Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN BITEMARK MANUSIA & HEWAN

SKILL LAB ODONTOLOGI FORENSIK

Kelompok A

Anggota Kelompok:
1. Rosellina Charisma Ilman (161610101001)
2. Shania Rada Chairmawati (161610101002)
3. Lifia Mufida (161610101003)
4. Salsabila Dewinta Anggi P (161610101004)
5. Shabrina Widya A (161610101005)
6. Atha Ramadhana Yaniar (161610101028)

Dosen Pembimbing : drg. Dwi Kartika Apriyono M.Kes., Sp.OF.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2019

Bite mark Manusia


Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk
luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan
gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan merupakan suatu produksi
dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban (Eckert, 2008).
Menurut Bowers (2004), analisis pola gigitan berdasarkan pada dua konsep, yakni:
1. Karakteristik gigi anterior pada gigitan setiap individu unik atau khas.
2. Keunikan tersebut dapat tercatat pada luka yang ditinggalkan.
Gigi-geligi setiap manusia berbeda antara satu dengan yang lain karena masing-masing
memiliki ciri khas. Ciri khas ini dapat berupa ada tidaknya malposisi, bentuk lengkung gigi,
lebar/besar gigi, jumlah gigi, dan lain sebagainya Pola gigitan yang terbentuk pada objek
dibandingkan dengan kontur, bentuk, ukuran, dan susunan gigi yang ada pada model gigi..
Pemeriksaan pola gigitan juga dapat dilakukan analisis terhadap: gigi yang hilang, ruang
antar gigi, rotasi gigi, adanya kondisi spesifik seperti gigi supernumerari, fraktur. Teknik
analisis ini dapat dimanfaatkan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Analisis dan
perbandingan bitemark merupakan hal yang rumit. (Stimson, 1997; Van der Velden et al,
2006).
A. Klasifikasi Pola Gigitan
Pola gigitan mempunyai derajat perlakuan permukaan sesuai dengan kerasnya gigitan,
pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas (Lukman, 2006), yaitu:
a. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi incisivus dan kaninus.

b. Kelas II : menyerupai pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cusp bukal dan
palatal maupun cusp bukal dan cusp lingual gigi P1, tetapi derajat pola gigitannya
masih sedikit.
c. Kelas III : derajat luka lebih parah dari kelas II, yaitu permukaan gigit incisivus telah
menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah dari pola
gigitan kelas II.

d. Kelas IV : terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau
rupture sehingga terlihat pola gigitannya irreguler.

e. Kelas V : terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisivus, kaninus, dan premolar
baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
f. Kelas VI : memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan bawah,
serta jaringan kulit dan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan pembukaan
mulut

Bite Marks Anjing

Carnivora dibagi menjadi dua superfamili yaitu, Caniformia (karnivora seperti anjing)
dan Feliformia (karnivora seperti kucing). Canidae (anjing dan kerabat) milik infraorder
Canoidea berada dalam Caniformia. Anjing nampak seperti serigala; 8 temuan terbaru
mengkonfirmasi bahwa anjing (Canis lupus familiaris) didomestikasi dari serigala Eurasia
(Canis lupus lupus).
Anjing memiliki ciri gigi dan maksilofasial tertentu. Formula gigi anjing adalah gigi
seri 3/3, gigi taring 1/1, gigi premolar 4/4, dan gigi geraham 2/3. Gigi seri digunakan untuk
menggigit, menghasilkan alur pararel kecil pada tulang. Mengikuti ruang (terbesar di rahang
atas), dua gigi taring panjang, runcing diposisikan di sudut atau lengkungan. Gigi taring
tersebut panjang, sedikit bergerigi dan tajam, dan digunakan untuk menusuk dan merobek
dan menghasilkan luka tusukan. Di belakang taring ada diastema diikuti oleh premolar kecil
pertama. Gigi premolar kedua, ketiga, dan keempat dipisahkan dan menjadi semakin besar.
Gigi premolar digunakan untuk menangkap mangsa dan akan menghasilkan lecet pada
tulang. Molar pertama adalah molar terbesar, diikuti oleh molar yang semakin kecil. Mereka
memiliki cusp kecil yang digunakan untuk menghancurkan. Geraham rahang atas keempat
dan molar pertama biasanya disebut sebagai karnassials, dan sangat tajam. Gigi premolar dan
molar memiliki tiga cusp atau tubercle yang sejajar membentuk sebuah segitiga selama
menggigit dan saling mengunci yang memungkinkan digenggam dan dirusak. Gigi atas yang
distal ke gigi bawah memungkinkan gigitan gunting yang bisa digunakan hewan untuk
mengunci mangsanya. Gigitan yang dihasilkan oleh gigi atas di satu sisi tungkai akan berbeda
dalam penampilan dari yang dihasilkan oleh gigi bawah di sisi yang berlawanan. Ketika
hewan mulai menggelengkan kepalanya, kulit dan otot korban gigitan bisa terkoyak dengan
serius. Kekuatan besar yang bisa diperlihatkan oleh kompleks otot gigitan memungkinkan
anjing untuk merenggut dan menyebabkan kerusakan yang cukup besar.

