Anda di halaman 1dari 15

956

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pasien HIV/AIDS

dalam Menjalani terapi Antiretroviral di Care Support Tratment

Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong Pontianak

Egy Septiansyah 1 , Agus Fitriangga 2 , Abror Irsan 3

1 Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN

2 Departemen Kesehatan Masyarakat, Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN

3 Departemen Kesehatan Masyarakat, Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNTAN

Abstrak Latar Belakang. Acquired Immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang muncul akibat terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Terapi antiretroviral (ARV) adalah terapi untuk pasien HIV/AIDS dengan mengonsumsi obat seumur hidup mereka. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu aspek penting dalam menilai keberhasilan terapi ARV. Jumlah pasien positif HIV sampai Desember 2016 di Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong Pontianak sebanyak 512 jiwa, dengan pasien yang meminum obat ARV sebanyak 190. Metode. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2017. Subjek penelitian adalah pasien HIV/AIDS sebanyak 41 responden yang memenuhi kriteria sampel. Analisis data dengan teknik chi square dan fisher. Hasil. Sebanyak 63,41% responden dengan pengetahuan baik, 68,29% responden dengan persepsi rendah, 73,17% responden dengan pelayanan kesehatan baik, 60,98% responden dengan dukungan sosial baik, 56,10% responden dengan kepatuhan sedang. Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan (p=0,000), persepsi (p=0,000), pelayanan kesehatan (p=0,013), dukungan sosial (p=0,000) dengan kepatuhan. Kesimpulan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan adalah pengetahuan, persepsi, pelayanan kesehatan dan dukungan sosial.

Kata Kunci: Pasien HIV AIDS, Terapi Antiretroviral, Kepatuhan

Background. Acquired Immunodeficiency syndrome (AIDS) is a group of symptoms of diseases that arise from the infected Human Immunodeficiency Virus (HIV). Antiretroviral (ARV) therapy is a therapy for HIV / AIDS patients by consuming drug in their lifetime. Drug consumption obedience is an important aspect in assessing the success of antiretroviral therapy. The number of HIV positive patients until December 2016 at Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong Pontianak is 512 people, with the patients whose consuming ARV drug is only 190. Method. Observational analytical research with cross sectional approach. The study was conducted from May to July 2017. The subjects were 41 HIV / AIDS patients who met the sample criteria. Data analysis with chi square and fisher technique. Result. 63.41% of respondents with good knowledge, 68.29% of respondents with low perception, 73.17% of respondents with good health services, 60.98% of respondents with good social support, 56.10% of respondents with moderate adherence. There is a significant relationship between knowledge (p = 0,000), perception (p = 0,000), health care (p = 0,013), social support (p = 0,000) with adherence. Conclusion. The related factors of HIV/AIDS patients’ adherence are knowledge, perception, health services and social support.

Keywords: HIV AIDS Patient, Antiretroviral Therapy, Adherence

Keywords: HIV AIDS Patient, Antiretroviral Therapy, Adherence Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
Keywords: HIV AIDS Patient, Antiretroviral Therapy, Adherence Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

 

957

LATAR BELAKANG

mereka.

Untuk

memulai

terapi

Acquired

syndrome

(AIDS)

gejala

penyakit

Immunodeficiency

merupakan

kumpulan

yang

muncul

akibat

terinfeksi Human Immunodeficiency Virus

(HIV).

Menurut

data

World

Health

Organization (WHO) Global summary of

antiretroviral perlu dilakukan pemeriksaan

jumlah CD4 (bila tersedia) dan penentuan

stadium

klinis

infeksi

HIV-nya.

Hal

tersebut adalah untuk menentukan apakah

penderita sudah memenuhi syarat terapi

antiretroviral atau belum. Untuk menekan

the

AIDS

epidemic

pada

tahun

2015

penggandaan

(replikasi)

virus

di

dalam

menyatakan

bahwa

jumlah

orang

yang

darah,

obat

antiretroviral

(ARV)

harus

telah

terinfeksi

HIV

adalah

36,7

juta

selalu

di

atas

batas

tertentu.

Penelitian

dengan rincian dewasa sebanyak 34,9 juta

menunjukkan

bahwa

untuk

mencapai

dan anak dibawah usia 15 tahun sebanyak

tingkat

supresi

virus

yang

optimal

1,8 juta. Orang yang baru terinfeksi HIV

setidaknya 90 95% dari semua dosis

pada

tahun

2015

berjumlah

2,1

juta

tidak boleh terlupakan. 2

 

dimana

1,9

juta

merupakan

dewasa

Penelitian oleh Yuniar tahun 2011,

sementara

sisanya

150.000

merupakan

membagi

faktor

yang

mendukung

anak

dibawah

usia

15

tahun.

