Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

“PRAKTEK COMPOUNDING & DISPENDING”


MONITORING EFEK SAMPING OBAT (MESO)
“KASUS 1”

DISUSUN OLEH:
Wahyu Mukti Wijaya 1820364080
Windy Tri Kurnianti 1820364081
Kelompok :B

PROGRAM PROFESI APOTEKER XXXVI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini


disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat
sehingga informasi dengan cepat dapat diakses oleh semua orang sehingga informasi
dengan cepat diketahui oleh masyarakat.
Lama perawatan di rumah sakit telah menurun secara dramatis dalam era
peningkatan biaya keperawatan kesehatan, potongan anggaran yang besar, managed
care, perkembangan teknologi yang cepat, dan pemberian pelayanan yang maju,
karena penyebab langsung, atau efek langsung dari variabel ini, industri perawatan di
rumah menjadi alat untuk menurunkan biaya dan lama perawatan. Akibatnya, industri
perawatan di rumah berkembang menjadi masalah yang kompleks dan harus diatasi
dengan perhatian yang besar bila salah satu tujuannya adalah memberi hasil yang
terbaik bagi setiap individu.
Home care adalah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien, individu
dan keluarga, direncanakan, dikoordinasikan, dan disediakan, oleh pemberi
pelayanan, yang diorganisir untuk memberi pelayanani rumah melalui staf atau
pengaturan berdasarkan perjanjian kerja atau kontrak (Warola, 1980 Dalam
Perkembangan Modal Praktek Mandiri Keperawatan Di Rumah Yang Disusun Oleh
PPNI dan DEPKES).
Hasil kajian Depkes RI tahun 2000 diperoleh hasil : 97,7 % menyatakan
perlu dikembangkan pelayanan kesehatan di rumah, 87,3 % mengatakan bahwa perlu
standarisasi tenaga, sarana dan pelayanan, serta 91,9 % menyatakan pengelola
keperawatan kesehatan di rumah memerlukan izin operasional. Berbagai faktor yang
mendorong perkembangan pelayanan keperawatan kesehatan dirumah antara lain :
Kebutuhan masyarakat, perkembangan IPTEK bidang kesehatan, tersedianya SDM
kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI
Pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker adalah pendampingan
pasien oleh apoteker dalam pelayanan kefarmasian di rumah dengan
persetujuan pasien atau keluarganya.
Pelayanan kefarmasian di rumah terutama untuk pasien yang tidak
atau belum dapat menggunakan obat dan atau alat kesehatan secara mandiri,
yaitu pasien yang memiliki kemungkinan mendapatkan risiko masalah terkait
obat misalnya komorbiditas, lanjut usia, lingkungan sosial, karateristik obat,
kompleksitas pengobatan, kompleksitas penggunaan obat, kebingungan atau
kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana menggunakan
obat dan atau alat kesehatan agar tercapai efek yang terbaik
II. Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan
 Tujuan Umum
Tercapainya keberhasilan terapi obat
 Tujuan Khusus
a) Terlaksananya pendampingan pasien oleh apoteker untuk
mendukung efektifitas, keamanan dan kesinambungan pengobatan
b) Terwujudnya komitmen, keterlibatan dan kemandirian pasien dan
keluarga dalam penggunaan obat dan atau alat kesehatan yang tepat
c) Terwujudnya kerjasama profesi kesehatan, pasien dan keluarga
b. Manfaat
 Bagi Pasien
a) Terjaminnya keamanan, efektifitas dan keterjangkauan biaya
pengobatan
b) Meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan dan penggunaan obat
dan/atau alat kesehatan
c) Terhindarnya reaksi obat yang tidak diinginkan
d) Terselesaikannya masalah penggunaan obat dan/atau alat kesehatan
dalam situasi tertentu
 Bagi Apoteker

a) Pengembangan kompetensi apoteker dalam pelayanan kefarmasian di


rumah

b) Pengakuan profesi farmasi oleh masyarakat kesehatan, masyarakat


umum dan pemerintah

c) Terwujudnya kerjasama antar profesi kesehatan

1. Prinsip-Prinsip Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit


a. Pengelolaan pelayanan kefarmasian di rumah dilaksanakan oleh apoteker
yang kompeten
b. Mengaplikasikan peran sebagai pengambil keputusan profesional dalam
pelayanan kefarmasian sesuai kewenangan
c. Memberikan pelayanan kefarmasian di rumah dalam rangka
meningkatkan kesembuhan dan kesehatan serta pencegahan komplikasi
d. Menjunjung tinggi kerahasiaan dan persetujuan pasien (confidential and
inform consent)
e. Memberikan rekomendasi dalam rangka keberhasilan pengobatan
f. Melakukan telaah (review) atas penatalaksanaan pengobatan
g. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian berdasarkan pada diagnosa dan
informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan dan pasien/keluarga
h. Membuat catatan penggunaan obat pasien (Patient Medication Record)
secara sistematis dan kontiniu, akurat dan komprehensif
i. Melakukan monitoring penggunaan obat pasien secara terus menerus
j. Bertanggung jawab kepada pasien dan keluarganya terhadap pelayanan
yang bermutu melalui pendidikan, konseling dan koordinasi dengan
tenaga kesehatan lain
k. Memelihara hubungan diantara anggota tim kesehatan untuk menjamin
agar kegiatan yang dilakukan anggota tim saling mendukung dan tidak
tumpang tindih
l. Berpartisipasi dalam aktivitas penelitian untuk mengembangkan
pengetahuan pelayanan kefarmasian di rumah.

