Anda di halaman 1dari 22

BERFIKIR KRITIS

Tujuan :
Mahasiswa diharapkan mampu berfikir kritis dalam melakukan asuhan
keperawatan.
A. Pengertian Berfikir Kritis
Berfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu
dituntut untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk
membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan,
menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman (Pery & Potter, 2005).
Menurut Bandman dan Bandman (1988), berpikir kritis adalah pengujian
secara rasional terhadap ide-ide, kesimpulan, pendapat, prinsip, pemikiran,
masalah, kepercayaan dan tindakan.
Proses berpikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan
keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang
kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, ide-ide dan
membuat kesimpulan yang valid, semua proses tersebut tidak terlepas dari
sebuah proses berpikir dan belajar.
Berfikir kritis dalam keperawatan adalah komersial untuk
keperawatan profesional karena cara berfikir ini terdiri dari atas pendekatan
holistik untuk pemecahan masalah.
B. Metode Berfikir Kritis
Menurut Freely, ada 7 metode Critical Thinking.
1. Debate : Metode yang digunakan untuk mencari, membantu, dan
merupakan keputusan yang beralasan bagi seseorang atau kelompok
dimana dalam proses terjadi perdebatan atau argumentasi.
2. Individual decision : Individu dapat berdebat dengan dirinya sendiri
dalam proses mengambil keputusan.
3. Group discussion : Sekelompok orang memperbincangkan suatu
masalah.
4. Persuasi : Komunikasi yang berhubungan dengan mempengaruhi
perbuatan, keyajinan, sikap, dan nilai-nilai orang lain melalui berbagai

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


alasan, argument, atau bujukan. Debat dan iklan adalah dua bentuk
persuasi.
5. Propoganda : Komunikasi dengan menggunakan berbagai media yang
sengaja dipersiapkan untuk mempengaruhi massa pendengar.
6. Coercion : Mengancam atau menggunakan kekuatan dalam
berkomunikasi untuk memaksakan suatu kehendak.
7. Kombinasi beberapa metode.
C. Karakteristik Berfikir Kritis
Karakteristik berpikir kritis adalah :

1. Konseptualisasi
Konseptualisasi artinya proses intelektual membentuk suatu konsep.
Sedangkan konsep adalah fenomena atau pandangan mental tentang
realitas, pikiran-pikiran tentang kejadian, objek, atribut, dan sejenisnya.
Dengan demikian konseptualisasi merupakan pikiran abstrak yang
digeneralisasi secara otomatis menjadi simbol-simbol dan disimpan
dalam otak.
2. Rasional dan beralasan
Artinya argumen yang diberikan selalu berdasarkan analisis dan
mempunyai dasar kuat dari fakta fenomena nyata.
3. Reflektif
Artinya bahwa seorang pemikir kritis tidak menggunakan asumsi atau
persepsi dalam berpikir atau mengambil keputusan tetapi akan
menyediakan waktu untuk mengumpulkan data dan menganalisisnya
berdasarkan disiplin ilmu, fakta dan kejadian.
4. Bagian dari suatu sikap
Yaitu pemahaman dari suatu sikap yang harus diambil pemikir kritis
akan selalu menguji apakah sesuatu yang dihadapi itu lebih baik atau
lebih buruk dibanding yang lain.
5. Kemandirian berpikir
Seorang pemikir kritis selalu berpikir dalam dirinya tidak pasif
menerima pemikiran dan keyakinan orang lain menganalisis semua isu,
memutuskan secara benar dan dapat dipercaya.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


6. Berpikir adil dan terbuka
Yaitu mencoba untuk berubah dari pemikiran yang salah dan kurang
menguntungkan menjadi benar dan lebih baik.
7. Pengambilan keputusan berdasarkan keyakinan
Berpikir kritis digunakan untuk mengevaluasi suatu argumentasi dan
kesimpulan, mencipta suatu pemikiran baru dan alternatif solusi
tindakan yang akan diambil.
D. Proses Berfikir Kritis
1. Mengenali masalah (defining and clarifying problem), meliputi
mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok, membandingkan
kesamaan dan perbedaan-perbedaan, memilih informasi yang relevan,
merumuskan masalah.
2. Menilai informasi yang relevan yang meliputi menyeleksi fakta maupun
opini, mengecek konsistensi, mengidentifikasi asumsi, mengenali
kemungkinan emosi maupun salah penafsiran kalimat, mengenali
kemungkinan perbedaan orientasi nilai dan ideologi.
3. Pemecahan masalah atau penarikan kesimpulan yang meliputi
mengenali data-data yang diperlukan dan meramalkan konsekuensi
yang mungkin terjadi dari keputusan/pemecahan masalah/kesimpulan
yang diambil.
E. Berfikir Kritis dalam Keperawatan
Berfikir meliputi proses yang tidak statis, berubah setiap saat.
Berfikir kritis dalam keperawatan adalah komponen dasar dalam
pertanggunggugatan profesional dan kualitas asuhan keperawatan. Berpikir
kritis merupakan jaminan yang terbaik bagi perawat mencapai sukses dalam
berbagai aktifitas dan merupakan suatu penerapan profesionalisme serta
pengetahuan tekhnis atau keterampilan tekhnis dalam memberikan asuhan
keperawatan.
Proses berpikir kritis meliputi memahami, mengevaluasi,
mempertanyakan maupun menjawab, membangun pertanyaan yang
merupakan pemicu proses berkelanjutan untuk mencari jawaban dngan
kemungkinan ada jawaban atau tidak terdapat jawaban.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


