Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan zaman telah membawa pengaruh yang sangat besar pada

kehidupan setiap orang. Kebutuhan masyarakat yang mengikuti zaman

mengakibatkan perusahaan harus menyediakan beragam jenis produk, khususnya

pada fashion. Meningkatnya kebutuhan konsumen disebabkan karena pendapatan

konsumen yang meningkat, ini mempengaruhi tingkat belanja konsumen ikut

meningkat. Fashion adalah merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari

perhatian setiap individu karena dapat menjadi sebuah penilaian terhadap karakter

seseorang (Lestari, 2014). Fashion adalah jenis produk utama dari sebuah

shopping centre atau mall (Japarianto dan Sugiharto, 2013).

Berkembangnya teknologi membuat masyarakat semakin modern dan

konsumtif dibidang life style. Pelaku bisnis yang menjalankan usaha dituntut

untuk lebih memahami tentang kebutuhan fashion dan perilaku pembelian para

konsumen. Salah satu perilaku pembelian konsumen yang sering terjadi di mall

adalah impulse buying (Naentiana dan Setiawan, 2014). Tirmizi et al. (2009)

menyatakan bahwa, berdasarkan hasil survey, 85 persen konsumen di Indonesia

cenderung melakukan impulse buying. Ying-Ping Liang (2008) menemukan

bahwa 39 persen dari semua pembelian di department store dan 67 persen dari

semua pembelian di toko umum adalah impulse buying. Selain itu kecenderungan
ingin terlihat sama atau meniru gaya hidup orang lain mempengaruhi konsumen

terutama kaum muda berubah menjadi semakin hedonistic dan impulsif.

Menurut Hausman (2000), impulse buying terjadi ketika konsumen

mengalami suatu kejadian yang mendadak dan sering kali muncul dorongan yang

sangat kuat untuk membeli sesuatu dengan segera. Impulse buying merupakan

tindakan membeli yang sebelumnya tidak diakui, secara sadar sebagai hasil dari

pertimbangan, atau niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko (Sinaga

dkk., 2012). Pada dasarnya diamati dari fenomena yang ada pada saat kosumen

berbelanja impulsif dipengaruhi oleh emosi positif, keterlibatan fashion, dan

kecenderungan konsumi secara hedonis ( Insandri dan Trisha, 2015).

Positive Emotion muncul ketika seseorang merasakan reaksi pada

lingkungan yang mendukung seperti ketertarikan pada suatu item barang atau

adanya promosi penjualan (Rahmawati, 2009). Definis emosi positif sendiri

menurut Insandri dan Trisha (2015) adalah pengaruh suasana hati yang menetukan

intensitas pengambilan keputusan konsumen dalam berbelanja secara impulsif.

Hal ini diperlihatkan oleh konsumen seperti berjalan santai dan dengan raut wajah

yang bahagia.

Aspek fashion semakin menyentuh kehidupan sehari-hari setiap orang

(Suranta, 2013). Keterlibatan fashion adalah salah satu penyebab terjadinya

pembelian tidak terencana. Park et al. (2006) menyatakan bahwa konsumen

dengan keterlibatan busana yang lebih tinggi mungkin untuk terlibat dalam

fashion yang berorientasi pada pembelian tidak terencana. Dalam pemasaran

fashion, keterlibatan dalam fashion merujuk pada ketertarikan terhadap kategori


produk fashion seperti baju, tas, dan sepatu (Suranta, 2013). Amiri et al. (2012)

menyatakan bahwa keterlibatan fashion memiliki hubungan yang kuat terhadap

impulse buying. Produk fashion dapat berupa baju, celana tas, sepatu dan

aksesoris. Han et al, dalam Ahmad (2011) keterlibatan fashion konsumen dapat

meningkatkan perilaku pembelian impulsif yang berorientasi pada fashion karena

terbiasa mengenakan produk fashion. Fashion involvement adalah keterlibatan

seseroang dengan suatu produk fashion (pakaian) karena kebutuhan, ketertarikan,

kepentingan, dan nilai terhadap produk tersebut.

Faktor lain yang mendorong seseorang untuk impulsif buying adalah

karena adanya bentuk Visual merchandising yang menarik. Bentuk Visual

merchandising yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Visual merchandising

antara lain: window display (etalase), mannequin (patung pajangan), floor

merchandising, promotional signage (tanda promosi). Tujuan dari Visual

merchandising adalah untuk meningkatkan toko dan mendorong penjualan dengan

menunjukkan beberapa pakaian dan aksesoris untuk menarik pelanggan. Oleh

karena itu, setiap toko atau perusahaan mencoba untuk membangun dan

meningkatkan citra dan konsep melalui Visual merchandising, agar terlihat

menarik bagi pembeli dan akhirnya mengubah mereka menjadi pelanggan dengan

membangun loyalitas merek dan mendorong pelanggan untuk melakukan

pembelian. Dengan kata lain merespon perilaku konsumen dalam pembelian

impuls, rangsangan dapat memicu keinginan yang pada akhirnya memotivasi

konsumen untuk membuat keputusan pembelian yang tidak direncanakan ketika

memasuki toko. ( Sahni et.Al,2013)


Untuk mengetahui lebih jauh dan pasti bagaimana pengaruh perilaku

impulse buying konsumen pada salah satu retail fashion yang besar yaitu Toko

Luwes Departement Store. Matahari adalah operator department store terbesar di

Indonesia dengan pangsa pasar 32,8% dari sektor ritel department store di 2012

(Sumber: Euromonitor, April 2013). Menurut survei oleh MarkPlus Insight pada

Desember 2012, Matahari adalah salah satu department store yang paling sering

dikunjungi selama lima tahun terakhir. Terdapat berbagai macam pakaian bermutu

yang trendi dan mengikuti perkembangan mode serta harga yang diberikan juga

tidak terlalu mahal. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan terhadap 20