Angka

kepatuhan pasien dengan HIV/AIDS yang

kematian

akibat

penyakit

HIV/AIDS

menjalani

terapi

ARV

menjadi

faktor

selama tahun 2015 di dunia adalah 1,1 juta

internal,

faktor

pelayanan

serta

faktor

dimana

1

juta

merupakan

dewasa

dukungan sosial. 3 Kepatuhan minum obat

sementara

110.000

lainnya

merupakan

merupakan salah satu aspek penting dalam

anak usia dibawah 15 tahun. 1

 

menilai keberhasilan terapi ARV. Faktor-

Terapi

antiretroviral

(ARV)

faktor

yang

mempengaruhi

kepatuhan

merupakan terapi yang dijalankan pasien

minum

obat

antara

lain

pengetahuan,

dengan mengonsumsi obat seumur hidup

antara lain pengetahuan, dengan mengonsumsi obat seumur hidup Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
antara lain pengetahuan, dengan mengonsumsi obat seumur hidup Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

 

958

persepsi,

pelayanan

kesehatan

serta

Pontianak.

Pelaksanaan

penelitian

dukungan sosial. 4

Berdasarkan studi pendahuluan yang

dilakukan peneliti pada tanggal 10 Januari

2017

di

Rumah

Sakit

Jiwa

Sungai

Bangkong Pontianak jumlah pasien positif

HIV sampai Desember 2016 sebanyak 512

jiwa, dengan pasien yang meminum obat

ARV

sebanyak

190.

Kelompok

usia

terbanyak positif HIV yaitu usia 25-49

tahun yang terdiri dari 242 laki-laki dan 48

dilakukan bulan Mei 2017 Juni 2017.

Kriteria inklusi pada penelitian ini

adalah pasien HIV/AIDS

yang bersedia

menjadi responden dan berusia 18 tahun.

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah

pasien yang menjalani terapi ARV kurang

dari 6 bulan di Klinik Care Support and

Treatment

(CST)

Rumah

Sakit

Jiwa

Sungai Bangkong Pontianak.

Jumlah

sampel

dalam

penelitian

Perempuan.

Dari

data

tersebut

peneliti

yang memenuhi kriteria inklusi adalah 41

ingin

meneliti

faktor-faktor

yang

responden.

Instrumen

yang

digunakan

berhubungan

dengan

kepatuhan

pasien

dalam

penelitian

ini

adalah

lembar

HIV/AIDS

dalam

menjalani

terapi

kuesioner. Data dianalisis secara univariat

antiretroviral di Rumah Sakit Jiwa Sungai

dan bivariat.

Bangkong Pontianak.

 

HASIL

METODE

Analisis Univariat

Jenis

desain

penelitian

ini

adalah

Kelompok jenis kelamin responden

metode

analitik

observasioanl

dengan

terdapat 36 orang berjenis kelamin laki-

pendekatan cross-sectional.

Penelitian ini dilaksanakan di Klinik

laki

dan

5

orang

berjenis

kelamin

perempuan. Kelompok usia dibagi menjadi

Care

Support

and

Treatment

(CST)

lima kelompok yaitu

masa remaja akhir

Rumah

Sakit

Jiwa

Sungai

Bangkong

(17-25 tahun), masa dewasa awal (26-35

Jiwa Sungai Bangkong (17-25 tahun), masa dewasa awal (26-35 Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari
Jiwa Sungai Bangkong (17-25 tahun), masa dewasa awal (26-35 Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

tahun), masa dewasa akhir (36-45 tahun),

masa lansia awal (46-55 tahun) dan masa

lansia akhir (56-65 tahun). 5 Usia pasien

HIV/AIDS

penelitian

yang

dijadikan

responden

yang paling muda adalah 20

tahun sedangkan usia paling tua adalah 60

tahun.

Kelompok

usia

terbanyak

dari

responden penelitian adalah kelompok usia

26-35 tahun, yaitu 15 orang.

Tingkat pengetahuan dibagi menjadi

kategori

baik,

sedang

dan

kurang.

Responden terbanyak yaitu yang memiliki

pengetahuan

baik

sebanyak

26

orang.

Tingkat persepsi dibagi menjadi kategori

baik,

sedang

terbanyak

yaitu

baik

sebanyak

dan

kurang.

Responden

yang

28

memiliki

persepsi

orang.

Pelayanan

kesehatan dibagi menjadi kategori baik,

sedang dan kurang. Responden terbanyak

yaitu yang menilai pelayanan kesehatan

baik sebanyak 30 orang. Dukungan sosial

dibagi menjadi kategori baik, sedang dan

kurang. Responden terbanyak yaitu yang

mendapat dukungan sosial baik sebanyak

25

orang.

Tingkat

Kepatuhan

dibagi

959

menjadi kategori baik, sedang dan kurang.

Responden terbanyak yaitu yang memiliki

kepatuhan sedang sebanyak 23 orang.

