Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit dan CPO merupakan salah satu komoditas ekspor andalan
Indonesia. Dengan usaha-usaha yang dilakukan baik pemerintah maupun
perusahaan swasta yang melakukan ekstensifikasi dan pengembangan pertanian
serta pemanfaatan teknologi dalam proses pembibitan dan pengolahan sawit, saat
ini Indonesia menjadi negara penghasil CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia.
Bisnis dan investasi pada bidang Kelapa Sawit dalam beberapa tahun terakhir
mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Permintaan atas minyak nabati dan
penyediaan biofuel telah mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang
bersumber dari CPO (Crude Palm Oil) yang berasal dari Kelapa Sawit. Hal ini
disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi menghasilkan minyak sekitar 7
ton/hektar, lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai yang hanya 3 ton/hektar.
Buah sawit yang dikenal dengan bermacam jenis, mempunyai pola panen
yang kita kenal sebagai tingkat kematangan. Kematangan buah sangat
menentukan hasil rendemen minyak yang dihasilkan. Berbagai standart baku mutu
buah tentunya akan menjadi tolak ukur dalam perancangan pengolahan Pabrik
Minyak Kelapa Sawit. Dengan melihat pola panen yang sesuai akan mendongkrak
tingkat mutu buah. Buah yang telah dipanen selayaknya secepatnya
didistribusikan ke pabrik pengolahan agar tidak teroksidasi oleh enzim dan udara
yang meningkatkan nilai keasaman (salah satu parameter produk). Sistem
distribusi, pola panen dan tidak tersedianya kapasitas pabrik pengolahan yang
memadai mengakibatkan terjadinya buah restant (waste fruit) dan buah gugur
(berondolan).
Pabrik Kelapa Sawit yang lebih menekankan dalam hal pemanfaatan buah
restan dan buah berondolan yang kualitasnya tidak memenuhi standar bahan baku
CPO standar bahan pangan, mengakibatkan buah sawit restan dan berondolan
memiliki kandungan Asam lemak bebas lebih dari 6%. Hal ini akibat dari
berlangsungnya proses oksidasi secara alami akibat lamanya buah diolah di Pabrik
ataupun logistik dan transportasi yang tidak memadai di lapangan. Sebagaimana
standar pengolahan buah adalah 24-48 jam pasca panen. Dengan kondisi asam
2

lemak bebas yang tinggi ini tentu tidak memenuhi standar kualitas pangan yang
disyaratkan. Selain faktor asam lemak bebas yang tinggi, secara kualitas kadar
minyak yang ada pada buah restan dan berondolan tidak jauh berbeda dibanding
buah segar yang diolah untuk bahan pangan, hal ini berbeda jika buah restan dan
berondolan yang ada merupakan buah mentah atau belum memenuhi syarat
fisiologis untuk panen.
Tandan Buah Segar (TBS) dengan mutu yang baik akan menghasilkan :
1. Minyak sebanyak 20-25%
2. Inti (kernel) sebanyak 4-6%
3. Cangkang 5-9%
4. Tandan kosong (empty fruit bunch) 20-22%
5. Serat (fiber) 12-14%
Dalam proses pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga
menjadi CPO ( Crude Palm Oil ) , ada beberapa proses yang harus dilalui dan
proses tersebut pada intinya untuk semua pabrik sama. Namun seiring dengan
perkembangan teknologi maka ada beberapa modifikasi pada masing - masing
stasiun pengolahan, hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

1.2 Prospek Pendirian Pabrik


Sekitar 85% dari produksi methanol digunakan pada industry kimia lainnya
sebagai material umpan atau pelarut untuk sintesis antaranya: formaldehid, metal
ters-butyl eter (MTBE), asam asetat, metal metakrilat, dan dimetil tereftalat.
Masih sedikit porsi methanol digunakan untuk produksi energi, meskipun
methanol memiliki potensi yang sangat besar (Arthur, 2009). Metanol merupakan
bahan pengganti produk petroleum yang sangat menjanjikan. Sebagai dampak dari
krisis bahan bakar pada awal 1970an, beberapa proyek dimulai dengan
berdasarkan asumsi bahwa penggunaan produksi methanol dari gas alam akan
menjadikannya lebih ekonomis (Fiedler dkk, 2005). Kebutuhan methanol dalam
negeri masih dicukupi melalui impor. Perancangan pabrik methanol ini
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan methanol dalam negeri sehingga dapat
mengurangi nilai impor.
Tabel 1.2 Data impor metanol di Indonesia
3

Tahun Jumlah Impor (Kg)


2018 254.628.199
2017 217.880.990
2016 261.316.703
2015 113.188.955
2014 381.016.731
2013 163.169.839
2012 147.638.895
2011 155.965.629
(Sumber: BPS, 2018)

Berdasarkan data statistik perdagangan luar negeri Indonesia, kebutuhan


methanol di Indonesia cukup banyak. Kapasitas produksi domestik yang ada
masih belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan methanol dalam negeri,
menyebabkan adanya ketergantungan impor dari luar negeri.

450000000
400000000
350000000
Jumlah Impor (kg)

300000000 y = 1E+07x - 3E+10

250000000
200000000
150000000
100000000
50000000
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Tahun

Gambar 1.1 Grafik impor metanol di Indonesia

Dari data impor methanol Indonesia yang tersaji pada Tabel 1.1 dengan
asumsi mengabaikan penurunan impor, dapat dilihat bahwa kebutuhan impor
methanol di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat sesuai
dengan persamaan garis lurus y = 1E+07x - 3E+10 , dengan y adalah jumlah
impor methanol pada tahun tertentu, sedangkan x adalah tahun. Dari persamaan y
= 1E+07x - 3E+10 besarnya impor methanol pada tahun 2028 diperkirakan
sebesar 185.040.601,00 kg/tahun.

