Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ACUTE LIMB ISCHEMIA (ALI)+HEPARINISASI


DI RUANG CVCU RSUD dr.SAIFUL ANWAR MALANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Departemen Medikal

HANIK PURNOMOWATI
NIM. 180070300111037
Kelompok 3B

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


BRAWIJAYA
Jl. Veteran Malang – 65145, JawaTimur –

Indonesia Telp. (62) (0341) 551611 – Fax.

(62) (0341) 564755

http://fk.ub.ac.id/

LEMBAR PENGESAHAN

LP (Laporan Pendahuluan) dan ASKEP (Asuhan Keperawatan) Acute Limb

Ischemia (ALI)+Heparinisasi ini dibuat dalam rangka PRAKTIK DEPARTEMEN

MEDIKAL mahasiswa Pendidikan Profesi Ners Universitas Brawijaya Malang di Ruang

cvcu Rumah Sakit Daerah dr. Saiful Anwar Malang

Malang,

Mahasiswa

……...…………………………

NIM.

Mengetahui,

Pembimbing Institusi, Pembimbing Lahan,

…………………………………...... …………………………………….

NIP. NIP.
Acute Limb Iskemic ( ALI )

A. Pengertian Acute Limb Ischemic (ALI)


Menurut Inter-Society 2007, Konsensus Pengelolaan Penyakit Arteri
Peripheral (TASC II), Acute Limb Ischemic (ALI) di definisikan sebagai
penurunan perfusi tiba-tiba anggota tubuh yang menyebabkan ancaman
potensial terhadap viabilitas ekstremitas (dimanifestasikan dengan nyeri
istirahat iskemik, ulkus iskemik, dan atau gangren) pada pasien yang hadir
dalam waktu dua minggu dari peristiwa akut. Pasien dengan manifestasi
yang sama yang hadir lebih dari dua minggu dianggap memiliki iskemia
tungkai kritis.
Acute Limb Ischemic (ALI) merupakan suatu kondisi dimana terjadi
penurunan aliran darah ke ekstremitas secara tiba-tiba yang menyebabkan
gangguan pada kemampuan pergerakkan, rasa nyeri atau tanda-tanda
iskemik berat dalam jangka waktu dua minggu (Vasculer Desease A
Handbook, 2005).