Perawat setiap hari mengambil keputusan. Perawat menggunakan
keterampilan berpikir kritis dalam berbagai cara :
1. Perawat menggunakan pengetahuan dari berbagai subjek dari
lingkungannya.
2. Perawat menangani perubahan yang berasal dari stressor lingkungan.
3. Perawat penting membuat keputusan
Beberapa tahun yang lalu ditemukan bahwa berpikir kritis dalam
keperawatan diperlukan untuk mengeksplorasi. Berpikir kritis dalam
keperawatan adalah komponen dasar dalam pertanggunggugatan
professional dan kualitas asuhan keperawatan. Pemikir kritis dalam
keperawatan menunjukkan kebiasaan perasaan : percaya diri, kontekstual
perspektif, kreatifitas, fleksibilitas, ingin tahu, intuisi, keterbukaan, tekun,
refleksi.
F. Manfaat Berfikir Kritis dalam Keperawatan
Berikut ini merupakan manfaat berpikir kritis dalam keperawatan
adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan proses berpikir kritis dalam aktifitas keperawatan sehari-
hari.
2. Membedakan sejumlah penggunaan dan isu-isu dalam keperawatan
3. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah keperawatan.
4. Menganalisis pengertian hubungan dari masing-masing indikasi,
penyebab dan tujuan, serta tingkat hubungan.
5. Menganalisis argumen dan isu-isu dalam kesimpulan dan tindakan yang
dilakukan.
6. Menguji asumsi-asumsi yang berkembang dalam keperawatan.
7. Melaporkan data dan petunjuk-petunjuk yang akurat dalam
keperawatan.
8. Membuat dan mengecek dasar analisis dan validasi data keperawatan.
9. Merumuskan dan menjelaskan keyakinan tentang aktifitas keperawatan.
10. Memberikan alasan-alasan yang relevan terhadap keyakinan dan
kesimpulan yang dilakukan.
11. Merumuskan dan menjelaskan nilai-nilai keputusan dalam keperawatan.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


12. Mencari alasan-alasan kriteria, prinsip-prinsip dan aktifitas nilai-nilai
keputusan.
13. Mengevaluasi penampilan kinerja perawat dan kesimpulan asuhan
keperawatan.
G. Model Berfikir Kritis
Costa, dkk (1985) mengidentifikasi model berfikir kritis :
1. Remembering : Menggunakan pengalaman masa lalu untuk
mendekati pikiran saat ini.
2. Repeating : Semakin sering menggunakan cara berpikir kritis dalam
menghadapi setiap persoalan kehidupan sehingga memudahkan
mengambil keputusan.
3. Reasoning : berpikir kritis yaitu pengambilan keputusan atas dasar
pertimbangan yang akurat serta penentuan pilihan atas alternative yang
ditetapkan.
4. Reorganizing : Mengorganisasi kembali terhadap apa yang
sementara menjadi focus perhatian untuk mengidentifikasi secara tepat
terhadap fenomena yang menjadi perhatian utama.
5. Relating : Menghubungkan dan menemukan relasi diantara
fenomena yang dipikirkan.
6. Reflecting : Menunda dalam pengambilan keputusan dengan tujuan
menganalisa kembali secara hati-hati akan apa yang telah
dipertimbangkan.
H. Model Berfikir Kritis dalam Keperawatan
Dalam penerapan pembelajaran berpikir kritis di pendidikan
keperawatan, dapat digunakan tiga model, yaitu sebagai berikut :
1. Feeling Model
Model ini menekankan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang
ditemukan. Pemikir kritis mencoba mengedepankan perasaan dalam
melakukan pengamatan, kepekaan dalam melakukan aktifitas
keperawatan, dan perhatian. Misalnya terhadap aktifitas dalam
pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala, petunjuk, dan
perhatian kepada pernyataan serta pikiran klien.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


