Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

HALAMAN
SAMPUL.............................................................................................. i

DAFTAR ISI......................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................... 1

1.1 Latar Belakang............................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN......................................................................... 3

2.1 Haji dan Umroh.............................................................................. 3

2.2 Hukum Haid saat Berhaji atau Umroh........................................... 3

2.3 Obat-Obat Progrestin Only sebagai Pengatur Haid....................... 6

2.4 Obat Pil Kombinasi sebagai Pengatur Haid................................... 13

BAB III PENUTUP................................................................................ 15

3.1 Kesimpulan.................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 16
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ibadah haji adalah ibadah yang penting bagi setiap Muslim. Bagi sebagian
besar peziarah, ibadah dengan menempuh perjalanan jauh ini sangat diinginkan
yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Setiap tahun, jutaan
Muslim dari berbagai negara berkumpul di kota suci Mekah dan Madinah di
Kerajaan Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah ini. (1)

Haid merupakan proses alamiah yang dialami setiap wanita dewasa yang
sehat dan normal. Namun terdapat beberapa keadaan yang memungkinkan
seorang wanita untuk menunda haid atau memajukan haidnya karena berbagai
alasan, salah satunya adalah karena kepentingan ibadah haji dan umrah.
Pengaturan haid dilakukan karena ada beberapa ibadah yang tidak boleh
dilakukan saat wanita sedang mengalami haid. Ibadah tersebut antara lain: thawaf,
sholat, membaca Al Quran, puasa dan berdiam diri di masjid. Oleh karena itu,
ibadah haji yang memerlukan waktu sekitar 40 hari, haji menjadi permasalahan
bagi wanita muslim karena haid yang memiliki rata-rata siklus 21-35 hari tidak
dapat dihindari oleh setiap wanita normal yang sehat. Solusi untuk menangani
masalah tersebut adalah dengan cara mengatur sikus haid, yaitu memajukan atau
memundurkan (menunda) haid dengan menggunakan preparat hormonal. (1,2)

Mekanisme pengaturan haid dengan preparat hormonal adalah dengan


menekan produksi hormon estrogen dan progesteron endogen (ovarium) melalui
pemberian kombinasi hormon eksogen agar ovulasi tidak terjadi. Beberapa
rejimen yang dapat diberikan untuk mengatur siklus haid meliputi pemberian
progestin (turunan progesteron ataupun testosteron), penggunaan kontrasepsi oral
kombinasi hormon estrogen dan progestin, serta pemberian agonis gonadotropin
releasing hormone (GnRH). Pemberian preparat tersebut tidak mengakibatkan
infertilitas permanen dan haid dapat kembali terjadi setelah rejimen pengaturan
siklus haid dihentikan. (3,4)
Pengaturan haid saat haji dan umrah akan memberikan hasil lebih baik
apabila dilakukan pengaturan siklus haid minimal 3 (tiga) bulan sebelumnya.
Pengaturan siklus haid, baik memajukan maupun menunda haid, dilakukan
dengan harapan haid terjadi beberapa saat sebelum ibadah haji dimulai. Pemilihan
preparat untuk pengaturan haid tetap perpegang pada prinsip mudah, rasional,
efektif, efisien, dan murah. Noretisteron sebagai salah satu jenis progestin dipilih
karena mudah didapat dan aman serta efektivitas yang tinggi dalam pengaturan
haid. (2,5,6)
Telah menjadi tanggung jawab para dokter ahli kebidanan dan kandungan
untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan reproduksi terutama mengenai
pengaturan haid bagi para calon jemaah haji wanita agar haid tidak menjadi
halangan beribadah haji. Pada referat ini akan dibahas lebih lanjut mengenai
perbedaan obat progestin only dengan pil kombinasi dalam pengaturan haid pada
saat haji dan umrah. (6)
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Haji dan Umroh

Sebagai rukun Islam kelima, haji merupakan perwujudan sikap pasrah dan
tunduk seorang hamba kepada Tuhannya. Haji menjadi istimewa karena
menghimpun spirit rukun Islam selainnya. Selain ibadah jasmaniah seperti shalat
dan puasa, haji juga merupakan ibadah maliyyah (harta) seperti zakat karena
menuntut pengrbanan harta di jalan Allah Swt. Selain itu, haji pun merupakan
perjuangan jiwa dan raga, setara dengan berjihad di jalan Allah Swt. (1,2)

