Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami
kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir
manusia. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita
berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Sama halnya dengan perkembangan
teknologi dibidang konstruksi. Seperti halnya defleksi. Defleksi merupakan suatu
fenomena perubahan bentuk pada balok dalam arah vertical dan horisontal akibat
adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah batang
akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya
terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal
baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi.
Defleksi merupakan suatu fenomena perubahan bentuk pada balok dalam
arah vertical dan horisontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok
atau batang. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila
terperngaruhi gaya terpakai. Dengan kata lain, batang akan mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi. Defleksi diukur dari permukaan netral ke permukaan
keposisi netral setelah terjadi deformasi. Persoalan yang perlu diperhatikan dalam
mendesain rangka bangun adalah defleksi yang terjadi pada benda kerja. Yang
perlu diperhatikan adalah kekakuan dan kekuatan dari material tersebut, dimana
pada batang horizontal yang diberi beban secara lateral akan mengalami defleksi.
Didalam kehidupan sehari hari kita sering kali berjumpa dengan defleksi,
baik defleksi pada baja, pada besi maupun kayu. Oleh sebab itu kita seorang
engineer harus memperhitungkan defleksi atau lendutan yang akan terjadi,
contohnya saja pada jembatan. Jika seorang engineer tidak memperhitungkannya
maka akan berakibat fatal bagi pengguna jembatan tersebut, karena faktor
lendutan yang lebih besar akan mengurangi faktor safety pada struktur tersebut.
Oleh sebab itu kita harus mengetahui fenomena apa saja yang akan terjadi pada
defleksi ini. Namun banyak yang belum mengerti terhadap fenomena-fenomena

3
pada defleksi. Maka daripada itu dalam percoobaan ini akan dilakukan
perbandingan antara hasil dari perhitungan dengan hasil percobaan. Sehingga
kedepannya dalam merancang suatu alat akan dapat digunakaan dengan rentang
waktu yang kuat serta kekuatan yang besar.

1.2. Tujuan Percobaan


1. Mengetahui jenis-jenis defleksi pada jenis-jenis batang.
2. Mengetahui hal-hal yang mempengaruhi defleksi pada jenis-jenis batang.
3. Membandingkan besar defleksi pada jenis-jenis batang.dari praktikum
dengan perhitungan secara teori.
4. Membuktikan perhitungan defleksi pada jenis-jenis batang secara teori dari
hasil praktikum.

1.3. Batasan-Batasan Percobaan


1. Menggunakan mesin Gunt WP 950
2. Menggunakan material tembaga
3. Menggunakan tumpuan jepit
4. Menggunakan tumpuan jepit-roll
5. Menggunakan tumpuan engsel-roll

4
BAB II
TEORI DASAR

2.1. Deformasi dan Defleksi


2.1.1. Deformasi
Dalam ilmu material, deformasi adalah perubahan bentuk atau ukuran objek
diterapkan karena adanya gaya. Ini bisa menjadi hasil dari tarik (menarik)
kekuatan, tekan (mendorong) kekuatan, geser, membungkuk atau torsi
(memutar). Deformasi sering digambarkan sebagai strain. Deformasi ada
dua macam yaitu deformasi elastis dan deformasi plastis. Yang dimaksud
deformasi elastis adalah deformasi yang terjadi akibat adanya beban yang
jika beban ditiadakan, maka material akan kembali keukuran semula.
Sedangkan deformasi plastis adalah deformasi yang bersifat permanen jika
bebannya dilepas.

Gambar 2.1. Diagram Deformasi

2.1.1. Defleksi
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya
pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang.

5
2.1.1.1. Jenis-Jenis Defleksi
a. Defleksi Aksial
Merupakan defleksi yang terjadi jika pembebanan tegak lurus
terhadap penampang.

Gambar 2.2. Defleksi Aksial

b. Defleksi lateral (lendutan)


Merupakan defleksi yang terjadi jika pembebanan lateral yang
sejajar dengan penampang atau tegak lurus terhadap sumbu
batang.

Gambar 2.3. Defleksi Lateral

2.1.1.2. Hal-Hal Yang Mempengaruhi Defleksi


a. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan
terjadi pada batang akan semakin kecil.
b. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding
lurus dengan besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain
semakin besar beban yang dialami batang maka defleksi yang
terjadi pun semakin kecil.

6
c. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda.
Jika karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan
yang berbeda-beda tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari
tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang
terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin (pasak)
dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari
tumpuan jepit.
d. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik, keduanya
memiliki kurva defleksi yang berbeda-beda. Pada beban
terdistribusi merata slope yang terjadi pada bagian batang yang
paling dekat lebih besar dari slope titik. Ini karena sepanjang
batang mengalami beban sedangkan pada beban titik hanya
terjadi pada beban titik tertentu saja.

2.2. Jenis-Jenis Tumpuan dan Batang


2.2.1. Jenis-Jenis Tumpuan
a. Engsel
Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikal
dan gaya reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu melawan
gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada umumnya
reaksi pada suatu tumpuan seperti ini mempunyai dua komponen yang
satu dalam arah horizontal dan yang lainnya dalam arah vertical. Tidak
seperti pada perbandingan tumpuan rol atau penghubung, maka
perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada tumpuan yang
terpasak tidaklah tetap. Untuk menentukan kedua komponen ini, dua
buah komponen statika harus digunakan.

7
Gambar 2.4. Tumpuan Engsel
b. Rol
Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi
vertical. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi
yang spesifik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat
melawan gaya hanya dalam arah AB rol. Pada gambar dibawah hanya
dapat melawan beban vertikal. Sedang rol-rol hanya dapat melawan
suatu tegak lurus pada bidang cp.

Gambar 2.5. Tumpuan Rol


c. Jepit
Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertical,
gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang.
Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga
mampu melawan suaut kopel atau momen. Secara fisik, tumpuan ini
diperoleh dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding
batu bata. Mengecornya ke dalam beton atau mengelas ke dalam
bangunan utama. Suatu komponen gaya dan sebuah momen.

