Anda di halaman 1dari 12

SPESIFIKASI TEKNIS

A. SPESIFIKASI UMUM

PASAL 01
URAIAN KEGIATAN

Kontraktor sebelum mulai melaksanakan pekerjaan diharuskan mengadakan survey,


penelitian dan pemahaman mengenai :

1.1 Dasar pelaksanaan pekerjaan.


Pemahaman mengenai ketentuan-ketentuan pekerjaan yang tercantum dalam :
Rencana kerja dan syarat serta gambar-gambar pelaksanaan untuk pekerjaan ini.
Berita Acara Penjelasan Pekerjaan /Aanwijzing.

1.2 Lapangan/bahan yang tersedia.


Survei kondisi lapangan serta penelitian bahan-bahan bangunan yang akan digunakan
yang tersedia di pasaran dengan merujuk pada rekomendasi produsen untuk barang-
barang pabrikan.

1.3 Gambar-gambar secara menyeluruh.


Pemahaman gambar situasi, denah, arsitektur bentuk bangunan dan gambar-gambar
detail konstruksi, serta melakukan analisis kebutuhan bahan dan menyusun rencana
kerja.

1.4 Pekerjaan yang harus diselesaikan.


Rangkaian pekerjaan yang harus diselesaikan dalam pelaksanaan : Pembangunan Rumah
Dinas Type 36 Polsek Tabalar.

untuk paket pekerjaan ini mencakup:


a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Tanah dan Pondasi
c. Pekerjaan Pasangan dan Beton
d. Pekerjaan Atap dan Plafond
e. Pekerjaan Kusen / Pintu / Jendela / Ventilas
f. Pekerjaan Cat-catan
g. Pekerjaan Instalasi Listrik
h. Pekerjaan Sanitair
i. Pekerjaan Halaman
j. Pekerjaan Lain-lain

PASAL 02
TITIK DUGA DAN UKURAN-UKURAN
Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor harus mempelajari substansi pekerjaan yang harus
dilakukan termasuk detail-detail ukuran dalam gambar lelang yang sudah disepakati
bersama menjadi gambar kontrak serta membuat ajuan gambar pelaksanaan sebagai hasil
sinkronisasi gambar rencana dengan kondisi di lapangan saat akan mulai pekerjaan.

2.1 Lokasi proyek.


Terletak di Kecamatan Tabalar.

2.2 Titik Duga.


Digunakan Bench Mark lokal dari hasil pengukuran lapangan yang merujuk pada
koordinat lokal yang terdapat di kawasan proyek.
2

2.3 Ukuran dalam gambar.


Ukuran-ukuran pada denah dan ukuran-ukuran tinggi telah ditetapkan dalam
gambar-gambar dengan catatan
a. Jika terdapat perbedaan ukuran antara gambar-gambar, maka yang
menentukan adalah ukuran-ukuran pada gambar dengan skala yang lebih besar
dan dikonsultasikan dengan Direksi.
b. Jika terdapat ketidak-sesuaian antara gambar dan RKS, harus segera
dikonsultasikan dengan Direksi.
c. Pengambilan dan pemakaian ukuran yang keliru sebelum selama dan sesudah
pekerjaan di laksanakan menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
d. Menetapkan ukuran dan sudut-sudut siku agar tetap dijaga dan diperhatikan
ketelitiannya.
e. Kontraktor harus bertanggung jawab atas tepatnya pekerjaan menurut ukuran-
ukuran yang tercantum dalam gambar dan bestek.

PASAL 03
PEKERJAAN PERSIAPAN

Kontraktor harus mempersiapkan suatu rencana kerja pra pelaksanaan baik yang
menyangkut kegiatan administrasi, teknis di kantor maupun beberapa pekerjaan penyiapan
fisik di lapangan.
3.1 Penyerahan Lokasi Pekerjaan.
Tempat Pekerjaan diserahkan kepada Kontraktor dalam keadaan seperti pada waktu
Pemberian Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing Lapangan)

3.2 Pembersihan Lapangan


Kontraktor atas petunjuk Direksi / Pengawas harus melakukan pembersihan lapangan
sedemikian rupa sehingga lahan bersih dari sisa-sisa bangunan lama yang akan
mengganggu pelaksanaan pembangunan.

