Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH SWAMEDIKASI

JERAWAT, LUKA BAKAR DAN PERLINDUNGAN SINAR UV

Oleh:

Anggi Iferstya Octaviana 1061811012


Anifatus Sa’adah 1061811008
Ariyani Faizatus S 1061811015
Asri Dyah Nur Pratiwi 1061811017
Ayu Rosalia 1061811021
Dwi Nurfinalita Maya 1061812037

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI”
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Remaja saat ini semakin lama makin berkurang tingkat kepercayaan dirinya,

khususnya pada wanita termasuk Penulis, pastinya semua wanita ingin tampil beda

dari yang laiinya, ingin tampil modis dan cantik didepan umum. Suatu hal yang wajar

memang jika kita melihat fisik seseorang yang terkhusus bagian wajah atau muka

yang dipermukaan wajahnya terdapat bintik-bintik hitam atau bahkan jerawat dan

tidak heran jika terkadang orang menganggap jerawat ini timbul dikarenakan adanya

perubahan hormon apalagi bagi wanita yang akan mengalami menstruasi atau datang

bulan tetapi kebanyakan masyarakat merasa sipele jika melihat bahkan mengalami

jerawat ini.

Jerawat adalah penyakit kulit kronis akibat abnormalitas produksi sebum pada

kelenjar sebasea yang muncul pada saat kelenjar minyak pada kulit terlalu aktif

(Kumar, 2008). Jerawat dapat terjadi pada usia muda atau tua dengan persentase

kejadian pada wanita sebanyak 27% dan 34% pada pria (Klaus, 2005). Walaupun

tidak termasuk penyakit serius yang dapat menyebabkan kematian, jerawat jika tidak

ditangani dapat menimbulkan depresi dan krisis kepercayaan diri penderitanya (Purvis

dkk., 2006).

Luka bakar adalah kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan

sumber panas seperti air, api, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar akan

mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit, tetapi juga amat memengaruhi seluruh

sistem tubuh (Nina, 2008). Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan

permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api secara langsung
maupun tidak langsung, pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan

kimia, air, dll) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat) (Wim de

Jong, 2005).
Radiasi sinar matahari cukup kuat di Indonesia yang merupakan negara tropis.

Sinar matahari menghasilkan radiasi yang tersusun dari sinarultraviolet(UV), cahaya

tampak, sertasinar inframerah.


Sinar matahari bermanfaat bagi kesehatan antara lain membantu pembentukan

provitamin D menjadi vitamin D3, yang berfungsi untuk metabolisme kalsium, dan

selanjutnya membentuk tulang yang kuat. Tetapi, absorpsi sinar matahari,

khususnyasinar UV, juga dapat membahayakan tubuh manusia, terutama kulit, jika

terpapar langsung dengan sinar matahari. Adanya efek negatif akibat radiasi sinar UV

menyebabkan perlu menggunakan suatu pelindung terhadap kerusakan kulit, salah

satunya adalah penggunaan tabir surya (sunscreen).

1.2 Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan jerawat?


2. Apa yang dimaksud dengan luka bakar?
3. Bagaimana upaya perlindungan dari sinar UV?
4. Bagaimana swamedikasi yang perlu diberikan kepada pasien?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jerawat
2.1.1 Definisi
Acne vulgaris atau jerawat merupakan penyakit kulit akibat peradangan kronik

folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis

berupa komedo, papula, pustul, nodus dan kista pada tempat predileksinya (Masjoer

dkk., 2000). Acne vulgaris atau jerawat adalah kelainan folikel umum yang mengenai

pilosebasea (polikel rambut) yang rentan dan paling sering ditemukan didaerah muka,

leher, serta bagian atas. Akne ditandai dengan komedo tertutup (white head), papula,

pustul, nodus dan kista (brunner & Suddarth, 2011).

2.1.2 Gejala dan Tanda Jerawat

Pada dasarnya jerawat memiliki gejala yang cukup umum, yaitu benjolan kecil

(papul) yang muncul di atas kulit. Benjolan tersebut biasanya berwarna kemerahan

atau kuning (karena mengandung nanah). Selain itu, ada beberapa tanda lainnya dari

jerawat. Seperti sensasi panas/ terbakar akibat adanya peradangan dan timbulnya rasa

gatal. Selain itu juga ada juga gejala khas jerawat berupa komedo. Komedo

merupakan benjolan-benjolan kecil yang mengandung sumbatan sebum. Bila

berwarna hitam disebut komedo hitam (blackheads). Sedangkan yang berwarna putih

disebut komedo putih (whiteheads). Komedo putih berada di lokasi yang lebih dalam

dari komedo hitam.

2.1.3 Klasifikasi

Selama ini, tidak terdapat standar internasional untuk pengelompokan dan sistem

grading pada acne. Hal ini sering menimbulkan kesulitan dalam pengelompokan acne.

Saat ini, terdapat lebih dari 20 metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan

tingkat keparahan acne.

Berdasarkan keparahan klinis akne vulgaris dibagi menjadi ringan, sedang dan

berat. Klasifikasi dari bagian Ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI / RSUPN Dr.

Cipto Mangunkusomo sebagai berikut : (Djuanda, 2007)


1) Ringan

Meliputi komedo: whitehead (komedo tertutup) dan Blackhead (komedo terbuka).

Whitehead (komedo tertutup) merupakan kelainan berupa bintil kecil dengan lubang

kecil atau tanpa lubang karena sebum yang biasanya disertai bakteri menumpuk di

folikel kulit dan tidak bisa keluar. Blackhead (komedo terbuka) merupakan

perkembangan lebih lanjut dari komedo tertutup, terjadi ketika folikel terbuka di

permukaan kulit sehingga sebum, yang mengandung pigmen kulit melanin,

teroksidasi dan berubah menjadi coklat/hitam. Blackhead dapat berlangsung lama

karena proses pengeringan komedo di permukaan kulit berlangsung lambat.

