Anda di halaman 1dari 3

TUGAS RUTIN 1 PENGANTAR GEOGRAFI

DOSEN : Prof..DARMONO, M.Ed. / ROHANI TANJUNG, S.Pd., M.Si.

Nama Siswa: AYU NOVIANA SIMATUPANG

Kelas : A

NIM : 3183331010

Materi TR 1 : FILSAFAT ILMU GEOGRAFI


Sumber : http://link-geo.blogspot.com/2009/09/geografi-dalam-perspektif-filsafat-ilmu.html

http://adeninfo.blogspot.com/2010/07/filsafat-geografi.html

A.Konsep Dasar GEOGRAFI


Geografi ,merupakan ilmu yang bersifat integratif yang mempelajari gejala-gejala yang terjadi di
muka bumi (dalam dimensi fisik dan manusia) dengan menggunakan perspektif keruangan
(spatialperspective). Dalam filsafat ilmu suatu pengetahuan yang sistematis disebut ilmu pengetahuan
apabila memiliki tiga aspek, yaitu aspek ontologis, aspek epistemologis dan aspek aksiologis atau aspek
fungsional. Hakikat Geografi sebagai ilmu pengetahuan dapat ditelusuri melalui kaitan bagian
permukaan bumi dengan kehidupan manusia.

Bintarto (1977) mengemukakan, bahwa geografi adalah ilmu pengetahuan yang mencitra,
menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam dan penduduk serta mempelajari corak khas
mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.James
mengemukakan geografi berkaitan dengan sistem keruangan, ruang yang menempati permukaan bumi.
Geografi selalu berkaiatan dengan hubungan timbal balik antara manusia dan habitatnya.

Dalam kata yang lain, Geografi mempelajari penyebaran keruangan dari sesuatu (bahasa,
kegiatan ekonomi, pencemaran, rote transportasi, tanah, iklim, dan dan fenomena lainnya) untuk
menemukan mengapa fenomena itu menyebar sebagaimana adanya. Geografi selanjutnya mencoba
untuk menggambarkan terjadinya distribusi itu, dan dengan pemahaman itu dapat mengusulkan
pemecahan masalah yang terjadi.

Berdasarkan telaah terhadap konsep tersebut penulis berpendapat, bahwa geografi merupakan
studi yang mempelajari fenomena alam dan manusia dan keterkaitan keduanya di permukaan bumi
dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah. Dalam pengertian
itu beberapa aspek yang esensial, yaitu:

(1) adanya hubungan timbal balik antara unsur alam dan manusia (reciprocal).

(2) Hubungan itu dapat bersifat interelatif, interaktif, dan intergratif sesuai dengan konteksnya
(3) cara memadang hubungan itu berisifat keruangan.

B.ASPEK DALAM FILSAFAT GEOGRAFI

1. Aspek Ontologis
Aspek ontologis lebih menekankan perbedaan ilmu geografi dengan bidang ilmu lainnya.
Berarti bahwa aspek ontologis geografi mencakup interrelasi, interaksi, dan interdependensi bagian
permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan) itu dengan manusia.
Pengertian bagian permukaan bumi itu mencakup juga lingkungan fauna, flora, dan biosfer.
Unsur ruang atau wilayah atau tempat itulah yang menjadi perhatian geografi sejak dulu. Tidak ada
disiplin ilmu lain yang memperhatikan fakta tentang ruang, yang justru penting sebagai tempat dari
aneka ragam gejala dan kejadian di permukaan bumi kita ini.
Hal tersebut yang membedakan geografi dari ilmu-ilmu lain. Maka analisis tentang ”area yang
kompleks” merupakan bagian perhatian utama dari geografi.
Dalam perkembangannya, dengan obyek studi geografi tersebut melahirkan ilmu pengetahuan Geografi
Fisis (Physical Geography), Geografi Manusia (Human Geography), dan Geografi Regional (Regional
Geography); dengan berbagai anak cabangnya masing-masing.

2. Aspek Epistemologis
Aspek epistimologis meliputi metodologis dan pendekatan geografi yang sejalan dengan aspek
epistimologis ilmu pada umumnya, yaitu penggunaan metodologi ilmiah dengan pemikiran deduktif,
pendekatan hipotesis, serta penelaahan induktif terutama di dalam tahap verifikasi. Pendekatan
deduktif analisis geografi bertitik tolak dari pengamatan secara umum, yaitu dari postulat, dalil atau
premis yang dianggap sudah diakui secara umum. Kemudian dari hasil pengamatan secara umum ini
diambil kesimpulan secara khusus (reasoning from the general to the particular).

