Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

Zat Aditif dan Zat Adiktif


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kimia Pangan
Dosen Pengampu : Dwi Indah Suryani, M.Pd

Disusun Oleh :

Kelompok 6

(Pendidikan IPA Semester 6)

1. Rizkiyati Puteri Utami (2281160026)


2. Siti Fatimah Nuralisa (2281160027)
3. Ida Rosidatul Jannah (2281160029)

JURUSAN PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

MARET 2019
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, serta atas berkah,
hidayah, dan inayah-Nya, alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Zat Aditif dan Zat Adiktif” dalam bentuk maupun isinya yang sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca.

Kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Dwi Indah Suryani, M.Pd dan selaku
dosen pengampu mata kuliah Kimia Pangan yang telah memberikan tugas ini kepada
saya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai materi Zat Aditif dan Zat Adiktif.

Semoga makalah ini dapat dipahami oleh siapapun yang membacanya.


Sebelumnya, kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata yang kurang
berkenan dan mohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa
depan.

Serang, 16 Maret 2019

Penyusun

Kelompok 6

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................... 3
2.1 Pengerian Zat Aditif dan Zat Adiktif ........................................................... 3
a. Pengertian Zat Aditif ..................................................................................... 3
b. Pengertian Zat Adiktif ................................................................................... 4
2.2 Jenis-jenis dan Sumber Zat Aditif ............................................................... 5
2.3 Jenis-jenis dan Sumber Zat Adiktif ........................................................... 17
2.4 Dampak Penggunaan Zat Aditif dan Zat Adiktif terhadap Tekstur Bahan
Makanan...................................................................................................................22
2.5 Dampak Penggunaan Zat Aditif dan Zat Adiktif Bagi Tubuh .................... 25
a. Dampak Penggunaan Zat Aditif Bagi Tubuh ................................................ 25
b. Dampak Penggunaan Zat Adiktif Bagi Tubuh .............................................. 29
2.6 Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Zat Adiktif dan Psikotropika............. 31
1. Peran Anggota Keluarga ............................................................................... 31
2. Peran Anggota Masyarakat ........................................................................... 31
3. Peran Sekolah............................................................................................... 31
BAB III PENUTUP ................................................................................................ 33
3.1 Kesimpulan............................................................................................... 33
3.2 Saran ........................................................................................................ 33
DAFTAR PUSTAKA

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif ii


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zat aditif dan zat adiktif sering dijumpai di sekitar kita. Zat aditif sering kita
konsumsi secara disengaja. Zat aditif adalah zat-zat yang ditambahkan pada
makanan selama proses produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud
tertentu. Penambahan zat aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar
mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi
yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan.
Pada awalnya zat-zat aditif tersebut berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan
yang selanjutnya disebut zat aditif alami. Kepedulian terhadap bahan kimia dalam
makanan yang sering dilupakan. Jajanan anak-anak yang sering dijumpai setiap
kali istirahat sekolah. Bahan yang membuat jecanduan seperti rokok dan bahan
yang dapat membahayakan kita tanpa disadari kita konsumsi. Pengarahan dari
orang tua sangat kurang dan perhatian orang tua sangatlah penting dalam hal ini,
karna pengaruh bahan kimai sangat lah berbahaya bagi keberlangsungan hidup
atau kesahatan. Pengaruhnya tidak secara langsung namun berakibat fatal apabila
tidak dicegah dari mulai sekarang. Zat adiktif adalah zat-zat yang dapat membuat
pemakainya kecanduan (adiksi).
Kecanduan adalah suatu keadaan fisik (jasmani) maupun nonfisik
(psikologis) dari seseorang yang merasa tidak normal jika tidak menggunakan zat
tertentu. Biasanya si pecandu akan menuruti keinginannya dengan kembali
mengonsumsi zat tersebut.
Sejak zaman dahulu, manusia sudah mengenal zat yang tergolong adiktif,
misalnya suku indian merokok dan mengunyah tembakau disetiap upacara adat.
Pada awalnya, semua bahan adiktif berasal dari tumbuh-tumbuhan. Contoh
tumbuh- tumbuhan itu adalah ganja (cannabis sativa), opium (papaver

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 1


somniverum), kokain (Erythroxylum coca), mariyuana (Cannabis indica). Akan
tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam, khususnya bidang
kimia, saat ini manusia telah dapat membuat bhan-bahan adiktif buatan (sintetis)
yang berkemampuan sama dengan zat adiktif alami. Zat adiktif sintetis ada
berbagai macam jenis dan khasiatnya berbeda-beda.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari zat aditif dan zat adiktif?


2. Apa saja jenis-jenis dan sumber zat aditif?
3. Apa saja jenis-jenis dan sumber zat adiktif?
4. Bagaimana dampak penggunaan zat aditif dan zat adiktif terhadap tekstur bahan
makanan?
5. Bagaimana dampak penggunaan zat aditif dan zat adiktif pada tubuh?
6. Bagaimana upaya pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari zat aditif dan zat adiktif.


2. Untuk mengetahui jenis-jenis dan sumber zat aditif.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dan sumber zat adiktif.
4. Untuk menganalisis dampak penggunaan zat aditif dan zat adiktif terhadap
tekstur bahan makanan.
5. Untuk menganalisis dampak penggunaan zat aditif dan zat adiktif bagi tubuh.
6. Untuk mengetahui upaya pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan
psikotropika.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengerian Zat Aditif dan Zat Adiktif

a. Pengertian Zat Aditif

Zat aditif adalah zat-zat yang ditambahkan pada makanan selama proses
produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Penambahan zat
aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilan
makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak
atau hilang selama proses pengolahan ( Yandri, 2006).
Zat aditif menurut WHO (World Health Organization) adalah zat-zat yang
ditambahkan pada makanan dalam jumlah sedikit untuk memperbaiki warna,
bentuk, cita rasa, tekstur, atau memperpanjang massa penyimpanan. Persyaratan
penambahan zat aditif dalam makanan yaitu: memperbaiki kualitas atau gizi
makanan, membuat makanan tampak lebih menarik, meningkatkan cita rasa
makanan, membuat makanan menjadi tahan lama atau tidak cepat basi.
Zat aditif makanan adalah zat atau campuran dari beberapa zat yang
ditambahkan ke dalam makanan baik pada saat produksi, pemrosesan,
pengemasan atau penyimpanan dan bukan sebagai bahan baku dari
makanan t ertent u. pada umumnya, zat adit if at au produk degradasinya
akan tetap berada dalam makanan, akan tetapi dalam beberapa kasus zat aditif
dapat hilang selama pemrosesan.( Kemendikbud, 2004 ).