2) Sedang

Meliputi: papule, pustule dan nodule. Papel terjadi ketika dinding folikel rambut

mengalami kerusakan atau pecah sehingga sel darah putih keluar dan terjadi inflamasi

di lapisan dalam kulit. Papel berbentuk benjolan-benjolan lunak kemerahaan di kulit

tanpa memiliki kepal. Pustule terjadi beberapa hari kemudian ketika sel darah putih

keluar ke permukaan kulit. Pustel berbentuk benjolan merah dengan titik putih atau

kuning di tengahnya yang mengandung sel darah putih.Nodule, Bila folikel pecah di

dasarnya maka terjadi benjolan radang yang besar yang sakit bila disentuh. Nodus

biasanya terjadi akibat rangsang peradangan oleh fragmen rambut yang berlangsung

lama.

3) Berat

Meliputi abses dan sinus (akne kongloblata). Abses kadang beberapa papel atau

pustel mengalami pengelompokan dengan membentuk abses yang berwarna

kemerahan, nyeri dan cenderung mengeluarkan bahan berupa campuran darah, nanah

dan sebum. Pada proses penyembuhan kelainan ini meninggalkan jaring parut yang
luas. Jenis jerawat paling berat (acne konglobata). Sering terdapat di lekukan samping

hidung, hidung, rahang dan leher. Kelainan berupa garis linier dengan ukuran panjang

bisa mencapai 10 cm dan mengandung beberapa saluran sinus atau fistel yang

menghubungkan sinus dengan permukaan kulit. Penyembuhan jerawat ini memakan

waktu berbulan-bulan, bahkan tahun dan dapat kambuh lagi bila mengalami proses

inflamasi. Sinus harus ditangani dengan pembedahan

Dalam klasifikasi ini dikatakan sedikit apabila jumlah < 5, beberapa 5- 10 dan

banyak >10 lesi. Sedangkan berdasarkan peradangan jerawat dibagi menjadi Tak

beradang meliputi komedo putih, komedo hitam, papul dan beradang meliputi pustul,

nodus dan kista.

2.1.4 Etiologi Jerawat

Etiologi Acne Vulgaris belum diketahui secara pasti. Secara garis besar terdapat

empat faktor yang berperan dalam patogenesis Acne Vulgaris yaitu:

1. Peningkatan produksi sebum

Terdapat korelasi antara keparahan acne dengan produksi sebum. Pertumbuhan

kelenjar sebasea dan produksi sebum berada di bawah pengaruh hormon androgen.

Pada penderita acne terdapat peningkatan konversi hormon androgen yang normal

beredar dalam darah (testoteron) ke bentuk metabolit yang lebih aktif (5>alfa

dehidrotestoteron).

Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan

proliferasi sel penghasil sebum. Meningkatnya produksi sebum pada penderita acne

disebabkan oleh respon organ akhir yang berlebihan (end-organ hyperresponse) pada

kelenjar sebasea terhadap kadar normal androgen dalam darah, sehingga terjadi

peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik sebagai penyebab terjadinya


acne. Terbukti bahwa pada kebanyakan penderita, lesi acne hanya ditemukan di

beberapa tempat yang kaya akan kelenjar sebasea.

2. Keratinisasi folikel

Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan olah adanya penumpukan

korneosit dalam saluran pilosebasea. Hal ini dapat disebabkan oleh bertambahnya

produksi korneosit pada saluran pilosebasea, pelepasan korneosit yang tidak adekuat,

atau dari kombinasi kedua faktor. Bertambahnya produksi korneosit dari sel

keratinosit merupakan salah satu sifat komedo. Terdapat hubungan terbalik antara

sekresi sebum dan konsentrasi asam linoleik dalam sebum. Dinding komedo lebih

mudah ditembus bahan–bahan yang dapat menimbulkan peradangan. Walaupun asam

linoleik merupakan unsur penting dalam seramaid-1, lemak lain mungkin juga

berpengaruh pada patogenesis acne. Kadar sterol bebas juga menurun pada komedo

sehingga terjadi keseimbangan antara kolesterol bebas dengan kolesterol sulfat,

sehingga adhesi korneosit pada akroinfundibulum bertambah dan terjadi retensi

hiperkeratosis folikel.

3. Kolonisasi Saluran Pilosebasea dengan Propionibacterium acnes

Terdapat tiga macam mikroba yang terlibat pada patogenesis acne adalah

Corynebacterium Acnes (Proprionibacterium Acnes), Staphylococcus epidermidis dan

Pityrosporum ovale (Malassezia furfur). Adanya seborea pada pubertas biasanya

disertai dengan kenaikan jumlah Corynebactirium Acnes, tetapi tidak ada hubungan

antara jumlah bakteri pada permukaan kulit atau dalam saluran pilosebasea dengan

derajat hebatnya acne. Dari ketiga macam bakteri ini bukanlah penyebab primer pada

proses patologis acne. Beberapa lesi mungkin timbul tanpa ada mikroorganisme yang

hidup sedangkan pada lesi yang lain mikroorganisme mungkin memegang peranan

penting. Bakteri mungkin berperan pada lamanya masing–masing lesi. Apakah bakteri
yang berdiam di dalam folikel (resident bacteria) mengadakan eksaserbasi tergantung

pada lingkungan mikro dalam folikel tersebut. Menurut hipotesis Saint-Leger, skualen

yang dihasilkan oleh kelanjar sebasea dioksidasi di dalam folikel dan hasil oksidasi ini

menjadi penyebab terjadinya komedo. Kadar oksigen dalam folikel berkurang dan

akhirnya terjadi kolonisasi Corynebacterium Acnes. Bakteri ini memproduksi porfirin,

yang bila dilepaskan dalam folikel akan menjadi katalisator untuk terjadinya oksidasi

skualen sehingga oksigen dan tingginya jumlah bakteri ini dapat menyebabkan

peradangan folikel. Hipotesis ini dapat menerangkan bahwa acne hanya dapat terjadi

pada beberapa folikel sedangkan folikel yang lain tetap normal

4. Inflamasi

Faktor yang menimbulkan peradangan pada acne belum diketahui dengan pasti.

Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh

Corynebacterium Acnes, seperti lipase, hialuronidase, protease, lesitinase, dan

neuramidase, memegang peranan penting pada proses peradangan. Faktor kemotatik

yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan komplemen untuk bekerja aktif)

bila keluar dari folikel dapat menarik leukosit nukleus polimorf (PMN) dan limfosit.

