Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KELOMPOK

JAMINAN KESEHATAN NASIONAL


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Layanan RS
Dosen Pengampu: Ns. Tuti Anggarawati, M. Kep

Disusun Oleh:
1. AkylahMutiaraDewi (17.003)
2. Indah Mustamiroh (17.039)
3. Rahmad Yulianto (17.071)
Kelas 2A

AKADEMI KEPERAWATAN
KESDAM IV/DIPONEGORO
SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Program Jaminan Kesehatan Sosial Nasional adalah merupakan
salah satu jaminan yang diselenggarakan BPJS.Jaminan kesehatan
yang diberikan bukan hanya pada saat memiliki penyakit kronis seperti
jantung atau kanker namun juga termasuk di dalamnya usaha-usaha
pencegahan, seperti imunisasi.
Selain itu pelayanan jaminan kesehatan ini dapat diterima diberbagai
Rumah Sakit, baik milik pemerintah maupun swasta apabila telah
menandatangani kontrak.Dimana mutu pelayanan yang diberikan
merata terhadap setiap orang tidak bergantung pada besarnya iuran,
sehingga rakyat miskin tidak perlu khawatir mendapat perlakuan
berbeda.
Seperti yang telah kita kenal bahwa jaminan asuransi kesehatan
adalah seperti halnya PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES),
Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), Asuransi Sosial
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI), Tabungan dan
Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) yang kesemuanya itu masuk
dalam bagian jaminan asuransi kesehatan di Indonesia belum termasuk
yang swasta.
Semua warga negara Indonesia wajib menjadi peserta JKN
termasuk warga negara asing yang sudah tinggal di Indonesia lebih dari
6 bulan dan wajib membayar iuran kepada BPJS, bagi yang tidak
mampu iuran dibayarkan pemerintah (PBI) yang pesertanya ditetapkan
pemerintah. Konsep iuran BPJS bagi pekerja maupun PNS adalah 3
persen ditanggung pemberi kerja (perusahaan) dan 2 persen
ditanggung pekerja itu sendiri, sehingga totalnya 5 persen berdasarkan
upah.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Jaminan Kesehatan Nasional
2. Untuk mengetahui dasar hukum Jaminan Kesehatan Nasional.
3. Untuk mengetahui perbedaan asskes social dengan askes
komersial.
4.
C. Manfaat
Agar dapat mengetahui pengertian Jaminan Kesehatan Nasional
dan supaya mengetahui apa saja perbedaan askes sosial dan askes
komersial.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Jaminan Kesehatan Nasional


Jaminan Kesehatan Nasional adalah jaminan berupa perlindungan
kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan&perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yg
diberikan kepada setiap orang ygtelah membayar iuran/ iurannya dibayar
oleh Pemerintah. Program Jaminan Kesehatan Nasional disingkat Program
JKN bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh
bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat,
produktif, dan sejahtera.

1. Visi Dan Misi Jaminan Kesehatan Masyarakat


Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan
a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui
pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat
madani
b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya
upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan
c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan
d. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik

2. Strategi
a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat
madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional
dan global.
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau,
bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti; dengan pengutamaan
pada upaya promotif dan preventif.
c. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama
untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional.
d. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan
yang merata dan bermutu.
e. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat
dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat,
kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan.
f. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan
berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi
kesehatan yang bertanggungjawab.

3. Nilai-Nilai
a. Pro Rakyat
b. Inklusif
c. Responsif
d. Efektif
e. Bersih

4. Karakteristik
Diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial
dan prinsip ekuitas (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 19 ayat 1)

