Anda di halaman 1dari 90

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia berkembang dari waktu ke waktu dalam kehidupan yang

ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik, sikap, kecerdasan dan emosi.

Setiap individu dalam proses perkembangan berusaha untuk menentukan

nilai-nilai, sikap, prinsip, hubungan dan pemahaman. Menurut World Health

Organization (WHO) remaja adalah penduduk yang berada pada rentang

usia 10 sampai dengan 19 tahun. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

25 tahun 2014 menyatakan bahwa remaja adalah penduduk yang berada

pada rentang usia 10 sampai dengan 18 tahun. Menurut Badan

Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja

adalah 10 sampai dengan 24 tahun dan belum menikah. Jumlah kelompok

usia 10 sampai dengan 19 tahun di Indonesia berdasarkan Sensus

Penduduk 2016 sebanyak 43,5 juta atau sekitar 18% dari jumlah penduduk.

Di dunia diperkirakan kelompok remaja berjumlah 1,2 milyar atau 18% dari

jumlah penduduk dunia (BKKBN, 2016).

Remaja sebagai manusia yang sedang bertumbuh mencari jati diri tak

lepas dari perubahan secara biologis, sosial, kognitif dan sosioemosi

(Santrok, 2008). Perkembangan ini saling berkaitan satu dengan yang lain

sehingga dapat berdampak pada kesejahteraan emosional remaja dan

menyebabkan stress yang luar biasa (Goldbeck, 2007 dalam Fajarwati,

1
2

2014). Naik turunnya emosi adalah hal yang wajar pada remaja dan

merupakan bagian dari peralihan yang dialami remaja, namun hal ini dapat

berdampak pada tingkat kebahagiaan remaja (Ekawati, 2012).

Kebahagiaan merupakan suatu hal yang penting dalam hidup karena

dengan bahagia setiap orang pasti merasakan kehidupan yang nyaman dan

terasa lebih berharga. Kebahagiaan adalah tujuan setiap orang dalam

hidupnya. Istilah kebahagiaan juga banyak dikenal dalam psikologi positif.

Teori dan penelitian psikologi cenderung menggunakan istilah yang lebih

tepat yang dapat didefinisikan secara operasional, yakni subjective well-

being.

Diener (Ariati, 2010) menyatakan bahwa subjective well-being adalah

evaluasi akan kejadian yang telah terjadi atau dialami dalam kehidupan

yang melibatkan proses afektif dan kognitif yang aktif karena menentukan

bagaimana informasi tersebut akan diatur. Evaluasi kognitif dilakukan saat

seseorang memberikan evaluasi secara sadar dan menilai kepuasan

mereka terhadap kehidupan secara keseluruhan atau penilaian evaluatif

mengenai aspek-aspek khusus dalam kehidupan, seperti kepuasan kerja,

minat dan hubungan. Reaksi afektif dalam subjective well-being yang

dimaksud adalah reaksi individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup

yang meliputi emosi yang menyenangkan dan emosi yang tidak

menyenangkan.

Seligman dan Csikszentmihalyi (Luthans, 2009) menyatakan bahwa

dalam praktik subjective well-being lebih ilmiah untuk mengartikan istilah


3

kebahagiaan. Kadang-kadang kedua istilah tersebut digunakan secara

bergantian tetapi subjective well-being dianggap lebih luas maknanya dan

didefinisikan sebagai sisi afektif seseorang (suasana hati dan emosi) dan

evaluasi kognitif kehidupan mereka. Kunci dari subjective well-being adalah

cara seseorang secara emosional menginterpretasikan dan secara kognitif

memproses apa yang terjadi pada diri (Luthans, 2009).

Peneliti memilih menggunakan istilah subjective well-being untuk

menggambarkan kebahagiaan seseorang, karena mengacu pada pendapat

Luthans (2009) bahwa istilah subjective well-being lebih tepat dan dapat

didefinisikan secara operasional. Selain itu pendapat dari Seligman dan

Csikszentmihalyi (2000) juga memperkuat alasan peneliti menggunakan

istilah subjective well-being dalam penelitiannya karena istilah subjective

well-being dapat didefinisikan sebagai sisi afektif dari seseorang seperti

suasana hati dan emosi serta dalam pengevaluasian secara kognitif dari

kehidupan seseorang. Selain itu penelitian Ulfah & Mulyana (2014)

menyebutkan komponen-komponen subjective well-being sebagai alat ukur

perspektif individu yaitu kepuasan hidup, afeksi positif dan afeksi negatif.

Pengalaman dari lingkungan yang dialami remaja lebih berkontribusi

pada perubahan emosi dibandingkan dengan perubahan hormon.

Perubahan emosi yang disebabkan lingkungan akan berpengaruh pada

tingkat afek positif dan tingkat rendahnya afek negatif yang merupakan

aspek dari subjective well-being. Perubahan emosi yang disebabkan

lingkungan akan mempengaruhi tingkat subjective well-being remaja


4

karena secara tidak langsung lingkungan turut berkontribusi pada tingkat

subjective well-being remaja (Santrock, 2014).

Banyak dari remaja yang memiliki permasalahan yang berkaitan

dengan kesulitan yang terjadi pada saat ini atau yang akan datang,

contohnya permasalahan yang berhubungan dengan keluarga, kesehatan,

proses pertumbuhan yang sedang dialami maupun masalah pertemanan.

Tingkat subjective well-being pada remaja akan menurun ketika sedang

merasakan kecemasan, depresi dan khawatir. Usaha remaja untuk

mempertahankan subjective well-being menjadi lebih mudah dilakukan jika

remaja merasakan adanya dukungan sosial orang tua dan teman

sebayanya. Remaja diharapkan bisa menjadi individu yang lebih positif dan

dapat terhindar dari hal-hal yang negatif seperti bunuh diri,

ketidakmampuan menyesuaikan dengan lingkungan maupun hamil pra-

nikah.

Harapannya remaja memiliki subjective well-being yang tinggi agar

bisa memiliki pikiran positif serta bisa membuat keputusan sendiri dan

mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur

lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan

membuat hidup menjadi lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi

dan mengembangkan dirinya. Selain itu remaja yang mempunyai subjective

well-being yang tinggi juga diharapkan terhindar dari hal-hal negatif seperti

rasa putus asa, bunuh diri, pergaulan bebas serta tidak dapat berinteraksi

dengan lingkungan.
5

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 21 Mei

2018 oleh peneliti terhadap 3 orang siswa kelas 2 SMP Muhammadiyah 1

Moyudan dapat diketahui bahwa ada beberapa siswa mengatakan masih

merasa kurang puas dengan apa yang telah mereka lakukan. Siswa

mengeluh ketika diwawancarai serta cukup sering membandingkan diri

sendiri dengan orang lain. Kemudian dilakukan wawancara kembali pada

tanggal 04 Juni 2018 terhadap 4 orang siswa kelas 1 SMP yang

menyatakan bahwa mereka kurang bersyukur dengan apa yang mereka

miliki dan merasa kurang bahagia dengan segala yang mereka punya. Hasil

wawancara juga menunjukan sebagian besar siswa diantar kesekolah oleh

ayah masing-masing siswa. Selain itu, ayah siswa menjemput sepulang

sekolah.

Selain itu mereka mengatakan masih mudah marah ketika ada teman

yang menyinggung tentang pribadinya sehingga menimbulkan rasa kecewa

dan menimbulkan ketidakpercayaan pada diri mereka serta ketidakpuasan

dalam hidup. Siswa mengatakan kurang rasa percaya diri sehingga tidak

mau berbaur dengan yang lainnya dan sebagian lain menjelaskan enggan

untuk berbaur karena merasa iri dengan teman-teman yang lainnya dengan

alasan siswa tersebut tidak memiliki apa yang teman-temannya miliki.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 21 Mei dan

4 Juni 2018 pada siswa SMP Muhammadiyah 1 Moyudan didapatkan

bahwa siswa yang akan menjadi subjek adalah siswa baru yang sedang

menjalani masa pengenalan sekolah. Terlihat siswa di SMP


6

Muhammadiyah 1 Moyudan tersebut banyak yang membuat kelompok

pertemanan sehingga terdapat beberapa siswa yang tidak bergabung

dengan siswa lain. Selain itu terdapat siswa yang terlihat murung dan

menyendiri di saat teman lainnya bermain bersama, enggan untuk ikut

bermain dengan teman lainnya.

Keadaan ini menggambarkan bahwa remaja mengalami pengalaman

dari lingkungan yang akan berkontribusi pada perubahan emosi.

Perubahan ini akan berpengaruh pada tingkat afek negatif dan afek posistif

yang merupakan komponen dari subjective well-being (Santrock, 2007).

Lingkungan dapat terdiri dari rumah dan sekolah. Lingkungan rumah terdiri

dari orang tua dan sekolah terdiri dari teman sebaya dan guru. Rueger,

Malecki & Demaray (2008) menyatakan bahwa teman sekelas, teman

dekat, sekolah, orang tua, guru merupakan sumber dukungan sosial.

Sehingga bisa dikatakan bahwa orangtua, guru dan teman yang merupakan

sumber dukungan sosial yang berpengaruh pada subjective well-being

remaja.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tersebut peneliti memilih

SMP Muhammadiyah 1 Moyudan karena di sekolahan ini menggambarkan

permasalahan yang mencakup komponen subjective well-being pada

remaja. Oleh karena itu, peneliti memutuskan memilih SMP

Muhammadiyah 1 Moyudan untuk melakukan penelitian.

Perubahan sosial turut mengubah pola pengasuhan orang tua. Pada

jaman dahulu sebagian besar ibu berada di rumah serta bertanggung jawab
7

penuh terhadap pengasuhan anak, sedangkan ayah bekerja sebagai

pencari nafkah utama, namun sekarang banyak ibu-ibu yang berkarir di luar

rumah. Ibu-ibu bekerja adalah suatu bagian dari kehidupan modern dan

bukan merupakan aspek kehidupan yang menyimpang dari kebiasaan,

tetapi suatu tanggapan terhadap perubahan sosial (Santrock, 2014).

Soekanto (Wulandari, 2009) menyatakan bahwa hanya ayah yang

mencari penghasilan untuk keluarga dan tugas seorang ibu hanya menjaga

anak dan mengurus rumah, namun pada keluarga pola masyarakat yang

agraris akan banyak menghadapi persoalan dalam menyongsong

modernisasi khususnya industrialisasi. Ikatan keluarga dalam masyarakat

agraris dibentuknya atas dasar faktor kasih sayang dan faktor ekonomis,

dalam arti keluarga tersebut merupakan suatu unit yang memproduksi

sendiri kebutuhan primernya. Dimulainya industrialisasi pada suatu

masyarakat agraris menyebabkan peranan keluarga menjadi berubah.

Ayah yang biasanya wajib mencari penghasilan namun apabila penghasilan

ayah tidak mencukupi maka ibu akan ikut mencari penghasilan tambahan.

Sejalan dengan itu, Day dan Lamb (Santrock, 2014) mencatat bahwa

terjadi perubahan yang sangat besar pada peran ayah dalam keluarga di

Amerika Serikat. Ayah terutama bertanggung jawab atas pengajaran moral

anaknya. Fokus peran ayah dengan adanya revolusi industri menjadi

berubah untuk menekankan posisinya sebagai pencari nafkah bagi

keluarga. Menjelang tahun 1970, minat ayah sebagai orang tua aktif dan

penyayang mulai muncul. Ayah tidak hanya bertanggung jawab untuk


8

mendisiplinkan dan mengontrol anak-anak yang lebih tua namun juga

melibatkan diri secara aktif dalam pengasuhan anak.

Penelitian Ghiamitasya (2012) menunjukan hasil bahwa peran

tradisional ayah adalah sebagai pencari nafkah dan terasingkan dari

wilayah domestik (rumah tangga), dengan adanya kondisi sosial Jepang

(shoushika) menuntut peran ayah untuk kembali dimunculkan dalam

keluarga. Sosialisasi dari pemerintah menjadi peran penting dalam

pembentukan peran ayah dalam keluarga, terutama dalam hal pengasuhan

anak. Oleh karena itu di dalam figur baru seorang ayah perannya dalam hal

pengasuhan menjadi hal yang penting. Peran ayah di dalam keluarga

dimunculkan kembali seperti pada masa-masa sebelumnya.

Lamb (Santrock, 2014) berpendapat bahwa interaksi ibu terpusat

dalam aktivitas perawatan anak, seperti memberi makan, mengganti popok

dan memandikan anak. Sedangkan interaksi ayah lebih cenderung pada

aktivitas bermain yang “bersemangat” seperti mengayun-ngayunkan anak

ke udara, menggelitik dan lain-lain. Ibu juga bermain dengan anak, namun

jenis permainannya cenderung tidak bersifat fisik dan bersemangat seperti

ayah. Keterlibatan ayah secara teratur dan aktif akan memberikan dampak

yang positif, meskipun tidak diketahui bentuk khusus keterlibatan yang

seperti apa yang akan memberikan dampak lebih baik. Keterlibatan ayah

memberikan dampak positif dengan berkurangnya masalah perilaku pada

anak laki-laki dan masalah psikologis pada anak perempuan.


9

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala

hal yang belum diketahuinya. Banyak remaja yang dipengaruhi oleh teman

sebayanya dikarenakan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersama

dengan teman-teman sebayanya jika dibandingkan dengan keluarga.

Pengaruh teman sebaya sangatlah tinggi dalam mempengaruhi perilaku

remaja. Peran teman sebaya dalam pergaulan remaja memang sangat

menonjol karena teman sebaya juga dianggap orang yang paling mengerti

apa yang dirasakan pada diri individu remajanya.

Penelitian Salvy, Haye, Bowker & Hermans (2012) menunjukan hasil

bahwa kelompok bermain dan teman sangat berpengaruh terhadap

perkembangan fisik, psikologis dan sosial secara signifikan pada remaja.

Selain itu keterlibatan kelompok dan teman juga sangat berpengaruh pada

remaja dalam upaya pencegahan dan intervensi mungkin penting untuk

mempromosikan dan mempertahankan lintasan kesehatan perilaku positif.

Mollborn & Lawrence (2018) mengemukakan bahwa faktor keluarga

seperti sumber daya dan pola asuh, sekolah serta teman bermain akan

mendorong perkembangan serta gaya hidup dan kesehatan pada anak-

anak untuk menemukan identitas sosial mereka. Teman sebaya atau peers

adalah anak-anak dengan tingkat kematangan atau usia yang kurang lebih

sama. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman sebaya adalah

untuk memberikan sumber informasi tetang dunia di luar keluarga. Remaja

melalui kelompok teman sebaya akan menerima umpan balik dari teman-

teman tentang kemampuan mereka. Remaja akan menilai perilaku yang


10

dilakukan melalui membandingkan dengan perilaku teman-temannya. Hal

demikian akan sulit dilakukan dalam keluarga karena saudara-saudara

kandung biasanya lebih tua atau lebih muda (bukan sebaya) (Santrock,

2011).

Peran teman sebaya juga sangat membantu remaja untuk memahami

jati dirinya agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan luar. Teman

sebaya yang baik dapat membentuk kepribadian yang baik pada remaja

dan menjadikan remaja tersebut dapat mandiri dan berpikir matang. Apabila

teman sebaya memiliki pengaruh yang kurang baik maka akan memiliki

ketergantungan terhadap teman sebaya dan tidak memiliki emosi yang

matang sehingga dapat berperilaku negatif. Pengaruh negatif yang

diberikan oleh teman sebaya dapat berdampak pada perilaku agresif

remaja, karena remaja menjadi cenderung melakukan apa saja seperti

misalnya kekerasan kepada orang lain karena dipengaruhi oleh teman

sebayanya yang juga melakukan hal yang sama. Hal itu dilakukan remaja

agar bisa dihargai dan diterima sebagai sahabat oleh teman sebayanya.