Bila masuk ke dalam folikel PMN dapat mencerna Corynebacterium Acnes dan

mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa menyebabkan kerusakan dari folikel

pilosebasea. Limfosit dapat merupakan pencetus terbentuknya sitokin.

Bahan keratin yang sukar larut yang terdapat di dalam sel tanduk serta lemak dari

kelenjar sebasea dapat menyebabkan reaksi non spesifik yang disertai oleh mekrofag

dan sel–sel raksasa. Pada fase permulaan peradangan yang ditimbulkan oleh

Corynebacterium Acnes, juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan alternatif

(classical and alternative complement pathways). Respon pejamu terhadap mediator


juga amat penting. Selain itu antibodi terhadap Corynebacterium Acnes juga

meningkat pada penderita acne yang berat (Tahir, 2010).

Menurut Pindha (dalam Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya acne adalah:

1. Faktor genetik.

Faktor genetik memegang peranan penting terhadap kemungkinan seseorang

menderita acne. Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa acne terjadi pada 45%

remaja yang salah satu atau kedua orang tuanya menderita acne, dan hanya 8% bila ke

dua orang tuanya tidak menderita acne. (Ayudianti & Indramaya, 2010)

2. Kebersihan wajah.

Meningkatkan perilaku kebersihan diri dapat mengurangi kejadian Acne Vulgaris

pada remaja (Nami, 2009).

3. Faktor ras.

Warga Amerika yang berkulit putih lebih banyak menderita acne dibandingkan

dengan ras yang berkulit hitam dan acne yang diderita lebih berat dibandingkan

dengan orang Jepang.

4. Hormonal

Beberapa faktor fisiologis seperti menstruasi dapat mempengaruhi timbulnya atau

memperparah acne. Rata-rata 60-70% wanita yang mengalami masalah acne menjadi

lebih parah beberapa hari sebelum menstruasi dan menetap sampai seminggu setelah

menstruasi dan lesi acne menjadi lebih aktif rata-rata satu minggu sebelum menstruasi

yang disebabkan oleh hormon progesteron. Hormon estrogen dalam kadar tertentu

dapat menghambat pertumbuhan acne karena hormon tersebut dapat menurunkan

kadar gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisis dan hormon Gonadotropin
mempunyai efek menurunkan produksi sebum sehingga dapat menghambat

pertumbuhan Acne Vulgaris (Nguyen dkk.,2007).

5. Diet.

Tidak ditemukan adanya hubungan antara acne dengan asupan total kalori dan

jenis makanan, karena hal tersebut tidak dapat menimbulkan acne tetapi

mengkonsumsi coklat dan makanan berlemak secara berlebihan dapat memperparah

terjadinya Acne Vulgaris.

6. Iklim.

Cuaca yang panas dan lembab dapat memperparah acne. Hidrasi pada stratum

koreneum epidermis dapat merangsang terjadinya acne dan pajanan sinar matahari

yang berlebihan dapat memperburuk acne.

7. Lingkungan

Acne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di daerah industri dan

pertambangan dibandingkan dengan di pedesaan.

8. Stres.

Mekanisme yang tepat dari proses acne tidak sepenuhnya dipahami, namun lebih

sering disebabkan oleh sebum berlebih, hiperkeratinisasi folikel, stres oksidatif dan

peradangan. Selain itu androgen, mikroba dan pengaruh pathogenetic juga bekerja

dalam proses terjadinya acne (Thiboutot, 2008). Acne dapat kambuh atau bertambah

buruk pada penderita stres emosional.

2.1.5 Pengobatan Acne Vulgaris

Pengobatan acne dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:.

1. Pengobatan topikal
Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo, menekan

peradangan dan mempercepat penyembuhan lesi. Obat topikal terdiri atas: bahan

iritan yang dapat mengelupas kulit, antibiotika topikal yang dapat mengurangi jumlah

mikroba dalam folikel Acne Vulgaris, anti peradangan topikal dan lainnya seperti atil

laktat 10% yang untuk menghambat pertumbuhan jasad renik (Burns dkk.,2005).

2. Pengobatan sistemik

Pengobatan sistemik dilakukan terutama untuk menekan pertumbuhan jasad renik

di samping itu juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum dan

mempengaruhi perkembangan hormonal. Golongan obat sistemik terdiri atas: anti

bakteri sistemik, obat hormonal untuk menekan produksi androgen dan secara

kompetitif menduduki reseptor organ target di kelenjar sebasea, vitamin A dan

retinoid oral sebagai antikeratinisasi dan obat lainnya seperti anti inflamasi non

steroid (Burns dkk.,2005).

2.1.6 Terapi Farmakologi


Agen Topikal (First-Line Terapi)
1. Tretionin

Tretinoin (retinoid, topikal asam vitamin A) adalah agen komedolitik yang dapat

meningkatkan pergantian sel di dinding folikel dan mengurangi kekompakan sel,

menyebabkan ekstruksi komedo dan penghambatan pembentukan komedo baru.

Tretinoin tersedia dalam bentuk solutio 0,05%, gel 0,01% dan 0,025%, serta dalam

bentuk krim 0,025%, 0,05%, dan 0,1%.

Efek samping yang dapat terjadi yaitu iritasi kulit, eritema, pengelupasan, alergi

kontak dermatitis (jarang), dan meningkatkan kepekaan terhadap paparan sinar

matahari, angin, dingin, dan penyebab iritasi lainnya. Untuk mengatasi jerawat yang

ringan terapi yang direkomendasikan adalah krim 0,025% pada kulit sensitif dan tidak
berminyak. Untuk jerawat tingkat sedang digunakan gel 0,01% pada kulit yang

mudah teritasi dan berminyak, dan gel 0,025% untuk kulit tidak sensitif dan

berminyak.

