Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam konstruksi pemesinan banyak sekali ditemukan komponen-komponen
yang berputar dan mekanisme yang menyebabkan momen-momen disekitar
batang atau poros. Poros dalam hal ini mempunyai peranan penting terutama
sebagai media penambah gaya yang menghasilkan usaha (kerja).
Suatu poros yang berputar pada kenyataannya tidak berada pada keadaan
yang lurus, melainkan berputar dengan posisi melengkung. Pada suatu
putaran tertentu lengkungan poros tersebut mencapai harga maksimum.
Putaran yang menyebabkan lengkungan poros mencapai harga maksimum
tersebut dinamakan dengan putaran kritis. Dan keadaan tersebut di atas
namakan efek Whirling Shaft. Fenomena whirling ini terlihat sebagai poros
berputar pada sumbunnya, dan pada saat yang sama poros yang berdefleksi
juga berputar relatif mengelilingi sumbu poros.
Hal ini akan selalu terjadi, bahkan pada sistem sudah seimbang. Pada sistem
yang seimbang, hal ini dapat di sebabkan oleh defleksi terjadi sampai
keadaan seimbang yang berkaitan dengan kekakuan poros tercapai. Poros
yang melewati putaran kritis lalu akan mencapai keadaan seimbang.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui karakteristik poros dengan membuat grafik yang
menyatakan hubungan defleksi yang terjadi dengan posisi rotor untuk
berbagai tegangan.
2. Untuk mencari fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada
tegangan yang telah ditentukan.
3. Mencari putaran kritis yang terjadi dengan berputarnya poros pada variasi
tegangan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TEORI DASAR
1. Pengertian Putaran Kritis
Apabila pada suatu poros yang didukung diantara dua bantalan dipasang
disk maka poros tersebut akan mengalami defleksi statis. Defleksi tersebut
disebabkan oleh berat disk (jika masa poros diabaikan). Defleksi akan
bertambah besar akibat gaya sentrifugal pada saat poros berputar.
Putaran kritis poros adalah putaran yang mengakibatkan terjadinya
defleksi maksimum pada poros. Hal ini mengakibatkan poros berputar
sambil bergetar dengan amplitude yang besar. Gejala ini disebut whirling
shaft. Terjadinya whirling shaft pada permesinan dapat mengakibatkan :
 Timbulnya getaran yang berlebihan, getaran ini kemudian
diinduksikan ke komponen mesin lainnya dan sekelilingnya.
 Kerusakan mekanik yang disebabkan oleh:
 Tegangan bending yang besar pada poros.
 Gesekan antara poros dan rumah.
 Beban yang diterima bearing menjadi berlebih.
 Pada akhirnya semua hal ini diatas akan memperpendek umur
(komponen) mesin
Putaran kritis dapat juga didefinisikan batas antara putaran mesin yang
memiliki jumlah putaran normal dengan putaran mesin yang menimbulkan
getaran yang tinggi. Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor bakar, motor
listik dan lain-lain. Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat
mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi
dalam perancangan poros perlu mempertimbangkan putaran kerja dari
poros tersebut agar lebih rendah dari putaran kritisnya.
Bila putaran mesin dinaikan maka akan menimbulkan getaran (vibration)
pada mesin tersebut. Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah
putaran normal dengan putaran mesin yang menimbulkan getaran yang

2
tinggi disebut putaran kritis. Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor bakar,
motor listrik, dll.
Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan
pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi dalam perancangan poros perlu
mempertimbangkan putaran kerja dari poros tersebut agar lebih rendah
dari putaran kritisnya. Suatu fenomena yang terjadi dengan berputarnya
poros pada kecepatankecepatan tertentu adalah getaran yang sangat
besar, meskipun poros dapat berputar dengan sangat mulus pada
kecepatan-kecepatan lainnya.
Pada kecepatan-kecepatan semacam ini dimana getaran menjadi sangat
besar, dapat terjadi kegagalan diporos atau bantalan-bantalan. Atau
getaran dapat mengakibatkan kegagalan karena tidak bekerjanya
komponen-komponen sesuai dengan fungsinya, seperti yang terdapat pada
sebuah turbin uap dimana ruang bebas antara rotor dan rumah sangat
kecil. Getaran semacam ini dapat mengakibatkan apa yang disebut
dengan olakan poros atau mungkin mengakibatkan suatu osilasi puntir
pada suatu poros, atau kombinasi keduanya.
Mungkin kedua peristiwa tersebut berbeda, namun akan dapat
ditunjukkan bahwa masing-masing dapat ditangani dengan cara serupa
dengan memperhatikan frekuensi-frekuensi pribadi dari osilasi. Karena
poros-poros pada dasarnya elastic, dan menunjukkan karakteristik-
karakteristik pegas, maka untuk mengilustrasikan pendekatan dan untuk
menjelaskan konsep-konsep dari suku-suku dasar yang dipakai dan
digunakan analisa sebuah sistem massa dan pegas yang sederhana.
Sistem memiliki energi dalam sendiri, dimana bila diberi gaya gangguan
pada frekuensi pribadinya (natural frequency), akan menimbulkan getaran
dengan amplitudo yang besar. Setiap benda yang bergerak mempunyai
energy kinetik dan setiap pegas memiliki energy potensial. Mesin- mesin
umumnya dibuat dari bahan dengan modulus elastisitas tertentu, yang
berarti mempunyai sifat elastisitas sehingga dapat berprilaku seperti pegas.
Setiap elemen mesin memiliki massa dan bergerak dengan kecepatan
tertentu., berarti elemen mesin tersebut memiliki energy kinetik. Ketika