orang responden melalui wawancara dijelaskan bahwa mereka sering melakukan

pembelian impulsif di Toko Luwes Departement Store dan namun tidak selalu

menjadi pilihan utama untuk melakukan pembelanjaan. Berdasarkan Hasil studi

pendahuluan tersebut menjelaskan beberapa permasalahan yang muncul

diantaranya konsumen merasa menyesal setelah melakukan pembelian impulsif

dikarenakan dengan proses pembelian yang terburu-buru konsumen terkadang

kurang memperhatikan kualitas produk fashion yang ada dan adanya penyesalan

sudah mengeluarkan uang yang tak terduga. Pembelian impulsif merupakan

pembelian yang terjadi karena spontanitas dan emosional namun beberapa

konsumen apabila hendak melakukan pembelian impulsif mereka tetap melakukan

pertimbangan.
Kemudian produk fashion yang ada bagi beberapa konsumen tidak terlalu

mengikuti trend fashion yang sedang populer bagi mereka produk fashionnya rata-

rata merupakan produk yang tidak akan termakan oleh jaman. Konsumen merasa

senang ketika berada di Toko Luwes Departement Store guna menghilangkan

stress namun perasaan tersebut tidak selalu memberikan rangsangan motivasi

untuk berbelanja terkadang mereka hanya sekedar melihat-lihat saja serta sebagian

konsumen ketika berbelanja lebih senang melakukan kegiatan belanja sendiri

tanpa mementingkan adanya interaksi sosial yang ada seperti interaksi antara

karyawan dengan konsumen maupun antar sesama konsumen.

Berkembangnya departemen store di Kabupaten Jepara membuat

konsumen semakin banyak pilihan. Salah satu departemen store yang mempunyai

banyak pengunjung adalah Luwes Departemen Store. Terdapat enam departemen

store di Kabupaten Jepara yang saling bersaing untuk memperebutkan pelanggan

TABEL 1.1

Departemen Store Jepara

NO Nama ALAMAT
1
2
3
4
5
6
Sumber: diolah dari Pra survey, 2018
Dari hasil pra survey, toko Luwes Departement Store memiliki tingkat

pengunjung yang cukup tinggi. Kebanyakan dari mereka datang hanya untuk

melihat-lihat, tapi pada akhirnya kebanyakan dari mereka membeli produk dari

Luwes Departement Store.

Bulan Jumlah Pengunjung Jumlah Transaksi Omset


Januari 27.407 16.563 68.517.500
Februari 36.199 18.681 90.497.500
Maret 37.125 15.434 92.812.500
April 46.627 19.810 116.567.500
Mei 35.884 16.579 89.710.000
Juni 47.848 18.628 119.620.000
Sumber: diolah dari Pra survey, 2018

Data tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan omset pada

bulan Mei. Hasil survey ini mengindikasikan bahwa penurunan penjualan diduga

menjadi akibat dari penurunan pembelian secara impulse buying. Namun omset

penjualan kembali dapat meningkat kembali pada bulan Juni yang disebabkan

pada bulan tersebut merupakan bulan puasa dan menjelang lebaran sehingga

pembelian konsumen juga mengalami peningkatan. Dengan demikian pihak

pengelola perlu mempunyai strategi yang mampu meyakinkan pelanggan

sehingga dapat mendorong untuk melakukan impulse buying yang mampu

meningkatkan omset departemen store.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk meneliti

kembali faktor yang mempengaruhi impuls buying. Selain fenomena yang ada,

penelitian ini juga dilatarbelakangi dengan hasil penelitian sebelumnya yang

belum konsisten di mana terdapat perbedaan hasil pengaruh Visual merchandising

pada penelitian Sudarsono (2017) yang didapati tidak berpengaruh terhadap


pembelian impuls buying pada konsumen Zara Surabaya. Namun hasil yang

berbeda dikemukakan oleh Setyawati et.al (2018) serta Muthiah et.al(2018) yang

didapati hasil di mana apabila Visual merchandising retail semakin baik dan

meningkat maka impulse buying konsumen pun akan semakin meningkat.

Berdasarkan fenomena gap dan Research gap tersebut peneliti mengangkat

topik : Peran Positive Emotion dalam memediasi pengaruh Fashion Involvement

dan Visual merchandising terhadap impuls buying pada Toko Luwes Departement

Store.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah muncul sebagai berikut :

1) Bagaimana pengaruh Fashion Involvement terhadap Positive Emotion di

Toko Luwes Departement Store.

2) Bagaimana pengaruh Visual merchandising terhadap Positive Emotion di

Toko Luwes Departement Store.

3) Bagaimana pengaruh Fashion Involvement terhadap Impulse buying di

Toko Luwes Departement Store.

4) Bagaimana pengaruh Visual merchandising terhadap Impulse buying di

Toko Luwes Departement Store.

5) Bagaimana pensgaruh Positive Emotion terhadap Impulse buying di Toko

Luwes Departement Store.


1.3 Tujuan Penelitian

Suatu penelitian dilakukan tentunya tidak terlepas dari adanya tujuan-

tujuan tertentu. Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian adalah :

1) Untuk mengetahui pengaruh Fashion Involvement terhadap Positive

Emotion di Toko Luwes Departement Store.

2) Untuk mengetahui pengaruh Visual merchandising terhadap Positive

Emotion di Toko Luwes Departement Store.

3) Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Fashion Involvement terhadap

Impulse buying di Toko Luwes Departement Store.

4) Untuk mengetahui pengaruh Visual merchandising terhadap Impulse

buying di Toko Luwes Departement Store.

5) Untuk mengetahui pengaruh Positive Emotion terhadap Impulse buying

di Toko Luwes Departement Store.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan terutama

sebagai :

1) Bagi Toko Luwes Departement Store

Masukan bagi Toko Luwes Departement Store untuk tambahan referensi

dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada bidang pemasaran

khususnya Fashion Involvement, Visual merchandising, Positive Emotion,

dan Impulse buying. Dapat berguna sebagai tambahan refrensi bagi

penelitian dengan tema yang sama di masa yang akan datang.