2. Siproteron Asetat

Indikasi: Pengobatan hormonal untuk jerawat berat pada wanita yang sukar

disembuhkan dengan terapi antibakteri yang panjang, hirsutisme sedang sampai berat

Dosis: sekali sehari 2 mg selama 21 hari dimulai pada hari pertama siklus

menstruasi dan ulangi setelah interval 7 hari, umumnya untuk beberapa bulan;

hentikan jika jerawat atau hirsutisme telah hilang (pemberian kembali dapat dilakukan

jika terjadi kekambuhan)

3. Asam azelaic (Azelex)

Memiliki aktivitas antibakteri komedolitik, antiinflamasi, dan digunakan untuk

peradangan jerawat ringan sampai sedang tetapi khasiat terbatas dibandingkan dengan

terapi lain. Merupakan sebuah alternatif untuk retinoid topikal untuk terapi

pemeliharaan. Asam azelaic tersedia dalam krim 20% dan gel 15%, dengan

pemakaian dua kali sehari (pagi dan sore) pada kulit kering dan bersih.

4. Adapalene

Adapalene merupakan retinoid generasi ketiga dengan fungsi sebagai komedolitik,

keratolitik, dan antiinflamasi. Indikasi: akne vulgaris topikal, menormalkan

diferensiasi sel epitel folikular, sehingga mengurangi pembentukan komedo. Sediaan :

Cream: 0.1%, Gel: 0.1% Dosis: oleskan pada area kulit yang terkena, satu kali sehari

pada waktu malam sebelum tidur dan setelah dicuci/dibersihkan

5. Tazarotene

Tazarotene (Tazorac) merupakan asetilenik retinoid yang dikonversi menjadi

bentuk aktifnya, asam tazarotenik setelah diaplikasikan secara topikal. Tarazarotene


digunakan pada acne ringan hingga sedang dengan aktivitas komedolitik, keratolitik,

dan antiinflamasi. Produk tersedia di pasaran dengan konsentrasi 0,05% dan 0,1%

baik berupa gel ataukrim.

Agen Topikal ( Second-Line Terapi)


1. Dapson

Dapson topikal memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi. Dapson topikal gel

0,5% direkomendasikan oleh FDA sebagai treatment pada pasien acne diatas 12 tahun

Sediaan : gel 5%. Dosis : setiap 12 jam Agen Sistemik (First-Line therapy-severe

nodulaar/ conglobata)

2. Isotretinoin Sebagai retinoid oral

isotretinoin merupakan agen sebosupresive paling efektif yang mempengaruhi

seluruh faktor etiologi yang mempengaruhi inflamasi pada acne, termasuk

menginduksi terjadinya atropi kelenjar sebaseus dengan penurunan produksi sebum

dan perubahan komposisi dari sebum, menginhibisi pertumbuhan P. acnes dalam

folikel, menginhibisi inflamasi, dan mengubah susunan kerantinasi dalam folikel

(memperkecil ukuran dan meningkatkan diferensiasi). Oleh karena itu isotretinoin

merupakan pengobatan pilihan pada acne nodulaositik parah, pasien dengan acne

scarring, pasien dengan acne kronik, dan pada pasien acne yang mengalami gangguan

psikologi yang parah. Terdapat beberapa efek samping akibat penggunaan isotretinoin

secara oral tergantung jumlah, frekuensi dan dosis yang digunakan. Dosis isotretinoin

yang dianjurkan yaitu pada rentang 0,5 higga 1 mg/kg per hari dalam 2 dosis terbagi.

Systemic Agent (First-Line Therapy-Moderate Papulaar Pustulaar/Nodulaar)


1. Antibiotik Makrolida

Antibiotik makrolida (eritromisin, azitromisin, dan klindamisin) menunjukkan efek

antiinflamasi pada pasien acne. Eritromisin dapat digunakan pada pasien yang

membutuhkan antibiotik sistemik tetapi tidak dapat mentoleransi tetrasiklin, atau pada
pasien dengan bakteri yang resisten terhadap antibiotic tetrasiklin. Dosis lazim yang

digunakan 1 g/hari dengan makanan untuk meminimalkan intoleransi gastrointestinal.

Kombinasi dengan zink dapat meningkatkan penetrasi eritromisin menuju unit

pilosebaseus. Kombinasi dengan BPO dapat mengurasi resiko resisten terhadap P.

acnes. Azitromisin yang merupakan turunan dari eritromisin aman untuk digunakan

dan efektif untuk pengobatan pasien dengan acne inflamasi yang sedang hingga parah.

Dengan waktu paruhnya yang mencapai 68 jam, obat ini dapat digunakan tiga kali

dalam seminggu. Beberapa penelitian mengungkapkan penggunaan obat anti jerawat

lebih efektif jika digunakan dengan tambahan antibiotik. Antibiotik baik oral ataupun

topikal dapat mengurangi populasi dari acne secara in vivo. Antibiotik yang biasanya

dikombinasikan dengan obat jerawat topikal adalah antibiotik clindamycin,

tetrasikline, eritromycine, atau doxycycline (Dipiro, et al., 2008)

Jenis –Jenis obat jerawat lainnya


1. Benzoil peroksida (Benzolac)

Adalah zat keratolitik yang juga berdaya bakteriostatis terhadap kuman jerawat.

Benzoilperoksida (Benzolac) berupa krim atau gel 5% yang dioleskan pada jerawat 2

kali sehari dalam kondisi kulit bersih. Untuk efek yang lebih baik dapat diganti

dengan krim 10%. Efek samping berupa terjadinya iritasi kulit dengan gejala

kemerahan, kulit berserpih dan gatal. Bila satu atau lebih efek ini muncul, pengobatan

sebaiknya dilanjutkan dengan sediaan yang kadarnya lebih rendah, atau dihentikan

sama sekali dan berkonsultasi pada dokter. Selama pengobatan dengan gel sebaiknya

menghindari sinar matahari. Tidak boleh digunakan pada kulit yang rusak dan wanita

hamil dapat menggunakannya dengan aman.

2. Asam salisilat
Asam salisilat berkhasiat sebagai fungistatik, bakteriostatik, dan keratolitik. Asam

salisilat berupa lotion atau krim (10%) yang dioleskan 2 kali sehari. Efek samping

berupa iritasi, rasa terbakar, dan gatal-gatal.

