Anda di halaman 1dari 14

Lembar Pengesahan

Laporan Praktikum Geomorfologi

Laporan Peta Pola Pengaliran Daerah Pondok Salam

Disusun Oleh :

Rian Arif Wirawan

111.090.071

Plug IX

Praktikan Yogyakarta, Oktober 2010

ACC Nilai

Rian Arif Wirawan

Daftar Isi

1
Halaman Pengesahan ..........................................................................1

Daftar isi................................................................................................2

Kata Pengantar.....................................................................................3

BAB I Pendahulan.................................................................................4

Maksud dan tujuan................................................................................4

Latar belakang.......................................................................................4

BAB II Pembahasan...............................................................................

BAB III Kesimpulan................................................................................

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur pratikan panjatkan kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya dapat
menyelesaikan Laporan ini tepat pada waktunya, walaupun ada atau tidak
ada gangguan itu sebagai isi dari kehidupan yang harus dijalani.

Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Pratikum


geomorfologi. Dalam menyusun laporan ini pratikan tidak henti-hentinya
mengharapkan saran maupun kritikan dari para pembaca, guna untuk
perbaikan dalam penyusunan karya tulis yang akan datang. Tidak lupa juga
praktikan ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah
diberikan dari semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung,
hingga laporan ini dapat terselesaikan.

Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua khususnya


bagi pratikan sendiri dan para pembaca pada umumnya.

Penulis

Rian Arif Wirawan

3
BAB I

Pendahuluan

1.1 Maksud dan Tujuan

Maksud acara pola pengaliran adalah :

1. Mengenalkan Macam-macam jenis pola pengaliran dasar dan ubahannya

2. Mengenalkan cara analisis pola pengaliran pada peta topografi

3. Mengenalkan jenis sungai berdasarkan tempat mengalirnya pada peta


topografi

Tujuan acara pola pengaliran adalah agar praktikan dapat :

1. Menjelaskan karakteristik pola pengaliran dasar dan ubahannya serta ciri-


cirinya pada peta topografi.

2. Menjelaskan makna geologi suatu pola pengaliran dasar dan pola


pengaliran ubahan serta hubungan antara pola pengaliran dan faktor – faktor
yang mengendalikannya, yaitu faktor lereng, bentuk lahan, litologi dan
struktur geologi.

3. Menjelaskan karakteristik sungai berdasarkan tempat mengalirnya dan


mengungkap makna litologi, kompetensi dan kapasitas sungai.

1.2 Latar belakang

Latar belakang pembuatan peta pola pengaliran yaitu untuk


mengetahui jenis – jenis pola pengaliran dasar dan pola pengaliran
ubahannya serta mengerti makna geologi dari pola aliran tersebut.

Landasan teori.

Pola Pengaliran adalah kumpulan jalur-jalur pengaliran hingga bagian


terkecilnya pada batuan yang mengalami pelapukan atau tidak ditempati
oleh sungai secara permanen. (arthur davis howard, 1966)

4
Pola pengaliran merupakan susunan garis-garis aliran alamiah yang
mempunyai pola tertentu pada suatu daerah yang dikaitkan dengan kondisi
geologi lokal dan sejarahnya.(J.R. Desaunettes, 1972)

Pola pengaliran merupakan penggabungan dari beberapa individu sungai


yang saling berhubungan membentuk suatu pola dalam suatu kesatuan
ruang. Istilah yang baik digunakan dalam hal ini adalah tata pengaliran.
Disebut tata pengaliran karena mencerminkan hubungan yang lebih erat dari
masing-masing individu sungai dibandingkan garis-garis sungai yang
terbentuk pada pola dasar pengaliran umum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pola pengaliran

a. kemiringan lereng

b. Perbedaan resistensi batuan

c. Kontrol struktur

d. Pembentukan pegunungan

e. Proses geologi kuarter

f. Sejarah dan stadia geomorfologi dari cekungan pola pengaliran

sistem pengaliran suatu sungai beserta cabang-cabangnya


membentuk kesatuan sistem sungai yang mengalir melalui cekungan
pengaliran dan terpisah dari cekungan lainnya yang bersebelahan oleh water
shed.

