Anda di halaman 1dari 8

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

SAP 9 : ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGANGGARAN


MODAL

EKA 450 C2
Rabu, 14 November 2018

OLEH :

I Made Darmayoga (1607531070)

Gede Marco Pradana Dika Putra (1607531099)

K. Trianny Putri Mahadewi Lestariningrum T. (1607531133)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA

PROGRAM REGULER/ S1 AKUNTANSI

SEMESTER GANJIL TAHUN 2018/2019


1. PENGANGGARAN MODAL
1.1 Pengertian Penganggaran Modal (Capital Budgeting)
Penganggaran modal (capital budgeting) adalah proses perencanaan
pengeluaran modal untuk memperoleh asset yang aliran kasnya diperkirakan
di atas satu tahun. Penganggaran modal mencakup keseluruhan proses
penganalisisan proyek-proyek dan penetapan proyek mana yang akan
dimasukkan ke dalam penganggaran modal. Penganggaran modal sebagai
prosedur, rutinitas, metode dan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi
peluang investasi, untuk mengembangkan ide-ide awal dalam proposal
investasi tertentu, untuk mengevaluasi dan memilih proyek serta mengontrol
proyek investasi untuk menilai akurasi perkiraan.
Penganggaran modal merupakan proses dimana financial manager
dihadapkan dengan keputusan apakah akan berinvestasi pada proyek tertentu
atau pada asset tertentu. Hal yang perlu diperhatikan dalam penganggaran
modal antara lain apakah proyek tersebut menguntungkan perusahaan atau
tidak, asset apa yang mendukung untuk proyek tersebut, dan berapa jumlah
investasi yang diperlukan untuk asset tersebut. Proyek jangka panjang ini
dapat berupa ekspansi pada usaha kecil yang sudah berdiri. Keputusan
penganggaran modal akan berpengaruh pada waktu yang lama dan
mempengaruhi nasib perusahaan di masa yang akan datang.
1.2 Jenis-Jenis Keputusan Penganggaran Modal
a. Penambahan dan perluasan fasilitas
b. Produk baru
c. Inovasi dan perluasan produk
d. Penggantian, baik penggantian pabrik atau peralatan usang
e. Menyewa/membuat atau membeli
f. Penyesuaian fasilitas dan peralatan dengan peraturan pemerintah,
lingkungan, dan keamanan
g. Lain-lain keputusan seperti kampanye iklan, program pelatihan dan
proyek-proyek yang memerlukan analisis arus kas keluar dan arus kas
masuk.
1.3 Prinsip Dasar Proses Penganggaran Modal
a. Penganggaran modal pada dasarnya adalah aplikasi prinsip yang
mengatakan bahwa perusahaan harus menghasilkan keluaran atau

2
menyelenggarakan kegiatan bisnis sedemikian rupa sehingga hasil
imbuh (marginal revenue) produk sama dengan biaya imbuhnya
(marginal cost).
b. Prinsip ini dalam kerangka penganggaran modal berarti bahwa
perusahaan harus melakukan tambahan investasi sedemikian rupa
sehingga perolehan imbuh (marginal returns) investasi itu sama
dengan biaya imbuhnya. Daftar berbagai proyek investasi dari hasil
yang tertinggi hingga yang terendah mencerminkan kebutuhan
perusahaan akan modal untuk investasi.
c. Biaya imbuh dari berbagai daftar investasi itu memberi petunjuk
tentang upaya perusahaan untuk memperoleh tambahan modal guna
membiayai investasi. Biaya imbuh modal berarti sejumlah biaya yang
harus ditanggung oleh perusahaan untuk memperoleh dana dari luar
(misalnya meminjam atau menjual saham dan biaya
tumbal/opportunity cost dari dana sendiri yang dapat diperoleh

