Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN KASUS

TEKNIK PEMERIKSAAN CT-SCAN KEPALA


PADA KLINIS CEDERA OTAK RINGAN (COR)
DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KABUPATEN SIDOARJO
Disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Praktek Kerja Lapangan 3

Disusun Oleh:
INTAN LISA IRIANA
NIM: P1337430216061

PRODI D-IV TEKNIK RADIOLOGI


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
TAHUN 2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sebagai laporan

guna memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan (PKL) 3 Jurusan Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Semarang.

Nama : Intan Lisa Iriana

NIM : P1337430115016

Hari, tanggal : Rabu ., 21 November 2018

Judul : “TEKNIK PEMERIKSAAN CT-SCAN PADA

KLINIS CEDERA OTAK RINGAN DI INSTALASI

RADIOLOGI RSUD KABUPATEN SIDOARJO”

Kepala Instalasi Radiologi Clinical Instructure


RSUD Kabupaten Sidoarjo RSUD Kabupaten Sidoarjo

Dr.Irawati, Sp, Rad Adhi Artono, S. Tr


NIP. 196212081989032009

Kepala Subbagian
Pendidikan dan Penelitian
RSUD Kabupaten Sidoarjo

Agus Santoso, S.Kp, M.Kes

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat

dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan Praktek Kerja

Lapangan serta dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Laporan Praktek

Kerja Lapangan ini bersumber dari semua data yang penulis peroleh dalam

melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang mulai dilakukan pada

tanggal 29 Oktober sampai 24 November 2018 di Instalasi Radiologi RSUD

Kabupaten Sidoarjo.

Dalam penyusunan laporan hasil Praktek Kerja Lapangan ini penulis

banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,

pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Warijan, S.Pd, A.kep, M.Kes., selaku direktur Poltekkes Kemenkes

Semarang,

2. Ibu Rini Indrati, S.Si, M.Kes., selaku Kepala Jurusan Teknik Radiodiagnostik

dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Semarang,

3. Ibu Siti Masrochah, S.Si, M.Kes., selaku ketua prodi Sarjana Terapan Teknik

Radiologi,

4. Ibu Dr. Irawati, Sp.Rad, selaku kepala Intaslasi Radiologi RSUD Kabupaten

Sidoarjo.

5. Bapak Adhi Artono, S. Tr, selaku Clinical Instruktur Instalasi Radiologi

RSUD Kabupaten Sidoarjo.

iii
6. Seluruh radiolog, radiografer, staf, dan karyawan Instalasi Radiologi RSUD

Kabupaten Sidoarjo yang telah memberikan bimbingan praktek serta ilmu

yang sangat berharga selama di Instalasi Radiologi,

7. Orang tua tercinta dan kakak yang selalu memberikan doa serta dukungan

moral dan material yang tak ternilai harganya.

8. Teman-teman angkatan 32 Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi

Politeknik Kesehatan Semarang.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari

sempurna, mengingat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang penulis

miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun dari semua pihak demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata penulis

berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan ilmu

pengetahuan dan wawasan kita semua khusunya di bidang radiologi. Aamiin.

Sidoarjo, November 2018

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... ii

KATA PENGANTAR .................................................................................. iii

DAFTAR ISI ................................................................................................. v

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vii

DAFTAR TABEL ........................................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................... 2

1.4 Manfaat Penulisan ................................................................... 3

1.5 Sistematika Penulisan .............................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Otak .................................................... 4

2.2 Anatomi Tulang Tengkoran (Cranium) ................................... 11

2.3 Patologi Cedera Otak ............................................................... 16

2.4 Parameter CT-Scan .................................................................. 18

2.5 Teknik Pemeriksaan CT-Scan Kepala ..................................... 38

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Paparan Kasus.......................................................................... 29

3.2 Teknik Pemeriksaan dan Hasil ................................................ 30

v
3.3 Pembahasan ............................................................................. 40

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan .............................................................................. 42

4.2 Saran ........................................................................................ 42

DAFTAR REFERENSI ............................................................................... 44

LAMPIRAN .................................................................................................. 45

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Anatomi Batang Otak dan Diancephalon ................................. 4

Gambar 2.2 Anatomi otak secara keselurhan dan letak Cerebellum berada

pada inferior dari batang otak ................................................... 6

Gambar 2.3 Letak Diancephalon di dalam kepala digambarkan dengan

gambar berwarna merah............................................................ 7

Gambar 2.4 Anatomi Thalamus .................................................................... 7

Gambar 2.5 Anatomi Gyrus dan Sulcus ....................................................... 8

Gambar 2.6 Anatomi Lobus dari pandangan superior.................................. 9

Gambar 2.7 Anatomi Lobus dari pandangan lateral .................................... 10

Gambar 2.8 Tulang Cranium pandangan anterior ....................................... 12

Gambar 2.9 Tulang Cranium dari pandangan lateral ................................... 13

Gambar 2.10 Tulang Cranium dari pandangan superior ................................ 15

Gambar 2.11 Tulang Cranium bayi dari pandangan anterior, tampak sutura

metopic ...................................................................................... 15

Gambar 3.1 Pesawat CT-Scan ...................................................................... 30

Gambar 3.2 Computer dan Operator Console .............................................. 31

Gambar 3.3 Mesin pencetak gambar ............................................................ 31

Gambar 3.4 Tampilan saat entry data pasien ............................................... 33

Gambar 3.5 Scout proyeksi A. AP dan B. Lateral ........................................ 36

Gambar 3.6 Potongan Axial pada slice ke-4 menujukkan sinus maxilaris

yang terisi cairan ....................................................................... 37

vii
Gambar 3.7 Potongan Axial pada slice ke-10 menujukkan adanya fraktur

pada zygomaticum ..................................................................... 37

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Nama tulang penyusun Cranium dan jumlahnya ...................... 12

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemeriksaan radilogi memiliki perkembangan yang sangat pesat.

Berbagai modalitas dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan penegakkan

diagnosa yang beragam. Salah satu modalitas tersebut adalah Computed

Tomography Scan (CT-Scan), yang dikenalkan pertama kali oleh Sir Godfrey

Newbold Houndfield, seorang insinyur dari EMI London dengan James

Ambrosse, seorang teknisi dari Marley’s Hospital London pada tahun 1970.

