Anda di halaman 1dari 11

ISSN : 2338-7173

Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

PENERAPAN PEMBELAJARAN BIOKIMIA BERBASIS


STUDENT CENTER LEARNING (SCL)TERHADAP KEMAMPUAN
PEMECAHAN MASALAH MAHASISWA

Lilis Lismaya
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP
Universitas Kuningan
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untukmenganalisis perbedaan hasil antara tes awal dan tes akhir
pada kemampuan pemecahan masalah sebelum dan sesudah pembelajaran biokimia berbasis
Student Center Learning (SCL), menganalisis pengaruhpembelajaran Student Center
Learning (SCL)terhadap kemampuan pemecahan masalah mahasiswa, dan mengungkap
respon mahasiswa terhadap penerapan pembelajaran biokimia berbasisStudent Center
Learning (SCL) terhadap kemampuanpemecahan masalah mahasiswa.Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah weak experimental atau eksperimen lemah dengan
desain penelitian The One-Group Pretest-Posttest Design(Fraenkel,2007).Dalam penelitian
ini hanya menggunakan 1 kelas eksperimen yang diberikan perlakuan untuk menilai pengaruh
dari perlakuan tersebut, tanpa dibandingkan dengan kelas kontrol.Instrumen yang digunakan
adalah soal kemampuan memecahkan masalah berisi indikator yang telah ditentukan dan
angket respon mahasiswa. Hasil dari penelitian ini yaitu 1)Terdapat perbedaan hasil antara tes
awal dan tes akhir pada keterampilan pemecahan masalah sebelum dan sesudah pembelajaran
biokimia berbasis Student Center Learning (SCL) dengan rata-rata indeks gain 18,3 dan
hasilnya lebih besar dari KKM yaitu 84,8 > 65. 2)Terdapat pengaruh yang signifikan dari
pembelajaran biokimia berbasis Student Center Learning (SCL) terhadap kemampuan
pemecahan masalah dan penguasaan konsep mahasiswa. 3)Tingkat ketuntasan pemecahan
masalah mahasiswa sebesar 70,8 %. 29,2% mahasiswa belum mencapai ketuntasan belajar.
4)Respon positif dari mahasiswa terhadap penerapan pembelajaran biokimia berbasis Student
Center Learning (SCL).

Kata kunci: Biokimia, Kemampuan Pemecahan Masalah, Pembelajaran Berbasis SCL.

PENDAHULUAN yang ada dalam kehidupan mereka.


Oleh karena itu pembelajaran berbasis
Sejauh ini pendidikan kita masih SCL diharapkan dapat menjadi salah
didominasi oleh pandangan bahwa satu pembelajaran yang cocok
pengetahuan merupakan seperangkat diterapkan dalam proses pembelajaran
fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas saat ini.
masih berfokus pada guru sebagai Pembelajaran berpusat pada siswa
sumber utama pengetahuan, ceramah atau Student Centered Learning (SCL)
masih menjadi pilihan metode belajar. merupakan pembelajaranyang menuntut
Untuk itu perlu adanya pembelajaran partisipasi yang tinggi dari peserta
baru yang lebih memberdayakan siswa. didik, karena peserta didik menjadi
Suatu pembelajaran yang mendorong pusat perhatian selama kegiatan belajar
siswa mengkonstruksi pengetahuan berlangsung. Pembelajaran SCL
mereka sendiri, serta pembelajaran yang menuntut peran guru yang awalnya
mampu menjadikan siswa siap bersifat kaku instruksi menjadi memberi
menghadapi masalah-masalah nyata kesempatan kepada peserta didik untuk
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