3
suatu sistem dinamik bergetar, terjadi perpindahan energi dari potensial ke
kinetik ke potensial dan seterusnya, berulang-ulang dalam system tersebut.
Poros sebagai elemen mesin yang sangat penting, juga bergerak/berputar
pada kecepatan tertentu dan mengalami lenturan (deflection) akibat
momen puntir (torsion) dan atau momen bengkok (bending).
Bila suatu poros atau elemen mesin yang lain diberi beban yang berubah
terhadap waktu atau beban bolak-balik, poros tersebut akan bergetar.
Apabila poros menerima beban acak (transient), seperti ketukan palu,
poros akan bergetar pada frekuensi pribadinya. Contoh yang sama juga
dapat dilihat pada bunyi bel, dimana bunyi dihasilkan dari gangguan pada
frekuensi pribadi bel. Hal-hal ini dinamakan dengan getaran bebas. Jika
poros menerima beban yang berubah terhadap waktu, seperti beban
sinusoidal secara terus menerus, maka poros akan bergetar sesuai dengan
frekuensi gaya gangguan tersebut. Ketika frekuensi gaya gangguan sama
(coincide) dengan salah satu frekuensi pribadinya, maka simpangan atau
amplitudo respon getarannya akan lebih besar dari amplitudo gaya
gangguan. Hal inilah yang disebut dengan resonansi. Bila putaran mesin
dinaikan maka akan menimbulkan getaran (vibration) pada mesin tersebut.

Gambar 1. Grafik X/Y vs Frequency ratio r


Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah yang mempunyai
jumlah putaran normal dengan putaran mesin yang menimbulkan getaran
yang tinggi disebut putaran kritis. Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor
bakar, motor listrik, dan lain-lain. Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi
dapat mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya.

4
Jadi dalam prencangan poros perlu mempertimbangkan putaran kerja dari
poros tersebut agar lebih rendah dari putaran kritisnya.

2. Poros Yang Digunakan Pada Putaran Kritis


Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang
bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley,
flywheel, engkol, sprocket dan elemen pemindah lainnya. Poros bias
menerima beban lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran
yang bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya.
Ada beberapa pengklasifikasian poros yaitu :
a. Berdasarkan Pembebanan
1) Poros transmisi (transmission shafts)Poros transmisi lebih dikenal
dengan sebutan shaft. Shaft akan mengalami beban puntir berulang,
beban lentur berganti ataupun kedua-duanya. Pada shaft, daya dapat
ditransmisikan melalui gear, belt pulley, procket rantai, dll.
2) Poros gandar merupakan poros yang dipasang diantara roda-roda
kereta barang. Poros gandar tidak menerima beban puntir dan hanya
mendapat beban lentur. Bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar.
3) Poros spindle merupakan poros transmisi yang relatip pendek,
seperti poros utama mesin perkakas dimana beban utamanya berupa
beban puntiran. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah
deformasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.
b. Bedasarkan Bentuk
1) Poros Lurus.
Poros ini dapat digolongkan atas poros lurus umum.
2) Poros Engkol.
Poros ini berbeda dengna poros diatas, poros ini digunakan sebagai
poros utama pada mesin torak.
c. Hal-hal penting dalam perencanaan poros
1) Kekuatan Poros.
2) Kekakuan Poros.
3) Korosi.

