Anda di halaman 1dari 13

FUNGSI ADVOKASI PADA KASUS KEGAWATDARURATAN BERBAGAI

SISTEM

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Dosen Pembimbing:
drs. Hendro Prasetyo, M.Kes

Disusun Oleh :
Kelompok 2/2016B

Liza Lusiyani (16010074) Rhozzana Putri (16010084)


M. Heru Susanto (16010075) Riska Trinanti (16010086)
Mayuni Putri (16010076) Rita Nur Hidayati (16010087)
Mila Putri (16010077) Sarifatul (16010088)
M. Muslim (16010078) Sherly Dwi (16010090)
M. Rizal (16010079) Siska Imayani (16010091)
Nailal Avivi (16010080) Tomi Apriliyadi (16010093)
Neneng Hariyati (16010081) Vera Munawaroh (16010094)
Nur Atiyah (16010082) Vina Nur (16010095)
Nuril Istikoma (16010083) Yuka Crismon (16010096)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN dr. SOEBANDI JEMBER
2019
2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... 1


Dafta isi ................................................................................................................. 2

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian .........................................................................................4

BAB II Pembahasan
2.1 Peran Dan Fungsi Perawat ............................................................................5
2.2 Peran Perawat Sebagai Advokator ................................................................7
2.3 Tugas Perawat Dalam Advokasi ...................................................................8
2.4 Pentingnya Peran Perawat Sebagai Advokator .............................................9
2.5 Pasien Dan Keluarga .....................................................................................10

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 12
3.2 Saran .............................................................................................................. 12

Daftar Pustaka ................................................................................................... 13


3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan berdampak besar


terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan yang
dilaksanakan oleh tenaga perawat profesional, dalam melaksanakan tugasnya dapat
bekerja sama dengan profesi lain. Perawat dituntut untuk melaksanakan asuhan
keperawatan untuk pasien baik secara individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat dengan memandang manusia secara biopsikososial spiritual yang
kompeherensif. Sebagai tenaga yang profesional dalam melaksanakan tugasnya
diperlukan suatu sikap yang menjamin terlaksananya tugas tersebut dengan baik
dan bertanggung jawab secara moral (Ismani 2001).

Masalah moral yang muncul dalam hubungan perawat pasien terjadi tanpa
pengujian, dan banyak masalah pribadi yang dihadapi perawat yang terlibat dalam
manajemen, administrasi dan tanggung jawab publik. Perhatian tertuju pada
kesulitan moral dalam hubungan perawat pasien dalam tujuan untuk memberikan
hak pasien dan tanggung jawab profesional perawat, aspek legal dan hak-hak moral
dalam hubungan kontrak diantara mereka.

Menjadi seorang perawat bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi


membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Kebanyakan masyarakat
mengenal perawat identik dengan sombong, tidak ramah, genit, tidak pintar seperti
dokter dan sebagainya. Bahkan sikap tersebut sering digambarkan di televisi
melalui sinetron-sinetron tidak mendidik. Untuk mengubah citra perawat seperti itu
di masyarakat memang tidak mudah, tetapi merupakan suatu keharusan bagi semua
perawat, terutama seorang perawat professional (Sujana, 2009).

Pada dasarnya, peran perawat sebagai advokat pasien adalah member


informasi dan memberi bantuan kepada pasien atas keputusan apa pun yang dibuat
pasien, memberi informasi berarti menyediakan informasi atau penjelasan sesuai
yang dibutuhkan pasien, memberi bantuan mengandung dua peran, yaitu peran aksi
4

dan nonaksi. Dalam menjalankan peran aksi, perawat memberikan keyakinan


kepada pasien bahwa mereka mempunyai hak dan tanggung jawab dalam
menentukan pilihan atau keputusan sendiri dan tidak tertekan dengan pengaruh
orang lain, sedangkan peran nonaksi mengandung arti pihak advokat seharusnya
menahan diri untuk tidak mempengaruhi keputusan pasien (Sulandra, 2008).