menyesuaikan dengan kemampuannya hasil antara tes awal dan tes akhir pada
dan berperilaku secara langsung dalam kemampuan pemecahan masalah
menerima pengalaman belajarnya. sebelum dan sesudah pembelajaran
SCL juga diperlukan untuk biokimia berbasis Student Center
mengantisipasi dan mengakomodasi Learning (SCL), menganalisis pengaruh
perubahan dalam bidang sosial, politik, pembelajaran Student Center Learning
ekonomi, teknologi dan lingkungan, (SCL)terhadap kemampuan pemecahan
yang menyebabkan informasi dalam masalah mahasiswa,mengungkap
buku teks dan artikel-artikel yang ditulis respon mahasiswa terhadap penerapan
lebih cepat kadaluarsa. Selain itu, di pembelajaran biokimia berbasisStudent
masa mendatang, dunia kerja Center Learning (SCL) terhadap
membutuhkan tenaga kerja yang kemampuanpemecahan masalah
berpendidikan baik, yang mampu mahasiswa.
bekerja sama dalam tim, memiliki
kemampuan memecahkan masalah METODE PENELITIAN
secara efektif, mampu memproses dan Metode penelitian yang
memanfaatkan informasi, serta mampu digunakan dalam penelitian ini adalah
memanfaatkan teknologi secara efektif weak experimental atau eksperimen
dalam pasar global, dalam rangka lemah dengan desain penelitian The
meningkatkan produktivitas. Oleh sebab One-Group Pretest-Posttest
itu, proses pembelajaran harus Design(Fraenkel,2007).Dalam
difokuskan pada pemberdayaan dan penelitian ini hanya menggunakan kelas
peningkatan kemampuan mahasiswa eksperimen yang diberikan perlakuan
dalam berbagai aspek ilmu untuk menilai pengaruh dari perlakuan
pengetahuan, teknologi dan seni. tersebut, tanpa dibandingkan dengan
Mahasiswa sebagai subyek kelas kontrol.
pembelajaran, yang perlu diarahkan Instrumen yang digunakan
untuk belajar secara aktif membangun berupa soal kemampuan memecahkan
pengetahuan dan kemampuannya masalah berisi indikator yang telah
dengan cara bekerjasama dan ditentukan. Soal diberikan sebelum dan
berkolaborasi dengan berbagai pihak sesudah pembelajaran. Sedangkan
terkait. untuk mengetahui respon mahasiswa
Mata kuliah biokimia merupakan terhadap pembelajaran berbasis SCL
mata kuliah yang dianggap sulit oleh diberikan angket di akhir
sebagian besar mahasiswa, sehingga pembelajaran.Melakukan pengolahan
butuh suatu cara penyampaian materi dan analisis data dengan uji statistik,
agar mudah dikuasai dan difahami oleh kegiatan meliputi pemberian skor untuk
siswa. Melalui pembelajaran biokimia pretest dan posttest, menghitung N-
berbasis Student Center Learning (SCL) gain, analisis data menggunakan
diharapkan siswa dapat lebih mudah Software Statistical Package for Social
dalam memecahkan permasalahan yang Science (SPSS) for Windows versi 16.0,
ada dalam biokimia. Salah satu konsep serta melakukan analisis kemampuan
yang akan diteliti adalah konsep asam pemecahan masalahberdasarkan
amino dan protein, meliputi reaksi kategori kemampuan pemecahan
kimia, analisis kimia, ciri struktur dan masalahmahasiswa berdasarkan
fungsi protein. ketercapaian pada KKM.
Tujuan dalam penelitian ini
adalah untukmenganalisis perbedaan
ISSN : 2338
2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 201
2017, Vol. 7, No. 1

HASIL dan PEMBAHASAN test ini lebih tinggi dibandingkan


dengan nilai KKM ter tersebut. Hasil
a. Pengaruh Pembelajaran Berbasis analisis kemampuan pemecahan
SCL Terhadap Kemampuan masalah mahasiswa berdasarkan nilai
pemecahan masalah pre test dan post tes dapat
apat juga dilihat
Berikut ini pada Tabel 1. pada Gambar 1.
disajikan hasil rata-rata
rata pre tes dan post
tes kelas eksperimen.
Pemecahan Masalah

Tabel 1. Hasil Rata-rata


rata Pre tes dan 100
PosttesKemampuan pemecahan masalah
Rata-rata
rata Kemampuan 50
Jml Rata-Rata
pemecahan masalah
Kelas Uji Coba Maha
Pre Post Indeks 0 Pemecahan
Siswa Masalah

pretest
posttest
gain
tes tes Gain
Kelas
Eksperimen
26 65,1 90,5 25,4
(mahasiswa
Tingkat 2)
Gambar 1. Hasil Rata
Rata-rata Tes
Kemampuan pemecahan masalah
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa Mahasiswa
hasil rata-rata pretestt kemampuan
pemecahan masalah pada kelas Dilakukan uji normalitas dan
eksperimen adalah 65,1 dan posttest homogenitas terhadap pre test, post test
90,5 sedangkan indeks gain bernilai dan indeks gain kemampuan pemecahan
25,4. Hasil ini menunjukkan terdapat masalah mahasiswa. Uji normalitas dan
peningkatan kemampuan pemecahan homogenitas digunakan sebagai
masalah mahasiswa pada kelas prasyarat untuk uji statistik berikutnya.
eksperimen yang diberi perlakuan Hasil pengujian normalitas data
pembelajaran SCL yaitu melalui dengan Kolmogorov-Smirnov
Smirnov diperoleh
penggunaan model Problem Based hasil normal, baik data pretest, posttest
Learning.Demikian
Demikian juga untuk skor maupun indeks gain. artinya
artinyakelas yang
rata-rata indeks gain kemampuan digunakan dalam penelitian ini berasal
pemecahan masalah pada kelas dari populasi yang terdistribusi normal
eksperimen 25,4% % atau 0,25,
0, termasuk dengan P-value lebih besar atau sama
kategori rendah. Halal ini menunjukkan dengan α = 0,05.
bahwa kemampuan pemecahanmasalah Hasil Levene’s Test uji
mahasiswa setelah mengikuti homogenitasdata pre test, post test
pembelajaran berbasis SCL mengalami kemampuan pemecahan masalah
peningkatan. Walaupun nilai indeks mahasiswa disajikan pada Tabel 2.
gainnya termasuk kategori rendah,
namun hasil ini cukup signifikan
membuktikan bahwa penggunaan Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Skor test
Kemampuan Pemecahan Masalah
pembelajaran SCL pada mata kuliah kul Kemampuan Pemecahan Masalah
biokimia dapat meningkatkan N P-
Data Α Kesimpulan
kemampuan pemecahan masalah value
Pre
mahasiswa. Terlebih jika dibandingkan test
26 0,93 0,05 Homogen
dengan Kriteria Ketuntasan Minimal Post
26 0,99 0,05 Homogen
(KKM) mahasiswa untuk konsep test
protein ini adalah 65, maka hasil post
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui 1. Analisis Kategori Kemampuan