(Seeram, 2009)

Modalitas CT-Scan memiliki kemampuan untuk membedakan bagian-

bagian yang kecil dan saling superposisi, dibandingkan dengan pemeriksaan

radiografi konvensional pada umumnya. Sehingga pemeriksaan ini sesuai

untuk membantu menegakkan diagnosa khususnya pada organ yang saling

superposisi seperti cranium, abdomen, thorax, serta organ-organ di dalamnya.

Untuk pemeriksaan CT-Scan juga dapat menampakkan kelainan yang

terjadi di dalam otak, biasanya pada kasus cedera, pemeriksaan CT-Scan

sangat membantu dalam menamppakan pedarahan di otak dan dapat

mengetahui ada tidaknya fraktur yang tidak dapat ditampakkan dengan

radiografi konvensional

1
Untuk itu penulis ingin mengetahui serta memahami teknik pemeriksaan

CT-Scan kepala dengan klinis cedera otak yang dilakukan di Instalasi

Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo.

Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin mengkaji lebih lanjut mengenai

teknik pemeriksaan CT-Scan kepala di Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten

Sidoarjo dan mengangkatnya dalam bentuk laporan kasus dengan judul:

“Teknik Pemeriksaan CT-Scan pada Klinis Cedera Otak Ringan di Instalasi

Radiologi RSUD Kabupaten”.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka penulis dapat menarik suatu rumusan

masalah yang akan dibahas yaitu

1.2.1 Bagimana teknik pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis

Cedera Otak Ringan di Instalasi Radiologi RSUD

Kabupaten Sidoarjo?

1.2.2 Apakah dengan pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis

Cedera Otak Ringan sudah dapat menegakkan diagnosa di

Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah:

1.3.1 Untuk mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan kepala

pada klinis Cedera Otak Ringan di Instalasi Radiologi

RSUD Kabupaten Sidoarjo.

2
1.3.2 Untuk mengetahui apakah dengan pemeriksaan CT-Scan

kepala pada klinis Cedera Otak Ringan sudah dapat

menegakkan diagnosa di Instalasi Radiologi RSUD

Kabupaten Sidoarjo.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta

memberikan informasi kepada pembaca mengenai

pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis Cedera Otak

Ringan sudah dapat menegakkan diagnosa di Instalasi

Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo.

1.4.2 Sebagai bahan Kajian bagi Instalasi Radiologi RSUD

Kabupaten Sidoarjo untuk meningkatkan mutu dan kualitas

radiograf secara optimal sehingga dapat menegakkan

diagnosa dengan tepat.

1.4.3 Mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis

Cedera Otak Ringan sudah dapat menegakkan diagnosa di

Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo.

1.5 Sistematika Penulisan

Laporan kasus ini disusun secara sistematis, adapun

sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Otak

Otak merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Otak

sebagai pusat kendali segala keigatan yang dilakukan organ-organ tubuh yang

lain. Menurut Cinamon VanPutte (2016), pada umumnya otak dibagai

menjadi empat bagian utama, yaitu:

2.1.1 Brainstem (Batang Otak)

Batang otak adalah penghubung antara susunan syaraf tepi

dengan otak. Batang otak terdiri dari medulla oblongata, pons, dan mid

brain (otak tengah). Fungsi utama dari batang otak antara lain untuk

mengatur detak jantung, tekanan darah, dan pernafasan.

Keterangan Gambar :
1. Thalamus
2. Infundibulum
3. Pons
4. Pyramid
5. Medulla oblongata
6. Diancephalon
7. Midbrain
8. Brainstem

Gambar 2.1. Anatomi Batang Otak dan Diancephalon (VanPutte, 2016)

4
a. Medulla oblongata

Medulla oblongata terletak pada bagian inferior dari batang

otak dan merupakan kelanjutan dari spinal cord. Medulla

oblongata berada setinggi Foramen magnum sampai dengan pons.

Medulla oblongata memiliki fungsi yang spesifik seperti untuk

mengatur detak jantung, diameter pembuluh darah, pernafasan,

fungsi dalam menelan, muntah, batuk, bersin, keseimbangan dan

koordinasi.

b. Pons

Dari superior medulla oblongata terdapat pons. Pons ini

terdiri syaraf-syaraf ascenden dan descenden. Beberapa syaraf

berfungsi sebagai “jembatan” atau penghubung antara cerebrum

dan cerebellum. Pada bagian inferior pons memiliki fungsi

pernafasan, menelan dan keseimbangan. Bagian lain dari pons

berguna dalam fungsi mengunyah dan pengaturan air liur.

c. Mid Brain (Otak Tengah)

Terletak pada bagian superior dari pons dan merupakan

bagian terkecil dari batang otak. Otak tengah berfungsi pada

pengaturan pergerakan mata, pengaturan diameter pupil dan bentuk

lensa.

2.1.2 Cerebellum (Otak Kecil)

Otak kecil terletak menempel dengan batang otak, dengan

beberapa konektor yang disebut Cerebellar penducles. Cerebellar

5
penducles menguhubungkan antara cerebellum dengan bagian lain

di susunan syaraf pusat.

Gambar 2.2 Anatomi otak secara keselurhan dan letak Cerebellum berada
pada inferior dari batang otak (VanPutte, 2016)

Keterangan Gambar:
1. Cerebrum 6. Diencephalon
2. Corpus callosum 7. Midbrain
3. Cerebellum 8. Pons
4. Thalamus 9. Medulla Oblongata
5. Hypothalamus 10. Brainstem

2.1.3 Diancephalon

Diancephalon adalah bagian dari otak antara batang otak dan

cerebrum. Diancephalon terdiri dari thalamus, epithalamus dan

hypothalamus.

6
Gambar 2.3 Letak Diancephalon di dalam kepala digambarkan dengan
gambar berwarna merah (VanpPutte, 2016)

a. Thalamus

Bagian yang paling besar dari diencephalon yang terdiri dari susunan

syaraf dengan bentuk seperti yo-yo. Kedua sisi dihubungkan dengan

suatu bagian kecil yang disebut interthalamic adhesion.

