Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KASUS

SEORANG PENDERITA DISENTRI

OLEH:
Putu Arimarta irianta heros
NIM. 1870121058

PEMBIMBING:
dr.Dewa Made Sadguna, Sp.PD

Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Warmadewa
RSUD Sanjiwani Gianyar
Laporan Kasus

SEORANG PENDERITA DISENTRI


Putu Arimarta Irianta Heros
Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Warmadewa/ RSUD Sanjiwani Gianyar

Pendahuluan
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), yang
berarti suatu peradangan usus besar yang dapat menimbulkan gejala meluas seperti:
BAB dengan tinja berdarah, BAB dengan tinja bercampur lendir (mucus), kram perut
dan nyeri saat buang air besar (tenesmus). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri shigella
(disentri basiler) dan entamoeba hystolitica (amebiasis). Disentri basiler merupakan
penyakit infeksi saluran pencernaan yang ditandai dengan diare cair akut atau dan
disentri (tinja bercampur darah, lender, dan nanah), pada umumnya disertai demam dan
nyeri perut. Shigella adalah basil non motil, gram negatif, famili enterobacteriaceae.
Ada 4 spesies Shigella, yaitu S.dysentriae, S.flexneri,S.bondii dan S.sonnei. shigella
merupakan penyebab disentri yang tersering sedangkan amebiasis disebabkan oleh
entamoeba hystolitica. E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai
mikroorganisme komensal (apatogen) di usus besar manusia. Dapat berubah menjadi
patogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus dinding usus
sehingga menimbulkan ulserasi.

Ikterus merupakan salah satu gajala klinis pada wanita hamil dengan hepatitis,
namun adapun ikterus dalam kehamilan sebenarnya disebabkan oleh beberapa keadaan.
Ikterus yang disebabkan oleh kehamilan berupa ; perlemakan hati akut, toksemia, dan
kolestasis intrhepatik. Sedangkan ikterus yang tejadi bersamaan dengan suatu
kehamilan; hepatitis virus, batu empedu, penggunaan obat-obatan hepatotoksik, dan
sirosis hepatis. Ikterus dapat timbul pada satu dari 1500 kehamilan, 41% diantaranya
adalah hepatitis virus,21% oleh karna kolestatis intahepatik, dan kurang dari 6% oleh
karna obtruksi saluran empedu di luar hati.
Penyakit hati biasanya jarang terjadi pada wanita hamil, namun apabila timbul
ikterus pada kehamilan, maka penyebabnya yang paling tering adalah hepatitis virus.
Penyakit hepatitis biasanya memberikan keluhan mual, muntah, anoreksia, demam
ringan, mata kunang. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai ikterus dan hepatomegali,
sedangkan splenomegali hanya ditemukan pada 20-25% penderita.
Gejala dan tanda penyakit hepatitis-B adalah sebagai berikut :
1. Selera makan hilang
2. Rasa tidak enak di perut
3. Mual sampai muntah
4. Demam tidak tinggi Kadang-kadang disertai nyeri sendi
5. Nyeri dan bengkak pada perut sisi kanan atas (lokasi hati)
6. Bagian putih pada mata (sklera) tampak kuning
7. Kulit seluruh tubuh tampak kuning
8. Air seni berwarna coklat

