Anda di halaman 1dari 19

“AKUNTANSI KEPERILAKUAN DALAM RETROSPEK DAN

PROSPEK”

Dosen Pengampu :
Mery Satya, MAk.

Disusun Oleh :
1. Tata Rosita (170221100080)
2. Nurul Khotima (170221100139)
3. Warninda (170221100154)
4. Indah Puspita Sari (170221100210)
Kelompok 2

Prodi Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Trunojoyo Madura
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Akuntansi telah diakui sebagai sebuah fenomena yang membentuk dan berfungsi
sebagai konsekuensi interdependen dari konteks di mana akuntansi beroprasi. Dari perspektif
ekonomi, peranan dan fungsi akuntansi sekarang berdampak penting pada organisasi
pemerintahan dan oprasi pasar keuangan. Dengan cara yang sama, dari perspektif
keperilakuan dan organisasi, akuntansi sekarang diakui sebagai praktik yang konsekuensinya
dimediasi oleh konteks sosial dan manusia dimana akuntansi beroprasi dan cara akuntansi
bersinggungan denagan fenomena sosial dan organisasional lainnya.
Pencapaian perspektif tersebut merupakan hal yang relatif baru. Walaupun
sebelumnnya ada pakar yang menyampaikan pendirian tersebut, tetapi ada prespektif
keterlibatan akuntansi dalam menggeser bentuk kontrol sosial, atau berdasarkan pada
kesadaran kemungkinan perhitungan akuntansi terhadap gangguan dan proses gangguan
terhadap pengambilan keputusan ekonomi, walaupun dalam masyarakat akademis mayoritas
pandangan ini lebih otonom dan sepertinya secara teknis netral, penerapan tersebut semata
mata menjelaskan aapa yang dilihat. Didasarkan pada pengertian tersebut, bagi keprilakuan
dan organisasional, penggunaan analisis sosial semata semataa akan kurang memadai.
Walaupun prespektif ekonomi sesungguhnya menarik bagi para pakar awal, peranan mereka
adalah meningkatkan rasionalitas teknis yang mendasari akuntansi agar lebih memadai dalam
mencerminkan praktik. Dengan cara ini, konsepsi yang diambil dari teorisasi ekonomi
meliputi pendanaaa, pengukuran perussahaan, pengukuran kinerja divisional. Namun semua
itu tidak memberikan dasar terhadap pemahaman normatif ataupun deskriptif.
Munculnya keterkaitan terhadap ekonomi dan keprilakuan serta fungsi akuntansi
organisasional membutuhkan sebuah pergeseran radikal dalam konsepsi yang merupakan tugs
dari riset akuntansi dan akuntansi. Daripada menggunakan akuntansi untuk akuntansi semata,
mengembangkan perspektif tesebut membutuhkan sebuah pandangan yang lebih problematis
tentang masalah akuntansi. Orang-orang mulai khawatir dengan fungsi akuntansi yang
berhubungan dengan ketentuan kompetitif dari sumber-sumber informasi lainnya yang
berkaitan dengan kinerja ekonomi perusahaan. Mereka menyampaikan pertanyaan-pertanyaan
tentang informasi akuntansi yang benar-benar digunakan dan terkadang sepertinya
menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak terduga.
Daripada mencermikan penerimaan status quo terhadap akuntansi atau kebijakan
konvensional yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, riset akuntansi
keperilakuan memberikan dasar bagi perilaku modern dan analisis akuntansi ekonomi dengan
mulai mencerminkannya secara lebih analitis dan terkadang menghawatirkan. Sebaiknya,
pandangan bahwa akuntansi hanyalah alat untuk memperbaiki rasionalitas akuntansi teknis
seperti yang dipahami selama ini, muncul dari semakin meningkatnya kerelaan untuk
memahaminya dalam konteks organisasional secara luas pada setting ekonomi dan manajerial.
Dorongan untuk reorientasi tersebut berasal dari luar komunitas akademis akuntansi. Seperti
yang dijelaskan Caplan dalam pandangan pribadinya mengenai pengembangan akuntansi
keperilakuan kritisme dan riset eksternal tentang pendidikan bisnis di Amerika memberikan
dasar bagi mayoritas restrukturisasi penghargaan dan kehidupan intelektual sekolah bisnis.
