Anda di halaman 1dari 10

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Entrepreneur
2. 1.1 Pengertian Entrepreneur
Entrepreneurship berasal dari Bahasa Perancis, yakni entreprendre yang berarti
melakukan (to under take), dalam arti melakukan kegiatan mengorganisir dan mengatur.
Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Richard Cantillon pada tahun 1755 dalam
tulisannya Essai Sur la Nature du Commerce en General. Pada masa itu istilah
entrepreneur merupakan sebutan bagi para pedagang yang membeli barang di daerah-
daerah dan kemudian menjualnya dengan harga yang tidak pasti. Sedangkan pengertian
entrepreneur secara terminologi atau terkadang pengertian entrepreneurship secara istilah
adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan
perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang
dengan berbagai risiko yang dihadapinya. Entrepreneurship juga mempunyai makna yang
berarti kemampuan dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan sebagai
sebuah keberanian untuk menghadapi risiko yang dilakukan dengan cara kerja keras
untuk membentuk dan memelihara usaha baru.
Menurut Prijosaksono dan Bawono (2005) entrepreneurship (wirausaha) dapat
diartikan melalui 3 kata berikut: destiny, courage, action. Ketiga kata tersebut merupakan
kata-kata yang penting dalam membangun sikap dan perilaku wirausaha dalam diri
seseorang. Destiny berarti takdir, yang sebenarnya lebih merupakan tujuan hidup kita,
bukan nasib. Tujuan dan misi hidup kita adalah fondasi awal untuk menjadi seorang
wirausahawan yang sukses. Dengan memiliki tujuan hidup (life purpose) yang jelas, kita
dapat memiliki semangat (spirit) dan sikap mental (attitude) yang diperlukan dalam
membangun sebuah usaha yang dapat memberi nilai tambah dalam kehidupan kita.
Keberanian (courage) untuk memulai dan menghadapi tantangan adalah sikap awal yang
kita perlukan. Dalam kewirausahaan, keberanian untuk mulai dan mengambil risiko
adalah syarat mutlak. Impian dan cita-cita yang besar, kemudian ditambah dengan
kreativitas yang diwujudkan dengan keberanian untuk mencoba dan melakukan (Action)
langkah pertama adalah awal kesuksesan seorang wiraswatawan sejati.
Menurut Zimmerer (2008) arti entrepreneurship (kewirausahaan) adalah
penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya
memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari. Sedangkan menurut
para ahli lainya
2.1.2 Manfaat Entrepreneur
Berdasarkan kesimpulan diatas Zimmerer merumuskan manfaat menjadi seorang
entrepreneur sebagai berikut:
 Untuk memberi peluang dan kebebasan
Seorang pelaku usaha (entrepreneurship) dapat mengendalikan diri sendiri
dengan memiliki usaha sendiri akan memberikan kebebasan dan peluang untuk
berinovasi terhadap apa yang ia inginkan untuk memajukan usaha yang di kelola.
 Peluang terhadapnya suatu perubahan
Semakin banyak pebisnis sesuai dengan kemajuan teknologi yang terus
berkembang menerapkan ide-ide kreatif akan kepedulian di sekitar terhadap
permasalah-permasalahan yang ada yang bertujuan untuk mengikuti tren yang
sedang berkembang sehingga produk yang ditawarkan mengalami perubahan
sehingga pelanggan dapat menikmati dengan variasi baru yang ditawarkan.
 Berperan aktif agar mendapatkan pengakuan dari usahanya
Kesepakatan dalam membangun suatu usaha menimbulkan rasa saling
menghormati antar pelaku bisnis lainya (toleransi) sehingga dalam melancarkan
fungsi sosial dan ekonomi akan mengalami kesetaraan dengan hak yang di
dapatkan.
2.1.3 Karakteristik Entrepreneur
Beberapa para ahli yang memaparkan karakteristik kewirausahaan
(Entrepreneur). Sebagai seseorang yang ingin berusaha memiliki suatu usaha atau bisnis,
menurut Tandjung dan Wijaya (2018) perlunya mengetahui karakteristik keberhasilan
seorang entrepreneur. Untuk menjadi seorang entrepreneur yang berhasil, diantaranya
harus memiliki delapan karakteristik:

1. Passion
Seorang entrepreneur yang sukses harus antusias dalam bekerja dan mencintai
pekerjaanya. Dia harus memiliki semangat pantang menyerah, bila mengalami
kegagalan. Dia juga harus menjiwai pekerjaanya sehingga bekerja dengan tulus.
Tanpa semua itu, pekerjaan yang dilakukan hanyalah sekadar menunaikan
sebuah kewajiban saja.
2. Independent
Entrepreneur juga harus bertindak proaktif melihat peluang bisnis yang ada. Dia
selalu tampil terlebih dahulu sebelum orang lain bertindak. Dia mampu
bertindak sendiri tanpa bergantung pada orang lain dalam membuat suatu
keputusan. Pribadi mandiri inilah yang membuat seorang pengusaha dapat
meraih sukses.
3. Market Sensetivity
Seorang entrepreneur harus peka terhadap situasi dan kondisi pasar sehingga
mampu memanfaatkan setiap peluang yang muncul, bahkan bisa menciptakan
peluang.
4. Calculated Risk Taker
Entrepreneur juga harus memperhitungkan kemungkinan keberhasilan dan
kegagalan dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuannya, dan mampu
mengambil keputusan untuk berhenti jika kemungkinan kegagalan cukup besar.
5. Persistent
Entrepreneur tentu saja harus memberikan yang terbaik kepada pelanggan agar
pelanggan loyal. Selain itu pengusaha sejati harus pantang menyerah, meskipun
berkali-kali mengalami kegagalan.
6. High Ethical Standar
Entrepreneur harus mengacu, memperhatikan dan mempertimbangkan etika
dalam pengambilan keputusan dan usaha mencapai tujuan. Hal ini karena
pelanggan semakin kritis terhadap keberadaan produk maupun perusahaan.
Produk yang ramah lingkungan semakin disukai oleh pelanggan, sebaliknya
yang menyebabkan kerusakan bagi bumi, semakin dijauhi.

7. Good Technical Skill


Jika bisnis yang akan dikelola berkaitan dengan hal hal teknis seperti membuka
dealer mobil, bengkel sepeda motor, servis komputer, maka idealnya pengusaha
harus memiliki keterampilan teknik agar dapat memahami permasalahan dan
peluang bisnis yang ada. Namun keterampilan ini tidak mutlak jika pengusaha
memang yakin dapat mengelola bisnis tersebut dengan menggunakan pekerjaan
profesional.
8. Strong Managerial Competencies
Pengelolaan bisnis akan lebih profesional jika pengusaha memiliki kompetensi
dibidang manajemen, baik keuangan, pemasaran, sumber daya manusia dan
operasional.

2.1.4 Fungsi Entrepreneur

Menurut Kristanto (2009) kewirausahaan berhubungan usaha manusia


meningkatkan nilai kehidupan, menciptakan suatu nilai yang baru, berbeda dan
peningkatan kehidupan masyarakat. Kewirausahaan memiliki arti penting bagi individu
(mikro) dan kehidupan masyarakat. Secara mikro fungsi kewirausahaan dapat berfungsi
sebagai planner dan innovator.
 Planner atau perencanaan yang baik adalah akumulasi dari pengalaman
dan pendidikan wirausaha selama menjalankan kegiatan usaha yang selalu
berubah. Pengalaman selama beberapa waktu membuat wirausaha
memiliki kemampuan untuk merencanakan segala aktivitas bisnis dengan
lebih baik, terstruktur, sistematik dan terukur.

 Fungsi inovator atau keinovasian adalah kemampuan wirausaha untuk


melakukan perubahan terus menerus terhadap aktivitas bisnis sesuai
kemajuan dan perkembangan jaman. Sifat inovasi muncul berdasarkan
pengalaman selama beberapa waktu dari kemampuan wirausaha melihat,
mendengar, bertanya dan melakukan perubahan kehidupan bisnis. Fungsi
secara makro berhubungan dengan peran kewirausahaan dalam
meningkatkan nilai kehidupan atau kemakmuran masyarakat, penggerak,
pengendali dan pemakai perkembangan ekonomi suatu bangsa. Bahkan
pemerintah melalui peraturan, kebijakan berusaha untuk meningkatkan
kewirausahaan untuk mempercepat kemakmuran bangsa.