Analisis Bivariat

Nilai p dari uji Chi Square adalah

0,000 (p <0,05). Hal ini dapat disimpulkan

bahwa

terdapat

hubungan

antara

pengetahuan dengan kepatuhan.

nilai p dari uji Chi Square adalah

0,000 (p <0,05). Hal ini dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan antara persepsi

dengan kepatuhan.

Nilai p dari uji Fisher adalah 0,013

(p

<0,05).

Hal

ini

dapat

disimpulkan

bahwa terdapat hubungan antara pelayanan

kesehatan dengan kepatuhan.

Nilai p dari uji Chi Square adalah

0,000 (p <0,05). Hal ini dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan antara dukungan

sosial dengan kepatuhan.

bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan kepatuhan. Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan kepatuhan. Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

960

(26-35 tahun), masa dewasa akhir (36-45

tahun), masa lansia awal (46-55 tahun) dan

Distribusi jenis kelamin responden

masa

lansia

akhir

(56-65

tahun). 5

Usia

yang paling banyak dalam penelitian ini

pasien

HIV/AIDS

yang

dijadikan

adalah laki-laki yaitu terdapat 36 orang

responden

penelitian

yang

paling

muda

(87,80%)

dan

perempuan

5

orang

adalah 20 tahun sedangkan usia paling tua

(12,20%).

Hal

ini

sesuai

dengan

data

adalah 60 tahun. Kelompok usia terbanyak

United Nations Programme on HIV and

AIDS

(UNAIDS)

tahun

2016

dimana

jumlah penderita terbanyak adalah laki-

laki. 6 Data survei Depkes RI menunjukkan

dari responden penelitian adalah kelompok

usia 26-35 tahun, yaitu 15 orang (36,59%).

Hal

ini

sesuai

dengan

penelitian

yang

dilakukan oleh UNAIDS tahun 2016 pada

hasil

bahwa

pasien

HIV

di

Indonesia

penderita

HIV/AIDS

di

dunia

dimana

didominasi

oleh

laki-laki. 7

Hal

tersebut

kelompok

usia

paling

banyak

terinfeksi

sejalan dengan penelitian Hutapea bahwa

frekuensi laki-laki untuk terinfeksi lebih

tinggi

diakibatkan

oleh

karena

perilaku

HIV berada pada kelompok usia produktif

yaitu usia 20-40 tahun. 6 Berdasarkan data

survey Dirjen PP&PL Depkes RI dimana

berisiko yang lebih sering dilakukannya

kelompok

usia

yang

paling

tinggi

dibandingkan

perempuan,

seperti

mengidap

HIV/AIDS

merupakan

usia

melakukan

hubungan

seksual

tidak

produktif (15-49 tahun). 9 Hal ini sejalan

terlindung

menggunakan

jasa

PSK

dan

dengan penelitian Hutapea dimana hasil

menggunakan jarum suntik bergantian bagi

pecandu narkoba suntikan. 8

Karakteristik

usia

dikelompokkan

menjadi lima kelompok yaitu masa remaja

akhir (17-25 tahun), masa dewasa awal

yang didapat tidak berbeda jauh dimana

pasien yang terinfeksi HIV/AIDS sebagian

besar atau 58,6% terjadi pada usia 30-39

tahun. Hasil tersebut menjelaskan bahwa

tingginya penderita HIV/AIDS pada usia

tersebut menjelaskan bahwa tingginya penderita HIV/AIDS pada usia Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
tersebut menjelaskan bahwa tingginya penderita HIV/AIDS pada usia Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

 

961

produktif

disebabkan

karena

pada

usia

penelitian

ini

sesuai

dengan

penelitian

produktif

memungkinkan

lebih

banyak

Lumbanbatu

pada

tahun

2012

bahwa

melakukan perilaku seks tidak aman yang

beresiko terhadap penularan HIV/AIDS. 8

sebanyak 31 dari 59 responden memiliki

pengetahuan yang baik (52,5%). 4

Pengetahuan adalah segala sesuatu

Pengetahuan

yang

diketahui

responden

terhadap

Berdasarkan hasil penelitian dari 41

penyakit

yang

diderita

dan

mekanisme

responden,

sebagian

besar

responden

pengobatannya.

Pengetahuan

merupakan

memiliki pengetahuan yang baik sebanyak

26

orang

(63,41%)

sedangkan

yang

memiliki pengetahuan sedang sebanyak 14

faktor yang paling mudah diubah melalui

pendidikan kesehatan. Saat ini teknologi

begitu canggih sehingga setiap orang dapat

orang

(34,14%)

dan

sisanya

memiliki

mengakses informasi mengenai HIV/AIDS

pengetahuan

kurang

sebanyak

1

orang

di internet maupun media informasi lain.