3. Sulfur atau belerang endap

Sulfur atau belerang endap merupakan obat jerawat yang berupa suspensi yang

berguna sebagai obat germisida, fungisida, parasitisida, dan keratolitik. Aturan pakai

sulfur dengan cara dioleskan pada kulit yang berjerawat. Efek samping yang

ditimbulkan berupa iritasi. Hal yang harus diperhatikan adalah hindari kontak dengan

mata, mulut, dan mukosa (Dipiro, et al., 2008)

2.2.7 Terapi Non farmakologi

Sebelum jerawat muncul di wajah ada baikknya kita melakukan beberapa treatment

agar wajah kita tetap bersih, mulus serta bebas dari yang namanya jerawat. Berikut

beberapa rekomendasi atau terapi non-farmakolgi yang dapat diberikan agar kita

dapat mencegah menculnya jerawat yaitu:

1. Cuci muka dengan air hangat 2 kali sehari dan sedikit mungkin dengan sabun lembut.

Kemudian dikeringkan dengan hati-hati, tetapi jangan digosok untuk menghindari

iritasi.

2. Jangan memijat jerawat atau menggaruknya dengan jari karena hal ini seringkali

dapat merusak kulit dengan terjadinya infeksi, yang bisa meradang dan meninggalkan

bekas.

3. Efek baik dari diet seperti makanan berlemak untuk menghindari timbulnya jerawat

4. Makan makanan berserat seperti sayuran dan buah-buahan. (Wasitaatmadja, 2007).

Sedangkan menurut Harahap (2000), terapi non farmakologi yang dapat

dilakukan pasien untuk mengurangi frekuensi dan gejala jerawat adalah perawatan
kulit, pemilihan kosmetik sesuai dengan kondisi kulit, diet makanan, menjaga emosi,

dan disarankan untuk tidak menyentuh jerawat, memijit, dan menggosok jerawat,

karena hal tersebut dapat memperparah kondisi jerawat. Sifat jerawat adalah kumat-

kumatan dan kita tidak dapat menghilangkan jerawat dari tubuh namun kita hanya

bisa mengontrol jerawat bukan menyembuhkanya.

2.2 Luka Bakar


2.2.1 Definisi
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang dapat disebabkan

oleh panas (api, cairan/lemak panas, uap panas), radiasi, listrik, kimia. Luka bakar

merupakan jenis trauma yang merusak dan merubah berbagai sistem tubuh (Jong,

2005).

Luka bakar merupakan trauma yang berdampak paling berat terhadap fisik

maupun psikologis, dan mengakibatkan penderitaan sepanjang hidup seseorang,

dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi (Yefta, 2003). Kegawatan

psikologis tersebut dapat memicu suatu keadaan stress pasca trauma atau post

traumatic stress disorder (PTSD) (Brunner dan Suddarth, 2010).

2.2.2 Etiologi Luka Bakar

Berdasarkan penyebabnya, luka bakar dibagi menjadi 4 yaitu :

1. Luka Bakar Thermal

Luka bakar thermal (panas) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak

dengan api, cairan panas atau objek-objek panas lainnya.

2. Luka Bakar Chemical

Luka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan

asam atau basa kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya

jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar
kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan zat – zat pembersih yang

sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang

digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk

zat kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia.

3. Luka Bakar Electric

Luka bakar electric (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi

listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh

lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai

mengenai tubuh.

4. Luka Bakar Radiasi

Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe

ini seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari

sumber radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh

sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe

luka bakar radiasi.

2.2.3 Klasifikasi Luka Bakar

Luka bakar terbagi dalam 3 fase, dimana pembagian fase ini akan membantu

penanganan luka bakar yang lebih terintegrasi. 3 fase tersebut antara lain :

1. Fase Akut/Syok/Awal

Fase ini dimulai saat kejadian hingga penderita mendapatkan perawatan di

IRD/ Unit luka bakar. Seperti penderita trauma lainnya, penderita luka bakar

mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing (mekanisme

bernafas), dan gangguan circulation (sirkulasi). Gangguan airway dapat terjadi

segera atau beberapa saat seteah trauma, namun obstruksi jalan nafas akibat juga

dapat terjadi dalam 48-72 jam paska trauma. Cedera inhalasi pada luka bakar
adalah penyebab kematian utama di fase akut. Ganguan keseimbangan sirkulasi

cairan dan elektrolit akibat cedera termal berdampak sitemik hingga syok

hipovolemik yang berlanjut hingga keadaan hiperdinamik akibat instabilisasi

sirkulasi (Noer dkk., 2006).

2. Fase Subakut/Flow/Hipermetabolik

Fase ini berlangsung setelah syok teratasi. Permasalahan pada fase ini adalah

proses inflamasi atau infeksi pada luka bakar, problem penutupan lukan, dan

keadaan hipermetabolisme (Noer dkk., 2006).

3. Fase Lanjut

Pada fase ini penderita dinyatakan sembuh, namun memerlukan kontrol rawat

jalan. Permasalahan pada fase ini adalah timbulnya penyulit seperti jaringan parut

yang hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas, dan adanya kontraktur

(Noer dkk., 2006).

Menurut (Jong, 2005) berat ringannya luka bakar yang terjadi dipengaruhi

oleh beberapa faktor, diantaranya :

1. Kedalaman Luka Bakar

Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung dari derajat

sumber, penyebab, dan lamanya kontak dengan permukaan tubuh. Luka bakar

terbagi dalam 3 derajat.

1. Luka Bakar Derajat I

Kerusakan jaringan terbatas pada lapisan epidermis

(superfisial)/epidermal burn. Kulit hiperemik berupa eritema, sedikit

edema, tidak dijumpai bula, dan terasa nyeri akibat ujung saraf sensoris

teriritasi. Pada hari keempat paska paparan sering dijumpai deskuamasi.


Salep antibiotika dan pelembab kulit dapat diberikan dan tidak

memerlukan pembalutan.

2. Luka Bakar Derajat II

Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis berupa reaksi

inflamasi disertai proses eksudasi. Pada derajat ini terdapat bula dan terasa

nyeri akibat iritasi ujung-ujung saraf sensoris. Luka bakar derajat II

dibedakan menjadi 2 yaitu dangkal dan dalam.