Subjective well-being merupakan topik yang penting untuk dikaji lebih

dalam karena siswa SMP yang memiliki subjective well-being yang tinggi

akan memiliki pikiran positif serta bisa membuat keputusan sendiri dan

mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur

lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan

membuat hidup menjadi lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi

dan mengembangkan dirinya. Selain itu subjective well-being yang tinggi


11

juga diperlukan agar remaja bisa mengendalikan diri dari sifat emosional

yang akan merugikan diri sendiri sehingga siswa SMP terhindar dari hal-hal

negatif seperti rasa putus asa, bunuh diri, pergaulan bebas serta tidak dapat

berinteraksi dengan lingkungan. Selain itu perlu juga diteliti tentang faktor-

faktor yang mempengaruhi subjective well-being terutama faktor

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya.

Berdasarkan pada fenomena yang ada maka peneliti ingin menguji apakah

ada hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan

sosial teman sebaya dengan subjective well-being.

B. Keaslian Penelitian

Penelitian yang mengungkap “Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Subjective Well-Being” belum

pernah diteliti sebelumnya namun ada beberapa penelitian yang serupa

yaitu:

1. Penelitian dengan judul “ Self esteem dan Prestasi Akademik sebagai

Prediktor Subjective Well-Being Remaja Awal” yang dilakukan oleh

Khairat & Adiyanti (2015). Penelitian ini menggunakan 326 orang dan

berada di tinggkat SMP yang hasilnya menunjukan bahwa self-esteem

dan prestasi akademik secara bersama-sama tidak dapat memprediksi

subjective well-being remaja awal akan tetapi hanya self-esteem yang

dapat memprediksi subjective well-being remaja awal. Kontribusi self-

esteem lebih besar daripada prestasi akademik terhadap subjective well-


12

being remaja awal. Subjek yang memiliki self-esteem positif akan

memiliki subjective well-being yang tinggi. Remaja yang memiliki self-

esteem positif mampu mengevaluasi dirinya secara positif dan memiliki

standar ideal bagi dirinya. Prestasi akademik tidak berpengaruh pada

subjective well-being remaja awal. Hal ini dikarenakan prestasi akademik

di masa remaja awal masih belum stabil. Persamaan antara penelitian

ini dengan penelitian Khairat & Adiyanti (2015) adalah sama-sama

menggunakan variabel tergantung subjective well-being. Sedangkan

perbedaan penelitian ini dengan penelitian Khairat & Adiyanti (2015)

terletak pada variabel bebasnya. Penelitian Khairat & Adiyanti (2015)

menggunakan variabel bebas self-esteem dan prestasi akademik

sedangkan penelitian ini mengunakan keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya.

2. Penelitian dengan judul “Hubungan antara Self-Efficacy dengan

Subjective Well-Being pada Siswa SMA Negeri I Belitang ” yang

dilakukan oleh Pramudita & Pratisti (2015). Penelitian ini menggunakan

169 siswa SMA N I Belitang kelas X dan XI yang hasilnya menunjukan

bahwa dengan self-efficacy sebagai kemampuan untuk

mengorganisasikan dan melaksanakan rangkaian tindakan yang

dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu yang ingin dicapai pada

akhirnya dapat memberikan kepuasan hidup yang merupakan indikator

dari subjective well-being. Persamaan antara penelitian ini dengan

penelitian Pramudita & Pratisti (2015) adalah sama-sama menggunakan


13

variabel tergantung subjective well-being. Sedangkan perbedaan

penelitian ini dengan penelitian Pramudita & Pratisti (2015) terletak pada

variabel bebasnya. Penelitian Pramudita & Pratisti (2015) menggunakan

variabel bebas self-efficacy sedangkan penelitian ini mengunakan

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman

sebaya. Selain itu penelitian Pramudita & Pratisti (2015) menggunakan

siswa SMA sebagai subjeknya sedangkan penelitian ini menggunakan

siswa SMP sebagai subjek penelitiannya.

3. Penelitian dengan judul “Kefungsian Keluarga Dan Subjective Well-

Being Pada Remaja” yang dilakukan oleh Nayana (2013). Penelitian ini

menggunakan 79 siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang kelas 1 dan 2

yang hasilnya menunjukan bahwa tingkat kefungsian keluarga

berhubungan secara positif dan signifikan dengan subjective well-being

pada remaja. Semakin tinggi skor kefungsian keluarga yang didapatkan

subjek maka semakin tinggi pula subjective well-being subjek.

Sebaliknya, semakin rendah kefungsian keluarga semakin rendah pula

subjective well-being subjek. Persamaan antara penelitian ini dengan

penelitian Nayana (2013) adalah sama-sama menggunakan variabel

tergantung subjective well-being. Sedangkan perbedaan penelitian ini

dengan penelitian Nayana (2013) terletak pada variabel bebasnya.

Penelitian Nayana (2013) menggunakan variabel bebas kefungsian

keluarga sedangkan penelitian ini mengunakan keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya. Selain itu penelitian


14

Nayana (2013) menggunakan siswa SMA sebagai subjeknya sedangkan

penelitian ini menggunakan siswa SMP sebagai subjek penelitiannya.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya

dengan subjective well-being.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat

untuk menambah wawasan bagi ilmu psikologi dan secara khusus

dalam bidang psikologi klinis mengenai hubungan antara

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman

sebaya dengan subjective well-being pada siswa SMP, serta

hubungan di antara ketiga variabel tersebut.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan bagi berbagai pihak seperti keluarga, guru maupun

masyarakat supaya siswa SMP memiliki upaya subjective well-being

yang tinggi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Subjective Well-Being

1. Definisi Subjective Well-Being

Diener (dalam Ariati, 2010) menyatakan bahwa subjective well-being

adalah evaluasi akan kejadian yang telah terjadi atau dialami dalam

kehidupan yang melibatkan proses afektif dan kognitif yang aktif karena

menentukan proses pengaturan informasi. Evaluasi kognitif dilakukan saat

seseorang memberikan evaluasi secara sadar dan menilai kepuasan

terhadap kehidupan secara keseluruhan atau penilaian evaluatif mengenai

aspek-aspek khusus dalam kehidupan, seperti kepuasan kerja, minat dan

hubungan. Reaksi afektif dalam subjective well-being (SWB) yang

dimaksud adalah reaksi individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup

yang meliputi emosi yang menyenangkan dan emosi yang tidak

menyenangkan.

Subjective well-being merupakan evaluasi seseorang mengenai

kehidupannya yang mencakup penilaian kognitif terhadap kepuasan

hidupnya serta evaluasi afektif yang meliputi perasaan-perasaannya

terhadap emosi positif maupun negatif yang telah dialami. Pavot dan Diener

(Dewi & Utami, 2013) menjelaskan subjective well-being merupakan salah

satu prediktor kualitas hidup individu karena mempengaruhi keberhasilan

individu dalam berbagai domain kehidupan. Individu dengan tingkat

15
16

subjective well-being yang tinggi akan merasa lebih percaya diri, dapat

menjalin hubungan sosial dengan lebih baik serta menunjukkan perfomansi

kerja yang lebih baik (Ulfah & Mulyana, 2014).

Kebahagiaan didefinisikan secara operasional sebagai subjective

well-being (SWB). Masten & Reed (2002), mendefinisikan subjective well-

being sebagai evaluasi kognitif dan afektif seseorang dari hidupnya.

Evaluasi ini meliputi reaksi emosional terhadap kejadian serta penilaian

kognitif kepuasan dan pemenuhan. Schimmack (2008), membagi

subjective well-being atas dua komponen umum, yakni: 1) Komponen

kognitif, yaitu penilaian reflektif individu atau hidupnya atau kondisi hidup

yang baik. Komponen kognitif terdiri dari kepuasan hidup (life satisfaction)

dan kepuasan terhadap domain (domain satisfaction) (Diener, 2009). 2)

Komponen afektif yang merupakan evaluasi dari pengalaman emosional

yang terjadi pada kehidupan individu (Diener, 2009). Komponen afektif

dapat dibagi kembali menjadi afek positif dan afek negatif (Balkis &

Masykur, 2016).

Studi yang meneliti mengenai penyebab, prediktor dan akibat dari

kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup dikaitkan dengan subjective well-

being. Subjective well-being merupakan suatu aspek yang penting dalam

mengembangkan sebuah kualitas hidup yang positif. Kebahagiaan dalam

subjective well-being berkaitan dengan tingkatan emosi dan cara individu

memahami dunia dan dirinya sendiri. Sedangkan kepuasan dalam hidup


17

merupakan pemahaman yang lebih luas mengenai penerimaan kehidupan

individu (Seligman, 2005).

Lim, Cappa & Patton (2017) mengemukakan bahwa elemen

kesejahteraan subjektif beasal dari kepuasan hidup, kebahagiaan dan

optimisme. Hal ini semakin relevan dalam penilaian pembangunan ekonomi

kesehatan masyarakat di lima negara Eropa Timur (Belarus, Bosnia,

Herzegovina Mantan Republik Yugoslavia Makedonia, Serbia dan Ukraine).

Anak muda berusia 15-24 tahun (N=11944), mendapatkan kepuasan hidup,

kebahagiaan dan harapan tentang masa depan. Sekitar 40% anak muda

menganggap diri mereka sangat bahagia atau sangat puas dengan

kehidupan mereka secara keseluruhan.

Berdasarkan beberapa pengertian subjective well-being yang

dijelaskan, peneliti menyimpulkan bahwa subjective well-being merupakan

persepsi individu yang terkait dengan pengalaman kehidupannya yang

menyangkut dua komponen yakni komponen kognitif yang berkaitan

dengan kepuasan hidup dan komponen afektif yang berkaitan dengan

kebahagiaan dan yang dicirikan dengan tingginya tingkat kepuasan

terhadap hidup, tingginya tingkat emosi positif dan rendahnya tingkat emosi

negatif.
18

2. Komponen Subjective Well-Being

Menurut Eid & Larsen (2008) subjective well-being terdiri dalam tiga

komponen umum, yaitu:

a. Afeksi positif

Afeksi positif ditandai dengan pengalaman emosi dan mood yang

menyenangkan. Afeksi yang menyenangkan dapat dibagi menjadi emosi-

emosi spesifik seperti kesenangan, rasa bangga, kasih sayang,

kebahagiaan dan perasaan sangat gembira (Diener, Suh, Lucas & Smith,

2005).

b. Afeksi negatif

Afeksi negatif termasuk suasana hati dan mood yang tidak

menyenangkan serta merefleksikan respon negatif yang dialami individu

terhadap hidup mereka. Afeksi negatif dapat dibagi menjadi emosi- emosi

seperti perasaan bersalah dan malu, kecemasan dan marah dan iri hati.

(Diener, Suh, Lucas & Smith, 2005).

c. Kepuasan Hidup

Kepuasan hidup merupakan suatu penilaian reflektif dalam diri

seseorang mengenai bagaimana sesuatu yang baik berjalan dan terjadi

terhadap dirinya. Individu yang dapat menerima diri dari lingkungan secara

positif akan merasa puas dengan hidupnya. Kepuasan hidup

dispesifikasikan menjadi keinginan untuk merubah kehidupan, kepuasan

pada arus kehidupan, kepuasan pada masa lalu, kepuasan pada masa

depan, dan pengaruh lain kehidupan (Diener, Suh, Lucas & Smith, 2005).
19

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa subjective

well-being merupakan persepsi dari individu terkait dengan pengalaman

yang terjadi di dalam kehidupannya yang terdiri dari afek positif, afek negatif

dan kebahagiaan hidup.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Subjective Well-Being

Menurut Pavot dan Diener (Linley dan Joseph, 2004) faktor-faktor

yang mempengaruhi subjective well-being adalah sebagai berikut:

1. Perangai/watak

Perangai biasanya diinterpretasikan sebagai sifat dasar dan universal

dari kepribadian, dianggap menjadi yang paling dapat diturunkan dan

ditunjukkan sebagai faktor yang stabil di dalam kepribadian seseorang.

2. Sifat

Sifat ekstrovert berada pada tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi

karena mempunyai kepekaan yang lebih besar terhadap imbalan yang

positif atau mempunyai reaksi yang lebih kuat terhadap peristiwa yang

menyenangkan.

3. Karakter pribadi lain

Karakter pribadi lain seperti optimisme dan percaya diri berhubungan

dengan subjective well-being. Orang yang lebih optimis tentang masa

depannya dilaporkan merasa lebih bahagia dan puas atas hidupnya

dibandingkan dengan orang pesimis yang mudah menyerah dan putus asa

jika suatu hal terjadi tidak sesuai dengan keinginannya.


20

4. Hubungan sosial

Hubungan yang positif dengan orang lain berkaitan dengan subjective

well-being, karena dengan adanya hubungan yang positif tersebut akan

mendapat dukungan sosial dan kedekatan emosional. Pada dasarnya

kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain merupakan suatu

kebutuhan bawaan.

5. Pendapatan

Dari survei diketahui ada 96 persen orang mengakui bahwa kepuasan

hidup bertambah seiring meningkatnya pendapatan pribadi maupun negara

bersangkutan. Meski begitu, ketimbang uang, perasaan bahagia lebih

banyak dipengaruhi faktor lain seperti merasa dihormati, kemandirian,

keberadaan teman serta memiliki pekerjaan yang memuaskan.

6. Pengangguran

Adanya masa pengangguran dapat menyebabkan berkurangnya

subjective well-being, walaupun akhirnya orang tersebut dapat bekerja

kembali. Pengangguran adalah penyebab besar adanya ketidakbahagiaan,

namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua pengangguran mengalami

ketidakbahagiaan.

7. Pengaruh sosial/budaya

Pengaruh masyarakat bahwa perbedaan subjective well-being dapat

timbul karena perbedaan kekayaan Negara. Dapat diterangkan lebih lanjut

bahwa kekayaan Negara dapat menimbulkan subjective well-being yang

tinggi karena biasanya Negara yang kaya menghargai hak asasi manusia,
21

memungkinkan orang yang hidup disitu untuk berumur panjang dan

memberikan demokrasi.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ada tujuh faktor

yang mempengaruhi subjective well-being, yaitu: perangai/watak, sifat,

karakter pribadi lain, hubungan sosial, pendapatan, pengangguran dan

pengaruh sosial/budaya.

Faktor-faktor tersebut merupakan bagian dari pembentukan

kepribadian di lingkungan rumah maupun sekolah pada remaja.

Lingkungan rumah berkontribusi besar dalam pembentukan watak, sifat

serta karakter pribadi remaja. Begitupula lingkungan sekolah, sebagian

besar waktu remaja berada dilingkungan sekolah bersama teman sebaya

sehingga hal ini dapat berkontribusi pada faktor-faktor yang mempengaruhi

subjective well-being. Remaja akan belajar mengenai hubungna sosial

secara luas dari teman sebaya di lingkungan sekolah.

B. Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan

1. Definisi Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan

Pengasuhan merupakan suatu perilaku yang pada dasarnya

mempunyai kata-kata kunci yaitu hangat, sensitif, penuh penerimaan,

bersifat resiprokal, ada pengertian dan respon yang tepat pada kebutuhan

anak (Hoghughi, 2004). Allen dan Daly (2007) mengemukakan bahwa

konsep “keterlibatan ayah” lebih dari sekedar melakukan interaksi positif

dengan anak-anak, tetapi juga memperhatikan perkembangan anak-anak,


22

terlihat dekat dengan nyaman, hubungan anak dengan ayah yang kaya dan

dapat memahami serta menerima anak-anak mereka. Pengasuhan dengan

ciri-ciri tersebut melibatkan kemampuan untuk memahami kondisi dan

kebutuhan anak, kemampuan untuk memilih respon yang paling tepat baik

secara emosional, afektif, maupun instrumental (Allen dan Daly, 2007).