Peran perawat sebagai advokat pasien menuntut perawat untuk dapat


mengidentifikasi dan mengetahui nilai-nilai dan kepercayaan yang dimilikinya
tentang peran advokat, peran dan hak-hak pasien, perilaku profesional, dan
hubungan pasien-keluarga-dokter. Di samping itu, pengalaman dan pendidikan
yang cukup sangat diperlukan untuk memiliki kompetensi klinik yang diperlukan
sebagai syarat untuk menjadi advokat pasien.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah cara mengetahui tentang fungsi advokasi pada kasus


kegawatdaruratan berbagai sistem ?

1.3 Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui fungsi advokasi pada kasus kegawatdaruratan berbagai sistem.


5

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Peran dan Fungsi Perawat


Dalam dunia keperawatan modern respons manusia sebagai pengalaman
dan respon orang terhadap sehat dan sakit juga merupakan suatu fenomena
perhatian perawat (Sudarman,2008). Sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1239 tahun
2001 tentang Registrasi dan Praktik perawat, perawat adalah seseorang yang telah
lulus pendidikan perawat, baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Praktik keperawatan harus
senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan
sesuai dengan bidang tugasnya. Dalam melaksanakan praktik keperawatan,
perawat juga dituntut melakukan peran dan fungsi sebagaimana yang diharapkan
oleh profesi dan masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan keperawatan.
a. Peran Perawat
Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu sIstem (Kusnanto, 2003).
Dalam melakukan peran, seseorang diharapkan memiliki pemahaman dasar yang
diperlukan mengenai prinsip, dalam menjalankan tanggungjawab secara efisien
dan efektif dalam suatu sistem tertentu (Bastable,2002). Peran perawat dipengaruhi
oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan
bersifat konstan (Doheny,1982) mengidentifikasi beberapa elemen peran perawat
professional, meliputi:
1. Care Giver,
Sebagai pemberi asuhan keperawatan; Sebagai pelaku atau pemberi
asuhan keperawatan dapat memberikan pelayanan keperawatan secara
langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang meliputi: melakukan pengkajian dalam upaya
mengumpulkan data dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa
keperawatan berdasarkan hasil analisa data, merencanakan intervensi
keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat
6

langkah / cara pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan


sesuai dengan rencana yang ada, dan melakukan evaluasi berdasarkan
respon klien terhadap tindakan keperawatan dan melakukan evaluasi
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilakukannya.
2. Client Advocate
Sebagai pembela untuk melindungi klien. Sebagai advokat klien,
perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan
lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien
dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang
diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun
professional
3. Counsellor
Sebagai pemberi bimbingan/ konseling klien;Berfungsi untuk
memberikan konseling kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehata sesuai prioritas.
4. Educator
Sebagai pendidik klien, sebagai pendidik klien, membantu klien
meningkatkan kesehatannya melalui pemberian pengetahuan yang terkait
dengan keperawatan dan tindakan medik yang diterima sehingga
klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya.
5. Collaborator
Sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat bekerja
sama dengan tenaga kesehatan lain dalam menentukan rencana maupun
pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi kebutuhan kesehatan
klien.
6. Coordinator
Sebagai coordinator agar dapat memanfaatkan sumber-sumber dan
potensi klien Perawat berfungsi untuk mengkoordinasi, mengatur,
mengembangkan, memberikan informasi untuk perkembangan pelayanan
kesehatan
7

7.Change agen
Sebagai pembaru yang selalu dituntut untuk mengadakan
perubahan-perubahan; Sebagai pembaharu, perawat mengadakan inovasi
dalam cara berfikir, bersikap, bertingkah laku dan meningkatkan
ketrampilan klien/ keluarga agar menjadi sehat (Kustanto,2003)
8. Consultat
Sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan
masalah
b. Fungsi Perawat
1. Fungsi Independen
Tindakan keperawatan bersifat mandiri, berdasarkan pada ilmu
keperawatan. Oleh karena itu, perawat bertanggung jawab terhadap akibat
yang timbul dari tindakan yang diambil
2. Fungsi Dependen
Perawat membantu dokter memberikan pelayanan pengobatan dan
tindakan khusus yang menjadi wewenang dokter dan seharusnya dilakukan
dokter, seperti pemasangan infus, pemberian obat, dan melakukan suntikan
3.Fungsi Interdependen
Tindakan perawat berdasar pada kerja sama dengan tim perawatan
atau tim kesehatan. Perawat berkolaborasi mengupayakan kesembuhan
pasien bersama tenaga kesehatan lainnya. Perawat bertanggung jawab lain
terhadap kegagalan pelayanan kesehatan terutama untuk bidang
keperawatannya (Potter dan Perry, 2005).

