Anda di halaman 1dari 26

i

MAKALAH

PENERAPAN ERGONOMI DI BAGIAN FILLING

Disusun Guna Memenuhi Penugasaan Mata Kuliah Menejemen Unit Kerja II

Dengan Dosen Pengampu Haryo Nugroho, Skm.

Disusun Oleh :

ANUGRAH PRASETYO AJI

NIM : 2016133006

POLITEKNIK KESEHATAN PERMATA INDONESIA YOGYAKARTA

PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

TAHUN 2018

i
ii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan

nikmatnya berupa kesehatan, kesempatan, kekuatan, keinginan, serta kesabaran,

sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Adapun

maksud dan tujuan dari menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu

tugas yang diberikan oleh dosen pada mata kuliah “Manajemen Unit Kerja II”

Dengan judul ”Pengaplikasian Metode Ergonomi di Rumah Sakit” Dalam proses

menyusun makalah ini kami menjumpai hambatan, namun materi dari berbagai

pihak, akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan cukup baik, oleh

karena itu melalui kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih dan

penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak terkait yang telah membantu

terselesaikannya tugas ini. Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini

masih jauh dari yang diharapkan, sehingga banyak terdapat kekurangan bahkan

kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini. Dalam hal ini kami

menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun dalam menyusun laporan ini

sehingga dapat menjadi laporan yang baik dan dapat digunakan pada masa yang

akan datang.

Yogyakarta, 1 April 2018

Penulis

ii
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3

C. Tujuan .......................................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 4

A. Defenisi Ergonomi ....................................................................................... 4

B. Tujuan, Manfaat, dan Ruang Lingkup Ergonomi ........................................ 4

BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 5

A. Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi .................................................... 5

A. Faktor-faktor Keberhasilan Pencapaian Tujuan Ergonomi .......................... 9

B. Desain dan Ergonomi ................................................................................. 15

BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 18

A. Kesimpulan ................................................................................................ 18

B. Saran ........................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum Ergonomi dapat dikatakan sebagai kemampuan untuk
menerapkan informasi menurut karakter manusia, kapasitas dan
keterbatasannya terhadap desain pekerjaan, mesin dan sistemnya, ruangan
kerja dan linkungan sehingga manusia dapat hidup dan berkerja secara sehat,
aman, nyaman, dan efisien. Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan
teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara fasilitas yang
digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan
keterbatasan manusia baik fisik mauoun mental sehingga kualitas hidup
secara keselurhan menjadi lebih baik (Tarwaka, 2004).
Ergonomi bukan hanya sekedar suatu label kenyamanan untuk suatu
produk. Tetapi lebih jauh merupakan sebuah kajian komprehensif yang
menuntut sebuah studi dan pendekatan keilmuan yang lebih holistik sifatnya.
Untuk dapat menerapkan ergonomi secara lebih detail. Dalam penerapan
ergonomi diperlukan suatu seni, agar apa yang akan diterapan dapat diterima
oleh pemakainya dan memberikan manfaat yan besar kepadanya. Setiap
komponen masyarakat baik masyarakat pekerja maupun masyarakat sosial
diharapkan dapat menerapakan ergonomi dikehidupan kesehariannya dalam
upaya menciptakan tidak hanya sebatas kenyaman , tetapi tujuannya juga
untuk meningkatkan kesehatan, keselamatan dan produktivitas kerja yang
setinggi-tingginya.
Dalam rekam medis ergonomi sangat berperan penting dalam
membantu sistem kerja tenaga rekam medis dalam setiap pekerjaan yang
dilakukan selama bekerja terutama dalam mendesain tempat kerja baik tempat
kerja lama maupun tempat kerja baru dirancang seefisien mungkin dengan
keterbatasan faktor finansial maupun teknologi seperti keleluasan modifikas,

1
ketersedian ruangan, lingkungan, ukuran frekuensi alat yang digunakan,
kesinambungan pekerjaan dan populasi yang ingin ditarget.