Peran ayah (fathering) adalah peran yang dimainkan oleh seorang

ayah dalam kaitannya dengan tugas untuk mengarahkan anak menjadi

mandiri dan berkembang secara positif, baik secara fisik dan psikologis

(Hart, dalam Yuniardi, 2009). Peran ayah sama pentingnya dengan peran

ibu dan memiliki pengaruh pada perkembangan anak walau pada umumnya

menghabiskan waktu yang relatif lebih sedikit dengan anak dibandingan

dengan ibu (Phares, Rojas, Thurston & Hankinson, 2010).

Ayah dalam keluarga dengan orang tua ganda biasanya

menghabiskan sekitar sepertiga sampai seperempat kali waktu yang

dihabiskan ibu dengan anak yang masih kecil, walaupun dalam dekade

terakhir para ayah telah sedikit meningkatkan partisipasi. Keberadaan ayah

di rumah tidak menjamin adanya keterlibatan ayah yang cukup berarti

dengan anak atau remaja. Sementara ada beberapa pengecualian dimana

ayah menunjukan komitmennya sebagai orang tua, namun ayah yang lain

adalah seorang asing bagi anak mereka walaupun tinggal di dalam rumah

yang sama (Santrock, 2012).

Perkembangan sosial remaja dapat sangat diuntungkan oleh ayah

yang penyayang, mudah dihubungi dan dapat diandalkan yang mendorong


23

tumbuhnya kepercayaan dan keyakinan (Stoll, Clausen, & Bronstein, 1994

dalam Santrock, 2012). Dalam sebuah penelitian terbaru, Furstenberg dan

Harris,1992 (dalam Santrock, 2012) mendokumentasikan bagaimana ayah

turut membesarkan dan membantu mengatasi masa-masa sulit anak. Di

dalam keluarga Afrika-Amerika yang berpendapatan rendah, anak-anak

yang memiliki ketertarikan dan perasaan identifikasi yang dekat dengan

ayahnya semasa remaja ternyata dua kali lebih cenderung mendapat

perkerjaan tetap, atau memasuki universitas, 75 persen lebih cenderung

untuk tidak memiliki anak tanpa menikah, 80 persen lebih cenderung untuk

tidak masuk penjara dan 50 persen lebih cenderung untuk tidak merasa

tertekan. Tetapi sayangnya, hanya 10 persen anak dengan kesulitan

ekonomi yang mengalami hubungan dekat yang stabil dengan ayahnya

selama masa kanak-kanak dan remaja. Dalam dua penelitian lain,

mahasiswa dan mahasiswi memiliki kepribadian dan penyesuaian sosial

yang lebih baik ketika tumbuh dewasa di dalam rumah yang memiliki

seorang ayah yang terlibat memelihara, dibandingkan dengan seorang

ayah yang tidak peduli atau bersikap menolak (Santrock, 2012).

Ayah sebagai makhluk berjenis kelamin laki-laki, mempunyai

kepribadian yang secara umum dapat dikatakan berbeda dari perempuan.

Proses sosialisasi masa kecil akan berperan sangat besar dalam hal ini.

Oleh karena itu, munculah apa yang disebut dengan “peran seksual” yang

membedakan peran laki-laki dan perempuan. Jika kemudian laki-laki

berperan dalam pengasuhan, memang ada determinan yang


24

mendasarinya. Apapun determinan yang mendasari peran ayah hal yang

menarik untuk ditekankan adalah efek positif dari keterlibatan dan

sensivitas ayah. Ayah yang terlibat dan sensitif dalam pengasuhan anak

akan memberikan efek positif paling tidak dalam dua hal yaitu yang pertama

adalah pada perkembangan anak dan yang kedua yaitu melalui dukungan

pada ibu dalam mengasuh anak, atau efek yang tidak langsung (Maharani

& Andayani, 2003).

Efek yang pertama adalah pada perkembangan anak. Keterlibatan

ayah akan mengembangkan kemampuan anak untuk berempati, bersikap

penuh perhatian dan kasih sayang, serta hubungan sosial yang lebih baik

(Gottman, 2001). Penelitian juga menunjukan bahwa keterlibatan ayah

akan memberikan manfaat yang positif bagi anak laki-laki dalam

mengembangkan kendali diri dan kemampuan menunda pemuasan

keinginan dan pada penyesuaian sosial remaja laki-laki (Maharani &

Andayani, 2003).

Dalam perkembangan seorang anak perempuan maka kasih sayang

dan perhatian afektif dari ayah juga sangat dibutuhkan. Gottman (2001)

menggarisbawahi bahwa meski peran ayah pada prestasi akademik dan

karir perempuan belum didukung oleh hasil penelitian yang kuat, namun

anak-anak perempuan yang didampingi oleh ayahnya akan cenderung

tidak menjadi sexual promiscuous atau mampu mengendalikan diri dalam

hal seksual secara dini dan mampu mengembangkan hubungan yang sehat

dengan laki-laki dimasa dewasanya. Anak-anak perempuan yang


25

mendapatkan perhatian yang positif dari ayahnya akan mendapatkan

pemenuhan kebutuhan afektif dan pada saat yang sama akan belajar

tentang cara berhubungan dengan lawan jenis secara sehat.

Efek yang kedua adalah melalui dukungan pada ibu dalam mengasuh

anak, atau efek yang tidak langsung. Efek dari keterlibatan pada

pengasuhan anak akan mengurangi tekanan pada ibu. Ketika ibu

dipandang sebagai pengasuh utama dan menjadi orang yang bertanggung

jawab penuh atas segala tugas kerumahtanggaan, maka beban ibu akan

bertambah, apalagi saat stresor eksternal seperti masalah ekonomi

mempengaruhi kondisi keluarga (Maharani & Andayani, 2003).

Keterlibatan seorang ayah yang positif diyakini efek positifnya.

Keterlibatan itu sendiri tidak dapat dimunculkan secara tiba-tiba pula. Oleh

karena itu, sangat disarankan ayah mulai terlibat dengan anak sejak anak

dilahirlkan. Ayah disankan untuk ikut terlibat dalam hal pengasuhan dan

segala kerepotan mengurus bayi sejak awal supaya kedekatan dan

kelekatan akan terbentuk sejak anak masih sangat muda (Andayani &

Koentjoro, 2004).

Ayah memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anak

usia dini, meskipun perannya agak berbeda dengan peran ibu. Keduanya

memberikan kontribusi yang sama besarnya dalam perkembangan anak

usia dini, meskipun peran yang diambil agak berbeda. Kelekatan antara

anak dan ibu sudah terjalin sejak anak berada di dalam kandungan dan

proses menyusui. Sedangkan ayah mampu membentuk hubungan lekat


26

dengan anak setelah periode pasca kelahiran. Secara umum peran yang

banyak diambil dalam keluarga adalah sebagai pencari nafkah, sumber

perlindungan, sebagai pendamping ibu dan sebagai pengambil keputusan

dalam keluarga. Faktor-faktor yang mempengaruhi ayah untuk mengambil

peran dan terlibat dalam pengasuhan adalah kesejahteraan psikologisnya,

sikap, kepribadian, motivasi dan jenis pekerjaannya. (Wijanarko &

Setiawati, 2016).

Sedangkan pada remaja, ayah berperan dalam membangun harga diri

agar tetap positif dan juga menguatkan keinginan anak untuk berprestasi

khususnya pada remaja perempuan, serta mengembangkan motivasi untuk

sukses dalam pekerjaan dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke

jenjang yang lebih tinggi pada remaja laki-laki. Flouri dan Buchanan

(Partasari, 2017) juga menyatakan bahwa keterlibatan ayah pada anak usia

remaja berhubungan erat dengan kepuasan hidup. Para remaja laki-laki

yang tidak mendapatkan keterlibatan ayahnya secara intens menunjukkan

tingkat kepuasan hidup yang rendah. Keterlibatan ayah juga dapat

meminimalisir remaja pria untuk menjadi korban bullying di sekolah.

Sebaliknya, studi longitudinal yang dilakukan Culpin, Heron, Araya &

Joinson (2015) menunjukkan bahwa ketidak hadiran ayah biologis dalam

tumbuh kembang anak berpotensi untuk mendorong timbulnya depresi

sebesar 11% pada anak perempuan ketika beranjak remaja.

Hasil penelitian Harmaini, Shofiah, Yulianti (2014) menunjukan hasil

bahwa terdapat tiga komponen besar yang dilakukan oleh ayah dalam
27

merawat anaknya yaitu (1) adanya kebutuhan afeksi sebesar 36,7% (2)

pengasuhan 35,5 %. (3) dukungan finansial 15,7%. dan lebihnya 12% lain-

lain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan afeksi dan

dukungan pengasuhan lebih dominan dalam cara ayah merawat anaknya.

Hal ini mengisyaratkan keberhasilan seorang anak di masa depan lebih

ditentukan oleh kekuatan dukungan afeksi dan dukungan pengasuhan

ayah. Dukungan afeksi dan pengasuhan dari sudut padang ayah lebih pada

perawatan psikologis dan pembentukan karakter anak. Hasil ini mungkin

dipengaruhi oleh pandangan nilai-nilai budaya dan tuntutan norma sosial.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas peneliti dapat

menyimpulkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah suatu

partisipasi aktif ayah secara terus menerus dalam pengasuhan anak yang

mengandung aspek frekuensi, inisiatif dan pemberdayaan pribadi dalam

dimensi fisik, kognisi dan afeksi dalam semua area perkembangan anak

yaitu fisik, emosi, sosial, intelektual dan moral.

2. Dimensi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Phares, Rojas, Thurston & Hankinson (2010) mengemukakan

dimensi-dimensi keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah :

a. Engagement, yaitu pengalaman ayah berinteraksi langsung dan

melakukan aktivitas bersama misalnya bermain-main, meluangkan

waktu bersama dan seterusnya.


28

b. Accessibility, yaitu kehadiran atau kesediaan ayah untuk anak. Orang tua

ada di dekat anak tetapi tidak berinteraksi secara langsung dengan anak.

c. Responsibility, yaitu sejauhmana ayah memahami dan memenuhi

kebutuhan anak, termasuk memberikan nafkah dan merencanakan

masa depan anak.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada tiga

dimensi keterlibatan ayah dalam pengasuhan yaitu engagement,

accessibility, dan responbility.

3. Manfaat dari Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Menurut Wijanarko & Setiawati (2016), adapun manfaat dari

keterlibatan ayah dalam perkembangan anaknya berdasarkan pada aspek-

aspek perkembangan anak:

a. Aspek fisik motorik

Anak-anak usia dini biasanya senang sekali bermain dan tidak pernah

kenal lelah dalam bermain. Hal itu dapat melatih kemampuan fisik anak dan

perkembangan fisik pada anak dapat diklasifikasikan menjadi dua aspek

yaitu dapat ditinjau dari perkembangan motorik kasar dan perkembangan

motorik halus.

b. Aspek emosional

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara positif berhubungan

dengan kepuasan hidup anak, lebih sedikit depresi, lebih sedikit yang
29

mengalami tekanan emosi dan lebih sedikit ekspresi emosional negatif

seperti takut dan rasa bersalah.

c. Aspek kogitif

Anak menunjukan fungsi atau kemampuan kognitif yang lebih tinggi,

kemampun memecahkan masalah secara lebih baik dan IQ yang lebih

tinggi, dengan demikian ayah dapat menghasilkan anak yang lebih logis.

d. Aspek sosial

Keterlibatan ayah secara positif berhubungan dengan kompetensi

sosial anak dan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain,

mempunyai hubungan dengan teman sebaya yang positif, menjadi populer

dan menyenangkan, menunjukan agresivitas ataupun konflik dan kualitas

pertemanan yang lebih positif.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ada empat

manfaat keterlibatan ayah dalam pengasuhan diantaranya yaitu aspek fisik

motorik, aspek emosional, aspek kognitif dan yang terakhir adalah aspek

sosial.

C. Dukungan Sosial Teman Sebaya

1. Definisi Dukungan Sosial Teman Sebaya

Definisi dukungan sosial yang dikemukakan oleh Jonhson and

Jonhson (Wijayanti, 2015) adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi

dan informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia.

Dukungan sosial dimaknai sebagai adanya keberadaan seseorang yang


30

dapat diandalkan untuk dimintai bantuan dorongan semangat, perhatian

sehingga meningkatkan kesejahteraan. Dukungan sosial adalah informasi

atau umpan balik dari orang lain yang menunjukan bahwa seseorang

dicintai dan diperhatikan, dihargai dan dihormati serta dilibatkan dalam

jaringan komunikasi dan kewajiban yang timbal balik (King, 2012).

Teman sebaya dalam masa remaja adalah sekelompok individu yang

terdiri dari beberapa anggota remaja yang kira-kira berumur sama dan

mulai menyadari akan hubungan sosial dan tekanan sosial dari teman-

teman sebayanya. Pada masa remaja, individu juga mulai melepaskan diri

dari ketergantungan pada orang tuanya dan mulai melakukan proses

sosialisasi dengan dunia yang lebih luas. Menurut Mappire (2001) ada

beberapa hal pribadi yang dapat membuat seseorang individu diterima

dalam kelompok teman sebayanya, yaitu: penampilan (performance),

kemampuan berpikir, sikap, sifat, perasaan dan pribadi.

Pada banyak remaja, pandangan tentang teman sebaya merupakan

aspek yang cukup penting dalam kehidupan mereka. Beberapa remaja

akan melakukan apapun agar dapat dimasukan sebagai anggota.

Kelompok remaja yang dikucilkan akan mudah merasa stres, frustasi dan

mengalami kesedihan. Dalam hal ini yang merupakan teman sebaya

(peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat

kedewasaan yang sama. Interaksi teman sebaya dengan usia yang sama

akan memainkan peran yang unik pada masyarakat Amerika Serikat

(Hartup, 2002).
31

Anak-anak menghabiskan semakin banyak waktu untuk berinteraksi

dengan teman sebaya pada pertengahan masa anak-anak dan akhir masa

anak-anak serta masa remaja. Dalam suatu penelitian, anak-anak

berinteraksi dengan teman sebayanya 10% dari satu hari pada usia 2 tahun,

20% pada usia 4 tahun dan lebih dari 40% pada usia antara 7 sampai 11

tahun. Bagi remaja, hubungan teman sebaya merupakan bagian yang

sangat besar dalam kehidupannya. Dalam penelitian lain, selama satu

minggu remaja muda laki-laki dam perempuan menghabiskan waktu 2 kali

lebih banyak dengan teman sebaya daripada dengan orang tuanya

(Santrock, 2014).

Sullivan (dalam Santrock, 2014) merupakan ahli teori yang paling

berpengaruh dalam pembicaraan mengenai pentingnya persahabatan pada

masa remaja yang berpendapat bahwa ada peningkatan yang dramastis

dalam kadar kepentingan secara psikologis dan keakraban antar teman

dekat pada masa awal remaja. Berbeda dengan teori-teori psikologi analisa

yang lain yang menekankan pada pentingnya hubungan orang tua dan

anak, Sullivan beranggapan bahwa teman juga memainkan peran yang

penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan

remaja. Mengenai kesejahteraan, Sulllivan menyatakan bahwa semua

orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan

kasih sayang (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan

oleh lingkungan sosial, keakraban dan hubungan seksual (Santrock, 2014).


32

Sumber penting bagi dukungan emosional selama masa peralihan

yang rumit (masa remaja) dan juga sumber tekanan untuk melakukan

perilaku yang tidak disukai oleh orang tua, yaitu meningkatkan keterlibatan

remaja dengan teman sebaya. Kelompok teman sebaya adalah sumber

kasih sayang, simpati, perhatian dan tuntunan moral, tempat untuk

melakukan eksperimen serta sasaran untuk mencapai otonomi dan

kemandirian dari orang tua. Kelompok teman sebaya adalah tempat untuk

membentuk hubungan dekat yang berfungsi sebagai “latihan” bagi

hubungan yang akan mereka bina di masa dewasa (Papalia, 2014).