2. Vision Model
Model ini digunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi
dan menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis,
dugaan, dan ide tentang permasalahan perawatan kesehatan klien.
Berpikir kritis ini digunakan untuk mencari prinsip-prinsip pengertian
dan peran sebagai pedoman yang tepat untuk merespon ekspresi.
3. Examine Model
Model ini digunakan untuk merefleksi ide, pengertian, dan visi. Perawat
menguji ide dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini digunakan
untuk mencari peran yang tepat untuk analisis, mencari, menguji,
melihat, konfirmasi, kolaborasi, menjelaskan, dan menentukan sesuatu
yang berkaitan dengan ide.
I. Bentuk-Bentuk Berfikir Kritis
1. Berbagai asumsi berfikir
a. Bahwa berpikir, perasaan, dan berbuat adalah semua komponen
dasar keperawatan yang diharapakan yang dikerjakan bersama dan
sejalan.
b. Bahwa berpikir, berperasaan, berbuat adalah sesuatu yang tidak
dapat dipisahkan dalam seluruh kehidupan praktek keperawatan.
c. Bahwa perawat dan mahasiswa keperawatan adalah dua yang
berbeda, tetapi keduanya dating dengan berbagai keterampilan
berfikir dalam keperawatan.
d. Bahwa upaya mengembangkan cara berfikir adalah upaya yang
disengaja yang dapat dipertimbangkan dan dipelajari.
e. Banyak mahasiswa keperawatan dan perawat menemukan kesulitan
untuk menggambarkan keterampilan berfikirnya. Jarang dari
mereka bertanya bagaimana berfikir, dan hanya biasanya bertanya
apa yang mereka fikirkan.
f. Berpikir kritis dalam keperawatan hamper sama bila kita berfikir
melakukan kegiatan yang sesuai dengan konteks situasi dimana
berfikir terjadi.
2. Bentuk Berfikir ( T H I N K )

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


a. Total Recall : mengingat fakta-fakta atau mengingatkan dimana
dan mengapa kita menemukan sesuatu yang diperlukan
b. Habits : kebiasaan memungkinkan sesuatu dikerjakan tanpa
mempunyai metode yang baru yang digunakan setiap saat
c. Inguiry : menguji isu-isu secara mendalam dan pertanyaan yang
segera menjadi suatu kenyataan. Inguiry adalah cara berfikir yang
utama yang digunakan guna mengambil keputusan.
d. New Idea and creativity : ide yang baru dan kreatifitas adalah
merupakan hal yang penting dalam keperawatan sebab merupakan
akar yang perlu dikembangkan dalam memberikan asuhan
keperawatan.
e. Knowing How you think : berpikir dapat disebut sebagai
metacognition. Meta artinya diantara atau ditengah, cognition
artinya proses mengetahui. Jika perawat berada dalam suatu
proses mengetahui, maka perawat akan dapat mengetahui apa
yang dipikirkan.
J. Penerapan Berfikir Kritis dalam Keperawatan
Ada 4 hal pokok penerapan berfikir kritis dalam keperawatan, yaitu :
1. Penggunaan bahasa dalam keperawatan
Berfikir kritis adalah kemampuan menggunakan bahasa secara
reflektif. perawat menggunakan bahasa verbal dan nonverbal dalam
mengekspresikan idea, fikiran, info, fakta, perasaan, keyakinan dan
sikapnya terhadap klien, sesama perawat, profesi. Secara nonverbal
saat melakukan pedokumentasian keperawatan. Dalam hal ini
berfikir kritis adalah kemampuan menggunakan bahasa secara
reflektif. Lima macam penggunaan bahasa dalam konteks berfikir
kritis :
a. Memberikan informasi yang dapat diklarifikasi (informative use
of language)
b. Mengekspresikan perasaan dan sikap (expressive use of
language)