B. Rumusan Masalah
Berkaitan dengan faktor ergonomi umumnya disebabkan oleh adanya
ketidaksesuaian antara pekerja dengan lingkungan kerja secara menyeluruh
termasuk peralatan kerja yang digunakan. Maksud dan tujuan ergonomi
diarahkan pada upaya memperbaiki performance kerja dan mampu
memperbaiki pendayagunaan SDM serta meminimalisir kerusakan alat atau
peralatan yang disebabkan oleh kesalahan manusia.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum:
Mengetahui peran penting ergonomi dalam kerja Rekam Medis.
2. Tujuan Kusus:
a. Mengetahui tujuan dan ruang lingkup ergonomi
b. Mengetahui konsep keseimbangan dalam ergonomi
c. Faktor-faktor keberhasilan pencapaian tujuan ergonomi.
d. Mengetahui desain tempat kerja

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan di Unit Rekam Medis


1. Pengertian Rekam Medis
Menurut Permenkes RI No.269/MENKES/PER/III/2008 bab 1 pasal
1 Rekam Medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Berbeda lagi pendapat Huffman EK menyatakan bahwa Rekam
Medis merupakan rekaman atau catatan mengenai siapa, apa, mengapa,
bilamana, dan bagaimana pelayanan yang diberikan kepada pasien selama
masa perawatan yang memuat pengetahuan mengenai pasien, dan
pelayanan yang diperolehnya serta memuat informasi yang cukup untuk
mengidentifikasi pasien, membenarkan diagnosa dan pengobatan serta
merekam hasilnya.
Sistem rekam medis merupakan suatu sistem untuk melayani pasien
sebagai manusia seutuhnya, berarti memandang pasien sebagai
keseluruhan secara utuh tercatat dalam formulir-formulir dokumen rekam
medis. Data yang dicatat di dalam formulir tidak terpisah-pisah
informasinya, sedangkan pengertian hasil pelayanan kepada pasien dapat
dinilai dan dilihat pada formulir-formulir dalam dokumen rekam medis,
berarti dokumen rekam medis dapat diambil kembali (retrieve) untuk
dibaca, dilihat kembali, dan dinilai hasil-hasil pelayanan tersebut.
2. Tujuan Rekam Medis
Rekam medis memiliki tujuan untuk menyediakan informasi guna
memudahkan pelayanan kepada pasien dan memudahkan pengambilan
keputusan manajemen serta pelayanaan kesehatan. Tujuan yang lain untuk
mendukung tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya
peningkatan pelayanan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang lain.

4
2

3. Kegunaaan Rekam Medis


Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari berbagai aspek, salah
satunya aspek administration (Administrasi) yang memiliki nilai
administrasi karena isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang
dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam mencapai
suatu tujuan pelayanan kesehatan dan aspek documentation karena isinya
menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan sebagai
bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah sakit.
4. Kegiatan Rekam Medis
Kegiatan rekam medis salah satunya meliputi penerimaan/
pendaftaran pasien. Tempat Penerimaan Pasien/ Pendaftaran Pasien Rawat
Jalan (TPPRJ) merupakan pintu masuk pertama dalam penerimaan dan
pendaftaran pasien rawat jalan karena dimana setiap pasien yang akan
berobat di rumah sakit harus terlebih dahulu mendaftar di TPPRJ.

Tugas pokok petugas pendaftaran pasien rawat jalan

a. Menerima pendaftaran pasien Rawat Jalan


b. Melakukan pencatatan pendaftaran (registrasi) Rawat Jalan
c. Menyediakan formulir-formulir rekam medis dalam folder Dokumen
Rekam Medis bagi pasien yang baru pertama kali berobat (pasien baru)
& pasien yang datang pada kunjungan berikutnya (pasien lama)
d. Mengarahkan pasien ke poli sesuai dengan keluhnannya
e. Memberi informasi tentang pelayanan di Rumah sakit tersebut.