3.3 Jalan Proyek


Jalan proyek merupakan jalan yang digunakan untuk pengangkutan material proyek.
Kerusakan jalan masuk menuju lokasi dan tempat pekerjaan yang disebabkan oleh
pelaksana pembangunan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor, dan Kontraktor
wajib memelihara kondisi jalan selama masa pelaksanaan pekerjaan serta
memperbaiki sampai baik kembali pada saat akhir masa pelaksanaan pekerjaan
3.4 Air Proyek
Kontraktor harus menyediakan air bersih untuk proyek, pengadaan air bersih
tersebut dapat dari PAM bilamana mungkin atau dengan membuat sumur gali atau
sumur bor atau dari sumber lain yang berdekatan, dengan syarat air tersebut harus
memenuhi persyaratan untuk pembangunan seperti persyaratan yang tercantum
dalam SK. SNI. S-04-1989-F.
3.5 Papan nama Proyek.
Papan nama proyek dibuat dengan ukuran 1 x 2 m, dan dipasang dilokasi proyek, 1
(satu) minggu setelah Kontraktor menerima Surat Perintah Mulai Kerja, serta dijaga
keberadaannya selama proyek berlangsung.
Papan nama proyek dibuat dari papan dan tiang kayu 10 x 10 kayu kualitas baik,
atau dibuat sesuai petunjuk Direksi.
Bentuk dan cara penulisan papan nama proyek mengikuti normalisasi Pemerintah
Daerah Setempat.
Bila diharuskan oleh pihak Proyek, Kontraktor boleh memasang papan nama proyek
sesuai normalisasi dari Pemerintah Daerah Setempat pada awal masa pelaksanaan
pekerjaan.
3

3.6 Penjagaan Dan Penerangan.


a. Kontraktor harus mengurus penjagaan di luar jam kerja (siang dan malam) dalam
kompleks pekerjaan termasuk bangunan yang sedang dikerjakan, gudang dan
lain-lain.
b . U nt uk k ep en ti nga n k eam an an da n p en j aga an perlu diadakanpenerangan
/ lampu pada tempat tertentu.
c. Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas bahan dan alat-alat lain yang
disimpan dalam gudang dan halaman pekerjaan apabila terjadi kebakaran dan
pencurian, Kontraktor harus segera mendatangkan gantinya untuk kelancaran
pekerjaan.
d. Kontraktor harus menjaga jangan sampai terjadi kebakaran atau sabotase di tempat
pekerjaan, alat-alat pemadam kebakaran atau alat bantu lain untuk keperluan yang
sama harus selalu berada di tempat pekerjaan.
e. Segala resiko dan kemungkinan kebakaran yang menimbulkan kerugiankerugian
dalam pelaksanaan pekerjaan dan bahan-bahan material juga gudang dan lain-
lain, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
3.7 Keselamatan Kerja.
a. Bilamana terjadi kecelakaan kerja, Kontraktor harus segera mengambil
tindakan dan memberitahukan kepada Direksi untuk disampaikan ke
Pemimpin Proyek.
b. Kontraktor harus memenuhi/mentaati peraturan-peraturan tentang
perawatan korban dan keluarganya.
c. Kontraktor harus menyediakan obat-obatan yang tersusun menurut syaratsyarat
Palang Merah dan setiap kali sehabis digunakan harus dilengkapi lagi.
d. Kontraktor diwajibkan mentaati undang-undang tenaga kerja dan segera
mengurus ASTEK setelah SPK diterbitkan.

PASAL 04
BAHAN BANGUNAN

Dalam pelaksanaan fisik, sebelum memulai satu bagian pekerjaan kontraktor harus
mengajukan semacam lembar request atau lembar persetujuan yang disertai juga dengan
beberapa contoh material bahan bangunan yang akan digunakan baik dalam bentuk contoh
barang maupun brosur dan surat rekomendasi pabrikan. Pekerjaan baru dapat dimulai
setelah request memperoleh persetujuan dari Direksi.
4.1 Bahan Bangunan.
Yang disebut dengan bahan bangunan adalah semua bahan-bahan yang digunakan
dalam pelaksanaan sebagai tertera dalam uraian pekerjaan dan persyaratan
pelaksanaan ini serta gambar kerja.
Semua bahan bangunan harus berkualitas baik dan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam PUBB, PBI’71, SK SNI T-15-1991-03, AV, PTC, AUWI, AVE dan PKKI.

4.2 Barang Pabrikan.


Penggunaan bahan pabrikan harus disertai dengan contoh barang yang didukung
surat rekomendasi dari pabrik mengenai proses produksi hingga kualitas barang serta
kemampuan penyediaannya.
Contoh barang tersebut diajukan pada Direksi dalam beberapa alternatif pilihan dan
Direksi berhak untuk meminta keterangan selengkap-lengkapnya tentang kondisi dan
spesifikasi barang tersebut.