5. Kelembagaan
a. Program jaminan kesehatan diselenggarakan oleh badan
penyelenggara jaminan sosial yang dibentuk dengan Undang-
Undang (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 5 ayat 1 )
b. Organisasi, fungsi dan hubungan antar kelembagaan masih
menunggu penetapan RUU BPJS.
6. Mekanisme Penyelenggaraan
a. Kepesertaan
1) Peserta adalah setiap orang yang telah membayar iuran atau
iurannya dibayar oleh pemerintah (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal
20 ayat 1 ).
2) Penerima manfaat adalah peserta dan anggota keluarga
(istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan
yang sah dan anak angkat yang sah) sebanyak-banyaknya lima
orang (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 20 ayat 2 ). Penerima
manfaat dapat diperluas kepada anak keempat dan seterusnya,
ayah, ibu dan mertua dengan membayar iuran tambahan (UU No.
40 Tahun 2004 Pasal 20 ayat 3 ).
3) Kepesertaan berkesinambungan sesuai prinsip portabilitas
dengan memberlakukan program di seluruh wilayah Indonesia
dan menjamin keberlangsungan manfaat bagi peserta dan
keluarganya hingga enam bulan pasca pemutusan hubungan
kerja (PHK). Selanjutnya, pekerja yang tidak memiliki pekerjaan
setelah enam bulan PHK atau mengalami cacat tetap total dan
tidak memiliki kemampuan ekonomi tetap menjadi peserta dan
iurannya dibayar oleh Pemerintah (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal
21 ayat 1,2,3 ). Kesinambungan kepesertaan bagi pensiunan dan
ahli warisnya akan dapat dipenuhi dengan melanjutkan
pembayaran iuran jaminan kesehatan dari manfaat jaminan
pensiun.
4) Kepesertaan mengacu pada konsep penduduk dengan
mengizinkan warga negara asing yang bekerja paling singkat
enam bulan di Indonesia untuk ikut serta (UU No. 40 Tahun 2004
Pasal 1 angka 8 )
b. Iuran
1) iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta
penerima upah atau suatu jumlah nominal tertentu untuk peserta
yang tidak menerima upah.
2) iuran tambahan dikenakan kepada peserta yang
mengikutsertakan anggota keluarga lebih dari lima orang.
c. Manfaat dan Pemberian manfaat
1) Pelayanan kesehatan diberikan di fasilitas kesehatan milik
Pemerintah atau swasta yang menjalin kerjasama dengan badan
penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23
ayat 1) .
2) Dalam keadaan darurat, pelayanan kesehatan dapat diberikan
pada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerja sama dengan
badan penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun 2004
Pasal 23 ayat 2 ).
3) Badan penyelenggara jaminan sosial wajib memberikan
kompensasi untuk memenuhi kebutuhan medik peserta yang
berada di daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang
memenuhi syarat. Kompensasi dapat diberikan dalam bentuk
uang tunai. (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 3 dan
penjelasannya ).
4) Layanan rawat inap di rumah sakit diberikan di kelas standar(UU
No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 4 ).
5) Besar pembayaran kepada fasilitas kesehatan untuk setiap
wilayah ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara badan
penyelenggara jaminan kesehatan dengan asosiasi fasilitas
kesehatan di wilayah tersebut (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 24
ayat 1).
6) Badan penyelenggara jaminan sosial wajib membayar fasilitas
kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada peserta paling
lambat 15 hari sejak permintaan pembayaran diterima (UU No.
40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 2).
7) Badan penyelenggara jaminan sosial dapat memberikan
anggaran di muka kepada rumah sakit untuk melayani peserta,
mencakup jasa medis, biaya perawatan, biaya penunjang dan
biaya obat-obatan yang penggunaannya diatur sendiri oleh
pemimpin rumah sakit (metoda pembayaran prospektif) (UU No.
40 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 24 ayat 2 ).
8) Badan penyelenggara jaminan sosial menjamin obat-obatan dan
bahan medis habis pakai dengan mempertimbangkan kebutuhan
medik, ketersediaan, efektifitas dan efisiensi obat atau bahan
medis habis pakai sesuai ketentuan peraturan perundangan (UU
No. 40 Tahun 2004 Pasal 25 dan penjelasannya) .
9) Dalam pengembangan pelayanan kesehatan, badan
penyelenggara jaminan sosial menerapkan sistem kendali mutu,
sistem kendali biaya dan sistem pembayaran untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi jaminan kesehatan serta
untuk mencegah penyalahgunaan pelayanan kesehatan (UU No.
40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 3 dan penjelasannya ). Untuk jenis
pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan
pelayanan, peserta dikenakan urun biaya (UU No. 40 Tahun
2004 Pasal 22 ayat 2).

