Anda di halaman 1dari 18

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PASCA PANEN
(Destilasi)

Oleh:
Nama : Thristyanta
NPM : 240110150075
Hari, Tanggal Praktikum : Jumat, 18 Mei 2018
Waktu/Shift : 07.30 WIB/ B1
Co.Ass : 1. Ima Renicha
2. Sita Halimatus Sa’diyah
3. Zahrah Eza Arpima
4. Zulfaa Irbah Zain

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemisahan komponen yang memiliki sifat fisik atau kimiawi merupakan salah
satu proses yang sering dijumpai pada proses teknik kimia selain pencampuran,
evaporasi dll. Distilasi atau dikenal juga penyulingan bertujuanuntuk meningkatkan
konsentrasi atau kemurnian satu atau lebih komponen yang biasanya produknya
memiliki titik didih lebih rendah (produk atas). Sedangkan yang memiliki titik didih
lebih tinggi akan diperoleh pada produk bawah dan jika lebih dari dua komponen
akan merupakan residu.
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Dimana zat yang mempunyai titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu,kemudian uap tadi akan mengalami
proses pendinginan pada kondensor. Di dalam kondensor akan terjadi proses
perubahan fasa, uap akan berubah menjadi fasa cair yang akan mengalir keluar
sebagai distilat. Titik didih air murni adalah 100 ºC
Pada proses destilasi terjadi perubahan wujud dari cair ke uap hasil pemanasan
berdasarkan titik didihnya. Kemudian uap tersebut di dinginkan dan terjadi proses
pengembunan sehingga memperoleh cairan murni (destilat). Metode ini merupakan
termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan
menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult
dan Hukum Dalton.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum kali ini adalah:
1.2.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Mahasiswa dapat mempelajari proses destilasi secara umum dalam Teknik
Pertanian.
1.2.2 Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Adapun Tujuan Intruksional Khusus yaitu:
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara melakukan pemisahan 2 jenis bahan atau
lebih yang mempunyai titik didih berbeda dengan cara destilasi.
2. Mahasiswa dapat melakukan destilasi terfraksi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Destilasi
Destilasi adalah suatu proses pemurnian untuk senyawa cair, yaitu suatu
proses yang didahului dengan penguapan senyawa cair dengan memanaskannya,
lalu mengembunkan uap yang terbentuk yang akan ditampung dalam wadah yang
terpisah untuk mendapatkan destilat(Underwood, 1983). Proses yang terjadi pada
destilasi adalah perubahan fase cair menjadi fase uap atau gas dengan pendidihan
dan kondensasi pengembun, tetapi destilasi bukan merupakan dua urutan proses
penguapan kondensasi. Tekanan uap selalu bertambah dengan kenaikan
suhu(Khopkar, 2003)
Destilasi merupakan metode pemisahan dan pemurnian dari cairan yang mudah
menguap yang penting. Prosesnya meliputi penguapan cairan tersebut dengan cara
memanaskan, dilanjutkan dengan kondensasi uapnya menjadi cairan, disebut
dengan destilat. Terdapat berbagai macam cara destilasi, yaitu destilasi sederhana,
destilasi fraksi, destilasi tekanan rendah, destilasi uap air, dan microscale destilasi.
Dalam prakteknya pemilihan prosedur destilasi tergantung pada sifat cairan yang
akan dimurnikan dan sifat pengotor yang ada di dalamnya (Komariah,2015).