Daripada semata-mata menyampaikan praktik sekarang dan kebijakan-kebijakan
konvensional yang berhubungan dengannya, Pierson, Gordon, dan Howell melaporkan
pendidikan bisnis perlu dipahami secara empiris lebih ilmiah, dalam proses yang ditarik dari
perspektif ilmu pengetahuan sosial dan keperilakuan yang lebih luas. Riset akuntansi sangat
dipengaruhi oleh perkembangan ini mungkin secara tidak langsung pada awalnya walaupun
terdapat kemungkinan untuk merekrut penelitian akuntansi baru pada saat itu, akuntansi
keperilakuan pada dasarnya merupakan dialog baru antara akademisi akuntansi dengan kolega
mereka dari psikologi, ekonomi, keuangan, analisis kuantitatif, dan sebagainya. Didasarkan
pada perbedaan lingkungan ini orang-orang mulai dapat menggunakan informasi yang
diperoleh terhadap studi non-akuntansi yang lama, seperti investigasi Argyrys, Dalton, Roy
dan White dari Chicago School of Siciology, serta Simon dan koleganya yang berfokus pada
akuntansi, tetapi relatif tidak dihargai oleh komunitas akademisi akuntansi hal yang terpenting
adalah perubahan kehidupan intelektual pada sekolah bisnis di Amerika memberikan dasar
terhadap pendekatan yang lebih serius terhadap riset doktoral. Dengan cara ini, mahasiswa
berhubungan dengan tradisi riset dan intelektual dari ilmu pengetahuan sosial yang sifatnya
berdasarkan ekonomi dan keperilakuan. Sesungguhnya, sejumlah pengembangan awal yang
penting telah tercatat dalam makalah tinjauan (review paper) pada kontes program doktoral
di Berkeley, Carnegie Tech, Chicago, Onto State Stafford, dan sebagainya. Didasarkan
pada bentuk tersebut, asal-usul dari tradisi riset keperilakuan dan ekonomi baru dalam
akuntansi adalah sangat serupa. Tidak ada yang diwakili oleh sebuah pendekatan utama atau
mainstream, keduanya dipandang dengan banyak kecurigaan. Perlu diingat bahwa satu tulisan
ekonomi yang paling signifikan ditolak oleh The Accounting Review karena hanya untuk
dipublikasikan pada Jurnal of Accounting Research, sebuah jurnal yang mempunyai asal-usul
yang sama dari perubahan institusional. Dari asal-usul yang berhubungan ini, tradisi
keperilakuan dan ekonomi terpisah, walaupun tidak secara penuh. Ada waktu dimana
kepentingan yang saling melengkapi muncul dalam beberapa area. Alasan terhadap sifat dan
bentuk perbedaan tidak diselidiki secara sistematis dan seluruh penelaahan selanjutnya dari
literatur riset keperilakuan tidak membahas ini. Barangkali, sejumlah faktor terlibat di
dalamnya.
Tradisi ekonomi baru awalnya membangun beberapa institusi, sebagaian karena
kebutuhan terhadap konfigurasi intelektual untuk pasar modal efisien yang didasarkan pada
riset yang masih relatif jarang. Institusi itu sendiri bergengsi, menempati posisi sentral, dan
berpengaruh dalam komunitas akademis akuntansi. Lagipula, tradisi riset yang sangat terfokus
menjadi semakin rentan terhadap rasionalitas ekonomi. Disiplin ilmu dengan kebijakan ketat,
baik pada inovasi intelektual maupun batasannya, cepat menghasilkan pengujian statistik dan
riset kompleks. Pada riset baru juga memberikan sebuah surga bermanfaat bagi pertumbuhan
sejumlah akademisi akuntansi yang mempunyai orientasi kuantitatif. Perspektif tersebut juga
muncul dalam akuntansi ketika mode rasionalitas ekonomi dan teorisasi menjadi semakin
signifikan dalam pengelolaan sosial dan institusional. Sebaliknya, seperti yang ditunjukkan
oleh tinjauan tulisan itu sendiri, riset keperilakuan muncul dalam bermacam-macam institusi.
Dengan demikian, riset keperilakuan menjadi subjek yang penuh keragaman pengaruh
intelektual. Sebagai akibatnya, munculah tradisi riset yang lebih heterogen. Lagipula, banyak
institusi inovasi awal yang tadinya hanya menduduki sedikit posisi sentral dalam kampus,
membentuk komunitas akademis akuntansi pada saat itu.