Gambar 2.6. Tumpuan Jepit

8
2.2.2. Jenis-Jenis Batang
a. Batang tumpuan sederhana
Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol.

Gambar 2.7. Batang Tumpuan Sederhana

Persamaan defleksi:

b. Batang kantilever
Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas.

Gambar 2.8. Batang Kantilever


Persamaan defleksi:

9
c. Batang overhang
Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana

Gambar 2.9. Batang Overhang

d. Batang menerus
Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik.

Gambar 2.10. Batang Menerus

2.3. Jenis-Jenis Pembebanan Gambar


Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang adalah
jenis beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembeban :
1. Beban Terpusat. Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena
luas kontaknya kecil.

Gambar 2.11. Pembebanan Terpusat

10
2. Beban Terbagi Merata. Disebut beban terbagi merata karena merata
sepanjang batang dinyatakan dalam qm (kg/m atau KN/m).

Gambar 2.12. Pembebanan Terbagi Merata

3. Beban Bervariasi Uniform. Disebut beban bervariasi uniform karena beban


sepanjang batang besarnya tidak merata.

Gambar 2.13. Pembebanan Bervariasi Uniform

2.4. Momen Inersia dan Primer


2.4.1. Momen Inersia
Momen inersia dapat disebut juga Momen Kedua atau Momen
Kelembaman. Data momen inersia suatu penampang dari komponen
struktur akan diperlukan pada perhitungan-perhitungan tegangan lentur,
tegangan geser, tegangan torsi, defleksi balok, kekakuan balok/kolom dan
sebagainya. Luasan A pada gambar (2.4.a) merupakan bidang datar yang
menggambarkan penampang dari suatu komponen struktur, dengan dA
merupakan suatu luasan/elemen kecil.

11
Gambar 2.14. Momen inersia bidang datar
Secara metematis momen inersia ditentukan dengan persamaan-persamaan
berikut.
Momen Inersia terhadap sumbu x :

Momen Inersia terhadap sumbu y :

Momen Inersia kutub :

Momen Inersia Perkalian (Product of Inertia) :

Momen inersia pada Persamaan x, Persamaan y, dan Persamaan p selalu


bertanda positif, sedangkan momen inersia perkalian pada Persamaan xy
dapat bertanda negatif.
Momen inersia pada keempat persamaan diatas penggunaannya terbatas
pada momen inersia bidang tunggal, sedangkan secara umum banyak
bidang/penampang merupakan gabungan dari beberapa penampang tunggal.
Misalnya penampang yang berbentuk L adalah gabungan dari dua
penampang segi empat. Untuk menyelesaikan momen inersia pada
penampang gabungan diperlukan pengembangan dari Persamaan x, y, p dan
xy yang disebut dengan Teori Sumbu Sejajar.

12
Teori Sumbu Sejajar

Gambar 2.15. Momen inersia sumbu sejajar

Momen inersia terhadap sumbu x :

Sumbu xo melalui titik berat bidang A, maka ∫ 𝑦𝑑𝐴, sehingga :

Momen inersia terhadap sumbu y :

Sumbu yo melalui titik berat bidang A, maka ∫ 𝑥𝑑𝐴 , sehingga :

Momen inersia polar :

13
Sumbu xo dan sumbu yo melalui titik berat luasan A, maka ∫ 𝑥𝑑𝐴 = 0 dan
∫ 𝑦𝑑𝐴 = 0
Sehingga :

Momen inersia perkalian :

Sumbu xo dan sumbu yo melalui titik berat luasan A, maka ∫ 𝑥𝑑𝐴 = 0 dan
∫ 𝑦𝑑𝐴 = 0
Sehingga :

2.4.2. Momen Primer


Momen primer sering juga di sebut momen jepit adalah momen yang terjadi
pada ujung ujung balok . namun pada beberapa literatur analisis struktur
terdapat perbedaan dalam perjanjian tanda momen primer.

Gambar 2.16. Momen Primer

 Gambar a. biasa nya disebut momen titik simpul . tanda momen ini
biasa di gunakan dalam analisis struktur metode cross , slope deflection.
 Gambar b. tanda momen ini biasa di gunakan untuk analisis struktur
metode slope deflection.

14
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Waktu Dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 27 November 2018 pada
pukul 13:00 sampai dengan pukul 14:30. Adapun tempatnya di Laboratorium
Mekanika Terpakai, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.

3.2. Alat dan Bahan


a. Kunci L
Fungsi: melonggarkan dan
mengencangkan baut kepala
heksagonal.

b. Clamping plate
Fungsi: tempat menggantung
beban yang membebani batang.

15
c. Dynamometer
Fungsi: mengukur besar defleksi
atau lendutan pada suatu titik
dari batang.

d. Dynamometer with clamp


Fungsi: menjadi tumpuan roll
atau engsel dan mengukur besar
defleksi atau lendutan pada titik
tumpuan tersebut.

e. Meteran
Fungsi: mengukur panjang
batang.

16
f. Batang logam
Fungsi: sebagai spesimen atau
objek percobaan defleksi.

g. Jangka sorong
Fungsi: mengukur ketebalan
batang logam.

h. Rigid clamp
Fungsi: sebagai tumpuan jepit.

i. Mass and Hanger


Fungsi: memberikan beban pada
objek percobaan.

17
3.3. Prosedur Percobaan
3.3.1. Percobaan Defleksi Pada Titik Pembebanan Batang Kantiliver
1. Memasang batang logam yang diuji pada rigid clamp di ujung batang;
2. Mengukur panjang batang dari rigid clamp sampai ujung yang lain;
3. Memasang clamp pada titik 20 cm, 30 cm dan 40 cm dari tumpuan jepit
dari batang ;
4. Memasang ujung yang lain dari batang pada dynamometer with clamp;
5. Memasang dynamometer pada masing-masing clamp yang telah
dipasang pada batang;
6. Mengkalibrasi skala dari setiap dynamometer;
7. Menggantungkan beban pertama pada titik tengah batang kemudian
dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur;
8. Menggantungkan beban yang kedua pada titik tengah batang kemudian
dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur;
9. Menggantungkan beban ketiga pada titik tengah batang kemudian
dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur.