B. Etiologi ALI
Ada beberapa kemungkinan penyebab ALI, berdasarkan keterangan dari
berbagai sumber pustaka diantaranya :
1. Trombosis
Faktor predisposisi terjadinya adalah dehidrasi, hipotensi, malignan,
polisitemia, ataupun status prototrombik inheritan, trauma vaskuler,
injuri Iatrogenik,trombosis pasca pemasangan bypass graft, trauma
vaskuler. Gambaran klinis terjadinya trombosis adalah riwayat nyeri
hilang timbul sebelumnya, tidak ada sumber terjadinya emboli dan
menurunnya (tidak ada) nadi perifer pada tungkai bagian distal.
2. Emboli
Sekitar 80% emboli timbul dari atrium kiri, akibat atrial fibrilasi atau
miokard infark. Kasus lainnya yang juga berakibat timbulnya emboli
adalah katup prostetik, vegetasi katup akibat peradangan pada
endokardium, paradoksikal emboli (pada kasus DVT) dan atrial
myxoma. Aneurisma aorta merupakan penyebab dari sekitar 10%
keseluruhan kasus yang ada, terjadi pada pembuluh darah yang sehat.
C. Klasifikasi ALI
Ad hoc committee of the Society for Vascular Surgery and the North
American Chapter of the International Society for Cardiovasculer Surgery
menciptakan suatu klasifikasi untuk oklusi arterial akut. Dikenal tiga kelas
yaitu :
1. Kelas I: Non-threatened extremity; revaskularisasi elektif dapat
diperlukan atau tidak diperlukan.
2. Kelas II : Threatened extremity; revaskularisasi diindikasikan
untuk melindungi jaringan dari kerusakan.
3. Kelas III : Iskemia telah berkembang menjadi infark dan
penyelamatan ekstremitas tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan.
Berdasarkan Rutherfort klasifikasi akut Limb Iskemik dapat dikategorikan
sebagai berikut :
1. Kelas I
Perfusi jaringan masih cukup, walaupun terdapat penyempitan arteri,
tidak ada kehilangan sensasi motorik dan sensorik, masih dapat
ditangani dengan obat-obatan pada pemeriksaan doppler signal
audible.
2. Kelas II-a
Perfusi jaringan tidak memadai pada aktifitas tertentu. Timbul
klaudikasio intermiten yaitu nyeri pada otot ekstremitas bawah ketika
berjalan dan memaksakan berhenti berjalan, nyeri hilang jika pasien
istirahat dan sudah mulai ada kehilangan sensorik. Harus dilakukan
pemeriksaan angiografi segera untuk mengetahui lokasi oklusi dan
penyebab oklusi.
3. Kelas II-b
Perfusi jaringan tidak memadai, ada kelemahan otot ekstremitas dan
kehilangan sensasi pada ekstremitas. Harus dilakukan intervensi
selanjutnya seperti revaskularisasi atau embolektomi.
4. Kelas III
Telah terjadi iskemia berat yang mengakibatkan nekrosis, kerusakan
syaraf yang permanen, irreversible, kelemahan ekstremitas
,kehilangan sensasi sensorik,kelainan kulit atau gangguan
penyembuhan lesi kulit. Intervensi tindakan yang dilakukan yaitu
amputasi.
Dalam sumber pustaka lain Acute Limb Ischemic (ALI) juga dapat
diklasifikasikan berdasarkan terminologi, yaitu :
1. Onset
a. Acute : kurang dari 14 hari
b. Acute on cronic : perburukan tanda dan gejala kurang dari
14 hari
c. Cronic iskemic stable : lebih dari 14 hari
2. Severity
a. Incomplete : tidak dapat ditangani
b. Complete : dapat ditangani
c. Irreversible : tidak dapat kembali ke kondisi normal

D. Manifestasi ALI
Secara umum manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada kasus ALI
merupakan tanda dan gejala yang sangat khas dengan sebutan istilah “6P”
yang terdiri dari:
1. Pain (nyeri)
2. Parasthesia (tidak mampu merasakan sentuhan pada ekstremitas),
3. Paralysis (kehilangan sensasi motorik pada ekstremitas),
4. Pallor (pucat),
5. Pulseless (menurunnya/tidak adanya denyut nadi),
6. Perishingly cold /Poikilothermia (dingin pada ekstremitas).
Adapun manifestasi klinik pada ALI yang dikatagorikan berdasarkan
penyebabnya terdiri dari :
1. Trombus
Terjadi dalam beberapa jam sampai berhari hari, ada klaudikasio, ada
riwayat aterosklerotik kronik, ekstremitas yang terkena tampak
sianotik dan lebam, pulsasi pada kolateral ekstremitas tidak ada, dapat
terdiagnosa dengan angiografi dan dilakukan tindakan bypass atau
pemberian obat - obatan seperti fibrinolitik
2. Embolus
Tanda dan gejala muncul secara tiba - tiba dalam beberapa menit,
tidak terdapat klaudikasio ada riwayat atrial fibrilasi, ekstremitas yang
terkena tampak kekuningan

E. Patofisiologi
Berdasarkan beberapa sumber pustaka, penulis dapat mengambil
kesimpulan mengenai patofisiologi ALI. Pada dasarnya, trombus yang
mengalami penyumbatan pada arteri dalam kasus ALI ini, merupakan
salah satu bentuk patogenesis yang kemungkinan ditimbulkan oleh
beberapa faktor resiko dan faktor predisposisi yang cukup komleks, seperti
usia, gaya hidup tidak sehat (merokok, tidak pernah olahraga dan pola
makan tinggi kolesterol) dapat meningkatkan resiko terjadinya ALI,
sedangkan patogenesis yang sifatnya predisposisi seperti penyakit
rheumatoid hearth disease juga dapat menimbulkan ALI.