Keterangan Gambar :
1. Thalamic nuclei
2. Interthalamic
adhesion

Gambar 2.4 Anatomi Thalamus (VanPutte, 2016)

b. Epithalamus

Epithalamus merupakan bagian kecil yang berada pada superior dan

posterior dari thalamus. Dari bagian thalamus tedapat pineal gland,

7
adalah sebuah kelenjar endokrin yang mempengaruhi aktifitas

pubertas pada usia remaja.

c. Hypothalamus

Merupakan bagian paling inferior yang terdiri dari beberapa syaraf

yang berfungsi sangat penting dalam pengaturan homeostasis.

Hypothalamus berperan penting dalam pengaturan suhu tubuh, rasa

lapar dan haus. Sensasi seperti kesenangan seksual, emosional

meliputi kemarahan dan rasa takut serta rasa rileks setelah makan.

Selain itu, hypothalamus juga berperan dalam pengaturan sekresi

hormon dari kelenjar pituitari.

2.1.4 Cerebrum (Otak Besar)

Cerebrum adalah bagian otak terbsesar, yang terdiri dari

hemisphere kanan dan kiri dan dipisahkan dengan longitudinal

fissure. Bagian dari permukaan hemisphere yang mencolok atau

nampak pada permukaan disebut gyrus, sedangkan lipatan kedalam

disebut sulcus.

Keterangan Gambar:
1. Sulcus
2. Gyrus

Gambar 2.5 Anatomi Gyrus dan Sulcus (VanPutte, 2016)


Setiap hemisphere terdiri dari lobus-lobus dengan sebutan

sesuai dengan tulang yang menutupinya. Terdapat lobus frontalis,

8
lobus parietalis, lobus occipatilis dan lobus temporalis. Di antara

lobus frontalis dan parietalis dipisahkan dengan central sulcus.

Gambar 2.6 Anatomi Lobus dari pandangan superior (Netter, 2014)

Keterangan Gambar :
1. Polus frontalis 6. Lobus temporalis
2. Fisura longitudinalis cerebri 7. Sulcus parietooccipitalis
3. Lobus frontalis 8. Lobus occipitalis\
4. Sulcus centralis 9. Polus occipitalis
5. Lobus parietalis

9
Gambar 2.7 Anatomi Lobus dari pandangan lateral (Netter, 2014)
Keterangan Gambar:
1. Polus frontalis 7. Lobus occipitalis
2. Lobus frontalis 8. Incisura preoccipitalis
3. Sulcus centralis 9. Polus temporalis
4. Lobus parietalis 10. Sulcus lateralis
5. Sulcus parietooccipital 11. Lobus temporalis
6. Polus occipitalis

Fungsi masing-masing lobus antara lain:

a. Lobus Frontal, berhubungan dengan penalaran, ketrampilan motorik,

kognisi tingkat yang lebih tinggi, dan bahasan ekspresif, serta fungsi

syaraf motorik.

b. Lobus Parietal, mengatur sentuhan rasa sakit, tekanan, suhu dan

keseimbangan

c. Lobus Temporal, sebagai fungsi pendengaran dan penaksiran suara

yang didengar, serta pembentukan ingatan

d. Lobus Occipital, berhubugnan dengan rangsangan visual dan

menafsirkan informasi, khsususnya untuk penglihatan.

10
2.2 Anatomi Tulang Tengkorak (Cranium)

Menurut Frank H. Netter (2011) Tulang tengkorak atau Cranium

atau Skull terdiri dari Neurocranium (Calvaria) yang berfungsi untuk

melindungi otak dan Viscerocranium (facial skeleton) sebagai penyusun

tulang wajah. Terdapat 22 tulang yang menyusun Cranium dengan delapan

tulang yang berada pada neurocranium dan 14 tulang berada pada

viscerocranium.

Berikut tulang-tulang penyusun cranium yang dituliskan dalam

tabel sebagai berikut.

Tabel 2.1 Nama tulang penyusun Cranium dan jumlahnya (Netter 2011)

Neurocranium Viscerocranium
Tulang Jumlah Tulang Jumlah
Ethmoid 1 Zygomatic 2
Frontal 1 Vomer 1
Occipital 1 Inferior Nasal Concha 2
Sphenoid 1 Maxilla 2
Parietal 2 Nasal 2
Temporal 2 Palatine 2
Lacrimal 2
Mandible 1
Jumlah 8 Jumlah 14

Fungsi dari cranium sendiri antara lain:

1. Menutup, menopang dan melindungi otak dan meningens

2. Cranium terdiri dari berbagai foramen yang berfungsi untuk jalan

keluar masuknya syaraf dan pembuluh darah.

11
3. Sebagai dasar wajah

4. Terdiri dari beberapa rongga dengan fungsi tertentu. Dari beberapa

rongga, terdapat rongga yang terbuka yang menghubungkan

terhadap organ lain (nasal, oral)

Gambar 2.8 Tulang Cranium pandangan anterior (Saladin, 2010)

Keterangan Gambar:
1. Frontal bone 9. Inferior nasal concha 17. Ethmoid bone
2. Glabella 10. Vomer 18. Zygomatic bone
3. Coronal suture 11. Mandible 19. Infraorbital
4. Squamous suture 12. Mental Protuberantia foramen
5. Sphenoid bone 13. Supraorbital foramen 20. Intermaxillary
6. Lacrimal bone 14. Parietal bone suture
7. Nasal bone 15. Supraorbita margin 21. Maxilla
8. Middle nasal concha 16. Temporal bone 22. Mental foramen

12
Gambar 2.9 Tulang Cranium dari pandangan lateral (Saladin, 2010)

Keterangan Gambar:
1. Parietal bone 9. Mastoid process 18. Zygomaticofacial
2. Lambdoid suture 10. Styloid process foramen
3. Sphenoid bone 11. Mandibular condyle 19. Infraorbital
4. Occipital bone 12. Coronal suture foramen
5. Squamous suture 13. Frontal bone 20. Zygomatic bone
6. Temporal bone 14. Temporal line 21. Maxilla
7. Zygomatic process 15. Ethmoid bone 22. Temporal process
8. External acoustic 16. Nasal bone 23. Mandible
meatus (EAM) 17. Lacrimal bone 24. Mental foramen

Hampir seluruh tulang cranium dihubungkan dengan sutura.