bahwa skor pre test dan post test Pemecahan Masalah
kemampuan pemecahan masalah Hasil tes mahasiswa
mahasiswa pada taraf signifikansi α = diprosentase berdasarkan masing-
0,05 memenuhi kriteria P-value ≥ α = masing indikator kemudian dimasukkan
0,05, hal ini berarti bahwa varians data ke dalam tabel kategori kemampuan
pre test dan post test adalah homogen. pemecahan masalah. Hasil prosentase
Dari hasil pengujian statistik, masing-masing indikator kemampuan
data yang diperoleh berdistribusi pemecahan masalah dapat dilihat pada
normal dan homogen maka pengujian Tabel 4.
hipotesisnya dilakukan dengan uji
statistik parametrik uji t Sample Tabel 4. Rekap Kemampuan Pemecahan
Independent Test. Hasil pengujian Masalah Mahasiswa
dengan uji t kemampuan pemecahan Pencapaian
Tahap Dalam Proses
Kelas
masalah selengkapnya dapat dilihat
pada Tabel 3. Mengidentifikasi masalah 75 %

Mengumpulkan dan
Tabel 3. Hasil Analisis Uji-t 70 %
menganalisis data
KemampuanPemecahan Masalah
Menentukan alternatif
73 %
Signi pemecahan masalah
Sumber Skor Std. Kepu
fikan α
data rerata Deviasi tusan Merancang tindakan pemecahan
si 68 %
masalah
0,0 Teri Mengevaluasi pemecahan
Post test 90,5 5,07 0,05
5 ma H1 masalah. 68 %

Indeks 0,0 Teri


25,38 3,74 0,73
gain 5 ma H1
Berdasarkan tabel 4. hasil rata-
rata prosentase kemampuan pemecahan
Berdasarkan Tabel 3. dapat masalah mahasiswa tiap indikator
diketahui bahwa hasil uji t menunjukkan hasil yang lebih tinggi
menunjukkan signifikansi 0,00 <α (α = jika dibandingkan dengan KKM yaitu
0,05), sehingga dapat disimpulkan 65.
bahwa terdapat pengaruh yang Berdasarkan Tabel 4. dapat
signifikan dari pembelajaran biokimia dilihat prosentase ketuntasan belajar
berbasis SCL terhadap kemampuan mahasiswa. Secara klasikal dapat
pemecahan masalah mahasiswa. dihitung prosentase tingkat ketuntasan
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh mahasiswa dalam hal
di atas, yaitu nilai indeks gain pemecahan masalah yaitu mencapai
menunjukkan kriteria rendah yang 70,8% mahasiswa tuntas dalam belajar,
artinya terdapat peningkatan sedangkan sisanya sebesar 29,2%
kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa masih belum dikategorikan
kelas yang diteliti, dan hasil uji t tuntas dalam belajar karena belum
menunjukkan penerimaan H1.Kedua hal mencapai standar ketuntasan minimum
tersebut menunjukkan bahwa terdapat dalam belajar.
pengaruh pembelajaran berbasis SCL Untuk dapat menerapkan
terhadap kemampuan pemecahan pembelajaran Student Center Learning
masalah mahasiswa pada konsep (SCL), dapat dilakukan dengan
protein. menggunakan metode-metode atau
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

