Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Globalisasi telah memberikan dampak yang begitu besar dalam berbagai

aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti mengaburkan batas-batas antar

negara sehingga lebih terbuka. Menghadapi kenyataan tersebut maka diperlukan

sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas tinggi agar mampu

bersaing dalam percaturan dunia. Darmadi (2012: 60) menyatakan indikator

suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat sumber daya manusianya, dan

indikator sumber daya manusia ditentukan oleh tingkat pendidikan

masyarakatnya. Semakin tinggi sumber daya manusianya, semakin tinggi pula

tingkat pendidikannya. Dapat dikatakan bahwa sumber daya manusia yang

berkualitas dapat diperoleh melalui pendidikan.

Pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran,

serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan

menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya (Ki Hajar

Dewantara dalam Hermino, 2014: 2). Tertuang dalam Undang-undang Sistem

Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 bahwa Pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,


masyarakat, bangsa, dan negara.

Demi tercapainya tujuan tersebut, pemerintah menetapkan 8 standar

pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2005

Tentang Standar Nasional Pendidikan. Kedelapan standar tersebut meliputi:

standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan

prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Tidak dapat

dipungkiri bahwa tenaga kependidikan merupakan standar yang bersinggungan

langsung dengan proses berlangsungnya pelaksanaan pendidikan. Oleh karena

itu, tenaga pendidikan memiliki peranan penting dalam menciptakan mutu

pendidikan.

Salah satu komponen tenaga pendidikan adalah guru. Disebutkan dalam

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 bahwa

guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

pendidikan menengah. Lebih lanjut lagi, Depdikbud mengungkapkan bahwa guru

merupakan sumber daya manusia yang mampu mendayagunakan faktor-faktor

lain sehingga tercipta pembelajaran yang bermutu dan menjadi faktor utama yang

menentukan mutu pendidikan (Depdikbud dalam Supardi, 2014: 54). Demi

terwujudnya mutu pendidikan yang berkualitas, tentunya guru haruslah bersikap

profesional. Seorang guru profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan

tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai

dengan tuntutan profesinya (Tilaar dalam Usman, 2013:18). Sikap profesional


guru ditunjukkan melalui kinerja guru yang baik.

Susanto (2013: 31) mengungapkan bahwa guru yang memiliki kinerja

mengajar yang baik adalah guru yang memiliki beberapa kriteria atau seluruh

persyaratan di atas pada dirinya, sehingga baginya tugas mengajar adalah sebagai

tugas mulia yang akan diembannya dengan sepenuh hati. Kinerja guru dari dilihat

dari berbagai aspek. Susanto (2013: 37) merangkum 3 indikator kinerja guru

meliputi: (1) merencanakan pembelajaran, (2) melaksanakan pembelajaran, dan

(3) mengevaluasi pembelajaran. Guru yang memiliki kinerja tinggi akan berusaha

meningkatkan kemampuannya, baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun

evaluasi pembelajaran. Hal tersebut merupakan suatu keharusan karena kinerja

guru dalam pembelajaran menjadi bagian terpenting dalam mendukung

terciptanya proses pendidikan secara efektif terutama dalam membangun sikap

disiplin dan mutu hasil belajar siswa (Husdarta dalam Supardi, 2014: 54).

Jika diperhatikan, masih banyak guru yang mengesampingkan upaya

untuk meningkatkan kinerjanya. Hal ini terjadi pada guru-guru di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk. Guru di Gugus Sari Kelapa dan Wiyata Mandala

masih memiliki kinerja yang rendah. Karena kinerja dikatakan baik dan

memuaskan apabila hasil yang dicapai sesuai dengan standar yang telah

ditetapkan, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan

mengevaluasi pembelajaran.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan kepala sekolah di

Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk pada Senin 15 Maret 2015 menyatakan

bahwa secara umum kinerja guru dinilai masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan
guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran masih kurang dan terkesan

berlangsung seadanya. Disamping itu, guru juga enggan memanfaatkan media

maupun alat peraga pembelajaran yang tersedia di sekolah. Hal tersebut

dikarenakan guru kurang menguasai teknologi dan enggan belajar menggunakan

teknologi dengan alasan usia lanjut.

Pada dasarnya, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja guru.

Faktor tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar diri guru. Salah

satunya adalah kepemimpinan. Dalam sebuah organisasi, pemimpin memegang

peranan penting. Nurkholis dalam Hermino (2014: 125) mengemukakan 4 alasan

pentingnya figur seorang pemimpin, yaitu: (1) banyak orang memerlukan figur

pemimpin, (2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili

kelompoknya, (3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan

terhadap kelompoknya, dan (4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan.

Dalam konteks pendidikan, peran pemimpin dipegang oleh kepala sekolah.

Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah dituntut untuk memiliki

profesionalitas yang tinggi sehingga kegiatan mengelola dan mengorganisasikan

sekolah dapat dilakukan secara maksimal.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan kunci dalam mewujudkan

sekolah yang berhasil. Keberhasilan suatu sekolah tidak terlepas dari peran

pemimpin dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. Kepala sekolah berhasil

adalah kepala sekolah yang memahami faktor-faktor yang menjadikannya

mampu dan berhasil dalam memimpin sekolah sehingga memudahkan baginya

untuk menentukan langkah sebagai upaya mewujudkan keberhasilan tersebut.


Mulyasa (2012: 47-54) mengungkapkan 11 ciri kepemimpinan kepala sekolah

yang ideal yaitu (1) fokus pada kelompok, (2) melimpahkan wewenang, (3)

merangsang kreativitas, (4) memberi semangat dan motivasi, (5) memikirkan

program penyertaan bersama, (6) kreatif dan proaktif, (7) memperhatikan sumber

daya manusia, (8) membicarakan persaingan, (9) membangun karakter, (10)

kepemimpinan yang tersebar, dan (11) bekerja sama dengan masyarakat.

Sebagai seorang kepala sekolah yang memiliki kedudukan tinggi di

sekolah, kepala sekolah dituntut untuk memaksimalkan potensinya dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya. Kaitannya dengan guru, kepala sekolah

memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan guru serta memberikan

penghargaan dan intensif (Andang, 2014: 79). Salah satu langkah strategis yang

dapat digunakan adalah pemberian penghargaan atau intensif sehingga guru

termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Selain itu, kepala sekolah juga harus

mengupayakan untuk menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan guna

menunjang kinerja guru. Kepala sekolah juga harus senantiasa mengingatkan apa

yang menjadi tugas dan kewajiban guru. Oleh karena itu, kepala sekolah harus

menjalin hubungan kerja yang harmonis.

Namun, pada kenyataannya hubungan kerja cenderung kurang serasi dan

berjalan sendiri-sendiri (Agung dan Yufridawati, 2013: 32). Pola kerja yang

terbentuk antara kepala sekolah dan guru cenderung pasif, monoton, dan sekadar

melaksanakan tugas semata. Peranan kepala sekolah dalam mendorong serta

membimbing guru dalam melaksanakan tugasnya dinilai masih kurang.

Kenyataan di lapangan menunjukkan kerapkali seorang guru yang menghadapi


kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran, bersikap pasif dan kurang

menunjukkan upaya untuk mengatasinya (Agung dan Yufridawati 2013: 30).

Bertolak dari kenyataan tersebut, diperlukan kepemimpinan kepala

sekolah yang mampu membangun hubungan harmonis antara kepala sekolah dan

guru. Hal tersebut akan memudahkan kepala sekolah dalam memberikan

bimbingan serta perhatian terhadap guru. Berdasarkan wawancara yang

dilakukan peneliti dengan kepala sekolah, kepemimpinan kepala sekolah masih

harus ditingkatkan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya komunikasi yang

intensif antara kepala sekolah dan guru. Komunikasi yang berjalan sebatas

kegiatan administrasi serta kurangnya bimbingan yang diberikan kepada guru

menyebabkan kebingungan terhadap peran dan tugas yang harus dilaksanakan

guru. Usia juga menjadi salah satu alasan komunikasi yang terjalin antara kepala

sekolah dan guru berlangsung kaku. Guru-guru yang berusia lebih tua dan senior

menyebabkan kepala sekolah yang memiliki usia lebih muda merasa canggung

untuk memberikan bimbingan maupun kritikan terhadap guru.

Berikut adalah perolehan nilai Penilaian Kinerja Guru (PKG) oleh kepala

sekolah masing-masing :

Rata-rata
Nama SD
PKG
SD GENUKSARI 02 87,90
SD TRIMULYO 01 82,50
SD GENUKSARI 01 85,03
SDI DARUL FALLAH 83,33
SD ISLAM DARUL HUDA 91,43
Rata-rata PKG Gugus Diponegoro 86,04
Selain berasal dari luar, faktor yang mempengaruhi kinerja juga berasal

dari dalam. Salah satu faktor yang berasal dari dalam diri guru adalah motivasi.

Motivasi merupakan dorongan yang muncul baik dari dalam diri seseorang

maupun dari luar untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu wujud dari motivasi

adalah motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi merupakan dorongan yang

muncul untuk mengungguli dan meraih kesuksesan dalam berbagai situasi. Guru

yang memiliki motivasi berprestasi akan menggerakkan dirinya untuk melakukan

kerja serta memperoleh prestasi yang lebih baik. Dapat dikatakan bahwa adanya

motivasi berprestasi menjadikan guru semangat dalam menjalankan tugasnya

sebagai seorang pendidik.

Menurut McCelland dalam Surya (2013: 57) setiap manusia mempunyai

kualitas tingkatan motif berprestasi yang berbeda satu dengan lainnya. Ada yang

bermotif tinggi dan ada yang bermotif rendah. McClelland dalam Surya

(2013:57) menyebutkan orang yang bermotif tinggi mempunyai karakteristik

sebagai berikut: (1) menyenangi situasi yang menuntut tanggung jawab pribadi

untuk menyelesaikan masalah, (2) cenderung mengambil risiko yang moderat

dibanding dengan risiko rendah atau tinggi, dan (3) selalu mengharapkan balikan

nyata (concrete feedback) dari semua unjuk kerja yang telah dilakukannya.