Sutura dapat dikatakan sebagai persendian antara tulang yang berada pada

cranium. Dengan bertambahnya usia, sutura akan terbuntuk sempurna

13
sehingga setiap tulang dapat menjadi terhubung satu sama lain. Terdapat

beberapa sutura, antara lain:

1. Suruta coronalis, yang memisahkan tulang frontal dan

parietal

2. Sutura sagittalis, yang memisahkan kedua tulang parietal

3. Sutura lambdoidea, yang memisahkan tulang parietal dan

temporal dari occipital

4. Sutura squamosa, yang memisahkan bagian squamosa

tulang temporal dan parietal

5. Sutura sphenosquamosa, yang memisahkan bagian squamos

tulang temporal dari ala major sphenoid

6. Sutura frontalis (Metopic), yang memisahkan kedua tulang

frontalis. Sutura ini muncul saat bayi baru dilahirkan

dimana kedua tulang frontal masih terpisah.

14
Keterangan Gambar:
1. Frontal bone
2. Coronal suture
3. Bregma
4. Parietal bone
5. Sagittal suture
6. Parietal foramen
7. Lambda
8. Lambdoid suture
9. Sutural bone
10. Occipital bone

Gambar 2.10 Tulang Cranium dari pandangan superior (Netter, 2014)

Keterangan Gambar:
1. Internasal suture
2. Intermaxillary suture
3. Mandibular
symphysis
4. Anterior frontanelle
5. Frontal (metopic)
suture
6. Frontal bone
7. Orbital cavity
8. Maxilla
9. Mandible

Gambar 2.11 Tulang Cranium bayi dari pandangan anterior, tampak


sutura metopic (Agur dkk, 2013)

15
2.3 Patologi Cedera Otak

2.3.1 Pengertian

Menurut Lisa Permitasari (2012), Cedera otak adalah

serangkaian kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma

kepala, yang dapat melibatkan jaringan otak.

2.3.2 Etiologi

Etologi dari cedera otak anatara lain:

a. Kecelakaan lalu lintas (KLL)

b. Kecelakaan kerja

c. Trauma pada saat olah raga

d. Kejatuhan benda

e. Luka tembak

2.3.3 Morfologi Cedera

Secara Morfologi cedera otak dibagi atas :

a) Perdarahan Epidural

Perdarahan terjadi di antara durameter dan tulang

tengkorak. Perdarahan ini terjadi karena terjadi akibat

robeknya salah satu cabang arteria meningeamedia,

robeknya sinus venosus durameter atau robeknya arteria

diploica. Robekan ini sering terjadi akibat adanya fraktur

tulang tengkorak. Gejala yang dapat dijumpai adalah

adanya suatu lucid interval (masa sadar setelah pingsan

sehingga kesadaran menurun lagi), tensi yang semakin

16
bertambah tinggi, nadi yang semakin bertambah tinggi,

nadi yang semakin bertambah lambat, hemiparesis, dan

terjadi anisokori pupil.

b) Perdarahan Subdural

Perdarahan terjadi di antara durameter dan

arakhnoidea. Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya vena

jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di

permukaan otak dan sinus venosus di dalam durameter atau

karena robeknya arakhnoid. Gejala yang dapat tampak

adalah penderita mengeluh tentang sakit kepala yang

semakin bertambah keras, ada gangguan psikis, kesadaran

penderita semakin menurun, terdapat kelainan neurologis

seperti hemiparesis, epilepsy, dan edema papil.

c) Perdarahan intra cerebral

Perdarahan dalam jaringan otak karena pecahnya

arteri yang besar di dalam jaringan otak, sebagai akibat

trauma kapitis berat, kontusio berat.

d) Cedera Difus

Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan

otak akibat akselerasi dan deselerasi, dan ini merupakan

bentuk yang lebih sering terjadi pada cedera kepala.

17
2.4 Parameter CT Scan

Gambar pada CT Scan dapat terjadi sebagai hasil dari berkas sinar-

X yang mengalami perlemahan setelah menembus obyek, ditangkap

detektor dan dilakukan pengolahan dalam komputer. Penampilan gambar

yang baik tergantung kualitas gambar yang dihasilkan sehingga aspek

klinis dari gambar tersebut dapat dimanfaatkan untuk menegakkan

diagnosa.

Pada CT Scan dikenal beberapa parameter untuk pengontrolan

eksposi dan output gambar yang optimal (Bushberg,2003). Adapun

parameter tersebut adalah :

2.4.1 Slice thickness

Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan

dari obyek yang diperiksa. Nilainya dapat dipilih antara 1

mm – 10 mm sesuai dengan keperluan klinis. Slice

thickness yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan

detail yang rendah sebaliknya dengan slice thickness yang

tipis akan menghasilkan gambaran dengan detail yang

tinggi. Slice thickness yang tebal akan menimbulkan

gambaran yang mengganggu seperti garis-garis dan apabila

slice thickness terlalu tipis akan menghasilkan noise yang

tinggi

18
2.4.2 Scan Range

Scan range adalah perpaduan atau kombinasi dari

beberapa slice thickness, yang bermanfaat untuk

mendapatkan ketebalan potongan yang berbeda pada satu

lapangan pemeriksaan.

2.4.3. Faktor Eksposi

Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap eksposi, meliputi tegangan tabung

(KV), arus tabung (mA) dan waktu (s). Besarnya tegangan

tabung dapat dipilih secara otomatis pada setiap

pemeriksaan (Jaengsri, 2004).

Tegangan tabung (KV) yaitu beda potensial antara

tabung katoda dan anoda. Semakin tinggi awan elektron

yang dihasilkan maka akan semakin kuat menembus anoda

sehingga daya tembus yang dihasilkan akan semakin besar.

Arus tabung (mA) yaitu kuat lemahnya arus yang

dihasilkan sinar-X, apabila arus tabung besar maka

elektron yang dihasilkan akan semakin besar.

Waktu (s) yaitu lamanya waktu eksposi, sangat

berpengaruh terhadap jumlah elektron. mAs berpengaruh

terhadap jumlah elektron dan kuantitas sinar-X.