3.3.2. Percobaan Beban Supportt Pada Batang Roll-Jepit


1. Memasang batang logam yang diuji pada rigid clamp di ujung batang;
2. Mengukur panjang batang dari rigid clamp sampai ujung yang lain;
3. Memasang clamp pada 23,45 cm dari tumpuan jepit dari batang;
4. Memasang ujung yang lain dari batang pada dynamometer with clamp;
5. Memasang dynamometer pada clamp yang telah dipasang pada batang;
6. Mengkalibrasi skala dari setiap dynamometer;
7. Menggantungkan beban pertama pada clamp yang telah dipasang
kemudian dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur;
8. Menggantungkan beban yang kedua pada clamp yang telah dipasang
kemudian dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur;
9. Menggantungkan beban ketiga pada clamp yang telah dipasang
kemudian dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur.

18
3.3.3. Percobaan Pada Batang Sederhana Dengan Pembebanan Di Satu Titik
1. Mengukur panjang batang yang akan diuji;
2. Memasang kedua ujung batang logam yang diuji pada dynamometer
with clamp;
3. Memasang clamp pada titik tengah, dan 15 cm dari masing-masing
kedua ujung batang;
4. Memasang dynamometer pada masing- masing clamp yang telah
dipasang pada batang;
5. Mengkalibrasi skala dari setiap dynamometer;
6. Menggantungkan beban pertama pada titik tengah batang kemudian
dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur;
7. Menggantungkan beban yang kedua pada titik tengah batang kemudian
dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur;
8. Menggantungkan beban ketiga pada titik tengah batang kemudian
dicatat besar defleksi pada setiap titik yang diukur.

3.3.4. Percobaan Reaksi Tumpuan Pada Batang Sederhana Dengan


Pembebanan 3 Titik
1. Mengukur panjang batang yang akan diuji;
2. Memasang kedua ujung batang logam yang diuji pada dynamometer
with clamp;
3. Memasang clamp pada titik tengah, dan 15 cm dari masing-masing
kedua ujung batang;
4. Memasang dynamometer pada masing- masing clamp yang telah
dipasang pada batang;
5. Mengkalibrasi skala dari setiap dynamometer;
6. Menggantungkan masing-masing beban pertama pada setiap clamp
yang dipasang kemudian dicatat besar reaksi pada setiap titik tumpuan
support;
7. Menggantungkan masing-masing beban pertama pada setiap clamp
yang dipasang kemudian dicatat besar reaksi pada setiap titik support.

19
BAB IV
ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN

4.1. Hasil Pengamatan


 Material : Tembaga
 Tebal beam (h) : 4,064 mm
 Lebar beam (b) : 20,167 mm
 Massa jenis : 8,9 kg/mm3
 Modulus Young : 110.000 N/mm2
4.1.1. Percobaan Defleksi Pada Batang Kantiliver
𝑙 = 469 mm

a = 200 mm
F

x1 = 200 mm

x2 = 300 mm

x3 = 400 mm

Tabel 1: Data percobaan defleksi pada batang kantilever


Defleksi (f)
Beban (F)
x1 = 200 mm x2 = 300 mm x3 = 400 mm
15 N 2,44 mm 4,96 mm 7,1 mm
20 N 3,31 mm 6,74 mm 9,65 mm
27,5 N 4,95 mm 9,51 mm 13,61 mm

4.1.2. Percobaan Beban Support Pada Batang Roll-Jepit


𝑙 = 469 mm
a = 234,5 mm
W

x = 469 mm A

20
Tabel 2: Data percobaan beban support pada batang roll-jepit
Beban (F)
W A
7,5 N 2N
12,5 N 3N
17,5 N 5N

4.1.3. Percobaan Defleksi Pada Batang Sederhana Dengan Pembebanan Di


Satu Titik
𝑙 = 500 mm
a = 250 mm
F

x1 = 150 mm
x2 = 250 mm

x3 = 350 mm

Tabel 3: Data percobaan defleksi pada batang sederhana dengan pembebanan


di satu titik
Defleksi (f)
Beban (F)
x1 = 150 mm x2 = 250 mm x3 = 350 mm
15 N 1,59 mm 1,86 mm 1,58 mm
20 N 2,46 mm 2,87 mm 2,43 mm
27,5 N 3,66 mm 4,27 mm 3,61 mm

4.1.4. Percobaan Reaksi Tumpuan Pada Batang Sederhana Dengan


Pembebanan Di 3 Titik

x3 = 350 mm

x2 = 250 mm
x1 = 150 mm
F1 F2 F3

𝑙 = 500 mm
A B
21
Tabel 4: Data percobaan reaksi tumpuan pada batang sederhana dengan
pembebanan di 3 titik
Beban (F)
F1 F2 F3 A B
5N 5N 2,5 N 4 N 6N
5 N 15 N 2,5 N 9 N 11 N

22
4.2. Analisa Percobaan Secara Teoritis
𝑏ℎ3 20,167×4,0643
Momen inersia planar : 𝐼𝑦 = = = 112,803 𝑚𝑚4
12 12