Bite Mark Tikus

Gigitan dari hewan penting dari sudut pandang medis dan forensik. Meskipun gigitan
hewan dapat menyebabkan kerusakan atau infeksi, bekas gigitan adalah bagian penting dari
penyelidikan forensik, di mana interpretasi tanda dan konteks insiden sekarang ditentukan
oleh bidang multidisiplin khusus. Mirip dengan kedokteran gigi forensik manusia,
karakteristik morfologis tanda gigitan dapat membantu dalam menentukan spesies yang
bertanggung jawab atas gigitan termasuk hewan pengerat (rodents) (Toledo et all, 2016).
Meskipun Rodentia mungkin merupakan ordo mamalia yang paling spesifik dengan
kepandaiannya dalam banyak hal, hewan pengerat berbagi desain morfologis yang sama
dengan atribut gigi, termasuk gigi panjang, kuat, melengkung, berakar terbuka, hypsodont
untuk menggerogoti setiap kuadran, yang menajam menjadi seperti struktur pahat dengan
keausan. Atribut-atribut ini telah mendasar untuk mengembangkan pola perilaku spesifik.
Dalam investigasi kematian forensik, gangguan postmortem mereka adalah fenomena yang
terkenal; tikus dapat mengubah atau menghancurkan indikator penyebab kematian dan
menghalangi identifikasi visual korban. Bekas gigitan postmortem yang dibuat oleh tikus
biasanya terjepit, berpasangan, bersih, sayatan kecil tanpa perdarahan subkutan (Toledo et all,
2016).
Gigitan hewan pengerat tidak hanya penting dalam hal kerusakan jaringan, mutilasi
postmortem, atau infeksi sistemik, tetapi juga dalam hal kemungkinan bahwa mereka dapat
merusak bahan makanan atau bahan lainnya. Hewan pengerat menyebabkan kerusakan besar
pada struktur, serta instalasi sistem kawat dan kabel dengan menggerogoti benda untuk
mempertahankan dan membersihkan lubang dan landasan pacu (Toledo et all, 2016).

Bite Marks Kucing

Kadang-kadang, luka gigitan bukan manusia ditemukan pada korban. Gigitan


binatang biasanya dibedakan dari luka gigitan oleh manusia, perbedaan dalam penyelarasan
lengkung dan morfologi gigi yang spesifik. Gigitan hewan sering menyebabkan pergeseran
daripada benturan, menghasilkan laserasi pada kulit dan luka terbuka. Gigitan anjing,
mungkin yang paling umum dari gigitan bukan manusia, ditandai oleh lengkung gigi anterior
yang sempit dan terdiri atas luka dalam pada daerah gigi kecil. Anjing (atau mamalia
karnivora lainnya) lebih mungkin dari manusia sendiri yang dapat menyebabkan kejang
jaringan manusia selama menggigit dengan keras. Gigitan kucing menghasilkan betukan luka
kecil dan bulat dan runcing bekas gigi cuspid yang disebabkan oleh bentuk kerucut gigi-gigi
ini (Sylvie, 2004).

Sumber : (Murmann, 2006).

