Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

DENGAN GANGGUAN KETUBAN PECAH DINI (KPD)

A. KONSEP DASAR

a) Pengertian
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahanya ketuban sebelum waktunya
melahirkan/ sebelum inpartum, pada pembukaan < 4 cm (fase laten). Hal ini
dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang
bulan, dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal
pada bayi yang kurang bulan. Pengolahan KPD pada kehamilan kurang dari 34
minggu sangat komplek, bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan
terjadinya prematurasi dan RDS (respiration dystres syndrome) (buku ajar
obstetri untuk mahasiswa kebidanan dr. Taufan Nugroho, oktober 2011).
Ketuban Pecah Dini (KPD)adalah pecahnya atau rupturnya selaput amnion
sebelum dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion
sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi (
Hossam,1992).
b.klasifikasi
c.Etiiologi
Penyebab KPD masih belum di ketahui dan tidak dapat di tentukan secara
pasti.beberapa laporan menyebut faktor faktor mana yang lebih berperan sulit
diketahui.
Kemungkinan yang menjadi faktor predisposisinya adalah :
a. Infeksi :infeksi yang terjadi secara langsung pada selabut ketuban
maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa
menyebabkan terjadinya KPD
b. Serviks yang inkompetensia,kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh
kerena kelainan pada serviks uteri ( akibat persalinan,curetage ).
c. Tekanan intra uteri yang meninggi atau meninggkat secara berlebihan (
overdistensi uterus ) miasalnya trauma,hidramnion,gamelli.
d. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual,pemeriksaan
dalam,maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya KPD kerena
biasanya disertai infeksi.
e. Kelainan letak,misalnya sungsang,sehingga tidak ada bagian terendah
yang menutupi PAP yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran
bagian bawah
f. Keadaan sosil ekonomi
g. Faktor lain :
 Faktor golongan darah,akibat golongan darah ibu dan anak yang
tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk
kelemahan jaringan kulit ketuban
 Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
 Faktor multi graviditas,meroko dan perdarahan antepartumefisensi
gizi dari tembaga atau asam askorbat ( vitamin C )

beberapa factor resiko dari dari KPD


 Inkompetensi serviks ( leher Rahim)
 Poli hidraniom ( cairan ketuban berlebihan )
 Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
 Kehamilan kembar
 Trauma
 Serviks (leher rahim)yang pendek (<25mm)pada usia kehamilan 23
minggu.
 Infeksi pada kehamilan seperti bacterial vaginosis

C.Tanda dan gejala


 Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan katuban merembes melalui
vagina.
 Aroma air katuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak,mungkin
cairan tersebut masih merembes atau menetes,dengan ciri pucat dan
bergaris warnah darah.
 Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus berproduksi
sampai kelahiran.tetapi bila anda duduk atau berdiri,kepala janin yang
tsementara…
 Demam,bercak vagina yang banyak,nyeri perut,denyut jantung janin
bertambah cepat merupakan tanda tanda infeksi yang terjadi.
D.diagnosa.
Menegakkan diaknosa KPD secara tepat sangat penting.
 Karena diagnose yang posetif palsu berarti melakukan intervensi
seperti melahirkan bayi terlalu awal atau melakukan sedvksio sesaria
yang sebetulnya tijdak ada indikasinya.
 Sebaliknya diagnose yang negative palsu berarti akan membiarkan ibu
dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan
janin,ibu atau keduanya.
 Oleh karena itu diperlukan diagnose yang cepat dan tepat
 Diagnose KPD di tegakkan dengan cara :
1. Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina,atau mengeluarkan cairan yang banyak
secara tiba tiba dari jalan lahir.cairan berbau khas,dan perlu juga di perhatikan
warna keluarnya cairan tersebut,his belum teratur atau belum ada,dan belum ada
pengeluaran lender darah.
2. Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa,akan tampak keluarnya cairan dari vagina,bila
ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak,pemeriksaan ini
akanlebih jelas.
3. Pemeriksaan dengan speculum
Pemeriksan dengan speculum pada KPD akan tampak keluar cairan dari ostium
uteri eksternum ( OUE ),kalau belum juga tampak keluar,penderita diminta
batuk,mengejan atau mengadakan menuver valsava,atau bagian terendah
digoyangkan,akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada
fornik anterior.
4. Pemeriksaan dalam
Didalam vagina didapati cairan dan selapuk ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemerisaan dalam vagina dengan toucher perlu dipertimbangkan,
pada kehamilan kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan
pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa
akan mengakumulasi segmen bahwa rahim dengan flora vagina yang normal.
Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen.
Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam
persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.
E. Pemeriksaan penunjang
1. pemeriksaan laboratorium.
 Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa: warna, konsentrasi,
bau dan pH nya.
 Cairan yang keluar dari vagina ini ada kemungkinan air ketuban
urine atau secret vagina.
 Sekret vagina ibu hamil pH: 4-5, dengan kertas nitrazin tidak
berubah warna, tetap kuning.
 Tes lakmus (tes mitrazin), jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru menunjukan adanya air ketuban(alkalis). pH air
ketuban 7-7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes
yang positif palsu.
 Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas
obyek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan miktroskopik
menunjukan gambaran daun pakis.

2. pemeriksaan ultrasonografi(USG).
 Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum ulteri.
 Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.
Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidramnion.