4.3 Basecamp.
Jika diperlukan pekerjaan yang memerlukan tempat kerja selain tempat kerja yang
ada dilapangan atau fabrikasi di tempat lain (Basecamp), maka Kontraktor wajib
memberitahu kepada Direksi Lapangan, agar kualitas bahan maupun kualitas
pekerjan sebelum dikirimkan ke lapangan, Direksi bisa dan berhak untuk
merekomondasi apakah layak untuk di kirim/pasang.
4

4.4 Air untuk bangunan.


a. Untuk pembangunan haruslah digunakan air tawar yang bersih dan bebas
mineral, zat organic, tanah lumpur, larutan alkalin dan lain-lain.
b. Jika air yang diambil dari saluran air minum atau sumber air lain yang ada tidak
mencukupi maka Kontraktor harus mengadakan air dengan
mendatangkan atau mengadakan sumber air sendiri yang memenuhi syarat.

4.5 Semen Portland.


a. Semen Portland (PC) yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi
syarat-syarat yang tercantum dalam PBI’71 secara visual berwarna abu-abu
kehijauan.
b. Kantong pembungkus tidak boleh rusak jahitannya sebelum sampai di tempat
pekerjaan.
c. Semen yang sudah mulai membatu tidak boleh dipergunakan.
d. Untuk menghindari terjadinya semen sampai membatu, Kontraktor
diwajibkan untuk menjaga stok semen jangan sampai melebihi kapasitas
penggunaan (sesuai dengan schedule).
e. Penyimpanan semen (gudang semen), agar dibuat tidak kemasukan air/air hujan
dan terpengaruh cuaca.
f. Semua semen yang digunakan harus keluaran pabrik yang sama dan hasil produksi
yang sama.

4.6 Batu Koral ex, Palu


a. Untuk pekerjaan beton batu pecah atau koral dengan gradasi 2 sampai 3 cm, bersih
dari bahan organis atau kotoran lain sebelum digunakan harus dicuci terlebih
dahulu.
b. Kerikil yang akan digunakan untuk bahan beton (pengecoran) harus kerikil yang
keras tidak berpori.
c. Untuk pekerjaan rembesan kerikil dari kwarsa keras.

4.7 Pasir
a. Pasir beton yang digunakan adalah pasir yang bersih tidak mengandung bahan-
bahan organis kasar tajam memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam PBI’71.
b. Untuk pasir aduk pasir beton digunakan pasir yang kasar dan tidak
mengandung lumpur atau tanah (yang berkualitas baik)
c. Penyetokan material terutama pasir agar dipisahkan sesuai dengan
penggunaannya (jangan sampai tercampur).

4.8 Besi
a. Semua besi beton yang dipakai harus sesuai dengan standart yang telah
ditetapkan.
b. Baja tulangan untuk diameter 6 mm dan 8 mm digunakan baja polos dengan mutu
baja tulangan U-24 atau memiliki tegangan leleh minimal 2.400 kg/cm2, yang
dalam segala hal harus memenuhi ketentuan-ketentuan SKSNI T-15-1991 -03
untuk baja tulangan 1122, standard Jepang kelas S> R.22.
c. Baja tulangan untuk diameter> 10 mm digunakan baja ulir dengan mutu baja
tulangan U-32 atau memiliki tegangan leleh minimal 3.200 kg/cm2, yang dalam
segala hal harus memenuhi ketentuan-ketentuan SK SNI T-15-1991-03 untuk baja
tulangan 1122, standard Jepang kelas S> R.22
d. Baja tulangan harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh
disimpan di udara terbuka untuk jangka lama.
e. Cara pembengkokan besi tulangan harus menurut peraturan yang tercantum pada
SK SNI T-15-1991 -03.
f. Anyaman besi harus kokoh sehingga tidak berubah tempat selama
pengecoran. Selimut beton dibuat dengan beton decking (tahu beton) dari
5

g. mortar semen campuran 1 : 2 dengan ukuran 4 x 4 x 2.5 cm atau sesuai


petunjuk Direksi.
h. Besi tulangan harus disatukan satu sama lain dengan kawat bendrat mutu sama
dengan baja tulangan kecuali jika Direksi menginstruksikan menggunakan
las.
i. Sebelum pengecoran, kondisi baja tulangan harus bebas dari minyak,
kotoran, cat, karat atau bahan lain yang merusak.