Dalam periode intervensi, tradisi riset organisasi dan keperilakuan telah mengalami
kemajuan sehingga sekarang menjadi literatur khusus yang substansial, jurnal khusus, dan
kelompok profesional tersendiri. Banyak hal telah dicapai. Sesungguhnya, lebih sering
daripada yang terealisasi. Disiplin ilmu tidak terfokus pada tinjauan Burgstahler dan Sundem,
yang sepertinya melekat dengan kesulitan dan kelemahan berkelanjutan yang didasarkan pada
perbedaan tajam dengan literatur kumulatif dan substantif yang ditinjau oleh Birnberg dan
Shields. Sementara, pandangan bahwa tidak ada disiplin ilmu yang tidak memiliki kekurangan
dalam banyak hal sepertinya terbukti dalam akuntansi keperilakuan. Namun demikian,
terdapat kecurigaan bahwa riset sebelumnya lebih berhubungan dengan pengembangan
stereotipe dan eksplorasi bidang yang kompleks dan bergerak cepat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. BIDANG YANG KOMPLEKS, KAYA, DAN TERUS BERGERAK


Dalam meninjau literatur akuntansi secara sistematis dan hati-hati, Birnberg dan
Shield menggambarkan area riset yang begitu kaya. Mereka berfokus pada bermacam-macam
pembahasan pertanyaan yang berkaitan dengan riset akuntansi keperilakuan dengan
menggambarkan setiap kasus bukan saja pada pemahaman yang muncul tetapi juga pada
proses penyelidikan kumulatif. Walaupun perhatian yang membentuk riset keperilakuan
dalam akuntansi berbeda-beda, Birnberg dan Shield menampilkan sebuah gambaran area yang
menekankan modalitas penyelidikan sampai pada struktur lama dan pembelajaran yang
terjadi.
Dengan memilih untuk fokus pada titik literatur yang mereka survei, analisis Birnberg
dan Shield diakui cenderung agak umum. Penjelasan lainnya menguraikan masalah yang
masih berkaitan dengan area yang lebih lambat sehingga bermanfaat untuk menyampaikan
pembahasan yang telah diperoleh.
Kondisi state of the art di lapangan bergerak cepat. Penekanan baru muncul, dan isu,
masalah, perspektif, dan metode baru dimasukkan dalam bidang tersebut. Meskipun
demikian, keadaan riset sekarang merupakan suatu hal yang dibenarkan oleh Birnberg dan
Shield yang menawarkan karakteristik positif terhadap karya tersebut. Walaupun tidak
diragukan lagi bahwa riset tersebut terlalu berbeda dalam hal kualitas, Birnberg dan Shield
membenarkan penekanan terhadap sifat observasional dari perbandingan dan variasi
keperilakuan, serta peningkatan sifat orientasi teoritis dalam proses riset tersebut. Mereka
juga menekankan sifat aplikasi dari banyak riset tersebut. Mungkin berlawanan dengan
banyak pandangan yang dipegang di luar, mereka menunjukkan mobilisasi peran yang
mengkhawatirkan yang dipenuhi dengan pertanyaan dan masalah akuntansi.
Kemungkinan pertama, Birnberg dan Shield menampilkan sebuah pandangan tentang
area yang menunjukkan kemajuan kumulatif dan koheren yang telah dicapai. Walaupun area
tersebut kompleks dan sulit dikarakteristikan secara tepat, subjek semacam itu membedakan
perspektif dan bahkan rasionalitas. Walaupun area lainnya mungkin memiliki penekanan
dan kerangka kerja berbeda. Birnberg dan Shield menunjukkan bahwa perkembangan riset
organisasi dan keperilakuan dalam akuntansi selama betahun-tahun tidak mengalami
kemajuan secara acak atau hanya terdiri atas studi dalam jumlah besar pada bidang
terisolasi. Riset dalam bidang tersebut telah secara sadar melakukan aktivitas dari para
pendahulu mereka dan bersifat kontemporer.
Badan pengetahuan tetap jauh dari memadai, setidaknya karena lebih banyak proses
intuitif yang menghasilkan pertumbuhan sementara area penting tetap kurang diteliti.
Dalam banyak area, masih tidak ada tingkat kesadaran teoretis yang memadai. Dengan
demikian, riset yang dilakukan masih jauh dari kemampuan memberikan dasar interpretasi
yang menarik dan bermanfaat guna memahami dan mengubah akuntansi dalam aksi. Saat ini,
menawarkan apresiasi berharga terhadap organisasi dan organisasional dalam konteks
akuntansi adalah mungkin. Dalam konteks manajemen akuntansi atau auditing pada tingkat
individu, sekarang, kita berada dalam posisi untuk memahami dan memanfaatkan komentar
tentang fungsi sistem informasi akuntansi. Fenomena seperti penganggaran, penetapan
standar, dan interpretasi informasi akuntansi manajemen dapat dipahami secara integratif
dengan konteks manusia dan organisasional di mana mereka berada.
Banyak karakteristik Birnberg dan Shield yang disebut aliran riset ‘sosiologi
organisasional’ berorientasi pada kumpulan isu berikutnya. Para peneliti akuntansi
keperilakuan yang bekerja dalam tradisi ini terpesona pada keragaman praktik akuntansi
dalam praktik dan heterogenitas yang terlihat dalam aksi sosial dan organisasional.
Kesulitan dalam melakukan universalisasi terhadap teknik dan alasan banyak yang masuk
dalam kategori pembahasan akuntansi. Birnberg dan Shield berusaha menggunakan faktor-
faktor yang memengaruhi cara akuntansi bekerja, cara akuntansi berhubungan dengan proses
organisasi, serta cara mengangkat konsekuensi sosial, ekonomi, organisasional, dan
keperilakuan terhadap akuntansi guna mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.
Dengan mengadopsi agenda riset yang berbeda tersebut, para peneliti organisasional
dalam akuntansi tertarik pada bermacam-macam perspektif intelektual, literatur riset, dan
mode penyelidikan ekuitas yang berbeda. Dilihat dari sudut pandang ini, tidak terlalu benar
jika menyebut hal ini sebagai interpretatif murni, seperti yang hendak dilakukan oleh
Birnberg dan Shield. Dengan mengakui keragaman akuntansi, banyak peneliti telah
berfokus meningkatkan perspektif tersebut melalui pemahaman praktik akuntansi
organisasional yang dapat diperoleh. Namun, terdapat relatif sedikit penelitian yang
dilakukan dalam bentuk interpretatif ketat seperti yang dipahami secara konvensional dalam
literatur. Menyadari pertanyaan epistemologis pada sebagian besar ilmu pengetahuan
manusia, peneliti organisasi bersiap mengakui sifat retlektif dan konstitutif; bukan saja pada
akuntansi itu sendiri, tetapi juga pengetahuan yang diperoleh darinya. Hal ini juga
memberikan dasar bagi mereka untuk memisahkannya dari pernyataan epistemologis lebih
sederhana yang menunjukkan karakteristik bagian lain literatur akuntansi. Dalam kaitannya
dengan organisasional yang melekat pada fungsi akuntansi dan dinamika perubahan, para
peneliti tersebut sering mengajukan riset atas kasus tunggal secara lebih terperinci.
Dengan dikembangkannya cara ini, badan pengetahuan keperilakuan dan
organisasional berkaitan dengan fungsi akuntansi dapat menjelaskan akuntansi secara apa
adanya dan dapat menjadi cara untuk menciptakan manfaat dengan banyak kebijakan
konvensional dan ortadoks di masa lalu.