Pada awalnya tungkai tampak pucat, tetapi setelah 6-12 jam akan terjadi
vasodilatasi yang disebabkan oleh hipoksia dari otot polos vaskular.
Kapiler akan terisi kembali oleh darah teroksigenasi yang stagnan, yang
memunculkan penampakan mottled (yang masih hilang bila ditekan). Bila
tindakan pemulihan aliran darah arteri tidak dikerjakan, kapiler akan
ruptur dan akan menampakkan kulit yang kebiruan yang menunjukkan
iskemia irreversibel. Nyeri terasa hebat dan seringkali resisten terhadap
analgetik. Adanya nyeri pada ekstremitas dan nyeri tekan dengan
penampakan sindrom kompartemen menunjukkan tanda nekrosis otot dan
keadaan kritikal (yang kadangkala irreversibel). Defisit neurologis motor
sensorik seperti paralisis otot dan parastesia mengindikasikan iskemia otot
dan saraf yang masih berpotensi untuk tindakan penyelamatan invasif
(urgent). Tanda-tanda diatas sangat khas untuk kejadian sumbatan arteri
akut yang tanpa disertai kolateral. Bila oklusi akut terjadi pada keadaan
yang sebelumnya telah mengalami sumbatan kronik, maka tanda yang
dihasilkan biasanya lebih ringan oleh karena telah terbentuk kolateral.
Adanya gejala klaudikasio intermiten pada ekstremitas yang sama dapat
menunjukkan pasien telah mengalami oklusi kronik sebelumnya. Keadaan
akut yang menyertai proses kronik umumnya disebabkan trombosis.