(2,45%). Responden mengetahui dengan

Hal

inilah

yang

membuat

responden

baik

tentang

HIV/AIDS

maupun

memiliki

pengetahuan

yang

baik

pengobatan ARV, hal ini dapat dilihat dari

dikarenakan

mudahnya

mengakses

banyaknya

responden

yang

menjawab

informasi

mengenai

penyakit

dan

dengan benar mengenai pengobatan ARV,

kepatuhan terapi, serta efek samping ARV.

pengobatan HIV/AIDS baik secara mandiri

(mencari lewat internet ataupun bacaan di

Hal

lain

yang

menunjang

hasil

buku)

ataupun

bertanya

dengan

para

pengetahuan baik pada responden karena

pendamping

dan

petugas

kesehatan

di

petugas di bagian Care Support Treatment

rumah sakit. 10

(CST)

Rumah

Sakit

Sungai

Bangkong

aktif

memberikan

edukasi

seputar

HIV/AIDS dan terapi antiretroviral. Hasil

edukasi seputar HIV/AIDS dan terapi antiretroviral. Hasil Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
edukasi seputar HIV/AIDS dan terapi antiretroviral. Hasil Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

 

962

Persepsi

mendapatkan

diskriminasi/dijauhi

masih

Hasil

yang

didapatkan

pada

menjadi momok bagi penderita HIV/AIDS

penelitian

ini

adalah

bahwa

untuk

khususnya responden dalam penelitian ini.

tingkatan persepsi pasien mengenai resiko,

Perlu adanya dukungan dari setiap lapisan

ancaman, dan manfaat dari ARV dibagi

masyarakat

untuk

membangun

menjadi tiga kategori yaitu baik, sedang

kepercayaan

diri

pasien

HIV/AIDS

dan

kurang.

Sebagian

besar

responden

sehingga mereka dapat terus berusaha dan

memiliki

persepsi

yang

baik

yaitu

semangat

melawan

penyakitnya

dan

sebanyak

28

orang (68,29%) dan

yang

menjalani pengobatan ARV dengan baik. 12

memiliki

persepsi

sedang

sebanyak

13

orang (31,71%). Hal ini sejalan dengan

penelitian

Marpaung

pada

tahun

2016

Pelayanan Kesehatan

Penelitian

ini

mengkategorikan

mengenai faktor yang berhubungan dengan

pelayanan

kesehatan

menjadi

tiga

yaitu

kepatuhan

pasien

HIV/AIDS

yaitu

baik,

sedang

dan

kurang.

Responden

responden yang memiliki tingkat persepsi

dalam

penelitian

ini

menilai

pelayanan

baik

lebih

tinggi

yaitu

sebanyak

57

kesehatan

baik

sebanyak

30

orang

responden (81,4%) dari total keseluruhan

(73,17%)

sedangkan

11

orang

lainnya

70 responden. 11

 

(26,83%)

menilai

pelayanan

kesehatan

Persepsi

 

merupakan

sedang.

Selama

penelitian

dilakukan

penindaklanjutan dari pengetahuan

yang

dimiliki

responden

dan

masih

berupa

pemikiran dan pandangan terhadap suatu

objek.

Dalam

hal

ini

persepsi

dibagi

menjadi persepsi resiko, persepsi ancaman

dan

persepsi

manfaat.

Rasa

takut

didapatkan bahwa petugas kesehatan yang

melayani

konseling

terhadap

pasien

melakukan interaksi yang baik serta selalu

tersedianya

obat

antiretroviral.

Hal

ini

inilah

yang

membuat

kebanyakan

responden

menilai

pelayanan

kesehatan

inilah yang membuat kebanyakan responden menilai pelayanan kesehatan Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
inilah yang membuat kebanyakan responden menilai pelayanan kesehatan Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

963

baik.

Hasil

tersebut

sejalan

dengan

menjalani terapi serta kemudahan dalam

penelitian

Novianto

pada

tahun

2016

mendapatkan

layanan

pemeriksaan

mengenai

gambaran

faktor-faktor

yang

dokter. 4

mempengaruhi kepatuhan konsumsi ARV

pada

ODHA.

Penelitian

tersebut

menyebutkan bahwa pelayanan konseling

yang baik serta ketersedian obat membuat

Dukungan Sosial

Penelitian

ini

mengkategorikan

dukungan sosial menjadi dukungan sosial

responden

menilai

baik

pelayanan

baik,

dukungan

sosial

sedang

dan

kesehatan. 13

dukungan

sosial

kurang.

Sebanyak

25

Pelayanan

kesehatan

meliputi

orang

(60,98%)

responden

memiliki

interaksi

dengan

akses

pelayanan

petugas

kesehatan

dan

kesehatan.

Interaksi

dengan petugas kesehatan ini dipengaruhi

oleh

pelayanan

dari

petugas

kesehatan

seperti perilaku dan keramahan petugas

dukungan

sosial

baik,

sementara

untuk

dukungan sosial sedang sebanyak 8 orang

(19,51%)

begitupun

yang

mendapat

dukungan sosial kurang sebanyak 8 orang

(19,51%).