B. SUDUT PANDANG DARI LUAR


Tinjauan yang disampaikan oleh Burgstahler dan Sundem menunjukkan perbedaan
yang besar. Sebagai orang luar di bidang tersebut, mereka memberikan sudut pandang dari
luar atau without (sudut patulang non-akuntansi) walaupun memahami akuntansi. Perspektlf
tersebut mempunyai manfaat potensial. Dalam banyak penyelidikan lapangan, terdapat bahaa
introspeksi dan sering kali menantang untuk memperhatikan pandangan mereka yang memahami
perkembangan dari perspektif berbeda. Seperti disampaikan Burgstahler dan Sundem, riset
akuntansi keperilakuan telah diperhatikan di masa lalu oleh anggota komunitas sosial berbeda.
Tugas yang diambil oleh Burgstahler dan Sundem adalah sulit. Kekayaan dan
kompleksitas dari bidang yang numcul menciptakan kesulitan besar bagi pihak luar
(outsider). Hal ini membutuhkan investasi waktu yang besar untuk memaharni aliran
proses riset, strategi riset kumulatif yang diadopsi, cara bidang tersebut distruktur dan
dikarakteristikkan, serta implikasi penuh dari keragaman perspektif konseptual yang
digunakan. Survei atas seluruh bidang riset-yang berorientasi ekonomi dalam akuntansi
mulai dari teori biaya dan laba yang menekankan pada studi pasar modal yang efisien,
teori agensi, ekonomi informasi dan organisasi, dan seterusnya-akan menjadi tugas yang
cukup berat bagi peneliti organisasional atau keperilakuan. Lagipula, tugas tersebut tidak
dipermudah oleh munculnya asumsi seragam tentang rasionalitas keperilakuan yang
dominan. Keragaman tersebut tidak muncul dalam area keperilakuan dan organisasional.
Tingkat kesulitan bisa saja semakin tinggi. Jika orang luar berbicara berdasarkan keragaman
ilmu pengetahuan manusia secara umum atau ilrnu ekonomi secara khusus dalam mencoba
menguraikan proes intelektual yang bekerja dalam analisis akuntansi dan keperilakuan, maka
dia harus menghadapi cara beragam energi intelektual yang berbeda dan berasal dari ilmu
pengetahuan lain masuk dan memengaruhi akuntansi.
Oleh karena itu, Burgstahler dan Sundem dihargai karena melakukan tugas tersebut.
Walaupun penulis akan mengomentari sejumlah masalah yang diamati dari pendekatan
mereka, masih terdapat banyak aspek dari komentar mereka yang bermanfaat dan berharga
untuk dipertimbangkan lebih lanjut oleh komunitas riset keperilakuan. Hal yang bermanfaat
adalah tidak hanya pernyataan eksplisit mereka tentang cara memahami area tersebut,
tetapi pandangan mereka setidaknya membuka beberapa kemungkinan bagi perspektif
keperilakuan dan ekonomi. Hal ini memungkinkan terjadinya pertumbuhan minat dalam
komunitas ekonomi untuk menyelidiki proses organisasi secara lebih samar.
Tinjauan yang disampaikan oleh Brughstahler dan Sundem secara agak eksplisit
menjadi subjektif dan bias. Seperti pada pendahuluan, mereka memahami diri mereka
sebagai pihak yang mengamati akuntansi keperilakuan dari perspektif pendekatan utama.
Barang kali, tanpa menyadari sudut pandang soal asal mula kemunculan mereka dan
mengikuti pendekatan utama pada awal periode di mana akuntansi keperilakuan itu sendiri
berkembang. Daripada menawarkan pandangan tentang institusi dan sosial sebagai proses
intelektual dengan menyediakan konsepsi yang dibentuk secara sentral, mereka memilih
untuk menawarkan interprestasi terhadap bidang yang dipahami tersebut tanpa fokus pada
perspektif yang dibandingkan yang membandingkan stabilitas dengan homogenitas relatif
yang dipandang secara tidak problematis.
Dengan demikian, analisis Brughstahler dan Sundem harus di pahami secara hati-hati.
Dalam semua hal, mreka berusaha menentukan kerangka kerja bidang akuntnsi keperilakuan
untuk analisis yang muncul dari penalaran ekonomi. ‘Konsumen’ dan ‘Produsen’ masuk
dalam diskursus mereka. Secara ekplisit, mereka menyatakan pendekatan mereka terhadap
tinjauan didasarkan pada perspektif pandangan ekonomi informasi dunia, yang merupakan
salah satu dari rentang perspektif ekonomi yang mungkin. Hal ini sama seperti peneliti
keperilakuan lain yang menggunakan sosiologi ekonomi untuk memahami masalah yang
melekat pada rasionalitas ekonomi implisit dalam riset ekonomi yang berorientasi pada
penelitian akuntansi dan sejarah intelektual yang didasarkan pada konsep prilaku dalam
dunia sosial-politik dan lingkungan ekonomi. Kedua strategi ini dapat bermanfaat dan
menarik. Keduanya akan membuka jalan bagi landasan konsepsi absolut dan meresap pada
area intelektual. Namun demikian, pendekatan tersebut juga mempunyai resiko, setidaknya
jika badan pengetahuan yang digunakan untuk melakukan tinjauan semata-mata berfungsi
sebagai cara menyesuaikan pencapaian pada satu bentuk kepada bentuk lain.
Kondisi perkembangan dari apresiasi akuntansi keperilakuan dan organisasional saat
ini dapat memberikan pemahaman yang bukan sekunder pada ilmu ekonomi tersebut.
Perspektif keperilakuan tidak dimulai dari perspektif ekonomi yang tidak lagi berfungsi.
Perspektif ini bukanlah residu, melainkan merupakan perspektif yang lebih proaktif dan
positif yang dapat menawarkan pemahaman dan analisis alternatif, bahkan analisis terhadap
sifat ekonomi sosial dan organisasional dalam lingkungan spesifik di mana organisasi
menjadi menarik untuk alasan ekonomi.
Perhatian juga perlu diarahkan pada penerimaan premis ahli epistemologis bahwa
Burgstahler dan Sundem kemungkinan melihat perspektif yang mendasari evaluasi mereka.
Walaupun mereka mungkin tergoda untuk mengarakteristikan penolakan terhadap tingkat
penerapan dari gagasan mereka dalam pengertiaan penerimaan filosofi pengetahuan pasca
modern, hal ini setidaknya memperkenalkan gagasan yang lebih kompleks ke dalam