2.2 Macam-macam Teknik Destilasi


2.2.1 Destilasi Sederhana
Tekanan uap suatu cairan akan meningkat seiring dengan bertambanya
temperatur, dan titik dimana tekan uap sama dengan tekanan eksternal cairan
disebut sebagai titk didih. Proses pemisahan campuran cairan biner A dan B
menggunakan distilasi dapat dijelaskan dengan hukum Dalton dan Raoult. Menurut
hukum Dalton, tekanan gas total suatu campuran biner, atau tekanan uap suatu
cairan (P), adalah jumlah tekanan parsial dari masing-masing komponen A dan B
(PA dan PB)
P = PA + PB (1)
Hukum Raoult menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan tertentu, tekanan
parsial uap komponen A (PA) dalam campuran sama dengan hasil kali antara
tekanan uap komponen murni A (PAmurni) dan fraksi molnya XA
PA = PAmurni . XA (2)
Sedang tekanan uap totalnya adalah
Ptot = PAmurni . XA + PBmurni . XB (3)
Dari persamaan tersebut di atas diketahui bahwa tekanan uap total suatu campuran
cairan biner tergantung pada tekanan uap komponen murni dan fraksi molnya dalam
campuran (Treybal, 1995)
Hukum Dalton dan Raoult merupakan pernyataan matematis yang dapat
menggambarkan apa yang terjadi selama distilasi, yaitu menggambarkan perubahan
komposisi dan tekanan pada cairan yang mendidih selama proses distilasi. Uap
yang dihasilkan selama mendidih akan memiliki komposisi yang berbeda dari
komposisi cairan itu sendiri. Komposisi uap komponen yang memiliki titik didih
lebih rendah akan lebih banyak (fraksi mol dan tekanan uapnya lebih besar).
Komposisi uap dan cairan terhadap suhu tersebut dapat digambarkan dalam suatu
grafik diagram fasa berikut ini.

Gambar 1. Grafik fasa


Jika uap dipindahkan dari campuran cairan, maka pada suatu waktu tertentu,
komposisi campuran cairan akan berubah. Fraksi mol cairan yang memiliki titik
didih lebih tinggi akan meningkat di dalam campuran. Karena komposisi campuran
cairan berubah, maka titik didih akan berubah. Biasanya yang diukur adalah suhu
uap. Plot berbagai jenis kurva pemanasan ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Gambar 2. Grafik Kurva Pemanasan


Untuk memperoleh distilasi sederhana yang efektif diperlukan suatu kurva
seperti lurva C. Kita akan mengamati suhu uap yang konstan, sangat dekat dengan
titik didih cairan yang memiliki titik didih lebih rendah. Jika suhu uap mulai naik
dengan cepat, maka kita dapat menghentikan pengumpulan distilat. Pada
prakteknya, kebanyakan campuran sukar untuk dimurnikan melalui satu distilasi
sederhana. (Treybal,1995)

Gambar 3. Distilasi sederhana

2.2.2 Destilasi Fraksi


Distilasi sederhana yang dilakukan hanya sekali biasanya tidak akan dapat
memisahkan dua cairan secara sempurna. Cairan yang berasal dari uap
terkondensasi (distilat) akan mengandung komponen dengan titik didih lebih
rendah dengan proporsi yang lebih besar, akan tetapi masih mengandung komponen
yang memiliki titik didih lebih tinggi di dalamnya.
Jika distilat ini kita distilasi sekali lagi, maka komponen dengan titik didih
rendah akan makin banyak pada distilatnya. Demikian seterusmnya, hingga kita
bisa mendapatkan distilat yang hampir 100% mengandung komponen dengan titik
didih lebih rendah. Diagram fasa berikut ini menyatakan perubahan komposisi dari
multipel distilasi ini

Gambar 4. Grafik Perubahan komposisi


Melakukan multipel distilasi memerlukan banyak waktu dan kita akan
kehilangan banyak sampel karena cairan yang tertinggal di dalam labu. Untuk itu
kita dapat menggunakan alat yang disebut dengan kolom fraksi yang berfungsi
untuk meningkatkan efek multipel distilasi ini. Prosesnya disebut sebagai distilasi
fraksi. Fungsi kolom fraksi ditunjukkan pada diagram di bawah ini,
Saat uap mencapai kolom, uap tersebut akan mengalami kondensasi dan
membentuk cairan. Cairan tersebut memiliki komposisi sama dengan uap darimana
dia berasal dan diperkaya dengan cairan dengan titik didih rendah. Cairan
terkondensasi tersebut akan ditahan pada kolom dan menetes secara pelahan-lahan.
Uap campuran akan terus terbentuk dan bergerak ke arah bagian atas
kolom. Ketika uap tersebut bertemu dengan tetesan cairan, maka uap akan
terkondensasi dan mentransfer energi panasnya pada cairan. Energi panas ini dapat
menyebabkan tetesan cairan mendidih, membentuk uap baru. Uap yang baru
terbentuk ini akan makin banyak pada cairan bertitik didih rendah dibanding uap
pada bagian awal. Uap baru ini akan bergerak ke atas dan berkondensasi lagi. Proses
ini berulang sehingga uap/cairan mengalir pada kolom fraksi. Uap cairan yang
keluar pada bagian atas kolom sebagain besar mengandung cairan dengan titik didih
rendah, kadang-kadang sampai 100%, tergantung panjang kolom. Uap ini
berkondensasi dan ditampung (Treybal,1995).

