya sehingga sisa kelebihan itu bisa dikantongi
sendiri.
• Nepotisme, kolusi, kroni
Ini adalah jenis-jenis korupsi yang banyak terdapat di negara sedang berkembang mau pun
yang belum berkembang.
• Sogok atau suap
Penyogokan atau penyuapan, adalah yang paling umum terjadi di masyarakat. sehingga
hampir sulit dibedakan dengan korupsi. Penyuapan biasanya dilakukan dengan uang atau
barang. Antara lain berbentuk hadiah seperti parcel, voucher, barang-barang mewah,
beasiswa, dan lain-lain.

Sehingga bentuk penyuapan ini bisa lebih tersamar dan sulit untuk dikenali. Bahkan hampir
dianggap hal yang biasa karena demikian luasnya ruang lingkup suap di dalam lini kehidupan
masyarakat.

Sebab Orang Melakukan Korupsi


Karena koruptor tidak dilahirkan dari rahim ibunya tetapi muncul kemudian, maka ada sebab-
sebab tertentu yang membuat orang melakukan tindakan korupsi, yaitu:
• Adanya nafsu atau ingin bisa hidup enak dan bermewah-mewahan
• Lemahnya peraturan yang ada sehingga dengan mudah bisa disiasati oleh para koruptor
• Kurang memiliki pemahaman terhadap nilai moral dan agama
• Lemahnya kontrol sosial dan budaya terhadap para koruptor. Misalnya maling ayam lebih
cepat dihajar dan dihukum daripada koruptor yang berpenampilan mentereng.
• Memiliki kekuasaan politik
• Birokrasi yang panjang dan berliku
• Gaji yang tidak memadai

Akibat Korupsi
• Sangat berbahaya bagi segala aspek kehidupan manusia. Baik dari segi politik,sosial,
budaya, ekonomi dan birokrasi
• Korupsi akan memunculkan rasa individualis yang tinggi, egoisme dan tiadanya ketulusan
dalam suatu hubungan atau relasi.
• Korupsi menimbulkan perbedaan yang sangat menyolok antara si kaya dan si miskin
• Korupsi sangat berbahaya bagi standar moral di dalam masyarakat, saat mereka
menganggap korupsi adalah suatu hal yang biasa. Terutama bagi pemahaman generasi muda.

Begitu besarnya bahaya korupsi bagi kehidupan manusia, sehingga semua orang harus ikut
berperan aktif dalam memberantasnya. Pemerintah juga diharuskan tegas dalam menindak
kasus korupsi dan menghukum para koruptor. Serta memberikan gaji yang layak buat para
pegawai negeri sipil sehingga bisa meminimalisir terjadinya korupsi.
Demikian juga dengan para pembuat peraturan perundang-undangan di dalam gedung
DPR/MPR. Inilah saatnya untuk membuat undang-undang antikorupsi yang efektif dan tepat
sasaran.
Demikian pula dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama, juga harus proaktif mengingatkan
masyarakat tentang bahaya korupsi bagi masa depan bangsa. Juga media yang bisa ikut
berperan dengan cara membentuk opini agar publik terpanggil untuk memerangi korupsi.
Dengan adanya sinergi dan komitmen yang solid dari setiap lapisan masyarakat, bukannya
tidak mungkin negara ini akan bebas dari belitan korupsi. Sehingga Indonesia di masa depan
akan terhindar dari kerusakan parah akibat korupsi.