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


c. Melaksanakan perencanan keperawatan atau ide-ide dalam
tindakan keperawatan (directive use of language)
d. Mengajukan pertanyaan dalam rangka mencari informasi,
mengekspresikan keraguan dan keheranan (interrogative use of
language)
e. Mengekspresikan pengandaian (conditional use of language)
2. Argumentasi dalam keperawatan
Sehari-hari perawat dihadapkan pada situasi harus berargumentasi
untuk menemukan, menjelaskan kebenaran, mengklarifikasi isu,
memberikan penjelasan, mempertahankan terhadap suatu
tuntutan/tuduhan. Badman and Badman (1988) argumentasi terkait
dengan konsep berfikir dalam keperawatan berhubungan dengan
situasi perdebatan, upaya untuk mempengaruhi individu ataupun
kelompok.
3. Pengambilan keputusan
Dalam praktek keperawatan sehari-hari, perawat selalu dihadapkan
pada situasi dimana harus mengambil keputusan dengan tepat. Hal
ini dapat terjadi dalam interaksi teman sejawat profesi lain dan
terutama dalam penyelesaian masalah manajemen di ruangan.
4. Penerapan dalam proses keperawatan
a. Pengkajian : mengumpulkan data, melakukan observasi dalam
pengumpulan data berfikir kritis, mengelola dan
mengkatagorikan data menggunakan ilmu-ilmu lain.
b. Perumusan diagnosa keperawatan : tahap pengambilan
keputusan yang paling kritis, menentukan masalah dan dengan
argumen yaitu secara rasional.
c. Perencanaan keperawatan : menggunakan pengetahuan untuk
mengembangkan hasil yang diharapkan, keterampilan guna
mensintesa ilmu yang dimiliki untuk memilih tindakan.
d. Pelaksanaan keperawatan : pelaksanaan tindakan keperawatan
adalah keterampilan dalam menguji hipotesa, tindakasn nyata
yang menentukan tingkat keberhasilan.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


e. Evaluasi keperawatan : mengkaji efektifitas tindakan, perawat
harus dapat mengambil keputusan tentang pemenuhan
kebutuhan dasar klien.
K. Faktor yang Mempengaruhi Berfikir Kritis
1. Kondisi Fisik
2. Keyakinan/motivasi
3. Kecemasan
Adalah keadaan emosional yang ditandai dengan kegelisahan dan
ketakutan terhadap kemungkinan bahaya/kemalangan/nasib
buruk.Jika terjadi ketegangan hipotalamus dirangsang dan
mengirim impuls untuk menggiatkan mekanisme simpatis dan
adrenal yang mempersiapkan tubuh untuk bertindak.Kelelahan
terjadi apabila penyebab ketegangan keras sehingga pertahanan
tubuh menurun. Tingkat kecemasan terdiri dari :
a. Cemas Ringan : yang ditandai dengan meningkatnya
kesadaran, terangsang untuk melakukan tindakan, termotivasi
secara positif, sedikit mengalami peningkatan tanda vital.
b. Cemas Sedang : yang ditandai dengan kondisi lebih tegang,
menurunnya konsentrasi dan persepsi, sadar tetapi fokusnya
sempit, sedikit mengalami peningkatan tanda vital, gejala fisik
berkembang seperti sakit kepala, sering berkemih, mual,
papitasi (jantung berdebar) dan letih.
c. Cemas Berat : ditandai dengan persepsi menjadi terganggu,
perasaan tentang terancam ketakutan meningkat, komunikasi
menjadi terganggu, mengalami peningkatan tanda vital lebih
dramatis, terjadi gejala diare, nyeri dada dan muntah.
d. Panic : ditandai dengan perasaan terancam, gangguan realitas,
dapat membahayakan diri sendiri/orang lain, kombinasi dari
gejala fisik bisa lebih buruk jika tidak segera diatasi.
Reaksi terhadap kecemasan dapat bersifat :
a. Konstruktif
1) Memotivasi individu untuk belajar

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


2) Mengadakan perubahan terutama perubahan pada
perasaan yang tidak nyaman
3) Berfokus pada kelangsungan hidup
b. Destruktif
1) Menimbulkan tingkah laku yang mal adaptive
2) Disfungsi yang menyangkut kecemasan berat/panic
L. Pengambilan Keputusan
1. Definisi
Pengambilan keputusan adalah bagian kunci kegiatan manajer.
Kegiatan ini memegang peranan penting terutama bila manajer
melaksanakan fungsi perencanaan. Dalam proses perencanaan, manajer
memutuskan tujuan-tujuan organisasi yang akan dicapai, sumber daya
yang akan digunakan, dan siapa yang akan melaksanakan tugas tersebut
(Handoko, 2009).
Menurut Gibson dkk (1997) dalam Sumijatun (2009) keputusan
merupakan tanggapan manajer terhadap permasalahan. Setiap keputusan
adalah akibat dari proses dinamis yang dipengaruhi oleh banyak kekuatan
termasuk lingkungan organisasi dan pengetahuan, kecakapan dan motivasi
manajer. Pengambilan keputusan adalah proses pemikiran dan
pertimbangan yang mendalam, dan proses yang melibatkan pendekatan
sistematik dengan langkah-langkah yang berurutan.
Pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang kompleks
dan sering didefinisikan sebagai suatu upaya memutuskan serangkaian
tindakan tertentu. Pengambilan keputusan sering dianggap sinonim dengan
manajemen (Marquis & Huston, 2010).6
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan
keputusan adalah suatu proses berpikir dalam menentukan pilihan terbaik
untuk menyelesaikan suatu masalah dengan langkah-langkah yang
berurutan.
2. Model Pengambilan Keputusan
a. Model Normatif