Secara bahasa, haji berarti menuju tempat yang mulia. Secara istilah
syariah, haji berarti menuju Baitullah (Ka’bah) untuk menunaikan perbuatan yang
difardukan, seperti tawaf di seputar ka’bah dan wukuf di arafah dalam keadaan
ihram dengan niat haji. (1)

Secara bahasa, umrah berarti ziarah (berkunjung). Ibadah ini disebut


demikian karena mengandung ziarah kepada apa yang dicintai. Dalam istilah fiqih
umrah berarti tawaf di Baitullah serta sai antara shafa dan marwah. Tata cara
umrah secara ringkas adalah berihram untuk umrah dari miqat, kemudian
mendatangi Makkah, lalu bertawaf di ka’bah sebanyak tujuh putaran, kemudian
shalat sunnah tawaf dua rakaat, kemudian bersai antara shafa dan marwah
sebanyak tujuh tempuhan. Setelah itu, bercukur dan bertahalul. (1,6)

2.2 Hukum Haid saat Berhaji atau Umroh

Orang boleh melakukan ihram baik untuk Haji maupun Umrah dalam
kondisi haid ataupun hadats besar. Karena tidak disyaratkan dalam ihram, harus
suci dari hadats besar maupun kecil. Ada beberapa dalil yang menegaskan hal ini,
yaitu: (1)
- Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

“Bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat Haji,


sesampainya di Dzulhulaifah (Bir Ali – Miqat penduduk Madinah), Asma’ bintu
Umais (istri Abu Bakr) melahirkan anaknya. kemudian Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakr untuk agar menyuruh istrinya untuk
mandi dan berniat ihram.” (HR. Muslim).

Ketika wanita melahirkan, dia akan mengalami nifas. Dan wanita nifas,
dalam kondisi hadats besar. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap
memerintahkan Asma’ untuk melanjutkan ihramnya dalam rangka berhaji.

- Hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha

Beliau bercerita pengalamannya ketika berhaji bersama Nabi shallallahu


‘alaihi wa sallam,

َ‫ت َوال َبيْن‬ ِ ‫ف بِ ْالبَ ْي‬


ْ ‫ط‬ ٌ ِ‫ فَقَ ِد ْمته َم َّكةَ َوأَنَا َحائ‬. . ِ‫سلَّ َم فِي َح َّج ِة ْال َودَاع‬
‫ض َولَ ْم أَ ه‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫ّللاه‬ َ ِ ‫خ ََرجْ نَا َم َع النَّبِي‬
ِ‫ِطي َوأَه ِِلي بِ ْال َحج‬ َ ْ‫ضي َرأ‬
ِ ‫س ِك َوا ْمتَش‬ ِ ‫ ا ْنقه‬: ‫سلَّ َم فَقَا َل‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫ّللاه َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫شك َْوته ذَلِكَ إِلَى النَّبِي‬َ َ‫ ف‬، ِ‫صفَا َو ْال َم ْر َوة‬
َّ ‫ال‬

“Saya ikut haji wada’ bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika
sampai Mekah, saya mengalami haid, sehingga tidak bisa thawaf di Ka’bah dan
tidak sa’i. Akupun mengadukan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda, “Lepas gelunganmu, bersisirlah, dan niatkan ihram untuk
berhaji.” (HR. Bukhari & Muslim).