Dukungan

sosial

dipengaruhi

kesehatan

saat

pasien

menjalani

terapi

dukungan keluarga, bagi responden yang

ARV

seperti

saat

konseling

untuk

sudah diketahui statusnya oleh keluarga

menentukan

terapi

ARV

dan

saat

dan keluarganya dapat menerima kondisi

mengambil obat ARV tersebut di klinik

CST Rumah Sakit maupun mengingatkan

pasien untuk teratur minum obat. Akses

pelayanan kesehatan dalam hal ini adalah

anggapan

tentang

jarak

yang

ditempuh

terkait sarana transportasi

yang tersedia

dan

biaya

yang

diperlukan

selama

tersebut biasanya responden menjadi lebih

semangat

untuk

mengikuti

pengobatan

antiretroviral.

Hal

ini

sejalan

dengan

penelitian

yang

dilakukan

tahun

2013

yaitu

dengan

Yuniar

pada

diterimanya

kondisi responden oleh keluarga membuat

responden

merasa

diterima

oleh

kondisi responden oleh keluarga membuat responden merasa diterima oleh Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari
kondisi responden oleh keluarga membuat responden merasa diterima oleh Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

964

keluarganya

dan

merasakan

dukungan

(41,46%) memiliki kepatuhan yang baik,

sosial yang baik. 3

 

23

orang (56,10%) diantaranya memiliki

Dukungan

sosial

dibagi

menjadi

kepatuhan sedang, dan 1 orang (2,44%)

dukungan keluarga dan dukungan teman

sebaya/LSM.

Dukungan

keluarga

merupakan sumber dukungan utama untuk

setiap

pasien

khususnya

pasien

yang

lainnya memiliki kepatuhan yang kurang.

Kategori dengan responden yang paling

banyak adalah kepatuhan sedang, hal ini

menunjukkan masih kurangnya kepatuhan

memiliki penyakit bersifat kronik seperti

responden

dalam

menjalani

terapi

HIV/AIDS. Peran serta anggota keluarga

antiretroviral.

Penelitian

lain

juga

memiliki

pengaruh

yang

besar

dalam

menunjukkan hasil serupa yaitu penelitian

memotivasi

pasien

agar

lebih

Safira

tahun

2014.

Penelitian

tersebut

memperhatikan

kesehatan

diri

mereka.

dilakukan pada 65 responden dengan hasil

Selain

dukungan

keluarga,

dukungan

28

orang

responden

(43,08%)

memiliki

teman sebaya/LSM juga turut andil dalam

meringankan

penderitaan

pasien

dengan

memberikan pengetahuan serta wawasan

kepatuhan baik sementara 37 responden

lainnya tidak patuh (56,92%). 15

Kepatuhan adalah tingkat seseorang

mengenai

penyakit

HIV/AIDS

dan

dalam

melaksanakan

suatu

aturan

dan

pengobatannya. 14

perilaku

yang

disarankan.

Kepatuhan

 

menggambarkan

sejauh

mana

pasien

Kepatuhan

berperilaku

untuk

melaksanakan

aturan

Penilaian

Kepatuhan

dalam

dalam

pengobatan

dan

perilaku

yang

penelitian ini membagi kategori kepatuhan

menjadi

tiga

yaitu

baik,

sedang

dan

kurang. Responden yang menjadi sampel

dalam penelitian ini sebanyak 17 orang

disarankan oleh tenaga kesehatan. 16 Dalam

hal

ini

kepatuhan

dipengaruhi

oleh

beberapa hal yaitu data dari pasien itu

sendiri,

laporan

tenaga

kesehatan,

hal yaitu data dari pasien itu sendiri, laporan tenaga kesehatan, Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1.
hal yaitu data dari pasien itu sendiri, laporan tenaga kesehatan, Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1.

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

 

965

perhitungan jumlah pil dan botol, tes darah

Responden

yang

memiliki

tingkat

dan

urin,

alat-alat

mekanis,

observasi

pengetahuan

yang baik

akan

cenderung

langsung dari hasil pengobatan. 17

patuh

untuk

melakukan

terapi

Hubungan antara Pengetahuan dengan

Kepatuhan

Pada penelitian ini dilakukan analisis

antiretroviral karena mengetahui seberapa

penting

terapi

tersebut

untuk

yang

dideritanya.