Berkaitan dengan motivasi berprestasi, kepala sekolah di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk menyatakan bahwa motivasi berprestasi setiap

guru berbeda-beda. Umumnya guru masih memiliki motivasi berprestasi rendah.

Hal tersebut dibuktikan dengan guru lebih menyukai pekerjaan yang beresiko

rendah, serta cenderung enggan melakukan inovasi-inovasi. Akan tetapi, guru


mengharapkan umpan balik yang nyata atas apa yang telah dikerjakan.

Kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi berprestasi merupakan faktor

yang mempengaruhi kinerja guru. Untuk mengetahui lebih rinci mengenai

pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi berprestasi terhadap

kinerja guru, maka dibutuhkan suatu penelitian. Salah satunya adalah penelitian

yang dilakukan oleh Fajriani, Santoso, dan Ngadiman (2013) dari Universitas

Sebelas Maret dengan Judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan

Etos Kerja Guru terhadap Kinerja Guru. Penelitian ini mengambil sampel

sebanyak 16 Guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk. Hasil dari penelitian

ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan etos kerja

berpengaruh terhadap kinerja guru. Penelitian lain juga dilakukan oleh Rahawin

dan Suharsimi Arikunto dari Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul

Pengaruh Komunikasi, Iklim Organisasi, dan Gaya Kepemimpinan

Transformasional Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru. Penelitian yang yang

dilakukan Rahawin dan Arikunto (2015) mengambil sampel 140 guru SMA di

Kabupaten Maluku Tenggara. Untuk keperluan analisis data menggunakan

analisis deskriptif, analisis regresi sederhana, dan analisis regresi berganda. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa komunikasi, iklim organisasi dan gaya

kepemimpinan transformasional kepala sekolah secara serentak berpengaruh

pada kinerja guru SMA di Kabupaten Maluku Tenggara. Penelitian-penelitian

tersebut menunjukkan bahwa variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian

saling berpengaruh.

Berdasarkan uraian tersebut, maka kepemimpinan kepala sekolah,


motivasi berprestasi, dan kinerja guru sangat menarik untuk diteliti. Penelitian ini

dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan

motivasi berprestasi terhadap kinerja guru di Gugus Diponegoro Kecamatan

Genuk. Peneliti mengambil judul penelitian “Pengaruh Kepemimpinan Kepala

Sekolah dan Motivasi Berprestasi terhadap Kinerja Guru SD Negeri Di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, masalah-masalah dalam penelitan ini

dapat diidentifikasi sebagai berikut.

(1) Kinerja sebagian guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk yang masih

kurang dan perlu ditingkatkan.

(2) Gaya kepemimpinan kepala sekolah yang bervariasi membuat perbedaan pada

kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

(3) Motivasi berprestasi guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk yang

belum digali secara mendalam.

(4) Pola pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru masih

beragam bentuknya.

(5) Belum diketahuinya gaya kepemimpinan yang ideal bagi kepala sekolah.

(6) Perubahan dari kinerja guru sebelum dan sesudah pembinaan yang dilakukan

oleh kepala sekolah belum terlihat.

(7) Lokasi Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk yang jauh dari pusat kota

membuat kinerja sebagian guru menjadi tidak maksimal.


1.3. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membatasi cakupan permasalahan yang

diteliti yaitu mengenai pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi

terhadap kinerja guru.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian

ini dirumuskan sebagai berikut.

(1) Bagaimanakah tingkat gaya kepemimpinan sekolah yang ada di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk?

(2) Bagaimanakah tingkat motivasi berprestasi guru di Gugus Diponegoro

Kecamatan Genuk?

(3) Bagaimanakah tingkat kinerja guru di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk?

(4) Adakah pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru

Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk?

(5) Adakah pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap kinerja guru Di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk?

(6) Adakah pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi berprestasi

secara bersama-sama terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan

Genuk?

(7) Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja

guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk?


(8) Seberapa besar pengaruh motivasi berprestasi terhadap kinerja guru Di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk?

(9) Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi

berprestasi secara bersama-sama terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro

Kecamatan Genuk?

1.5. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya

kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru Di

Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

Tujuan khusus yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

(1) Untuk mendeskripsikan tingkat gaya kepemimpinan kepala sekolah Di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk.

(2) Untuk mendeskripsikan tingkat motivasi berprestasi guru Di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk.

(3) Untuk mendeskripsikan tingkat kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan

Genuk.

(4) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah

terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

(5) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap

kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

(6) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah

dan motivasi berprestasi secara bersama-sama terhadap kinerja guru Di Gugus


Diponegoro Kecamatan Genuk.

(7) Untuk mengetahui besarnya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah

terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

(8) Untuk mengetahui besarnya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah

terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

(9) Untuk mengetahui besarnya pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dan

motivasi berprestasi secara bersama-sama terhadap kinerja guru Di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk.

1.6. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini ada dua manfaat, yaitu manfaat secara teoritis dan

manfaat secara praktis. Manfaat secara praktis ditujukan bagi peneliti, bagi guru,

dan bagi kepala sekolah.

1.6.1. Manfaat teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitain ini untuk memberikan informasi

pengetahuan tentang manajemen pendidikan melalui kajian gaya kepemimpinan

kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja guru. Dan menjadi

gambaran bagi peneliti mengenai kinerja guru yang baik ketika telah menjadi

guru nantinya.

1.6.2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dalam penelitian ini yaitu bagi peneliti, pendidik, dan

kepala sekolah.

a. Bagi Kepala Sekolah

Diharapkan dapat menjadi masukan dalam kepemimpinan yang baik untuk

meningkatkan kinerja guru.


b. Bagi Pendidik

Diharapkan dapat memberi motivasi untuk lebih meningkatkan motivasi

berprestasi.

Dapat meningkatkan kinerja guru supaya lebih baik lagi.

c. Bagi Peneliti

Untuk meningkatkandan menambah pengetahuan tentang manajemen

pendidikan.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kinerja Guru

Aritonang (2005) dalam Barnawi dan Arifin (2014: 12) mengemukakan

bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam suatu organisasi

yang sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab dalam upaya mencapai tujuan

yang hendak dicapai. Sementara itu, menurut Munir (2008:30) kinerja merupakan

gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan untuk mewujudkan

sasaran, tujuan, misi, dan visi lembaga. Menurut Wahjosumidjo dalam Munir (2008: 30)

kinerja adalah sumbangan secara kualitatif dan kuantitatif yang terukur dalam rangka

membantu tercapainya tujuan kelompok dalam suatu unit kerja.

Dari definisi kinerja yang telah dipaparkan oleh beberapa ahli, dapat

disimpulkan bahwa kinerja adalah sesuatu yang dicapai seseorang dalam

melaksanakan pekerjaannya demi mewujudkan tujuan di dalam unit kerja.

Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegitan

guru dalam proses pembelajaran, yaitu bagaimana seorang guru merencanakan

pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.

Menurut Rusman (2013: 50) Standar kinerja perlu dirumuskan untuk dijadikan

acuan dalam mengadakan perbandingan terhadap apa yang dicapai dengan apa

yang diharapkan, atau kualitas kinerja adalah wujud perilaku atau kegiatan yang

dilaksanakan dan sesuai dengan harapan dan kebutuhan atau tujuan yang hendak

dicapai secara efektif dan efisien.


Berkaitan dengan standar kinerja guru, Sahertian dalam Rusman (2013)

menjelaskan bahwa:

“Standar Kinerja Guru itu berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan
tugasnya seperti: (1) Bekerja dengan siswa secara individual; (2) Persiapan dan
perancanaan pembelajaran; (3) Pendayagunaan media pembelajaran; (4)
Melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar; dan (5) Kepemimpinan
yang aktif dari guru.

Dalam dunia pendidikan, kualitas guru sangat diperlukan. Salah satunya

adalah kualitas kinerja guru. Kualitas kinerja guru dinyatakan dalam Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang

Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar

Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu

Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, dan Profesional. Keempat

Kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

pasal (1) ayat (1) menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan

tugas utama mendidik mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,

dan mengevaluasi siswa pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan

pendidikan menengah”.

Suprihatiningrum (2012: 24) menyatakan bahwa guru adalah pendidik

profesional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing,

mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada jenjang pendidikan

tertentu.

Guru merupakan suatu profesi yang memerlukan keahlian khusus. Untuk

menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, terutama sebagai guru professional


yang harus menguasai benar tentang pendidikan dan pengajaran dengan berbagai

ilmu pengetahuan yang perlu dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.

Menurut Glasser dalam Rusman (2013:51), berkenaan dengan

kompetensi guru, ada empat hal yang harus dikuasi guru, yaitu menguasai bahan

pelajaran, mampu mendiagnosis tingkah laku siswa, mampu melaksanakan proses

pembelajaran, dan mampu mengevaluasi hasil belajar.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen pasal (7) ayat (1) dikatakan

bahwa profesi guru dan dosen merupakan bidang khusus yang memerlukan

prinsip-prinsip professional, diantaranya:

(a) Memiliki bakat, minat, dan panggilan jiwa dan idealisme; (b) Memiliki
kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang
tugasnya;(c) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugasnya; (d)
Mematuhi kode etik profesi; (e) Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan
tugas; (f) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi
kerjanya; (g) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara
berkelanjutan; (h) Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
profesionalnya; (i) Memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum.

Guru yang memiliki profesionalisme adalah guru yang dapat menjalankan

tugasnya secara profesional. Untuk dapat menentukan seorang guru dikatakan

professional, dapat dilihat dari dua perspektif yaitu dilihat dari tingkat pendidikan

yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai guru. Yang kedua, penguasaan guru

terhadap materi bahan ajar, pengelolaan terhadap kelas, dan tugas-tugas lain yang

berkaitan dengan siswa.

Tugas dan peran guru tidaklah hanya sebatas di dalam masyarakat,

namun pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memilih peran yang

enting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.


2.1.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Ada beberapa faktor yang memengaruhi kinerja guru, diantaranya faktor

eksternal dan internal. Faktor internal adalah yang bersumber dari personal/

individu yang meliputi unsur pengetahuan, keterampilan, kemampuan,

kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap guru.