An-Nawawi mengatakan,
‫وفي هذا دليل على أن الحائض والنفساء والمحدث والجنب يصح منهم جميع أفعال الحج وأقواله وهيأته إال‬
‫الطواف وركعتيه فيصح الوقوف بعرفات وغيره‬

Dalam hadis ini dalil bahwa wanita haid, nifas, orang yang hadats, dan orang
junub, sah melakukan semua amalan haji, membaca doa-doanya, dan tata caranya
kecuali thawaf dan melakukan 2 rakaat setelahnya. Mereka boleh melakukan
wukuf di Arafah atau yang lainnya.. (Syarh Shahim Muslim, 8/146).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda,

‫ان ْال َمنَاسِكَ هكلَّ َها َغي َْر‬ ِ ‫ان َوتَ ْق‬
ِ َ‫ضي‬ ِ ‫ ْال ِميقَات) تَ ْغتَس‬: ‫ي‬
ِ ‫ِالن َوتهحْ ِر َم‬ ِ ‫سا هء إِذَا أَتَت َا َعلَى ْال َو ْق‬
ْ َ ‫ت (أ‬ َ َ‫ض َوالنُّف‬ ‫ْال َحائِ ه‬
ِ ‫اف بِ ْالبَ ْي‬
‫ت‬ َّ ‫ال‬
ِ ‫ط َو‬

“Wanita haid dan nifas ketika tiba di miqat maka dia mandi dan berniat
ihram, serta boleh melakukan semua manasik selain thawaf di Ka’bah. (HR. Abu
Daud dan dishahihkan al-Albani).”

Karena itu, bagi wanita haid, harus tetap berniat untuk umrah ketika di Miqat.

Dibolehkan bagi wanita haid untuk mengkonsumsi obat pencegah haid hal
ini pernah difatwakan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

‫أن ابن عمر رضي هللا عنه سئل عن امرأة تطاول بها دم الحيضة فأرادت أن تشرب دواء يقطع الدم عنها فلم‬
‫ير ابن عمر باسا‬

“Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita


yang haidnya lama. Wanita ini ingin mengkonsumsi obat pencegah haid. Dan
beliau menilai tidak masalah. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 1/318).”

Selama darah berhenti sempurna, wanita ini dinilai suci. Sehingga boleh
untuk melakukan thawaf dan shalat.
2.3 Obat-Obat Progestin Only sebagai Pengatur Haid

Berbagai progestogen dapat digunakan untuk pengaturan menstruasi seperti


turunan progesteron maupun turunan testosteron. Jenis progestogen yang banyak
digunakan adalah medroksiprogesteron asetat, nomogestrol asetat, noretisteron,
linestrenol dan levonorgestrel. (2,7,8)

Tabel 1: Beberapa Jenis Progestin yang digunakan dalam Pengaturan Haid (2)
Jenis Progestin Dosis/hari Nama Dagang
Noretisteron 2 x 5 mg Primolut N
Medroksiprogesteron asetat 2x 5 mg Provera,
Prothyra
Linestrenol 2 x 5 mg Endometril
Nomogesterol asetat 2x 5 mg Lutenyl
Didrogesteron 2 x 5 mg Duphaston

I. Noretisteron

Gambar 1 : Norethisteron dan Primolut® N

Noretisteron dapat digunakan untuk Pengaturan Haid (Timing of


menstruation), perdarahan uterus abnormal, premenstrual tension dan
endometriosis. Noretisteron adalah suatu progestational oral. Seperti progesteron,
Noretisteron akan menghasilkan perubahan sekretori pada endometrium.
Noretisteron menunda haid bila diberikan sebelum atau pada saat perdarahan haid.
Noretisteron menunjukkan aktivitas biologiknya terutama melalui interaksi
dengan reseptor-reseptor yang terdapat pada berbagai jaringan, khususnya pada
saluran reproduksi, payudara, hepar dan otak. Pada sejumlah jaringan, terutama
endometrium, Noretisteron berikatan dengan reseptor progesteron. Afinitas
pengikatan Noretisteron pada reseptor di endometrium serupa dengan progesteron.
(9,10)

Pada eksperimen binatang, efek endokrin lainnya mencakup efek


androgenik dan anabolik dengan potensi sekitar 2% dan 10% dari testosteron
propionat. Tetapi pada manusia aktivitas androgenik tidak terlihat, walaupun
digunakan dosis besar. Seperti progestogen lainnya, Noretisteron memiliki efek
termogenik yang menyerupai progesteron dan terlihat pada hari kedua dari siklus
haid. Sebagai tambahan pada mekanisme reseptor, obat ini dapat bekerja langsung
dan mempengaruhi fungsi hipotalamus dan fungsi serebral. Pada hipotalamus dan
glandula pituitari anterior, Noretisteron menekan produksi LH tetapi efeknya
kurang pada sekresi FSH. Dosis 5-10 mg perhari akan menekan ovulasi.
Perdarahan menyerupai haid umumnya dimulai 2 sampai 4 hari setelah
penghentian terapi. (7,11)

