Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PENENTUAN IMUNOLOGI

Disusun oleh :
EKSTENSI FA1 GELOMBANG 2
KELOMPOK 2
Nely Elliana 13171031
Novalina 13171032
Nurul Hidayati Afriwany 13171033
Pipit Parwati 13171034
Prita Dahana 13171035
Very Prio Nugroho 13171043

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG


BANDUNG
2018
I. STRUKTUR ORGANISASI

II. TUJUAN

Untuk membantu menegakkan pemeriksaan demam typhosa.

III. PRINSIP PERCOBAAN

Suspensi antigen yang berwarna dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan


menghitung antibodi spesifik pada serum manusia setelah terinfeksi dengan
Salmonella tertentu. Patogen Rickettsiae dan Brucellae. Suspensi proteus OX2,
OX19 dan OXK digunakan untuk mendeteksi antibodi rickettsial karena spesies
ini muncul pada berbagai polisakarida dengan spesies rickettsia tertentu dan oleh
karena itu menghasilkan aglutinin yang identik dengan mereka. Antigen berwarna
pada demam cocok untuk uji aglutinasi selulosa dan tabung cepat terhadap serum
manusia untuk mendeteksi aglutinin ini. Antigen suspensi berwarna menunjukan
terbunuhnya bakteri dan diwarnai untuk meningkatkan pembacaan tes aglutinasi.
Antigen berwarna biru sangat spesifik untuk antigen somatik sementara antigen
berwarna merah sangat spesifik untuk antagonis 'H' flagellar.