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seorang guru.

Menurut Barnawi dan Arifin (2014: 43) faktor dari luar yang dapat mempengaruhi

kinerja guru, yaitu: (1) gaji yang merupakan salah satu bentuk dari apresiasi atas

prestasi kerja yang diberikan kepada seorang guru. ; (2) sarana dan prasarana

merupakan semua perangkat dan peralatan yang digunakan secara langsung dalam

proses pendidikan di sekolah. ; (3) lingkungan kerja fisik yang meliputi

pencahayaan, pewarnaan, udara, kebersihan, kebisingan, dan keamanan. ; dan (4)

kepemimpinan yang dapat dilihat dari gaya kepemimipinan kepala sekolah. Gaya

kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja guru untuk meningkatkan

produktivitas kerja demi mencapai tujuan.

2.1.2. Kriteria Kinerja Guru

Seseorang yang berorientasi pada kinerja harus memiliki kriteria-kriteria

tertentu.Menurut Hradesky dalam Susanto (2013: 30) kroteria-kriteria individu

yang berorientasi pada kinerja meliputi:

a) Kemampuan intelektual, yaitu suatu kemampuan yang meliputi kapasitas yang

digunakan untuk berpikir secara logis, praktis, dan menganalisis sesuai konsep

dan kemampuan mengungkapkan dirinya secara jelas.

b) Ketegasan, yaitu seorang guru perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis


kemungkinan memiliki komitmen terhadap pilihan yang pasti secara tepat.

c) Semangat, yaitu seorang guru perlu memiliki upaya untuk bekerja secara aktif

dan tidak mengenal lelah.

d) Berorientasi pada hasil, yaitu keinginan dari dalam diri guru untuk mencapai

suatu hasil dan menyelesaikan tugas dengan baik.

e) Kedewasaan sikap dan perilaku yang pantas, yaitu seorang guru perlu

melakukan pengendalian emosi dan disiplin diri yag tinggi serta memiliki

kemampuan untuk mengambil alih tanggung jawab.

f) Keterampilan interpersonal, yaitu kecenderungan yang dimiliki guru untuk

menunjukkan perhatian pemahaman dan kepedulian terhadap orang lain.

g) Keingintahuan, yaitu seorang guru perlu memiliki kemampuan untuk

melakukan usaha-usaha yang rumit secara obejktif dan cepat dalam menilai

sesuatu secara kritis.

h) Produktif, merupakan kemampuan guru untuk melakukan inisiatif secara

mandiri dengan mengantisipasi permasalahan dan menerima tanggung jawab

pekerjaan.

i) Keterbukaan, adalah kemampuan guru untuk mengungkapkan pendapat dan

perasaan secara langsung dan apa adanya.

j) Pemberdayaan kemampuan, yaitu suatu sikap percaya diri untuk selalu siap

melaksanakan tugas dan memberi kepercayaan atas kemampuan orang lain

dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.

k) Teknis dan pengetahuan, keterampilan, keputusan, perilaku, serta tanggung

jawab merupakan perilaku yang dijadikan sebagai kriteria yang perlu dimiliki
guru agar kinerjanya dapat meningkat lebih baik lagi.

Dari kriteria-kriteria di atas, guru yang memiliki kinerja yang baik adalah

guru yang memiliki kriteria tersebut sehingga tugas mengajar adalah sebagai tugas

mulia yang diemban dengan sepenuh hati. Selanjutnya Hradesky dalam Susanto

(2013: 31) mengemukakan bahwa kinerja guru dapat dikategorikan sebagai unjuk

kerja yang dicapai yaitu berupa kualitas individu yang diperlihatkan sebagai

bagian dari tanggung jawab didalam pekerjaan.

Kriteria-kriteria tersebut akan menjadikan kualitas kinerja guru menjadi

lebih baik. Kualitas kinerja guru dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan

Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam Undang-Undang tersebut, standar

kompetensi guru dikembangkan menjadi empat kompetensi yaitu kompetensi

pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan Kompetensi

profesional.

Kompetensi Pedagogik adalah kompetensi yang berkaitan dengan

pemahaman yang dimiliki oleh guru. Pemahaman tersebut meliputi pemahaman

terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran,

evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik.

Kompetensi Kepribadian adalah kompetensi yang berkenaan dengan tugas

sebagai seorang guru yang harus didukung oleh suatu perasaan bangga dengan

tugas yang dimiliki guru yang berguna untuk mempersiapkan generasi bangsa

yang berkualitas dimasa depan. Dalam kompetensi kepribadian seorang guru perlu
memiliki tingkat kedisiplinan diri yang baik. Karena, selain mengajarkan tentang

materi pelajaran, guru juga harus mampu membelajarkan sikap kedisiplinan

kepada siswa, mengajarkan siswa agar lebih rajin membaca, dan melatih siswa

untuk menghargai waktu dengan melakukan hal-hal yang positif.

Kompetensi Sosial adalah kompetensi yang berkaitan dengan hubungan

guru dengan masyarakat dan siswa. Di mata masyarakat dan siswa, guru

merupakan seorang panutan yang perlu dicontoh dan menjadi suri teladan dalam

kehidupan sehari-hari. Seorang guru yang memiliki kemampuan sosial dengan

baik akan lebih menjalin hubungan baik antara sekolah dengan masyarakat.

Kompetensi Profesional adalah kompetensi yang dimiliki oleh guru

berkaitan dengan proses pembelajaran. Tugas seorang guru adalah mengarahkan

kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan belajar. Oleh karena itu sebagai

guru harus selalu memperbaharui dan menguasai materi pelajaran yang disajikan.

Dalam penyampaian pelajaran, guru juga harus dapat memberikan suasana yang

mendukung agar siswa aktif dan memperhatikan dengan baik, sehingga dapat

mendorong siswa untuk senang bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen,

serta menemukan fakta dan konsep yang benar.

2.1.3. Penilaian Kinerja Guru

Menurut Rusman (2013: 93), penilaian merupakan serangkaian kegiatan

untuk memperoleh, manganalisis, serta menafsirkan data tentang proses dan hasil

yang dilakukan secara berkesinambungan.


Menurut S.P Hasibuan dalam Rinawatiririn (2012) dalam Barnawi dan

Arifin (2014: 25) penilaian kinerja adalah evaluasi terhadap perilaku, prestasi

kerja, dan potensi pengembangan yang telah dilakukan oleh seseorang.

Penilaian digunakan sebagai informasi yang bermakna dalam pengambilan

keputusan. Penilaian yang dimaksud tidak hanya bergantung dari hasil akhir,

tetapi pada proses juga menjadi bagian penting dalam suatu peniaian. Penilaian

yang dilaksanakan secara berkelanjutan akan lebih baik daripada yang

dilaksanakan hanya satu kali. Karena dengan berkelanjutan, kinerja guru dapat

diketahui perkembangannya.

Secara umum, menurut Ditjen PMPTK (2010) dalam Barnawi dan Arifin

(2014: 26) penilaian kinerja guru memiliki dua fungsi utama, yaitu:

(1) Untuk menilai kemampuan guru dalam menerapkan kompetensi dan keterampilan

yang diperlukan untuk proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan

tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah.

(2) Untuk menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja pembelajaran,

pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi

sekolah yang dilakukan pada saat tersebut.

T.R. Mitchcell dalam Direktorat Tenaga Kependidikan (2008) dalam

Barnawi dan arifin (2014: 26) menjelaskan mengenai teori dasar yang digunakan

sebagai landasan untuk menilai kualitas kinerja guru yaitu:

Performance = Motivation x Ability

Rumusan tersebut menunjukkan gambaran bahwa kinerja seseorang akan

terwujud oleh dua unsur, yaitu motivasi dan abilitas. Motivasi merupakan faktor
pendorong yang membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.

Abilitas berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki

individu. Abilitas adalah factor penting dalam meningkatkan produktivitas kerja.

Menurut Ditjen PMPTK (2010) dalam Barnawi dan Arifin (2014: 28)

Penilaian kinerja yang terkait dengan pelaksanaan proses pembelajaran bagi guru

mata pelajaran atau guru kelas, meliputi kegiatan merencanakan dan

melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi dan menilai, menganalisis hasil

penilaian dan melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian, dan melaksanakan

tindak lanjut hasil penilaian yang berkaitan dengan empat kompetensi yang harus

dimiliki.

2.1.4. Kinerja Mengajar Guru di Sekolah Dasar

Guru adalah komponen penting yang menentukan tingkat keberhasilan

pembelajaran. Tugas seorang guru tidak hanya sekedar memberikan materi

pelajaran kepada siswa, namun guru memiliki empat tugas yang dilaksanakan

yaitu: mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih.

Menurut Natawidjaya dalam Susanto (2013: 34) kinerja mengajar adalah

seperangkat perilaku nyata guru pada saat memberikan pelajaran kepada siswa.

Dalam memberikan pelajaran, guru tidak boleh hanya sekedar mentransfer ilmu

kepada siswa. Lebih dari itu, guru perlu melakukan tiga kegiatan pokok yaitu:

merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi

pembelajaran.

(1) Merencanakan Pembelajaran

Perencanaan perlu dilakukan oleh guru sebelum memulai pelaksanaan


pembelajaran. Hal ini dilakukan agar pada saat pelaksanaan dapat berlangsung

dengan baik dan mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan (Susanto, 2013: 37).

Untuk membuat perencanaan pembelajaran yang baik guru harus

mempertimbangkan berbagai aspek yang ada pada siswa.

Indikator untuk merencanakan pembelajaran adalah sebagai berikut. a)

merumuskan tujuan pembelajaran; b) memilih dan mengembangkan bahan

pelajaran; c) merencanakan kegiatan belajar, termasuk merencanakan pendekatan

dan metode mengajar, langkah-langkah kegiatan belajar mengajar, serta alat dan

sumber belajar; dan d) merencanakan penilaian (Susanto, 2013: 40).