19
2.4.4. Field of View (FOV)

Field of View (FOV) adalah diameter maksimal dari

gambar yang akan direkonstruksi. Besarnya bervariasi dan

biasanya berada pada rentang 12 cm sampai dengan 50 cm.

Field of View (FOV) kecil akan meningkatkan detail

gambar (resolusi) karena field of view (FOV) yang kecil

mampu mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam

rekonstruksi matriks hasilnya lebih teliti.

Field of View (FOV) kecil, antara 100 mm sampai

dengan 200 mm akan meningkatkan resolusi sehingga

detail gambar dan batas objek akan tampak jelas. Field of

View (FOV) kecil akan menyebabkan noise meningkat

(Nesseth, 2000).

Field of View (FOV) sedang, yaitu 200 mm

diharapkan gambar yang dihasilkan memiliki spasial

resolusi yang baik, noise serta artefak sedikit.

Field of View (FOV) besar, antara 350 mm sampai

dengan 400 mm akan menghasilkan spasial resolusi

yang rendah karena pixel menjadi besar akibat

dilakukannya magnifikasi. Field of View (FOV) besar

akan menyebabkan noise berkurang dan kontras resolusi

meningkat serta dapat dihindari munculnya streak artifact

(Genant, 1982).

20
2.4.5. Gantry Tilt

Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang

vertikal dengan gantry (tabung sinar-X dengan detektor).

Rentang gantry tilt antara -300 sampai +300. Gantry tilt

bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-masing

kasus yang dihadapi.

2.4.6. Pitch

Pitch adalah jangka waktu yang berhubungan

dengan suatu kecepatan dan jarak. Pada CT Scan helical,

pitch didefinisikan sebagai jarak (mm) pergerakan meja CT

Scan selama satu putaran tabung sinar-X. Pitch digunakan

untuk menghitung pitch ratio, yang mana merupakan suatu

rasio pada pitch untuk slice thickness/beam collimation.

Saat jarak pergerakan meja selama satu putaran

penuh, tabung sinar-X sama dengan slice thickness/ beam

collimation, pitch ratio (pitch) yaitu 1:1 atau sederhananya

1. Suatu pitch dengan nilai 1 menghasilkan kualitas gambar

terbaik dalam CT Scan helical. Pitch ditingkatkan untuk

meningkatkan volume coverage dan kecepatan proses

scanning. Nilai pitch berada dalam range 0 sampai dengan

10, sedangkan pitch faktor antara 1 dan 2.

21
2.4.7. Rekonstruksi Matriks

Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan

kolom dari picture element (pixel) dalam proses

perekonstruksian gambar. Rekonstruksi matriks ini

merupakan salah satu struktur elemen dalam memori

komputer yang berfungsi untuk merekonstruksi gambar.

Pada umumnya matriks yang digunakan berukuran

512x512 yaitu 512 baris dan 512 kolom. Pada pemeriksaan

CT Scan ukuran matriks disesuaikan dengan alat yang

tersedia. Rekonstruksi matriks berpengaruh terhadap

resolusi gambar. Semakin tinggi matriks yang dipakai

maka semakin tinggi detail gambar yang dihasilkan.

(Bushberg, 2003)

2.4.8. Rekonstruksi Algorithma

Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis

yang digunakan dalam merekonstruksi gambar.

Penampakan dan karakteristik dari gambar CT Scan

tergantung dari kuatnya algorithma yang dipilih. Semakin

tinggi rekonstruksi algorithma yang dipilih maka semakin

tinggi resolusi gambar yang dihasilkan. Dengan adanya

metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan

jaringan-jaringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada

layar monitor.

22
2.4.9. Window Width

Window Width adalah nilai computed tomography

yang dikonversi menjadi gray scale untuk ditampilkan ke

TV monitor. Setelah komputer menyelesaikan pengolahan

gambar melalui rekonstruksi matriks dan algorithma maka

hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang

dikenal dengan nama nilai computed tomography. Nilai ini

mempunyai satuan HU (Hounsfield Unit).

Dasar pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0

HU, jaringan lunak 140 HU sampai dengan 400 HU, untuk

tulang mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai +3000

HU. Sedangkan untuk kondisi udara nilai yang dimiliki -

1000 HU. Jaringan atau substansi lain dengan nilai yang

berbeda tergantung dari nilai perlemahannya. Jadi

penampakan tulang pada monitor menjadi putih dan udara

menjadi hitam. Jaringan dan substansi lain akan dikonversi

menjadi warna abu-abu bertingkat yang disebut gray scale.

Khusus untuk darah yang semula dalam penampakannya

berwarna abu-abu dapat menjadi putih apabila diberi media

kontras (Rasad, 2011).

2.4.10. Window Level

Window Level adalah nilai tengah dari window

yang digunakan untuk penampilan gambar. Nilainya dapat

23
dipilih dan tergantung pada karakteristik perlemahan dari

struktur obyek yang diperiksa. Window Level menentukan

densitas (derajat kehitaman) gambar yang dihasilkan.

Untuk jaringan lunak 30 HU sampai dengan 40 HU,

sedangkan untuk tulang 200 HU sampai dengan 400 HU.

Gambar 2.12. Hubungan antara nomor CT dan gray scale

(Seeraam,2009)

2.5 Teknik Pemeriksaan CT-Scan Kepala

2.5.1 Pengertian

Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala adalah teknik

pemeriksaan secara radiology untuk mendapatkan informasi

anatomis irisan atau penampang melintang kepala.