 Dangkal/superfisial/superficial partial thickness

Pada luka bakar derajat II dangkal/superficial partial thickness,

kerusakan jaringan meliputi epidermis dan lapisan atas dermis. Kulit

tampak kemerahan, edema, dan terasa lebih nyeri daripada luka bakar

derajat I. luka sangat sensitif dan akan lebih pucat jika kena tekanan. Masih

dapat ditemukan folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea.

Penyembuhan terjadi secara spontan dalam 10-14 hari tanpa sikatrik,

namun warna kulit sering tidak sama dengan sebelumnya. Perawatan luka

dengan pembalutan, salep antibiotika perlu dilakukan tiap hari. Penutup

luka sementara (xenograft, allograft atau dengan bahan sintetis) dapat

diberikan sebagai pengganti pembalutan.

 Dalam/deep partial thickness

Pada luka bakar derajat II dalam/deep partial thickness, kerusakan

jaringan terjadi pada hampir seluruh dermis. Bula sering ditemukan

dengan dasar luka eritema yang basah. Permukaan luka berbecak merah

dan sebagian putih karena variasi vaskularisasi. Luka terasa nyeri, namun

tidak sehebat derajat II dangkal. Folikel rambut, kelenjar keringat, dan

kelenjar sebasea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama, sekitar


3-9 minggu dan meninggalkan jaringan parut. Selain pembalutan dapat

juga diberikan penutup luka sementara (xenograft, allograft atau dengan

bahan sintetis).

3. Luka Bakar Derajat III

Kerusakan jaringan permanen yang meliputi seluruh tebal kulit hingga

jaringan subkutis, otot, dan tulang. Tidak ada lagi elemen epitel dan tidak

dijumpai bula, kulit yang terbakar berwarna keabu-abuan pucat hingga

warna hitam kering (nekrotik). Terdapat eskar yang merupakan hasil

koagulasi protein epidermis dan dermis. Luka tidak nyeri dan hilang

sensasi akibat kerusakan ujung-ujung saraf sensoris. Penyembuhan lebih

sulit karena tidak ada epitelisasi spontan. Perlu dilakukan eksisi dini untuk

eskar dan tandur kulit untuk luka bakar derajat II dalam dan luka bakar

derajat III. Eksisi awal mempercepat penutupan luka, mencegah infeksi,

mempersingkat durasi penyembuhan, mencegah komplikasi sepsis, dan

secara kosmetik lebih baik.

Berikut adalah gambar derajat kedalaman luka bakar yang disajikan pada

gambar.1

Gambar.1 Derajat Kedalaman Luka Bakar

2. Luas Luka Bakar


Penentuan luas luka bakar dengan bantuan rule of nine Wallace yang membagi

sebagai berikut: kepala dan leher 9%, lengan 18%, badan bagain depan 18%,

badan bagian belakang 18%, tungkai 36%, dan genetalia/ perineum 1%. Luas

telapak tangan penderita adalah 1% dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak-

anak menggunakan modifikasi rule of nine Lund dan Browder yang membedakan

pada anak usia 15 tahun, 5 tahun, dan 1 tahun (Noer dkk., 2006).

Berdasarkan derajat kedalaman luka bakar maka dapat ditentukan tingkat keparahan

dari luka bakar tersebut (Noer dkk., 2006).

1. Luka Bakar Ringan

Yang termasuk luka bakar ringan adalah

 Luka bakar derajat II <15%

 Luka bakar derajat II <10% pada anak

 Luka bakar derajat III <2

2. Luka Bakar Sedang

Yang termasuk luka bakar sedang adalah

 Luka bakar derajat II <15-25%

 Luka bakar derajat II >10-20% pada anak

 Luka bakar derajat III <10%

3. Luka Bakar Berat

 Luka bakar derajat II ≥25%Luka bakar derajat II ≥20% pada anak

 Luka bakar derajat III ≥10%

 Luka bakar pada wajah, telinga, mata, tangan, kaki dan genitalia/perineum

 Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, dan disertai trauma lain.

2.2.4 Terapi
2.2.4.1 Non Farmakologi

 Cairan susu

Susu merupakan cairan yang paling bagus untuk mengompress luka bakar

kecil. Rendam daerah luka dengan susu selama 15 menit atau lebih. Bila

anda kesulitan merendam, anda bisa menggunakan handuk yang telah

dibasahi susu untuk menutup daerah yang terbakar. Lemak yang terdapat

dalam susu akan menyejukan daerah yang terbakar dan mempercepat

penyembuhan.

 Lidah buaya

Lidah buaya akan mempercepat proses penyembuhan, dua atau tiga hari

setelah terluka. Anda dapat membubuhi daerah luka dengan cairan dari

daun lidah buaya. Kesejukan dari cairan itu akan membantu meredakan

nyeri. Gunakan empat sampai 5 kali sehari tanpa ditutup dengan perban.

 Kentang

Kentang juga bisa dipakai untuk pertolongan luka bakar. Irislah kentang
lalu tutup daerah yang terbakar menggunakan irisan tersebut. Zat tepung
pada kentang akan menetralisir luka bakar, rasa nyeri dan mencegah
pembentukan jaringan parut.
 Madu
Madu yang digunakan untuk menutup luka akan menyejukan luka,
meredakan nyeri dan mempercepat penyembuhan. Madu juga akan
mencegah infeksi kuman serta melindungi daerah luka.
 Minyak lavender
Minyak lavender akan meredakan rasa nyeri dan mempercepat
penyembuhan serta mencegah jaringan parut. Pertama tama, bersihkan
daerah luka dengan air dan sabun. Campur minyak lavender dengan minyak
zaitun dengan perbandingan 1 : 3. Selanjutnya tutuplah daerah luka dengan
campuran tadi.