(2) Melaksanakan Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran tugas pokok kedua guru adalah

melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pelaksanaan pembelajaran adalah kegiatan

inti dari keseluruhannya. Guru berperan aktif untuk menyampaikan materi, pesan,

dan informasi yang harus diterima oleh siswa. Jika proses pelaksanaan

pembelajaran tidak berhasil, maka secara langsung tujuan pembelajaran akan

gagal.

Pada pelaksanaan pembelajaran ada beberapa tahapan kegiatan yang

perlu dilakukan guru, yaitu: a) membuka pelajaran; b) menyampaikan materi

pelajaran; dan c) menutup pelajaran.

(3) Mengevaluasi Pembelajaran

Tugas pokok guru yang ketiga adalah mengevaluasi pembelajaran.

Kegiatan mengevaluasi ini bertujuan untuk mengetahui perolehan belajar siswa


secara menyeluruh yang meliputi pengetahuan, konsep, nilai, maupun proses.

Menurut Utomo (2008) dalam Susanto (2013: 51), evaluasi pembelajaran

berguna untuk mengetahui besarnya keefektifan pembelajaran dan evaluasi yang

dilakukan setiap akhir kegiatan pembelajaran akan bermanfaat untuk mendeteksi

siswa yang masih belum memahami dan mengalami kesulitan.

Kegiatan evaluasi dapat dilakukan setiap akhir pembelajaran, dapat

dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ulangan akhir. Selain

kegiatan tersebut guru juga data melakukan evaluasi dalam bentuk lain yaitu

dengan melakukan penilaian proses.

M. Uzer Usman (1994) dalam Susanto (2013: 52) menyatakan bahwa

penilaian proses adalah penilaian yang dilakukan saat proses belajar mengajar

berlangsung oleh guru dengan cara memberikan umpan balik kepada seorang

siswa atau kelompok siswa. Hal ini akan mengembangkan sikap-sikap yang

dikehendaki seperti: kreativitas, kerja sama, tangggung jawab, dan sikap disiplin

sesuai dengan penekanan bidang studi yang bersangkutan.

2.2. Motivasi
Motif, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk

melakukan sesuatu. Motif dapat diartikan sabagai daya penggerak dari dalam dan

di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu

tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).

Berawal dari kata “motif”itu, motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak
yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila

kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak.

Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2012:73), motivasi adalah perubahan

energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan

didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

Menurut Hadari Nawawi dalam Kurniadin dan Machali (2014:333),

motivasi (motivation) berakar dari motif (motive) yang berarti dorongan sebab

atau alasan seseorang melakukan sesuatu, biasanya motif itu diwujudkan dalam

berbagai tingkah laku seseorang. Motivasi merupakan daya dorong bagi seseorang

untuk memberikan kontribusi yang sebesar mungkin demi keberhasilan organisasi

mencapai tujuan, dengan pengertian tercapainya tujuan perusahaan berarti tercapai

pula tujaun pribadi para anggota perusahaan yang bersangkutan.

Menurut Danim (2012: 2) motivasi adalah kekuatan, dorongan, kebutuhan,

semangat, tekanan, atau mekanisme psikologi yang mendorong seseorang atau

kelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang

dikehendakinya.

Dari pengertian beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi

adalah suatu dorongan baik dari dalam diri seseorang maupun dari luar untuk

melakukan serangkaian usaha guna mencapai tujuan dan memenuhi

kebutuhannya.

Ada beberapa faktor pembentuk motivasi yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan produktvitas kerja yang berpengaruh pada pencapaian tujuan,

antara lain; (1) kemungkinan untuk berkembang; (2) jenis pekerjaan; (3) Perasaan
bangga yang dimiliki sebagai bagian dari tempat individu bekerja.

2.2.1. Motivasi Berprestasi

Teori motivasi didasarkan pada asumsi bahwa seseorang akan bekerja dengan

baik biila diberi kesempatan dan dorongan yang tepat (Kurniadin dan Machali,

2014: 337). Ada berbagai macam teori motivasi yang diantaranya adalah teori

motivasi berprestasi. Teori motivasi menurut McClelland dalam Kurniadin dan

Machali (2014: 347) adalah kebutuhan yang kuat untuk berprestasi, dorongan

untuk berhasil, dan berkaitan dengan sejauh mana orang termotivasi untuk

melaksanakan tugas.

Menurut Usman (2008: 259) Motivasi berprestasi adalah sebuah dorongan

dari dalam diri untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upaya

mencapai tujuan yang telah ditetapkan. McClelland dalam Usman (2008: 259)

membagi tiga kebutuhan dalam teori motivasinya. Salah satu dari kebutuhan

tersebut adalah kebutuhan akan prestasi (need of achievement) yang disingkat

dengan n Ach. Alat ukur n Ach tlah dikembangkan oleh Murray (1943) dengan

nama Thematic Apperception Test (TAT) yang kemudian dikembangkan oleh

McClleland (1953). Ciri penting dari n Ach adalah kebutuhan itu dipelajari. Suatu

n Ach yang mulanya rendah akan meningkat setelah mendapatkan pelatihan atau

pengalaman.

Pada teori ini, orang yang memiliki needs of achievement tinggi adalah orng

yang selalu memiliki pola pikir tertentu ketika merencanakan untuk melaksanakan

sesuatu, yaitu dengan mempertimbangkan pekerjaan yang dilakukan cukup

menantang atau tidak . Yang selanjutnya adalah seseorang yang bersedia untuk
memikul tanggung jawab sebagai bagian dari konsekuensi usaha untuk mencapai

tujuan, berani mengambil risiko yang sudah diperhitungkan, bersedia mencari

informasi untuk mengukur kemajuan, dan menginginkan kepuasan dari hasil yang

telah diraih.

Menurut McClelland dalam Usman (2008: 260) orang yang memilliki motif

berprestasi tinggi bercirikan antara lain; (1) bertanggung jawab atas segala

perbuatan, mengatikan diri pada karir dan masa depan serta tidak menyalahkan

orang lain dalam kegagalan; (2) berusaha mencari umpan balik atas perbuatan dan

bersedia mendengarkan pendapat orang lain sebagai masukan untuk memperbaiki

diri; (3) berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan melebihi orang lain

dan menciptakan yang terbaik; (4) berusaha melakukan sesuatu secara inovatif

dan kreatif dan mampu mewujudkan gagasan dengan baik dan kurang

menyenangi system yang membatasi gerak ke arah yang lebih positif; (5) pandai

mnegatur waktu dan tidak menunda pekerjaan; dan (6) bekerja keras dan bangga

dengan hasil yang dicapai.

Selanjutnya seseorang yang memiliki motivasi tinggi biasanya akan

berusaha untuk mengungguli yang lain, Karakteristik orang yang berprestasi

tinggi menurut Danim (2012: 33) sebagai berikut.

(1) Berani Mengambil Risiko Moderat, yaitu orang yang memiliki motivasi

berprestasi akan memiliki keberanian untuk mengambil risiko yang berada

diantara risiko tertinggi dan risiko terendah. Mereka akan mempunyai cara

yang lebih inovatif dalam menyelesaikan permasalahan.

(2) Menghendaki umpan balik segera (immediate feedback), yaitu orang yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi akan sering mencari informasi mengenai

kinerjanya selama ini. Penyampaian informasi tersebut berupa kelebihan dan

kekurangan yang dimanfaatkan untuk keperluan meningkatkan prestasi yang

lebih baik dari kondisi saat ini.

(3) Keberhasilan diperhitungkan secara teliti, yaitu orang yang memiliki motivasi

berprestasi tinggi akan lebih mengutamakan pencapaian tugas yang diberikan

daripada memperhitungkan imbalan yang diperoleh. Seseorang akan lebih

puas secara intrinsik dengan pencapaian kerjanya daripada imbalan materi

atau hadiah yang istimewa.

(4) Mengintegral dengan tugas, yaitu orang yang memiliki motivasi berprestasi

tinggi akan menerima tugas sebagai bagian dari hidupnya. Tugas yang dhadapi

kepadanya dipandang sebagai kewajaran bukan sebagai beban. Orang-orang

seperti ini biasanya bersikap tidak sengaja menunda separuh pekerjaan,

bersahabat, realistik, dan mengutamakan kemampuan individu.

2.2.2. Model Pendekatan Motivasi dalam Organisasi

Motivasi berprestasi merupakan salah satu bagian dari teori motivasi. Dalam

kaitannya dengan peningkatan kinerja, menurut Kurniadin dan Machali (2014)

ada beberapa model motivasi yang dapat digunakan oleh kepala sekolah sebagai

pendekatan kepada guru antara lain:

(1) Model tradisional, yaitu bentuk usaha yang ditempuh oleh kepala sekolah untuk

membuat guru menjalankan pekerjaan yang terasa membosankan menjadi

menyenangkan.

(2) Model hubungan manusiawi, yaitu kepala sekolah lebih menekankan cara

memotivasi guru dengan cara mengakui kebutuhan sosial guru untuk


meningkatkan kepuasan kerja.

(3) Model sumber daya manusia, yaitu kepala sekolah tidak hanya bertugas untuk

memberikan guru dengan upah saja, namun kepala sekolah juga harus

mengembangkan rasa bersama dalam mencapai tujuan organisasi.

2.2.3. Upaya yang Dilakukan Pemimpin untuk Memotivasi Guru

Demi mencapai tujuan dalam suatu kegiatan, pemimpin tidak hanya diam

dan memerintah anggota kelompok, tetapi perlu adanya pemberian motivasi yang

dilakukan oleh pemimpin. Pemimpin harus mengetahui cara-cara yang tepat untuk

meningkatkan kinerja anggota kelompoknya. Menurut Danim (2012: 41) ada

beberapa cara yang dapat digunakan oleh pemimpin untuk meningkatkan motivasi

dan cara tersebut dapat dilakukan oleh kepala sekolah, antara lain:

(1) Rasa hormat, yaitu seorang kepala sekolah dapat memberikan rasa hormat dan

penghargaan secara adil kepada guru yang dilakukan atas dasar prestasi,

kepangkatan, dan pengalaman.

(2) Informasi, yaitu seorang kepala sekolah senantiasa memberikan informasi

yang berkaitan dengan aktivitas organisasi, terutama mengenai suatu

pekerjaan dan cara untuk mengerjakannya. Informasi hendaknya diberikan

secara edukatif dan persuasif.