Gambar 1. Zat Adiktif (Sumber: www.sinarharapan.com)

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 3


Zat aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah bahan yang
ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil, dengan
tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur , flavor dan
memperpanjang daya s i m p a n baik pada saat pemrosesan, pengemasan ataupun
penyimpanannya.

b. Pengertian Zat Adiktif

Zat adiktif adalah zat-zat yang dapat membuat pemakainya kecanduan


(adiksi). Kecanduan adalah suatu keadaan fisik (jasmani) maupun nonfisik
(psikologis) dari seseorang yang merasa tidak normal jika tidak menggunakan zat
tertentu. Biasanya si pecandu akan menuruti keinginannya dengan kembali
mengonsumsi zat tersebut.

Gambar 2. Zat Adiktif ( Sumber: www.ruangguru.com )

Menurut Undang-undang No. 23 tahun 1992 pasal 1, bahan atau zat adiktif adalah
bahan yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan psikis. Menurut
Dadang Hawari, zat adiktif adalah zat yang dapat menimbulkan adiksi atau
ketagihan sampai pada dependensi atau ketergantungan. ( Kemendikbud, 2004).

Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi
oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan
ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin
menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek
lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa.( Kurniawati, 2009).

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 4


2.2 Jenis-jenis dan Sumber Zat Aditif

1. Bahan Pewarna

Bahan pewarna adalah zat aditif yang


ditambahkan untuk meningkatkan warna
pada makanan atau minuman. Bahan
pewarna dicampurkan untuk memberi
warna pada makanan, meningkatkan daya
tarik visual pangan, merangsang indera
penglihatan, menyeragamkan dan
menstabilkan warna, dan menutupi atau Gambar 3. Makanan berwarna
Sumber: dkk.sukoharjokab.go.id
mengatasi perubahan warna. Ada 2 jenis
bahan pewarna pada makanan yaitu alami
Gambar 9.1 Makanan berwarna
dan sintetis (buatan). Sumber: dkk.sukoharjokab.go.id

a. Pewarna Alami

Pewarna alami adalah pewarna yang


dapat diperoleh dari alam, baik dari
tumbuhan dan hewan. kunyit (warna
kuning), daun suji dan daun pandan
(warna hijau), warna telang (warna biru
keunguan), gula kelapa (warna merah
kecoklatan), cabe dan bunga belimbing Gambar 9.1 Makanan berwarna
Sumber: dkk.sukoharjokab.go.id
sayur (warna merah). Pewarna alami ini
Gambar 4. Contoh bahan pewarna alami
sangat aman bagi kesehatan manusia. Sumber: hannymeilanni.blogspot.com

Pewarna alami mempunyai keunggulan, yaitu umumnya lebih sehat


untuk dikonsumsi daripada pewarna buatan. Namun, pewarna makanan alami
memiliki beberapa kelemahan, yaitu cenderung memberikan rasa dan aroma
khas yang tidak diinginkan, warnanya mudah rusak karena pemanasan,

Gambar 9.2 Contoh bahan pewarna alami


Sumber: hannymeilanni.blogspot.com
Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 5
warnanya kurang kuat (pucat), dan macam warnanya terbatas.
Tabel 1. Beberapa contoh bahan pewarna alami

NO Warna Yang Contoh Sumber


Diinginkan
1 Biru Buah murbei, buah anggur
2 Coklat Buah pinang, kakao, karamel
3 Merah Buah naga, buah bit
4 Jingga Buah somba
5 Hijau Daun suji
6 Merah muda Kulit kayu mahoni
7 Orange Wortel
8 Kuning Kunyit

b. Pewarna buatan

Pewarna buatan atau sintetis yang terbuat dari bahan kimia. Bahan
pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa keunggulan dibanding
pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam penggunaan, warnanya
lebih kuat, macam warnanya lebih banyak, dan warnanya tidak rusak karena
pemanasan. Penggunaan bahan pewarna buatan untuk makanan harus melalui
pengujian yang ketat untuk kesehatan konsumen. Contoh bahan pewarna
buatan seperti tartrazin untuk warna kuning, bliliant blue untuk warna biru,
alura red untuk warna merah. Meski aman dalam takran tertentu, namun
sebaiknya tidak dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan terus menerus.
Penggunaan pewarna buatan secara aman sudah begitu luas digunakan
masyarakat sebagai bahan pewarna dalam produk makanan.
Namun, di masyarakat masih sering ditemukan penggunaan bahan pewarna
buatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Pewarna tekstil yang sering

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 6


disalahgunakan sebagai pewarna makanan, antara lain rhodamine B (warna
merah) dan metanil yellow (warna kuning). Bahan – bahan itu dapat memicu
terjadinya kanker.

Gambar 5. Contoh makanan yang terindikasi bahan


pewarna tekstil ,,
Sumber: dkk.sukoharjokab.go.id

Tabel 2. Pewarna yang diijinkan dan pewarna yang tidak diijinkan


Pewarna yang
NO Pewarna yang tidak diijinkan
diijinkan
1 Biru berlian Auramine Fast Yellow AB Orange G
2 Cokelat HT Orange RN Black 7984 Magenta
3 Eritrosin Metanii Yellow Ponceau SX Chrysoine
4 Hijau FCF Chocolate
Brown
Gambar 9.3 Contoh makanan yang terindikasi FB Oil Yellow AB Sudan 1
bahan pewarna tekstil
5 Hijau S Alkanet Guinea green B Orange GGN
6 Indigotin
Sumber: dkk.sukoharjokab.go.id Orchil and Orcein Burn Umber Violet 6 B
7 Karmoisin Oil orange SS Ponceau 6R Citrus Red
No.2
8 Kuning FCF Fast Red E Oil Yellow OB
9 Kuning kuinolin Butter Yellow Indathrene Blue RS
10 Merah alura Ponceau 3 R Chrysoidine

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 7


2. Pemanis

Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan


digunakan untuk keperluan produk olahan pangan, industri serta minuman dan
makanan kesehatan. Pemanis dipakai untuk menambah rasa manis yang lebih
kuat padabahan makanan.

Pemanis dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemanis alami dan buatan.
Pemanis alami merupakan bahan pemberi rasa manis yang diperoleh dari bahan-
bahan nabati maupun hewani. Pemanis alami yang umum dipakai adalah gula
pasir, gula tebu atau gula pasir, gula merah, madu, dan kulit kayu.