Penyebab Kasus-kasus Korupsi di Indonesia

Oleh: AnneAhira.com Content Team


Korupsi di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang cukup terkenal dengan budaya korupsi masyarakatnya.
Sebagai anak negeri yang peduli dengan kondisi bangsa, fakta ini tentulah dirasakan sebagai
hal menyedihkan yang dapat mencoreng nama, harkat dan martabat Indonesia sebagai negara
muslim terbesar di dunia.
Negara besar dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sekaligus negara yang
memiliki tingkat prestasi korupsi yang mencengangkan. Izzah atau harga diri Indonesia di
mata dunia internasional, kerap direndahkan hanya karena budaya korupsi yang sudah cukup
akut menjangkiti sistem birokrasi pemerintahan Indonesia. Berbagai kasus-kasus korupsi
setiap harinya muncul di layar kaca sebagai top news. Namun sayangnya, tak satu pun
penyelesaian hukum yang diberikan pada koruptor-koruptor tersebut memberi keadilan bagi
masyarakat.
Kebanyakan kasus-kasus korupsi di Indonesia terhenti di pembaringan rumah sakit,
pengeluaran SP3 dan kalau pun dijatuhi hukuman, sangat tidak memberi keadilan terhadap
masyarakat miskin. Selain sebagai penggadai harga diri bangsa, budaya korupsi yang sudah
cukup mengakar di sistem birokrasi pemerintahan Indonesia juga menjadi biang kebobrokan
ekonomi nasional.
Indonesia menjadi miskin bukan karena Indonesia tidak memiliki berbagai potensi sumber
daya yang bisa dikelola, kemiskinan tersebut tak lain disebabkan kebiasaan para pengelola
negeri ini mengambil uang yang bukan menjadi haknya. Korupsi merajalela dalam berbagai
aspek dan dimensi kehidupan sosial. Yang menjadi korban tentu saja rakyat kecil yang harus
hidup menderita.
Penyebab Korupsi
Ada banyak hal yang menyebabkan kasus-kasus korupsi itu muncul di pikiran para pejabat
sebuah negeri. Bukan hanya orang miskin yang mau melakukan korupsi, bahkan orang yang
sudah kaya raya pun tetap gemar melakukan korupsi. Tentunya dengan jumlah dan porsi yang
lebih besar dibandingkan orang miskin. Berikut ini hal-hal mendasar yang bisa memicu
seseorang untuk melakukan kasus-kasus korupsi;
• Persoalan mental
Ada orang yang sudah kaya raya, sudah memiliki kekayaan yang cukup untuk menghidupi
keluarganya selama tujuh turunan, tapi ternyata orang tersebut ketahuan melakukan korupsi
dengan jumlah ratusan juta hingga milyaran rupiah. Yang jelas menjadi persoalan di sini
adalah mental. Mental orang tersebut bisa dikatakan sebagai mental koruptor.
Berbicara tentang mental tentu saja erat kaitannya dengan hal yang menyangkut keimanan
dan kepercayaan seseorang terhadap agamanya. Bagi seorang muslim yang masih tetap
melakukan kasus-kasus korupsi, bisa dipastikan bahwa ia miskin iman.
Keimanan itu hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang mengetahuinya. Adapun sikap
yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap sesama manusia, boleh jadi merupakan tipuan. Jadi
tak perlu terkejut jika kita melihat sosok yang selama ini kita anggap sebagai seorang figur
yang baik soal keimanannya, tiba-tiba melakukan korupsi. Sebab, manusia merupakan tempat
salah dan lupa, bukan malaikat yang senantiasa sempurna.
• Kurang kesejahteraan hidup
Seseorang miskin yang diangkat dan diberi jabatan, terlebih jika ia tidak memiliki mental
keimanan yang baik, maka akan lebih memungkinkan ia melakukan kasus-kasus korupsi.
Dorongan kebutuhan keluarga yang terus meningkat akan memicu para pejabat untuk mulai
melirik uang-uang yang bukan menjadi haknya.
Terlebih, jika memang jabatan yang ia peroleh tersebut berasal dari kasus korupsi serupa.
Ada orang yang akan masuk kerja rela dengan membayar dengan sejumlah uang ratusan juta
rupiah. Secara logika, tentu saja ia akan berupaya untuk mengembalikan uang yang menjadi
modal awal ia masuk. Dan pengembalian modal yang cepat tak lain melalui cara korupsi.
• Kondisi lingkungan
Lingkungan yang sangat subur dengan budaya korupsi biasanya akan memancing orang yang
masih ragu-ragu untuk melakukan korupsi. Banyak orang yang tadinya tak pandai dan tak
mau melakukan korupsi, setelah berkenalan dan berada di lingkungan yang suka berkorupsi,
ternyata akhirnya juga turut serta melakukan korupsi.