model-model belajar seperti small jawabannya sendiri, merekonsiliasikan


group discussion, simulation, case apa yang ditemukannya pada suatu
study, discovery learning (DL), self waktu dengan apa yang ditemukannya
directed (learning (SDL), cooperative pada waktu yang lain, membandingkan
learning (CL), collaborative learning temuannya dengan temuan anak-anak
(CBL), contextual instruction (CI), lain.
project based learning (PJBL) dan Pembelajaran berbasis
Problem based learning (PBM). masalah merupakan rangkaian aktivitas
Dalam pembelajaran berbasis pembelajaran yang menekankan kepada
masalah, terlihat adanya interaksi antar proses penyelesaian masalah yang
mahasiswa, mereka saling membantu, dihadapi secara ilmiah (Sanjaya, 2008).
mau bekerja sama dan saling Ciri utama dari PBM adalah PBM
memberikan pendapat. Interaksi sosial merupakan rangkaian aktivitas
ini menjadi salah satu karakteristik pembelajaran, artinya dalam
dalam pembelajaran berbasis masalah. implementasi PBM ada sejumlah
Hal ini senada dengan apa yang kegiatan yang harus dilakukan
dikemukakan oleh Vygotsky (Arends, mahasiswa. PBM tidak mengharapkan
2008) bahwa interaksi sosial dalam mahasiswa hanya sekadar
belajar merupakan faktor yang turut mendengarkan, mencatat, kemudian
mendukung pembentukan pengetahuan menghafal materi pelajaran, akan tetapi
baru bagi individu. Vygotsky juga melalui PBM mahasiswa aktif berpikir,
menekankan pentingnya aspek sosial berkomunikasi, mencari dan mengolah
belajar, karena itu interaksi sosial data, dan akhirnya menyimpulkan, agar
dengan orang lain akan membantu mahasiswa tidak hanya sekedar dapat
percepatan pengkonstruksian mengingat materi pelajaran, akan tetapi
pengetahuan dan ide-ide baru. menguasai dan memahami secara
Perbedaan peningkatan penuh, permasalahan substansi bahan
pemecahan masalah pada setiap ajar yang akan dipelajari. Dengan
kriteriamelalui penggunanaan demikian mahasiswa menjadi lebih kuat
pembelajaran berbasis SCL yaitu pemahamannya terhadap konsep yang
pendekatan pembelajaran yang berpusat diajarkan oleh dosen dalam proses
pada mahasiswa dalam hal ini model pembelajaran.
pembelajaran berbasis masalah dengan Pembelajaran Berbasis Masalah
kegiatan pembelajaran yang (PBM) memberikan pengaruh yang baik
lebihmengaktifkan mahasiswa dimana terhadap kemampuan pemecahan
konsep-konsep dipelajari dan ditemukan masalah mahasiswa karena
sendiri oleh mahasiswa melalui pembelajaran Berbasis Masalah lebih
kegiatan penyelidikan, sehingga mengarahkan mahasiswa untuk dapat
pembelajaran menjadi lebih bermakna. berperan aktif membangun konsep dan
Hal ini senada dengan apa yang menyelaraskan dengan pengetahuan
dikemukakan oleh Piaget (Arends, awal yang sudah dimiliki. PBM
2008) bahwa pembelajaran harus memberikan kesempatan yang
melibatkan penyodoran berbagai situasi luaskepada mahasiswa untuk
dimana anak biasa bereksperimen atau mengembangkan pemikirannya,
mengujicobakan berbagai hal untuk pemecahan masalah, dan kecakapan
melihat apa yang terjadi, memanipulasi intelektualnya, belajar berperan sebagai
benda-benda, simbol-simbol, orang dewasa dengan pengalaman nyata
melontarkan pertanyaan dan mencari atau situasi yang disesuaikan, dan
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