1.3 Aplikasi Methanol


4

Methanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alkohol atau spiritus.
Metanol adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH yang merupakan
bentuk alkohol paling sederhana. Pada keadaan atmosfer methanol berbentuk
cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan
beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan dari pada etanol). Metanol
merupakan senyawa yang sangat esensial sekarang ini. Metanol merupakan
senyawa intermediate yang menjadi bahan baku untuk berbagai industri antara
lain industri asam asetat, formaldehid, MTBE, polyvinyl, polyester, rubber, resin
sintetis, farmasi, DME, dan lain sebagainya.
Menurut Othmer (1995), Methanol dapat diaplikasikan menjadi bahan baku
industry lainnya, misalnya sebagai berikut:
1. Formaldehida. Diseluruh dunia, jumlah formaldehida terbesar dikonsumsi
dalam produksi resin urea-formaldehida, penggunaan akhir primer berupa
produk-produk bangunan seperti Kayu lapis dan papan partikel (amino resins
dan plastics). Pasar formaldehid berkembang sangat cepat dengan
memproduksi bahan kimia asetilenik, yang didorong oleh permintaan pasar
1,4-butanediol dan produk hilir berikutnya, serat spandeks (serat
elastomerika).
2. Metil T-butil Ether. MTBE digunakan sebagai aditif oksigen untuk bensin.
Produksi MTBE di Amerika Serikat telah meningkat, karena persyaratan
amandemen clean air act 1990, dan telah melampaui penggunaan formaldehid
sebagai konsumen domestic terbesar methanol.
3. Asam asetat. Karbonilasi methanol merupakan proses untuk produksi bahan
pokok industry kimia organic, yang digunakan dalam pembuatan serat asetat,
asetat anhidrat, dan asam tereftalat, dan untuk fermentasi ( Acetic acid dan
Derivatif).
4. Pasar lainnya. Penggunaan methanol dalam produksi formaldehida, MTBE,
dan asam asetat sekitar dua pertiga dari permintaan methanol diseluruh dunia.
Methanol digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai bahan kimia lainnya,
seperti dimetil tereftalat (DMT), metil metakrilat, metilamin, dan metil halida.
Dalam produksi dimetil eter dari methanol karena penggunaannya sebagai
pengganti klorofluorokarbon sebagai propelan aerosol. Methanol juga
5

digunakan sebagai pelarut, antibeku dalam pipa, dan lumpur pengeboran di


ladang minyak.
1.4 Renacana Kapasitas
Penentuan kapasitas produksi methanol didasarkan pada beberapa
pertimbangan, yaitu proyeksi kebutuhan produk methanol, ketersediaan bahan
baku, serta kapasitas pabrik methanol yang sudah ada. Laju produksi pabrik
ditentukan dengan melihat kebutuhan impor methanol yang ada di Indonesia.

450,000,000.00
400,000,000.00
350,000,000.00
y = 1E+07x - 2E+10
total impor (kg)

300,000,000.00
250,000,000.00
200,000,000.00
150,000,000.00
100,000,000.00
50,000,000.00
-
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
tahun impor

Gambar 1.2 Grafik impor metanol di Indonesia


Gambar 1.2 menunjukkan bahwa kebutuhan dalam negeri terhadap
methanol semakin tahun mengalami peningkatan dengan mengabaikan data
penurunan grafik impor methanol. Berdasarkan data grafik impor methanol dapat
dikatakan perusahaan yang telah memproduksi methanol di Indonesia masih
sedikit. Di indonesia terdapat dua pabrik methanol, yaitu :
1. Medco Methanol Bunyu
Kapasitas produksi dari pabrik medco methanol bunyu sendiri yaitu 330.000
ton/tahun. Sedangkan untuk penyediaan dalam negeri 297.000 ton/tahun.
2. Kaltim Methanol Industry
Kapasitas produksi dari pabrik kaltim methanol industry sendiri yaitu 660.000
ton/tahun. Sedangkan penyediaan dalam negeri 260.000 ton/tahun.
6

Sehingga dapat diketahui bahwa jumlah total produksi untuk dalam negeri
sebesar 990.000 ton/tahun. Banyaknya produksi methanol ini dipengaruhi oleh
industry-industri lain yang memproduksi senyawa turunannya. Berdasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan ini, maka ditetapkan kapasitas untuk rancangan
pabrik methanol adalah 280.000 ton/tahun yang akan didirikan pada tahun 2028.

1.5 Lokasi Perancangan


Pendirian pabrik metanol dengan bahan baku natural gas direncanakan
akan dibangun di Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.
Pemilihan lokasi ini didasarkan karena dekat dari PT. LNG Tangguh yang
menghasilkan natural gas sebagai bahan baku pembuatan metanol.

Gambar 1.3 Rencana Lokasi Pendirian Pabrik

1.5.1 Lokasi Pemasaran


Kawasan Bintuni ini sudah memiliki pelabuhan yang bisa dijadikan akses
untuk pendistribusian metanol ke berbagai daerah di Indonesia dan luar Indonesia.
Selain itu, daerah Papua Barat merupakan salah satu pusat pengembangan
Indonesia bagian timur, sehingga akan membuka peluang usaha yang
menguntungkan.
1.5.2 Utilitas
Selain dekat dengan bahan baku, di kota Bintuni telah tersedia sistem
utilitas yang baik ini terbukti dengan adanya industri besar seperti PT. LNG
7