Pengaruh dari teman sebaya paling kuat di saat masa remaja awal,

biasanya memuncak di usia 12 sampai 13 tahun serta menurun selama

masa remaja pertengahan dan akhir, seiring dengan membaiknya

hubungan antara remaja dengan orang tua. Keterikatan dengan teman

sebaya di masa remaja awal tidak selalu menyebabkan masalah, kecuali

jika keterikatan ini terlaku kuat sehingga remaja bersedia untuk

mengabaikan aturan di rumah, lalai mengerjakan tugas sekolah, serta tidak

mengembangkan bakat mereka untuk memenangkan persetujuan teman

sebaya dan mendapatkan popularitas (Papalia, 2014).

Salvy, Haye, Bowker & Hermans (2012) menyatakan bahwa kelompok

bermain dan teman sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik,

psikologis dan sosial secara signifikan pada remaja. Selain itu keterlibatan

kelompok dan teman juga sangat berpengaruh pada remaja dalam upaya
33

pencegahan dan intervensi untuk mempromosikan dan mempertahankan

lintasan kesehatan perilaku positif.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

dukungan sosial adalah adanya bantuan atau dukungan yang diterima

individu dari orang lain yang memiliki kedekatan dalam kehidupannya

sehingga individu tersebut merasa bahwa orang lain memperhatikan,

menghargai dan mencintainya.

2. Dimensi Dukungan Sosial Teman Sebaya

Menurut Smet (1994) terdapat empat jenis atau dimensi dukungan

sosial yaitu:

a. Dukungan emosional yaitu mencakup ungkapan empati, kepedulian dan

perhatian terhadap orang yang bersangkutan, misalnya umpan balik dan

penegasan.

b. Dukungan penghargaan yaitu terjadi lewat ungkapan hormat

(penghargaan) positif untuk orang itu, dorongan maju atau persetujuan

dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang

itu dengan orang lain, misalnya orang-orang yang kurang mampu atau

lebih buruk keadaannya.

c. Dukungan instrumental yaitu mencakup bantuan langsung seperti kalau

orang-orang memberi pinjaman uang kepada orang atau menolong

dengan pekerjaan pada waktu mengalami stres.


34

d. Dukungan informatif yaitu mencakup memberi nasehat, petunjuk-

petunjuk, saran-saran atau umpan balik.

Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti dapat menyimpulkan

bahwa dimensi dukungan sosial teman sebaya terdiri dari empat dimensi

yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental

dan dukungan informatif.

3. Manfaat Dukungan Sosial Teman Sebaya

Sedangkan menurut Taylor (King, 2012) dukungan sosial memiliki tiga

jenis manfaat yaitu:

a. Bantuan yang nyata

Keluarga dan teman dapat memberikan berbagai barang dan jasa

dalam situasi yang penuh stres, misalnya hadiah makanan seringkali

diberikan setelah kematian keluarga sehingga anggota keluarga yang

berduka tidak akan memasak saat itu ketika energi dan motivasi mereka

sedang rendah.

b. Informasi

Individu yang memberikan dukungan juga dapat merekomendasikan

tindakan dan rencana spesifik untuk membantu seseorang dalam

copingnya dengan berhasil. Teman-teman dapat memperhatikan bahwa

kerja mereka kelebihan beban kerja dan menganjurkan cara-cara baginya

untuk mengelola waktu lebih efisien atau medelegasikan tugas lebih efisien.
35

c. Dukungan Sosial

Dalam situasi penuh stres, individu seringkali menderita secara

emosional dan dapat mengembangkan depresi, kecemasan dan

kehilangan harga diri. Teman-teman dan keluarga dapat menenangkan

seseorang yang berada di bawah stres bahwa dirinya adalah orang yang

berharga dan dicintai oleh orang lain. Mengetahui orang lain peduli

memungkinkan seseorang untuk mengurangi stres dan mengatasinya

dengan keyakinan yang lebih besar.

Berdasakan pendapat Taylor (King, 2012) di atas maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa dukungan sosial memiliki manfaat yang berbeda-beda

yaitu bantuan yang nyata atau bantuan secara langsung, informasi serta

dukungan sosial.

D. Hubungan antara Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan

Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Subjective Well-Being

Subjective well-being merupakan bagian penting dalam setiap bagian

kehidupan manusia. Evaluasi kehidupan manusia dapat dilihat dari tingkat

subjective well-being seseorang, dimana seseorang dengan subjective

well-being tinggi akan berdampak pada rasa percaya diri serta hubungan

sosial yang baik. (Pavot dan Diener dalam Dewi & Utami (2013); Ulfah &

Mulyana (2014). Selain itu, Masten & Reed (2002) menyebutkan bahwa

subjective well-being diartikan sebagai bentuk kebahagiaan dan menjadi

hal yang penting dalam menentukan kualitas hidup yang positif.


36

Kebahagiaan yang di ungkapkan dalam subjective well-being dapat dilihat

dari berbagai tingkatan usia termasuk usia remaja.

Penelitian yang dilakukan Lim, Cappa & Patton (2017) menunjukan

hasil bahwa usia 15-24 tahun mendapatkan kebahagiaan dan harapan

tentang masa depan dengan tingkat kepuasan mencapai 40% dalam

menjalani kehidupannya. Kepuasan yang dirasakan dalam subjective well-

being memiliki hubungan dengan afek positif seseorang. Saat afek positif

meningkat seperti rasa suka cita, menikmati kehidupan, kepuasan dalam

hidup, rasa harga diri dan rasa bahagia (Diener dalam Eid & Larsen, 2008).

Namun demikian, subjective well-being akan menurun dengan adanya afek

negatif yang sangat tinggi pada diri seseorang. Remaja dengan afek negatif

yang tinggi karena suatu masalah sehingga akan merasa cemas, sedih,

marah dan mengalami tekanan yang berlebih akan menurunkan subjective

well-being (Diener, Suh & Oishi dalam Eid & Larsen, 2008).

Selain afek positif dan negatif, kepuasan hidup juga dapat

menentukan subjective well-being. Remaja akan menemukan

kesejahteraan hidup yang baik dengan kepuasan hidup yang dirasakan

pada masa lalu, saat ini, kehidupan yang telah direncanakan serta

pendapat dari orang terdekat. Disisi lain remaja dengan masa

pertumbuhannya sangat berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi.

Remaja sebagai individu memiliki sifat dan watak yang berbeda dengan

individu lain. Sifat yang terbuka akan menjadikan remaja lebih peka

terhadap kejadian yang menjadikan dirinya bahagia. Watak dan sifat remaja
37

akan membentuk karakter pribadi pada remaja yang berhubungan dengan

subjective well-being. Pavot dan Diener (dalam Linley dan Joseph, 2004)

mengatakan orang dengan rasa optimis tentang masa depan akan merasa

lebih bahagia dan lebih puas dalam menjalani hidup. Sifat yang optimis

akan membentuk hubungan sosial yang baik sehingga mendapatkan

dukungan sosial dan kedekatan emosional. Disisi lain budaya berpengaruh

tehadap subjective well-being. Hubungan ini terbentuk karena pada

beberapa negara akan menerapkan hak asasi bagi penduduknya akan

menimbulkan kebahagiaan bagi penduduknya (Pavot dan Diener dalam

Linley dan Joseph, 2004).

Pada remaja selain beberapa hal yang telah disebutkan peran ayah

juga memiliki hubungan dengan subjective well-being. Keterlibatan ayah

dalam pengasuhan yang diartikan sebagai perhatian dalam perkembangan

dan memahami keadaan anak remajanya (Allen dan Daly, 2007). Adanya

keterlibatan ayah dalam pengasuhan membentuk karakter baik pada anak.

Karakter tersebut yaitu berempati, bersikap penuh perhatian dan kasih

sayang. Sikap tersebut akan menjadikan hubungan sosial yang lebih baik

(Gottman, 2001). Kelekatan yang diciptakan dari keterlibatan ayah dalam

pengasuhan akan memunculkan kepuasan hidup pada anak, menunjukan

kemampuan kognitif yang tinggi sehingga dapat memecahkan masalah

dengan lebih baik. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan juga akan

menjadikan anak memiliki hubungan sosial yang baik dengan lingkungan

sekitar (Wijanarko & Setiawati, 2016).


38

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat diungkapkan dengan

kehadiran ayah untuk remaja saat menghadapi masalah. Pengalaman ayah

dapat dijadikan panduan untuk memecahkan masalah remaja atau

memandu remaja dalam menghadapi pertumbuhan atau interaksi dengan

lingkungan sosial. Kehadiran ayah sebagai figur contoh bagi remaja akan

membuat remaja merasa diperhatikan. Hal ini akan meningkatkan

kebahagiaan remaja yang secara tidak langsung akan meningkatkan

subjective well-being pada remaja.

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat diwujudkan dengan

meluangkan waktu bersama dan melakukan hal yang menyenangkan

bersama remaja. Kebersamaan ini akan membentuk perasaan positif yang

lebih tinggi daripada perasaan negatif. Hal ini menjadikan remaja penuh

dengan rasa sayang, meningkatkan harga diri dan menikmati hidup. Semua

perasaan tersebut tertanam dalam diri remaja maka secara tidak langsung

akan timbul kepuasan hidup remaja sehingga subjective well-being pada

remaja akan meningkat.

Kehadiran ayah dalam setiap masalah yang remaja hadapi

menjadikan remaja merasa percaya diri untuk melewati setiap kesulitan

yang dihadapi, dengan demikian harga diri remaja akan terbentuk. Keadaan

tersebut menjadikan remaja lebih meningkatkan aspek positif. Berbeda

halnya dengan remaja tanpa kehadiran ayah dalam menghadapi masalah

akan lebih meningkatkan aspek negatif seperti timbul rasa cemas,

kesedihan, timbul tekanan dan rasa marah. Apabila perasaan tersebut


39

dapat dihilangkan dengan adanya kehadiran ayah maka akan timbul

kepuasan hidup pada remaja dan muncul subjective well-being dalam diri

remaja.

Selain interaksi langsung dan kehadiran ayah, hal yang tidak kalah

penting adalah keterlibatan ayah dalam pengasuhan dalam bentuk

perhatian ayah. Perhatian diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan

remaja termasuk memberikan nafkah materi dan merencanakan masa

depan remaja. Wujud perhatian ini akan memberikan rasa percaya diri dan

harga diri pada remaja karena merasa setiap kebutuhannya tercukupi.

Remaja tidak lagi khawatir akan masa depan dan dapat dengan senang

menjalani kehidupan sehingga terbentuk aspek positif dan kepuasan hidup

yang selanjutnya membentuk subjective well-being.

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang membentuk hubungan

sosial pada remaja akan menimbulkan hubungan yang baik antara remaja

dan teman sebaya. Hubungan yang baik ini akan menimbulkan dukungan

yang baik pula pada remaja dari teman sebaya. Dukungan berupa materi,

emosi dan informasi akan meningkatkan kemampuan remaja untuk

meningkatkan subjective well-being.

Dukungan emosional dan informatif teman sebaya memiliki hubungan

dengan terbentuknya subjective well-being pada remaja. Teman sebaya

dapat memberikan dukungan berupa kepedulian, ungkapan empati,

memberi nasehat serta saran ketika remaja menghadapi permasalahan

ataupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari (Smet,1994). Dukungan ini


40

menjadikan remaja lebih bersikap optimis sehingga walaupun remaja

sedang menghadapi masalah dalam kehidupam ataupun menjalani

perkembangan akan lebih tenang, merasakan kasih sayang dari lingkungan

sekitar. Perasaan tersebut dapat meningkatkan aspek positif dan

meminimalkan aspek negatif sehingga tercipta kepuasan hidup.

Teman sebaya menjadi pendukung yang sangat penting bagi remaja

dengan kondisi perkembangan remaja yang masih mecari jati diri. Dengan

demikian dukungan penghargaan dan dukungan instrumental berupa

ungkapan positif, dorongan untuk lebih maju, bantuan secara langsung atau

dengan kehadiran teman saat menghadapi masalah serta bantuan untuk

meringankan masalah yang dapat menimbulkan stres. Semua dukungan

tersebut akan sangat membantu remaja dalam meningkatkan aspek positif.

Lain halnya dengan remaja yang tidak mendapatkan dukungan

penghargaan dan instrumental dari teman sebaya, remaja akan

menghadapi kesulitan dalam melewati masalah ataupun melewati masa

perkembangannya. Remaja dengan keadaan seperti ini akan meningkatkan

aspek negatif dengan merasakan perasaan marah, kesedihan,

kekhawatiran dan mengalami tekanan. Seiring dengan munculnya

perasaan tersebut maka akan menurunkan kepuasan hidup remaja. Maka

subjective well-being remaja akan menurun pula dengan keadaan ini.


41

E. Hipotesis

1. Hipotesis mayor : ada hubungan antara keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-

being.

2. Hipotesis minor

a. Ada hubungan positif antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan

dengan subjective well-being. Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam

pengasuhan maka akan semakin tinggi pula subjective well-being.

Sebaliknya jika keterlibatan ayah dalam pengasuhan semakin rendah

maka akan semakin rendah pula subjective well-being.

b. Ada hubungan positif antara dukungan sosial teman sebaya dengan

subjective well-being. Semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya

maka akan semakin tinggi pula subjective well-being. Sebaliknya jika

dukungan sosial teman sebaya semakin rendah maka akan semakin

rendah pula subjective well-being.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Variabel Tergantung : Subjective Well-Being

2. Variabel Bebas 1 : Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Variabel Bebas 2 : Dukungan Sosial Teman Sebaya

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Subjective Well-Being

Subjective well-being merupakan persepsi individu yang terkait

dengan pengalaman kehidupannya yang menyangkut komponen kognitif

yang berkaitan dengan kepuasan hidup dan komponen afektif yang

berkaitan dengan kebahagiaan dan yang dicirikan dengan tingginya tingkat

kepuasan terhadap hidup, tingginya tingkat emosi positif dan rendahnya

tingkat emosi negatif.

Subjective Well-Being diungkap dengan menggunakan Skala

Subjective Well-Being yang disusun oleh peneliti. Semakin tinggi skor maka

menunjukan semakin tinggi Subjective Well-Being. Sebaliknya semakin

rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah Subjective Well-Being.

43
43

2. Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah suatu partisipasi aktif

ayah secara terus menerus dalam pengasuhan anak yang mengandung

aspek frekuensi, inisiatif dan pemberdayaan pribadi dalam dimensi fisik,

kognisi dan afeksi dalam semua area perkembangan anak yaitu fisik,

emosi, sosial, intelektual dan moral yang berkaitan dengan aspek

engangement, accessibility serta responsibility. Keterlibatan ayah dalam

pengasuhan diungkap melalui persepsi anak terhadap keterlibatan ayah

dalam pengasuhan dengan cara mengisi Skala Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan.

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan diungkap dengan

menggunakan Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan yang disusun

oleh peneliti. Semakin tinggi skor maka menunjukan semakin tinggi

keterlibatan ayah dalam pengsuhan. Sebaliknya semakin rendah skor yang

diperoleh maka semakin rendah keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

3. Dukungan Sosial Teman Sebaya

Dukungan sosial adalah adanya bantuan atau dukungan yang

diterima oleh individu dari orang lain yang memiliki kedekatan dalam

kehidupannya baik berupa dukungan emosional, dukungan penghargaan,

dukungan instrumental dan dukungan informasi sehingga individu tersebut

merasa bahwa orang lain memperhatikan, menghargai dan mencintainya.