Modulus Young : E = 110000 N/mm2


4.2.1. Percobaan Defleksi Pada Batang Kantilever
Titik pembebanan: 𝑎 = 200 mm
𝐹𝑎3
𝑓= 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑥 = 𝑎
3𝐸𝐼𝑦
𝐹𝑎3 𝑥 𝑥3
𝑓= (2 − 3 + 3 ) 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑥 < 𝑎
6𝐸𝐼𝑦 𝑎 𝑎
𝐹𝑎3 𝐹𝑎2
𝑓= + (𝑥 − 𝑎)
3𝐸𝐼𝑦 2𝐸𝐼𝑦
𝐹𝑎2
= (3𝑥 − 𝑎) 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑎 < 𝑥 < 𝑙
6𝐸𝐼𝑦
1. Beban Masukan 15 N
 Defleksi pada x1 = 200 mm
15 × 2003
𝑓= = 3,223 𝑚𝑚
3 × 110000 × 112,803
 Defleksi pada x2 = 300 mm
15 × 2002
𝑓= (3 × 300 − 200) = 5,641 𝑚𝑚
6 × 110000 × 112,803

 Defleksi pada x3 = 400 mm


15 × 2002
𝑓= (3 × 400 − 200) = 8,059 𝑚𝑚
6 × 110000 × 112,803

2. Beban Masukan 20 N
 Defleksi pada x1 = 200 mm
20 × 2003
𝑓= = 4,298 𝑚𝑚
3 × 110000 × 112,803
 Defleksi pada x2 = 300 mm
20 × 2002
𝑓= (3 × 300 − 200) = 7,521 𝑚𝑚
6 × 110000 × 112,803

23
 Defleksi pada x3 = 400 mm
20 × 2002
𝑓= (3 × 400 − 200) = 10,745 𝑚𝑚
6 × 110000 × 112,803
3. Beban Masukan 27,5 N
 Defleksi pada x1 = 200 mm
27,5 × 2003
𝑓= = 5,910 𝑚𝑚
3 × 110000 × 112,803
 Defleksi pada x2 = 300 mm
27,5 × 2002
𝑓= (3 × 300 − 200) = 10,342 𝑚𝑚
6 × 110000 × 112,803
 Defleksi pada x3 = 400 mm
27,5 × 2002
𝑓= (3 × 400 − 200) = 14,775 𝑚𝑚
6 × 110000 × 112,803
4.2.2. Percobaan Beban Support Pada Batang Roll-Jepit
Titik pembebanan 𝑎 = 234,5 mm
Panjang batang 𝑙 = 469 mm
𝐹
𝐴= (3𝑙𝑎2 − 𝑎3 )
2𝑙 3
1. Beban Masukan 7,5 N
7,5
𝐴= × (3 × 469 × 234,52 − 234,53 ) = 2,343 𝑁
2 × 4693
2. Beban Masukan 12,5 N
12,5
𝐴= × (3 × 469 × 234,52 − 234,53 ) = 3,906 𝑁
2 × 4693
3. Beban Masukan 17,5 N
17,5
𝐴= 3
× (3 × 469 × 234,52 − 234,53 ) = 5,468 𝑁
2 × 469
4.2.3. Percobaan Defleksi Pada Batang Sederhana Dengan Pembebanan Di Satu
Titik
Panjang batang: 𝑙 = 500 𝑚𝑚
𝐹𝑥 3𝑙 2
𝑓= ( − 𝑥2)
12𝐸𝐼𝑦 4
1. Beban Masukan 15 N
 Defleksi pada x1 = 150 mm
24
15 × 150 3 × 5002
𝑓= ×( − 1502 ) = 2,493 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
 Defleksi pada x2 = 250 mm
15 × 250 3 × 5002
𝑓= ×( − 2502 ) = 3,148 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
 Defleksi pada x3 = 350 mm
15 × 350 3 × 5002
𝑓= ×( − 3502 ) = 2,291 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
2. Beban Masukan 20 N
 Defleksi pada x1 = 150 mm
20 × 150 3 × 5002
𝑓= ×( − 1502 ) = 3,324 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
 Defleksi pada x2 = 250 mm
20 × 250 3 × 5002
𝑓= ×( − 2502 ) = 4,197 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
 Defleksi pada x3 = 350 mm
20 × 350 3 × 5002
𝑓= ×( − 3502 ) = 3,055 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
3. Beban Masukan 27,5 N
 Defleksi pada x1 = 150 mm
27,5 × 150 3 × 5002
𝑓= ×( − 1502 ) = 4,571 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
 Defleksi pada x2 = 250 mm
27,5 × 250 3 × 5002
𝑓= ×( − 2502 ) = 5,771 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
 Defleksi pada x3 = 350 mm
27,5 × 350 3 × 5002
𝑓= ×( − 3502 ) = 4,201 𝑚𝑚
12 × 110000 × 112,803 4
4.2.4. Percobaan Reaksi Tumpuan Pada Batang Sederhana Dengan
Pembebanan Di 3 Titik
𝛴𝑀 = 0 = 𝐴 × 𝐿 − 𝐹 1 × 𝑥1 − 𝐹2 × 𝑥2 − 𝐹3 × 𝑥3

25
𝛴𝑀 = 0 = 𝐵 × 𝐿 − 𝐹1 × 𝑥3 − 𝐹2 × 𝑥2 − 𝐹3 × 𝑥1

𝐹1 × 𝑥1 + 𝐹2 × 𝑥2 + 𝐹3 × 𝑥3
𝐴=
𝐿

𝐹1 × 𝑥3 + 𝐹2 × 𝑥2 + 𝐹3 × 𝑥1
𝐵=
𝐿

1. F1 = 5 N, F2 = 5 N, F3 = 2,5 N
5 × 150 + 5 × 250 + 2,5 × 350
𝐴= = 5,75 𝑁
500
5 × 350 + 5 × 250 + 2,5 × 150
𝐵= = 6,75 𝑁
500
2. F1 = 5 N, F2 = 15 N, F3 = 2,5 N
5 × 150 + 15 × 250 + 2,5 × 350
𝐴= = 10,75 𝑁
500
5 × 350 + 15 × 250 + 2,5 × 150
𝐵= = 11,75 𝑁
500