Kasus
Seorang perempuan, berinisial NKT, usia 25 tahun, beragama Hindu, suku Bali,
datang dalam keadaan sadar di antar oleh keluarga ke IGD RSUD Sanjiwani pada
tanggal 27 Januari 2019 dengan keluhan muntah sejak 6 hari yang lalu setelah
melahirkan anak yang kedua. Keluhan dirasakan langsung setiap pasien selesai makan
dan minum. Muntah yang dirasakan pasien dikatakan berisi makanan tanpa disertai
lendir maupun darah. Muntah dikatakan sekitar ½ gelas. Pasien juga mengeluhkan
nafsu makan menurun sejak 6 hari yang lalu. Riwayat demam dan nyeri perut disangkal
pasien. Pasien mengatakan bahwa dirinya sempat berobat ke bidan di puskesmas di
dekat rumahnya untuk keluhannya ini dan mendapatkan obat berupa omeprazole 2 x 1
tablet. Keluhan ini merupakan pertama kali yang dirasakan pasien. Makan dan minum
masih dalam batas normal, BAB dalam batas normal.
Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Riwayat penyakit
kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, jantung, dan paru-paru disangkal oleh
pasien. Tidak ada obat-obatan rutin yang sedang dikonsumsi oleh pasien dan pasien
tidak memiliki riwayat alergi obat ataupun makanan.
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang sama. Ayah pasien
dikatakan memiliki penyakit diabetes mellitus. Riwayat penyakit kronis lain di keluarga
seperti penyakit ginjal, hipertensi, jantung dan paru disangkal oleh pasien.
Pasien merupakan seorang pegawai swasta yang bekerja di LPD di desa Beng.
Riwayat merokok dan mengonsumsi alkohol disangkal pasien.
Pada pemeriksaan fisik saat pasien baru sampai di IGD (27 Januari 2019),
didapatkan kesan sakit sedang dengan kesadaran kompos mentis (GCS E4M6V5).
Tekanan darah pasien 100/60 mmHg, laju nadi 80x/menit kuat angkat dan reguler, laju
napas 20x/menit, suhu aksila 36oC. Berat badan pasien 57 kg dengan tinggi badan 162
cm, indeks massa tubuh pasien 21,75 kg/m2. Pada pemeriksaan mata tidak ditemukan
anemis pada kedua mata, sklera tidak ikterik, pupil bulat isokor dan refleks cahaya
kedua mata positif. Pada pemeriksaan THT tidak ditemukan faring hiperemis dan tidak
ada pembesaran tonsil (T1-T1). Lidah tampak normal, tidak ditemukan atrofi papil
lidah. Pada pemeriksaan leher didapatkan trakea letak tengah tanpa pembesaran
kelenjar getah bening. Kelenjar tiroid tidak teraba, JVP pasien normal (PR + 0 cm H2O).
Pada pemeriksaan dada tampak pergerakan dinding dada simetris saat statis dan
dinamis, tidak ada retraksi sela iga, iktus cordis tidak terlihat. Vocal fremitus kanan dan
kiri seimbang. Perkusi paru kanan dan kiri sonor. Suara pernapasan vesikuler, tidak ada
ronkhi dan wheezing. Pada pemeriksaan dada didapatkan batas jantung dalam batas
normal; batas kanan atas setinggi PSL ICS II, batas kanan bawah setinggi PSL ICS IV,
dan batas kiri bawah setinggi MCL ICS IV; iktus cordis tidak teraba. Pada auskultasi
jantung, terdengar S1-S2 tunggal, regular, tidak didapatkan adanya murmur dan gallop.
Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan distensi dan asites, pada auskultasi bising
usus normal, bunyi ketuk timpani, hepar dan lien tidak teraba, tidak ada nyeri tekan
epigastrium. Ekstremitas hangat dan tidak ditemukan edema pada keempat ekstremitas.
Beberapa pemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu menegakan
diagnosa pasien. Hasil pemeriksaan darah lengkap pada tanggal 27 Januari 2019
menunjukan leukosit 13,0 103/uL (H); lymph% 27,7% (N); gran% 63,4% (N); RBC
5,05 106/uL (N); Hgb 15,7 g/dl (N); HCT 47,4% (N); MCV 93,9 fL (N); MCH 31,1 pg
(N); MCHC 33,1 g/dL (N); PLT 154 103/uL (N). Hasil pemeriksaan kimia darah di IGD
menunjukan gula darah 100 mg/dL (N), Ureum 49 mg/dL (H), Creatinin 0,5 mg/dL (L),
SGOT 488 U/L (H), SGPT 858 U/L (H).
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, pasien di rawat
dengan diagnosa awal observasi transaminitis ec suspek hepatitis akut dan dyspepsia.
Penanganan yang diberikan berupa cairan IVFD RL 30 tpm, ranitidine 2 x 50mg IV,