2) Bagi Peneliti

Kesempatan untuk memperdalam pada bidang manajemen pemasaran

khusunya mengenai pengaruh Fashion Involvement, Visual merchandising,

dan Positive Emotion terhadap Impulse buying.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Impulse buying

Rook (1987) mendefinisikan impulse buying sebagai pembelian yang tidak

terencana dan spontan, yang dilakukan langsung di tempat, diikuti oleh keinginan

kuat dan perasaan nikmat dan senang. Impulse buying adalah perilaku yang

muncul tanpa dilandasi adanya kebutuhan serta rencana pembelian yang terarah,

yang diartikan bahwa perilaku tersebut muncul secara spontan, belum tentu

dilandasi oleh adanya kebutuhan, serta proses terjadinya tidak diikuti tahapan-

tahapan seperti halnya proses pembelian model umum yang ada. Beatty dan Farrel

(1998) menjelaskan nahwa dorongan atau keinginan untuk membeli berasal dari

kedekatan fisik dengan objek selama pencarian di toko, kecenderungan untuk

melakukan pembelian impulsif didorong oleh pengalaman perasaan positif saat

berbelanja. Tinne (2010) menjelaskan proses pembelian impulsif yaitu sebagai

berikut:

Gambar 2.1 Proses Pembelian Impulsif

Sumber: Tinne, 2010


Proses pembelian impulsif dimulai dari kesadaran konsumen terhadap

produk, kemudian pembeli impulsif mulai menjelajahi toko. Penjelajahan

dilakukan tanpa niat untuk melakukan pembelian. Selanjutnya, pembeli impulsif

dihadapkan dengan adanya rangsangan-rangsangan. Rangsangan tersebut akan

memicu pembeli impulsif untuk melakukan pembelian. Keinginan untuk

melakukan pembelian tersebut dilakukan tanpa mencari alternatif atau mencari

informasi. Kemungkinan selanjutnya, pembeli impulsif akan mengalami

konsekuensi positif dan bahkan negatif. Proses keputusan tersebut dipengaruhi

karakteristik dari konsumen.

Adapun tipe-tipe dari pembelian yang tidak terencana menurut David

Loudon, Albert J Della Bitta dan Hawkins Stren (Darma, 2008) :

1) Pure Impulse (Pembelian impuls murni)

Sebuah pembelian menyimpang dari pola pembelian normal. Tipe ini dapat

dinyatakan sebagai novelty / escape buying.

2) Suggestion Impulse (Pembelian impuls yang timbul karena sugesti)

Pada pembelian tipe ini konsumen tidak mempunyai pengetahuan yang

cukup terlebih dahulu tentang produk baru, konsumen melihat produk

tersebut untuk pertama kali dan memvisualkan sebuah kebutuhan untuk

benda tersebut.

3) Reminder Impulse (Pembelian impuls karena pengalaman masa lampau)

Pembeli melihat produk tersebut dan diingatkan bahwa persediaan di

rumah perlu ditambah atau telah habis.


4) Planned Impulse (Pembelian Impuls yang terjadi apabila kondisi penjualan

tertentu diberikan)

Tipe pembelian ini terjadi setelah melihat dan mengetahui kondisi

penjualan. Misalnya penjualan produk tertentu dengan harga khusus,

pemberian kupon dan lain-lain.

Engel, Blackwell, dan Miniard menyatakan bahwa suatu pembelian dapat

direncanakan dalam satu pengertian walaupun niat yang pasti tidak dinyatakan

secara verbal atau secara tertulis pada daftar belanja. Berdasarkan penelitian Rook

dan Fisher (Negara dan Dharmmesta, 2003), bahwa pembelian berdasar impulse

terjadi ketika konsumen mengalami desakan tiba-tiba, yang biasanya sangat kuat

dan menetap untuk membeli sesuatu dengan segera. Menurut Rook dan Fisher

(Stanton, 1998)Impulse buying memiliki beberapa karakteristik, yaitu sebagai

berikut:

1) Spontanitas

Pembelian ini tidak diharapkan dan memotivasi konsumen untuk membeli

sekarang, sering sebagai respons terhadap stimulasi visual yang langsung

ditempat penjualan.

2) Kekuatan, kompulsi, dan intensitas

Mungkin ada motivasi untuk mengesampingkan semua yang lain dan

bertindak dengan seketika.

3) Kegairahan dan stimulasi

Desakan mendadak untuk membeli sering disertai emosi yang dicirikan

sebagai “menggairahkan”, “menggetarkan” atau “liar”.


4) Ketidak pedulian akan akibat

Desakan untuk membeli dapat menjadi begitu sulit ditolak sehingga

akibat yang mungkin negative diabaikan.

Impulse buying merupakan kondisi dimana konsumen melakukan

pembelian langsung tanpa direncanakan. Menurut Kruszka (2012), dan Shahjehan

et al. (2011) variabel impulse buying diukur dengan indikator

a. pembelian yang dilakukan tidak direncanakan sebelumnya (impuls

buying)

b. adanya dorongan yang dirasakan konsumen secara tiba-tiba untuk

segera melakukan transaksi

c. kurang evaluasi substantif tambahan seperti kurang memperhitungkan

seberapa penting barang tersebut untuk dibeli, anggaran yang dimiliki,

kualitas barang secara menyeluruh dan lainnya

d. keterbukaan konsumen dan keramahan terhadap rangsangan yang

datang maupun yang muncul dari dalam diri konsumen

2.1.2 Positive Emotion

Menurut Park, Kim, dan Forney (2006) emosi meliputi yang mana

perasaan dan suasan hati merupakan faktor penting dalam pembuatan keputusan

oleh konsumen. Sugono, dkk., (2008: 368) Emosi merupakan luapan perasaan

yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, keadaan dan reaksi psikologis

dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan) keberanian

yang bersifat subjektif. Sarwono (2012), menjelaskan emosi sebagai reaksi


penilaian (positif atau negatif) yang kompleks dari sitem syaraf seseorang

terhadap rangsangan baik dari luar atau dalam dirinya.

Emosi positif dapat dilihat melalui perasaan yang positif pula sepeti rasa

senang, bahagia, mencintai, menyukai, menikmati, puas, dan siaga (Peter dan

Olson, 2005). Menurut Park et al., (2006), emosi positif diperoleh dari mood

seseorang yang sudah ada sebelumnya disposisi afeksi, dan reaksi terhadap

lingkungan yang ada saat itu (misalnya item yang diinginkan, promosi penjualan).