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


Menurut Swanburg (2000) model normatif untuk pembuatan keputusan
ini tidak realistis karena asumsinya jelas memilih diantara alternative
yang teridentifikasi. Ada tujuh langkah untuk membuat keputusan
dalam model analisis ini: a) menemukan dan menganalisis masalah, b)
mengidentifikasi semua alternatif yang memungkinkan, c)
mengevaluasi pro dan kontra dari masing-masing alternatif, d)
mengurutkan alternatif, e) memilih alternative yang dapat
memaksimalkan kepuasaan, f) pelaksanaan, g) evaluasi.
b. Model Pohon Keputusan
Vroom menggunakan jawaban untuk tujuh pertanyaan diagnostik
dalam bentuk pohon keputusan untuk mengidentifikasi tipe-tipe gaya
kepemimpinan yang digunakan dalam model manajemen pembuatan
keputusan. Pertanyaan berfokus pada perlindungan kualitas dan
penerimaan keputusan dan kesesuaian yang adekuat dari informasi, 7
keseuaian tujuan, struktur masalah, penerimaan oleh subordinat,
konflik, keadilan, dan prioritas implementasi (Swanburg, 2000).
c. Model Deskriptif
Simon mengembangkan model ini didasarkan pada asumsi bahwa
pembuat keputusan adalah seseorang yang melihat masalah secara
rasional dalam membuat solusi yang bisa dilakukan yang didasarkan
pada informasi yang diketahuinya. Model ini dapat digunakan untuk
membuat berbagai keputusan yang informasinya tidak lengkap
diakibatkan karena keterbatasan waktu, uang, atau orang dan
kenyataan bahwa orang tidak selalu memilih yang paling baik
(Swanburg, 2000). Ada lima langkah pengambilan keputusan dalam
model dekripsi: a) menetapkan tujuan yang dapat diterima, b)
menguraikan persepsi subjektif tentang masalah, c) mengidentifikasi
alternatif yang bisa diterima, d) mengevaluasi setiap alternatif, e)
menyeleksi alternatif, f) menerapkan keputusan, g) evaluasi
(Swanburg, 2000).

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


3. Langkah-langkah Pengambilan Keputusan
Manajemen keperawatan membutuhkan keputusan yang dibuat oleh
perawat manajer pada setiap tingkatan bagian dibangsal atau unit
(Swanburg, 2000). Banyak waktu manajer dihabiskan untuk mengkaji isu,
menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan secara kritis. Kualitas 8
keputusan yang dibuat oleh pemimpin atau manajer merupakan faktor
yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan atau kegagalan mereka
(Marquis & Huston, 2010). Marquis & Huston (2010) menyebutkan untuk
meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, perlu digunakan
model proses yang adekuat sebagai dasar teori untuk memahami dan
mengaplikasikan keterampilan berpikir kritis. Ada lima langkah kritis
dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, yaitu:
a. Penetapan tujuan; Penetapan tujuan harus jelas dan konsisten dengan
pernyataan filosofi individu atau organisasi. Jika aspek tersebut tidak
terpenuhi, maka kemungkinan keputusan yang dibuat berkualitas
buruk. Handoko (2009) mengemukakan hal pertama yang harus
dilakukan seorang manajer adalah menemukan dan memahami
masalah untuk diselesaikan agar perumusan masalah menjadi jelas.
b. Mengumpulkan data secara cermat; Setelah manajer menentukan atau
merumuskan masalah dan tujuan, manajer harus menentukan data-data
yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat (Handoko,
2009). Pengumpulan data dimulai dengan mengidentifikasi masalah
atau kesempatan untuk mengambil keputusan dan berlanjut ke proses
penyelesaian masalah. Ketika mengumpulkan informasi, manajer
harus berhati-hati agar data yang dimilikinya dan orang lain tidak
salah fakta (Marquis & Huston, 2010).
c. Membuat banyak alternatif; Semakin banyak alternatif yang dapat
dibuat dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan,
semakin besar kesempatan menghasilkan keputusan akhir. Dengan
tidak membatasi hanya pada satu alternatif yang jelas, orang akan
mampu untuk menerobos pola kebiasaan atau pengekangan berpikir