4.9 Lain-lain
a. Semua bahan-bahan perlengkapan yang akan dipergunakan pada bangunan ini,
sebelumnya harus diperiksa oleh Direksi, dan baru dapat digunakan setelah
disetujui.
b. Penggunaan bahan yang tidak sesuai dengan syarat-syarat bahan tersebut akan
ditolak atau dikeluarkan atas perintah Direksi setelah 2x24 jam dengan segala
resiko oleh Kontraktor.
c. Apabila diperlukan pemeriksaan laboratorium atas bahan, maka biaya
pemeriksaan ditanggung oleh Kontraktor.
d. Persyaratan bahan-bahan yang belum tertuang didalam RKS dan ada dalam
gambar, sebelum bahan tersebut didatangkan di lokasi proyek agar terlebih
dahulu dikoordinasikan dengan Direksi.

PASAL 05
PEKERJAAN GALIAN TANAH DAN URUGAN PONDASI

Selain untuk mendapatkan elevasi muka tanah rencana, pekerjaan galian tanah juga banyak
dilakukan untuk pemasangan pondasi bangunan yang tentunya harus diikuti dengan
pelaksanaan pekerjaan urugan kembali setelah pondasi bangunan terpasang.

6.1 Lingkup Pekerjaan


a. Penggalian tanah untuk pembuatan pondasi bangunan.
b. Pengurugan kembali setelah pemasangan konstruksi pondasi.
c. Pemadatan tanah urugan kembali.

6.2 Langkah Pelaksanaan


a. Pekerjaan persiapan pembuatan pondasi harus sesuai gambar, lereng galian harus
sedemikian rupa sehingga tidak mudah longsor.
b. Kontraktor diharuskan melapor kepada Direksi dan dimintakan
persetujuan/keputusannya sebelum mulai dengan pekerjaan penggalian untuk
pondasi terutama yang berkenaan dengan titik lokasi penggalian.
c. Setelah penggalian mencapai peil atau elevasi yang diinginkan, Kontraktor harus
memintakan persetujuan Direksi untuk memulai pekerjaan konstruksi.
d. Sisa-sisa/bekas-bekas pekerjaan penyiapan pondasi harus dibuang ke luar lokasi
sehingga air hujan lekas dapat mengalir ke saluran pembuang. Tanah antara tepi
galian dan bouwplank harus selalu rata, dan bersih dari timbunan.
e. Bekas parit-parit, lubang-lubang tanah galian di dalam pekerjaan harus ditimbun
dengan pasir dan dibasahi sampai padat, sehingga menutup lubang galian sampai
permukaan atas pondasi. Untuk lubang-lubang bekas galian di luar bangunan
penimbunannya dapat menggunakan tanah dari luar lokasi, penimbunan tanah
dikerjakan secara berlapis-lapis dan sampai mendapatkan ketinggian yang
diinginkan dan dipadatkan.
f. Urugan tanah guna mencapai peil yang ditentukan diambil/didatangkan dari luar
lokasi. Kecuali atas kebijaksanaan lain dari Direksi yang disetujui Pemimpin
Proyek. Urugan tersebut dipadatkan lapis demi lapis, tiap lapis 20 cm hingga
mendapatkan kepadatan yang diinginkan.
6

PASAL 06
PEKERJAAN PONDASI

Pekerjaan pondasi tangga mencakup jenis pondasi yaitu pondasi pasangan batu gunung.

7.1 Lingkup Pekerjaan


a. Galian tanah pondasi pasangan batu.
b. Penentuan titik pondasi harus menggunakan alat ukur misal thedolit, waterpass,
dll yang dikerjakan oleh tenaga ahli dibidangnya.
c. Semua pekerjaan pondasi terletak di bawah permukaan tanah yang menerima
langsung beban sloof bangunan.
d. Urugan kembali lubang galian setelah konstruksi terpasang.

7.2 Langkah Pelaksanaan


Terdiri dari satu kondisi pondasi dan satu kondisi pengurugan tanah kembali pada
sisa lubang setelah pondasi terpasang.
a. Pekerjaan galian tanah pondasi.
1. Semua tanah galian pondasi diletakkan minimal 1.00 m dari jarak lubang galian
tanah pondasi, agar tanah hasil galian tidak longsor dan masuk lagi kedalam
galian tanah.
2. Kedalaman galian tanah untuk pondasi harus sesuai gambar, dan mendapatkan
persetujuan dari Direksi.
3. Hasil galian tanah pondasi boleh digunakan sebagai tanah urug setelah terlebih
dahulu dibuang humusnya dan akar-akar pohon yang ada disekitarnya.
4. Untuk menghindari genangan air dalam lokasi pekerjaan agar dibuatkan parit-
parit sementara untuk mengalirkan air.

b. Pondasi telapak beton bertulang.


