Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI

PEMERIKSAAN C-REACTIVE PROTEIN

Oleh :

NI MADE SUKMA WIJA YANTI

P07134017058

Semester IV B

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JJURUSAN ANALIS KESEHATAN

2019
PEMERIKSAAN C-REACTIVE PROTEIN

I. TUJUAN
A. Tujuan instruksional umum
1. Mahasiswa dapat memahami cara pemeriksaan CRP serum probandus.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan cara pemeriksaanCRP serum probandus
B. tujuan instruksional khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan cara pemeriksaan CRPserum probandus
2. Mahasiswa dapat mengetahui hasil kualitatif dan kuantitatif pemeriksaan
CRP serum probandus.
3. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil kualitatif dan kuantitatif
pemeriksaan CRP serum probandus.

II. PRINSIP
Tes crp adalah test aglutinasi slide secara kualitatif dan semi kuantitatif. Dimana
pereaksi mengandung antibodi khusus CRP yang akan bereaksi dengan serum yang
mengandung crp sehingga terjadi aglutinasi.

III. METODE
Pada praktikum pemeriksaan CRP yang digunakan adalah metode rapid slide
aglutinasi .
IV. DASAR TEORI

C-reactive protein merupakan molekul polipeptida dari kelompok pentraxins yang


merupakan protein fase akut (Puspa Dewi, 2018). CRP diproduksi di hati dan produksinya
dikontrol oleh sitokin khususnya interleukin-6 (Puspa Dewi, 2018). CRP diproduksi di dalam
hepatosit saat terjadi reaksi inflamasi. Banyak penelitian telah menggunakan CRP sebagai
pertanda prognosis karena CRP memiliki nilai sensitifitas yang tinggi. CRP meningkat 4-6
jam setelah stimulus; konsentrasinya meningkat 2 kali lipat setiap 8 jam; dan mencapai
puncak dalam 36-50 jam. Waktu paruh CRP 19 jam sehingga bahkan dengan hanya 1
stimulus membutuhkan beberapa hari untuk kembali ke kadar awal. Walaupun termasuk
protein fase akut, kadar CRP juga berubah selama proses inflamasi kronis (Puspa Dewi,
2018).
Dalam jurnal penelitian oleh Alfina, et all dibahas tentang penggunaan kadar CRP pada awal
pemeriksan pasien pneumonia anak untuk menentukan prognosis. Diharapkan kadar CRP
dapat digunakan sebagai pertanda prognosis pada pasien pneumonia anak (Puspa Dewi,
2018). Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem pernapasan dimana alveoli
mikroskopik udara mengisi kantong dari paru yang bertanggung jawab untuk menyerap
oksigen dari atmosfer menjadi radang dengan penimbunan cairan (Afina, Olivianto, & Sujuti,
2014).

Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah
lima tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak di seluruh dunia (±2 juta
anak balita), utamanya di Afrika dan Asia Tenggara, terjadi akibat pneumonia. Menurut
Survey Kesehatan Nasional (SKN) 2001, 27,6 % kematian bayi dan 22,8 % kematian balita
di Indonesia disebabkan oleh penyakit sistem respirasi, terutama pneumonia. Saat ini masih
belum ada pemeriksaan baku yang dapat dipakai untuk menilai prognosis pada penyakit
pneumonia anak. Prognosis biasanya diperkirakan dengan gambaran awal saat pasien dating.
Penelitian sebelumnya melaporkan tentang penggunaan alat baku untuk menentukan
prognosis pasien pneumonia. Penggunaan alat tersebut kebanyakan pada pasien pneumonia
dewasa, belum ada alat baku yang menentukan prognosis penyakit pneumonia pada anak (M.
Said, 2009).