2.2 Peran Perawat sebagai Advokator


Advokasi (pembelaan) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai proses
bertindak untuk, atau atas nama orang lain yang tidak mampu bertindak untuk diri
mereka sendiri (Basford & Slevin, 2006). Murphy dan Hunter (dalam Basford
&Slevin, 2006) mengatakan bahwa peran perawat dalam mengeksplorasi konsep
pembelaan terangkum dalam pernyataan, “Tujuan perawat bukan untuk
mendapatkan kepuasaan dari professional kesehatan lain tetapi lebih untuk
membantu pasien mendapatkan asuhan yang terbaik, bahkan jika itu berarti pasien
masuk ke rumah sakit dan mencari professional asuhan kesehatan lain”. Oleh
8

karena itu, fokus utama dari peran advokasi perawat bagi pasien adalah menghargai
keputusan pasien dan meningkatkan otonomi pasien (Blais,2002).

2.3 Tugas Perawat Dalam Advokasi Pasien


Nelson (dalam Blais, 2002) menjelaskan tujuan utama dari advokat pasien
adalah melindungi hak-hak pasien. Peran advokat pasien memiliki tiga komponen
utama, yaitu sebagai pelindung, mediator, dan pelaku tindakan atas nama pasien.
Dari ketiga komponen utama peran perawat sebagai advokat, maka dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Sebagai pelindung,
Peran yang dilakukan perawat memiliki tujuan utama yaitu untuk
membantu pasien dalam membuat keputusan. Peran perawat dalam hal ini
ditekankan untuk menyerahkan segala keputusan tentang perawatan yang
akan dijalankan oleh pasien kepada pasien itu sendiri, sesuai dengan nilai-
nilai yang dianut pasien. Tindakan perawat yang termasuk di dalamnya
yaitu perawat memberikan alternatif pilihan kepada pasien saat akan
mengambil keputusan tentang terapi yang akan diambil, menyediakan
format persetujuan tindakan penjelasan atas pemulangan dini pasien dari
perawatan, serta memutuskan dokter yang akan merawatnya;
b. Sebagai mediator
Peran yang dilakukan perawat memiliki tujuan untuk menjembatani
komunikasi antara pasien dengan tim kesehatan lain di rumah sakit.
Tindakan perawat yang termasuk di dalamnya yaitu perawat menemani
pasien saat kunjungan dokter, menentukan menu diet bersama ahli gizi, dan
juga memberikan penjelasan kepada pasien mengenai pengobatan yang
diterimanya;

c. Sebagai pelaksana tindakan


Peran yang dilakukan perawat memiliki tujuan utama untuk
melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan yang dibutuhkan pasien.
Tindakan perawat yang termasuk didalamnya yaitu dengan memberikan
lingkungan yang sesuai dengan kondisi pasien, melindungi pasien dari
9

tindakan yang dapat merugikan pasien, dan memenuhi semua kebutuhan


pasien selama dalam perawatan.