Emosi konsumen yang muncul saat berada di pusat perbelanjaan dapat

meningkatkan waktu yang dihabiskan di toko, meningkatkan pengeluaran, dan

pembelian yang tidak direncanakan (Jones, 1999 dalam Yuksel, 2007).

Positif emosi merupakan pengaruh positif yang mencerminkan sejauh

mana seseorang merasa antusias, aktif, dan waspada. Ini adalah kondisi energi

tinggi, konsentrasi penuh, dan keterlibatan yang menyenangkan (Baron dan

Byrne, 2003). Indikator yang digunakan dalam mengukurnya yaitu: 1. Merasa

senang 2. Merasa puas 3. Merasa nyaman 4. Merasa bersemangat

2.1.3 Fashion Involvement

O’Cass (2004) menyatakan involvement merupakan minat atau motivasi

yang ditimbulkan oleh stimulus atau situasi tertentu dengan ditunjukkan melalui

ciri penampilan. Keterlibatan atau involvement adalah tingkat kepentingan pribadi

yang dirasakan atau minat konsumen terhadap sesuatu. Dengan semakin

meningkatnya keterlibatan konsumen memiliki motivasi yang lebih besar untuk

memperhatikan, memahami, dan mengolaborasi informasi tentang pembelian

(Wanto, 2010).
Fashion involvement merupakan motivasi untuk memproses informasi

suatu produk (Mitchell, 1979). Begitupun dengan fashion, keterlibatan orang

dalam fashion membuat mereka rela menghabiskan uang dan waktu untuk fashion

terbaru. Menurut (Auty and Elliot, 1998) keterlibatan fashion mungkin terkait

dengan kepekaan terhadap lingkungan sosial, yaitu mereka termotivasi untuk

menyesuaikan fashion dari kelompok tertentu. Oleh karena itu orang dengan

keterlibatan fashion yang tinggi cenderung menikmati perilaku berbaur atau

bersosialisi. O’Cass (2004) mengungkapkan bahwa fashion involvement

berhubungan dengan karakteristik pribadi wanita atau pria dan kaum muda

tentang pengetahuan mereka tentang fashion, yang mana dapat mempengaruhi

kepercayaan konsumen dalam membuat keputusan pembelian.

Berdasarkan beberapa definisi di atas kesimpulannya adalah bahwa

fashion involvement merupakan keterlibatan seseorang dengan suatu produk

karena adanya kebutuhan, kepentingan, ketertarikan, dan nilai pada produk

tersebut. Yang ditentukan dengan beberapa faktor yaitu karakteristik konsumen,

pengetahuan fashion, dan perilaku pembelian. Dalam Kim (2005)

mengemukakan bahwa untuk mengetahui hubungan fashion involvement terhadap

impulse buying behavior adalah dengan menggunakan indikator yaitu :

1) Mempunyai satu atau lebih pakaian dengan model yang terbaru (trend).

2) Fashion adalah satu hal penting yang mendukung aktifitas.

3) Lebih suka apabila model pakaian yang digunakan berbeda dengan yang

lain.

4) Pakaian menunjukkan karakteristik.


5) Dapat mengetahui banyak tentang seseorang dengan pakaian yang

digunakan.

6) Ketika memakai pakaian favorit, membuat orang lain tertarik melihatnya.

7) Mencoba produk fashion terlebih dahulu sebelum membelinya.

8) Mengetahui adanya fashion terbaru dibandingkan dengan orang lain.

2.1.4 Visual merchandising

Iqbal et al., 2011 mendefinisikan Visual merchandising sebagai seni

presentasi yang menempatkan merchandiser di fokus yang bertujuan memiliki

keterampilan khusus dalam penataan barang pada toko. Visual merchandising

dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang pelanggan amati, baik eksterior

maupun interior, yang menciptakan citra positif dari bisnis dan hasil dalam

perhatian, interest, dan reaksi pada bagian dari pelanggan (Bastow Shoop et al.,

1991 dalam Iqbal et al., 2011). Kouchekian dan Gharib Poor, (2012) menyatakan

bahwa Visual merchandising merupakan faktor penting yang sering disebutkan

dalam keberhasilan atau kegagalan dari toko ritel. (Fiore, Yah dan Yoh, 2000

dalam Selvaraj dan Swaminathan, 2011) mengemukakan bahwa Visual

merchandising berfokus pada berbagai aspek konsumen, yang meliputi indra

kesenangan, kesenangan afektif dan kesenangan kognitif.

Penempatan visual dalam metode merchandise supermarket, telah terjadi

peningkatan penekanan pada jenis tata letak toko, bangunan toko, perlengkapan,

peralatan, penampilan warna, alat komunikasi diam, tampilan jendela dan

akhirnya pendapat melalui bangunan di dalam toko yang menampilkan seni ritel

untuk frame aplikasi yang lebih tinggi (Iqbal et al., 2011). (Storms, 2006 dalam
Iqbal et al., 2011) mengeksplorasi peran dekorasi interior untuk menambah rasa

dengan Visual merchandising. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan

pertama juga penting dalam membantu dengan keputusan mengenai kebiasaan

membeli, karena mata adalah link yang menghubungkan pikiran dan hati kepada

dunia luar.

Visual merchandising bertujuan untuk memperkenalkan produk dalam

gaya dan warna, mendidik pelanggan untuk membuat mereka mengambil

keputusan pembelian yang cepat. Selain itu, tema visual dipertahankan lebih baik

dari orang-orang yang mendengar atau membaca. Tujuan utama dari dekorasi

interior adalah untuk mempertahankan pelanggan lama di tempat, dan membeli

lebih dari yang pernah ia berikan dan kembali sebagai pelanggan yang puas.