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


dan memungkinkan munculnya gagasan baru (Merquis & Huston,
2010). Menurut Handoko (2009) setelah membuat alternatif
keputusan, manajer harus mengevaluasi alternatif tersebut untuk
menilai keefektifitasannya, dan langkah selanjutnya adalah memilih
alternatis terbaik yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan.
d. Berpikir logis; Selama proses penyelesaian masalah, seseorang harus
menarik inferensi (simpulan) informasi dan mempertimbangakan
informasi serta alternatif secara cermat. Kesalahan berlogika pada titik
ini akan mengarahkan pada kualitas keputusan yang buruk. Ada
beberapa cara berpikir yang tidak logis, seperti: terlalu
menggeneralisasi, afirmasi konsekuensi, dan berargumen dengan
analogi (Marquis & Huston, 2010).
e. Memilih dan bertindak secara efektif; Mengumpulkan informasi yang
adekuat, berpikir logis, memilih diantara banyak alternatif, dan
memahami pengaruh nilai-nilai individu tidaklah cukup. Dalam
analisis akhir, seseorang harus bertindak. Banyak orang yang menunda
untuk bertindak karena mereka kurang berani untuk menghadapi
konsekuensi pilihan yang mereka ambil (Marquis & Huston, 2010).
Pada tahap ini manajer perlu memperhatikan berbagai resiko dan
ketidakpastian sebagai konsekuensi keputusan yang telah dibuat,
karena dengan mengambil langkah tersebut manajer dapat
menentukan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk menanggulangi
hambatan dan tantangan yang akan terjadi (Handoko, 2009).

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


RANGKUMAN

Berfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu


dituntut untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk
membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan,
menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman
Karakteristik berpikir kritis meliputi Konseptualisasi, Rasional dan
beralasan, Reflektif, Bagian dari suatu sikap, Kemandirian berpikir, Berpikir
adil dan terbuka, Pengambilan keputusan berdasarkan keyakinan

Dalam penerapan pembelajaran berpikir kritis di pendidikan


keperawatan, dapat digunakan tiga model, yaitu sebagai berikut Feeling
Model, Vision Model, Examine Model

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


KONSEP ASPEK PHYSICAL EXAMINATION BERDASAR
POLA FUNGSI KESEHATAN
Tujuan
Setelah mengikuti materi ini, mahasiswa dapat melakukan pengkajian
keperawatan dengan menggunakan pendekatan pola kesehatan fungsional
(Gordon).
A. Pengkajian
1. Pengertian Pengkajian
Pengkajian keperawatan didefinisikan sebagai pemikiran dasar
dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan
informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi,
mengenali masalah- masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan
(Effendy, 1995)
2. Tahap pengkajian
Kegiatan utama dalam tahap pengkajian adalah pengumpulan data,
pengelompokan data, dan analisis data guna perumusan diagnosis
keperawatan. Pengumpulan data merupakan aktivitas perawat
dalam mengumpulkan informasi yag sistemik tentang klien.
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah mengumpulkan
informasiyang sistemik tentang klien termasuk kekuatan dan
kelemahan klien. Data dikumpulkan dari klien, keluarga, orang
terdekat, masyarakat, grafik rekam medic. Klien adalah sumber
informasi primer, sumber data yang asli. Sumber informasi
sekunder terdiri dari data yang sudah ada atau dari orang lain
selain klien. Sumber-sumber sekunder meliputi catatan
kesehatan klien, laporan dari laboratorium dan tes diagnostik,
keluarga, orang terdekat, masyarakat dan anggota tim
kesehatan. Metode utama yang dapat digunakan dalam
pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan
pemeriksaan fisik.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