5
4) Material poros
Karena poros-poros pada dasarnya elastis, dan menunjukkan karakteristik-
karakteristik pegas, maka untuk mengilustrasikan pendekatan dan untuk
menjelaskan konsep-konsep dari suku-suku dasar yang dipakai dan digunakan
analisa sebuah sistem massa dan pegas yang sederhana.
1. Massa Bergerak di Bidang Horizontal
Gambar dibawah memperlihatkan suatu massa dengan berat W pound
yang diam atas suatu permukaan licin tanpa gesekan dan diikatkan ke
rangka stationer melalui sebuah pegas. Dalam analisa, massa pegas akan
diabaikan.
Massa dipindahkan sejauh x dari posisi keseimangannya, dan
kemudian dilepaskan. Ingin ditentukan tipe dari gerakan maa dapat
menggunakan persamaan-persamaan Newton dengan persamaan energi.

Gambar 2. Massa Bergerak di Bidang Horizontal

2. Massa Bergetar di Suatu Bidang Vertical


Gambar dibawah memperlihatkan massa yang digantung dengan
sebuah pegas vertical. Bobot menyebabkan pegas melendut sejauh xo.
Bayangkan massa ditarik kebawah pada suatu jarak x o dari posisi
keseimbangannya dan kemudian dilepaskan dan ingin diketahui geraknya
sebagai efek gravitasi.

6
Gambar 3. Massa Bergetar di Suatu Bidang Vertical

Massa yang bergetar secara vertical mempunyai frekuansi yang sama


seperti massa yang bergetar secara horizontal, dengan osilasi yang terjadi
disekitar posisi keseimbangan.
3. Olakan Poros
Akan dibahas olakan poros untuk mengilustrasikan mengapa poros
menunjukkan lendutan yang sangat besar pada suatu kecepatan dari
operasi, meskipun poros dapat berputar secara mulus pada
kecepatankecepatan yang lebih rendah atau lebih tinggi.
Gambar dibawah menunjukkan sebuah poros dengan panjang L cm
ditumpu oleh bantalan pada ujung-ujungnya, sebuah piringan yang
dipandang sebagai sebuah massa terpusat dan beratnya W Newton, aksi
giroskop dari massa akan diabaikan, dan selanjutnya akan diasumsikan
poros bergerak melalui sebuah kopling yang bekerja tanpa menahan
lendutan poros. Poros dipandang vertical sehingga gravitasi dapat
diabaikan, meskipun hasil-hasil yang didapatkan akan sama apakah poros
vertikal atau horizontal.
Apabila titik berat dari massa ada disumbu punter, maka tidak akan ada
ketakseimbangan macam apapun yang dapat menyebabkan poros
berputardisuatu sumbu lain diluar sumbu poros. Namun dalam prakteknya,
kondisi semacam ini tidak dapat dicapai, dan titik berat piringan ada
disuatu jarak e yang boleh dikatakan kecil, dari pusat geometri piringan.

7
Dengan titik berat yang diluar sumbu putar atau sumbu bantalan, terdapat
suatu gaya inersia yang mengakibatkan poros melendut, dimana
lendutan pusat poros dinyatakan dengan r pada gambar dibawah :

Gambar 4. Olakan Poros

Pusat geometri dari piringan , O adalah sama dengan pusat poros pada
piringan. Ketika poros berputar, titik tinggi T akan berputar terhadap
sumbu bantalan S. Gaya inersia piringan diseimbangkan oleh apa
yang dapat disebut dengan gaya pegas dari poros ketika poros berputar.
Gaya inersia,untuk sebuah massa yang berpuatr terhadap satu pusat tetap,
adalah :
W
(r + e)w 2
g
Gaya pegas dari poros dapat dinyatakan dengan Kr, dimana k adalah laju
pegas poros, yakni gaya yang diperlukan per cm lendutan poros pada
piringan. Dengan menyamakan jumlah gaya-gaya pada gambar dengan
nol, dengan termasuk gaya inersia, maka didapatkan