2. Pelayanan Yang Dapat Diberikan Apoteker


Jenis pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh Apoteker,
meliputi :
a. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan
pengobatan
b. Identifikasi kepatuhan dan kesepahaman terapeutik
c. Penyediaan obat dan/atau alat kesehatan
d. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah, misal
cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin, dll
e. Evaluasi penggunaan alat bantu pengobatan dan penyelesaian masalah
sehingga obat dapat dimasukkan ke dalam tubuh secara optimal
f. Pendampingan pasien dalam penggunaan obat melalui infus/obat khusus
g. Konsultasi masalah obat
h. Konsultasi kesehatan secara umum
i. Dispensing khusus (misal : obat khusus, unit dose)
j. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat
termasuk alat kesehatan pendukung pengobatan
k. Pelayanan farmasi klinik lain yang diperlukan pasien
l. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah
3. Peran Apoteker
Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah tidak dapat diberikan pada semua
pasien mengingat waktu pelayanan yang cukup lama dan berkesinambungan.
Oleh karena itu diperlukan seleksi pasien dengan menentukan prioritas pasien
yang dianggap perlu mendapatkan pelayanan kefarmasian di rumah. Pasien yang
perlu mendapat pelayanan kefarmasian di rumah antara lain :
 Pasien yang menderita penyakit kronis dan memerlukan perhatian khusus
tentang penggunaan obat, interaksi obat dan efek samping obat
 Pasien dengan terapi jangka panjang misal pasien TB, HIV/AIDS, DM dll
 Pasien dengan risiko adalah pasien dengan usia 65 tahun atau lebih
dengan salah satu kriteria atau lebih regimen obat sebagai berikut:
- Pasien minum obat 6 macam atau lebih setiap hari
- Pasien minum obat 12 dosis atau lebih setiap hari
- Pasien minum salah satu dari 20 macam obat dalam tabel 1 yang telah
diidentifikasi tidak sesuai untuk pasien geriatri
- Pasien dengan 6 macam diagnosa atau lebih

A. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)


1. Pengertian
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang
merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau
memodifikasi fungsi fisiologis.

2. Tujuan
 Menemukan efek samping Obat sedini mungkin terutama yang berat,
tidak dikenal dan frekuensinya jarang.
 Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping Obat yang sudah
sangat dikenal atau yang baru saja ditemukan.
3. Kegiatan
 Menganalisis laporan efek samping Obat.
 Mengidentifikasi Obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami efek samping Obat.
 Mengisi formulir Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
 Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.

4. Faktor yang perlu diperhatikan:


 Kerja sama dengan tim kesehatan lain.
 Ketersediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat.

 Siapa yang melaporkan?


Tenaga kesehatan, dapat meliputi:
 dokter,
 dokter spesialis,
 dokter gigi,
 apoteker,
 bidan,
 perawat,
 tenaga kesehatan lain.

 Apa yang perlu dilaporkan?


Setiap kejadian yang dicurigai sebagai efek samping obat perlu
dilaporkan, baik efek samping yang belum diketahui hubungan kausalnya
(KTD/AE) maupun yang sudah pasti merupakan suatu ESO (ADR).

 Bagaimana cara melapor dan informasi apa saja yang harus dilaporkan?
Informasi KTD atau ESO yang hendak dilaporkan diisikan ke dalam
formulir pelaporan ESO/ formulir kuning yang tersedia. Dalam penyiapan
pelaporan KTD atau ESO, sejawat tenaga kesehatan dapat menggali informasi
dari pasien atau keluarga pasien. Untuk melengkapi informasi lain yang
dibutuhkan dalam pelaporan dapat diperoleh dari catatan medis pasien.

 Karakteristik laporan efek samping obat yang baik.


Karakteristik suatu pelaporan spontan (Spontaneous reporting) yang baik,
meliputi beberapa elemen penting berikut:
1. Diskripsi efek samping yang terjadi atau dialami oleh pasien, termasuk
waktu mula gejala efek samping (time to onset of signs/symptoms).
2. Informasi detail produk terapetik atau obat yang dicurigai, antara lain:
dosis, tanggal, frekuensi dan lama pemberian, lot number, termasuk juga
obat bebas, suplemen makanan dan pengobatan lain yang sebelumnya telah
dihentikan yang digunakan dalam waktu yang berdekatan dengan awal
mula kejadian efek samping.
3. Karakteristik pasien, termasuk informasi demografik (seperti usia, suku dan
jenis kelamin), diagnosa awal sebelum menggunakan obat yang dicurigai,
penggunaan obat lainnya pada waktu yang bersamaan, kondisi ko-
morbiditas, riwayat penyakit keluarga yang relevan dan adanya faktor
risiko lainnya.
4. Diagnosa efek samping, termasuk juga metode yang digunakan untuk
membuat/menegakkan diagnosis.
5. Informasi pelapor meliputi nama, alamat dan nomor telepon.
6. Terapi atau tindakan medis yang diberikan kepada pasien untuk menangani
efek samping tersebut dan kesudahan efek samping (sembuh, sembuh
dengan gejala sisa, perawatan rumah sakit atau meninggal).
7. Data pemeriksaan atau uji laboratorium yang relevan.
8. Informasi dechallenge atau rechallenge (jika ada).
9. Informasi lain yang relevan.

 Kapan Melaporkan?
Tenaga kesehatan sangat dihimbau untuk dapat melaporkan kejadian
efek samping obat yang terjadi segera setelah muncul kasus diduga ESO atau
segera setelah adanya kasus ESO yang teridentifikasi dari laporan keluhan
pasien yang sedang dirawatnya.