Tangguh. Fasilitas utilitas pabrik meliputi penyediaan air, bahan bakar, dan listrik.
Sarana penyediaan air dapat diperoleh dari teluk bintuni karena jangkauan jarak
yang relatif dekat dari Bintuni.
1.5.3 Akses Jalan
Bintuni telah memiliki akses jalan yang baik, dimana untuk mencapai
Bintuni dapat diakses melalui jalan darat dan untuk mempermudah dalam
pemasaran ke daerah-daerah yang dapat dijangkau melewati jalan darat. Bintuni
ini juga dilengkapi adanya bandar udara Stennkool yang dapat membantu
pendistribusian produk kepasaran di daerah-daerah yang tidak dapat ditempuh
melalui jalur darat serta laut tanpa adanya hambatan karena tersedianya
transportasi darat, laut, dan udara.
1.5.4 Tenaga Kerja
Kebutuhan tenaga kerja dapat diperoleh dari adanya universitas negeri
maupun universitas swasta yang ada di Riau, akademi-akademi serta sekolah-
sekolah kejuruan di Riau dan sekitarnya akan menampung ketersediaan tenaga
kerja ahli dan terdidik untuk ditempatkan secara proporsional.
8

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelapa Sawit


Kelapa sawit (Elaeis guineensis jack) adalah merupakan tanaman golongan
plasma yang menghasilkan minyak. Proses pembentukan minyak dalam kelapa
sawit berlangsung selama 3 – 4 minggu sampai tingkat matang morpologis, yaitu
buah telah matang dan kandungan minyak sudah optimal.
2.2 Deskripsi Proses
Kualitas hasil minyak CPO (Rendemen) yang diperoleh sangat dipengaruhi
oleh kondisis buah (TBS) yang diterima dan diproses oleh pabrik. Sedangkan
proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi meminimalkan kehilangan
(loses) dalam proses pengolahannya. Tandan buah Segar (TBS) yang telah
dipanen dari kebun diangkut ke lokasi Pabrik pengolahan Minyak Sawit dengan
menggunakan truk. Sebelum dimasukan ke dalam Loading Ramp, Tandan Buah
Segar tersebut harus ditimbang terlebih dahulu pada jembatan penimbangan
(Weighing Brigde) untuk mengetahui jumlah Tonase dari TBS yang diterima oleh
Pabrik.
Pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan usaha perkebunan kelapa sawit. Kualitas produksi pada pengolahan
kelapa sawit sangat berpengaruh terhadap rendement yang dihasilkan. Proses
pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil dan palm kernel
melalui banyak perlakuan dan tahapan. Proses pengolahan kelapa sawit dibagi
menjadi beberapa tahapan dan stasiun, yaitu sebagai berikut :
1. Stasiun penerimaan buah (fruit reception station)
2. Stasiun perebusan (sterilizing station)
3. Stasiun penebahan (threshing station)
4. Stasiun pengempaan (pressing station)
5. Stasiun pemurnian minyak (clarification station)
6. Stasiun pengolahan inti (kernel recovery station)
9

2.2.1 Stasiun Penerimaan Buah (Fruit Reception Station)


Stasiun penerimaan buah berfungsi sebagai tempat penerimaan buah
(TBS) dari perkebunan sebelum diolah. Pada stasiun ini dapat diketahui jumlah
TBS dari masing- masing kebun. Pada stasiun penerimaan buah ini meliputi :
1. Jembatan timbang (weight bridge)
2. Sortasi tandan buah segar.
3. Tempat pemindahan buah (loading ramp)
4. Lori Buah.

2.2.2 Stasiun Perebusan (Sterilization Station)


Baik buruknya mutu dan jumlah hasil olah suatu pabrik kelapa sawit,
terutama ditentukan oleh hasil rebusan. Oleh karena itu merebus, buah harus
sesuai dengan ketentuan yang ada dan merupakan hal yang mutlak dilakuakan.
Merebus tandan dengan uap mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Merusak enzim dan menghentikan peragian yang membentuk asam lemak
bebas
b. Membekukan getah dan protein
c. Memudahkan buah lepas dari tandan
d. Melonggarkan inti dari tempurung
Pada stasiun rebusan terdapat alat – alat sebagai berikut :
1. Alat Penarik (Capstand).
Capstand adalah alat penarik lori keluar dan masuk sterilizer.
2. Ketel Rebusan (Sterilizer).
Merupakan bejana uap tekan yang digunakan untuk merebus buah.
Sterilizer ini dapat memuat 8 buah lori dengan tekanan kerja maksimal 3
kg/cm2 dan suhu kerja maksimal 140oC. Untuk menjaga tekanan dalam
rebusan tidak melebihi tekanan kerja yang diizinkan, rebusan diberi katup
pengaman. Seluruh proses perebusan dilakukan dalam sterilizer
horizontal.
3. Tippler
Tippler merupakan tempat untuk menumpahkan buah kelapa sawit yang
sudah direbus dengan sterilizer dengan cara memutar lori 180o. Buah
kelapa sawit tersebut diangkut menggunakan conveyor menuju threser.
10

2.2.3 Stasiun Penebahan (Threshing Stasiun)


Stasiun penebahan merupakan stasiun yang berfungsi untuk memisahkan
buah dari tandannya dengan cara bantingan – bantingan dan berputar sekitar 23 –
25 rpm yang dinamai rotary drum threshing.