menjadi mahasiswa yang mandiri yang dihadirkan dan menyelesaikan


(Delisle, 1997). permasalahan tersebut dengan berpikir
Dalam PBM mahasiswa juga ilmiah.
dilatih untuk saling berinteraksi dengan Hasil tes kemampuan
yang lain, hal ini sesuai dengan pemecahan masalah mahasiswa
pendapat Bruner (Arends, 2008) yang dilakukan analisis dengan cara
mengatakan bahwa interaksi sosial menghitung prosentase setiap indikator
dalam pembelajaran sangat penting, kemampuan pemecahan masalah dan
karena interaksi sosial baik di dalam mengkategorikannya berdasarkan
kelas maupun di luar kelas akan klasifikasi kemampuan pemecahan
memberikan perolehan bahasa dan cara- masalah. Prosentase indikator
cara mengatasi masalah bagi kemampuan pemecahan masalah
mahasiswa, tetapi interaksi yang menunjukkan hasil rata-rata yang cukup
dimaksudkan di sini bukan hanya tinggi.
sekedar interaksi lepas tanpa arah, tetapi Untuk tahapan mengidentifikasi
interaksi yang memerlukan bimbingan masalah, pencapaian kelas sebesar 75%.
dosen dan arahan dari orang yang lebih Artinya dalam tahapan ini sebagian
mampu. Alasan-alasan tersebut menjadi besar mahasiswa masih mampu
faktor penyebab PBM memberikan mengidentiifkasi permasalahan yang
pengaruh yang baik dalam disajikan, mampu memilah mana yang
meningkatkan kemampuan pemecahan menjadi inti permasalahan dari setiap
masalah mahasiswa. kasus yang disajikan, sisanya sebesar
Aktivitas pembelajaran PBM 25% mahasiswa masih belum dapat
diarahkan untuk menyelesaikan mengidentifikasi masalah dengan tepat.
masalah. PBM menempatkan masalah Kemudian pada tahap selanjutnya yaitu
sebagai kata kunci dari proses tahap mengumpulkan dan menganalisis
pembelajaran. Artinya, tanpa masalah data, pencapaian kelas mencapai 70%,
maka tidak mungkin ada proses sisanya sebanyak 30% mahasiswa
pembelajaran, dimana pemecahan masih belum dapat mengumpulkan dan
masalah dilakukan dengan menganalisis data dengan tepat, hal ini
menggunakan pendekatan berpikir dapat disebabkan karena kurangnya
secara ilmiah. Berpikir dengan kemampuan mahasiswa dalam
menggunakan metode ilmiah adalah mengidentifikasi masalah sehingga
proses berpikir deduktif dan induktif. dalam tahap mengumpulkan dan
Proses berpikir ini dilakukan secara menganalisis data sebagian mahasiswa
sistematis dan empiris. Sistematis mengalami kesulitan.
artinya berpikir ilmiah dilakukan Tahap pemecahan masalah
melalui tahapan-tahapan tertentu; selanjutnya adalah menentukan
sedangkan empiris artinya proses alternatif pemecahan masalah. Pada
penyelesaian masalah didasarkan pada tahap ini pencapaian kelas mencapai
data dan fakta yang jelas. Hal tersebut 73%, artinya ada 27% mahasiswa yang
sesuai dengan proses pembelajaran di masih belum mampu menentukan
kelas eksperimen dimana mahasiswa alternatif pemecahan masalah dengan
difasilitasi untuk mengembangkan tepat. Hal ini dapat disebabkan karena
kemampuan pemecahan masalahnya kurangnya kemampuan mahasiswa
melalui permasalahan tentang macam- dalam menganalisis data sehingga
macam kegiatan manusia yang dapat dalam menentukan alternatif pemecahan
menyebabkan proses denaturasi protein masalahpun mengalami kesulitan.
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

Untuk tahap merancang tindakan jawab memfasilitasi jalannya proses


pemecahan masalah pencapaian kelas KBM di dalam kelas. Namun, terlepas
sekitar 68%, dan sisanya sebanyak 32% dari itu, hasil pencapaian kelas ini
masih belum dapat merancang tindakan sebagian besar sudah berada di atas nilai
pemecahan masalah dengan tepat sesuai KKM yang ditentukan yaitu 65 untuk
dengan masalah yang teridentifikasi. matakuliah biokimia khususnya materi
Tahap ini memang membutuhkan protein. Walaupun perbedaan nilai
kemampuan pemikiran lebih tinggi pencapaian dengan KKM tidak terlalu
dibanding tahap sebelumnya, karena jauh, namun hal ini menunjukkan
mahasiswa benar-benar dituntut untuk adanya pengaruh dari pembelajaran
dapat merancang tindakan pemecahan yang digunakan dalam pembelajaran di
masalah yang tepat. kelas. Selain itu terlihat bahwa
Tahap selanjutnya adalah penerapan pembelajaran berbasis
mengevaluasi pemecahan masalah. masalah ini mampu meningkatkan
Tahap ini juga membutuhkan tingkat kemampuan mahasiswa dalam
pemikiran yang lebih tinggi dari tahap- memecahkan masalah.
tahap sebelumnya. Karena pada tahap Hal ini sesuai dengan dukungan
ini mahasiswa harus mampu teoritis John Dewey (Arends, 2008)
menimbang akibat positif dan negatif yang menyatakan bahwa PBM
dari pemecahan masalah yang diajukan membuat peserta didik berpikir,
berdasarkan kasus permasalahan. Untuk menyelesaikan masalah, dan menjadi
tahap ini pencapaian kelas mencapai pelajar yang otonom. Pembelajaran di
68%, dan sisanya 32% mahasiswa sekolah seharusnya purposeful
masih belum mampu mengevaluasi (memiliki maksud yang jelas) dan tidak
pemecahan masalah yang mereka ambil. abstrak, dapat diselesaikan dengan
Pencapaian kelas ini tentu sebaik-baiknyadengan memerintahkan
dipengaruhi oleh banyak hal baik oleh anak-anak dalam kelompok-kelompok
faktor internal yang ada pada diri kecil untuk menangani proyek-proyek
mahasiswa itu sendiri ataupun faktor yang mereka minati dan mereka pilih
eksternal yang berada di luar diri sendiri. Visi pembelajaran yang
mahasiswa itu sendiri yaitu faktor purposeful dan problem-centered
lingkungan, salah satunya mahasiswa (dipusatkan pada masalah) yang
masih belum terbiasa melaksanakan didukung oleh hasrat bawaan siswa
pembelajaran berbasis masalah, untuk mengeksplorasi situasi-situasi
mahasiswa belum terbiasa menganalisis yang secara personal berarti baginya
masalah yang terjadi di kehidupan jelas berhubungan dengan PBM.
mereka yang berhubungan dengan Dengan penerapan pembelajaran
konsep biologi yang mereka peroleh di berbasis masalah, mahasiswa dituntun
ruang kelas. untuk mengembangkan kemampuan
Hal ini penulis sadari berpikirnya dalam memahami dan
sepenuhnya bahwa pencapaian kelas menentukan persamaan dan perbedaan
yang belum mencapai kriteria sesuatu, memberikan alasan terhadap
ketuntasan minimal ini perlu mendapat sesuatu hal dan menyimpulkan suatu
dorongan dari berbagai pihak salah pola atau hubungan antar variabel pada
satunya adalah dosen. Mengapa faktor konsep tertentu. Hal ini sesuai dengan
dosen ini sangat berpengaruh terhadap Barrows (1980) yang menyatakan
pencapaian mahasiswa? Hal ini tentu bahwa pembelajaran berbasis masalah
karena dosenlah yang bertanggung sebagai model belajar yang
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