Pemanis Alami
a. Gula tebu atau gula pasir mengandung zat pemanis fruktosa yang merupakan
salah satu jenis glukosa. Gula tebu atau gula pasir yang diperoleh dari tanaman
tebu merupakan pemanis yang paling banyak digunakan. Selain memberi rasa
manis, gula tebu juga bersifat mengawetkan.
b. Gula merah merupakan pemanis dengan
warna coklat. Gula merah merupakan pemanis
kedua yang banyak digunakan setelah gula
pasir. Kebanyakan gula jenis ini digunakan
untuk makanan tradisional, misalnya pada
bubur, dodol, kue apem, dan gulali.
c. Madu merupakan pemanis alami yang
dihasilkan oleh lebah madu. Selain sebagai
pemanis, madu juga banyak digunakan sebagai
obat.
d. Kulit kayu manis merupakan kulit kayu yang
berfungsi sebagai pemanis. Selain itu kayu manis Gambar 6. Beberapa contoh pemanis
alami yang sering digunakan Sumber:
juga berfungsi sebagai pengawet. www.guruipa.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 8


Sedangkan Pemanis buatan adalah senyawa hasil sintetis laboratorium yang
merupakan bahan tambahan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis
pada makanan. Pemanis buatan ini antara lain aspartam, sakarin, kalium
asesulfam, dan siklamat.

Pemanis Buatan
a. Aspartam

Aspartam mempunyai nama kimia aspartil fenilalanin metil ester, merupakan


pemanis yang digunakan dalam produk-produk minuman ringan. Aspartam
merupakan pemanis yang berkalori sedang. Tingkat kemanisan dari aspartam
200 kali lebih manis daripada gula pasir. Aspartam dapat terhidrolisis atau
bereaksi dengan air dan kehilangan rasa manis, sehingga lebih cocok digunakan
untuk pemanis yang berkadar air rendah.
b. Sakarin

Sakarin adalah pemanis buatan yang tidak berkalori. Sakarin dibuat dari garam
natrium. Asam sakarin berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat
manis. Sakarin mempunyai tingkat kemanisan 200-500 kali dari rasa manis
sukrosa (gula pasir). Sakarin dan aspartam sering digunakan di industri minuman
kaleng atau kemasan. Keunggulan sakarin, yaitu tidak bereaksi dengan bahan
makanan, sehingga makanan yang ditambah dengan sakarin tidak mengalami
kerusakan dan harganya murah. Kelemahan sakarin adalah mudah rusak bila
dipanaskan sehingga mengurangi tingkat kemanisannya. Selain itu, sakarin
kerap kali menimbulkan rasa pahit. Penggunaan sakarin yang berlebihan dapat
membahayakan kesehatan tubuh manusia, misalnya menimbulkan kanker.
c. Kalium Asesulfam

Kalium Asesulfam memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 kali dari kemanisan
gula pasir. Kelebihan kalium Asesulfam adalah mempunyai sifat stabil pada
pemanasan dan tidak mengandung kalori.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 9


d. Siklamat
Siklamat terdapat dalam bentuk kalsium dan natrium siklamat dengan
tingkat kemanisan yang dihasilkan kurang lebih 30 kali lebih manis daripada
gula pasir. Makanan dan minuman yang sering dijumpai mengandung siklamat
antara lain: es krim, es puter, selai, saus, es lilin, dan berbagai minuman
fermentasi. Beberapa negara melarang penggunaan siklamat karena
diperkirakan mempunyai efek karsinogen. Batas maksimum penggunaan
siklamat adalah 500–3.000 mg per kg bahan makanan.
Perbedaan Pemanis Alami dengan Pemanis Buatan, Orang memilih jenis
pemanis untuk makanan yang dikonsumsinya tentu dengan alasan masing-
masing. Pemanis alami tentu lebih aman, tetapi harganya lebih mahal. Pemanis
buatan lebih murah, tetapi aturan pemakaiannya sangat ketat karena bisa
menyebabkan efek negatif yang cukup berbahaya. Pada kadar yang rendah atau
tertentu, pemanis buatan masih diijinkan untuk digunakan sebagai bahan
tambahan makanan, tetapi pada kadar yang tinggi bahan ini akan menyebabkan
berbagai masalah kesehatan

Tabel 3. Perbedaan pemanis alami dan pemanis buatan

NO. Pemanis Alami Pemanis Buatan


1 Pada suhu tinggi bias terurai Cukup stabil bila dipanaskan
2 Memiliki kalori tinggi Memiliki kalori rendah
3 Berasa manis normal Jauh lebih manis daripada pemanis alami
4 Lebih aman dikonsumsi Sebagian berpotensi penyebab karsinogen
(penyebab kanker)

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 10


3. Pengawet

Pengawetan bahan makanan dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan


biologi. Pengawetan bahan makanan secara fisik dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu pemanasan, pendinginan, pembekuan, pengasapan,
pengalengan, pengeringan, dan penyinaran. Pengawetan secara biologis dapat
dilakukan dengan fermentasi atau peragian, dan penambahan enzim, misalnya
enzim papain dan enzim bromelin. Pengawetan secara kimia dapat dilakukan
dengan penambahan bahan pengawet yang diijinkan.

Gambar 7. Contoh makanan yang diawetkan

Sumber: www.sinarharapan.com

Daya tahan bahan makanan dapat diperpanjang melalui pengawetan


bahan pangan. Pengawetan bahan makanan dapat dilakukan secara fisik, kimia,
dan biologi. Pengawetan bahan makanan secara fisik dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu pemanasan, pendinginan, pembekuan, pengasapan,
pengalengan, pengeringan, dan penyinaran. Pengawetan secara biologis dapat
dilakukan dengan fermentasi atau peragian, dan penambahan enzim, misalnya
enzim papain dan enzim bromelin. Pengawetan secara kimia dapat dilakukan
dengan penambahan bahan pengawet yang diijinkan. Pengawet yang diijinkan
oleh Badan POM Indonesia adalah sebagai berikut.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 11


Tabel 4. Pengawet yang diijinkan oleh Badan POM Indonesia
Bahan Bahan
No No No Bahan pengawet
pengawet pengawet
1 Asam Benzoat 10 Metil p-hidroksi 19 Kalium nitrit
Benzoat
2 Kalsium Benzoat 11 Kalium Benzoat 20 Natrium propionat
3 Asam propinat 12 Natrium bisulfit 21 Kalium propionat
4 Kalsium 13 Kalium bisulfit 22 Natrium sulfit
propionat
5 Asam sorbat 14 Natrium 23 Kalium sorbat
metabisulfit
6 Kalsium sorbat 15 Kalium 24 Nisin
metabisulfit
7 Belerang dioksida 16 Natrium nitrat 25 Kalium sulfit
8 Natrium benzoat 17 Kalium nitrat 26 Propil p-hidroksi-
benzoat
9 Etil p-hidroksi 18 Natrium nitrit
benzoat