Gambar 5. Distilasi Fraksi

Gambar 6. Distilasi uap


2.3 Prinsip dan Proses Kerja Destilasi
Adapun prinsip destilasi yaitu :”Jika suatu zat dalam larutan tidak sama-sama
menguap, maka uap larutan akan memiliki komponen yang berbesa dengan larutan
aslinya”. Apabila salah satu zat menguap maka pemisahannya akan terjadi
sempurna. Namun apabila kedua zat tersebut menguap maka pemisahannya akan
hanya terjadi sebagian namun destilat atau produk akan menjadi kaya dapa suatu
komponen daripada larutan aslinya.
Penguapan dan destilasi umumnya merupakan proses pemisahan satu tahap.
Proses ini dapat dilakukan secara tak kontinu atau kontinu, pada tekanan normal
ataupun vakum. Pada destilasi sederhana, yang paling sering dilakukan adalah
operasi taak kontinu. Dalam hal ini campuran yang akan dipisahkan dimasukkan
kedalam alat penguap dan dididihkan. Pendidihan terus dilangsungkan hingga
sejumlah tertentu komponen yang mudah menguap terpisahkan. Proses pendidihan
erat hubungannya dengan kehadiran udara permukaan. Pendidihan akan terjadi
pada suhu dimana tekanan uap dari larutan sama dengan tekanan udara di
permukaan cairan. (Putra,2014)

2.4 Kondensor
Kondensor adalah salah satu jenis mesin penukar kalor (heat exchanger) yang
berfungsi untuk mengkondensasikan fluida kerja. Pada sistem tenaga uap, fungsi
utama kondensor adalah untuk mengembalikan exhaust steam dari turbin ke fase
cairnya agar dapat dipompakan kembali ke boiler dan digunakan kembali. Selain
itu, kondensor juga berfungsi untuk menciptakan back pressure yang rendah
(vacuum) pada exhaust turbin . Dengan back pressure yang rendah, maka efisiensi
siklus dan kerja turbin akan meningkat.
Kondensor adalah alat untuk mengurangi gas atau uap ke cair. Kondensor yang
digunakan dalam pembangkit listrik untuk menyingkat uap gas buang dari turbin
dan alat pendingin untuk menyingkat uap refrigeran, seperti amonia dan freon.
Industri minyak dan kimia menggunakan kondensator sebagai hidrokarbon dan uap
kimia lainnya. Dalam distilasi, kondensor mengubah uap menjadi cair. Semua
kondensor bekerja dengan menghilangkan panas dari gas atau uap. Dalam beberapa
kasus, gas melewati tabung panjang panas-konduktif logam, seperti tembaga
(biasanya diatur dalam kumparan atau bentuk lainnya), dan memindahkan panas ke
udara sekitarnya. Kondensor industri besar menggunakan air atau cairan lainnya
untuk menghilangkan panas. Kondensor panjang juga mengacu pada perangkat
yang terpasang pada mesin carding dipabrik-pabrik tekstil untuk mengumpulkan
serat ke dalam keliling untuk mesin berputar.
Kondensor adalah sebuah alat yang digunakan untuk membuang kalor ke
lingkungan, sehingga uap refrigeran akan mengembun dan berubah fasa dari uap ke
cair. Sebelum masuk ke kondensor refrigeran berupa uap yang bertemperatur dan
bertekanan tinggi, sedangkan setelah keluar dari kondenser refrigeran berupa cairan
jenuh yang bertemperatur lebih rendah dan bertekanan sama (tinggi) seperti
sebelum masuk ke kondensor (Reza,2016).
BAB III
METODOLOGI PENGAMATAN DAN PENGUKURAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
1. Baskom;
2. Cooler;
3. Destilator;
4. Gelas ukur 250 ml;
5. Gelas ukur 500 ml;
6. Kompor listrik;
7. Labu ukur 500 ml; dan
8. Timbangan