44

Dukungan sosial teman sebaya diungkap dengan menggunakan

Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya yang disusun oleh peneliti. Semakin

tinggi skor maka menunjukan semakin tinggi dukungan sosial teman

sebaya. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin

rendah dukungan sosial teman sebaya.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai

generalisasi hasil penelitian. Populasi harus memiliki ciri-ciri atau

karakteristik yang membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Ciri

yang dimaksud tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi akan tetapi dapat

terdiri dari karakteristik-karakteristik individu (Azwar, 2015). Populasi dalam

penelitian ini adalah siswa SMP Muhammadiyah 1 Moyudan.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang merupakan bagian dari

populasi sehingga harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh populasinya.

Suatu sampel merupakan suatu representasi yang baik bagi populasinya

sangat tergantung pada sejauhmana karakteristik sampel sama dengan

karakteristik populasinya. Analisis penelitian didasarkan pada data sampel

sedangkan kesimpulannya nanti akan diterapkan ada populasi sehingga

sangatlah penting untuk memperoleh sampel yang representatif bagi

populasinya (Azwar, 2015).


45

Metode pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling

yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengundi

nama-nama kelas dengan asumsi bahwa kelas-kelas tersebut dianalogikan

sebagai cluster-cluster seperti misalnya populasi daerah-daerah.

Peneliti melakukan teknik cluster random sampling dengan cara

menuliskan nama-nama kelas dalam secarik kertas dan digulung,

kemudian kertas yang sudah digulung tersebut dimasukan ke dalam botol

yang selanjutnya dikocok. Selanjutnya diambil empat gulungan kertas yang

terpilih sebagai sampel penelitian. Nama kelas yang tertulis dalam tiga

gulungan kertas tersebut yang akan terpilih sebagai sampel penelitian, yaitu

kelas VII, VIII dan IX.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode skala yang terdiri dari tiga skala yaitu Skala Subjective Well-

Being, Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan serta Skala Dukungan

Sosial Teman Sebaya. Keuntungan dari pengumpulan data dengan

menggunakan metode skala adalah praktis dan hemat, karena dalam waku

singkat dapat mengumpulkan data yang relatif banyak. Metode skala

merupakan pemberian respon yang berwujud pernyataan yang diajukan

melalui self report untuk Skala Subjective Well-Being, Skala Keterlibatan

Ayah dalam Pengasuhan serta Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya.


46

Penjelasan mengenai alat ukur yang digunakan dalam pengambilan

data adalah sebagai berikut:

1. Skala Subjective Well-Being

Skala Subjective Well-Being menggunakan metode summated rating

scale yang terdiri dari empat pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS),

Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Asumsi yang

mendasar pada penskoran adalah ada jawaban yang mendukung tujuan

penelitian (favorabel) dan pernyataan yang tidak mendukung tujuan

penelitian (unfavorabel). Jawaban subjek pada jawaban favorabel diberi

bobot yang lebih tinggi daripada pernyataan unfavorabel. Sebaran aitem

dalam Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan kisi-kisi Skala

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan sebelum try out dapat dilihat pada

Tabel 3.1 dan 3.2.

Skor nilai hasil pengukuran yang diberikan atas jawaban pernyataan

favorabel Sangat Sesuai (SS) yaitu 4, Sesuai (S) yaitu 3, Tidak Sesuai (TS)

yaitu 2 dan Sangat Tidak Sesuai (STS) yaitu 1. Sedangkan skor nilai hasil

pengukuran yang diberikan atas jawaban pernyataan unfavorabel Sangat

Sesuai (SS) yaitu 1, Sesuai (S) yaitu 2, Tidak Sesuai (TS) yaitu 3 dan

Sangat Tidak Sesuai (STS) yaitu 4.


47

Tabel 3.1.
Sebaran Aitem Dalam Skala Subjective Well-Being
Aspek F Bobot (%)

Afeksi Positif 16 33, 33

Afeksi Negatif 16 33, 33

Kepuasan Hidup 16 33, 33

∑ (Total) 48 100%

Tabel 3.2.
Kisi-kisi Skala Subjective Well-Being Sebelum Uji Coba
Nomor Aitem
Aspek-aspek Jumlah
Favorabel Unfavorabel

Afeksi Positif 1, 3, 5, 7, 9, 11, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 16


13, 15 14, 16
Afeksi Negatif 17, 19, 21, 23, 25, 18, 20, 22, 24, 16
27, 29, 31 26, 28, 30, 32
Kepuasan 33, 35, 37, 39, 41, 34, 36, 38, 40, 16
Hidup 43, 45, 47 42, 44, 46, 48
∑ 24 24 48

2. Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan menggunakan metode

summated rating scale yang terdiri dari empat pilihan jawaban yaitu Sangat

Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).

Asumsi yang mendasar pada penskoran adalah jawaban yang mendukung

tujuan (favorabel) dan pernyataan yang tidak mendukung tujuan

(unfavorabel), jawaban subjek pada jawaban favorabel diberi bobot yang

lebih tinggi dari pada pernyataan unfavorabel. Sebaran aaitem dalam Skala
48

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan kisi-kisi Skala Keterlibatan Ayah

dalam Pengasuhan sebelum try out dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan 3.4.

Skor nilai hasil pengukuran yang diberikan atas jawaban pernyataan

favorabel Sangat Sesuai (SS) yaitu 4, Sesuai (S) yaitu 3, Tidak Sesuai (TS)

yaitu 2 dan Sangat Tidak Sesuai (STS) yaitu 1. Sedangkan skor nilai hasil

pengukuran yang diberikan atas jawaban pernyataan unfavorabel Sangat

Sesuai (SS) yaitu 1, Sesuai (S) yaitu 2, Tidak Sesuai (TS) yaitu 3 dan

Sangat Tidak Sesuai (STS) yaitu 4.

Tabel 3.3.
Sebaran Aitem Dalam Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan
Aspek F Bobot (%)

1. Aspek Engagement 16 33, 33

2. Aspek Accessability 16 33, 33

3. Aspek Responbility 16 33, 33

∑ (Total) 48 100%

Tabel 3.4.
Kisi-kisi Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Sebelum Uji Coba
Nomor Aitem
Aspek-aspek Favorabel Unfavorabel Jumlah
Aspek 1, 3, 5, 7, 9, 11, 2, 4, 6, 8, 10, 16
Engagement 13, 15 12, 14, 16
Aspek 17, 19, 21, 23, 18, 20, 22, 24, 16
Accessability 25, 27, 29, 31 26, 28, 30, 32
Aspek 33, 35, 37, 39, 34, 36, 38, 40, 16
Responbility 41, 43, 45, 47 42, 44, 46, 48
∑ 24 24 48
49

3. Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya

Model skala Dukungan Sosial Teman Sebaya menggunakan metode

summated rating scale yang terdiri dari empat pilihan jawaban yaitu Sangat

Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).

Asumsi yang mendasar pada penskoran adalah jawaban yang mendukung

tujuan (favorabel) dan pernyataan yang tidak mendukung tujuan

(unfavorabel), jawaban subjek pada jawaban favorabel diberi bobot yang

lebih tinggi dari pada pernyataan unfavorabel. Kisi-kisi dan tabel sebaran uji

coba Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya sebelum try out dapat dilihat

pada tabel 3.5 dan 3.6.

Skor nilai hasil pengukuran yang diberikan atas jawaban pernyataan

favorabel Sangat Sesuai (SS) yaitu 4, Sesuai (S) yaitu 3, Tidak Sesuai (TS)

yaitu 2 dan Sangat Tidak Sesuai (STS) yaitu 1. Sedangkan skor nilai hasil

pengukuran yang diberikan atas jawaban pernyataan unfavorabel Sangat

Sesuai (SS) yaitu 1, Sesuai (S) yaitu 2, Tidak Sesuai (TS) yaitu 3 dan

Sangat Tidak Sesuai (STS) yaitu 4.

Tabel 3.5.
Sebaran Aitem Dalam Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
Aspek F Bobot (%)

1. Dukungan Emosional 12 25

2. Dukungan Penghargaan 12 25

3. Dukungan Instrumental 12 25

4. Dukungan Informatif 12 25

∑ (Total) 48 100%
50

Tabel 3.6.
Kisi-kisi Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya Sebelum Uji Coba
Nomor Aitem
Aspek- Favorabel Unfavorabel Jumlah
aspek
Dukungan 1, 3, 5, 7, 9, 11 2, 4, 6, 8, 10, 12
Emosional 12
Dukungan 13, 15, 17, 19, 14, 16, 18, 20, 12
Penghargaan 21, 23 22, 24
Dukungan 25, 27, 29, 31, 26, 28, 30, 32, 12
Instrumental 33, 35 34, 36
Dukungan 37, 39, 41, 43, 38, 40, 42, 44, 12
Informatif 45, 47 46, 48
∑ 24 24 48

E. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang berarti sejauhmana ketepatan

dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Tes yang

menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan

sebagai tes yang memiliki validitas rendah (Azwar, 2015). Penelitian ini

menggunakan validitas isi (content validity), yaitu validitas yang diestimasi

dengan pengujian terhadap isi tes menggunakan analisis rasional atau

dengan professional judgement dengan cara mencari aspek-aspek dari

variabel yang digunakan kemudian dibuat beberapa aitem yang akan

diujicobakan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk penelitian (Azwar,

2015).

Validitas isi menunjukkan sejauhmana aitem-aitem dalam skala yang

telah ditulis sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan
51

semula dan memeriksa apakah masing-masing aitem telah sesuai dengan

indikator yang hendak diungkap (Azwar, 2015). Professsional judgment

dilakukan dengan cara meminta pertimbangan kepada dosen pembimbing

tentang kesesuaian antara aitem yang disusun dalam skala likert dengan

aspek yang diungkap.

2. Reliabilitas

Pengukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi disebut sebagai

pengukuran yang reliabel (reliable). Konsep reliabilitas yaitu sejauhmana

hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2015). Koefisien

reliabitilas yang digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien reliabilitas

Alpha Cronbach. Sedangkan teknik estimasi penelitian yang digunakan

adalah teknik konsistensi internal melalui single trial administration yaitu

prosedur yang hanya memerlukan satu kali pengenaan sebuah tes kepada

sekelompok individu sebagai subjek. Data penelitian dihitung

menggunakan bantuan fasilitas komputer program Statistical Product and

Service Sollution (SPSS) 23.0 for windows (Azwar, 2015).

F. Metode Analisis Data

Metode yang digunakan untuk analisis data penelitian adalah teknik

analisis regresi berganda, yaitu suatu teknik analisis statistik yang bertujuan

untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung

dengan meramalkan nilai atau skor lebih dari satu variabel bebas lainnya

yang gejala datanya interval atau rasio.


52

Penggunaan teknik analisis regresi berganda mensyaratkan bahwa

variabel-variabel penelitian harus berdistribusi normal dan hubungan antar

masing-masing variabel yang diukur linier. Oleh karena itu, sebelum data

dianalisis maka akan dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan

uji linearitas. Keseluruhan komputasi data penelitian akan dilakukan

dengan bantuan fasilitas komputer program Statistical Product and Service

Sollution (SPSS) 23.0 for windows.


BAB IV

LAPORAN PENELITIAN

A. Orientasi Kancah Penelitian

Subjek penelitian ini adalah semua siswa SMP Muhammadiyah 1

Moyudan yang beralamat di Jln. Klangon-Tempel, Barepan-Sumberrahayu-

Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55563. SMP

Muhammadiyah 1 Moyudan berdiri sejak tahun 1976 ditunjukan dengan SK

nomor 23/28/MPK/74 yang dikeluarkan pada tanggal 25 Juli 1976. Luas

lahan untuk pendirian sekolah yaitu seluas 2575 M2 dengan berbagai

sarana sebagai pendukung kegiatan proses belajar mengajar.

SMP Muhammadiyah 1 Moyudan dipimpin oleh Bapak Tri Muriana

Budianto, S. T sebagai kepala sekolah didukung dengan memiliki sumber

daya guru sejumlah 11 orang. SMP Muhammadiyah 1 Moyudan terbagi dari

tiga kelas yaitu kelas VII, VIII dan IX. Populasi penelitian ini adalah semua

siswa SMP Muhammadiyah 1 Moyudan. Subjek try out menggunakan siswa

dalam satu kelas yaitu kelas VIII, sedangkan untuk sampel penelitian

adalah siswa dari dua kelas yaitu kelas VII dan kelas IX. Berikut adalah data

jumlah siswa di SMP Muhammadiyah 1 Moyudan:

53
54

Keterangan Jumlah

Siswa Kelas VII A 28 Siswa

Siswa Kelas VII B 29 Siswa

Siswa Kelas VIII A 25 Siswa

Siswa Kelas VIII B 27 Siswa

Siswa Kelas IX A 20 Siswa

Siswa Kelas IX B 26 Siswa

Total 155 Siswa

B. Persiapan Penelitian

1. Proses Perijinan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan memenuhi persyaratan

yang akan digunakan untuk mendapatkan surat ijin melakukan penelitian di

SMP Muhammadiyah 1 Moyudan. Peneliti terlebih dahulu mengajukan

Surat Ijin Penelitian kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Ahmad

Dahlan Yogyakarta dengan nomor: F.4/776/H.1/V/2018 pada tanggal 22

Mei 2018. Surat Ijin Penelitian ini digunakan peneliti sebagai pengantar

untuk mendapatkan ijin penelitian ke SMP Muhammadiyah 1 Moyudan.

Setelah ijin penelitian disetujui maka secara resmi peneliti telah diberikan

ijin untuk melakukan uji coba serta penelitian oleh pihak sekolah.
55

2. Persiapan Alat Ukur Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan

alat ukur yang akan digunakan. Proses yang menentukan keberhasilan

dalam penelitian psikologi yaitu salah satunya menggunakan pendekatan

kuantitatif dengan menggunakan uji coba terhadap alat ukur yang

digunakan dalam penelitian. Uji coba ini dilakukan dengan maksud untuk

mendapatkan alat ukut yang valid dan reliabel.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan tiga macam skala sebagai

alat ukur yang terdiri dari Skala Subjective Well-Beng, Skala Keterlibatan

Ayah dalam Pengasuhan dan Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya.

Peneliti mengambil sampel dengan menggunakan teknik clauster random

sampling yaitu melakukan randomisasi terhadap kelompok bukan terhadap

subjek secara individual.

3. Persiapan Uji Coba Skala Penelitian

Persiapan uji coba yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan

konfirmasi terlebih dahulu dengan pihak SMP Muhammadiyah 1 Moyudan

untuk meminta ijin waktu yang akan digunakan dalam melakukan penelitian.

Selanjutnya peneliti mempersiapkan alat ukur yang akan digunakan yaitu

Skala Subjective Well-Being yang terdiri dari 48 aitem, Skala Keterlibatan

Ayah dalam Pengasuhan yang terdiri dari 48 aitem dan Skala Dukungan

Sosial Teman Sebaya yang terdiri dari 48 aitem.


56

4. Pelaksanaan Uji Coba Skala Penelitian

Uji coba dilakukan pada tanggal 4 Juni 2018 pada kelas VIII dengan

jumlah subjek sebanyak 52 siswa. Uji coba skala dilaksanakan oleh peneliti

dan dibantu oleh fasilitator. Ketiga skala yang diujicobakan dimaksudkan

untuk mengetahui aitem dalam skala saja yang layak untuk dijadikan alat

ukur dalam penelitian.