 Analisis Kausalitas
Analisis kausalitas merupakan proses evaluasi yang dilakukan untuk
menentukan atau menegakkan hubungan kausal antara kejadian efek samping
yang terjadi atau teramati dengan penggunaan obat oleh pasien. Badan
Pengawas Obat dan Makanan akan melakukan analisis kausalitas laporan
KTD/ESO. Sejawat tenaga kesehatan dapat juga melakukan analisis kausalitas
per individual pasien, namun bukan merupakan suatu keharusan untuk
dilakukan. Namun demikian, analisis kausalitas ini bermanfaat bagi sejawat
tenaga kesehatan dalam melakukan evaluasi secara individual pasien untuk
dapat memberikan perawatan yang terbaik bagi pasien.
Tersedia beberapa algoritma atau tool untuk melakukan analisis
kausalitas terkait KTD/ESO. Pendekatan yang dilakukan pada umumnya
adalah kualitatif sebagaimana Kategori Kausalitas yang dikembangkan oleh
World Health Organization (WHO), dan juga gabungan kualitatif dan
kuantitatif seperti Algoritma Naranjo. Di dalam formulir pelaporan ESO atau
formulir kuning, tercantum tabel Algoritma Naranjo, yang dapat sejawat
tenaga kesehatan manfaatkan untuk melakukan analisis kausalitas per individu
pasien. Berikut diuraikan secara berturut-turut Kategori Kausalitas WHO dan
Algoritma Naranjo.

 STROKE

Stroke merupakan penyebab kematian tersering ketiga pada orang dewasa di


Amerika Serikat. Angka kematian setiap tahun akibat stroke baru atau rekuren
adalah lebih dari 200.000.Insiden stroke secara nasional diperkirakan adalah
750.000 per tahun, dengan 200.000 merupakan stroke rekuren.Angka kejadian di
antara orang Amerika keturunan Afrika adalah 60% lebih tinggi dari pada orang
kaukasoid (Price dan Wilson, 2006). Di Inggris stroke menyebabkan kematian
antara 174 sampai 216 orang per tahunnya dan menyumbang 11% dari seluruh
kematian di Inggris dan Wales. Sedangkan stroke berulang dalam waktu lima
tahun dari stroke pertama adalah 30% dan 43% (Royal college of physicians,
2004). Di Indonesia stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan
kecacatan neurologis yang utama. Oleh karena itu serangan otak ini merupakan
kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secara cepat, tepat, dan cermat
(Media aesculapius, 2000).
Pasien yang terkena stroke memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami
serangan stroke ulang. Serangan stroke ulang berkisar antara 30%‐43% dalam
waktu 5 tahun. Setelah serangan otak sepintas, 20% pasien mengalami stroke
dalam waktu 90 hari, dan 50% diantaranya mengalami serangan stroke ulang
dalam waktu 24‐72 jam (Erpinz, 2010). Agen antitrombotik diindikasikan untuk
pencegahan stroke sekunder; jangka panjang antikoagulan dan carotid
endarterektomy juga didiskusikan ditempat lain (Pattigrew, 2001). Selain itu
tekanan darah yang tinggi (tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah
diastolik ≥ 90 mmHg) akan meningkatkan risiko terjadinya stroke ulang (Erpinz,
2010).

a) Definisi
Istilah medis dari stroke adalah "penyakit pembuluh darah otak". Hal ini
terjadi ketika pasokan darah ke otak berkurang atau terhambat karena hal-hal
tertentu, yang mengarah ke kurangnya kadar oksigen dalam sel-sel otak secara
mendadak. Dalam beberapa menit, sel-sel otak bisa rusak dan kehilangan
fungsinya. Kerusakan otak ini memengaruhi fungsi tubuh yang dikendalikan oleh
bagian sel-sel otak yang rusak tersebut.
b) Epidemiologi
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2008) memperlihatkan
bahwa stroke merupakan penyebab kematian nomor satu pada pasien yang
dirawat di Rumah Sakit. Sedangkan Permasalahan yang muncul pada pelayanan
stroke di Indonesia adalah: rendahnya kesadaran akan faktor risiko stroke, kurang
dikenalinya gejala stroke, belum optimalnya pelayanan stroke, ketaatan terhadap
program terapi untuk pencegahan stroke ulang yang rendah. Keempat hal tersebut
berkontribusi terhadap peningkatan kejadian stroke baru dan tingginya angka
kematian akibat stroke di Indonesia serta tingginya kejadian stroke ulang.
Stroke dapat ditemukan pada smeua golongan usia, namun sebagian besar
akan dijumpai pada usia diatas 55 tahun. Ditemukan kesan bahwa insiden stroke
meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia, dimana akan terjadi
peningkatan 110 kali lipat pada mereka yang berusia 80-90 tahun. Insiden usia
tersebut adalah 300/10.000 dibandingkan dengan 3/10.000 pada usia 30-40 tahun.
Stroke banyak ditemukan pada pria dibandingkan pada wanita. Variasi gender ini
bertahan tanpa pengaruh umur.
Di Indonesia, walaupun belum ada penelitian epidemiologis yang sempurna,
dari hasil suvei kesehatan rumah tangga tahun 2013 dilaporkan prevalensi stroke
pada golongan umur ≥15 tahun adalah 7/mil, sedangkan prevalensi stroke
berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara (10,8/mil), diikuti DIY
Yogyakarta (10,3/mil), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing – masing
9,7/mil, dan Jawa Timur sebesar 16/mil. Prevalansi stroke cenderung lebih tinggi
pada masyarakat dengan pendidikan rendah, masyarakat kota baik dan
masyarakat tidak bekerja.