Gambar 8. Bawang putih, garam dan cuka sebagai pengawet alami


(Sumber:www.blogruangguru.com)

Bahan pengawet alami yang sering digunakan adalah garam, cuka, dan
gula. Bahan pengawet alami ini digunakan untuk mengawetkan makanan agar
selalu berada dalam kondisi baik. Metode pengawetan menggunakan garam

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 12


dapur (NaCl) telah dilakukan masyarakat luas selama bertahun-tahun. Larutan
garam yang masuk ke dalam jaringan diyakini mampu menghambat
pertumbuhan aktivitas bakteri penyebab busuk, sehingga makanan tersebut jadi
lebih awet. Pengawetan dengan garam ini memungkinkan daya simpan yang
lebih lama dibanding dengan produk segarnya yang hanya bisa bertahan
beberapa hari atau jam saja. Contoh ikan yang hanya tahan beberapa hari, bila
diasinkan dapat awet selama berminggu- minggu. Tentu saja prosedur
pengawetan ini perlu mendapat perhatian karena konsumsi garam secara
berlebihan dapat memicu penyakit darah tinggi. Selain itu, garam digunakan
untuk membuat telur asin dan ikan asin. Cuka digunakan agar sayuran dapat
bertahan lama. Gula digunakan dalam pembuatan kecap yang berfungsi sebagai
bahan pengawet.

4. Penyedap Makanan

Penyedap makanan adalah bahan tambahan makanan yang tidak


menambah nilai gizi. Penyedap makanan sebagai penguat rasa protein, penurun
rasa amis pada ikan, dan penguat aroma buah-buahan. Berikut diuraikan
beberapa contoh penyedap makanan.
a. Penyedap rasa

Penyedap rasa atau penegas rasa adalah zat yang dapat meningkatkan cita rasa
makanan. Penyedap berfungsi menambah rasa nikmat dan menekan rasa yang
tidak diinginkan dari suatu bahan makanan. Penyedap rasa ada yang diperoleh
dari bahan alami maupun sintetis.
Penyedap rasa alami berasal dari rempah-rempah, misalnya: bawang
putih, bawang bombay, pala, merica, ketumbar, serai, pandan, daun salam, dan
daun pandan, dll. Penyedap sintetik pada dasarnya merupakan tiruan dari yang
terdapat di alam, tetapi karena kebutuhannya jauh melebihi dari yang tersedia
maka sejauh mungkin dibuatlah tiruannya.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 13

9
Gambar 9. Contoh bahan penyedap alami
Sumber: sharingdisini.com

Bahan penyedap alami yang sering digunakan untuk menimbulkan rasa gurih
pada makanan, antara lain santan kelapa, susu sapi, dan kacang-kacangan.

Gambar 10. Pala, lengkuas, kayu manis dan bawang sebagai penyedap rasa alami

Penyedap sintetik yang sangat


populer di masyarakat adalah vetsin atau
MSG (mononatrium glutamat). Di pasaran,
senyawa tersebut dikenal dengan beragam
merek dagang, misalnya Ajinomoto, Miwon,
Sasa, Royco, Maggi, dan lain sebagainya.
MSG merupakan garam natrium dari asam
glutamat yang secara alami terdapat dalam
protein nabati maupun hewani. Gambar 11. Contoh MSG
Sumber: bikinngiler.wordpress.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 14

Gambar 9.7 Contoh MSG

Sumber: bikinngiler.wordpress.com
Daging, susu, ikan, dan kacang- kacangan mengandung sekitar 20%
asam glutamat. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kita mengkonsumsi
makanan yang mengandung asam glutamat akan terasa lezat dan gurih meski
tanpa bumbu-bumbu lain. Keunikan dari MSG adalah bahwa meskipun tidak
mempunyai cita rasa, tetapi dapat membangkitkan cita rasa komponen-
komponen lain yang terkandung dalam bahan makanan. Sifat yang semacam itu
disebut dengan taste enhancer (penegas rasa. Meskipun MSG dikonsumsi oleh
semua orang. MSG mempunyai pengaruh atau efek buruk yaitu menimbulkan
gangguan kesehatan.

b. Pemberi aroma

Pemberi aroma adalah zat yang dapat


memberikan aroma tertentu pada makanan atau
minuman, sehingga dapat membangkitkan selera
konsumen. Penambahan zat pemberi aroma
menyebabkan makanan memiliki daya tarik
untuk dinikmati. Zat pemberi aroma yang
berasal dari bahan segar.
Gambar 12 Minyak atsiri Sumber:
www.rianasaraswati.com

Pemberi aroma adalah zat yang memberikan aroma tertentu pada


makanan. Penambahan zat pemberi aroma dapat menyebabkan makanan memiliki
daya tarik tersendiri untuk dinikmati.
Gambar 13.Minyak
Gambar 9.8 Stroberi
atsiri dan anggur sebgai alternatif pemberi aroma
Sumber: www.rianasaraswati.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 15


Zat pemberi aroma ada yang bersifat alami dan sintesis. Zat pemberi
aroma yang berasal dari bahan segar atau ekstrak dari bahan alami, misalnya
dari ekstrak buah strawberry, ekstrak buah anggur, minyak atsiri atau vanili
disebut pemberi aroma alami. Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetis,
misalnya amil kaproat (aroma apel) amil asetat (aroma pisang ambon), etil butirat
(aroma nanas), vanilin (aroma vanili), dan metil antranilat (aroma buah anggur)
disebut pemberi aroma sintetis. Selai merupakan salah satu contoh bahan
makanan yang menggunakan zat pemberi aroma.

Gambar 14. Jeli


Sumber: rumahjelly.wordpress.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 16


2.3 Jenis-jenis dan Sumber Zat Adiktif

Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh
organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan
ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin
menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek
lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa. Zat adiktif dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu 1) zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika; 2) zat adiktif
narkotika; dan 3) zat adiktif psikotropika.
1. Zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika

Zat adiktif jenis ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari,
bahkan mungkin juga sering kita konsumsi pada bahan makanan atau minuman
yang mengandung zat adiktif tersebut. Adapun yang termasuk dalam zat adiktif
bukan narkotika dan psikotropika, yaitu :
a. Kafein

Bagi kalian penggemar teh atau kopi, mungkin kalian sudah tahu
tentang kandungan kafein yang terdapat pada teh dan kopi. Teh yang
mengandung kafein membuat hampir sebagian besar dari kita menjadi terbiasa
untuk mengkonsumsinya setiap hari. Tetapi teh aman dan baik untuk
dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan.