5. Hasil Uji Coba

Uji coba alat ukur yang dilaksanakan dengan menggunakan subjek

siswa kelas VIII sebanyak 52 siswa yang diminta untuk mengisi pernyataan

dalam Skala Subjective Well-Being, Skala Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan dan Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya. Hasil uji coba

pada ketiga skala tersebut dimasukan ke dalam tabulasi untuk

memudahkan analisis data. Kualitas aitem ketiga skala dianalisis dengan

bantuan fasilitas komputer program Statistical Product and Service

Sollution (SPSS) 23.0 for windows.

a. Seleksi Aitem

1) Skala Subjective Well-Beng

Skala Subjective Well-Being terdiri dari 48 aitem yang kemudian

dilakukan pengujian terhadap validitas melalui profesional judgment dan

reliabilitas dengan analisis menggunakan bantuan program SPSS 23.0 for

windows. Apabila dengan cara membuang aitem tersebut koefisien

reliabilitas Alpha dapat menjadi lebih tinggi, maka akan dilakukan dua tahap
57

dalam penyetaraan skala tersebut. Tahap pertama yaitu pembuangan

aitem dan tahap kedua yaitu penyesuaian jumlah aitem.

Peneliti melakukan seleksi aitem dengan empat kali putaran dalam

pembuangan aitem. Pada analisis pertama terdapat 48 aitem dengan

koefisien reliabilitas 0,825 dan aitem yang terbuang sebanyak 13 aitem,

yaitu aitem nomor 5, 17, 18, 19, 21, 23, 24, 25, 28, 33, 35, 37 dan 44. Pada

analisis kedua terdapat 35 aitem dengan koefisien reliabilitas 0,860 dan

aitem yang terbuang sebanyak 1 aitem, yaitu aitem nomor 47. Pada analisis

ketiga terdapat 34 aitem dengan koefisien reliabilitas 0,860 dan aitem yang

terbuang sebanyak 2 aitem yaitu aitem nomor 10 dan 16. Pada analisis

terakhir tidak ada aitem yang terbuang karena koefisien reliabilitas sudah

mencukupi yaitu 0,859 dengan jumlah sisa aitem sebanyak 32 aitem.

Berikut tabel 4.1 yang memuat hasil analisis aitem Skala Subjective Well-

being yang valid dan gugur pada tahap pertama.

Tabel 4.1.
Sebaran aitem skala subjective well-being tahap satu
Nomor Aitem
No Aspek
Favorabel Gugur Unfavorabel Gugur
1. Afeksi 1, 3, 5, 7, 9, 7, 9, 11, 2, 4, 6, 8, 2, 6, 10,
Positif 11, 13, 15 15 10, 12, 14, 16
16
2. Afeksi 17, 19, 21, 17, 19, 18, 20, 22, 18, 24, 28
Negatif 23, 25, 27, 21, 23, 25 24, 26, 28
29, 31
3. Kepuasan 33, 35, 37, 33, 35, 34, 36, 38, 36, 38, 42,
Hidup 39, 41, 43, 37, 47 40, 42, 44, 44
45, 47 46, 48
Total 24 13 24 11
58

Tahap kedua yaitu penyesuaian yang dilakukan dengan membuang

aitem untuk memenuhi jumlah aitem yang dibutuhkan. Penyetaraan aitem

dalam skala dilakukan dengan cara membuang aitem dengan nilai rit

terendah. Aitem tersebut yaitu nomor 2, 6, 7, 9, 15, 36, 38 dan 42 sehingga

tersisa 24 aitem yang memiliki koefisien reliabilitas Alpha (rtt) sebesar 0,

843. Hasil analisis aitem yang valid dan gugur dalam Skala Subjective Well-

Being pada analisis tahap kedua atau penyesuaian disajikan pada tabel 4.2.

Tabel 4.2.
Sebaran aitem skala subjective well-being tahap penyesuaian

Nomor Aitem
No Aspek
Favorabel Gugur Unfavorabel Gugur
1. Afeksi 1, 3, 11, 13 7, 9, 11, 15 4, 8, 12, 14, 2, 6, 10,
Positif 16
2. Afeksi 27, 29, 31 17, 19, 21, 20, 22, 26, 18, 24,
Negatif 23, 25 30, 32 28
3. Kepuasan 39, 41, 43, 33, 35, 37, 34, 40, 46, 48 36, 38,
Hidup 45 47 42, 44
Total 11 13 13 11

Sebaran aitem dalam Skala Subjective Well-Being tahap kedua

setelah melakukan penyesuaian disajikan dalam tabel 4.3.


59

Tabel 4.3.

Sebaran aitem skala subjective well-being setelah tahap penyesuaian

Aitem Jumlah

No Aspek Favorabel Unfavorabel F Bobot (%)

1. Afeksi Positif 1, 3, 11, 13 4, 8, 12, 14 8 33,33 %

2. Afeksi Negatif 27, 29, 31 20, 22, 26, 8 33,33 %


30, 32
3. Kepuasan 39, 41, 43, 34, 40, 46, 8 33,33 %
Hidup 45 48
Jumlah 11 13 24 100 %

Indeks daya beda aitem-aitem (rit) Skala Subjective Well-being

dengan penomoran baru berkisar antara 0,261-0,542. Aitem-aitem dalam

Skala Subjective Well-being dengan penomoran baru dapat dilihat pada

tabel 4.4.

Tabel 4.4.
Sebaran Aitem skala subjective well-being dengan penomoran baru

Aitem Jumlah

No Aspek Favorabel Unfavorabel F Bobot (%)

1. Afeksi Positif 1, 3, 5, 7 2, 4, 6, 8 8 33,33 %

2. Afeksi Negatif 9, 11, 13 10, 12, 14, 8 33,33 %


15, 16
3. Kepuasan 17, 19, 21, 18, 20, 22, 8 33,33 %
Hidup 23 24
Jumlah 11 13 24 100
60

2) Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan terdiri dari 48 aitem yang

kemudian dilakukan pengujian terhadap validitas melalui professional

judgment dan reliabilitas dengan analisis menggunakan bantuan program

SPSS 23.0 for windows. Apabila dengan cara membuang aitem tersebut

koefisien reliabilitas Alpha dapat menjadi lebih tinggi, maka akan dilakukan

dua tahap dalam penyetaraan skala tersebut. Tahap pertama yaitu

pembuangan aitem dan tahap kedua yaitu penyesuaian jumlah aitem.

Peneliti melakukan seleksi aitem dengan tiga kali putaran dalam

pembuangan aitem. Pada analisis pertama terdapat 48 aitem dengan

koefisien reliabilitas 0,940 dan aitem yang terbuang sebanyak 4 aitem, yaitu

aitem nomor 2, 6, 24 dan 38. Pada analisis kedua terdapat 44 aitem dengan

koefisien reliabilitas 0,944 dan aitem yang terbuang sebanyak 12 aitem,

yaitu aitem nomor 1, 5, 11, 13, 17, 23, 25, 30, 41, 44, 45 dan 46. Pada

analisis terakhir tidak ada aitem yang terbuang karena koefisien reliabilitas

sudah mencukupi yaitu 0,945 dengan jumlah sisa aitem sebanyak 32 aitem.

Berikut tabel 4.5 yang memuat hasil analisis aitem skala keterlibatan ayah

dalam pengasuhan yang valid dan gugur pada tahap pertama.


61

Tabel 4.5.
Sebaran Aitem skala keterlibatan ayah dalam pengasuhan tahap satu
Nomor Aitem
No Aspek
Favorabel Gugur Unfavorabel Gugur
1. Aspek 1, 3, 5, 7, 9, 1, 5, 11, 2, 4, 6, 8, 2, 6
Engagement 11, 13, 15 13 10, 12, 14,
16
2. Aspek 17, 19, 21, 17, 23, 18, 20, 22, 24, 30
Accessability 23, 25, 27, 25 24, 26, 28,
29, 31 30, 32
3. Aspek 33, 35, 37, 41, 45 34, 36, 38, 38, 44,
Responbility 39, 41, 43, 40, 42, 44, 46
45, 47 46, 48
Total 24 9 24 7

Tahap kedua yaitu penyesuaian yang dilakukan dengan cara

membuang aitem untuk memenuhi jumlah aitem yang dibutuhkan.

Penyetaraan aitem skala dilakukan dengan cara membuang aitem dengan

nilai (rit) terendah. Aitem tersebut yaitu nomor 4, 14, 19, 20, 32, 35, 39 dan

40 sehingga tersisa 24 aitem yang memiliki koefisien reliabilitas Alpha (rtt)

sebesar 0, 935. Hasil analisis aitem dalam Skala Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan yang valid dan gugur pada tahap kedua atau penyesuaian

disajikan pada tabel 4.6.


62

Tabel 4.6.
Sebaran aitem skala keterlibatan ayah dalam pengasuhan tahap
penyesuaian

Nomor Aitem
No Aspek
Favorabel Gugur Unfavorabel Gugur
1. Aspek 3, 7, 9, 15 - 8, 10, 12, 16 4, 14
Engagement
2. Aspek 21, 27, 29, 19 18, 22, 26, 28 20, 32
Accessability 31
3. Aspek 33, 37, 43, 35, 39 34, 36, 42, 48 40
Responbility 47
Total 12 3 12 5

Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan tahap kedua setelah

melakukan penyesuaian disajikan dalam tabel 4.7.

Tabel 4.7.
Sebaran aitem skala keterlibatan ayah dalam pengasuhan setelah tahap
penyesuaian

Aitem Jumlah

No Aspek Favorabel Unfavorabel F Bobot (%)

1. Aspek 3, 7, 9, 15 8, 10, 12, 16 8 33,33 %


Engagement
2. Aspek 21, 27, 29, 18, 22, 26, 8 33,33 %
Accessability 31 28
3. Aspek 33, 37, 43, 34, 36, 42, 8 33,33 %
Responbility 47 48
Jumlah 12 12 24 100 %

Indeks daya beda aitem-aitem (rit) Skala Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan dengan penomoran baru berkisar antara 0,468-0,722. Aitem-


63

aitem dalam skala keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan

penomoran baru berada pada tabel 4.8.

Tabel 4.8.

Sebaran Aitem skala keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan


penomoran baru

Aitem Jumlah

No Aspek Favorabel Unfavorabel F Bobot (%)

1. Aspek 1, 3, 5, 7 2, 4, 6, 8 8 33,33 %
Engagement
2. Aspek 9, 11, 13, 10, 12, 14, 8 33,33 %
Accessability 15 16
3. Aspek 17, 19, 21, 18, 20, 22, 8 33,33 %
Responbility 23 24
Jumlah 12 12 24 100 %

3) Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya

Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya terdiri dari 48 aitem yang

kemudian dilakukan pengujian terhadap validitas melalui profesional

judgment dan reliabilitas dengan menggunakan bantuan program SPSS

23.0 for windows. Apabila dengan cara membuang aitem tersebut koefisien

reliabilitas Alpha dapat menjadi lebih tinggi, maka akan dilakukan dua tahap

dalam penyetaraan skala tersebut. Pada tahap pertama yaitu pembuangan

aitem dan tahap kedua yaitu penyesuaian jumlah aitem.

Peneliti melakukan seleksi aitem dengan empat kali putaran dalam

pembuangan aitem. Pada analisis pertama terdapat 48 aitem dengan

koefisien reliabilitas 0,929 dan aitem yang terbuang sebanyak 9 aitem, yaitu
64

aitem nomor 11, 14, 20, 26, 28, 33, 34, 41 dan 42. Pada analisis kedua

terdapat 39 aitem dengan koefisien reliabilitas 0,938 dan aitem yang

terbuang sebanyak 5 aitem, yaitu aitem nomor 1, 9, 12, 21 dan 36. Pada

analisis ketiga terdapat 34 aitem dengan koefisien reliabilitas 0,938 dan

aitem yang terbuang sebanyak 5 aitem yaitu aitem nomor 7, 22, 27, 35 dan

38. Pada analisis terakhir tidak ada aitem yang terbuang karena koefisien

reliabilitas sudah mencukupi yaitu 0,935 dengan jumlah sisa aitem

sebanyak 29 aitem. Berikut tabel 4.9 yang memuat hasil analisis aitem

dalam Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya yang valid dan gugur pada

tahap pertama.

Tabel 4.9.
Sebaran aitem skala dukungan sosial teman sebaya tahap satu

Nomor Aitem
No Aspek
Favorabel Gugur Unfavorabel Gugur
1. Dukungan 1, 3, 5, 7, 9, 1, 7, 9, 2, 4, 6, 8, 12
Emosional 11 11 10, 12
2. Dukungan 13, 15, 17, 21 14, 16, 18, 14, 20,
Penghargaan 19, 21, 23 20, 22, 24 22
3. Dukungan 25, 27, 29, 27, 33, 26, 28, 30, 26, 28,
Instrumental 31, 33, 35 35 32, 34, 36 34, 36
4. Dukungan 37, 39, 41, 41 38, 40, 42, 38, 42
Informatif 43, 45, 47 44, 46, 48

Total 24 9 24 10

Tahap kedua yaitu penyesuaian yang dilakukan dengan cara

membuang dan memasukan aitem untuk memenuhi jumlah aitem yang

dibutuhkan. Penyetaraan aitem skala dilakukan dengan membuang aitem


65

dengan nilai (rit) terendah. Aitem tersebut yaitu aitem nomor 10, 15, 19, 37,

39 dan 48, kemudian memasukkan aitem dengan mengambil aitem yang

sudah terbuang dengan melihat nilai (rit) tertinggi dari aspek yang

membutuhkan. Aitem tersebut yaitu nomor 36 untuk aspek dukungan

instrumental sehingga tersisa 24 aitem yang memiliki koefisien reliabilitas

Alpha (rtt) sebesar 0, 926. Hasil analisis aitem Skala Dukungan Sosial

Teman Sebaya yang valid dan gugur pada tahap kedua atau penyesuaian

disajikan pada tabel 4.10.

Tabel 4.10.
Sebaran aitem skala dukungan sosial teman sebaya tahap penyesuaian

Nomor Aitem
No Aspek
Favorabel Gugur Unfavorabel Gugur Penam
bahan

1. Dukungan 3, 5 - 2, 4, 6, 8, 10 10 -
Emosional
2. Dukungan 13, 15, 17, 15, 19 16, 18, 24 - -
Penghargaan 19, 23
3. Dukungan 25, 29, 31 - 30, 32 - 36
Instrumental
4. Dukungan 37, 39, 43, 37, 39 40, 44, 46, 48 48 -
Informatif 45, 47
Total 15 4 13 2 1

Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya tahap kedua setelah

melakukan penyesuaian disajikan dalam tabel 4.11.


66

Tabel 4.11.
Sebaran aitem skala dukungan sosial teman sebaya setelah tahap
penyesuaian

Aitem Jumlah

No Aspek Favorabel Unfavorabel F Bobot (%)

1. Dukungan 3, 5 2, 4, 6, 8 6 25%
Emosional
2. Dukungan 13, 17, 23 16, 18, 24 6 25%
Penghargaan
3. Dukungan 25, 29, 31 30, 32, 36 6 25%
Instrumental
4. Dukungan 43, 45, 47 40, 44, 46 6 25%
Informatif
Jumlah 11 13 24 100 %

Indeks daya beda aitem-aitem (rit) Skala Dukungan Sosial Teman

Sebaya dengan penomoran baru berkisar antara 0,426-0,708. Aitem-aitem

skala dukungan sosial teman sebaya dengan penomoran baru berada pada

tabel 4.12.

Tabel 4.12.
Sebaran aitem skala dukungan sosial teman sebaya dengan penomoran
baru
Aitem Jumlah

No Aspek Favorabel Unfavorabel F Bobot (%)

1. Dukungan 1, 3 2, 4, 5, 6 6 25%
Emosional
2. Dukungan 7, 9, 11 8, 10, 12 6 25%
Penghargaan
3. Dukungan 13, 15, 17 14, 16, 18 6 25%
Instrumental
4. Dukungan 19, 21, 23 20, 22, 24 6 25%
Informatif
Jumlah 11 13 24 100 %
67

C. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian di SMP Muhammadiyah 1 Moyudan dilaksanakan pada hari

Senin tanggal 23 Juli 2018 jam 11.35 WIB. Pelaksanaan penelitian ini

dilakukan oleh peneliti yang dibantu oleh fasilitator. Peneliti telah melakukan

konfirmasi dengan kepala sekolah SMP Muhammadiyah 1 Moyudan

sebelum melakukan pengambilan data pada responden. Subjek diambil

dengan menggunakan tekhnik cluster random sampling yaitu dengan

melakukan randomisasi terhadap kelas bukan terhadap subjek secara

individu. Peneliti melakukan tekhnik cluster random sampling dengan cara

menuliskan nama-nama kelas dan digulung, kemudian kertas yang sudah

digulung tadi dimasukan ke dalam botol kecil kemudian dikocok, dua kelas

yang keluar yaitu kelas VII dan kelas IX digunakan untuk penelitian dan satu

kelas yang tersisa yaitu kelas VIII untuk try out. Setelah mendapatkan ijin

maka peneliti membagikan skala kepada siswa kelas VII dan kelas IX.