2. JENIS DAN PENTINGNYA FAKTOR-FAKTOR KEPRILAKUAN


DARI PENYUSUNAN ANGGARAN MODAL
Identifikasi dan spesifikasi atas proyek potensial memerlukan
kreativitas dan kemampuan untuk mengubah ide yang bagus menjadi suatu
proyek yang praktis. Menurut pemikiran, keputusan yang telah dipilih tersebut
akan benar-benar objektif, tetapi hal tersebut benar-benar tidak mungkin
terjadi. Ketidakpastian yang melekat dalam data yang menggambarkan suatu
proyek (seperti mengestimasikan waktu dari arus kas atau nilai sisa) tidak
memungkinkan penerapan teknis seleksi untuk dapat sepenuhnya objektif.
Karena hasil dari teknis analisis harus diinterpretasikan dengan hati-hati maka
kemampuan manusia untuk mempertimbangkan dan menilai adalah factor
yang penting.
2.1 Masalah dalam Mengidentifikasi Proyek Potensial
Ketika proyek tersebut telah didefinisikan dengan memadai, sehigga
proses pertimbangan dapat terjadi. Jika variable keputusan penting tidak
didefinisikan maka pengambilan keputusan mengenai adopsi proyek

3
potensial sebaiknya tidak dicoba. Penting untuk diperhatikan bahawa
selalu terdapat minat yang besar dalam mengevaluasi keberhasilan dari
proyek yang dipilih.
2.2 Masalah Prediksi yang Disebabkan Oleh Perilaku Manusia
Memproyeksikan kemulusan dan kesusuaian dari aktivitas individual
maupun kelompok aktivitas untuk suatu periode selama lima sampai dua
puluh tahun adalah tindakan yang berbahaya. Sebagi contoh, sementara
keputusan penyusunan anggaran dapat disusun untuk manajemen proyek
seseorang, orang tersebut dapat meninggalkan perusahaan atau ditransfer
dan digantikan oleh orang yang benar-benar berbeda, sehingga dengan
demikian memengaruhi akurasi dari estimasi data. Secara serupa,
kemungkinan adanya keresahan tenaga kerha dan politik yang terjadi
dalam proyek modal yang melibatkan otomasi atas tugas-tugas klerikal
yang tidak memerlukan keterampilan sebaiknya dipertimbangkan dalam
memprediksikan data untuk seleksi proyek.
2.3 Masalah Manajer dan Ukuran Kinerja Jangka Pendek
Aspek keprilakuan lain dari prosedur seleksi proyek adalah bahwa
metode peninjauan kinerja adalah tidak konsisten dengan metode seleksi
proyek. Penilaian dan kompensasi kinerja cenderung bersifat jangka
pendek biasanya untuk tahun kuartal atau bulan lalu. Dengan demikian
focus dari manajemen tingkat bawah dan sampai tingkat tertentu,
manajemen tingkat menengah tentu saja akan berupa kinerja jangka
pendek yang sering kali diukur dengan tingkat pengembalian akuntansi.
Proyek dengan kinerja yang tidak dimulai selama beberapa periode kurang
menjadi perhatian manejer tingkat bawah. Manajemen puncak sebaiknya
menyadari biar alami ini yang disebabkan oleh proses peninjuan kinerja.
Karena jarang terhadap hubungan satu banding satu antar manajer dan
proyek, maka manajer individual akan mengambil alih proyek-proyek dari
pendahulu mereka dan memulai beberapa proyek mereka sendiri.
Manajemen puncak harus mempertimbangkan siklus ini dalam prosedur
seleksi proyek dan sebaiknya mengevaluasi sampai sejauh mana masalah