c) Klasifikasi
Pada dasarnya klasifikasi stroke dikelompokkan atas dasar manefestasi klinik,
proses patologi yang terjadi diotak dan tempat lesinya. Hal ini berkaitan dengan
pendekatan diagnosis neurologis yang melakukan diagnosis klinik, diagnosis
kausal, dan diagnosis topis. Klasifiasi yang dipakai saat ini adalah sebagai berikut
1. Berdasarkan manifestasi klinik :
 Transient Ischemic Attack (TIA), serangan kurang dari 24 jam
 Stroke in Evolution (SIE), hilang dalam 2 minggu
 Reversible Ischemic Neurologica Deficit (RIND)
 Completed Stroke
2. Berdasarkan proses patologik (kausal) :
 Infark
 Pendarahan intra serebral
 Pendarahan subarachnoidal
3. Berdasarkan tempat lesi :
 Sistem Karotis
 Sistem Vertebrobasiler
4. Diklinik secara umum ada 2 jenis stroke. Yaitu :
 Stroke Iskemik (non hemoragik)
Pada stroke ini, aliran darah ke otak terhenti karena adanya
penumpukan kolesterol pada dinding pembulu darah (aterosklerosis)
atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke
otak. Hampir sebagian besar pasien atau sekitar 83% mengalami
stroke jenis ini. Jenis iskemik dapat berupa TIA, thrombosis, dan
emboli.
 Stroke Hemoragik
Pada stroke ini pembuluh darah pecah sehingga aliran darah
menjadi tidak normal. Darah yang keluar merembes masuk kedalam
suatu daerah diotak dan merusaknya. Sebagian kasus stroke terjadi
secara mendadak sangat cepat dan menyebabkan kerusakan otak
dalam beberapa menit (completed stroke). Selanjutnya stroke dapat
bertambah buruk dalam beberapa jam sampai 1-2 hari akibat
bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution).
Jenis hemoragik dapat terjadi sebagai pendarahan intracerebral atau
subaracnoid.
II. PATOFISIOLOGI
a) Patologi
Infark regional kortikal, subkortikal ataupun infark regional di batang otak
terjadi karena kawasan pendarahan suatu areteri tidak/kurang mendpat jatah darah
lagi. Jatah darah tidak disampaikan ke daerah tersebut. Lesi yang terjadi
dinamakan infark iskemik, jika arteri tersumbat dan infark hemoragik jika arteri
pecah. Maka dari itu stroke dapat di bagi dalam :
a. Stroke iskemik / non hemoragik
Iskemik otak adalah suatu keadaan dimana terdapat gangguan
pemasokan darah ke otak yang membahayakan fungsi neuron. Infark otak
terjadi jika ada daerah otak yang iskemik menjadi nekrosis akibat
berkurangnya suplay darah sampai pada tingkat lebih rendah dari titik kritis
yang diperlukan untuk kehidupan sel sehingga disertai gangguan fungsional
dan structural yang menetap. Terdpat 2 penyebab utama infark iskemik, yaitu
: thrombus dan emboli.
b. Stroke hemoragik
Pada stroke hemoragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat
aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah diotak
dan merusaknya. Pembuluh darah yang pecah menyebabkan darah mengalir
ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan
komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan
komponen intracranial yang tidak dpat dikompensasi tubuh akan
menimbulakan tingkatan TIK yang bila berlanjut akan mengakibatkan hemiasi
otak sehingga timbul kematian.

b) Manifestasi Klinik
1. Stroke Non Hemoragik /Infark stroke
 Defisit neurologis secara mendadak/ sub akut
 Terjadinya pada waktu istirahat/ bangun pagi
 Kesadaran tidak menurun, ttp bila emolib cukup besar
 Biasanya terjadi pada usia > 50 tahun
2. Stroke Hemoragik
 Perdarahan intraserebral (PIS)
 Nyeri kepala karena hipertensi, hebat sekali
 Sering kali siang hari, saat aktivitas, emosi / marah
 Mual, muntah permulaan serangan
 Hemiparesis/ hemiplegi terjadi sejak permulaan serangan
 Kesadaran menurun, cepat koma
 Perdarahan subaraknoid (PSA)
 Nyeri kepala hebat dan akut
 Kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi
 Ada gejala tanda ransangan meningeal
 Edema papil
3. Stroke akut :
 Kelumpuhan wajah/ anggota badan (biasanya hemiparesis) yang timbul
mendadak
 Gangguan sensibilitas pada satu / lebih anggota badan
 Perubahan mendadak ststus mental (konfusi, delirium, letargi, stupor/ koma)
 Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan, kesulitan memahami ucapan)
 Disatria (bicara pelo / cadel)
 Gangg. penglihatan (hemianopia/ monokuler) diplopia
 Atoksia (trunkal / agg badan)
 Vertigo, mual, muntah/ nyeri kepala
4. Komplikasi
 Aspirasi pneumonia
 Kontraktur
 Trombosis vena dalam
 Embolisme pulmonal
 Defresi
 Herniasi batang otak

c) Gejala
 Timbul rasa kesemutan pada seisi badan, mati rasa, terasa seperti terbakar,
atau terkena cabai.
 Lemas, atau bahkan kelumpuhan pada seisi badan, sebelah kanan atau kiri
saja
 Mulut, lidah mencong bila diluruskan, mudah diamati jika sedang berkumur
 Gangguan menelan, atau bila minum sering tersedak
 Gangguan bicara, berupa pelo, atau aksentuasi kata-kata sulit dimengerti
 Tidak mampu membaca dan menulis
 Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil – kecil
 Kurang mampu memahami pembicaraan orang lain
 Kemampuan intelektual menurun drastis
 Fungsi indra terganggu, sehingga bisa terjadi gangguan penglihatan berupa
sebagian lapang pandang tidak terlihat atau gelap, pendengarannya juga
berkurang
 Gangguan pada suasana emosi, menjadi lebih mudah menangis atau tertawa
 Kelopak mata sulit terbuka
 Gerkan badan tidak terkoordinasi
 Gangguan kesadaran, pingsan, bahkan sampai koma.