26
4.3. Persentasi Kesalahan
perhitungan teori − data praktikum
𝑃𝐾(%) = | | × 100%
perhitungan teori
4.3.1. Percobaan Defleksi Pada Batang Kantilever
1. Beban Masukan 15 N
 Defleksi pada x1 = 200 mm
3,223 − 2,44
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 24,29 %
3,223
 Defleksi pada x2 = 300 mm
5,641 − 4,96
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 12,07 %
5,641
 Defleksi pada x3 = 400 mm
8,059 − 7,1
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 11,89 %
8,059
2. Beban Masukan 20 N
 Defleksi pada x1 = 200 mm
4,298 − 3,31
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 22,98 %
4,298
 Defleksi pada x2 = 300 mm
7,521 − 6,74
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 10,38 %
7,521
 Defleksi pada x3 = 400 mm
10,745 − 9,65
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 10,19 %
10,745
3. Beban Masukan 27,5 N
 Defleksi pada x1 = 200 mm
5,910 − 4,95
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 16,24 %
5,910
 Defleksi pada x2 = 300 mm
10,342 − 9,51
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 8,04 %
10,342
 Defleksi pada x3 = 400 mm
14,775 − 13,61
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 7,88 %
14,775

27
Tabel 5: Persentase kesalahan percobaan defleksi kantilever
Titik Defleksi (mm) Persentase
Beban
defleksi Data Perhitungan kesalahan
(N)
(mm) praktikum teori (%)
200 2,44 3,223 24,29 %
15 300 4,96 5,641 12,07 %
400 7,1 8,059 11,89 %
200 3,31 4,298 22,98 %
20 300 6,74 7,521 10,38 %
400 9,65 10,745 10,19 %
200 4,95 5,910 16,24 %
27,5 300 9,51 10,342 8,04 %
400 13,61 14,775 7,88 %

4.3.2. Percobaan Beban Support Pada Batang Roll-Jepit


1. Beban Masukan 7,5 N
2,343 − 2
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 14,63 %
2,343
2. Beban Masukan 12,5 N
3,906 − 3
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 23,19 %
3,906
3. Beban Masukan 17,5 N
5,468 − 5
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 8,55 %
5,468
Tabel 6: Persentase kesalahan beban tumpuan roll-jepit
Beban Beban support (N) Persentase
masukan Data Perhitungan kesalahan
(N) praktikum teori (%)
7,5 2 2,343 14,63
12,5 3 3,906 23,19
17,5 5 5,468 8,55

28
4.3.3. Percobaan Defleksi Pada Batang Sederhana Dengan Pembebanan Di
Satu Titik
1. Beban Masukan 15 N
 Defleksi pada x1 = 150 mm
2,493 − 1,59
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 36,26 %
2,493
 Defleksi pada x2 = 250 mm
3,148 − 1,86
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 40,91 %
3,148
 Defleksi pada x3 = 350 mm
2,291 − 1,58
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 31,03 %
2,291
2. Beban Masukan 20 N
 Defleksi pada x1 = 150 mm
3,324 − 2,46
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 25,99 %
3,324
 Defleksi pada x2 = 250 mm
4,197 − 2,87
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 31,61 %
4,197

 Defleksi pada x3 = 350 mm


3,055 − 2,43
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 20,45 %
3,055
3. Beban Masukan 27,5 N
 Defleksi pada x1 = 150 mm
4,571 − 3,66
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 19,92 %
4,571
 Defleksi pada x2 = 250 mm
5,771 − 4,27
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 26,00 %
5,771
 Defleksi pada x3 = 350 mm
4,201 − 3,61
𝑃𝐾(%) = | | × 100% = 14,06 %
4,201

29
Tabel 7: Persentase kesalahan defleksi batang sederhana
Beban Titik defleksi Defleksi (mm) Persentase
(N) (mm) Data praktikum Perhitungan teori kesalahan (%)
150 1,59 2,493 36,26
15 250 1,86 3,148 40,91
350 1,58 2,291 31,03
150 2,46 3,324 25,99
20 250 2,87 4,197 31,61
350 2,43 3,055 20,45
150 3,66 4,571 19,92
27,5 250 4,27 5,771 26,00
350 3,61 4,201 14,06
4.3.4. Percobaan Reaksi Tumpuan Pada Batang Sederhana Dengan
Pembebanan Di 3 Titik
1. F1 = 5 N, F2 = 5 N, F3 = 2,5 N
5,75 − 4
𝐴=| | × 100% = 30,43 %
5,75
6,75 − 6
𝐵=| | × 100% = 11,11 %
6,75
2. F1 = 5 N, F2 = 15 N, F3 = 2,5 N
10,75 − 9
𝐴=| | × 100% = 16,27 %
10,75
11,75 − 11
𝐵=| | × 100% = 6,38 %
11,75
Tabel 8: Persentase kesalahan reaksi tumpuan
Beban reaksi (N) Persentase
Run Tumpuan
Data praktikum Perhitungan teori Kesalahan (%)
A 4 5,75 30,43
1
B 6 6,75 11,11
A 9 10,75 16,27
2
B 11 11,75 6,38

30
4.4. Grafik
4.4.1. Percobaan Defleksi Pada Batang Kantilever

9
8
7
6
Defleksi (mm)

5
Praktek
4
Teori
3
2
1
0
0 100 200 300 400 500
x (mm)

Grafik 1: Defleksi batang kantilever beban 15 N

12

10

8
Defleksi (mm)

6 Praktek
Teori
4

0
0 100 200 300 400 500
x (mm)

Grafik 2: Defleksi batang kantilever titik beban 20 N

31
16

14

12
Defleksi (mm)
10

8 Praktek

6 Teori

0
0 100 200 300 400 500
x (mm)

Grafik 3: Defleksi batang kantilever titik beban 27,5 N

4.4.2. Percobaan Beban Support Pada Batang Roll-Jepit

5
Beban Support(N)

3 Praktek
Teori
2

0
0 5 10 15 20
Beban Masukan (N)