Hal yang harus diperhatikan :


1. Jangan mengoleskan odol, kecap, mentega pada daerah yang terkena luka bakar.
Bahan” ini hanya akan menyebabkan infeksi pada luka bakar dan bahkan
memperlama proses penyembuhannya.
2. Menutup luka bakar dengan menggunakan putih telur akan mencegah luka bakar
menjadi kering.
3. Jangan memecah bula/lepuhan. Memecah bula hanya akan membuat infeksi pada luka
bakar. Jika bula terlanjur pecah, bersihkan dan sementara tutup dengan kasa steril.
4. Jangan menekuk daerah yang terkena luka bakar, terutama pada daerah” persendian
karena akan menyebabkan kontraktur/pemendekan yang akan menyusahkan proses
penyembuhannya.
5. Cepat berikan penanganan medis kepada penderita jika mengalami luka bakar berat
atau luas. Kemungkinan penderita memerlukan oksigen jika mengalami
udem/pembengkakan laring, atau perlu cairan infus karena luasnya luka bakar
sehingga penguapan yang terjadi juga masif atau perlu diberikan antibiotik masif atau
injeksi anti tetanus.

2.2.4.2 Terapi Farmakologi


 Perak Sulfadiazin (Silvadene)
Sediaan krim 1%, cara pemakaian dioleskan 1-2 kali / hari. Indikasi
mencegah dan mengobati infeksi pada luka bakar derajat ke II dan ke III.
10 % dari obat ini diabsorbsi. Pemakaian yang banyak atau pengolesan
secara berlebihan dapat menyebabkan timbulnya Kristal sulfa (kristaluria).
 Perak Nitrat
Larutan 0,5%. Indikasi untuk luka bakar derajat ke II dan ke III. Efektif
melawan beberapa organisme gram negatif. Cara penggunaan pembalut
direndam dalam larutan perak nitrat 0,5 % dan pembalut diangkat sebelum
menjadi kering. Dapat menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit
(Hipokalemia) jika dipakai berlebihan.
 Mafenid Asetat (Sulfamylon)
Sediaan krim 8,5%. Indikasi untuk luka bakar derajat ke II dan ke III.
 Nitrofurazone (Furacin)
Sediaan krim, salep, larutan, 0,2 %. Indikasi untuk luka bakar derajat ke II
dan ke III dapat menimbulkan fotosensistifitas, oleh karena itu hindari
sinar matahari dapat menyebabkan dermatis kontak.

2.3 Pelindung Sinar Matahari


2.3.1 Definisi Sunscreen

Sunscreen merupakan sejenis krim atau lotion yang digunakan untuk

melindungi kulit dari paparan sinar matahari (UV-A dan UV-B). Sediaan tabir

surya (sunscreen) adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud

membaurkan atau menyerap secara emisi gelombang ultraviolet dan inframerah,

sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya mahatari.

2.3.2 Sinar Matahari

Sinar matahari terdiri dari banyak spektrum dengan level energiyang

berbeda,mulai dari cosmic rayhingga panjang gelombang radio. Semakin

pendek gelombangnya, energicahayamakin tinggi. Urutan sinar dengan

gelombang pendek atau energitinggi adalah Gammay ray; X-ray; sinar

Ultraviolet (UV) (290-400nm); Sinar tampak (400-700 nm); sinar Inframerah

(>700nm); Gelombang mikro; dan Gelombang radio(Wilkinson & Moore,

1982;Pugliese, 2001).

Sinar Ultraviolet terdiri dari 3 pita utama atau komponen, yaitu sinar UVA,

UVB, dan UVC (DeSimone II, 2000;Caswell, 2000).

1. Sinar Ultraviolet A (UVA) memiliki panjang gelombang radiasi berkisar dari

320 hingga 400 nm. Sinar UVA berpenetrasi lebih dalam ke dalam kulit

dibanding UVB, maka mempunyai efek lebih besar pada dermis dibanding

pada epidermis, berupa kerusakan histologis dan vaskular. Paparan UVA

menyebabkan sagging kulit, penebalan dermis dan epidermis, dan

peningkatan aktivitas elastase UVA (DeSimone II, 2000).

2. Sinar Ultraviolet B (UVB) memiliki panjang gelombang antara 290 dan 320

nm, sinar UVBpaling aktif menyebabkan eritema, sehingga disebut radiasi

sunburn. Radiasi UVB yang mencapai permukaan bumipaling intensifsejak


jam 10 pagi hingga hingga jam 3 sore. Paparan UVB berpenetrasi hanya ke

dalam epidermis dan berperan dalam sintesa vitamin D3 di kulit (DeSimone

II, 2000).

3. Sinar Ultraviolet C (UVC) memiliki panjang gelombang 200 –290nm, juga

dikenal sebagai radiasi germisidal. Hanya sedikit radiasi UVC dari matahari

yang mencapai permukaan bumi karena disaring oleh lapisan ozon di

atmosfir. Kebanyakan UVC yang mengenai kulit diserap oleh lapisan sel

mati stratum corneum (DeSimone II, 2000).

American Cancer Society menyatakan bahwa pemaparan UV dalam jangka


waktu yang lama dapat menyebabkan perubahan pada kulit yang meliputi :
 Penuaan
 Kerutan
 Kehilangan elastisitas kulit
 Noda gelap (lentigos, kadang disebut “age spots” atau “liver spots” )
 Keratosis aktinik
2.3.3 Jenis dan Mekanisme Kerja Tabir Surya
Sunscreen topikal dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sunscreen

kimiawi, fisik, dan biologis. Beberapa bahan aktif tabir surya mungkin bekerja

dengan lebih dari satu cara dari tiga cara berikut (Caswell, 2000; Oroh&

Ekowati, 2001).

1. Secara kimiawi mengabsorbsi energi sinar UV

Ingredien aktif sunscreen menyerap paling tidak 85% radiasi UV pada

rentang pada panjang gelombang dari 290 hingga 320 nm,

danmungkinhingga panjang gelombang lebih dari 320 nm.

Dengan menyerap UVR, maka sunscreen kimiawi akan memblock transmisi

UVR ke epidermis.

Penyerap kimia (chemical absorber) meliputi anti UV A misalnya turunan

benzophenon antara lain oksibenson, dibenzoilmetan, serta anti UV B yaitu


turunan salisilat, turunan para amoni benzoic acid (PABA) misalnya oktil

dimetil PABA, turunan sinamat (sinoksat, etil heksil parametoksisinamat)

dan lain-lain.