d) Faktor Resiko
Faktor resiko strok digolongkan menjadi 2 ;
• Faktor resiko strok yang tidak dapat dikendalikan : Umur, Jenis kelamin,
Garis keturunan, Rasa tau etnik, diabetes, arterosklerosis, penyakit jantung,
• Faktor resiko strok yang dapat dikendalikan : Obesitas, kurang berolahraga,
merokok, mengkonsumsi alcohol dan penggunaan obat-obatan, hipertensi,
kolesterol, sleep apnea

e) Diagnosa
1. Anamnesis
Proses anamnesis akan ditemukan kelumpuhan anggota gerak sebelah
badan, mulut mencong atau bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi
dengan baik. Keadaan ini timbul sangat mendadak, dapat sewaktu bangun
tidur, sedang bekerja, ataupun sewaktu istirahat.
2. Pemeriksaan fisik
Penentuan keadaan kardiovaskular penderita serta fungsi vital seperti
tekanan darah kiri dan kanan, nadi, pernafasan, tentukan juga tingkat
kesadaran penderita. Jika kesadaran menurun, tentukan skor dengan skala
koma glasglow agar pemantauan selanjutnya lebih mudah, tetapi seandainya
penderita sadar tentukan berat kerusakan neurologis yang terjadi, disertai
pemeriksaan saraf – saraf otak dan motorik apakah fungsi komunikasi masih
baik atau adakah disfasia. Jika kesadaran menurun dan nilai skala koma
glasglow telah ditentukan, setelah itu lakukan pemeriksaan refleks – refleks
batang otak yaitu :
 Reaksi pupil terhadap cahaya.
 Refleks kornea.
 Refleks okulosefalik.
 Keadaan (refleks) respirasi, apakah terdapat pernafasan Cheyne Stoke,
hiperventilasi neurogen, kluster, apneustik dan ataksik. Setelah itu tentukan
kelumpuhan yang terjadi pada saraf – saraf otak dan anggota gerak.
Kegawatan kehidupan sangat erat hubungannya dengan kesadaran
menurun, karena makin dalam penurunan kesadaran, makin kurang baik
prognosis neurologis maupun kehidupan. Kemungkinan perdarahan intra
serebral dapat luas sekali jika terjadi perdarahan – perdarahan retina atau
preretina pada pemeriksaan funduskopi.
3. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah :
 laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit,
kolesterol, dan bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.
 Computed tomography (CT) scan kepala untuk mengetahui lokasi dan
luasnya perdarahan atau infark. Menunjukkan adanya stroke hemoragis
dengan segera tetapi bisa jadi tidak mnenunjukkan adanya infarksi
trombotik selama 48-72 jam.
 MRI (magnetic resonance imaging ), untuk mengetahui adanya edema,
infark, hematom dan bergesernya struktur otak, bisa membantu
mengidentifikasi area yang mengalami iskemia atau infarksi dan
pembengkakan serebral. MRI menunjukan daerah yang mengalami infark,
hemoragik.
 Angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai
pembuluh darah yang terganggu.
 Oftalmoskopi bisa menunjukkan tanda hipertensi dan perubahan
aterosklerotik dalam arteri retina, memperlihatkan adanya edema ,
hematoma, iskemia dan adanya infark, dan membantu menentukan
penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.
 Fungsi Lumbal, menunjukan adanya tekanan normal, tekanan meningkat
dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan.
 EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
 Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
 Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal

III. SASARAN TERAPI

Pada stroke infark, pengobatan ditujukan pada daerah


penumbra.Menghilangkan sumbatan aliran darah dengan menggunakan terapi
trombolitik, antiplatelet, antikoagulan. Terapi dengan antibiotic untuk adanya
pneumonia

IV. TUJUAN TERAPI


Tujuan terapi adalah mengurangi luka sistem syaraf yang sedang
berlangsung dan menurunkan kematian dan cacat jangka panjang, mencegah
komplikasi sekunder untuk imobilitas dan disfungsi sistem syaraf,Memelihara
agar tekanan darah normal, Memperbaiki aliran darah dengan mencegah
terjadinya klot kembali, dan mencegah kekambuhan stroke.