Kegiatan rekam medis yang berkaitan dengan penerimaan pasien/


pendaftaran dijelaskan sebagai berikut:
1) Setiap pasien baru yang diterima di tempat penerimaan pasien (TPP)
ditanya oleh petugas untuk mendapatkan data identitas yang akan
diisikan pada formulir Ringkasan Riwayat Klinik.
2) Setiap pasien baru akan memperoleh nomor pasien yang akan
digunakan sebagai nomor kartu pengenal. Kartu pengenal harus dibawa

2
pada kunjungan berikutnya, baik sebagai pasien rawat jalan maupun
pasien rawat inap.
3) Berkas rekam medis pasien baru akan dikirim oleh petugas sesuai
dengan poliklinik yang dituju. Berkas pasien yang harus dirawat akan
dikirim keruang perawatan.
Sedangkan untuk penerimaan pasien lama sebagai berikut :
Pasien lama dibedakan antara pasien datang dengan perjanjian dan
pasien pasien datang tanpa perjanjian. Baik pasien perjanjian atau tanpa
perjanjian mendapat pelayanan di tempat penerimaan/pedaftaran pasien.
a) Pasien dengan perjanjian akan langsung menuju poliklinik tujuan
karena berkas rekam medisnya sudah disiapkan oleh petugas.
b) Pasien tanpa perjanjian harus menunggu karena berkas rekam medis
akan dimintakan oleh petugas TPP ke bagian rekam medis.
c) Setelah berkas rekam medis dikirim ke poliklinik, pasien akan
mendapat pelayanan (Depkes RI, 1993).
Adapun sarana dan alat yang digunakan di tempat pendaftaran pasien
rawat jalan :
1) Meja dan kursi untuk penerimaan pasien
2) Alat tulis kantor
3) Formulir rekam medis rawat jalan
4) Cover/ sampul rekam medis dan penjepit
5) KIB ( Kartu Indeks Berobat)
6) KIUP (Kartu Indeks Utama Pasien)
7) Tempat penyimpanan Formulir rekam medis rawat jalan (Lemari atau
laci)
8) Buku Register
9) Formulir Bon peminjaman

3
B. Defenisi Ergonomi

Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam


kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah
manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan
kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi.
Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan
dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan
kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.
Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan
untuk “fitting the job to the worker”, sementara itu ILO antara lain
menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya
dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar
mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan
produktivitasnya”

C. Tujuan, Manfaat, dan Ruang Lingkup Ergonomi


Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja dimulai dari
yang sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan
yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan
produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja
yang cocok, aman, nyaman dan sehat.
1. Tujuan
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan
beban kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat
kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja.

4
4

b. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan


kualitas kontak sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik
dan menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja.
c. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek
teknik, ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin
untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
2. Manfaat
Adapun Manfaat pelaksanaan ergonomi adalah sebagai berikut:
a. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
b. Menurunnya kecelakaan kerja.
c. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
d. Stress akibat kerja berkurang.
e. Produktivitas membaik.
f. Alur kerja bertambah baik.
g. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
h. Kepuasan kerja meningkat.
3. Ruang Lingkup Ergonomi
Dimana ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain
meliputi :
a. Tehnik
b. Fisik
c. Pengalaman psikis
d. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan
otot dan persendian
e. Anthropometri
f. Sosiologi
g. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen
up take, pols, dan aktivitas otot.
h. Desain, dll.

4
BAB III
PEMBAHASAN

A. Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi


Secara umum definisi-definisi ergonomi yang ada membicarakan
masalah-masalah hubungan antara manusia pekerja dengan tugas dan
pekerjaannya serta desain dari objek yang digunakanya.
Ergonomi dapat diterapkan di mana saja, baik lingkungan rumah, di
perjalanan, di lingkungan sosial maupun dalam saat bekerja, istirahat mauoun
dalam berinteraksi sosial kita dapat melakukannya dengan sehat, aman dan
nyaman. Ergonomi juga berkaitan dengan kualitas hidup manusia. Organisasi
perburuhan internasional (ILO) menetapkan, bahwa yang dimaksud dengan
kualitas hidup manusia pekerja adalah sebagai pencapaian kualitas hidup
manusia secara optimal, baik di tempat kerja, di lingkungan social maupun di
lingkungan keluarga, hal ini pula yang menjadi tujuan utama dari penerapan
ergonomi. Berikut konsep keseimbagan kerja antara kapasitas kerja dengan
tuntutan tugas, antara lain :
1. Kemampuan Kerja
Kemampuan kerja seseorang sangat ditentukan oleh :
a. Personal capacy (karakteristik pribadi) : meliputi factor usia, jenis
kelamin, pendidikan, pengalaman, status sosia, agama dan
kepercayaan, status kesehatan, kesegarantubuh dan sebagainya.
b. Physiological capacity (kemampuan fisiologis) : meliputi kemampuan
dan daya tahan cardiovascular, syaraf otot, panca indra dan
sebagainya.
c. Physiological (kemampuan psikologis) : berhubungan dengan
kemampuan mental, waktu reaksi, kemampuan adaptasi,
stabilitas,emosi dan sebagainya.