Pengisian skala dilakukan secara klasikal dan terlebih dahulu peneliti

memberikan pengarahan mengenai tata cara pengisian skala. Setiap

subjek memperoleh satu eksemplar skala yang berisi tiga skala, yaitu Skala

Subjective Well-Being sebanyak 24 aitem, Skala Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan sebanyak 24 aitem dan Skala Dukungan Sosial Teman

Sebaya sebanyak 24 aitem. Durasi waktu yang dibutuhkan untuk

mengerjakan ketiga skala selama 30 menit.


68

Data penelitian yang diperoleh mencakup identitas subjek yang

meliputi nama, usia, jenis kelamin dan pilihan jawaban subjek yang

kemudian akan diberi skor. Setelah skala telah terkumpul, peneliti

melakukan skoring dan menganalisis data dengan bantuan komputer

program SPSS 23.0 for windows.

D. Hasil Analisis Data Penelitian

1. Kategorisasi

Penelitian ini analisis deskriptif ditunjukan untuk memberikan

gambaran mengenai kecenderungan respon subjek penelitian (berupa

mean atau rata-rata) terhadap variabel-variabel penelitian, yaitu Subjective

Well-Being, Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan Dukungan Sosial

Teman Sebaya.

Berdasarkan hasil analisis data statistik deskriptif dapat diketahui skor

empirik dan skor hipotetik. Pada penelitian ini menggunakan skala dengan

empat alternatif jawaban dengan skor bergerak dari 1-4. Skala Subjective

Well-Being terdiri dari 24 aitem sehingga kemungkinan skor terendah (Xr)

variabel Subjective Well-Being secara hipotetik adalah sebesar 1 x 24 = 24

dan skor tertinggi (Xt) adalah 4 x 24 = 96. Rentang skor Skala Subjective

Well-Being adalah 96 – 24 = 72 dan standar deviasinya (96 - 24) : 6 = 12.

Mean hipotetiknya yaitu (96 + 24) : 2 = 60.

Skala Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan terdiri dari 24 aitem

sehingga kemungkinan skor terendah (Xr) variabel Keterlibatan Ayah dalam


69

Pengasuhan secara hipotetik adalah sebesar 1 x 24 = 24 dan skor tertinggi

(Xt) adalah 4 x 24 = 96. Rentang skor Skala Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan adalah 96 – 24 = 72 dan standar deviasinya (96 - 24) : 6 = 12.

Mean hipotetiknya yaitu (96 + 24) : 2 = 60.

Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya terdiri dari 24 aitem sehingga

kemungkinan skor terendah (Xr) variabel Dukungan Sosial Teman Sebaya

secara hipotetik adalah sebesar 1 x 24 = 24 dan skor tertinggi (Xt) adalah 4

x 24 = 96. Rentang skor Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya adalah 96

– 24 = 72 dan standar deviasinya (96 - 24) : 6 = 12. Mean hipotetiknya yaitu

(96 + 24) : 2 = 60. Skor empirik dan skor hipotetik secara terinci dapat dilihat

pada tabel 4.13.

Tabel 4.13.
Data statistik deskriptif skala subjective well-being, keterlibatan ayah dalam
pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya

Variabel Jumlah Skor Hipotetik Skor Empirik


aaitem Min Maks M SD Min Maks M SD
Subjective 24 24 96 60 12 55 90 70,60 8,194
Well-Being
Keterlibatan 24 24 96 60 12 45 92 73,81 9,649
Ayah dalam
Pengasuhan
Dukungan 24 24 96 60 12 53 96 70,17 8,085
Sosial Teman
Sebaya

Keterangan:
Perhitungan skor hipotetik
1. Skor minimal (Min)
= jumlah butir aitem skala x nilai terendah bobot pilihan jawaban
2. Skor maksimal (Maks)
= jumlah butir aitem skala x nilai tertinggi bobot pilihan jawaban
70

3. Rerata Hipotetik (Mean)


= (skor maksimal + skor minimal) : 2
4. Standar Deviasi (SD)
= (Skor maksimal – skor minimal ) : 6

Berdasarkan deskripsi data penelitian di atas, maka dapat dilakukan

suatu pengkategorisasian skor pada ketiga variabel penelitian. Kategorisasi

pada masing-masing variabel dengan menetapkan kriteria kategorisasi

yang didasarkan oleh suatu asumsi skor subjek dalam populasi terdistribusi

secara normal sehingga dapat dibuat skor teoritis yang terdistribusi normal

untuk mengetahui tinggi rendahnya skor yang diperoleh subjek. Norma

kategorisasi yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel 4.14.

Tabel 4.14.
Norma kategorisasi

Norma Kategorisasi

X < (M – 1,0 SD) Rendah

(M – 1,0 SD) ≤ x< (M + 1,0 SD) Sedang

X ≥ (M + 1,0 SD ) Tinggi

Keterangan:
M : Rerata
SD : Standar Deviasi

Kategorisasi tersebut didasarkan pada nilai mean hipotetik dan

standar hipotetik pada masing-masing variabel yang dapat dilihat pada

tabel 4.15, 4.16 dan 4.17.


71

Tabel 4.15.
Kategorisasi skor kecenderungan subjective well-being

Variabel Interval Frekuensi Persentase Kategorisasi

Subjective X < 48 0 0% Rendah


Well-Being
48 ≤ X < 72 61 59,22% Sedang

X ≥ 72 42 40,78% Tinggi

Berdasarkan hasil analisis data dan kategori Skala Subjective Well-

Being, menunjukan bahwa data mean empirik Subjective Well-Being yaitu

70,60. Hasil kategorisasi Subjective Well-Being menunjukan bahwa

sebagian besar siswa mempunyai Subjective Well-Being dalam kategori

sedang yaitu sebanyak 59,22% (61 subjek dari 103 subjek keseluruhan).

Mean hipotetik Subjective Well-Being yaitu 60.

Kategorisasi di atas menggambarkan bahwa 40,78% (42 subjek dari

103 subjek keseluruhan) mengidentifikasikan Subjective Well-Being tinggi

dan 0% (0 subjek dari 103 subjek secara keseluruhan) mengidentifikasikan

Subjective Well-Being rendah, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa

subjek dalam penelitian ini sebagian besar mempunyai Subjective Well-

Being yang cenderung sedang.


72

Tabel 4.16.
Kategorisasi skor kecenderungan keterlibatan ayah dalam pengasuhan

Variabel Interval Frekuensi Persentase Kategorisasi

Keterlibatan X < 48 1 0,97% Rendah


Ayah dalam
Pengasuhan 48 ≤ X < 72 39 37,86% Sedang

X ≥ 72 63 61,17% Tinggi

Berdasarkan hasil analisis data dan kategori Skala Keterlibatan Ayah

dalam Pengasuhan, menunjukan bahwa data mean empirik Keterlibatan

Ayah dalam Pengasuhan yaitu 73,81. Hasil kategorisasi Keterlibatan Ayah

dalam Pengasuhan menunjukan bahwa sebagian besar siswa mempunyai

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dalam kategori tinggi yaitu sebanyak

61,17% (63 subjek dari 103 subjek keseluruhan). Mean hipotetik

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan yaitu 60.

Kategorisasi di atas menggambarkan bahwa 37,86% (39 subjek dari

103 subjek keseluruhan) mengidentifikasikan Keterlibatan Ayah dalam

Pengasuhan sedang dan 0,97% (1 subjek dari 103 subjek secara

keseluruhan) mengidentifikasikan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

rendah, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa subjek dalam penelitian

ini sebagian besar mempunyai Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan yang

cenderung tinggi.
73

Tabel 4.17.
Kategorisasi skor kecenderungan dukungan sosial teman sebaya

Variabel Interval Frekuensi Persentase Kategorisasi

Dukungan X < 48 0 0% Rendah


Sosial
Teman 48 ≤ X < 72 60 58,25% Sedang
Sebaya
X ≥ 72 43 41,75% Tinggi

Berdasarkan hasil analisis data dan kategori Skala Dukungan Sosial

Teman Sebaya, menunjukan bahwa data mean empirik Dukungan Sosial

Teman Sebaya yaitu 70,17. Hasil kategorisasi Dukungan Sosial Teman

Sebaya menunjukan bahwa sebagian besar siswa mempunyai Dukungan

Sosial Teman Sebaya dalam kategori sedang yaitu sebanyak 58,25% (60

subjek dari 103 subjek keseluruhan). Mean hipotetik Dukungan Sosial

Teman Sebaya yaitu 60.

Kategorisasi di atas menggambarkan bahwa 41,75% (43 subjek dari

103 subjek keseluruhan) mengidentifikasikan Dukungan Sosial Teman

Sebaya tinggi dan 0% (0 subjek dari 103 subjek secara keseluruhan)

mengidentifikasikan Dukungan Sosial Teman Sebaya rendah, sehingga

dapat ditarik kesimpulan bahwa subjek dalam penelitian ini sebagian besar

mempunyai Dukungan Sosial Teman Sebaya yang cenderung sedang.

2. Uji Asumsi

Uji asumsi dilakukan sebelum pengolahan data atau uji hipotesis. Uji

asumsi mencakup uji normalitas sebaran, uji linieritas dan uji


74

multikolinearitas. Uji asumsi merupakan syarat sebelum dilakukan

pengetesan nilai korelasi agar kesimpulan yang ditarik tidak menyimpang

dari kebenaran yang seharusnya.

a. Uji Normalitas Sebaran

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel dalam

penelitian ini sebarannya normal atau tidak. Distribusi sebaran yang normal

memiliki arti bahwa penelitian dapat mewakili populasi yang ada.

Sebaliknya apabila sebaran tersebut tidak normal maka dapat disimpulkan

bahwa subjek penelitian itu tidak dapat mewakili keadaan populasi yang

sebenarnya, sehingga hasilnya tidak layak untuk digeneralisasikan pada

populasi tersebut. Pengujian normalitas menggunakan tekhnik statistik

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test dari program SPSS 23.0 for

windows. Pada uji statistik tersebut jika diperoleh nilai probabilitas sebesar

0,05 atau lebih besar (p>0,05) maka data berdistribusi normal dan jika

probabilitas lebih kecil (p<0,05) maka data tersebut tidak berdistribusi

normal. Hasil uji normalitas masing-masing variabel disajikan pada tabel

4.18.
75

Tabel 4.18.
Hasil uji normalitas sebaran
Variabel Kolmogorov- Sig (p) Keterangan
smirnov Z
Subjective Well- 0,087 0,054 Normal
Being
Keterlibatan Ayah 0,079 0,111 Normal
dalam Pengasuhan

Dukungan Sosial 0,075 0,182 Normal


Teman Sebaya

Berdasarkan hasil analisis uji normalitas yang tertera pada tabel 18

diketahui bahwa variabel Subjective Well-Being dengan nilai K-S Z = 0,087

dan p = 0,054 (p>0,05) sehingga variabel Subjective Well-Being memiliki

sebaran normal atau setiap data terdistribusi normal. Variabel Keterlibatan

Ayah dalam Pengasuhan dengan nilai K-S Z = 0,079 dan p = 0,111 (p>0,05)

sehingga variabel Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan memiliki sebaran

normal atau setiap data terdistribusi normal. Variabel Dukungan Sosial

Teman Sebaya dengan nilai K-S Z = 0,075 dan p = 0,182 (p>0,05) sehingga

variabel Dukungan Sosial Teman Sebaya memiliki sebaran normal atau

setiap data terdistribusi normal.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diasumsikan bahwa skor

ketiga variabel terdistribusi secara normal karena p lebih besar dari 0,05

artinya tidak ada perbedaan antara sebaran skor sampel dan skor populasi

dengan kata lain sampel yang digunakan mampu mewakili populasi.


76

b. Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk melihat apakah dari sebaran titik-titik

yang merupakan nilai dari variabel penelitian dapat ditarik garis lurus yang

menunjukkan sebuah hubungan linear antara variabel-variabel tersebut

atau dapat dikatakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas

dan variabel terkait linear atau tidak. Pengujian dilakukan dengan bantuan

SPSS 23.0 for windows. Kriteria pengujian linearitas adalah jika nilai

signifikansi pada linearity kurang dari 0,05 (p<0,05) dan deviation from

linearity lebih besar dari 0,05 (p>0,05) maka hubungan antara variabel

bebas dengan variabel tergantung terkait linear. Hasil uji linearitas terhadap

masing-masing variabel disajikan pada tabel 4.19.

Tabel 4.19.
Hasil uji linearitas sebaran
Variabel Linearity Dev. from Keterangan
linearity
F Sig (p) F Sig (p)
Subjective Well- 17,844 0,000 1,164 0,293 Linier
Being dengan
Keterlibatan Ayah
dalam
Pengasuhan
Subjective Well- 4,757 0,033 1,325 0,167 Linier
Being dengan
Dukungan Sosial
Teman Sebaya

Berdasarkan hasil uji linearitas pada tabel 19 diatas dapat disimpulkan

bahwa hubungan antara variabel keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan

dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-being adalah linear.


77

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas ini untuk membuktikan atau menguji ada tidaknya

hubungan yang linear di antara variabel independen. Pada analisis regresi

linear berganda dinyatakan bahwa antara variabel independen tidak boleh

terjadi hubungan yang sempurna (multikolinearitas). Kriteria yang

digunakan adalah jika nilai Tolerance lebih dari 0,1 (>0,1) dan nilai VIF

(Variance Inflation Factor) kurang dari 10 (<10) maka tidak terdapat

hubungan multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas daapt dilihat pada

tabel 4.20.

Tabel 4.20.
Hasil uji multikolinearitas
Variabel Tolerance VIF Keterangan

Keterlibatan Ayah 0,818 1,223 Tidak terjadi


dalam Pengasuhan multikolinearitas

Dukungan Sosial 0,818 1,223 Tidak terjadi


Teman Sebaya multikolinearitas

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pada variabel

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya

diketahui nilai Tolerance sebesar 0,818 (>0,1) dan nilai VIF (Variance

Inflation Factor) sebesar 1,223 (<10) sehingga dapat disimpulkan tidak

terjadi multikolinearitas X1X2.


78

3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan posistif antara

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya

dengan subjective well-being pada siswa SMP Muhammadiyah 1 Moyudan

diuji dengan menggunakan koefisien korelasi analisis regresi berganda

dengan bantuan program SPSS 23.0 for windows.

a. Hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan

dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-being. Berdasarkan

hasil analisis regresi berganda diketahui bahwa besarnya koefisien korelasi

antara ketiga variabel tersebut (Rxy) = 0,381 dengan taraf signifikansi 0,000

(p<0,01). Berdasarkan hasil tersebut hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulkan

bahwa terdapat hasil yang sangat signifikan antara variabel keterlibatan

ayah dalam pengasuhan dan dukungan teman sebaya dengan subjective

well-being. Hasil analisis regresi berganda dua prediktor dapat dilihat pada

tabel 4.21 berikut.