7. Peraturan Pelaksanaan
UU Nomor 40 Tahun 2004 Tentang SJSN mendelegasikan 4 aspek
teknis penyelenggaraan program jaminan kesehatan nasional untuk
diatur dalam peraturan presiden.
B. Perbedaan Askes Sosial Dengan Askes Komersial
1. Askes Sosial
Asuran sisosial, atau secara mum disebut SJSN (system jaminan
social nasional) adalah program asuransi yang diselenggarakan secara
wajib berdasarkan suatu undang-undang, dengan tujuan untuk
memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat.
a. Kepesertaan Wajib (ditentukan oleh penyelenggara/pemerintah)
b. Premi biasanya rendah, oleh karena tidak bersifat mencari
keuntungan (nirlaba) untuk Jamkesda Rp.7500/jiwa /tahun atau
Rp.90.000/jiwa/tahun
c. Paket pelayanan dibatasi, biasanya hanya untuk pelayanan
kesehatan yang bersifat live saving (yang mengancam jiwa peserta)
d. Pengendalian ketat terhadap biaya (cost containment) oleh karena
dana yang disiapkan oleh penyelenggaran biasanya terbatas.

2. Askes Komersial
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1991 PT Askes
(Persero) memiliki peluang untuk mengembangkan kepesertaannya
pada Badan Usaha dan Badan Lainnya, yang diselenggarakan sebagai
Program Askes Komersial. Program Askes Komersial dibentuk dengan
tujuan untuk membantu perusahaan secara profesional dalam
mengurangi beban administrasi, memberi kepastian biaya pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan, serta meningkatkan efisiensi dan
efektifitas pemanfaatan sumber biaya perusahaan sehingga
manajemen dapat lebih fokus kepada “core business” nya.
Produkpelayanan program AskesKomersial PT Askes (Persero),
terdiridariAskes Diamond, Askes Platinum, Askes Gold, Askes Silver,
Askes Blue danAskes Alba. Ruang lingkup pelayanan jaminan
kesehatan program Askes Komersial meliputi jaminan pelayanan
kesehatan secara komprehensif
a. Kepesertaan sukarela, biasanya hanya orang-orang yang mampu
membayar premi
b. Premi besar oleh karena diperhitungkan dengan keuntungan
perusahaan
c. Paket pelayanan biasanya tidak dibatasi untuk menarik minat
peserta untuk masuk
d. Pengendalian biaya kurang ketat, oleh karena segala kemungkinan
tentang pembiayaantelah diperhitungkan dengan premi yang dibayar
oleh peserta tidak ada gate keeper, peserta bebas memilih tempat
pelayanan yang dikehendakinya, kelas perawatan biasanya di kelas
yang lebihtinggi tidak ada iuran biaya oleh karena tidak ada
pembatasan kelas pelayanan klaim biasanya diajukan oleh peserta
dengan menunjukkan bukti/kuitansi pembayaran (peserta membayar
dulu biaya pelayanan kemudian dilakukan penggantian oleh
penyelenggara sesuai biaya yang tertera dalam kuitansi)

C. Kondisi Mutu Dan Kondisi Biaya Jaminan Kesehatan Nasional


Peraturan Presiden (Perpres) nomor 12 tahun 2013 Tentang
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pasal 42 mengamanatkan bahwa
Pelayanan kesehatan kepada Peserta Jaminan Kesehatan harus
memperhatikan mutu pelayanan, berorientasi pada aspek keamanan
pasien, efektifitas tindakan, kesesuaian dengan kebutuhan pasien,
serta efisiensi biaya. Dalam rangka menjamin kendali mutu dan biaya,
Menteri Kesehatan bertanggung jawab untuk melakukan : penilaian
teknologi kesehatan (health technology assessment); pertimbangan
klinis (clinical advisory) dan Manfaat Jaminan Kesehatan; perhitungan
standar tarif; dan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan
Jaminan Kesehatan.
Depkes menata pembiayaan kesehatan mengingat biaya kesehatan
terus meningkat seiring inflasi dan kemajuan teknologi kedokteran.
Anggaran pembangunan kesehatan pemerintah akan digunakan untuk
membiayai upaya kesehatan masyarakat (public health) dan upaya
kesehatan perorangan penduduk miskin. Sedang upaya kesehatan
perorangan penduduk mampu harus dibiayai sendiri lewat kepesertaan
dalam asuransi sosial kesehatan (JKN).
Dalam RUU JKN disebutkan asuransi bersifat wajib bagi seluruh
penduduk.Preminya 6-8 persen dari penghasilan.Setengahnya dibayar
pekerja, sisanya ditanggung majikan/perusahaan.Premi penduduk
miskin ditanggung negara.Premi sektor formal dipotong dari
pendapatan, sedang premi sektor informal dikumpulkan dengan sistem
tersendiri.
Pengumpulan dilakukan Badan Administrasi SJSN yang bersifat wali
amanah.Sedang pengelola adalah badan-badan yang bersifat nirlaba.
Jika SJSN diterapkan, asuransi kesehatan pegawai negeri (Askes) dan
jaminan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja (Jamsostek) akan
diintegrasikan, sehingga hanya ada satu asuransi kesehatan wajib.
Seluruh penduduk yang tercakup akan mendapat pelayanan kesehatan
dasar standar.
Bagi penduduk mampu yang menginginkan pelayanan kesehatan
lebih "mewah", bisa menambah keikutsertaan pada asuransi kesehatan
komersial maupun Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM) sukarela.Saat ini Peraturan Pemerintah tentang JPKM sukarela
sedang diproses.
Dalam JKN ada standar pelayanan dan standar mutu yang
ditetapkan.Penyelenggara pelayanan kesehatan (dokter swasta, klinik,
puskesmas, rumah sakit) yang ikut serta harus mengikuti
standar.Dalam sistem ada empat pihak terkait, yaitu peserta asuransi,
badan administrasi, badan pengelola dan penyelenggara pelayanan
kesehatan.Dalam sistem itu ada ikatan kerja/kontrak, siklus kendali
mutu, pemantauan utilisasi dan penanganan keluhan.Dengan demikian
ada kendali biaya dan mutu.
Penyelenggara pelayanan kesehatan akan terdorong meningkatkan
mutu pelayanan, jika tidak ikut sistem mereka sulit mendapatkan
pasien, karena hampir tak ada lagi orang yang membayar dari kantung
sendiri seperti saat ini.
BAB III

