Anda di halaman 1dari 10

TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN & BIAYA LANJUTAN

Beauville Furniture Corporation

Oleh:
Gagas Septian Nurfikri (1806278726)
Ade Hanifa Putri (1806278636)

Kelas: C18-2S
Dosen:
Dr. Dwi Hartanti

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INDONESIA
2019
Statement Of Authorship

“Kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan dengan jelas
menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”

Mata Ajaran : Akuntansi Manajemen dan Biaya Lanjutan


Judul Makalah/Tugas : Tugas Akuntansi Manajemen dan Biaya Lanjutan (Case: Beauville
Furniture Corporation)
Tanggal : 11 Februari 2019
Dosen : Dr. Dwi Hartanti

NO NAMA NPM TANDATANGAN


1 Gagas Septian Nurfikri 1806278726
2 Ade Hanifa Putri 1806278636
Beuaville Furniture Corp. adalah perusahaan mebel yang memproduksi Sofa, Recliner, serta
Kursi santai. Perusahaan memiliki 3 bagian dalam melakukan proses produksi, yaitu bagian
pabrik penggergarjian, bagian pabrik kain, bagian pabrik furnitur. Bagian pabrik
penggergajian membeli bahan baku kayu dari produsen kayu, lalu kayu diproses menjadi 4
jenis, yaitu firsts and seconds, No. 1 Common, No. 2 Common, dan No. 3 Common. Semua
jenis kayu yang diproduksi, dikirimkan (at cost) ke pabrik furnitur untuk digunakan.
Bagian pabrik kain memproduksi kain yang nantinya digunakan oleh pabrik furnitur dalam
memproduksi furnitur, yang mana kain yang dihasilkan ada 3 jenis produk yaitu produk kode
FB60, FB70, dan FB80. Setiap produk dari pabrik kain melalui 2 proses, yaitu pertama tenun
dan pola, lalu yang kedua pewarnaan dan penggulungan. Kain yang diproduksi selanjutnya
akan dipindahkan (at cost) ke bagian furnitur. Pabrik furnitur memproduksi produk
berdasarkan pesanan dan permintaan khusus. Biasanya permintaan yang datang dalam jumlah
banyak, setidaknya 500 unit. Pada pabrik furnitur terdapat 2 departemen untuk memproduksi
furnitur, yaitu pemotongan dan perakitan.
Sejak 5 tahun terakhir keuntungan dan penjualan terus mengalami penurunan. Manajemen
tidak mengerti mengapa para pesaing mampu menjual produk dengan harga yang lebih
murah. VP bagian keuangan kemudian melakukan analisa pada pembiayaan dalam proses
produksi. Biaya produksi bagian penggergajian menggunakan physical methode. Karena
output dan biaya produksi cukup seragam setiap tahun, maka bagian penggergajian
menggunakan actual costing. Meskipun demikian,VP memutuskan untuk menguji efek
menggunakan metode sales-value-at-split off methode. Sedangkan dua pabrik lainnya yaitu
pabrik kain dan pabrik furniture menggunakan normal costing system. Pabrik kain
menggunakan process costing sedangkan pabrik furnitur menggunakan job oreder costing.
Kedua pabrik menghitung biaya overhead berdasarkan jam tenaga kerja langsung. VP
Finance memutuskan menganalisa 2 job, yaitu : job A500 yang memproduksi 500 sofa
dengan gaya yang sering diminta dan menggunakan kain FB70 dan job B75 yang
memproduksi 75 recliner berdesain khusus.
Berikut ini adalah data tahun lalu perusahaan:
Bagian Pabrik Penggergajian
Joint manufacturing cost sebesar $900,000
Quantity Produced Price at Split-Off
Grade (Board feet) (per 1,000 board foot)
Firsts and Second 1,500,000 $ 300
No. 1 Common 3,000,000 $ 225
No. 2 Common 1,875,000 $ 140
No. 3 Common 1,125,000 $ 100
Total 7,500,000

Bagian Pabrik Kain


Budget Overhead: $ 1,200,000 (50% fixed cost)
Practical Volume (direct Labor Hours): 120,000 hours
Actual Ovehead : $ 1,150,000 (50% Fixed Cost)
Actual Worked:
Waving and Coloring and Total
Grade Pattern Bolting
Fabric FB60 20,000 12,000 32,000
Fabric FB70 28,000 14,000 42,000
Fabric FB80 26,000 18,000 44,000
Total 74,000 44,000 118,000