(3) Perilaku, yaitu seorang kepala sekolah yang baik akan memberikan contoh

perilaku yang diharapkan oleh guru.

(4) Hukuman, yaitu kepala sekolah hendaknya memberikan hukuman kepada guru

yang bersalah secara terpisah dengan anggota yang lain. Hukuman yang

diberikan hendaknya dapat menjadikan guru lebih baik lagi.

(5) Perintah, yaitu kepala sekolah yang baik akan memberi perintah secara tidak
langsung. Kepala sekolah memberikan perintah seperti akan mengajak dan

lebih baik lagi jika diawali dengan pemberian contoh.

(6) Perasaan, yaitu interaksi yang dilakukan antara kepala sekolah dan guru

hendaknya dilakukan dengan kata-kata yang lembut disertai rasa bersahabat

dan rasa partisipasi yang membuat rasa nyaman.

2.3. Kepemimpinan

Menurut Kurniadin dan Machali (2014: 289) kepemimpinan adalah

kemampuan untuk memengaruhi sekelompok anggota agar bekerja mencapai

tujuan dan sasaran. Sumber dari pengaruh tersebut dapat diperoleh secara formal,

yaitu dengan menduduki suatu jabatan manajerial yang didudukinya dalam suatu

organisasi. Menurut Kurniadin dan Machali (2014: 289) Kepemimpinan adalah

seperangkat proses yang terutama ditujukan untuk menciptakan organisasi atau

menyesuaikannya terhadap keadaan-keadaan yang jauh berubah. Sutomo dkk

(2011: 80) mengartikan kepemimpinan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi

orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Usman (2008: 274)

mengungkapkan bahwa kepemimpinan adalah hubungan yang ada di dalam diri

pemimpin untuk memengaruhi orang lain yang bekerja secara bersama-sama

secara sadar berkaitan dengan hubungan tugas yang dikehendaki.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa

kepemimpinan adalah proses yang dilakukan untuk mempengaruhi sekelompok

anggota yang digunakan untuk memfasilitasi individu dalam rangka mencapai

tujuan bersama.
2.3.1. Kepemimpinan Kepala Sekolah

Suatu lembaga pendidikan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada

seorang pemimpin. Keberhasilan suatu sekolah dapat dipengaruhi oleh gaya

kepemimpinan kepala sekolah sebagai penggerak aktivitas untuk mencapai suatu

tujuan. Menurut Suprihatiningrum (2012: 275) kepemimpinan pendidikan secara

umum adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk

memengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakan, dan memaksa

orang lain agar dapat menerima pengaruh dari orang lain.

Kepemimpinan pendidikan berperan sangat penting dalam rangka

mengarahkan tujuan dan menggerakan organisasi pendidikan untuk mencapai

tujuan yang diharapkan. Kurniadin dan Machali (2014: 292) berpendapat bahwa

kepemimpinan pendidikan adalah segenap kegiatan dalam usaha memengaruhi

personal di lingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar mereka melalui usaha

kerja sama, mau bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan ikhlas demi

tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Kepala sekolah dalam satuan pendidikan merupakan pemimpin. Kepala

sekolah mempunyai dua jabatan dan peran penting dalam melaksanakan proses

pendidikan. Pertama, kepala sekolah adalah pengelola pendidikan di sekolah; dan

kedua, kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya. Sebagai

pengelola pendidikan, kepala sekolah bertanggung jawab untuk keberhasilan

penyelenggaraan pendidikan dengan caa melaksanakan administrasi sekolah

dengan seluruh substansinya.


Ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh pemimpin pendidikan yaitu

memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang baik, berpegang teguh pada tujuan

yang hendak dicapai, bersemangat, jujur, cakap dalam memberi bimbingan, cepat

serta bijaksana dalam mengambil keputusan, cerdas, dan cakap dalam hal

mengajar serta menaruh kepercayaan kepada yang baik dan berusaha

mencapainya.

2.3.2. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh pemimpin untuk

memengaruhi pengikutnya. Setiap pemimpin mempunyai gaya kepemimpinan

yang khas dan berbeda satu dengan lainnya.

Kurniadin dan Machali (2014: 301) mengungkapkan bahwa gaya

kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik

yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya.

Sementara itu, menurut Thoha (1995) dalam Sutomo dkk (2011: 84) gaya

kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat

orang tersebut mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang dilihat.

Menurut Sutomo dkk (2011: 84) gaya kepemimpinan adalah pola perilaku

pemimpin yang khas saat mempengaruhi anak buahnya.

Dari beberapa pengertian mengenai gaya kepemimpinan diatas dapat

disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah perilaku khas yang digunakan

pemimpin untuk mempengaruhi anak buahnya yang betujuan agar sasaran

organisasi tercapai.
Setiap pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, dan kepribadian sendiri yang

khas. Ini akan mempengaruhi gaya atau style perilaku memimpinnya.

Gaya kepemimpinan adalah pola yang menyeluruh dari tindakan seorang

pemimpin, baik yang nampak maupun tidak merupakan bagian dari keyakian

pemimpin terhadap kemampuan bawahannya. Secara umum, menurut Karwati

dan Priansa (2013: 178-9) gaya kepemimpinan paling luas dikenal gaya

kepemimpinan otokratis, demokratis, dan Laissez faire.

(1) Gaya Kepemimpinan Otoktratis

Gaya kepemimpinan otokratis ini meletakkan seorang kepala sekolah

sebagai sumber kebijakan. Kepala sekolah memandang guru, staf, dan pegawai

lain sebagai hanya menerima instruksi dari kepala sekolah dan tidak

diperkenankan untuk membantah. Tipe kepemimpinan otokratis memandang

bahwa segala sesuatu ditentukan oleh kepala sekolah sehingga keberhasilan

sekolah terletak dari kepala sekolah.

(2) Gaya Kepemimpinan Demokratis

Gaya kepemimpinan demokratis menyajikan ruang kesetaraan dalam

pendapat. Guru, staf, dan pegawai memiliki hak untuk berkontribusi dalam

tanggungjawab yang diembannya dan merupakan bagian dari keseluruhan sekolah

sehingga mendapat tempat sesuai dengan harkat dan martabat. Kepemimpinan

demokratis menempatkan kepala sekolah sebagai seseorang yang mempunyai

tanggung jawab untuk mengarahkan, mengontrol, dan mengevaluasi, serta

mengkoordinasikan berbagai pekerjaan yang diemban guru, staf, dan pegawai

lainnya.
(3) Gaya Kepemimpinan Laissez Fairre

Gaya kepemimpinan Laissez fairre memberikan kebebasan mutlak kepada

guru, staf, dan pegawai lainnya. Dalam hal ini kepala sekolah bersifat pasif dan

tidak memberikan keteladanan dalam kepemimpinannya.

Dalam teori kepemimpinan situasional, gaya kepemimpinan akan efektif jika

disesuaikan dengan tingkat kematangan. Kematangan adalah kemampuan dan

kemauan anak buah dalam mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas yang

dibebankan.

Menurut Mulyasa dalam Kurniadin dan Machali (2014: 307) gaya

kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan dalam tingkat kematangan anak buah

dan kombinasi yang tepat antar perilaku tugas dan hubungan antara lain:

(1) Gaya mendikte (telling), yaitu gaya yang diterapkan jika anak buah dalam

tingkat kematangan rendah dan memerlukan petunjuk serta pengawasan yang

jelas.

(2) Gaya menjual, yaitu gaya yang diterapkan jika anak buah dalam taraf rendah

sampai moderat. Pemimpin selalu memberikan petunjuk yang banyak,

diperlukan hubungan yang tinggi agar dapat memelihara dan meningkatkan

kemauan.

(3) Gaya melibatkan diri (participating), yaitu gaya yang diterapkan jika anak

buah memiliki tingkat kematangan moderat hingga tinggi. Dalam gaya ini

anak buat turut berperan dalam mengambil keputusan.

(4) Gaya mendelegasikan (delegating) yaitu gaya yang diterapkan jika anak buah
dalam tingkat kematangan tinggi.

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti mempunyai fungsi tertentu yang

digunakan untuk suatu hal. Begitu juga dengan kepemimpinan. Fungsi

kepemimpinan merupakan gejala sosial karena diwujudkan dalam interaksi antar

individu di dalam situasi sosial suatu kelompok atau organisasi.

2.3.3. Tugas Kepala Sekolah

Sebagai kepala sekolah, pelaksanaan tugas yang harus dijalankan tidak sedikit.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan kepala sekolah berkaitan dengan tugasnya

(Sutomo, 2011: 97), antara lain:

(1) Perannya sebagai seorang pendidik, kepala sekolah bertugas untuk

membimbing guru, karyawan, siswa, mengembangkan staf, mengikuti

perkembangan iptek, dan menjadi contoh dalam proses pembelajaran.

(2) Perannya sebagai seorang manajer, kepala sekolah bertugas menyusun

program, menyusun pengorganisasian sekolah, menggerakan staf,

mengoptimalkan sumber daya sekolah, dan mengendalikan kegiatan.

(3) Sebagai administrator, kepala sekolah bertugas untuk mengelola adminstrasi

KBM dan BK, kesiswaan, ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, serta

yang berkaitan dengan rumah tangga sekolah.

(4) Sebagai supervisor, kepala sekolah bertugas menyusun supervisi pendidikan

dan memanfaatkan hasil supervisi.

(5) Sebagai pemimpin, kepala sekolah bertugas menyusun dan mensosialisasikan

2.3.4. Kepemimpinan dalam Peningkatan Kinerja


Hal yang penting dalam peningkatan kinerja guru adalah peranan

kepemimpinan kepala sekolah. Setiap pemimpin bertanggungjawab mengarahkan

guru-guru untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan kepala sekolah senantiasa

memberikan pengertian dan contoh yang dilakukan dengan sabar. Kepala sekolah

sebagai pemimpin harus memiliki kemampuan yang berkaitan dengan pembinaan

disiplin pegawai dan motivasi (Sutomo dkk, 2011: 93) antara lain:

(1) Pembinaan Disiplin

Disiplin merupakan suatu yang penting untuk menanamkan rasa hormat,

baik terhadap wewanang maupun kepada orang lain. Dalam hal ini, pemimpin

harus mampu membantu pegawai untuk dapat mengembangkan pola standar

perilaku yang sesuai.