V. STRAREGI TERAPI
Strategi terapi yang dilakukan adalah dengan melakukan pengobatan
farmakologi dan non farmakologi.
- Terapi farmakologi
a. Fibrinolitik/trombolitik
Golongan obat ini digunakan sebagai terapi reperfusi untuk mengembalikan
perfusi darah yang terhambat pada serangan stroke akut.Jenis obat golongan ini
adalah alteplase, tenecteplase dan reteplase, namun yang tersedia di Indonesia
hingga saat ini hanya alteplase. Obat ini bekerja memecah trombus dengan
mengaktivasi plasminogen yang terikat pada fibrin. Efek samping yang sering
terjadi adalah risiko pendarahan seperti pada intrakranial atau saluran cerna; serta
angioedema. Kriteria pasien yang dapat menggunakan obat ini berdasarkan
rentang waktu dari onset gejala stroke dapat dilihat pada tabel 1 (onset gejala<3
jam) dan tabel 2 (onset gejala 3-4,5 jam). Waktu memegang peranan penting
dalam penatalaksanaan stroke iskemik akut dengan fibrinolitik. Beberapa
penelitian yang ada menunjukkan bahwa rentang waktu terbaik untuk dapat
diberikan terapi fibrinolitik yang dapat memberikan manfaat perbaikan fungsional
otak dan juga terhadap angka kematian adalah<3 jam dan rentang 3-4,5 jam
setelah onset gejala. Pada pasien yang menggunakan terapi ini usahakan untuk
menghindari penggunaan bersama obat antikoagulan dan antiplatelet dalam 24
jam pertama setelah terapi untuk menghindari risiko perdarahan.
b. Antikoagulan
Salah satu meta-analisis yang membandingkan LMWH dan aspirin
menunjukkan LMWH dapat menurunkan risiko terjadinya tromboembolisme vena
dan peningkatan risiko perdarahan, namun memiliki efek yang tidak signifikan
terhadapangka kematian, kejadian ulang stroke dan juga perbaikan fungsi saraf.Oleh
karena itu antikoagulan tidak dapat menggantikan posisi dari aspirin untuk
penggunaan rutin pada pasien stroke iskemik. Terapi antikoagulan dapat diberikan
dalam 48 jam setelah onset gejala apabila digunakan untuk pencegahan kejadian
tromboemboli pada pasien stroke yang memiliki keterbatasan mobilitas dan hindari
penggunaannya dalam 24 jam setelah terapi fibrinolitik.
c. Antiplatelet
Golongan obat ini sering digunakan pada pasien stroke untuk pencegahan
stroke ulangan dengan mencegah terjadinya agregasi platelet.Aspirin merupakan
salah satu antiplatelet yang direkomendasikan penggunaannya untuk pasien stroke.
Penggunaan aspirin dengan loading dose 325mg dan dilanjutkan dengan dosis 75-
100mg/hari dalam rentang 24-48 jam setelah gejala stroke. Penggunaannya tidak
disarankan dalam 24 jam setelah terapi fibrinolitik. Sedangkan klopidogrel hingga
saat ini masih belum memiliki bukti yang cukup kuat penggunaannya untuk stroke
iskemik jika dibandingkan dengan aspirin
d. Antihipertensi
Pilihan antihipertensi yang dapat digunakan pada pasien stroke iskemik akut
dapat dilihat pada tabel 4, sedangkan setelah post stroke semua agen antihipertensi
dapat digunakan dan untuk pilihannya disesuaikan dengan penyakit penyerta dan
komplikasi masing-masing pasien.
e. Obat neuroprotektif
Golongan obat ini seringkali digunakan dengan alasan untuk menunda
terjadinya infark pada bagian otak yang mengalami iskemik khususnya penumbra dan
bukan untuk tujuan perbaikan reperfusi ke jaringan.9 Beberapa jenis obat yang sering
digunakan seperti citicoline, flunarizine, statin, atau pentoxifylline.Citicoline
merupakan salah satu obat yang menjadi kontroversi penggunaannya hingga saat ini
untuk pasien dengan stroke iskemik, dimana penggunaan obat ini diharapkan dapat
melindungi sel membran serta stabilisasi membran sehingga dapat mengurangi luas
daerah infark.
- Terapi non farmakologi
a. Pencegahan Primer
 Strategi kampanye nasional yang terintegrasi dengan program pencegahan
penyakit vascular lainnya.
 Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas strok :
 Menghindari : rokok, stress mental, alcohol, kegemukan, konsumsi garam
berlebihan, obat-obat golongan amfetamin, kokain, dan sejenisnya.
 Mengurangi : kolesterol dan lemak dalam makanan
 Mengendalikan : hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit vascular
aterosklerotik lainnya.
 Menganjurkan : konsumsi gizi seimbang dan olah raga teratur.
b. Pencegahan Sekunder
 Modifikasi gaya hidup berisiko strok dan factor resiko misalnya :
- Hipertensi : diet, obat antihipertensi yang sesuai.
- Diabetes mellitus : diet, obat hipoglikemik oral/insulin
- Penyakit jantung aritmia nonvalvular (antikoagulan oral)
- Dislipidemia : diet rendah lemak dan obat antidislipidemia
- Berhenti merokok
- Hindari alcohol, kegemukan, dan kurang gerak
- Hiperurisemia : diet, antihiperurisemia
- Polisitemia
- Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin.
B. Evaluasi Hasil Terapi
Pasien dengan stroke akut harus dimonitor dengan sungguh untuk
memperbaiki pemburukan neurologi (perluasan atau kambuh), komplikasi
(thromboembolism atau infeksi/peradangan), atau efek tak diinginkan dari
penanganan nonpharmacologic atau pharmacologic. Pertimbangan paling umum
untuk pasien stroke adalah :
Perluasan luka ischemic atau hemorrhagic pada otak Terjadinya edema
cerebral dan meningkatnya tekanan intracranial Hypertensive darurat
Infeksi/peradangan (berhubung pernapasan dan air kencing paling umum)
Thromboembolism pembuluh darah (trombosa pembuluh darah mendalam dan
embolism (penyumbatan pembuluh darah) berkenaan dengan paru-paru) Kelainan
elektrolit dan gangguan-gangguan irama berhubungan jantung (dapat dihubungkan
dengan luka otak) Kambuhnya stroke.
Neurorestorasi dan Neurorehabilitasi
Neurorestorasi dan neurorehabilitasi pasien strok adalah berdasarkan
kerjasama tim yang dipimpin oleh dokter spesialis saraf dan dibantu oleh perawat
khusus strok, petugas terapi fisik dan okupasional, petugas terapi wicara serta ahli
gizi dengan melibtkan juga keluarga pasien/petugas social.Neurorestorasi dan
neurorehabilitasi pasien strok harus dilaksanakan sedini mungkin dengan
memperhatikan factor-faktor gangguan motorik, sensorik, kognitif, komunikasi,
visuospsial, dan emosi (depresi).Rehabilitasi awal meliputi pengaturan posisi,
perawatan kulit, fisioterapi dada, fungsi menelan, fungsi berkemih dan gerakan psif
pada semua sendi ekstremitas.Mobilisasi aktif sedini mungkin secara bertahp sesuai
toleransi setelah kondisi neurologis dan hemodinamik stabil.Terapi wicara harus
dilakukan sedini mungkin pada pasien afasia dengan stimulasi sedini mungkin, terapi
komunikasi, terapi aksi visual, terapi intonasi melodic, dll. Depresi harus diobati
sedini mungkin dengan obat antidepresi yang tidak mengganggu fungsi kognitif.
BAB III
PEMBAHASAN