4
tersebut dapat terjadi dan bagaimana hal itu akan memengaruhi usulan
tertentu.
2.4 Masalah yang Disebabkan Oleh Identifikasi Diri dengan Proyek
Manajemen puncak sebaiknya menyadari bahwa proses mencoba
untuk membuat proyek yang buruk terlihat bagus dapat menyiksa bahkan
manajer yang terbaik sekalipun. Sebaiknya, terdapat mekanisme yang
elegan untuk “menyelamatkan” proyek sebelum manajer yang sebenarnya
sangat bagus meninggalkan perusahaan atau bertindak secara
disfungsional untuk menghindari keharusan untuk mengakui bahwa suatu
protek yang mereka usulkan tidak berhasil.
2.5 Pengembahangan Anggota dan Proyek Modal
Dalam proses seleksi proyek, manajemen puncak harus
mempertimbangkan apakah proyek yang diusulkan baik untuk
pengembangan dari si pengusul proyek tersebut pada saat ini. Proyek
tersebut mungkin saja terlalu besar bagi orang atau divisi tersebut untuk
diserap tanpa membuat mereka menjadi putus asa. Di pihak lain,
manajemen puncak dapat mendorong divisi untuk terlibat dalam proyek-
proyek yang secara ekonomi tidak menarik, tetapi menawarkan manfaat
pelatihan karyawan yang potensial di masa depan yang tidak dapat
dikuantifikasi.
2.6 Penyusunan Angggaran Modal sebagai Ritual
Ketika suatu priyek memperoleh persetujuan awal pada tingkat
organisasi lebih bawah, proyek tersebut biasanya harus melalui
serangkaian peninjauan dan persetujuan ke tingkat organisasi yang lebih
tinggi. Ketika proses persetujuan atas proyek tersebut berjalan, proyek
tersebut memiliki momentum sulit untuk dihentikan. Ketika proyek
tersebut telah menerima persetujuan pada beberapa tingkatan bawah, para
pembuat keputusan dan analisis di tingkat atas biasanya tidak mau
menolaknya. Asalahkan dana tersedia, proyek tersebut biasanya disetujui
karena pada saat itu, berbagai manajer dan analisis tingkat bawah telah
mengindikasikan persetujuan dan komitmen pribadi mereka berharap
proyek tersebut. Dengan demikian, manajer tingkat atas biasanya menolaj

5
suatu proyek hanya jika terdapat alasan yang sangat kuat untuk
melakukannya.
2.7 Perilaku Mencari Risiko dan Menghindari Risiko
Individu bereaksi secara berbeda terhadap risiko. Beberapa orang
tampaknya menikmati pengambilan keputusan yang erisiko dan berada
dalam situasi yang berisiko sementara yang lain mencoba untuk
menghindari hal-hal tersebut. Kondisi tertentu dari tingkat penghindaran
risiko oleh pengambil keputusan dalam penyusunan anggaran modal akan
memengaruhi bagaimana orang tersebut akan bereaksi terhadap proyek.
2.8 Membagi Kemiskinan
Fenomena “membagi kemiskinan” sering kali memiliki dampak yang
penting dalam proses penyusunan anggaran modal. Hal ini terjadi ketika
tersedia lebih banyak proyek anggaran modal yang potensial lebih
menguntungkan dibandingkan dengan dana yang tersedia untuk
mendanainya, suatu kondisi yang disebut denan rasionalisasi modal.
Menghadapi keadaan ini, manajemen puncak kadang kala memilih untuk
mengalokasikan dana yang tersedia kepada sebanyak mungkin manajer,
bahkan jika hal itu berarti mengorbankan proyek yang lebih
menguntungkan.
3. TAMPILAN RASIONAL
Faktor manusia sangat terlibat dalam proses penyusunan anggaran
modal. Dalam meninjau faktor-faktor ini, juga dicatat bahwa terdapat
masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kesulitan dalam mengidentifikasikan
dan memilih proyek modal dan kebutuhan akan kreativitas dan penilaian
manusia. Permasalahan yang disebabkan oleh kesulitan dalam memprediksi
perilaku manusia yang diperparah oleh sifat jangka panjang dari proyek
modal. Sementara terdapat banyak manajer yang cenderung untuk memiliki
perspektif jangka pendek karena evaluasi kinerja mereka biasanya didasarkan
pada ukuran-ukuran jangka pendek yang menghambat seleksi dan manajemen
proyek modal yang memerlukan perspektif jangka panjang.
Penyusunan anggaran modal dapat menjadi ritual namun akhirnya
gagal untuk memanfaatkan teknik pengambilan keputusan yang rasional.