2.2.4 Stasiun Pengempaan (Pressing Station)


1. Digester
Digester merupakan sebuah alat yang terbuat dari besi pelat yang
berbentuk silinder dimana sekeliling dindingnya dipasang pelat mantel untuk
memanaskan adukan. Didalam silinder tersebut terdapat as yang dipasang pisau
aduk dan dibagian bawah dipasang satu pisau buang, untuk mengeluarkan masa-
adukan dari digester ke screw press. Digester berfungsi sebagai pencincang
brondolan yang telah terebus, sehingga menjadi campuran yang homogen antar
nuts dengan daging buah yang telah terpisah. Pada digester, dilakukan proses
exstraksi pertama untuk mengusahakan keluarnya minyak dari brondolan buah.
Mesin press adalah alat untuk memisahkan minyak kasar (crude oil) dari daging
buah (pericarp). Buah yang keluar dari digester diperas didalam mesin press
dengan tekanan 40 -50 bar dan dengan menggunakan air pengencer yang bersuhu
90 – 95 oC. Untuk menurunkan visikosits minyak, penambahan dapat pula
dilakukan pada oil gutter kemudian dialirkan melalui oil gutter ke stasiun
klarifikasi. Sedangkan ampas kempa dipecahkan dengan menggunakan cake
breaker conveyor untuk memudahkan memisahkan nuts dan ampas.
2. Pemisah Ampas Kempa (Cake Beaker Conveyor)
Ampas hasil press yang masih bercampur nuts dan berbentuk gumpalan –
gumpalan dipecah dan dibawa untuk dipisahkan antara ampas dan nuts. Alat ini
terdiri dari pedal–pedal yang diikat pada poros yang berputar 52 rpm. Kemiringan
pedal–pedal diatur sehingga pemecah gumpalan terjadi dengan sempurna.

2.2.5 Stasiun Pemurnian Minyak (Clarification Station)


Stasiun pemurnian minyak berfungsi untuk memisahkan minyak dari
kotoran dan unsur–unsur yang dapat mengurangi kualitas minyak dan
mengupayakan kehilangan minyak seminimal mungkin. Proses pemisahan
11

minyak, air, dan kotoran dalakukan dengan system pengendapan, sentrifuge, dan
penguapan.
Beberapa peralatan permurnian minyak yang digunakan pada stasiun
klarifikasi adalah sebagai berikut :
1. Talang Minyak (Oil Gutter)
Talang minyak berfungsi untuk menampung minyak hasil ekstraksi dari
mesin press selanjutnya dilakukan pengenceran. Pengenceran bertujuan untuk
memudahkan pemisahan minyak dengan pasir dan serat yang terdapat didalam
minyak, suhu air pengenceran 80 – 90oC.
2. Tangki Pemisah Pasir (Sand Trap Tank)
Sand trap tank (Tangki Pemisah Pasir) berfungsi untuk mengurangi
jumlah pasir dalam minyak yang akan dialirkan ke ayakan (saringan), dengan
maksud agar ayakan terhindar dari gesekan pasir kasar yang dapat menyebabakan
kehausan ayakan.
3. Ayakan Getar (Vibrator Screen)
Merupakan ayakan getar yang berfungsi untuk menyaring material-
material yang terbawa oleh minyak kasar dari tangki pemisahan pasir.
4. Crude Oil Tank (COT)
Crude oil tank (tangki minyak mentah) berfungsi menampung minyak
mentah yang telah disaring untuk dipompakan ketangki pemisah. Cairan yang
mempunyai berat jenis yang lebih ringan akan naik ke permukaan yang
selanjutnya akan mengalir ke continous settling tank. Untuk menjaga suhu tetap
konstan pada 80 – 90oC maka perlu diberikan penambahan panas dengan cara
menginjeksiakan uap kedalam tangki.
5. Continous Settling Tank (CST)
Continous Settling Tank berfungsi untuk mengendapkan sludge (lumpur)
yang terkandung dalam minyak kasar, untuk mempermudah pemisahan, suhu
harus dipertahankan antara 80 – 90oC dengan sistem injeksi uap. Didalam CST
minyak dibagi menjadi tiga bagian, bagian atas adalah minyak yang diambil
dengan bantuan skimer untuk dialirkan kedalam oil tank, bagian tengah
merupakan sludge yang masih mengandung minyak yang akan dialirkan ke sludge
tank, dan bagian bawah merupakan air untuk menaikan level minyak.
12

6. Oil Tank (OT)


Minyak yang telah dipisahkan pada tangki pemisah ditampung dalam
tangki ini untuk dipanaskan lagi dengan uap yang suhunya 90˚C untuk
memisahkan bagian air, selanjutnya minyak akan dipompa ke dalam tanki tunggu
sebelum diolah lebih lanjut pada oil purifier.
7. Oil Purifier
Oil purifier berfungsi untuk memisahkan minyak dengan air dan kotoran –
kotoran halus yang masih ada dalam minyak, pemisahan minyak dilakukan
dengan cara perbedaan berat jenis yang dimiliki minyak dan air.
8. Vacum Dryer
Vakum dryer digunakan untuk memisahkan air dengan minyak dengan
cara penguapan hampa. Uap air yang terkandung dalam minyak akan terhisap
pada tekanan atmosfir. Uap air yang terhisap akan dibuang ke atmosfir. Air akan
menguap sebesar 0,25-0,30 % , dibawah pelampung terdapat Toper spindle untuk
mengatur minyak yang disalurkan kedalam bejana vacum dryer sehingga
kehampaan dalam vakum dryer tetap 76 cmHg. Kemudian melalui nozzel, minyak
akan disemburkan kedalam bejana sehingga penguapan air akan lebih sempurna.
Untuk menjaga keseimbangan minyak masuk dan keluar dari bejana digunakan
float valve dibagian bawah bejana. Pada proses ini bertujuan untuk mendapatkan
minyak (CPO) dengan kandungan air 0,1%.
9. Storage Tank
Storage tank merupakan tangki penampung minyak sementara sebelum
dikirim ke konsumen atau tempat penampungan minyak hasil produksi. Tangki ini
dilengkapi dengan alat pemanas sistem coil yang dipasang pada dasar tangki.
Temperatur minyak dalam yangki dipertahankan sekitar 40 – 50o C.
10. Tangki lumpur (Sludge Tank)
Sludge tank berfungsi untuk menampung sludge yang berasal dari CST.
Minyak akan masuk melalui pipa yang mengarahkan sampai bagian dasar dari
sludge tank. Didalam tangki ini dilakukan pemanasan dengan menggunakan pipa
uap tertutup agar minyak tergoncang dan suhu tetap dipertahankan 95oC.
Pemanasan diharapkan dapat membuat minyak tetap pada keadaan mendidih
hingga nantinya akan memudahkan cairan minyak melayang ke atas hingga
13