mengutamakan proses belajar dapat motivasinya dalam mempelajari konsep


digunakan untuk melatih dan protein. Hal ini dapat dilihat pada
mengembangkan berbagai kemampuan proses pembelajaran mahasiswa
dan kecakapan sains tingkat tinggi. menunjukkan sikap yang antusias dalam
PBM dirancang untuk membantu proses menemukan permasalahan,
mahasiswa mengembangkan pemikirannya, mencari solusi alternatif dari berbagai
pemecahan masalah, dan kecakapan sumber untuk menyelesaikan
intelektualnya; belajar berperan orang permasalahan dan memutuskan solusi
dewasa dengan pengalaman nyata atau
terbaik. Melalui permasalahan yang
situasi yang disesuaikan/disumulasikan;
dan menjadi pelajar yang
dihadirkan dalam pembelajaran
independen/mandiri (Delisle, 1997). mahasiswa dilatih untuk
Hasting (2001) mengemukakan PBM mengkonstruksi dan menemukan
dapat merangsang siswa untuk berpikir konsepnya sendiri, sehingga konsep
tingkat tinggi, termasuk di dalamnya tersebut akan lebih bertahan lama dalam
belajar bagaimana belajar. Wang, ingatannya. Sesuai dengan hasil analisis
Thomson, and Shuler (1998) respon mahasiswa sekitar 70%
mengemukakan PBM dapat memberikan respon positif bahwa
mengembangkan kemampuan berpikir Pembelajaran berbasis SCL dapat
siswa, melatih keterampilan meningkatkan penguasaan konsep
memecahkan masalah, dan mahasiswa.
Hasil analisis selanjutnya adalah
meningkatkan penguasaan materi
mahasiswa memberikan respon positif
pelajaran. Duch Allen, and White sebesar 75% menyetujui bahwa
mengungkapkan bahwa PBM Pembelajaran berbasis SCL dapat
menyediakan kondisi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
meningkatkan kemampuan pemecahan masalahnya pada konsep protein. Dalam
masalah dan analitis serta memecahkan pembelajaran berbasis SCL mahasiswa
masalah kompleks dalam kehidupan diberikan permasalahan yang nyata dan
nyata. mahasiswa dilatih untuk mempergunakan
kemampuan berpikirnya untuk
Respon Mahasiswa Terhadap menyelesaikan permasalahan tersebut. Cara
Pembelajaran Biokimia Berbasis SCL menyelesaikan masalah juga didasarkan
Pada akhir pembelajaran konsep pada cara berpikir ilmiah, sehingga solusi
spesiasi diberikan angket kepada untuk menyelesaikan masalah adalah solusi
terbaik. Dalam proses pebelajaran
mahasiswa di kelas eksperimen untuk
mahasiswa melakukan tahapan-tahapan
mengetahui respon atau tanggapan dalam proses yang menunjukkan
mahasiswa terhadap pembelajaran kemampuan pemecahan masalah, yaitu
berbasis masalah. Angket yang dibuat Mahasiswa melakukan klarifikasi dasar
meliputi 6 indikator yang kemudian terhadap permasalahan, mengumpulkan
dikembangkan menjadi beberapa informasi dasar, membuat inferensi,
pertanyaan. membuat klarifikasi lanjut dan membuat
Hasil analisis menunjukkan 61% serta mengkomunikasikan kesimpulan yang
mahasiswa memberikan respon positif terbaik.
atau mempunyai ketertarikan terhadap Kondisi pembelajaran tersebut
Pembelajaran berbasis SCL, dan 75% sesuai pendapat Gallagher (1997), tujuan
utama PBM dicirikan dengan pembelajaran
mahasiswa menunjukkan minatnya
yang diorientasikan pada penguasaan
belajar menggunakanPembelajaran kemampuan daripada perolehan
berbasis SCL, respon positif ini pengetahuan. PBM menganut pandangan
mendukung mahasiswa menumbuhkan kontruktivisme dalam pembelajaran dan
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