1. Sebelum pasangan pondasi dimulai terlebih dahulu kedalaman dan lebar
galian dikontrol apakah sudah sesuai yang diharapkan.
2. Jika terjadi galian tanah terlalu dalam, tidak diperkenankan mengurug
menggunakan tanah bekas galian agar kedalamannya sesuai dengan peil yang
diinginkan (sesuai gambar), harus menggunakan pasir.
3. Setelah kedalaman tanah tidak ada masalah (sesuai gambar), baru diurug
dengan pasir. Ketebalan urugan pasir dibuat sesuai gambar.
4. Untuk mencapai kepadatan urugan pasir harus disiram dengan air secukupnya.
5. Setelah selesai pasangan. Lubang bekas galian diijinkan untuk ditimbun.

c. Urugan kembali.
1. Pengurugan kembali lubang sisa galian dilakukan setelah mendapat ijin
Direksi.
2. Urugan kembali dapat menggunakan tanah bekas galian.
3. Pemadatan urugan kembali dilakukan untuk memperoleh kepadatan
mendekati kepadatan tanah asli.

PASAL 07
PEKERJAAN BETON

Pekerjaan beton merupakan salah satu bagian pekerjaan yang memerlukan perhatian yang
serius dari Kontraktor dan Direksi dalam setiap proses dan keputusan yang diambil.

8.1 Lingkup Pekerjaan.


a. Pekerjaan beton bertulang yang dilakukan adalah pembuatan pondasi, kolom ,sloof,
balok tangga, Pelat lantai, dan pekerasan semenisasi jalan,
7

b. Bagian-bagian pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan beton dan


dilakukan sebelum, sedang serta sesudah pengecoran adalah pembuatan
cetakan, persiapan dan penu langan, pengecoran, pemeliharaan, pembukaan cetakan
dan lain sebagainya.
c. Semua pekerjaan beton bertulang yang dilakukan harus disertai test beton di
lapangan yang hasilnya langsung dapat diperoleh, serta test beton di
laboratorium yang dilakukan di lembaga di luar proyek dengan biaya test
ditanggung oleh Kontraktor.

8.2 Persyaratan Umum


a. Konstruksi rangka bangunan dengan bahan struktur beton bertulang harus
menggunakan peraturan peratu ran /normalisasi yang berlaku di Indonesia seperti
PBI’71 (Peraturan Beton Indonesia tahun 1971) dan atau SK SNI T–15– 1991 -03, PMI
(Peraturan Muatan Indonesia), dan lain-lain.
b. Peraturan beto n
- Semua pekerjaan beton harus dipenuhi syarat-syarat yang ada pada SKSNI T-
15-1991-03.
- Syarat-syarat bahan untuk semua pekerjaan beton SK SNI T-15-1991- 03
pasal 3.1 sampai 3.9.
- Syarat pelaksanaan pekerjaan beton SK SNI T-15-1991 -03 bagian 3 bab 4,5,6
berlaku seluruh pasal.
- Syarat-syarat pekerjaan tulangan SK SNI T-15-1991-03 bab 5 pasal 5.3 sampai
5.8.
- Perhitungan untuk pekerjaan beton bertulang berdasarkan SK SNI T15-1991 -
03.
- Perhitungan muatan pada bangunan (PMI).

c. Penggunaan bahan bangunan.


- Kualitas campuran beton harus memenuhi syarat dengan campuran beton
(sesuai yang ada dalam B O Q)
- Kualitas baja U-24 untuk baja polos dan U-32 untuk baja ulir.
- Setiap sambungan beton lama dan baru ditambahkan bahan additive beton.

8.3 Langkah Pelaksanaan.


Langkah pelaksanaan pekerjaan beton bertulang terdiri dari kegiatan penyiapan
adukan, pemasangan tulangan, persiapan pengecoran atau pemasangan begesting,
pelaksanaan pengecoran, perawatan atau pemeliharaan beton, pembongkaran
begesting dan pelaksanaan uji laboratorium.

a. Persyaratan pelaksanaan pekerjaan


Sebelum pelaksanaan pekerjaan beton, Kontraktor harus meneliti gambargambar
kerja penulangan beton. Apabila terjadi keragu-raguan segera menanyakan
dan meminta jawaban Direksi sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan.