Gambar 14. Kopi dan teh yang mengandung kafein


Sumber: blog.puali.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 17


Selain mengandung kafein, teh juga mengandung theine, teofilin, dan
teobromin dalam jumlah sedikit. Sementara itu, kopi memiliki kandungan
kafein yang lebih tinggi daripada teh. Kopi yang terbuat dari biji kopi yang
disangrai dan dihancurkan menjadi bubuk kopi umumnya dikonsumsi orang
dengan tujuan agar mereka tidak mengantuk sebab kafein dalam kopi dapat
meningkatkan respons kewaspadaan pada otak.

Oleh karena itu kopi tidak dianjurkan untuk diminum secara berlebihan.
Tetapi kopi juga memiliki sejumlah manfaat pada beberapa terapi kesehatan,
seperti mencegah penyakit Parkinson, kanker usus, kanker lambung, dan
kanker paru-paru. Untuk beberapa kasus tertentu, kopi juga dapat menjadi obat
sakit kepala, tekanan darah rendah, dan obesitas.

b. Nikotin

Nikotin terdapat dalam rokok yang dibuat


dari daun tembakau melalui proses tertentu
dan dicampur dengan bunga cengkeh serta
beberapa macam bahan aroma. Kandungan
nikotin pada rokok inilah yang
menyebabkan orang menjadi berkeinginan
untuk mengulang dan terus-menerus
merokok. Selain mengandung nikotin, rokok Gambar 15. Rokok yang mengandung nikotin
Sumber: poskotanews.com
juga mengandung tar.
Kita juga sudah mengetahui tentang bahaya rokok pada kesehatan, yaitu
dapat merugikan organ-organ tubuh bagian luar, seperti perubahan warna gigi
dan kulit, maupun organ tubuh bagian dalam yang dapat memicu kanker paru-
paru.

Gambar 9.11 Rokok yang mengandung nikotin


Sumber: poskotanews.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 18


2. Zat adiktif narkotika
Narkotika merupakan zat adiktif yang sangat berbahaya dan
penggunaannya dilarang di seluruh dunia. Penggunaan narkotika tidak akan
memberi efek positif pada tubuh tetapi malah akan memberikan efek negatif.
Jika digunakan maka penggunanya akan mengalami penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri, tetapi
setelah itu penggunanya akan merasa tergantung dan akan mengulangi secara
terus-menerus untuk menggunakan narkotika yang memiliki banyak jenis ini.
Jika sudah begini maka akan sulit untuk lepas dari jerat narkotika yang hanya
akan memberi siksaan pada penggunanya.
Narkotika hanya diperbolehkan dalam dunia medis yang biasanya
digunakan sebagai obat bius untuk orang yang akan dioperasi, dan
penggunaannya pun sesuai prosedur yang telah ditentukan dalam standar
kesehatan internasional. Jenis-jenis narkotika ini misalnya sabu, opium, kokain,
ganja, heroin, amphetamine, dll. Karena berbahayanya maka menyimpan salah
satu dari jenis narkotika tersebut akan dikenakan hukuman yang sangat berat
misalnya saja hukuman mati.

Gambar 16. Jenis-jenis narkotika


Sumber: jogja.tribunnews.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 19


3. Zat adiktif psikotropika

Psikotropika merupakan zat atau obat baik alamiah maupun sintetis yang
bukan merupakan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif, berpengaruh selektif
pada saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
perilaku seseorang.

Zat psikotropika dapat menurunkan


aktivitas otak atau merangsang susunan
saraf pusat dan menimbulkan kelainan
perilaku, disertai halusinasi, ilusi,
gangguan cara berpikir, dan perubahan
alam perasaan.
Gambar 17. Contoh peralatan pemakai
psikotropika Sumber: jogja.tribunnews.com

Psikotropika sendiri merupakan zat atau obat, baik itu yang alamiah
ataupun sintetik, tapi bukan narkotika yang berguna sebagai psikoaktif yang
mempunyai pengaruh selektif dalam susunan syaraf pusat yang dapat
menimbulkan perubahan khas aktivitas mental, serta perilaku. Hampir semua zat
adiktif masuk dalam psikotropika, namun Gambar
tidak9.13semua psikotropika dapat
Contoh peralatan pemakai psikotropika
Sumber: jogja.tribunnews.com
menyebabkan ketergantungan. Beberapa yang termasuk golongan psikotropika
adalah Sedative-Hipnotik, Amfetamin, dan obat halusinogenik.

a. Sedatif-Hipnotik (Depresan)

Sedative-Hipnotik merupakan penekan susunan saraf pusat. Dalam dosis


kecill dapatmengatasi ansietas (perasaan cemas) sedangkan dalam jumlah
besar dapat menginduksi tidur. Contohnya antara lain : sedatin/pil BK,
rohypnol, magadon, valium dan mandrax (MX). Sedative- Hipnotik yang
banyak disalahgunakan adalah golongan Benzodiazepin yang dapat
dikonsumsi secara oral (ditelan). Pengaruh Sedative-Hipnotik terhadap

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 20


susunan saraf pusat bergantung pada dosis atau jumlah yang dipakai, dengan
tingkat pengaruh sebagai berikut :
1) Dalam jumlah kecil, menyebabkan
rasa tenang, mengurangi ansietas,
dan terjadi pengendalian diri yang
kurang terkontrol.
2) Dalam jumlah sedang,
menyebabkan mengantuk,
menginduksi tidur dan
Gambar 18. Contoh Sedative-Hipnotik (Depresant)
memperpanjang tidur. Sumber: metroworld.us

3) Dalam dosis yang lebih banyak,


menimbulkan efek anestesi, hilang
kesadaran, dan amnesia.

b. Amfetamin (Stimulan)

Amfetamin adalah suatu bahan sintetik


(buatan) yang tergolong perangsang susunan
Gambar 9.14 Contoh Sedative-Hipnotik (Depresant)
Sumber: metroworld.us
saraf. Ada tiga jenis amfetamin yaitu
laevoamfeamin (benzedrin), dekstroamfetamin
(deksedrin), dan metilamfetamin (metedrin).
Golongan amfetamin yang banyak
disalahgunakan adalah MDMA (3,4, metilan-
di-oksi met- amfetamin) atau lebih dikenal Gambar 19. Contoh amfetamin (stimulan)
Sumber: www.acehtraffic.com
dengan ekstasi dan metamfetamin (shabu-
shabu).
Amfetamin dapat dikonsumsi dengan cara ditelan, yang kemudian akan
Gambar 9.15 Contoh amfetamin
diabsorbsi seluruhnya ke dalam darah. Pada penggunaan secara intravena dalam
(stimulan)
beberapa detik akan sampai di otak.
Sumber: www.acehtraffic.com