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
1. Air; dan
2. Daun Salam

3.2 Prosedur Percobaan


Prosedur percobaan pada praktikum kali ini adalah:
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan;
2. Memotong daun salam menjadi bagian-bagian yang kecil;
3. Memasukkan daun salam ke dalam labu ukur;
4. Mendidihkan air dan daun salam kering di atas kompor listrik sehingga
membentuk kondensat;
5. Memasang kondensor pada alat destilasi serta alat yang mendukung
destilasi daun salam;
6. Mengukur dan mencatat volume destilat dengan interval 3 menit pada
gelas ukur selama 30 menit;
7. Membuat grafik hubungan waktu terhadap volume destilat.
BAB IV
HASIL PERCOBAAN

4.1 Tabel
Tabel 1. Hasil Pengamatan Terhadap Volume Destilat
Waktu (menit) Volume Destilat (ml)
0 1.2
3 11
6 17.5
9 22.9
12 26.5
15 33.45
18 38,65
21 40.6
24 45.5
27 52
30 56.5

4.2 Perhitungan
Diketahui:
Suhu titik didih = 88 oC
Volume air = 100 ml
Massa bahan = 5 gram
P = 300 watt
Waktu = 30 menit = 1800 detik
Ditanyakan:
Laju Destilat =?
Rendemen =?
Energi yang diperlukan (W) =?
Penyelesaian:
Volume akhir 𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡
 Laju Destilat = waktu 30 menit  Rendemen = x 100%
𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡
56.5 ml 91.5
= 1800 detik = x 100%
105

= 0.031389 ml/s = 87.1428%


 Energi yang diperlukan (W) = P x t
= 300 watt x 3790 detik
= 1137000 joule

4.3 Grafik

Grafik Hubungan Waktu terhadap Volume


destilat
70
60 y = 1.7335x + 5.4341
Volume Destilat (ml)

R² = 0.9876
50
40
30
20
10
0
0 5 10 15 20 25 30 35
Waktu (menit)

Volume Destilat (ml) Linear (Volume Destilat (ml))