Departemental data on Fabric FB70 (actual cost and actual outcomes):


Weaving and Coloring and
Pattern Bolting
Begining Inventories:
Units* 20.000 400
Costs:
Transferred in $ - $ 100.000,00
Materials $ 80.000,00 $ 8.000,00
Labor $ 18.000,00 $ 6.600,00
Overhead $ 22.000,00 $ 9.000,00
Current Production:
Unit Started 80.000 ?
Unit Transferred Out 80.000 3.200
Costs:
Transferred in $ - ?
Materials $ 320.000,00 $ 82.000,00
Labor $ 208.000,00 $ 99.400,00
Overhead ? ?
Percentage Completion:
Begining Invetories 30% 40%
Ending Inventory 40% 50%

Proposed Standard Cost Sheet for Fabric FB70 (for the coloring and bolting Departement
Only)
Transferred-in materials (25 yard @ $10) $ 250,00
Other Materials (100 ounces @ %0.20) $ 20,00
Labor (3.1 hours @ $8) $ 24,80
Fixed Overhead (3.1 hours @ $5) $ 15,50
Variable overhead (3.1 hours @ $5) $ 15,50
Standard cost per unit $ 325,80
Bagian Pabrik Furnitur
Departement data (bugdeted): (in $)
Producing
Service Departements General Departements
Receivin Maintenanc
g Power e Factory Cutting Assembly
600.00 525.00
Overhead 450.000 0 300.000 0 750.000 375.000
machine hours 60.000 15.000
Receing Order 13.500 9.000
Square feet 1.000 5.000 4.000 15.000 10.000
Direct labor
hours 50.000 200.000

VP memutuskan untuk menggunakan machine hours untuk menghitung overhead bagian


Pemotongan dan Dirct Labor Hours untuk menghitung bagian perakitan. VP ingin
mengetahui apakah benar biaya overhead merupakan penyebab masalah pembiayaan yang
tejadi di perusahaan. Oleh karena itu dilakukan percoban dalam menghitung pekerjaan
dengan menggunakan metode yang berbeda. Pekerjaan yang dilakukan adalah membuat
produk A500 dengan (500 unit) dengan menggunakan kain FB70 dan Produk B75 (75 unit)
yang memproduksi recliner.
Job A500:
Direct Materials:
Fabric FB70 180 bolts @ $350
Lumber(no.1common) 20,000 board feet @ $0.12
Other components $ 266.000,00
Direct Labor:
Cutting Departement 400 hours @ $10
Assembly Departement 1,600 hours @ $8.75
Machine Time:
Cutting Departement 350 machine hours
Assembly Departement 50 macine hours

Job B75
Direct Materials:
Fabric FB70 26 yard @ $350
Lumber(first&second) 22,000 board feet @ $0.12
Other components $3,236
Direct Labor:
Cutting Departement 70 hours @ $10
Assembly Departement 240 hours @ $8.75
Machine Time:
Cutting Departement 90 machine hours
Assembly Departement 15 macine hours

Pertanyaan:
1. Alokasi biaya pada Join Manufacturing Cost untuk setiap jenis kayu, dan hitung biaya
per board foot untuk setiap jenis kayu.
a. Menggunakan Physical Units Method
b. Menggunakan Sales-value-at-Split-off method.
Tentukan metode mana yang harus digunakan oleh bagian pabrik penggergajian
jelaskan! Hal apa yang terjadi apabila pada bagian pabrik penggergajian
menggunakan metode Sales-value-at-Split-off method?
2. Hitung Biaya overhead pabrik pada pabrik kain!
3. Hitung kekurangan atau kelebihan penggunakan biaya Overhead pada pabrik kain!
4. Menggunakan metode weighted average method (rata-rata tertimbang) hitunglah
biaya per Bolt untuk kain jenis FB70.
5. Asumsikan bahwa proses weaving and pattern bukan bagian yang terpisah.
Asumsikan juga bahwa benang yang digunakan pada setiap kain berbeda secara
signifikan dalam hal biaya. Pada kasus ini, apakah proses costing sesuai untuk
digunakan pada proses weaving and pattern? Pendekatan biaya apa yang sesuai untuk
digunakan? Jelaskan.
JAWAB:
Jawaban no.1
Jawaban 1.a Physical Units Method
Quantity Produced Percented Cost Allocation Cost Allocation
Grade (Board feet) per Grade per Grade per Unit
$
Firsts and Second
1,500,000 20% $ 180,000 0.12
$
No. 1 Common
3,000,000 40% $ 360,000 0.12
$
No. 2 Common
1,875,000 25% $ 225,000 0.12
$
No. 3 Common
1,125,000 15% $ 135,000 0.12
Total
7,500,000 100% $ 900,000