8
W
(r + e)w 2 - kr = 0
g
Dengan menata kembali suku-sukunya:
W 2
w
r g
=
e k - W w2
g
Kecepatan berbahaya dari operasi suatu poros tertentu dinyatakan
dengan kecepatan putaran kritis atau kecepatan olakan, yakni kecepatan
dimana perbandingan r/e adalah tah hingga. Operasi pada suatu kecepatan
yang mendekati kecepatan kritis juga tak dikehendaki karena
besarnya perpindahan pusat piringan dari sumbu putar. Kecepatan
kritis dapat diperoleh untuk kondisi dimana persamaan diatas sama
dengan nol :
W 2
k- w =0
g
Sebuah metode alternative adalah dengan menulis laju pegas k dalam
suku-suku suatu beban spesifik dan lendutan spesifik, beban yang sama
dengan berat piringan, yaitu P=W. Lendutan resultan akan berupa lendutan
static dari poros horizontal, dibawah aksi beban piringan, lendutan static
tersebut dinamakan xst.
P W
k= =
r X st

4. Efek Gesekan Terhadap Kecepatan Kritis


Meskipun persamaan teoritik yang diturunkan sebelumnya menunjukkan
suatu putaran dengan jari-jari yang besarnya tak hingga pada kecepatan
kritis, namun kondisi semacam ini secara praktek tidak mungkin. Menurut
hasil-hasil yang diperoleh dari persamaan teoritik, poros yang berputar
pada putaran kritis tentu saja akan patah atau terdistorsi. Tetapi, kitatahu
bahwa poros-poros yang berjalan pada kecepatan kritis tidak perlu patah,
dan mungkin berjalan dengan sangat kasar tetapi tanpa distorsi permanent.

9
Gambar 5. Efek Gesekan Terhadap Kecepatan Kritis

Dari analisa didapatkan hubungan perbandingan maksimum dari r/e tidak


tak hingga apabila gesekan diperhitungkan. Tetapi terdapat satu daerah
pada suatu kecepatan yang tidak jauh dari kecepatan yang dihitung dengan
tanpa gesekan. Juga, harga r/e pada kecepatan-kecepatan yang agak jauh
dari kecepatan olakan tidak terlalu banyak berbeda dengan atau tanpa
gesekan. Dalam praktek, biasanya gesekan diabaikan dan kecepatan
olakan dihitung dengan tanpa gesekan, dengan kesalahan yang sangat
kecil.

Gambar 6. Grafik Kecepatan Olakan/Kecepatan Poros

B. Kondisi Yang Dapat Diterapkan Pada Percobaan


Respon amplitudo menunjukkan besaran tanpa dimensi (dimensionless ratio)
dari perbandingan amplitudo output dan input. Setiap redaman, ditunjukkan

10
dengan perbandingan redaman, akan mengurangi rasio amplitudo resonansi.
Frekuensi pribadi disebut juga frekuensi kritis atau kecepatan kritis.

Gambar 7. Model Fisik Poros Dengan Beban Ditengah

Gambar 8. Model Fisik Poros Dengan Beban Sembarang

m� g
k=
d
60 k
Nc =
2p m
Dimana :
m = Massa beban (kg)
g = Percepatan gravitasi bumi (m/s2
d = Defleksi (mm)
k = Konstanta kekakuan poros (N/mm)
Nc = Putaran kritis poros (rpm)
Bila terdapat beberapa benda berputar pada satu poros, maka dihitung lebih
dahulu putarn-putaran kritis Nc1, Nc2, Nc3,…, dari masing-masing benda
tersebut yang seolah-olah berada sendiri pada poros, maka putaran kritis
keseluruhan dari sistem Nc0 dapat ditentukan oleh :
1 1 1 1
2
= 2 + 2 + 2 ....
N c 0 N c1 N c 2 N c 3
Sumbu suatu poros akan terdefleksi (melentur) dari kedudukannya semula
bila dikenai beban. Poros harus kuat untuk menahan defleksi yang berlebihan,
sehingga mencegah ketidak-sebarisan dan mempertahankan ketelitian
dimensional terhadap pengaruh beban. Persamaan-persamaan diferensial

11
untuk menentukan defleksi poros dicari dengan asumsi defleksi kecil
dibandingkan dengan panjang poros.

Gambar 9. Getaran Pada Poros


Diagram benda bebas struktur/poros yang dikenai beban, F dapat dilihat pada
gambar berikut :

Gambar 10. Struktur Yang Dikenai 1 Beban

Gambar 11. Struktur Yang Dikenai 2 Beban

12
Gambar 12. Struktur Yang Dikenai 3 Beban
Defleksi maksimum pada poros yang dikenai 1 beban dapat dihitung
menggunakan persamaan berikut :
P ��
a b
d=
6�E ��
I L
( L2 - a 2 - b2 )
Defleksi maksimumpada poros yang dikenai 2 beban dan 3 beban ditentukan
dengan metode superposisi.

13

14