V. ALAT DAN BAHAN


a. Bahan
o Reagen kit CRP
o Kontrol positif
o Kontrol negatif
o Tissue
o akuades
b. Alat
o Slide tes
o Yello tip
o Mikropipet 10-100µl
o Batang pengaduk

VI. PROSEDUR KERJA

a. Dipersiapakan semua bahan dan alat yang akan digunakan


b. Sampel dan reagen disuhu ruangkan
c. Reagen Latex dihomogenkan (untuk pencegahan gumpalan partikel)
 Metode kualitatif
1. Reagen latex CRP diteteskan satu tetes ke dalam lingkaran slide.
2. Serum dipipet sebanyak 50 mikron atau satu tetes dan diteteskan
pada lingkaran slide yang berisi reagen tadi.
3. Serum dan reagen latex CRP diaduk dengan menggunakan lidi steril
hingga memenuhi lingkaran slide dan digoyangkan selama dua
menit. Hasil dibandingkan dengan kontrol positif dan negatif.
 Metode semi kuantitatif
1. Pada tiap lingkar slide tambahkan 50μl pengencer (buffer fosfat
saline), dengan menggunakan mikropipet pada lingkar slide 2,3,4
dan 5.
2. Pada lingkar slide ke-1 dan 2, tambahkan 50μl sampel,
3. Dihomogenkan pengencer dan sampel pada lingkar slide ke-2,
hindari terjadinya gelembung ,diambil 50μl pada slide 2 dan
dipindahkan kelingkar slide ke-3 , dan homogenkan (Up and
down)
4. Lakukan proses ke -3 sampai lingkar slide ke-5, dan pada lingkar
slide ke-5 diambil sebanyak 50μl suspensi dan dibuang
5. Dihomogenkan dengan menggunakan lidi hingga memenuhi
lingkaran slide dimulai dari lingkaran slide ke -5 hingga lingkar
slide ke -1.
d. Goyang-goyang slide secara berlahan, dan amati ada/tidaknya aglutinasi
e. Pembacaan hasil tidak lebih dari 2 menit

VII. INTERPRETASI HASIL


1. Aglutinasi: Menunjukkan kadar CRP ≥6 mg /L
2. Tidak terdapat aglutinasi: Menunjukkan kadar CRP<6 mg /L

VIII. HASIL PENGAMATAN

Nama Probandus : Kadek Nita Febiyani Pratiwi

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Hasil Pengamatan : Negatif (-)

Karena hasil pada metode kualitatif menghasilkan hasil negatif, maka pemeriksaan tidak
dilanjutkan pada metode semi-kuantitatif, karena dapat dinyatakan titer CRP di dalam serum
probandus < 6 mg/L

IX. PEMBAHASAN

C-Reactive Protein (CRP) adalah salah satu protein fase akut yang terdapat dalam serum
normal walaupun dalam konsentrasi yang amat kecil. Dalam keadaan tertentu dengan reaksi
inflamasi atau kerusakan jaringan baik yang disebabkan oleh penyakit infeksi maupun yang
bukan infeksi, konsentrasi CRP dapat meningkat sampai 100 kali. Sehingga diperlukan suatu
pemeriksaan yang dapat mengukur kadar CRP. C-reactive protein (CRP) ialah protein fase
akut dengan struktur homopentamer dan memiliki tempat ikatan kalsium yang spesifik
terhadap phosphocholin-Creactive Protein (CRP) bersama dengan serum amyloid P
component (SAP) merupakan anggota dari protein golongan pentraxins. Protein ini terdiri
dari lima subunit yang identik (homopentamer) dengan berat subunit kurang lebih 23 kDa
yang berikatan secara non-kovalen dan tersusun secara simetris (Paruntu, 2016).
CRP merupakan salah satu petanda inflamasi sistemik akut yang dihasilkan oleh hati dan
sering ditemukan banyak penyakit dan berhubungan dengan kejadian DM dan
cardiovascular event, bagaimana mekanisme sebenarnya belum diketahui secara pasti.
Dalam waktu yang relatif singkat (6-8 jam) setelah terjadinya reaksi radang akut/kerusakan
jaringan, sintesis, dan sekresi dari CRP meningkat dengan tajam, dan hanya dalam waktu 24-
48 jam telah mencapai nilai puncaknya. Kadar dari CRP akan menurun dengan tajam pula
bila proses inflamasi/kerusakan jaringan telah mereda. Dalam waktu sekitar 24-48 jam telah
dicapai nilai normalnya kembali (Kalma, 2018).

