Anda di halaman 1dari 10

PERPAJAKAN II

KOREKSI FISKAL

OLEH:
JIHAN FAHIRA
MIFTAHUL JANNAH
ADE ILHAM ILAHI
RIFAAT

DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019
PERPAJAKAN
AKUNTANSI/FEB-UH
BAB X
KOREKSI FISKAL (PENYESUAIN FISKAL)

Tujuan Instruksional Umum (TIU) :


Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menghitung dan
mengoreksi laporan keuangan sesuai peraturan perpajakan.

10.1 Pengertian Koreksi Fiskal


Koreksi fiskal (penyesuaian fiskal) adalah koreksi atau penyesuaian yang harus dilakukan
oleh Wajib Pajak sebelum menghitung Pajak Penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan dan
wajib pajak orang pribadi (yang menggunakan pembukuan dalam menghitung penghasilan
kena pajak). Koreksi fiskal terjadi karena adanya perbedaan perlakuan/pengakuan
penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan akuntansi pajak.

10.2 Pembagian Koreksi Fiskal


Penyesuaian fiskal terdiri dari :
1) Koreksi karena perbedaan waktu
Beda Waktu merupakan perbedaan metode perhitungan pendapatan dan/atau biaya
tiap tahun atau tahun buku yang digunakan antara komersial dengan fiskal.
Dengan demikian total biaya atau pendapatan menurut komersial dan fiskal adalah
sama besar, yang berbeda adalah lamanya waktu pengalokasian pendapatan dan
atau biaya tersebut.
Contoh :
- Biaya Penyusutan atau amortisasi
- Penilaian persediaan
2) Koreksi karena perbedaan tetap
Koreksi beda tetap timbul karena adanya perbedaan pengakuan pendapatan antara
komersial dan fiskal.
Koreksi beda tetap terdiri dari:
a. Beda tetap atas penghasilan yang bukan objek PPh
Seperti bantuan, sumbangan, harta hibahan yang diterima sepanjang tidak ada
hubungan usaha dengan pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-
pihak yang bersangkutan dan dari pemerintah.
b. Beda tetap murni, yaitu:
- Biaya yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, memelihara
penghasilan yang bukan objek pajak.
- Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan/jasa yang diberikan
dalam bentuk natura/kenikmatan.
- Sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan
- PPh Pasal 23/26 yang ditanggung oleh perusahaan.
c. Beda tetap yang disebabkan tidak dipenuhinya syarat-syarat khusus, yaitu:
- Berhubungan dengan kegiatan langsung perusahaan
- Adanya bukti pendukung yang kuat
- Karena lokasi
- Penggunaan praktek-praktek akuntansi yang tidak sehat.
3) Koreksi karena pengenaan pajak final
Koreksi ini terdiri dari:
- Pendapatan yang telah dipotong pajak final oleh pihak yang membayarakan
penghasilan seperti pendapatan bunga deposito, pendapatan jasa giro,
penghasilan sewa tanah dan atau bangunan, pendapatan karena pengalihan hak
atas tanah dan/atau bangunan (khusus untuk WP Badan real estate dan OP).
- Biaya untuk mendapatkan, memelihara, menagih penghasilan yang telah
dikenakan PPh final seperti biaya yang berhubungan dengan penghasilan dari
sewa tanah dan atau bangunan, biaya yang berhubungan dengan penghasilan
dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan.

Penyesuaian Fiskal, terdiri dari:


1. Penyesuaian fiskal positif
Yang dimaksud dengan penyesuaian fiskal positif adalah penyesuaian terhadap
penghasilan neto komersial (di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh final dan yang
tidak termasuk Objek Pajak) dalam rangka menghitung PKP berdasarkan UU PPh
beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat menambah penghasilan dan/atau
mengurangi biaya-biaya komersial.
Penyesuaian Fiskal positif, terdiri dari:
a. pengeluaran perusahaan untuk pembelian/perbaikan rumah atau kendaraan
pribadi, biaya perjalanan pribadi/keluarga, biaya premi asuransi pribadi/keluarga,
dan pengeluaran lainnya untuk kepentingan pemegang saham, sekutu, atau
anggota, tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan.
b. pembentukan atau pemupukan dana cadangan secara fiskal tidak dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan. Namun untuk jenis-jenis usaha tertentu
yang secara ekonomis memang diperlukan adanya cadangan untuk menutup
beban atau kerugian yang akan terjadi di kemudian hari, secara fiskal
diperkenankan, yang terbatas pada:
1) cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
2) cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
3) cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
4) cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
5) cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
6) cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industri.
c. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan (benefit in-kind) bukan merupakan
penghasilan bagi pegawai yang bersangkutan.
d. pembayaran gaji, honorarium, dan imbalan lain sehubungan dengan pekerjaan
atau jasa yang diberikan kepada pemegang saham atau pihak yang mempunyai
hubungan istimewa, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sepanjang
jumlahnya tidak melebihi kewajaran.
e. bantuan atau sumbangan dan harta hibahan yang diterima oleh badan keagamaan,
badan pendidikan, badan sosial, atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, bukan merupakan penghasilan sepanjang tidak
terdapat hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-
pihak yang bersangkutan.
Zakat atas penghasilan yang dibayar oleh Wajib Pajak Badan dalam
negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak, dengan syarat:
- Penghasilan yang dikenai zakat merupakan Objek Pajak yang telah dilaporkan
dalam SPT Tahunan;
- Pembayaran zakat dilakukan kepada Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga
Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atau disahkan pembentukannya oleh
Pemerintah Pusat/Daerah;
Dengan demikian zakat atas harta selain penghasilan dan zakat atas
penghasilan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak dapat dibebankan
sebagai biaya perusahaan (perlakuan pajaknya sama dengan sumbangan).
f. PPh badan serta kredit pajak bukan merupakan biaya perusahaan.
g. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi bukan merupakan penghasilan. Oleh karena itu sesuai dengan prinsip
taxability and deductibility, bagi perseroan komanditer tersebut pembayaran gaji
kepada para anggotanya tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan.
h. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan, serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di
bidang perpajakan bukan merupakan biaya perusahaan.
i. Penyesuaian Penyusutan dan Amortisasi Fiskal.
j. Penyesuaian berdasarkan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2000,
dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak dapat ditetapkan saat pengakuan biaya
dalam hal-hal tertentu dan bagi Wajib Pajak tertentu sesuai dengan kebijaksanaan
Pemerintah.
k. Penyesuaian berdasarkan ketentuan umum Pasal 4 dan Pasal 6 UU PPh beserta
peraturan pelaksanaannya, dalam hal:
- terdapat penghasilan yang tidak diakui secara komersial akan tetapi termasuk
Objek Pajak yang dikenai PPh tidak bersifat final;
- terdapat biaya-biaya perusahaan lainnya atau kerugian yang diakui secara
komersial akan tetapi tidak dapat diakui secara fiskal;
- terdapat kerugian usaha di luar negeri baik melalui bentuk usaha tetap (BUT)
ataupun bukan BUT, setelah dilakukan penyesuaian fiskal positif dan negatif.

2. Penyesuaian Fiskal Negatif


Yang dimaksud dengan penyesuaian fiskal negatif adalah penyesuaian terhadap
penghasilan neto komersial (di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh final dan yang tidak
termasuk Objek Pajak) dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan UU
PPh beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat mengurangi penghasilan dan/atau
menambah biaya-biaya komersial.
a. Penyesuaian berdasarkan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2000,
dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak dapat ditetapkan saat pengakuan
penghasilan dalam hal-hal tertentu dan bagi Wajib Pajak tertentu sesuai dengan
kebijaksanaan Pemerintah.
b. Penyesuaian berdasarkan ketentuan umum Pasal 6 UU PPh beserta peraturan
pelaksanaannya, dalam hal terdapat biaya-biaya perusahaan lainnya atau kerugian
yang tidak diakui secara komersial akan tetapi dapat diakui secara fiskal, antara lain :
1) Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat :
(a) Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
(b) Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Direktorat Jenderal Pajak; dan
(c) Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur
yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau
khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk jumlah utang tertentu;
(d) Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)
huruf k;
2) Kompensasi atas kerugian apabila penghasilan bruto setelah pengurangan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat 1 undang-undang PPh didapat kerugian.
Kompensasi kerugian tersebut dapat dilakukan paling lama sampai dengan 5 tahun
dari tahun pajak saat terjadi kerugian.