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 21


c. Halusinogen

Halusinogen berpengaruh terhadap persepsi bagi


penggunanya. Orang yang mengkonsumsi obat
tersebut akan menjadi orang yang sering
berhalusinasi, misalnya mereka mendengar atau
merasakan sesuatu yang ternyata tidak ada. Gambar 9.16 Ganja Sumber:
www.guruipa.com

Pengaruh halusinogen ini sangat bervariasi, sehingga sulit diramalkan


bagaimana atau kapan mereka mulai berhalusinasi. Halusinogen alami antara
lain ganja, kecubung, meskalin yang berasal dari kaktus Liphophora williamsii
dan psilocybin yang berasal dari jamur Psilocybe mexicana dan halusinogen
sintetik antara lain adalah LSD (Lysergic acid Diethylamide). Ganja akan
menimbulkan halusinogen bila pada dosis yang tinggi.
Gambar 9.16
Ganja Sumber:
www.guruipa.c
2.4 Dampak Penggunaan Zat Aditif dan Zat Adiktif terhadap Tekstur Bahan
om
Makanan

1. MSG (Monosodium glutamate)


MSG (monosodium glutamat) alias mecin adalah zat aditif yang
digunakan sebagai penyedap rasa makanan. MSG dapat menyebabkan
masalah pada sistem saraf dan otak.
2. Pewarna buatan
Pewarna buatan adalah zat aditif pada makanan yang dipakai untuk
mempercantik penampilan. Makanan yang berwarna cerah dan segar akan
menarik minat orang-orang untuk membeli. Beberapa pewarna makanan
buatan diduga kuat dapat memicu kanker, misalnya biru berlian, merah, dan
pewarna karamel. Bahan pewarna mengandung eritorisin, terbukti dapat
meningkatkan risiko tumor tiroid.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 22


3. Natrium nitrit
Natrium nitrit merupakan zat pengawet dalam daging olahan yang
digunakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Selain itu, zat aditif pada
makanan ini juga menambah rasa asin dan membuat daging kalengan
terlihat pink kemerahan seperti daging segar.
Sayangnya jika terkena suhu panas yang cukup tinggi, zat ini dapat
berubah bentuk menjadi nitrosamin. Nitrosamin dikenal sebagai zat
penyebab kanker usus besar, kanker payudara, kanker kandung kemih, dan
juga kanker perut. Untuk itu, usahakan untuk memakan dan memproses
daging segar sendiri untuk menurunkan risiko penyakit kanker.
4. Sirup jagung tinggi fruktosa
Sirup jagung tinggi fruktosa merupakan pemanis buatan yang sering
ditemukan dalam soda, jus, permen, sereal, dan berbagai makanan ringan.
Sebuah penelitian membuktikan bahan ini dapat meningkatkan risiko
obesitas dan diabetes jika sering dikonsumsi dalam porsi berlebihan.
Selain itu, zat yang satu ini juga dapat memicu peradangan dalam sel
yang bisa mengakibatkan berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung
dan kanker. Penelitian juga membuktikan pemanis ini tidak mengandung
vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Sebagai gantinya, pilih makanan dan minuman tanpa gula buatan
tambahan. Anda bisa menambahkan madu murni sebagai pengganti gula
yang lebih sehat.

5. Pemanis buatan

Pemanis buatan seperti aspartam, sakarin, dan lainnya banyak


digunakan dalam makanan dan minuman manis rendah kalori.

Penggunaan sakarin yang berlebihan selain akan menyebabkan rasa


makanan terasa pahit juga merangsang terjadinya tumor pada bagian
kandung kemih. Contoh lain, garam-garam siklamat pada proses

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 23


metabolism dalam tubuh dapat menghasilkan senyawa sikloheksamina yang
bersifat karsinogenik (senyawa yang dapat menimbulkan penyakit kanker.
Garam siklamat juga dapat memberikan efek samping berupa gangguan
pada sistem pencernaan terutama pada pembentukan zat dalam sel.

6. Natrium benzoate

Natrium benzoat adalah zat aditif pada makanan asam serta


minuman bersoda. Meski begitu, beberapa penelitian menunjukkan
kombinasi natrium benzoat dan pewarna makanan buat dapat meningkatkan
kecenderungan hiperaktivitas pada anak. Selain itu, natrium benzoat yang
dikombinasikan dengan vitamin C juga dapat berubah menjadi benzena, zat
yang dapat meningkatkan risiko kanker

7. Perasa buatan

perasa buatan tertentu seperti coklat dan stroberi memiliki efek


racun pada sel sumsum tulang. Sementara perasa anggur, plum, dan jeruk
dapat menghambat pembelahan sel dan memiliki efek racun bagi sumsum
tulang. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat
efeknya pada manusia.

8. Lemak trans

Lemak trans (trans fat) merupakan minyak sayur terhidrogenasi


yang biasanya ditemukan dalam margarin, biskuit, pop corn, makanan yang
digoreng, hingga krimer.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa lemak trans dapat


meningkatkan kolesterol jahat LDL yang lambat laun meningkatkan risiko
penyakit jantung.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 24


9. Zat pengawet

Selain formalin, ada juga pengawet yang tidak boleh dipergunakan untuk
mengawetkan makanan. Pengawet yang di maksud adalah pengawet boraks.
Pengawet ini bersifat desinfektan atau efektif menghambat pertumbuhan
mikroba penyebab membusuknya makanan serta dapat memperbaiki tekstur
makanan sehingga lebih kenyal. Boraks hanya boleh dipergunakan untuk
industry non pangan. Jika boraks termakan dalam kadar tertentu, dapat
menimbulkan sejumlah efek samping bagi kesehatan diantaranya:

a. Gangguan pada sistem saraf,ginjal, hati dan kulit

b. Gejala pendarahan di lambung dan gangguan stimulasi saraf pusat

c. Terjadinya komplikasi pada otak dan hati

d. Dan menyebabkan kematian jika ginjal mengandung boraks


sebanyak 3-6 gram.