Grafik 4: Beban support pada batang roll-jepit

32
4.4.3. Percobaan Defleksi Pada Batang Sederhana Dengan Pembebanan Di Satu
Titik

3.5

2.5
Defleksi (mm)

2
Praktek
1.5 Teori
1

0.5

0
0 100 200 300 400
x (mm)

Grafik 5: Defleksi batang sederhana beban 15 N

4.5
4
3.5
3
Defleksi (mm)

2.5
Praktek
2
Teori
1.5
1
0.5
0
0 100 200 300 400
x (mm)

Grafik 6: Defleksi batang sederhana beban 20 N

33
7

5
Defleksi (mm)

4
Praktek
3 Teori
2

0
0 100 200 300 400
x (mm)

Grafik 7: Defleksi batang sederhana beban 27,5 N

4.4.4. Percobaan Reaksi Tumpuan Pada Batang Sederhana Dengan


Pembebanan Di 3 Titik

8
7
6
Beban Reaksi (N)

5
Praktek
4
Teori
3
2
1
0
A B
Ujung Batang

Grafik 8: Reaksi tumpuan batang sederhana run 1

34
14

12

10
Beban Reaksi (N)

8
Praktek
6 Teori

0
A B
Ujung Batang

Grafik 9: Reaksi tumpuan batang sederhana run 2

35
BAB V
PEMBAHASAN

5.1. Pembahasan Umum


Analisa Lendutan Balok Beton Bertulang Dengan Variasi Diameter
Tulangan Berbeda Dan Letak Tulangan Berbeda Namun Luas Penampang
Tetap Sama Dengan Cara Teoritis Dan Simulasi Program FEA
Metode yang digunakan adalah berupa study literatur, dengan mengumpulkan
bermacam-macam teori dan pembahasan melalui buku-buku, peraturan Standar
Nasional Indonesia (SNI), dan panduan dari American Concrete Institute (ACI),
serta jurnal-jurnal yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Kemudian,
dilakukan pemilihan mutu bahan, serta jenis dan dimensi penampang untuk besi
tulangan komponen struktur balok beton bertulang yang akan digunakan. Untuk
selanjutnya, dilakukan analisa dan perhitungan terhadap kebutuhan jumlah
tulangan, berdasarkan acuan SNI 03-2847-2002. Hasil perencanaan dan
perhitungan yang diperoleh nantinya yaitu luas besi tulangan yang dibutuhkan,
akan digunakan untuk menentukan beberapa variasi diameter besi tulangan dan
jumlah besi tulangan yang akan digunakan. Dan dilakukan analisa lendutan dari
balok beton bertulang yang memiliki variasi diameter berbeda tersebut. Simulasi
program FEA dilakukan sebagai perbandingan dari hasil perhitungan dan
dituangkan dalam grafik.
Dalam penyajian bahasan mengenai analisis lendutan balok bertulang, penulis
mengambil suatu model balok beton bertulang dengan perletakan sederhana dan
beban terpusat.
Balok beton bertulang yang dianalisa menggunakan mutu beton fc’ 25Mpa dan
besi tulangan 210 Mpa dengan profil balok dengan tinggi 80 cm (h = 80 cm) dan
lebar balok 40 cm ( b = 40 cm). Lendutan balok beton bertulang tersebut
direncanakan memikul beban P . Panjang balok adalah 15 m Model balok beton
bertulang tersebut nantinya akan dianalisa, bagaimana lendutan yang terjadi
akibat perbedaan letak dan diameter besi tulangan (luas penampang tulangan tetap
sama) yang ada

36
Gambar 5.1. Model balok beton bertulang yang dianalisis
.
Hasil analisa dapat dilihat dalam grafik berikut.

Gambar 5.2. Hasil analisa dengan program Abaqus/CAE

37
1. Walau memiliki luasan tulangan yang sama, Rasio tulangan balok berbeda,
yaitu Type I adalah 0,0111 sedangkan rasio tulangan Type II adalah 0,0108
2. Dengan luas tulangan yang sama, Balok Type II memiliki momen
nominal/momen layan serta beban P yang lebih besar yaitu 425,3kNm dan 99
kN, sedangkan balok type I memiliki momen nominal/momen layan serta
beban P yang lebih besar yaitu 417,5 kNm dan 97 Kn
3. Berdasarkan rangkaian analisis dan perhitungan mengenai perilaku lendutan
beton bertulang, menurut SNI-03-2847-2002 dan simulasi program
Abaqus/CAE membuktikan bahwa dengan beban yang sam balok Type II
memiliki lendutan yang lebih kecil dibandingkan balok Type I
4. Diameter dan letak tulangan mempengaruhi kemampuan balok menahan beban
lentur yang ada.Semakin besar tinggi efektif penampang beton, maka akan
semakin kuat menahan beban yang ada.
5. Hasil perhitungan lendutan dengan SNI-03-2847-2002 lebih besar daripada
perhitungan lendutan menggaunakan Abaqus/CAE. Hal ini wajar mengingat
SNI dirancang untuk menjadikan struktur lebih aman sehingga beban yang
diijinkan lebih kecil.

38
5.2. Pembahasan Khusus

9
8
7
6
Defleksi (mm)

5
Praktek
4
Teori
3
2
1
0
0 100 200 300 400 500
x (mm)

Grafik 1: Defleksi batang kantilever beban 15 N

Pada percobaan defleksi batang kantilever dengan beban 15 N, saat praktek


dengan nilai x sama dengan 200 mm, maka nilai defleksi sama dengan 2,44 mm, saat
nilai x sama dengan 300 mm maka nilai defleksi sama dengan 4,96 mm dan pada saat
nilai x sama dengan 400 maka nilai defleksiny sama dengan 7,1 mm. Tetapi saat di
klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan pada saat nilai x sama dengan 200
mm maka nilai defleksinya sama dengan 3,223 mm, nilai x sama dengan 300 mm pada
grafik menunjukkan nilai defleksi sama dengan 5,641 mm dan pada saat nilai x sama
dengan 400 mm maka nilai defleksi sama dengan 8,059. Dalam grafik kita bisa melihat
ada perbedaan nilai praktek dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai x 200 mm, 300 mm
dan 400 mm.berturut-turut adalah 24,29%, 12,07% dan 11,89%.