Ondancentron 4gr IV, curcuma 3 x 1 tablet, planning LFT & UL, bed rest, dan rawat
bersama dengan TS. Obgyn. Selama di ruangan, pasien di pantau keluhan dan tanda-
tanda vitalnya.
Pada hari perawatan pertama, tanggal 28 Januari 2019, pasien mengeluh lemas,
tidak nafsu makan, mual dan muntah, pasien tidak bab, BAK normal. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan tekanan darah pasien 100/60, laju nadi 80x/menit, laju napas 20x/menit,
suhu 36,8 oC. Mata tidak anemis dan tidak ada ikterus. Pemeriksaan toraks dalam batas
normal. Pada pemeriksaan abdomen tidak ada distensi, bising usus normal. Keempat
akral hangat dan tidak edema. Pasien dirawat dengan observasi transaminitis ec suspek
hepatitis akut dan dyspepsia. Terapi dilanjutkan dengan pemberian cairan IVFD RL 30
tpm, ranitidine 2 x 50mg IV, ondancentron 4gr 3x1 IV, curcuma 3 x 1 tablet.
Pada hari perawatan kedua, tanggal 29 Januari 2019, pasien masih mengeluhkan
lemas, tidak nafsu makan, dan mual, namun keluhan sudah dirasakan sedikit berkurang,
belum BAB, BAK dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan
darah pasien 100/60, laju nadi 80x/menit, laju napas 20x/menit, suhu 36 oC. Mata tidak
anemis atau ikterus. Pemeriksaan toraks dalam batas normal. Pada pemeriksaan
abdomen tidak ada distensi, bising usus normal. Keempat akral hangat dan tidak edema.
Pasien dirawat dengan diagnosa observasi transaminitis ec suspek hepatitis akut dan
dyspepsia. Terapi sementara dilanjutkan dengan pemberian cairan IVFD RL 30 tpm,
ondancentron 3x4gr IV, antacid 3x1 tablet.
Pada hari perawatan ketiga, tanggal 30 Januari 2019, pasien masih mengeluh
lemas dan mual, namun sudah membaik dibandingkan dengan sebelumnya. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah pasien 100/60, laju nadi 80x/menit, laju
napas 20x/menit, suhu 36.0 oC. Mata tidak anemis dan icterus. Pemeriksaan toraks
dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen tidak ada distensi, bising usus normal.
Keempat akral hangat dan tidak edema. Pasien di diagnosis dengan observasi
transaminitis ec suspek hepatitis akut dan dyspepsia. Terapi sementara dilanjutkan
dengan pemberian cairan IVFD RL 30 tpm, ondancentron 3x4gr IV, antacid 3x1 tablet,
omeprazole 2x1, curcuma 3x1 tablet.
Pada hari perawatan keempat, tanggal 31 Januari 2019, pasien masih mengeluh
lemas, keluhan mual sudah membaik dibandingkan dengan sebelumnya, makan dan
minum baik, keluhan lain yang dikeluhkan pasien saat ini adalah sesak. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah pasien 90/60 mmHg, nadi 80x/menit, laju
napas 20x/menit, suhu 36.0 oC . mata tidak anemis dan icterus. Pemeriksaan toraks
dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen tidak ada distensi, bising usus normal.
Keempat akral hangat dan tidak ada edema. Pasien di diagnosis dengan observasi
transaminitis ec suspek hepatitis akut dd ischemic hepatis, dyspepsia, dan obsevasi
dyspneu. Terapi sementara dilanjutkan dengan pemberian cairan IVFD RL 30 tpm,
ondancentron 3x4gr IV, antacid 3x1 tablet, omeprazole 2x1, curcuma 3x1 tablet, sulfas
ferosus 2x1 tablet, pasien di konsulkan ke TS. Cardio dengan suspek PPCM.
Pada hari perawatan kelima, tanggal 1 Februari 2019, pasien mengeluh lemas
dan sesak, makan minum baik, BAB dan BAK dikatakan normal. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan tekanan darah pasien 100/60 mmHg, nadi 80x/menit, laju napas
20x/menit, suhu 36.3 oC . mata tidak anemis dan icterus. Pemeriksaan thoraks dalam
batas normal. Pada pemeriksaan abdomen tidak ada distensi, bising usus normal.
Keempat akral hangat dan tidak ada edema. Pasien di diagnosis dengan observasi
transaminitis ec suspek hepatitis akut dd ischemic hepatis, dyspepsia, dan obsevasi
dyspneu ec suspek PPCM. Pasien diperbolehkan pulang oleh bagian interna dengan
diagnosis akhir observasi transaminitis ec suspek hepatitis akut dd ischemic hepatis,
dyspepsia, dan obsevasi dyspneu ec suspek PPCM yang kemudian di alih rawat ke
bagian Obgyn dan Cardio.