Gambar 1. Grafik Hubungan Waktu terhadap Volume Destilat


BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai destilasi. Destilasi


sendiri merupakan metode yang digunakan untuk melakukan pemisahan komponen
dalam larutan yang berdasarkan perbedaan kecepata atau kemudahan menguap
bahan. Dalam destilasi atau yang biasanya dikenal dengan teknik penyulingan
larutan akan dididihkan sehingga menguap, dan uap ini akan didinginkan kembali
sehingga akan kembali berbentuk cairan. Dengan perbedaan titik didih, zat yang
memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini juga
termasuk dalam unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan
menguap pada titik didihnya. Model ini dasari oleh hukum Dalton, dan Raoult.
Destiliasi memiliki tujuan dengan pemurnian zat cair pada titik didihnya, dan
memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang terlarut atau dari zat lainnya yang
mempunyai titik didih murine. Pada destilasi biasa, tekanan uap diatas cairan adalah
tekanan atmosfer.
Pada praktikum destilasi ini alat yang digunakan telah terangkai, sehingga tidak
perlu merangkai alat destilasi lagi. Rangkaian ini terdiri dari labu, kondensor, pipa,
thermometer, adaptor dan steel head. Setelah rangkaian siap digunakan, praktikum
destilasi ini menggunakan daun salam sebagai bahannya. Daun salam dengan berat
5 gr kemudian dicampurkan dengan air 100 ml. Pengamatan dilakukan setelah suhu
uao densilat konstan yang dipanaskan menggunakan daya sebesar 300 watt. Pada
praktikum kali ini suhu titik didihnya adalah 96˚C. Pengamatan dilakukan selama
30 menit dengan setiap 3 menit dilakukan pengukuran volume yang diperoleh.
Bedasarkan data yang diperoleh dari titik 0 hingga 30 ˚C nilai volume terjadi
kenaikan volume. Dengan laju destilasi yang didapat sebesar 0,031389 ml/s dan
besar rendemen yang diperoleh 87,1428%. Sehingga dapat disimpulkan dengan
bahan 5 gr daun salam terkandung minyak 2,369 gr. Dilihat dari nilai regresi yang
diperoleh kenaikan volume destilasi mendekati nilai 1 dengan demikian hasil
volume oleh alat destilasi ini mendekati nilai yang presisi. Dari daya yang
digunakan kita dapat melihat bahwa nilai energy yang diperlukan bedasarkan
perhitungan sebesar 1137000 J. Besarnya penggunaan energy tersebut akan
berpengaruh terhadap laju destilasi volume dan waktu yang digunakan. Semakin
besar daya yang digunakan maka semakin besar juga volume dan laju destilasi
dengan penggunaan waktu yang sama. Sedangakan besarnya rendemen yang
diperoleh akan bergantung pada bahan yang digunakan. Pada praktikum kali ini
diperoleh nilai rendemen yang akan berbanding lurus dengan besarnya bahan yang
digunakan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil praktikum destilasi uap kali ini adalah:
1. Prinsip dasar destilasi secara sederhana adalah perbedaan titik didih dari zat
cair dalamcampuran, zat yang memiliki titik didih rendah akan menguap
terlebih dahulu kemudian akanmengembun dan berbentuk cairan pada akhir
destilasi;
2. Semakin tinggi titik didih makan akan semakin banyak larutan yang diuapkan
dari labu destilator, dan sebaliknya semakin kecil titik didihnya makan akan
sedikuit larutan yang diuapkan;
3. Output dari proses destilasi adalah dihasilkannya larutan yang Murni;
4. Hasil data volume destilat yang diperoleh dari 11 kali percobaan dengan
rentan waktu 3 menit adalah 1,2 ml; 11 ml; 17,5 ml; 22,9 ml; 26,5 ml; 33,45
ml; 38,65 ml; 40,6 ml; 45,5 ml; 52 ml dan 56,5 ml.
5. Hasil data yang diperoleh dari perhitungan didapatkan nilai laju destilat,
rendemen dan energi yang diperlukan masing-masing sebesar 0,031389 ml/s,
87,1428 % dan 1137000 Joule.

6.2 Saran
Saran yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah pada saat praktikum
berlangsung praktikan harus benar-benar memperhatikan prosedur praktikum agar
tidak salah perhitungan untuk perhitungan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Khopkar. 2013. Irigasi Uap terdapat pada http://java-borneo.co.id (Diakses pada


Minggu, 27 Mei 2018 Pukul 17.00 WIB)

Komariah. Dkk. 2015. TINJAUAN TEORITIS PERANCANGAN KOLOM


DISTILASI UNTUK PRA-RENCANA PABRIK SKALA INDUSTRI. Terdapat
pada http://www.pelajaran.co.id/2017/04/pengertian-destilasi-prinsip-kerja-
tujuan-jenis-dan-contoh-destilasi.html (diakses pada Senin,28 Mei 2018 pukul
06.00 WIB)

Treybal, R.E. 1995. Mass Transfer Operations, 3rd Edition. Rhode Island:
McGraw-Hill Book Co.

Underwood, J.M. Richardson, Sinnot, R.K. 1983. Chemical Engineering Volume 6


(SI Units) Design. Oxford: Pergamon Press.

Putra, 2014. Pengertian Destilasi terdapat pada http://eprints.polsri.ac.id (Diakses


pada Selasa, 22 Mei 2018 Pukul 16.50 WIB)

Reza, Syarif. 2016. Kondensor dan Prinsip Kerjanya. Terdapat pada: http://
prosesindustri.com (Diakses pada 22 Mei 2018 pukul 23.13 WIB).
LAMPIRAN
Dokumentasi Praktikum

Gambar 2. Proses Destilasi

Gambar 3. Daun Salam sebagai bahan yang digunakan sedang didihkan

Gambar 4. Hasil Destilasi (Destilat)

Anda mungkin juga menyukai