permukaan tangki. Minyak yang telah mencapai permukaan akan mengalir


kedalam pipa yang selanjutnya akan dikirim pada disanding cyclone.
11. Sand Cyclone
Alat ini ditempatkan pada pipa aliran antara sludge tank yang kemudian
dialirkan melalui buffer tank. Sand cyclone berfungsi untuk mengurangi jumlah
pasir dan padatan yang mungkin masih terdapat pada minyak yang berasal dari
sludge tank. Alat ini terbuat dari keramik yang memisahkan lumpur atau pasir
secara garvitasi.
12. Sludge Buffer Tank
Sludge buffer tank berfungsi untuk menampung sludge yang masih
mengandung minyak sebelum diolah ke sludge separator.
13. Sludge Separator
Dengan gaya sentrifugal minyak yang berat jenisnya lebih kecil bergerak
menuju poros dan terdorong keluar melalui sudu – sudu menuju CST. Cairan dan
ampas yang berat jenis lebih besar terbuang keparit.
14. Sludge Drain Tank
Tangki ini dilengkapi dengan sistem pemanas injeksi untuk tujuan
pemanasan. Minyak yang terapung dibagian atas dialirkan ke tangki penampung
minyak (reclaimed oil tank) sedangkan sludge dibuang ke bak fat pit.
15. Reclaimed Oil Tank
Cairan dengan kadar minyak tinggi dari tangki minyak kutipan ditampung
dalam tangki ini untuk kemudian dipompa ke tangki pemisah.
16. Decanter
Decanter berfungsi untuk memisahkan fraksi minyak dengan fraksi air dan
fraksi padat atau fraksi padat dengan cairan. Pemisahan antara kotoran dan
minyak dilakukan dengan dasar perbedaan berat jenis pada dua kecepatan putaran
yang berbeda antara scroll dan bowl decanter, dimana pada proses ini terdapat 3
keluaran yang berbeda yaitu : cairan ringan keluar dari bowl-exis, cairan kaya
solid keluar dari bowl shell dan solid akan keluar pada bagian decanter.
14

17. Fat Pit


Fat pit digunakan untuk menampung cairan yang masih mengandung
minyak yang berasal dari air kondensat dari stasiun perebusan dan stasiun
klarifikasi. Minyak yang dikutip akan dipompakan kembali ke reclaimed oil tank.

2.2.6. Stasiun Pengolahan Inti (Kernel Station)


Campuran fibre dan inti yang keluar dari screw press akan diolah untuk
menghasilkan shell (shell) dan ampas (fibre) sebagai bahan boiler dan inti kelapa
sawit diolah lagi sehinga menjadi minyak inti sawit. Adapun bagian – bagian dari
stasiun pengolahan inti adalah sebagai berikut :
1. Cake Breaker Conveyor. Fungsinya adalah untuk mengantarkan ampas dan nuts
ke depericarper serta mengurangi kadar air fibre sehingga memudahkan kerja
blower pada depericarper. Alat ini terdiri dari pedal - pedal yang diikat pada
poros yang berputar 52 rpm. Kemiringan pedal – pedal diatur sehingga
pemecahan gumpalan terjadi dengan sempurna.
2. Depericarper. Depericarper adalah alat untuk memisahkan ampas dan nuts,
serta membersikan nuts dari sisa – sisa serabut yang masi melekat pada nuts. Alat
ini terdiri dari kolom pemisah dan drum pemolis (polishing drum).
3. Nuts Polishing Drum. Nuts polishing drum merupakan alat untuk memisahkan
fibre yang masih melekat pada nuts.
4. Nuts Silo. Nuts silo adalah alat yang digunakan untuk tempat pemeraman nuts
yang selanjutnya bila nuts tersebut telah cukup kering akan dipecah dengan alat
pemecah (ripple mill).
5. Ripple Mill. Ripple Mill adalah alat pemecah nut. Didalam ripple mill, nuts
akan dipecahkan menjadi inti (kernel) dan shell (shell).
6. Light Tenera Separation (LTDS 1). LTDS adalah pemisahan campuran
pertama yang berkerja berdasarkan atas berat dan kemampuan hisap blower.
7. Light Tenera Dust Separation (LTDS 2). Bentuk dan cara kerja sama dengan
LTDS 1, bentuk tromol tegak dan berfungsi untuk membersihkan kernel dari shell
– shell kasar dan kernel pecah yang ringanakan masuk ke shell hopper, sedangkan
kernel yang lebih berat tidak terhisap pleh blower sehingga akan jatuh ke kernel
transfer conveyor.
15

8. Claybath. Prinsip kerja Claybath hampir sama dengan pemisah kernel dengan
menggunakan hidrocyclone. Pemisahan kernel dengan shell menggunakan
claybath menggunakan CaCO3, pemisahannya berdasarkan berat jenis, shell yang
lebih berat akan tenggelam dengan batuan larutan CaCO3 dan kernel akan
terapung, shell dan inti pecah tersebut akan dipompakan ke vibrating screen, shell
dan inti pecah akan terpisah sendiri dan agar kernel bersih terhadap CaCO3 maka
dibilas dengan menggunakan air dingin. Shell yang terpisah masuk ke shell
transfort dengan bantuan blower sedangkan kernel jatuh ke kernel distributing
conveyor dan masuk ke kernel silo dengan bantuan kernel elevator.