pembahasan intelektual. Sebuah analisis dari argument menunjukkanhal tersebut. Yang
penting dalam hal ini bukan hanya pendirian mereka terhadap hal rill yang benar, melainkan
dorongan yang mereka hasilkan pada saat itu terhadap pertanyaan mengenai tingkat
penerapan dalam konteks akuntansi. Hasil riset mereka juga mengarah pada validitas riset
akuntansi keperilakuaan. Namun, mereka menggunakan mode penalaran diluar btas yang
digunakan oleh ekonom itu sendiri. Sementara, ekonomi memberikan cara
menginterprestasikan sebuah spektrum aktivitas yang sangat luas, ekonom sangat jarang
mengaplikasikan teori ekonomi pada ekonomi itu sendiri. Disiplin ilmu tersebut tidak dicatat
karena refleksivitasnya. Jika hal itu dilakukan, akan dihasilkan penyampaian ekonomi
sebagai sebuah ekulibrium sementara dari permintaan dan penawaran tentang pemahaman
ekonomi. Beberapa ekonom umumnya mengasumsikan bahwa hal ini terjadi. Bahkan,
peneliti akuntansi yang berorientasi ekonomi serta memahami permintaan dan penawaran
teori akuntansi dalam pasar masih sangat berhati-hati; mereka tidak memandang aktivitas
teoretis dalam pengertian teori-teori mereka sendiri walaupun mereka mengklaim secara
diam-diam bahwa lebih banyak menggunakan posisi epistemologis.
Oleh karena itu, posisi teoretis Burghstahler dan Sundem adalah asli walaupun bukan
satu-satunya yang berkembang secara penuh dalam tinjauan esai selanjutnya. Meskipun
bermanfaat untuk menggambarkan akuntansi sebagai artifak subjek kepada kontingensi
dunia masnusia dan sosial, Burghstahler dan Sundem memberikan sedikit pemahaman
tentang sifat pengembangan mode penalaran ekonomi terhadap analisis pengetahuan yang
telah muncul di seputar akuntansi. Mereka juga menunjukkan sedikit kesadaran terhadap
problem epistemologis yang mungkin tercipta. Isu ini signifikan karena rangkaian mode dari
riset ekonomi dan keperilakuan dalam akuntansi muncul ketika komunitas akademis mulai
menyampaikan pertanyaan–pertanyaan akuntansi dan bukannya semata-mata
mengaplikasikan pengetahuan untuk memperbaiki rasionalitas dari teknis keahlian akuntansi.
Perspektif tersebut barangkali menguntungkan walaupun Burghstahler dan Sundem
menyampaikan secara eksplisit bahwa perspektif tersebut merupakan satu-satunya yang
berhubungan dengan tinjauan mereka tentang literature akuntansi keperilakuan. Tinjauan
tersebut terutama menyampaikan metodologi dan tematis, bukannya substantif.
Beberapa tren benar-benar muncul dari analisis terperinci yang dilakukan oleh
Burghstahler dan Sundem termasuk beberapa yang menegaskan dan mengelaborasi beberapa
perkembangan yang dianalisis oleh Birnberg dan Shield. Pada tingkat pribadi, penulis kagum
dengan pemahaman yang mereka sampaikan tentang peranan yang dimainkan akuntansi
dalam organisasi dan masyarakat. Hal ini menunjukkan bhawa penanganan atas alat-alat
publikasi dapat menjadi penting. Sebuah observasi yang menarik pada saat itu dibuat ketika
seorang penulis merayakan pelunjuran jurnal baru dan menjadi saksi dari implikasi atas
jurnal baru tersebut terhadap perubahan dalam editor lainnya.
Kemudian, tinjauan Burghstahler dan Sundemmasukuntuk mengomentari beberapa
kesulitan yang melekat pada riset akuntansi keperilakuan. Meskipun demikian, sebagaimana
yang dicatat oleh Burghstahler dan Sundem, semua kesulitan bersifat unik walaupun mereka
memahami seluruh kesulitan untuk mengaplikaikan riset akuntansi keperilakuan. Ini
merupakan masalah yang sesungguhnya. Bahkan, ekonomi berorientasi riset dalam akuntansi
yang saat ini menemukan bidang agak luas, hanya memahami sebagian dari saling
keterkaitan di antara bidang-bidang tersebut. Teori agensi, ekonomi informasi, studi pasar
modal, teori investasi dan sebagainya didasarkan pada satu ansumsi mode rasionalitas
tertentu. Namun, interpendensi dan potensial dari teori-teori yang memberikan pemahaman
yang saling menguntungkan tersebut masih belum diselidiki.
Kesulitan-kesulitan spesifik yang dicatat oleh Burghstahler dan Sundem
mencerminkan sejumlah pendirian evaluative. Dalam keragamaan ilmu pengetahuan
manusia, kesulitan-kesulitan dari satu disiplin ilmu terkadang dipahami sebagai kekuatan
oleh disiplin ilmu lain. Terdapat perhatian yang tinggi terhadap teorisasi kompleksitas pada
beberapa agenda disiplin ilmu, sementara disiplin ilmu lainnya banyak membahas tentang
kesederhanan teoretis. Dalam beberapa ilmu pengetahuan manusia, belakangan ini terdapat
peningkatan perhatian terhadap potensi generalisasi dari teori, di mana energy intelektual
dicurahkan pada peningkatan lingkungan spesifik yang dapat digunakan untuk interpretasi
manusia. Disiplin ilmu lain tertarik pada peningkatan kekuatan dari generalisasi teorinya.
Perhatian evaluatif Burghstahler dan Sundem perlu diperhatikan secara waspada.
Orang memahami bahwa beberapa penekanan yang disampaikan oleh Burghstahler
dan Sundemmencermikan kesulitan yang melekat pada bidang penyelidikan kompleks dari
sudut pandang (without). Sesungguhnya, mereka membandingkan hal itu dengan tinjauan
substantive yang lebih kumulatif meskipun yang disampaikan oleh Burghstahler dan Sundem
masih bersifat umum. Namun, Burghstahler dan Sundem mungkin menawarkan beberapa
kritik yang bila dimodifikasi oleh penjelasan mereka sendiri tentang kemajuan terbaru yang
sudah dicapai akan menjadi lebih baik. Setidaknya, ini merupakan pandangan penulis tentang
besarnya riset akuntansi keperilakuan yang dibentuk oleh sistem pengendalian akdemis.
Terlepas dari seluruh tanda perbaikan, perhatian terhadap kemudahan, kecepatan, serta
publisitas segera dan bukannya substansi riset yang masih menganggu area tersebut.

