Anda di halaman 1dari 4

TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN & BIAYA LANJUTAN

Petersen Pottery

Oleh:
Gagas Septian Nurfikri (1806278726)
Ade Hanifa Putri (1806278636)
Ellyanova Afifah (1506700676)

Kelas: F18-2S
Dosen:
Dr. Dwi Hartanti

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INDONESIA
2019
Statement Of Authorship

“Kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan dengan jelas
menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”

Mata Ajaran : Akuntansi Manajemen dan Biaya Lanjutan


Judul Makalah/Tugas : Tugas Akuntansi Manajemen dan Biaya Lanjutan (Case: Petersen
Pottery)
Tanggal : 11 Maret 2019
Dosen : Dr. Dwi Hartanti

NO NAMA NPM TANDATANGAN

1 Gagas Septian Nurfikri 1806278726

2 Ade Hanifa Putri 1806278636

3 Ellyanova Afifah 1506700676


Summary Case:
PROFIL PERUSAHAAN
Petersen Pottery adalah perusahaan yang memproduksi perlengkapan atau furniture kamar mandi
seperti bathtubs, toilets, dan wastafel yang berbahan baku keramik. Dalam proses produksinya
terdiri dari 2 proses: “green” molding dan glazing, setiap proses tersebut memakan waktu 4 hari.
Tanah liat pertama-tama dicetak ke dalam cetakan “plaster-of-paris” yang mana sudah
dikeringkan sebelum dibakar. Kemudian, perlengkapan/furniturenya dilapisi campuran glaze
untuk memberikan warna dan karakteristik halus. Lalu dibakar lagi untuk menguatkan dan
memperbaiki lapisan glaze pada keramiknya. Berikut ini adalah rincian waktu pada setiap
proses:
Green Molding Cycle Glazing Cycle
Drying 1 day 1 day
Firing 1 day 1 day
Cooling 2 days 2 days
Produk yang sudah jadi lalu dikirimkan ke berbagai outlet. Proses pencetakan dan pembakaran
memang tidak begitu kompleks, namun harus dilakukan oleh orang yang berpengalaman untuk
menjaga kualitas produknya. Terlalu panas atau terlalu lama dibakar dapat merusak produknya.
Pencampuran dan pelapisan glaze juga membutuhkan kemampuan. Apabila dalam proses
molding atau glazing memakan waktu lama maka akan tedapat bottlenecks dalam proses
produksi.
Kebutuhan untuk pengendalian biaya yang lebih baik seiring dengan kebutuhan pengendalian
terhadap penjadwalan produksi untuk memenuh peningkatan permintaan, sehingga perusahaan
menggunakan standard cost system. Setelah melakukan diskusi, Petersen membuat standard cost,
berikut ini cost standards untuk sebuah toilet, salah satu produk dengan jumlah yang tinggi:
Material:
Raw Clay 25 lb @$0.95/lb $23.75
Glazing Mix 5 lb @$0.75/lb 3.75
Direct Labor
Molding 1 hr @ $15/hr1 $15.00
1
Glazing 0.5 hr @ $15/hr 7.50
Manufacturing Overhead Costs: Absorbed
@ $5 per Fixture 5.002
Total per Fixture $55.00
1
Perusahaan membayar upah sekitar 2 kali rata2-rata untuk pekerja tanah liat karena perusahaan
ingin menghasilkan produk dengan kualitas tinggi
2
Unit produksi normal per bulan untuk alokasi overhead asumsi 1.200 toilet. Perkiraan alokasi
overhead per bulan untuk toilet yaitu $1.94 per unit ditambah $3,672 fixed cost.

ANALISIS OPERASI
Setelah 6 bulan menggunakan sistem cost yang baru, ternyata para potter (pembuat tembikar)
tidak mengikuti standard baru yang telah ditetapkan.
Berikut ini adalah data produksi actual selama bulan juni yang memproduksi 1145 toilet:
Material Purchased
Clay 30,000 lb @ $0,92/lb
Glaze 6,000 lb @ $0,78/lb
Material Used
Clay 28,900 lb
Glaze 5,900 lb
Direct Labor
Molding 1,200 hour @ $15.25/hour
Glazing 600 hpur @ $15.00/hour
Overhead dibebankan ke Toilet : $6,100 ($2,300 variable cost and $3,800 foxed cost).

Manajer Penjualan tidak senang dengan produksinya yang ternyata lebih rendah 55 unit dari
yang direncanakan. Akuntan Biaya juga tidak senang karena adanya unfavorable
variance(perbedaan antara standar cost dengan actual dimana actual lebih besar daripada
standard). Sebelum analisis lebih lanjut, Petersen berdiskusi dengan Jim Sedgefield karyawan
pembuat tembikarnya yang paling berpengalaman tentang variances yang muncul. Dia sangat
mempertimbangkan penerapan sistem pencetakan yang baru dan lebih cepat untuk menggantikan
sistem manual yang sedang diterapkan. Setelah berdiskusi ternyata para potter tidak
mengerti/bingung dengan sistem yang baru. Selain itu, selama 6 bulan ini kita rebut tentang merk
tanah liat baru yang lebih murah. Potter bertanya kepada Petersen apakah dia mengharapkan
untuk menghasilkan toilet yang murah atau toilet yang berkualitas baik.

Pertanyaan:
1. Lakukan analisa perbedaan atau Variances selama bulan Juni!
2. Kesimpulan apa yang dapat diberikan terkait cost performance bulan juni?
3. Saran apa yang dapat diberikan kepada Tuan Petersen terkait standar biayanya yang baru?