Pembahasan
Diagnosis hepatitis akut ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis di tanyakan tentang faktor risiko dan keluhan
pasien menggunakan sacred seven dan foundamental four. Pada kasus ini pasien
merupakan seorang perempuan. Keluhan yang disampaikan oleh penderita hepatitis
akut biasanya berupa mual, muntah, demam ringan, anoreksia, nafsu makan menurun.
Pada pemeriksaan fisik pada penderita hepatitis akut dapat dijumpai ikterus dan
hepatomegali, sedangkan splenomegali hanya ditemukan pada 20-25% penderita.1,2
Pada anamnesis dari kasus ini didapatkan pasien mengeluh lemas dan muntah sejak 6
hari yang lalu setelah melahirkan anak yang kedua. Keluhan dirasakan setiap setelah
makan disertai dengan penurunan nafsu makan. Pada pemeriksaan fisik pasien
ditemukan suhu 36°C dan tidak ditemukan adanya icterus, hepatomegaly, ataupun
splenomegali. Gejala dan tanda pada kasus ini tidak sesuai dengan temuan klinis yang
umumnya ditemukan pada pasien dengan hepatitis akut.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien hepatitis akut adalah
pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan fungsi SGOT, SGPT, dan kadar
bilirubin yang biasanya mengalami peninggian, serta pemeriksaan anti virus hepatitis
A IgM dimana pasien dengan infeksi hepatitis akut dalam kurun waktu 4-5 bulan akan
memberikan hasil yang positif. Pemeriksaan lain yang dilakukan yaitu dengan
memeriksa anti virus hepatitis A IgG untuk infeksi kronik(3-12 bulan pasca infeksi).
Penatalaksanaan pada penderita hepatitis akut antara lain penderita harus tirah
baring di rumah sakit sampai gejala icterus hilang dan bilirubin dalam serum menjadi
normal. Makanan diberikan dengan sedikit mengandung lemak tetapi tinggi protein dan
karbohidrat. Pemakaian obat-obatan hepatotoxic hendaknya dihindari. Kortison baru
diberikan bila terjadi penyulit. Perlu diingat pada hepatitis virus yang aktif dan cukup
berat, mempunyai risiko untuk terjadi perdarahan post-partum, karena menurun-nya
kadar vitamin K. Janin baru lahir hendaknya tetap diikuti sampai periode post natal
dengan dilakukan pemeriksaan trans aminase serum dan pemeriksaan hepatitis virus
anti gen secara periodik. Janin baru lahir tidak perlu diberi pengobatan khusus bila tidak
mengalami penyulit-penyulit lain..1 Terapi farmakologi yang digunakan untuk
mengobati hepatitis akut bergantung pada jenis virus yang menginfeksi pasien. Apabila
virus yang menginfeksi pasien adalah virus hepatitis A, maka penatalaksanaannya
cukup dengan terapi suportif dan dan penatalaksanaan simptomatik. Apabila virus yang
menginfeksi merupakan virus hepatitis B maka penatalaksanaan farmakologinya adalah
pemberian lamivudine dan interferon sebagai imunomodulator, anti proliferasi virus,
dan anti replikasi.2
Pada kasus ini dilakukan pemberian cairan IVFD RL 30 tpm sebagai terapi
untuk rehidrasi. Peme ranitidine 2 x 50mg IV, ondancentron 4gr 3x1 IV, curcuma 3 x
1 tablet. Selain itu terapi lain yang diberikan pada pasien antara lain ranitidine 2 x 50mg
IV, ondancentron 4gr 3x1 IV, dan curcuma 3 x 1 tablet. Pilihan obat tersebut digunakan
sebagai terapi simtomatis. Pada kasus didapatkan pasien mengeluh lemas, mual, dan
muntah, sehingga diberikan obat antipiretik dan antiemetik.
Ringkasan
Pasien perempuan, berusia 25 tahun, agama Hindu, suku Bali, datang dengan
keluhan muntah sejak 6 hari yang lalu setelah melahirkan anak yang kedua. Keluhan
dirasakan langsung setiap pasien selesai makan dan minum. Muntah yang dirasakan
pasien dikatakan berisi makanan tanpa disertai lendir maupun darah. Muntah dikatakan
sekitar ½ gelas. Pasien juga mengeluhkan nafsu makan menurun sejak 6 hari yang lalu.
Riwayat demam dan nyeri perut disangkal pasien. Di dalam keluarga pasien dikatakan
bahwa ayah pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Pada pemeriksaan fisik,
pasien tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, Tekanan darah pasien 100/60
mmHg, laju nadi 80x/menit kuat angkat dan reguler, laju napas 20x/menit, suhu aksila
36oC. Pada pemeriksaan laboratorium darah lengkap terdapat peningkatan kadar
leukosit dan pada pemeriksaan kimia darah didapatkan peningkatan kadar creatinine,
SGOT, dan kadar SGPT. Berdasarkan data yang di dapat, pasien dirawat dengan
observasi transaminitis ec suspek hepatitis akut dan dyspepsia. Pada pasien dilakukan
tatalaksana suportif seperti pemberian cairan dan antipiretik.
Daftar pustaka
1. Lok AS, McMahon BJ. Chronic hepatitis B. Hepatology. 2014 Feb
1;45(2):507-39.
2. Widodo D. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 5. Jakarta: Interna Publishing;
November 2009. 2797-2805.
3. Lauer GM, Walker BD. Hepatitis C virus infection. New England journal of
medicine. 2001 Jul 5;345(1):41-52.
4. Chisari FV, Ferrari C. Hepatitis B virus immunopathogenesis. Annual review
of immunology. 1995 Apr;13(1):29-60.
5. Shepard CW, Finelli L, Alter MJ. Global epidemiology of hepatitis C virus
infection. The Lancet infectious diseases. 2005 Sep 1;5(9):558-67.
6. Davis GL, Balart LA, Schiff ER, Lindsay K, Bodenheimer Jr HC, Perrillo RP,
Carey W, Jacobson IM, Payne J, Dienstag JL, VanThiel DH. Treatment of
chronic hepatitis C with recombinant interferon alfa. New England journal of
medicine. 1989 Nov 30;321(22):1501-6.