Bite Marks Harimau

Harimau adalah spesies felidae terbesar dan paling kuat. Gigi harimau sangat gagah.
Panjang dan taring harimau yang sedikit melengkung, berukuran sekitar 6-9 cm terpanjang di
antara felids hidup dan alat penusuk sempurna harimau. Proprioseptif khusus reseptor di area
gigi dan rahangnya dapat menginformasikan harimau tentang kontak taringnya dengan
jaringan tulang. Mengenai kekuatan gigitan harimau, telah ditetapkan bahwa rahang harimau
yang kuat dan besar mampu memproduksi kekuatan gigitan substansial dan kekuatan gigitan
maksimal digunakan dalam membunuh dengan gigitan kuat pada gigi taring. Diukur pada
puncak gigi taring, kekuatan sekitar 1500 N mudah diterapkan. Ini kekuatan gigitan yang
sangat besar memungkinkan harimau untuk menghancurkan osseous jaringan leher dan
tengkorak (Pathak, 2013).

Sumber : (Pathak, 2013).

Bite Mark Beruang


Perbedaan beruang dengan hewan karnivora lainnya adalah gigi karnasial yang
relatif berkembang dan gigi mereka teradaptasi untuk makan daging dan memiliki 42 gigi.
Gigi taringnya besar dan tajam, gigi depannya kecil-kecil dan gerahamnya datar mampu
menghancurkan makanannya . Beruang kutub telah mengevolusikan kembali karnasial yang
berfungsi penuh karena pola makan mereka kembali ke karnivora. Semua beruang secara
fisik kuat dan mampu menyerang manusia secara fatal, namun mereka umumnya bersifat
pemalu, beruang akan menyerang ketika induk beruang merasa anaknya dalam bahaya, ia
akan berperilaku ganas.

Tanda gigitan hewan menghadirkan berbagai aspek traumatis tergantung pada


spesies, ras, perilaku makan, dimensi. Singa gunung dan beruang coklat, beruang hitam, dan
beruang grizzly adalah binatang buas yang paling berbahaya bagi manusia di Amerika Utara.
Bekas gigitan beruang grizzly dan singa gunung mirip dalam penampilan, namun berbeda
dalam spesifik cetakan kaki karena di sisi lain, cukup khas.
Selain itu, terdapaatn persamaan dalam distribusi pola dan cidera pada leher dan
kulit yang dihasilkan akibat serangan pitbull yang fatal dengan serangan beruang yang fatal.
Dapat diperhatikan pada (A) gambar dari serangan pitbull ; dan (B) gambar dari serangan
beruang.
Bite Mark Hiu

Perikanan merupakan aspek utama yang berpengaruh penting dalam kehidupan


bermasyarakat di Indonesia yang merupakan negara maritim. Salah satu ikan yang menjadi
target adalah hiu. Hiu dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah perarian Indonesia baik di
perairan territorial, perairan samudera maupun Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.
Jenis hiu yang ditemukan pun beraneka ragam (Alaydrus dkk, 2014).

Pandangan anterior miring dari hiu jantan banteng Carcharhinus leucas. Lingkar gigitan
sedikit lebih besar (Davy et al, 2009). Berikut adalah bite mark ikan hiu, pada wanita
seorang wanita di Afrika.

Cucut atau hui mempunyai bentuk susunan gigi yang unik, tidak seperti halnya ikan-
ikan bertulang sejati atau pun hewan-hewan lainnya, gigi hiu tidak tertancap pada gusi
ataupun tulang rahang, akan tetapi langsung menempel pada kulit (dermal denticle), sama
halnya dengan sisik placoid yang dihubungkan dengan jaringan serat. Anatomi gigi pun
serupa dengan anatomi sisik pla-coid, hanya susbstansinya tertutup oleh lapisan dentine yang
lebih kuat dan keras serta dilapisi oleh lapisan enamel (vitrodentine) pada bagian mahkota
giginya. Satu hal yang unik pada gigi hiu adalah bentuk giginya yang berbeda-beda pada tiap
jenis hiu, sehingga perbedaan tersebut sering digunakan sebagai salah satu kunci identifikasi
jenis (Fahmi, 2003).
Bite Mark Spider