9. Kernel Silo. Kernel silo adalah silinder tegak yang berlubang – lubang tempat
penyimpanan dan pengeringan kernel sebelum disimpan di bulk silo kernel.
Pengeringan menggunakan suhu 50 – 60oC agar kernel tidak berjamur dan dapat
tahan lebih lama serta mencegah menaikan kadar asam lemak bebas.
10. Kernel Bin. Kernel Bin adalah tempat penyimpanan kernel sebelum diolah
menjadi minyak inti (kernel oil), kernel bin ini suhunya harus juga dijaga, agar
kernel dalam keadaan kering dan tidak lembab.

2.2.7. Mesin Westfalia Separator


Mesin Westfalia Separator berfungsi untuk memisahkan minyak dengan air dan
kotoran – kotoran halus yang masih ada dalam minyak, pemisahan minyak
dilakukan dengan gaya sentrifugal. Dengan adanya perbedaan berat jenis antara
sludge dengan minyak, maka minyak akan naik keatas dan diteruskan ke Vakum
dryer untuk mengurangi kadar air. Proses kerja Mesin Wesfalia Separator
didukung oleh pompa sentrifugal. Pompa sentrifugal digunakan untuk mensuplai
minyak dari Mesin Westfalia Separator ke Vakum dryer.
16

BAB III
SELEKSI DAN DESKRIPSI PROSES

3.1 Seleksi Proses


Tabel 3.1 menyajikan data perbandingan dari berbagai proses yang dapat
digunakan dalam memproduksi metanol.

Tabel 3.1 Perbandingan Proses dalam Mensintesis Metanol


No. Spesifikasi Lurgi ICI Holder MGC Kellog
Topsoe
1. Kondisi
Operasi:
- Tekanan 40-100 50-100 100-200 50-150 100-150
(bar)
- Suhu (°C) 220-260 220-280 200-310 200-280 200-280
2. Reaktor:
- Karakteristik Shell & Quench Adiabatis Annular Adiabatis
Tube (radial) (aksial)
- Jumlah reaktor 1 1 3-4 1 3-4
- Pendingin Air Cold Intermediete Air Intermediete
Pendingin Quench cooler pendingin cooler
(shell side) (outertube)
3. Kelebihan Efisiensi Sudah Kecepatan Profil suhu Kecepatan
termal dan establish dan ideal, dan
selektivitas dan kapasitas katalis kapasitas
yang banyak produksi yang produksi
tinggi. digunakan yang tinggi dibutuhkan yang tinggi
Suhu lebih sedikit
stabil
4. Kekurangan Kapasitas Efisiensi Tingginya Rumit dan Tingginya
produksi termal kondisi biaya kondisi
tidak rendah, operasi, reaktor operasi,
terlalu kerusakan menurunkan mahal menurunkan
besar katalis selektivitas selektivitas

Tabel 3.2 menyajikan kelebihan dan kekurangan dari berbagai proses untuk
menghasilkan syngas yang digunakan dalam pembuatan metanol.

Tabel 3.2 Kelebihan dan Kekurangan Berbagai Proses dalam menghasilkan


syngas
Teknologi Kelebihan Kekurangan
Two-step - Jumlah metana yang tidak beraksi - Membutuhkan biaya
Reforming sedikit sehingga menghasilkan yang besar karena
syngas yang murni menggukan reformer
- Kandungan metana dalam syngas yang lebih dari 1
17

bisa dihilangkan dengan cara - Menggunakan suhu


menyesuaikan suhu outlet dari yang lebih tinggi
secondary reformer - Membutuhkan proses
yang komplit
Autothermal - Tidak membutuhkan suhu yang - Membutuhkan oksigen
Reforming tinggi pada prosesnya dalam prosesnya
- Jumlah metana yang tidak beraksi - Pengalaman yang
sedikit sehingga menghasilkan masih belum terlalu
syngas yang murni luas dalam
- Kandungan metana dalam syngas penggunaannya
bisa dihilangkan dengan cara
menyesuaikan suhu outlet dari
secondary reformer
- Menghasilkan rasio H2/CO yang
bagus pada syngas
SMR - Tidak membutuhkan oksigen - Menghasilkan emisi
dalam prosesnya udara yang tinggi
- Tidak membutuhkan suhu yang
tinggi dalan prosesnya
- Pengalaman yang luas unutk
penggunaannya
- Menghasilkan rasio H2/CO yang
bagus pada syngas
Heat - Rangkaian unit yang bekerja seca - Membutuhkan biaya
Exchanger sinergis yang besar karena
Reforming - Sistem yang fleksibel sehingga membutuhkan lebih
mudah untuk menigkatkan dari 1 reformer
kapasitas produksi - Pengalaman yang
masih belum terlalu
luas dalam
penggunaannya
- Terkadang
membutuhkan
kombinasi dengan
teknologi lain

3.2 Proses yang Dipilih


Dari berbagai data dari proses di atas, dipilih proses sintesis metanol
menggunakan proses Lurgi dengan jenis reaktor fixed bed multitube serta
teknologi ATR dalam menghasilkan syngas. Hal yang menjadi pertimbangan
sebagai berikut :
1. Perpindahan Panas Baik
Dengan reaktor multitube, adanya tube akan memperluas bidang kontak
antara reaktan dan media pendinginnya. Semakin luas bidang perpindahan panas,
18

