Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN IMUNOSEROLOGI

Pemeriksaan Antibodi Streptolisin O (ASO)

Oleh:
NI MADE SUKMA WIJA YANTI
P07134017058

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN 4B
TAHUN AJARAN 2019/ 2018
PEMERIKSAAN ASO/ASTO (Anti-streptolysin O)

Hari, tanggal Praktikkum : Selasa, 26 Februari 2019

I. Tujuan
a. Mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan ASO.
b. Mahasiswa dapat melakukan prosedur pemeriksaan ASO.
c. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan ASO.

II. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pemeriksaan dengan ASO
Latex Test Kit yang menggunakan metode rapid slide agglutination dengan metode
kualitatif dan kuantitatif.

III. Prinsip
Partikel lateks yang ditempeli dengan streptolisin O dan pada saat ditambahkan
dengan sampel yang mengandung antibodi terhadap ASO akan terbentuk aglutinasi.

IV. Dasar Teori

Penyakit jantung reumatik (Reumatic Heart Disease) merupakan penyakit jantung didapat
yang sering ditemukan pada anak. Penyakit jantung reumatik merupakan kelainan katup
jantung yang menetap akibat demam reumatik akut sebelumnya, terutama mengenai katup
mitral (75%), aorta (25%), jarang mengenai katup trikuspid, dan tidak pernah menyerang katup
pulmonal. Penyakit jantung reumatik dapat menimbulkan stenosis atau insufisiensi atau
keduanya (Premana, 2018). Penyakit jantung rematik menyebabkan setidaknya 200.000-
250.000 kematian bayi premature setiap tahun dan penyebab umum kematian akibat penyakit
jantung pada anak-anak dan remaja di negara berkembang (Marijon E, Mirabel M et al., 2010).
Dalam laporan WHO Expert Consultation Geneva, 29 Oktober–1 November 2001 yang
diterbitkan tahun 2004 angka mortalitas untuk PJR 0,5 per 100.000 penduduk di Negara maju
hingga 8,2 per 100.000 penduduk di negara berkembang di daerah Asia Tenggara diperkirakan
7,6 per 100.000 penduduk. Diperkirakan sekitar 2.000-332.000 penduduk yang meninggal
diseluruh dunia akibat penyakit tersebut. Prevalensi demam rematik di Indonesia belum
diketahui secara pasti, meskipun beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan
bahwa prevalensi penyakit jantung rematik berkisar antara 0,3 sampai 0,8 per 1.000 anak
sekolah (Premana, 2018).

Etiologi terpenting dari penyakit jantung reumatik adalah demam reumatik. Demam
reumatik merupakan penyakit vaskular kolagen multisistem yang terjadi setelah infeksi
Streptococcus grup A pada individu yang mempunyai faktorpredisposisi. Keterlibatan
kardiovaskuler pada penyakit ini ditandai oleh inflamasi endokardium dan miokardium melalui
suatu proses ’autoimunne’ yang menyebabkan kerusakan jaringan. Inflamasi yang berat dapat
melibatkan perikardium. Valvulitis merupakan tanda utama reumatik karditis yang paling
banyak mengenai katup mitral (76%), katup aorta (13%) dan katup mitral dan katup aorta
(97%). Insiden tertinggi ditemukan pada anak berumur 5-15 tahun (Premana, 2018).

V. Alat dan Bahan


a. Alat :
 Slide Test
 Mikropipet 10-100 µl Dan Yellow Tip
 Tusuk Gigi
b. Bahan :
 Reagen latex ASO
 Kontrol positif
 Kontrol negative
 Buffer fosfat saline
c. Sampel :

Sampel berupa serum yang diperoleh dari pemusingan/centrifugasi dari bekuan darah.

VI. Cara Kerja

a. Dipersiapakan semua bahan dan alat yang akan digunakan.