Makhluk yang menyuntikkan atau mengeluarkan cairan beracun adalah penyebab


signifikan morbiditas dan mortalitas pada skala global. Makhluk-makhluk ini dikategorikan
beracun jika mereka memiliki alat khusus untuk menyuntikkan racun. Banyak laba-laba
menghasilkan racun yang dapat menyebabkan lesi kulit, penyakit sistemik, neurotoksisitas,
dan kematian. Tingkat keparahan keracunan tergantung pada spesies laba-laba, jenis gigitan,
tingkat toksisitas dalam racun yang disuntikkan, jumlah racun yang disuntikkan, lokasi
gigitan dan status kesehatan individu yang digigit. Konsekuensi klinisnya bersifat lokal dan
sistemik, organik, dan juga psikologis. Del Brutto menggambarkan tiga sindrom utama yang
disebabkan oleh keracunan gigitan laba-laba, yaitu, latrodectism, loxoscelism dan keracunan
dari laba-laba dengan jaring seperti corong. Namun, analisis epidemiologi dari gigitan laba-
laba dikacaukan oleh beberapa faktor, antara lain, dugaan versus sengatan dan sengatan, dan
kurangnya identifikasi entomologis dari arthropoda yang menggigit. Akibatnya,
envenomation laba-laba dan kematian akibat gigitan laba-laba pada manusia di seluruh dunia
tidak diketahui dan kemungkinan besar kurang terwakili (Zihni et all, 2015).

Staf medis harus selalu mempertimbangkan gigitan laba-laba dalam diagnosis


pembanding disfungsi otonom dan neurologis yang tidak dapat dijelaskan, terutama pada anak-
anak. Sebaliknya, banyak lesi atau lebih dari satu lesi pada bagian tubuh yang terpisah secara
luas akan menyarankan etiologi lain, karena gigitan laba-laba biasanya lesi tunggal. Selain itu,
gigitan pada umumnya tidak terjadi secara simultan oleh beberapa penghuni inang yang sama
(Zihni et all, 2015).
Daftar Pustaka

Alaydrus, I.S., Fitriana, N. Jamu, N. 2014. Jenis Dan Status Konservasi Ikan Hiu Yang
Tertangkap Di Tempat Pelelangan Ikan (Tpi) Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Al-
Kauniyah Jurnal Biologi Volume 7 Nomor 2.

Avon S.L., 2004. Forensic Odontology: The Roles and Responsibilities of the Dentist
70(7):453–8

Bowers, M., 2004, Forensic Dentistry: A Field Investigator’s Handbook, Academic Press
(Elsevier Publishing).
Dayv Lowry. Andrey Leonardo Fagundes de Castro. Kyle Mara. Lisa B. Whitenack. Bryan
Delius. George H. Burgess. Philip Motta. Determining shark size from forensic analysis
of bite damage. Mar Biol (2009) 156:2483–2492

Dorion, Robert. 2004. Bitemark Evidence. Forensic Science Series. Boca Raton: CRC Press
Taylor & Francis Group
Eckert, D.J., Malhotra, A., 2008. Patophysiology of adult obstructive sleep apnea. Proc Am Thorac
Soc, 5:144-153
Fahmi. 2003. BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN CUCUT. Oseana, Volume XXVIII,
Nomor 2, 2003: 21-29.

Fonseca G, Mora E, Lucena J, Cantin M. 2015. Forensic studies of dog attacks on humans: a
focus on bite mark analysis. Journal Research and Reports in Forensic Medical Science.
Volume 2015:5 Pages 39—51

Lukman J, 2006, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik Jilid 2, CV. Sagung Seto, Jakarta,
115-134.

Murmann, D. C., Brumit, P. C., Schrader, B. A., & Senn, D. R. (2006). A Comparison of
Animal Jaws and Bite Mark Patterns*. Journal of Forensic Sciences, 51(4), 846–860.

Pathak, H., Borkar, J., Dixit, P., Dhawane, S., Shrigiriwar, M., & Dingre, N. (2013). Fatal
tiger attack: A case report with emphasis on typical tiger injuries characterized by
partially resembling stab-like wounds. Forensic Science International, 232(1-3), e1–
e4.

Toledo, V. A., Fonseca, G. M., González, P. A., Ibarra, L., Torres, F. J., & Sáez, P. L. (2016).
A Morphological and Morphometric Study of Bite Marks Caused by Mice(Mus
Musculus)on Different Baits for Forensic Purposes. Journal of Forensic Sciences,
62(2), 462–467. doi:10.1111/1556-4029.13279

Van der Velden A., Spiessens M., and Willems G., 2006, Bite mark Analysis and Comparison
Using Image Perception Technology, The Journal of Forensic Odonto-Stomatology,
24 (1):14-17.

Zihni S, Gentian V, Amarda G. 2015. Analysis Of Cases Caused By Acute Spider Bite.
Journal of Acute Disease; 4(3): 255–258.