39
12

10

8
Defleksi (mm)

6 Praktek
Teori
4

0
0 100 200 300 400 500
x (mm)

Grafik 2: Defleksi batang kantilever titik beban 20 N

Pada percobaan defleksi batang kantilever dengan beban 20 N, saat praktek


dengan nilai x sama dengan 200 mm, maka nilai defleksi sama dengan 3,31 mm, saat
nilai x sama dengan 300 mm maka nilai defleksi sama dengan 6,74 mm dan pada saat
nilai x sama dengan 400 maka nilai defleksiny sama dengan 9,65 mm. Tetapi saat di
klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan nilai x sama dengan 200 mm maka
nilai defleksinya sama dengan 4,298 mm, nilai x sama dengan 300 mm pada grafik
menunjukkan nilai defleksi sama dengan 7,521 mm dan pada saat nilai x sama dengan
400 mm maka nilai defleksi sama dengan 10,745. Dalam grafik kita bisa melihat ada
perbedaan nilai praktek dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai x 200 mm, 300 mm
dan 400 mm.berturut-turut adalah 22,98%, 10,38% dan 10,19%.

40
16

14
Defleksi (mm) 12

10

8 Praktek

6 Teori

0
0 100 200 300 400 500
x (mm)

Grafik 3: Defleksi batang kantilever titik beban 27,5 N

Pada percobaan defleksi batang kantilever dengan beban 27,5 N, saat praktek
dengan nilai x sama dengan 200 mm, maka nilai defleksi sama dengan 4,95 mm, saat
nilai x sama dengan 300 mm maka nilai defleksi sama dengan 9,51 mm dan pada saat
nilai x sama dengan 400 maka nilai defleksiny sama dengan 13,61 mm. Tetapi saat di
klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan pada saat nilai x sama dengan 200
mm maka nilai defleksinya sama dengan 5,910 mm, nilai x sama dengan 300 mm pada
grafik menunjukkan nilai defleksi sama dengan 10,342 mm dan pada saat nilai x sama
dengan 400 mm maka nilai defleksi sama dengan 14,775 mm. Dalam grafik kita bisa
melihat ada perbedaan nilai praktek dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai x 200 mm, 300 mm
dan 400 mm.berturut-turut adalah 16,24%, 8,04% dan 7,88%.

41
6

5
Beban Support(N)
4

3 Praktek
Teori
2

0
0 5 10 15 20
Beban Masukan (N)

Grafik 4: Beban support pada batang roll-jepit

Pada percobaan defleksi batang roll- jepit, saat praktek dengan nilai beban
masukan sama dengan 7,5, maka nilai beban support sama dengan 2 N, saat nilai beban
masukan sama dengan 12,5 N maka nilai beban support sama dengan 3 N dan pada
saat nilai masukan sama dengan 17,5 N maka nilai beban supportnya sama dengan 5
N. Tetapi saat di klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan pada saat nilai
beban masukan sama dengan 7,5, maka nilai beban support sama dengan 2,343 N, saat
nilai beban masukan sama dengan 12,5 N maka nilai beban support sama dengan 3,906
N dan pada saat nilai masukan sama dengan 17,5 N maka nilai beban supportnya
sama dengan 5,468 N. Dalam grafik kita bisa melihat ada perbedaan nilai praktek
dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai beban masukan 7,5
N, 12,5 N dan 17,5 N, berturut-turut adalah 14,63%, 23,19% dan 8,55%

42
3.5

2.5
Defleksi (mm)

2
Praktek
1.5 Teori
1

0.5

0
0 100 200 300 400
x (mm)

Grafik 5: Defleksi batang sederhana beban 15 N

Pada percobaan defleksi batang kantilever dengan beban 15 N, saat praktek


dengan nilai x sama dengan 150 mm, maka nilai defleksi sama dengan 1,59 mm, saat
nilai x sama dengan 250 mm maka nilai defleksi sama dengan 1,86 mm dan pada saat
nilai x sama dengan 350 mm maka nilai defleksiny sama dengan 1,58 mm. Tetapi saat
di klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan pada saat nilai x sama dengan 150
mm maka nilai defleksinya sama dengan 2,493 mm, nilai x sama dengan 250 mm pada
grafik menunjukkan nilai defleksi sama dengan 3,148 mm dan pada saat nilai x sama
dengan 350 mm maka nilai defleksi sama dengan 2,291 mm. Dalam grafik kita bisa
melihat ada perbedaan nilai praktek dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai x 150 mm, 250 mm
dan 350 mm.berturut-turut adalah 36,25%, 40,91% dan 31,03%.

43
4.5
4
3.5
3
Defleksi (mm)

2.5
Praktek
2
Teori
1.5
1
0.5
0
0 100 200 300 400
x (mm)

Grafik 6: Defleksi batang sederhana beban 20 N

Pada percobaan defleksi batang kantilever dengan beban 20 N, saat praktek


dengan nilai x sama dengan 150 mm, maka nilai defleksi sama dengan 2,46 mm, saat
nilai x sama dengan 250 mm maka nilai defleksi sama dengan 2,87 mm dan pada saat
nilai x sama dengan 350 mm maka nilai defleksiny sama dengan 2,43 mm. Tetapi saat
di klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan pada saat nilai x sama dengan 150
mm maka nilai defleksinya sama dengan 3,324 mm, nilai x sama dengan 250 mm pada
grafik menunjukkan nilai defleksi sama dengan 4,197 mm dan pada saat nilai x sama
dengan 350 mm maka nilai defleksi sama dengan 3,055 mm. Dalam grafik kita bisa
melihat ada perbedaan nilai praktek dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai x 150 mm, 250 mm
dan 350 mm.berturut-turut adalah 25,99%, 31,61% dan 20,45%.