CRP memiliki 206 residu asam amino. Dengan menggunakan mikroskop elektron,
terlihat gambaran cincin (anular) molekul berbentuk donat. Struktur pentamer CRP memiliki
sifat stabilitas molekul yang tinggi dan ketahanan terhadap serangan enzimatik. CRP
merupakan penanda inflamasi dan salah satu protein fase akut yang disintesis di hati untuk
memantau secara non-spesifik penyakit lokal maupun sistemik. Kadar CRP meningkat
setelah adanya trauma, infeksi bakteri, dan inflamasi. Sebagai biomarker, CRP dianggap
sebagai respon peradangan fase akut yang mudah dan murah untuk diukur dibandingkan
dengan penanda inflamasi lainnya. CRP juga dijadikan sebagai penanda prognostik untuk
inflamasi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada penyakit seperti, jantung koroner,
penumonia, diabetes melitus, dsb, dan dapat ditemukan juga pada perokok, keadaan obesitas,
dsb (Paruntu, 2016).

Jika diambil contoh kadar CRP pada perokok, Peningkatan kadar CRP berhubungan
dengan penggunaan tembakau, peningkatan indeks massa tubuh, usia, hipertensi, resistensi
insulin, diabetes, penyakit ginjal kronis, penurunan fungsi ventrikel kiri, aterosklerosis luas,
infeksi aktif, dan depresi (Paruntu, 2016). Dalam penelitian Oshawa et al. yang dilakukan
pada orang Japanese ethnicity (The Iwate-Kenpoku Cohort study) didapatkan peningkatan
konsentrasi serum CRP namun tidak berhubungan dengan jumlah rokok yang dihisap per
hari (Oshawa et all, 2005) . Dalam Speedwell study yang dilakukan oleh Lowe et al. pada
orang British (Inggris) dengan kebiasaan merokok dimana terdapat hubungan peningkatan
CRP dengan jumlah rokok yang dihisap per hari (Lowe et all, 2001).

Pada kasus obesitas, salah satu mekanisme perkembangan sindrom metabolik dari
kondisi obesitas adalah reaksi inflamasi yang berlebihan. C-Reactive Protein (CRP) adalah
salah satu protein fase akut yang terdapat dalam serum normal walaupun dalam konsentrasi
yang amat kecil dan merupakan mediator proinflamasi yang disekresi dalam jumlah yang
banyak saat tubuh mengalami inflamasi. CRP berhubungan positif dengan obesitas
abdominal. Pada keadaan obesitas abdominal akan terjadi inflamasi dan CRP dalam tubuh
akan meningkat. CRP merupakan biomarker yang cukup sensitif terhadap terjadinya
inflamasi di dalam tubuh dan merupakan prediktor yang kuat terhadap kejadian penyakit
jantung koroner dan penyakit sistem kardiovaskular lainnya. Kadar CRP akan meningkat
pada keadaan sindrom metabolik (Nur Azizah, 2016).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nur Azizah pada tahun 2016, diketahui bahwa
kadar CRP akan meningkat pada keadaan sindrom metabolik, salah satu sindrom metabolik
selain obesitas adalah Diabetes Melitus (DM) dimana ketika kita mengalami obesitas, risiko
kita untuk terkena sindrom metabolik DM juga semakin besar, maka dari itu kedua hal ini
berhubungan. Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kelainan kerja insulin
atau kedua-duanya. DM bukan merupakan penyakit menular dan prevalensinya semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit tidak menular penyumbang angka kematian
terbanyak di Indonesia. Lima tertinggi penyakit tidak menular penyebab kematian di
Indonesia adalah stroke, hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis
(Kemenkes RI, 2011). DM yang tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan berbagai
komplikasi kronis diantaranya komplikasi vaskular (Kalma, 2018).