5
6

d. Biomechanical (kemampuan Bio-mekanik) berkaitan dengan


kemampuan dan daya tahan sendi dan persendian, tendon, dan jalian
tulang.
2. Tuntutan Tugas
Tuntuntan tugas pekerjaan/aktivitas tergantung pada :
a. Task dan material characteristics (karakteristik tugas dan material) di
tentukan oleh karakteristik peralatan dan mesin, tipe, kecepatan, dan
irama dan sebagainya.
b. Organization characteristics (karakteristik organisasi) berhubungan
dengan jam kerja dan jam istirahat,kerja malam dan giliran, cuti dan
libur, manajemen dan sebagainya.
c. Environmental characteristics, berkaitan dengan manusian teman
setugas, suhu dan kelembaban, bising dan getaran, penerangan, sosial-
budaya, tabu, norma, adat dan kebiasaan, bahan-bhan pencemar dan
sebagainya.
3. Performasi
Performasi atau tampilan seseorang sangat tergantung kepada
rasio dari besarnya tuntutan tugas dengan besarnya kemampuan yang
bersangkutan.
a. Bila rasio tuntutan tugas lebih besar dari pada kemampuan seseorang
atau kapasitas kerjanya, maka akan terjadi penampilan kahir berupa:
ketidaknyamanan, kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit dan
sebagainya.
b. Sebaliknya bila tuntutan tugas lebih rendah daripada kemampuan
seseorang dan kapasitas kerjanya, maka akan terjadi penampilan
akhir berupa : kebosanan, kejemuan, kelesuan, sakit dan tidak
produktif.
c. Agar penampilan menjadi optimal maka perlu adanya keseimbangan
dinamis antara tuntutan tugas kerja dengan kemampuan yang dimiliki
sehingga tercapai kondisi dan lingkungan yang sehat, aman dan
nyaman.

6
7

4. Metodologi Ergonomi
1. Wawancara
Metode wawancara merupakan suatu rangkaian kesatuan dari
beberapa pertanyaan. Wawancara berbeda pertanyaan seperti pada
kuesioner. Wawancara bertujuan untuk mengurangi kelakuan dalam
sebuah pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang lebih diterima.
Seorang pewawancara harus lebih bijaksana dan fleksibel dalam
mengajukan pertanyaan untuk mengali informasi(Wilson and corlet,
1990).
2. Metode Observasi
Metode Observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung
pada suatu sistem kerja dan datanya sangat diperlukan sebelum
dilakuan intervensi atau analisis lebih lanjut. Tujuan pengamatan
langsung adalah untuk mendapatkan data sebagai dasar untuk
menentukan perbaikan yang sesuai dalam menyelesaikan masalah.
3. Metode Cheklist
Cheklist berisikan daftar beberapa item yang diisikan sesuai
dengan situasi yang ada, atau mencatat suatu kejadian dalam ssstem
kerja.
4. Diagnosis
Dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi
tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik
checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan
sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.
5. Treatment
Pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat
diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel,
letak pencahayaan atau jendela yang sesuai.Membeli furniture sesuai
dengan demensi fisik pekerja

7
8

6. Follow-up
Dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya
dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri
bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain.Secara obyektif
misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka
kecelakaan dan lain-lain.
7. Penerapan Ergonomi
a. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk
dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil
selama bekerja.Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang
belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada
dua kaki.
b. Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan
posisi Proses Kerja
Waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran
anthropometrinya.Harus dibedakan ukuran anthropometri barat
dan timur.
c. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas
kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih
banyak digunakan daripada kata-kata.
d. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni,
dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu
berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot
dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
e. Menjinjing beban
Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan
ILO sbb:

8
9

1) Laki-laki dewasa 40 kg
2) Wanita dewasa 15-20 kg
3) Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
4) Wanita (16-18 th) 12-15 kg
f. Organisasi kerja
Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :
1) Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun
2) Frekuensi pergerakan diminimalisasi
3) Jarak mengangkat beban dikurangi
4) Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan
mengangkat tidak terlalu tinggi.
5) Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
g. Mengangkat beban
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode
kinetik dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan
pada dua prinsip :
1) Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
2) Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan
momentum berat badan.
Metode ini termasuk 5 faktor dasar :
a) Posisi kaki yang benar
b) Punggung kuat dan kekar
c) Posisi lengan dekat dengan tubuh
d) Mengangkat dengan benar

B. Faktor-faktor Keberhasilan Pencapaian Tujuan Ergonomi


Faktor Internal, yaitu lingkungan internal organisasi yang terdiri dari
kekkuatan dan kelemahan yang ada didalam organisasi tetapi biasanya tidak
dalam pengendalian jangka pendek dari manajemen puncak. Faktor internal
meliputi sarana dan prasarana, sumber daya manusia dan koordinasi antar
unit. Dan faktor Eksternal, yaitu lingkungan luar yang melengkapi operasi

9
organisasi yang dari padanya muncul peluang dan ancaman. Faktor eksternal
mencakup pengguna jasa, kelengkapan administrasi dan koordinasi dengan
instasi lain.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam bekerja.
Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Faktor diri, Faktor ini datang dari dalam diri si pekerja dan sudah ada
sebelum ia memulai bekerja. Faktor diri tersebut antara lain : attitude,
sikap, karakteristik fisik, minat, motivasi, usia, jenis kelamin, pendidikan,
pengalaman dan system nilai.
2. Faktor situasional, faktor ini dating dari luar si pekerja dan hampir
sepenuhnya dapat diatur dan diubah oleh pimpinan perusahaan sehingga
disebut juga factor-faktor manajemen yang antara lain :
a. Faktor sosial dan keorganisasian seperti karakteristik perusahaan,
pendidikan dan patihan, pengawasan, pengupahan, dan lingkungan
social.
b. Faktor fisik antara lain : mesin, peralatan, material, lingkungan kerja,
dan metode kerja.
Besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap keberhasilan kerja
bukan hanya sekedar hasil jumlah atau rata-rata dari pengaruh setiap facor
tersebut, tetapi merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor tersebut,
dan kadang-kadang mengikuti mekanisme yang sangat kompleks. Dengan
demikian pimpinan perusahaan harus dapat mengatur semua faktor-faktor
dari pekerja intuk menciptakan keberhasilan yang maksimal.
3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara
pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanyabaik fisik maupun
psikis dalam hal cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi yamg
bertujuan untuk :
1) Memelihara dan meningkatakan derajat kesehatan masyarakat
pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental
maupun kesejahteraan sosialnya.
2) Mencegah gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.
3) Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam
pekerjaannya dan memungkinkan bahaya yang disebabkan oleh
faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4) Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan
yang sesuai dengan kemampuan fisik an psikis pekerjanya.
(http://www.departemenkesehatan.go.id/index.php, 2008).