b. Sampel dan reagen disuhuruangkan.
c. Reagen Latex ASO dihomogenkan (untuk pencegahan gumpalan partikel).
 Metode kualitatif
i. 50 µL reagen Latex ASO ditambahkan pada slide.
ii. 50 µL sampel ditambahkan ke slide lalu ditambahkan lagi
dengan 50 µL kontrol positif dan 50 µL kontrol negatif pada
slide yang telah terdapat reagen Latex ASO (pada lingkaran slide
yang berbeda, dan tetesan jangan langsung pada tetesan reagen
Latex ASO).
 Metode semi kuantitatif
i. Pada tiap lingkar slide ditambahkan 100μl pengencer (buffer
fosfat saline), sampai 4 buang lingkar slide.
ii. Pada lingkar slide ke-1, ditambahkan 100μl sampel, dan
homogenkan (Up and down 9x).
iii. Pada lingkar slide ke-1, diambil 100μl suspensi, dan dipindahkan
kelingkar slide ke-2, dan homogenkan (Up and down 9x).
iv. Lakukan proses c sampai lingkar slide ke-4, dan pada lingkar
slide ke-4 diambil sebanyak 100μl suspensi dan dibuang.
v. Ditambahkan 50μl reagen Latex ASO pada tiap lingkar slide
(termasuk lingkar slide untuk kontrol).
d. Homogenkan reagen dan sampel dengan baik dan benar.
e. Goyang-goyang slide secara berlahan, dan amati ada/tidaknya aglutinasi.
f. Pembacaan hasil tidak lebih dari 2 menit.
g. Kadar normal pada individu dewasa <200 I.U/ml.

VII. Interprestasi Hasil


 Aglutinasi menunjukkan adanya kadar antibodi terhadap ASO dengan kadar ≥ 200
IU/ml.
 Tidak adanya aglutinasi menunjukkan adanya antibodi terhadap ASO dengan kadar ˂
200 IU/ml.
 Hasil positif dapat mengindikasikan adanya infeksi akut dari Streptococcus dan tes
harus diulang setap minggu untuk mengetahui perkembangan infeksi.

VIII. Hasil Pengamatan


Nama Probandus : Ni Putu Devi Dana Anggreani
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Hasil Uji : Positif dengan titer 200 IU/ml.