DM tipe 2 merupakan suatu penyakit metabolik karakteristik yang ditandai dengan


peningkatan kadar gula darah, yang terjadi karena penurunan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas, atau kerja insulin yang tidak sesuai (Depkes, 2008). Ketidaksesuaian kerja insulin
pada penyakit DM ini mengakibatkan glukosa dari pembuluh darah tidak mampu masuk ke
jaringan. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi
darah sehingga terjadi hiperglikemia (Yekti N, 2014). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa kelainan vaskuler terjadi karena adanya low grade chronic inflammation pada
endotelium. Keadaan tersebut diperkuat dengan peningkatan marker inflamasi kronis CRP.
Ini menunjukkan CRP merupakan marker yang cukup sensitif untuk mendeteksi adanya
inflamasi subklinis tersebut yang berhubungan dengan perkembangan dan progress
aterosklerosis (Yerizel E dkk, 2015). Peningkatan kadar CRP merupakan indikasi yang
signifikan terhadap risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Jika petanda inflamasi ini
dapat terdeteksi lebih awal pada penderita DM tipe 2 maka pemberian terapi dapat segera
diberikan sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik. Ketidaksesuaian kerja
insulin pada DM ini mengakibatkan glukosa dari pembuluh darah tidak mampu masuk ke
jaringan (Kalma, 2018).

Terjadinya peningkatan kadar CRP pada penderita DM tipe 2 disebabkan oleh respons
inflamasi yang timbul akibat komplikasi dari DM. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
kelainan vaskuler terjadi karena adanya lowgrade chronic inflammation pada endotelium.
Keadaan tersebut diperkuat dengan peningkatan beberapa marker inflamasi kronis seperti IL-
6 dan CRP. Ini menunjukkan bahwa CRP merupakan marker yang cukup sensitif untuk
mendeteksi adanya inflamasi subklinis tersebut (Yerizel E dkk, 2015).

Selain sindrom metabolik diatas, CRP juga dapat dilakukan pada pasien dengan penyakit
jantung koroner. Atherosclerotic cardiovascular diseases ditandai dengan mengeras dan
menyempitnya arteri akibat timbulnya plak ateroma yang terbentuk dalam dinding arteri. Plak
ateroma ini terdiri dari lipid, kolesterol (lipoprotein), kalsium dan materi lain. Plak ateroma ini
terbentuk dan mengeras melalui proses kalsifikasi. Klasifikasi terjadi ketika deposit dalam darah
mengikat deposit kolesterol pada dinding arteri. Massa dari plak ini dapat memicu adanya blokade
atau penyumbatan aliran darah sebagian atau seluruhnya, sehingga dapat terjadi gangguan kerja sel
dan organ, karena kekurangan oksigen. Sebagian dari plak dapat retak yang dapat menimbulkan
terbentuk gumpalan darah. Gumpalan darah yang terbawa dalam aliran darah dapat menyumbat arteri
yang mengakibatkan emboli, dan bila sampai pada pembuluh darah yang lebih kecil dan menutup
aliran di daerah tersebut, maka dapat terjadi iskemik atau myocardial infarction dan bila terjadi pada
daerah otak akan menimbulkan stroke. Oleh karena itu dalam suatu penelitian dikatakan bahwa dasar
dari pengobatan ACDV ini adalah dengan menghentikan atau mengurangi proses aterosklerosis yaitu
dengan cara mengendalikan faktor risiko. Hipotesis yang lain juga menjelaskan inflamasi sistemik ini
dan peningkatkan sirkulasi sitokin dan mediator inflamasi. Pada hipotesis ini, inflamasi sampai
peningkatan level sirkulasi sitokin yang merusak endotel vascular dan menyebabkan aterosklerosis.
Sirkulasi sitokin seperti C-reactive protein (CRP), interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), tumor
nekrosis faktor-a (TNF-a) dan prostaglandin E2 (PGE2) dan enzim hidrolitik. Faktor risiko relatif
tertinggi pada myocardial infarction ditemukan bersamaan dengan tingkat CRP yang sama dengan
rasio total kolesterol sampai high-density lipid (Gunawan Lusari, 2012).
Protein C-Reactive (CRP) dikenal sebagai penanda fase akut inflamasi dan ada hubungan antara
meningkat kadar plasmanya dengan kerusakan jaringan. Pengukuran perubahan serum CRP terbukti
sangat berguna dalam memantau perkembangan penyakit atau efektifitas pengobatan penyakit yang
disebabkan oleh respon systemic inflammatory. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan
antara periodontitis kronis dengan peningkatan kadar CRP. Secara klinis, telah dibuktikan bahwa
periodontitis berhubungan dengan peningkatan risiko PJK termasuk sudden cardiac death. Pada
penelitian Amar dkk. (2003) dan Tonetti dkk. (2007) yang sudah dilakukan terhadap 400 penderita
PJK, kadar tertinggi CRP terlihat pada kebanyakan penyakit periodontal lanjut (Gunawan Lusari,
2012).