Berita tentang Korupsi

Oleh: AnneAhira.com Content Team


Berita tentang korupsi memang tidak akan pernah habis dibahas. Berita tentang korupsi di
Indonesia sudah menjadi buah bibir yang membosankan, telah menjadi rahasia umum, sudah
menjamur subur hampir di segala area. Mulai dari area seratus perak hingga area miliaran
rupiah.

Berita tentang korupsi tentu saja sudah ada di mana-mana, di seluruh pelosok provinsi di
Indonesia ini. Dari kasus suap, uang tutup mulut, menyogok seseorang untuk menjadi saksi
palsu, menyogok dosen agar diberikan nilai yang tinggi, menyogok rakyat agar dipilih
menjadi bupati, walikota atau gubernur, dan sebagainya. Begitulah dunia zaman sekarang.

Sebagai contoh berita tentang korupsi yang terjadi di Bengkulu juga tidak lepas dengan hal-
hal tersebut. Berita yang sangat membuat kita muak dan mengucapkan sumpah serapah satu
sama lain. Sepanjang tahun, berita yang tetap hangat di Bengkulu adalah berita tentang
penyogokan tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Sekali lagi, itu sudah menjadi rahasia
umum kita semua.

Korupsi di Bengkulu itu sepertinya lebih bergantung pada pemimpinnya. Jika pemimpinnya
amanah, tidak korupsi dana anggaran, maka sepertinya kota Bengkulu tersebut telah lebih
maju dari perkembangannya saat ini.

Apakah semua kejadian memiliki hikmah? Walaupun tindakan korupsi itu memiliki hikmah,
tetap saja korupsi haram dilakukan. Namun, halal bagi jilatan api neraka kelak di yaumul
akhir.

Misalnya, hikmah kasus korupsi di provinsi Bengkulu, yaitu perkembangan pembangunan


kotanya menjadi terhambat. Jika pembangunan terhambat, otomatis provinsi tersebut akan
lebih jauh dari hedonisme yang berefek negatif. Pembangunan kota yang masih setengah
jalan, atau mungkin belum sampai setengahnya, sudah memprihatinkan.

Banyak sekali anak-anak muda yang terjebak dalam kemilau dunia, seperti kebiasaan
clubbing di club malam, berjudi, "mojok" berpacaran di bangku-bangku tempat wisata, dan
lain-lain. Kasus seks para pelajarnya pun telah diteliti, yang menunjukan hasil bahwa pelajar-
pelajar di kota ini telah melakukan hubungan seksual sekitar 30 %. Naudzubillah.
Berita tentang korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan atau oleh siapa saja,
cenderung berdampak pada kehidupan sosial bagi pelaku ataupun keluarganya. Pemberitaan
yang dilakukan membuat bukan saja pelaku, tetapi juga seluruh saudara dan juga kerabat
akan menanggung malu yang besar.
Pada akhirnya berita tentang korupsi ini, diharapkan mampu menjadi pagar dan batasan bagi
pelaku tindak korupsi. Sehingga mereka akan berfikir ulang sebelum melakukannya.
Hukuman Mati Bagi Pelaku Korupsi?

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Korupsi, kolusi, nepotisme dan budaya suap di Indonesia sudah semakin parah dan
memilukan dibanding Negara-negara tetangga. Bahkan dalam kasus korupsi Indonesia selalu
menempati peringkat yang memalukan.
Seperti data Corruption Perception Indeks (CPI) atau Indeks Persepsi Korupsi yang dilansir
oleh 10 organisasi internasional, pada tahun 2010, Indonesia berada di urutan 110 dengan
nilai 2,8. Padahal Negara tetangganya, Singapura bertengger di peringkat 1 dengan nilai
hampir mendekati 10 yakni, 9,3. Brunei 5,5 dan Malaysia 4,4 serta Thailand 3,5.