semakin cepat kecepatan perpindahan panasnya. Reaksi sintesis metanol


merupakan reaksi eksotermis. Sehingga. perpindahan panas yang cepat diperlukan
untuk mengontrol suhu reaksi sintesis metanol dengan baik.
2. Selektivitas Produk Tinggi
Pada proses ini digunakan katalis berbasis tembaga dengan pendukung
berupa senyawa aluminium dan seng (Cu/Al2O3/ZnO). Penggunaan katalis
berbasis tembaga telah terbukti memiliki selektivitas tinggi terhadap produk
metanol, sehingga mayoritas pabrik metanol saat ini menggunakan katalis
tersebut.
3. Fabrikasi Reaktor Relatif Sederhana
Reaktor yang digunakan ini mirip dengan heat exchanger (HE) jenis
multitube, yang merupakan alat yang umum digunakan di pabrik kimia. Dengan
perkembangan teknologi pembuatan HE yang semakin maju, pembuatan reaktor
dengan jenis ini relatif mudah dilakukan.
4. Kondisi Operasi Termasuk Kategori Medium
Penggunaan jenis reaktor dan katalis pada proses Lurgi ini, kondisi operasi
yang diperlukan tidak terlalu ekstrim (P < 100 atm, T < 300 oC). Sebagai
pembanding, proses sintesis metanol skala industri yang pertama kali didirikan
(Proses BASF), memiliki tekanan operasi 300 atm dan dengan suhu yang ekstrim.
Dengan kondisi operasi proses Lurgi, tebal alat yang dipakai cukup wajar,
sehingga harga material reaktor relatif murah. Selain itu, kondisi operasi yang
semakin rendah, berdampak pada hazard bawaan dari proses yang akan semakin
rendah.

3.3 Uraian Proses yang Dipilih


Berikut penguraian proses yang telah dipilih mengikuti bagan pada Gambar 2.7:
3.3.1 Pre-Reforming
Pre-Reforming adalah istilah yang telah diterapkan pada steam reforming
hidrokarbon suhu rendah dalam reaktor adiabatik sederhana. Pre-Reforming
memanfaatkan konten panas dari aliran umpan untuk mendorong reaksi steam
reforming pada suhu rendah. Reaktor ini juga menggunakan katalis nikel untuk
meningkatkan laju reaksi. Pre-Reforming ini mampu mengubah hidrokarbon yang
lebih tinggi menjadi metana dan karbon dioksida. Proses ini beroperasi pada suhu
19

sekitar 497ºC. Reaksi pre-Reforming menghasilkan campuran gas ekuilibrium


yang mengandung hidrogen, karbon monoksida, karbon dioksida, metana dan uap
sesuai reaksi yang diberikan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Reaksi pada Proses Pre-Reforming


Reaksi ∆H (kJ/mol) ∆G (kJ/mol) ∆S (J/Kmol) Tcarnot (K)
C2H6 + 2H2O  2CO + 347.24 215.70 441.41 786.66
5H2
C3H8 + 3H2O  3CO 521.46 282.52 801.81 650.35
+7H2
n-C4H10 + 4H2O  676.77 365.62 1044.14 648.16
4CO + 9H2
CH4 + H2O  CO + 205.88 141.97 214.47 959.95
3H2
CO + H2O  H2 + -41.14 -28.61 -42.05 978.36
CO2

3.3.2 Reaksi Autotermik


ATR beroperasi pada uap rendah hingga mencapai rasio karbon dan
pengembangan desain burner yang baru memastikan operasi yang aman dan
faktor-faktor aliran yang tinggi. Pengukuran alternatif untuk mencapai rasio H2 /
CO yang lebih rendah adalah dengan cara penambahan oksigen. Autothermic
reforming adalah me-reforming hidrokarbon ringan dalam campuran uap dan
oksigen dengan adanya katalis. Reaksi oksidasi digunakan untuk menyesuaikan
rasio sintetis. Dalam proyek ini, proses ATR digunakan untuk menghasilkan
syngas dengan rasio sintetis sekitar 2. Reaksi yang terjadi dalam reaktor ATR
ditunjukkan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Reaksi yang Terjadi pada Reaktor ATR


Rekasi ∆H ∆G ∆S Tcarnot
(kJ/mol) (kJ/mol) (J/Kmol) (K)
CH4 + 3/2 O2  CO + 2H2O -519.60 -543.80 81.23 -6396.65
CH4 + H2O  CO + 3H2 205.88 141.97 214.47 959.95
Rekasi ∆H ∆G ∆S Tcarnot
(kJ/mol) (kJ/mol) (J/Kmol) (K)
CO + H2O  H2 + CO2 -41.14 -28.61 -42.05 978.36

3.3.3 Proses Pemisahan


Semua reaksi yang terjadi dalam ATR adalah reaksi eksotermik, suhu
produk sangat tinggi. Produk harus didinginkan ke suhu yang lebih rendah
20

sebelum pemisahan dapat terjadi. Setelah mendinginkan produk, kemudian


dipisahkan menjadi bagian syngas yang berada di bagian atas pemisah, sedangkan
air dalam campuran kelaur di bagian bawah.
3.3.4 Kompresi
Tekanan syngas yang berasal dari pemisah meningkat dari 30 bar ke 80 bar
dan ini dilakukan dengan menggunakan kompresor. Campuran dikompresi
kemudian dicampur dengan aliran daur ulang dari flash drum seperti yang
ditunjukkan dalam lembar aliran. Suhu campuran yang dihasilkan kemudian
dinaikkan menjadi 270ºC sebelum memasuki reaktor metanol.
3.3.5 Sintesis Metanol
Syngas yang dibuat dan daur ulang pada suhu 270 ºC dan tekanan 80 bar
mengandung sebagian besar hidrogen, karbon monoksida dan karbon dioksida.
Reaksi utama untuk pembentukan metanol adalah hidrogenasi CO, hidrogenasi
CO2 dan kemudian digabungkan dengan reaksi pergeseran gas air berbalik.
Metanol secara termodinamis kurang stabil dan oleh karena itu katalis yang
digunakan harus sangat selektif. Ketiga reaksi tersebut disajikan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Reaksi pada Sintesis Metanol