X. KESIMPULAN

Pada praktikum Imunoserologi tentang pemeriksaan RF yang dilakukan pada tanggal 12


Maret 2019 dengan sampel berupa serum atas nama Kadek Nita Febiyani Pratiwi (20)
dengan jenis kelamin perempuan didapat hasil negatif karena tidak terdapat aglutinasi pada
uji kualitatif yang dilakukan (homogen), maka dengan itu pemeriksaan tidak dilanjutkan ke
tahap semi-kuantitaif. Dengan hasil negatif ini, maka dapat dinyatakan bahwa titer pada
serum probandus tersebut adalah < 6 mg/L
DAFTAR PUSTAKA

Afina, N. N., Olivianto, E., & Sujuti, H. (2014). Kadar C-Reactive Protein ( CRP ) Serum
sebagai Pertanda Prognosis pada Pasien Pneumonia Anak . menyerap oksigen dari atmosfer
menjadi radang dengan penimbunan cairan . 1(September), 125–129.

Departemen Kesehatan RI, 2008.Pedoman Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit


Metabolik. Diakses 12 Maret 2019, dari http://perpustakaan.depkes.go.id Fatimah RN,
2015. Diabetes Melitus

Gunawan Lusari, J. (2012). Analisis C-Reactive Protein pada Penderita Jantung Koroner dengan
Periodontitis.

Kalma. (2018). STUDI KADAR C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA PENDERITA


DIABETES MELITUS TIPE 2, 1.

Lowe GDO, Yarnell JWG, Rumley A,


Bainton D, Sweetnam PM. Creactive protein, Fibrin D-Dimer, and incident ischemic heart
disease in the Speedwell study: are inflammation and fibrin turnover linked in pathogenesis?.
Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2001;21:p.603-10.

Nur Azizah, A. (2016). KADAR C-REACTIVE PROTEIN ( CRP ) PADA REMAJA PUTRI
STUNTED OBESITY.

Oshawa M, Okayama A, Nakamura M,


Onoda T, Kato K, Itai K, et al. CRP levels are elevated in smokers but unrelated to the number of
cigarettes and are decreased by long-term smoking cessation in male smokers. Agustus 2005
[cited 2016 Feb 1]. Available from:www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15917065.

Paruntu, M. E. (2016). Gambaran kadar C-reactive protein ( CRP ) serum pada perokok aktif
usia > 40 tahun, 4, 2–5.

Puspa Dewi, Y. (2018). C-reactive protein ( CRP ) Vs high-sensitivity CRP ( hs-CRP ),


(September), 4–6.

Yerizel E, Hendra P, Edward Z, Bachtiar H, 2015. Pengaruh Hiperglikemia terhadap High


Sensitive C- Reactive Protein (HsCRP) pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Prosiding
Seminar Ilmiah PBBMI, 51-55. Diakses 28 Desember 2017, dari http://libmed.ugm.ac.id

Anda mungkin juga menyukai