1) Wawancara
Wawancara atau interviu merupakan metode pengumpulan
data secara langsung antara perawat dank lien. Disini
perawast mendapatkan respon langsung dari klien melalui
tatap muka dan pertanyaan yang diajukan. Data
wawancara adalah semua ungkapan klien, tenaga
kesehatan, atau orang lain yang berkepentingan termasuk
keluarga, teman, dan orang terdekat klien.
2) Observasi
Merupakan metode pengumpulan data melalui
pengamatan visual dengan menggunakan panca-indra.
Kemampuan melakukan observasi merupakan ketrampilan
tingkat tinggi yang memerlukan banyak latihan. Unsur
terpenting dalam observasi adalah mempertahankan
objektivitas penilaian. Mencatat hasil observasi secara
khusus tentang apa yang dilihat, dirasa, didengar, dicium,
dan dikecap akan lebih akurat dibandingkan mencatat I
nterpretasi seseorang tentang hal tersebut.
3) Pemeriksaan
Pemeriksaan menurut Carol V.A (1991) adalah
proses inspeksi tubuh dan sistem tubuh guna menentukan
ada/tidaknya penyakit yang didasrkan pada hasil
pemeriksaan fisik dan laboratorium. Pemerksaan fisik
berfokus pada respon klien terhadap masalah kesehatan
yang dialaminya.
b. Pengelompokan data
1) Data objektif didasarkan pada fenomena yang dapat diamati
secara factual. Dengan kata lain, data tersebut dapat diamati
atau diukur melalui indra perawat : disebut juga sebagai
tanda
2) Data subjektif menunjukkan persepsi dan sensasi klien
terkait masalah kesehatannya. Data subjektif merupakan
informasi yang disampaikan klien kepada perawat selama

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


intervie yang disebut juga sebagai gejala.
c. Analisis data
Setelah data hasil pengkajian dikelompokkan, kita dapat
mulai melakukan validasi data, yaitu membandingkan data
subjektif dan data objektif dengan standar atau nilai normal
yang baku. Standar atau nilai normal yang baku. Standar atau
nilai tersebut merupakan aturan atau ukuran yang lazim
dipakai. (Asmadi. 2008)
3. Model dalam Pengkajian Keperawatan
a. Gordon (1982) :
1) Pola Kesehatan
Menggambarkan pola pemahaman klien tentang kesehatan,
kesejahteraan, dan bagaimana kesehatan mereka diatur.
2) Pola metabolik – nutrisi
Menggambarkan konsumsi relatif terhadap kebutuhan
metabolik dan suplai gizi : meliputi pola konsumsi
makanan dan cairan, keadaan kulit, rambut, kuku dan
membran mukosa, suhu tubuh, tinggi dan berat badan.
3) Pola eliminasi
Menggambarkan pola fungsi ekskresi (usus besar, kandung
kemih, dan kulit), termasuk pola individu seharihari,
perubahan atau gangguan, dan metode yang digunsksn
untuk mengendalikan ekskresi.
4) Pola aktivitas – Olahraga
Menggambarkan pola olahraga, aktivitas, pengisian waktu
senggang, dan rekreasi ; termasuk aktivitas kehidupan
sehari-hari, tipe dan kualitas olahraga, dan faktor-faktor
yang mempengaruhi pola aktivitas (seperti otot-saraf,
respirasi, dan sirkulasi)
5) Pola tidur - istirahat
Menggambarkan pola tidur, istirahat, relaksasi dan setiap
bantuan untuk merubah pola tersebut.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


6) Pola persepsi – kognitif
Menggambaekan pola persepsi-sensori dan pola kognitif ;
meliputi keadekuatan bentuk sensori (penglihatan,
pendengarsn, perabaan, pengecapan, dan penghidu),
pelaporan mengenai persepsi nyeri, dan kemampuan
fungsi kognitif.
7) Pola persepsi diri-konsep diri
Menggambarkan bagaimana seseorang memandang dirinya
sendiri ; kemampuan mereka, gambaran diri, dan perasaan.
8) Pola Hubungan peran
Menggambarkan pola keterikatan peran dengan
hubungan ; meliputi persepsi terhadap peran utama dan
tanggung jawab dalam situasi kehidupan saat ini.
9) Pola Reproduksi – seksualitas
Menggambarkan kepuasan atau ketidakpuasan dalam
seksualitas ; termasuk status reproduksi wanita, pada anak-
anak bagaimana dia mampu membedakan jenis kelamin dan
mengetahui alat kelaminnya.
10) Pola koping - toleransi stress
Menggambarkan pola koping umum, dan keefektifan
ketrampilan koping dalam mentoleransi stress.
11) Pola nilai dan keyakinan
Menggambarkan pola nilai, tujuan atau kepercayaan
(termasuk kepercayaan spiritual) yang mengarahkan pilihan
dan keputusan gaya hidup.
(Patricia, 1996)
b. Model Roy`s (1984) : Model adaptasi :
1) Kebutuhan fisiologis
Komponen sistem adaptasi ini yang adaptasi fisiologis
diantaranya :
a) Aktivitas dan istirahat
Menggambarkan pola aktivitas, latihan, istirahat dan