Penelitian

penyakit

lain

juga

menunjukkan

hasil

yang

sejalan

yaitu

bivariat

dengan

menggunakan

uji

chi

penelitian Mahardining pada tahun 2009.

square

untuk

mencari

apakah

terdapat

Pada penelitian tersebut sampel penelitian

hubungan

antara

pengetahuan

dengan

adalah 22 orang dimana terdapat hubungan

kepatuhan. Hasil uji statistik menunjukkan

yang

bermakna

antara

variabel

bahwa nilai p = 0,000 (p <0,05). Hal ini

pengetahuan

dengan

variabel

kepatuhan

berarti

dalam

penelitian

ini

terdapat

dengan hasil uji statistiknya adalah p =

hubungan

antara

pengetahuan

dan

0,026, nilai p dibawah nilai α = 0,05 yang

kepatuhan

pasien

HIV/AIDS

dalam

berarti memiliki hubungan. 19

 

menjalani

terapi

antiretroviral.

Hasil

Sebelum

dimulainya

terapi

ARV,

tersebut sejalan dengan penelitian Martoni

pada

tahun

2011-2012

pada

55

orang

sampel bahwa hasil dari uji statistik chi

square menunjukkan angka 0,005 dimana

angka tersebut lebih kecil dibandingkan α

= 0,05. Hal ini berarti terdapat hubungan

ODHA diberikan konseling sebelum dan

sesudah tes HIV. Konseling ini mencakup

informasi mengenai HIV dan terapi ARV.

Tujuan

dari

kegiatan

tersebut

untuk

meningkatkan peengetahuan tentang terapi

ARV. 20 Menurut Notoatmodjo tahun 2010,

yang signifikan antara pengetahuan dengan

pengetahuan

dibutuhkan

seseorang

kepatuhan. 18

sehingga

mempermudah

terjadinya

perilaku

sehat

pada

orang

tersebut.

terjadinya perilaku sehat pada orang tersebut. Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
terjadinya perilaku sehat pada orang tersebut. Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

966

Pengetahuan

juga

dimaksudkan

untuk

mulai mengambil keputusan untuk pergi

memberikan

pengertian

tentang

ke

rumah

sakit

sampai

menjalani

pemahaman yang salah dan tidak kondusif

pengobatan.

Hal

ini

sejalan

dengan

bagi perilaku sehat yang dapat membuat

akibat buruk bagi kesehatan. Hal tersebut

penelitian

Marpaung

pada

tahun

2016

mengenai faktor yang berhubungan dengan

mampu membuat seseorang menjadi lebih

kepatuhan

pasien

HIV/AIDS.

Pada

patuh dalam menjalani terapi obat yang

penelitian

tersebut

data

dari

59

pasien

dalam hal ini adalah terapi ARV. 21

HIV/AIDS dianalisis bivariat dengan uji

chi square dan diperoleh hasil nilai p =

Hubungan

antara

Persepsi

dengan

0,005, dimana nilai tersebut dibawah nilai

Kepatuhan

α = 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat

Hasil dari penelitian yang dilakukan

didapatkan

bahwa

nilai

p

dari

uji

chi

square adalah 0,000 yang berarti bahwa

nilai p < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa

terdapat hubungan yang bermakna antara

hubungan

bermakna

antara

persepsi

dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS yang

melakukan terapi antiretroviral. 11

Persepsi

yang

positif

akan

menghasilkan kepatuhan yang baik, hal ini

persepsi

dengan

kepatuhan

pasien

disebabkan persepsi dapat mempengaruhi

HIV/AIDS

dalam

menjalani

terapi

tindakan seseorang. Hal ini didukung oleh

antiretroviral.

Persepsi

merupakan

teori yang dikemukakan oleh Max Weber

penindaklanjutan dari pengetahuan

yang

dimiliki

responden

dan

masih

berupa

bahwa

pengalaman,

persepsi,

penafsiran

atau

situasi

tertentu

merupakan

dasar

pemikiran dan pandangan terhadap suatu

seseorang

melakukan

suatu

tindakan.

objek. Persepsi juga merupakan domain

Seseorang

akan

melakukan

tindakan

yang

dapat

dirubah

seketika

akibat

penyembuhan

penyakit

jika

benar-benar

pengaruh

pengalaman

responden

saat

terancam oleh penyakitnya, dalam hal ini

responden saat terancam oleh penyakitnya, dalam hal ini Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
responden saat terancam oleh penyakitnya, dalam hal ini Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

HIV/AIDS

merupakan

penyakit

yang

menjadi ancaman bagi siapapun terlebih

pada ODHA. 20 Hal inilah yang menjadi

967

dengan kepatuhan karena hasil uji fisher

kurang dari nilai α = 0,05. 22

Hasil

pada

penelitian

ini

sejalan

dasar

mengapa

persepsi

individu

akan

dengan penelitian Lumbanbatu pada tahun

tingkat

keparahan

suatu

penyakit

serta

2012

tentang

faktor-faktor

yang

keyakinan

dalam

diri

dapat

merubah

berhubungan

dengan

kepatuhan

ODHA

perilaku individu menjadi lebih bermanfaat

(Orang

Dengan

HIV/AIDS)

dalam

dalam

proses

pengobatan

yaitu

dengan

menjalani

terapi

antiretroviral.