KASUS 1
Anda apoteker di Klinik Bina Sehat yang akan melakukan monitoring efek samping
obat ke rumah pasien (Home Care Pharmacy). Pasien adalah seorang perempuan usia
47 tahum yang sedang menjalani pengobatan stroke pada minggu ke 2. Pasien
mempunyai riwayat hipertensi. Tekanan darah pasien : 165 mmHg dan mempunyai
sakit maag akut.
Tugas :
1. Tetapkan dan tulislah rencana monitoring efikasi dan keamanan dengan
menggunakan data yang tesedia !
2. Komunikasikan dengan pasien !
1. Skrining admistrasi
Nama, Izin Praktik, Alamat Dokter

Nama Dokter Ada

Izin Praktik Dokter Ada

Alamat dan Nomor Telp. Dokter Ada

Inscriptio (Tanggal Penulisan Resep)

Tgl. Penulisan Resep Tidak Ada

Invocation (Tanda R/)


Tanda R/ pada tiap resep Ada

Prasecriptio (Nama setiap obat dan komposisi)


Nama setiap obat dan komposisi Ada

Signatura (Aturan Pakai)


Aturan Pakai Ada

Subscriptio
Paraf Dokter Ada

Identitas Pasien
Nama Pasien Ada

Umur Pasien Ada

Alamat dan Nomor Telp. Pasien Ada

2. Skrining Farmasetis
No Nama obat Sediaan Kandungan Dosis Aturan pakai

1 Prazotec Tablet Lansoprazole 30 mg 2xsehari sebelum makan

2 Canderin Tablet Candesartan 8 mg 1xsehari seseudah makan

3 Plavix Tablet Klopidogrel 300 mg 1xsehari sesudah makan

4 Ascavin Tablet Astaxanthin - 1xsehari sesudah makan


3. Skrining Klinis
No Nama Obat Indikasi Dosis Rute Interaksi Efek Samping Obat
Pemberian
1. Prazotec 30 Pengobatan ulkus duodenum, Dosis awal : 30 mg 1 x oral Fenitoin, teofilin, Diare, sakit kepala, mual, muntah,
mg tablet tukak lambung, dan refluks sehari secara oral selama warfarin, diazepam, kulit anoreksia, sembelit, pusing,
(lansoprazole) esophagitis kira-kira 8 minggu. Atau, tramadol, proteinurea, kelelahan, dyspepsia,
infus intravena 30 mg / ketokonazole, mulut kering, pruritus, dan edema
hari selama 30 menit, atazanavir, dan ester perifer
dilakukan hingga 7 hari. ampicillin
Dosis pemeliharaan : 15
mg 1 x sehari secara oral.
2 Canderin 8 Hipertensi dan gagal jantung Dosis awal : 16 mg Oral Obat penurun TD Pusing, kelelahan, hyperkalemia,
mg tablet dan gangguan fungsi sistolik 1xsehari lainnya, litium, sakit punggung, rhinitis, infekasi
(candesartan) ventrikel kiri ketika obat Dosis lanjutan : 8-32 mg OAINS seperti saluran pernapasan atas dan vertigo
penghambat ACE tidak 1-2x sehari indometasin gatal-gatal, kesulitan bernapas,
ditolerir pembengkakan pada wajah, bibir,
lidah, atau tenggorokan.

3 Plavix 300 Pengurangan keparahan Dosis dewasa : 75 mg 1 x Oral Warfarin, asam asetil Dapat menyebabkan pendarahan,
mg tablet aterosklerosis seperti infark sehari, salisilat, heparin, neutropenia, atau agranulositosis,
(klopidogrel) miokardis, strok, dan naproxen, PPI (ex: sakit pada saluran cerna
kematian veskulus, pada omeprazole atau
pasien arterosklerosis yang Esomeprazole)
mengalami strok, dan sakit
arteri perifer.
4 Ascavin suplemen yang banyak 1-2 kapsul sehari sesudah Oral - Hingga saat ini belum ditemukan
(astaxanthin) digunakan untuk menjaga dan makan adanya efek samping penggunaan
meningkatkan kesehatan Ascavin yang mampu merugikan
tubuh penggunanya. Ascavin atau menimbulkan penyakit lainnya
sendiri mengandung anti yang membahayakan penggunanya
oksidan yang sangat tinggi selama dosis penggunaan Ascavin
sehingga mampu sesuai dan tidak dikonsumsi secara
mempercepat proses berlebihan.
penyembuhan dan mampu
meningkatkan kesehatan
penggunanya
FORMULIR MONITORING EFEK SAMPING OBAT (MESO)

Informasi Pasien Informasi Obat


KTD/ESO
Pemberian
Jeni
Bentu Tg
s U No Obat yang Tg Riwayat
No Nama k l Tgl Kes Nama Pelapor
Nama Kel mu Be digunakan Car Dosi l Deskrip Tgl KTD/ESO
Obat Sedia m akh uda
ami r an
ts bersamaan a s ak si mula yang pernah
ul ir han
n hir dialami
ai
Canderin 200 14/8
Ny. 47 table Mual/ Nabila Apt
1. P prazotec - Plavix PO mg - - /201 - - -
Indah thn t muntah (…)
Ascavin 1x1 9