(2) Pembangkitan Motivasi

Setiap pegawai memiliki ciri khas, karakteristik yang khusus, dan berbeda

satu sama lain. Motivasi merupakan bagian penting dalam setiap kegiatan.

Motivasi adalah suatu dorongn baik dari dalam maupun luar diri seseorang yang

digunakan untuk berbuat sesuatu guna memenuhi kebutuhan. Motivasi digunakan

untuk menggerakan faktor- faktor yang dapat meningkatkan efektifitas kinerja.

Sebagai pemimpin, pemberian motivasi kepada pegawai sangat dibutuhkan untuk

pembangkitan semangat. Pegawai merasa kebutuhan kasih sayang dan rasa harga

dirinya diperhatikan ketika pemimpin memberikan motivasi. Sehingga hal

tersebut akan mendorong pegawai untuk mengadakan hubungan yang efektif dan

mempunyai ikatan emosional yang kuat.


(3) Penghargaan

Dalam dunia kerja, penghargaan digunakan sebagai bagian dari usaha yang

dilakukan untuk meningkatkan semangat pegawai dalam bekerja. Penghargaan

yang diberikan oleh pemimpin akan menjadi bermakna apabila dikaitkan dengan

prsetasi pegawai secara terbuka, sehingga setiap pegawai mempunyai peluang

yang sama untuk meraihnya.

2.4. Hubungan Antar Variabel

Penelitian ini terdiri dari tiga variabel, yaitu kinerja guru (Y), gaya

kepemimpinan kepala sekolah (X1), dan motivasi berprestasi (X2). Indikator

kinerja guru adalah kemampuan menyusun rencana pembelajaran, kemampuan

melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengadakan hubungan antar pribadi,

kemampuan melaksanakan penilaian hasil belajar, kemampuan melaksanakan

pengayaan, dan kemampuan melaksanakan remedial.

Barnawi dan Arifin (2014: 43) menjelaskan bahwa kinerja guru tidak akan

mencapai hasil maksimal tanpa adanya faktor yang mempengaruhi. Faktor yang

mempengaruhi kinerja guru dapat berasal dari dalam diri guru (internal) maupun

dari luar diri guru (eksternal). Salah satu faktor internal yang mempengaruhi

kinerj guru adalah motivasi. Kemudian salah satu faktor eksternal yang

mempengaruhi kinerja guru adalah gaya kepemimpinan kepala sekolah.

Menurut Mulyasa (2007) dalam Barnawi dan Arifin (2014: 72) menyatakan

bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru


guna meningkatkan produktivitas kerja. Gaya kepemimpinan merupakan perilaku

dan suatu strategi dari hasil kombinasi antara falsafah, keterampilan, sifat, dan

sikap yang sering diterapkan kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja guru.

Indikator gaya kepemimpinan kepala sekolah yang ideal adalah Pemberitahuan

(communicating), Penawaran (selling), Pelibatan Bawahan (participating),

Pendelegasian (delegating) .

Dalam penelitian ini teori motivasi yang digunakan adalah teori motivasi

berprestasi. Indikator motivasi berprestasi antara lain; keinginan untuk berhasil,

kemauan bekerja keras, memperlihatkan tanggung jawab, kegigihan dalam

bekerja, ketekunan mengerjakan tugas.

Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi

berprestasi terhadap kinerja guru adalah gaya kepemimpinan dan motivasi

berprestasi merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru.

2.5. Kajian Empiris

Beberapa penelitian mengenai gaya kepemimpinan, motivasi berprestasi,

dan kinerja guru sebelumnya pernah dilakukan. Penelitian tersebut dilakukan oleh

I Gusti Ngurah Yuda (2014), I Wayan Mudita (2013), Jimmy Waworuntu (2011),

I Wayan Pendet (2014), Sri Rahardjo (2014), Indrayogi (2014), dan JungSoon

Han dan Richard Lynch (2014). Uraian selengkapnya adalah:

Penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Yuda mahasiswa Universitas

Pendidikan Ganesha pada tahun 2014 dengan judul “Determinasi Supervisi


Pengawas, Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, dan Kompetensi Guru

Terhadap Kinerja Guru SMP di Kecamatan Tembuku”. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui determinasi supervise pengawas, gaya kepemimpinan kepala

sekolah, kompetensi guru terhadap kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembuku.

Populasi dalam penelitian ini berjumlah 167 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

(1) terdapat determinasi yang signifikan antara supervisi pengawas terhadap kinerja guru

SMP Negeri di Kecamatan Tembuku; (2) terdapat determinasi yang signifikan antara

gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan

Tembuku; (3) terdapat determinasi yang signifikan antara kometensi guru terhadap

kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembuku; dan (4) terdapat determinasi yang

signifikan secara bersama-sama antara supervise pengawas, gaya kepemimpinan kepala

sekolah, dan kompetensi guru terhadap kinerja guru SMP Negeri di Kecamatan Tembuku.

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan yang akan dilakukan oleh

peneliti. Perbedaannya terdapat pada lokasi penelitian, jumlah sampel, variabel

penelitian, dan jenis penelitian. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama

menggunakan variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru

sebagai variabel yang akan diteliti.

Penelitian yang selanjutnya dilakukan oleh I Wayan Mudita, mahasiswa

Universitas Pendidikan Ganesha. Penelitian dilakukan pada tahun 2013. Penelitian

ini berjudul Determinasi Pelaksanaan Supervisi Akademik, Sikap Profesional, dan

Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar di Gugus III Pattimura”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya determinasi pelaksanaan

supervise akademik, sikap profesional, dan motivasi kerja terhadap kinerja guru
sekolah dasr di gugus III Pattimura. Dalam penelitian ini menggunakan 90 guru

sebagai responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) Terdapat determinasi

yang signifikan antara pelaksanaan supervisi akademik dengan kinerja guru SD di Gugus

III Pattimura sebesar 17,4%; (2) Terdapat determinasi yang signifikan antara sikap

profesional dnegan kinerja guru sebesar 17,7%; (3) Terdapat determinasi yang signifikan

antara motivasi kerja degan kinerja guru sebesar 46,6%; dan (4) Terdapat determinasi

yang signifikan secara bersama-sama antara pelaksanaan supervisi akademik, sikap

profesional, dan motivasi kerja terhadap kinerja guru sebesar 81,7%.

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan yang akan dilakukan oleh

peneliti. Perbedaannya adalah lokasi penelitian, sampel yang digunakan, dan

variabel penelitian. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama

menggunakan variable kinerja guru sebagai salah satu variable yang diteliti.

Penelitian yang dilakukan oleh Jimmy Waworuntu, mahasiswa Universitas

Negeri Manado. Penelitian yang dilakukan ada tahun 2011 berjudul “Hubungan

Antara Motivasi Berprestasi dan Kinerja guru Profesional Guru Teknologi SMK

Negeri 2 Manado”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara

pengetahuan manajemen dan kinerja professional guru teknologi SMK Negeri 2

Manado. Dalam penelitian ini sebanyak 55 guru diambil sebagai sampel. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antar motivasi

berprestasi dan kinerja profesioabl guru. Koefisien determinasi adalah r2 = 0,59

menunjukkan bahwa 59% variasi yang terjadi pada variable kinerja professional

(Y) dapat dijelaskan oleh variable motivasi berprestasi (X).


Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedan yang akan dilakukan oleh

peneliti. Perbedaannya adalah lokasi penelitian, sampel yang digunakan, dan

variabel yang digunakan. Persamaannya adalah sama-sama menggunakan kinerja

guru dan motivasi berprestasi sebagai variable dalam penelitian.

Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh I Wayan Pendet, mahasiswa

Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2014 dengan judul “Kontribusi

Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah, Iklim Kerja Sekolah, dan Komitmen

Kerja Guru Terhadap Kinerja Guru SD Gugus I Kecamatan Sukasada”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi keterampilan manajerial

kepala sekolah, iklim kerja sekolah, dan komitmen kerja guru terhadap kinerja

guru SD di Gugus I Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. Sampel dalam

penelitian ini berjumlah 59 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)

terdapat kontribusi yang signifikan antara keterampilan manajerial kepala sekolah

terhadap kinerja guru pada SD Gugus I Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng

dengan koefisen korelasi sebesar 0,453 dan sumbangan efektifnya sebesar 12,3% ;

(2) Terdapat kontribusi yang signifikan antara iklim kerja sekolah terhadap kinerja

guru pada SD Gugus I Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng dengan

koefisien korelasi sebesar 0,531 dan sumbangan efektifnya sebesar 16,3% ; (3)

terdapat kontribusi yang signifikan antara komitmen kerja terhadap kinerja guru

pada SD Gugus I Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng dengan koefisien

korelasi sebesar 0,477 dan sumbangan efektif sebesar 14,9% ; dan (4) secara

bersama-sama, terdapat kontribusi yang signifikan antara keterampilan manajerial


kepala sekolah, iklim kerja sekolah, dan komitmen kerja guru terhadap kinerja

guru pada SD Gugus I Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng dengan

koefisien korelasi ganda sebesar 0,659 dan kontribusinya sebesar 43,5% terhadap

kinerja guru di Gugus I Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng.

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang

akan dilakukan oleh peneliti. Perbedannya terdapat pada lokasi penelitian, jumlah

sampel, dan jumlah variabel penelitian. Persamaan dari penelitian ini adalah

sama-sama menggunakan variabel kinerja guru sebagai variabel yang akan

digunakan.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Sri Rahardjo pada tahun 2014

yang berjudul “The Effect of Competence, Leadership, and Work Environment

Towards Motivation and Its Impact on The Performance of Teacher of

Elementary School In Surakarta City, Central Java, Indonesia ”. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi, kepemimpinan, dan

lingkungan kerja terhadap motivasi dan dampak terhadap kinerja guru SD di Kota

Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian ini menggunakan sejumlah guru

sekolah dasar di Kota Surakarta untuk dijadikan populasi dan sampel. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kompetensi dan kepemimpinan tidak

berpengaruh terhadap motivasi, (2) lingkungan kerja berpengaruh secara

signifikan terhadap motivasi, (3) kompetensi tidak mempengaruhi terhadap

kinerja, (4) kepemimpinan dan lingkungan kerja berpengaruh secara signifikan

terhadap kinerja, (5) kompetensi tidak mempengaruhi terhadap kinerja guru tanpa
motivasi, (7) lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja melalui

motivasi, dan (8) lingkungan bekerja berpengaruh secara signifikan terhadap

motivasi dan efek kinerja.