Perceted per Grade : Quantity Produced per Grade


Total Quantity Produced per Grade
Cost Allocation per Grade : Total Cost Allocation X Perceted per Grade
Cost Allocation per Unit: Total Quantity Produced per Grade
Cost Allocation per Grade
Penggunaan metode Physical Units kurang dapat dikatakan tepat karena alokasi pada setiap
jenis kayu adalah sama sedangkan kayu yang diolah terbagi ke dalam beberapa jenis, berbeda
pada metode Sales-value-at-Split-off, biaya yang dialokasikan lebih bervariatif dan lebih
sesuai dengan jenis kayu yang diproduksi, dimana semakin tinggi/baik jenisnya maka
biayanya semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Ketika pabrik memproduksi kayu dengan
jenis yang sederhana/rendah seperti kelas No. 3 Common, maka akan terjadi kelebihan biaya
yang dicatatkan apabila digunakan Physical units Method. Sehingga perusahaan lebih baik
menggunakan metode Sales-value-at-Split-off. Hal yang mungkin terjadi apabila perusahaan
menggunakan metode Sales-value-at-Split-off yaitu biaya bahan baku kayu untuk membuat
furnitur pada job A500 dan job B75 menjadi lebih besar karena cost allocation per unit yang
semula $0,12 menjadi $0,14 untuk kayu jenis no.1 common yang digunakan job A500, dan
menjadi $0,18 untuk kayu jenis first and second yang digunakan job B75.

Jawaban 2. Biaya Overhead Pabrik Kain:


VP memutuskan menggunakan Direct Labor Hours dalam mengghitung biaya pada pabrik
kain, sehingga Biaya Overhead Pabrik dapat dihitung seperti di bawah ini:
Plantwide overhead = budgeted overhead / practical volume direct labor hours
= $1,200,000 / 120,000 hours
= $10/hour

Jawaban no.3
Biaya Aktual Overehead Pabrik pada Pabrik kain adalah $10/hour, dan aktual Applied Direct
Labor adalah 118.000 hours, maka under/overapplied biaya overhead adalah:
under/overapplied overhead = Actual Overhead - Applied Overhead
= $1,150,000 - ($10 X 118,000 hours)
= $1,150,000 - $1,180,000
= $(30,000) (Over Applied)

Jawaban no.4 Menggunakan metode weighted average method (rata-rata tertimbang)


hitunglah biaya per Bolt untuk kain jenis FB70.
Weaving and Pattern Department

Units started and completed = units completed – units BWIP


= 80,000 – 20,000
= 60,000
Units started = units started and completed + units EWIP
= 60,000 + 20,000
= 80,000
Coloring and Bolting Departement

Jawaban no.5
Metode Process costing yaitu sistem menghitung biaya dengan cara menjumlahkan seluruh
biaya yang ada dalam suatu bagian atau departemen dalam suatu periode dan membagi sesuai
jumlah yang diproduksi (William K. Carter, 2009:125, Cost Accounting). Apabila asumsinya
bagian weaving and pattern digabukan dan dengan kondisi benang yang digunakan pada
setiap kain berbeda secara signifikan dalam hal biaya, maka akan terjadi kesulitan ketika kita
ingin menelusuri biaya sesungguhnya yang dikeluarkan dari satu unit produk atau bisa
dibilang biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk tidak akan
mencerminkan biaya sebenarnya karena dapat terjadi kelebihan atau kekurangan dalam
pembiayaan pada setiap produk yang berbeda.
Metode yang cocok adalah menggunakan metode job order costing, dimana metode ini
membebankan paling tidak beberapa elemen biaya dari pesanan itu sendiri ke masing-masing
pesanan. (William K. Carter, 2009:124, Cost Accounting). Artinya setiap biaya yang
dikeluarkan ketika melakukan produksi akan langsung dibebankan ke masing-masing produk
itu sendiri, sehingga biaya yang dicatat pada setiap produknya akan lebih menunjukkan biaya
yang sesungguhnya.