b. A d u k a n
- Adukan beton untuk konstruksi beton bertulang digunakan beton dengan
campuran K225 (sesuai yang ada dalam BOQ)
- Adukan beton untuk konstruksi beton tidak bertulang menggunakan adukan
1: 3 : 5
8

c. Tulangan
- Membengkok dan meluruskan tulangan untuk beton bertulang harus
dilakukan dalam keadaan dingin. Batang tulangan harus dipotong dan
dibengkokkan sesuai dengan gambar kerja. Bila tidak tercantum dalam
gambar kerja, harus dimintakan persetujuan Direksi terlebih dahulu.
- Tulangan harus bebas dari kotoran-kotoran dan karat, serta bahanbahan
lain yang mengurangi daya rekat.
- Tulangan harus dipasang sedemikian rupa hingga sebelum dan selama
pengecoran tidak berubah tempat.
- Tulangan lengkung tidak boleh menempel pada papan cetakan atau
tumpuan lain. Untuk itu harus dibuat beton tahu (beton decking) dengan
tebal dan pemasangan sesuai dengan PBI ’71.

d. Persiapan Pengecoran
- Kontraktor harus membuat kotak takaran untuk adukan beton.
- Semua cetakan dibersihkan dari segala kotoran.
- Cetakan harus datar dan tegak lurus, kedudukan dan bentuknya tetap tidak
bergeser maupun bergerak pada waktu dan setelah pengecoran tetapi
mudah dibongkar.
- Cetakan dibuat dari kayu berkualitas sedang tebal 3 cm, dan
memenuhi syarat sesuai fungsinya. Sambungan -sambungan antara papan
dan balok harus rapat, rapi dan kuat.
- Apabila untuk rangka penyangga begesting digunakan kayu, maka bahan
kayu harus kering, lurus dan berupa kayu kina atau pinus atau kayu
berkualitas sedang yang lain. Jarak penempatan maksimum antar
penyangga adalah 60 cm. Dan direncanakan untuk memikul muatan
dibawah 1000 kg.
- Penyangga tidak boleh diberdirikan di atas tanah (harus dengan alas
papan).
- Penulangan diteliti kembali/disesuaikan dengan gambar, kalau ada yang
bengkok atau berubah posisi harus segera dibetulkan.
- Perubahan atau penambahan penulangan dan ukuran beton atau
perbedaan pelaksanaan dengan gambar kerja, harus sepengetahuan dan
sepersetujuan Direksi.

e. Pengecoran
- Pengecoran beton harus seijin tertulis dan sepengetahuan Direksi.
- Perbandingan adukan beton sesuai dengan ketentuan dalam Rencana Kerja
dan Syarat ini.
- Pembuatan campuran beton yang dilakukan setempat maka (1) angka dalam
perbandingan adukan menyatakan takaran dalam isi yang ditakar dalam
keadaan kering, (2) Takaran harus dibuat baik dan kuat, sebelum dipakai
dimintakan persetujuan Direksi, dan (3) Pengadukan minimum 3 menit
setelah semua bahan masuk ke dalam drum pengadukan, adukan beton harus
memperlihatkan susunan dan warna yang sama.
- Penggunaan bahan-bahan pembantu harus terlebih dahulu disetujui oleh
Direksi.
- Begesting atau tulangan yang terkena percikan beton harus
dibersihkan sebelum pengecoran selanj utnya.
- Beton tak boleh dituang langsung dari ketinggian lebih dari 1,5 meter
untuk mencegah terlepasnya agregat dari campuran bahan
pengikatnya.
9

f. Pembo ngkaran Begesting


- Pembongkaran harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa hingga
menjamin seluruhnya keamanan beton yang telah dicor.
Bagian struktur beton yang disangga dengan batang penyangga tidak boleh
dibongkar begesting maupun tiang penyangganya sebelum elemen
struktur tersebut mencapai kekuatan minimal untuk memikul berat sendiri
berikut bahan-bahan pelaksanaan di atasnya.
- Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari
pengawas, atau jika umur beton telah melampaui waktu sebagai berikut:
- Bagian sisi balok 48 jam
- Balok tanpa beban konstruksi 7 Hari
- Balok dengan beban konstruksi 21 Hari
- Pelat beton 21 Hari

g. Perawatan beto n.
- Upaya perawatan beton dilakukan selama proses pengerasan.
- Selama proses pengerasan, beton tiap hari harus disiram dengan cukup
air, selama minimum 1 (satu) minggu berturut-turut.

PASAL 08
PEKERJAAN PASANGAN BATA
Dinding Pagar terbuat dari pasangan bata. Kontraktor harus melakukannya dengan
ketelitian yang sebaik mungkin mengingat secara visual kerapihan hasil akhir pekerjaan
salah satunya akan terlihat dari presisi dinding bangunan.