Tabel 4.21.
Hasil analisis regresi ganda dua prediktor
R R Adjusted R Change Statistics
Square square
R Square Change Sig. F Change

0,381 0,145 0,128 0,145 0,000


79

b. Hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan

subjective well-being berdasarkan hasil analisis regresi berganda diperoleh

korelasi sebesar 0,330 dengan taraf signifikansi 0,001 (p<0,01).

Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini

diterima. Artinya bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan subjective well-being, dengan

mengontrol dukungan sosial teman sebaya. Koefisien korelasi dalam

penelitian ini diperoleh sebesar 0,330 yang menunjukan adanya korelasi

yang kuat antara variabel keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan

subjective well-being.

c. Hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan subjective

well-being, berdasarkan hasil analisis regresi berganda diperoleh korelasi

sebesar 0,049 dengan taraf signifikansi 0,623 (p>0,05). Berdasarkan hasil

tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini tidak diterima. Artinya

bahwa ada hubungan yang tidak signifikan antara dukungan sosial teman

sebaya dengan subjective well-being, dengan mengontrol keterlibatan ayan

dalam pengasuhan. Koefisien korelasi dalam penelitian ini diperoleh

sebesar 0,049 yang menunjukan tidak adanya korelasi yang kuat antara

variabel dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-being.

Dalam penelitian ini sumbangan efektif (EGR) variabel keterlibatan

ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya (variabel

bebas) terhadap subjective well-being (variabel tergantung) dapat

dijelaskan bahwa variabel keterlibatan ayah dalam pengasuhan


80

memberikan sumbangan efektif sebesar 13,7% dan variabel dukungan

sosial teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 0,80%.

Sumbangan efektif untuk masing-masing variabel bebas terhadap variabel

tergantung secara sendiri-sendiri dapat dilihat dengan menggunakan rumus

sebagai berikut:

(𝟎,𝟑𝟎𝟑) .(𝟒𝟎𝟒𝟐,𝟓)
= x 0,145
((𝟎,𝟑𝟎𝟑).(𝟒𝟎𝟒𝟐,𝟓)) +((𝟎,𝟎𝟓𝟏).(𝟏𝟑𝟕𝟏,𝟐)

𝟏𝟐𝟐𝟒,𝟖𝟕𝟕𝟓
= x 0,145
(𝟏𝟐𝟐𝟒,𝟖𝟕𝟕𝟓) +(𝟔𝟗,𝟗𝟑𝟏𝟐)

𝟏𝟐𝟐𝟒,𝟖𝟕𝟕𝟓
= x 0,145
𝟏𝟐𝟗𝟒,𝟖𝟎𝟖𝟕

= 0,9459910951 x 0,145

= 0,1371687088 x 100%

= 13,7%

(𝟎,𝟎𝟓𝟏) .( 𝟏𝟑𝟕𝟏,𝟐)
= x 0,145
((𝟎,𝟑𝟎𝟑).(𝟒𝟎𝟒𝟐,𝟓))+((𝟎,𝟎𝟓𝟏) .(𝟏𝟑𝟕𝟏,𝟐))

𝟔𝟗,𝟗𝟑𝟏𝟐
= x 0,145
(𝟏𝟐𝟐𝟒,𝟖𝟕𝟕𝟓) +(𝟔𝟗,𝟗𝟑𝟏𝟐)

𝟔𝟗,𝟗𝟑𝟏𝟐
= x 0,145
𝟏𝟐𝟗𝟒,𝟖𝟎𝟖𝟕

= 0,0540089049 x 0,179

= 0,0078312912 x 100%

= 0,80%
81

Berdasarkan perhitungan rumus diatas dapat disimpulkan bahwa ada

hubungan yang yang sangat signifikan (SS) antara keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-

being dimana pengaruh keterlibatan ayah dalam pengasuhan lebih besar

daripada pengasruh dukungan sosial teman sebaya dengan subjective

well-being.

E. Pembahasan

Hasil analisis data dengan menggunakan korelasi analisis regresi

berganda dalam penelitian ini menunjukan bahwa adanya hubungan antara

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya

dengan subjective well-being pada siswa SMP Muhammadiyah 1 Moyudan

dengan nilai R = 0,381 dan p = 0,000 (p<0,01). Berdasarkan penjelasan

diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa hipotesis mayor yang diajukan

peneliti diterima.

Hasil analisis diatas sejalan dengan pendapat Diener (Ariati, 2010)

menyatakan bahwa subjective well-being adalah evaluasi akan kejadian

yang telah terjadi atau dialami dalam kehidupan yang melibatkan proses

afektif dan kognitif yang aktif karena menentukan proses pengaturan

informasi. Penelitian-penelitian mengenai subjective well-being telah

banyak dilakukan dengan berbagai variabel. Salah satu penelitian yang

mendukung mengenai subjective well-being adalah penelitian Nayana


82

(2013) yang mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara

kefungsian keluarga dengan subjective well-being pada remaja. Kefungsian

keluarga salah satunya adalah keterlibatan ayah yang berperan dalam

pelaksanaan fungsi keluarga. Penelitian lain yakni Zahra & Handayani

(2014) menyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara keterlibatan

ayah dengan self-esteem remaja. Self-esteem merupakan variabel yang

dapat memprediksi subjective well-being remaja awal. Hal ini sejalan

dengan penelitian Khairat & Adiyanti (2015) yang menjelaskan self-esteem

memiliki kontribusi lebih besar terhadap subjective well-being pada remaja

awal. Selain itu keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan menurunkan

tingkat kenakalan pada remaja.

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda pada keterlibatan ayah

dalam pengasuhan diperoleh korelasi sebesar 0,330 dengan taraf

signifikansi 0,001 (p<0,01) sehingga hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini diterima. Artinya bahwa ada hubungan yang positif yang

sangat signifikan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan

subjective well-being. Koefisien korelasi dalam penelitian ini diperoleh

sebesar 0,330 yang menunjukan adanya korelasi yang kuat antara variabel

keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan subjective well-being.

Keterlibatan seorang ayah yang positif diyakini efek positifnya.

Keterlibatan itu sendiri tidak dapat dimunculkan secara tiba-tiba pula. Oleh

karena itu, sangat disarankan ayah mulai terlibat dengan anak sejak anak

dilahirlkan. Ayah disarankan untuk ikut terlibat dalam hal pengasuhan dan
83

segala kerepotan mengurus bayi sejak awal supaya kedekatan dan

kelekatan akan terbentuk sejak anak masih sangat muda (Andayani &

Koentjoro, 2004).

Hasil observasi menunjukan keterlibatan ayah dalam pengasuhan

diwujudkan dengan mengantar remaja ketika ke sekolah. Observasi yang

dilakukan didapatkan lebih dari setengah remaja yang menjadi subjek

diantar oleh ayah mereka ketika berangkat sekolah. Hal ini menunjukan

keterlibatan ayah meliputi dimensi keterlibatan ayah yaitu kehadiran ayah

dan pemenuhan kebutuhan remaja (Phares, Rojas, Thurston & Hankinson,

2010).

Pemenuhan aspek interaksi, kehadiran dan perawatan ayah yang

didapatkan remaja dalam keterlibatan pengasuhan akan menumbuhkan

rasa percaya diri. Selain itu kepuasan akan muncul dalam diri remaja

dengan keadaan ini remaja akan mudah memenuhi tugas di sekolah dan

berani melakukan hal yang positif. Pentingnya keterlibatan ayah dalam

pengasuhan yakni dapat menekan tingkat stress pada remaja akan lebih

tahan dengan berbagai stimulus stress yang ada. Remaja akan cepat

mengetahui solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul dalam

hidupnya (Allgood, Beckert & Peterson 2012).

Hasil analisis regresi berganda pada dukungan sosial teman sebaya

diperoleh korelasi sebesar 0,049 dengan taraf signifikansi 0,623 (p>0,05)

sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini tidak diterima. Artinya

bahwa tidak ada hubungan yang positif antara dukungan sosial teman
84

sebaya dengan subjective well-being. Koefisien korelasi dalam penelitian

ini diperoleh sebesar 0,049 yang menunjukan tidak terdapat korelasi yang

kuat antara variabel dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-

being. Hal ini dapat disebabkan karena responden pada penelitian ini

mayoritas merupakan remaja yang baru saja memasuki kelas VII SMP.

Remaja belum merasakan dukungan sosial yang nyata dari teman sebaya

yang berada satu kelas maupun teman sebaya lainnya di sekolah tersebut.

Observasi yang dilakukan saat pengambilan data didapatkan belum

terdapat kedekatan antara teman sekelas pada remaja. Situasi ini yang

membuat remaja belum merasakan dukungan sosial teman sebaya.

Dukungan sosial teman sebaya dalam penelitian ini tidak signifikan

karena masih belum terbentuk kedekatan atau interaksi yang intens

diantara teman sebaya. Jonshon (dalam Wahyuni, 2016) menyatakan

terdapat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merasakan dukungan

sosial. Salah satunya yaitu menyangkut hubungan individu dengan

lingkungan diantaranya keluarga dan masyarakat. Hubungan inilah yang

dapat berubah tergantung dengan frekwensi hubungan, komposisi dan

kedekatan hubungan dengan individu lain. Hal ini dibuktikan dengan hasil

wawancara sebagai data penunjang yakni remaja tidak saling membantu

dalam pengerjaan tugas dan tidak saling bertukar info tentang tugas

sekolah.

Maka dapat disimpulkan pada responden belum terbentuk faktor-

faktor dukungan sosial teman sebaya. Faktor-faktor dukungan teman


85

sebaya terdiri dari empati yakni merasakan kesusahan orang lain bertujuan

untuk memotivasi, norma dan nilai sosial serta pertukaran sosial yaitu

hubungan timbal balik perilaku sosial antara cinta, pelayanan dan informasi.

Hasil analisis ini sejalan dengan penelitian Wahyuningsih (2013) yang

menyatakan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara optimisme dan

dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif remaja SMA program

akselerasi di Kota Surakarta. Dukungan sosial adalah informasi atau umpan

balik dari orang lain yang menunjukan bahwa seseorang dicintai dan

diperhatikan, dihargai dan dihormati serta dilibatkan dalam jaringan

komunikasi dan kewajiban yang timbal balik (King, 2012).

Sumbangan efektif keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan

dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-being dapat dilihat

dari koefisien determinan atau koefisien korelasi yang dikuadratkan

sebesar 14,5%. Hal ini menginformasikan bahwa keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya secara umum memberi

pengaruh terhadap subjective well-being sebesar 14,5% dan 85,5%

subjective well-being dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Sumbangan efektif

keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap subjective well-being

sebesar 13,7%.

Berdasarkan hasil kategorisasi variabel keterlibatan ayah dalam

pengasuhan, terdapat 1 siswa yang memiliki keterlibatan ayah dalam

pengasuhan pada kategori rendah, sebanyak 39 siswa berada pada

kategori sedang dan sebanyak 63 siswa berada dalam kategori tinggi. Hal
86

tersebut menunjukan bahwa mayoritas siswa dalam penelitian ini memiliki

keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada kategori tinggi. Artinya

keterlibatan ayah dalam pengasuhan seperti aspek engagement, aspek

accessibility dan aspek responsibility pada siswa tersebut termasuk dalam

kategori tinggi.

Berdasarkan hasil kategorisasi variabel dukungan sosial teman

sebaya, terdapat 0 siswa yang memiliki dukungan sosilal teman sebaya

pada kategori rendah, sebanyak 60 siswa berada pada kategori sedang dan

sebanyak 43 siswa berada dalam kategori tinggi. Hal tersebut menunjukan

bahwa mayoritas siswa dalam penelitian ini memiliki dukungan sosial teman

sebaya pada kategori sedang. Artinya dukungan sosial teman sebaya

seperti aspek emosional, aspek penghargaan, aspek instrumental dan

aspek informatif pada siswa tersebut termasuk dalam kategori sedang.

Berdasarkan hasil kategorisasi variabel subjective well-being,

terdapat 0 siswa yang memiliki subjective well-being pada kategori rendah,

sebanyak 61 siswa berada pada kategori sedang dan sebanyak 42 siswa

berada dalam kategori tinggi. Hal tersebut menunjukan bahwa mayoritas

siswa dalam penelitian ini memiliki subjective well-being pada kategori

sedang. Artinya subjective well-being seperti aspek positif, aspek negatif

dan aspek kepuasan hidup pada siswa tersebut termasuk dalam kategori

sedang.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan terhadap hasil

penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1) Ada hubungan yang sangat signifikan antara keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya dengan subjective well-

being.

2) Ada hubungan positif yang sangat signifikan antara keterlibatan ayah

dalam pengasuhan dengan subjective well-being pada siswa dengan

mengontrol dukungan sosial teman sebaya. Semakin tinggi keterlibatan

ayah dalam pengasuhan, maka semakin tinggi subjective well-being dan

semakin rendah keterlibatan ayah dalam pengasuhan, maka semakin

rendah subjective well-being.

3) Tidak ada hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan

subjective well-being pada siswa dengan mengontrol keterlibatan ayah

dalam pengasuhan.

4) Sumbangan efektif keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap

subjective well-being sebesar 13,7%. Artinya, pengaruh keterlibatan

ayah dalam pengasuhan lebih besar daripada pengaruh dukungan sosial

teman sebaya.

88
89

5) Hasil uji deskriptif didapatkan bahwa mayoritas subjek mempunyai

subjective well-being yang tergolong rendah, keterlibatan ayah dalam

pengasuhan dan dukungan teman sebaya yang tergolong sedang.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan yang telah

diuraikan diatas, ada beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu:

1) Saran Teoritis

Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi peneliti selanjutnya

yang memiliki teori yang mirip atau sama yaitu tentang keterlibatan ayah

dalam pengasuhan dan dukungan sosial teman sebaya dengan subjective

well-being. Selain itu hendaknya peneliti selanjutnya mempertimbangkan

variabel-variabel lain yang mungkin dapat berpengaruh terhadap subjective

well-being.

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mampu untuk lebih

mengembangkan penelitian sejenis baik dari segi tema, metode maupun

alat ukurnya, sehingga hasil penelitian dapat digunakan sebagai

perbandingan dan dapat memberikan manfaat dalam rangka meningkatkan

keilmuan. Hal tersebut dimaksudkan agar penelitian selanjutnya menjadi

lebih baik lagi dan berkualitas.


90

2) Saran Praktis

a. Bagi Siswa

Bagi siswa disarankan untuk memiliki hubungan yang lebih baik lagi

baik dengan keluarga, teman ataupun lingkungan ekternal lainnya agar

lebih bisa meningkatkan subjective wll-being pada diri individu masing-

masing. Siswa juga bisa meningkatkan subjective well-being dengan

mengarahkan pikiran-pikiran posistif maupun negatif dengan cara rajin

beribadah dan mampu memotivasi diri ketika siswa berada dalam keadaan

putusasa, rasa cemas ataupun perasaan emosional dan lain sebagainya.

b. Bagi Sekolah

Bagi sekolah diharapkan untuk meningkatkan kedisiplinan pada siswa

agar siswa lebih mudah untuk dikondisikan dalam setiap kegiatan belajar

mengajar maupun dalam kegiatan lainnya. Peneliti menyarankan agar guru

dapat terus memberikan dukungan dan perhatian bagi siswa agar siswa

terhindar dari keputusasaan, kecemasan, rasa iri hati terutama subjective

well-being yang negatif.

c. Bagi Orangtua

Orangtua diharapkan menanamkan disiplin yang baik dan benar agar

anak dapat beradaptasi dengan lebih baik lagi, baik itu dilingkungan

keluarga maupun dilingkungan masyarakat. Selain itu orangtua diharapkan

untuk mengajakan anak tentang kemandirian agar tidak memiliki

ketergantunan terhadap orang lain dan rasa percaya diri atau selalu berpikir
91

positif sehingga bisa dengan mudah meningkatkan subjective well-being

pada diri individu.