24
2.5.2 Indikasi Pemeriksaan ( Seeram, 2009)

a. Tumor

b. Kelainan kongenital ( hidrosefalus )

c. Masalah vaskularisasi

d. Inflamasi

2.5.3 Persiapan Pemeriksaan

2.5.3.1 Persiapan Pasien

Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala tidak ada

persiapan khusus, pasien hanya diintruksikan untuk melepas

benda-benda logam di sekitar kepala (anting-anting,

penjepit rambut, dll) dan gigi palsu dengan tujuan agar tidak

timbul artefak. Selain itu untuk memastikan bahwa kepala

tidak rotasi dan miring, disebutkan bahwa dilihat dari

Midsagital Plane (MSP) pasien yang sudah tegak lurus

dengan lantai. Sedangkan untuk memastikan tidak adanya

rotasi dengan cara dilihat dari kedua sisi kepala kanan dan

kiri yang saling simetris. Apabila keadaan pasien gelisah,

sebaiknya diberikan sedasi agar pemeriksaan dapat

berlangsung dengan baik. (John P. Lampignano,2017)

2.5.3.2 Persiapan Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk pemeriksaan

kepala, yaitu : ( Seeram , 2009 )

a) Pesawat CT-Scan

25
b) Apron

c) Automatic Scanning

d) Selimut tebal

e) Head clam

f) Poster atau gambar dinding

g) Mainan anak

2.5.4 Teknik Pemeriksaan

Teknik pemeriksaan CT Scan kepala pediatrik potongan axial

adalah sebagai berikut ;

2.5.4.1 Posisi pasien :

Pasien supine diatas meja pemeriksaan dengan

posisi kepala dekat dengan gantry.

2.5.4.2 Posisi objek :

Kepala hiperfleksi dan diletakkan pada head holder.

Samping kiri dan kanan kepala pasien diberi pengganjal agar

kepala pasien tidak bergerak. Agar gambaran simetris kepala

diposisikan sehingga mid sagital plane kepala sejajar dengan

lampu indikator longitudinal dan interpupilary line sejajar

dengan lampu indikator horizontal. Lengan pasien diletakkan

diatas perut atau disamping tubuh. ( Seeram, 2009 )

2.5.5 Proteksi Radiasi

Proteksi radiasi pada pemeriksaan CT-Scan kepala pediatrik

adalah sebagai berikut ; ( Seeram, 2009 )

26
1.Konsultasi kepada Radiolog apakah pemeriksaan CT-Scan benar-

benar tepat dilakukan.

2.Bagian tubuh yang tidak diperiksa dilindungi dengan apron.

3.Menggunakan teknik dosis rendah

4.Potongan axial dibuat dengan gantry menyudut 20 derajat

terhadap canthomeatal line untuk menghindari penyinaran pada

mata.

5.Memberikan apron kepada keluarga pasien yang berada didalam

ruangan pemeriksaan.

2.5.6 Parameter CT -Scan

Menurut Bruce W. Long (2016) teknik pemeriksaan CT-

Scan kepala secara singkat adalah sebagai berikut:

a. Area scanning : Skull base sampai dengan vertex

b. Tipe scanning : Axial, sequential

c. Scan Localizer : Cranium AP dan Lateral

d. Tegangan Tabung : 120 kV

e. Arus tabung x waktu : 225 mAs, Auto mAs

f. FOV : 22 cm

g. Scan slice thickness : 5.0 mm

h. Recon slice thickness : 2.5 mm

i. Gantry tilt : Disesuaikan dengan skull base

27
j. Recon kernel : Medium average

k. IV contrast : No

l. Oral contrast : No

28
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Paparan Kasus

3.1.1 Profil Kasus

Pada hari Jum’at, 09 November 2018, seorang pasien datang

ke Instalasi Radiologi diantar oleh keluarga dan dokter muda

Instalasi Gawat Darurat (IGD), dengan data pasien ebagai berikut:

Nama : An. A. Z

Umur : 4 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Sidoarjo

3.1.2 Riwayat Pasien

Pasien datang ke Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten

Sidoarjo dengan diantar keluarga dan dokter muda IGD sebagai

pendamping pasien, dengan lembar permintaan pemeriksaan CT-

Scan kepala. Dalam lembar permintaan pemeriksaan radiologi

tertulis klinis “COR” dengan kondisi kepala pasien tidak terdapat

lebam atau luka namun kondisi pasien terus menangis dan gelisah.

Setelah dilakukan registrasi oleh petugas administrasi

Radiologi, dilanjutkan dengan pemeriksaan CT-Scan Kepala. Pada

saat pemeriksaan dilakukan pasien ditemani oleh kakaknya, kondisi

29
pasien terus menangis dan gelisah sehingga menyebabkan kepala

pasien bergerak. Hal ini berpengaruh pada citra yang dihasilkan.

3.2 Teknik Pemeriksaan

Pelaksanaan Pemeriksaan CT-Scan Kepala di Instalasi Radiologi

RSUD Kabupaten Sidoarjo.

3.2.1 Persiapan Alat dan Bahan

1) Alat

a) Pesawat CT-Scan multi slice

Merk : Siemens

Type : Somatom Emotion 16 slice

Gambar 3.1 Pesawat CT-Scan (RSUD Kabupaten Sidoarjo,


2018)

30
Gambar 3.2 Computer Console (RSUD Kabupaten
Sidoarjo, 2018)

b) Perlengkapan imobilisasi

Head holder

Body clamp

Selimut

c) Mesin Pencetak Gambar

Merk : Kodak

Type : Carestream Dry View 5700

Gambar 3.3 Mesin pencetak gambar (RSUD Kabupaten


Sidoarjo, 2018)

31
d) Head Holder

Sebuah alat bantu untuk imobilisasi dan fiksasi kepala pasien

agar pasien merasa nyaman.

2) Bahan

Film ukuran 14x17 inchi

3.2.2 Persiapan Pasien

Tidak ada persiapan khusus pada pasien. Hanya melakukan

identifikasi pada pasien sesuai dengan prosedur dan memastikan

tidak ada benda logam di daerah kepala yang dapat mengganggu

hasil radiograf. Memberikan edukasi mengenai pemeriksaan yang

akan dilaksanakan kepada pasien dan keluarga yang menemani.

3.2.3 Teknik Pemeriksaan

3.2.3.1 Posisi Pasien

Pasien tidur terlentang (supine) di atas meja

pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan gantry

(head first).

3.2.3.2 Posisi Objek

Kepala pasien berada pada head holder yang

digunakan untuk anak-anak. Mid Sagital Plane (MSP)

kepala sejajar dengan lampu indikator longitudinal. Lampu

indikator transversal berada pada ketinggian pertengahan

kepala. Lampu indikator horizontal berada pada ±2 jari

diatas vertex. Tangan pasien diposisikan berada disamping

32
tubuh dan difiksasi dengan menggunakan body strap. Atur

ketinggian meja pemeriksaan setinggi 160 pada gantry.

3.2.3.3 Mengisi identitas pasien

Klik patient registration, isi identitas pasien meliputi

nomor pemeriksaan, nomor RM, nama pasien, jenis

kelamin, tanggal lahir, usia, dokter pengirim, radiografer,

klinis, asal ruangan dan jenis pemeriksaan “ head routin

(child) ” . Bila data telah terisi klik exam.

Gambar 3.4 Tampilan saat entry data pasien (RSUD


Kabupaten Sidoarjo, 2018)

3.2.3.4 Memilih Protokol Pemeriksaan

Setelah pasien diposisikan dengan benar, petugas

kembali ke operator konsul dan klik tombol “exam”. Maka

akan muncul kotak “patient model dialog” pilih posisi

pasien yang akan digunakan yaitu supine dengan protocol

head first. Kemudian pilih pemeriksaan yang akan

33
dilakukan yaitu kepala, pilih jenis pemeriksaan klik gambar

kepala kemudian pilih kepala rutin lalu “OK”.

3.2.3.5 Pembuatan Scanogram

Maka pemeriksaan akan berlangsung berlangsung

dengan pembuatan scanogram dari kepala yang akan

diperiksa, scanogram dengan menggunakan dua range yaitu

range pertama base dari mandibula sampai petrosum yang

kedua cerebrum dari petrosum sampai ke vertek. Setelah

ditentukan batas rangenya kemudian scanning dapat dilihat

pada layar monitor sebelah kanan dari gambar topogram.

Setelah itu pilih topogram kemudian di repeat, selanjutnya

pilih base dan cerebrum kemudian di sweap ke topogram

tujuannya untuk menentukan potongan. Setelah selelsai

tutup pemeriksaan.

3.2.3.6 Teknik Scaning

Pada saat scan akan dimulai akan ada perintah

“load” kemudian klik tombol “load” , setelah “load” akan

ada perintah “start” yang ada simbil radiasi, akan muncul

gambar topogram, tentukan daerah yang akan dilakukan

scaning. Selanjutnya pilih tombol “move” dan tekan

sampai meja pemeriksaan berhenti, selanjutnya apabila

muncul perintah “start”, pilih lagi tombol “start” yang

34
berlambang radiasi. Maka proses scaning selesai. Jika

semua sudah selesai maka klik “close pasien”.

3.2.3.7 Scan Parameter

Parameter yang digunakan pada pemeriksaan CT

Scan kepala polos pada klinis cedera otak di instalasi

radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo adalah

Topogram : Cranium Lateral

Area Scanning : Dari Basis cranii sampai dengan vertex

Tegangan tabung : 110 Kv

Arus Tabung : 188 mAs

FOV : 191 mm

Slice thickness : 5 mm

Scan time : 4.3

Delay : 3s

Penyudutan Gantry : Sejajar dengan Orbito Meatal Line

(OML) yaitu 5,0o

3.2.3.8 Poreses rekontruksi gambar

Pada pemeriksaan cedera otak ringan (COR) di

Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo tidak

dilakukan proses rekontruksi, karena gambaran irisan yang

dihasilkan sudah simetris.

35
3.2.3.9 Proses mencetak gambar

Buka menu viewing kemudian buka folder nama

pasien yang akan dicetak kemudian pilih topogram, hasil

recont satu range dengan slice 5 mm kemudian disweap ke

viewing. Setelah itu lihat pada gambaran slice perslice

adakah kelainan yang tampak. Selanjutnya klik gambaran

topogram yang dan potongan gambaran axial yang sudah

ditayangkan pada viewing dan copy to film .

Memilih menu filming dimana pada menu itu sudah

terdapat gambaran CT Scan kepala yang siap dicetak.

Kemudian blog keseluruhan gambar lalu pilih ukuran film

14x17 inch dengan format 5x7.

3.2.4 Hasil Pemeriksaan dan Pembacaan Radiolog

3.2.4.1 Hasil Pemeriksaan

a. Gambar hasil pemeriksaan topogram

Gambar 3.5 topogram (RSUD Kabupaten Sidoarjo, 2018)

36
b. Gambar hasil pemeriksaan

Gambar 3.6 Potongan Axial pada slice ke- menujukkan Epidural


Hematoma tipis pada ocipital parietal
(1RSUD Kabupaten Sidoarjo, 2018)

Gambar 3.7 Potongan Axial pada slice ke menujukkan adanya


fraktur pariental dextra dengan window bone (RSUD Kabupaten
Sidoarjo,2018)

37
3.2.4.2 Hasil Bacaan Radiolog

Pemeriksaan CT-Scan Kepala tanpa kontras

- Tampak perdarahan EDH tipis pada occipito pariental

dextra

- System ventrikel dan cysterna tampak normal

- Cysterna basalia terbuka

- Tak tampak deviasi midline struktur

- Sulcy dan gyri tampak normal

- Tak tampak kalsifikasi abnormal

- Fossa posterior, pons, cavun orbita, sinus paranasalis dan

mastoid tampak baik

- Tulang : tampak fraktur parietal dextra

Kesimpulan :

- Tampak gamabran EDH tipis pada ocipita pariental

- Tampak fraktur pariental dextra

3.3 Pembahasan

Berdasarkan kasus yang penulis ambil sebagai sampel di

Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo tentang prosedur

pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis Cedera Otak Ringan, penulis

memperoleh jawaban berdasarkan rumusan masalah yang dikaji. Hasil

laporan yang diperoleh adalah sebagai berikut .

38
3.3.1 Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis Cedera Otak

Ringan,di Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo

Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis Cedera Otak

Ringan,di Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo dilakukan

sesuai dengan diagnosa awal dan permintaan dokter. Pemeriksaan

CT- Scan kepala tidak terdapat persiapan khusus, hal ini dikarenakan

pemeriksaan yang dilakukan tidak menggunakan media kontras. Pada

kondisi pasien yang menangis dan gelisah, seharusnya diberikan

sedasi agar keadaan pasien tenang dan dapat dilakukan pemeriksaan

dengan baik. Namun hal ini tidak diberikan kepada pasien sehingga

ada beberapa slice yang terdapat shading artifact. Namun keseluruhan

citra masih dapat membantu menegakkan diagnosa.