9.1 Lingkup Pekerjaan.


Pembuatan dinding dari pasangan bata yang sesuai dengan gambar.

9.2 Langkah Pelaksanaan.

Dinding pasangan bata


a. Bata yang akan dipergunakan untuk pasangan dinding harus memenuhi
persyaratan yang ditetapkan oleh Direksi.
b. Bata kurang dari setengah panjang tidak boleh dipergunakan.
c. Pemasangan dinding batako harus benar - benar rapi, rata dan sesuai
dengan alur yang sebenarnya.
d. Pasangan bata dilakukan dengan campuran 1 PC: 4 Ps untuk semua
pasangan batu bata selain pasangan trasram.
e. Campuran 1 PC: 2 Ps digunakan untuk pasangan dinding kamar mandi,
pasangan
diatas sloof maupun diatas balok setinggi 0.50 m, dan pasangan dinding
yang diperlukan kedap air.
f. Pemasangan dinding bata tidak diperbolehkan terjadi siar vertical yang segaris
g. Pemasangan dinding bata tidak diperbolehkan menggunakan batu bata
potongan, kecuali tempat-tempat tertentu yang diharuskan memakai bata
potongan.
h. Pasangan batu bata seluas maksimum 12 m2 harus diperkuat beton (kolom
praktis) 15 x 15 cm dengan tulangan pokok 4 Ø 10, beugel Ø 8 jarak 15 cm
kecuali sudah ada perkuatan lain.
i. Pasangan batu bata tidak boleh ditembus andang-andang.
10

PASAL 09
PEKERJAAN PLESTERAN DAN SPONENGAN

Kerapian pekerjaan plesteran dan sponengan ini sangat bergantung pada presisi hasil
pekerjaan beton struktur dan dinding bata yang sudah ada.

10.1 Lingkup Pekerjaan


a. Plesteran dilakukan untuk pekerjaan pasangan maupun beton seperti
tersebut dalam gambar.
b. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan profil beton, sponengan, dan
plester pasangan dinding seperti pada gambar.

10.2 Langkah Pelaksanaan


a. Campuran 1 PC : 4 Ps digunakan untuk pasangan dinding beton mengingat
fungsinya yang memerlukan kondisi kedap air.
b. Untuk hal-hal yang khusus diperlukan plesteran dengan menggunakan produk
sekualitas mortar (sesuai yang disyaratkan dalam gambar).
c. Sebelum pekerjaan plesteran dilakukan, bidang-bidang yang akan diplester harus
dibersihkan terlebih dahulu kemudian dibasahi dengan air agar plesteran maupun
siaran tidak cepat kering dan tidak retak-retak.
d. Untuk plesteran menggunakan bahan dari mortar setiap satu sisi muka dalam satu
ruas tidak boleh disisakan, harus selesai sekaligus.
e. Adukan untuk plesteran harus benar-benar halus sehingga plesteran tidak pecah-
pecah.
f. Tebal plesteran tidak boleh lebih dari 2,5 cm dan tidak boleh kurang dari 1,5 cm,
kecuali menggunakan bahan produk dari mortar ketebalan plesteran bisa 1cm.
g. Plesteran supaya digosok berulang-ulang sampai menutup mantap dengan acian
dari PC sehingga tidak terjadi retak atau pecah.
h. Pekerjaan plesteran terakhir harus lurus dan halus, rata dan tegak lurus dengan
bidang plesteran lainnya.
i. Plesteran baru harus dijaga sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pecah dan
sobek/retak dengan disiram air minimum 3 kali dalam 24 jam selama 7 hari
berturut-turut.
j. Kontraktor tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan plesteran, tanpa seijin dari
Direksi.

PASAL 10
PEKERJAAN KERAMIK LANTAI

12.1 Lingkup Pekerjaan


a. Untuk lantai menggunakan keramik 30 x 30 setara mulia warna ditentukan
kemudian.

12.2 Langkah Pelaksanaan.


a. Bidang-bidang yang akan diberi penutup lantai harus sudah betul-betul bersih rata
dan sempurna.
b. Jika terdapat kekurang sempurnaan konstruksi yang berada di bawah lantai, maka
Kontraktor wajib menyempurnakannya. Dan apabila terdapat cacat atau kurang
baik yang diakibatkan kurang sempurnanya konstruksi-konstruksi yang berada di
bawah lantai maka Kontraktor harus membongkar dan memperbaikinya.
11

PASAL 11
PEKERJAAN CAT

Pengecatan dinding luar, dan menggunakan jenis cat weathersield setara ICI (3xsapu).
Untuk pengecatan dasar diding bagian luar. Kontraktor harus menyediakan bahan cat yang
baik dengan perlengkapan pengecatan standard serta tenaga kerja yang sudah terbiasa dan
berpengalaman dalam bidangnya.