IX. Pembahasan

Anti streptolisin O adalah suatu antibodi yang di bentuk oleh tubuh terhadap suatu enzim
proteolitik. Streptolisin O yang diproduksi oleh ß-hemolitik Streptococcus group A dan
mempunyai aktivitas biologic merusak dinding sel darah merah serta mengakibakan terjadinya
hemolisis. Sedangkan streptolisisn O merupakan salah satu eksotoksin hemolitik yang
diproduksi oleh bakteri Streptococcus ß- hemolitik. Streptolisin O memiliki kemampuan untuk
melisiskan sel darah merah dari berbagai spesies (Todd, 1932). Kehadiran Streptolisin O dapat
menstimulasi pembentukan antibodi ASO pada serum manusia (Naully, Achmad, & Cimahi,
2018).
Suatu infeksi oleh ß-hemolitik Streptococcus group A akan marangsang sel-sel
imunokompeten untuk memproduksi antibody-antibodi, baik terhadap produk-produk
ekstraselular dari kuman (streptolisin, hialuronidase, streptokinase, DNASE) maupun terhadap
komponen permukaan dari dinding sel kuman (cell-surface/membrane antigen-CSMA).
Antibodi terhadap CSMA inilah yang diduga menyebabkan terjadinya kelainan pada jantung
dari penderita dengan glomerulonefritis. Kelainan pada organ tersebut di sebabkan oleh karena
reaksi silang antar antibodi terhadap CSMA dengan endocardium atau glomerulus basement
membrane (CMB) atau menimbulkan pembentukan complement. Imun Ab-CSMA yang di
emdapkan pada glomerulus atau endocardium dan menyebabkan kerusakan-kerusakan pada
bagian-bagian tubuh tersebut. Sebagian basar dari strain-strain serologik dari Streptococcus
Group A menghasilkan dua enzim hemolitik yaitu Streptolisin O dan S. Di dalam tubuh
penderita, Streptolisin O akan merangsang pembentukan antibodi yang spesifik yaitu anti
streptolisin O (ASTO) sedangkan yang dibentuk Streptolisin S tidak spesifik (Handojo, 1982).
Streptococcus beta hemolyticus grup A dapat menyebabkan penyakit supuratif misalnya
faringitis, impetigo, selulitis, miositis, pneumonia, sepsis nifas dan penyakit non supuratif
misalnya demam rematik, glomerulonefritis akut. Setelah inkubasi 2-4 hari, invasi
Streptococcus beta hemolyticus grup A pada faring menghasilkan respon inflamasi akut yang
berlangsung 3-5 hari ditandai dengan demam, nyeri tenggorok, malaise, pusing dan
leukositosis.4 Pasien masih tetap terinfeksi selama bermingguminggu setelah gejala faringitis
menghilang, sehingga menjadi reservoir infeksi bagi orang lain. Kontak langsung per oral atau
melalui sekret pernafasan dapat menjadi media trasnmisi penyakit. Hanya faringitis
Streptococcus beta hemolyticus grup A saja yang dapat mengakibatkan atau mengaktifkan
kembali demam rematik.
Penyakit jantung rematik merupakan manifestasi demam rematik berkelanjutan yang
melibatkan kelainan pada katup dan endokardium. Lebih dari 60% penyakit rheumatic fever
akan berkembang menjadi rheumatic heart disease. Adapun kerusakan yang ditimbulkan pada
rheumatic heart disease yakni kerusakan katup jantung akan menyebabkan timbulnya
regurgitasi. Episode yang sering dan berulang penyakit ini akan menyebabkan penebalan pada
katup, pembentukan skar (jaringan parut), kalsifikasi dan dapat berkembang menjadi valvular
stenosis. Sebagai dasar dari rheumatic heart disease, penyakit rheumatic fever dalam
patogenesisnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun beberapa faktor yang berperan
dalam patogenesis penyakit rheumatic fever antara lain faktor organisme, faktor host dan faktor
sistem imun (Premana, 2018).
Bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A sebagai organisme penginfeksi memiliki
peran penting dalam patogenesis rheumatic fever. Bakteri ini sering berkolonisasi dan
berproliferasi di daerah tenggorokan, dimana bakteri ini memiliki supra-antigen yang dapat
berikatan dengan major histocompatibility complex kelas 2 (MHC kelas 2) yang akan berikatan
dengan reseptor sel T yang apabila teraktivasi akan melepaskan sitokin dan menjadi sitotosik.
Supra-antigen bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A yang terlibat pada patogenesis
rheumatic fever tersebut adalah protein M yang merupakan eksotoksin pirogenik
Streptococcus. Selain itu, bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A juga menghasilkan
produk ekstraseluler seperti streptolisin, streptokinase, DNA-ase, dan hialuronidase yang
mengaktivasi produksi sejumlah antibodi autoreaktif. Antibodi yang paling sering adalah
antistreptolisin-O (ASTO) yang tujuannya untuk menetralisir toksin bakteri tersebut. Namun
secara simultan upaya proteksi tubuh ini juga menyebabkan kerusakan patologis jaringan tubuh
sendiri. Tubuh memiliki struktur yang mirip dengan antigen bakteri Streptococcus beta
hemolyticus grup A sehingga terjadi reaktivitas silang antara epitop organisme dengan host
yang akan mengarahkan pada kerusakan jaringan tubuh (Premana, 2018).
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi dari bakteri Streptococcus beta hemolyticus selain
rheumatic fever ada juga tonsilitis. Tonsil dan adenoid merupakan salah satu organ pertahanan
tubuh utama yang terdapat pada saluran napas atas. Sistem pertahanan tubuh ini akan berfungsi
sebagai imunitas lokal untuk menghasilkan anti bodi yang akan melawan infeksi yang terjadi
baik akut atau kronik, terbentuknya antigen disebabkan rangsangan bakteri, virus, infeksi
serta iritasi lingkungan terhadap tonsil dan adenoid. Tonsilitis merupakan salah satu penyakit
infeksi saluran napas atas (ISNA) yang banyak ditemukan di Indonesia. Prevalensi ISNA di
Indonesia adalah 234 per 1000 anak, sedangkan prevalensi tonsilitis kronis adalah 36 kasus
per 1000 anak. Angka kesakitan ISNA masih menempati peringkat pertama dibandingkan
dengan penyakit lainnya pada anak-anak di Indonesia. Infeksi akut sering tidak mengalami