Perjalanan ALI yang cukup kompleks ini, dapat menimbulkan beberapa


masalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang menunjukkan suatu
masalah keperawatan yang kompleks pula, diantaranya gangguan perfusi
jaringan, gangguan rasa nyaman nyeri, intoleransi aktivitas, cemas, resiko
tinggi perdarahan dan resiko tinggi cedera serta banyak lagi yang satu
sama lain saling berhubungan dan perlu segera ditangani. Adapun bentuk
skematik patofisologi ALI dapat dilihat pada skema dibawah ini :
F. Diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis mempunyai 2 tujuan utama : menanyakan gejala yang
muncul pada ekstremitas yang berhubungan dengan keparahan dari
iskemia anggota gerak dan mengkaji informasi terdahulu,
menyinggung etiologi, diagnosis banding, dan kehadiran penyakit
yang signifikan secara berbarengan. Pengkajian sebaiknya dilakukan
pada fase pra koroner, pembuluh darah serebral, dan pembuluh darah
sambungan (revaskularisasi). Pengkajian umum yang sebaiknya
dilakukan yaitu mengenai pengkajian riwayat yang jelas mengenai
kemungkinan penyebab dari iskemik pada tungkai, derajat iskemik,
termasuk penjadwalan untuk bedah umum ataupun bedah vascular
bila kondisi memungkinkan.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada ALI yang disebutkan beberapa sumber
pustaka adalah dengan membandingkan masing-masing ekstremitas
dengan area yang terkena ALI, yaitu :
a. Pulsasi
Apakah defisit pulsasi bersifat baru atau lama mungkin sulit
ditentukan pada pasien penyakit arteri perifer (PAD) tanpa
suatu riwayat dari gejala sebelumnya, pulsasi radialis, dorsalis
pedis mungkin normal pada kasus mikro embolisme yang
mengarah pada disrupsi (penghancuran) plak aterosklerotik
atau emboli kolestrol.
b. Lokasi
Tempat yang paling sering terjadinya oklusi emboli arterial
adalah arteri femoralis, namun juga dapat di temukan pada
arteri aksila, poplitea iliaka dan bifurkasio aorta.
Anatomi Arteri Ekstremitas Bawah
c. Warna dan temperatur
Harus dilakukan pemeriksaan terhadap abnormalitas warna dan
temperatur. Warna pucat dapat terlihat, khususnya pada keadaan
awal, namun dengan bertambahnya waktu, sianosis lebih sering
ditemukan. Rasa yang dingin khususnya ekstremitas sebelahnya
tidak demikian, merupakan penemuan yang penting.
d. Kehilangan fungsi sensoris
Pasien dengan kehilangan sensasi sensoris biasanya mengeluh kebas
atau parestesia, namun tidak pada semua kasus. Perlu diketahui pada
pasien DM dapat mempunyai defisit sensoris sebelumnya dimana hal
ini dapat membuat kerancuan dalam membuat hasil pemeriksaan.
e. Kehilangan fungsi motorik
Defisit motorik merupakan indikasi untuk tindakan yang lebih lanjut,
limb-thtreatening ischemia. Bagian ini berhubungan dengan fakta
bahwa pergerakkan pada ekstremitas lebih banyak dipengaruhi oleh
otot proximal.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Berdasarkan beberapa literatur yang dipelajari, salah satunya Price &
Wilson (2006) menjelaskan beberapa prosedur diagnostik yang dilakukan
pada kasus penyakit arteri oklusif atau dalam perkembangannya menjadi
ALI terdiri dari :
1. Preoperative arteriogram (angiografi)
Suatu prosedur menggunakan teknik komputer yang dipakai untuk
memantau sirkulasi darah arteri. Hasil gambaran akan
memperlihatkan bentuk arteri. Dalam pemeriksaanya menggunakan
kontras zat warna radiopaak sehingga arteri tampak lebih jelas.
2. Doppler vaskuler
Studi doppler pada pembuluh darah (vaskuler) menggunakan
ultrasound sebagai medium pemeriksaan. Sonde doppler berisi
kristal piezoelektrik yang memancarkan gelombang ultrasound
dalam frekuensi tertentu. Ketika diletakkan diatas segmen arteri atau
vena, sinarnya mengenai sel darah merah bergantian menyebar balik
atau dipantulkan sesuai arah dan kecepatan pergerakan sel yang
divisualisasikan dengan warna dan gelombang suara untuk
menentukan arteri atau vena