F. komplikasi.
 Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia
kehamilan 37 minggu adalah sindrom distres
pernapasan(RDS=Respiratory Distres Syndrome), yang
terjadi pada 10-40% bayi baru lahir.
 Resikp infeksi meningkat pada kejadian KPD
 Semua ibu hamil dengan KPD premature sebaiknya di
evaluasi dengan kemungkinan terjadinya korioamnionitis
(radang pada korion dan amnion)
 Selain itu kejadian prolapse atau keluarnya talipusar dapat
terjadi pada KPD.
 Resiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD
preterm.
 Hypoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi
pada KPD preterm.kejadiannya mencapai hamper 100%
apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang
dari 23 minggu.

G. penatalaksanaan
KPD termasuk dalam kehamilan beresiko tinggi.kesalahan dalam mengelolam
KPD akan membawa akibat meningkatnya angkat morbiditas dan mortalitas ibu
maupun bayinya.
Penatalaksanaan KPD masih dilema bagi sebagian besar ahli kebidanan,kasus
KPD yang cukup bulan,kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan
insedensi bedah cesar,dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan
insedensi chorioamnionitis.
Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif harus
dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS,dan kalau menepuh cara konservatif
dengan maksud untuk memberi waktu pematangan paru,harus bisa memantau
keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelekkan prognosis janin
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan.kalau umur
kehamiln tidak diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaan
ultrasonografi ( USG )untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin.
`Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah
RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh kerena itu pada kehamilan kurang bulan
perluh evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk
persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru
sudah matang, chorioamnionitis yang diikuti dengan spsis pada janin
merupakan sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin.
Pada kehamilan cukup bulan,infeksi janin langsung berhubungan dengan
lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten.
Kebanyakan penulis sepakat mengambil du afaktor yang harus
dipertimbangkan dalam mengambil sikap atau tindakan terhadap penderita KPD
yaitu umur kehamilan da nada tidaknya tanda tanda infeksi pada ibu.
Asuhan Keperawatan

Pengkajian

1. Identitas
2. Riwayat penyakit.
a. Riwayat kesehatan sekarang,ibu datang dengan pecahnya ketuban
sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa
komplikasi.
b. Riwayat kesehatan dahulu
 Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion.
 Sintesis,pemeriksaan pelvis,dan hubungan seksual
 Kehamilan ganda,polihidramnion.
 Infeksi vagina atau serviks oleh kuman streptokokus.
 Selaput amnion yang lemah/tipis.
 Dosis fetus tidak normal
 Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks
yang pendek
 Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defesiensi nutrisi.
c. Riwayat kesehatan keluarga :ada tidaknya keluhan ibu yang lain
yang pernah hamil kembar atau turunan kembar.
3. Pemeriksaan Fisik.
a. Kepala dan leher
 Mata perlu diperiksa bagian sklera,konjungtiva.
 Hidung : ada atau tidaknya pembengkakan konka
nasalis.ada/tidaknya hipersekresi mukosa.
 Mulut : gigi karies atau tidak,mukosa mulut kering,dan warna
mukosa gigi.
 Leher berupa pemeriksaan JVP,KGB,dan tiroid
b. Dada :
 Toraks
Inspeksi kesimetrisan dada,jenis pernapasan torakoabdominal,dan
tidak ada retraksi dinding dada.frekuensi pernapasan normal 16- 24
kali/menit.iktus cordis terlihat/tidak.palpasi :payudara tidak ada
pembengkakan.auskultasi : terdengar BJ I dan II di IC
kiri/kanan.bunyi napas normal vesicular
 Abdomen
Inspeksi : ada atau tidak bekas operasi,striae,dan linea.
Palpasi : TFU,kontraksi ada/tidak,posisi,kandung kemih penuh/tidak
Auskultasi : DJJ ada/tidak
c. Genetalia
 Inspeksi : kebersihan,ada/tidaknya tanda – tanda REEDA
(red,edema,discharge,approkximately),pengeluaran air ketuban
(jumlah,warna,bau),dan lendir merah mudah kecokelatan.
4. Pemeriksaan diagnostic
a. Hitung darah lengkap untuk menetukan adanya anemia, infeksi.
b. Golongan darah dan factor Rh.
c. Rasio lesitin terhadap spingomielin(rasio US) : menentukan maturitas
janin.
d. Tes ferning dan kertas nitrazine: memastikan pecah ketuban.
e. Ultrasonografi: menentukan usia gestasi, ukuran janin, gerakan
jantung janin, dan lokasi plasenta.
f. Pelvimetri: identifikasi posisi janin.

Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur
invasif, pemeriksaan, vagina berulang, dan ruptur membran amniotic.
2. Kerusakan pertukaran gas pada janin yang berhubungan dengan
adanya penyakit.
3. Resiko tinggi cedera pada janin yang berhubungan dengan melahirkan
bayi prematur/ tidak matur.
4. Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada diri
sendiri/ janin.
5. Resiko tinggi penyebaran infeksi/ sepsis yang berhubungan dengan
adanya infeksi, prosedur invasif, dan peningkatan pemahaman
lingkungan.
6. Resiko tinggi keracunan karena toksik yang berhubungan dengan
dosis/ efek samping tokolitik.
7.