penyembuhan yang sempurna, bahkan berlanjut menjadi infeksi kronis Infeksi saluran napas
atas yang terbanyak adalah tonsilitis. Angka kesakitan rawat jalan sesuai data tabulasi tahun
1994 untuk tonsilitis akut adalah 463/1000 anak (Mindarti, Rahardjo, Kodrat, & Kunci, 2010).
Tonsilitis merupakan radang tonsil palatina yang dapat juga disertai dengan peradangan
pada faring. Radang ini dapat disebabkan oleh infeksi grup A streptokokus ß hemolitikus,
pneumokokus, stafilokokus dan hemofilus influenza, biasanya menyerang anak pra sekolah
sampai dewasa, dapat mengakibatkan komplikasi seperti peritonsilar abses, parafaring abses,
demam rematik dan glomerulonefritis akut (Rusmarjono, 2009).
Pemeriksaan ASO adalah tata cara pemeriksaan laboratorium untuk menentukan kadar Anti
streptolisin O secara kualitatif / semi kuantitatif. ASO ( anti-streptolisin O) merupakan antibodi
yang paling dikenal dan paling sering digunakan untuk indikator terdapatnya infeksi
streptococcus.Anti streptolisin titer O ( ASTO ) merupakan tes darah yang dilakukan untuk
mengukur antibodi terhadap streptolisin O yang dihasilkan oleh bakteri streptokokus. Kadar
ASTO lebih dari 160 – 200 IU/ unit dianggap sangat tinggi dan menunjukan adanya infeksi
streptokokus yang baru terjadi atau sedang terjadi atau adanya kadar antibodi yang tinggi
akibat respon imun yang berlebihan terhadap pajanan sebelumnya. Pemeriksaan antibodi
streptokokus mendeteksi adanya antibodi terhadap berbagai antigen yang dihasilkan oleh
streptokokus grup A. Pemeriksaan ini terdiri atas pemeriksaan kadar anti streptolisin O (ASO)
kadar antideoksiribonuklease-B (anti DnaseB) dan streptozyme test (Mindarti et al., 2010).
Pada pemeriksaan ini, serum yang digunakan merupakan hasil sentrifugasi gumpalan darah
yang baru dan bersih. Sampel disimpan pada suhu 28 ̊C selama 48 jam. Untuk jangka waktu
yang lebih lama harus disimpan pada kondisi beku. Serum haematic, lipaemic, atau
terkontaminasi harus dibuang. Prinsip dari pemeriksaan ini adalah partikel lateks yang dilapisi
Streptolisin O akan teraglutinasi ketika dicampurkan dengan sampel yang mengandung ASO.
Hasil dinyatakan positif jika terbentuk aglutinasi selama dua menit. Aglutinasi mengindikasi
tingkat ASO dalam sampel lebih dari atau sama dengan 200 IU/ml sedangkan tidak adanya
aglutinasi mengindikasi tingkat ASO dalam sampel kurang dari 200 IU/ml (Naully et al., 2018).
Penetapan kadar antistreptolisin O merupakan pemeriksaan utama untuk menentukan apakah
sebelumnya pernah terinfeksi oleh streptokokus grup A yang menyebabkan komplikasi
penyakit post streptokokus (Mindarti et al., 2010).
Hasil false positive (positif palsu) dapat ditemui pada kondisi seperti rheumatoid arthritis,
demam scarlet, tonsilitis, dan beberapa infeksi streptococcus. Infeksi dini dan anak usia enam
bulan hingga dua tahun akan menyebabkan positif palsu. Pemeriksaan ASO yang dilakukan
hanya sekali tidak menghasilkan banyak informasi tentang keadaan penyakit yang sebenarnya.
Titrasi pada interval dua mingguan selama empat atau enam minggu dianjurkan untuk
mengikuti evolusi penyakit. Hasil pemeriksaan ini harus didukung dengan kondisi klinis
(Naully et al., 2018). Penentuan ASO memiliki 2 prinsip dasar, yaitu yang pertama adalah
netralisasi atau penghambat hemolisis. Streptolisin O dapat menyebabkan hemolisis dari sel
darah merah, akan tetapi bila Streptolisin O tersebut di campur lebih dahulu dengan serum
penderita yang mengandung cukup anti streptolisin O sebelum ditambahkan pada sel darah
merah, maka streptolisin O tersebut akan dinetralkan oleh ASO sehingga tidak dapat
menimbulkan hemolisis lagi. Pada tes ini serum penderita diencerkan secara serial dan
ditambahkan sejumlah streptolisin O yang tetap (Streptolisin O di awetkan dengan sodium
thioglycolate). Kemudian di tambahkan suspensi sel darah merah 5%. Hemolisis akan terjadi
pada pengenceran serum di mana kadar/titer dari ASO tidak cukup untuk menghambat
hemolisis tidak terjadi pada pengencaran serum yang mengandung titer ASO yang tinggi.
Prinsip dasar yang kedua adalah aglutinasi pasif. Streptolisin O merupakan antigen yang larut.
Agar dapat menyebabkan aglutinasi dengan ASO. Maka Streptolisin O perlu di salutkan pada
partikel-partikel tertentu. Partikel yang sering dipakai yaitu partikel lateks. Tes hambatan
hemolisis mempunyai sensitivitas yang cukup baik, sedangkan tes aglutinasi latex memiliki
sensitivitas yang sedang. Tes aglutinasi latex hanya dapat mendeteksi ASO dengan titer di atas
200 IU/ml (Handojo,1982).
Adapun interpretasi hasil yang bisa didapatkan dari tes ini adalah ketika hasil menunjukkan
hasil yang positif dengan terdapatnya antibodi streptolisin O di dalam serum darah dengan
kadar ≥ 200 IU/ml maka akan memunculkan adanya aglutinasi. Sedangkan, jika hasil negatif
maka tidak akan muncul aglutinasi. Hasil negatif ini bisa disebabkan oleh memang tidak
adanya antibodi di dalam serum darah atau terdapat antibodi tetapi kadar atau titernya kurang
dari 200 IU/ml. Dibawah ini merupakan gambar ilustrasi dari interpretasi hasil yang dapat
muncul dari melakukan uji ini.
Gambar : Ilustrasi dari interpretasi hasil uji ASO
Pada praktikkum imunoserologi tentang uji latex ASO dengan probandus atas nama Ni
Putu Devi Dana Anggreani (19) dengan jenis kelamin perempuan didapat hasil pengamatan
titer antibodi ASO dengan hasil positif titer 200 IU/ml. Hasil ini didapat ketika melakukan uji
kualitatif serum menunjukkan adanya aglutinasi ketika dibaca dalam waktu 2 menit. Lalu uji
dilanjutkan ke tahap semi-kuantitatif dan pada tabung pertama hasil sudah negatif. Maka
dengan ini dinyatakan bahwa sampe positif dengan titer 200 IU/ml.