memberikan kesempatan siswa untuk Teori-teori konstruktivis tentang


mengembangkan kemampuan pemecahan belajar, yang menekankan pada
masalah dan evaluatif melalui analisis kebutuhan pelajar untuk
masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari menginvestigasi lingkungannya dan
(Smith, 1995). PBM juga akan
mengonstruksikan pengetahuan yang
meningkatkan kemampuan berpikir dan
kemampuan belajar serta kemampuan
secara personal berarti, memberikan
kognitif lainnya pada siswa. Hmleo & dasar teoritis untuk PBM. Dengan
Silver (2004) mengemukakan bahwa PBM demikian, hasil penelitian ini
didesain untuk membantu siswa memperkuat teori-teori konstruktivis
membangun dasar pengetahuan yang luas tentang belajar seperti Piaget ,
dan fleksibel, mengembangkan self- Vygotsky juga John Dewey ( 2008)
directed learning, dan membangun yang menyatakan bahwa PBM
motivasi instrinsik dalam belajar. membuat siswa berpikir, memecahkan
Pembelajaran sains dengan masalah, dan menjadi pembelajar
menggunakan model PBM mandiri, selain itu PBM juga dapat
memfokuskan pada masalah yang meningkatkan penguasaan konsep
dipilih sehingga siswa tidak saja mahasiswa.
mempelajari konsep-konsep yang
berhubungan dengan masalah tetapi SIMPULAN dan SARAN
juga metode ilmiah untuk memecahkan A. Simpulan
masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa Berdasarkan hasil penelitian,
tidak saja harus memahami konsep yang diperoleh beberapa
relevan dengan masalah yang menjadi kesimpulanyaitu :
pusat perhatian, tetapi juga memperoleh 1. Terdapat perbedaan hasil antara tes
pengalaman belajar yang berhubungan awal dan tes akhir pada
dengan kemampuan menerapkan keterampilan pemecahan masalah
metode ilmiah dalam pemecahan sebelum dan sesudah pembelajaran
masalah dan menumbuhkan pola biokimia berbasis Student Center
berpikir tingkat tinggi. Respon positif Learning (SCL).
mahasiswa bahwa SCLdalam hal ini 2. Terdapat pengaruh yang signifikan
menggunakan model PBM dapat dari pembelajaran biokimia
meningkatkan kemampuan berbasis Student Center Learning
pemecahan masalah mahasiswa. Sesuai (SCL) terhadap kemampuan
dengan kelebihan PBM diantaranya pemecahan masalah mahasiswa.
adalah Pemecahan masalah dapat 3. Tingkat ketuntasan pemecahan
merangsang kemampuan peserta didik masalah mahasiswa sebesar 70,8 %.
untuk menemukan pengetahuan baru 29,2% mahasiswa belum mencapai
bagi mereka, dapat meningkatkan ketuntasan belajar. Tingkat
aktivitas belajar peserta didik, dapat ketuntasan penguasaan konsep
membantu peserta didik untuk mahasiswa sebesar 71,25%.
menerapkan pengetahuan mereka dalam 28,75% mahasiswa belum
kehidupan sehari-hari, PBM dapat mencapai ketuntasan belajar.
membantu peserta didik untuk berlatih 4. Respon positif dari mahasiswa
berpikir dalam menghadapi sesuatu dan terhadap penerapan pembelajaran
PBM dapat mengembangkan biokimia berbasis Student Center
kemampuan pemecahan masalah dan Learning (SCL) terhadap keterampilan
kemampuan menyesuaikan dengan pemecahan masalah mahasiswa
pengetahuan baru.
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