Pada

lebih patuh. 13

 

penelitian

tersebut

didapatkan

hasil

uji

Hubungan antara Pelayanan Kesehatan

dengan Kepatuhan

Penelitian

ini

melakukan

analisis

bivariat menggunakan uji chi-square untuk

statistik chi square dengan nilai p = 0,040

dimana nilai p kurang dari nilai α yaitu

0,05. Hal ini berarti terdapat hubungan

bermakna

antara

pelayanan

kesehatan

dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS yang

mengetahui

hubungan

antara

variabel

menjalani terapi antiretroviral. 4 Penelitian

pelayanan

kesehatan

dengan

kepatuhan,

lain yang dilakukan oleh Novianto pada

akan tetapi setelah dilakukan uji statistik

tahun

2016

juga

mengatakan

bahwa

tersebut terdapat 1 sel yang memiliki nilai

pelayanan

kesehatan

merupakan

faktor

expected

count

dibawah

5.

Atas

dasar

tersebut pemilihan uji

chi square tidak

dapat dilakukan dan diteruskan dengan uji

yang mempengaruhi kepatuhan konsumsi

antiretroviral. 13

Layanan ARV lebih banyak diakses

alternatif yaitu uji fisher. Setelah dilakukan

di

klinik

RS

Pemerintah.

Rumah

Sakit

uji fisher didapatkan nilai p sebesar 0,013.

dianggap

lebih

baik

apabila

dalam

Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat

memberikan

pelayanan

lebih

hubungan

antara

pelayanan

kesehatan

memperhatikan kebutuhan pasien maupun

antara pelayanan kesehatan memperhatikan kebutuhan pasien maupun Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
antara pelayanan kesehatan memperhatikan kebutuhan pasien maupun Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

orang lain

yang berkunjung ke Rumah

Sakit. Kepuasan akan muncul dari kesan

pertama pasien masuk ke Rumah Sakit,

dalam hal ini seperti pelayanan yang cepat,

968

dan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam

menjalani terapi antiretroviral. Penelitian

ini sejalan dengan penelitian Lumbanbatu

tahun

2012

dengan

hasil

uji

statistik

tanggap

serta

keramahan

dalam

diperoleh nilai p = 0,047 dimana p <0,05.

memberikan

pelayanan

konseling

dan

Hal ini menujukkan hubungan bermakna

pengobatan. 23

Kemudahan

akses

antara dukungan sosial dengan kepatuhan. 4

pelayanan, baik secara jarak dari tempat

tinggal

menuju

Rumah

Sakit

dan

pelayanan dari petugas Rumah Sakit yang

ramah dan giat mengingatkan mengenai

Dukungan

sosial

sendiri

dibagi

menjadi dukungan keluarga dan dukungan

teman

sebaya.

Pada

penelitian

yang

dilakukan Ubra pada tahun 2012, kedua

keteraturan

minum

obat

membuat

variabel baik dukungan keluarga maupun

kepatuhan

minum

obat

ARV

pasien

dukungan

sosial

setelah

dilakukan

uji

HIV/AIDS membaik. 24

 

stastik dengan hasil nilai p = 0,0012 pada

 

dukungan keluarga dan nilai p = 0,03 pada

Hubungan

antara

Dukungan

Sosial

 

dukungan

teman

sebaya

menunjukkan

dengan Kepatuhan

Pada penelitian ini dilakukan analisis

hubungan bermakna dari kedua variabel

tersebut

terhadap

variabel

kepatuhan

bivariat

dengan

menggunakan

uji

chi

 

karena masing-masing variabel memiliki

square

untuk

mencari

apakah

terdapat

 

nilai

p

<

0,05. 25

Hal

ini

juga

sejalan

hubungan antara dukungan sosial dengan

 

dengan

penelitian

Mahardining

dengan

kepatuhan. Hasil uji statistik menunjukkan

bahwa

nilai

p

=

0,000

dimana

nilai

tersebut lebih kecil dibanding nilai α yaitu

0,05. Hal ini berarti dalam penelitian ini

terdapat hubungan antara dukungan sosial

hasil uji statistik untuk dukungan keluarga

dengan kepatuhan adalah p = 0,023. Nilai

tersebut berada dibawah nilai p < 0,05

yang

berarti

bahwa

terdapat

hubungan

berada dibawah nilai p < 0,05 yang berarti bahwa terdapat hubungan Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor
berada dibawah nilai p < 0,05 yang berarti bahwa terdapat hubungan Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

antara

dukungan

keluarga

dengan

kepatuhan

pasien

HIV/AIDS

yang

menjalani terapi antiretroviral. 19

Untuk dapat menjalani ARV dengan

baik, maka ODHA sangat membutuhkan

dukungan psikososial dari banyak pihak

baik

tim

profesional

(dokter,

perawat,

apoteker dan lain-lain), dukungan sebaya,

LSM, serta keluarga ODHA itu sendiri.