Visual merchandising bukan hanya pengaturan produk tapi menjelaskan lebih

dalam dan lebih luas dalam esensi fisik toko (Davies dan Ward, 2005 dalam

Selvaraj dan Swaminathan, 2011) dan didefinisikan sebagai kegiatan, yang

mengkoordinasi pemilihan merchandise efektif dengan display merchandise yang

efektif (Wolters dan White, 1987 dalam Selvaraj dan Swaminathan, 2011). Oleh

karena itu Visual merchandising berkaitan dengan bagaimana produk atau merek

dikomunikasikan secara visual kepada pelanggan yang akan berpengaruh terhadap

hasil psikologis atau perilaku yang positif, akhirnya menyebabkan pembelian pada

konsumen.
Terdapat beberapa dimensi-dimensi penting yang mendukung pengadaan

Visual merchandising dalam sebuah toko (Mehta & Chugan, 2013), yaitu:

1) Window display yang merupakan tampilan depan dari sebuah toko yang

membantu pelanggan memutuskan apakah akan memasuki toko atau tidak

(Mehta & Chugan, 2013).

2) Mannequin Display yang digunakan untuk memamerkan atau menjelaskan

tren fashion saat ini. (Bell & Ternus, 2012).

3) Floor Merchandising merupakan penataan peralatan-peralatan yang

mendukung pelaksanaan bisnis ritel dalam menciptakan ruang gerak bagi

customer di dalam toko (Mehta & Chugan, 2013).

4) Promotional signage cara meningkatkan penjualan dengan memberikan

informasi mengenai produk dan menyarankan item atau pembelian khusus

(Levy & Weitz, 2007)

2.2 Pengembangan Hipotesis

2.2.1 Pengaruh Fashion Involvement terhadap Positive Emotion

Fashion involvement yang dialami konsumen saat berbelanja

menyebabkan meningkatnya emosi positif pada konsumen, karena konsumen

merasa senang dan puas dengan kualitas produk yang dijual dan ditawarkan.

Menurut penelitian terdahulu oleh Sudarsono (2017), serta penelitian yang

dilakukan oleh Setiadi dan Warmika (2015) menunjukan, jika fashion

involvement dari konsumen ditingkatkan maka Positive Emotion pun semakin

meningkat
H1: semakin tinggi Fashion Involvement maka semakin tinggi pula

Positive Emotion.

2.2.2 Pengaruh Visual merchandising terhadap Positive Emotion

Visual merchandising yang tinggi pada konsumen dapat menciptakan

emosi positif ketika berbelanja pakaian karena konsumen merasa mendapat

sesuatu pengalaman dimana mereka merasa nyaman serta betah dengan

lingkungan tersebut. Penelitian terdahulu menunjukan, jika Visual merchandising

pada konsumen meningkat maka semakin meningkat pula Positive Emotion dari

konsumen Setiyorini dan Ekowati (2017). Serta menurut penelitian yang dilakukan

oleh Pancaningrum (2017) dan Muthiah et.al (2018) juga mengungkapkan hal

yang sama bahwa kecenderungan Visual merchandising berpengaruh positif

emosi positif. Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini

dapat dirumuskan sebagai berikut:

H2: Visual merchandising yang semakin meningkat maka semakin

meningkat pula Positive Emotion.

2.2.3 Pengaruh Fashion Involvement terhadap Impulse buying

Keterlibatan fashion mempengaruhi dalam pembelian impulsif pada

konsumen. Hal ini dibuktikan dengan cara konsumen berganti dengan fashion

yang berbeda, dan mereka merasa puas ketika mampu memenuhi hasrat tersebut.

Dalam penelitian terdahulu oleh Setiadi dan Warmika (2015), Hal inilah yang

menyebabkan fashion involvement mampu mendorong konsumen melakukan

impulse buying. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyawati

et.al (2018) mengungkapkan bahwa apabila Fashion involvement yang semakin


tinggi maka semakin tinggi pula pembelian impulsif konsumen. Berdasarkan

uraian tersebut dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Fashion Involvement yang semakin meningkat maka semakin meningkat

pula Impulse buying.

2.2.4 Pengaruh Visual merchandising terhadap Impulse buying

Kecenderungan hedonic consumption berpengaruh secara langsung

terhadap pembelian impulsif, terjadi karena nilai hedonis merupakan kabahagiaan

konsumen dalam pengalaman berbelanja dan emosi positif seperti nyaman,

senang, gembira, dan puas terhadap produk yang dibeli. Hasil penelitian terhadulu

yang dilakukan oleh Setyawati et.al (2018) menunjukan bahwa Visual

merchandising retail semakin baik dan meningkat maka impulse buying

konsumen pun akan semakin meningkat. Sama halnya penelitian yang dilakukan

oleh Setyawati et.al (2018) bahwa Visual merchandising berpengaruh signifikan

terhadap impulse buying behaviour. Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis

dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

H4: Visual merchandising yang semakin tinggi maka semakin tinggi

pula Impulse buying.

2.2.5 Pengaruh Positive Emotion terhadap Impulse buying

Emosi positif mampu mengurangi kerumitan untuk membeli secara

impulsif, karena mampu memicu ketertarikan konsumen untuk membeli produk.

Konsumen akan mengekspresikan keinginan dan kegembiraan yang lebih besar,

dan kegembiraan berhubungan positif dengan kecenderungan membeli secara

bebas. Dalam penelitian terdahulu oleh Sudarsono (2017), serta dari penelitian
Setiyorini dan Ekowati (2017) mengungkapkan hal yang sama bahwa positif

emotion dapat mempengaruhi konsumen untuk melakukan impulse buying.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H5: Positive Emotion yang semakin meningkat maka semakin meningkat

pula Impulse buying.

2.2 Kerangka Pemikiran Teoritis

Berdasarkan teori dan hasil penelitian sebagaimana dikemukakan diatas

yaitu: Baik Fashion Involvement, Visual merchandising , dan Positive Emotion

berpengaruh terhadap Impulse buying.

Fashion
Involvement H3
X1

H1 Impulse Buying
Positive Emotion H5
Y2
Y1
H2
Visual
merchandising
X2 H4

Gambar 2.2
Kerangka Pikir Teoritis

Dari kerangka pemikiran teoritis tersebut dapat diketahui ada pengaruh langsung

antara Fashion Involvement dan Hedonic Consumption Tendency terhadap


Impulse buying. Selain itu antara variabel Fashion Involvement dan Visual

merchandising terhadap Impulse buying dengan melalui Positive Emotion.


BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan tentang arah dan cara melaksanakan penelitian yang

mencakup jenis penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, populasi dan

sampel, variabel dan indikator serta teknis analisis data.

3.1. Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada jenis penelitian yang digunakan

pada penelitian ini adalah penelitian Explanatory Research. Explanatory Research

adalah penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel

penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya

(Singarimbun dan Effendy, 1995 : 4). Lokasi yang digunakan seebagai objek

penelitian ini adalah Toko Luwes Departement Store.

3.2. Populasi dan Sampel

3.2.1. Populasi

Menurut Margono (2010:118), “Populasi adalah seluruh data yang menjadi

perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan”. Populasi

dalam penelitian ini adalah pembeli atau konsumen yang membeli atau berbelanja

produk fashion di Toko Luwes Departement Store. Kriteria dalam penelitian ini

adalah konsumen pembeli produk fashion yang memiliki usia antara 18 tahun

keatas yang melakukan pembelian di Toko Luwes Departement Store.


3.2.2. Sampel

Menurut Sugiyono (2008:116) “sampel adalah sebagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Teknik pengambilan sampel

dalam penelitian ini adalah accident sampling atau pengambilan sampel secara

bebas yaitu non-probabilitas sampling teknik dimana teknik penentuan sampel

berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan

peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan

ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2013). Berdasarkan cara

penentuan jumlah populasi yang tidak diketahui maka peneliti menggunakan

rumus sebagai berikut (Arikunto et al, 2013):

𝑍𝛼⁄2
𝐸
1.96
0.20
= 98 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 100

Keterangan :

n = Ukuran dari Sampel

Za/2 = Nilai standar daftar luar normal standar bagaimana


Tingkat kepercayaan (a) 95%

E = Tingkat ketepatan yang digunakan dengan


Mengemukakan besarnya eror maksimum secara 20%

Dari perhitungan tersebut maka dapat diketahui bahwa sampel dalam

penelitian ini adalah sebanyak 100 responden.


3.3. Sumber dan Metode Pengumpulan Data

3.3.1. Sumber Data

1) Data Primer

Data primer adalah data yang di kumpulkan secara langsung oleh peneliti

atau pihak utama (Usman dan Akbar, 2006). Data primer dalam penelitian

ini adalah tanggapan responden terhadap kuesioner variabel fashion

involvement, Visual merchandising , positive emotion, dan impulse buying.

2) Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti melalui pihak

kedua atau tangan kedua (Usman dan Akbar, 2006). Data sekunder dalam

penelitian ini adalah literatur yang berhubungan dengan pembelian

konsumen secara impulsif di mall Indonesia dan jumlah rata-rata

pengunjung di Toko Luwes Departement Store.

3.3.2. Metode Pengumpulan Data

1) Kuesioner.

Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberikan pertanyaan kepada responden dengan panduan

kuesioner.

2) Studi Pustaka.

Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan

dengan membaca buku, jurnal-jurnal, referensi yang berkaitan dengan

penelitian dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang

dilakukan.
3.4. Variabel dan Indikator

Variabel dalam penelitian ini adalah Fashion Involvement (X1), Visual

merchandising (X2), Positive Emotion (Y1) dan Impulse buying (Y2) dengan

definisi masing-masing variabel dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 3.1 Variabel dan Indikator


NO Variabel Indikator Skala

1. Fashion Involvement  Mengikuti Trend Sangat tidak Setuju (STS) =


adalah ketertarikan  Fashion hal penting 1
konsumen pada  Tahu fashion Tidak Setuju (TS) = 2
fashion, berdasarkan terbaru Cukup Setuju (CS) = 3
pengaruh keragaman (Kim, 2005) , Setuju (S) = 4
dari aktifitas (Cindy, 2014) Sangat Setuju (SS) = 5
konsumen yang
menganggap bahwa
fashion itu adalah hal
yang penting.
2. Visual merchandising  Window display Sangat tidak Setuju (STS) =
ialah teknik dalam  Mannequin Display 1
mempresentasikan
 Floor Tidak Setuju (TS) = 2
tampilan barang Cukup Setuju (CS) = 3
dagangan sangat
Merchandising
menarik (eye-catching)  Promotional Setuju (S) = 4
signage Sangat Setuju (SS) = 5
dan ditujukan pada
pelanggan (Mehta & Chugan,
potensial (Jain et al., 2013)
2012)
3. Positive Emotion  Merasa senang Sangat tidak Setuju (STS) =
adalah perasaan atau  Merasa puas 1
mood yang positif  Merasa nyaman Tidak Setuju (TS) = 2
sepeti rasa senang,  Merasa bersemangat Cukup Setuju (CS) = 3
bahagia, menyukai, Setuju (S) = 4
menikmati, puas lega (Baron dan Byrne, Sangat Setuju (SS) = 5
terhadapa sesuatu 2003)
yang di pengaruhi
lingkungan saat itu.
4. Impulse buying adalah  pembelian yang Sangat tidak Setuju (STS) =
pembelian yang tidak dilakukan tidak 1
terencana dan spontan, direncanakan Tidak Setuju (TS) = 2
yang dilakukan sebelumnya (impuls Cukup Setuju (CS) = 3
langsung di tempat buying) Setuju (S) = 4
dan belum tentu  adanya dorongan Sangat Setuju (SS) = 5
dilandasi adanya yang dirasakan
kebutuhan. konsumen secara
tiba-tiba untuk
segera melakukan
transaksi
 kurang evaluasi
substantif tambahan
seperti kurang
memperhitungkan
seberapa penting
barang tersebut
untuk dibeli,
anggaran yang
dimiliki, kualitas
barang secara
menyeluruh dan
lainnya
 keterbukaan
konsumen dan
keramahan terhadap
rangsangan yang
datang maupun
yang muncul dari
dalam diri
konsumen

Shahjehan et al. (2011)


Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan Skala Likert,

yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi

seseorang ataupun sekelompok orang. Tingkatan skala Likert yang digunakan

dalam penelitian ini adalah skala 1 - 5. Nilai untuk skala Likert ditentukan mulai

nilai 1 untuk pertanyaan negatif dan 5 untuk nilai positif seperti:

1 = Sangat Tidak Setuju

2 = Tidak Setuju

3 = Cukup Setuju
4 = Setuju

5 = Sangat Setuju

3.5. Tehnik Analisis

3.5.1. Uji Instrumen Penelitian

Uji Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji

validitas, uji reliabilitas, dan uji asumsi klasik. Asumsi yang digunakan antara lain

uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas.

a. Uji Validitas

Untuk mendukung analisis regresi dilakukan uji validitas dan

reliabilitas. Uji validitas dalam penelitian ini digunakan untuk menguji

kevalidan dari kuesioner. Validitass menunjukan sejauh mana

ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukann fungsi

alat ukurnya (Saiffudin Azwar,2000).