Reaksi ∆H (kJ/mol) ∆G (kJ/mol) ∆S (J/Kmol) Tcarnot (K)
CO + 2H2  CH3OH -90.45 -25.15 -219.13 412.77
CO2 + 3H2  -49.43 3.46 -177.09 279.12
CH3OH + H2O
CO2 + H2  H2O + 41.14 28.61 42.05 978.36
CO

Dua reaksi independen (hidrogenasi karbon monoksida dan pergeseran gas


air berbalik) dianggap keluar dari tiga reaksi tergantung (1) - (3). Tingkat
konstanta reaksi dikombinasikan dengan konstanta laju kesetimbangan
menyediakan cukup informasi tentang kinetika sintesis metanol. Konstanta laju
reaksi, konstanta kesetimbangan adsorpsi dan konstanta kesetimbangan reaksi
yang muncul dalam ekspresi kinetika disajikan pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Data Kesetimbangan dan Kinetika dari Proses Sintesis Metanol
k = A exp (B/RgT) A B
ka (bar-1/2) 0.499 17197
kb (bar-1) 6.62x10-11 124119
kc 3453.38 -
21

kd (mol/kg s bar2) 1.07 36696


ke (mol/kg s bar) 1.22x1010 -94765

𝑨 A B
Keq = 10 (𝑻-B)
K1eq (bar-2) 3066 10.592
K2eq 2073 2.029

Limbah reaktor didinginkan hingga 40 °C sebelum dikirim ke pemisah


uap-cair. Pemisahan gas / cairan dilakukan dalam bejana bertekanan. Gas didaur
ulang setelah membersihkan sebagian kecil untuk menjaga tingkat inerts masih
dalam batasnya. Metanol mentah kemudian dikirim ke bagian pemurnian.
Spesifikasi desain dan informasi katalis untuk reaktor industri metanol diberikan
dalam Tabel 3.7.

Tabel 3.7 Data Katalis dan Reaktor


Parameter Nilai
Jumlah Tube 5500
Densitas (kgm-3) 1775
Diameter Partikel 5.47x10-3
Kapasitas Panas (kJ kg-1 K-1) 5
Panjang Reaktor (m) 7.022
Bed Void Fraction 0.39
Densitas dari Catalyst Bed (kgm-3) 1140
Diameter Dalam Tube (m) 0.038
Diameter Luar Tube (m) 00.42

3.3.6 Pemurnian
Campuran air-metanol disuling untuk memenuhi spesifikasi akhir. Sangat
penting bagi metanol untuk dimurnikan, baik dengan distilasi ataupun dengan
deep flashing untuk menghilangkan komponen yang mudah menguap seperti CO2
dan memungkinkan untuk prosess pengiriman dan transportasi di bejana atmosfer.
Ada tiga tingkat metanol yaitu: kelas kimia AAA (99,85% MeOH, 0,1% berat air,
dan konsentrasi alkohol yang lebih tinggi pada tingkat suku cadang per juta),
Kelas bahan bakar (97% MeOH, 1% berat air, 1,5% % alkohol dan 0,5%%
minyak proses) dan kelas MTBE (97wt% MeOH, 1wt% air, 2% alkohol, 150ppm
metil asetat, 0,3% berat medium cair inert).

3.5 Spesifikasi Bahan Baku


22

Bahan baku yang digunakan oleh pabrik untuk pembuatan methanol adalah
natural gas. Spesifikasi natural gas yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5 Spesifikasi Gas Alam
Parameter Spesifikasi
Metana 92%
Etana dan hidrokarbon 5%
Nitrogen 2%
CO2 1%
Kandungan sulfur Sedikit
Wujud Gas
Warna Tidk berwarna
Density 0,6165 mol/m3
Moisture 0,15 lb/MMSCF

3.6 Spesifikasi Produk


Produk yang dihasilkan dari proses pabrik ini adalah metanol. Spesifikasi
metanol yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.6 Spesifikasi Metanol
Parameter Spesifikasi
Wujud Cair
Warna Bening
Kemurnian Min 99.85% berat
Impuritas 0,15% berat
Titik didih 64,7 oC
Specifik gravity 0,7928

3.7 Sifat Fisika dan Kimia Bahan Baku dan Produk


Sifat fisika dan kimia dari bahan baku dan produk dapat dilihat pada tabel
3.7
Tabel 3.7 Sifat Fisika dan Kimia Bahan Baku dan Produk
Bahan baku Produk
Parameter
Natural gas Metanol
Wujud Gas Cair
Warna Tidak berwarna Bening
Titik didih -161,5 oC 64,7 oC
Titik beku -182,5 oC -97,8 oC
Titik nyala -188 oC 9,7 oC
Densitas 0,6165 mol/m3 0,79 gr/cm3
23

Kelarutan dalam air 0,0022% larut dalam porsi apapun


Rumus molekul CH4 CH3OH
Bau Khas gas alam alkohol
24

DAFTAR PUSTAKA

Albab, J. S. 2016. Mencari Landasan Hukum Pembentukan Badan Penyangga


(Aggregator) Gas Alam. Jurnal . 7(2); 237-250. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.

Aasberg, K. P., Charlotte, S. N., Ib, D., Jens, P. Large Scale Methanol Production
from Natural Gas.

Arthur, T. 2009. Simulation, Optimal Operation And Self-Optimizing Control Of


Methanol Process. Norwegia: Norwegian University of Science and
Technology.

Badan Pusat Statistik. 2018. ,Ekspor dan Impor, http://bps.go.id/


all_newtemplate.php,diakses 1 Oktober 2018.

Othmer, K. 1995. Encyclopedia Of Chemical Technology. Edisi 4. Vol. 16.


Canada: Jhon Willey & Sons, Inc.

Ullmann, F., 2005, “Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry”, pp.14119-


14120, John Wiley & Sons, New York.