Hukuman Mati Koruptor


Dalam menangani maraknya kasus korupsi Indonesia perlu menerapkan hukuman mati.
Menurut Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar, hakim tak perlu takut untuk
menjatuhkan hukuman mati bagi terpidana korupsi, karena hal itu sudah diatur dalam
Undang-undang.
Seperti yang termaktub dalam Undang-Undang No. 31/1999 yang kemudian diperbaharui
dengan munculnya UU no. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, koruptor
bisa dihukum mati ketika korupsi dilakukan dalam keadaan Negara yang sedang mengalami
bencana alam atau dilanda krisis. Meskipun pada prakteknya, hingga saat ini belum ada
keberanian hakim yang memvonis koruptor dengan hukuman mati.

Belajar dari China dan Lativia


Sedangkan menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, dalam menangani
akutnya kasus korupsi Indonesia perlu belajar dari Negara lain seperti China dan Lativa.
Kedua Negara ini dinilai berani dalam melakukan revolusi guna menumpas kejahatan korupsi
di negaranya masing-masing.
China menjatuhkan hukuman mati kepada para koruptor dengan memberlakukan kebijakan
pemutihan sebelumnya. Dengan kata lain, semua pejabat China yang pernah melakukan
korupsi sebelum tahun 1998 dianggap bersih dan diputihkan.
Akan tetapi begitu korupsi terjadi satu hari saja setelah pemutihan diberlakukan, pelakunya
langsung dijatuhi hukuman mati. Praktis, hingga tahun 2007 saja, sudah 4.800 orang pejabat
China yang terkena hukuman mati. Kini China termasuk Negara yang bersih dari korupsi.
Sedangkan Latvia menerapkan kebijakan Lustrasi dengan mengeluarkan Undang-undang
Pemotongan Generasi. Melalui pemberlakukan Undang-undang Lustrasi Nasional inilah
seluruh pejabat eselon II diberhentikan dan tokoh politik yang aktif sebelum tahun 1998 juga
dilarang untuk aktif kembali.
Dengan adanya kebijakan Lustrasi, Latvia yang sebelum tahun 1998 dikenal sebagai Negara
yang korup, kini menjadi Negara yang bersih juga dari praktek korupsi.

Perlu terobosan
Belajar dari pengalaman dua Negara di atas, perlukah Indonesia menerapkan kebijakan
sejenis untuk memberantas korupsi yang semakin hari semakin merajalela menggerogoti
tubuh Republik ini.
Meskipun upaya tersebut akan menemui jalan buntu ketika dibenturkan pada problem Hak
Asasi Manusia (HAM) dan tentunya kendala politis yang sering dihadapi.
Betapa pun rumitnya persoalan, yang pasti Indonesia perlu terobosan-terobosan baru agar
hukum memberikan efek jera bagi siapapun yang berniat melakukan korupsi di negeri ini,
termasuk hukum potong tangan jika diperlukan!