6
Penerimaan atau penolakan terhadap suatu proyek modal tergantung pada
tingkat penghindaran risiko dari pribadi yang mengambil keputusan.
Berdasarkan kelompok data yang sama, dua pengambil keputusan yang
berbeda kemungkinan besar akan membuat keputusan yang berlawanan
tergantung pada perasaan mereka terhadap risiko. Disimpulkan dalam hal ini,
tekanan politik dapat sangat mempengaruhi penyusunan anggaran modal.
Kesimpulannya, seseorang dapat mengatakan bahwa proses
penyusunan anggaran memiliki tampak muka rasionalitas, terutama ketika
model matematis yang rumit digunakan. Model matematis tersebut
memberikan atmosfir kepastian, logika, dan ilmu pengetahuan. Tetapi, yang
mendasari proses pengambilan keputusan adalah faktor-faktor keperilakuan
yang disebutkan diatas. Sayangnya, para pengambil keputusan mungkin tidak
ingin mengakui bahwa faktor-faktor manusia yang irasional mungkin menjadi
faktor yang terpenting dalam penerimaan atau penolakan terhadap suatu
proyek tertentu.
4. SARAN-SARAN PERBAIKAN
Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh yang
merugikan dari faktor-faktor keperilakuan manusia terhadap proses
penyusunan anggara modal? Pertama, adalah penting bagi mereka yang
terlibat dalam penyusunan anggaran modal menyadari faktor-faktor
keperilakuan yang melekat pada proses tersebut. Dimana mungkin, faktor-
faktor ini sebaiknya tidak diperbolehkan untuk mengaburkan data keputusan
yang relevan dan yang bersifat lebih rasional. Sementara itu, tidak mungkin
untuk tidak sama sekali menghilangkan faktor-faktor manusia, suatu
pendekatan yang berhasil akan menekankan pada kesadaran akan faktor-
faktor tersebut dan usaha-usaha untuk mengendalikan dampaknya yang
disfungsional.
Audit pasca-implementasi yang disarankan sebaiknya dilakukan
sebelum akhir dari masa proyek modal tersebut dan sebaiknya
mempertimbangkan kondisi-kondisi yang berubah. Jika dilakukan dengan
cara ini, maka mungkin secara objektif dapat menentukan standar kerja untuk

7
masing-masing manajer yang mengelola proyek modal , dimana ini
merupakan suatu pendekatan serupa dengan konsep penggunaan anggaran
fleksibel. Dengan demikian, konsep fleksibilitas dapat diperkenalkan ke
dalam manajemen proyek modal.
Karena audit pasca-implementasi dapat dilakukan dari waktu ke waktu
dan objektif kinerja ditentukan secara periodik, sehingga memungkinkan
untuk menetapkan ukuran-ukuran kinerja jangka pendek untuk proyek modal
yang konsisten dengan kinerja jangka panjang dari proyek tersebut. Hal ini
berdampak menghilangkan masalah-masalah yang berkaitan dengan manajer
jangka pendek yang dimana manajer benar-benar dievaluasi dengan ukuran-
ukuran kinerja jangka pendek dan bukan bauran antara ukuran jangka pendek
untuk operasi normal dan ukuran jangka panjang untuk proyek modal.
Kesimpulannya, disarankan bahwa mereka yang terlibat dalam proses
penyusunan anggaran modal dan dalam manajemen proyek modal sebaiknya
paling tidak menyadari akan faktor-faktor keperilakuan yang terlibat. Paling
tidak, mereka sebaiknya mengambil langkah-langkah aktif untuk memastikan
bahwa faktor-faktor keperilakuan dari penyusunan anggaran modal tidak
menghasilkan keputusan yang suboptimal.