Penelitian ini mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaan dalam

penelitian ini adalah sama-sama menggunakan kienrja guru, kepemimpinan, dan

motivasi sebagai variabel. Perbedaan dari penelitian ini adalah lokasi dan jumlah

sampel yang digunakan dalam penelitian.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan Indrayogi mahasiswa Universitas

Pendidikan Indonesia pada tahun 2014 yang berjudul “Pengaruh Kompetensi dan

Motivasi Berprestasi Terhadap Kinerja Guru Pendidikan Jasmani SMP Negeri

Se-Kabupaten Majalengka”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1)

mengetahui besarnya kompetensi dan motivasi berprestasi terhdapa kinerja guru

Penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka, (2) untuk mengetahui besarnya

kompetensi guru terhadap kinerja guru Penjas di SMP Negeri se-Kabupaten

Majalengka, dan (3) untuk mengetahui besarnya motivasi berprestasi terhadap

kinerja guru Penjas di SMP Negeri se-Kabipaten Majalengka. Dalam penelitian

ini sampel yang digunakan adalah 66 orang guru penjas dan 66 Kepala Sekolah.

Hasil penelitian ini adalah bahwa kompetensi dan motivasi berprestasi

berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru penjas.

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang

akan dilakukan oleh peneliti. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama

menggunakan motivasi berprestasi dan kinerja guru sebagai variabel. Perbedaan


dalam penelitian ini adalah lokasi, sampel, dan variabel penelitian.

Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh JungSoon Han dan Richard

Lynch mahasiswa Assumption University Of Thailand pada tahun 2014 yang

berjudul “The Relationship between perception of School Climate and

Achievement Motivation among Korean Students in Grades 6 to 12 at a selescted

International School in Bangkok, Thailand”. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui hubungan yang siginifikan antara persepsi mahasiswa Korea

mengenai iklim sekolah dan tingkat motivasi berprestasi mereka. Delapan puluh

tiga mahasiswa korea yang belajar di sekolah internasional di Bangkok tahun

akademik 2013 menjadi sampel dalam penelitian. Hasil penelitian ini

menunjukkan ada sebuah hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa

korea mengenai iklim sekolah dan tingkat motivasi berprestasi mereka.

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang

akan dilakukan oleh peneliti. Persamaannya adalah menggunakan motivasi

berprestasi sebagai variabel. Perbedaan dalam penelitian ini adalah lokasi

penelitian, subyek penelitian, dan variabel penelitian.

2.6. Kerangka Berpikir

Dalam penelitian ini gaya kepemimpinan kepala sekolah sebagai variabel

bebas ( X1 ) memiliki indikator sebagai berikut. 1 Pemberitahuan

(communicating), Penawaran (selling), Pelibatan Bawahan (participating),

Pendelegasian (delegating) .
Indikator motivasi berprestasi ada empat hal, antara lain sebagai berikut;

keinginan untuk berhasil, kemauan bekerja keras, memperlihatkan tanggung

jawab, kegigihan dalam bekerja, ketekunan mengerjakan tugas.

Dengan penelitian ini, diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam

menentukan gaya kepemimpina yang baik dan sesuai. Kemudian, dapat

memberikan kontribusi mengenai motivasi berprestasi yang dilakukan oleh guru

untuk meningkatkan kinerja yang diukur dengan kemampuan menyusun rencana

pembelajaran, kemampuan melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengadakan

hubungan antar pribadi, kemampuan melaksanakan penilaian hasil belajar,

kemampuan melaksanakan pengayaan, dan kemampuan melaksanakan remedial.

Keterkaitan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi

berprestasi terhadap kinerja guru digambarkan dalam kerangka berpikir yang

tergambar dalam skema berikut ini:

Gaya
Kpemimpinan
(X1)
Kinerja Guru
(Y)
Motivasi
Beprestasi
(X2)

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir


X1 : Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
X2 : Motivasi Berpresaasi Guru
Y : Kinerja Guru
Skema diatas menunjukkan bahwa kinerja guru (Y) sebagai variabel terikat.

Gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan motivasi berprestasi (X2) sebagai

varabel bebas. Gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru

merupakan faktor yang memengaruhi kinerja guru.

2.7. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini

sebagai berikut.

Ho1 : Tidak ada pengaruh yang signifikaan antara gaya kepemimpinan

kepala sekolah terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan

Genuk.

H01= ρ=0

Ha1 : Ada pengaruh yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala

sekolah terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

Ha1= ρ≠0

Ho2 : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara motivasi berprestasi

terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

H02= ρ=0

Ha2 : Ada pengaruh yang signifikan antara motivasi berprestasi terhadap

kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

Ha2= ρ≠0
Ho3 : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala

sekolah dan motivasi berprestasi secara bersama-sama terhadap kinerja

guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.


H03= ρ=0

Ha3 :Ada pengaruh yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala

sekolah dan motivasi berprestasi secara bersama-sama terhadap kinerja

guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

Ha3= ρ≠0
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Desain penelitian

menggunakan One Shoot Case Study, dengan model regresi linier sederhana yang

digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel

terikat. Sundayana, (2016:190) mengungkapkan “analisis regresi digunakan

sebagai alat untuk melihat hubungan fungsional antar variabel untuk tujuan

peramalan, dimana dalam model tersebut ada satu variabel bebas (independent

variabel) diberi notasi x dan variabel terikat (dependent variabel) diberi notasi y”.

Gaya
Kpemimpinan
(X1)
Kinerja Guru
(Y)
Motivasi
Beprestasi
(X2)

X : Gaya kepemimpinan

Y : Kinerja Guru Pada Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk

Analisis regresi data harus berskala rasio atau interval. Pengumpulan data

variabel bebas melalui pengamatan (observasi) sedangkan variabel terikat melalui

angket. Penelitian ini menggunakan model regresi linier sederhana, yaitu bentuk

regresi dengan model yang bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua

variabel, yakni variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat)”.


penelitian ini akan mencari ada tidaknya hubungan antara gaya kepemimpinan

terhadap kinerja guru di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk

3.2. Populasi dan Sample

3.2.1. Populasi Penelitian

Menurut Sundayana (2016:15) populasi didefinisikan sebagai keseluruhan

subyek atau objek yang menjadi sasaran penelitian yang mempunyai karakteristik

tertentu. Menurut Sugiyono (2015: 117) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-

benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada

obyek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang

dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Adapun jumlah guru pada masing-masing

sekolah yang dijadikan anggota populasi adalah sebesar 58, di Gugus Diponegoro

Kecamatan Genuk Jadi keseluruhan jumlah populasi penelitian yaitu sebesar 58.

3.2.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang

diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai

sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Adapun penentuan jumlah

sampel yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah dengan metode

sensus berdasarkan pada ketentuan yang dikemukakan oleh Sugiyono (2002 : 61-

63 ), yang mengatakan bahwa: “Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Istilah lain dari sampel
jenuh adalah sensus.”

Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode sampel jenuh. Metode sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila

semua anggota populasi digunakan menjadi sampel.

3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel adalah sebagian dari pupolasi yang memiliki karakteristik yang

relatif sama dan dianggap bisa mewakili populasi. Sampel merupakan bagian dari

jumlah dan karakterisitik yang dimiliki oleh suatu populasi yang akan diteliti.

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan jenis Non Probability

Sampling. Non Probability Sampling jenis sampel ini tidak dipilih secara acak.

Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa

dipilih menjadi sampel.

Menurut Sugiyono (2001: 60) nonprobability sampling adalah teknik yang

tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota

populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik Non Probability Sampling yang

dipilih yaitu dengan Sampling Jenuh (sensus) yaitu metode penarikan sampel bila

semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan

apabila jumlah populasi kecil, kurang dari 30 orang (Supriyanto dan Machfudz,

2010: 188).

Dalam penelitian ini sampel yang akan diambil adalah semua guru yang

mengajar di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk Jadi keseluruhan jumlah

populasi penelitian yaitu sebesar sebanyak 58 guru. Teknik pengambilan sampel

dengan menggunakan metode sampel jenuh. Metode sampel jenuh adalah teknik
penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan menjadi sampel.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan peneliti untuk

mengumpulkan data penelitianya. Teknik dalam pengumpulan data dalam

penelitian ini yaitu angket.

1) Kuesioner (Angket)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada

responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142). Dalam penelitian ini

kuesioner yang akan diberikan peneliti adalah mengenai pengaruh gaya

kepemimpinan terhadap kinerja guru di Gugus Diponegoro Kecamatan

Genuk. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dengan angket dalam

penelitian ini, adalah sebagai berikut:

a. Menyusun kisi-kisi angket dengan merumuskan indikator pertanyaan.

b. Menyusun pernyataan dengan pernyataan berstruktur dengan jawaban

tertutup.

c. Membuat pedoman atau petunjuk untuk menjawab pertanyaan guna

memudahkan responden untuk menjawab pertanyaan.

d. Jika angket sudah tersusun dengan baik maka dapat dipergunakan..

2) Interview (Wawancara)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti

ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang

harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari
responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit.