Korupsi Yang Membuat Generasi Bangsa Frustasi

Oleh: AnneAhira.com Content Team


Artikel tentang korupsi hampir setiap hari dapat Anda baca dari berbagai media yang terbit.
Artikel yang menyorot perilaku pejabat daerah sampai pusat yang menyalahgunakan
wewenangnya dengan tujuan memperkaya diri sendiri sangat mudah Anda temukan.
Sepertinya korupsi dikalangan pejabat adalah hal yang wajar dan biasa. Mereka tahu hal apa
yang akan diterima sebagai konsekuensi korupsi. Yang terjadi malah pejabat seakan
berlomba melakukan tindak korupsi.
Korupsi
Artikel tentang korupsi ini memaparkan secara jelas bahwa korupsi adalah suatu
penyalahgunaan wewenang atau jabatan dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri.
Korupsi juga bisa diartikan sebagai tindakan menyelewengkan uang rakyat atau negara.
Perilaku korupsi yang dilakukan pejabat ini sangat meresahkan dan merugikan rakyat.
Tingkat korupsi sangat tinggi terjadi di Indonesia, hal ini disebabkan karena masih lemahnya
penegakan hukum di Indonesia. Sanksi hukum yang diberikan pada pelaku korupsi masih
terlalu ringan sehingga tidak segan pada pejabat yang lainnya untuk meniru perilaku korupsi.
Dampak Korupsi
Banyaknya berita dan artikel tentang korupsi yang Anda ikuti dari berbagai media bukan
tanpa makna. Makna dari berita korupsi tersebut adalah penderitaan bagi seluruh rakyat
Indonesia.
• Gara-gara korupsi pembangunan banyak terhambat.
• Sarana parsarana yang merupakan fasilitas rakyat yang penting tidak dapat dinikmati
bahkan belum dapat diwujudkan dengan baik.
• Kesejahteraan yang seharusnya menjadi hak rakyat belum dapat diwujudkan sampai dengan
saat ini. Kemiskinan masih akrab dengan sebagian rakyat Indonesia.
• Pendidikan belum bisa dinikmati secara merata oleh anak Indonesia. Akses kesehatan
murah dan berkualitas belum dapat menjangkau seluruh rakyat.
Secara umum korupsi benar-benar melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat
Indonesia .
Korupsi Mencederai Hati Rakyat
Korupsi besar-besaran yang dilakukan para pejabat negara, atau mereka yang mendapat
amanah menjadi pemimpin di Indonesia, sepertinya benar-benar sulit di hilangkan.
Bagaimana tidak, ketika era pemerintahan orde baru, faktor utama yang mendorong
terjadinya reformasi adalah KKN ( korupsi,Kolusi dan nepotisme).
Saat ini sudah sekian tahun masa reformasi berjalan, namun tanda-tanda perilaku buruk yang
terjadi di masa orde baru yaitu KKN belum berkurang. Korupsi masih tinggi terjadi meskipun
upaya pemberantasan korupsi juga sudah dilakukan.
Disisi lain penegakan hukum masih lemah, serta masih banyaknya oknum aparat penegak
hukum dan oknum di kepolisian yang tega bermain-main, dengan memperjual belikan hukum
yang secara jelas ini mencederai hati rakyat.
Melihat kondisi pembangunan di Indonesia belum berjalan dengan baik ini gara-gara korupsi
bisa membuat generasi bangsa frustasi. Bagaimana tidak frustasi jika semua hal macet gara-
gara dikorupsi dan mereka yang korupsi ternyata tidak mendapat sanksi tegas yang sebanding
dengan kesalahan yang dilakukan.
Upaya Pemberantasan Korupsi
Korupsi yang terjadi besar-besaran dan terus menerus, yang terjadi di Indonesia bukan berarti
tidak dicari solusi yang paling jitu. Namun yang terjadi adalah mereka yang harusnya
menjadi pemberantas korupsi ternyata juga ikut terjun menjadi koruptor.
Upaya pemberantasan korupsi juga dilakukan, salah satunya adalah mulai diberikannya
pendidikan anti korupsi sejak dini yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Masih banyak
Anda temui dalam artikel tentang korupsi, berarti masih banyak kegagalan pendidikan anti
korupsi di sekolah-sekolah.
Kegagalan memberikan pendidikan anti korupsi dapat dilihat dari program kantin kejujuran
di sekolah, yang ternyata masih belum membuahkan hasil. Kegagalan dalam pendidikan anti
korupsi di Indonesia terjadi karena miskinnya keteladanan yang diberikan para pemimpin,
orang tua maupun guru