TAMBAHAN:
Penyesuaian fiskal adalah penyesuaian terhadap penghasilan neto komersial dalam rangka
menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Undang-Undang PPh beserta peraturan
pelaksanaannya, yang bersifat menambah Penghasilan Kena Pajak (penyesuaian fiskal
positif) atau mengurangi Penghasilan Kena Pajak (penyesuaian fiskal negatif).
Penyesuaian fiskal positif timbul karena:
1. adanya biaya, pengeluaran, dan kerugian yang tidak dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan
ketentuan Undang-Undang PPh beserta peraturan pelaksanaannya;
Biaya-Biaya yang Tidak Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (Non Deductible
Expenses) (Pasal 9 UU PPh) adalah biaya yang tidak termasuk dalam
biayamendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan (3M) di antaranya
seperti:
a. premi asuransi
b. natura atau kenikmatan;
c. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan
d. Pajak Penghasilan;
e. biaya-biaya untuk kepentingan pribadi atau anggota keluarga yang menjadi
tanggungan;
f. sanksi administrasi perpajakan;
g. biaya 3M dalam rangka memperoleh penghasilan yang bukan merupakan objek
pajak;
h. biaya 3M dalam rangka memperoleh penghasilan yang pengenaan pajaknya
bersifat final;
i. biaya 3M dalam rangka memperoleh penghasilan yang dikenakan pajak
berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau Norma Penghitungan
Khusus.
2. adanya perbedaan saat pengakuan biaya dan penghasilan;
3. penghitungan biaya menurut metode fiskal lebih rendah dari penghitungan menurut
metode akuntansi komersial; dan
4. adanya penghasilan yang merupakan objek pajak yang tidak termasuk dalam
penghasilan komersial.
Penyesuaian fiskal positif dilakukan antara lain atas:
1. biaya yang dibebankan/dikeluarkan untuk kepentingan pribadi atau orang yang
menjadi tanggungan Anda;
2. premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna,
dan asuransi beasiswa yang dibayar oleh Anda;
3. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura atau kenikmatan;
4. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pihak yang mempunyai
hubungan istimewa sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;
5. harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan;
6. Pajak Penghasilan;
7. gaji yang dibayarkan kepada pemilik/orang yang menjadi tanggungannya;
8. sanksi administrasi pajak;
9. selisih penyusutan/amortisasi komersial di atas penyusutan/amortisasi fiskal;
10. biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dikenakan
PPh final dan penghasilan yang tidak termasuk objek pajak;
11. penghasilan yang tidak diakui secara komersial akan tetapi termasuk Objek Pajak
yang dikenakan PPh tidak bersifat final;
12. biaya-biaya perusahaan lainnya atau kerugian yang diakui secara komersial akan
tetapi tidak dapat diakui secara fiskal, misalnya biaya yang tidak didukung oleh
dokumen-dokumen pengeluaran;
Penyesuaian fiskal negatif timbul diantaranya karena:
1. penghasilan yang dikenakan PPh final dan penghasilan yang tidak termasuk objek
pajak tetapi termasuk dalam peredaran usaha;
2. adanya perbedaan saat pengakuan biaya dan penghasilan;
3. selisih penyusutan / amortisasi komersial di bawah penyusutan amortisasi fiskal.

Bentuk Kertas Kerja Rekonsiliasi Fiskal


Sampai saat ini belum ada bentuk baku kertas kerja rekonsiliasi fiskal. Dibawah ini
disajikan bentuk kertas kerja yang sering digunakan dalam bentuk sehari-hari :

PT ABC
Rekonsiliasi – fiskal

Laba komersial sebelum pajak …………………........................…… ..xxx


Ditambah koreksi positif:
- Sumbangan…………………………………………. ...... xxx
- Iklan dan promisi……………………………………....... xxx
- Kenikmatan…………………………………………........ xxx
- Biaya dalam bentuk natura…………………………...... xxx
- Biaya pemeliharaan gedung yang disewakan……… . xxx
- Biaya penyusutan………………………………… .....… xxx
- Biaya penyisihan kerugian piutang…………………...... xxx

Dikurangi koreksi negatif:


- Biaya penyusutan……………………………………. xxx
- Pendapatan sewa gedung…………………………….. xxx
- Pendapatan deviden………………………………….. xxx
- Pendapatan bunga deposito………………………….. xxx
- Pendapatan Jasa giro………………………………… xxx
- Biaya piutang tak tertagih........................................... xxx
- Kompensasi kerugian................................................. xxx

Laba/rugi fiskal sebelum pajak xxx

PERATURAN YANG DIGUNAKAN DALAM PERPAJAKAN


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan

SOAL LATIHAN KOREKSI FISKAL

Berikut ini adalah catatan perusahaan selama tahun fiskal 2015 untuk CV Aneka Raya, yang
bergerak dalam bidang perdagangan peralatan rumah tangga:
 Penjualan selama tahun 2008 sebanyak 100.000 unit dengan harga jual
@Rp12.500.
 Perusahaan menggunakan metoda FIFO fisik untuk pencatatan nilai persediaan
menurut akuntansi maupun fiskal. Data persediaan per tanggal 1 Januari 2008
sebesar Rp48.000.000, dan persediaan per 31 Desember 2008 sebesar
Rp63.000.000. Selama tahun 2008, perusahaan membeli barang dagangan senilai
Rp832.850.000.
 Perusahaan memiliki kendaraan untuk operasional yang dibeli pada awal
Juni 2004 dengan harga perolehan Rp100.000.000 dengan nilai residu
Rp10.000.000 dan umur ekonomis 10 tahun. Perusahaan menggunakan
metoda depresiasi garis lurus, baik untuk kepentingan akuntansi maupun fiskal.
Kendaraan tersebut masuk kelompok II.
 Gedung didirikan tahun 2000 merupakan bangunan permanen dengan harga
perolehan Rp1.000.000.000 dengan nilai residu 10% dan umur ekonomis 25 tahun.
Metoda depresiasi untuk akuntansi menggunakan garis lurus.
 Biaya gaji Rp55.000.000, termasuk bonus Rp10.000.000, premi asuransi
kecelakaan kerja Rp2.000.000, iuran pensiun untuk pegawai kepada dana pensiun
yang pendiriannya sudah disahkan oleh Menkeu Rp2.000.000 dan makan siang
untuk karyawan Rp3.000.000
 Biaya listrik Rp20.000.000 termasuk untuk perumahan karyawan disekitar pabrik
Rp1.000.000
 Biaya iklan Rp15.000.000 termasuk Rp500.000 tidak didukung dengan bukti yang
sah
 Biaya transportasi Rp20.000.000 termasuk perjalanan Direktur Utama beserta istri
(terkait dengan bisnis perusahaan) Rp3.000.000 (25%nya untuk kepentingan
istrinya)
 Pajak bumi dan bangunan Rp5.000.000
 Biaya kerugian piutang sebesar Rp8.000.000. Pada tahun 2008 piutang yang benar-
benar tidak dapat ditagih sebesar Rp6.000.000

PT ABC
LAPORAN LABA RUGI
Untuk Periode yang berakhir tanggal 31 Desember 2015
Uraian Akuntansi Koreksi Fiskal Fiskal
Penjualan 1.200.000.000 50.000.000 1.250.000.000
Persediaan awal 48.000.000 48.000.000
(+) Pembelian 832.850.000 832.850.000
Barang siap dijual 880.850.000 880.850.000
(-) Persediaan akhir 63.000.000 63.000.000
HPP 817.850.000 817.850.000
Laba Kotor 382.150.000 432.150.000
Biaya Operasi:
Biaya depresiasi 9.000.000 3.500.000 12.500.000
motor
Biaya depr.gedung 36.000.000 14.000.000 50.000.000
Biaya gaji 55.000.000 (17.000.000) 38.000.000
Biaya listrik 29.000.000 (1.000.000) 28.000.000
Biaya iklan 15.000.000 (500.000) 14.500.000
Biaya transportasi 20.000.000 (750.000) 19.250.000
Pajak Bumi & 5.000.000 5.000.000
Bangunan
Biaya kerugian 8.000.000 (2.000.000) 6.000.000
piutang
(-) Total biaya 177.000.000 173.250.000
Laba Bersih 205.150.000 258.900.000