4. Risiko karena Kesalahan Ergonomi


Sering kita jumpai pada sebuah industri terjadi kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja tersebut disebabkan olek factor dari pekerja sendiri atau
dari pihak manajemen perusahaan. Kecelakaan yang disebabkan oleh
pihak pekerja sendir antara lain karena pekerja tidak hari-hati atau
mereka tidak mengindahkan peraturan kerja yang telah dibuat oleh pihak
manajemen. Sedangkan faktor penyebab timbulnya dari pihak
manajemen, biasanya tidak adanya alat-alat keselamatan kerja atau
bahkan cara kerja yang dibuat oleh pihak manajemen masih belum
mempertimbangkan segi ergonominya.
5. Penerapan Ergonomi Dalam Kesehatan
Kata ergonomi di tingkat nasional mulai diperkenalkan sejak tahun
1969 melalui suatu pertemuan ilmiah dengan tema “Kesehatan dan
Produktivitas” dalam suatu judul makalah “Approach Ergonomi Dalam
rangka Meningkatakan Produktivitas Tenaga Kerja Perusahaan”
(manuaba, 1987).
Dari tahun 1977, dalam ergonomic telah diperkenalkan konsep
teknologi tetap guna dalam memilih dan alih teknologi. Dalam perjalanan
waktu konsep tersebut dalam penerapannya mendapatakan hambatan-
hambtan, sehingga masih terdapat kecelakaan, penyakit akibat pekerjaan
yang dilaksanakan. Selanjutnya konsep teknologi tetap guna tersebut
dalam penerapannya harus dikaji lagi dengan systemic, Holistic,
Interdisciplinary dan Participatory (SHIP). Konsep tambahan ini telah
diperkenalkan sejak tahun 1999, yang dikenal dengan istilah SHIP.
(Artayasa,2010). Pengabingan kedua konsep ini oleh konseptor yaitu
Prof. Adnyna Manuaba, kemudian disebutkan dengan istilah.
6. Penyakit-penyakit di Tempat Kerja yang Berkaitan dengan Ergonomi
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis
teratur. Supervisi medis yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara
lain :
1) Pemeriksaan sebelum bekerja, bertujuan untuk menyesuaikan dengan
beban kerjanya.
2) Pemeriksaan berkala, bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai
dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan.

3) Nasehat
Harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya
pada wanita muda dan yang sudah berumur.

Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi


kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis
kelelahannya, beberapa ahli membedakan / membaginya sebagai berikut :
1) Kelelahan fisik
Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih
dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula.
Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat
dan tidur yang cukup.
2) Kelelahan yang patologis
Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita,
biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya.
3) Psikologis dan emotional fatique
Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan
merupakan sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada
penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan
mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.
Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun
seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal di
bawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi :
a. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan
ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising.
b. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang
cukup saat makan siang.
c. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor.
d. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus.
e. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin,
kalau memungkinkan.
f. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan
semangat kerja.
g. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja.
h. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja
i. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;
1) Pekerja remaja
2) Wanita hamil dan menyusui
3) Pekerja yang telah berumur
4) Pekerja shift
5) Migrant.
j. Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alcohol dan zat
stimulant atau zat addiktif lainnya perlu diawasi.
Tes kelelahan tidak sederhana, biasanya tes yang dilakukan
seperti tes pada kelopak mata dan kecepatan reflek jari dan mata serta
kecepatan mendeteksi sinyal, atau pemeriksaan pada serabut otot secara
elektrik dan sebagainya.
7. Permasalahan Ergonomi
Penanggulangan permasalahan ergonomi di setiap jenis pekerjaan
dapat dilakukan setelah mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses
kerja dan posisi kerjanya. Di bawah ini akan diuraikan contoh masalah
ergonomi yang dapat timbul akibat ketidaksesuaian antara pekerja dan
pekerjaannya.
8. Faktor - faktor Penyebab Masalah
Beberapa faktor - faktor yang menyebabkan terjadi masalah
adalah:
a. Banyaknya properti dan perlengkapan kerja yang tidak diperlukan.
b. Banyaknya perangkat kerja yang tidak ergonomis, seperti kursi, meja,
rak.
c. Kurangnya pengetahuan dan inovasi terhadap perancangan ruang kerja
yang ergonomis.
d. Minimnya dana untuk sarana prasarana.
e. Sempitnya ruang kerja
9. Akibat Permasalahan
Adapun beberapa akibat yang ditimbulkan dari masalah adalah:
a. Ketidaknyamanan dalam bekerja akan terasa.
b. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja akan beisiko tinggi.
c. Menurunnya efisiensi dan daya kerja.
d. Meningkatkan kelelahan dan rasa nyeri dalam bekerja.
10. Pemecahan/ Solusi Masalah
Beberapa pemecahan/ solusi masalah adalah:
a. Merancang tempat kerja yang ergonomis dengan mengaplikasi data
anthropometri dan disesuaikan dengan ruang kerja.
b. Merancang ulang perangkat kerja yang ergonomis seperti kursi, meja,
rak, pintu, jendela, dan lain-lain.
c. Memperluas tempat kerja sesuai dengan kebutuhan.
d. Mengatur pencahayaan yang cukup.
C. Desain dan Ergonomi
Desain dapat diartikan sebagai salah satu aktivitas luas dari inovasi
desain dan teknologi yang digagaskan, dibuat, diperlukan (melalui transaksi
jual-beli) dan fungsional. Desain merupakan hasil kreativitas budi-daya (man-
made object) manusia yang diwujudkan untuk memenuhui kebutuhan manusia
yang memerlukan perencanaan, perancangan maupu pengembangandesain,
yaitu melalui tahap menggali ide atau gagasan, dilanjutkan dengan tahapan
pengembangan, konsep perancangan, system dan detail, pembuatan propertipe
dan proses produksi, evaluasi, dan terakhir dengan tahap pendistribusian ide
dan gagasan, penggembangan teknik, proses produksi serta peningkatan pasar.
Dalam proses pembuatan produk tidak semata mengejar fungsi akan
tetapi harus mempertimbangkan juga dari segi keamanan dalam pemakaian,
nyaman ketika digunakan, efisien dalam penggunaan bahan, dan bentuk
menarik untuk dipandang.
Ruang lingkup kegiatan desain mencakup masalah yang berhubungan
dengan sarana kebutuhan manusia, di antaranya desain interior, desain mebel,
desain alat-alat lingkungan, desain alat transportasi, desain tekstil, desain
grafis, dan lain-lain.
Salah satu fasilitas penunjang kegiatan manusia adalah kursi. Pada saat
duduk tulang menyangga anggota tubuh bagian atas melalui poros tulang
belakang. Tulang duduk bersentuhan langsung dengan alas duduk. Hal ini
mengakibatkan terjadinya tekanan pada sekitar pembuluh darah akibat berat
tubuh bagian atas. Pada situasi ini, otot akan terasa merasa lelah karena
adanya penimbunan asam laktat.
Bentuk kursi sangat dipengaruhi otonomi tubuh dan kebutuhan akan
komponen-komponen penyangga organ tubuh. Kursi yang baik bisa
menompang punggung dan pantat, ini bertujuan agar beban dapat terdistribusi
secara merata ke bidang sandaran dan alas duduk. Kursi ergonomis mampu
meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja manusia. Pada saat duduk
manusia memerlukan lebih sedikit energy daripada berdiri karena duduk
mengurangi beban otot statis pada kaki.
Posisi duduk memberikan kesempatan istirahat dan secara potensial,
posisi duduk lebih produktif. Kemampuan bekerja dapat ditingkatkan dan
daya tahan menjadi lebih lama. Akan tetapi sikap duduk yang salah dapat
menyebabkan masalh pada organ tubuh bagian belakang terutama daerah
sekitar punggung. Tulang belakang melakukan pemekaran ke bawah sehingga
terjadi ketegangan otot dan kekakuan pada daerah sekitar belakang pinggang.
Tujuan dari fasilitas kursi adalah menyangga tubuh manusia sehingga
kestabilan postur tubuh dapat terjaga dengan baik. Dengan demikian,
didapatkan rasa nyaman untuk beberapa waktu dan secara pratis merasakan
kepuasan (Pheasant, 1986) memberikan acuan sebagai titik tolak dalam
mendesain sebuah kursi sebagai berikut :
1. Tinggi alas Duduk (Seat Height)
Tinggi alas duduk adalah jarak yang didapat dari lantai ke arah
permukaan alas duduk.
2. Kedalaman Alas Duduk (Seat Depth)
Jarak ini di ukur dari ujung alas duduk sampai ke belakang
menyentuh sandaran punggung. Jika terlalu panjang, ujung alas duduk
akan menekan daerah lutut bagian dalam. Semakin dalam ukuran alas akan
mempersulit pungguna kursi duduk dan berdiri.
3. Sandaran Punggung (Backrest)
Pada prinsipnya, sandaran punggung berfungsi untuk menahan
beban anggota tubuh bagian atas (torso). Secara ideal posisi sandaran
duduk tidak tugak lurus terhadap alas duduk, melainkan agak condong ke
belakang.
4. Lebar Alas Duduk (Seat Width)
Pada prinsipnya, sejauh tulang duduk dapat tersangga dengan baik
oleh alas duduk, dapat dikatakan kita telah duduk dengan baik. Akan
tetapi, dari perhitungan kenyamanan, hak tersebut belum dapat dikatakan
sepenuhnya nyaman karena ada bagian pantat yang harus disangga.
Dengan sendirinya jarak minimal antar tulang duduk (Ischial Tuberosities)
harus diperlebar.
5. Sudut Sandaran
Sudut sandaran sebaiknya berkisar antara 105-115 derajat. Jika
pengukuran sudut rebah lebih besar dari yang direkomendasikan, akan
terjadi kemungkinan kesulitan untuk berdiri karena badan ditarik ke depan
terlebih dahulu.
6. Sandaran Lengan
Diperlikan adanya sandaran lengan sebagai alas istirahat tangan
dan tumpuan pada saat pengguna berdiri. Lebih disarankan ujung sandaran
tidak terlalu tajam.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja dimulai dari yang
sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Ergonomi dapat
diterapkan di mana saja, baik lingkungan rumah, di perjalanan, di lingkungan
sosial maupun dalam saat bekerja, istirahat mauoun dalam berinteraksi sosial
kita dapat melakukannya dengan sehat, aman dan nyaman.
Faktor-faktor keberhasilan pencapaian tujuan ergonomi yaitu faktor
Internal, yaitu lingkungan internal organisasi yang terdiri dari kekkuatan dan
kelemahan yang ada didalam organisasi tetapi biasanya tidak dalam
pengendalian jangka pendek dari manajemen puncak. Faktor internal meliputi
sarana dan prasarana, sumber daya manusia dan koordinasi antar unit. Dan
faktor eksternal, yaitu lingkungan luar yang melengkapi operasi organisasi
yang dari padanya muncul peluang dan ancaman.
Desain merupakan hasil kreativitas budi-daya (man-made object)
manusia yang diwujudkan untuk memenuhui kebutuhan manusia yang
memerlukan perencanaan, perancangan maupu pengembangan desain, yaitu
melalui tahap menggali ide atau gagasan, dilanjutkan dengan tahapan
pengembangan, konsep perancangan, sistem dan detail, pembuatan propertipe
dan proses produksi, evaluasi, dan terakhir dengan tahap pendistribusian ide
dan gagasan, penggembangan teknik, proses produksi serta peningkatan pasar.
Bentuk kursi sangat dipengaruhi otonomi tubuh dan kebutuhan akan
komponen-komponen penyangga organ tubuh. Kursi yang baik bisa
menompang punggung dan pantat, ini bertujuan agar beban dapat terdistribusi
secara merata ke bidang sandaran dan alas duduk. Kursi ergonomis mampu
meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja manusia. Pada saat duduk
manusia memerlukan lebih sedikit energy daripada berdiri karena duduk
mengurangi beban otot statis pada kaki. Titik tolak dalam mendesain sebuah

