Anda di halaman 1dari 8
UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KETERAMPILAN SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH PADA PEMBELAJARAN AGAMA KATOLIK DAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DENGAN PENERAPAN MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 SRAGEN (JAWA TENGAH) SMP Negeri I Sragen ABSTRAK Peneltian Tindakan Kelas (PTK) ini dimaksudkan untuk mendesksipsken pelaksanaan model pembelajaran STAD yang mampu meningkatkan partsipasi siswa dalam kerja kelompok dan ‘sekaligus Keterampilan pemecahan masalah dalam pelajaran agama Katolik dan pendidikxan bud pekert Subyek peneliian terdii dari 10 orang siswa Kelas Vill SMP Negeri 4 Sragen. Data ikumpulkan melalui pengamatan, tes, catatan lapangan, dan catatan khusus dari siswa-siswa yang berkebutuhan khusus. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengguraan pendekatan deduktit dan induktf yang tidak dibatasi penggunaan media, terulama pada tahap penyajian Kelas model ‘STAD, mampu meningkatkan keaktifan partsipasi dan keteramplan pemecahan masalah pada pembelajaran agama Katolik. Kata kunci: Keterampiln pernecahan masalah, patsipasi siswa, pembelajaran agama Katolik, ‘model STAD PENDAHULUAN Kumpulan data yang. didapatkan dari_hasil observasi dalam pembelajaran agama Katolik dan pendidikan budi pekerti akhir-akhir ini, sekitar 30% sampai 40% siswa kelas VIII, SMP Negeri 1 Sragen belum —mencapai kriteria_ketuntasan minimal pada mata pelajaran agama Katolik, Skor mereka masih di bawah 75. Hal ini mendorong peneliti untuk mencari bentuk pembelajaran lain yang mampu meningkatkan ketuntasan belajar siswa, Berdasarkan kajian peneliti tentang pengaruh penggunaan pembelajaran_ ko- operatif pada umumnya, dan model STAD pada khususnya, dan pengalaman peneliti mengikuti pelatihan, —worksfiop, dan pembinaan-pembinaan pendidikan agama Katolik dan budi pekerti, peneliti mencoba menerapkan pembelajaran model STAD di kelas VIII. Meskipun hasilnya masih belum memuaskan, Fakta yang ditemukan bahwa rate- rata hanya terdapat 2 (dua) siswa di setiap kelompok yang aktif mengerjakan tugas kelompok. Pembagian tugas juga tidak merata. Siswa terlihat belum saling mempercayai jawaban temannya. Di samping itu, dari kelompok yang ada jika dibagi dalam tugas kelompok, ditemukan adanya 1 siswa yang mendominasi pengerjaan tugas kelompok, dan 31,3% siswa tidak tuntas belajarnya. Mengingat keaktifan dan hasil belajar agama Katolik dan pendidikan bud! pekerti merupakan tuntutan yang penting untuk belajar pada jenjang berikutnya atau untuk berjuang dalam kehidupan sehari- hari, fenomena’ negatif ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Siswa __harus diupayakan agar selalu aktif terlibat di Widya Sari Vol. 17, No. 2, Mei 2015: 8-15 dalam pembelajaran, dan memperoler hasil belajar yang baik. Mengingat pula banyaknya aspek positif dari pembelajaran kooperatif, termasuk S7AJ, peneliti menduga adanya langkab-langkah —pembelajaran yang kurang sempurna yang telah guru lakukan, Menurut Slavin (dalam Maisaroh, 2004) pembelajaran STAD terditi dari lima langkah pokok, yaitu: (1) penyajian kelas, (2) belajar datam kelompok, (3) tes/kuis, (4) skor peningkatan anggota kelompok, dan (5) penghargaan kelompok. Ketidak aktifan siswa dan kurang tingginya hasil belajar siswa, tentu disebabkan oleh ketidaksempurnaan dalam _ menjalankan langkah-langkah pokok tersebut. Selama ini, lima langkah pembela- Jaran STAD tersebut peneliti lakukan de- gan cara berikut. Penyajian kelas dilaku- kan. dengan berceramah secara_klasikal tanpa variasi. Dalam _belajar dalam kelompok, selama ini peneliti melakukan dengan. cara membagi kelompok secara acak menurut nomor absen tampaknya hal ini juga peru diperbaiki. Terkait dengan jenis tugas, selama ini, jenis tugas yang diberikan untuk dikerjakan dalam kelompok. adalah tugas yang terfokus pada prosedur dan keakuratan. Tugas mata pelajaran agama Katolik yang terintegrasi_ yang menuntut kemampuan berfikir tingkat tinggi sangat jarang diberikan. Akibatnya, ketika siswa dihadapkan pada tugas yang sult dan membutuhkan _kemampuan berfikir tingkat tinggi atau jawabannya tidak langsung diperoleh, siswa cenderung malas _mengerjakannya, mereka sering menegosiasikan tugas tersebut dengan gurunya dan meminta fasittas dan kemudahan. Untuk —melaksanakan _penilaian tethadap hasil belajar kelompok dilakukan dengan dua cara yaitu: (1) Penilaian terhadap masing-masing individu, dengun kata lain belajar kelompok hanya sekedar menjadi alat_ unfuk”pemahaman_ masing- masing individu, sehingga sangat mungkin setiap anggota memiliki nial berbeda. (2) Penilaian terhadap kelompok, sehingga semua anggota kelompok memperoleh nila yang sama, Kebersihan atau. kegagalan kelompok sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan individu. Tahap pemberian kuis dilakukan secara Klasikal dan memberikan kesempat- ‘an menjawab hanya pada salah satu siswa yang angkat tangan dengan cepat. Dalam langka ini juga memiliki kelemahan, yaitu: tidak semua siswa yang angkat tangan mendapat kesempatan mempertunjukkan kemampuannya. Sedangkan dalam tahap Penghitungan skor _peneliti__melakukan dengan tangkah membuat _peringkat banyaknya aspek keaktifan yang dikuasai dan hasil tes pemecahan masalah serta penghargaan yang diperoleh. Langkah ini ‘memiliki kelemahan yaitu siswa yang berada pada peringkat bawah_ tidak termotivasi. Dalam tahap (pemberian) penghar- gaan terhadap kelompok, peneliti melaku- kan dengan memberikan penghargaan pada saat proses pembelajaran (pembela- Jaran bertangsung) dan pada akhir pembelajaran, dengan pemberian stiker dan mengumumkan hasil peringkat 3 terbesar, secara terbuka di depan kelas. Cara ini memiliki beberapa kekuatan, yaitu, kelompok termotivasi untuk berkompetisi, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai dan mengatasi prestasi orang fain. Berdasarkan pendapat —Prayitno (1989), fangkah ini juga memiliki kele- mahan, yaitu: kelompok yang tidak termasuk peringkat tiga terbaik menjadi kurang percaya diri, METODE Penelitian ini menggunakan Peneli- tian Tindakan Kelas (PTX). Data-data yang Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Keterampilan Dengan Penerapan Model STAD (Bernarda Maria Suhartati) dikumpulkan mencakup: (1) keaktifan siswa, dan (2) keterampilan memecahkan masalah pada pembelajaran pendidikan agama Katolik dan pendidikan budi pekerti. Data tentang keaktifan siswa mencakup 6 aspek yaitu; 1) mendengarkan pendapat teman, 2) membagi kepemimpinan, 3) tmembuat keputusan bersama, 4) menyele- saikan beda pendapat, 5) memberikan informasi, dan 6) bertanya. Sedangkan data tentang keterampilarn’ memecahkan masalah mencakup empat tahap peme- cahan masalah, yaitu 1) memahar tah, 2) menyusun rencana pemecahan, 3) melaksanakan rencana. pemecahan, 4) meninjau kembali, Data tentang keaktifan siswa diperoleh_ dengan menggunakan instrumen lembar observasi keaktifan siswa sedang data ketrampilan _memecahkan masalah diperoleh dengan tes. Di samping siswa kelas VIII pada umumnya, penelitian ini juga memberikan perhatian khusus kepada siswa yang aspek keaktifannya sangat rendah. Ini dilakukan karena peneliti ingin mengaktifian semua siswa. Indikator keberhasitan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah: 1) Tlap pertemuan dalam satu siklus, minimal 75% siswa di kelas menunjukkan 4 dari 6 aspek keaktifan. 2) Pada akhir siklus minimal 50% siswa di kelas memperoieh nilai tes pemecahan masalah minimal 70. 3). Pada akhir siklus siswa yang memerlukan perhatian khusus dapat. mencapat 3 dari 6 aspek keaktifan. Untuk menentukan suatu tindakan sudah berhasil atau perlu diperbaiki pada siklus berikutnya, peneliti membandingkan data yang diperoleh dengan indikator ‘keberhasilan, Manakala hasilnya melebihi indikator keberhasilan maka tindakan di anggap berhasil dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya, Akan tetapi_jika hasilnya kurang dari indikator keberhasilan 10 maka perlu dilanjutkan ke siklus berikut- nya. Sedangkan Sumber data dalam Penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Sragen semester gasal tahun Pelajaran 2014/2015, berjumiah 10 siswa. Penelitian dilakukan selama tiga bulan. Dalam rangka belajar kelompok, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, pemben- tukan kelompok. Kedua, jenis tugas yang harus dikerjakan dalam kelompok. Ketiga, penilaian hasil helaiar kelompok. Selama ini peneliti rnelakukannya dengan cara mem- bagi kelompok secara acak menurut nomor absen. Tampaknya hal ini juga perlu diperbaiki. Pengelompokan secara acak yang selama ini telah peneliti.lakukan ternyata tidak selalu_menghasilkan elompok yang heterogen yang merupakan prasyarat dihasilkannya kerja _kelompok yang ideal, HASIL DAN PEMBAHASAN ‘Sikius I Pembelajaran dimulai_ dengan memberikan penjelasan kepada seluruh siswa. Penyajian dilakukan dengan cara memberikan soal cerita yang berkaitan ‘materi, dan membimbing siswa dengan tanya jawab: bagaimana membuat perta- nyaan yang benar sesual ajaran cinta. Selanjutnya, siswa _bekerja_ dalam kelompok, Kepada mereka diberikan LKS. Soal-soal yang disajikan dalam LKS juga dibuat menarik, warna_warni, dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehar-hari dan kontekstual. LKS juga memuat soal-soal_pemecahan masalah yang diharapkan mampu melatih siswa untuk menghadapi tes perorangan agar mendapat nilai_yang optimal. Selama mereka mengerjakan LKS, peneliti_men- dampingi siswa dalam diskusi_ kelompok dan mengatur jalannya presentasi/karya