IV. LANDASAN TEORI

Widal atau uji Widal adalah prosedur uji serologi untuk mendeteksi bakteri
Salmonella enterica yang mengakibatkan penyakit Thipoid. Uji ini akan
memperlihatkan reaksi antibodi Salmonella terhadap antigen O-somatik dan H-
flagellar di dalam darah
Pemeriksaan widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam
darah) terhadap antigen kuman Samonella typhi / paratyphi (reagen). Uji ini
merupakan test kuno yang masih amat popular dan paling sering diminta terutama
di negara dimana penyakit ini endemis seperti di Indonesia. Sebagai uji cepat
(rapit test) hasilnya dapat segera diketahui.
Hasil positif dinyatakan dengan adanya aglutinasi. Karena itu antibodi jenis
ini dikenal sebagai Febrile agglutinin. Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak faktor
sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. Hasil positif
palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain pernah mendapatkan
vaksinasi, reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp), reaksi
anamnestik (pernah sakit), dan adanya faktor rheumatoid (RF). Hasil negatif palsu
disebabkan antara lain: penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika, waktu
pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit, keadaan umum pasien yang
buruk, dan adanya penyakit imunologik lain.
Gejala Umum Demam Typhoid Umumnya gejala klinis timbul 8-14 hari
setelah infeksi yang ditandai dengan demam yang tidak turun selama lebih dari 1
minggu terutama sore hari, pola demam yang khas adalah kenaikan tidak turun
selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam yang khas adalah
kenaikan tidak langsung tinggi tetapi bertahap seperti anak tangga (stepladder),
sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan (anoreksia), mual, muntah,
sering sukar buang air besar (konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan peningkatan suhu tubuh, debar jantung relatif
lambat (bradikardi), lidah kotor, hepatomegali dan splenomegali, kembung
(meteorismus), pneumomia dan kadang-kadang dapat timbul gangguan jiwa.
Penyulit lain yang dapat terjadi adalah pendarahan usus, perforasi, radang selaput
perut (peritonitis) serta gagal ginjal. Petanda Serologi Demam Typhoid Tubuh
yang kemasukan Salmonella akan terangsang untuk membentuk antibodi yang
bersifat spesifik terhadap antigen yang merangsang pembentukannya.
Antibodi yang dibentuk merupakan petanda demam typhoid, yang dapat
dikategorikan sebagai berikut :
A. Aglutinin O Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang
daripada aglutinin H atau Vi, karena pembentukannya T independent
sehingga dapat merangsang limposit B untuk mengekskresikan antibodi
tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin O ini lebih bermanfaat dalam
diagnosa dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi dengan antigen
spesifik akan terbentuk endapan seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160
dinyatakan positif demam typhoid dengan catatan 8 bulan terakhir tidak
mendapat vaksinasi atau sembuh dari demam typhoid dan untuk yang
tidak pernah terkena 1/80 merupakan positif.
B. Aglutinin H (flageller) Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam
pembentukan memerlukan rangsangan limfosit T. Titer aglutinin 1/80
keatas mempunyai nilai diagnostik yang baik dalam menentukan demam
typhoid. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam jangka 5-7 hari
berguna untuk menentukan demam typhoid. Bila bereaksi dengan antigen
spesifik akan terbentuk endapan seperti kapas atau awan.
C. Aglutinin Vi (Envelop) Antigen Vi tidak digunakan untuk menunjang
diagnosis demam thypoid. Aglutinin Vi digunakan untuk mendeteksi
adanya carrier. Antigen ini menghalangi reaksi aglutinasi anti-O antibodi
dengan antigen somatik. Selain itu antigen Vi dapat untuk menentukan
atau menemukan penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi atau
kuman-kuman yang identik antigennya.
Diagnosis Tidak adanya gejala-gejala atau tanda yang spesifik untuk demam
typhoid, membuat diagnosis klinik demam typhoid menjadi cukup sulit. Di daerah
endemis, demam lebih dari 1 minggu yang tidak diketahui penyebabnya harus
dipertimbangkan sebagai typhoid sampai terbukti apa penyebabnya. Diagnosis
pasti demam typhoid adalah dengan isolasi/kultur Salmonella typhi dari darah,
sumsum tulang, atau lesi anatomis yang spesifik.
Adanya gejala klinik yang karakteristik demam typhoid atau deteksi respon
antibodi yang spesifik hanya menunjukkan dugaan demam typhoid tetapi tidak
pasti. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium meliputi
pemeriksaan hematologi, urinalisa, kimia klinik, imunoserologi, mikrobiologi, dan
biologi molekular.
Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis
(adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis,
memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit.
(Simalab, 2007).
Pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagonsis demam typhoid
meliputi :
A. Hematologi Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah
leukosit normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan
trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser
ke kiri, mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif,
terutama pada fase lanjut. Jumlah trombosit normal atau menurun
(trombositopenia). Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan
bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak
mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup
tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid
atau bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif
menjadi dugaan kuat diagnosis demam tifoid. (Prasetyo, 2006)
B. Imunologi
1. Widal Slide Diagnosis Demam Tifoid / Paratifoid dinyatakan bila
a/titer O = 1/160, bahkan mungkin sekali nilai batas tersebut harus
lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di
Indonesia. Titer O meningkat setelah akhir minggu.
2. ELISA Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM Pemeriksaan ini
merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang dianggap lebih
sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi
Demam Tifoid atau Paratifoid. Sebagai tes cepat (Rapid Test)
hasilnya juga dapat segera di ketahui. Diagnosis Demam Typhoid/
Paratyphoid dinyatakan : bila lgM positif menandakan infeksi akut
dan jika lgG positif menandakan pernah kontak/ pernah terinfeksi/
reinfeksi/ daerah endemik.
3. Tes Tubex Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi
kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan
menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan
sensitivitas.Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen
O9 yang benar-benar spesifik yang ditemukan pada Salmonella
serogrup D.
Tes ini sangat akurat untuk diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi
antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit.
(Prasetyo, 2006). Tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih baik
daripada uji Widal. Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas
100% dan spesifisitas 100%.
Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar
89%. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan ideal, dapat digunakan untuk
pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di negara
berkembang.
Epidemiologi Karena penyebab demam tifoid secara klinis hampir selalu
Salmonella yang beradaptasi pada manusia, sebagian besar kasus dapat ditelusuri
pada karier manusia.
Penyebab yang terdekat adalah air atau makanan yang terkontaminasi oleh
karier manusia. Penyakit ini jarang di temukan secara epidemik, lebih bersifat
sporadis, terpencar – pencar di suatu daerah, dan jarang terjadi lebih dari satu
kasus pada orang serumah. Di Indonesia demam tipoid dapat ditemukan
sepanjang tahun dan insidens tertinggi pada daerah endemik adalah terjadi pada
anak – anak.
Pencegahan penyakit dilakukan terutama dengan menjaga kebersihan
makanan dan minuman, peningkatan hygiene pribadi, perbaikan sumber air untuk
keperluan rumah tangga, peningkatan sanitasi lingkungan khususnya perbaikan
cara pembuangan faeces manusia serta pemberantasan tikus dan lalat. Selain itu,
pengawasan penjualan bahan makanan dan tempat pemotongan hewan.