3. Aspek Aksiologis
Keterlibatan geografi dengan aspek-aspek bidang studinya tersebut membuatnya menjadi cabang
ilmu yang berfungsi menjelaskan, meramal, dan mengontrol yang diaplikasikan ke dalam Perencanaan
dan Pengembangan wilayah. Aspek aksiologi ilmu pengetahuan geografi ini melahirkan Geografi
Terapan.

C.FILSAFAT ILMU GEOGRAFI

Berdasarkan hal hal yang telah diuraikan sebelumnya sampailah kita pada pertanyaan bagaimana
menjelaskan geografi sebagai bidang ilmu yang dapat disejajarkan dengan bidang bidang ilmu lainnya?
Untuk menjawab hal itu maka akan ditelaah secara singkat bagaimana ilmu geografi menjawab ke tiga
pertanyaan dasar ontologi ilmu, epistemologi ilmu dan axiologi ilmu.
Ontologi ilmu geografi

Mengacu pengertian geografi yang telah disampaikan di atas maka dapat dijelaskan bahwa apa
yang ingin diketahui ilmu geografi adalah “berbagai gejala keruangan dari penduduk, tempat beraktifitas
dan lingkungannya baik dalam dimensi fisik maupun dimensi manusia”. Perbedaan dan persamaan pola
keruangan (spatial pattern) dari struktur, proses dan perkembangannya adalah penjelasan lebih lanjut
dari apa yang ingin diketahui bidang ilmu geografi.

Sebagai salah satu penjelasan lebih rinci, pola keruangan dari gejala yang berlangsung di muka
bumi biasanya disajikan dalam model simbolik (dalam bentuk peta). Peta region misalnya,
menggambarkan informasi keruangan atau informasi geografis dalam tingkatan kelas (klasifikasi) dari
mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi dari suatu obyek. Di samping informasi kuantitatif,
peta tersebut juga dapat memberikan informasi arah dan laju perubahannya. Fakta spasial suatu gejala
tertentu dapat dianalisis lebih jauh untuk menghasilkan informasi keterkaitannya dengan gejala lainnya.

Obyek material studi geografi meliputi lapisan atmosfer, lapisan litosfer, lapisan hidrosfer dan
lapisan biosfer.Pengetahuan pengetahuan tersebut sangat diperlukan dalam menjelaskan berbagai
gejala keruangan dari suatu obyek yang diteliti untuk dapat memenuhi sifat integratif sebagaimana telah
didefinisikan di atas. Berikut disampaikan contoh sederhana elaborasi hasil penelitian yang
memperlihatkan sifat integratif.

1. Fakta penelitian yang menunjukkan pola kerusakan bangunan semakin besar jika jarak lokasi
bangunan ke pusat gempa semakin dekat dapat dijelaskan dari pengetahuan geologi dan fisika yang
menyatakan bahwa besaran enersi yang didifusikan semakin kecil jika semakin jauh dari pusat gempa
karena mengalami hambatan struktur batuan yang dilewatinya sebagai media difusi.

2. Penelitian tentang bentang alam (geomorfologi) di suatu daerah memperlihatkan hubungannya


dengan aktivitas penduduk di mana ada kecenderungan kegiatan penduduk terkonsentrasi di wilayah
dataran alluvial dibanding unit bentang alam lainnya. Hal ini dapat dijelaskan antara lain berdasarkan
teori ekonomi (efisiensi biaya dan aksesibilitas). Teori pusat (central place theory) Christaller dengan
model hexagonalnya yang terkenal menggunakan salah satu asumsi yaitu hanya berlaku pada daerah
yang memiliki bentang alam homogin.

3. Faktor fisik menentukan perbedaan pola spasial migrasi penduduk, misalnya di daerah dataran dan di
daerah pegunungan, di samping dapat dijelaskan dari teori gravitasi atau push-pull factor.

Pengetahuan tentang berbagai gejala (fisik maupun sosial) yang berlangsung di muka bumi yang
direpresentasikan sebagai gejala keruangan (spatial phenomena) suatu obyek tertentu (yang dapat
diamati oleh panca indra manusia) merupakan jawaban dari “apa yang ingin diketahui” ilmu geografi.
Persoalan selanjutnya adalah “ bagaimana ilmu geografi menjawab pertanyaan tersebut”. Berkenaan
dengan itu secara singkat akan ditelaah tentang epistemology ilmu geografi.