Setelah pemberian oral, absorpsi terjadi dengan cepat dan lengkap, kadar
puncak plasma dicapai antara 1-3 jam. Akibat metabolisme presistemik lintas
pertama di dinding usus dan hepar, bioavailabilitasnya hanya 60%. Distribusi
cepat dan luas ke seluruh jaringan tubuh, dengan kadar tertinggi terakumulasi dan
dimetabolisme di hati, ginjal, intestin dan empedu. Tidak ada sirkulasi
enterohepatik. Kurang dari 5% terdapat di plasma dalam bentuk bebas, dengan
sekitar 60% terikat albumin dan 35% pada SHBG (Sex Hormone Binding
Globulin). Sebagian besar jaringan dapat memetabolisme Noretisteron. Waktu
paruh eliminasi 5-12 jam , rata-rata 7,6 jam. Dengan dosis tunggal, kadar mantap
(steady-state) dicapai dalam 5-10 hari. Sejumlah kecil Noretisteron dapat
melewati air susu, dengan kadar 10-20% dari plasma. Noretisteron terutama
dimetabolisme di hati . Kurang dari 1% diekskresi dalam bentuk utuh. Sekitar
60% diekskresi sebagai metabolit dalam urin dan feses. (3,4)

Gambar 2: Kadar Progestin dalam Serum

- Dosis dan Cara Pemberian (2,3,8)


1. Pengaturan Haid (Timing of menstruation) .
Pemberian 1 tablet 2-3 x sehari dapat memajukan dan menunda haid,
tergantung pada saat kapan dimulai dan diakhirinya pemberian obat.
2. Perdarahan uterus abnormal .
Harus dipastikan bahwa perdarahan tidak disertai dengan adanya
kelainan organik. Pemberian 1 tablet, 3 kali sehari selama 10 hari
dapat menghentikan perdarahan dalam 1-3 hari. Perdarahan
menyerupai haid dapat timbul 2-4 hari setelah penghentian terapi.
Untuk mencegah rekurensi, dianjurkan pemberian tablet profilaksis
selama 3 siklus berikutnya, yaitu 1 tablet 2-3 kali sehari dimulai dari
hari ke19-26 dari siklus (hari pertama siklus = hari pertama dari
perdarahan terakhir). Perdarahan "withdrawal" terjadi beberapa hari
setelah pemberian tablet terakhir.
3. Premenstrual tension .
1 tablet 2-3 kali sehari, mulai hari ke 19-26 siklus haid.
4. Endometriosis
Terapi dimulai pada hari kelima dari siklus dengan 1 tablet 2 kali
sehari, ditingkatkan menjadi 2 tablet 2 kali sehari bila ada perdarahan
(spotting). Bila perdarahan berhenti, dapat diberikan lagi sesuai dosis
awal. Jangka waktu terapi paling kurang 4-6 bulan. Selama terapi
tidak terjadi ovulasi dan haid. Perdarahan putus obat akan terjadi
setelah penghentian terapi.

- Kontraindikasi (2,5)
Kehamilan, riwayat herpes gestasionis, riwayat kolestasis atau
ikterik, pruritus selama kehamilan, gangguan fungsi hati berat atau
sindroma Dubin-Johnson dan Rotor, perdarahan abnormal vagina yang
tidak terdiagnosa, amenore akibat gonadotropin pituitari, dan hirsutisme.
Sebelum memulai terapi, pastikan tidak ada kehamilan. Tidak
dianjurkan pada wanita hamil dan menyusui. Hentikan terapi jika terjadi
gangguan pendengaran atau penglihatan, muncul tanda-tanda
tromboembolik ataupun tanda-tanda depresi.

