Anda di halaman 1dari 4

Tujuan

1. Mengetahui komponen-komponen darah.


2. Mengetahui kecepatan terjadinya hemolisis dan krenasi eritrosit pada medium berbeda-
beda.
3. Mengetahui persentase hemolisis eritrosit pada medium yang berbeda-beda.

Kesimpulan
1. Darah tersusun dari kombinasi antara plasma darah dan sel-sel darah, yang semuanya
beredar di seluruh tubuh. Sel-sel darah dibagi lagi menjadi tiga jenis, yakni sel darah merah,
sel darah putih, dan trombosit.
2. Semakin encer cairan di luar sel, maka semakin cepat sel eritrosit mengalami hemolisis.
Namun pada hasil praktikum yang didapatkan tidak sesuai dengan teori, dimana pada
cairan yang encer maupun pekat hemolisis maupun krenasi terjadi pada menit ke-5. Hal ini
dapat terjadi karena adanya kesalahan.
3. Supernatan yang berwarna bening (tanpa warna merah) dengan endapan eritrosit paling
banyak berarti pada larutan NaCl tersebut tidak terjadi hemolisis sama sekali. Apabila
supernatan sudah ada yang berwarna merah, dan endapan eritrosit sudah berkurang, berarti
pada larutan NaCl ini sudah mulai terjadi hemolisis, maka ini merupakan batas bawah
toleransi osmotis membran eritrosit. Apabila supernatan berwarna merah, tanpa endapan
eritrosit sama sekali, berarti pada larutan NaCl ini terjadi hemolisis sempurna, maka ini
merupakan batas atas toleransi osmotis membran eritrosit.

Hasil Pengamatan
PERLKUAN HASIL
B. Kecepatan Hemolisis dan
Krenasi
0,3% Normal menit ke-1, Lisis menit ke-5
0,5% Normal menit ke-1, Lisis menit ke-5
0,7% Normal menit ke-1, Krenasi menit ke-5
0,9% Tidak terjadi Lisis dan Krenasi

Analisis data
Berdasarkan percobaan diketahui bahwa kecepatan hemolisis dan krenasi. Pada
konsentrasi larutan NaCl 0,3% dan 0,5% eritrosit mengalami lisis pada menit ke-5, sedangkan
eritrosit yang mengalami krenasi terjadi pada konsentrasi larutan NaCl 0,7% pada menit ke-5, dan
tidak terjadi lisis dan krenasi pada konsentrasi larutan NaCl 0,9%.

Pembahasan
Praktikum ini dilakukan dengan mengambil darah perifer ujung jari secara aseptis yang
ditempatkan pada cekungan gelas objek, lalu ditetesi dengan berbagai konsentrasi larutan NaCl
untuk kemudian diamati di bawah mikroskop dan dicatat waktu terjadinya hemolisis ataupun
krenasi. Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopik diketahui bahwa pada larutan NaCl
konsentrasi 0,3% dan 0,5% eritrosit nampak menggembung atau bengkak sehingga dapat
dikatakan bahwa pada konsentrasi tersebut eritrosit mengalami hemolisis. Hal tersebut terjadi
karena larutan NaCl pada konsentrasi 0,3% dan 0,5% bersifat hipotonik (lebih encer), sehingga
terjadi osmosis atau perpindahan cairan dari konsentrasi rendah yaitu larutan NaCl 0,3% dan 0,5%
menuju ke cairan yang berkonsentrasi lebih tinggi yaitu sitoplasma eritrosit, dengan kata lain air
dari larutan NaCl tersebut akan ditarik masuk ke dalam eritrosit sehingga mengembang dan pecah
atau lisis (Watson, 2002).
Peristiwa krenasi ditunjukkan pada eritrosit yang berada pada larutan NaCl 0,7% yaitu
eritrosit nampak mengecil dan mengkerut ketika diamati dengan mikroskop. Hal tersebut terjadi
karena larutan NaCl pada konsentrasi tersebut bersifat hipertonik (lebih pekat), sehingga terjadi
osmosis atau perpindahan cairan dari konsentrasi rendah yaitu sitoplasma eritrosit menuju ke
cairan yang berkonsentrasi lebih tinggi yaitu larutan NaCl 0,7%. Dengan kata lain cairan
sitoplasma di dalam eritrosit ditarik keluar sehingga selnya kehilangan air yang mengakibatkan sel
nampak mengkerut. Pada larutan NaCl 0,9% eritrosit tidak mengalami lisis maupun krenasi, hal
tersebut karena larutan bersifat isotonis, darah akan tetap stabil dan bentuk yang sama seperti biasa
yaitu tetap bikonkaf bentuknya, karna larutan isotonis mempunyai komposisi yang sama dengan
cairan tubuh (Watson, 2002).
(Sumber : Silverthorn, 2010)

Adanya pertimbangan bahwa kepekatan cairan di luar sel akan berpengaruh terhadap
peristiwa hemolisis atau krenasi, maka dapat dikatakan bahwa kecepatan hemolysis dan kecepatan
krenasi dipengaruhi oleh kepekatan cairan di luar sel eritrosit. Semakin encer cairan di luar sel
maka semakin cepat sel tersebut mengalami hemolysis, dan semakin pekat cairan di luar sel maka
semakin cepat pula terjadinya krenasi. Dengan kata lain kecepatan hemolysis dan kecepatan
krenasi dipengaruhi oleh adanya peristiwa osmosis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Watson
(2002) yang menyatakan bahwa faktor penyebab krenasi yaitu adanya peristiwa osmosis yang
menyebabkan adanya pergerakan air dalam sel sehingga ukuran sel menjadi berkurang atau
mengecil. Proses yang sama juga terjadi pada tumbuhan yaitu plasmolisis dimana sel tumbuhan
juga mengecil karena dimasukkan dalam larutan hipertonik. Krenasi ini dapat dikembalikkan
dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (George, 1999).
Berdasarkan hasil pengukuran kecepatan hemolisis dan krenasi, diketahui bahwa ada
kelompok yang menunjukkan kecepatan hemolisis eritrosit yang sama pada NaCl 0,3%, 0,5%.
Seharusnya semakin encer cairan di luar sel seharusnya semakin cepat sel mengalami hemolisis.
Sedangkan pada larutan NaCl yang semakin pekat larutannya yaitu 0,7% dan 0,9% maka potensi
kecepatan eritrosit seharusnya semakin tinggi. Kesalahan tersebut dapat terjadi karena berbagai
kemungkinan adanya human error seperti ketidaktelitian pengamat saat mencatat waktu pada
stopwatch ketika mengamati dengan mikroskop, atau karena kalibrasi mikrokskop yang sulit
difokuskan sehingga memperlambat pengamat untuk mencatat waktu krenasi dan hemolisis
eritrosit.
DAFTAR PUSTAKA

George, F. 1999. Schaum's Outline of Theory and Problems og Biology. Jakarta: Airlangga
Silverthorn, Dee Unglaub. 2010. Human Physiology an Integrated Approach 5 Edition. United
States of America : Pearson
Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat Edisi 10. Jakarta : EGC Buku
Kedokteran.

Anda mungkin juga menyukai