3. MSCT
Prosedur diagnostik ini dalam bidang vaskuler memberikan gambaran
langsung dinding pembuluh darah sehingga dapat dengan jelas
dibedakan antara pembuluh darah yang mengalami oklusi atau tidak
melalui gambaran 2 warna khas pencitraan radiografi (hitam dan
putih).
4. Elektrokardiografi (EKG)
Suatu pencatatan aktivitas listrik jantung yang dapat merekan irama
jantung pada pasien. Prosedur diagnostik ini dilakukan sebagai
prosedur kontrol dalam memantau aktivitas jantung terutama pada
pasien dengan gangguan jantung dan pembuluh darah, salah satunya
ALI yang mana penyebab awal ALI adalah trombus yang lepas yang
diakibatkan oleh riwayat penyakit infeksi jantung salah satunya
rheumatoid heart diseases sehingga terjadi gangguan katup terutama
mitral yang memicu timbul atrial fibrilasi.
5. Echokardiografi
Merupakan prosedur pemeriksaan menggunakan gelombang
ultrasonik sebagai media pemeriksaan yang dapat memberikan
informasi penting mengenai struktur dan gerakan ruang jantung,
katup dan setiap dinding bagian jantung. Hal ini jelas untuk
memberikan data penunjang terutama pada pasien dengan penyakit
jantung dan pembuluh darah salah satunya ALI sehingga dapat
diperoleh penyebab utama trombus pada ALI ini dapat lepas apakah
dari penyakit jantung atau tidak.
6. Ankle – Brachial Index (ABI)
Merupakan prosedur diagnostik dalam menentukan kemampuan
vaskuler berdasarkan tekanan yang dibandingkan antara brakhialis
(siku) dengan angkle (pergelangan kaki) sehingga diperoleh nilai
(index) tertentu untuk menentukan kualitas gejala pada kasus ALI
H. Penatalaksanaan
1. Kecepatan adalah penanganan yang utama pada pasien dengan Acute
Limb Ischaemia, dalam 6 jam kondisi ini akan menuju kerusakan
jaringan secara menetap, kecuali bila segera di revaskularisasi
2. Akut Limb Iskemik yang disebabkan oleh emboli di lakukan
pengobatan dengan warparin atau embolektomi sedangkan yang
disebabkanoleh trombus angiografi dan dilakukan tindakan bypass
atau pemberian obat-obatan seperti fibrinolitik.
3. Pasien dengan ALI umumnya dalam klinis yang tidak stabil.
Perhatikan saat kritis, saat yang tepat untuk melakukan prosedur
CPR. Berikan oksigen 100%, pasang akses intravena, berikan terapi
cairan dalam dosis minimal (1 liter NaCl untuk 8 jam, kecuali bila
pasien dehidrasi, pemberian sebaiknya sedikit lebih cepat). Ambil
sampel laboratorium untuk pemeriksaan hitung jenis sel, ureum,
kreatinin, elektrolit, GDS (bila disertai dengan DM), enzim jantung,
bekuan darah dan proses pembekuan, dan penanganannya. Bila
memungkinkan pemeriksaan trombofilia, dan profil lipid juga
dibutuhkan.
4. Lakukan foto thoraks dan rekam irama jantung. Dan jika ditemukan
pasien dalam kondisi aritmia, segera bantu dengan monitor fungsi
kerja jantung. Lakukan pemasangan kateter urin jika pasien dalam
kondisi dehidrasi dan perlu untuk dimonitor nilai keseimbangan
cairannya. Kolabarasi pemberian opium untuk anastesi jika keluhan
nyeri hebat ada
5. Terapi :
a. Preoperative antikoagulan dengan IV heparin
b. Resusitasi cairan, koreksi asidosis sistemik, inotropik support
c. Terapi pembedahan diindikasikan untuk iskemia yang
mengancam ekstremitas
d. Thrombolektomi/embolektomi (dapat dilakukan dengan Fogarty
baloon catheter, dimana alat tersebut dimasukkan melewati sisi
oklusi, dipompa, dan dicabut sehingga membawa
trombus/embolus bersamanya). Trombolektomi juga dapat
dilakukan distal dari sisi teroklusi, dimana hampir 1/3 penderita
dengan oklusi arteri mempunyai oklusi di tempat lain,
kebanyakan trombus distal. Adapun manual trombosuction
secara prosedural sama dengan angiojet namun tidak
menggunakan alat berkecapatan tinggi seperti angiojet saja
perbedaannya.
e. Melindungi vascular bed distal terhadap obstruksi proksimal
merupakan hal yang sangat penting dan dapat dipenuhi oleh
antikoagulan sistemik yang diberikan segera dengan eparin
melalui intravena. Heparinisasi sistemik menawarkan suatu
perlindungan dapat melawan perkembangan trombosis distal dan
biasanya tidak menyebabkan masalah yang bermakna sepanjang
prosedur operasi, beberapa keuntungan pheologic telah di klaim
untuk pemberian larutan hipertonik seperti manitol.
f. Potasium mungkin dilepaskan ketika integritas terganggu oleh
iskemia. Keadaan yang hiperkalemia sering kali menjadi respon
terhadap pemberianterapi glukosa, insulin dan cairan pengganti
ion. Lactic academia dapat diterapi dengan pemberian sodium
bicarbonate secara bijaksana.
g. Terapi utama akut iskemia adalah pembedahan dalam bentuk
embolektomi atau tindakan rekonstruksi pembedahan vaskuler
yang sesuai. Terapi non pembedahan pada iskemia akut dari
episode emboli atau trombolitik dapat dilakukan dengan
streptokinase atau urokinase.
h. Terapi ALI merupakan suatu keadaan yang darurat untuk
meminimalkan penundaan dalam melepaskan oklusi merupakan
hal yang penting, karena resiko kehilangan anggota gerak
meningkat sejalan dengan durasi iskemia akut yang lama. Padas
uatu penelitian angka amputasi ditemukan meningkat terhadap
interval antara onset dari akut limb iskemia dan eksplorasi (6 %
dalam 12 jam, 12 % dalam 13-24 jam, 20 % setelah>24 jam). Hal
inilah yang menyebabkan untuk mengeliminer segala
pemeriksaan yang tidak esensial terhadap kebutuhan intervensi.
i. Preintervensi anti koagulan dengan kadar terapeutik heparin
mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas (bila dibandingkan
dengan tidak menggunakan antikoagulan) dan merupakan bagian
dari keseluruhans trategi terapi pada pasien. Hal ini bukan hanya
membantu mencegah terbentuknya bekuandarah. Namun,pada
kasus embolisme arterial juga amitigasi melawan embolus lain