44
7

5
Defleksi (mm)
4
Praktek
3 Teori
2

0
0 100 200 300 400
x (mm)

Grafik 7: Defleksi batang sederhana beban 27,5 N

Pada percobaan defleksi batang kantilever dengan beban 27,5 N, saat praktek
dengan nilai x sama dengan 150 mm, maka nilai defleksi sama dengan 3,66 mm, saat
nilai x sama dengan 250 mm maka nilai defleksi sama dengan 4,27 mm dan pada saat
nilai x sama dengan 350 mm maka nilai defleksiny sama dengan 3,61 mm. Tetapi saat
di klarifikasi dengan teori pada grafik menunjukkan pada saat nilai x sama dengan 150
mm maka nilai defleksinya sama dengan 4,571 mm, nilai x sama dengan 250 mm pada
grafik menunjukkan nilai defleksi sama dengan 5,771 mm dan pada saat nilai x sama
dengan 350 mm maka nilai defleksi sama dengan 4,201 mm. Dalam grafik kita bisa
melihat ada perbedaan nilai praktek dengan nilai teori.
Persentase kesalahan dalam percobaan ini yakni dengan nilai x 150 mm, 250
mm dan 350 mm.berturut-turut adalah 19,92%, 26% dan 14,06%.

45
8
7

Beban Reaksi (N) 6


5
Praktek
4
Teori
3
2
1
0
A B
Ujung Batang

Grafik 8: Reaksi tumpuan batang sederhana run 1

Pada reaksi tumpuan batang sederhana, di percobaan pertama dengan


menggunakan beban F1, F2 dan F3 berturut-turut 5 N, 5 N dan 2,5 N menghasilkan
reaksi pada ujung batang di titik A sama dengan 4 N dan pada titik B sama dengan 6
N. Sedangkan teori dengan beban yang sama menghasilkan reaksi di titik A sama
dengan 5,75 N sedangkan di titik B sama dengan 6,75 N.
Pada percobaan ini, persentase kesalahan yang diperoleh pada reaksi batang di
titik A sama dengan 30,43% sedangkan reaksi batang di titik B sama dengan 11,11%.

46
14

12

10
Beban Reaksi (N)

8
Praktek
6 Teori

0
A B
Ujung Batang

Grafik 9: Reaksi tumpuan batang sederhana run 2

Pada reaksi tumpuan batang sederhana, dipercobaan kedua dengan


menggunakan beban F1, F2 dan F3 berturut-turut 5 N, 15 N dan 2,5 N menghasilkan
reaksi pada ujung batang di titik A sama dengan 9 N dan pada titik B sama dengan 11
N. Sedangkan teori dengan beban yang sama menghasilkan reaksi di titik A sama
dengan 10,75 N sedangkan di titik B sama dengan 11,75 N.
Pada percobaan ini, persentase kesalahan yang diperoleh pada reaksi batang di
titik A sama dengan 16,27% sedangkan reaksi batang di titik B sama dengan 6,38%.

47
BAB VI
PENUTUP

6.1. Kesimpulan
1. Defleksi terbagi menjadi dua jenis, yaitu defleksi aksial yang terjadi jika
pembebanan tegak lurus terhadap penampang dan defleksi lateral defleksi yang
terjadi jika pembebanan lateral yang sejajar dengan penampang atau tegak
lurus terhadap sumbu batang.
2. Hal-hal yang mempengaruhi defleksi, yaitu:
a. Kekakuan batang
b. Besarnya kecil gaya yang diberikan
c. Jenis tumpuan yang diberikan
d. Jenis beban yang terjadi pada batang
3. Data yang diperoleh secara praktis maupun teoritis menunjukkan bahwa
jumlah beban yang diberikan berbanding lurus dengan besarnya defleksi yang
terjadi. Selain itu, jarak pemberian beban dari tumpuan juga menjadi faktor
penyebab nilai defleksinya. Jika dilihat dari tabel data diperoleh bahwa batang
kantilever memiliki defleksi yang paling besar.
4. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data secara praktis
maupun teoritis dimana secara keseluruhan terbukti bahwa defleksi terbesar
pada batang kantiliver adalah pada ujung bebasnya. Sedangkan pada batang
tumpuan sederhana adalah pada tengah batang itu sendiri.

6.2. Saran
6.2.1. Saran Untuk Laboratorium
1. Sebaiknya menyediakan AC pada ruangan praktikum.
2. Sebaiknya menyiapkan rak sepatu, agar sepatu yang dikenakan oleh
praktikan tidak berserakan dimana-mana dan tidak mengotori lantai.
3. Sebaiknya memperbanyak kursi di dalam lab agar kondisi praktikum
bisa lebih baik lagi.

48
6.2.2. Saran Untuk Asisten
1. Tetap tegas dan ramah kepada praktikan.
2. Tetap sabar kepada praktikan.
3. Tetap perhatikan K3 pada saat praktikum.

49
DAFTAR PUSTAKA

Arda . 2014 . (diakses pada tanggal 30 November 2018)


https://ardra.biz/sain-teknologi/metalurgi/besi-baja-iron-steel/pengujian-sifat-
mekanik-bahan-logam/
Beer, Ferdinand . 2010 . Mechanics of Materials . United States of America :
McGrawHill Education
Pakpahan, Yogi R dan Torang Sitorus . 2017 . Analisa Lendutan Balok Beton
Bertulang Dengan Variasi Diameter Tulangan Berbeda Dan Letak Tulangan
Berbeda Namun Luas Penampang Tetap Sama Dengan Cara Teoritis Dan
Simulasi Program FEA . Sumatera Utara : USU .

50