13.1 Lingkup Pekerjaan.


a. Pekerjaan cat tembok meliputi semua bagian dinding tembok, dan kolom.
b. Pekerjaan cat dan meni besi meliputi pengecatan konstruksi yang menggunakan
besi.

13.2 Langkah Pelaksanaan.


Untuk pelaksanaan pekerjaan cat, selain methode atau cara pengecatan, kualitas
bahan cat juga sangat berpengaruh terhadap mutu yang dihasilkan.

a. Bahan
- Cat tembok setara mowiex berkualitas baik dan mudah dibersihkan.
- Cat besi yang digunakan berkualitas baik.
- Cat pigmen harus dimasukkan dalam kaleng untuk cat tembok 15 liter, cat
kayu 10 kg, dimana tertera nama perusahaan pembuatnya, petunjuk
pemakaian, formula, warna, nomor seri dan tanggal pembuatan.
- Semua cat yang akan dipakai harus mendapat persetujuan dari Direksi.
- Cat dasar (sealer) untuk pekerjaan cat tembok dan kayu digunakan merk
yang sama dengan merk cat yang dipilih.
- Cat meni digunakan sesuai dengan penggunaan cat.
- Bahan pengencer digunakan dari produksi pabrik.
- Warna-warna cat yang digunakan akan ditentukan oleh Direksi.

b. Cat tembok.
- Bidang yang akan dicat tembok sebelumnya harus dibersihkan dengan cara
menggosok memakai kain yang dibasahi dengan air. Setelah kering didempul
pada tempat yang berlubang sehingga permukaannya rata dan licin.
Selanjutnya diplamour secara merata dan di amplas/diambril, baru kemudian
dicat paling sedikit 2 (dua) kali dengan roller minimal 20 cm sampai baik
atau dengan cara yang telah ditentukan oleh pabrik dan tertera pada brosur
pemakaian dari pabrik penghasil cat.
- Pengecatan dilakukan sedemikian rupa sehingga menghasilkan pengecatan
yang rata dan baik.
- Pengecatan tidak boleh berganti ganti kuas, agar tidak tercampur warna
lain.

PASAL 12
LAIN-LAIN
16.1 Sehubungan dengan adanya bab ini dan pasal demi pasal dalam spesifikasi, maka
Kontraktor wajib untuk mempelajari dan memahami gambar/bestek, daftar kuantitas
barang serta dokumen lelang lainnya agar dapat memberikan penawaran yang baik
dan dapat dipertanggungjawabkan.
12

16.2 Lampiran dan gambar-gambar yang termasuk lingkup pekerjaan ini, tapi belum masuk
dalam uraian ini, adalah merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari
dokumen ini, dan harus diikuti/dilaksanakan oleh Kontraktor sebagai bagian dari
penawarannya, agar diperoleh penyelesaian pekerjaan yang baik dan memenuhi
persyaratan.

CATATAN

1. Untuk menghindarkan penolakan bahan dilapangan dianjurkan dengan sangat agar


sebelum sesuatu Bahan / Produk akan dibeli/ dipesan/diprodusir, terlebih dulu
dimintakan Persetujuan dari Direksi Pekerjaan atas kesesuaian dari Bahan/Produk
tersebut dengan Persyaratan Teknis, Guna diberikan persetujuan dalam bentuk
tertulis yang dilampirkan pada contoh/Brosur dari Bahan/Produk yang
bersangkutan untuk diserahkan pada Direksi Pekerjaan dilapangan.

2. Penolakan bahan dilapangan karena diabaikannya prosedur diatas sepenuhnya


merupakan tanggung jawab Kontraktor tanpa pertimbangan keringanan apapun.

3. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai Contoh/Brosur seperti tersebut diatas tidak
melepaskan tanggung jawab Kontraktor dari kewajibannya untuk mengadakan
Bahan/Produk yang sesuai dengan persyaratannya, serta tidak merupakan jaminan
akan diterima/disetuj uinya seluruh Bahan/Produk tersebut dilapangan, sejauh tidak
dapat dibuktikan bahwa seluruh Bahan / Produk tersebut adalah sesuai dengan
Contoh/Brosur yang telah disetujui.