Pola pengaliran meliputi pola dasar, pola ubahan, penyimpangan


aliran, yaitu :

a. Pola dasar (basic pattern) A.D. Howard, 1966 :

1. Dendritik

• Bentuk menyerupai cabang-cabang pohon

5
• Mencerminkan resistensi batuan yang sama (homogenitas batuan )
atau tanah yang seragam

• Lapisan sedimen horisontal atau miring landai

• Kontrol struktur tidak begitu tampak

2. Paralel

• Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang sejajar

• Atau paralel pada bentang alam yang panjang

• Mencerminkan kemiringan lereng yang cukup besar dan hampir


seragam.

3. Trellis

• Terbentuk dari cabang-cabang sungai kecil yang berukuran sama,


dengan aliran tegak lurus sepanjang sungai induk subsekuen yang
paralel.

• Terdapat pada daerah lipatan, patahan yang paralel, daerah blok


punggungan pantai hasil pengangkatan dasar laut, daerah vulkanik
atau meta sedimen derajat rendah dengan pelapukan yang berbeda.

4. Rectangular

• Aliran cabang sungai tegak lurus terhadap sungai induk

• Aliran memotong daerah secara tidak menerus

• Mencerminkan kekar atau sesar yang saling tegak lurus dan tidak
serumit pola trellis

5. Radial

• Bentuk aliran seolah memancar dari satu titik pusat berasosiasi


dengan tubuh gunungrapi atau kubah berstadia muda

6
• Dalam konsep davis, pola radial ini adalah menyebar dari satu titik
pusat (sentrifugal) sedangkan klasifikasi lain menyatakn pola radial
mencakup dua sistem pola pengaliran yaitu sentrifugal dan
sentripetal.

6. Annular

• Cabang sungai mengalir tegak lurus sungai induk yang subsekuen


yang melingkar,

• Pada struktur kubah dan cekungan, diatrema dan kemungkinan pada


intrusi stock yang tererosi

• Sungai dikontrol pola sesar atau kekar pada bedrock

7. Multibasinal

• Pada daerah endapan antar bukit, batuan dasar yang tererosi

• Ditandai adanya cekungan-cekungan yang kering atau terisi air yang


saling terpisah, aliran yang terputus dan arah aliran yang berbeda-
beda.

• Pada daerah aktif gerakan tanah dan vulkanik, batugamping yang


mengalami pelarutan,

• Definisi diatas digunakan untuk semua bentuk depresi yang belum


diketahui bentuk polanya.

8. Contorted

• Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang relatif tegak lurus


terhadap sungai induk subsekuen yang melengkung.

• Dibedakan dari recurved trellis dengan ciri daerahnya yang tidak


teratur, kontrol struktur sesar atau daerah tersebut labil.

7
• Adanya lipatan yang menunjam.

Pola ubahan

A. Modifikasi dari ddendritik

1. Subdendritik

• Modifikasi dari pola dendritik, karena pengaruh dari topografi dan


struktur

• Pada pola ini topografi sudah miring, struktur sudah berperan tetapi
sangat kecil.

2. Pinnate

• Tekstur rapat pada daerah yang sudah tererosi lanjut,

• Tidak ada kontrol struktur

• Terdapat pada daeerah landai dengan litologi bertekstur halus (lanau,


lempung dll)

3. Anastomatik

• Jaringan saluran saling mengikat

• Terdapat didaerah dataran banjir, delta dan rawa, pasang surut.

4. Distributar

• Bentuk menyerupai kipas

• Terdapat pada kipas aluvial dan delta.