2.5 Dampak Penggunaan Zat Aditif dan Zat Adiktif Bagi Tubuh

a. Dampak Penggunaan Zat Aditif Bagi Tubuh

1. Dampak Positif Penggunaan Zat Aditif Bagi Tubuh

1. Untuk menarik pembeli


2. Memberi warna makanan
3. Memberi aroma yang khas pada makanan
4. Membuat makanan menjadi tahan lama
5. Mempertahankan nilai gizi
6. Memperbaiki penamplan makanan

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 25


2. Dampak Negatif Penggunaan Zat Aditif Bagi Tubuh

 Dampak negatif penggunaan zat aditif pada tubuh

Penyakit kanker (karsinogen), dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan


yang diberi zat aditif (zat tambahan) seperti: bahan pengawet, pewarna, penyedap
rasa, pemanis buatan, dan pengemulsi. Bahan aditif makanan ini juga merupakan
zat-zat beracun yang sangat berbahaya bagi tubuh. Penyakit kanker dapat
menyerang organ lambung, kolon (usus besar), payu dara dan indung telur. Kanker
lambung terjadinya karena zat nitrit dan nitrat dari makanan berubah menjadi
nitrosaminyang bersifat karsinogenik. Kanker usus besar, bisa timbul karena bahan
makanan yang dikonsumsi mengandung serat rendah dan lemak tinggi. Suatu saat
lemak bisa berubah menjadi zat yang bersifat karsinogenik. Kanker payu dara dan
indung telur, terjadi karena kadar lemak tinggi. (Yandri, 2006).

Kadar lemak tinggi berhubungan dengan pengubahan keseimbangan


hormonal (terutama peningkatan hormon estrogen). Senyawa hidrokarbon yang
timbul ketika pemrosesan makanan (misalnya dengan pengasapan dan
penggorengan dengan suhu tinggi) sangat membahayakan kesehatan. Penyakit
kardiovaskuler, merupakan kelanjutan penyakit tekanan darah tinggi, kebiasan

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 26


merokok, dan kenaikan kolesterol serum. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan
jenis makanan yang dikonsumsi (daging, lemak, seafood dan sebagainya) dan
kebiasaan negatif lainya (merokok). Lemak hewani dapat menaikan kadar lemak
serum, akibabnya kolesterol serum tinggi, pembuluh darah menyempit dan tekanan
darah tinggi.( Yandri, 2006).

Gangguan kesehatan dapat berupa gangguan pertumbuhan dan perkembangan


tubuh, rasa mual yang disertai rasa pusing yang cukup berat, debaran jantung yang
lebih kuat, dan kesemutan, tumor pada paru-paru, indung telur, ginjal, kulit dan
uterus, proses penggumpalan darah, diabetes melitus, kematian sel, kerusakan
kromosom, penyakit jantung dan kematian. ( Tandjung, 1987).

Berbagai macam penyakit dapat muncul dari kebiasaan manusia mengkonsumsi


makan yang kurang memperhatikan keseimbangan gizi.
1. Penyakit gondok yang berupa pembengkakan kelenjar pada leher. Penyakit
gondok disebabkan karena tubuh kurang mendapatkan zat iodin. Penyakit
gondok dapat dicegah dengan mengkonsumsi bahan makanan yang
mengandung zat iodin. Zat iodin dapat kita peroleh dari garam dapur yang
biasa digunakan untuk memberikan rasa asin pada makanan. Selain penyakit
gondok, kekurangan iodin dapat pula menyebabkan penyakit kretinisme
(kekerdilan).
2. Orang yang memiliki penyakit diabetes melitus (kencing manis) perlu
menjaga kestabilan kadar gula dalam darahnya. Penyakit ini dapat
disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat. Untuk menjaga kestabilan
kadar gula dalam darah, bagi penderita diabetes melitus disarankan untuk
mengkonsumsi sakarin (pemanis buatan) sebagai pengganti gula (Yandri,
2006).

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 27


Nama zat pengawet dan Penyakit yang ditimbulkan
1. Formalin : Kanker paru-paru, gangguan pada alat pencernaan, penyakit
jantung dan merusak sistem saraf.
2. Boraks :Mual, muntah, diare, penyakit kulit, kerusakan ginjal, serta
gangguan pada otak dan hati.
3. Natamysin : Mual, muntah, tidak nafsu makan, diare dan perlukaan kulit.
4. Kalium Asetat : Kerusakan fungsi ginjal.
5. Nitrit dan Nitrat : Keracunan, mempengaruhi kemampuan sel darah
membawa oksigen ke berbagai organ tubuh, sulit bernapas, sakit kepala,
anemia, radang ginjal, dan muntah-muntah.
6. Kalsium Benzoate : Memicu terjadinya serangan asma.
7. Sulfur Dioksida : Perlukaan lambung, mempercepat serangan asma,
mutasi genetik, kanker dan alergi.
8. Kalsium dan Natrium propionate : Penggunaaan melebihi angka
maksimum tersebut bisa menyebabkan migren, kelelahan, dan kesulitan
tidur.
9. Natrium metasulfat : Alergi pada kulit

Nama Zat Pewarna dan Penyakit yang ditimbulkan :

1. Rhodamin B (pewarna tekstil): Kanker dan menimbulkan keracunan pada


paru-paru, tenggorokan, hidung, dan usus
2. Tartazine: Meningkatkan kemungkinan hyperaktif pada masa kanak-kanak.
3. Sunset Yellow: Menyebabkan kerusakan kromosom
4. Ponceau 4R: Anemia dan kepekatan pada hemoglobin.
5. Carmoisine (merah): Menyebabkan kanker hati dan menimbulkan alergi.
6. Quinoline Yellow: Hypertrophy, hyperplasia, carcinomas kelenjar
tiroid

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 28


Nama Zat Pemanis dan Penyakit yang ditimbulkan:
1. Siklamat : Kanker (Karsinogenik)
2. Sakarin : Infeksi dan Kanker kandung kemih
3. Aspartan : Gangguan saraf dan tumor otak
4. Semua pemanis buatan : Mutagenik

b. Dampak Penggunaan Zat Adiktif Bagi Tubuh

1. Dampak Positif Penggunaan Zat Adiktif Bagi Tubuh

1. Dari zat stimulan yakni zat yang bisa merangsang suatu fungsi tubuh
sehingga akan meningkatkan cairan dan juga kesadaran seseorang untuk
melakukan suatu aktivitasnya selama jangka waktu tertentu. Zat yang
tergolong dalam stimulan meliputi kafein, kokain, dan juga amfetamin.
Sedangkan contoh dari zat stimulan yang saat ini seringkali disalah
gunakan ialah sabu-sabu atau pun ekstasi.
2. Jika pada bidang ilmu kedokteran, zat depresan merupakan suatu zat
yang bisa digunakan untuk menekan sistem saraf pusat dan bisa juga
digunakan untuk mengurangi suatu aktivitas fungsional dalam anggota
tubuh sehingga penggunanya akan merasakan ketenagan.
3. Pada bidang ilmu kedokteran, zat ini biasa dipakai untuk zat analgesik
yang kuat, yang memiliki fungsi dalam upaya membantu
menghilangkan rasa nyeri yang timbul pada saat proses pembedahan
berlangsung.
4. Pada bidang ilmu kesehatan, alkohol biasa dipakai untuk zat disinfektan.
Definisi dari zat disinfektan sendiri merupakan suatu zat yang
dimanfaatkan sebagai pembunuh kuman dan juga bakteri. Selain itu
alkohol juga dimanfaatkan untuk melakukan pencucian alat-alat
kedokteran kebanyakan. ( Kurniawati,2009).