I. Komplikasi ALI
1. Hiperkalemia
2. Sindrom kompartemen (nyeri saat flexi/extensi, kelemahan otot,tidak
mampu respon terhadap stimulasi sentuhan, pucat, nadi lemah/tidak
teraba). Pembengkakan jaringan dalam kaitannya dengan reperfusi
menyebabkan peningkatan pada tekanan intra compartment ttekanan,
penurunan aliran kapiler, iskemia, dan kematian jaringan otot
(pada>30 mmHg). Penanganannya adalah dengan dilakukannya
fasciotomy. Terapi trombolitik, akan menurunkan risiko compartment
syndrome dengan reperfusi anggota gerak secara berangsur-angsur.
3. Asidosis metabolik
4. Edema ekstremitas
5. Disritmia

J. Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan pada kasus ALI diberikan sebagaimana beberapa
sumber pustaka yang diperoleh yang menjelaskan tentang beberapa
gangguan pembuluh darah, yang penulis simpulkan menjadi uraian
sebagai berikut :
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan mulai dari pengumpulan data mengenai data
umum sampai pemeriksaan fisik sebagaimana dijelaskan pada
penegakkan diagnosis ALI sebelumnya. Teknik yang digunakan
sifatnya variatif mulai dari teknik wawancara, inspeksi, perkusi,
auskultasi dan palsasi untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya
dalam menunjang penegakkan masalah pada kasus ALI.
2. Diagnosa Keperawatan
Dari beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa diagnosa
keperawatan yang dapat ditemukan pada kasus ALI diantaranya :
a. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
penurunan aliran darah
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan
sirkulasi arteri dan oksigenisasi jaringan
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar bd kelemahan anggota
gerak
d. Gangguan mobilitasi fisik b.d Rasa ketakutan nyeri
e. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi
dan program pengobatan
3. Perencanaan Asuhan Keperawatan
Perencanaan asuhan keperawatan pada ALI yang disusun berdarakan
diagnosa keperawatn yang muncul diantaranya :
a. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
aliran darah