CONTOH KASUS DAN PEMBAHASAN

Kasus meninggalnya bayi Tiara Debora di Jakarta Barat September


tahun lalu akibat buruknya pelayanan rumah sakit. Kasus bayi Debora
hanya satu dari ribuan kasus terkait buruknya pelayanan kesehatan kepada
bayi dan anak. Beberapa pasien anak yang membutuhkan penanganan
spesialis dan dirujuk ke rumah sakit harus menunggu enam bulan sampai
satu tahun lebih untuk mendapat penanganan dokter.

Pasien rujukan di RS Harapan Kita, misalnya, harus menunggu lebih


dari satu tahun untuk mendapat penanganan penyakit jantung. Bisa
dibayangkan, anak yang menderita penyakit jantung dalam keadaan lemah,
ditanganinya beberapa bulan kemudian. Tentu ini semakin meningkatkan
angka kematian pada bayi. Karena itu, KPAI mendorong revisi Perpres JKN
bisa mengakomodasi kewajiban rumah sakit menyediakan NICU dan PICU.
KPAI juga menuntut agar dalam revisi Perpres JKN tidak diberlakukan
kewajiban mendaftar dan membayar iuran bagi bayi yang baru lahir. Anak
tidak harus menanggung akibat dari kelalaian orangtuanya menunggak
membayar iuran atau tidak mendaftarkannya sejak dalam kandungan.

Selain itu, KPAI mengusulkan biaya ambulans ditanggung BPJS


Kesehatan bagi anak-anak yang meninggal di rumah sakit agar kasus
orangtua yang membawa pulang jenazah bayi dengan angkot atau sepeda
motor tidak lagi terjadi.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pelaksanaan JKN harus memperhatikan ancaman penyakit tidak
menular dengan upaya promotive dan preventif baik melalui UKP
maupun UKM dengan integritas antara UKP yang dilakukan oleh
JKN dan UKM di Puskesmas maupun institusi kesehatan-kesehatan
lain.

B. Saran
Semoga program Jaminan Kesehatan Nasional dari
Kementerian Kesehatan yang berlaku nasional dan wajib bagi
seluruh penduduk Indonesia bisa berjalan lancar dan sukses. Serta
manfaatnya akan bisa langsung dirasakan oleh rakyat Indonesia.
Dan lebih ditingkatkan lagi programnya aga dapat lebih di rasakan
oleh masyarakat kurang mampu.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.beritasatu.com/nasional/486256/pelayanan-kesehatan-38-
juta-bayi-terancam

http://jamkesdabonebolango.wordpress.com/2009/02/14/sekilas-
prinsip-pengelolaan-asuransi-sosial-dan-komersial/
http://asuransikeluargacerdas.wordpress.com/2012/01/02/artikel-
asuransi-kesehatan-pengertian-asuransi-kesehatan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Jaminan_Sosial_Nasional#Dasar_H
ukum