Sugiyono, (2015:137). Wawancara melibatkan percakapan yang dilakukan

oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan

terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Ketika melakukan wawancara, pewawancara mendengarkan dengan teliti

atas jawaban yang diberikan oleh narasumber yang selanjutnya dicatat

sebagai bahan data. Penelitian ini wawancara dilakukan di Gugus

Diponegoro Kecamatan Genuk dilakukan dengan pedoman wawancara

yang berisi pertanyaan, sehingga proses wawancara berjalan dengan

terstruktur. Pedoman wawancara dibuat terkait gaya kepemimpinan dan

kinerja guru di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk. Adapun langkah-

langkah pengumpulan data dengan wawancara adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan tujuan wawancara

b. Membuat kisi-kisi dan pedoman wawancara

c. Menyusun pertanyaan sesuai data yang diperlukan

d. Melakukan wawancara

3.4. Instrumen Penelitian

1) Penyusunan Instrumen

Menurut Sugiyono, (2015:102) instrumen penelitian adalah suatu

alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang

diamati. Secara spesifik fenomena ini disebut variabel penelitian. Dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan adalah instrumen angket.

Kuesioner (Angket) merupakan teknik pengumpulan data yang


dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan

tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan angket tertutup. Angket

tertutup yaitu angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa

sehingga responden tinggal memberikan tanda centang pada kolom atau

tempat yang sesuai. (Suharmi Arikunto, (2006:149). Dengan

digunakannya angket tertututup, responden tidak dapat memberikan

jawaban lain kecuali ada jawaban alternative lain yang tersedia. Dalam

pengukurannya, setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu

jawaban. Pada umumnya opsi jawaban terdiri atas lima dan masing-

masing mempunyai nilai yang berbeda. Skala yang digunakan dalam

penelitian ini menggunakan skala Likert.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Skala Likert kategori

pilihan genap, yaitu empat pilihan kategori. Menurut Sukardi,

(2003:147), menyatakan bahwa untuk menskor skala kategori Likert,

jawaban diberi bobot atau disamakan nilai 4,3,2,1 untuk empat pilihan

pernyataan positif dan 1,2,3,4 untuk pernyataan negatif.

Tabel 3.3 Rentang Skala Likert

Pernyataan Sangat Setuju Setuju Tidak Sangat


Setuju Tidak Setuju
Positif 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4
(Sukardi, 2003:147)

Instrumen penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana

instrumen yang digunakan memiliki kualitas yang baik, karena


instrumen sebuah penelitian sangat berpengaruh terhadap kualitas data

dari penelitian tersebut. Instrument pada penelitian pada umumnya

memiliki dua syarat yaitu validitas dan reliabilitas.

Pada kisi-kisi angket gaya kepemimpinan butir soal no 1-10

merupakan pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket dinyatakan

dalam pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket gaya

kepemimpinan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Angket Gaya kepemimpinan

No Sub Indikator No. Jumlah


Butir
1 Pemberitahuan (communicating) 2,9 2
2 Penawaran (selling) 3, 6, 8 3
3 Pelibatan Bawahan (participating) 1, 10 2
4 Pendelegasian (delegating) 4, 5, 7 3

Pada kisi-kisi angket motivasi berprestasi butir soal no 11-20

merupakan pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket dinyatakan

dalam pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket motivasi

berprestasi adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Angket Motivasi Berprestasi

No Sub Indikator No. Jumlah


Butir
1 keinginan untuk berhasil, 12,19 2
2 kemauan bekerja keras, 13, 16, 2
3 memperlihatkan tanggung jawab, 11, 20 2
4 kegigihan dalam bekerja, 14, 15, 2
5 ketekunan mengerjakan tugas, 17,18 2
Pada kisi-kisi angket kinerja guru dalam pembelajaran butir soal no

21-35 merupakan pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket

dinyatakan dalam pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket

kinerja guru adalah sebagai berikut:

Tabel 3.5Kisi-kisi Angket Kinerja Guru

No Sub Indikator No. Butir Jumlah


1 kemampuan menyusun rencana 22, 24, 22 3
pembelajaran,
2 kemampuan melaksanakan 23, 27, 21 3
pembelajaran,
3 kemampuan mengadakan hubungan 25, 23 2
antar pribadi,
4 kemampuan melaksanakan penilaian 26,35 2
hasil belajar
5 kemampuan melaksanakan pengayaan 21, 20,34 3
6 kemampuan melaksanakan remedial. 28, 29 2

Berikut adalah penjelasan cara uji instrumen tes soal uji coba

penelitian

a. Uji Validitas

Sebuah instrumen evaluasi dikatakan memiliki validitas

konstruk jika butir soal yang membangun instrumen tersebut

mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam

tujuan evaluasi (Arikunto, 2013: 83). Pembuktian validitas

konstruk dapat dilakukan dengan cara, yaitu exploratory factor

analysis (EFA). Penelitian ini menggunakan metode EFA untuk

membuktikan validitas konstruk instrumen dan dibantu program

SPSS 22.0. Beberapa langkah yang dilakukan dalam metode EFA

adalah sebagai berikut: Pengujian KMO and Bartlett’s Test Pada


langkah ini, analisis faktor layak dilakukan apabila nilai Kaiser-

Meyer-Olkin measure of sampling adequacy (KMO) lebih dari 0,5.

Selain itu, harus dipenuhi syarat bahwa nilai signifikansi kurang

dari 0,01. Dengan demikian, hasil tersebut menunjukkan bahwa

sampel yang digunakan pada analisis faktor telah cukup

(Retnawati, 2016: 47).

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas instrumen penelitian adalah suatu alat yang

memberikan hasil yang tetap sama (konsisten, ajeg), hasil

pengukuran harus tetap sama (relatif sama) jika pengukurannya

diberikan pada subyek yang sama meskipun dilakukan oleh orang

yang berbeda, waktu yang berlainan, dan tempat yang berbeda

pula, tidak terpengaruh oleh pelaku, situasi dan kondisi. Alat ukur

yang reliabilitasnya tinggi disebut alat ukur yang reliabel (Sundaya,

2016 : 69). Adapun pengujian uji reliabilitas dapat menggunakan

rumus sebagai berikut :

Rumus Spearman Brown


2𝑟
𝑟𝑖 = 1+𝑟𝑏
𝑏

Dimana

𝑟𝑖 = reliabilitas internal seluruh instrument

𝑟𝑏 = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

Selanjutnya untuk mengukur koofisien reliabilitas yang

dihasilkan dapat menggunakan kriteria sebagai berikut :


Tabel 3.1. Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

Koofisien Reliabilitas (r) Interprestasi


0,00 ≤ r < 0,20 Sangat Rendah
0,20 ≤ r < 0,40 Rendah
0,40 ≤ r < 0,60 Sedang/Cukup
0,60 ≤ r < 0,80 Tinggi
0,80 ≤ r < 1,00 Sangat tinggi

3.5. Teknis Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kuantitatif merupakan kegiatan setelah data

dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis

data adalah: mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data

tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan

masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

(Sugiyono:2015:147).

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik.

Terdapat beberapa dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam

penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Sugiyono, (2015:147).

Penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif menurut

Sugiyono, (2015:147) adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk

umum atau generalisasi.

Sugiyono (2008:243) menjelaskan bahwa analisis regresi linier sederhana


didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen

dengan satu variabel dependen.

1. Analisis Data Awal

Analisis data awal digunakan agar peneliti mengetahui kondisi awal kelas

sampel, data yang dianalisis oleh peneliti yaitu data hasil angket tentang gaya

kepemimpinan terhadap kinerja guru Di Gugus Diponegoro Kecamatan Genuk.

Dalam analisis ini peneliti memasukan hasil perolehan angket responden kedalam

tabel distribusi frekuensi untuk memudahkan perhitungan dalam pengolahan data

selanjutnya. Adapun analisis data dapat menggunakan uji normalitas.

Uji normalitas dapat dilakukan agar peneliti mengetahui data yang hendak diteliti,

penggunaan uji normalitas untuk mengetahui sampel yang digunakan berdistribusi

normal atau tidak normal. Hipotesis yang dapat digunakan sebagai berikut:

Ho : (data berditribusii normal)

Ha : (data tidak berdistribusi normal)

Penelitian ini, akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya digunakan

pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam bentuk interval.

Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2. Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3. Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4. Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5. Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut
6. Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7. Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8. Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel ) = (n-1)

9. Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabelmaka data berdistribusi normal.

(Sundayana, 2016:83)

2. Analisis Data Akhir

Data akhir yang akan dianalisis dalam penelitian ini berupa hasil angket sikap

siswa. Analisis data akhir dilakukan untuk menguji hipotesis.

a) Uji Normalitas

Uji normalitas pada tahap akhir digunakan untuk mengetahui bahwa

data berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal maka

digunakan statistik parametrik untuk pengujian hipotesis. Adapun

hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Ho : Data berdistribusi normal

Ha : Data tidak berdistribusi normal

Penelitian ini akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya

digunakan pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam

bentuk interval. Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2) Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3) Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4) Menghitung luas z dengan menggunakan tabel


5) Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6) Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7) Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8) Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel) = (n-1)

9) Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabel maka data berfrekuensi normal.

(Sundayana, 2016:83)

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan taraf signifikan 5% bila

harga lebih kecil , maka distribusi dinyatakan normal, dan bila lebih besar

dikatakan tidak normal.

b) Uji Hipotesis.

Persamaan Regresi digunakan untuk memprediksi seberapa tinggi

nilai variabel dependen dan variabel independen dimanipulasi, uji

hipotesis dapat menggunakan rumus regresi linier sederhana, adapun

rumus dari regresi linier sederhana adalah sebagai beriku :

𝑌 ′ = a+b X1 +c X2

(Sugiyono, 2015:262)

Dimana

Y’ : Nilai yang diprediksi (kinerja guru)

a : Konstanta

b : Koefisiensi Regresi

X1 : Nilai gaya kepemimpinan

X2 : Motivasi berprestasi
3.6. Jadwal Penelitian

Tabel 3.9

Jadwal Penelitian

No Kegiatan Tahun 2018/ 2019


Nov 2018 Des 2018 Jan 2019 Feb 2019 Mar 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap persiapan
penelitian
a. Penyusuan dan
pengajuan judul
b. Pengajuan
Proposal
c. Perijinan
Penelitian
2. Tahap
Pelaksanaan
a. pengumpula
n data
b. Analisis Data
3. Tahap
penyusunan
Laporan
4. Seminar
Proposal