Langkah selanjutnya adalah secara statistik, angka korelasi yang

diperoleh dengan melihat tanda bintang pada hasil skor total, atau

membandingkan dengan angka bebas korelasi nilai r yang menunjukan

valid. Variabel dikatakan valid apabila nilai corrected item to total

corelation lebih besar dari 0,30 (Maholtra, 1993). Pada penelitian ini

uji validitas akan dilakukan dengan bantuan program SPSS.


b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang

merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel

jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau

stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini

dilakukan dengan cara one shoot (pengukuran sekali saja). Pengukuran

hanya dilakukan dengan mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.

Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach

Alpha >0,6 (Ghozali, 2013).

3.5.2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan meliputi uji normalitas data, linieritas,

heteroskedastisitas dan multikolinearitas (Ghozali, 2005). Pengujian normalitas

data menggunakan analisis grafik yang dihasilkan melalui perhitungan regresi

linier berganda dengan program SPSS. Langkah awal untuk melakukan analisis

regresi ini adalah menguji asumsi-asumsi yang harus dipenuhi pada regresi linear

berganda. Asumsi-asumsi tersebut antara lain:

1) Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi variabel

penggangu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui

bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti

distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistikmenjadi

tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2013:147).Dalam

penelitian ini digunakan analisis grafik. Hal ini dapat dilakukan dengan
melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi

dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Menurut Ghozali,

dasar pengambilan keputusannya adalah:

a) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah

garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukan pola distribusi

normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak

mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya tidak

menunjukan pola distribusi normal, maka regresi tidak memenuhi

asumsi normalitas. Dalam penelitian ini digunakan uji statistik non

parametri Kolmogorov-Smirnov. Uji K-S dilakukan dengan

membuat hipotesis:

H0 : data residual berdistribusi normal.

Ha : data residual tidak berdistribusi normal

2) Multikoliniearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika variabel

independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal.

Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar

sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2013).

Multikolinearitas dapat dilihat dari:

a) Nilai tolerance yang rendah dan lawannya

b) Variance Inflation Factor (VIF)


Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen

manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Dalam

pengertian sederhana setiap variable independen menjadi variabel

dependen dan diregras terhadap variabel independen lainnya.

Nilai tolerance yang rendah sama dengan VIF tinggi (VIF =

1/tolerance) dan adanya kolonieritas yang tinggi. Nilai cut off yang

umum dipakai nilai tolerance 10% atau sama dengan nilai VIF >

10 artinya nilai tolerance tidak lebih kurang dari 10%, dan nilai

VIF tidak lebih dari 10 (Ghozali, 2013).

3) Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari residual jawaban responden satu ke

responden yang lain tetap disebut homokedastisitas dan jika berbeda

disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2013). Adapun cara mendeteksi ada

atau tidaknya heteroskedastisitas digunakan program SPSS dengan cara

melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel tersebut dengan

residualnya. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan

dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot, dengan

dasar analisis :

a) Jika ada pola tersebut seperti titik-titik yang ada membentuk pola

tersebut yang teratur (bergelombang menyebar kemudian menyempit)

maka mengindikasikan terjadi heteroskedastisitas.


b) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan

dibawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi

heteroskedastisitas.

3.5.3. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi berganda pada dasarnya digunakan untuk mengetahui

seberapa jauh ketergantungan variabel dependen dan variabel independen dengan

tujuan untuk mengestimasi atau memprediksi rata-rata populasi dan nilai rata-rata

variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Ghozali,

2013). Hasil dari analisis regresi ini adalah berupa koefisien untuk masing-masing

variabel independen.

Dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua

variabel atau lebih, dan juga menunjukan arah hubungan antara variabel dependen

dengan variabel independen. Untuk regresi yang variabel independenya terdiri

atas dua atau lebih, regresinya disebut juga dengan regresi berganda. Oleh karena

variabel independen dalam penelitian ini mempunyai lebih dari 2 variabel maka

regresi yang digunakan dalam penelitian ini disebut regresi linear berganda.

Adapun bentuk umum persamaan regresi berganda yang digunakan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y1 = B1X1 + B2X2 + e

Y2 = B1X1 + B2X2 + B3Y1 + e

Dimana:

X1 = Fashion Involvement

X2 = Visual merchandising
Y1 = Positive Emotion

Y2 = Impulse buying

B = Besarnya koefisien dari masing-masing variabel

e = Error

3.5.4. Uji Hipotesis

Metode analisis yang digunakan uji hipotesis dalam penelitian ini analisis

jalur (path analysis) yang digunakan untuk mengecak model hubungan yang telah

ditentukan bukan untuk menemukan penyebabnya. Analisis jalur dapat dilakukan

estimasi besarnya hubungan kausal antara sejumlah variabel dan hierarki

kedudukan masing-masing variabel dalam rangkaian jalur-jalur kausal, baik

secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung artinya arah

hubungan tanpa melewati variabel lain, sementara tidak langsung harus melewati

variabel ini. Untuk melihat besarnya pengaruh langsung antar variabel dengan

menggunakan koefisien beta atau koefisien regresi yang terstandarisasi.