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 29


2. Dampak Negatif Penggunaan Zat Adiktif Bagi Tubuh

Penggunaan zat adiktif berisiko pada kerusakan sistem syaraf dan organ-organ
penting lainnya seperti jantung, paru-paru, dan hati. Dan sebagai berikut :
1. Adanya gangguan pada sistem syaraf (neurologis) seperti; kejang-kejang,
halusinasi,gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi dan sebagainya.
2. Terjadinya gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler)
sepert; infeksiakut otot jantung, gangguan peredaran darah dan sebagainya.
3. Terjadinya gangguan pada kulit (dermatologis) seperti; penanahan (abses),
alergi,eksim dan sebagainya(Kurniawati,2009).
4. Terjadinya gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti; penekanan fungsi
pernapasan, kesulitan bernafas, pengerasan jaringan paru-paru dan
sebagainya.
5. Mengalami sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu badan
meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
6. Gangguan terhadap kesehatan reproduksi berupa gangguan pada endokrin
seperti; penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogin, progesteron,
testosteron) serta gang guan fungsi seksual.
7. Gangguan terhadap kesehatan reproduksi pada wanita usia subur seperti;
perubahan siklus.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 30


menstruasi/haid, menstruasi/haid yang tidak teratur dan aminorhoe (tidak
terjadi haid). (Tandjung,1987).

2.6 Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Zat Adiktif dan Psikotropika

Kita semua harus berupaya untuk terhindar dari penyalahgunaan zat


adiktif dan psikotropika. Pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika
memerlukan peran bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Peran Anggota Keluarga

Setiap anggota keluarga harus saling menjaga agar jangan sampai ada
anggota keluarga yang terlibat dalam penyalahgunaan zat adiktif dan
psikotropika. Kalangan remaja ternyata merupakan kelompok terbesar yang
menyalahgunakan zat-zat tersebut. Oleh karena itu, setiap orang tua memiliki
tanggung jawab membimbing anakanaknya agar menjadi manusia yang bertaqwa
kepada Tuhan. Karena ketaqwaan inilah yang akan menjadi perisai ampuh untuk
membentengi anak dari menyalahgunakan obat-obat terlarang dan pengaruh
buruk yang mungkin datang dari lingkungan di luar rumah.
Peran Anggota Masyarakat
Kita sebagai anggota masyarakat perlu mendorong peningkatan
pengetahuan setiap anggota masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan obat-obat
terlarang. Selain itu, kita sebagai anggota masyarakat perlu memberi informasi
kepada pihak yang berwajib jika ada pemakai dan
pengedar narkoba di lingkungan tempat tinggal.
Peran Sekolah

Sekolah perlu memberikan wawasan yang cukup kepada para


siswa tentang bahaya penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika bagi diri
pribadi, keluarga, dan orang lain. Selain itu, sekolah perlu mendorong setiap
siswa untuk melaporkan pada pihak sekolah jika ada pemakai atau pengedar zat

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 31


adiktif dan psikotropika di lingkungan sekolah. Sekolah perlu memberikan sanksi
yang mendidik untuk setiap siswa yang terbukti menjadi pemakai atau pengedar
narkoba.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 32


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian tentang zat aditif dan zat adiktif, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Zat aditif adalah zat-zat yang ditambahkan pada makanan selama proses
produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Dan zat
adiktif adalah zat-zat yang dapat membuat pemakainya kecanduan (adiksi).
2. Zat aditif diantaranya adalah pewarna, pemanis, pengawet, penyedap rasa,
antioksidan, pengemulsi, pemutih dan pematang tepung, pengatur
keasaman, anti kempal, pengeras, sekuestran. Dan zat adiktif macamnya
adalah heroin,kokain, opium, morpin, tembakau, ekstasi, ganja, alcohol, dan
barbiturates.
3. Zat aditif dan zat adiktif dalam jangka yang lama dapat merusak organ
dalam tubuh manusia.

3.2 Saran

1. Harus lebih bijak menggunakan bahan pewarna, pemanis,pengawet, dan


penyedap rasa yang terbuat dari bahan-bahan kimia. Karena memiliki efek
samping yang kurang baik pada tubuh.
2. Perlu pengawasan yang ketat dan pengendalian di dalam ketersediaan
narkotika yang digunakan untuk obat-obatan dan pelayanan kesehatan juga
pengembangan Ilmu Pengetahuan.
3. Tindakan yang tegas kepada pelaku kejahatan narkoba dengan hukuman
yang berat untuk membuat jera pelaku dengan hukuman yang seberat-
beratnya.

Kelompok 6 Zat Aditif dan Zat Adiktif 33


DAFTAR PUSTAKA

Andini, Widya Citra. (2018). Zat tambahan pada makanan cepat saji, dan efeknya
bagi kesehatan.. Jakarta: Dokter sehat

Dian N.F.2008.Rumus Kimia Kantong Kimia SMP.Yogyakarta:Penerbit Pustaka


Widyatama.

Ika Kurniawati Y. 2009. Mengenal Zat Adiktif Makanan. Jakarta: Sinar Cemerlang.

Kemendikbud. 2014. Ilmu Pengentahuan Alam SMP/MTs Kelas VIII Semester 2


Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang.Jakarta: Kemdikbud

Ramlawati. (2016). Zat aditif dan adiktif serta sifat bahan dan
pemanfaatannya.Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan.Jakarta:
Kemendikbud: Jakarta.

Sarwono. Sarlito.2013.Psikologi Remaja. Jakarta:Rajawali Pers. Susanti.


Dini. 2008. Pelajaran IPS-Geografi. Bandung: Yrama Widya.

Tandjung, H.S.J., 1987, Ancaman Keracunan oleh Adanya Bahan-Bahan Tambahan


di dalam Makanan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Yandri A.S 2006. Zat aditif kimia pangan, Jurusan Kimia FMIPA. Lampung:
Universitas Lampung.

Anda mungkin juga menyukai