1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan perfusi jaringan dapat teratasi.
2) Kriteria hasil:
a) Keluhan baal dapat terkontrol.
b) Akral hangat.
c) Fase pengisian kapiler <2 detik.
d) Vasokonstriksi perifer berkurang.
e) Tekanan darah dalam batas normal 110/70-130/90
mmHg.
f) Frekuensi nadi 60-100 x/menit, nadi teraba kuat.
g) Saturasi oksigen perifer > 90%
3) Intervensi :
a) Kaji tingkat keadequatan perfusi jaringan.
b) Kaji capilari refil time, perhatikan waktu pengisian
kapiler, lihat ada/tidaknya sianosis perifer, tanda
vasokonstriksi jaringan, ukur pertambahan
bengkak, tanda kematian jaringan perifer.
c) Observasi tanda-tanda vital: TD, N, RR, T, Saturasi
O2.
d) Perhatikan tingkat efektifitas terapi yang telah
didapatkan klien.
e) Minimalkan penekanan pada area ekstremitas
(kurangi penekanan akibat pakaian, selimut).
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan
sirkulasi arteri dan oksigenisasi jaringan
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan rasa nyaman nyeri dapat teratasi.
2) Kriteria hasil:
a) Klien mengatakan nyeri berkurang/terkontrol.
b) Ekspresi nyeri berkurang ataupun hilang.
c) Skala nyeri 2-4.
d) Sianosis berkurang.
e) RR 16-20 x/menit
f) Frekuensi nadi 60-100 x/menit, nadi teraba kuat,
3) Intervensi :
a). Kaji skala, frekuensi, intensitas dan penyebab nyeri pada
ekstremitas.
b). Kaji juga pola aktivitas yang masih dapat ditoleransi oleh
klien, serta mekanisme mengatasi nyeri yang dapat
dilakukan klien secara mandiri.
c). Ajarkan/ingatkan klien tehnik relaksasi nafas dalam dan
pengalihan fokus.
d). Berikan kompres hangat, bila diperlukan.
e). Berikan posisi yang nyaman pada klien.
f). Minimalkan penekanan pada area ekstremitas (kurangi
penekanan akibat pakaian, selimut).
g). Monitor tanda-tanda vital, terutama nilai saturasi O2 dan
frekuensi nafas.
h). Minimalkan aktivitas pada khususnya daerah lengan
kanan.
i). Kolaborasi pemberian terapi analgesik, sesuai indikasi

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar bd kelemahan anggota


gerak
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan pemenuhan kebutuhan dasar dapat teratasi.
2) Kriteria hasil:
a). Klien menunjukkan kemandirian dalam kebutuhan
makan, minum dan personal hygiene.
b). Klien tidak bergantung seluruhnya kepada petugas medis
dalam melakukan aktifitas.
c). Klien menunjukkan kemandirian mobilitas dalam
menggunakan tempat tidur.
d). Klien terlibat dalam mobilitas fisik dengan bantuan
minimal.
e). Klien berinisiatif untuk melakukan mobilitas fisik di
tempat tidur
3) Intervensi :
a). Kaji tingkat aktivitas yang dapat di toleransi oleh klien.
b). Motivasi klien untuk memaksimalkan fungsi tubuh yang lain
dengan latihan secara teratur.
c). Monitor alat-alat yang dibutuhkan pasien untuk, perawatan diri,
makan, berpakaian, toileting.
d). Berikan posisi semi fowler.
e). Bantu pasien dalam menerima ketergantungan kebutuhan.
f). Anjurkan pasien untuk menjalakan ADL, untuk melihat tingkat
kemampuan pasien.
g). Anjurkan untuk mandiri, tetapi tetap membantu pasien jika
pasien tidak mampu menjalankan.
h). Ajarkan pada keluarga, untuk memandirikan pasien, dan tetap
membantu jika pasien tidak mampu.
i). Kolaborasi dengan fisioterapy dalam latihan aktivitas.

d. Gangguan mobilitasi fisik b.d Rasa ketakutan nyeri


1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan
mobilitas fisik dapat teratasi.
2) Kriteria hasil :
a). Pasien berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
b). Pasien dapat memenuhi perawatan diri sendiri,
c). Pasien mencapai peningkatan toleransi aktifitas yang dapat
diukur, dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan
kelelahan.
3) Intervensi :
a). Motivasi pasien dalam menggerakkan aggota tubuhnya.
b). Jelaskan akibat dari imobilisasi.
c). Jelaskan manfaat latihan gerak aktif.
d). Ajarkan untuk melakukan rentang gerak aktif pada
anggota gerak yang sehat.
e). Evaluasi tingkat kemampuan pasien dalam
menggerakkan anggota badannya yang sehat.
f). Rubah posisi pasien tiap 2 jam, dan libatkan kemampuan
pasien.
g). Kolaborasi dengan fisioterapi dalam melakukan exercise.

e. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi dan


program pengobatan
1) Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan cemas
klien dapat teratasi
2) Kriteria hasil:
a). Ekpresi wajah menunjukan relax.
b). Pasien mengatakan penurunan ansietas atau perasaan takut.
c). Pasien mengerti dan maampuh menjalani koordinasi dengan
tenaga kesehatan dalam pengobatan.
3) Intervensi:
a). Catat adanya kegelisahan dan adanya rasa ketakutan atau
menyangkal dalam mengikuti program medik.
b). Orientasikan dan informasikan tentang semua prosedur
yang akan dilakukan terhadap pasien.
c). Informasikan dan jelaskan tentang kondisi dan prognosis
pasien dengan berkolaborasi.
HEPARINISASI

A. Definisi
Heparin adalah asam mucoplysaccharide atau glycosaminoglycans (GAGs)
yang terdiri dari residu asam glukuronat dan glukosamin yang di esterifikasi
dengan asam sulfat yang banyak digunakan sebagai antikoagulan injeksi, yang
mempunyai kepadatan muatan negatif yang tertinggi diantara semua molekul
biologis. Arti kata heparin berasal dari kata hepar yang artinya hati.
Heparin berasal dari banyak sel-sel hewan dan dalam tubuh manusia dengan
konsentrasi terbesar dalam jaringan sekitar kapiler paru-paru dan hati dan paling
sedikit dalam rangka otot, limpa, dan otot jantung.

B. Mekanisme kerja heparin


Cara kerja heparin dengan meningkatkan pelepasan protein spesifik, seperti
tissue plasminogen activator dan tissue factor pathway inhibitor( TFPI ), ke dalam
darah untuk menghambat pembekuan darah. Hal ini juga dapat meningkatkan
aktifitas dari protein. Heparin menambah aktifitas antitrombin III, senyawa alami
yang menghambat aktifitas factor pembekuan. selanjutnya heparin juga
menghambat zat yang dapat menyebabkan angiogenesis ( pembentukan pembuluh
darah baru ), termasuk factor pertumbuhan endotel vascular, factor jaringan, dan
plateletactivating faktor.

C. Prosedur Heparinisasi
1. Heparinisasi Kontinyu
Diberikan untuk pasien stabil tanpa risiko perdarahan
a. Berikan dosis awal secara bolus 2000 unit dengan cara: setelah sirkulasi
dalam, masukkan heparin ke dalam sirkulasi ekstrakorporeal melalui
arterial blood line selama 3 – 5 menit dengan Qb 100 rpm, disebut
sirkulasi heparin. Kemudian dialysis dimulai
b. Dilanjutkan dengan pemberian heparin secara kontinyu sebanyak 1000
unit/jam dengan menggunakan pompa (heparin pump)
c. Satu jam terakhir tindakan dialysis dilaksanakan tanpa heparin
2. Heparinisasi Minimal
Diberikan untuk pasien sedang mengalami perdarahan. Cara pemberian
sama dengan heparinisasi kontinyu tetapi dosis dikurangi sesuai dengan terapi
yang diberikan oleh dokter.

D. Komplikasi
Beberapa efek samping yang mungkin terjadi saat mengonsumsi
antikoagulan ini meliputi:
a. Pusing atau sakit kepala
b. Pendarahan pada gusi saat menyikat gigi
c. Sakit perut atau pembengkakan pada perut
d. Nyeri punggung
e. Konstipasi
f. Sendi yang terasa sakit, nyeri, atau kaku
g. Darah pada urin (Hematuria)
h. Epistaksis
i. Menstruasi dengan volume pendarahan yang berlebihan
DAFTAR PUSTAKA

Khaffaf, Haytam and Sharon Dorgan. 2005. Vascular Disease : A Handbook


For NursesCambridge University Press, Cambridge.

Doengoes, Marilyn E. etc 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC, Jakarta

Wahlberg E, etc 2007. Emergency Vascular Surgery : a Pratical Guid. Springer-


Verlag, Berlin

Woods, Susan L. ,etc 2000 Cardiac Nursing Fourth edition. Lippincott,


Philadelpia.