Anda di halaman 1dari 20

HEMODIALISA

A. PENGERTIAN
Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan
cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu
melaksanakan proses tersebut atau suatu proses pembuatan zat terlarut dan
cairan dari darah melewati membrane semi permeable. Hemodialisa dan
dialisa peritoneal merupakan dua tehnik utama yang digunakan dalam dialisa.
Prinsip dasar kedua teknik tersebut sama yaitu difusi solute dan air dari
plasma ke larutan dialisa sebagai respon terhadap perbedaan konsentrasi atau
tekanan tertentu.
Hemodialisa merupakan dialisis yang dilakukan diluar tubuh. Darah
dikeluarkan dari tubuh, melalui sebuah kateter arter, masuk ke dalam sebuah
mesin besar. Di dalam mesin tersebut terdapat dua ruang yang dipisahkan oleh
sebuah membrane semipermeabel. Darah dimasukkan ke salah satu ruang,
sedangkan ruangan yang lain diisi oleh cairan pen-dialisis, dan diantara
keduanya akan terjadi difusi. Darah dikembalikan ke tubuh melalui sebuah
pirau vena.
Terapi hemodialisa dilakukan untuk menggantikan kerja dari ginjal yaitu
menyaring dan membuang sisa-sisa metabolisme dan kelebihan cairan,
membantu menyeimbangkan unsur kimiawi dalam tubuh serta membantu
menjaga tekanan darah. Hemodialisis tidak menyembuhkan atau memulihkan
penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik
atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan dampak dari gagal ginjal serta
terapinya terhadap kualitas hidup pasien. Pasien-pasien ini harus menjalani
terapi dialisis sepanjang hidupnya (biasanya 3 kali seminggu selama paling
sedikit 3 atau 4 jam per kali terapi) atau sampai mendapat ginjal baru melalui
operasi pencangkokan yang berhasil. Pasien memerlukan terapi dialysis yang
kronis kalau terapi ini diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan
hidupnya dan mengendalikan gejala uremia.

B. TUJUAN
Tujuan dilakukannya hemodialisa yaitu untuk :
1. Mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal
pulih kembali. Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau zat
racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanet atau
menyebabkan kematian.
2. Mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan
mengeluarkan air yang berlebih. Pada hemodilisa, aliran darah yang penuh
dengan toksin dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke dialiter
tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lagi ke
tubuh pasien.

C. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Pasien yang memerlukan hemodialisa adalah pasien GGK dan GGA untuk
sementara sampai fungsi ginjalnya pulih. Pasien-pasien tersebut dinyatakan
memerlukan hemodialisa apabila terdapat indikas sebagai berikuti:
1. Hiperkalemia ( K > 6 mEq/l)
2. Asidosis
3. kegagalan terapi konservatif
4. Kadar ureum/kreatinin tinggi dalam darah
5. Kelebihan cairan.
6. Perikarditis dan konfusi yang berat.
7. Hiperkalsemia dan hipertensi.

Indikator biokimiawi yang memerlukan tindakan hemodialisa yaitu:


1. Peningkatan BUN > 20-30 mg%/hari
2. Serum kreatinin > 2 mg%/hari
3. Hiperkalemia
4. Overload cairan yang parah
5. Odem pulmo akut yang tidak berespon dengan terapi medis

Pada CRF:
1. BUN > 200 mg%
2. Creatinin > 8 mg%
3. Hiperkalemia
4. Asidosis metabolik yang parah
5. Uremic encepalopati
6. Overload cairan
7. Hb: < 8 gr% – 9 gr% siap-siap tranfusi

Kontraindikasi dilakukan hemodialisa yaitu:


1. Gangguan pembekuan darah
2. Anemia berat
3. Trombosis/emboli pembuluh darah yang berat

D. PRINSIP
Ada 3 prinsip dasar dalam HD yang bekerja pada saat yang sama yaitu:
1. Proses Difusi
Merupakan proses berpindahnya suatu zat terlarut yang disebabkan
karena adanya perbedaan konsentrasi zat-zat terlarut dalam darah dan
dialisat. Perpindahan molekul terjadi dari zat yang berkonsentrasi tinggi ke
yang berkonsentrasi lebih rendah. Pada HD pergerakan molekul / zat ini
melalui suatu membrane semi permeable yang membatasi kompartemen
darah dan kompartemen dialisat. Toksin dan zat limbah di dalam
dikeluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah yang
memiliki konsentrasi yang lebih rendah. Cairan dialisat tersusun dari
semua elektrolit yang penting dengan mengatur rendaman dialisat secara
tepat. Pori-pori dalam membran semipemiabel tidak memungkinkan sel-
sel darah, protein dan bacteria untuk dapat lolos.
Proses difusi dipengaruhi oleh:
a. Perbedaan konsentrasi
b. Berat molekul (makin kecil BM suatu zat, makin cepat zat itu keluar)
c. QB (Blood Pump)
d. Luas permukaan membrane
e. Temperatur cairan
f. Proses konvektik
g. Tahanan / resistensi membrane
h. Besar dan banyaknya pori pada membrane
i. Ketebalan / permeabilitas dari membrane
Faktor-faktor di atas menentukan klirens dialiser. Klirens suatu dializer
adalah kemampuan dializer untuk mengeluarkan zat-zat yaitu jumlah atau
banyaknya darah yang dapat dibersihkan dari suatu zat secara komplit oleh
suatu dializer yang dinyatakan dalam ml/mnt.
2. Proses Ultrafiltrasi
Berpindahnya zat pelarut (air) melalui membrane semi permeable
akibat perbedaan tekanan hidrostatik pada kompartemen darah dan
kompartemen dialisat. Tekanan hidrostatik / ultrafiltrasi adalah yang
memaksa air keluar dari kompartemen darah ke kompartemen dialisat. Air
yang dikeluarkan dari dalam tubuh dengan melalui proses osmosis.
Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan.
Air bergerak dari daerah tekanan yang lebih tinggi (tubuh) ke tekanan
yang lebih rendah (cairan dialisat)
Besar tekanan ini ditentukan oleh tekanan positif dalam kompartemen
darah (positive pressure) dan tekanan negative dalam kompartemen
dialisat (negative pressure) yang disebut TMP (trans membrane pressure)
dalam mmHg.
Perpindahan & kecepatan berpindahnya dipengaruhi oleh:
a. TMP
b. Luas permukaan membrane
c. Koefisien Ultra Filtrasi (KUF)
d. Qd & Qb
e. Perbedaan tekanan osmotic
3. Proses Osmosis
Berpindahnya air karena tenaga kimiawi yang terjadi karena
adanya perbedaan tekanan osmotic (osmolalitas) darah dan dialisat. Proses
osmosis ini lebih banyak ditemukan pada peritoneal dialysis. Gradien
tekanan dapat di tingkatkan melalui penambahan tekanan negatif yang
dikenal dengan ultrafiltrasi pada mesin dialisa. Tekanan negatif diterapkan
pada alat ini sebagai kekuatan pengisap pada membran dan memfasilitasi
pengeluaran air karena pasien tidak dapat mengeksresikan air. Kekuatan
ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga terjadi keseimbangan
cairan.
E. PERANGKAT HEMODIALISA
1. Dialiser atau Ginjal Buatan
Komponen ini terdiri dari membran dialiser yang memisahkan
kompartemen darah dan dialisat. Dialiser bervariasi dalam ukuran, struktur
fisik dan tipe membran yang digunakan untuk membentuk kompartemen
darah. Semua factor ini menentukan potensi efisiensi dialiser, yang
mengacu pada kemampuannya untuk membuang air (ultrafiltrasi) dan
produk-produk sisa (klirens).
2. Dialisat atau Cairan dialisis
Dialisat atau “bath” adalah cairan yang terdiri atas air dan
elektrolit utama dari serum normal. Dialisat ini dibuat dalam system bersih
dengan air keran dan bahan kimia disaring. Bukan merupakan system yang
steril, karena bakteri terlalu besar untuk melewati membran dan potensial
terjadinya infeksi pada pasien minimal. Karena bakteri dari produk
sampingan dapat menyebabkan reaksi pirogenik, khususnya pada
membran permeable yang besar, air untuk dialisat harus aman secara
bakteriologis. Konsentrat dialisat biasanya disediakan oleh pabrik
komersial. Bath standar umumnya digunakan pada unit kronis, namun
dapat dibuat variasinya untuk memenuhi kebutuhan pasien tertentu.
3. Sistem Pemberian Dialisat
Unit pemberian tunggal memberikan dialisat untuk satu pasien:
system pemberian multiple dapat memasok sedikitnya untuk 20 unit
pasien. Pada kedua system, suatu alat pembagian proporsi otomatis dan
alat pengukur serta pemantau menjamin dengan tepat kontrol rasio
konsentrat-air.
4. Asesori Peralatan
Piranti keras yang digunakan pada kebanyakan system dialisis
meliputi pompa darah, pompa infus untuk pemberian heparin, alat monitor
untuk pendeteksi suhu tubuh bila terjadi ketidakamanan, konsentrasi
dialisat, perubahan tekanan, udaara, dan kebocoran darah.
5. Blood lines: selang yang mengalirkan darah dari tubuh ke dializer dan
kembali ke tubuh. Mempunyai 2 fungsi :
a. Untuk mengeluarkan dan menampung cairan serta sisa-sisa
metablolisme.
b. untuk mencegah kehilangan zat-zat vital dari tubuh selama dialysis.
6. Peralatan
1. Tempat tidur fungsional
2. Timbangan BB
3. Pengukur TB
4. Stetoskop
5. Termometer
6. Peralatan EKG
7. Set O2 lengkap
8. Suction set
9. Meja tindakan.
Obat-obatan dan cairan :
1. Obat-obatan hemodialisa : heparin, frotamin, lidocain untuk anestesi.
2. Cairan infuse : NaCl 0,9%, Dex 5% dan Dex 10%.
3. Dialisat
4. Desinfektan : alcohol 70%, Betadin, Sodium hypochlorite 5%
5. Obat-obatan emergency

F. AKSES VASKULAR PADA HEMODIALISA


Untuk melakukan dialisa intermitten diperlukan jalan masuk vascular yang
adekuat. Darah harus keluar masuk dengan kecepatan 200-400 ml/detik.
Teknik-teknik akses vascular utama pada hemodialisa :
1. Eksternal (sementara)
a. Percutaneus : subclavia, femoralis, vena jugularis
b. AV Shunt Scribner
2. Internal (permanen)
a. Fistula AV/Cimino
b. Cangkokan AV/AV Graft : Autograf, Hemograf, Heterograf
Umur rata-rata kateter vena subklavia 4 minggu, kateter vena femoralis 1-2
hari. Fistula AV 4 tahun.
Komplikasi akses vascular
1. kateter vena femoralis dan vena subklavia
laserasi, perdarahan, trombosis, emboli, hematoma, infeksi,
pneumotoraks(pd v.subklavia)
2. Fistula AV dan cangkokan AV : Nyeri, aneurisma, trombosis, kesulitan
hemostatis postdialisis dan iskemia tangan.

B. PEDOMAN PELASKSANAAN HEMODIALISA


1. Perawatan sebelum hemodialisa
a. Sambungkan selang air dari mesin hemodialisa.
b. Kran air dibuka.
c. Pastikan selang pembuka air dan mesin hemodialisis sudah masuk
keluar atau saluran pembuangan.
d. Sambungkan kabel mesin hemodialisis ke stop kontak.
e. Hidupkan mesin.
f. Pastikan mesin pada posisi rinse selama 20 menit.
g. Matikan mesin hemodialisis.
h. Masukkan selang dialisat ke dalam jaringan dialisat pekat.
i. Sambungkan slang dialisat dengan konektor yang ada pada mesin
hemodialisis.
j. Hidupkan mesin dengan posisi normal (siap).
2. Menyiapkan sirkulasi darah
a. Bukalah alat-alat dialisat dari setnya.
b. Tempatkan dialiser pada holder (tempatnya) dan posisi ‘inset’ (tanda
merah) diatas dan posisi ‘outset’ (tanda biru) dibawah.
c. Hubungkan ujung merah dari ABL dengan ujung ‘inset’ dari dialiser.
d. Hubungkan ujung biru dari UBL dengan ujung ‘outset’ adri dialiser dan
tempatkan buble tap di holder dengan posisi tengah.
e. Set infuse ke botol NaCl 0,9%-500 cc.
f. Hubungkan set infuse ke slang arteri.
g. Bukalah klem NaCl 0,9%. Isi slang arteri sampai keujung selang lalu
klem.
h. Memutarkan letak dialiser dengan posisi ‘inset’ dibawah dan ‘ouset’
diatas, tujuannya agar dialiser bebas dari udara.
i. Tutup klem dari slang untuk tekanan arteri, vena, heparin.
j. Buka klem dari infuse set ABL, UBL.
k. Jalankan pompa darah dengan kecepatan mula-mula 100 ml/mnt,
kemudian naikkan secara bertahap sampai 200 ml/mnt.
l. Isi buble tap dengan NaCl 0,9% sampai 3/4 cairan.
m. Memberikan tekanan secara intermitten pada UBL untuk mengalirkan
udara dari dalam dialiser, dilakukan sampai dengan dialiser bebas
udara (tekanan tidak lebih dari 200 mmHg).
n. Melakukan pembilasan dan pencucian dengan NaCl 0,9% sebanyak
500 cc yang terdapat pada botol (kalf). Sisanya ditampung pada gelas
ukur.
o. Ganti kalf NaCl 0,9% yang kosong dengan kalf NaCl 0,9% baru.
p. Sambungkan ujung biru UBL dengan ujung merah ABL dengan
menggunakan konektor.
q. Menghidupkan pompa darah selama 10 menit. Untuk dialiser baru 15-
20 menit, untuk dialiser reuse dengan aliran 200-250 ml/mnt.
r. Mengembalikan posisi dialiser ke posisi semula dimana ‘inset’ diatas
dan ‘outset’ dibawah.
s. Menghubungkan sirkulasi darah dengan sirkulasi dialisat selama 5-10
menit siap untuk dihubungkan dengan pasien (soaking).
3. Persiapan pasien
a. Menimbang BB
b. Mengatur posisi pasien.
c. Observasi KU
d. Observasi TTV
e. Melakukan kamulasi/fungsi untuk menghubungkan sirkulasi, biasanya
mempergunakan salah satu jalan darah/blood akses seperti dibawah
ini:
1) Dengan interval A-V Shunt/fistula simino
2) Dengan eksternal A-V Shunt/schungula.
3) Tanpa 1-2 (vena pulmonalis)

C. PERAN PERAWATAN DI RUANG HEMODIALISA


1. Pre Hemodialis
Pada pre hemodialisis, kegiatan perawatan meliputi :
a. Menghidupkan mesin, meyediakan alat-alat, memasang alat pada
mesin, sirkulasi cairan nacl pada mesin,
b. Mengawasi penimbangan berat badan pasien,
c. Mengukur suhu badan, mengukur tekanan darah dan menghitung
denyut nadi.
2. Intra Hemodialisa
Pada tahap pemasangan alat dan selama pemasangan, kegiatannya
meliputi:
a. Desinfeksi daerah penusukan
b. Pemberian anestesi lokal (kalau perlu)
c. Penusukan jarum, pemasukan heparin (bolus)
d. Penyambung jarum pada arteri blood line
e. Menekan tombol BFR, membuka klem venous dan arteri blood line,
memprogram penurunan berat badan, waktu pelaksanaan, venous
pressure, kecepatan aliran heparin dan UFR.
f. Menghubungkan heparin contnous ke sirkulasi, monitoring pernafasan,
makan dan minum, pengaturan posisi tubuh, monitoring alat-alat dan
kelancaran sirkulasi darah, mengukur tekanan darah dan menciptakan
suasana ruangan untuk mengisi kegiatan pasien selama hemodialisis
berlangsung.
3. Post Hemodialisis
Pada tahap penghentian hemodialisis meliputi :
a. Penghentian aliran darah, mencabut jarum inlet dan menekan bekas
tusukan sambil menunggu sampai aliran darah pada venous blood line
habis.
b. Langkah selanjutnya adalah mencabut jarum out line dan menekan
bekas tusukan, mengganti gaas bethadine dan fiksasi dengan plester.
c. Setelah penghentian hemodialisis, dilakukan pengukuran tekanan
darah, mengukur suhu, mengawasi penimbangan berat badan,
membereskan alat-alat dan dilanjutkan dengan desinfeksi alat.
d. Semua kegiatan baik pada tahap pre hemodialisis selama pemasangan
dan penghentian hemodialisis dilakukan oleh perawat kecuali
penimbangan berat badan dan minum yang pada beberapa pasien
dilakukan sendiri. Disamping itu beberapa pasien telah dapat
melaporkan pada perawat apabila ada ketidakberesan pada mesin atau
akses vaskular, setelah mencoba mengatasi sendiri.
Sistem pencatatan dan pelaporan yang dijalankan dalam bentuk
lembaran observasi pasien yang berisi tentang : TTV sebelum atau
selama dan sesudah HD, BB sebelum dan sesudah HD, dosis heparin,
program penurunan BB , priming dan keluhan pasien setelah HD.
Pembuatan rencana perawatan pasien sudah berjalan dimana dalam
pengkajian meliputi data fisik dan psikososial. Data psikososial yang
dikaji sebatas pada adanya rasa cemas dan bosan.

D. KOMPLIKASI YANG MUNCUL


1. Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat,
rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati
otonomik, dan kelebihan tambahan berat cairan.
2. Mual dan muntah
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang
disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai
dengan sakit kepala.
3. Demam disertai menggigil
Penyebab : reaksi fibrogen, reaksi transfuse, kontaminasi bakteri pada
sirkulasi darah.
4. Nyeri dada
Dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan terjadinya
sirkulasi darah diluar tubuh.
5. Gatal-gatal
Penyebab : jadwal dialysis yang tidak teratur, sedang.sesudah transfuse
kulit kering.
6. Perdarahan
Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat
dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama
hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.
7. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya
hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot
seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan
volume yang tinggi. penarikan cairan dibawah BB standar. Penarikan
cairan terlalu cepat (UFR meningkat) cairan dialisat dengan Na rendah BB
naik > 1kg. Posisi tidur berubah terlalu cepat.
8. Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa,
penurunan kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat
berpengaruh terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.
9. Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat
diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang
cepat dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik
diantara kompartemen-kompartemen ini. Gradien osmotik ini
menyebabkan perpindahan air ke dalam otak yang menyebabkan oedem
serebri. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya terjadi pada pasien yang
menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat.
10. Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu
dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
11. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler
Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang
tidak adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.
E. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a). Pengkajian Pre HD
- Riwayat penyakit, tahap penyakit
- Usia
- Keseimbangan cairan, elektrolit
- Nilai laboratorium: Hb, ureum, creatinin, PH

- Keluhan subyektif: sesak nafas, pusing, palpitasi


- Respon terhadap dialysis sebelumnya.
- Status emosional
- Pemeriksaan fisik: BB, suara nafas, edema, TTV, JVP
- Sirkuit pembuluh darah.
b). Pengkajian Post HD
- Tekanan darah: hipotensi
- Keluhan: pusing, palpitasi
- Komplikasi HD: kejang, mual, muntah, dsb

2. Nursing Care Plan


a). Pre HD
- Ansietas
- Defisit pengetahuan
b). Intra HD
- Kelebihan volume cairan
- Risiko cedera
- Resiko Infeksi
c). Post HD
- Defisit pengetahuan
- Mual
Nursing Care Plan
NO DIAGNOSA NOC NIC
1 Ansietas Anxiety Level Anxiety Reduction
Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1 x 30 menit klien menunjukkan Aktivitas :
penurunan tingkat ansietas yang ditandai dengan indikator : a. Gunakan pendekatan yang tenang
dan meyakinkan
No Indikator Target
b. Jelaskan seluruh prosedur
1 Ungkapan verbal 5
termasuk sensasi yang dapat
2 Peningkatan pernapasan 5
dialami selama prosedur
3 Peningkatan nadi 5 c. Dukung keluarga untuk menemani
4 Tangan gemetaran 5 klien
5 Wajah tegang 5 d. Identifikasi perubahan tingkat
6 Berkeringat 5 cemas
Keterangan : e. Bantu klien mengidentifikasi
1. Buruk situasi yang menjadi faktor
2. Substansial presipitasi cemas
3. Sedang f. Instruksikan klien menggunakan
4. Ringan teknik relaksasi
5. Tidak ada g. Kaji tanda kecemsan verbal dan
Anxiety Self Control non verbal
Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1 x 30 menit klien menunjukkan aksi
personal untuk mengontrol kecemasan yang ditandai dengan indikator :
No Indikator Target
1 Menggunakan teknik relaksasi 4
1. tidak dilakukan sama sekali
2. jarang dilakukan
3. kadang dilakukan
4. sering dilakukan
5. selalu dilakukan
Pre-Procedure Readiness
Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1 x 30 menit klien menunjukkan
kesiapan terhadap keamanan prosedur dengan sedasi yang ditandai dengan indikator :

No Indikator Target
1 Pengetahuan mengenai prosedur 5
2 Persiapan status bowel 5
3 Persiapan status hidrasi 5
4 Patrisipasi dalam checklist 3
sebelum prosedur
Keterangan :
1. Tidak asdekuat
2. Sedikit adekuat
3. Cukup adekuat
4. Subtansial adkuat
5. Adekuat penuh
2 Defisit pengetahuan Knowledge : Treatment Procedure Teaching Individual
Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1x30 meni klien memahami prosedur Aktivitas :
yang dibutuhkan sebagi bagian dari pengobatan yang ditandai dengan indikator : a. Tentukan kebutuhan belajar klien
No Indikator Target b. Ketahui tingkat pendidikan klien
1 Prosedur pengobatan 3 c. Ketahui kemampuan kognitif,
2 Tujuan prosedur 3 afektif dan psikomotor klien
3 Tahapan dari prosedur 3 d. Tingkatkan kesiapan belajar klien
4 Pencegahan yang berkitan dengan 3 e. Buat tujuan belajar yang realistis
prosedur f. Identifikasi tujuan belajar yang
5 Pembatasan dalam prosedur 3 dibutuhkan untuk mencapai tujuan
6 Penggunaan alat yang tepat 3 utama
7 Perawatan perlaatan yang tepat 3 g. Pilih metode/strategi belajar yang
8 Kesesuai aksi dalam mengatasi 3 sesuai
komplikasi h. Sediakan lingkungan yang kondusif
9 Efek samping pengobatan 3 i. Sesuaikan instruksi untuk
10 Kontraindikasi prosedur 3 memfasilitasi kegiatan
Keterangan : j. Berikan waktu/kesempatan untuk
Keterangan : bertanya
1 : tidak tahu k. Benarkan apabila ada kesalahan
2 : pengetahuan terbatas
informasi
3 : pengetahuan sedang
l. Evaluasi pencapaian klien terhadap
4: pengetahuan substansial
5 : pengetahuan luas tujuan yang sudah ditetapkan
m. Libatkan keluaga/ orang lain yang
berarti dalam kegiatan belajar
3 Nausea Discomfot Level Nausea Management
Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1 x 30 menit klien menunjukkan Aktivitas :
tingkat kenyamanan yang ditandai dengan indikator : a.Dukung klien untuk memantau
No Indikator Target pengalaman mualnya
1 Nausea 4 b. Dukung klien mengontrol
2 Kehilangan nafsu makan 4 mualnya
Keterangan : c.Evaluasi pengalaman mual klien di
1 : berat masa lalu
2 : substansial d. Dukung makan dalam jumlah
3 : sedang kecil namun dengan frekuensi yang
4 : ringan sering
5 : tidak ada e.Tingkatkan istirahat dan tidur yang
adekuat
f. Yakinkan penggunaan anti emetik
untuk mencegah mual jika
memungkinkan
g. Monitor efek manajemen mual
4 Resiko infeksi Risk Control : Infectious Process Intravenous (IV) Insertion
Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1x 4 jam klien menunjukkan aksi Aktivitas :
personal untuk mengontrol resiko infeksi yang ditandai dengan indikator : a. Jelaskan prosedur kepada klien
No Indikator Target b. Pertahankan teknik aseptic
1 Mempertahankan lingkungan 3 c. Bersihkan area penusukan dengan
yang bersih larutan yang tepat
2 Menggunakan universal 3 d. Gunakan dressing yang sesuai
precaution pada area penusukan
3 Mempraktekan cuci tangan 3 e. Pertahankan universal precaution
4 Monitor faktor lingkungan yang 3 Infection Control
berhubungan dengan resiko Aktivitas :
infeksi a. Monitor tanda dan gejala infeksi
5 Mengembangkan strategi yang 3 lokal/sistemik
efektif untuk mengontrol infeksi b. Monitor nilai WBC, granulosit
Keterangan : dan hasil lainnya
1 : tidak ditunjukkan c. Batasi jumlah pengunjung
2 : jarang ditunjukkan d. Pertahankan teknik aseptic
3 : kadang-kadang ditunjukkan e. Inspeksi kulit dan membrane
4: sering ditunjukkan mukosa terhadap adanya
5 : terus menerus dtunjukkan kemerahan, panas ekstrim dan
drainase
f. Anjurkan klien untuk
mengkonsumsi antibiotik yang
diresepkan
g. Ajarkan klien dan keluarga
mengenai tanda dan gejala infeksi
h. Ajarkan klien dan keluarga
mengenai cara untuk menghindari
infeksi
i. Ganti insersi IV perifer sesuai
dengan pedoman CDC
j. Pastikan perawatan aseptic untuk
semua jalur IV

5 Resiko cedera Risk Control Hemodyalisis Therapy


Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1x 4 jam klien menunjukkan aksi Aktivitas :
personal untuk mengontrol atau mengurangi ancaman terhadap kesehatan yang ditandai a. Gambarkan review hasil
dengan indikator : pengambilan sampel darah sebelum
No Indikator Target pengobatan (BUN, kreatinin, Na,
1 Mengembangkan strategi efektif 3 K, dan PO4)
untuk mengontrol resiko b. Catat tanda-tanda vital dasar : suhu
2 Menyesuaikan strategi control 3 tubuh, nadi, pernapasan, tekanan
resiko darah serta penimbangan berat
Keterangan : badan
1 : tidak ditunjukkan c. Jelaskan prosedur hemodialisa dan
2 : jarang ditunjukkan tujuannya
3 : kadang-kadang ditunjukkan d. Periksa peralatan dan larutan sesuai
4: sering ditunjukkan dengan protokol
5 : terus menerus dtunjukkan e. Gunakan teknik steril ketika
memulai hemodialisa untuk jarum
serta penghubungan kateter
f. Periksa sistem monitor
g. Monitor nadi, pernapasan, tekanan
darah terhadapa hemodialisa
h. Administrasi heparin
i. Sesuaikan tekanan filtrasi untuk
menghilangkan sejumlah cairan
yang tidak diiperlukan
j. Lakukan tindakan sesuai protocol
saat klien mengalami hipotensi
k. Hentikan hemodialisa sesuai
protocol
l. Hindari pengambilan darah dan
pemeriksaan tekanan darah pada
sisi dengan fistula
m. Sediakan perawatan kaketer
dan fistula
n. Ajarkan klien untuk memantau
secara mandiri tanda dan gejala
yang mengindikasikan kebutuhan
pengobatan
6 Kelebihan volume Fluid Balance Hypervolemia Management
cairan Setelah dilakukan tindakan keperawatan minimal 1x4 jam klien menunjukkan Aktivitas :
keseimbangan cairan yang ditandai dengan indikator : a. Monitor status hemodinamik
No Indikator Target terhadap hemodialisa
. b. Monitor serum albumin dan kadar
1 Tekanan darah 5 protein
2 Frekuensi tekanan nadi 5 c. Monitor pola napasapabila ada
3 Nadi perifer 5
4 Serum elektrolit 3 kesulitan pernapasan (dyspnea,
5 Keseimbangan asupan dan 4 tachypnea, napas pendek)
keluaran 24 jam d. Mmonitor fungsi ginjal
6 Mean arterial pressure 5 e. Monitor hasil laboratotium yang
Keterangan menunjukkan adanya retensi cairan
1 : gangguan berat f. Monitor tanda-tanda vital
2 : gangguan substansial
3 : gangguan sedang
4: gangguan ringan
5 : tidak ada gangguan
DAFTAR PUSTAKA

Bulecheck, G.M., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M., 2013. Nursing
Interventions Classification (NIC) 6th Edition.USA : Elsevier Mosby.
Guyton, A. C. & Hall, J. E., 1997, Buku ajar: Fisiologi kedokteran. Edisi 9. EGC,
Jakarta.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M.L., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes
Classification (NOC) 5th Edition.U SA : Elsevier Mosby.
NANDA. 2018. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2018-2020. The
North American Nursing Diagnosis Association. Philadelphia. USA
NKF. 2001. Guidelines for hemodialysis adequacy. Available on
:http://www.nkf.com.
NKF. 2006. Hemodialysis. Terdapat pada: http://www.kidneyatlas.org.
PERNEFRI, 2003, Konsensus dialisis. Sub Bagian Ginjal dan
Hipertensi–Bagian Ilmu Penyakit dalam. FKUI-RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo. Jakarta.
Price, S.A & Wilson, L.M. 2005. Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC.
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol.2. Jakarta : EGC.