C. MENGGERAKAN AGENDA RISET KE DEPAN


Komentar pribadi Caplan tentang keunculan akuntansi keperilakuan memberikan
beberapa pemahaman lebih lanjut tentang kekuatan mobilisasi perkembangan dari area
tersebut dan apa yang dicapai sekarang. Bukan hanya pengaruh tekanan peranan yang
dimainkan oleh restrukturisasi intelektual bisnis Amerika terhadap pendidikan dan riset,
melainkan juga kemunculan studi akuntansi keperilakuan yang perlu dipandang dalam
konteks kemunculan ketertarikan organisasional terhadap ilmu pengetahuan sosial dan
keperilakuan.
Kita kembali pada analisis kondisi (state of the art) saat ini. Caplan menawarkan
sebuah pandangan yang lebih berhati-hati dibandingkan dengan pandangan Burgstahler dan
Sundem walaupun ia merupakan orang dalam (insider) di bidang akuntansi keperilakuan.
Menurut Caplan, akuntan keperilakuan memberikan penekanan yang adil terhadap
pemahaman sempit, dikendalikan metode dan cepat melakukan studi yang sebagian
tampaknya dihasilkan oleh budaya akademis Amerika. Seperti yang Hopwood katakana,
mereka cenderung memahami bagian dari area tersebut. Padahal, kita bahkan perlu berhati-
hati untuk memberikan lebih banyak penekanan pada studi masal. Sepertiyang disampaikan
oleh Burghstahler dan Sundem serta itinjau dari Load, kemajuan dalam satu bidang lebih
sering ditentukan oleh sejumlah kecil studi inovatif.
Dengan memandang cara ini, tidak perlu ada konflik antara tinjauan substantif dan
kumulatif yang disampaikan oleh Cplan dan periset lainnya. Mereka telah menunjukkan
pencapaian riil dari bidang tersebut, sementara yang lainnya masih mencerminkan persentase
besar dari studi yang dilakukan.
Pemetaan rute riset organisasi dan keperilakuan mendatang dalam akuntansi lebih sulit
dan merupakan tugas yang beresiko. Riset tersebut dapat mencerminkan preferensi pribadi
dengan mudah daripada kemungkinan perkembangan substantif dalam bidang tersebut.
Chaplan menawarkan pandangan yang lebih berhati-hati tentang masa depan karena ia
menyadari kelanjutan dari kekurangan relatif dalam kemampuan individual melakukan riset
keperilakuan yang berkualitas tinggi. Dengan cara yang sama akuntansi keperilakuan
menekankan pada kebutuhan untuk memperbaiki orientasi metodologis dan memberikan
daftar perbaikan spesifik yang dibutuhkan dalam proses tersebut.
Burghstahler dan Sundem menunjukkan tren metodologis dan substantif meskipun
tidak terlalu evaluatif terhadap yang lain. Sepanjang pengembangan metodologi diperhatikan,
mereka menyoroti pertumbuhan signifikansi dan kemungkinan pengembangan mendatang
pada sistem ahli. Sama seperti Burghstahler dan Sundem eksperimental ekonomi didasarkan
pada riset. kedua rangkaian perkembangan tersebut benar-benar sudah muncul, seperti area
substantif yang ditekankan oleh Burghstahler dan Sundem yaitu riset yang dilakukan dalam
‘aliran sosiologi organisasional’. Walaupun Hopwood tidak yakin Burghstahler dan Sundem
bahwa pola perkembangan tersebut kemungkinan berhasil membagi riset akuntansi
keperilakuan ke dalam aliran rasional dan subjektif karena pola tersebut cenderung
memprioritaskan konsepsi rasionalitas khusus, Hopwood tidak setuju jika dikatakan bahwa
terdapat kemungkinan yang sama besarnya bahwa hasil pengembangan tersebut akan berbeda
karena tradisi riset yang berbeda.
Sifat dari tekanan tersebut kemungkinan besar dipengaruhi sebagian oleh besarnya
peneliti keperilakuan dan organisasional bergerak untuk lebih membahas masalah praktis.
Setidaknya, Hopwood berfikir bahwa Sudah saatnya melakukan riset dalam area yang
mencoba untuk menangkap masalah yang berkaitan dengan pemahaman praktik teknis
akuntansi sebagai halnya dengan konteks manusia dan organisasional. Riset yang ada
sekarang memberikan dasar yang memadai untuk melakukan hal ini. Melalui studi terhadap
faktor-faktor yang di replikasi untuk memunculkan rezim teknis akuntansi berbeda, usaha
untuk mendapatkan pemahaman lebih kaya tentang fungsi akuntansi sosioteknis atau
perbaikan pemahaman tentang konsekuensi organisasional dan manusia yang berbeda sebagai
akibat dari praktik teknis berbeda, lebih banyak pengetahuan akuntansi berorientasi
pengetahuan yang mungkin didapatkan dari riset yang secara sistematis berusaha meneliti
interdependensi, Interpretasi teknis, manusia, dan organisasional.
Sebenarnya perhatian Caplan terhadap dampak potensial riset dari praktik tersebut
ditunjukkan dengan cara ini. walaupun hubungan antara riset dan praktik dalam kompleks dan
jarang yang bersifat langsung, lebih banyak perhatian yang diberikan terhadap pemahaman
praktik teknis dalam akuntansi dan konteks organisasional manusia mungkin dihasilkan dari
Kerangka kerja, kategori analisis, skema interpretasi yang mungkin membantu membuat
struktur pemahaman praktek kita. Sebuah badan instrumental pengetahuan lebih
memungkinkan untuk mengembangkan cara ini dibandingkan dengan usaha untuk
menggunakan pemahaman organisasi dan keperilakuan untuk mendesain inovasi teknis yang
lebih spesifik.
Hopwood sendiri bersimpati terhadap ajakan Caplan dan para peneliti lainnya untuk
meneliti Akuntansi apa adanya, atau setidaknya untuk membahas peraturan-peraturan dengan
urutan kompleksitas dan interdependensi lebih besar. Dalam riset akuntansi, misalnya,
Hopwood menyatakan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memperluas fokus
riset keperilakuan dari perhatian terhadap isu keputusan kepada pembahasan mengenai
komponen keperilakuan dan akuntansi lainnya dari tugas auditing. Tidak disebutkan bahwa
riset yang ada tentang keputusan tidak mencapai sesuatu yang besar. Sebenarnya, yang
terjadi adalah kebalikannya. Namun, sampai sekarang, fokusnya masih parsial.
Meskipun demikian, pada praktiknya, Hopwood mengetahui bahwa isu kognitif
dipengaruhi oleh cara auditor mengatasi konteks yang sangat terstruktur dan waktu serta tugas
yang seringkali membutuhkan keahlian negoisasi agak kompleks dan tawar-menawar yang
besar. Dengan kata lain, unsur kognitif dimasukkan secara birokratis dan politis. Caplan
mengajak para peneliti untuk memperluas fokus. Barangkali, Jika dilihat secara lebih positif,
Ia menyampaikan bahwa praktik personal akuntansi cenderung mengarahkan individu
menjadi sangat individual sehingga memungkinkan mereka untuk memberikan kontribusi
guna memecahkan masalah yang dihadapi oleh profesi akuntansi sekarang.
Tentu saja, mendapatkan akses terhadap peristiwa tersebut tidaklah mudah. karena
beragam alasan, pengadaan setting riset yang realistis seringkali sesuatu yang menjadi
kepentingan parsial dari komunitas praktisi. Namun, hal ini juga terjadi di area penggunaan
setting experimental atau simulasi organisasional yang hati-hati dapat memberikan konteks