Surakarta, 12 Agustus 2019


Apoteker

Wahyu Mukti, S.Farm.,Apt


DOKUMENTASI PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH
(HOME PHARMACY CARE)

Nama Pasien : Ny. Indah


Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 47 tahun
Alamat : Fajar Indah Solo
No. Telepon :-

No. Tanggal Catatan pelayanan apoteker


kunjungan
1. 15 Agustus Masuk pengobatan stroke minggu ke 2.
2018 Efek samping obat yang terjadi :
- prazotec : mual muntah
- Jadi, efek samping dari obat tersebut dapat diatasi dengan
tegretol diminum 30 menit sebelum makan 2 x sehari,
Keberhasilan pengobatannya sangat penting supaya serangan
kekambuhan tidak terjadi lagi
Simulasi Percakapan Apoteker – Pasien
Pada pagi hari Seorang Apoteker melakukan monitoring ke rumah pasien.
Salah satu pasiennya bernama Ny. Indah berusia 47 tahun, menjalani pengobatan
stroke dan mempunyai riwayat Hipertensi dengan TD terakhir 165 mg/mmHg dan
mempunyai sakit maag akut.
Apoteker Selamat pagi bu
Pasien Selamat pagi mas, ada apa ya mas?
Apoteker Tidak apa-apa bu, Perkenalkan saya wahyu mukti , apoteker di Klinik
Bina Sehat, saya disini untuk melakukan monitoring efek samping
obat, mau bertanya-tanya tentang pengobatan ibu,
Bagaimana apa ibu ada waktu sebentar?
Pasien Oh ya bisa mas
Apoteker Baik bu sebelum nya saya mau mengkonfirmasi dulu obat yang ibu
dapatkan, apakah ibu mendapatkan obat Prazotec, Canderin, Plavix,
dan Ascavin
Pasien Oh ya mas benar itu obat yang saya gunakan saat ini
Apoteker Oh ya, Bagaimana kondisinya ibu sekarang?
Pasien Sudah lumayan mendingan mas,
tapi kok kepala bagian belakang ini masih terkadang sakit
Apoteker Sakit kepala ringan atau berat bu? Seberapa sering
Pasien Cuma kadang-kadang aja mas, tidak terlalu berat juga
Apoteker Terakhir periksa sama perawatnya TD nya berapa bu?
Pasien Barusan diperiksa katanya 165 mg/mmHg mas
Apoteker Ow ini TD nya masih tinggi bu, jadi ibu banyak istirahat ya, jangan
banyak pikiran, jangan sampai stress bu, nanti TDnya ndak turun-
turun,
Pasien Baik mas,
oh ya mas saya kok ngerasa mual-mual ya, padahal makanan saya
terkontrol semua, saya juga ndak makan yang aneh-aneh.
Apoteker Oh ya bu, jadi bapak itu menerima obat untuk maag ibu diberi obat
Prazotec, nah memang efek sampingnya itu bisa mual & muntah bu,
Mual-mual nya seberapa sering bu?
Pasien Kadang-kadang aja mas, saya kira faktor dari maag saya mas
Apoteker Oh ya bu, kalau kadang-kadang saja itu tidak jadi masalah bu karena
penggunaan obat Prazotec tidak usah membuat ibu khawatir ya, nanti
kalau masih berlanjut atau makin sering segera ke dokter ya bu,
Selain itu ibu ada keluhan lain lagi?
Pasien Tidak ada sih mas,
Apoteker Oh ya bu, nanti kalau diberi obat oleh perawatnya diminum ya bu,
minumnya harus rutin, biar tekanan darahnya bisa turun dan terkontrol.
Kalau masih tinggi nanti bapak bisa komplikasi ke penyakit yang lain
bu seperti stroke,
Pasien Baik mas,
Apoteker Jadi ibu harus sering periksa atau cek tekanan darah ibu ya. Dan juga
untuk obat Prazotec untuk maag ibu diminum 30 menit sebelum
makan, kalau obat Plavix diminum sekitar 1-2 jam setelah makan ya
bu,
Pasien Baik mas, kemarin saya juga minumnya seperti itu
Apoteker Baik bu, nanti semua obatnya dan khususnya obat HT dan Stroke nya
diminum rutin ya bu,
Pasien Baik mas terimakasih
Apoteker Ada yang mungkin mau ditanyakan lagi bu?
Pasien Tidak ada mas, informasinya sudah jelas mas
Apoteker Baik ibu kunjungan saya hari ini untuk memonitor efek samping obat
sudah cukup ya, maaf mengganggu waktunya bu, selamat melanjutkan
istirahatnya,
Pasien Tidak apa-apa kok mas, besok-besok kesini lagi tidak apa mas
Apoteker Baik bapak, terimakasih untuk hari ini, permisi
Pasien Iya mas sama-sama
DAFTAR PUSTAKA

 Dipiro, Joseph T. 2015. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach,


Ninth Edition. The McGraw-Hill Companies: USA
 Textbook Of Therapeutics HERFINDALE CHM.
 Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.A.P.,
Kusnandar. 2013. ISO Farmakoterapi Buku 1. PT Isfi Penerbitan. Jakarta.
 ISO Indonesia vol. 48, 2013 s/d 2014.
• Martindale : The Complate Drug Reference, 35 th ed., 2007 (e-book).
• MIMS Indonesia 109th ed. 2008.
• Basic Pharmacology & Drug Notes
• https://www.farmasiana.com/