Gambar : Aglutinasi pada serum pada uji kualitatif


Gambar : Tidak terjadi aglutinasi pada uji semi-kuantitatif
Pembacaan dilakukan dengan waktu tidak lebih dari 2 menit. Pembacaan hasil pada tes
aglutinasi lebih dari 5 menit menggunakan serum yang lipemik, serta penyimpanan reagensia
lateks yang salah, dapat menjadi faktor kesalahan dalam pemeriksaan. Standar atau batas
normal dari uji ASTO dapat juga dipengaruhi oleh usia dimana Pada bayi yang baru lahir, titer
ASTO dalam darahnya umumnya lebih tinggi dari ibunya, tetapi dalam waktu beberapa minggu
saja, titer itu menurun dengan tajam. Pada usia sekolah, titer ASTO mulai naik lagi sampai
mencapai titer usia dewasa. Pada usia lanjut, titer ASTO menurun lagi (Aji Safietri Iin, Ami
Yuditha, Andi Budiman, Aniek Rosalita, 2010).

X. Kesimpulan

Pada praktikkum imunoserologi tentang Uji Lateks ASO yang dilaksanakan pada tanggal
26 Februari 2019 dengan probandus atas nama Ni Putu Devi Dana Anggreani (19) dengan jenis
kelamin perempuan didapat hasil positif dengan titer 200 IU/ml. Dengan begitu dapat
dinyatakan bahwa di dalam serum probandus tersebut terdapat antibodi Streptolisin O (ASO).
DAFTAR PUSTAKA

Aji Safietri Iin, Ami Yuditha, Andi Budiman, Aniek Rosalita, A. U. (2010). Laporan resmi
praktikum imunologi.

Marijon E, Mirabel M, ,et al. Rheumatic fever. Paris: Lancet 2012; 379: 953–64

Mindarti, F., Rahardjo, S. P., Kodrat, L., & Kunci, K. (2010). Hubungan antara Kadar Anti
Streptolisin-O dan Gejala Klinis pada Penderita Tonsilitis Kronis The Relationship
Between the Level of Anti Streptolysin-O and Clinical Symptoms in Patients with
Chronic Tonsilitis, 18(2), 121–128.

Naully, P. G., Achmad, J., & Cimahi, Y. (2018). Panduan Analisis Laboratorium
Imunoserologi untuk D3 Teknologi Laboratorium Medis Patricia Gita Naully.

Premana, I. (2018). PENYAKIT JANTUNG REMATIK, (1102005135).