V. TAHAP PREANALITIK
A. Identitas Sampel
1. Nama : Very Prio Nugroho
Jenis Kelamin : Laki-laki
Jenis Pemeriksaan : Imunologi
2. Nama : Nurul Hidayati Afriwany
Jenis Kelamin : Perempuan
Jenis Pemeriksaan : Imunologi

3. Nama : Pipit Parwati


Jenis Kelamin : Perempuan
Jenis Pemeriksaan : Imunologi

B. Persiapan Subjek untuk Proses Sampling


Darah merupakan sampel yang digunakan untuk pelaksanaan praktikum
ini yang diperoleh dari praktikan. Oleh karena itu, harus diperhitungkan
faktor-faktor seperti aktivitas fisik pasien, diet, konsumsi obat, merokok,
dan postur tubuh pasien.
Persiapan Subjek
1. Pasien dianjurkan puasa 12 jam sebelum pengambilan darah, yaitu
pada jam 20.00 – 08.00 WIB. Catatan : diperbolehkan minum air
putih, tidak boleh makan.
2. Pasien dalam posisi mendekati keadaan basal, yaitu :
a. Telah mendapat istirahat tidur yang cukup sebelum pemeriksaan.
b. Tidak dalam keadaan/mendapatkan stres yang berlebihan.
c. Tidak/belum melakukan aktivitas berlebih, seperti berolahraga
sebelum pemeriksaan.
d. Pengambilan spesimen sebaiknya pada pagi hari antara pukul
06.00-09.00 WIB.
3. Menginformasikan kepada petugas tentang obat-obatan yang sedang
dikonsumsi.
4. Meghindari merokok, mengkonsumsi alkohol sebelum pemeriksaan.
5. Memperhatikan efek postur dianjurkan untuk duduk dengan tenang
sekitar 10-15 menit, kemudian spesimen diambil.
6. Sampel darah yang digunakan adalah darah pada vena, serum/darah
kapiler, sampel tes diagnostik adalah serum vena.
7. Praktikan mengisi formulir data diri sebagai pertimbangan
pemeriksaan.

C. Proses Pengambilan Sampel


Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara
vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan tabung vakum (
vacutainer ).
Prosedur Pengambilan Darah Vena :
1. Persiapkan alat-alat yang diperlukan : jarum, kapas alkohol 70%,
tali pembendung (turniket), plester, tabung vakum.
2. Pasang jarum pada holder, pastikan terpasang erat.
3. Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah, usahakan
pasien senyaman mungkin.
4. Identifikasi pasien sesuai dengan data di lembar permintaan.
5. Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat
bila pasien minum obat tertentu, tidak puasa, dan sebagainya.
6. Tempat yang akan diambil darah dibasahi dengan alkohol 70% dan
dibiarkan sampai mengering.
7. Pasang turniket (ikatan pembendung) pada lengan atas.
8. Tegangkanlah kulit di atas vena dengan mengepal jari tangan.
9. Tusuklah vena yang terlihat dengan spuit sampai ujung jarum
masuk ke lumen vena.
10. Lepaskan spuit dan ganti dengan pompa vakum untuk menarik
darah dari vena.
11. Lepaskan vakumnya.
12. Taruh kapas kering di atas jarum dan tariklah spuit tersebut.
13. Mintalah kepada orang yang darahnya diambil supaya tempat
tusukannya ditekan beberapa menit.
14. Darah dialirkan ke dalam wadah atau tabung yang tersedia melalui
dinding tabung.

D. Jenis Sampel
Spesimen yang hendak diambil hendakknya disesuaikan dengan jenis
pemeriksaan yang akan dilakukan. Spesimen yang digunakan dalam
pemeriksaan laboratorium banyak macamnya, yaitu : darah utuh (whole
blood), plasma, serum, urin (urin pagi hari, urin sewaktu, urin tampung
24 jam), tinja (feses), dahak (sputum), cairan otak, cairan ascites, cairan
pleura, cairan sendi, nanah (pus), usap (swab) luka, usap tenggorok, usap
hidung, usap nasofaring, sumsum tulang, dan sebagainya.
Dalam praktikum ini terlebih dahulu diambil sampel darah utuh pada tiap
kelompok, masing-masing 3 orang. Kemudian dipreparasi sehingga
dihasilkan serum untuk digunakan dalam percobaan.

E. Penanganan Sampel
1. Identifikasi dan registrasi spesimen.
2. Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius.
3. Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar.
4. Gunakan sentrifus yang terkalibrasi.
5. Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain,
tempeli label.
6. Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan.

Penanganan Sampel Darah


1. Diambil darah dari vena menggunakan spuit 5 cc.
2. Dimasukkan darah ke dalam tabung yang bersih dan kering tanpa
antikoagulan masing-masing 5cc.
3. Dibiarkan darah utuh pada tabung membeku selama kurang lebih 1-2
jam pada suhu ruangan sampai memadat.
4. Disentrifugasi dengan kecepatan 6000-7000 rpm selama 10 menit
untuk memperoleh serum (lapisan atas). Serum yang dihasilkan
dipisahkan dari bekuannya.
5. Dipipet serum sebanyak 2-3 ml dan 5 ml daah utuh.
6. Serum tersebut disimpan dalam lemari pendingin.
F. Kualitas Sampel
Plasma dan serum dalam kondisi normal nampak jernih dan berwarna
kuning pucat. Perubahan warna dapat menjadi tanda bahwa sampel tidak
layak untuk dilakukan pemeriksaan. Sebagai contoh tampilan yang tidak
normal antara lain:
1. Hemolisis: warna merah muda hingga merah, menunjukkan adanya
destruksi sel darah merah
2. Ikterik: warna kuning gelap, menunjukkan peningkatan kadar bilirubin
3. Lipemik: tampilan warna seperti susu, menunjukkan adanya
peningkatan kadar lemak.