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


tidur.
b) Nutrisi
Menggambarkan pola penggunaan nutrient untuk
memperbaiki kondisi tubuh dan perkembangan.
c) Eliminasi
Menggambarkan pola eliminasi
d) Cairan dan elektrolit
Menggambarkan pola fisiologis penggunaan
cairan dan elektrolit
e) Oksigen
Menggambarkan pola penggunaan oksigen
berhubungan dengan respirasi dan sirkulasi.
f) Indera
Menggambarkan fungsi sensori perceptual
berhubungan dengan panca indera
g) Integritas kulit.
Menggambarkan pola fungsi fisiologis kulit.
h) Fungsi endokrin
Menggambarkan pola control dan pengaturan termasuk
respon stress dan system reproduksi.
i) Fungsi neurologis.
Menggambarkan pola kontrol neurologist,
pengaturan dan intelektual
2) Konsep diri
Untuk mengetahui bagaimana seseorang mengenal pola-
pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain,
mengidentifikasi pola nilai, kepercayaan dan emosi yang
berhubungan dengan ide sendiri. perhatian ditunjukkan
pada kenyataan keadaan diri sendiri tentang fisik, individual
dan moral- etik.
3) Fungsi peran
Merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola
interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain
akibat dari peran ganda.
4) Interdependent
Merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola
tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui
hubungan secara interpersonal pada tingkat individu
maupun kelompok.
c. Model Orem (1985) : Self-care / kemandirian klien dalam
merawat dirinya sendiri :
1) Pemenuhan kebutuhan oksigen
2) Pemenuhan kebutuhan cairan
3) Pemenuhan kebutuhan nutrisi
4) Pemenuhan kebutuhan eliminasi
5) Keseimbangan aktivitas dan istirahat
6) Sosial
7) Pencegahan
8) Promosi
d. Doengoes :
1) Aktivitas / istirahat : Kemampuan untuk ikut serta dalam
aktivitas kehidupan yang perlu/diinginkan dan untuk
mendapatkan istirahat/tidur.
2) Sirkulasi Kemampuan untuk mentranspor oksigen dan
nutrisi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
selular.
3) Integritas ego Kemampuan untuk mengembangkan
dan menggunakan ketrampilan serta perilaku untuk
mengintegrasikan dan menangani pengalaman hidup.
4) Eliminasi Kemampuan untuk mengeluarkan produk sisa.
5) Makanan dan cairan Kemampuan untuk mempertahankan
masukan dan menggunakan nutrient dan cairan untuk
memenuhi kebutuhan- kebutuhan fisiologi.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


6) Hygiene Kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan
sehari- hari.
7) Neurosensori Kemampuan untuk menerima,
mengintegrsikan dan merespon terhadap isyarat internal
dan eksternal.
8) Nyeri / ketidaknyamanan Kemampuan untuk mengontrol
nyeri.
9) Pernafasan Kemampuan untuk menyediakan dan
menggunakan oksigen.
10) Keamanan
11) Seksualitas
12) Interaksi sosial
13) Penyuluhan / pembelajaran
(Doenges,2000)
e. FITZ PATRICK (1991) : Pola respon manusia :
1) Memilih : memilih di antara alternatif-alternatif.
2) Berkomunikasi : verbal – non verbal.
3) Bertukaran : memberikan, melepaskan, dan kehilangan
sesuatu.
4) Merasakan : pengalaman, kesadaran, sensasi, pemahaman
atau pengertian secara sadar / emosional.
5) Mengetahui : mengenal – memahami.
6) Bergerak : mengubah posisi, desakan untuk bertindak /
melakukan sesuatu.
7) Mempersepsikan : memahami dengan pikiran, sadar tentang
indera/rangsangan eksternal.
8) Berhubungan : menjalin hubungan, membangun hubungan,
berada dalam beberapa asosiasi dengan benda, orang atau
tempat.
9) Menilai : perhatian, mengenal, peduli, berharga, berguna.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN


RANGKUMAN
Pengkajian keperawatan didefinisikan sebagai pemikiran dasar dari
proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau
data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-
masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental,
sosial dan lingkungan.
Kegiatan utama dalam tahap pengkajian adalah pengumpulan data,
pengelompokan data, dan analisis data guna perumusan diagnosis
keperawatan
Terdapat beberapa model pola fungsi kesehatan pada pengkajian
keperawatan seperti Gordon, Roy, doengoes dan patrick. Pola fungsi
kesehatan meliputi 11 aspek pada pola fungsi kesehatan gordon.

MODUL METODOLOGI KEPERAWATAN