B. Saran Performance of Conceptual and


Berdasarkan hasil temuan dari Cuantitative Problems”. Eurasial
penelitian, berikutbeberapa Journal of Mathematics, Science &
sarangunamelengkapipenelitianini,diant Technology Education Vol. 5(2),
pp. 153-164.
aranyaadalah:
Colby, D. (1989). Ringkasan Biokimia.
1. Padasaatpembelajaran,diperlukan
Jakarta : EGC
manajemenwaktuyangbaikantaratiap
Dahar, R.W. (1996). Teori-Teori Belajar:
tahapan padapembelajaran berbasis
Jakarta, Penerbit Erlangga.
SCL.
Delisle, R. (1997). How to Use Problem-
Kondisiawalpembelajaranperlulebihdit
Based Learning in the Classroom.
ekankan lagi,diskusi
USA : ASCD.
sebaiknyamelibatkanseluruh
Eishu, N danTanaka, Y. (2010). :”Problem-
mahasiswa, dandiakhirkegiatanperlu
Based Learning in a
dilakukanpenguatankonsepdanprinsipk
Multidisciplinary group enhances
egiatandalamSCL.
clinical Decision Making by
2. Pada saat menentukan permasalahan
Medical Student : A Randomized
dalam kegiatan pembelajaran
kontrolled Trial”. J Med Dent Sci
sebaiknya diarahkan pada
57: 109-118.
permasalahan yang ada di lingkungan
sekitar mahasiswa agar mudah Elaine H. J. (2011). : “Is learning in
dipahami. problem-based learning
3. Respon positif siswa terhadap cumulative?”. Adv in Health Sci
pembelajaran berbasis SCL pada Educ 16:449–464.
konsep protein memberikan peluang Ennis, R.H. (1996). Critical Thinking. New
penggunaan pembelajaran berbasis York : New York Times Company.
SCL pada Folmer, V. dan Nilda B. (2009).
pembelajaranbiologikonseplain. :”Experimental activities based on
4. Penelitian yang dilaksanakan oleh ill-structuredproblems improve
peneliti lain diperlukan sebagai Brazilian school
masukan dalam penelitian ini. Hal ini students’understanding of thenature
karena adanya kemungkinan of scientific knowledge”. Revista
perbedaan pengetahuan, cara mengajar Electrónica de Enseñanza de las
dan pengalaman akan mempengaruhi Ciencias Vol.8 Nº1.
hasil penelitian. Fraenkel,J.R& Wallen,N.E. (2007). How to
Design and Evaluate Reseach in
Education. San Francisco :
DAFTAR PUSTAKA McGraw-Hill Higer Education.
Anderson, L.W. & D.R. Krathwohl. (
Hidayat, T. (2013). Problem Based
2001). Kerangka Landasan Untuk
Pembelajaran, Pengajaran Dan
Learning (PBM) di Biologi (Best
Asesmen Agung Prihantoro Practice). Bandung : Jurusan
(penerjemah). Yogyakarta. Pustaka Pendidikan Biologi UPI.
Pelajar. Jhonson L.V. & Jhonson, A.B. 1970,
Arends, R.I. (2008). Learning to Teach, Classroom Management.
seventh edition. Mc Graw-Hill London: MacMillan.
Companies. New York. Joyce B, Weil M, Calhoun E. (2009).
Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Models Of Teaching. Ahmad F,
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Ateilla M (penerjemah).
Aunurrahman. (2009). Belajar Dan Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Pembelajaran. Bandung. Alfabeta. Kunandar. (2009). Dosen Profesional:
Bilgin, I dan Senocak, E. (2009). : “The implementasi Kurikulum Tingkat
Effect of Problem Based Learning Satuan Pendidikan dan Munir.
Instruction on University Students’ (2008). Prinsip Dasar
ISSN : 2338-7173
Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi Februari 2017, Vol. 7, No. 1

Pembelajaran Aktif. Bandung: UPI Sugiyono. (2012). Statistika untuk


dan CV. Alfabeta. Penelitian. Bandung : Alvabeta cv.
Lehninger. (1988). Dasar-Dasar Biokimia. Sukaesih, S (2010). Pembelajaran Berbasis
Jakarta : Erlangga. Praktikum dengan Menerapkan
Nachamma, S.N. dan Schmidt, H.G. Asesmen Tes Lisan Pada Topik
(2011). “Characteristics of Keanekaragaman hayati Untuk
Problems for Problem-Based mengembangkan Kemampuan
Learning: The Students’ Berpikir Kritis dan Sikap Ilmiah
Perspective”. Interdisciplinary Mahasiswa. Tesis UPI Bandung :
Journal of Problem-based Tidak Diterbitkan.
LearningVol. 5: Iss. 1, Article 3. Suprijono, A. (2012). Cooperative
Sagala,S., (2010). Konsep dan Makna Learning. Surabaya : Pustaka Pelajar.
Pembelajaran, Bandung, Alfabeta. Trianto. (2007). Model-model
Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Berorientasi Standar Proses Konstrutivistik: Konsep, Landasan
Pendidikan. Jakarta: Putra Grafika. Teoritis-Praktis Dan
Serene S. Y., Jerome I. Rotgans.,Elaine H. Implementasinya. Jakarta. Prestasi
J. Yew.,Henk G. Schmidt. (2011). : Pustaka.
”Effect of worksheet scaffolds on Yenice, N. (2011). : “Investigating pre-
student learning in problem-based service Science Teachers’ Critical
learning”. Adv in Health Sci Educ Thinking Dispositions and Problem
16:517–528. Solving Skills in Terms of
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor- Different Variabels”. Educational
Faktor yang Mempengaruhi. Research and Reviews
Jakarta : Rineka Cipta. Vol.6(6),pp.497-508.
Stiggins, R.J. (1994).Student-Centered
Classroom Assessment. New York:
Macmillan.

Beri Nilai