Semua

elemen

tersebut

wajib

untuk

berkontribusi mendukung ODHA agar hak

ODHA

untuk

memperoleh

layanan

kesehatan yang baik dan optimal terpenuhi

serta

tidak

mendapatkan

diskriminasi

sebagai ODHA. 26

 

KESIMPULAN

 

Faktor-faktor

yang

berhubungan

dengan

kepatuhan

adalah

pengetahuan,

persepsi,

pelayanan

kesehatan

dan

dukungan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

969

1. World Health Organization (WHO). Global summary of the AIDS epidemic [Internet]. 2015 [cited 2017 Jan 16]. Available from:

2. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa. Depkes RI; 2011.

3. Yuniar Y, Handayani RS, Aryastami NK. Faktor-Faktor Pendukung Kepatuhan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Dalam Minum Obat Antiretoviral Di Kota Bandung Dan Cimahi. Buletin Peneliti Kesehatan; 2013.

4. Lumbanbatu VV. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan ODHA Dalam Menjalani Terapi ARV Di RSU. dr. Pirngadi Medan Tahun 2012. Medan:

Universitas Sumatera Utara; 2013.

5. Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI; 2019.

6. Joint United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS). Global Report: UNAIDS report on the global AIDS epidemic 2016. Geneva: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS; 2016.

7. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, Kementrian Kesehatan RI. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2016.

8. Hutapea DM. Karakteristik Penderita HIV/AIDS di Klinik VCT Rumah Sakit Umum HKBP Balige Tahun 2008-2012. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2014.

9. Dirjen PP&PL Depkes RI. Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia Triwulan III Tahun 2012. Jakarta; 2012.

10. Khairunnisa. Gambaran Kepatuhan Pengobatan ARV (Antiretroviral) (Studi pada Wanita Pekerja Seks (WPS) Positif HIV/AIDS di Kabupaten Batang). Jurnal Kesehatan Masyarakat; 2017.

11. Marpaung IRL. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pasien HIV/AIDS Dalam Menjalani Terapi Antiretroviral Di RSU Haji Medan Tahun 2016. Medan: Universitas Sumatera Utara;

2016.

12. Burhan R. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan oleh Perempuan Terinfeksi

HIV/AIDS. Jurnal Kesehatan Masyarakat;

2013.

13. Novianto AE. Gambaran Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Konsumsi ARV Pada ODHA Di BPKM Wilayah Semarang. Semarang: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran; 2016.

14. Maria U. Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien

U. Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1.
U. Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1.

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

tuberculosis (TBC) di wilayah kerja Puskesmas Pamulang Kota Tanggerang Selatan. Indonesia: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah; 2011.

15. Safira N. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penderita HIV/AIDS Mengonsumsi Obat Antiretroviral (ARV) Di Klinik Voluntary Counseling Testing (VCT) RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2014. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2014.

16. Bart, S. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo; 2004.

17. Niven. Psikologi Kesehatan Pengantar untuk Perawat dan Profesional Kesehatan Lain. Alih Bahasa Agung Waluyo; Editor: Monica Peter. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2002.

18. Martoni W. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien HIV/AIDS Di Poliklinik Khusus Rawat Jalan Bagian Penyakit Dalam RSUP dr. M Djamil Padang Periode Desember 2011- Maret 2012. Padang: Universitas Andalas;

2013.

19. Mahardining AB. Hubungaan Antara Pengetahuan, Motivasi dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Terapi ARV ODHA. Jurnal Kesehatan Masyarakat;

2010.

20. Saputro, AIP. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan ODHA

dalam Menjalankan Terapi ARV di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Pusat. Manado:

Universitas Sam Ratulangi; 2016.

21. Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan Teori

dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.

22. Sastroasmoro S. Dasar-Dasar Metodologi

Penelitian Klinis Edisi 4. Jakarta; 2011.

23. Triwibowo, C. Perizinan dan Akreditasi Rumah Sakit. Yogyakarta: Nuha Medika;

2012.

24. Utami, EIR. Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Kepatuhan ARV pada

Remaja Positif HIV di Kota Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro; 2017. 25. Ubra, RR. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Minum ARV Pada Pasien HIV

Di Kabupaten Mimika Provinsi Papua

Tahun 2012. Jakarta: Universitas Indonesia; 2012.

26. Purwaningtias, A. Pelayanan HIV/AIDS di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Yogyakarta: KMPK Universitas Gadjah Mada; 2007.

970

Yogyakarta. Yogyakarta: KMPK Universitas Gadjah Mada; 2007. 970 Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018
Yogyakarta. Yogyakarta: KMPK Universitas Gadjah Mada; 2007. 970 Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018

Jurnal Cerebellum. Volume 4. Nomor 1. Februari 2018