8
b. Modifikasi dari paralel

1. subparalel

• Kemiringan lereng sedang atau dikontrol oleh bentuklahan subparalel

• Dikontrol oleh lereng litologi dan struktur

• Lapisan batuan relatif seragam resistensinya.

2. Coliniar

• Dicirikan oleh kelurusan sungai dan aliran yang selang seling antara
muncul dan tidak, memanjang diantara punggungan bukit pasir pada
daerah loess dan gurun pasir landai.

c. Modifikasi trellis

1. Directional trellis

• Anak sungai lebih panjang dari sungai utama

• Dijumpai pada daerah homoklin dengan kemiringan landai.

2. Fault trellis

• Kelurusan sungai-sungai besar adalah sebagai kelurusan sesar,

• Menunjukan graben dan horst secara bergantian

3. joint trellis

• Kontrol strukturnya adalah kekar

• Ditandai oleh aliran sungai yang pendek-pendek, lurus dan sejajar.

9
D. Modifikasi Rectangular

1. Angulate

• Kelokan tajam dari sungai kemungkinan akibat sesar

• Kelurusan anak sungai diakibatkan kekar

• Pada litologi berbutir kasar dengan kedududkan horisontal,

• Biasanya angulate dan rectangular terdapat bersama dalam suatu


daerah.

E. Modiffikasi Radial

1. Centripetal

• Pola ini berhubungan dengan kawah, kaldera, dolena besar atau


uvala,

• Beberapa pola centripetal yang bergabung menjadi multicentripetal.

f. Penggabungan dari beberapa pola dasar

1. Complex

• Ada lebih dari satu pola dasar yang bergabung dalam satu daerah

• Kontrol struktur, topografi dan litologi sangat dominan,

• Terdapat di daerah melange

2. Compound

• Terdiri clari dua pola kontemporer

• Kombinasi pola radial dan anular yang merupakan sifat kubah.

g. perkembangan pola baru

10
1. palimpsest

• Sungai tua atau pola tua yang sudah ditinggalkan dan membentuk
pola baru,

• Merupakan daerah pengankatan baru.

Jenis sungai

Untuk mendukung dalam analisis pola pengaliran diperlukan juga


pengetahuan tentang jenis-jenis sungai.

Berdasarkan sifat alirannya

1. eksternal

Aliran air di permukaan yang membentuk sungai danau dan rawa-rawa.

2. internal

Aliran air bawah permukaan, terdapat pada daerah karst loess dan gurun
pasir.

Berdasarkan kandungan air pada tubuh sungai

1. sungai normal /pemanen/ perenial

Sungai yang debit airnya tetap.

11
2. sungai periodik / intermittent

Kandungan airnya tergantung pada musim, pada musim hujan debit airnya
besar sedangkan pada musim kemarau debit airnya kecil sampai kering.

3. sungai episodik/ ephemeral

Umumnya terdapat di daerah gurun yang hanya berair setelah turun hujan
lebat.

Berdasarkan genesanya

1. Sungai konsekuen

Mengalir searang dengan kemiringan awal daerah kubah, pegunungan blok


yang baru terangkat, dataran pantai yang terangkat.

2. Sungai subsekuen

Mengalir sepanjang jurus perlapisan batuan dan membentuk lembah


sepanjang daerah lunak.

3. Sungai Obsekuen

Mengalir berlawanan arah dengan kemiringan lapisan batuan dan


membentuk lembah sepanjang daerah lunak.

4. Sungai resekuen

Mengalir searah dengan kemiringan lapisan batuan dan searah dengan


sungai konsekuen, tetapi cenderung baru (terbentuk kemudian )

5. Sungai insekuen

Merupakan sungai yang tidak jelas pengalirannya. Tidak mengikuti struktur


batuan dan tidak jelas mengikuti kemiringan lapisan batuan. Umumnya pola
pengaliran dendritik dan banyak menyangkut sungai-sungai kecil.

12
13
BAB II

Pembahasa

14