18
kursi sebagai berikut : Tinggi alas Duduk (Seat Height), Kedalaman Alas
Duduk (Seat Depth), Sandaran Punggung (Backrest), Lebar Alas Duduk (Seat
Width), Sudut Sandaran, Sandaran Lengan.

B. Saran
Sebaiknya setiap pekerja yang bekerja menerapkan gaya hidup yang
ergonomis agar tingkat penyakit pada setiap pekerja menurun dan gaya hidup
sehan dan nyaman pun tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Gede Arimbawa, I Made. Asfek Metodologi Dalam Peneltian


Ergonomi.Institut Seni Indonesia Denpasar, 2011.

Wardani, Laksmi Kusuma. Evaluasi Ergonomi Dalam Perancangan Desain.


Jurnal Demensi Interior 2003; 1(1): 61-73

Wiranata, Edy. Redesain Kersi Kuliah Ergonomis Dengan Pendekatan


Anthirometri. Skripsi. Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2011.

Aulia, Feby Riska. Factor-faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Kesehatan dan


Keselamatan Kerja Makasar. Skripsi. Universitas Hasanuddin, 2012.

Setyawan, Febri Endra Budi. Penerapan Ergonomi Dalam Konsep Kesehatan.


2011; 7(14): 39-50

20

Anda mungkin juga menyukai