- Efek Samping (3,10)


Perdarahan (spotting), amenore, edema, alergi. Kadang-kadang
timbul mual. Gangguan fungsi hati, penyakit kuning, eksaserbasi epilepsi
dan migren, jerawat, urtikaria, retensi urin, gangguan saluran cerna.
Perubahan libido, rasa tidak nyaman pada payudara, gejala pra-haid, siklus
haid tidak teratur, mual, insomnia, alopesia, hirsutisme, depresi dan
somnolen. Kehamilan, gangguan fungsi hati yang parah, riwayat sakit
kuning, gatal seluruh tubuh selama hamil.
Pemberian noretisteron perlu diperhatikan pada kondisi berikut ini:
 Diabetes, hipertensi, gangguan fungsi jantung dan ginjal.
 Keluhan abdominal bagian atas.
 Sakit kepala hebat, migren, gangguan pencernaan, sakit bernafas, batuk
tanpa sebab, peundaan operasi (6 minggu sebelumnya), immobilisasi,
sakit kuning, kenaikan tekanan darah.

- Interaksi Obat
Interaksi obat yang menimbulkan peningkatan klirens hormon seks
dapat menimbulkan penurunan efikasi terapetik, hal ini berlaku terhadap
berbagai obat yang menginduksi enzim hepar (termasuk fenitoin,
barbiturat, pirimidon, karbamazepin, dan rifampisin), griseofulvin,
okskarbamazepin dan rifabutin juga diduga memiliki pengaruh yang sama.
(3,10)

Penggunaan progestogen dapat mempengaruhi hasil dari beberapa


tes laboratorium, termasuk parameter biokimia dari hati, tiroid, fungsi
adrenal dan ginjal, tingkat plasma dari protein pembawa, seperti globulin
pengikat kortikosteroid dan fraksi lipid/lipoprotein, parameter dari
metabolisme karbohidrat dan parameter koagulasi dan fibrinolisis.
Perubahan biasanya tetap dalam batasan normal laboratorium. (3,10,12)

II. Medroksiprogesteron Asetat

Gambar 3 : Medroxyprogesterone Acetate (Progevera®)

MPA mencegah proliferasi endometrium yang diinduksi estrogen. Secara


umum, dosis harian 5-10 mg sudah cukup untuk pencegahan hiperplasia
endometrium pada wanita pascamenopause, sementara 2,5 mg MPA terbukti
protektif selama HRT kombinasi jangka panjang. (2,3,10)

III. Linestrenol

Gambar 4 : Lynesterol (Endometril®)


Lynestrenol adalah progestin sintetik untuk kontrasepsi oral. Ini memiliki
beberapa sifat progesteron endogen dan efek gestagen ditandai pada endometrium.
Lynestrenol dipasarkan dengan nama merek; Exlutena, Exluton, Orgametril,
Endometril. Lynestrenol memiliki efek androgenik ringan. Penggunaan
Lynestrenol diindikasikan dalam kasus jika diperlukan untuk menginduksi efek
progestogenic kuat. (3,10)
Lynestrenol menekan ovulasi dan pembentukan korpus luteum, dapat
menunda timbulnya menstruasi mengalami asupan harian tanpa gangguan. Efek
kontrasepsi dari Lynestrenol didasarkan terutama pada pengaruh pada lendir leher
rahim (viskositas meningkat dan permeabilitas menurun lendir serviks),
perubahan simultan di endometrium menghambat implantasi telur yang dibuahi.
Lynestrenol memiliki efisiensi tinggi (Pearl Index dengan dosis yang tepat adalah
0,4). Risiko kehamilan ektopik sangat rendah. (3,7,10)

IV. Nomegestrol Acetate


Gambar 5 : Nomegestrol acetate (Lutenyl®)

Efek nomegestrol asetat memperlihatkan aktivitas antiandrogenik.


Dibutuhkan dosis 5 mg untuk mencapai proliferasi endometrium. Setelah
pemberian oral 5 mg kadar serum nomogestrel asetat dapat mencapai puncaknya
dalam 4 jam kurang lebih 8 ng/ml. (3,7,10,13)

V. Didrogesteron

Gambar 6 : Dydrogesteron (Duphaston®)

Merupakan pil progestin yang aktif. Tidak memiliki sifat antiandrogenik.