2.2 UMKM
2.2.1 Pengertian UMKM

Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) :


1. Pengertian UMKM

a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau


badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,


yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi
kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
ini.

c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri


sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha
yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.
2.
Tabel 1 Kriteria UMKM & Usaha Besar Berdasarkan Aset dan Omset

KRITERIA
No URAIAN
ASSET OMZET

1 USAHA MIKRO Max 50 Jt Max 300 jt

2 USAHA KECIL > 50 jt - 500 jt > 300 jt - 2,5 M

USAHA
3 MENENGAH > 500 jt - 10 M > 2,5 M - 50 M

Sumber : LPPI dan Bank Indonesia (2015)

2.3 Personal Value


2.3.1 Pengertian Personal Value
Menurut Rokeach (1973) mendefiinisikan personal value sebagai cara
pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara pribadi atau social
dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan. Dengan kata lain
personal value dianggap sebagai sistem nilai sebuah hierarki yang didasarkan pada
penggolongan-penggolongan nilai seorang menjelaskan bahwa setiap orang mempunyai
sistem value yang unik yang disusun dalam hierarki kepentingan. Sistem nilai tidak
hanya melayani sebagai “determinant of action”, tetapi juga sebagai standardisasi atau
petunjuk untuk mengemukakan persepsi, kebiasaan dan pengambilan keputusan yang
dilakukan oleh tiap-tiap individu.

Menurut Hutcheon (Cheng & Fleischmann, 2010) value tidak sama dengan ideal,
norma, bentuk keinginan atau keyakinan yang dianut tentang kebaikan, tetapi malah
mengoperasikan kriteria dari suatu tindakan. Dengan kata lain personal values adalah
keyakinan yang mendasari setiap orang untuk mencapai sebuah kondisi akhir yang
diharapkan dan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan untuk mencapai kondisi
tersebut.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa value adalah sesuatu
yang bersifat pribadi melekat pada diri seseorang, suatu prinsip hidup yang merupakan
convictions, beliefs dan ethics yang berperan menjadi suatu kesatuan dalam diri. Value
yang diterapkan setidaknya dapat mengubah cara pandang dan tindakan yang
bermartabat, nilai-nilai aturan pribadi yang mungkin sejalan dengan nilai-nilai yang
berlaku.

2.3.2 Konsep Personal Value


 Adanya suatu keyakinan dalam melakukan sebuah tindakan (perilaku)
 Tentang tujuan akhir atau sebuah perilaku yang mesti dicapai
 Bersifat transedental dalam waktu tertentu
 Adanya suatu kedisiplinan diri
 Melakukan pengendalian diri (self control)

Gambar 1. 10 Basic Personal Value ( Schwartz 1992 )


Berdasarkan kontinum tersebut, Schwartz (dalam Schwartz, Caprara, &Vecchione, 2010)
mengklasifikasikan sepuluh jenis nilai yang telah disebutkansebelumnya ke dalam 4 kategori
umum. Nilai yang berada di paruh bawahbertentangan dengan nilai yang berada di paruh atas.
Nilai yang berada di paruhbawah menggambarkan kebutuhan manusia untuk menghindari atau
mengontrolkecemasan dan ancaman, serta memproteksi self. Sedangkan nilai pada paruh
atasdapat dianggap bebas dari kecemasan, mengekspresikan pertumbuhan, danpengembangan
diri. Keempat kategori nilai menurut Schwartz, beserta penekanandari masing-masing kategori
dapat dilihat pada gambar berikut:

Tabel 2. Karakteristik dari 4 kategori basic personal values

Openness to Change  Otonomi dan pengalaman dalam


mengekspresikan diri
 Kebebasan berpikir, merasa, dan
bertindak
 Penerimaan terhadap perubahan
Self Transcendence  Peningkatan kesejahteraan seluruh
manusia
 Kesetaraan setiap manusia

Self Enhancement  Dominasi dan pengagungan


(admiration)
 Mendukung kesuksesan dan dominansi
diri
Conservation  Penerimaan secara pasif pada status
quo
 Kepatuhan pada pembatasan diri
 Pertahanan nilai tradisional
 Perlindungan stabilitas
Schwartz menyatakan bahwa self-transcendence dan self-enhancement berada dalam satu
dimensi yang saling bertentangan. Self-transcendence menekankan pada kesejahteraan yang
merata, sementara self-enhancement menekankan pada kesuksesan personal. Selain itu, pada
dimensi lainnya, terdapat openness to change dan conservation yang juga saling berlawanan.
Openness tochange menekankan pada independensi dan perubahan, sementara conservation
menekankan pada kepatuhan dan stabilitas.