Pemeriksaan CT-Scan kepala di instalasi radiologi RSUD

Kabupaten Sidoarjo, pasien supine diatas meja pemeriksaan dengan

dengan posisi kepala dekat dengan gantry (head first). Kepala pasien

berada pada head holder yang digunakan untuk anak-anak. Mid

Sagital Plane (MSP) kepala sejajar dengan lampu indikator

longitudinal. Lampu indikator transversal berada pada ketinggian

pertengahan kepala. Lampu indikator horizontal berada pada ±2 jari

diatas vertex. Tangan pasien diposisikan berada disamping tubuh dan

difiksasi dengan menggunakan body strap. Meja pemeriksaan diatur

setinggi 160 pada gantry. Kemudian memasukan identitas pasien dan

memilih protokol yang akan digunakan yaitu “ head routin (child) ”

39
yang berisi parameter pemeriksaan CT-Scan pada anak yang meliputi

topogram tergambar cranium dengan proyeksi lateral, menggunakan

1 range dengan area scanning dari basis cranii sampai dengan vertex,

penyudutan gantry sejajar dengan OML, tebal slice 5 mm, scan time

yang digunakan 4.3 s dan delay 3 s, kV 110, mAs 188 dan FOV

seluas 19,1 cm.

Dengan demikian penggunaan parameter pada pemeriksaan CT-

Scan kepala di instalasi radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo terdapat

perbedaan dengan teori Menurut Bruce W. Long (2016) dimana kV

120, mAs 225 dan FOV 22 cm. Perbedaan ini dikarenakan

menyesuikan dengan keadaan pasien, dimana pasien merupakan

seorang anak-anak sehingga menggunakan kV 110, mAs 118 dan

FOV 191mm.

Pengolahan gambar pada pemeriksaan CT-Scan kepala dengan

klinis COR di instalasi radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo tidak

dilakukan rekontruksi dikarena gambran irisan yang dihasilkan sudah

simetris. Gambar yang akan dicetak dibuka terlebih dulu di menu

viewing untuk melihat adakah kelainan dengan dilihat gambar slice

perslice. Pilih menu filming dan gambar dicetak dengan film ukuran

14x17 inchi dengan format 5x7 dengan recon slice 5.0 mm,

sedangkan recon slice pada terori Menurut Bruce W. Long (2016)

adalah 2.5 mm. Pemilihan recon slice 5.0 mm pada Instalasi

40
Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo dikarenakan sudah dapat

menunjukan patologis yang terjadi pada klinis cedera otak ringan.

3.3.2 Informasi yang didapatkan untuk menegakkan diagnosa pada

pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis cedera otak ringan

Secara keseluruhan, dari hasil bacaan radiolog pemeriksaan

CT-Scan kepala pada klinis cedera otak ringan An. AZ ini sudah

akurat untuk mengegakkan diagnosa. Pada hasil radiograf yang ada

tampak adanya Epidural Hematoma tipis pada ocipital parietal dan

terdapat fraktur pada parietal dextra. Dari pemeriksaan ini dokter

mampu untuk mengambil keputusan bagaimana tindakan selanjutnya.

41
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari seluruh isi laopran kasus ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

4.1.1 Teknik Pemeriksaan CT Scan Kepala dengan Klinis Cedera Otak

Ringan di Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Sidoarjo tidak

memperlukan persiapan khusus. Menggunakan protocol Head

Routine Child. Posisi pasien supine (head first). Scaning

menggunakan 1 range (basis cranii sampai ke vertex) dengan slice

thickness 5.0 mm. Tidak dilakukan proses rekontruksi diakrenakan

irisan gambaran sudah simetris. Gambaran dicetak dengan film

ukuran 14x17 inchi dengan format 5x7.

4.1.2 Pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis Cedera Kepala di RSUD

Kabupaten Sidoarjo penyajian radiograf dengan format sebanyak

5x6 dengan satu topogram dan 29 irisan axial, sudah dapat

menegakkan diagnosa dari klinis cedera otak ringan.

4.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan oleh penulis antara lain:

4.2.1 Pada pemeriksaan CT-Scan kepala pada klinis Cedera Kepala

dengan kondisi pasien gelisah atau menangis, sebaiknya diberikan

sedasi kepada pasien atau edukasi kepada pasien dan keluarga

42
pasien agar pasien tetap tenang sehingga citra yang dihasilkan dari

pemeriksaan dapat baik.

4.2.2 Sebaiknya pada klinis cedera otak ringan di Instalasi Radiologi

RSUD Kabupaten Sidoarjo dengan adanya fraktur diberikan

gambaran VRT atau gambaran tampak 3D, agar dapat memperjelas

letak fraktur.

43
DAFTAR REFERENSI

Bontrager, Kenneth. L, 2001, Text Book of Radiographic Positioning And Related


Anatomi, Seventh Edition, The Mosby, St. Louis
Lampignano, P. John. Leslie E. Kendrick. 2017. Bontrager’s Textbook of
Radiographic Positioning and Related Anatomy 9th Ed. Missouri: Elsevier

Long, Bruce W. Jeannean Hall Rollins. Barbara J. Smith. 2016. Merrill’s Atlas of
Radiographic Positioning & Procedures Vol. III 13th Ed. Missouri: Elsevier

Netter, Frank H. 2011. Atlas of Human Anatomy 5th Ed. Missouri: Elsevier

_____. 2014. Atlas of Human Anatomy 6th Ed. Missouri: Elsevier

Permitasari, Lisa. 2012. Pengertian Kepala.


https://sugengmedica.wordpress.com/2012/03/09/cedera-kepala/ diakses
pada tanggal 15 November 2018 pukul 20:10

Rasad, Sjahrir. 2011. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Saladin, Keneth S. 2010. Anatomy & Physiology The Unity of Form and Function
8th Ed. New York: Mc Graw Hill

Seeram, Euclid. 2009. Computed Tomography Physical Principles, Clinical


Application, and Quality Control 3rd Ed. Missouri: Saunders

VanPutte, Cinamon, Jenifer Regan, Andrew Russo. 2016. Seeley’s Essential of


Anatomy & Physiology. New York: McGrawEducation

44
Lampiran 1

Lembar Permintaan Pemeriksaan

45
Lampiran 2

Lembar Hasil Bacaan Radiolog

46