Pemberian oral 10-20 mg setiap hari sudah cukup menyebabkan pertumbuhan
sekresi proliferasi endometrium. Waktu paruhnya berkisar 5-7 jam dan setelah 24
jam hampir 85% dari dosis telah diekskresikan. (2,3)

Pada penggunaan sedian tablet progestogen sering ditemukan adanya


perdarahan bercak (spotting). Pada umumnya kebanyakan wanita beranggapan
bahwa spotting termasuk merupakan darah menstruasi.
Adanya spotting sebenarnya merupakan akibat pemberian hormon progestogen itu
sendiri. Bila perdarah bercak masih terjadi dan dianggap mengganggu dapat
diberikan tablet progestogen tambahan. Bila bercak tersebut berhenti, maka
hentikan penambahan tablet. Namun bila dengan penambahan tablet progesteron
tidak berhasil menghentikan perdarahan bercak, maka jangan diteruskan lagi
pemberian tambahan tablet tersebut. (2,3,10)
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama penggunaan terapi
progesteron sebagai penunda haid : (7)
1. Apabila akseptor mengalami sakit kepada mendadak, maka hentikan segera
penggunaan tablet progestogen.
2. Wanita yang memiliki riwayat kejiwaan seperti depresi harus mendapatkan
perhatian khusus. Tablet progestogen harus segera dihentikan bila depresi
timbul kembali.
3. Wanita dengan riwayat diabetes mellitus perlu diawasi secara teliti.
4. Penambahan berat badan mungkin terkait dengan penggunaan progestogen.
5. Wanita dengan riwayat penyakit ginjal dan epilepsi memerlukan perhatian
khusus dan ketat.

2.4 Obat Pil Kombinasi sebagai Pengatur Haid


Penundaan haid dapat dilakukan dengan pemberian pil kontrasepsi
kombinasi (PKK) hormon estrogen dan progestin. Bila pil kontrasepsi kombinasi
yang diberikan mengandung tablet plasebo, maka tidak perlu diminum. Pil
kontrasepsi kombinasi dikonsumsi mulai hari ke-5 siklus haid sampai ibadah
selesai. Pil kontrasepsi kombinasi juga dapat diberikan mulai 14 hari sebelum
perkiraan haid yang akan datang dan dilanjutkan sampai ibadah selesai. Bila
seorang wanita ingin memajukan haidnya 6 hari lebih awal dari haid yang akan
datang, maka PKK diberikan antara hari ke-5 sampai hari ke-19 siklus haid.
Dibutuhkan 2-3 keping PKK selama ibadah haji. (2,6)
Penggunaan PKK untuk pengaturan haid sangat sedikit menimbulkan
perdarahan bercak. Beberapa kontraindikasi pemberian PKK antara lain riwayat
tromboflebitis/tromboemboli, varises berat, kanker payudara, perdarahan yang
belum diketahui dengan jelas penyebabnya, penyakit hati berat riwayat penyakit
kuning dalam kehamilan, riwayat preeklampsia berat, penyakit kardiovaskular,
penyakit diabetes melitus yang disertai dengan komplikasi, hipertensi berat,
sedang menggunakan obat anti tuberkulosis maupun hipoglikemik oral. Adapun
efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri
payudara. Untuk mengurangi kemungkinan efek samping dipilih PKK yang
mengandung estrogen dosis rendah dan progestin yang memiliki efek anti
mineralokortikoid dan antiandrogenik. (2,6,10)
Tabel 2: Jenis Pil Kontrasepsi Kombinasi dalam Pengaturan Haid (2)
Jenis-jenis PKK Dosis Nama
/hari dagang
Levonorgestrel 15 mcg, Etinilestradiol 75mcg 1 x 1 Microgynon
tablet
Siproteron Asetat 2 mg, Etinilestradiol 30 1x1 Diane 35
mcg tablet
Desogestrel 150 mcg , Etinilestradiol 30 mcg 1 x 1 Mercilon
tablet
Drospirenon 3mg, Etinilestradiol 30 mcg 1x1 Yasmin
tablet