yang sesuai untuk menyelidiki setidaknya beberapa kemungkinan interaksi antara elemen-
elemen lingkungan dan tugas audit yang berbeda serta faktor-faktor yang mempengaruhi
signifikansinya.
Perluasan domain penyelidikan organisasional dan keperilakuan tersebut bukannya
mudah dan tidak problematis. Seperti disampaikan oleh Caplan, studi kasus dan barangkali
tempat serupa untuk menyelidiki lebih kompleks tidak hanya membutuhkan keahlian baru,
tetapi juga keahlian yang besar dalam mengidentifikasi konsep keperilakuan yang tepat dan
mengaplikasikan Konsep ini pada situasi yang spesifik. Hal ini adalah Point yang tidak dapat
ditekankan secara mudah. Studi kasus berorientasi riset tidak pernah menjadi latihan non-
teoritis yang semata-mata deskriptif dan mengonsumsi kan para peneliti berhasil
mengabadikan kerumitan teoritis besar yang diakui oleh seluruh peninjau yang terkait dengan
perkembangan yang terjadi baru-baru ini.
Apakah tugas tersebut dapat dipandang sebagai deskriptif, yaitu seperti penyampaian
cerita tentang penjelasan yang mendalam mengenai keterkaitan akuntansi dengan konteks
dimana akuntansi beroperasi? Harus diakui bahwa analisis resultan adalah salah satu hasil
yang muncul melalui lensa konseptual khusus. tidak ada sesuatu yang semata-mata deskriptif
yang dapat menyampaikan secara apa adanya. Deskripsi tentang kebutuhan mengarah pada
kategori perbedaan dan penekanan linguistik yang memberikan kekhususan dan realitas pada
Deskripsi tersebut. Meskipun demikian, proses implisit mungkin terjadi karena laporan
akuntansi selalu didasarkan pada pemahaman dan penekanan sebelumnya.
Poin tersebut seharusnya tidak perlu diulangi. Namun, dengan seluruh kemungkinan
saat ini yang berkaitan dengan riset kasus, poin fundamental ini sering dilupakan. Penekanan
dapat diberikan secara mudah terhadap pembangunan legitimasi atas latihan, bukannya pada
dasar intelektual dan konteks yang dibutuhkan untuk mengaplikasikan teori ke dalam praktik.
Sudah terdapat beberapa tanda bahaya yang mungkin muncul dari pendirian yang
tidak problematis tersebut. Dalam menyelidiki hubungan antara akuntansi biaya dengan
teknologi manufaktur baru, misalnya, terdapat beberapa indikasi tentang hal yang muncul dari
perspektif yang tidak reflektif tersebut. Tanpa kepedulian, akuntan terlalu banyak
mengarahkan pandangan mereka untuk hanya berfokus pada topik akuntansi lama tanpa
mempertimbangkan signifikasi nya dalam konteks keseluruhan dimana akuntansi beroperasi.
Pada saat yang sama, mereka juga mengabaikan cara teknologi baru dapat mengubah konteks
pergeseran utama dan pasar. Sepertinya, sering terdapat kegagalan untuk menyadari betapa
pentingnya cara teknologi dan pasar menekankan individu untuk fokus secara bersama-sama
pada perubahan dalam mode pengendalian organisasional dan fungsi-fungsi yang dapat ikan
dengan aliran informasi khusus, termasuk akuntansi. Sebagai hasilnya, analisis studi kasus
dapat dilihat terlalu parsial, terlalu dipengaruhi oleh aturan sebelumnya, terlalu mudah
mendukung pandangan tradisional akuntansi sebagai teknik yang terisolasi dan melihat ke
dalam, serta terlalu jauh dari masalah asli dan pragmatis.
Jika perspektif masa lalu tersebut diubah, studi kasus yang lebih berorientasi pada
konsep akan dibutuhkan untuk lebih menghargai konteks organisasional dimana akuntansi
beroperasi. Daripada mencoba mengisolasi dan membandingkan akuntansi masa lalu dengan
masa depan, riset perlu membuktikan rentang penuh dari cara masuknya teknologi yang
mungkin terjadi melalui domain organisasional. Riset tersebut perlu menggeser praktik dan
perspektif organisasional guna menciptakan kemungkinan penyesuaian baru berkaitan dengan
praktik dan fungsionalitas, termasuk akuntansi itu sendiri. Kemungkinannya adalah perspektif
tersebut tidak dapat segera terlihat sebagai penyesuaian antara akuntansi terdahulu dengan
akuntansi yang lebih baru, Tetapi lebih sebagai pertanyaan pertanyaan fundamental tentang
akuntansi dalam bentuk aksi yang terorganisasi.
Satu isu terakhir yang disampaikan oleh Caplan adalah nilai dari komentar
selanjutnya, yaitu perhatiannya terhadap teks akuntansi, khususnya dalam akuntansi
manajemen. Hopwood mengatakan ia tidak sependapat dengan Caplan. Hopwood berfikir
bahwa teks akuntansi sekarang menjadi penekanan utama dari pengembangan analisis
organisasi dan keperilakuan dalam akuntansi. Dari sudut pandang penulis, masalah tersebut
lebih dalam dari pada yang disampaikan teks sekarang dengan sedikit atau tidak ada cakupan
Terhadap isu keperilakuan dan organisasional.
Penganggaran dicirikan sebagai sebuah keahlian teknis dan bukannya fenomena
organisasional multi yang menawarkan bermacam-macam kesempatan untuk memberikan
pengaruh manajerial. Dengan cara yang sama, penentuan standar, penilaian investasi, dan
mobilisasi informasi akuntansi seputar pola tanggung jawab manajerial dibahas sebagai
latihan teknis yang mengabaikan dampak organisasional dan keperilakuannya.
Mungkin karena hanya sedikit orang yang memahami sifat organisasi dari praktik
akuntansi, sebagian besar penulis buku teks akuntansi manajemen sepertinya mempunyai
sedikit penekanan terhadap relevansi yang berbeda dari penerapan saat ini, serta pemahaman
organisasional dan keperilakuan. Dengan demikian, mereka seringkali sulit memperkenalkan
materi tersebut ke dalam buku mereka.
Hasilnya adalah suatu penekanan terhadap bidang akuntansi manajemen itu sendiri. Dengan
penekanan murni terhadap teknis, pemikiran penting yang disampaikan buku teks Hanya
seperti buku manual. Didasarkan pada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali pemahaman
terhadap cara elemen-elemen teknis dimobilisasi dan dibawa ke dalam konteks
organisasional, para penulis tersebut tidak pernah memberikan pendekatan yang secara
manajerial berorientasi pada desain pendekatan akuntansi yang mungkin membentuk
arsitektur akuntansi. Tidak disangkal bahwa kita membutuhkan keahlian tersebut. Keahlian
teknis adalah penting. Meskipun demikian, keahlian teknis merupakan sebagian dari
akuntansi dalam dunia yang bersinggungan dengan proses organisasi yang kompleks dan
berubah-ubah. Ditekan oleh keahlian tersebut, mereka tidak pernah memberikan dasar
terhadap evaluasi, diagnosis, desain, tahun reformasi sistem akuntansi organisasional yang
merupakan faktor-faktor yang membentuk bagian penting dari tugas manajerial sebagai
sesuatu yang berbeda dengan tugas teknis. Hal ini memunculkan basis keahlian baru di bidang
konsultasi organisasional. Keahlian baru dan pemahaman organisasional dan keperilakuan
yang muncul terkadang menyampaikan informasi kepada publik.