VI. TAHAP ANALITIK


A. Alat dan Bahan
1. Alat
a) Mikropipet 1000 µL 1 unit
b) Mikropipet 100 µL 1 unit
c) Tabung Reaksi 8 buah
d) Rak Tabung 1 buah
e) Sentrifuga 1 unit
f) Plat mikro dilusi 1 buah
2. Bahan
a) Reagen 10 mL
b) Serum 10 mL
c) Suspense antigen 2 mL

B. Prosedur Percobaan
1. Persiapan sampel dan spesimen
Gunakan sserum sega yang diperoleh enga sentrifugasi darah. Sampel
disimpan pada suhu 2-8o C selama 48 jam sebelum dilakukan
pengujian. Penyimpanan sampel untuk jangka wakru yang lebih lama
serum harus dibekukan. Darah dan sampel yang terkontaminasi harus
dibuang.
2. Tes Skrining Cepat
a. Dengan menggunakan pipet, tambahkan 0,08 mL reagen ke dalam
sumuran dengan diameter 3 cm
b. Kocok sumur reagen dan tambahkan 1 tetes suspensi antigen yang
tidak diencerkan ke dalam serum
c. Campur sumuran dengan batang pengaduk dan putar slide
d. Jika diamatai aglutinasi titer yang signifikan setelah 1 menit
harus diperoleh konfirmasi dalam tabung uji.
e. Reaksi kira-kira setara dengan pengenceran uji tabung 1:20
f. Pada pengenceran ini efek prozone mungkin terjadi, hal ini dapat
dihindari dengan menggunakan sampel dalam volume kecil atau
melakukan titrasi slide yang cepat

3. Titrasi Slide Cepat


a. Dengam menggunkan pipet, tambahakan 0,08 mL, 0,04 mL, 0,02
mL, 0,01 mL, dan 0,005 mL serum tanpa pengenceran ke dalam
sederet sumur dengan diameter 3 cm
b. Kocok sumuran reagen dan tambahkan 1 tetes suspensi antigen
yang tidak diencerkan ke dalam setiap serum
c. Campur dengan menggunakan batang pengaduk dan putar slide
d. Aglutinasi yang terlihat pada setiap lingkaran sebaiknya dilakukan
uji tabung
0.08 mL =1:20 ; 0,04 mL= 1:40 ; 0,02 mL=1:80 ; 0,01
mL=1:160 ; 0,005 mL=1:320.
e. Dengan cara ini, uji slide cepat memberikan perkiraan pada hasil
yang diharapkan dari uji tabung yang sesuai
Note: Diperlukan untuk melakukan semua pengenceran dalam uji
geser untuk meniadakan efek prozone dimana konsentrasi serum yang
lebih tinggi dapat memberikan hasil negatif namun pengenceran lebih
lanjut dapat memberikan hasil yang positif.
4. Tes aglutinasi tabung
a. Beri label 8 tabung plastik kecil
b. Dengan menggunakan pipet, tambahkan 1,9 mL dari 0,85% garam
ke dalam tabung pertama, dan tambahkan 1 mL ke dalam 7
tabung yang tersisa
c. Dengan menggunakan pipet, ditambahkan 0,1 mL serum tanpa
pengenceran ke dalam tabung pertama, campur menggunakan
pipet volume dan tip
d. Dengan mengunakan pipet, ditambahkan 1 mL dari tabung
pertama ke dalam tabung kedua. Campur dengan baik.
e. Lanjutkan pengenceran sampai pada tabung ke tujuh. Buang 1 mL
dari tabung ke tujuh. Ke delapan tabung hanya akan berisi garam
sebagai kontrol dan karena itu seharusnya tidak mengandung
serum
f. Campur botol reagen dan ditambahkan 1 tetes suspensi antigen
yang sesuai ke dalam setiap tabung dan diaduk.
g. Inkubasi: Brucella, Proteus, and ‘F-’ salmonella pada suhu 37oC
selam 24 jam.
h. Periksa tabung setelah waktu inkubasi dan periksa aglutinasi. titer
yang harus diambil adalah tabung terakhir untuk menunjukkan
aglutinasi.