Analisis jalur (path analisis) dalam penelitian ini adalah perilaku

konsumen. Analisis jalur akan membantu dalam melihat besarnya koefisien secara

langsung dan tidak langsung dari variabel terikat dan variabel bebas, dengan

memperhatikan besarnya koefisien. Maka bisa di bandingkan besarnya pengaruh

secara langsung dan tidak langsung, berdasarkan nilai koefisien tersebut,akan di

ketahui variabel mana yang memberikan pengaruh terbesar dan pengaruh terkecil

terhadap variabel terikat. Berikut gambar model analisis jalur dalam penelitian ini
Fashion
Involvement P3
X1
P1 Impulse
Positive P4
Buying
Emotion
Y2
P2 Y1
Visual
merchandising
X2 P5

Gambar 3.1 Model Analisis Jalur (Path Analisis)

Efek yang ditimbulkan dapat ditulis sebagai berikut :

Total efek Fashion Involvement terhadap Impulse buying = (p1) + (p3) (p5)

Total Visual merchandising terhadap Impulse buying = (p2) + (p4) (P5)

Total efek Positive Emotion terhadap Impulse buying = (p5)

Efek langsung Fashion Involvement dan Visual merchandising terhadap Impulse

buying = (p1) +(p2).

1) Uji Model Regresi (Uji F)

Uji F adalah pengujian signifikansi persamaan yang digunakan untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen (X) terhadap

variabel dependen (Y) .

Langkah-langkah pengujian :

a) Menentukan formulasi Ho dan Ha:

Ho : b = 0 menunjukan variabel independen (X1) tidak berpengaruh

positif terhadap variabel dependen (Y).


Ha : b≠ 0 menunjukan variabel independen (X) berpengaruh positif

terhadap variabel dependen (Y).

b) Membandingkan hasil besarnya peluang melakukan kesalahan

(tingkat signifikansi) yang muncul, dengan tingkat peluang

munculnya kejadian (probabilitas) yang ditentukan sebesar 5%

atau 0,05 pada output, guna mengambil keputusan menolak atau

menerima hipotesis nol (Ho) :

Apabila signifikansi > 0.05 maka keputusannya adalah menerima Ho

dan menolak Ha.

Apabila signifikansi < 0.05 maka keputusannya adalah menolak Ho

dan menerima Ha.

c) Membandingkan nilai statistik F hitung dengan nilai statistik F tabel:

Bila F hitung < F tabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak, berarti

tidak terdapat pengaruh secara simultan.

Bila F hitung > F tabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti

terdapat pengaruh secara simultan.

2) Uji hipotesis secara parsial (Uji t)

Uji t adalah pengujian koefisien regresi parsial individual yang

digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X) secara

individual mempengaruhi variabel dependen (Y).


Langkah-langkah pengujian :

a) Menentukan formulasi Ho dan Ha.

Ho : b = 0 menunjukan variabel independen (X) tidak berpengaruh

positif terhadap variabel dependen (Y).

Ha : b ≠ 0 menunjukan variabel independen (X) berpengaruh positif

terhadap variabel dependen (Y).

b) Membandingkan hasil besarnya peluang melakukan kesalahan

(tingkat signifikansi) yang muncul, dengan tingkat peluang

munculnya kejadian (probabilitas) yang ditentukan sebesar 5% atau

0,05 pada output, guna mengambil keputusan menolak atau menerima

hipotesis nol (Ho):

Apabila signifikansi > 0.05 maka keputusannya adalah menerima Ho

dan menolak Ha.

Apabila signifikansi < 0.05 maka keputusannya adalah menolak Ho

dan menerima Ha.

c) Membandingkan nilai statistik t hitung dengan nilai statistik t tabel:

Apabila t hitung < t tabel, maka Ho diterima yang berarti variabel X

tidak berpengaruh positif dengan variabel Y.

Apabila t hitung > t tabel, maka Ho ditolak yang berarti variabel X

berpengaruh positif dengan variabel Y.


3) Uji Intervening

Variabel intervening merupakan variabel yang secara teori dapat

mempengaruhi variabel independen dengan dependen sebagai hubungan tidak

langsung dan tidak dapat diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela /

variabel antara pada variabel independen dengan variabel dependen, sehingga

hubungan antara variabel independen menjadi tidak langsung mempengaruhi

berubahnya.

Intervening merupakan variabel antara yang dapat berguna dalam

memediasi hubungan antar variabel independen dan variabel dependen. Agar

dapat menguji pengaruh variabel mediasi dilakukan dengan menggunakan

Analisis Sobel.

Analisis sobel merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui pengaruh

variabel mediator yaitu Positive emotion. Pengujian hipotesis mediasi dilakukan

dengan Uji Sobel (Sobel Test). Uji Sobel menguji kekuatan pengaruh tidak

langsung variabel independent (X) kepada variabel dependent (Y2) melalui

variabel intervening (Y1). Pengaruh tidak langsung X ke Y2 melalui Y1 dihitung

dengan cara mengalikan jalur :

X Y1 (a) dengan jalur Y Y2 (b) atau ab.

Jadi Koefisien ab = (c-c1), dimana c adalah pengaruh X terhadap Y2 tanpa

mengontrol Y1, sedangkan c1 adalah koefisien pengaruh X terhadap Y2 setelah

mengontrol Y1. Standar error koefisien a dan b ditulis dengan Sa dan Sb, besarnya

standar error tidak langsung (indirect effect) Sab dihitung dengan rumus berikut

ini :
Sab = √𝑎2 𝑠𝑏 2 + 𝑏 2 𝑠𝑎2 + 𝑠𝑎2 𝑠𝑏 2

Dimana:

a = Koefisien korelasi X Y1

b = Koefisien korelasi Y Y2

ab = Hasil kali Koefisien korelasi X Y1 dengan Koefisien korelasi Y1 Y2

Sa = Standar error koefisien a

Sb = Standar error koefisien b

Sab = Standar error tidak langsung (indirect effect)

Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung maka menghitung

nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:

𝑎𝑏
t=
𝑆𝑎𝑏

Nilai thitung dibandingkan dengan ttabel dan jika thitung lebih besar dari nilai

ttabel maka dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh mediasi