2.4 Pentingnya Peran Perawat Sebagai Advokator


Perannya sebagai advokat, perawat diharapkan mampu untuk bertanggung
jawab dalam membantu pasien dan keluarga menginterpretasikan informasi dari
berbagai pemberi pelayanan yang diperlukan untuk mengambil persetujuan atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya serta mempertahankan dan
melindungi hak – hak pasien. Hal ini harus dilakukan, karena pasien yang sakit dan
dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Advokasi, Faktor yang mempengaruhi
pelaksanaannya terdiri dari 2 faktor yaitu:
a. Faktor penghambat
1. Kepemimpinan dokter
2. Terbatasnya jumlah tenaga perawat
b. Faktor pendukung
1. Kondisi pasien
2. Dukungan instansi rumah sakit (Etty&Madya, 2013)
Hal-hal yang bisa diadvokasi oleh perawat ada beberapa poin yaitu
a. Anticipatory guidance (panduan antisipatif)
1. Primary prevention (pencegahan primer)
2. Membantu klien kemungkinan mengalami kesulitan
3. Mengantisipasi keluarga dalam menangani masalah – masalah
keterbatasan dan penyakit kronik.
b. Role Modeling
Perawat menjadi role mode dengan berperilaku yang benar:
berbicara, senyum, penanganan pasien secara professional
c. Educational information
1. Pembelajaran dan pemberian informasi
2. Membantu memilih dan menentukan pilihan terhadap informasi
yang diberikan
3. Membantu klien mengumpulkan informasi dan belajar terhadap
10

perilaku promosi kesehatan


d. Ongoing support (berkelanjutan dukungan)
1. Memberikan bantuan pada klien dalam membuat keputusan yang
beralasan
2. Perawat sebagai patner dalam menyelesaikan masalah kebutuhan
kesehatan
e. Collaboration and Referral (kolaborasi dan referal)
1. Masalah kesehatan bersifat multidimensi melibatkan
multidisiplin.
2. Perawat memberikan penjelasan terhadap masalah yang
melibatkan tenaga kesehatan lain
3. Pendekatan interdisiplin pada semua anggota tim kesehatan.

2.5 Pasien dan Keluarga


1. Pasien
Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik
secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit (Pasal 1 ayat (4) UU
44/2009 Tentang Rumah Sakit). Selain itu, perawat juga harus dapat
mempertahankan dan melindungi hak-hak klien tersebut antara lain:
1. Hak Pasien
a. Memperoleh informasi
b. Memperoleh pelayanan yang manusiawi
c. Memperoleh pelayanan medis sesuai dengan standar profesi
d. Memperoleh Asuhan Keperawatan sesuai dengan standar
e. Memilih dokter dan kelas perawatan
f. Memperoleh second opinion
g. Memperoleh privacy
h. Menyetujui atau memberikan ijin tindakan
i. Menolak tindakan
j. Didampingi keluarga dalam keadaan kritis
k. Menjalankan ibadah
11

l. Keamanan & keselamatan diri


m. Mengajukan usul, saran, perbaikan
2. Kewajiban Pasien
a. Menaati Aturan dan Tata Tertib Rumah Sakit
b. Mematuhi segala Instruksi Dokter dan Perawat
c. Memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya tentang
penyakit yang diderita kepada dokter yang merawat
d. Melunasi semua imbalan atau jasa pelayanan Rumah Sakit atau
dokter
e. Memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah
dibuatnya. (Hak & Kewajiban Pasien Rumah Sakit Ken Saras.,UU
No.29 Tahun 2004 tentang praktek kedokteran pasal 52-53 & UU
No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 31-32)
2. Keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peran masing-
masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998). Keluarga adalah
unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ayah
dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Suprajitno, 2004).
12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Praktik keperawatan harus senantiasa meningkatkan mutu pelayanan
profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya.
Peran advokat pasien memiliki tiga komponen utama, yaitu sebagai
pelindung, mediator, dan pelaku tindakan atas nama pasien.

3.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa mengerti, paham serta dapat menerapkan hal baik
yang berkaitan dengan peran perawat sebagai advokator khususnya di
bidang gawat darurat
13

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta


Blais, Jonice. 2007. Praktik Keperawatan Profesional. Widya Medika. Jakarta
Armstrong, E. Alan. 2007. Nursing Ethics. Macmillan: Palagrave
Dewi. A. I. 2008. Etika Dalam Hukum Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher
Hidayat. A.A. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba
Medika
Purba. 2009. Dilema Etik Dan Pengambila Keputusan Etis. Jakarta