2. Secara fisik menghamburkan dan memantulkan energi sinar UV.

Sunscreen fisik, biasa disebut sunblock, antara lain talk, titan oksida (TiO2),

seng oksida (ZnO), feri klorida, clay, starch, kaolin, kalsium karbonat

(CaCO3), dan magnesium oksida (MgO). Bahan-bahan bersifat opak serta

beraksidengan memantulkan dan memendarkan semua sinar dalam rentang

UV dan sinar tampak pada panjang gelombang dari 290 hingga 777 nm,

sehingga mencegah penetrasi dan absorpsi. Oleh karena itu, sunblock

mencegah atau meminimalkan sunburnd an santan (DeSimone II,2000).

Sunscreen fisik lebih aman karena tidak menimbulkan reaksi kimia yang

dapat memberikan efek merugikan (Iskandar, 2008; Rahma, 2009).

3. Secara biologis mengurangi inflamasi baik dengan blocking respons

inflamatori biologis atau dengan meningkatkan perbaikanbiologis. Bahan

aktif tabir surya kimiawi atau fisis harus bertahan pada stratum

corneumuntuk efektif. Namun bahan aktif tabir surya biologik harus

mencapai jaringan hidup (viable) untuk efektif.

2.3.4 Efektivitas Tabir Surya


Parameter yang biasa digunakan untuk mengevaluasi efikasi produk tabir
surya dan memberikan kepada pemakai yang berhubungan dengan informasi
pada label produk yaitu sebagai Sun Protection Factor (SPF).
Faktor proteksi sinar (Sun Protecting Factor/SPF) yaitu menunjukkan
tingkat lamanya tabir surya bisa melindungi kulit dari radiasi sinar matahari
(UV) atau berapa lama anda bisa berada dibawah sinar matahari tanpa membuat
kulit terbakar (sun burn). Semakin tinggi nilai SPF, semakin besar perlindungan
yang akan didapat. Nilai SPF ini berkisar antara 0 sampai 100. Sediaan tabir
surya dikatakan dapat memberikan perlindungan apabila memiliki nilai SPF 2
sampai 8.
Tingkat kemampuan tabir surya sebagai berikut :
1. Minimal, bila SPF antara 2-4, contoh salisilat, antranilat.
2. Sedang, bila SPF antara 4-6, contoh sinamat, bensofenon.
3. Ekstra, bila SPF antara 6-8, contoh derivate PABA.
4. Maksimal, bila SPF antara 8-15, contoh PABA.
5. Ultra, bila SPF lebih dari 15, contoh kombinasi PABA, non-PABA dan fisik.
3.2.5 Bentuk – Bentuk Sediaan
Tabir surya dapat dibuat dalam berbagai bentuk sediaan, misalnya
bentuk larutan air atau alkohol, emulsi, krim, dan semi padat, yang merupakan
sediaan lipid non-air, gel, dan aerosol.

1. Preparat anhydrous
Minyak-minyak cair suntan menduduki tempat yang paling penting.
Keuntungan yang spesifik dari sediaan berminyak adalah sifat tahan terhadap
air yang timbul saat berkeringat pada saat berjemur atau berenang. Efek
lubrikan (perlindungan mekanik) juga dipertimbangkan sebagai hal yang
sangat menolong. Minyak nabati digunakan sebagai tabir surya karena
mamiliki kemampuan menyerap dalam range UV kritikal. Hal ini
ditunjukkan oleh minyak wijen yang paling luas penggunannya.
2. Emulsi (m/a, a/m)
Berbagai jenis emulsi, non lemak m/a, semi lemak , lemak m/a, telah
digunakan sebagai tabir surya dengan kandungan lemak yang tinggi
menyerupai minyak dan non lemak serupa dengan sediaan berair.
Keuntungan dari produk emulsi adalah penampilan dan konsistensi yang
menyenangkan saat penggunaannya.
3. Preparat tanpa lemak
Dibandingkan dengan minyak suntan, sediaan ini memiliki
keuntungan yaitu tidak berlemak dan lengket serta nyaman dalam
penggunannya. Kelompok ini dibagi atas komposisi alcohol tinggi atau
rendah. Kerugian utama dari sediaan berair dan rendah alcohol adalah
kelarutannya dalam air yaitu kehilangan aktivitas pada kondisi berkeringat
atau dalam air.
3.2.6 Contoh-Contoh Sunscreen
1. Parasol Cooling Mist Sun Spray SPF 25
Komposisi : Butyl methoxydibenzoylmethane, Octocrylene,
Benzophenone-3, Dimethylmethoxy chromanyl
palmitate, Aloe barbadensis leaf extract
Indikasi : Melindungi dari UVA dan UVB
Kemasan : botol 60 ml
Cara penggunaan : Semprotkan sunscreen secara merata pada bagian
tubuh yang akan dilindungi kurang lebih 30 menit
sebelum beraktifitas di luar. Ulangi pemakaian setiap
3-4 jam selama beraktifitas.

2. Parasol SPF 33
Komposisi : Octyl methoxycinnamate, Oxybenzone,
Microtitanium dioxide, Methyl benzilidene camphor,
Butyl methoxy dibenzoil methane, Cetil alcohol,
Tocopherol acetate, Red ion oxide, Cl No.
77492, Sodium lauryl sulphate, Propyl paraben,
Methyl paraben, Aloe vera, Purified water.
Indikasi : Tabir surya dan pelembab.
Kemasan : 20 Gram / Tube
Cara penggunaan : Sebelum bepergian keluar kena sinar matahari,
oleskan krim tipis-tipis pada bagian kulit yang akan
dilindungi. Pastikanlah bahwa seluruh kulit tersebut
telah tertutupi dan bila mana perlu ulangi pemakaian
untuk memastikan suatu perlindungan yang cukup.
Hilangkan krim pada waktu malam hari dengan
memakai krim/susu pembersih atau dengan sabun dan
air dan pakailah kembali waktu pagi hari.
3. Intersun Lotion SPF 30
Komposisi : Per mililiter lotion Vit E, aloe vera, ethylhexyl
methoxycinnamate, benzophenone-3.
Indikasi : Tabir surya & pelembab.
Kemasan : botol 100 ml
Cara penggunaan : Gunakan pada area kulit yang perlu dilindungi dari
sinar matahari yaitu 30 menit sebelum pemaparan
terhadap sinar matahari.

BAB III
STUDI KASUS