Gambar 7 : Pil kontasepsi kombinasi


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Haji merupakan ibadah wajib bagi yang mampu pada usia setelah baligh
(reproduksi). Bagi wanita usia reproduktif, haid dapat menjadi penghalang dalam
mengerjakan rangkaian ibadah haji dan umrah. Kegiatan dalam ibadah haji dan
umrah adalah ibadah yang tidak boleh dilakukan di saat haid, yaitu: thawaf,
sholat, membaca Al Quran, puasa dan berdiam diri di masjid. Sedangkan ibadah
yang boleh dalam keadaan haid yaitu: wukuf, sa’i, mabit di Mina, melontar
jamarat dan tahallul. Penggunaan dalam pengaturan haid dapat dilakukan dengan
cara menunda haid atau memajukan haid. Sehingga diperlukan konseling kepada
calon jemaah haji wanita metode mana yang ingin dilakukan dan pada saat kapan
kedatangan haid tidak diinginkan. Sehingga dapat ditentukan metode yang sesuai.
(1,2,6)

Perlunya pemahaman mengenai perbedaan darah haid dan istihadah dan


menjelaskan kepada calon jemaah haji wanita agar tidak timbul keraguan. Fatwa
Majelis Ulama Indonesia tanggal 12 Januari 1979 menyebutkan bahwa
penggunaan obat anti haid untuk kesempurnaan ibadah haji hukumnya adalah
mubah. (1)

Pemakaian obat-obat hormonal seperti progestogen akan mempengaruhi


sistem endokrin wanita, untuk itu perlu pemahaman tentang siklus haid, preparat
yang digunakan, cara pemberian, efek samping yang ditimbulkan serta kontra
indikasi pemakaian. (1,2,10)
DAFTAR PUSTAKA

1. Itr N. Tuntas Memahami Haji dan Umrah. Jakarta: PT Serambi Semesta


Distribusi; 2017. p. 21-52; 219-226.
2. Asrarto NW, Djuwantono D, Tjahyadi D. Menunda Haid dan Mengatasi
Masalahnya Ketika Beribadah Haji dan Umrah. Step by Step Penanganan
Kelainan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas dalam Praktik Sehari-hari.
Jakarta: CV Sagung Seto; 2012.
3. Speroff L. A Clinical Guide For Contraception. Fifth Edit. Philadelphia:
Wolters Kluwer; 2011.
4. Dandehbor W, Kazemi M, Shahrbabaki MHS, Ghorashi Z, Sadrmohammadi
R, Bozorg B, et al. Menstrual Suppression Using Oral Contraceptives by
Female Hajj Pilgrims. Int J Travel Med Glob Heal. 2016;4(4):111–4.
5. Miller L, Hughes JP. Continuous combination oral contraceptive pills to
eliminate withdrawal bleeding: a randomized trial. PubMed.
2003;101(4):653–61.
6. Saman RR. Kesehatan Penerbangan dalam Ibadah Haji. Jakarta: Badan
Penerbit FK UI; 2011.
7. Carp HJA. Progestogens in Obstetrics and Gynecology. Italy: Springer; 2015.
8. Sulak PJ, Kuehl TJ, Ortiz MO, Shull BL. Acceptance of altering the standard
21-day/7-day oral contraceptive regimen to delay menses and reduce
hormone withdrawal symptoms. Am J Obstet Gynecol. 2002;186(6):1142–9.
9. Strauss JF, Barbieri RL. Yen & Jaffe’s Reproductive Endocrinology
Physiology, Pathophysiology, and Clinical Management. Eight. Philadelphia:
Elseiver; 2019.
10. Kuhl H. Pharmacology of estrogens and progestogens : influence of different
routes of administration. CLIMACTERIC. 2005;8(Suppl 1):3–63.
11. Fritz MA, Speroff L. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility.
Eight. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2011.
12. Carp HJA. Progestogens in Obstetrics and Gynecology.
13. WHO. Family Planny A Global Handbook For Providers. World Health
Organization and Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health/Center
for Communication Programs; 2011.