D. PASANG SURAT ALIRAN KEMAJUAN


Tinjauan Lord tentang perkembangan pemikiran keperilakuan dalam akuntansi
memperkuan banyak temuan dari riset lain. Meskipun demikian, pendekatan khusus ini juga
menghasilkan sejumlah observasi tentang cara bidang tersebut dapat bermanfaat bagi
pengembangan berikutnya. Hal yang menarik adalah kualitas dan keaslian riset semata
tampaknya tidak memadai untuk memasukkan dorongan khusus dari riset organisional dan
keperilakuan ke jalur kemajuan kumulatif. Dalam hal ini, fakta bahwa seri awal studi yang
berorientasi organisional yang dilakukan oleh Ohio State University tidak menghasilkan
momentum berkesinambunghan merupakan hal yang menarik. Meskipun benar-benatr asli
dan diakui memounyai kualitas tinggi, orientasi organisasional tidak menghasilkan aliran
penyelidikan berkesinambungan pada saat itu.
Sebaliknya, tinjauan Lord bermanfaat untuk menyampaikan pertimbangn tentang skala
pengembangan komparatif dan studi yang berorientasi akuntansi di Amerika Serikat,
khususnya yang mencerminkan pendekatan pemrosesan informasi manusia dan kognitif.
Tinjauan ini terkadang lebih implisit dalam pandangan Burgstahler dan Sundem yang
mengandung intelektual literature riset daripada distribusi numerik. Terdapat bermacam-
macam alasan, termasuk presdisposisi budaya serta kehadiran awal pesikolog dala komunitas
sekolah bisnis, peningkatan perubahan dalam disiplin ilmu tersebut, serta seberapabesar hal
ini dipahami sebagai ilmu pengetahuan, dan sifat metodologinyan. Lord juag menekankan
cara riset akuntansi keperilakuan muncul dalam konteks pningkatan ketertarikan yang lebih
umum terhadap peranan akuntansi dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, ia
mengilustrasikan bagaimana pengembangan riset akuntansi keperilakuan berhubungan dengan
konsepsi rasionalitas keputusan, setidaknya berdasarkan beberapa kesesuaian teorisasi
ekonomi yang mendasarinya.
Hal yang tidak signifikan dalam riset akuntansi keperilakuan adalah observasi
Lordtntang peranan signifikan yang dinamakan oleh struktur institusional dunia akademis
akuntansi. Dia menekankan pentingnya pengembangan riset pemrosesan informasi manusia
yang pada awalnya diterima oleh journal of accounting research dan dimasukkan dalam
konferensi riset empiris Chicago yang sangat berpengaruh. Baik Lord, Burgstahler, maupun
sundem mengomentari signifikan intelektual dari konferensin sebagai kunci utama area
pengembangan lebih luas. Hal ini bukan saja ditunjukan pada konferensi yang diorganisasi di
Chicago, melainkan juga pada konferensi awal di negara bagian Ohio, kemudian yang
diorganisasi dalam konjungsi dengan Accounting. Organization, and Society, walaupun
tergoda untuk menekankan pada tren intelektual, pencapaian dan kesulitan, tinjauan Lord
menunjukkan lebih banyak mengenai kemunculan pendapatan baru badan ilmu yang dengan
sendirinya bermanfaat dan pemikiranyang sederhana.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Backer merupakan orang pertama yang memperkenalkan istilah ‘Akuntansi
keperilakuan’ pada 1967. Kehadiran jurnal sepesialis baru benar-benar sesuai untuk
merayakan kelahiran bidang baru ini. Selama masa intervensi bertahun-tahun, banyak
kemajuan yang dicapai daripada yang disadari. Meskipun demikian, tidak ada alasan untuk
berpuas diri. Kesulitan dan masalah, sebagaimana halnya tantangan, tetap banyak dan sangat
signifikan. Dalam menghadapi masa depan, riset dalam area ini perlu terus belajar dari
pengalaman masa lalu, diperbaiki, dan didsarkan pada pemahaman terhadap kemungkinan
baru untuk memperkaya aspirasi kita tentang bagaimana akuntansi berfungsi dalam konteks
organisasional dan keperilakuan.
Dalam melakukan hal itu, barangkali sekarang juga merupakan waktu yang tepat
untuk mencerminkan bagaimana bidfang studu tersebut dipahami dari sudut pandang luar
(without). Tinjauan Burgsthahler dan Sundem mngilustrasikan bahwa terdapat banyak peneliti
non-keperilakuan yang mempunyai ketidakpastian yang cukup kuat mengenai area tersebut.
Sebagaian ketidakpastian dapat dibenarkan berdasarkan kekhawatiran dan perhatian terhadap
metodelogi khusus, formulasi konseptual, dan studi. Sering kali, bidang ini dipandang sebagai
area yang menimbulkan frustasi dan kegelisahan.
Alasan dan kekhawatiran tersebut masih belum jelas. Ada yang mungkin tergoda
untuk melihat masalah dalam pengertian psikologi, ada yang menunjukkan intoleransi yang
terdapat kesamaran dan keragaman dalam komunitas akademik akuntansi, serta ada yang
gagal menilai apa yang sama dan apa yang tidak.
Meskipun demikian, Hopwood tidak hanya terdorong untuk menekankan faktor
kontekstual siknifikan yang berkesinambunagan, tetapi juga memperkuat perhatianterhadap
ekonomi serta orientasi intelektualyang sepertinya membatasi masalah yang dapat ditangkap
oleh agenda riset. Sepertinya terlihat bahwa banyak akuntan akademis sulit menempatkan
dirinya dalam komunitas pelayanan manusia yang lebih luas daripada sekedar menjadi
pelindung untuk teknik khusus. Hal ini terlihat dengan sendirinya. Jika inin masalahnya,
mungkin dapat disampaikan bahwa satu masalah dengan riset organisasional dan keperilakuan
dalam akuntansi, melainkan juga menggeser otonomi teklnik akuntansi guna membuatnya
tidak terlalu tergantung pada fenomena. Hal ini dapat mengancam banyak orang.
Jelasnya, riset keperilakuan bukan satu-satunya bentuk usahaintelektual yang dapat
melakukan itu. Riset akuntansi yang dilakukan dalam konteks tradisi penyelidikan pasar
modal yang efisien juga mempunyai potensi yang bagus. Meskipun demikian, hal yang
menarik adalah pemahaman penulis bahwa potensi tersebut tidak pernah terealisasi. Akuntansi
tetap akuntan si. Sebaliknya, riset keperilakuan dan organisasional tetap memberikan alat
untuk melihat akuntansi secara lebih interdepanden. Sementara sebagian orang merayakan
perluasan perhatian, sebagian yang lain mengalami kesulitan berkaitan dengan keputusan
yang akan mereka ambil. Mereka sepertinya sangat segan memasukkan inti teknis kedalam
bentuk sosioteknis.
Penelitian organisasional dan keperilakuan dalam akuntansi tidak dapat berharap
untuk menggunakan agenda evaluatif yang luas tersebut. Dalam beberapa kejadian, lebih baik
membiarkan masalah itu sendiri. Namun, penulis semakin yakin bahwa komunitas riset
akuntansi keperilakuan harus mengakui secara eksplisit sifat dari beberapa perspektif lebih
luas dimana akuntansi dipahami. Sementara berusaha memperbaiki pendirian riset mereka,
penulis berfikir bahwa akuntan keperilakuan perlu mengadopsi pendirian referensial. Dengan
lebih percay diri dalam menyampaikan positivitas posisi intelektualnya, mereka dapat
menunjukkan dan memainkan peranan penting dalam mengembangkan landasan substantive
dalam domain ilmu pengetahuanj manusia yang lebih luas.
Menurut penulis, ketika riset organisasional dan keperilakuan bergerak ke arah
mayoritas selama bertahun-tahun, hal ini bukan hanya akan terus memperbiki keahlian dan
perspektif yang di kembangkan selama bertahun-tahun, melainkan juga mengadopsi pendirian
intelektual yang lebih matang dan penuh percaya diri dalam proses tersebut. Hopwood
mengatakan keduanya sama-sama memunbgkinkan dan dapat diharapkan.

B. REFERENSI PENULISAN

Lubis, Arfan Ikhsan.2010.Akuntansi Keperilakuan.Salemba 4:Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai