Anda di halaman 1dari 137

Pengalaman toleransi ada dalam simbol, praktik,

dan tokoh. Namun, lanskapnya ada pada wilayah


geografi. Wilayah geografi ini memberikan kita informasi
dan realitas Nusantara—dari sebelum Republik, sampai
dengan lebih 70 tahun usia Republik. Realitas Nusantara
ini tidak pernah berhenti. Realitas Nusantara ini
sekaligus menjadi deposit atau sedimen dari budaya
toleransi yang ditumbuhkembangkan. indonesia
zamrud toleransi

indonesia zamrud toleransi


Dengan “menunjuk” titik-titik pengalaman toleransi
dalam lanskap geografi, ada suatu pengalaman lain
yang hendak ditumbuhkan, yaitu kesadaran bahwa
pengalaman toleransi ini adalah titik-titik pertumbuhan
peradaban Nusantara. Titik-titik pengalaman ini
terbentang dari barat sampai timur, seperti untaian
zamrud. Untaian ini menjadi saksi betapa kuat dan
tahan lamanya pengalaman ini.

PSIK-Indonesia
Grha STR Lt. 4
Jl. Ampera Raya No. 11, Cilandak
Jakarta Selatan 12550
Telp./Fax. (021) 7813911
www.psikindonesia.org
psikindonesiaorg@gmail.com
I

indonesia
zamrud toleransi

Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia


(PSIK-Indonesia)
2017
II
indonesia zamrud toleransi

ISBN: 978-602-72656-1-5
Penulis: Henry Thomas Simarmata, Sunaryo,
Arif Susanto, Fachrurozi, dan Chandra Saputra
Purnama

Desain: Andi Faisal


Foto: KHOMAINI
Gambar Sampul: Shutterstock

Penerbit:
PSIK-Indonesia
Grha STR Lt. 4
Jl. Ampera Raya No. 11,
Cilandak, Jakarta Selatan 12550
Telp./Fax. (021) 7813911
www.psikindonesia.org
psikindonesiaorg@gmail.com
Cetakan I, Januari 2017
x + 126 halaman; 17 x 25 cm
III
daftar isi

DAFTAR ISI

Toleransi dalam Masyarakat Nusantara VI


Mengapa Toleransi? ..... VI
Mengapa Zamrud?..... IX

Keragaman Indonesia 2
Konflik dalam Keragaman ..... 13
Makna Toleransi ..... 10
Kearifan Lokal ..... 16
Tentang Buku Ini ..... 19

Akar Toleransi Indonesia 22


A. Pembentukan Peradaban ..... 23
Stimulus Peradaban Hindu ..... 24
Stimulus Peradaban Buddha ..... 27
Stimulus Peradaban Islam ..... 28
Stimulus Peradaban Barat ..... 30
IV
indonesia zamrud toleransi

B. Budaya Gotong Royong ..... 31


Pengertian Gotong Royong ..... 32
Implementasi Budaya Gotong Royong ..... 33
Gotong Royong dalam Praktik ..... 35
C. Intelegensia Indonesia ..... 38
D. Pancasila dan Keindonesiaan ..... 41
Ketuhanan Yang Maha Esa ..... 42
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ..... 44
Persatuan Indonesia ..... 45
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan ..... 48
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ..... 50
E. Karakter Nusantara ..... 52
Siklus Dunia atau Siklus Sejarah ..... 54
Long-term Perspective ..... 55
Interaksi ..... 55
Perdagangan dan Lapangan Nusantara ..... 55
Perdagangan Pembentukan Ideal “Commonwealth” ..... 57

Pengalaman Hidup Bersama 60


A. Inspirasi Perdamaian dari Maluku ..... 61
Budaya Masyarakat Maluku ..... 64
Aktor Perdamaian di Maluku ..... 65
B. Merajut Jalan Damai di Poso ..... 70
Kedatangan Islam dan Kristen di Poso ..... 70
Para Perajut Damai di Poso ..... 70
C. Mengelola Keragaman di Kalimantan ..... 74
Orang Madura di Sambas ..... 76
Kerusuhan Sambas dan Pemicunya ..... 77
V
daftar isi

Merajut Damai di Kalimantan ..... 78


Harmoni Dayak-Madura di Desa Retok ..... 80
D. Harmoni di Sumatra Utara ..... 81
Kekerasan pada Etnis Tionghoa ..... 83
Etnis Tionghoa di Sumatra Utara ..... 85
Interaksi Antar-Etnis di Sumatra Utara ..... 87
Masjid Lama Gang Bengkok ..... 88
Sekolah Pembauran ..... 90
E. Toleransi Antar-Agama di Bali ..... 91
Bali sebagai Surga Dunia Terakhir ..... 93
Masyarakat Multikultur ..... 94
Nilai Toleransi dalam Ajaran Hindu Bali ..... 95
Integrasi pada Ranah Sosial-Budaya ..... 96
Bom Bali, Tantangan bagi Kedamaian ..... 100
Respons atas Bom Bali ..... 101
Desa Muslim Pegayaman ..... 103
Ibu Gedong Bagoes Oka ..... 104
F. Toleransi Umat Beragama di Yogyakarta ..... 107
Pengalaman Toleransi di Daerah Istimewa Yogyakarta ..... 109
G. Mengelola Keragaman di Tanah Papua ..... 111
Filsafat “Satu Tungku Tiga Batu” ..... 114
H. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) ..... 115

Catatan Penutup 118


Daftar Pustaka 122
VI
indonesia zamrud toleransi

Toleransi
dalam
Masyarakat
Nusantara
Mengapa Toleransi? orang lain sambil terus mencari titik
Ada ujaran “membunuh satu orang temu.
sama saja dengan membunuh seluruh Ada baiknya kita juga melihat
kemanusiaan.” Ujaran ini dikenal dalam “toleransi” itu dalam perkembangan
semua religi besar di dunia, seperti ilmu pengetahuan. Pada 2005,
Islam, Kristiani, Yahudi, Buddha, Lembaga Nobel Norwegia memberikan
Konfusian, maupun Hindu. Kekuatan penghargaan Nobel Ekonomi pada
ujaran ini ada dalam kemampuannya Robert John Aumann dan Thomas
merangkum seluruh pengalaman Schelling untuk perannya dalam
manusia untuk menghormati meningkatkan pemahaman mengenai
kehidupan (yang kini dan yang kelak) konflik dan kerja sama melalui analisis
serta membangun hormat itu bersama permainan dan teori (game theory).
manusia lain. Pengalaman kebersamaan Dalam model ekonomi, kerja sama
dengan manusia lain inilah yang dan konflik dijelaskan. Ada upaya
menghubungkan kita dengan untuk membangun kerja sama dengan
“toleransi”, yaitu praktik menghormati membangun pemahaman dan praktik
VII
Toleransi dalam Masyarakat Nusantara

mencari titik temu. Begitu juga dengan mental, budaya, dan juga upaya
studi-studi sosial, misalnya yang pewarisan.
banyak didalami oleh Dr. Tamrin Nusantara adalah simbol sekaligus
Amal Tomagola, mengenai akar-akar pengalaman yang amat panjang
konflik dan damai dalam masyarakat dalam budi daya toleransi. Nusantara
Indonesia. “Toleransi” memasuki ranah mempunyai contoh dan rujukan
ilmu pengetahuan dan upaya-upaya yang amat banyak dan penting. Sejak
dunia untuk membangun kerja sama. sebelum Republik, sampai dengan usia
Sedemikian penting “toleransi” lebih dari 70 tahun Republik, budi daya
ini hingga perlu adanya upaya toleransi ini amat dikagumi oleh dunia.
pembibitan, penanaman, dan Hal ini dapat dilihat dalam kemampuan
penyuburan tanah. Berhadapan dengan peradaban-peradaban dunia tumbuh
tragedi kemanusiaan, perang, konflik subur di Indonesia, tanpa yang satu
berkepanjangan, perebutan wilayah meniadakan yang lain. Sekaligus, ada
hidup, dan pemarjinalan pihak-pihak, interaksi antarperadaban tersebut.
“toleransi” ini menjadi suatu sikap

Masjid Raya al-Mashun atau Masjid Raya Medan menjadi bukti akulturasi budaya di tanah
Sumatra Utara. Pembangunan masjid diprakarsai oleh Sultan Maimum Al Rasyid Perkasa
Alamsyah pada 1906 (selesai pada 1909). Masjid ini bergaya Moorish dengan perpaduan
arsitektur Eropa, India, dan Timur Tengah.

Sumber: KHOMAINI.
VIII
indonesia zamrud toleransi

Ornamen-ornamen sentuhan India Mughal


nampak pada pilar-pilar dan atap Masjd Raya
al-Mashun.

Sumber: KHOMAINI.

Nusantara memiliki pengalaman


toleransi dalam simbol. Sebagai
contoh, “bubur merah putih” yang
menyimbolkan syukur dan bakti
pada manusia. Hal ini berhubungan
dengan simbol dari kelapa (daging
buah kelapa dan gula kelapa) yang
menyimbolkan kehidupan, serta beras
yang juga simbol kehidupan. Juga
mengambil makna dari tradisi Islam
Shia, serta makna dari masyarakat Jawa
mengenai “nama” yang menyimbolkan
kehidupan. Simbol ini diwujudkan
dalam upacara kecil di rumah-
rumah, terutama masyarakat Jawa,
sebagai wujud kebersamaan. Apa pun
agamanya, apa pun latar tradisinya,
upacara “tingkat keluarga” ini menjadi
simbol “kembali ke keluarga, kembali
ke kehidupan.” Dalam masyarakat
Maluku ada “Pela Gandong” yang
menjadi simbol sekaligus praktik untuk
saling merangkul orang lain dengan
semangat persaudaraan. Ada banyak
contoh serupa lainnya.
Nusantara memiliki pengalaman
toleransi dalam praktik. Masyarakat
di berbagai wilayah di Indonesia
mempunyai kesempatan untuk
berkontribusi dalam suatu peristiwa
kebersamaan. Ada istilah ewuh atau
sambatan untuk masyarakat Jawa,
IX
Toleransi dalam Masyarakat Nusantara

ngayah untuk masyarakat Bali. Begitu sebelum Republik, sampai dengan


juga berbagai ragam model jimpitan lebih 70 tahun usia Republik. Realitas
atau urunan yang selalu menjadi wujud Nusantara ini tidak pernah berhenti.
toleransi dalam keseharian. Praktik Realitas Nusantara ini sekaligus menjadi
toleransi yang satu ini kemudian deposit atau sedimen dari budaya
diserap dalam bentuk modern dalam toleransi yang ditumbuhkembangkan.
“negara kesejahteraan”. Dalam hal ini, Dengan “menunjuk” titik-titik
Indonesia juga mengambil olah unsur- pengalaman toleransi dalam lanskap
unsur dasar dari Nusantara sehingga geografi, ada suatu pengalaman lain
Indonesia menjadi masyarakat yang yang hendak ditumbuhkan, yaitu
tidak membudidayakan kasta atau kesadaran bahwa pengalaman toleransi
stratifikasi total yang bersifat menindas. ini adalah titik-titik pertumbuhan
Nusantara memiliki pengalaman peradaban Nusantara. Titik-titik
toleransi dalam diri tokoh. Indonesia pengalaman ini terbentang dari barat
dikaruniai tokoh-tokoh besar yang sampai timur, seperti untaian zamrud.
mengusung penghormatan terhadap Untaian ini menjadi saksi betapa kuat
orang lain. Kebesaran mereka dan tahan lamanya pengalaman ini.
melampaui ruang Indonesia, dan
akan selalu dikagumi ratusan tahun Hormat kami,
mendatang. Abdurrahman Wahid atau
Gus Dur dikenal sebagai pendekar Tim Penulis
pembela kebinekaan Indonesia.
Sukarno menjadi penyambung tokoh-
tokoh berbeda ideologi pada masa
kelahiran republik. Hatta menegaskan
bahwa upaya “mencintai Indonesia
yang besar” membutuhkan “cinta yang
juga besar”. Kita mempunyai ratusan
tokoh lain yang mempunyai kaliber
serupa, yang membuat Indonesia
dikenal sebagai tanah yang subur bagi
peradaban dunia untuk berkembang.

Mengapa zamrud?
Pengalaman toleransi ada dalam
simbol, praktik, dan tokoh. Namun,
lanskapnya ada pada wilayah geografi.
Wilayah geografi ini memberikan kita
informasi dan realitas Nusantara—dari
X
indonesia zamrud toleransi

Masjid Muhammad Cheng Hoo, di Surabaya,


salah satu rumah ibadah unik yang
memadukan arsitektur khas Jawa, Tiongkok
dan Arab. Bagunan arsitektur Masjid Cheng
Hoo ini terinspirasi dari Masjid Niu Jie di
Beijing.

Sumber: KHOMAINI.
XI
2
indonesia zamrud toleransi

Keragaman
Indonesia

T
ahukah Anda bahwa 5 jam lebih, dengan melintasi 3 zona
panjang wilayah waktu. Atau, mari kita lihat bagian
Indonesia yang timur Indonesia, di mana Kepulauan
membentang dari Papua Tanimbar hanya berwaktu tempuh
hingga Aceh kurang beberapa jam saja berkapal menuju
lebih setara dengan jarak Istanbul Darwin (Australia), tetapi mengambil
di Turki hingga London di Inggris, waktu tempuh 2 malam menuju Ambon
atau dari Afganistan hingga Mesir?
Luar biasa panjang untuk sebuah Dari jumlah itu, hanya
negara! Jika di tempat lain wilayah 109 suku yang ada di
sepanjang itu terdiri atas beberapa
wilayah Barat Indonesia
negara, di Indonesia masih dalam satu
negara! Saat ini, dengan penerbangan
yang meliputi Sumatra
antarpulau yang lebih sering dan dan Jawa, dan ada sekitar
mudah, kita dapat membayangkan 547 suku di wilayah
luasnya Indonesia. Ambil contoh, timur yang meliputi
penerbangan Jakarta-Bangkok
Kalimantan, Sulawesi,
mengambil waktu sekitar 3 jam 20
Kepulauan Maluku,
menit, sedang penerbangan Jakarta-
Banda Aceh juga menempuh waktu dan Papua. Papua
yang kurang lebih sama. Kita juga bisa adalah yang terbanyak
membayangkan penerbangan Jakarta- memiliki keragaman
Jayapura yang mengambil waktu sekitar suku. Ada 300-an suku
3
keragaman indonesia

yang mendiami Papua. ini. Bagi masyarakat luar tentu saja


sulit membayangkan ada satu kawasan
Dari jumlah itu kita
yang begitu luas dan terdiri dari banyak
bisa melihat bahwa suku, agama, dan bahasa, tetapi ada
keragaman suku di dalam satu negara. Karenanya tidak
Indonesia bagian timur heran jika kita menyebut Indonesia
jauh lebih banyak sebagai salah satu keajaiban dunia.
daripada Indonesia Inilah Zamrud Keragaman Indonesia.
Di beberapa tempat dan kawasan
bagian barat. Suku atau
lain, misalnya di Eropa, kadang ada
etnis yang mendiami beberapa masyarakat yang memiliki
Indonesia bagian barat kesamaan bahasa dan agama, tetapi
adalah suku-suku mereka terpisah dalam negara yang
besar seperti Jawa dan berbeda. Hal yang sama juga terjadi
di kawasan Timur Tengah. Mereka
Sunda. Sementara yang
memiliki bahasa yang sama, bahasa
mendiami Indonesia Arab, dan memiliki agama yang kurang
bagian timur kecil-kecil. lebih sama, Islam, tetapi terpecah
Dalam satu kecamatan dalam banyak negara, bahkan beberapa
saja bisa ada puluhan negara itu sangat kecil. Beberapa
suku. dekade lalu, Uni Soviet dan Yugoslavia
yang memiliki keragaman bangsa

yang merupakan ibu kota Provinsi


Maluku.
Dalam rentang yang luas itu, kita
juga menjumpai keragaman yang luar
biasa, baik suku, bahasa dan agama.
Menurut catatan etnografi, secara
keseluruhan ada sekitar 656 suku di
seluruh Nusantara. Jumlah bahasa
di Indonesia, menurut penelitian
Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud), ada
lebih dari 500 bahasa. Begitu juga Mohammad Natsir (1908-1993) saat
memberikan sambutan pada acara 70 Tahun
agama dan kepercayaan masyarakat Perjuangan Mohammad Natsir di Masjid
Indonesia. Jumlahnya sangat banyak, Al-Azhar Kebayoran, Jakarta Selatan.

lebih dari yang dikenal dan diakui saat Sumber: Kompas.


4
indonesia zamrud toleransi

dan bahasa akhirnya juga hancur Bagaimana dengan Indonesia?


menjadi beberapa negara merdeka. Apakah keragaman yang dimilikinya
Penjelasannya adalah karena alasan tidak tanpa masalah dan gejolak?
untuk bersatu telah hilang sehingga Sebagai bangsa yang sangat beragam,
mereka terpaksa berpisah. bangsa ini tentu saja pernah dan

I.J. Kasimo (1900-1986), pendiri Partai Soedjatmoko (1922-1989), salah seorang


Katolik yang memberi sumbangan besar cendekiawan Indonesia terkemuka kala
pada pemikiran politik di Indonesia. berbicara di Georgetown University usai
Pemerintah menganugerahinya gelar menerima gelar akademik kehormatan
Pahlawan Nasional pada 2011. dari universitas tersebut.

Sumber: www.sesawi.net. Sumber: http://repository.library.


georgetown.edu.

Moh. Roem (1908-1983), diplomat SK Trimurti (1912-2008), tokoh pers


Indonesia dan salah seorang pemimpin Indonesia yang kerap membuat
delegasi di Perjanjian Roem-Roijen (1949), pamflet anti-penjajahan.
yang membahas batas Indonesia.
Sumber: Istimewa.
Sumber: Istimewa.
5
Keragaman Indonesia

bahkan sering mengalami pergolakan pertalian masyarakat-masyarakat dari


baik dalam skala kecil maupun luas. berbagai penjuru pulau untuk menjadi
Namun, kecintaan pada keragaman Indonesia. Ketika para pendiri bangsa
ini selalu membawa upaya-upaya dari berkumpul pada Kongres Pemuda
pada tokoh-tokoh besar Indonesia II, 28 Oktober 1928, dan menyatakan
untuk bertemu kembali dengan sejarah ke-Indonesiaan, mereka tidak sedang
dan membangun jalan-jalan baru bermimpi.
untuk kehidupan bineka yang kaya. Mereka hendak mengakui pertalian
Keragaman inilah yang memberikan ini. Ragam etnis dan bahasa sudah
warna pada kehidupan Indonesia, berada di kepulauan Nusantara sejak
kehidupan yang kaya raya. Keragaman berabad-abad lalu, dan berkomunikasi
ini membuahkan Zamrud Toleransi. dengan menggunakan bahasa Melayu,
Zamrud Toleransi adalah kisah yang kemudian menjadi Melayu Tinggi,
Indonesia sejati, di mana ada rentang sebutan mula untuk Bahasa Indonesia.
sejarah yang panjang yang menyajikan Etnis Tionghoa, Arab, bersilang

Kondisi Gedung Sumpah Pemuda yang berlokasi di Jl. Kramat Raya 106, Jakarta Pusat.

Sumber: Istimewa.
6
indonesia zamrud toleransi

Patung replika Wage Rudolf Soepratman (1903-1938) tengah memainkan biola membawakan
lagu Indonesia Raya pada Kongres Pemuda II.

Sumber: Istimewa.

kehidupan dengan Banten, Pasai Indonesia menemukan cita-citanya


(Aceh), Cirebon, Jayakarta, Ternate, dari sejarah dan budayanya, dan baru
Banda, Goa (Makassar), Tuban, Lasem kemudian menjadi perjuangan anti-
dalam rentang sejarah yang amat kolonialisme.
panjang. Riwayat pertalian yang indah Kita sangat menyadari bahwa bukan
inilah yang mendasari kesadaran bahwa hal mudah untuk mempertahankan
7
Keragaman Indonesia

konflik dan disintegrasi. Namun, meski


masalah kesatuan bangsa ini tidak
selalu tuntas diselesaikan, sebagian
besar masyarakat Indonesia lebih
memilih untuk tetap setia pada cita-cita
yang lebih besar, menjadi Indonesia
dibanding berpisah sebagai negara-
negara merdeka. Kita semua tentu tidak
tahu sampai kapan kesatuan bangsa ini
akan bertahan. Yang terjadi hingga saat
ini, masyarakat dan bangsa Indonesia
justru semakin menyadari bahwa lebih
baik bersatu dibanding terpisah-pisah.

Dewi Dja dan Rasa


Cintanya pada
Indonesia
Dewi Dja atau Miss Dja adalah
seorang penari ulung Indonesia
yang tinggal dan berkarya di
Amerika Serikat. Sebelumnya, ia
adalah primadona di grup sandiwara
Dardanella. Ia kemudian menetap
dan berkarier di Amerika Serikat
setelah Dardanella melakukan tur
keliling dunia.
Meski menetap dan memiliki
karier yang mapan di negeri Paman
Sam, cintanya pada tanah air
Indonesia tidak luntur sedikit pun.
Ia menemui Sutan Sjahrir yang
memimpin delegasi Indonesia ke
PBB untuk mendapatkan pengakuan
internasional atas Indonesia sebagai
negara yang berdaulat. Pada
kesempatan itu, Sjahrir menyebutnya
Indonesia yang beragam ini tetap ada sebagai duta kebudayaan Indonesia
dalam satu kesatuan. Sebagai bangsa, karena kiprahnya mengenalkan
negeri ini tentu tidak tanpa konflik, kesenian Indonesia di dunia
internasional.
gejolak dan pemberontakan. Kita
Dewi Dja bernama panggung
mengalami itu dan tidak dapat disebut Miss Dja. Lahir pada 1 Agustus 1914
sedikit negeri ini pernah diterpa badai
8
indonesia zamrud toleransi

di Sentul, Yogyakarta, dengan nama menarik perhatian dan menjadi tren


Misria. Karena sering sakit-sakitan, berpakaian baru oleh wanita-wanita
namanya diganti menjadi Soetidjah. di zamannya. Bersama Dewi Dja dan
Nama Dewi didapatnya dari Susuhunan beberapa bintang lainnya, Dardanella
Keraton Surakarta, saat ia tampil di mencapai puncak keemasannya.
Keraton Surakarta. Dardanella kemudian memulai
Dunia kesenian sudah dikenal pertunjukan keliling dunia, bermula di
Dewi Dja sejak kecil. Ia ikut mengamen Singapura pada 1931. Mereka menjadi
bersama kakeknya, seorang pemain kelompok kesenian Indonesia pertama
gendang keliling yang bernama yang melakukan pertunjukan di luar
Sutiran. Atas bantuan seorang negeri. Saat itu, Dewi Dja baru berusia
Arab, Sutiran kemudian membentuk 17 tahun.
kelompok stambul yang bernama Untuk mengatasi kendala bahasa,
Stambul Pak Adi. Dalam stambul inilah saat tampil di luar negeri, Dardanella
bakat Dewi Dja terasah hingga ia dapat mengandalkan tarian dan bahasa tubuh
menguasai berbagai macam tarian dan sehingga bisa dipahami oleh penonton
tembang yang mengiringinya. asing. Nama Dardanella pun berganti
Pada suatu kali, Stambul Pak Adi menjadi The Royal Bali Java Dance.
mengadakan pertunjukan di daerah Dari Singapura, grup ini beranjak
yang sama dengan grup terkenal ke Hong Kong, Tiongkok, dan India. Di
Opera Dardanella, di Rogojampi, India, Dardanella tampil di beberapa
Banyuwangi. Momen inilah yang kota, seperti New Delhi, Bombay,
mempertemukan Dewi Dja dengan Madras, dan Kalkuta. Saat tampil di
Opera Dardanella, sebuah kelompok New Delhi, Dewi Dja memperlihatkan
pertunjukan sandiwara keliling kemampuannya di hadapan dua tokoh
dibawah pimpinan Willy Klimanoff alias besar India, Mahatma Gandhi dan
A. Piedro, seorang Rusia kelahiran Rabindranath Tagore. Di Rangoon,
Penang. pada waktu yang lain (11 Mei 1937), ia
Saat Klimanov menyaksikan mendapatkan pujian dari Jawaharlal
pertunjukan Stambul Pak Adi, ia tertarik Nehru.
dengan bakat dan kepribadian yang Grup ini kemudian mengadakan
dimiliki Soetidjah yang saat itu baru pertunjukan ke berbagai kota lainnya
berumur 14 tahun. Lewat bantuan di dunia, baik di benua Asia, Eropa,
Camat Rogojampi, Klimanov melamar maupun Amerika. Di Prancis, Dewi
Soetidjah. Meskipun keluarganya Dja mendapat pujian dari Maurice
keberatan atas pinangan itu, Soetidjah Chevalier, aktor dan penyanyi Prancis
menerimanya. Mereka menikah secara yang populer saat itu.
Katolik. Meski demikian, sepanjang Saat di Amerika, terjadi perselisihan
hidupnya, ia tetap mengaku sebagai yang membuat Dewi Dja meninggalkan
muslim. Soetidjah kemudian menjadi Dardanella dan memilih untuk menetap
bagian dari Opera Dardanella. Ia di sana. Peristiwa ini justru memberi
mendapat nama panggung Miss Dja. kesempatan luas untuknya untuk aktif
Di Dardanella, Miss Dja menjadi di dunia film Amerika (Hollywood) dan
primadona. Ia mendapat julukan nantinya turut andil dalam perjuangan
Bintang dari Timur (Star from the East). bangsa pasca Indonesia merdeka.
Tak hanya cantik dan pandai berakting, Di Amerika, Dewi Dja melakoni
kostum yang dikenakannya pun berbagai pekerjaan seni. Ia mengajar
9
keragaman indonesia

tari di American Ballet School, lalu


Paramount Picture. Banyak sekolah tari
yang menginginkannya untuk menjadi
pengajar karena kecantikannya dan
nama besarnya. Ia juga menjadi
koreografer di beberapa film.
Kiprahnya juga merambah dunia
televisi ketika ia secara berkala mengisi
acara tarian asal Indonesia di salah
satu stasiun televisi lokal. Ia sempat
pula bermain film sebagai pemeran
pembantu dalam The Moon Sixpence Haji Agus Salim (1884-19534).
yang disutradarai sahabatnya, Albert
Lewin. Sumber: Menjadi Indonesia Buku I: Akar-
Dewi Dja banyak bersahabat dengan akar Kebangsaan Indonesia
para pesohor Hollywood era 1950-an,
seperti Greta Garbo, Carry Cooper, Bob
Hope, Dorothy Lamour, dan Bing Crosby. Kecintaan Dewi Dja pada Indonesia
Teman-temannya inilah yang banyak sangat besar. Bersama The Indonesian
membantu karier Dewi Dja. Association di San Francisco, ia
Tinggal lama di luar Indonesia dan pernah mengadakan pertunjukan
menjadi orang terkenal tidak membuat kesenian Indonesia. Pendapatan dari
Dewi Dja melupakan tanah airnya. pertunjukan itu ia sumbangkan untuk
Meski telah berkewarganegaraan Indonesia.
Amerika, rasa keindonesiaan yang Dewi Dja meninggal di meninggal
dimilikinya tetap kental. Secara aktif, di Los Angeles pada 19 Januari 1989,
ia mengenalkan budaya dan makanan dan dimakamkan di Hollywood Hills.
khas Indonesia pada masyarakat
Amerika.
Dewi Dja pernah menemui
Sutan Sjahrir yang memimpin
delegasi Indonesia ke PBB Tentu saja, dari pengalaman-
untuk memperoleh pengakuan pengalaman masa lalu, kita belajar
internasional atas Indonesia yang baru untuk memperbaiki agar kesatuan itu
memproklamasikan kemerdekaannya.
tetap bisa dipertahankan.
Dia juga duduk sejajar dengan
Sjahrir dan H. Agus Salim saat Melalui lintasan “Zamrud
mereka berdialog dengan kaum Toleransi” dalam buku ini kita
terpelajar Amerika. Perasaan telah melihat pengalaman-pengalaman
memiliki negara yang merdeka dan
ikut ambil bagian dalam perjuangan
kemasyarakatan dan juga kenegaraan
mendapatkan pengakuan atas di Indonesia. Dari pengalaman
kedaulatan Indonesia membuatnya itu kita menjumpai keragaman,
terharu. Di dalam hati, ia merasa menyaksikan perselisihan dan
bangga karena tokoh-tokoh Indonesia
kala itu mengenal dan mengakui melihat bagaimana masyarakat dan
dirinya. juga negara menyelesaikan masalah-
masalah itu. Meski tidak semua
10
indonesia zamrud toleransi

masalah terselesaikan secara tuntas, kolektif semacam itu barangkali yang


tetapi komitmen untuk membangun membuat Indonesia masih ada dan
kehidupan bersama dalam damai dan berdiri hingga hari ini. Meski bukan
saling toleran justru semakin kuat. sesuatu yang unik, tidaklah salah jika
Kita menyaksikan hal itu di Maluku, pengalaman-pengalaman ini kita bagi.
Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Buku ini menjadi bagian dari tiga
Bali dan tempat-tempat lain. Komitmen upaya penting berkaitan dengan
usaha membangun kehidupan
dalam keberagaman: (1) literasi,
yaitu merekam pengalaman nyata
masyarakat di beberapa wilayah
Indonesia dalam membangun
kerukunan antaretnis dan agama; (2)
membangun kemampuan bergenerasi
dari masyarakat Indonesia untuk
tetap mampu menerima, mengolah,
dan mentrasformasi keberbedaan
itu menjadi keindonesiaan; (3)
membangun jalan-jalan yang
memungkinkan semakin banyak
keragaman itu memberikan sumbangan
pada Indonesia.

Makna Toleransi
Kata “toleransi” berasal dari bahasa
Inggris “toleration”. Akar kata itu
diambil dari bahasa Latin “toleratio”.
Arti paling klasik (abad ke-16) kata
“toleration” adalah “izin yang diberikan
oleh otoritas atau lisensi.” Sementara
di abad ke-17 (1689), kata itu memiliki
nuansa hubungan antaragama karena
ada undang-undang/kesepakatan
toleransi (the Act of Toleration). Dalam
kesepakatan itu ditegaskan jaminan
kebebasan beragama dan beribadah
Rumah Tradisonal Batak (Ruma Gorga) di kepada kelompok Protestan di Inggris.
Toba, Samosir, Sumatra Utara.
Pada masa itu kerap terjadi pelarangan
Sumber: KHOMAINI. dan pembatasan berkeyakinan yang
11
keragaman indonesia

merupakan akibat dari konflik antara praktik penerimaan pasif terhadap


Katolik dan Protestan di Eropa. Melalui perbedaan demi lahirnya perdamaian.
kesepakatan itu, pemerintah atau Sebagaimana diketahui, di masa itu
penguasa diminta untuk mengakui hak telah terjadi perang antara Katolik
dan kebebasan beragama bagi siapa dan Protestan yang berlangsung lama
pun. sehingga pihak-pihak yang bertikai
Dalam perkembangannya, kata akhirnya merasa lelah dan mengajukan
dan praktik toleransi mengalami damai dengan menerima keberadaan
pendalaman. Toleransi bukan hanya masing-masing. Dalam pandangannya,
sekadar menerima perbedaan. Michael pengertian ini belum cukup untuk
Walzer menunjukkan beberapa tingkat memaknai toleransi yang lebih aktif.
makna dan praktik toleransi dalam Walzer kemudian menunjukkan
sejarah (Walzer, 1997). Menurutnya model berikut di tingkat kedua.
ada beberapa makna dan juga gradasi Ia menyebut tingkat kedua ini
praktik toleransi. Pada tingkat sebagai ketidakpedulian yang lunak
pertama, praktik toleransi yang pada perbedaan. Pada tingkat ini,
berlangsung di Eropa sejak abad ke- keberadaan orang lain (the others)
16 dan ke-17 sebenarnya baru sekadar sebenarnya sudah diakui. Hanya saja

Lukisan yang menggambarkan keragaman dan harmoni antarwarga masyarakat Kampung


Sawah menghiasi dinding gereja Katolik Santo Servatius Kampung Sawah, Jatimelati, Bekasi.

Sumber: KHOMAINI.
12
indonesia zamrud toleransi

kehadirannya tidak memiliki makna kita tidak hanya mengakui adanya


apa-apa. Barangkali pengertian ini perbedaan tetapi juga bersikap terbuka
masih pada tingkat yang minimal pada yang lain. Di level ketiga, kita
dalam relasi antar-yang berbeda. Kita memang sudah mengakui adanya
mengetahui bahwa kita punya tetangga perbedaan bahkan pada hal yang sangat
yang berbeda, tetapi kita tidak terlalu prinsip, tetapi setiap pihak masih
peduli pada perbedaan itu. Bahkan belum membangun sikap saling terbuka
kita cenderung tidak mau tahu pada dan belum ada upaya saling mengerti
perbedaan itu. Hal itu bisa saja karena (mutual understanding). Pada tahap
kekhawatiran akan membuat mereka keempat ini, keterbukaan dan upaya
berselisih paham misalnya. Dalam membangun saling pengertian terjadi.
konteks toleransi pada perbedaan, Tentu saja jika sebuah masyarakat
kondisi seperti ini tentu masih belum mampu mencapai level ini, mereka
ideal untuk menyebutnya sebagai sikap sudah mencapai level yang sangat baik.
saling toleran. Nah, sebenarnya masih ada level yang
Baru pada tingkat ketiga kita tertinggi atau tingkat kelima. Pada
melihat adanya pengakuan (recognition) tingkat yang dianggap sebagai capaian
terhadap yang berbeda. Pada tertinggi dalam praktik toleransi, kita
tahap ini kita mengakui orang lain tidak hanya mengakui dan terbuka,
memiliki hak-hak dasar yang tidak tetapi juga mendukung, merawat, dan
bisa dilangkahi meski kita tidak merayakan perbedaan itu.
menyetujui isi pandangan pihak lain Dalam konteks penulisan buku
itu. Toleransi pada tingkat ini tentu ini, kami ingin menyajikan toleransi
saja sudah beranjak lebih jauh di mana sebagai proses inklusi sosial dalam
perbedaan tidak harus disikapi secara masyarakat Indonesia yang sangat
negatif. Secara praktis, jika sebuah beragam. Proses inklusi itu bisa saja ada
masyarakat mampu mencapai level ini, dalam gradasi toleransi yang berbeda-
sebenarnya mereka sudah mencapai beda. Apa yang disajikan tentu bukan
tingkat hubungan toleransi yang model ideal sebuah masyarakat toleran.
baik atau cukup dalam membangun Namun satu hal yang perlu dicatat,
kehidupan bersama dalam damai meski belum ideal dan masih memiliki
(peaceful coexistence). Mereka saling banyak catatan (kekurangan)—konflik
mengakui adanya perbedaan dan tidak antaretnis dan tindakan kekerasan
mempersoalkan perbedaan itu meski mengatasnamakan agama masih terjadi
mereka tidak saling bersepakat. di beberapa wilayah Indonesia—capaian
Kita sebenarnya masih bisa proses inklusi yang telah berlangsung
mengangkat kondisi ini ke level yang mampu menyelamatkan keragaman
lebih tinggi, ke tingkat yang keempat. Indonesia dalam satu komitmen
Pada level yang lebih tinggi ini, kesatuan yang luar biasa. Kita berusaha
13
keragaman indonesia

untuk belajar memaknai hidup bersama sosial. Jika sistem nasional terlalu
dengan tetap dalam keragaman. kuat atau dominan maka nilai-nilai
yang dianut masyarakat suku akan
Konflik dalam Keragaman tertekan dan melemah. Kondisi ini
Sejatinya, konflik dalam kehidupan bisa memunculkan ekspresi-ekspresi
masyarakat adalah sesuatu yang kekecewaan dalam satire atau lelucon.
bersifat endemik. Tidak ada masyarakat Ekspresi itu merupakan bentuk
yang tidak pernah mengalami konflik. dari pemberontakan terselubung
Karenanya, konflik selalu ada dalam atas dominasi kekuasaan nasional.
setiap masyarakat, apalagi dalam Jika tidak direspons dengan tepat,
masyarakat Indonesia yang sangat kekesalan itu bisa meledak secara
beragam. Kesenjangan budaya dan terbuka sebagaimana yang bisa dilihat
perbedaan keyakinan sangat potensial dalam kasus konflik komunal tahun
untuk melahirkan konflik. Namun, 1996 hingga 2000 di Kalimantan Barat
konflik tidak hanya lahir karena (Suparlan 2005).
perbedaan budaya dan keyakinan. Ada Dalam konteks kebijakan
faktor lain yang juga penting untuk pengelolaan keragaman di Indonesia,
dilihat, yakni ketimpangan sosial dan Suparlan berpendapat, alih-alih
akses atau partisipasi pada kekuasaan. menekankan keragaman suku bangsa,
Dalam beragam konflik yang pernah ia lebih memberikan perhatian pada
terjadi di Indonesia, faktor-faktor itu keragaman kebudayaan. Dalam
bisa ditelusuri, meski barangkali tidak hal ini ia membedakan antara cara
sesederhana yang dibayangkan. pandang keragaman suku bangsa
Pada faktor yang pertama, soal dan keragaman kebudayaan. Yang
kesenjangan budaya dan perbedaan harus kita ambil sebagai perspektif
keyakinan, atau yang kerap disebut adalah masyarakat berkeragaman
masalah kultural, kita sangat menyadari kebudayaan (multicultural society)
bahwa komunitas bangsa ini sangat atau paham multikulturalisme,
beragam. Karenanya perlu ada bukan masyarakat majemuk (plural
kearifan dalam mengelola keragaman society). Yang ia pahami sebagai
itu. Supardi Suparlan memiliki multikulturalisme adalah ideologi
catatan dalam menyikapi keragaman yang mengagungkan perbedaan
masyarakat Indonesia. Menurutnya, budaya atau sebuah keyakinan
dalam masyarakat majemuk seperti yang mengakui dan mendorong
Indonesia, kita perlu memperhatikan terwujudnya pluralisme budaya
keseimbangan hubungan kekuatan sebagai corak hidup masyarakat.
antara masyarakat suku bangsa dan Multikulturalisme mengagungkan dan
sistem nasional. Keseimbangan itu melindungi keanekaragaman budaya,
menjadi prasyarat bagi stabilitas termasuk kebudayaan kelompok
14
indonesia zamrud toleransi

minoritas. Dalam multikulturalisme pandangan yang mengatakan bahwa


semua kebudayaan ada pada posisi konflik di luar Jawa adalah akibat dari
yang sederajat. Tidak hanya itu, migrasi yang masif tidaklah terlalu tepat.
dalam multikulturalisme juga terjadi Jika dilihat lebih detail, jumlah para
pengayaan budaya dengan mengadopsi pendatang di beberapa daerah konflik
unsur-unsur budaya lain yang sebenarnya tidak terlalu besar. Misalnya
dianggap cocok dan berguna tanpa ada orang Madura di Kalimantan jumlahnya
hambatan. tidak lebih dari 3 persen. Padahal di
Selain masalah budaya, kita juga tempat lain, jumlah pendatangnya bisa
harus melihat ketimpangan sosial lebih besar. Begitu juga pandangan
yang tajam sebagai sumber konflik. yang menilai bahwa konflik itu terjadi
Masalah pengangguran karena tidak karena adanya kejengkelan dan sakit
adanya pekerjaan menjadi perhatian hati sehingga muncul mobilisasi untuk
van Klinken ketika menganalisis konflik- menyerang kelompok lain. Bagi van
konflik di luar wilayah Jawa. Menurutnya Klinken, sulit membayangkan bahwa

Rumah Budaya di Kampung Budaya Sindangbarang, Bogor, Jawa Barat.

Sumber: KHOMAINI.
15
keragaman indonesia

orang bisa dimobilisasi sedemikian lama masyarakat. Di masa Orde Baru,


sebagaimana yang terjadi dalam konflik lewat kebijakan pembangunannya,
di luar Jawa, hanya karena kejengkelan pemerintah kerap menempatkan
atau sakit hati semata (van Klinken 2007). kelompok etnis lokal, seperti yang
Dalam pandangannya, untuk dialami oleh suku Dayak di Kalimantan
kasus daerah luar Jawa sebenarnya sebagai terbelakang dan primitif.
ada penjelasan yang barangkali lebih Kebijakan tersebut membuat kelompok
masuk akal. Alternatif penjelasan itu yang dinilai primitif itu semakin
ada pada akses pekerjaan masyarakat tersingkirkan. Mereka bukan hanya
yang mengalami deagrarianisasi. tidak bisa mengakses kekuasaan, tetapi
Deagrarianisasi adalah beralihnya ruang hidupnya juga hilang. Kondisi
masyarakat dari kerja sektor pertanian itu tentu saja melahirkan kemarahan
dan juga nelayan ke kerja non- kolektif. Namun pada saat yang sama
pertanian. Sejak masa Orde Baru, mereka menyadari bahwa mereka
Indonesia mengalami deagrarianisasi tidak akan mampu melawan kekuasaan
besar-besaran, dari 36 persen pada negara yang dijaga oleh militer pada
tahun 1971 menjadi 55 persen pada saat itu. Maka ekspresi kemarahannya
1998. Pertanyaan penting dalam diarahkan kepada kelompok “paling
masalah ini, setelah mereka pergi dari lemah” yang kadang juga disokong oleh
sektor kerja pertanian atau nelayan, negara. Barangkali itulah beberapa
ke mana mereka kemudian bekerja? penjelasan tentang faktor-faktor konflik
Di Jawa, hal itu terjawab karena kerja dalam masyarakat Indonesia yang sangat
industri mampu menyelamatkan beragam. Faktor-faktornya juga sangat
mereka. Namun di luar Jawa, hal itu beragam dan kompleks sehingga tidak
menjadi masalah yang sangat serius. bisa digeneralisasi untuk semua kasus.
Kelompok masyarakat yang mengalami Semua faktor itu seharusnya
deagrarianisasi menggantungkan disadari dan dipahami sebagai
hidupnya pada para broker yang peringatan agar kita tidak lagi
memperoleh proyek-proyek pemerintah terjerembab dalam konflik besar di
lewat birokrasi. Ketergantungan ini masa depan. Memang dalam kondisi
menjadi kondisi yang memungkinkan yang sangat kompleks seperti di
(condition of possibility) bagi konflik Indonesia, tidak ada jaminan bahwa
komunal dalam jangka panjang ketika konflik akan hilang total. Suparlan
para broker itu menjadi aktor-aktor pernah berpendapat, dalam hubungan
utama dalam konflik itu. antar-kelompok dan budaya yang
Faktor lain yang juga perlu dilihat beragam, tidak ada obat mujarab yang
sebagai sumber konflik adalah proses menjamin masyarakat akan imun dari
peminggiran yang masif yang dilakukan konflik. Konflik antar-suku misalnya
oleh negara terhadap satu kelompok adalah produk dari hubungan antar-
16
indonesia zamrud toleransi

suku itu sendiri dengan sebab-sebab Ada beberapa budaya lokal yang
yang ada dalam konteks lokal mereka. memiliki fungsi merekatkan masyarakat
Karenanya, solusi yang ditawarkan yang memiliki potensi konflik. Misalnya
tidak bisa sama untuk semua konflik. adalah tradisi pela gandong di Maluku.
Baginya, cara terbaik menyelesaikan Dengan tradisi pela gandong, dua negeri
konflik jelas bukan dengan kekerasan, (desa) yang berbeda agama, Islam
misalnya dengan menggunakan (Salam) dan Kristen (Sarane, dari kata
tentara. Potensi konflik selalu ada dan Nasrani), diikat dalam tali persaudaraan.
akan tetap hidup seperti api dalam Tradisi pela gandong sebenarnya tradisi
sekam yang bisa meledak setiap saat. yang sudah ada sejak lama, dan tradisi
Dalam jangka panjang, konflik bisa itu yang membuat sebagian masyarakat
diredam dengan memahami penyebab- Maluku, meski berbeda agama namun
penyebabnya. Setelah itu, kita perlu sudah seperti saudara kandung.
memikirkan strategi negosiasi agar Karenanya, bagi sebagian besar
masyarakat yang bermusuhan dapat kalangan, konflik antara umat Islam
hidup berdampingan secara damai. dan Kristen pada 1999 adalah kejadian
yang sangat mengagetkan. Ke mana
Kearifan Lokal tradisi pela gandong yang mengikat
Dalam masyarakat Indonesia yang kedua umat tersebut? Tentu saja
sangat beragam, konflik merupakan penjelasannya cukup rumit dari hanya
peristiwa yang kadang sulit dihindari. sekadar lunturnya budaya pela gandong.
Karena kesadaran itu, maka kita perlu Ada masalah distribusi politik yang tidak
memahami potensi-potensi dan faktor- adil dan kecemburuan sosial akibat tata
faktor yang bisa menciptakan konflik kelola yang buruk.
dalam masyarakat yang sangat beragam Namun setelah konflik itu, selain
ini. Selain itu, di internal setiap memperbaiki tata kelola keragaman
masyarakat kadang juga terkandung dan distribusi kekuasaan agar lebih
kearifan lokal, yang pada level tertentu fair, sebagian masyarakat, baik
bisa meredam kemungkinan konflik muslim maupun Kristen kembali
melebar dan meluas. Tentu saja, aktif menghidupkan budaya pela
kearifan lokal bukan obat mujarab, gandong. Melalui tradisi pela
namun paling tidak ia bisa mengurangi gandong, masyarakat yang memiliki
potensi konflik dalam masyarakat. ikatan persaudaraan itu akan merasa
Dalam kasus-kasus konflik yang pernah berkewajiban untuk saling membantu.
terjadi, seperti di Maluku, Poso, Jika pihak muslim sedang mempunyai
dan Kalimantan, kearifan lokal bisa hajat, misalnya membangun masjid,
membantu mempercepat pemulihan maka saudara-saudaranya yang Kristen
ketegangan dan kecurigaan yang masih dipastikan akan membantu. Begitu juga
berlangsung pascakonflik. sebaliknya, ketika umat Kristen sedang
17
keragaman indonesia

membangun gereja, yang muslim wajib Dalam masyarakat Soe, bila ada konflik
membantu. Budaya semacam ini tentu atau pertikaian maka pihak-pihak
saja bukan jaminan bahwa mereka akan yang bertikai kemudian dipertemukan
terhindar dari perselisihan. Namun untuk berdamai. Oleh para pemimpin
paling tidak, budaya ini bisa menjadi adat, mereka diminta untuk berjanji
alat peringatan dini sehingga konflik dan bersumpah agar tidak ada lagi
tidak meluas. permusuhan di antara mereka. Yang
Di masyarakat Nusantara yang ada hanyalah perdamaian. Sumpah
lain juga ada budaya yang memiliki dan janji itu dilakukan dengan saling
fungsi untuk meredam perselisihan. memasukkan kedua tangan pihak yang
Di Kabupaten Soe, Nusa Tenggara saling bertikai ke dalam okomama itu.
Timur (NTT) misalnya, terdapat tradisi Usai itu mereka saling berangkulan dan
“Okomama”. Okomama sebenarnya saling mengunyah sirih dan pinang dari
adalah sebuah kotak dengan aneka dalam okomama.
ukuran yang di luarnya dibalut dan Tradisi Okomama adalah simbol
dilapisi kain tenunan adat. Di dalamnya yang menandai adanya ikatan tali
terdapat sirih, pinang, dan kapur. persaudaraan dan persahabatan.

Tradisi Okomama di Kabupaten Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi simbol yang menandai
adanya ikatan tali persaudaraan dan persahabatan. Tradisi ini dilangsungkan untuk meredam
perselisihan yang berlangsung di antara warga.

Sumber: Istimewa.
18
indonesia zamrud toleransi

Sebagian besar orang Nusa Tenggara merupakan ungkapan penyesalan


Timur, muda atau tua, laki-laki atau dan permohonan maaf kepada
perempuan biasanya mengunyah sirih- keluarga korban. Sejauh ini, jika
pinang karena sudah menjadi tradisi sudah dibawakan Punjung Mentah,
nenek moyang mereka. Bagi orang keluarga korban akan merasa puas dan
luar NTT, jika ingin diterima sebagai dihormati sehingga biasanya langsung
saudara atau sahabat, mereka harus menerima ungkapan maaf itu dengan
menerima ketika ditawari sirih-pinang lapang dada tanpa rasa dendam. Usai
Okomama. Jika si pendatang tidak pemberian Punjung Mentah, kemudian
terbiasa mengunyah sirih, maka ia dilanjutkan dengan tradisi Tepung
cukup memasukkan tangannya ke dalam Tawar. Dalam tradisi ini, pemuda
(wadah) okomama itu. Usai itu maka sang atau orang yang saling bertikai itu
tamu atau pendatang itu dengan mudah kemudian saling mengoleskan tepung
diterima dengan hangat sebagai sahabat. tawar di badannya. Sesudah itu, maka
Dalam menyelesaikan perselisihan, kedua pemuda yang bertikai dianggap
masyarakat Musi Rawas, Sumatra menjadi bagian dari saudaranya sendiri.
Selatan juga memiliki tradisi yang Hal yang ditekankan dalam tradisi
disebut Tepung Tawar. Tradisi ini ini sebenarnya adalah upaya untuk
memiliki fungsi untuk menetralisasi menempatkan posisi setiap orang atau
konflik tersebut. Sejauh ini, tradisi pihak pada posisi yang bermartabat dan
tepung tawar dinilai cukup efektif layak dihormati.
bukan hanya untuk mengakhiri konflik Tradisi-tradisi di atas merupakan
tetapi juga mampu menumbuhkan rasa cara masyarakat Nusantara untuk
persaudaraan antar-kelompok yang membangun harmoni, persaudaraan,
sebelumnya bertikai. Biasanya, jika kerja sama, dan nilai positif lainnya.
terjadi konflik atau perselisihan, tokoh Masih banyak tradisi lokal lainnya yang
adat setempat berinisiatif menemui memiliki fungsi serupa. Barangkali,
keluarga yang bertikai untuk melihat tradisi-tradisi itu lahir karena kita
asal usul dan penyebab pertikaian. sangat menyadari bahwa setiap saat
Setelah itu, tokoh adat dari pihak yang bisa terjadi konflik dalam masyarakat
dinilai bersalah mendatangi pihak yang sangat beragam ini. Tidak semua
keluarga yang menjadi lawan bertikai konflik harus diselesaikan secara
sambil membawa “Punjung Mentah”. hukum. Melalui tradisi-tradisi itu,
Di dalam Punjung Mentah itu terdapat konflik dan perselisihan diselesaikan
kopi, gula, 2 kilogram beras, 1 ekor secara kekeluargaan dengan
ayam, dan satu bungkus rokok. menjaga martabat dan kehormatan
Dari segi nilai, isi barang bawaan masing-masing pihak. Bahkan jika
itu tentu saja tidak seberapa, tetapi dimungkinkan, tradisi itu justru
dalam tradisi itu Punjung Mentah itu diharapkan mampu membangun
19
keragaman indonesia

tali persaudaraan antarmereka yang Masuk dalam pertimbangan


bertikai. Karenanya, ada ungkapan tim penulis adalah pengalaman-
yang cukup terkenal dalam masyarakat pengalaman yang sudah masuk dalam
Nusantara, “Tak Kenal maka Tak katalog penghargaan publik. Hal ini
Sayang”. Inilah salah satu kekhasan termasuk Penghargaan Yam Tiam Hien,
masyarakat Nusantara dalam menyikapi Penghargaan Kompas, Penghargaan
perbedaan. Birgit Bräuchler pernah Maarif, untuk menyebut beberapa. Tim
menegaskan sikap ini pada cara orang penulis menghargai penghargaan ini
Maluku menyelesaikan konflik. Katanya sebagai bagian penting dalam menyemai
“Reconciliation came rather naturally Indonesia yang toleran dan kaya.
(secara alami), when we became aware Dalam proses penulisan, tim penulis
of the disastrous effects of the conflict and mencermati survei dan laporan yang
the need to restrengthen our culture, our ada mengenai situasi (in)toleransi di
adat, and our identity (budaya, adat, Indonesia, dengan intensitas yang
dan jati diri) (Bräuchler 2015: 1).” berbeda. Termasuk dalam penghargaan
tim penulis adalah laporan dari
Tentang Buku Ini PPIM Universitas Islam Negeri Syarif
Buku ini disusun dengan Hidayatullah, Solidaritas Perempuan, The
menggunakan banyak pendekatan Wahid Institute, dan Setara Institute.
secara sekaligus. Namun, pada dasarnya, Dengan tetap menimbang
buku ini adalah upaya untuk belajar pencermatan, tim penulis membingkai
dari pengalaman nyata masyarakat penulisan ini sebagai sebuah interaksi
Nusantara dalam membangun nilai dengan pengalaman. Penulisan ini tidak
toleransi. Kisah-kisah dalam buku ini dimaksudkan sebagai studi ilmu sosial
adalah nyata. Kisah-kisah ini mewakili atau, misalnya, studi pemerintahan.
upaya “nyaris super” (beyond human) Pembaca, penggiat masyarakat,
yang pernah diperjuangkan manusia- atau khalayak yang lebih luas dapat
manusia Indonesia. Dalam situasi yang melakukan pencermatan terhadap
sulit dan dengan tanggapan masyarakat kisah-kisah yang ada, dan dapat
yang tidak langsung muncul, upaya itu membangun upaya-upaya di berbagai
diperjuangkan. tingkat dan intensitas masyarakat.
Kami dari tim penulis juga turut Bisa saja ada bagian dari sidang
mempunyai pengalaman tersebut, pembaca yang tidak setuju, namun
satu dan lain hal. Meski pengalaman pengalaman dari kisah-kisah itu adalah
itu tidaklah seintensif yang ada dalam nyata dan asli. Dalam hal ini, yang
kisah ini. Namun, amat jelas bahwa mengalamilah yang mempunyai tempat
pengalaman ini juga memberikan untuk mengisahkannya. Interaksi antar-
tuntunan bagaimana membangun pengalamanlah yang diharapkan dapat
Indonesia yang toleran. terjadi.
20
indonesia zamrud toleransi

Kelenteng Sam Poo Kong di Simongan


didirikan untuk mengenang pendaratan
Laksamana Cheng Ho di Semarang. Selain
menjadi tempat sembahyang, kelenteng
ini juga menarik minat wisatawan yang
penasaran dengan sosok sang Laksamana.

Sumber: KHOMAINI.
21
22
indonesia zamrud toleransi

AKAR
TOLERANSI
Indonesia

S
ejarah Nusantara adalah inheren dalam masyarakat Nusantara.
sejarah pertautan dari Kondisi ini menjadi lahan subur
beragam peradaban besar, bagi pertumbuhan tradisi toleransi
mulai dari Hindu, Buddha, keragaman di Indonesia. Dari sejarah
Islam, dan kebudayaan Nusantara, kita bisa melihat bahwa
Barat. Yang terjadi dalam pertautan masyarakat Nusantara sangat terbuka
itu bukan hanya sekadar masuknya terhadap semua kebudayaan yang
budaya-budaya besar ke Nusantara, berasal dari luar. Dengan daya
melainkan sebuah dialog yang aktif dan kreativitasnya, kebudayaan-kebudayaan
konstruktif. Dialog itu menghasilkan itu kemudian “dikunyah” sehingga
sesuatu yang baru yang khas Nusantara. menghasilkan bentuk budaya baru yang
Dengan demikian, masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.
Nusantara sebenarnya tidak melakukan Apa yang ditunjukkan dalam bab
replikasi atas apa yang datang dari ini adalah sebuah “the condition of
luar, mereka justru juga menciptakan possibility” dari tradisi toleransi di
kebudayaan baru. Indonesia. Kondisi yang memungkinkan
Karena Nusantara menjadi tempat pertumbuhan toleransi di Indonesia
pertautan dari beragam peradaban ini dapat kita telusuri jejaknya
dan kebudayaan, maka pengalaman dari interaksi Nusantara dengan
keragaman merupakan sesuatu yang kebudayaan-kebudayaan besar.
23
akar toleransi indonesia

Interaksi dan dialog itu kemudian Kepulauan Indonesia terbentuk dari


menghasilkan sesuatu yang baru yang pegunungan yang membujur dari
dianggap lebih cocok dengan karakter barat ke timur, membuatnya menjadi
Nusantara. salah satu wilayah paling vulkanik
Kenyataan ini sangat disadari di dunia. Indonesia memiliki luas
oleh para pendiri bangsa ketika daratan 1.910.000 km2 dan luas lautan
mereka merumuskan prinsip hidup 6.279.000 km2, dilewati khatulistiwa,
bersama untuk Indonesia merdeka di terletak di persilangan antara Samudra
pertengahan abad XX. Mereka berhasil Hindia dan Samudra Pasifik.
menangkap jiwa dari Nusantara, Penduduk Indonesia kini berjumlah
yakni semangat gotong royong, sekitar 255 juta orang. Mereka terdiri
sebuah semangat yang mencoba atas beragam suku, di antaranya Jawa,
merangkul semua untuk tujuan dan Sunda, Melayu, Batak, Madura, Betawi,
kebaikan bersama. Rumusan itu Minangkabau, Bugis, Banjar, Bali, Aceh,
mereka tuangkan dalam lima prinsip Dayak, Sasak, dan sebagainya. Lebih
hidup bersama yang dikenal sebagai daripada 700 bahasa daerah memiliki
Pancasila. Kini kita menyadari betul penutur dalam jumlah signifikan, dan
bahwa Pancasila menjadi perekat hidup terdapat satu bahasa nasional, yaitu
bersama. Setiap kali ada gangguan Bahasa Indonesia, yang berakar dari
dalam kehidupan kolektif, kita selalu Bahaya Melayu. Di antara para pemeluk
diingatkan oleh pesan yang ada dalam agama, tercatat 87,2% Muslim, 7%
Pancasila. Kristen, 2,9% Katolik, 1,7% Hindu, 0,9%
Buddha dan Konghucu, sementara
A. Pembentukan Peradaban 0,4% lainnya menganut kepercayaan
Mari kita ambil contoh Kepulauan berbeda.
Aru di Provinsi Maluku. Satu kepulauan Nama Indonesia, yang berarti
ini saja ada sekitar 300-an pulau besar pulau-pulau India, dipopulerkan oleh
dan kecil. Atau Kepulauan Anambas seorang etnolog Jerman Adolf Bastian
yang mempunyai jumlah pulau sekitar dan telah digunakan sejak 1884 untuk
238 pulau-pulau kecil, dan berbatasan menyebut semua pulau antara Australia
langsung dengan Vietnam, Malaysia, dan Asia. Sempat populer dengan
dan Singapura. Inilah yang memberikan studi-studi Cornelis van Vollenhoven,
penjelasan mengenai Indonesia Indonesia semakin dirujuk menjadi
sebagai negara kepulauan terbesar di subjek pengetahuan tersendiri. Di
dunia dengan jumlah total mencapai tahun 1930, “Indonesia” dipakai
13.466 pulau. Terdiri atas 5 kepulauan sebagai subjek cita-cita kebangsaan
besar, yaitu Kalimantan, Sumatra, dalam pembelaan Sukarno, dengan
Papua, Sulawesi, dan Jawa, juga 30 judul “Indonesia Menggugat”. Nama
kelompok kepulauan kecil lainnya. inilah yang kemudian dipilih oleh para
24
indonesia zamrud toleransi

pejuang kemerdekaan untuk menyebut suatu budaya baru. Merujuk kitab


suatu bangsa baru yang hendak mereka Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular
bentuk dan kemudian diproklamasikan dari masa Majapahit pada abad XIV,
bersama oleh Sukarno-Hatta pada 17 Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda
Agustus 1945. Pahlawan nasional E.F.E. tetapi satu jua) dijadikan semboyan
Douwes Dekker sempat menghidupkan dalam lambang negara Garuda
kembali istilah Nusantara dari masa Pancasila.
Majapahit, yang diberi makna baru Tak hanya majemuk secara kultural,
sebagai “kepulauan di antara dua benua Indonesia adalah negara hibrida yang
dan dua samudra,” sebagai nama bagi terbentuk sebagai suatu persilangan atau
negeri kepulauan ini. kombinasi di antara beragam budaya
Sejak awal, Indonesia selalu berlainan. Indonesia adalah suatu
beragam dan terbuka terhadap melting pot, tempat berbagai suku dan
pengaruh yang datang dari luar. ras membangun suatu kohesivitas dari
Keberagaman ini melahirkan suatu bayangan bersama tentang kesatuan
Indonesia yang kaya, dan sifat di antara mereka. Inilah juga suatu
keterbukaannya terus membentuk tempat berlangsungnya suatu dialog
ulang Indonesia menjadi lebih antar-peradaban yang berbeda. Mereka
kaya. Asimilasi tersebut sekaligus saling memberi pengaruh dalam jangka
menunjukkan adanya energi kreatif panjang tanpa menimbulkan suatu
yang dimiliki bangsa ini. Indonesia guncangan radikal. Tak pelak, Indonesia
bukan sekadar penerima budaya lain, masa lalu menyediakan warisan
melainkan pencipta yang menghasilkan pengalaman toleransi yang luar biasa
bagi kehidupan kontemporer untuk
dapat berdamai dengan perbedaan dan
untuk memperkaya peradaban lewat
proses memberi dan menerima satu
sama lain.

Stimulus Peradaban Hindu


Kerajaan bernuansa Hindu
pertama di Nusantara adalah Kutai
di Kalimantan Timur, yang didirikan
Tiga pendiri Indische Partij: Soewardi Kudungga sekitar abad IV. Bukti
Soerjadiningrat (1889-1959), E.F.E. keberadaan Kerajaan Kutai antara lain
Douwes Dekker (1879-1952), dan dr Tjipto
Mangoenkusumo (1889-1953). suatu tugu tempat persembahan yang
bertuliskan huruf Pallawa berbahasa
Sumber: Parakitri T. Simbolon, Menjadi
Indonesia Buku I: Akar-akar Kebangsaan
Sanskerta. Açwawarman, nama ini
Indonesia (Jakarta: Kompas, 1995), h. ab. berakar Sanskerta, adalah raja kedua
25
akar toleransi indonesia

dengan India tidak berlangsung satu


arah.
Dalam pengaruh tradisi Hindu,
kita juga mengenal Kerajaan Mataram
Kuno yang didirikan pada abad VIII
di Jawa Tengah. Raja pertamanya
adalah Sanjaya, yang setelah meninggal
digantikan oleh Rakai Panangkaran
yang kemudian menjadi penganut
Buddha. Raja Sanjaya meninggalkan
antara lain Prasasti Canggal bertarikh
732, ditulis dengan huruf Pallawa dan
berbahasa Sanskerta, menceritakan asal
usul kepemimpinannya.
Selain itu, kita dapat menyebut
Majapahit sebagai kerajaan Hindu
terakhir di Nusantara. Terletak di
Jawa Timur, Majapahit didirikan oleh
Prasasti Yupa merupakan salah satu bukti
sejarah Kerajaan Kutai yang paling tua. Raden Wijaya pada 1293, setelah dia
menggulingkan Raja Kediri Jayakatwang
Sumber: www.satujam.com/kerajaan-kutai/.
dan mengusir pasukan Mongol utusan
Kublai Khan. Mencapai puncaknya
yang sekaligus disebut pendiri wangsa. di era Hayam Wuruk. Dalam kakawin
Menilik gejala-gejala tersebut, Vlekke Nagarakretagama, dikisahkan
(2016: 19) berkesimpulan bahwa terjadi wilayah Majapahit terbentang dari
asimilasi gradual budaya Hindu dan Jawa, Kalimantan, Sumatra, hingga
praktik-praktik kuno dari suatu kerajaan Semenanjung Malaya. Pengaruh Hindu
yang telah ada sebelumnya. tampak antara lain pada pembangunan
Berpusat di Jawa Barat, pada abad candi-candi sebagai bangunan suci
V berdiri Kerajaan Tarumanagara. maupun ritual-ritual yang berpadu
Rajanya yang terkemuka bernama dengan keyakinan lokal.
Purnawarman, seorang penganut Meluasnya pengaruh Hindu tidak
Hindu. Kebesaran Purnawarman, yang lepas dari kemungkinan bahwa
dianggap perwujudan Dewa Wisnu, Hinduisme dijadikan sebagai landasan
digambarkan dalam Prasasti Ciaruteun legitimasi kekuasaan raja, antara lain
yang antara lain menceritakan inisiatif lewat kehadiran para Brahmana.
raja dalam pembangunan kanal. Kalangan elite pun menyerap
Kemajuan peradaban semacam itu pengaruh Hindu sebagai bagian dari
mengindikasikan bahwa kontak budaya sarana meningkatkan gengsi sosial.
26
indonesia zamrud toleransi

Kontak dengan India bukan hanya Kuno” (Simbolon 2007:10).


membuat orang-orang menyadari Meskipun penyebaran peradaban
pencapaian budaya Hindu, mereka Hindu merupakan suatu proses yang
dianggap membawa serta bentuk- sangat lambat, asimilasi tradisi Hindu-
bentuk peradaban yang lebih tinggi ke India dan tradisi lokal di Nusantara
Nusantara. “Kemungkinan ini sangat menghasilkan bekas mendalam hingga
jelas tercermin pada penyerapan kata- saat ini. Bukan hanya bahwa sekitar
kata Sanskerta ke dalam Bahasa Jawa 3% penduduk Indonesia kini memeluk

Candi Prambanan, warisan kerajaan Mataram Hindu dibangun oleh Rakai Pikatan merupakan
candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, dengan ketinggian mencapai 47
meter.

Sumber: KHOMAINI.
27
akar toleransi indonesia

Hindu dan sebagian besar dari mereka Sriwijaya (didirikan pada abad VII) di
berada di Bali, tetapi juga bahwa Sumatra Selatan sebagai salah satu
berbagai praktik sosial yang diwarisi pusat kajian Buddha Mahayana, antara
generasi sekarang berasal dari masa- lain lewat penerjemahan naskah-
masa awal sejarah Nusantara tersebut. naskah keagamaan yang melibatkan
I-Tsing seorang pendeta dari China.
Stimulus Peradaban Buddha Vlekke (2016: 37) menulis bahwa
Ajaran Buddha masuk ke Indonesia kesetiaan pada Buddhisme Mahayana
sejak abad I, terutama melalui memungkinkan Sriwijaya memiliki
hubungan perniagaan lewat jalur laut hubungan kuat dengan dunia luar,
yang juga diikuti hubungan politik. antara lain dengan China dan India.
Selain itu, para sarjana dari Tiongkok Selain itu, cerita dari para saudagar
maupun India (golongan Brahmana) maupun referensi para ahli geografi
berdatangan untuk memperkenalkan dari Arab dan Persia menunjukkan
dan melakukan kajian tentang luasnya hubungan perniagaan Sriwijaya
Buddhisme. Sekitar tahun 420, pada abad X.
Gunawarman seorang pangeran dari Salah satu bukti tertua tentang
Kashmir mengajarkan Buddhisme, Kerajaan Sriwijaya (dalam Bahasa
yang selanjutnya menjadi agama Sanskerta berarti “kemenangan yang
kalangan elite di Nusantara. Tidak gemilang”) adalah prasasti Kedukan
kurang, arus balik para pelajar dari Bukit di Palembang bertarikh
Nusantara yang mengkaji Buddhisme 682. Peninggalan tertulis Kerajaan
di India berkontribusi pada pesatnya Sriwijaya menggunakan huruf Pallawa
perkembangan agama ini. dalam bahasa Melayu Tua, berbeda
Sejak paruh kedua abad VII, dibandingkan peninggalan serupa
beberapa laporan dari Tiongkok
mengabarkan perkembangan Buddha
di Nusantara. Selama 664–667, Hoewi-
ning, seorang pendeta Buddha asal
Tiongkok, tinggal di Kalingga, Jawa
Tengah. Bersama seorang pendeta
setempat bernama Jnanabhadra,
ia menerjemahkan naskah-naskah
Buddhisme Hinayana. Kerajaan
Kalingga sendiri didirikan sekitar
Relief-relief yang menghiasi dinding Candi
abad VI, dan nama Kalingga dipercaya
Borobudur menggambarkan cerita terkait
berasal dari Kerajaan Kaling dalam tradisi Buddha, yang sumber-sumber
literernya berasal dari India.
sejarah India Kuno.
Laporan lain menyebut Kerajaan Sumber: KHOMAINI.
28
indonesia zamrud toleransi

terbesar dunia, dengan luas dasar


123 m x 123 m dan tinggi lebih dari
35 m. Tidak kurang dari 400 patung
dan 1.400 pahatan relief menghiasi
dinding-dinding teras. Setiap set relief
menggambarkan cerita terkait tradisi
Buddha, yang sumber-sumber literer
untuk ini datang dari India.
Banyak penguasa di Nusantara
menganut Buddha tanpa
Patung Buddha, di tahapan Arupadhatu menjadikannya agama resmi dan tanpa
(ketiga) Candi Borobudur.
menyingkirkan keyakinan lain. Adalah
Sumber: KHOMAINI. suatu kebiasaan umum, dalam tradisi
Nusantara, untuk menerima kultus baru
tanpa menolak yang lama (Vlekke 2016:
di Jawa yang menggunakan Bahasa 25).
Sanskerta. Hal ini menunjukkan
bahwa pengaruh budaya India meluas Stimulus Peradaban Islam
hingga kalangan non-elite di Sumatra. Meskipun terdapat perdebatan
Wilayah kekuasaan Sriwijaya meliputi tentang kapan Islam masuk ke
hampir seluruh Sumatra, Jawa Barat, Nusantara, cukup pasti bahwa sejak
Kalimantan Barat, dan Semenanjung masa Khalifah Utsman (644–656)
Melayu. Sriwijaya dikenal sebagai salah telah terjadi kontak antara Nusantara
satu kerajaan terbesar dalam sejarah dan dunia Islam. Orang-orang Islam,
Nusantara. misalnya, telah memainkan peran
Salah satu penguasa di wilayah penting dalam perdagangan di
Nusantara yang memiliki hubungan Sumatra di bawah Kerajaan Sriwijaya,
baik dengan Sriwijaya adalah Wangsa yang didirikan pada akhir abad VII.
Syailendra dari Kerajaan Mataram Sedangkan petunjuk pertama tentang
Buddha di Jawa Tengah. Pada abad keberadaan kerajaan Islam Nusantara
VIII, penguasa Jawa ini telah memiliki dapat ditelusuri dari bagian utara
hubungan dengan pusat pengetahuan Sumatra dengan ditemukannya nisan
Benggala, yang terkenal dengan kajian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-
Buddhisme Mahayana, juga dengan Basir yang wafat pada 1211. Serangkaian
raja-raja Kamboja. nisan yang ditemukan di Jawa Timur
Salah satu peninggalan terpenting juga mengindikasikan bahwa sebagian
Syailendra adalah Candi Borobudur, elite Jawa telah memeluk Islam pada
yang selesai dibangun sekitar 820. masa kejayaan Majapahit sekitar abad
Borobudur merupakan candi Buddha XIII.
29
akar toleransi indonesia

Pengaruh awal Islam masuk ke dan sekelompok sufi asing telah


Nusantara selama beberapa abad memperkenalkan Islam hingga
antara lain dari India, Tiongkok, Arabia, kemudian menyebar luas. Hikayat
Mesir, dan Persia. Ricklefs (2005: 27) Raja-raja Pasai, yang menceritakan
menggambarkan dua proses utama peristiwa-peristiwa bertarikh 1250–1350,
kemungkinan persebaran awal Islam di meriwayatkan Raja Meurah Siloo
Nusantara. Pertama, penduduk pribumi yang memeluk Islam dan mengganti
mengalami kontak dengan Islam dan namanya menjadi Malik al-Shalih.
kemudian menganutnya. Kedua, orang- Sekitar awal abad XV, Malaka menjadi
orang asing Asia (Arab, India, Tionghoa, pusat perdagangan sekaligus penopang
dan lainnya) penganut Islam menetap persebaran Islam. Sedangkan awal
di suatu wilayah dan mengikuti abad XVI, berdiri Kerajaan Aceh
gaya hidup setempat. Sesudahnya, yang kemudian berkembang menjadi
Islam juga didakwahkan oleh ulama salah satu kerajaan Islam terkuat di
terutama kalangan Melayu dan Jawa kawasan barat Nusantara. Islam juga
serta penaklukan oleh para penguasa berkembang di pulau-pulau utama,
Muslim. seperti Kalimantan dan Sulawesi, juga
Di tengah meningkatnya hubungan kepulauan penghasil rempah di Maluku.
politik dan perdagangan di kawasan Di Jawa Tengah, Demak didirikan
Nusantara, para pedagang Muslim oleh Raden Patah sebagai kekuatan
baru pada 1500 dari puing-puing
kebesaran Majapahit. Di bawah Sultan
Trenggana, masa kejayaan Kerajaan
Demak ditandai oleh misi-misi
penyebaran Islam dan pelayaran untuk
perdagangan hingga wilayah timur.
Masjid Demak, yang telah didirikan
sejak era Raden Patah, menjadi lokasi
penting kajian Islam yang melibatkan
para wali sebagai pemuka agama.
Asimilasi budaya di Jawa terjadi
sebagai hasil pertemuan wilayah ini
dengan Islam dan tradisi-tradisi lain
yang lebih tua. Konversi ke dalam Islam
Lonceng Cakra Donya di Museum Aceh jarang diikuti suatu perubahan radikal.
memiliki hiasan serta tulisan Arab dan China.
Lonceng ini merupakan hadiah yang dibawa Sejarah konflik antara daerah pesisir
Laksamana Cheng Ho dari Kaisar Yongle di dan daerah pedalaman Jawa bukanlah
Tiongkok untuk Kerajaan Samudera Pasai.
hasil pertentangan antara agama dan
Sumber: Istimewa. budaya, melainkan lebih merupakan
30
indonesia zamrud toleransi

pertentangan kepentingan politik dan Nusantara (Lombard 1996a: 97). Gejala


kepentingan ekonomi. Proses asimilasi semacam itu mulai berubah pada awal
dan akomodasi terus berlangsung abad XIX, dan pengaruh Barat menjadi
setelah mayoritas penduduk Jawa kian kuat setelahnya.
memeluk Islam; Islamisasi adalah suatu Terdapat tiga kelompok masyarakat
proses yang berlangsung terus hingga yang memiliki peran terbesar
saat ini (Ricklefs 2005: 34). dalam proses meluasnya pengaruh
Setelah munculnya gerakan- Barat dalam kehidupan masyarakat
gerakan pembaruan pada abad XIX Nusantara: komunitas Kristen, para
dan XX, proses asimiliasi tidak pupus. priyayi, serta tentara dan akademisi
Gerakan-gerakan Islam bahkan menjadi (Lombard 1996a).
semakin beragam, dan turut mewarnai Terutama di Kepulauan Maluku dan
pembentukan Indonesia hingga saat ini. pulau-pulau tertentu di Nusa Tenggara,
Portugal mendirikan gereja-gereja
Stimulus Peradaban Barat pertama setelah kedatangan mereka
Meskipun pengaruh Barat terhadap pada abad XVI. Lombard mencatat
dunia kini secara umum signifikan, bahwa lama sekali sesudahnya baru
namun pengaruh mereka—terutama di Batavia terdapat seorang pendeta.
orang-orang Belanda—terhadap Kemudian sejak 1753 terdapat seorang
kehidupan sosial di Nusantara pada pendeta di Semarang, dan sejak 1785
awalnya sangat terbatas. Pertama, seorang pendeta lainnya bertugas di
bahwa Eropa, dibandingkan terutama Surabaya. Namun, baru pada paruh
Turki Ottoman, bukanlah kawasan pertama abad XIX berkembang misi
paling maju di dunia pada awal abad Protestan dan misi Katolik benar-benar
XV, ketika mereka mulai menjelajah aktif menjelang akhir abad tersebut.
kawasan Timur. Namun, keunggulan Pada dasawarsa pertama abad XX,
teknologi pelayaran dan kemiliteran Kristianitas telah diterima meluas
memungkinkan mereka, mulanya di Tana Toraja, bagian utara Tanah
Portugal, menjelajah dan kemudian Batak, dan bagian tengah Kalimantan
bahkan mengubah secara mendasar (Lombard 1996a: 98). Meskipun begitu,
organisasi sistem perdagangan Asia bukan berarti pembaratan berlangsung
(Ricklefs 2005: 65). Kedua, dalam kasus segera dan utuh; unsur-unsur lokal
Nusantara, Belanda mulanya tidak di sini bercampur dengan keyakinan
berminat untuk melibatkan diri dalam Kristen dan sebagian budaya lain dari
kegiatan sosial selain perdagangan. luar dalam jangka lama.
Pembatasan kebudayaan Belanda Kelompok sosial lain yang sangat
untuk kalangan mereka sendiri terpengaruh budaya Barat adalah
telah memperlambat akulturasi dan para priyayi. Terutama pasca-
menghambat pula perkembangan Perang Jawa (1825–1830), pemerintah
31
akar toleransi indonesia

kolonial Batavia mulai merangkul yang selanjutnya berperan penting;


kalangan bangsawan. Cultuurstelsel angkatan bersenjata dan universitas.
atau tanam paksa merupakan pintu Pembentukan angkatan bersenjata
modern banyak dipengaruhi oleh
prinsip-prinsip Barat, demikian pula
pengelolaan pendidikan di universitas-
universitas. Kedua lembaga tersebut
merupakan wadah-wadah utama
tempat proses pembaratan cenderung
berpusat (Lombard 1996a: 118).

B. Budaya Gotong Royong


Manusia pada hakikatnya
merupakan makhluk individual
dan makhluk sosial sekaligus yang
perlu berinteraksi dengan orang lain
Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa di
Nusa Dua, Bali, mengadopsi unsur-unsur lokal
di sekitarnya agar dapat tumbuh
seperti nampak pada bagunan luar gereja. dan berkembang secara baik. Dari
Sumber: KHOMAINI.
interaksinya dengan orang lain,
manusia hidup dalam kelompok-
masuk akomodasi para priyayi sebagai kelompok sosial dan merasakan
pembantu pengelolaan pemerintahan hadirnya berbagai manfaat dari relasi
kolonial. Hingga batas tertentu, dan kerja samanya dengan sesama.
para priyayi bahkan diperkenankan Kerja sama antarmanusia ini disebut
untuk ikut serta dalam kebudayaan dengan gotong royong.
para penakluk mereka (Lombard
1996a: 103). Penguatan administrasi
pemerintahan negeri jajahan telah
meningkatkan integrasi mereka pada
suatu struktur hirarki birokratis sebagai
pejabat pemerintah (pangreh praja).
Moral para priyayi yang terbentuk
dari konformisme Jawa dan disiplin
“Calvinis” tetap menonjol dan
berpengaruh setelah kemerdekaan
Indonesia (Lombard 1996a: 103).
Warga Sindangbarang bersama-sama
Pasca-kemerdekaan, perombakan menggotong hasil bumi untuk disajikan dalam
struktur golongan elite berlangsung upacara adat Seren Taun.

seiring terbentuknya dua lembaga baru Sumber: KHOMAINI.


32
indonesia zamrud toleransi

dimaknai sebagai bentuk partisipasi


aktif setiap individu untuk ikut
terlibat dalam memberi nilai tambah
atau positif kepada setiap objek,
permasalahan atau kebutuhan orang
banyak di sekelilingnya. Partisipasi
aktif tersebut bisa berupa bantuan yang
berwujud materi, keuangan, tenaga
fisik, mental spiritual, keterampilan,
sumbangan pikiran atau nasihat yang
konstruktif.
Secara konseptual, gotong royong
dapat diartikan sebagai suatu model
kerja sama yang disepakati bersama.
Koentjaraningrat membagi dua jenis
gotong royong sebagaimana dia amati
dalam masyarakat di Indonesia, yaitu
gotong royong tolong-menolong dan
gotong royong kerja bakti. Kegiatan
Masyarakat bersama-sama memanggul gotong royong tolong-menolong terjadi
aneka hasil bumi dalam acara Seren Taun di
Sindangbarang. pada aktivitas pertanian, kegiatan
sekitar rumah tangga, kegiatan pesta,
Sumber: KHOMAINI.
kegiatan perayaan, dan pada peristiwa
bencana atau kematian. Sedangkan
Pengertian Gotong Royong kegiatan gotong royong kerja bakti
Istilah “gotong royong” yang kita biasanya dilakukan untuk mengerjakan
gunakan saat ini berasal dari bahasa sesuatu hal yang sifatnya untuk
Jawa. Kata “gotong” dapat dipadankan kepentingan umum, yang dibedakan
dengan kata “pikul” atau “angkat.” Kata antara gotong royong atas inisiatif
“royong” dapat dipadankan dengan warga dengan gotong royong yang
“bersama-sama.” Jadi, gotong royong dipaksakan. Misalnya, membangun
secara sederhana berarti mengangkat jalan dan mendirikan balai rakyat
sesuatu secara bersama-sama atau untuk wadah pertemuan warga
juga diartikan sebagai mengerjakan (Koentjaraningrat 1987).
sesuatu secara bersama-sama. Misalnya, Konsep gotong royong juga dapat
menyapu jalan, membersihkan dimaknai dalam konteks pemberdayaan
lingkungan, atau mendorong mobil masyarakat karena bisa menjadi modal
mogok bersama-sama, dan sebagainya. sosial untuk membentuk kekuatan
Secara luas, gotong royong dapat kelembagaan di tingkat komunitas,
33
akar toleransi indonesia

masyarakat negara serta masyarakat juga berperan sebagai nilai-nilai moral.


lintas bangsa dan negara Indonesia Artinya, gotong royong selalu menjadi
dalam mewujudkan kesejahteraan. acuan perilaku, pandangan hidup
Hal tersebut juga dikarenakan di bangsa Indonesia dalam berbagai
dalam gotong royong terkandung macam wujudnya.
makna tindakan bersama, mengelola
secara sendiri, tujuan bersama, dan Implementasi Budaya Gotong
kedaulatan. Royong
Dalam perspektif sosiokultural, nilai Dalam kehidupan bermasyarakat di
gotong royong adalah semangat yang Indonesia, gotong royong menempati
diwujudkan dalam bentuk perilaku posisi penting karena dianggap mampu
atau tindakan individu yang dilakukan menciptakan harmoni dan memperkuat
tanpa pamrih untuk melakukan sesuatu jalinan persaudaraan antarwarga.
secara bersama-sama demi kepentingan Dari waktu ke waktu, gotong royong
bersama atau individu tertentu. telah menjadi kebiasaan atau budaya
Misalnya, petani secara bersama-sama yang terinternalisasi dalam kehidupan
membersihkan saluran irigasi yang bermasyarakat sehari-hari. Mari kita
menuju ke sawahnya, masyarakat tengok sejenak sejarah kelahiran bangsa
bergotong royong membangun rumah Indonesia di mana budaya gotong
warga yang terkena angin puting beliung, royong berperan sebagai pengikat
dan sebagainya. Bahkan dalam sejarah setiap elemen bangsa.
perkembangan masyarakat, kegiatan Menengok berbagai catatan sejarah
bercocok tanam seperti mengolah tanah perjalanan bangsa, kemerdekaan
hingga memetik hasil (panen) dilakukan Republik Indonesia yang diraih rakyat
secara gotong royong bergiliran pada merupakan buah dari kerja sama
masing-masing pemilik sawah. apik seluruh komponen bangsa,
Budaya gotong royong merupakan bukan kepentingan golongan apalagi
cerminan perilaku yang menjadi ciri perseorangan. Dengan kata lain,
khas bangsa Indonesia sejak zaman kemerdekaan yang dikumandangkan
dahulu. Bilamana dilakukan kajian pada 17 Agustus 1945 merupakan upaya
di seluruh wilayah Indonesia, akan bersama seluruh elemen bangsa yang
ditemukan praktik gotong royong mengedepankan kepentingan bersama
tersebut dengan berbagai macam ketimbang kelompok, golongan
istilah dan bentuknya, baik sebagai nilai atau individual. Upaya bersama itu
maupun sebagai perilaku. kemudian kita sebut sebagai gotong
Bagi bangsa Indonesia, gotong royong yang merupakan wujud nyata
royong tidak hanya bermakna sebagai dari nasionalisme dan patriotisme yang
perilaku, sebagaimana pengertian yang dimiliki segenap warga bangsa dalam
dikemukakan sebelumnya, namun perjuangan mereka.
34
indonesia zamrud toleransi

Sebelum era Kebangkitan Nasional, pembacaan Teks Proklamasi melalui


perjuangan melawan penjajah masih pemancar luar negeri di Studio Djakarta
tersekat pada suku dan golongan masing- Hosyo Kioko. Meski tidak berhasil, para
masing, belum terpusat dikarenakan pemuda tak patah semangat. Adam
belum ada ideologi pemersatu. Malik lantas berangkat ke Kantor Berita
Dengan perkataan lain, perjuangan Domei untuk mencari kemungkinan
kala itu masih bersifat kedaerahan, pembacaan Teks Proklamasi dapat
bergantung kepada pemimpin, belum disiarkan secara langsung. Hasilnya,
terorganisasi dengan tujuan perjuangan Kemerdekaan Indonesia menjadi
yang jelas. Selanjutnya, ketika era berita resmi Kantor Berita Domei ke
Kebangkitan Nasional tiba, perlawanan semua cabang di Indonesia dan luar
terhadap musuh mulai dilakukan negeri. Tak ketinggalan, para seniman
secara terorganisasi. Pendirian Jakarta yang bermarkas di Pasar Senen
organisasi Budi Utomo pada 20 Mei membuat poster dan tulisan-tulisan
1908 merupakan titik mula munculnya (mural) di berbagai tempat, termasuk
pergerakan nasional di Indonesia serta dinding kota dan kereta api, untuk
lahirnya kesadaran bersama untuk menyebarkan berita Proklamasi.
memperjuangkan nasib dan masa depan Tidak berhenti di situ, para
bangsa. Sejak itu, gotong royong menjadi aktivis pemuda masa itu yang kerap
nafas dari setiap langkah dan upaya berkumpul di Jalan Menteng 31
setiap warga bangsa demi mewujudkan bergotong royong menyebarkan
masa depan Indonesia yang lebih baik. berita gembira berupa stensilan Teks
Dalam momen-momen penting Proklamasi itu ke pelosok negeri
perjalanan sejarah bangsa Indonesia, hingga dunia. Di antara para aktivis
sebagaimana ditulis Yudi Latif dalam itu, misalnya, ada anggota Barisan
karyanya Mata Air Keteladanan: Pemuda Gerindo, M. Zaelani, yang
Pancasila dalam Perbuatan (2014), jiwa siap dikirim ke Sumatra dan juga
gotong royong telah menjelma sebagai Masri yang berangkat ke Kalimantan,
ruh dari setiap rangkaian rencana dan serta sejumlah pemuda lain yang
tindakan para pendiri bangsa. Proses dikirim ke Sulawesi dan Jawa. Misi
penyusunan Teks Proklamasi, misalnya, membawa berita gembira itu tentu
ditulis langsung oleh Bung Karno, saja harus melalui perjalanan yang
namun didiktekan oleh Bung Hatta kurang nyaman. Namun, semangat
untuk selanjutnya diketik oleh Sayuti gotong royong yang telah merasuki jiwa
Melik, wartawan asal Yogyakarta (Latif mereka telah mengalahkan semuanya.
2014: 304) Para tokoh bangsa lintas etnis
Semangat gotong royong pun dan iman, dari kalangan sipil dan
tampak dalam upaya para pemuda militer, pun ikut terus memupuk
menyiarkan secara langsung semangat gotong royong sebagaimana
35
akar toleransi indonesia

ditunjukkan selama era revolusi dia adalah salah satu menteri yang
kemerdekaan di Yogyakarta. memiliki hubungan paling dekat
Semangat kebersamaan dengan dengan Sukarno selama di Yogyakarta
mengesampingkan perbedaan (Latif 2014: 310)
agama, ras, suku, bahasa menjadikan Selain itu, sistem pertahanan
Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia dan bela negara juga didasarkan
di tanah Jawa. Para tokoh agama pada semangat gotong royong
dengan latar pandangan berbeda segenap komponen bangsa melalui
seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo kemanunggalan antara rakyat
(Muhammadiyah), K.H. Wahid Hasjim dan tentara, yang dikenal dengan
(Nahdlatul Ulama), Mohammad Sistem Pertahanan dan Keamanan
Natsir (Persatuan Islam), Sayyid Shah Rakyat Semesta (Sishankamrata).
Muhammad Al-Jaeni (Ahmadiyah), Dengan peralatan terbatas dan
I.J. Kasimo (Katolik) begitu apik pasukan yang kurang terlatih dan
membangun pergaulan dan teratur, sistem ini dilahirkan untuk
komunikasi untuk Indonesia yang lebih menghadang serangan musuh. Sejarah
besar (Latif 2014: 305–307). menunjukkan, berkat semangat
Perbedaan pandangan dan gotong royong mengembangkan
keyakinan agama serta pendapat Sishankamrata, Belanda yang
politik tidak membuat mereka bermodalkan senjata canggih dan
saling menjatuhkan, apalagi saling tentara yang terlatih dibuat kocar-
melenyapkan. Perbedaan telah kacir sehingga memaksa pemerintah
menjadikan mereka lebih kaya dan Belanda untuk kembali ke meja
membuat keyakinan mereka menjadi perundingan. Melalui Konferensi Meja
semakin kuat. Perbedaan tidak Bundar (KMB), pemerintah Belanda
menjadi alasan bagi mereka untuk akhirnya mengakui kedaulatan
saling mencaci, saling membenci, Indonesia pada 27 Desember 1949.
tidak menghormati dan tidak bergaul
sebagai sesama ciptaan Tuhan. Gotong Royong dalam Praktik
Tengok saja pengakuan Mohammad Sukarno menggunakan istilah
Natsir selama tinggal di Yogyakarta gotong royong untuk menegakkan
ketika era revolusi kemerdekaan. etos persatuan pada masa Demokrasi
Polemik dan perbedaannya dengan Terpimpin (1959–1965). Pada sebuah
Sukarno menyangkut Dasar Negara pidato tertanggal 1 Juni 1945, Sukarno
telah diketahui publik luas. Namun, menegaskan bahwa gotong royong
perbedaan pandangan yang sangat merupakan intipati Pancasila setelah
tajam antara tahun 1930-an itu dia diperas sedemikian rupa. Mengutip
lupakan ketika panggilan revolusi harus langsung pidato Sukarno, dia
diutamakan. Bahkan Natsir mengakui, mengatakan,
36
indonesia zamrud toleransi

tulen, yaitu perkataan “gotong


royong”. Negara Indonesia yang
kita dirikan haruslah negara gotong
royong!
Gotong royong merupakan paham
yang dinamis, lebih dinamis dari
“kekeluargaan”, kata Sukarno,
Gotong royong adalah
pembantingan-tulang bersama,
pemerasan-keringat bersama,
perjuangan bantu-binantu bersama.
Amal semua buat kepentingan semua,
keringat semua buat kebahagiaan
semua. Holopis-kuntul-baris buat
kepentingan bersama.
Sebagai nilai budaya yang penting,
sebenarnya gotong royong sangat bagus
sejauh diberi makna yang luas dan
dihayati dengan semangat persatuan
Gotong royong merupakan budaya yang
yang benar. Pada 1930-an, Muhammad
berlangsung sejak dulu di bumi Nusantara.
Hatta—sebagaimana tertuang dalam
Sumber: Ida Bagus Putra Adnyana, Bali: tulisannya di harian Daulat Rakjat,
Ancient Rites in the Digital Age (Indonesia:
BAB Publishing, 2016), h. 21. No. 75, tanggal 10 Oktober 1933—
menggunakan istilah kolektivisme
Sebagaimana tadi telah saya untuk merujuk pada konsep gotong
katakan, kita mendirikan negara royong yang menurutnya mengandung
Indonesia, yang kita semua harus arti serupa. Tanda-tanda kolektivisme,
mendukungnya. Semua buat semua! kata Hatta, tampak pertama kali pada
Bukan Kristen buat Indonesia, sifat “tolong-menolong” yang menjiwai
bukan golongan Islam buat setiap individu dalam masyarakat
Indonesia, bukan Hadikoesoemo Nusantara. Kata Hatta, “Sifat ‘tolong-
buat Indonesia, bukan Van Eck menolong’ itu menjadi satu tiang
buat Indonesia, bukan Nitisemito daripada pergaulan hidup Indonesia.
yang kaya buat Indonesia, tetapi Dan sifat itu berpengaruh pula atas
Indonesia buat Indonesia, semua caranya orang-orang di desa mengurus
buat semua! Jikalau saya peras beberapa hal yang bersangkut dengan
yang lima menjadi tiga, dan yang kebutuhan mereka. Keputusan dengan
tiga menjadi satu, maka dapatlah mufakat!” Lebih jauh, istilah ini dapat
saya satu perkataan Indonesia yang dipadankan dengan solidaritas, suatu
37
akar toleransi indonesia

prinsip yang penting dalam mendirikan “Kamu datang ke dunia seorang diri
negara di samping prinsip subsidiaritas. dan meninggalkan dunia seorang
Dalam pengertian yang lebih diri.” Meski kenyataannya tidak ada
luas, kolektivisme adalah nilai di seorang pun yang lahir ke dunia secara
mana masyarakat tergabung dalam sendirian. Selalu ada ibu dan budaya
sebuah ikatan kohesif. Di dalam ikatan komunitas yang menyertainya, bahkan
tersebut, setiap individu harus menjaga mengantarnya hingga ke “tempat
loyalitas terhadap kelompoknya. Dalam peristirahatan yang terakhir” (Gilbert
pengertian demikian, kolektivisme 2013: 34).
berarti perhatian individu terhadap Apa yang menjadi karakteristik
masyarakat di mana ia berada (Latif dari individualisme adalah keyakinan
2011). implisit bahwa relasi sosial bukanlah
Kolektivisme atau gotong royong pembentuk perseorangan dalam
merupakan ciri khas masyarakat pengalamannya yang paling
Indonesia. Praktik itu sangat mudah fundamental. Dengan kata lain,
dijumpai dalam kehidupan masyarakat perseorangan tak dipandang sebagai
Indonesia yang kerap kali bersama- produk relasi-relasi sosial. Relasi
sama mengerjakan atau menyelesaikan sosial adalah sesuatu yang terjadi
sesuatu, apa pun itu. Seorang kolektivis pada individu ketimbang sesuatu
cenderung menjaga martabat dan yang mendefinisikan identitas dan
perasaan antarsesama. Mengkritik dan mengoordinasikan eksistensi individu.
mempermalukan seseorang di hadapan Individu tidaklah dibentuk dan diubah
orang lain merupakan tindakan yang secara fundamental oleh relasi sosial.
tidak dapat diterima. Menghormati, Karena itu, tetap sebagai pribadi yang
menghargai, dan berperilaku sopan otonom-independen.
santun merupakan nilai-nilai yang Berbeda dengan individualisme,
terpenting dalam kolektivisme. Pancasila memandang bahwa dengan
Perlu ditekankan di sini, segala kemuliaan eksistensi dan hak
penghormatan terhadap eksistensi asasinya, setiap pribadi manusia
perseorangan dan hak asasinya tidaklah bisa berdiri sendiri terkucil
tidak berarti harus mengarah pada dari keberadaan yang lain. Setiap
individualisme. Individualisme pribadi membentuk dan dibentuk
memandang bahwa manusia secara oleh jaringan relasi sosial. Semua
perseorangan merupakan unit dasar manusia, kecuali mereka yang hidup
dari seluruh pengalaman manusia. di bawah keadaan yang sangat luar
Postulat dasar dari individualisme biasa, bergantung pada bentuk-
adalah otonomi independen dari setiap bentuk kerja sama dan kolaborasi
pribadi. Ungkapan yang sangat terkenal dengan sesama yang memungkinkan
dari individualisme menyatakan: manusia dapat mengembangkan
38
indonesia zamrud toleransi

potensi kemanusiaannya dan dalam lain, mereka sengaja dibuat rentan


mengamankan kondisi-kondisi material terhadap pemerasan, penindasan, dan
dasar untuk melanjutkan kehidupan perlakuan sewenang-wenang lain oleh
dan keturunannya. negara atau birokrasi negara.
Tanpa kehadiran yang lain, manusia Dari berbagai contoh dan
tidak akan pernah menjadi manusia paparan di atas, tidaklah berlebihan
sepenuhnya. Kebajikan individu hanya jika mengatakan semangat gotong
mencapai pertumbuhannya yang royong menunjukkan kekuatan dan
optimum dalam kolektivitas yang baik. keampuhannya sebagai karakter bangsa
Oleh karena itu, selain menjadi manusia dan memiliki pengaruh yang begitu
yang baik, manusia harus membentuk dahsyat dalam kehidupan berbangsa
kolektivitas yang baik. dan bernegara. Marilah kita terus
Berikutnya, ketika Orde Baru bekerja bersama-sama mewujudkan
memerintah, makna gotong royong satu kebaikan agar bisa dimanfaatkan
bergeser dari pengertian sebelumnya dan dinikmati bukan oleh diri sendiri,
dan lebih diasosiasikan kepada istilah melainkan bersama-sama.
kekeluargaan. Gagasan ini digunakan Tak keliru pula jika Sukarno
untuk menyukseskan berbagai menyebut gotong royong sebagai inti
agenda pembangunan. Pada era ini, sari Pancasila, ruh pandangan hidup
kekeluargaan diangkat ke permukaan bangsa Indonesia. Seperti dia katakan,
dan dijadikan asas kehidupan Gotong royong menggambarkan
berbangsa dan bernegara. Langkah satu usaha, satu amal, satu pekerjaan
ini dianggap keliru karena ternyata yang dinamakan anggota yang
menyuburkan praktik Korupsi, Kolusi, terhormat Soekardjo: satu karyo, satu
dan Nepotisme (KKN). Gagasan ini gawe. Marilah kita menyelesaikan
kemudian merambat pada penguasaan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini,
negara oleh segelintir kelompok dan bersama-sama.
golongan, termasuk keluarga. Dalam
praktik seperti ini, pemerintahan Orde C. Inteligensia Indonesia
Baru menerapkan sistem negara yang Inteligensia Indonesia membentuk
sentralistik dan otoriter. fondasi kebangsaan Indonesia di mana
Dalam negara yang berteraskan toleransi menjadi tulang punggungnya.
kedaulatan keluarga, rakyat dan Inteligensia memainkan peran penting
orang yang berada di luar inner dalam proses kebangsaan Indonesia
circle dianggap hanya sebagai terutama dalam pembentukan tradisi
penumpang dan dijaga agar tidak “bertukar pikiran” dan memahami
menjadi orang dalam dengan cara dilema-dilema dalam hidup
meminggirkan peran, kedudukan, dan bermasyarakat.
haknya untuk bersuara. Dengan kata Peranan inteligensia Indonesia
39
akar toleransi indonesia

dalam membangun keindonesiaan Dalam hal ini, “diskusi” adalah buah


setidaknya dibahas dalam 2 karya pencermatan dan pikiran. Di Indonesia,
penting. Inteligensia Muslim dan Mohammad Hatta selalu menekankan
Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim proses yang menjadi ciri penting
Indonesia Abad ke-20 karya Yudi inteligensia ini. Salah satu contoh yang
Latif (2003) memberikan gambaran bisa dirujuk tentang betapa Hatta
pembentukan lapisan intelegensia di menempatkan intelegensia di posisi
Indonesia. Meskipun karya ini secara sangat penting dalam hidupnya adalah
khusus dimaksudkan untuk membahas ketika dia memberikan buku Alam
intelegensia muslim, tetapi dibahas pula Pikiran Yunani yang ditulisnya kepada
persoalan intelegensia Indonesia secara istrinya Rachmi sebagai mas kawin.
umum beserta kelahiran dan liku-liku Gambaran ini merupakan wujud
berbagai jenis gerakannya. penting dari Keindonesiaan, bahwa
Berikutnya adalah karya penting yang menjadi seseorang atau suatu
Menjadi Indonesia tulisan Parakitri T. peristiwa di dalam “Indonesia”
Simbolon (1995). Di sini dibahas secara adalah wujud “bangsawan pikiran”.
pendek mengenai beberapa aspek Penyebutan ini untuk membedakannya
penting dari peran intelegensia ini dengan “bangsawan usul”, suatu
dalam membentuk Indonesia. pencirian kebangsaan yang didasarkan
Secara umum, peranan intelegensia pada akar primordial. Dalam
di Indonesia tidaklah unik karena Inteligensia Muslim dan Kuasa (Yudi
merupakan gejala umum yang terdapat Latif 2003), hal ini juga dibahas
dalam gerakan-gerakan kebangsaan secara mencolok. Penggambarannya
dan peradaban di dunia sepanjang abad sendiri juga didukung oleh generasi
XVIII–XIX. Dunia melihat peran yang kontemporer, semisal Rosihan Anwar,
amat kuat dari gerakan parlementer sebagai berikut:
di Eropa yang digalang oleh kalangan
intelegensia dan akar rumput.
Dokter Abdul Rivai
Mohammad Hatta, salah satu pendiri
bangsa, mengenyam pendidikan
yang juga wartawan
di Belanda dan melihat peran yang pada awal abad ke-20
konstruktif dari parlemen. Dalam memperkenalkan istilah
parlemen bukan hanya terjadi proses “bangsawan pikiran”.
pengawasan dan perimbangan (checks Istilah ini dibedakannya
and balances) pada kekuasaan eksekutif,
dengan “bangsawan usul”.
tetapi juga terjadi proses berdiskusi
(parler) atau diskursus (discourse)
Pada edisi perdana (1902)
menyangkut gagasan kebangsaan dan majalah Bintang Hindia,
perbaikan taraf hidup masyarakat. Abdul Rivai menulis,
40
indonesia zamrud toleransi

“Tak ada gunanya lagi merupakan takdir. Jika


membicarakan “bangsawan nenek moyang kita
usul”, sebab kehadirannya keturunan bangsawan,
maka kita pun disebut
bangsawan, meskipun
pengetahuan dan
capaian kita bagaikan
katak dalam tempurung.
Saat ini, pengetahuan
dan pencapaianlah yang
menentukan kehormatan
seseorang. Situasi
inilah yang melahirkan
“bangsawan pikiran”….
Para “bangsawan pikiran”
telah mengantarkan
bangsa Indonesia ke pintu
gerbang kemerdekaan,
memimpin perjuangan
menegakkan proklamasi
kemerdekaan memperoleh
pengakuan internasional
atas keberadaan RI dan
selanjutnya selalu ada di
tengah perkembangan
negeri ini (Rosihan Anwar
2007).

Pada saat yang sama inteligensia


Dr. Abdul Rivai (1876-1932), seorang dokter
sekaligus wartawan yang memperkenalkan di negara dunia ketiga dibentuk oleh
istilah “bangsawan pikiran” yang membedakan dilema mereka. Di sini, pikiran-pikiran
dengan “bangsawan usul”.
Soedjatmoko dalam membangun
Sumber: Parakitri T. Simbolon, Menjadi gambaran mengenai interelasi di atas
Indonesia Buku I: Akar-akar Kebangsaan
Indonesia (Jakarta: Kompas, 1995), h. u. perlu dikutip. Kutipan ini menyorot
41
akar toleransi indonesia

konteks Indonesia pasca-merdeka, di


mana klaim “bangsa yang baru lahir”
harus dikonfrontasi dengan persoalan-
persoalan kekuasaan, pranata, sosial-
ekonomi, dan keterbatasan sebuah
kekuasaan pemerintah.
… Satu hal yang berubah
dalam konteks pengalaman pasca-
kemerdekaan adalah kesadaran
kaum cendekia akan kekuasaan,
pengaruh, batas-batasnya, serta Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-
usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
sifat-sifatnya. Kini di antara kaum pada 1945 dihadiri beragam kelompok dan
cendekia terdapat kesadaran yang golongan untuk merumuskan dasar negara
Republik Indonesia.
lebih besar terhadap kebutuhan
akan pemerintah pusat yang Sumber: Istimewa.
kuat, yang mampu mengejar
tujuan pembinaan-bangsa (nation- dapat diterapkan pada semua
building) dan pembangunan persoalan dan semua pekerjaan…
ekonomi, di hadapan rintangan- (Soedjatmoko 1994: 5).
rintangan besar yang ditimbulkan Sekarang, peran untuk memahami
oleh tradisi, kebodohan, dan dan menjawab dilema masyarakat
keterbelakangan. Terdapat juga ini dilakukan secara lebih luas oleh
kesadaran yang lebih besar akan bentuk-bentuk inteligensia yang ada.
kebutuhan untuk membangun Memahami adanya dilema ini tidak
dan menumbuhkembangkan berarti para inteligensia hanya diam
kekuatan-kekuatan tandingan di dan meratapi situasi, melainkan secara
dalam masyarakat untuk membatasi aktif membangun simpul-simpul di
penyalahgunaan kekuasaan dan tingkat lokal maupun nasional sehingga
menjamin inisiatif, organisasi komunikasi dan tindakan sosial-politik
maupun partisipasi rakyat secara yang perlu bisa terlaksana.
sukarela. Kaum cendekia di negara
berkembang menempatkan dirinya D. Pancasila dan
pada kedua sisi pandang di atas…. Keindonesiaan
Kesulitan untuk menggerakkan “Kita hendak mendirikan suatu
pembangunan ekonomi, khususnya negara ‘semua buat semua.’ Bukan
di negara berkembang, telah buat satu orang, bukan buat satu
membuat kaum cendekia sadar golongan, baik golongan bangsawan
bahwa kekuasaan bukan merupakan maupun golongan yang kaya,
komoditas yang netral yang tetapi semua buat semua.” Sukarno
42
indonesia zamrud toleransi

tentu tidak menggantang asap saat Indonesia.


menyampaikan hal tersebut di hadapan Peristiwa Proklamasi 17 Agustus
Badan Penyelidik Usaha Persiapan 1945 tidaklah berarti bahwa mimpi
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk mencapai kemerdekaan
pada 1 Juni 1945. Sebagai bagian dari Indonesia telah sepenuhnya tercapai;
upaya untuk menemukan dasar negara, mimpi kemerdekaan masih terus
Sukarno bersama para pendiri negara diperjuangkan dalam kehidupan
lainnya menyampaikan visi mereka bernegara hingga kini. Bergulat
tentang Indonesia Merdeka. dengan berbagai tantangan, Indonesia
Indonesia sebagai suatu negara mesti meniti perjuangan yang tidak
untuk semua golongan bukanlah mudah untuk semakin mendekat pada
suatu visi tanpa landasan. Bahkan perwujudan mimpi tersebut. Dinamika
sejak mimpi tentang Indonesia sebagai pergulatan ini dapat digambarkan,
suatu nasion itu mulai mekar pada sebagai berikut.
awal abad XX, ia telah bertolak dari
kekayaan pandangan. Indonesia yang Ketuhanan Yang Maha Esa
sama dibentuk pertama kali oleh para Meskipun ide tentang negara
pelopor yang memiliki latar berlainan; berbasis keyakinan agama ditolak dalam
ras dan suku, agama, juga ideologi perdebatan di antara para pendiri
politik mereka berbeda. Perbedaan negara, suatu kesepahaman kemudian
tersebut, sedemikian rupa, memberi dicapai dan melahirkan Indonesia yang
sumbangan luar biasa pada orientasi berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.
mereka untuk membangun suatu Dengan itu, Indonesia tidak dilandaskan
struktur yang melindungi keberagaman
tersebut.
Pancasila, yang ditetapkan sebagai
dasar negara, sesungguhnya memberi
landasan kukuh bagi beroperasinya
suatu negara demokrasi modern
yang melindung kebebasan sekaligus
mengupayakan kesejahteraan warga
negaranya. Pancasila adalah lima
prinsip yang terdiri atas: 1] Ketuhanan
Yang Maha Esa, 2] kemanusiaan
yang adil dan beradab, 3] persatuan
Indonesia, 4] kerakyatan yang dipimpin
Gereja Hati Kudus Yesus di Ganjuran,
oleh hikmat kebijaksanaan dalam Yogyakarta (selesai dibangun pada 1924)
permusyawaratan/perwakilan, dan memiliki arsitektur unik bergaya Jawa.

5] keadilan sosial bagi seluruh rakyat Sumber: www.klikhotel.com.


43
akar toleransi indonesia

pada keyakinan agama tertentu, sebagai salah satu pusat penyebaran


melainkan menghormati dan melindungi Islam di Jawa.
kebebasan warga negaranya untuk Demikian pula Gereja Hati Kudus
menjalankan keyakinan agama masing- Yesus di Ganjuran, Yogyakarta yang
masing. selesai dibangun pada 1924 atas
Menilik sejarah Indonesia, peradaban- prakarsa keluarga Schmutzer dari
peradaban besar dengan muatan Belanda. Selain altar gereja, terdapat
keyakinan agama yang berlainan dua relief yang dibangun dengan
telah memberi pengaruh yang tidak corak Jawa. Relief Hati Kudus Yesus
kecil pada berkembangnya budaya digambarkan sebagai raja Jawa yang
Nusantara. Dialiri pengaruh yang bertakhta di singgasana, sedangkan
begitu kaya, Indonesia tidaklah tumbuh relief Bunda Maria digambarkan sebagai
dalam suatu monokultur. Perbedaan ratu Jawa yang sedang menggendong
tersebut menghadirkan suatu khazanah Yesus kecil.
pandangan dan keyakinan, yang Lebih dari bangunan fisik, semangat
mestinya dapat semakin kaya oleh dialog dialog mestinya juga mewujud dalam
di antara mereka. kehidupan bersama antarumat
Semangat dialog tersebut secara beragama. Sukarno mengandaikan
fisik tampak pada bentuk bangunan- bahwa rakyat Indonesia dapat ber-
bangunan tempat ibadah yang Tuhan secara berkebudayaan,
menerima secara asimilasionis beragama dalam keadaban. Dalam
pengaruh eksternal. Kemampuan untuk kebebasan untuk menjalankan
mengadopsi pengaruh dapat disebut keyakinan masing-masing, para
sebagai suatu modal bagi diterimanya pemeluk agama hendaknya saling
agama-agama dan bersenyawanya menghormati dan bukan saling
rumah-rumah ibadah dengan
tradisi yang lebih dulu hidup dalam
masyarakat.
Kita dapat mengambil contoh Masjid
Agung Demak, yang merupakan salah
satu masjid tertua di Indonesia. Selesai
dibangun pada 1479, antara lain berkat
prakarsa Raden Patah dan Sunan
Kalijaga, masjid ini menggabungkan
gaya arsitektural Jawa-Melayu. Atapnya
bersusun tiga, berbentuk segitiga sama Delegasi Indonesia dipimpin Perdana Menteri
kaki, serupa karakter bangunan pura Mohamad Hatta (1949) tiba di Amsterdam
untuk merundingkan penyerahan kedaulatan.
tempat pemujaan bagi umat Hindu.
Masjid ini juga memiliki nilai historis Sumber: www.dw.com.
44
indonesia zamrud toleransi

membenci. Dalam ketundukan untuk penderitaan rakyat, yang hendak


mengagungkan Tuhan, manusia- dilawan lewat pergerakan nasional
manusia beragama ini menempatkan berbasis kemanusiaan. Dari teks
sesamanya sebagai yang harus diterima. “Indonesia Merdeka,” pembelaan Hatta
Para pendiri negara sendiri di hadapan pengadilan Den Haag pada
mempraktikkan secara langsung 1928, kita mengerti bahwa pemenuhan
konsep Ketuhanan yang Berkebudayaan hak-hak dasar adalah bagian dari
tersebut dalam merumuskan sila perjuangan politik Indonesia merdeka.
pertama Pancasila. Sementara Seperti yang dituturkan oleh
“golongan Islam” berpandangan bahwa Mahatma Gandhi, kebangsaan kita pun,
negara tidak mungkin dipisahkan sudah semestinya, adalah kemanusiaan.
dari agama, “golongan nasionalis” Pada situasi setara, setiap manusia
melihat bahwa pendasaran kehidupan adalah makhluk yang padanya lekat
bernegara pada syarat Islam dapat hak berikut kebebasan yang harus
berdampak pada persatuan nasional. dihormati dan dilindungi. Bukan
Suatu kompromi tercipta manakala saja manusia yang satu berkewajiban
mereka bersama-sama memahami menghargai manusia lainnya dan
bahwa negara nasional yang bersatu memperlakukan yang lain secara adil;
tidaklah harus areligious. Kesepahaman melainkan bahwa negara dilimpahi
yang tercapai lewat rumusan sila tugas untuk memberi perlindungan
pertama Pancasila “Ketuhanan Yang terhadap segenap hak asasi manusia.
Maha Esa” menunjukkan suatu jalan Kendati demikian, pelanggaran
tengah antara konsep penyatuan dan hak asasi manusia kerap dilakukan
konsep pemisahan antara negara oleh kekuasaan negara atas nama
dan agama. Orang Indonesia dapat pembaruan atau pemeliharaan tatanan.
beragama sekaligus bernegara secara Pada masa 1950-an, pemenjaraan lawan
beradab. politik, penutupan surat kabar, dan
pelarangan organisasi politik dilakukan
Kemanusiaan yang Adil untuk meredam oposisi. Lebih
dan Beradab daripada itu, pendekatan militer dalam
Berabad-abad terbelenggu memberangus pemberontakan masa
imperialisme, Indonesia menyadari itu juga banyak diwarnai pelanggaran
bahwa prinsip kemanusiaan mestilah hak asasi manusia. Bahkan, pergantian
melandasi bagaimana negara kekuasaan dari Sukarno ke tangan
dijalankan. Dari teks “Indonesia Soeharto diikuti oleh pergolakan paling
Menggugat”, pembelaan Sukarno di berdarah dalam sejarah Indonesia sejak
hadapan pengadilan kolonial Bandung 1945.
1930, kita paham bahwa penjajahan Selama masa Soeharto, represi
dan penundukan telah menghasilkan berlangsung secara sistematis, dengan
45
akar toleransi indonesia

skala lebih brutal dibandingkan ekonomi dapat beriringan. Selanjutnya,


sebelumnya. Tidak hanya membatasi keadaban publik akan terus-menerus
aktivitas politik, rezim pembangunan diuji lewat gesekan kepentingan di antara
ini juga melarang ekspresi budaya dan kelompok-kelompok yang berlainan
keyakinan yang dipandang berlawanan dalam masyarakat. Suntikan gagasan
dengan pandangan dominan. Jalan Bhinneka Tunggal Ika dalam demokrasi
menuju jatuhnya kekuasaan Soeharto Indonesia berpeluang membuat sistem
dibuka oleh kerusuhan-kerusuhan, sosial kita mampu menghadirkan
yang sebagian di antaranya berlanjut stabilitas tanpa harus mengorbankan
menjadi konflik berskala luas, yang kemajemukan.
terutama berakar dari buruknya
kondisi demokrasi sosial. Setelah Persatuan Indonesia
sejumlah penculikan dan penembakan Sejak pergerakan nasional
mahasiswa, kerusuhan melanda Jakarta mulai bersemi pada awal abad XX,
pada Mei 1998 yang kemudian disusul isu persatuan Indonesia menjadi
pernyataan berhenti Soeharto sebagai perhatian khalayak. Bukan perkara
Presiden Indonesia. mudah untuk menyatukan wilayah
Keadaban sosial kembali jatuh yang begitu luas dengan masyarakat
pada titik nadir selama masa transisi yang begitu beragam, berikut afiliasi
pasca-Soeharto manakala kerusuhan primordial mereka yang begitu
dan konflik masih berlanjut di kuat. Faktanya, wilayah ini mulai
sejumlah tempat, seperti di Maluku menyatu secara administratif di bawah
dan Kalimantan. Di tengah lemahnya kendali pemerintah kolonial Belanda
kemampuan negara untuk menegakkan setelah perlawanan bersenjata dalam
tertib sosial, ledakan partisipasi Perang Aceh berakhir pada 1904.
sosial kerap bermuara pada konflik Dibangun di atas wilayah bekas Hindia
antarkelompok. Di tengah buruknya Belanda, Indonesia dipersatukan
kondisi ekonomi pasca-krisis, antara lain lewat perasaan senasib
ketimpangan sosial menjadi bara yang sepenanggungan sebagai jajahan
menyalakan kebencian terhadap yang Belanda.
dipandang berbeda. Zaman baru penjajahan pada
Kini, negara dihadapkan permulaan abad XX ditandai oleh
pada tantangan untuk menjaga Politik Etis, yang mewujud dalam
keberlangsungan tatanan sosial, tanpa kebijakan perbaikan di bidang edukasi,
menggerus kebebasan asasi. Selain irigasi, dan migrasi. Inilah kebijakan
pemenuhan hak-hak sipil, negara juga yang muncul sebagai reaksi terhadap
mesti memberi prioritas pada upaya pandangan van Deventer tentang
perwujudan keadilan sosial sehingga “utang kehormatan” Belanda kepada
demokrasi politik dan demokrasi Hindia Belanda, yang harus dibayar
46
indonesia zamrud toleransi

Sumatranen Bond, dan Jong Islamieten


Bond berupaya menemukan suatu
platform bagi gerakan bersama.
Lewat Sumpah Pemuda, mereka
mendeklarasikan:

Kami poetra dan poetri Indonesia/


mengakoe bertoempah darah jang
satoe, tanah air Indonesia.
Parade rakyat menyambut HUT
Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Kami poetra dan poetri Indonesia/
alun-alun Kota Yogyakarta. mengakoe berbangsa jang satoe,
Sumber: KHOMAINI.
bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia/
dengan memprioritaskan kepentingan menjoenjoeng bahasa persatoean,
rakyat jajahan dalam kebijakan bahasa Indonesia.
pemerintah kolonial. Meskipun
demikian, “dalam kebijakan Politik Etis Suntikan gagasan nasionalisme dan
terdapat lebih banyak janji daripada imajinasi bersama tentang Indonesia
pelaksanaan, dan fakta-fakta penting merdeka membuhulkan solidaritas
tentang eksploitasi dan penaklukan di antara kelompok-kelompok yang
sesungguhnya tidak berubah” (Ricklefs memiliki pertalian erat dengan suku
2005: 319). maupun agama mereka. Dengan
Akses lebih luas di bidang itu, kebangsaan Indonesia bukanlah
pendidikan, kemudian, bukan hanya suatu kebangsaan yang menelan
menghasilkan tenaga-tenaga terampil habis identitas-identitas yang lebih
yang mengisi kebutuhan birokrasi primordial. Kebangsaan Indonesia
publik dan perusahaan di Hindia adalah suatu bhinneka tunggal ika
Belanda. Proses yang sama telah yang menghargai dan melindungi
melahirkan suatu kesadaran baru keberagaman, namun tetap terikat
tentang kesetaraan dan identitas dalam solidaritas sebagai suatu nasion.
kebangsaan. Kebangkitan nasional Solidaritas inilah yang tercabik
tersebut menggerakkan perlawanan selama pemberontakan pada kurun
terhadap penjajahan sekaligus 1950-an, terutama disebabkan oleh
membangunkan identitas nasional, sentralisasi kekuasaan. Pembangunan
melampaui identitas-identitas kebangsaan mengalami kemunduran
primordial. di akhir kekuasaan Sukarno, dan tidak
Saat Kongres Pemuda II pada lebih baik di era Soeharto. Pendekatan
1928, berbagai organisasi pemuda, keamanan nan militeristik tidak
seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong pernah menjadi jawaban atas masalah
47
akar toleransi indonesia

Musyawarah merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan yang telah hidup dalam
masyarakat Nusantara sejak berabad silam.

Sumber: www.masoedabidin.wordpress.com.

ketidakadilan, yang merupakan ternyata diikuti oleh sempitnya wawasan


akar disintegrasi. Demikian pula kebangsaan. Akibatnya, berbagai penjuru
pemberangusan keberagaman tak negeri ini terbenam dalam kebencian,
pernah menjadi solusi atas perbedaan yang berakhir hanya setelah terusirnya
pandangan. Lebih buruk, stabilitas mereka yang dipandang berbeda.
semu yang dihasilkan oleh represi Upaya tak kenal lelah untuk
membuka selubung konflik dalam menghadirkan resolusi konflik
skala luas begitu negara kehilangan serta optimisme pada masa depan
cengkeraman represifnya. kebebasan yang kemudian berhasil
Akhir masa kekuasaan Soeharto menyelamatkan Indonesia dari
hingga beberapa tahun setelahnya perpecahan yang lebih parah. Rajutan
menjadi salah satu episode terburuk persaudaraan yang sempat renggang
dalam sejarah negeri ini. Kontestasi perlahan pulih dan menerbitkan
kepentingan berbalut primordialisme harapan bahwa persatuan Indonesia
sempit sempat menggangsir solidaritas dapat terus terjaga.
yang telah diupayakan sejak lebih seabad
sebelumnya. Di tengah kuatnya gejala Kerakyatan yang Dipimpin oleh
ketidakadilan, mekarnya kebebasan Hikmat Kebijaksanaan dalam
48
indonesia zamrud toleransi

menyangkut problem-problem
bersama.
Dalam musyawarah semacam
itu, gotong royong telah mendorong
keterlibatan anggota masyarakat
sekaligus menjaga agar putusan yang
diambil tidak menafikan aspek keadilan.
Melampaui sekadar ada bersama, gotong
royong mengandung semangat saling
Warga Sindangbarang berembuk agar acara menolong; di dalamnya, solidaritas
Seren Taun berlangsung lancar. terbangun di antara anggota komunitas
Sumber: KHOMAINI.
dalam rasa senasib sepenanggungan.
Solidaritas semacam itu hidup dalam
Permusyawaratan/Perwakilan berbagai tradisi masyarakat, sebagai
Pada 1932, Hatta menulis bahwa suatu mekanisme pengaman sosial, yang
dasar-dasar demokrasi telah ada dalam menjaga keberlangsungan organisasi
pergaulan hidup asli di Indonesia, sosial.
dan kita gunakan sebagai sendi politik Pada sisi lain, tradisi oposisi tidak
kita. Hatta mengidentifikasi “anasir mengambil bentuk perlawanan yang
demokrasi” itu: rapat, mufakat, tolong- frontal. Dalam masyarakat Jawa,
menolong atau gotong royong, hak misalnya, terdapat tradisi mepe, ketika
mengadakan protes bersama, dan hak rakyat berjemur di luar keraton di
menyingkir dari kekuasaan raja. Dalam bawah terik matahari sebagai bentuk
pembangunan demokrasi, anasir-anasir ketidakpuasan terhadap putusan
tersebut diadaptasi sesuai dengan penguasa. Selain bentuk-bentuk
struktur negara modern. protes terbuka, tradisi Nusantara
Musyawarah atau deliberasi adalah juga mengenal penarikan diri dari
bagian dari proses pengambilan kehidupan formal politik sebagai
keputusan yang telah hidup dalam ekspresi penentangan terhadap
masyarakat Nusantara selama berabad putusan yang dipandang tidak adil.
silam. Tradisi berbagai suku di Bentuk-bentuk penentangan itu tidak
Nusantara yang tumbuh dari kebiasaan dimaksudkan sebagai suatu destruksi,
turun-temurun menunjukkan bahwa melainkan bagian dari mekanisme
musyawarah untuk menemukan kontrol kekuasaan.
permufakatan merupakan mekanisme Raja bijak, raja disembah; raja lalim,
penting dalam proses sosial. Tidak raja disanggah. Demikian tradisi Melayu
hanya untuk memilih pemimpin, mengajarkan bahwa kekuasaan mesti
mekanisme serupa dimanfaatkan menghasilkan kebijakan dan kebajikan,
untuk menentukan langkah bersama sebagai suatu syarat mendasar bagi
49
akar toleransi indonesia

legitimasinya. Sebaliknya, rakyat dihadapi justru dengan ancaman dan


memiliki hak untuk mengingkari penindasan. Kelaliman, pada akhirnya,
kekuasaan yang sewenang-wenang, terjungkal terutama oleh kekuatan
termasuk di antaranya dengan rakyat yang menghendaki perbaikan
menyanggah atau protes terhadap dalam penyelenggaraan kekuasaan.
putusan raja. Jelas bahwa akar- Sejak 1998, Indonesia memasuki
akar demokrasi hidup dalam tradisi suatu era baru demokratisasi. Tertatih,
masyarakat Nusantara. Indonesia harus bergulat di antara
Namun, dalam sejarah Indonesia, tarikan yang menghendaki kembalinya
pemusatan kekuasaan terutama masa gelap kekuasaan dan yang
di era Sukarno dan Soeharto telah menginginkan terkonsolidasinya
mengakumulasi berbagai bentuk tatanan bersendi kedaulatan rakyat.
ketidakadilan. Kekecewaan masyarakat Perlu energi besar untuk memastikan
terhadap penguasa yang diekspresikan agar demokrasi menjadi the only game
melalui berbagai bentuk protes in town.

Dua perempuan pembuat penganan tradisional di pesisir pantai Bajawa, Flores, Nusa Tenggara
Timur. Pemerataan ekonomi dan kesejahteraan sosial masih menjadi mimpi masyarakat di
wilayah timur Indonesia.

Sumber: KHOMAINI.
50
indonesia zamrud toleransi

Keadilan Sosial bagi Seluruh 3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang
Rakyat Indonesia terkandung di dalamnya dikuasai
Tidak mungkin ada demokrasi politik oleh negara dan dipergunakan untuk
tanpa demokrasi ekonomi; inilah salah sebesar-besar kemakmuran rakyat.
satu titik temu antara pandangan 4. P erekonomian nasional
Sukarno dan pandangan Hatta diselenggarakan berdasar atas
tentang keadilan sosial. Bagi Sukarno, demokrasi ekonomi dengan prinsip
demokrasi adalah permusyawaratan kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
yang memberi hidup; karena itu, berkelanjutan, berwawasan
demokrasi politik-ekonomi harus lingkungan, kemandirian, serta
mampu mendatangkan kesejahteraan dengan menjaga keseimbangan
sosial. Bagi Hatta, demokrasi sosial kemajuan dan kesatuan ekonomi
adalah suatu penghubung antara nasional.
demokrasi politik dan demokrasi 5. K
 etentuan lebih lanjut mengenai
ekonomi; di sebelah demokrasi politik, pelaksanaan pasal ini diatur dalam
berlakulah demokrasi ekonomi. undang-undang.
Prinsip keadilan sosial tidak semata Tidaklah mengherankan bahwa bagi
memberi kebebasan bagi pengejaran Hatta pasal 33 UUD 1945 itu merupakan
tujuan-tujuan individual. Pada sisi sendi utama politik perekonomian
lain, kegotong-royongan memberi dan politik sosial Republik Indonesia.
suatu jaring pengaman yang idealnya Pasal tersebut menyiratkan bahwa
tidak membiarkan mereka yang negara mengemban tugas mewujudkan
berkekurangan lantas tercecer dalam keadilan sosial, yang dengan itu negara
suatu kompetisi sosial. Di sini negara menemukan basis keabsahan bagi
terbebani kewajiban untuk memastikan kekuasaan yang dimilikinya untuk
bahwa warga negara terpenuhi hak-hak menguasai sumber-sumber daya
dasarnya, melalui distribusi berkeadilan terpenting bagi kehidupan. Negara
atas sumber-sumber daya. Karena itu, perlu menjamin bahwa warga negara
negara diberi kewenangan besar untuk mendapatkan akses setara untuk dapat
mengelola sumber-sumber ekonomi mewujudkan hidup berkualitas.
yang menguasai hajat hidup orang Sayangnya, ketimpangan sosial
banyak. terus-menerus direproduksi oleh rezim
Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan: ekonomi yang memusat sekaligus
1. Perekonomian disusun sebagai eksploitatif. Pada 1950-an, di antara
usaha bersama berdasar atas azas pendorong utama pemberontakan
kekeluargaan. daerah ialah relasi yang tidak
2. Cabang produksi yang penting bagi berimbang dalam pemerintahan
negara dan yang menguasai hajat dan distribusi yang timpang dalam
hidup orang banyak dikuasai negara. perekonomian. Meski pemberontakan
51
akar toleransi indonesia

Seorang petani tengah memotong batang padi yang sudah siap untuk dipanen.

Sumber: Istimewa.

mereda, oleh represi militer, pada masa banyak tempat sebagai suatu tegangan
sesudahnya, pemerintahan Soeharto antara meningkatnya partisipasi dan
memperburuk kondisi demokrasi sosial memburuknya distribusi.
lewat kebijakan pembangunan yang Distribusi kekuasaan, melalui
tidak mengindahkan aspek keadilan otonomi daerah, menjadi suatu resep
tersebut. Buruknya demokrasi sosial, yang dipandang mampu menampung
sedemikian rupa, telah melemahkan melimpahnya gairah partisipasi dan
kapabilitas warga negara untuk tumbuhnya kesadaran baru identitas
melakukan partisipasi sosial. (di sini identitas politik berkelindan
Menguatnya konflik sosial selama dengan identitas lain yang lebih
periode transisi adalah ekses yang primordial, seperti identitas kesukuan
harus diterima Indonesia sebagai atau keagamaan). Dengan kekuasaan
konsekuensi kebijakan yang lebih besar, warga berhak memilih
mengabaikan keadilan sosial. Era secara langsung pemimpin-pemimpin
kebebasan ditandai oleh menguatnya pada level lokal; dengan kekuasaan
partisipasi dan kesadaran baru lebih besar, para pemimpin lokal
identitas, namun hal itu tidak dibarengi membutuhkan sumber daya lebih besar
kepemilikan sumber daya maupun untuk mengongkosi keberlangsungan
kapabilitas memadai. Konflik atas pemerintahan mereka. Pendekatan
penguasaan sumber daya—terutama ekonomi ekstraktif atas sumber-sumber
politik dan ekonomi—menggejala di alam semakin menggila dan distribusi
52
indonesia zamrud toleransi

sumber daya justru tidak menjadi lebih penjelajahan mengingat konteks


baik. Perbaikan distribusi sumber daya kepulauan yang amat menonjol.
di daerah-daerah kaya sumber daya Adanya pencirian “Proto-Melayu” dan
alam justru termasuk yang terburuk “Deutero-Melayu” perlu dilihat bukan
di antara daerah-daerah lainnya. sebagai pemisahan antarkelompok
Demokrasi politik sekaligus demokrasi masyarakat saat itu, seolah-olah
ekonomi masih jauh dari harapan, “Proto-Melayu” lebih tua atau terpisah
keduanya bahkan terus-menerus rentan dengan “Deutero-Melayu”. Pencirian
terhadap ancaman. ini lebih dalam konteks gelombang
pengetahuan yang menonjol, yang
E. Karakter Nusantara didukung oleh pergerakan masyarakat.
Indonesia dikenal sebagai negara Gelombang pengetahuan ini muncul
kepulauan yang dikelilingi perairan laut dalam teknologi penjelajahan dan
(archipelagic state). Dalam hubungan pemukiman terutama dalam, misalnya,
antarbangsa, Indonesia menyatakan cadik, fleksibilitas pemukiman, model
Deklarasi Juanda yang menjadi tonggak terasering (dan punden berundak),
penting pengakuan Indonesia sebagai rumah panggung. Hal ini amat kuat
Negara Kepulauan. Deklarasi ini juga terutama di bagian barat dan tengah
diakui dunia dalam memahami bangun “Indo-Malaysia”.
alam dan kebangsaan Indonesia Bentuk paling nyata dari karakter
sebagai Nusantara. Meskipun diakui Nusantara ini adalah peradaban
tidak mudah mengelola masyarakat yang berada di sekitar padi. Budi
Nusantara, klaim Nusantara ini bukan daya padi diperkirakan berasal
tanpa dasar. dari kawasan Tiongkok Selatan dan
Di kawasan Nusantara yang kawasan Jepang-Korea. Melihat
mencakup “Indo-Malaysia”, satuan bagaimana budi daya padi menjadi
masyarakat serta teknologi dasar, amat ekstensif dan intensif di Asia,
organisasi pemukiman, serta maka dapat dilacak bagaimana
penjelajahan sudah muncul sekitar peradaban Nusantara ini pada awalnya
10.000 tahun yang lalu. Kawasan ini tumbuh. Sejarah kemudian mencatat
menjadi ranah yang subur terhadap bagaimana “peradaban sekitar
tumbuh-kembangnya suatu peradaban. padi” ini memberikan pendalaman
Satuan masyarakat ini dapat dilacak yang luar biasa kuat, bahkan jika
dari alat-alat berburu dan pertanian hal itu dibandingkan dengan model
mereka, serta sistem kepercayaan penjelajahan dan perdagangan yang
mereka. sudah lebih dulu kuat dan tumbuh.
Untuk kawasan “Indo-Malaysia”, Denys Lombard, satu di antara
ada upaya melacak bagaimana satuan para sejarawan penting mengenai
masyarakat ini sudah melakukan Nusantara, memberikan penilaian
53
akar toleransi indonesia

bahwa peradaban sekitar padi ini peradaban mereka.


memberikan kontribusi integrasi Dalam landasan sosio-historis
Nusantara yang amat kuat. Dengan Nusantara, situasi sejenis ini juga
segala kekurangannya, termasuk memberikan kejutan yang menarik. Kita
tendensi membuat masyarakat menemukan adanya tokoh yang pada
menjadi bertingkat serta munculnya dasarnya mewujudkan kenusantaraan
gentry (lapisan sosial yang mempunyai dengan mengolah pengetahuan-
aset dan kontrol sosial), “peradaban pengetahuan penting dunia. Karaeng
sekitar padi” ini secara progresif Patinggaloang, misalnya, yang
memunculkan pusat-pusat peradaban, menguasai know-how sekaligus
termasuk ekonomi. memahami sejarah masyarakatnya,
Dalam sejarah, karakter mempunyai pemahaman mengenai
Nusantara—dalam hal intuisi asal- kosmologi (serta intuisi mengenai asal
muasal, penciptaan pengetahuan muasal) dan kemampuan menciptakan
dan paradigma—berkembang seiring pengetahuan beserta paradigmanya.
interaksi berbagai kelompok yang Karaeng Patinggaloang adalah seorang
hidup di kawasan Nusantara. Ketika polymath dan poliglot, sekaligus
melakukan konsolidasi pengetahuan menjadi perdana menteri.
dan pendalaman sejarah, “peradaban Jika kita melihat peralihan sejarah
sekitar padi” mempunyai peran besar. pra-republik, maka kita menemukan
Kemudian tumbuh interaksi antara bagaimana sekolah-sekolah menjadi
kelompok-kelompok pendatang dengan pendukung utama kehidupan sosial
masyarakat yang sebelumnya. ekonomi sebuah peradaban. Sekolah-
Dalam hal ini, peradaban sekolah di masa Sriwijaya, dan
Sriwijaya menjadi penanda pertama kemudian Majapahit, menghasilkan
bagaimana interaksi ini dibangun. ragam jenis aparat dan inteligensia
Melalui sekolah, armada laut, yang berperan dalam siklus peradaban
pergudangan, dan jalur komunikasi keduanya. Sekolah-sekolah jenis ini
yang dibangunnya, Sriwijaya membuka juga yang menjalin hubungan dengan
ruang interaksi antarperadaban. Hal sekolah di Asia Selatan, yaitu Nalanda,
ini sekaligus menjadi katalisator bagi dan di Tiongkok. I-Tsing/Yi-Jing adalah
perkembangan kebudayaan. Begitu sarjana yang terhubung erat antara
menonjolnya peradaban Sriwijaya ketiganya. Perannya sebagai inteligensia
ini sehingga peradaban-peradaban mencakup transformasi pengetahuan
Asia lainnya belajar dan mengambil ke dalam peradaban, dan juga
bentuk-bentuk terbaik dari Sriwijaya. memproyeksikan pandangan topografis
Peradaban Khmer, misalnya, juga terhadap peradaban Hindu-Buddha.
membangun sekolah-sekolah dan Amartya Sen mencatat dengan amat
armada laut sebagai katalisator menarik:
54
indonesia zamrud toleransi

…Memang, interaksi itu telah disemai kembali dalam interaksi sosial-


memperkaya dan juga berhasil politik Indonesia. Karakter ini dapat
menyebarkan bahasa Sanskerta dilihat dalam hal:
melewati batas-batas India selama
beberapa abad. Pada abad ke-7, 1. Siklus dunia atau siklus sejarah
seorang sarjana dari Tiongkok belajar Dalam lintasan waktu, masyarakat
bahasa Sanskerta di Jawa (di sebuah Nusantara telah mengalami beberapa
kota Sriwijaya) dalam perjalanannya kali guncangan (upheaval) yang
dari Tiongkok ke India. Pengaruh mengakibatkan terjadinya perubahan
interaksi itu terefleksi di dalam besar, termasuk yang disebabkan oleh
bahasa dan kosakata di sepanjang bencana alam. Menanggapi perubahan-
Asia, dari Thailand dan Malaysia perubahan besar tersebut, masyarakat
hingga Indochina, Indonesia, Nusantara melakukan upaya untuk
Filipina, Korea, dan Jepang. Hal ini mencermati dampaknya terhadap
juga terjadi di Tiongkok, di mana peradaban yang sudah dibangun,
kesarjanaan dalam bahasa Sanskerta
berkembang dengan sangat baik
di awal millennium, di samping
juga ada pengaruh yang datang
dari negara-negara lain di kawasan
tersebut. Cukup sering diakui bahwa
bahkan kata “Mandarin”, kata
yang menjadi konsep sentral dalam
kebudayaan Tiongkok itu diderivasi
dari kata Sanskerta, yakni Mantri,
yang datang dari India ke Tiongkok
lewat Malaysia. (Amartya Sen 2005:
85)

Karakter Nusantara adalah


kemampuan membangun rekaman
sejarah yang menjadi sumber pelajaran
mengenai era kontemporer dan masa
depan. Mereka mendirikan sejenis
ingatan kelembagaan (institutional
memory) sekaligus membangun visi Pelabuhan sejak dulu telah menjadi pusat
peradaban secara terus-menerus. perdagangan dan transaksi keuangan
masyarakat Nusantara.
Karakter ini mewarnai model interaksi
yang sekarang mulai dipelajari lagi dan Sumber: KHOMAINI.
55
akar toleransi indonesia

termasuk yang berpengaruh pada perspektif jangka panjang


kekuasaan, sumber daya, dan pranata Kehidupan keseharian sering
sosial-ekonomi. Pencermatan tersebut diwarnai perhitungan biaya-manfaat.
menghasilkan sebuah pemahaman Namun, masyarakat Nusantara memiliki
bahwa “kekuasaan” dituntut untuk karakter untuk lebih mengutamakan
mampu mengelola siklus tersebut. perspektif jangka panjang ketimbang
Dalam tataran tertentu, hal ini perhitungan jangka pendek tersebut.
menghasilkan peran orakel—ramalan Dalam lintasan sejarah, karakter
sekaligus kebijaksanaan untuk Nusantara mewujud dalam bentuk
menghadapi turbulensi zaman—pada nilai, bahasa, geodesi, tata kelola,
karakter Nusantara, sebagaimana dan sebagainya, yang terus-menerus
yang muncul dalam “Jangka berkembang tanpa henti, apa pun
Jayabaya” dan Ilmu Begja (Ki Ageng rezim kekuasaan dan rezim globalisasi-
Suryomentaraman). nya. Kekuasaan yang paling tiran
2. Long-term perspective/ pun biasanya tidak dapat mengatasi
superioritas perspektif ini.

3. Interaksi
Karena perhatiannya pada soal
siklus dan perspektif jangka panjang,
maka menjadi bisa dimengerti bahwa
karakter Nusantara muncul dalam
penghargaan atas “pertukaran
gagasan”. Ada ribuan informasi dan
pengetahuan yang muncul namun
belum diolah. Dalam hal ini, kesediaan
untuk belajar dan selalu mengolah
ditumbuhkan. Misalnya, pengetahuan
mengenai kondisi alam Nusantara
dibentuk dari pertukaran gagasan
dari beragam kebudayaan yang ada di
Nusantara, yaitu tradisi lokal, Hindu,
Buddha, Islam, dan kebudayaan Barat.

4. Perdagangan dan lapangan


Nusantara
Dalam pertumbuhan peradaban
Nusantara, perdagangan membawa
barang dan jasa sekaligus ilmu dan
56
indonesia zamrud toleransi

sekolah dari penjuru dunia ke tanah pengetahuan (teknik sipil, geodesi,


Nusantara. Sebaliknya, ilmu Nusantara arsitektur, dan lainnya) berkembang
dan sekolah-sekolah dikembangkan di bersama perdagangan dalam kurun
seluruh sudut dunia. Dalam konteks waktu yang cukup lama. Dalam lintasan
Sriwijaya, peradaban Nusantara waktu 4 abad, perdagangan dipakai
berinteraksi dengan peradaban India, sebagai alat, lintasan (trajectory), dan
Tiongkok, dan Khmer. Sebaliknya, sumber daya bagi peradaban yang
penjelajahan pedagang Bugis amat ditumbuhkan di pedalaman.
berkontribusi dengan perkembangan Kesadaran hidup dengan
komoditi rempah-rempah di berbagai masyarakat global muncul dari rempah-
daerah di dunia, sekaligus peradaban rempah dan perdagangan yang tumbuh
Islam yang dikembangkan dalam darinya. Perdagangan sekitar rempah-
kebijaksanaan Nusantara. rempah terus berkembang tanpa henti
Dunia kolonialisme bukan sejak masa Sriwijaya. Namun, perlu
satu-satunya penjelasan mengenai dicermati bahwa perdagangan adalah
bagaimana Nusantara tumbuh. suatu bentuk hubungan internasional
Lintas sejarah dalam peradaban ini yang “non-hegemonik” atau “non-
menunjukkan bahwa globalisasi penaklukan”. Dalam sejarah wilayah
juga menjadi cara hidup masyarakat Nusantara, hal ini menjadi lebih nyata.
Nusantara. Cara pandang terbuka dan Setiap kekuatan dagang yang mau
optimis ini dicerminkan oleh modus membangun ragam kekuatan menjadi
penjelajahan kelompok-kelompok monolitik akan menemui kegagalan.
dagang Nusantara. Pramoedya Ananta VOC sendiri gagal di Nusantara. Begitu
Toer, misalnya, dalam Arus Balik, pun, kerajaan-kerajaan Nusantara yang
mengambil konteks dampak serangan monolitik, juga dalam perdagangan,
Demak ke Malaka (1511) terhadap tidak mempunyai siklus hidup (lifecyle)
elan peradaban di Nusantara. Cara yang panjang.
pandang ini dianggap amat umum di Berada di antara kekuatan besar
kalangan kerajaan dan pedagang di dunia, seperti India, Khmer, Thai,
wilayah pesisir Nusantara, bahkan di Tiongkok, Vietnam, kekuatan-kekuatan
masa kolonialisme (dilihat mulai dari dagang (guild) Nusantara selalu
masuknya VOC). melihat perdagangan sebagai trajectory
Konteks lain, kita melihat jenis yang operasional. Perebutan Laut
pengetahuan Prambanan (abad ke-9) Tiongkok Selatan tidak terjadi karena
diproyeksikan dalam kompleks candi perdagangan membuat kelompok-
Angkor Wat (abad ke-11). Konteks kelompok tersebut menghargai
ini menarik karena, meski Mataram kawasan Laut Tiongkok Selatan
Hindu dan Khmer mempunyai sifat sebagai platform bagi “kemakmuran
“pedalaman” yang kuat, proyeksi pedalaman”. Dalam perjalanan sejarah,
57
akar toleransi indonesia

ilmu dan sekolah turut berkembang bahkan kolonialisme, maka reaksi


dalam perdagangan ini. kelompok-kelompok Nusantara menjadi
Perlu juga dilihat konteks keras (harsh) dan berkelanjutan
perdagangan dan nilai yang dibawa. (sustained). Episode Cultuurstelsel
Misalnya, ilmuwan Tiongkok dan India semakin memberikan penegasan
amat menghargai matematika, susastra, mengenai akibat adanya dominasi
dan arsitektur. Perdagangan membawa tunggal. Episode ini sekaligus
ketiganya. Misal lain, pedagang Gujarat mematahkan anggapan bahwa
membawa peradaban Islam dari “pedalaman dan pesisir” tidaklah
berbagai sekolah di Timur Tengah dan berhubungan. Cultuurstelsel adalah
Asia Tengah. Tidaklah mengherankan, pemaksaan keras pertanian untuk
lapangan Nusantara menjadi amat kepentingan sempit perdagangan,
diperkaya. Termasuk dalam hal ini diikuti militerisasi.
adalah kemampuan peradaban Islam Perspektif “anti-kolonialisme”
memindahkan perhatian peradaban memperkuat intuisi “anti-hegemoni”
dari kekuasaan konsentrik menjadi atau “anti-penaklukan” yang
relasi konfederatif. Bagi Nusantara, berkembang dalam sifat perdagangan
sumbangan ini tidak dapat dibilang kelompok-kelompok Nusantara. Sisi-
kecil. Berulang kali monolitisme gagal, sisi laut Nusantara yang terbuka dan
dan kemudian pedagang Gujarat memungkinkan bagi banyaknya jalur
dan peradaban Islam melaluinya perdagangan semakin memperkuat
mengembangkan ide-ide konfederatif. karakter Nusantara yang anti terhadap
berbagai bentuk pemaksaan.
5. Perdagangan pembentukan
ideal “commonwealth”
“Commonwealth” berarti “makmur
bersama” atau persemakmuran. Dalam
arti ini, perdagangan memainkan
peranan besar seturut kondisi
kepulauan Nusantara. Peradaban
yang dihasilkan dari perdagangan
ini menumbuhkan sentimen rileks
terhadap banyaknya pusat-pusat
pertumbuhan, suatu perspektif
konfederatif. Dengan pengetahuan yang
tersebar luas, justru pertukaran barang-
jasa dan pertukaran ide menjadi subur.
Ketika VOC masuk dan
mendesakkan kekuatan dominan,
58
indonesia zamrud toleransi

Keelokan pantai Bajawa, Flores, Nusa


Tenggara Timur mampu menarik perhatian
wisatawan untuk berkunjung ke kawasan ini.

Sumber: KHOMAINI.
59
60
indonesia zamrud toleransi

PENGALAMAN
HIDUP
BERSAMA

P
erjalanan hidup bangsa Sebagaimana sudah dikatakan
Indonesia bukan tanpa di awal buku ini, bangsa Indonesia
masalah. Konflik antaretnis terdiri atas banyak bangsa, suku, etnis,
dan kekerasan yang agama, dan bahasa. Bukan sesuatu
mengatasnamakan agama yang mudah bagi bangsa semacam ini
baik dalam skala kecil maupun yang untuk bisa hidup bersama. Bab ini akan
besar terjadi di negeri ini. Kita bisa mengisahkan berbagai pengalaman
menunjuk banyak tempat di Indonesia masyarakat kita hidup bersama dalam
di mana konflik-konflik semacam perbedaan berikut berbagai persoalan
itu pernah terjadi. Namun, yang yang menyertainya. Berbagai konflik
menarik dan menjadi salah satu alasan pernah terjadi: di Maluku antara umat
penulisan buku ini adalah kemampuan Islam dan Kristiani; di Kalimantan
masyarakat Indonesia untuk tetap mau antara etnis Dayak dan Madura, dan
hidup bersama sebagai satu bangsa dan juga antara etnis Madura dan Melayu;
bagaimana mereka membangun budaya di Sumatra Utara antara umat Muslim-
hidup bersama di dalam keragaman Melayu dengan etnis Tionghoa; di Bali
dan perbedaan. Bagi kami, apa yang terjadi dua kali serangan bom (Bom
mereka lakukan adalah sesuatu yang Bali I dan II) oleh kelompok ekstremis;
luar biasa. Sangat sedikit bangsa di dan masih ada banyak konflik lain yang
dunia yang bisa melakukannya. pernah terjadi di Indonesia.
61
pengalaman hidup bersama

indah. Sudah sejak lama, kehidupan


masyarakat Maluku menjadi simbol
toleransi keragaman agama di
Indonesia. Ada dua agama besar di
Maluku, yakni Islam dan Kristen. Orang
Maluku menyebut Salam untuk Islam
dan Sarane untuk Nasrani atau Kristen.
Secara sosial-budaya, kehidupan
masyarakat Maluku masih terikat dalam
garis kesukuan dan marga. Beberapa
marga identik dengan agama tertentu,
Masjid Agung Al-Ghuraba Baiturrahman tetapi beberapa marga yang lain justru
Bajawa (sebelum direnovasi) dan Gereja
berbagi, sebagian menjadi Islam dan
GMIT Ebenhaezer. Lokasinya berdampingan
di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Kisanata, sebagian yang lain menjadi Kristen.
menunjukkan kerukunan antarumat
Untuk menghindari terjadinya konflik
beragama berlangsung baik di tanah Bajawa,
Flores. karena alasan agama, masyarakat
Maluku memiliki sistem budaya yang
Sumber: KHOMAINI.
dianggap dan diharapkan mampu
Dalam konflik-konflik tersebut, meredam kemungkinan terjadinya
kita melihat upaya-upaya berbagai konflik. Mereka memiliki beberapa
pihak, baik yang dilakukan di level tradisi yang bisa merekatkan perbedaan
kultural maupun struktural, untuk melalui kerja sama dan ikatan
memperjuangkan sebuah rumusan persaudaraan. Beberapa tradisi itu
bagaimana bisa hidup bersama di misalnya adalah pela gandong, masohi,
dalam keragaman, tanpa ada niat untuk badati, dan maano.
mengeksklusi pihak yang lain. Apa
yang lahir dari upaya itu, pada tingkat
tertentu, barangkali masih belum ideal.
Namun, secara praktis telah berhasil
membuat kita bisa bertahan sebagai
sebuah bangsa yang majemuk hingga
saat ini. Bagi kami capaian ini sudah
luar biasa. Ini yang hendak kami bagi
kepada sidang pembaca.
Pasawari Adat “Panas Pela” Amahai Ihamahu
mengenang dan memperkuat kekerabatan
A. Inspirasi Perdamaian dan hubungan sosial di Pulau Seram, Maluku
dari Maluku Tengah (20/9/2016).
Maluku, sebuah daerah kepulauan Sumber: https://ipji.org/2016/09/30/panas-
di Indonesia timur yang sangat pela-amahai-satu-darah-satu-gandong/.
62
indonesia zamrud toleransi

sebenarnya masih terjadi konflik, hanya


saja sudah dalam skala yang lebih kecil.
Dalam melihat konflik Maluku, tidak
ada orang yang mengira bahwa Maluku
dan Ambon menjadi battle ground
antara muslim dan Kristen dalam skala
yang luas dan mengerikan.
Pada zaman kolonial, Maluku dan
kota Ambon adalah daerah penting
sebagai salah satu pusat perdagangan.
Pemerintah kolonial di masa itu
cenderung membuat kebijakan
diskriminatif yang memberikan banyak
Tarian Dansa Tali diperagakan pada keuntungan bagi penduduk Ambon
acara “Panas Pela” (mempererat ikatan
kekerabatan) antara empat negeri (desa) yang beragama Kristen. Pemerintah
yaitu Waai, Soya, Kaibobu dan Morella, di Belanda banyak memperkerjakan orang
pelataran Masjid Negeri Hausihu Morella,
Pulau Ambon, Maluku, Selasa (5/8/2014). Kristen Ambon untuk administrasi
dan juga kemiliteran. Sementara
Sumber: http://beritadaerah.
co.id/2014/08/05/panas-pela-di-pulau-
orang Ambon yang muslim, lebih
ambon-maluku/. terpinggirkan. Mereka tinggal di
desa-desa dan dari segi pendidikan
Namun, sistem budaya yang ada di bawah orang Ambon yang
diharapkan mampu meredam segala Kristen (Bertrand 2012: 186). Pada
perbedaan itu tidak mampu menahan zaman Orde Baru, gerak sebaliknya
konflik sosial yang pecah pada 19 terjadi. Pemerintah memberikan akses
Januari 1999 silam. Konflik yang dimulai kekuasaan kepada banyak kelompok
oleh sebuah pertengkaran kecil antara muslim.
pemuda Batu Merah yang muslim Hal itu diakui oleh tokoh
dan Mardika yang Kristen kemudian perdamaian, baik dari kelompok
berkembang menjadi konflik saling muslim maupun Kristen. Pendeta Jack
bunuh dan saling menghancurkan Manuputty dan Abidin Wakano menilai
dalam skala yang sulit dibayangkan pemerintah kolonial di masa lalu telah
sebelumnya. Konflik besar ini terjadi membangun segregasi berdasarkan
dalam beberapa fase dengan skala agama di Maluku. Segregasi itu terus
yang cukup luas. Ketegangan antara bertahan hingga Indonesia merdeka.
dua kelompok agama ini terus terjadi Pengelompokan itu terjadi tidak
hingga ada kesepakatan Malino 2 yang hanya di kampung-kampung yang
ditandatangani pada 2002. Setelah identik dengan agama tertentu,
kesepakatan itu, di beberapa tempat tetapi juga di institusi pendidikan
63
pengalaman hidup bersama

dan kantor-kantor pemerintahan. konflik karena perbedaan agama.


Pecahnya konflik 1999, salah satunya Kemampuan masyarakat Maluku
dipicu oleh pengelompokan semacam untuk mau hidup bersama dalam
itu. Pemerintah dianggap gagal keragaman ditopang oleh para tokoh
membangun sistem inklusi sosial masyarakat yang aktif memberikan
yang berkeadilan bagia kedua belah teladan pendidikan toleransi. Berbagai
pihak. Kebijakan yang dibangun kekuatan sosial yang mereka miliki
justru menimbulkan permusuhan dan kembali dihidupkan dan diaktifkan.
dianggap meminggirkan satu kelompok Misalnya, tradisi pela gandong yang
tertentu. cukup terkenal di Maluku. Pela
Ketika konflik meletus di Maluku Gandong merupakan kesepakatan yang
banyak orang kaget dan tidak mengira dilakukan oleh dua negeri (kampung)
bahwa skalanya menjadi sangat luas. atau lebih. Melalui Pela, mereka saling
Bagi banyak pihak, khususnya di mengikat persaudaraan. Pela Gandong
level nasional, konflik itu merupakan sendiri merupakan intisari dari kata
perang antara Muslim dan Kristen. “Pela” dan “Gandong”. Pela adalah
Para tokoh agama yang ada di Ambon suatu ikatan persatuan sedangkan
pada awalnya terjebak dalam kondisi gandong mempunyai arti saudara. Jadi
itu karena masyarakat betul-betul pela gandong merupakan suatu ikatan
terpecah dalam kelompok Muslim persatuan dengan saling mengangkat
dan Kristen. Namun, para aktivis saudara.
setempat kemudian mencoba menjaga
jarak sehingga mereka berpandangan
bahwa sejatinya konflik itu bukan Pela Gandong
masalah agama. Tokoh-tokoh lintas
agama dari seluruh kawasan Maluku Tradisi Pela gandong adalah
tradisi yang ada dalam masyarakat
saling berkoordinasi untuk merajut
Maluku. Biasanya pela gandong
perdamaian yang tengah koyak. dilakukan oleh dua negeri yang
Bekerja sama dengan pemerintah pusat berlainan agama (umumnya Islam
mereka meniti perdamaian. Hasilnya, dan Kristen). Misalnya ikatan
persaudaraan yang dilakukan oleh
kini Maluku benar-benar menjadi
negeri Kailolo dan Tihulale yang
simbol toleransi yang amat penting berada di Kabupaten Maluku Tengah
bukan hanya bagi Indonesia tetapi yang pada tanggal 2 Oktober 2009
juga bagi dunia. Duta besar Vatikan di hadapan Gubernur Maluku. Mereka
saling mengangkat pela sebagai ikat
untuk Indonesia, Antonio Guido saudara.
Filipazzi mengakui itu. Keragaman tidak Hubungan antara Tihulale dan
membuat mereka saling memusuhi. Kailolo bisa ditelusuri jauh ke masa
lalu. Dalam perang Alaka kedua,
Pengalaman itu tentu sangat inspiratif
ketika Belanda menyerang kerajaan
bagi masyarakat dunia yang dirundung
64
indonesia zamrud toleransi

yang cukup terkenal. Selain itu, mereka


Hatuhaha (Hulaliu, Kabau, Kailolo, juga memiliki ikatan marga (famili) yang
Pelau, dan Rumoni), Kapitan Tihulale juga cukup mengakar.
membantu kerajaan Hatuhaha hingga Tradisi pela sebenarnya ada
membawa kemenangan dengan
memukul mundur Belanda.
beberapa jenis, yakni pela darah, pela
Peperangan inilah yang akhirnya sirih, dan pela gandong. Pela darah
mengikat Negeri Tihulale dengan adalah jenis pela paling keras. Di
Kelima negeri Hatuhaha, yaitu dalamnya ada larangan dan kewajiban
Hulaliu, Kabau, Kailolo, Pelau, dan
Rumoni dalam satu hubungan Pela. yang sangat mengikat. Perjanjian
Keakraban antara Kailolo dan Tihulale dalam pela ini dilakukan dengan
ini diperlihatkan pada saat negeri meminum darah yang diambil dari jari
Kailolo membangun masjid Nan Datu,
tangan para pemimpin kelompok yang
mereka mengundang masyarakat
negeri Tihulale untuk membantu. dimasukkan ke dalam gelas. Mereka
Undangan ini disambut dengan kemudian meminum air itu. Melalui
bantuan yang betul-betul konkret. pela ini mereka kemudian menjadi
Masyarakat negeri Tihulale datang
dengan membawa sejumlah kayu
saudara selama-lamanya dan di antara
dan papan yang dapat digunakan mereka tidak boleh terikat dalam
untuk membangun masjid. Sebaliknya perkawinan. Sebagai saudara mereka
ketika negeri Tihulale membangun wajib saling melindungi dan saling
Gereja Beth Eden, warga negeri
Kailolo pun menyumbang banyak membantu. Sementara pela sirih lebih
keramik. lunak daripada pela darah. Pela ini
ditetapkan melalui sumpah untuk saling
membantu dan melindungi. Berbeda
dengan dua pela sebelumnya, gandong
Budaya Masyarakat Maluku lebih menyiratkan persahabatan yang
Sebagai pusat perdagangan dunia terbentuk karena adanya kesadaran
di masa lalu, masyarakat Maluku sudah garis turunan. Gandong sendiri berasal
menerima kedatangan bangsa-bangsa dari kata kandung.
besar sejak lama, seperti Arab, Portugis, Dalam tradisi bergandong dan juga
dan Belanda. Bahkan kini orang Jawa, pela lainnya, sesuatu yang memalukan
Buton, Bugis, dan Makassar juga turut jika saudara dalam ikatan pela itu
mewarnai komposisi masyarakat tidak turut membantu saudaranya
Maluku. Agama Islam, Kristen, dan yang membutuhkan bantuan. Mereka
Katolik telah menjadi bagian yang tidak memandang kelalaian itu sebagai aib.
bisa dipisahkan masyarakat Maluku Karenanya ketika satu desa sedang
baik yang di utara, tengah, selatan, dan membutuhkan bantuan seperti
tenggara. Sudah sejak lama masyarakat pembangunan rumah ibadah, saudara
Maluku memiliki tradisi kekeluargaan dalam ikatan pela ini akan turut serta
yang sangat kuat. Tradisi pela adalah membantu.
65
pengalaman hidup bersama

perbedaan keyakinan, seperti masohi,


badati, dan maano. Tradisi-tradisi ini
mengikat dan menyadarkan masyarakat
untuk selalu saling membantu setiap
kali ada salah satu anggotanya yang
membutuhkan bantuan.

Aktor Perdamaian di Maluku


Konflik yang mengatasnamakan
agama di Maluku justru melahirkan
banyak tokoh yang menginspirasi
perdamaian. Mereka tidak hanya
Tradisi pela dan gandong merupakan bentuk berhasil mengakhiri konflik tetapi
kearifan lokal masyarakat Maluku untuk
memelihara kekerabatan dan persaudaraan. juga semakin menegaskan bahwa
agama yang dianut masyarakat Maluku
Sumber: https://disbudparkabmtb.files.
wordpress.com/2008/11/13112008502. sejatinya tidak mengajarkan kekerasan,
apalagi tindakan membunuh.
Selain ikatan pela, masyarakat Pengalaman konflik yang pahit semakin
Maluku juga memiliki famili atau meneguhkan ikatan persaudaraan
marga. Mereka yang menjadi bagian mereka.
dari marga tertentu dianggap sebagai
bagian dari keluarga inti. Satu marga Abidin Wakano dan Jack Manuputty
bisa saja tersebar ke beberapa desa dan Abidin Wakano dan Jack Manuputty
juga bisa memiliki agama yang berbeda. adalah sebagian dari tokoh penting
Misalnya marga Pelupessy tidak hanya yang menggagas upaya damai di
ada di negeri Siri Sori yang muslim Ambon. Mereka menggagas sebuah
tetapi juga ada di negeri Ouw (Kristen), gerakan yang disebut Gerakan
negeri Paperu (Kristen) dan negeri Siri Provokator Damai. Sebelumnya
Sori Serani (Kristen). Begitu juga marga mereka juga sudah terlibat aktif dalam
Tanamal di Nusalau, Saparua yang pendirian Lembaga Antar-Iman Maluku
kebetulan Kristen namun di Werinama, (LAIM). Latar belakang Abidin Wakano
Seram justru beragama Islam. Mereka adalah seorang pengajar di IAIN Ambon
yang terikat dalam satu marga menjaga dan juga Universitas Kristen Indonesia
hubungan dengan saling kunjung ketika Maluku. Sementara Jack Manuputty
ada perayaan hari besar masing-masing. adalah seorang pendeta yang aktif
Masih ada beberapa tradisi menyebarkan pesan perdamaian.
masyarakat Maluku yang memiliki Dalam melihat keragaman di
semangat kebersamaan sebagai sebuah Maluku, mereka berpikir perlu ada
masyarakat, meski mereka memiliki upaya inklusi sosial yang aktif dari
66
indonesia zamrud toleransi

pemahaman ini mereka kemudian


bergerak dan mengajak masyarakat
untuk berpartisipasi menciptakan
perdamaian.
Mereka sengaja menggunakan
kata “provokator” bagi gerakan
mereka untuk membalik logika yang
berkembang selama ini. Seakan-akan
kata itu memiliki makna negatif. Dalam
pandangan mereka kata provokator
sebenarnya netral. Karenanya kata
itu juga bisa dipakai untuk mengajak
Abidin Wakano. orang membangun situasi damai. Itulah
yang mereka lakukan melalui gerakan
Sumber: www.malukupost.com.
Provokator Damai ini.
Dalam pandangan mereka,
seluruh komponen masyarakat. perdamaian harus didorong dan
Menurut mereka, sejak zaman kolonial, diprovokasi. Gerakan ini tentu
masyarakat Maluku sudah tersegregasi mengandaikan bahwa sebenarnya
menurut agama, antara negeri Islam selalu ada benih perdamaian dalam
dan negeri Kristen. Di beberapa tempat setiap orang, sebagaimana juga ada
memang terjadi percampuran, namun benih kekerasan dalam diri setiap
di banyak tempat, sebuah kampung orang. Hanya saja, benih apa yang
identik dengan agama tertentu. dirangsang untuk berkembang
Segregasi juga terjadi di lembaga bergantung pada “provokasi” apa
pendidikan dan pemerintahan yang yang terus dilakukan. Jika provokasi
hanya diisi oleh satu agama tertentu. damai terus dilakukan, maka nilai-nilai
Kondisi ini tentu turut menyuburkan perdamaian yang akan berkembang.
benih-benih perselisihan dan stereotip Dalam memprovokasi dan
terhadap pihak lain. Kerusuhan 1999, menumbuhkan benih perdamaian
antara lain dipicu oleh kondisi itu. mereka aktif “melawan” media arus
Ketika konflik antara muslim dan utama yang cenderung memprovokasi
Kristen pecah, mereka memahami pada permusuhan. Bahasa-bahasa
bahwa perdamaian tidak bisa lahir yang dipilih seharusnya tidak semakin
begitu saja secara natural. Perlu ada menumbuhkan rasa permusuhan
upaya dari para aktor yang memiliki antar-kelompok. Melalui Gerakan
kepedulian untuk melakukan Provokator Damai, mereka juga
tindakan yang mencegah rasa aktif dalam penulisan cerita tentang
permusuhan semakin melebar. Dengan perjumpaan antar-iman, sanggar tari
67
pengalaman hidup bersama

Reconciliation and Mediation Center-


ARMC. Ia mengajak kelompok-
kelompok yang pernah terlibat
dalam konflik untuk merajut kembali
perdamaian dengan saling “live in”
di tempat pihak yang pernah saling
berlawanan. Seorang muslim diminta
untuk tinggal beberapa hari di rumah
keluarga yang beragama Kristiani
dan juga sebaliknya. Meski awalnya
menimbulkan kekhawatiran dari pihak
yang akan live in, namun setelah tinggal
beberapa hari mereka merasakan
Pendeta Jack Manuputty. sendiri kehangatan persaudaraan itu.
Proses ini berhasil mengobati luka lama
Sumber: www.satuharapan.com/Sabar Subekti.
yang pernah ada.

antar-iman, dan lain-lain. Intinya Josep Matheus Rudolf Fofid


mereka ingin menebalkan kesadaran Tokoh yang juga penting dalam
bahwa perdamaian harus diciptakan proses bina damai di Maluku adalah
oleh mereka sendiri. Karenanya mereka Josep Matheus Rudolf Fofid. Dalam
berusaha aktif membangun kesadaran konflik 1999, ia kehilangan orang-orang
ini di semua sisi. yang dicintai. Ayah dan dua kakaknya
Pendeta Jacky Manuputty kini juga meninggal dalam peristiwa itu. Namun,
aktif membangun kembali tradisi Pela. ia mencoba memahami semua itu.
Ia mengikatkan tali persaudaraan antar- Baginya yang membunuh dan yang
negeri di Maluku, khususnya antara dibunuh sejatinya adalah korban.
negeri muslim dan negeri Kristen. Karenanya ia belajar untuk tidak
Ia berharap kerusuhan yang terjadi menyimpan dendam.
di penghujung abad 20 adalah yang Pada saat peristiwa itu terjadi,
terakhir. Ia ingin agar Maluku tetap masyarakat terbelah berdasarkan
bertahan dalam perdamaian meski agama, Muslim dan Kristen. Tidak
mereka memiliki agama yang berbeda- hanya itu, bantuan kemanusiaan dan
beda. media juga terbelah sehingga semakin
Abidin Wakano, selain di memanaskan situasi. Butuh waktu bagi
Gerakan Provokator Damai, di IAIN siapa pun untuk memahami situasi saat
ia juga mengembangkan program itu agar tidak terjebak dalam sentimen
pendidikan dan pelatihan rekonsiliasi kelompok.
dan perdamaian dalam Ambon Ia yang kebetulan saat itu berprofesi
68
indonesia zamrud toleransi

kasih kepada semua.


Setelah konflik berakhir, ia masih
tetap aktif menjaga perdamaian di
Maluku. Dalam pandangannya, konflik
bisa terjadi setiap saat dan bisa bermula
dari hal yang remeh-temeh. Melalui
upayanya ini ia ingin agar masyarakat
Maluku lebih siap mengelola keragaman
dan tidak lagi bisa diprovokasi untuk
membenci kelompok lain. Karena
komitmennya yang terus berkelanjutan
dalam menyebarkan perdamaian ia
Josep Matheus Rudolf Fofid. pernah diberi penghargaan Maarif
Award, penghargaan yang diberikan
Sumber: www.katoliknews.com.
oleh Maarif Institute—sebuah,
sebagai wartawan Suara Maluku lembaga yang bergerak di bidang
mengajak rekan-rekan lain lintas kebudayaan dalam konteks keislaman,
agama untuk tidak terjebak dalam kemanusiaan, dan keindonesiaan yang
sentimen kelompok dan mencoba didirikan oleh mantan Ketua Umum
merumuskan kode jurnalistik yang Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif.
tidak partisan. Bahasa yang digunakan
dipilih agar tidak membuat pihak-pihak Suster Brigitta
tertentu semakin terbakar kebencian Suster M. Brigitta Renyaan adalah
dan permusuhan. Ia juga mencoba salah seorang yang terlibat aktif dalam
merangkul semua pihak untuk terlibat proses rekonsiliasi ketika terjadi konflik
dalam menyebarkan benih-benih yang mengatasnamakan agama (Islam
perdamaian di kelompoknya masing- vs. Kristen) di Ambon. Ia bersama
masing. jaringan lintas iman, dari Protestan dan
Dalam melakukan itu, ia harus Muslim, membentuk sebuah kelompok
menghadapi ancaman dari pihak-pihak bernama Gerakan Perempuan Peduli
yang berseteru. Bukan hal mudah untuk (The Concerned Women Movement
membangun kepercayaan di tengah Group).
masyarakat yang saling konflik. Namun Suster Brigitta sendiri adalah
karena kerja keras dan kepercayaan koordinator Gerakan Perempuan
bahwa masih ada yang bisa diajak untuk Peduli dari agama Katolik. Kehadiran
membina perdamaian, perjuangannya Gerakan Perempuan Peduli (GPP)
membuahkan hasil. Jaringan komunitas sangat membantu mengurangi tingkat
lintas imannya menyebar dan setiap konflik dan permusuhan yang terjadi
jaringan terus mengabarkan pesan di Maluku sejak 1999. Mereka sangat
69
pengalaman hidup bersama

rentan. Ia merasa perlu menghentikan


ini. Melalui Gerakan Perempuan Peduli
(GPP) ia membangun komunikasi lintas
iman untuk menghentikan kekerasan
serta memperjuangkan hak-hak
perempuan dan anak.
Mengumpulkan para ibu dalam
suasana situasi konflik tentu bukan
hal mudah. Apalagi didasarkan pada
jaringan lintas iman, karena konflik
itu sendiri memakai atas nama agama.
Karenanya, sebelum berkumpul
mereka biasanya saling berjanji untuk
bertemu secara diam-diam supaya tidak
Suster Brigitta.
diketahui orang lain yang terlanjur
Sumber: Istimewa.
memiliki rasa permusuhan pada agama
gigih memperjuangkan perdamaian. yang dianggap lawan (Islam atau
Gerakan mereka dipelopori oleh para Kristen).
perempuan. Sebagian dari mereka Semua kesulitan yang ia hadapi
adalah para ibu. Perempuan dan para tidak meluruhkan semangatnya. Untuk
ibu adalah kelompok yang menderita melancarkan misi perdamaiannya, ia
dalam konflik di Maluku dan di mana aktif mendatangi berbagai pihak yang
pun. dianggap potensial dalam mengurangi
Sejak konflik di Maluku pada 1999 konflik. Mereka membangun
berlangsung, Suster Brigitta dan kawan- komunikasi dengan gubernur, tentara,
kawan dari komunitas lintas iman polisi, DPRD (baik provinsi atau kota-
bergerak menyuarakan pentingnya kabupaten) untuk menghentikan
menghentikan kekerasan. Tindakan konflik dan pertikaian.
mereka tentu bukan tanpa risiko. Lahir di Langgur, Maluku Tengah,
Mereka harus menghadapi ancaman Suster Brigitta menjadi biarawati di
teror akan dibunuh oleh pihak-pihak Biara Puti Bunda Hati Kudus, Kota
tertentu. Namun, ia tidak gentar Ambon sejak 1975. Ia memilih hidup
dengan ancaman itu. Ia terus bergerak untuk berbagi kasih kepada sesama
menyampaikan dan memperjuangkan dengan menjadi biarawati. Di biara itu,
perdamaian. ia menempa iman dalam bentuk cinta
Ia bercerita, ketika konflik di Maluku kasih kepada semua umat manusia.
pecah, ada begitu banyak perempuan Maka, ketika terjadi konflik yang
dan anak-anak yang menjadi korban. mengatasnamakan agama, ia merasa
Mereka adalah kelompok yang paling hal itu bertentangan dengan iman yang
70
indonesia zamrud toleransi

diyakininya. Ia kemudian membangun di daerah pesisir pantai. Agama Islam


komunitas lintas iman yang memiliki pada umumnya dibawa oleh para
visi perdamaian antarsesama umat pedagang dari Bugis dan Ternate.
manusia. Sementara agama Kristen terfokus di
Setelah konflik berakhir, ia tetap daerah perbukitan. Dalam kehidupan
aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia ekonomi, kelompok muslim biasanya
mendampingi perempuan dan anak- bekerja sebagai nelayan dan penjual
anak yang menjadi korban konflik dan ikan sementara kelompok Kristen
juga bencana. Dalam upaya itu, ia menanam sayur dan menjualnya.
aktif dalam tiga yayasan sosial, yakni Konflik 1998 di Poso bermula dari
Yayasan Kasih Mandiri Ambon, Yayasan kompetisi elite lokal yang kebetulan
Astidharma yang memperjuangkan berasal dari dua agama yang berbeda.
nasib anak dan pendidikan, serta Pada Desember 1998, ketika kekuasaan
Gerakan Peduli Perempuan. Tempat Bupati Arif Patanga akan berakhir,
tinggalnya di kawasan Batumeja tak muncul dua tokoh yang menginginkan
pernah sepi. Hingga larut malam, pintu jabatan itu. Dua tokoh itu adalah
selalu terbuka untuk siapa saja yang Damsyik Ladjalani dan Yahya Patiro.
membutuhkan uluran tangan. Keduanya sebenarnya sama-sama
kader Golkar. Hanya saja, Damsyik
B. Merajut Damai di Poso yang kebetulan muslim didukung oleh
Dalam catatan hubungan antarumat PPP yang merupakan partai Islam
beragama di Poso sebenarnya cukup sementara Patiro yang kebetulan
sedikit didapati sejarah konflik Protestan didukung PDI-P dan tokoh-
antaragama. Meski masyarakat Poso tokoh Kristen. Perebutan kursi Bupati
berbeda agama, sebelum 1998 tidak oleh dua tokoh yang berasal dari agama
pernah terdengar konflik besar karena yang berbeda menyeret pendukungnya
perbedaan agama. Karenanya cukup dengan melakukan memobilisasi
mengherankan ketika 1998 terjadi sentimen agama. Sejak itu, perseteruan
konflik besar yang mengatasnamakan kemudian didasarkan pada agama.
agama. Kehidupan masyarakat Poso, Meski akhirnya mereka berdua
baik Muslim maupun Kristen diikat gagal, karena DPRD memilih calon
dalam kehidupan mosintuwu (si=sama, yang lain, yakni Muin Pusadan
tuwu=hidup, sehidup semati dalam yang kebetulan juga kader Golkar,
kehidupan). Dalam kehidupan bersama perseteruan antara dua tokoh tadi tetap
itu, cukup umum terjadi kegiatan saling tidak berakhir. Perseteruan itu terjadi
membantu ketika masing-masing agama kembali ketika Gubernur harus memilih
merayakan hari besarnya. seorang Sekwilda, orang berkuasa
Secara demografis, penyebaran nomor dua di sebuah daerah. Keduanya
agama Islam di Poso terkonsentrasi menginginkan jabatan strategis itu.
71
pengalaman hidup bersama

Karena potensi konflik sangat besar, secara diam-diam menyeleksi siapa saja
Gubernur akhirnya tidak memilih tokoh agama yang pantas diundang.
keduanya. Namun situasi sudah Akhirnya ditemukan 10 orang dari
sulit dikendalikan. Tindakan saling muslim dan 10 orang dari kelompok
provokasi mengakibatkan konflik antara Kristen. Sebuah tempat pertemuan
kelompok muslim dan Kristen tidak rahasia kemudian disiapkan untuk
bisa dihindari. masing-masing kelompok. Setelah
Untuk menghentikan konflik beberapa kali melakukan pertemuan,
antarpihak yang bertikai, pemerintah masing-masing pihak bersepakat
daerah dan pusat mengambil inisiatif mengakhiri konflik.
mengumpulkan para tokoh adat di Meski kesepakatan ini dikritik oleh
Poso. Mereka menyelenggarakan sebagian pihak karena tidak melibatkan
pertemuan bertajuk Rujuk Sintuwu kelompok yang menjadi korban,
Maroso. Melalui pertemuan itu kesepakatan Malino I ini dianggap
mereka mengingatkan pentingnya berhasil mentransformasi konflik ke
hidup bersama dan bersepakat situasi yang lebih kondusif. Pertikaian-
untuk mengakhiri konflik. Secara pertikaian kecil memang beberapa
simbolis, dalam pertemuan adat kali terjadi, tetapi sudah berkurang
itu, mereka melakukan motambu signifikan. Salah satu kemajuan penting
tana, yakni penyembelihan seekor dari deklarasi ini adalah penyerahan
kerbau dan menguburkan kepalanya senjata rakitan oleh pihak-pihak yang
di dalam tanah. Penguburan kepala
kerbau dianggap sebagai penguburan
perselisihan di masa lalu. Setelah
prosesi penguburan itu, pihak-pihak
yang bertikai juga diminta untuk tidak
mengungkit apa yang terjadi di masa
lalu.
Oleh sebagian pihak, pertemuan
adat ini dianggap kurang representatif
karena tidak melibatkan tokoh-tokoh
agama dan pendatang yang memiliki
peran penting dalam konflik di Poso.
Kemajuan yang cukup berarti dalam
upaya meniti perdamaian baru terlihat
H. Sofyan Faried (Tokoh Muslim Poso) berjabat
ketika tokoh-tokoh agama yang bertikai tangan dengan Pdt. R. Damanik (Tokoh Kristen
membuat Deklarasi Malino I. Sebelum Poso), sebelum penandatanganan Deklarasi
Malino di Malino, 20 Desember 2001.
mengundang para tokoh agama,
seorang staf Menkokesra Jusuf Kalla Sumber: Istimewa.
72
indonesia zamrud toleransi

berseteru. dengan pendidikan sekolah. Karenanya


Bahkan oleh sebagian kalangan, tingkat pendidikan umat Kristen di Poso
kesepakatan Malino I dianggap lebih pada umumnya lebih baik dibanding
efektif jika dibandingkan dengan umat Islam yang sudah lebih dulu ada
kesepakatan Malino II untuk konflik di Poso.
Ambon. Salah satu penjelasannya
adalah karena pihak-pihak yang Para Perajut Damai di Poso
bertikai di Poso cukup aktif menjaga Sebagaimana di Ambon, konflik
implementasi butir-butir kesepakatan yang pernah dialami masyarakat
yang ditandatangani di Malino I. Poso juga menggugah kelompok yang
merindukan perdamaian. Mereka lelah
Kedatangan Islam dan Kristen ada di dalam konflik dan saling curiga
di Poso kepada sesama. Ada dua tokoh yang
Menurut catatan sejarah, Islam diangkat di sini tanpa mengurangi
masuk ke Maluku lewat orang Bugis peran para tokoh yang lain. Keduanya
yang berprofesi sebagai pedagang adalah Budiman Maliki dan Lian Gogali.
dan pelaut. Wilayah yang mereka
tinggali pada umumnya adalah pesisir. Budiman Maliki
Karenanya hingga kini umat Islam di Ketika konflik Poso pecah, Budiman
Poso pada umumnya tinggal di wilayah adalah mahasiswa di Universitas
Pesisir. Selain orang Bugis, kesultanan Tadulako, Palu. Kampung halamannya
Ternate juga berkontribusi besar pada masuk dalam daerah konflik sehingga
penyebaran Islam di Poso. Itu terjadi keluarganya diungsikan ke daerah yang
kurang lebih pada abad 17. Penyebaran lebih aman. Di Palu, ia menjumpai
Islam dilakukan dengan lewat beberapa pengungsi yang sangat banyak. Melihat
cara, di antaranya adalah pendekatan kondisi itu ia tergerak untuk melakukan
politik, dakwah secara damai, sesuatu. Ia kemudian bergabung
pendidikan dan perkawinan. dalam jaringan Relawan Penanganan
Sementara penyebaran agama Pengungsi Poso. Para relawan
Kristen di Poso tidak lepas dari seorang bertanggung jawab untuk mengurusi
penginjil bernama Albert Cristian Kruyt kebutuhan makanan, kesehatan,
yang dirintis pada 1892 dan didukung pendidikan dan penyembuhan trauma
oleh pengabar Injil di Belanda. Ia juga pascakonflik.
dibantu oleh N Adriani, juga seorang Bantuan ini tidak terbatas hanya
penginjil, dan Papa I. Woente, kepala untuk kelompok muslim, mereka juga
suku di Poso. Karena kegigihan mereka, membantu pengungsi dari kelompok
agama Kristen akhirnya diterima dan Kristen. Aksi kemanusiaan jaringan ini
banyak dianut oleh masyarakat suku di tidak ingin tercederai dalam sentimen
Poso. Dakwah Kruyt banyak dilakukan keagamaan. Semua pengungsi mereka
73
pengalaman hidup bersama

kemudian mendirikan Lembaga


Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS).
Melalui LPMS ia mencoba membina
perdamaian dan membangun rasa
saling percaya antarkelompok muslim
dan Kristen.
Mereka mengajak masyarakat
untuk turut serta dalam pekerjaan
pascakonflik itu. Mereka melakukan
pelatihan manajemen pascakonflik,
diskusi dan juga melakukan
pemberdayaan ekonomi masyarakat
yang sempat terpuruk. Target yang
mereka fokuskan adalah masyarakat
Budiman Maliki. akar rumput, bukan para elite. Dalam
upaya membangkitkan kondisi ekonomi
Sumber: www.metrosulawesi.com.
masyarakat, mereka membantu petani
bantu, tanpa melihat latar belakang lewat program percepatan tumbuhan
agamanya. Konflik yang berlangsung kakao.
sejak 1998 baru mulai mereda ketika
telah disepakati Perjanjian Malino I Lian Gogali
pada 2001. Pada saat konflik Poso meletus,
Meski sudah ada kesepakatan Lian Gogali sebenarnya tidak berada
damai, konflik sebenarnya masih terjadi di lokasi. Saat itu ia masih kuliah
hanya saja sudah dalam skala yang di Yogyakarta. Namun, konflik itu
jauh lebih kecil. Persoalan-persoalan membuat kehidupan keluarganya di
pascakonflik mulai bermunculan. kampung menjadi tidak menentu,
Ekonomi yang lumpuh, bangunan yang rumahnya dibakar dan isinya dijarah.
hancur, pendidikan untuk anak-anak Karena kondisi itu, biaya hidup yang
korban konflik hingga pemulihan akibat biasa ia terima kini tidak lagi bisa
trauma. dikirim.
Hal yang juga penting untuk Setelah konflik mereda, pada
diperbaiki adalah hubungan 2003-2004, ia merasa tertarik untuk
antarkelompok yang pernah meneliti akar-akar konflik Poso. Ia
bertikai, muslim dan Kristen. Setelah mewawancarai banyak orang yang
berakhirnya konflik, kecurigaan berasal dari daerah konflik dan
terhadap masing-masing kelompok pengungsian. Dari wawancara itu
ini tidak bisa hilang. Ia bersama- melihat bahwa sebenarnya kaum
sama dengan beberapa kawan aktivis perempuan punya andil besar dalam
74
indonesia zamrud toleransi

nama Sekolah Perempuan Mosintuwu.


Baginya perempuan punya peran
penting sebagai agen perdamaian.
Sekolah ini merupakan jawaban atas
pertanyaan seorang ibu yang pernah
bertanya kepadanya, apakah penelitian
yang ia lakukan itu memiliki manfaat
untuk mereka.
Di sekolah itu ia mendidik
semua perempuan baik dari Kristen
maupun muslim. Ia meluruskan
kesalahpahaman yang selama ini
diyakini tentang pihak lain. Agar
semakin cair, ia kadang mengajak
Lian Gogali.
perempuan muslim berkunjung
Sumber: YouTube. ke gereja dan sebaliknya. Interaksi
semacam ini berhasil mencairkan
merajut perdamaian di Poso. ketegangan antarkelompok yang
Ia pernah mendengar cerita seorang pernah berkonflik ini. Selain
ibu yang harus berjalan puluhan pendidikan toleransi, sekolah ini juga
kilometer menjual ikan kepada mengajarkan ibu-ibu membuat kue dan
semua masyarakat tanpa melihat mengembangkan pertanian organik.
agama yang dianut. Padahal apa yang Dalam upaya memulihkan
dilakukannya pada saat itu sebenarnya trauma, Lian juga memiliki program
sangat berisiko. Karena konflik, orang perpustakaan keliling yang ia namakan
muslim yang pada umumnya menjual Project Sophia. Perpustakaan ini
ikan hasil laut dan orang Kristen yang berkeliling ke 24 desa dengan mengajak
menjual sayur mayur tidak bisa saling anak-anak membaca buku yang
berinteraksi. Mereka saling curiga jika digemari. Ia berharap trauma akibat
jualannya itu sudah diracun. Namun, konflik bisa pulih dan tidak lagi dendam
niat tulus perempuan itu akhirnya terhadap kelompok lain.
berbuah kepercayaan. Ia benar-benar
ingin berjualan demi menghidupi C. Mengelola Keragaman
keluarga. Bagi Lian, tindakan ini adalah di Kalimantan
sebuah terobosan dalam mencairkan Di Kalimantan, khususnya
hubungan antarkelompok yang masih Kalimantan Barat, ada dua kelompok
saling curiga. besar yang mendiami daerah itu,
Dari pengalaman itu, ia kemudian yakni Dayak dan Melayu. Selain dua
mendirikan sebuah sekolah yang diberi kelompok itu, juga ada kelompok
75
pengalaman hidup bersama

Tionghoa dan Madura yang memainkan terjadi. Konflik terbesar antara Dayak
peran sosial yang cukup menentukan. dan Madura terjadi pada Desember
Juga ada beberapa kelompok kecil lain 1996 yang bermula di Sanggau Ledo.
yang berasal dari Jawa, Batak, Sunda, Sementara konflik antara Melayu dan
dan Sulawesi. Hanya jumlah dan Madura terjadi pada 1999 yang bermula
pengaruh kelompok-kelompok terakhir di Parit Setia.
itu masih relatif kecil. Hubungan Pada umumnya, konflik antaretnis
antarkelompok atau antarsuku di bermula dari masalah pidana biasa.
Kalimantan Barat termasuk cukup Masalah itu kemudian berkembang
rawan konflik. Hal ini terbukti dari menjadi konflik antarkelompok
beberapa konflik antarsuku yang karena identifikasi masalah kelompok
pernah terjadi di wilayah itu. semakin mendominasi. Tentu saja
Pada masa kolonial hingga awal hal ini dimungkinkan karena sudah
kemerdekaan, kelompok Melayu ada prasangka yang telah terbangun
berada pada lapisan teratas stratifikasi sebelumnya. Dalam kasus hubungan
sosial masyarakat Kalimantan antaretnis di Kalimantan Barat, masing-
Barat. Melayu memiliki perkerjaan masing kelompok sudah memiliki
terhormat, kekuasaan yang besar, prasangka satu sama lain. Prasangka
dan kemakmuran yang melimpah. ini semakin mengeras ketika konflik
Sementara suku Dayak selama beberapa antarkelompok pecah.
waktu mereka menjadi kelompok Selain proses akulturasi yang gagal,
yang terpinggirkan. Di akhir tahun konflik antarkelompok di Kalimantan
1950-an, representasi mereka mulai Barat juga dipengaruhi oleh kebijakan
terakomodasi dengan dibentuknya sumber daya alam yang kurang adil.
Kalimantan Tengah dan tokoh Dayak, Ada tiga sektor ekonomi sumber daya
Tjilik Riwut menjadi gubernur pertama. alam yang menjadi sumbu keributan,
Namun sayang, akomodasi itu semakin yakni sektor perkebunan sawit dan
sempit ketika rezim berganti ke Orde hutan tanaman industri, pertambangan
Baru. Dengan ideologi pembangunan, (khususnya emas) dan hasil hutan
orang Dayak semakin terdesak di (kayu).
daerahnya sendiri. Dalam pandangan masyarakat
Dalam sejarah hubungan Dayak, tanah dan hutan adalah milik
antarkelompok di Kalimantan Barat mereka karena tanah itu sudah lama
sudah terjadi beberapa konflik, mulai mereka kuasai, bahkan sebelum
dari skala yang kecil hingga luas dan Indonesia ada. Hal yang lebih
mengerikan. Misalnya, konflik antara menentukan adalah karena tanah
suku Dayak dan suku Madura atau dan hutan serta isinya merupakan
antara suku Melayu dan suku Madura basis bagi kehidupan masyarakat
adalah konflik yang paling sering Dayak, baik secara budaya dan juga
76
indonesia zamrud toleransi

Pemerintah pusat beberapa kali


membuat kebijakan yang kurang
memperhatikan relasi antarkelompok
dalam masyarakat. Pada taraf tertentu,
hal itu melahirkan kekesalan yang
berujung pada konflik sosial.

Orang Madura di Sambas


Menurut penelitian Suparlan, orang
Madura sudah datang dan tinggal di
Kalimantan Barat sejak tahun 1920-an
(Suparlan 2005: 191). Sebelum perang
Dua orang warga Dayak Kenyah tengah
berburu. Hutan beserta isinya merupakan dunia kedua, keberadaan mereka
basis bagi kehidupan masyarakat Dayak. secara sosial dan ekonomi di wilayah
Sumber: www.beritagar.id. itu tidak terlalu signifikan. Hal itu
dikarenakan jumlah mereka yang
kecil dan karena posisi sosial mereka
kehidupan ekonomi. Pola pemanfaatan yang rendah. Umumnya, mereka
hutan yang mereka lakukan selama berprofesi sebagai buruh kasar. Dalam
ini biasanya didasarkan pada kearifan perkembangannya hingga sebelum
kultural mereka. Orang Dayak percaya kerusuhan 1999, orang-orang Madura
bahwa segala sesuatu itu memiliki sudah hidup di hampir seluruh pelosok
roh sehingga penggunaannya harus wilayah kabupaten Sambas, di desa,
dilakukan dengan ritual-ritual yang dusun dan juga perkotaan. Mereka
tidak boleh dilanggar begitu saja. Jika hidup mengelompok dengan sesama
aturan itu dilanggar maka hubungan orang Madura. Meski mengelompok,
antara manusia dan alam akan mereka hidup dalam ketetanggaan
terganggu. Sementara bagi masyarakat bersama kelompok lain, khususnya
luar Dayak, keyakinan semacam itu Melayu dan Dayak.
dianggap sebagai penghalang bagi Pusat kegiatan orang Madura adalah
aktivitas ekonomi dan percepatan tempat ibadah mereka. Jika jumlah
pembangunan yang tengah digalakkan mereka sedikit maka tempat ibadah itu
saat itu. masih berupa langgar atau mushola.
Selain kebijakan sumber daya Namun bila jumlahnya banyak maka
alam dan ekonomi yang kurang adil pusat kegiatan itu ada di masjid dan
dan kurang memberdayakan para juga pesantren. Di pusat-pusat kegiatan
penduduk lokal, persoalan distribusi itu mereka kurang inklusif terhadap
posisi politik juga kerap menjadi kelompok lain. Tempat ibadah itu
pemicu keributan antarkelompok. hanya diisi oleh orang Madura saja.
77
pengalaman hidup bersama

Bahasa komunikasi yang digunakan yang pernah mengemuka dalam


juga bahasa Madura. Kyai dan imam membaca konflik tersebut. Yang
yang ada di masjid dan pesantren pertama adalah penjelasan budaya.
juga orang Madura. Bahkan, orang- Dua suku ini dianggap sebagai suku
orang Madura di Sambas memiliki yang memiliki tradisi kekerasan
kecenderungan untuk bersembahyang sehingga potensi konfliknya cukup
berjamaah di masjid milik orang tinggi. Suku Dayak memiliki tradisi
Madura, yang khotbahnya dilakukan kayau (headhunting), jika merasa
dalam bahasa Madura. kehormatannya dilangkahi. Meski
tradisi ini sudah lama ditinggalkan,
Kerusuhan Sambas dan Pemicunya namun dalam konflik 1996–1997,
Dalam memahami konflik antara tradisi itu mereka hidupkan kembali.
Madura dan Dayak, pendekatan Sedangkan suku Madura memiliki
kultural melihat ada masalah serius di tradisi Carok. Tindakan ini juga
tingkat relasi antarkelompok itu. Secara dilakukan ketika kehormatan mereka
budaya, kedua suku memiliki budaya merasa dilecehkan (Bertrand 2012: 77).
kekerasan sehingga memiliki potensi Dalam pandangan suku Dayak,
besar terlibat dalam konflik. Dari data suku Madura adalah satu suku yang
yang ada, antara 1962 hingga 1999 tidak memberikan hormat pada nilai-
sudah terjadi kerusuhan antara Dayak nilai Dayak dan adat istiadat setempat.
dan Madura sebanyak 11 kali. Kerusuhan Menurut Bertrand, alasan ini paling
paling besar dan luas terjadi pada 1996– sering dikutip untuk menjelaskan
1997 yang dimulai di Sanggau Ledo. mengapa Dayak dan Madura kerap
Berbeda dengan konflik antara terlibat dalam konflik terbuka di
Dayak dan Madura yang sudah sering Kalimantan Barat dibanding dengan
terjadi, konflik antara Melayu dan suku-suku lain (Bertrand 2012: 78).
Madura justru lebih sedikit jumlah Penjelasan kedua yang juga
kejadiannya. Peristiwa Parit Setia dianggap mungkin adalah karena
merupakan peristiwa yang relatif adanya tindakan provokasi. Tahun
jarang. Kericuhan itu terjadi karena 1996–1997 adalah periode menjelang
perselisihan antara dua kelompok itu dilakukannya pemilu terakhir
tidak lagi bisa dibendung. Hingga kini, Orde Baru. Ada pihak-pihak yang
orang-orang Madura yang mengungsi berkepentingan untuk melakukan
dari Sambas belum bisa kembali karena penghasutan antardua suku yang
kendala resolusi yang belum usai. memiliki potensi konflik. Tindakan
Khusus tentang konflik antara provokasi barangkali memang ada,
Madura dan Dayak, Jacques Bertrand tetapi penjelasan ini dianggap sulit
memiliki analisis yang cukup tajam. untuk dipertahankan, karena ia tidak
Menurutnya, ada beberapa penjelasan menjelaskan mengapa konflik itu sangat
78
indonesia zamrud toleransi

mudah terjadi. Sementara penjelasan yang selama ini mereka hidupi. Ketika
ketiga adalah penjelasan sosio-ekonomi. proses peminggiran secara sistematis
Penjelasan ini pun dianggap kurang terhadap suku Dayak terjadi, mereka
relevan karena di antara pendatang di menyaksikan proses migrasi masif
Kalimantan Barat, suku Madura bukan suku Madura ke Kalimantan Barat.
suku yang kaya. Pada umumnya mereka Sebagaimana sudah dikatakan di atas,
miskin, kurang lebih sama dengan suku secara ekonomi, sebenarnya suku
Dayak. Kebanyakan mereka adalah Madura bukan kelompok atas, sehingga
tukang becak, kuli, sopir, buruh dan alasan sosio-ekonomi dianggap kurang
pedagang kecil (Bertrand 2012: 79). relevan untuk menjelaskan konflik
Jacques Bertrand mencoba antara Dayak dan Madura.
menganalisis lebih jauh soal konflik Dari uraian itu kita melihat
itu dengan menunjukkan nasib bahwa ada proses peminggiran yang
orang Dayak yang mengalami proses dialami suku Dayak dengan hilangnya
peminggiran, khususnya sejak representasi politik yang baru saja
Indonesia merdeka. Puncak dari mereka peroleh di masa sebelumnya.
proses peminggiran itu berlangsung Hal ini tentu saja menimbulkan
di masa Orde Baru lewat kebijakan kekecewaan dan kekesalan kolektif.
pembangunannya. Dengan ideologi Namun sebagai sebuah kelompok
pembangunannya, rezim Orde mereka tidak mampu melawan
Baru melihat suku Dayak sebagai kekuatan negara yang sangat dominan
terbelakang. Paling tidak ada dua dan represif saat itu. Di tengah
kebijakan yang membuat mereka kekesalan itu, mereka melihat suku
semakin asing di rumah sendiri. Madura yang jumlahnya tidak terlalu
Pertama standardisasi konsep desa banyak yang secara kebetulan kerap
bagi suku Dayak. Karena kebijakan ini, terlibat perselisihan dengan mereka.
konsep rumah Betang milik suku Dayak Situasi ini memberikan alasan bagi suku
dianggap tidak layak dan kemudian Dayak untuk melampiaskan kekesalan
ditata ulang agar sesuai dengan format terhadap orang-orang Madura.
desa pada umumnya. Perubahan ini
mencabut struktur dasar budaya suku Merajut Damai di Kalimantan
Dayak yang ada dalam format rumah Upaya untuk membina perdamaian
Betang. Pola berladang yang berpindah- dan kondisi harmonis antarkelompok
pindah juga dianggap tidak efisien. masyarakat di Kalimantan Barat
Kedua, kebijakan izin pengelolaan dilakukan dengan memperbaiki dua hal
hutan yang diberikan pemerintah penting. Pertama, melibatkan kelompok
Orde Baru kepada para pengusaha dan masyarakat dalam perumusan
kroni semakin membuat suku Dayak kebijakan yang akan diambil. Kedua,
tidak bisa bertahan dalam ekosistem mengikis prasangka dan stereotip yang
79
pengalaman hidup bersama

ada dalam masyarakat.


Pada level pertama, kita barangkali
bisa melihat adanya sedikit perbaikan
perumusan kebijakan yang berbasis
pada kepentingan masyarakat itu
sendiri. Sementara pada level kedua,
pemerintah jelas sangat menginginkan
agar hubungan antarkelompok dalam
masyarakat bisa berlangsung harmonis.
Berbagai upaya dilakukan, salah
satunya dengan merevitalisasi nilai-nilai Ritual Singer Manetes Hinting Bunu di Kota
lokal pada masing-masing kelompok. Banjarmasin. Ritual ini diselenggarakan untuk
menjalin perdamaian di antara pihak yang
Upaya ini didorong oleh pemerintah bertikai..
dan juga lembaga-lembaga non
Sumber: Istimewa.
pemerintah.
Patut dicatat bahwa ketika terjadi selalu saja ada masyarakat yang
konflik antara Dayak dan Madura, tidak memiliki pandangan bahwa kekerasan
semua orang Dayak memerangi warga dan konflik adalah sesuatu yang
Madura. Sebagian orang Dayak bahkan sepatutnya dihindari. Orang seperti
ada yang rela mengambil risiko dengan Paleng, yang membantu orang Dayak
melindungi orang Madura yang sedang dari penyerangan, memang melihat
dikejar. Pengalaman itu bisa kita lihat ada perbedaan budaya yang perlu
dari tokoh perempuan Dayak Bakate’ diperbaiki. Namun, perbaikan itu
Sanggau Ledo yang bernama Paleng. seharusnya tidak dengan konflik. Selain
Katanya: Paleng tentu saja masih ada beberapa
Waktu itu rumah ini dipenuhi orang atau aktor yang aktif merajut
oleh masyarakat Madura yang perdamaian di Kalimantan.
mengungsi. Siangnya kita Setelah konflik memakan korban
disibukkan memberi makan mereka cukup banyak dan perhatian yang
walau kami makan apa adanya. begitu luas, masing-masing pihak
Malam hari kita juga mengantar merasa harus mengakhiri situasi
mereka (para pengungsi) pergi itu. Bersama pemerintah mereka
ke hutan mengambil harta benda berkonsolidasi membina perdamaian.
mereka yang ditinggal di sana, Dalam upaya itu, ada semangat yang
walau kami juga takut menjadi cukup luas dari segala lapisan mengenai
korban dibunuh oleh kawan Dayak. pentingnya mengakhiri konflik. Baik
(Rosdiawan 2007: 67) konflik antara Dayak dan Madura atau
Pengalaman semacam ini sangat antara Melayu dan Madura, mereka
penting untuk menunjukkan bahwa semua betul-betul berkeinginan
80
indonesia zamrud toleransi

mengakhiri semua perseteruan sosial antarkelompok di Kalimantan.


itu. Masing-masing pihak melakukan Salah satu kisah penting itu ada di
introspeksi diri dalam memandang sebuah desa yang bernama Retok. Kisah
kelompok lain. Mereka berusaha untuk di desa ini menggambarkan hubungan
adil dalam melihat kelompok lain saling pengertian antara suku Madura
dengan tidak melakukan generalisasi. dan Dayak. Urat nadi desa itu adalah
Sungai Retok yang menghubungkan
Harmoni Dayak-Madura satu daerah ke daerah lain. Karenanya
di Desa Retok di daerah itu ada beberapa usaha
Sejauh ini, setelah lebih dari transportasi yang dikelola baik oleh
15 tahun, kita memang tidak lagi orang Madura, Dayak, dan juga
mendengar konflik besar terjadi Tionghoa.
di Kalimantan. Pemerintah dan Mayoritas penduduk Retok adalah
masyarakat telah belajar dari suku Madura. Mayoritas kedua adalah
pengalaman masa lalu. Namun, bila suku Dayak. Sisa sebagian kecil lain
kita bicara mengenai potensi konflik di adalah Tionghoa. Desa ini terdiri dari
Kalimantan, hal itu sebenarnya masih empat dusun, dusun Retok Kuala,
cukup besar mengingat beberapa Babante, Acin, dan Memperigang.
persoalan mendasar tidak terpecahkan Kehidupan ekonomi warga dusun
secara menyeluruh. Hal ini tidak banyak bergantung pada hasil alam dan
berarti bahwa perdamaian menjadi budi daya lokal seperti karet, jagung,
sulit. Kita bisa melihat beberapa upaya nanas, dan lain-lain. Pola pemukiman
yang dilakukan oleh masyarakat dalam masyarakat desa Retok masih
merajut perdamaian antarkelompok didasarkan pada kelompok etnis.
dan suku di Kalimantan. Dari penelusuran para orang tua di
Hal yang perlu dicatat dalam melihat desa Retok diketahui bahwa komunitas
konflik antarkelompok di mana pun, yang pertama kali menempati desa itu
sejatinya kita tidak melihat konflik adalah suku Dayak di akhir abad 19 dan
antarkelompok itu dalam arti total disusul oleh orang Madura yang baru
bahwa semua suku A pasti bermusuhan tiba pada 1920-an. Namun, karena ada
dengan suku B. Karenanya kita juga migrasi yang cukup masif, jumlah orang
tidak memahami bahwa semua orang Madura bertambah secara signifikan
Dayak pasti bermusuhan dengan orang hingga menjadi mayoritas. Kehidupan
Madura. Selalu saja ada bagian dari bersama antara dua etnis yang pernah
kelompok yang “keluar” dari relasi dan kerap mengalami konflik ini relatif
permusuhan itu. Mereka ini justru aktif terjaga karena ada komitmen kuat
pada upaya sebaliknya, yakni merajut untuk saling mengerti dan memahami
perdamaian. Kisah-kisah itu tentu budaya masing-masing.
sangat penting untuk memahami relasi Bagi orang Dayak, adat memainkan
81
pengalaman hidup bersama

peranan yang sangat penting. Inti di Retok bisa berbahasa Dayak dan juga
dari adat yang mereka yakini adalah sebaliknya. Kemampuan ini membantu
keseimbangan hubungan antarsesama mereka untuk melakukan inklusi sosial
manusia, hubungan antara manusia secara baik. Selain pertukaran bahasa,
dan alam, dan hubungan antara mereka juga mampu mendistribusikan
manusia dan Sang Pencipta ( Jubata). kekuasaan politik secara arif. Misalnya,
Adat menuntut agar manusia menjaga meski orang Madura menjadi mayoritas,
keseimbangan ini. Karenanya jika ada mereka selalu menyerahkan kekuasaan
pelanggaran terhadap keseimbangan kepala desa kepada orang Dayak. Paling
tersebut, mereka menuntut ganti-rugi tidak, hal ini telah berlangsung sejak
lewat ritual adat. tahun 1972. Dalam upaya menghindari
Tindakan yang melanggar konflik, mereka juga aktif menyeleksi
keseimbangan itu dianggap orang dari masing-masing suku ketika
sebagai tindakan yang “mengotori” hendak tinggal di desa Retok. Mereka
sehingga mereka perlu melakukan tidak akan menerima orang yang
“pembersihan”. Proses pembersihan dianggap sulit untuk dikendalikan
dilakukan melalui ritual yang karena berpotensi mengganggu kohesi
dipimpin oleh para tokoh adat yang sudah dibangun (Atok).
Dayak. Mereka yang dianggap
melanggar keseimbangan juga diminta D. Harmoni di Sumatera
bertanggungjawab dengan melakukan Utara
penebusan sebagai “sanksi adat”. Kerusuhan Tanjung Balai yang
Adat yang diyakini masyarakat terjadi pada Jumat 29 Juli sekitar pukul
Dayak ini bisa diterima oleh masyarakat 23.30 WIB hingga Sabtu 30 Juli 2016
Madura. Orang Madura mau mengikuti dini hari diawali permintaan seorang
sistem sanksi adat yang berlaku dalam ibu etnis Tionghoa, Meliana, agar
masyarakat Dayak. Hal itu bisa dilihat masjid di dekat rumahnya mengecilkan
dalam beberapa kasus. Orang yang volume pengeras suaranya. Ternyata,
dianggap bertanggung jawab, baik tindakan ini menimbulkan kemarahan
dari suku Dayak ataupun Madura sejumlah orang yang tidak terima atas
diharuskan membayar sanksi atau protes ibu tadi. Awalnya, kemarahan
tebusan atas tindakan yang dianggap ini bisa diredakan oleh pimpinan
mengotori. Dalam ritual adat, mereka lingkungan dan polisi setempat.
melakukan doa bersama, berharap agar Namun, beberapa jam kemudian
mereka selalu terhindar dari kejahatan. muncul massa beringas yang membakar
Proses penting yang turut dan merusak sejumlah bangunan
menopang kohesi ini adalah wihara, kelenteng, dan kendaraan
kemampuan mereka untuk saling pribadi. Peristiwa ini menyebabkan
mengerti. Kebanyakan orang Madura 15 bangunan yang terdiri atas wihara,
82
indonesia zamrud toleransi

wujud nyata dari sikap arogansi warga


pendatang.
Namun, pihak Komnas HAM
mengambil kesimpulan lain. Dalam
siaran persnya, Komnas HAM
berpendapat bahwa permintaan
Meliana untuk mengecilkan volume
pengeras suara disampaikan dengan
cara yang wajar. Permintaan tersebut
diutarakan ke pihak pengurus masjid
dan sudah ada mediasi dengan pihak
kelurahan. Pihak Meliana pun sudah
meminta maaf atas permintaannya.
Komnas HAM menilai bahwa
Vihara Tri Ratna Tanjung Balai (sebelum sebenarnya peristiwa ini tidak akan
patung Buddha diturunkan pada Oktober terjadi jika tidak ada distorsi informasi
2016) di Asahan, Tanjung Balai Sumatera
Utara. yang disampaikan beberapa oknum.
Informasi yang menyebar adalah ada
Sumber: www.jadagram.com.
warga etnis Tionghoa yang melarang
azan dan memprotes pengeras suara
kelenteng, dan rumah pribadi dibakar masjid. Tulisan-tulisan provokasi
dan dirusak massa, tujuh di antaranya melalui media sosial yang menyebar
rusak berat. di masyarakat untuk menyulut
Banyak yang mengatakan, juga kebencian etnis dan agama kemudian
penduduk Tanjung Balai sendiri, menyulut kemarahan warga hingga
kerusuhan ini sebenarnya bukan konflik mereka melakukan perusakan dan
agama. Kesenjangan ekonomilah yang pembakaran.
menjadi penyebab utama. Unsur agama Sebelumnya, warga Buddha etnis
hanya menjadi pemantik saja. Beberapa Tinghoa dan warga muslim Tanjung
pihak menyebutkan sikap etnis Balai juga pernah berkonflik. Pada 30
Tionghoa di Tanjung Balai selama ini Mei 2010 dan 29 Juni 2010, beberapa
arogan dan tidak menghormati etnis- ormas yang mengatasnamakan
etnis lainnya yang beragama Islam. “Gerakan Islam Bersatu” melakukan
Warga yang telah lama memendam demonstrasi ke kantor DPRD dan
kemarahan lalu melampiaskannya Walikota Tanjung Balai. Mereka
ketika ada seorang warga etnis mendesak pemerintah menurunkan
Tionghoa memprotes pengeras suara patung Buddha Amithaba di wihara Tri
masjid. Mereka menganggap protes Ratna dengan alasan bahwa keberadaan
yang disampaikan Meliana merupakan patung tersebut tidak mencerminkan
83
pengalaman hidup bersama

kesan islami di Kota Tanjung Balai


dan dapat mengganggu keharmonisan
masyarakat.
Lagi-lagi, alasan utama di baliknya
disinyalir bukanlah agama, persaingan
sosio-ekonomi yang menjadi
penyebabnya. Masyarakat Tanjung
Balai merasakan dominasi orang-orang
Tionghoa pada bidang sosial dan
ekonomi. Saat umat Buddha Tionghoa
membangun patung Buddha yang
tingginya menjulang mengalahkan
Seorang warga keturunan Tionghoa tengah
tinggi bangunan Balai yang dibangun bersembahyang di Kelenteng Sam Poo Kong,
pemerintah sebagai monumen Simongan, Semarang.
Tanjungbalai, mereka anggap sebagai Sumber: KHOMAINI.
sikap arogan etnis Tionghoa untuk
menunjukkan dominasinya. Sebab itu, mengalami kekerasan di Indonesia,
warga menuntut agar patung tersebut baik sebelum dan setelah Indonesia
diturunkan. merdeka. Dalam abad ke-20, tercatat
Tuntutan masyarakat akhirnya peristiwa kekerasan terjadi pada 1916,
menerbitkan kesepakatan untuk 1946–47, 1966, 1980, 1996, dan 1998.
menurunkan patung tersebut. Persaingan sosio-ekonomi sering
Namun, kesepakatan ini tak kunjung dijadikan penyebab utama terjadinya
direalisasikan. Setelah kerusuhan kekerasan terhadap etnis Tionghoa.
Tanjung Balai pada Juli 2016—Vihara Tri Mereka minoritas, tapi secara ekonomi
Ratna merupakan salah satu bangunan lebih mampu daripada mayoritas
yang dirusak massa—demi terciptanya pribumi. Namun, alasan adanya
suasana kondusif dan hubungan persaingan sosio-ekonomi saja tidak
harmonis di antara umat beragama di cukup untuk menjelaskan terjadinya
Kota Tanjung Balai dibuat keputusan kekerasan. Faktanya, tidak semua orang
bersama yang melibatkan juga Tionghoa kaya, dan kekerasan yang
pemerintah kota untuk memindahkan menyasar pada etnis ini tidak terbatas
patung Buddha setinggi 6 meter itu ke pada kalangan kaya saja.
lokasi yang telah ditentukan. Patung Adanya pelembagaan baik formal
ini akhirnya diturunkan pada Oktober maupun informal yang terus-menerus
2016. terjadi pada kalangan etnis Tionghoa
merupakan alasan yang lebih bisa
Kekerasan pada Etnis Tionghoa menjelaskan terjadinya kekerasan. Etnis
Etnis Tionghoa berkali-kali Tionghoa dianggap bukan penduduk
84
indonesia zamrud toleransi

asli. Terlepas dari asal-usul mereka peminggiran terhadap etnis Tionghoa.


yang beragam, bahasa yang digunakan, Berbagai peraturan dan kebijakan yang
jumlah generasi sejak kedatangan dibuat menyulitkan pergerakan etnis
mereka di Indonesia, ataupun Tionghoa. Etnis ini diberi kode khusus
percampuran dengan yang bukan dalam KTP mereka, yang dengan jelas
Tionghoa, mereka tetap dianggap mengidentifikasikan mereka sebagai
dengan kategori tunggal: Cina. Istilah orang Tionghoa. Orang-orang Indonesia
ini selalu berkonotasi nonpribumi, atau keturunan Tionghoa benar-benar
warga pendatang. terhalang untuk menjadi PNS dan
Pelembagaan orang-orang Tionghoa militer khususnya untuk posisi-posisi
sebagai kelompok terpisah inilah yang puncak. Diskriminasi juga terjadi pada
tampaknya memainkan peran utama. bidang pendidikan. Meski tidak tertulis,
Mulai dari masa kolonial sampai akses pelajar Tionghoa untuk masuk ke
berbagai periode bangsa Indonesia perguruan tinggi negeri sangat dibatasi.
merdeka, terdapat bermacam-macam Kebijakan yang dibuat Orde Baru ini
peraturan, perundang-undangan, dan meski berbeda secara penerapan,
lembaga-lembaga representasi yang memiliki ciri yang sama dengan
dimaksudkan untuk membedakan kebijakan pemerintah kolonial Belanda,
orang-orang Tionghoa dari kelompok- yaitu bersifat memecah belah.
kelompok lain. Bahkan kelahiran Pembedaan itu kian diperparah oleh
nasionalisme Indonesia sendiri terkait cara Orde Baru memelihara sekelompok
erat dengan pembedaan dengan kecil minoritas pengusaha Tionghoa
orang Tionghoa yang disokong oleh yang sangat kaya. Berbagai pembatasan
pelembagaan pemerintah kolonial. Saat pada etnis Tionghoa, kebijakan Orde
itu, berbagai organisasi, seperti Sarekat Baru dalam mobilisasi modal asing
Dagang Islam, dibentuk sebagai sarana dalam negeri untuk pembangunan,
memperjuangkan pedagang pribumi serta hubungan patron klien yang ada
dari dominasi pedagang-pedagang dengan segelintir pengusaha Tionghoa
besar Tionghoa. telah menciptakan suatu kelas pemilik
Pembedaan ini kemudian konglomerat bisnis raksasa yang kaya
melahirkan berbagai macam stigma raya. Para cukong ini tumbuh besar di
negatif kepada etnis Tionghoa, seperti bawah lindungan penguasa. Timbullah
rasa kesetiaan mereka yang mendua persepsi umum bahwa orang-orang
dan bisnis mereka yang bersifat Indonesia keturunan Tionghoa telah
memeras sehingga memiskinkan mendominasi perekonomian Indonesia.
masyarakat setempat. Anggapan inilah yang kemudian
Stigmatisasi ini kemudian meningkatkan sentimen anti-Cina dan
diperburuk pada zaman Orde Baru. Di menyulut kekesalan di kalangan orang
satu sisi, Orde Baru melanggengkan Indonesia.
85
pengalaman hidup bersama

Krisis keuangan pada 1997-an diskriminatif.


memperparah keadaan ini. Puncaknya Pemerintahan era reformasi
terjadi kerusuhan Mei 1998, di mana mengakomodasi tuntutan ini.
banyak etnis Tionghoa menjadi Pemerintah melakukan langkah-
korbannya. Betapa pun provokasi langkah untuk menghilangkan
memainkan peran besar dalam diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.
membuat sentimen anti-Cina menjadi Penggunaan istilah pribumi dan
kekerasan, peristiwa ini merupakan nonpribumi dihapuskan. Praktik
akibat dari kebijakan diskriminatif agama dan perayaan yang sebelumnya
Orde Baru. Orang-orang Tionghoa dilarang bisa kembali dirayakan di
tetap diperlakukan sebagai orang luar, ruang publik. Tahun Baru Tionghoa
nonpribumi. Ketika rezim menciptakan (Imlek) bahkan dinyatakan sebagai
ketidakadilan ekonomi yang lebih kuat hari libur nasional. Yang paling
dan mencolok dengan cara memelihara penting adalah amandemen UUD yang
para cukong, kemarahan terhadap dilakukan MPR pada November 2001
rezim itu ditransformasikan menjadi yang mengganti persyaratan agar
kekerasan terhadap etnis Tionghoa. presiden harus “orang asli” dengan
Pada masa Reformasi, keadaan persyaratan kewarganegaraan. Juga
menjadi lebih baik. Kejatuhan rezim ketetapan yang dibuat pemerintah
Orde Baru dan kerusuhan anti-Cina untuk kembali menggunakan istilah
yang mengikutinya menyadarkan “Republik Rakyat Tiongkok” dan orang
banyak pihak bahayanya segregasi “Tionghoa” menggantikan istilah
bagi keutuhan bangsa. Di samping itu, “Republik Rakyat Cina” dan orang
ketegangan terhadap etnis Tionghoa “Cina” yang berkonotasi negatif.
mulai mengendur dengan diprosesnya Langkah-langkah formal yang
para konglomerat Tionghoa di pusaran dilakukan pemerintah masa
penguasa Orde Baru karena terlibat Reformasi memang tidak sepenuhnya
korupsi. Setidaknya langkah ini menghilangkan praktik diskriminasi
menghilangkan salah satu kekesalan terhadap etnis Tionghoa. Namun,
utama terhadap etnis Tionghoa. banyak yang telah berubah. Ruang
Runtuhnya Orde Baru kemudian sosial dan politik saat ini terbuka lebar
menjadi langkah untuk memperbaiki bagi etnis Tionghoa. Kekerasan rasial
berbagai aturan yang lazim. Untuk terhadap etnis Tionghoa pasca-Mei
pertama kalinya, sejak 1950, etnis 1998 hampir tidak terjadi. Kalau pun
Tionghoa memiliki kesempatan untuk terjadi, seperti pada kasus Tanjung
terlibat dalam kegiatan-kegiatan Balai, akan segera menjadi keprihatinan
politik guna membela hak-hak nasional dan langsung ditangani oleh
mereka. Secara terbuka, mereka pemerintah.
menuntut penghapusan praktik-praktik
86
indonesia zamrud toleransi

Kampai.
Baru pada pertengahan abad ke-19,
terjadi imigrasi etnis Tionghoa dalam
jumlah besar. Saat itu, kolonial Belanda
mengembangkan perkebunan di
wilayah ini. Pada awalnya, masyarakat
setempat tidak bersedia bekerja di
perkebunan itu. Sebab itu, Belanda
kemudian mendatangkan pekerja dari
luar daerah, terutama dari Tiongkok
bagian selatan dan Pulau Jawa. Kawasan
Sumatra Timur kemudian dihuni oleh
Wakil Gubernur Sumatera Utara H. T. Erry
Nuradi saat melantik Pengurus Daerah etnis yang beragam.
Generasi Muda Indonesia Tionghoa Sumatera Sejak itu, wilayah Sumatra Timur
Utara (GEMA INTI SUMUT).
berciri sistem ekonomi perkebunan.
Sumber: Istimewa. Ciri utama ekonomi perkebunan adalah
daerah yang kaya raya, sekaligus
Etnis Tionghoa di Sumatra Utara ketergantungan pada daerah lain untuk
Wilayah Sumatra Utara merupakan memenuhi kebutuhan pokoknya.
satu wilayah di mana persentase etnis Meningkatnya jumlah penduduk dan
Tionghoanya paling besar di Indonesia. kurangnya lahan pertanian menjadi
Sejak zaman Hindia Belanda, sudah penyebabnya. Dalam hal ini, para
terdapat banyak pemukiman permanen pedagang etnis Tionghoa memainkan
etnis Tionghoa, misalnya di Bengkalis, peran besar.
Tanjung Balai, Pematang Siantar, Binjai, Sementara itu, para buruh Tionghoa
dan Tebing Tinggi. Saat itu, Sumatra yang telah menyelesaikan kontrak
Utara dikenal sebagai Sumatra Timur kerja dari kolonial Hindia Belanda
Tanah Kekuasaan Raja-Raja Melayu. mulai berupaya untuk menetap di
Sampai abad ke-19, mayoritas kota-kota, dan lambat laun mereka
penduduk Sumatra Timur terdiri atas bekerja sebagai pedagang, pemilik
kelompok etnis Batak Karo, Batak toko, petani kecil, nelayan, dan penjual
Simalungun, dan Melayu. Mereka inilah barang bekas. Pada 1920, pemukiman
yang dikenal sebagai penduduk asli pedagang Tionghoa sudah tampak di
Sumatra Timur. Sudah ada pendatang beberapa kota besar, antara lain Siantar
dari Tiongkok karena pada awal abad dan Medan. Sebagian besar toko dan
ke-7 Masehi, di beberapa pelabuhan perdagangan di kota itu didominasi
di Sumatra Timur sudah terdapat oleh orang Tionghoa.
pedagang-pedagang Tionghoa terutama Pengelompokan yang dilakukan
di wilayah Aru, Kota China, dan pulau pemerintah kolonial dan Indonesia
87
pengalaman hidup bersama

pascamerdeka sedikit banyak membuat tetap terjadi. Penentangan masyarakat


etnis Tionghoa terasing dari penduduk terhadap patung Buddha Amithaba di
setempat. Mereka tinggal dalam Wihara Tri Ratna dan protes seorang
kantong-kantong pemukiman sesama warga terhadap pengeras suara
etnis mereka, terutama di kawasan masjid yang berujung pembakaran
perniagaan di wilayah perkotaan. sejumlah tempat ibadah di Tanjung
Mereka masih kental memelihara Balai menunjukkan bahwa ketegangan
budaya Tionghoa dan menggunakan antaretnis masih ada.
bahasa Tionghoa atau dialek asal Seperti yang ditunjukkan dalam
kampungnya di daratan Tiongkok. Hal sebuah penelitian mengenai relasi
ini membuat integrasi etnis ini dengan etnik dan identitas kewargaan di kota
masyarakat setempat tidak berjalan Binjai, Sumatra Utara (Budiman ed.
lancar. 2012), sebagian masyarakat perkotaan
di Sumatra Utara masih melihat
Interaksi Antar-Etnis etnis Tionghoa sebagai kelompok
di Sumatra Utara yang eksklusif. Mereka lebih suka
Pada umumnya, situasi di Sumatra bercengkerama dengan sesama mereka.
Utara yang dihuni oleh beragam etnis Mereka masih menggunakan bahasa
ini kondusif dan tenang. Jarang sekali ibu dalam berkomunikasi sesama
terjadi kekerasan antaretnis, terutama mereka, bahkan saat mereka berada
sejak masa Reformasi. Pematang di tempat publik. Hal ini membuat
Siantar, misalnya, dinobatkan sebagai etnis lain merasa risi. Dalam kegiatan
kota paling toleran di Indonesia pada sosial, etnis Tionghoa cenderung
2015 oleh Setara Institute. Kota lain menghindari kegiatan yang dinilai tidak
di Sumut yang dikenal toleran adalah menguntungkan etnis mereka. Kalau
Sibolga. Dua kota di Sumatra Utara pun terlibat, keterlibatannya biasanya
ini dianggap berhasil membangun hanya dalam bentuk menyumbang
kebersamaan dalam masyarakat yang dana.
multikultur. Seperti diungkapkan di atas, sejarah
Namun, bagaimana dengan kota- panjang kebijakan segregasi baik
kota lain di Sumatra Utara? Apakah oleh pemerintah kolonial maupun
minimnya konflik antaretnis dan agama pemerintah pasca-kolonial menjadi
bisa dijadikan acuan bahwa wilayah penyebab terasingnya etnis Tionghoa
Sumatra Utara, khususnya di bagian dari etnis-etnis lainnya. Segregasi
timur, bisa dikatakan sebagai daerah menyebabkan sikap saling curiga
yang menjunjung nilai keberagaman? sehingga masing-masing etnis saling
Sebab, meskipun tidak menjadi konflik menjaga jarak dengan yang lainnya.
yang terbuka, pengalaman-pengalaman Etnis Tionghoa, kelompok yang
konfliktual dalam relasi antaretnis toh selalu dipersepsi sebagai nonpribumi,
88
indonesia zamrud toleransi

kemudian membangun “benteng”. lalu, Kota Medan memiliki tokoh


Mereka fokus pada bidang ekonomi— Tjong A Fie, seorang pengusaha
satu-satunya area di mana mereka Tionghoa nonmuslim yang sukses
masih relatif bebas—dan mempererat karena kepiawaiannya berelasi dengan
ikatan di antara mereka sendiri. orang-orang dari berbagai kalangan.
Inilah yang membuat mereka tampak Ia dikenal sangat dermawan terhadap
eksklusif. siapa saja. Ia dekat dengan Kesultanan
Perubahan kebijakan Deli dan banyak membantu dalam
pascaruntuhnya Orde Baru tidak serta pembangunan masjid. Salah satu
merta menghilangkan ketegangan masjid yang ia bangun adalah Masjid
antaretnis ini. Etnis Tionghoa sudah Lama Gang Bengkok yang sampai saat
terlanjur kuat dalam bidang ekonomi. ini masih menjadi simbol pembauran
Dominasi mereka dalam bidang antara etnis Melayu dan etnis Tionghoa.
perdagangan sulit untuk ditandingi Saat ini, ada sosok dokter bernama
etnis lainnya, apalagi oleh orang-orang Sofyan Tan. Ia adalah contoh betapa
yang baru masuk. sulitnya hidup sebagai orang Tionghoa
Beberapa penelitian mengenai kota yang tidak kaya. Berangkat dari getirnya
Medan, misalnya, menunjukkan bahwa mendapatkan perlakuan diskriminasi,
keharmonisan relasi antaretnis dalam ia terinspirasi untuk membangun
kota ini lebih dikarenakan populasi kesadaran pluralisme melalui
yang relatif imbang. Posisi ini membuat pendidikan. Menurutnya, pendidikan
para pihak memilih untuk menjaga adalah kunci jika kita ingin membangun
suasana damai karena konflik akan sebuah masyarakat yang tidak takut
merugikan semua pihak. akan keberagaman.
Namun, bukan berarti tidak ada
upaya dari beberapa pihak untuk Masjid Lama Gang Bengkok
melakukan pembauran antaretnis, Masjid Lama Gang Bengkok
untuk mengupayakan sebuah merupakan salah satu dari tiga masjid
masyarakat yang lebih inklusif. paling bersejarah di kota Medan. Masjid
Pengalaman pahit kerusuhan anti-Cina yang atapnya mirip bangunan kelenteng
pada 1998 menyadarkan banyak pihak ini dibangun oleh seorang Tionghoa
betapa destruktifnya kekerasan yang nonmuslim. Sampai saat ini, bangunan
diakibatkan oleh kebencian etnis. Sebab ini masih menjadi simbol pembauran
itu, upaya-upaya pembauran banyak antara etnis Tionghoa dengan etnis
dilakukan baik di tingkat pemerintah Melayu.
maupun masyarakat. Masjid Lama Gang Bengkok
Sumatra Utara sendiri telah terletak di Kampung Kesawan, sebuah
memiliki sejarah panjang dalam kampung di kota Medan yang memiliki
pembauran antaretnis. Seabad yang banyak bangunan tua sebagai sejarah
89
pengalaman hidup bersama

setengah meter yang menopang


seluruh bangunan. Di bagian atas tiang
terdapat patung buah jeruk dan anggur,
salah satu ciri khas dalam arsitektur
Tiongkok. Juga ada yang berbentuk
stupa seperti di candi-candi.
Namun, semuanya akan berubah
ketika memasuki bagian dalamnya.
Terdapat mimbar terbuat dari kayu
khas Timur Tengah. Mimbar ini
Masjid Lama Gang Bengkok Kesawan.
memiliki tangga undakan bertingkat
Sumber: Istimewa. 13, digunakan sebagai tempat Khotbah
sebelum Salat Jumat. Budaya Timur
pembauran multietnis. Jalan Ahmad Tengah juga tampak pada gapura
Yani yang menjadi lokasi masjid ini masjid.
disebut juga sebagai Jalan Kesawan. Budaya Melayu terlihat dari
Dulu, pada abad ke-19, hampir seluruh dominasi warna kuning dan hijau serta
area ini milik Haji Mohammad Ali, yang sejumlah ornamennya. Di plafon masjid
dipanggil Datuk Kesawan. terdapat umbai-umbai, yaitu ornamen
Datuk Kesawan ini juga yang yang disebut “lebah bergantung”.
memberikan tanah wakaf untuk Ukiran ini dibuat dari kayu, berbentuk
dibangun masjid. Sementara yang semacam tirai berwarna kuning.
membangun adalah seorang saudagar Tidak seperti umumnya masjid
kaya nonmuslim, Tjong A Fie. Proses lain, Masjid Lama Gang Bengkok tidak
pembangunan yang dilaksanakan pada memiliki nama Arab. Dinamakan
1890 ini sempat menuai kontroversi. Gang Bengkok karena dulu masjid ini
Namun, karena mendapat izin dari berada di lokasi gang yang bentuknya
pihak Kesultanan Deli, pembangunan bengkok. Saat ini, gang tersebut sudah
diteruskan. Setelah selesai, menjadi jalan besar yang ramai dilalui
kepengurusan masjid diserahkan ke kendaraan. Disebut masjid lama karena
pihak Kesultanan Deli. memang sudah berdiri sejak dulu,
Arsitektur Masjid Lama Gang ketika Sultan Deli, Sultan Makmun Al
Bengkok merupakan paduan antara Rasyid, naik takhta.
arsitektur Tiongkok, Persia, Romawi, Masjid ini juga tidak memiliki
Timur Tengah, dengan ornamen ornamen kaligrafi Arab. Namun, hal
Melayu. Bentuk bangunannya, tersebut tidak jadi masalah. Baik
terutama bagian atasnya, mirip dengan dari segi pembangunnya, nama yang
kelenteng. Atapnya melengkung dipakai, serta perpaduan budaya dalam
dan terdapat empat tiang setebal arsitektur dan ornamennya justru
90
indonesia zamrud toleransi

menjadi tanda adanya hubungan yang


harmonis antaretnis di kota Medan,
terutama antara etnis Melayu dan
Tionghoa. Perbedaan tidak menjadi
halangan untuk hidup bersama dan
saling membantu.
Pada saat kerusuhan Mei 1998, dr. Sofyan Tan.
masjid ini pernah menjadi tempat
Sumber: www.tempo.co.
berlindung warga etnis Tionghoa.
Saat itu, kondisi Medan sudah nilai-nilai toleransi, cinta kasih,
mencekam. Ada isu penyerangan dan keberagaman. Dengan cara ini,
terhadap etnis Tionghoa. Di kampung diharapkan mereka dapat menghargai
ini, etnis Melayulah bergerak untuk perbedaan yang ada.
mengevakuasi etnis Tionghoa ke Sekolah ini mengaktualisasikan
Kesawan, berlindung di Mesjid Lama semboyan Indonesia yang ber-
Gang Bengkok. Bhinneka Tungkal Ika. Pihak sekolah
Sampai saat ini, masjid bersejarah menyediakan 3 tempat ibadah (masjid,
ini terus mempertahankan maknanya gereja, dan wihara) dan satu pendopo
sebagai simbol persatuan dan yang kerap dipakai oleh para murid
persaudaraan antaretnis. Warga etnis yang beragama Hindu. Murid-murid
Tionghoa pun tak segan-segan ikut difasilitasi dalam menjalankan ibadah
merawat masjid ini. dan perayaan keagamaan menurut
kepercayaannya masing-masing.
Sekolah Pembauran Juga, pihak sekolah mengupayakan
Salah satu upaya untuk mencegah interaksi dan pertukaran budaya untuk
konflik dalam masyarakat multikultural mendapatkan saling pengertian dan
adalah melalui pendidikan. Hal ini kesepahaman di antara para siswa
disadari oleh dr. Sofyan Tan. Sebab bahwa Indonesia adalah bangsa yang
itu, ia kemudian mendirikan “Sekolah majemuk dan perbedaan adalah sebuah
Pembauran” sebagai sarana untuk kewajaran.
membentuk kesadaran untuk hidup Pihak sekolah juga berupaya agar
bersama dalam perbedaan pada peserta masyarakat ekonomi rendah juga
didiknya. dapat bersekolah. Sofyan Tan sebagai
Lembaga pendidikan tersebut ia pendiri tampaknya sadar, kecemburuan
namakan Yayasan Perguruan Sultan sosial masih menjadi isu utama dalam
Iskandar Muda. Sekolah yang berdiri membangun relasi yang harmonis
pada 1987 di Medan ini menekankan antaretnis. Melalui program Anak
pendidikan multikultural. Setiap Asuh Silang, Subsidi Berantai, dan
peserta didik diajarkan mengenai Bantuan sosial dengan melibatkan
91
pengalaman hidup bersama

masyarakat luas, sekolah ini berupaya X bidang pendidikan ini dianugerahi


untuk memberikan kesempatan seluas- Maarif Award pada 2014.
luasnya bagi masyarakat tidak mampu
untuk sekolah. E. Toleransi Antar-Agama
Yayasan Perguruan Iskandar Muda di Bali
didirikan dr. Sofyan Tan berangkat Ledakan bom mengguncang Bali
dari pengalaman pahitnya mengalami pada 2002 dan 2005. Dunia sontak
diskriminasi. Karena mata sipitnya, ia terkejut. Bali yang dikenal sebagai
harus mengulang ujian negara bidang surga dunia terakhir, Pulau Dewata
kedokteran beberapa kali untuk satu yang sarat dengan kegiatan budaya
mata kuliah. Padahal ia bukan orang dan keagamaan, dan salah satu pusat
kaya. Sofyan Tan yang lahir di Medan pariwisata dunia mengalami peristiwa
pada 25 September 1959 ini harus teror yang merenggut hingga ratusan
bekerja sebagai guru untuk membiayai nyawa manusia.
kuliahnya. Yang menarik dari kasus ini adalah
Pengalaman hidup miskin dan respons masyarakat Bali terhadap
diskriminasi yang diterimanya peristiwa tersebut. Masyarakat
menginspirasi dr. Sofyan Tan untuk Bali memang frustrasi dengan bom
memperjuangkan pembauran yang bukan hanya mengakibatkan
antaretnis. Ia kemudian mendirikan korban manusia, tapi juga membuat
sekolah dengan mengusung pendidikan perekonomian Bali yang banyak
multikultur. Langkah ini tergolong bersandar pada sektor pariwisata
berani. Ia sendiri tidak mempunyai
uang untuk membiayai sekolahnya.
Dana untuk pendirian sekolah, ia
dapatkan dari utang bank. Padahal
sekolah yang ia dirikan dimaksudkan
untuk menampung juga siswa-siswa
tidak mampu. Teman-temannya
menganggap tindakannya gila.
Bagaimana mungkin orang miskin
bisa mengentaskan orang lain dari
kemiskinan, ujar mereka. Nyatanya
sekolah itu masih berdiri sampai
sekarang, menampung ribuan murid
Masjid Agung Ibnu Batutah dan Gereja
dari beragam latar belakang. Katolik Maria Segala Bangsa di Kompleks
Atas kiprahnya dalam Puja Mandala, Nusa Dua, Bali menjadi saksi
kerukunan antarumat beragama di Bali.
memperjuangkan pembauran ini,
anggota DPR RI (2014–2019) Komisi Sumber: KHOMAINI.
92
indonesia zamrud toleransi

Bali adalah menggelar upacara suci


untuk menghilangkan kekotoran
yang membuat jagat tidak seimbang,
mengembalikan ke posisinya semula.
Sebenarnya, sejarah Bali bukannya
tanpa kekerasan. Bali pernah
mengalami ketegangan politik. Pasca-
Indonesia merdeka, di Bali seperti
juga di daerah lain, muncul beragam
partai politik yang kerap bertabrakan.
Situasi ini kemudian memuncak pada
pertengahan 1960-an. Saat itu, terjadi
pembantaian massal atas ratusan
ribu tertuduh komunis tanpa melalui
pengadilan yang jelas. Bahkan, bagi
orang Bali sendiri, peristiwa ini menjadi
tanda tanya besar. Mereka menikam
sesama orang Bali. Padahal, orang
Monumen Ground Zero Bali atau tugu
peringatan para korban Bom Bali, Legian,
Bali dikenal sangat religius, santun,
Kuta. bersahaja, dan begitu teguh memegang
Sumber: KHOMAINI.
ajaran mereka yang mengutamakan
keharmonisan dan keselarasan.
melesu. Berlalu sudah masa-masa jaya Namun, selama ratusan tahun, Bali
pariwisata Bali yang mendatangkan membuktikan diri mampu mengelola
banyak sekali dolar. perbedaan. Selain umat Hindu yang
Keharmonisan dalam kehidupan menjadi mayoritas, ada juga penganut
masyarakat Bali yang multikultur Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan
juga sempat terganggu. Kecurigaan Konghucu. Sampai saat ini, hubungan
mayoritas masyarakat Bali yang antarumat agama terjadi dengan
beragama Hindu terhadap umat harmonis tanpa ada yang merasa
Muslim terjadi dikarenakan para pelaku terpinggirkan. Keragaman bukannya
bom memang membawa nama Islam tidak menimbulkan masalah dan
dalam aksinya. Namun, kekerasan gesekan, terutama jika terjadi dua
tidak merembet ke mana-mana. Orang peribadatan dari agama yang berbeda
Bali tidak melakukan sesuatu sebagai saling berbenturan, misal hari raya
balasan seperti banyak yang terjadi di Nyepi yang jatuh pada hari Jumat
daerah lain di Indonesia. Bukannya atau tepat pada hari Lebaran. Namun,
mencari-cari siapa yang salah, pertama- masyarakat Bali mampu menyelesaikan
tama yang dilakukan masyarakat persoalan ini dengan dialog sehingga
93
pengalaman hidup bersama

dua peribadatan dapat tetap kearifan lokalnya terbukti mampu


berlangsung dengan lancar. menyelesaikan setiap masalah dengan
Kearifan lokal yang dimilikinya jalan damai.
membuat Bali mampu merawat
keharmonisan dalam masyarakatnya Bali sebagai Surga Dunia Terakhir
yang multikultur. Ajaran Hindu Bali Bali mulai menjadi perhatian para
menekankan keselarasan baik dalam wisatawan sejak seabad lalu, tepatnya
hubungan dengan Sang Pencipta, ketika maskapai pelayaran Belanda
dengan sesama manusia, maupun KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschapij)
dengan alam. Bali sendiri identik melalui promosinya tentang Bali
dengan Hindu. Ajarannya meresapi berhasil menarik minat penumpang-
segala aspek kehidupan dan menjadi penumpang Eropa untuk mengunjungi
etos masyarakat Bali. Alhasil, pulau ini. Sejak itu, pulau yang
mereka mampu mengintegrasikan ukurannya tidak besar ini (5.632,86
masyarakatnya yang berbeda latar km2) atau sekitar 0,29% dari total luas
belakang budaya dan agama. Ini kepulauan Indonesia menjadi salah satu
terjadi terutama dalam relasi antara destinasi wisata terfavorit di dunia.
penganut Hindu dengan masyarakat Alamnya yang sangat menawan,
Muslim. Kedua agama ini banyak budaya yang unik tiada duanya, dan
memiliki ritual yang bertentangan yang penduduknya yang ramah membuat
sangat mungkin menyebabkan konflik. pulau ini sangat terkenal di dunia.
Namun, masyarakat Bali dengan Tidak heran, pada 2015, majalah
Travel and Leisure memberikan Bali
predikat sebagai pulau wisata terbaik
kedua setelah Kepulauan Galapagos di
Ekuador, atau menjadi yang terbaik di
Asia. Prestasi ini bukan yang pertama
kali. Bali menjadi tiga besar pulau
wisata terbaik dunia versi Travel and
Leisure sejak 2009.
Begitu terkenalnya Bali di mata
dunia sehingga banyak orang mengira
Bali merupakan negara tersendiri
dan bukan merupakan bagian dari
Indonesia. Beberapa orang yang datang
Bangunan Masjid, Gereja Katolik, dan Vihara ke Bali terkejut saat mereka tiba di
berdiri berjajaran di Kompleks Puja Mandala, bandara, mereka disambut oleh pihak
Nusa Dua, Bali.
imigrasi Indonesia dan bukan Bali.
Sumber: KHOMAINI. Fakta ini menunjukkan bahwa di mata
94
indonesia zamrud toleransi

dunia, Bali lebih terkenal ketimbang sudah ada di Bali sejak ratusan tahun
Indonesia. lalu. Di Bali juga banyak bermukim
orang-orang Tionghoa. Sebagian dari
Masyarakat Multikultur mereka, khususnya yang berada di
Mayoritas penduduk Bali beragama pedesaan, telah menyatu dengan
Hindu menjadi anomali di Indonesia masyarakat dan kebudayaan Bali.
yang mayoritas muslim. Dalam agama Keragaman budaya di pulau Bali
Hindu di Bali, unsur-unsur lokal lebih bertambah lagi dengan membanjirnya
banyak menonjol. Antara agama turis-turis ke Bali dari berbagai negara
dengan adat istiadat terjalin erat di dunia. Mereka membawa budaya dan
sehingga sulit membedakan mana cara hidupnya masing-masing. Di antara
agama dan mana budaya. mereka, ada yang akhirnya memilih
Menyangkut praktik keagamaan menetap di Bali. Kedatangan mereka
Hindu, masing-masing daerah di Bali membuat tempat-tempat wisata, seperti
memiliki variasi lokalnya sendiri. Kuta, tak ubahnya perkampungan
Adanya variasi lokal itu justru internasional. Berbagai bahasa dunia
memperkaya khasanah budaya dan bercampur. Bali menjadi sebuah tempat
justru menjadi corak masing-masing yang benar-benar multikultur.
daerah di Bali. Budaya di Bali menjadi Yang menarik, di tengah gempuran
lebih beragam. Namun, dalam berbagai budaya Barat yang dibawa
keberagaman corak ini, masyarakat para turis itu, masyarakat Bali tetap
Bali tetap memiliki kebersamaan dan mampu mempertahankan tradisi yang
kesatuan pandangan terhadap nilai-nilai menjadi identitasnya. Di rumah-rumah,
ajaran Hindu. Tugas untuk merangkai orang-orang tetap menggunakan bahasa
kesatuan ini diemban oleh Majelis Bali. Upacara melasti di pantai tetap
Agama Hindu, yang disebut Parisadha berlangsung dengan khusyuk, tak
Hindu Dharma. terganggu oleh turis-turis berbikini nyaris
Selain umat Hindu, ada juga telanjang sedang berjemur di sekitarnya.
penganut agama lain yang tinggal di Memang, masyarakat Bali umumnya
pulau ini, seperti penganut Islam, tidak menganggap keragaman agama
Kristen, Katolik, Buddha, dan dan budaya sebagai ancaman terhadap
Konghucu. Sebagian masyarakat identitas kebalian mereka. Mereka
non-Hindu adalah para pendatang. punya masalah lain. Turisme membawa
Sebagian lain, merupakan penduduk banyak perubahan. Di satu sisi, turisme
Bali asli, terutama pada perkampungan- menjadi andalan Bali untuk meraih
perkampungan Islam di Bali, seperti kemakmuran. Namun, turisme pula
Pegayaman di Buleleng, Loloan di yang membuat seni Bali yang sakral
Jembrana, serta Kepaon dan Gelgel di menjadi barang tontonan, tanah-
Denpasar. Kampung-kampung Islam ini tanah adat menjadi tempat pelesir,
95
pengalaman hidup bersama

sehingga orang Bali tidak lagi leluasa Dalam konsep Tri Hita Karana,
melaksanakan ritualnya. Merangseknya nilai keselarasan diperluas, bukan
bisnis turisme ke wilayah-wilayah hanya dengan sesama manusia, tapi
sakral yang menjadi sendi-sendi utama juga dalam hubungannya dengan
peradaban mereka inilah yang menjadi Tuhan dan alam. Filosofi khas
keprihatinan sebagian masyarakat Bali. Hindu Bali ini mengajarkan bahwa
Meski demikian, tidak sedikit juga kebahagiaan manusia akan dapat
pandangan optimis bahwa masyarakat dicapai bila manusia mampu menjaga
Bali mampu bertahan menghadapi keharmonisan hubungan dalam 3 hal,
perubahan yang diakibatkan turisme. yaitu dalam hubungannya dengan
Menurut mereka, komersialisasi seni Parhyangan (unsur Ketuhanan),
dan produksi cenderamata tidak Pawongan (manusia), maupun
mengakibatkan pendangkalan nilai. Palemahan (unsur alam).
Sebaliknya, justru memacu para Dengan kata lain, manusia dapat
seniman untuk terus berkreasi. Mereka mencapai kebahagiaan jika ia mengabdi
percaya bahwa masyarakat Bali mampu pada Tuhannya, mengasihi sesama
mempertahankan yang sakral sambil manusia, dan turut serta dalam
terus menciptakan produk-produk baru menjaga kelestarian alamnya. Konsep
untuk ditawarkan ke wisatawan. inilah yang menjadi modal utama
masyarakat Bali dalam menjamin
Nilai Toleransi dalam Ajaran kehidupan yang toleran dalam
Hindu Bali keberagaman.
Ajaran Hindu begitu mewarnai Konsep Tri Hita Karana kemudian
masyarakat Bali. Ajaran ini pula yang melahirkan konsep nyama braya,
menjadi landasan bagi masyarakat yaitu hidup rukun dan damai dalam
untuk membangun sebuah kehidupan persaudaraan. Sikap menyama braya
yang harmonis dalam keberagaman. orang Bali itu merupakan pengamalan
Salah satunya terdapat dalam Kitab ajaran Hindu tat twam asi (kamu
Rg Weda X. 191, 2–4 yang secara bebas adalah aku), pegangan hidup yang
diartikan “Hendaklah bersatu padu, mengajarkan agar manusia senantiasa
bermusyawarah dan mufakat guna mencintai sesama. Nilai ini kemudian
mencapai tujuan dan maksud yang menjadi dasar dalam membangun
sama, seperti para Dewa pada zaman sikap toleransi dan kerukunan dalam
dahulu telah bersatu padu. Begitu juga, masyarakat yang multikultural.
bersembahyanglah menurut caramu Konsep lain yang berkaitan dengan
masing-masing, tetapi tujuan dan nilai toleransi adalah konsep Desa Kala
hatimu tetap sama, serta pikiranmu Patra yang menggambarkan fleksibilitas
satu, agar dikau dapat hidup bersama yang dimiliki orang Bali. Konsep ini
dengan bahagia.” pula yang menyebabkan bentuk luar
96
indonesia zamrud toleransi

agama Hindu yang dalam pelaksanaan


kegiatan agama di masing-masing
daerah Bali memiliki ciri sendiri-
sendiri. Kitab suci boleh sama, tetapi
cara pengamalan bervariasi karena
disesuaikan dengan desa (tempat), kala
(waktu), dan patra (keadaan). Inilah
yang menyebabkan—meski bersumber
pada Hindu yang sama—masing-
masing daerah di Bali memiliki praktik
keagamaan berbeda.
Juga ada konsep karmaphala yang
menyangkut hukum sebab akibat.
Dengan falsafah ini, masyarakat Bali Tradisi Ngejot di Bali.
dibimbing untuk berpikir lurus, karena
Sumber: Istimewa.
apa yang mereka alami sekarang,
sesungguhnya tidak terlepas dari apa masyarakat mayoritas Hindu dengan
yang diperbuat sebelumnya, sedang umat Islam di Bali. Sejarah masuknya
apa yang akan mereka alami kelak Islam ke pulau Bali sudah terjadi sejak
sangat tergantung dari apa yang mereka ratusan tahun lalu. Pada abad XVI,
kerjakan sekarang. kerajaan-kerajaan Hindu di Bali, seperti
Demikian orang Bali dengan konsep kerajaan Gelgel di Klungkung, Kerajaan
karmaphala selalu memandang setiap Pamecutan (Badung), dan Kerajaan
musibah yang mereka alami sebagai Buleleng memiliki banyak pengiring
peringatan bagi diri mereka sendiri dan prajurit yang direkrut dari orang-
bahwa ada yang tidak benar, ada orang Islam. Prajurit yang direkrut dari
yang menyimpang. Penyimpangan ini orang-orang Islam ini bekerja sama
mengakibatkan keseimbangan alam dengan prajurit yang beragama Hindu
terganggu. Menghadapi musibah yang dan mereka setia mengabdi kepada
terjadi, yang mereka lakukan bukanlah raja-raja Hindu di kerajaan-kerajaan
mencari siapa yang salah atau yang tersebut.
bisa disalahkan. Tetapi, mengadakan Sebagai bentuk penghargaan
upacara sebagai bentuk penyerahan diri atas pengabdian para pengiring dan
agar keseimbangan kembali terjadi. prajurit yang direkrut dari orang-orang
Islam itu, kerajaan Hindu tersebut
Integrasi pada Ranah Sosial- mengizinkan dan memberikan suatu
Budaya area khusus pemukiman untuk
Integrasi pada ranah sosial-budaya ditempati oleh orang-orang Islam.
terasa sekali dalam relasi antara Gelgel dan Kepaon, misalnya, adalah
97
pengalaman hidup bersama

tanah pemberian raja-raja Hindu untuk Galungan, Kuningan, atau hari raya
ditempati oleh orang-orang Islam. lainnya, mereka juga ngejot, yaitu
Sampai sekarang di kedua kampung ini memberikan makanan, buah-buahan
banyak ditemui orang-orang Islam yang atau jajanan kepada masyarakat muslim
secara turun-temurun tinggal di sana tetangganya.
dan berinteraksi dengan masyarakat Ngejot tidak hanya berfungsi
Hindu. untuk membagi makanan, tetapi
Penganut Hindu yang mayoritas juga untuk membagi kebahagiaan.
juga sering kali “melibatkan” atau Saat mengantarkan ngejot, orang
mengundang umat Islam untuk akan memberikan selamat pada yang
terlibat dalam kegiatan mereka, baik merayakan hari raya. Dalam hal ini,
kegiatan keagamaan atau kegiatan ngejot merupakan tradisi lokal dalam
lainnya. Hal ini dilakukan sebagai merayakan keberagaman di Bali.
tanda penghormatan dan penerimaan Perbedaan tidak dianggap sebagai
terhadap umat Islam. batasan, tetapi sebagai sarana untuk
Relasi antarumat melahirkan saling mengisi.
berbagai tradisi sebagai jalan untuk Jika terjadi masalah karena
mempererat hubungan. Di antaranya bentroknya pelaksanaan ibadah
tradisi ngejot. Istilah ngejot dalam kedua agama, masalah tersebut akan
bahasa Bali berarti memberi. Ngejot diselesaikan dengan dialog dan diambil
merupakan tradisi memberikan keputusan yang tidak merugikan kedua
makanan menjelang hari raya kepada belah pihak. Misalnya, perayaan Hari
tetangga yang berbeda agama. Raya Nyepi yang jatuh pada hari Jumat.
Penganut agama yang akan merayakan Maka, dibuatlah sistem agar umat Islam
hari rayanya mengantar aneka rupa tetap bisa melaksanakan salat Jumat
menu khas Bali baik berupa camilan tanpa mengganggu umat Hindu dalam
ataupun makanan berat, yang disebut melaksanakan ibadah Nyepinya, yaitu
dengan jotan. Isinya aneka rupa menu (1) ibadah Jumat di masjid dilaksanakan
khas Bali, seperti nasi campur, ayam tanpa pengeras suara, (2) bagi umat
betutu, dan jukut ares (sayur dari muslim yang terpaksa harus melewati
batang pisang). Selain makanan, ada desa adat untuk menunaikan ibadah
juga kue dan camilan, seperti jaja salat Jumat, maka pecalang akan
kukus, jaja uli, begina, dan tape ketan. mengantarkannya.
Saat hari raya Lebaran, orang- Pernah juga Hari Raya Nyepi dan
orang Islam di beberapa daerah Hari Raya Idul Fitri terjadi secara
Buleleng melakukan tradisi ngejot bersamaan, tepatnya pada 1994 dan
kepada tetangganya yang beragama 1995. Kedua perayaan tersebut tetap
Hindu. Begitu pula masyarakat berlangsung dengan lancar karena
Hindu di Buleleng, saat hari raya masing-masing mau berkorban. Umat
98
indonesia zamrud toleransi

Islam dengan sukarela tak melakukan Organisasi sosial masyarakat Bali


pawai takbir dan menggunakan pun, meski sangat terkait dengan
pengeras suara. Sementara umat Hindu kehinduan, memberi tempat pada
merelakan umat Islam melakukan umat Islam. Banjar Adat memiliki
takbir di musala dengan menggunakan tradisi sima karma, yaitu upaya
lampu. untuk menyerap aspirasi masyarakat
Masyarakat Bali juga peduli dan baik dalam bentuk saran, masukan
turut membantu perayaan Islam. hingga kritik, yang diadakan
Misalnya, umat Islam dipersilakan sebulan sekali dengan tidak melihat
menggunakan Lapangan Badung latar belakangnya. Mereka yang
yang terletak di kota Denpasar untuk datang dalam forum sima karma
melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul bisa berdialog dengan bebas tanpa
Adha. Secara tradisional, Lapangan memandang perbedaan agama.
Badung ini biasanya dipakai oleh umat Koeksistensi juga terjadi dalam
Hindu saat mereka menyelenggarakan organisasi subak yang beranggotakan
upacara hari-hari besar keagamaan dan petani Hindu dan Islam sebagaimana
upacara persembahyangan bersama. yang terjadi pada subak Pancoran,

Upacara Melasti sebagai rangkaian Hari Raya Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi.

Sumber: www.balimediainfo.com.
99
pengalaman hidup bersama

Tegalinggah, Pemogan, dan Banyubiru.


Tradisi Subak merupakan organisasi
pengairan tradisional masyarakat
Bali. Tradisi ini erat dengan ritual
Hindu. Tentu saja, saat umat muslim
menjadi anggota subak, terjadi
berbagai penyesuaian sehingga mereka
menjalankan ritual menurut agama
yang mereka anut.
Pada ranah budaya, peminjaman
budaya merupakan hal yang umum.
Pada bidang kesenian misalnya, ada
geguritan Ahmad Muhammad. Kidung
Upacara Melasti di Bali, salah satu tradisi
ini tidak hanya penting bagi umat Islam, keagamaan umat Hindu yang dilangsungkan
tetapi juga bagi umat Hindu. Khususnya di pinggir pantai.
di Desa Pamogan, Kidung Ahmad
Sumber: Ida Bagus Putra Adnyana, Bali:
Muhammad merupakan perlengkapan Ancient Rites in the Digital Age (Indonesia:
penting pada saat berlangsung BAB Publishing, 2016), h. 1.

upacara melasti sebagai rangkaian


Hari Raya Tahun Baru Saka atau Hari ketiga, dan seterusnya. Dalam budaya
Raya Nyepi. Umat Hindu di Desa Bali dikenal adanya emat nama sebagai
Pamogan membuat sesajen khusus penanda urutan kelahiran. Di samping
terbuat dari jajan. Pada saat sesajen itu juga dikenal nama Wayan/Gede/
dipersembahkan, dinyanyikanlah Putu, Nengah, Made, Nyoman dan
Kidung Ahmad Muhammad. Setelah itu, Ketut. Masyarakat Islam di Pegayaman
sesajen ditutupi dengan kain putih yang menggunakan tradisi penamaan Bali ini
dibentuk menyerupai kubah. Kubah pada nama-nama yang mereka berikan.
mengingatkan pada kubah dalam Kemudian ada tradisi Nyapar yang
Masjid. Dalam konteks kehinduan, dilakukan oleh masyarakat muslim
kubah bisa pula bermakna sebagai alam di Kabupaten Buleleng, contohnya di
semesta. desa Pegayaman. Safar atau Nyapar
Peminjaman budaya juga terjadi dilaksanakan setiap tahun hari Rabu
dalam tradisi pemberian nama. minggu terakhir di bulan Safar (bulan
Masyarakat Hindu Bali memiliki kedua dalam penanggalan Hijriah)
penanda yang khas dalam hubungannya pada sore hari. Mereka pergi ke pantai
dengan pemberian nama berdasarkan untuk mengaji, berzikir, dan berdoa.
urutan kelahiran seseorang. Dari Kemudian mereka makan bersama.
namanya dapat diketahui orang Tradisi ini merupakan ungkapan rasa
tersebut adalah anak pertama, kedua, syukur kepada Allah atas semua rizki
100
indonesia zamrud toleransi

dan berdoa memohon keselamatan, Bom Bali, Tantangan bagi


juga sebagai kegiatan untuk menolak Kedamaian
bala. Umat muslim di Bali, tidak hanya Peristiwa peledakan bom bali terjadi
di Pegayaman, masih meyakini bahwa pada 12 Oktober 2002 (Bom Bali I) di
bulan Safar adalah bulan sial atau bulan Sari Club, Paddy’s Pub, dan Kantor
bencana. Dalam tradisi Hindu, kegiatan Konsulat Amerika Serikat. Korban
keagamaan yang dilakukan di pinggir meninggal tercatat sebanyak 202 orang
pantai adalah upacara melasti. dan melukai sekitar 209 orang. Di
Pengaruh budaya Hindu pada samping itu, 4 buah bangunan roboh,
tradisi Maulud Nabi. Saat memperingati 20 bangunan rusak berat, 27 mobil
hari kelahiran Nabi Muhammad saw., rusak berat, dan 7 motor rusak berat.
umat Islam di Kabupaten Buleleng Bali Kasus peledakan bom kembali
membuat bale suji yang kemudian diarak terjadi pada 1 Oktober 2005 (Bom Bali
terlebih dahulu sebelum diletakkan di II) di tiga tempat, yaitu Rajas’s Cafe Kuta
dalam masjid. Bale suji ini mengingatkan Square, Menega Café, dan Cafe Nyoman
kita pada ogoh-ogoh yang diarak umat Jimbaran. Kejadian ini menyebabkan 23
Hindu menjelang Hari Raya Nyepi. orang meninggal dan 196 orang luka.
Masih banyak lagi tradisi Peristiwa bom Bali membawa
masyarakat Bali yang menggambarkan akibat langsung pada Pulau Bali.
keharmonisan umat Hindu dan Muslim, Kunjungan wisata menurun hampir
di antaranya tradisi megibung di Karang 80% beberapa hari pascaperistiwa
Asem, adanya banten Selam (sesajen tersebut. Penurunan terjadi karena
Islam) dalam upacara Sugihan Jawa, dan beberapa negara, seperti Jepang,
upacara Ngusaba Dangsil di Bungaya Inggris, Amerika, Singapura, Taiwan,
yang melibatkan Nyama Selam (Islam) dan Australia menerapkan larangan
pada puncak acaranya. berkunjung ke Indonesia, khususnya
Pulau Bali bagi warga negara mereka.
Hingga muncul istilah “sebelum bom”
yang merujuk pada masa kejayaan
pariwisata Bali.
Dalam bidang sosial, muncul
keretakan antara kelompok masyarakat
dan kelompok lain karena adanya
sikap saling curiga. Hal ini terlihat dari
pemberitaan mengenai penyelidikan ke
beberapa pesantren dan tempat yang
Tradisi Megibung, sebuah potret dicurigai. Harmoni sosial yang tercipta
keharmonisan antarumat beragama di Bali.
sebelumnya terganggu.
Sumber: www.menara-fm.com.
101
pengalaman hidup bersama

Dan, Kejahatan hanya bisa dilawan


dengan kekuatan senjata. Nilai-nilai
kemanusiaan hanya bisa dipertahankan
melalui “perang suci” melawan para
ekstremis.
Pandangan ini berangkat dari
pemahaman monoteisme yang
memahami Tuhan Pencipta hanya
menciptakan kebaikan saja. Segala
sesuatu yang buruk berasal dari
Kejahatan (Evil) yang merupakan lawan
dari Kebaikan. Pemahaman teodisi
Barong dan Randa dimainkan dalam ritual
drama Calonarang. Keduanya dimainkan oleh ini menjadi basis tindakan “perang
penari yang mengenakan topeng dan kostum. suci” melawan kejahatan, termasuk di
Sumber: Ida Bagus Putra Adnyana, Bali: dalamnya terorisme.
Ancient Rites in the Digital Age (Indonesia: Namun, orang Hindu Bali memiliki
BAB Publishing, 2016), h. 119.
pemahaman yang berbeda. Masyarakat
Hindu Bali tidak mengenal konsep
Respons atas Bom Bali Tuhan sebagai pencipta segala
Orang Bali pun mengerti, bahwa kebaikan, juga Kejahatan absolut dan
tindakan terorisme ini pun mengarah peperangan sebagai penyelamatan
ke mereka karena banyak orang Bali akhir. Perbuatan buruk yang dilakukan
yang turut menjadi korban. Namun, leak misalnya, tidak dipahami sebagai
meski orang Bali mengutuk tindakan Kejahatan transenden yang telah
kekerasan ini, seperti yang diungkapkan mengendalikan pikiran manusia, tetapi
oleh Annette Hornbacher, respons sebagai sikap banal manusia, seperti
orang Bali berbeda dengan tanggapan sikap iri hati. Kekuatan yang dimiliki
masyarakat Barat (Hornbacher 2009: leak, yang ia gunakan untuk melakukan
34–53). kejahatan, secara moral bernilai netral.
Menanggapi teror yang terjadi Pemahaman ini terkandung dalam
pada 2001, Presiden Bush menegaskan ritual drama Calonarang. Pada drama
bahwa tindakan kekerasan tersebut ini, Rangda yang membawa bencana
bukan hanya menyerang Amerika wabah penyakit dan kehancuran pada
Serikat, tetapi nilai-nilai peradaban masyarakat harus diseimbangkan
dan meminta masyarakat dunia untuk melalui pertarungan dengan Barong.
bersatu membasmi kejahatan ini. Keduanya dimainkan oleh penari yang
Masyarakat Barat memahami mengenakan topeng dan kostum. Poin
perang melawan terorisme sebagai penting dalam pertarungan sakral ini
perang Kebaikan melawan Kejahatan. adalah bahwa pertarungan ini tidak
102
indonesia zamrud toleransi

ditujukan untuk menghancurkan


Rangda sebagai perwujudan dari
Kejahatan atau sebagai penyelamatan
selamanya dari bencana yang terjadi,
tetapi sebagai keseimbangan sementara
pada dua kekuatan yang bertentangan
demi keberlangsungan kehidupan
manusia.
Artinya, Rangda dan Barong adalah Barong dan Rangda.

dua kekuatan yang dimiliki dunia yang Sumber: www.anacaraka.co.id.


meski saling berlawanan, keduanya
diperlukan demi keseimbangan dunia. bertanggung jawab untuk menjaga
Dari sudut pandang Hindu Bali, keseimbangan alam semesta.
Rangda sama sucinya dengan Barong, Alih-alih mengadakan serangan
karena itu tidak bisa dikatakan sebagai balasan, masyarakat Bali mengadakan
Kejahatan dalam pandangan monoteis. ritual penyucian, dan deklarasi
Keduanya bersifat sakral dan menjadi perdamaian berlangsung hampir di
objek pemujaan. semua wilayah pulau, terutama di
Pandangan ini menjadi dasar Kuta yang menjadi lokasi peledakan.
bagaimana sikap masyarakat Bali Bagi orang Bali, langkah pertama yang
terhadap teror Bom Bali. Hornbacher harus diambil adalah mengembalikan
menyebut sikap hidup (etos) orang Bali keseimbangan melalui berbagai
bersifat kosmosentris. Berbeda dengan macam upacara keagamaan. Intinya,
etika antroposentris orang Barat yang ketika kekuatan “jahat” mengguncang
menekankan manusia sebagai subjek keseimbangan, solusinya bukanlah
dan agen tindakan, etos orang Bali menghancurkan kekuatan jahat itu
menempatkan tanggung jawab manusia dengan kekerasan yang hanya akan
dalam lingkup alam semesta secara menambah masalah. Yang mereka
keseluruhan di mana tindakan manusia lakukan adalah memperkuat kekuatan
menjadi bagian darinya. Implikasinya “baik” melalui berbagai ritual sehingga
pada kasus bom Bali adalah bahwa keseimbangan terjadi.
penyelesaian terhadap kasus tersebut Hal ini membuat Bali tidak seperti
tidak terbatas pada tindakan subjektif daerah lain. Di Jawa, Maluku, Sumatra,
manusia untuk memaafkan atau dan Sulawesi, kekerasan atas nama
menghukum pelaku teror semata, agama akan memprovokasi tindakan
tapi meluas pada hubungan manusia balas dendam. Mayoritas masyarakat
dengan alam semesta. Manusia Bali tidak melakukannya. Memang
memiliki tanggung jawab tidak sebatas ada percikan-percikan tindakan balas
hanya pada sesama manusia, tetapi dendam, tapi hanya dilakukan oleh
103
pengalaman hidup bersama

kelompok kecil yang langsung bisa


ditangani karena tidak mendapat
dukungan dari masyarakat luas. Sikap
masyarakat Bali ini cukup mengejutkan,
mengingat besarnya dampak yang
diderita oleh masyarakat Bali akibat
serangan bom yang terjadi dua kali.
Memperkuat kekuatan “baik” juga
Banten Selam (sesajen Islam) menjadi sajian
berarti introspeksi terhadap diri mereka yang harus dibawa dalam upacara Sugihan
sendiri. Orang Bali sering menanggapi Jawa menggambarkan keharmonisan umat
Hindu dan Islam di Bali.
musibah sebagai tanda bahwa mereka
telah keluar dari dharma sehingga Sumber: Ida Bagus Putra Adnyana, Bali:
Ancient Rites in the Digital Age (Indonesia:
ketidakbaikan menjadi dominan dan BAB Publishing, 2016), h. 8.
hidup menjadi tidak lagi seimbang.
Musibah-musibah tersebut menjadi sejak awal sudah terjalin hubungan
tanda bagi mereka untuk kembali yang harmonis antara mereka dengan
pada dharma. Ritual-ritual dilakukan masyarakat Hindu Bali.
untuk meluruskan kembali setiap Mereka pun banyak menyerap
penyimpangan sehingga hidup kembali budaya Hindu Bali. Akulturasi budaya
seimbang. Dengan ini, kedamaian akan terjadi begitu baiknya. Seperti dalam
kembali terjadi. penggunaan bahasa, tata sosial
masyarakat, dan tradisi pemberian
Desa Muslim Pegayaman nama, masyarakat Pegayaman tak
Desa Pegayaman adalah sebuah ubahnya seperti masyarakat Bali pada
perkampungan Islam di Pulau Bali umumnya.
yang masyarakatnya mayoritas Hindu. Akulturasi budaya juga tampak
Terletak di Kecamatan Sukasada, jelas pada bidang kesenian keagamaan
Buleleng, tepatnya sembilan kilometer yang mereka kembangkan. Pada bulan
sebelah selatan Kota Singaraja, Maulud, ada pertunjukan kesenian khas
Bali bagian utara. Oleh masyarakat Pegayaman dalam rangka memperingati
Bali, mereka disebut Nyama Selam. hari lahir Nabi Muhammad saw.,
Masyarakat Bali pedesaan menyebut yakni burda. Dalam pertunjukan ini
Islam itu Selam, mereka tak biasa dilantunkanlah selawat dengan iringan
mengucapkan kata awal Is. musik tetabuhan. Alat tabuh yang
Warga muslim Pegayaman ini digunakan semacam rebana, cuma
bukanlah warga pendatang baru, lebih besar karena tubuhnya dibuat dari
mereka warga Bali asli. Agama Islam batang pohon kelapa.
sudah berkembang di daerah ini Sekeaa burda ini memakai pakaian
setidaknya sejak abad ke-18 M. Dan, tradisional Bali, sama dengan pakaian
104
indonesia zamrud toleransi

Bali yang terkenal itu. Lengkap dengan


upacara religiusnya. Di luar Pegayaman,
organisasi subak lekat benar dengan
upacara Hindu. Di Pegayaman, tentu
dengan cara yang sesuai dengan
keyakinan mereka.
Orang Pegayaman juga punya sekeaa
manyi (perkumpulan menuai padi)
dan sekeaa malapan (perkumpulan
memetik kopi). Semangat gotong-
Masjid Jamik Safinatussalam merupakan
masjid tertua di Desa Pegayaman, Sukasada,
royong mereka dalam membangun
Buleleng. Umat Muslim di desa ini banyak rumah, apalagi masjid, begitu kuat,
menyerap budaya Hindu Bali.
tak kalah dengan masyarakat Hindu di
Sumber: www.pagayamanvillage.blogspot. sekitarnya. Hanya pakaian keseharian
com.
yang mereka kenakan saja yang
orang di luar Pegayaman. Memakai membedakan mereka dari orang Bali
destar, berkain yang ujungnya di luar Pegayaman, yaitu kopiah untuk
meruncing di tengah, atau istilah Bali, lelaki dan kerudung untuk perempuan.
mekancut. Satu lagi yang unik, sama seperti
Meski dinyanyikan dalam bahasa masyarakat Hindu, masyarakat muslim
Arab, nada lagu selawatan dalam Pegayaman juga memiliki tradisi Nyepi.
pertunjukan ini mirip Kidung Wargasari Jika Nyepi dirayakan oleh umat Hindu
yang dikenal di kalangan umat Hindu Bali setiap tahun baru Saka, umat Islam
Bali. Di tengah-tengah sholawatan, Pegayaman melaksanakan Nyepi untuk
ada juga pertunjukan tari, dengan menyambut bulan Ramadan. Nyepi itu
pakaian dan gerak yang seirama dengan bertujuan untuk membersihkan hati.
kesenian tradisional khas Bali. Namanya Tata cara pelaksanaannya mirip dengan
tari Selendang, Tari Tampan, Tari tirakat yang biasa dilaksanakan warga
Perkawinan, dan Tari Pukul Dua. Muslim di Jawa. Keunikannya terletak
Pekerjaan pokok penduduk pada pembacaan selawat dengan
Pegayaman bertani dan berkebun. tembang umat Hindu. Di sini tampak
Kalau panen kopi, penduduk sekitar bersinerginya agama dan budaya.
Pegayaman—yang Hindu—ramai-ramai
ikut berburuh memetik ke Pegayaman. Ibu Gedong Bagoes Oka
Tak ada masalah. Mereka bekerja Ibu Gedong Bagoes Oka dikenang
bersama tanpa mempersoalkan sebagai tokoh cendekiawan dan
perbedaan keyakinan. spiritual Hindu yang memperjuangkan
Warga Pegayaman pun mengenal nilai kemanusiaan melalui gerakan
subak, tata organisasi pengairan khas antikekerasan. Ia adalah seorang aktivis
105
pengalaman hidup bersama

Tari Janger.

Sumber: KHOMAINI.

Tari Kecak Bali.

Sumber: KHOMAINI.
106
indonesia zamrud toleransi

lintas agama yang percaya bahwa sistem kasta. Beliau ingin memperbaiki
perbedaan agama tidak bisa dijadikan hal ini. Oleh sebab itu, Ibu Gedong
alasan untuk tidak menghormati melakukan pembaruan dengan
kemanusiaan. mengajarkan Hindu yang reformatif,
Pada 1976, Ibu Gedong mendirikan demokratis, dan toleran.
Ashram Gandhi di Desa Candidasa, di Hindu, menurut Ibu Gedong,
pantai timur Bali, dan menghabiskan adalah agama yang abadi dan universal
sebagian besar waktunya untuk (sananta dharma), terutama karena
mengelola ashram itu. berdasarkan pada kitab Weda dan
Ashram yang dikelola Ibu Gedong Vedanta. Juga, karena nilai-nilai
menyediakan pendidikan untuk kehinduan sebenarnya juga terdapat
anak yatim dan anak dari keluarga dalam kitab Injil atau Al-Qur’an.
tak mampu. Selain masyarakat lokal, Ibu Gedong dengan tak kenal
ashram juga menjadi tempat bagi lelah meyakinkan masyarakat
orang asing dari segala umur dan latar untuk mengamalkan Hindu yang
belakang agama guna memperdalam lebih menekankan nilai religius dan
keyakinan religiusnya dalam suasana spiritual, dan jangan terlalu terbelit
meditatif. oleh persoalan ritual yang njelimet. Ia
Kegiatan sehari-hari di ashram di mengganti simbol-simbol yang berupa
antaranya doa bersama, yoga, meditasi, sesajen dengan puja yang panjang.
dan bentuk yang lebih sederhana Meski demikian, beliau tidak pernah
dari ritual api suci dalam kitab suci mengecam tradisi Hindu Bali, seperti
Weda, Agnihotra. Murid-murid di yang dilakukan banyak pemikir muda
ashram juga mendapat kesempatan Hindu lainnya.
untuk mempelajari literatur suci di Selain mengelola Ashram Gandhi
perpustakaan ashram itu. Candidasa, Ibu Gedong masih
Tak hanya itu, juga terdapat kegiatan meluangkan waktunya untuk sesekali
pertukangan, menganyam, mengobati, mengajar Bahasa Inggris di Universitas
menjahit, pertanian, dan kebudayaan di Udayana. Ia juga memberi kuliah
ashram ini. Dengan semangat svadeshi, mengenai spiritual Hindu dalam
Ibu Gedong juga terlibat dalam berbagai berbagai forum, baik di dalam negeri
proyek kerja yang bertujuan untuk maupun luar negeri. Secara reguler, ia
membangkitkan pertanian bersama datang ke India atas undangan Gandhi
masyarakat setempat. Peace Foundation.
Dari hasil perenungannya, Ibu Pada 1994, dia menerima
Gedong sampai pada kesimpulan bahwa penghargaan ‘International Bajaj
agama Hindu di Bali sangat terpengaruh Award’ dari the Bajaj Foundation di
oleh budaya Bali yang penuh dengan Bombay atas usahanya yang tak kenal
kompleksitas sistem ritual dan ketatnya lelah menyebarkan ajaran Mahatma
107
pengalaman hidup bersama

Gandhi. Pada 1996, Ibu Gedong


mendirikan Ashram Bali Gandhi
Vidyapith di Denpasar, sebuah ashram
yang khusus mendidik mahasiswa di
universitas lokal tentang pemikiran
Gandhi.
Belakangan, Ibu Gedong juga
mendirikan ashram serupa di
Yogyakarta. Tidak hanya orang Hindu
yang datang ke ashram tersebut, tapi
juga umat Muslim dan Kristen.
Ibu Gedong dikenal selalu
Parade rakyat menyambut HUT RI ke-62
memperjuangkan harmoni dan di Plengkung Gading Alun-alun Keraton
kerukunan antarumat beragama. Yogyakarta.
Dia berhasil membangun hubungan Sumber: KHOMAINI.
konstruktif berdasarkan pikiran terbuka
dengan berbagai tokoh dari berbagai jiwa itu sejak lama telah ditinggali
agama, di antaranya Gus Dur, Romo warga dengan latar agama, keyakinan
Mangunwijaya, Dr. Th. Sumartana, dan dan etnis beragam. Berbagai situs
Dr. Eka Darmaputera. peninggalan dari masa lalu pun menjadi
Bersama mereka, ia saksi bisu betapa kayanya warisan masa
memperjuangkan nilai-nilai perdamaian silam, baik dari sisi budaya, kebiasaan,
dan kemanusiaan. Baginya, perbedaan agama dan keyakinan.
agama seharusnya tidak menjadi Meski demikian, Yogyakarta
sumber konflik karena inti dari setiap bukanlah daerah yang benar-benar
agama yang sebenarnya adalah berbuat bebas dari gangguan konflik dan
baik. Maka, jika orang benar-benar ancaman perpecahan. Aneka konflik
meyakini dan menjalankan agamanya berlatar belakang isu keagamaan
dengan sungguh-sungguh, ia akan memang sempat muncul hingga sempat
menjadi pejuang kemanusiaan yang mengganggu keharmonisan hidup
sebenarnya. di wilayah itu. Namun, pengalaman
panjang hidup berdampingan segera
F. Toleransi Umat Beragama dapat mengatasi berbagai persoalan
di Yogyakarta yang mengusik tersebut. Bahkan,
Daerah Istimewa Yogyakarta kepiawaian warga dan aparat
(DIY) memiliki catatan panjang Pemerintah Kota Yogyakarta—salah satu
dalam mengelola kerukunan dan daerah dalam DIY Yogyakarta—dalam
keharmonisan antarumat beragama. menjaga kerukunan dan keharmonisan
Provinsi berpenghuni sekitar 3,5 juta kehidupan sehari-hari membuat Kota
108
indonesia zamrud toleransi

Gudeg itu dijuluki sebagai Kota Toleran Fattah di Dusun Celenan, Desa Jagalan,
(City of Tolerance). Kecamatan Banguntapan. Tindakan
Penyematan City of Tolerance oleh intoleran yang terjadi sejak 2011 terus
Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (Aji berlangsung hingga pertengahan
Damai) pada Maret 2011 itu bukan tanpa 2016 dengan angka peningkatan
alasan. Yogyakarta dianggap sebagai yang cukup mengkhawatirkan. Pada
jantung kebudayaan Jawa yang dikenal 2015 lalu, ANBTI mencatat sekitar
sebagai kota yang setia menjaga nilai 13 kasus intoleransi terjadi di DIY.
dan tradisi budaya Jawa. Salah satu nilai Berbagai kalangan mengkhawatirkan
pokok yang menjadi pegangan hidup meningkatnya angka kekerasan
dan etika masyarakat Yogyakarta adalah lantaran tidak ada tindakan tegas dari
hidup rukun, saling menghormati dan aparat pemerintah daerah.
penuh tenggang rasa atau toleran. Penelitian lain datang dari The
Rukun berarti berada dalam keadaan Wahid Institute. Dari data yang
selaras, tenang dan tenteram, tanpa dirilis pada tahun 2014, Yogyakarta
perselisihan dan pertentangan. Inilah menempati urutan kedua sebagai
yang menjadi alasannya. kota paling tidak toleran di Indonesia.
Namun, berbagai catatan kelam Dari total 154 kasus intoleransi serta
terus-menerus menggerus kerukunan pelanggaran kebebasan beragama
dan keharmonisan yang berlangsung dan berkeyakinan yang dicatat Wahid
di daerah ini. Merujuk catatan Aliansi Foundation sepanjang tahun 2014, 21
Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), peristiwa terjadi di Yogyakarta. Setahun
sepanjang tahun 2015 hingga Maret kemudian, 2015, peringkat Yogyakarta
2016, aneka kasus intoleransi muncul sebagai kota intoleran turun ke nomor
bergantian. Misalnya, penutupan Gereja empat. Dari 190 pelanggaran yang
Pantekosta di Indonesia (GpdI) Semanu dicatat Wahid Institute, 10 terjadi di
dan Gereja Pantekosta di Indonesia kota pelajar itu.
(GpdI) Playen padahal kedua rumah Dua riset memang tidak serta merta
ibadah tersebut telah memiliki Izin mengubur predikat Kota Toleran
Mendirikan Bangunan (IMB), penolakan yang dimiliki Yogyakarta, namun
acara perayaan Paskah Adiyuswo Gereja menjadi ujian serta pekerjaan rumah
Kristen Jawa (GKJ) Gunugkidul yang yang perlu dijawab secara serius oleh
disertai penganiayaan terhadap aktivis aparat pemerintahan dan segenap
lintas iman, intimidasi dan kekerasan warga Daerah Istimewa Yogyakarta
terhadap kegiatan diskusi tentang melalui tindakan nyata. Gubernur
Syiah, intimidasi terhadap LGBT, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan
pembubaran diskusi lintas agama. Hamengku Buwono X, menyebut sifat
Contoh lain yang bisa disebut yakni terbuka (inklusif ) yang dimiliki segenap
penutupan pondok pesantren Waria Al- warga sebagaimana tersirat dalam
109
pengalaman hidup bersama

budaya Jawa merupakan modal utama agama DIY tetap menjadi acuan meski
yang dimiliki masyarakat Yogyakarta akhir-akhir ini sempat dirongrong
untuk memperkuat demokratisasi oleh berbagai tindakan intoleran.
dalam kehidupan bermasyarakat. Sri Pengalaman warga DIY dalam hidup
Sultan mendorong warganya untuk berdampingan dengan kelompok-
terus berupaya membangun Yogyakarta kelompok lain dengan latar belakang
sebagai pelaku utama yang membentuk berbeda menjadi penopang utama
toleransi dengan dipayungi filosofi Jawa keharmonisan dan kerukunan di DIY.
“hamemayu hayuning bawana” atau Pada era revolusi kemerdekaan di
menjaga keseimbangan kehidupan dan Yogyakarta, wilayah tersebut begitu
keselarasan dunia. terbuka sebagai wadah perjumpaan
Dalam arti lebih luas, Sultan berbagai etnis dan agama, sipil dan
mengajak seluruh komponen militer. Di Kota Perjuangan itu tokoh-
masyarakat untuk senantiasa merawat tokoh bangsa dari berbagai latar
keseimbangan antara jagad kecil, agama, etnis, dan pandangan politik
mikrokosmos (manusia) dengan jagad berbeda berkumpul dalam suasana
besar/alam semesta. Keseimbangan ini kekeluargaan dan kekerabatan. Ada
diwujudkan dalam perilaku manusia Sukarno, Ali Sadikin, Mohammad Hatta,
yang senantiasa menjunjung tinggi etika A.A. Maramis, Muhammad Yusuf, Mr.
dan kebenaran. Atas dasar itu, menjadi Assat, dan A.R. Baswedan yang berasal
penting untuk terus menanamkan nilai- dari etnis dan agama berbeda-beda.
nilai keragaman sejak dini, terutama Ada juga K.H. Wahid Hasjim (Nahdlatul
terhadap generasi muda yang melek Ulama), Ki Bagoes Hadikoesoemo
teknologi agar nilai keberagaman dapat (Muhammadiyah), Mohammad
didalami secara arif dan bijaksana.
Selain itu, perlindungan terhadap
kelompok-kelompok minoritas pun
perlu dilakukan agar setiap warga
negara memiliki rasa aman dan nyaman
dalam menjalani hidup sehari-hari.

Pengalaman Toleransi di Daerah


Istimewa Yogyakarta
Sebagaimana telah disinggung
sebelumnya, DIY merupakan daerah
yang sejak lama dikenal sebagai wilayah
yang sangat baik dalam menjaga Candi Palgading di Desa Sinduharjo,
Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.
nilai-nilai keragaman dan toleransi di
Indonesia. Keberagaman budaya dan Sumber: Istimewa.
110
indonesia zamrud toleransi

Natsir (Persatuan Islam), Sayyid Shah lokasi itu terdapat Candi Kimpulan,
Muhammad Al-Jaeni (Ahmadiyah), dekat kampus Universitas Islam
dan I.J. Kasimo (Katolik). Merujuk Indonesia, yang bercorak Hindu. Candi
pada pengalaman itu, agaknya para Kimpulan ini berhasil ditemukan secara
tokoh lintas iman dan etnis itu lebih tidak sengaja pada 11 Desember 2009.
mementingkan persatuan ketimbang Situs Palgading berasal dari masa
perpecahan. Mereka lebih bersemangat kejayaan agama Hindu dan Buddha di
bekerja bersama dan bahu membahu Nusantara, tepatnya sejak abad ke-9
mewujudkan keindahan-keindahan hingga 10 Masehi. Hal itu tampak dari
daripada menciptakan keburukan. struktur bebatuan yang membentuk
Mereka mengerti dengan seksama stupa berukuran kecil. Lalu diperkuat
peribahasa Jawa holopis kuntul baris pula dengan keberadaan arca
yang secara luas bermakna bekerja Awalokiteshwara yang merupakan
bergotong royong dengan meredam simbol penyembahan Boddhisatwa
ego dan kepentingan individual untuk dalam agama Buddha serta dikenal pula
kepentingan bersama yang lebih luas sebagai dewa kasih sayang, dewa asih
(Latif 2014: 307). serta dewa penjaga dalam pantheon
Contoh lainnya yaitu penemuan Buddha Mahayana.
Candi Palgading di Sleman. Penemuan Begitulah keharmonisan yang
situs bersejarah di Desa Sinduharjo berlangsung di Daerah Istimewa
pada 2006 silam itu membuktikan Yogyakarta. Meski sempat diterpa
fakta bahwa Nusantara di masa silam berbagai aksi intoleran beberapa waktu
pernah mengalami masa kejayaan di silam, hingga kini DIY masih dijadikan
mana umat beragama dapat hidup barometer bagi daerah-daerah
berdampingan dalam suasana yang lain di Indonesia dalam mengelola
rukun dan harmonis tanpa perasaan keharmonisan dan kerukunan
takut dan ancaman intimidasi dari antarumat beragama. Label inilah
pihak lain. yang harus terus dipertahankan agar
Secara administratif, Candi muncul optimisme dalam masyarakat
Palgading ini terletak di Dusun Yogyakarta—dan di Indonesia secara
Palgading, Desa Sinduharjo, Kecamatan luas—bahwa kita mampu hidup
Ngaglik, Kabupaten Sleman. Tepatnya berdampingan secara damai dalam
sekitar dua kilometer arah timur Kantor situasi dan kondisi apa pun.
Kecamatan Ngaglik. Kompleks Candi Tentu saja, hidup rukun dan
Palgading bercorak Buddha itu berada harmonis bukan dalam arti adanya
di tengah pemukiman penduduk penyeragaman pikiran, tindakan dan
dengan luas situs kira-kira 1 hektare. kebiasaan sebagaimana yang kerap kali
Keharmonisan hubungan antarumat dipaksakan sekelompok kecil dalam
beragama terendus karena tak jauh dari masyarakat. Sebab, penyeragaman
111
pengalaman hidup bersama

berpotensi melahirkan konflik dan mengiringinya. Sebelum tahun 1969,


gesekan sosial di tengah-tengah wilayah di timur Indonesia itu dikenal
masyarakat. Tetapi hidup rukun dan dengan nama New Guinea Barat (West
harmonis dalam makna saling mengerti New Guinea). Indonesia mengenal
dan saling menghargai antara teman daerah itu dengan nama Irian Barat
dan tetangga, antara kampung dan kemudian berubah menjadi Irian
kawasan serta antarsuku bangsa Jaya sejak pembukaan pertambangan
yang berbeda paham keagamaan Freeport pada tahun 1973. Pada era
dan keyakinan. Kesemuanya sangat pemerintahan Abdurrahman Wahid
mungkin dilakukan karena telah wilayah itu secara informal disebut
membudaya menjadi kearifan lokal Papua, dan secara formal pada 2001
selama ratusan tahun. menjadi Papua. Namun, para nasionalis
Papua hingga kini tetap menggunakan
G. Mengelola Keragaman istilah Papua Barat untuk berbagai
di Tanah Papua alasan perjuangan mereka (Bertrand
Pembicaraan mengenai Papua kerap 2012: 233).
kali dibarengi dengan pembahasan Perihal konflik yang selalu
perihal berbagai konflik yang disandingkan ketika membincangkan

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Papua Lipiyus Binilek (tengah), tokoh masyarakat
serta pimpinan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) memaparkan hasil pertemuan tertutup dengan
Presiden Joko Widodo di Kantor Kepresidenan, Jakarta.

Sumber: www.beritadaerah.co.id.
112
indonesia zamrud toleransi

Papua biasanya seputar soal-soal


ekonomi dan politik. Dua sektor itulah
yang menjadi alasan para nasionalis
berjuang untuk memperbaiki nasib
mereka. Selain itu, ada juga konflik
antarsuku dan kekerasan yang
mengatasnamakan alasan-alasan
keagamaan. Fenomena-fenomena
tersebut menggoda orang untuk
mengimajinasikan wajah Bumi
Cenderawasih sebagai wilayah yang
“murung” dan “menyeramkan”. Meski
demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa Para perempuan mengelola bahan makanan
menjadi kue yang siap disantap anggota
terdapat berbagai pengalaman dan keluarga.
cerita kedamaian di Tanah Papua.
Sumber: KHOMAINI.
Pengalaman hidup bersama
warga Kampung Wonorejo, Papua,
merupakan salah satu contoh yang berbeda, mempunyai nilai atau memori
dapat diungkap untuk menunjukkan bersama yang menjadi semangat
bagaimana Papua piawai mengelola dan kekuatan untuk memelihara
keragaman di wilayahnya. Fakta ini situasi damai. Karena itu, interaksi
terungkap dalam penelitian Center for masyarakatnya berlangsung dalam
Religious and Cross-cultural Studies, upaya untuk mencapai keharmonisan
Yogyakarta di wilayah tersebut (Ahnaf hidup bersama. Interaksi antaretnis
dkk. 2016). yang terjadi di Wonorejo juga terwujud
Kampung Wonorejo adalah sebuah dalam proses transfer pengetahuan.
desa yang terletak di daerah tapal batas Misalnya, interaksi para perempuan
antara Papua dan Papua New Guinea. transmigran dari Jawa dan para
Warga desa ini berasal dari Pulau perempuan Papua dalam mengolah
Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara bahan makanan, seperti pengolahan
Barat (NTB) yang datang sebagai singkong menjadi kue yang dipelajari
transmigran yang hidup dengan latar perempuan Papua dari perempuan
belakang kebudayaan, adat-istiadat, Jawa, dan pengolahan sayur pohon
dan agama berbeda. Situasi itulah yang pisang yang dipelajari oleh perempuan
menjadi dasar masyarakat Wonorejo Jawa dari perempuan Papua (Ahnaf
membangun kehidupan yang toleran dkk. 2016: 25–26).
dengan orang-orang di sekitar mereka. Masyarakat Wonorejo memberi
Masyarakat Wonorejo dengan contoh pentingnya ruang-ruang
latar belakang kultur dan keyakinan perjumpaan yang bisa menjembatani
113
pengalaman hidup bersama

lokal memiliki peran penting dalam


proses pengelolaan keragaman dan
menjaga perdamaian. Mereka berperan
menebar nilai-nilai keragaman,
toleransi kepada masing-masing umat,
menghindari materi penyiaran agama
yang menyinggung, dan memperkokoh
jalinan antarumat beragama.
Meski terbilang berhasil dan
Proses pematangan penganan hasil olahan
kaum perempuan. menjadi contoh pengelolaan keragaman
di Tanah Papua, ketegangan dan
Sumber: KHOMAINI.
konflik tidak serta merta hilang dari
wilayah ini. Ketegangan dan konflik
relasi lintas-etnik dan antaragama biasanya dipicu oleh kecemburuan
dalam kehidupan sehari-hari agar sosial yang tersimpan dalam relasi
mewujud dalam bentuk kedamaian. antarwarga lantaran para pendatang
Praktik pengelolaan keragaman menguasai sebagian besar sektor-
dilakukan melalui adaptasi dan sektor perdagangan kebutuhan rumah
transformasi kegiatan kesenian yang tangga dan pertanian. Ketika persoalan
tidak menjadi tradisi eksklusif salah tersebut mencuat, para pemuka agama,
satu kelompok etnis, tapi melibatkan pemangku adat dan aparat pemerintah
dan merangkul seluruh masyarakat. segera meredam agar konflik tidak
Cairnya relasi antaretnis nampak meluas.
dalam kegiatan kesenian Kuda Lumping Seperti konflik yang terjadi di
dari Jawa Timur dan Bakar Batu Tolikara pada 2015 silam. Sebelum
dari Papua yang dirayakan dengan insiden pembakaran masjid di
melibatkan semua warga. Praktik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua,
lainnya seperti semangat gotong royong berdasarkan penelitian Kementerian
dalam membangun rumah ibadah, yang Agama Republik Indonesia di lapangan,
melibatkan seluruh warga, terlepas dari masyarakat setempat memiliki tradisi
latar belakang dan identitas keagamaan saling mengunjungi pada hari besar
yang dianut. keagamaan khususnya di hari Idul
Relasi serupa juga bisa dilihat dalam Fitri dan Natal. Namun, eksklusivisme
acara-acara keagamaan seperti Idul yang ditunjukkan jemaat Gereja Injili
Fitri dan Natal yang dirayakan secara di Indonesia (GIDI) berakibat pada
bersama-sama disusul dengan tradisi larangan umat Islam menyelenggarakan
saling mengunjungi dan menyampaikan salat Idul Fitri di lapangan Makoramil
ucapan selamat. Di sini, para tokoh Karubaga menggunakan pengeras
agama, pemangku adat dan pemerintah suara. Pelaksanaan salat di lapangan
114
indonesia zamrud toleransi

karena umat Islam di Tolikara oleh hadapi dan mencari titik temu seluruh
GIDI dilarang membangun masjid, warga untuk mendiskusikan banyak
hanya diperbolehkan membangun hal. Seperti membentuk Balai Kampung
musala tanpa pengeras suara. Karena yang berfungsi sebagai ruang dialog
umat Islam tetap melaksanakan salat, warga dan mempererat komunikasi
perpecahan pun terjadi. antarwarga. Menurut pengalaman
Selain persoalan eksklusivisme warga, cara ini berhasil mengurangi
dalam beragama, kesenjangan ketegangan yang belakangan
ekonomi antara masyarakat asli dengan diketahui dilatari oleh motif-motif
pendatang juga menjadi pemicu politis. Dengan begitu, setiap warga
mencuatnya konflik. Berdasarkan dapat terlibat dan melihat langsung
demografi wilayah, umat Islam di proses tersebut, sehingga menjadi
Tolikara umumnya berasal dari pembelajaran bagi mereka. Mekanisme
Sulawesi Selatan, terutama dari penyelesaian konflik lainnya misalnya,
Kabupaten Bone. Mereka berprofesi dengan membuat perjanjian dan
sebagai pedagang. Dari temuan penetapan sanksi terhadap mereka
penelitian, sebagian besar (sekitar 80%) yang melakukan suatu kegiatan yang
pemilik kios adalah umat Islam seperti menimbulkan konflik (Ahnaf dkk. 2016:
penjual sembako dan kebutuhan pokok 53).
lainnya. Dengan profesi tersebut, Begitulah cara warga mengelola
masyarakat pendatang mampu keragaman dengan mengedepankan
menguasai sumber-sumber ekonomi nilai-nilai kebersamaan dan
warga. Hal ini jika susupi motif-motif kekeluargaan sehingga harmoni dan
politik akan cepat berubah menjadi kerukunan tetap berlangsung di wilayah
konflik. Menengok pada pengalaman mereka dan dapat dinikmati oleh
di daerah lain, mestinya aparat generasi mendatang.
pemerintah bersama dengan warga
masyarakat bekerja sama membangun Filsafat “Satu Tungku Tiga Batu”
wilayah dan memberdayakan Peristiwa konflik dan kekerasan yang
ekonomi warga agar tidak mudah terjadi di Tanah Papua menjadi ironi
tersulut masalah-masalah identitas. tersendiri sebab masyarakat adat Papua
Sebab problem kemiskinan dan memiliki mekanisme penyelesaian
kesenjangan ekonomi dapat menjadi masalah, konflik, atau perang di antara
pemicu berbagai konflik sosial dan mereka yang disebut dengan “Satu
ketidakharmonisan di masyarakat. Tungku Tiga Batu”. Filsafat hidup ini
Dalam relasi dan perjumpaan bermula dari Fakfak, Papua Barat, lalu
sehari-hari, warga desa Wonorejo diadaptasi wilayah lain di Papua karena
menemukan pola-pola sederhana dalam memiliki semangat sama. Semboyan ini
menyelesaikan persoalan yang mereka menggambarkan prinsip hidup warga
115
pengalaman hidup bersama

antara tiga elemen masyarakat dalam


pembangunan, yaitu Adat, Agama, dan
Pemerintah. Sinergi artinya mengelola
perbedaan agar tidak menimbulkan
perpecahan.
Kecerdasan para pemuka adat dan
agama di Fakfak sejak tiga abad lalu
telah memungkinkan harmoni dan
kerukunan agama dan adat berlangsung
baik di Tanah Papua. Dalam kehidupan
sehari-hari, mempraktikkan tenggang
rasa dalam bangunan masjid yang
didirikan persis di bibir pantai
Kampung Patimburak (100 kilometer
Remaja Mesjid Kampung Pasir Putih,
mengiringi Pastor dalam prosesi Misa dari Kota Fakfak). Gagasan monumental
Pembukaan Temu OMK Se-TPW Fakfak 2015, dari bangunan ini adalah memadukan
di Gereja St. Yosep Brongkendik.
bentuk Masjid dan Gereja. Bangunan
Sumber: Jeje Hindom. dan ornamen masjid menjadi simbol
toleransi penuh makna sejak masjid
Papua dalam menjaga keseimbangan berdiri pada 1700-an.
dan kebersamaan hidup, antara lain Dari semboyan sederhana itu, kita
melalui penghormatan yang tinggi berharap kerukunan yang terjalin di
terhadap pentingnya kerukunan hidup Fakfak dapat menyebar ke seluruh
antarumat beragama yang ada di wilayah lain di Papua dan mampu
daerah itu, yakni Islam, Kristen, dan menginspirasi anak-anak bangsa untuk
Katolik. menjaga kerukunan umat beragama
Semboyan “Satu Tungku Tiga di Tanah Air. Meskipun berbeda-beda
Batu” diambil dari kebiasaan tetapi tetap satu.
memasak masyarakat setempat yang
menggunakan tungku dengan batu H. Gus Dur (Abdurrahman
sebagai penopangnya. ‘Tungku’ Wahid)
adalah kebersamaan hidup. ‘Tiga Batu’ Sebenarnya, dirasakan agak kurang
adalah simbol dari tiga agama besar— pas jika karya ini hanya membahas 1
Kristen, Katolik dan Islam—yang hidup tokoh ini tanpa tokoh-tokoh yang lain.
di sana. Masyarakat meyakini, jika Secara umum, sudah dibahas beberapa
keseimbangan terjaga stabil, semua tokoh dalam pembahasan di bab dan
persoalan hidup dapat diatasi dengan sub-bab yang sudah disajikan. Juga,
baik. Semboyan “Satu Tungku Tiga karya Mata Air Keteladanan (Yudi Latif
Batu” juga berarti sinergi harmonis 2014) memberikan rincian dan lintasan
116
indonesia zamrud toleransi

yang luas mengenai manusia-manusia


Indonesia. Namun, agaknya, Gus Dur
terlalu penting untuk tidak dibicarakan
secara khusus. Ada alasan sederhana,
Gus Dur adalah tokoh kebangsaan,
disebut sebagai tokoh pejuang
keragaman Indonesia (pluralis), tokoh
perdamaian dunia, dan Presiden
Republik Indonesia.
Gus Dur sudah memberikan wajah
optimis Indonesia dengan kemampuan
mengelola segala keragaman Indonesia,
sekaligus memberikan penghargaan
yang tinggi terhadap agama dan
kepercayaan. Selain itu, Gus Dur juga
turut hadir di beberapa simpangan
Abdurrahman Wahid (1940-2009) alias Gus
penting sejarah Indonesia, yaitu awal Dur adalah Presiden Republik Indonesia ke-
’70-an, ’80-an, dan transisi di masa 4, menjadi yang terdepan dalam membela
kelompok-kelompok minoritas.
reformasi.
Gus Dur, atau Abdurrahman Wahid, Sumber: www.rmol.co.

sudah menunjukkan tanda-tanda kuat


ketokohannya dengan kemampuannya
mengolah pengetahuan yang Secara terus menerus Gus Dur
dalam mengenai ilmu dan dunia, memilih untuk menggaungkan
juga kepekaannya atas peralihan keindonesiaan dengan risiko dianggap
sejarah. Gus Dur membawa nilai-nilai plin-plan. Sebagian karena kecerdasan,
keindonesiaan sebagai penanda dari sebagian karena relasinya yang amat
kemanusiaan yang diperjuangkan luas, pilihan-pilihan yang tidak populer
oleh kelompok-kelompok masyarakat. namun menggaungkan keindonesiaan
Tulisan maupun tindakannya ketika ini tetap mendapatkan dukungan yang
memimpin Dewan Tanfidz Nahdlatul cukup penting. Bahkan, ketika Gerakan
Ulama—menjadi Ketua PBNU, Reformasi menuntut Suharto turun
setelah Muktamar Situbondo 1984— dari jabatan Presiden, Gus Dur bersama
membangun ruang Indonesia yang beberapa tokoh lain menyediakan diri
saat itu diwarnai tekanan kuat dari untuk “pasang badan” dalam peralihan
rezim Order Baru dan tumbuhnya sejarah itu. Ada suatu pemahaman
aspirasi-aspirasi akar rumput (misalnya di kala itu bahwa peralihan sejarah
tercermin dalam Muktamar Cipasung ini tidak boleh menjadi peristiwa
1994). kekerasan.
117
pengalaman hidup bersama

Ketika Gus Dur menjadi Gus Dur bukanlah sosok yang


presiden, langkah-langkahnya untuk gemar menyampaikan pemikirannya
“merangkul” pihak-pihak yang agar diterapkan orang lain, tetapi
pernah direpresi di masa Orde Baru berupaya mempraktikkan sendiri
mendapatkan reaksi yang berbeda. dalam kehidupan sehari-hari. Tentu
Namun, karena Gus Dur sendiri saja jalan yang ia tempuh tidak selalu
mengalami situasi yang cukup sulit mulus. Kritik dan cemooh datang silih
semasa menjadi Ketua PBNU, maka berganti, namun Gus Dur bergeming
langkah ini dirasa masuk akal. tetap menyosialisasikan pemikirannya
Lebih dari itu, kepeduliannya ke berbagai forum seminar dan diskusi.
terhadap kelompok Tionghoa Inilah bentuk konsistensi Gus Dur.
juga menjadi amat kuat dengan Meskipun banyak yang mengecapnya
penegasannya mengenai kenyataan sebagai orang yang abaik pada
bahwa etnis Tionghoa adalah bagian mayoritas, tetapi membela minoritas
dari “Rumah Indonesia”. Konon, dengan gigih.
Gus Dur bahkan menerima penganut Belakangan, banyak kalangan baru
Parmalim (kepercayaan tradisional mengerti bahwa tingkah putra K.H.
sebagian etnis Batak Toba). Peristiwa Wahid Hasyim itu bertujuan mengajak
penerimaan Gus Dur sebagai Presiden kelompok mayoritas untuk menghargai
RI pada kelompok kepercayaan ini hak-hak kelompok minoritas, sekaligus
menjadi penanda penting dalam menghadirkan rasa aman bagi mereka.
sejarah kebebasan beragama dan Sebab dalam demokrasi, setiap orang
berkeyakinan di Indonesia. Tindakan harus berdiri setara. Semua pihak
Gus Dur ini juga berdampak positif juga memiliki hak yang sama untuk
pada relasi inter-etnis Batak, baik yang hidup dengan aman dan nyaman tanpa
beragama “resmi” maupun penganut tekanan dan intimidasi kelompok lain.
aliran kepercayaan. Jika semua itu berjalan, kerukunan dan
Persamaan hak, penghargaan harmoni yang menjadi cita-cita bersama
terhadap kemajemukan, penegakkan bukanlah hal sulit untuk diraih. Itulah
hukum yang adil tanpa memandang optimisme yang terus disuarakan anak
posisi dan kedudukan seseorang, serta bangsa yang mencintai negerinya
kebebasan, merupakan isu-isu utama dengan sepenuh hati seperti Gus Dur.
yang selalu ia sampaikan di berbagai
forum dan kesempatan berbeda. Juga
tidak harus dalam situasi formal saja,
terkadang ia menyampaikan gagasan-
gagasannya itu dalam bentuk ilustrasi
atau lewat guyon dan gaya jenaka
sekaligus, tetapi sarat makna.
118
indonesia zamrud toleransi

Catatan
Penutup

H
idup dengan ketika membangun konsensus
keanekaragaman yang kebangsaan dalam sidang BPUPK Mei–
luar biasa berarti Juni 1945, memahami bahwa kekayaan
hidup dengan tarikan- Indonesia itu harus sanggup hidup
tarikan yang juga luar dan saling mengisi. Begitu juga dengan
biasa banyak dan kuat. Ada godaan para penggiat perdamaian dalam
popularitas, ada juga godaan untuk konflik Aceh, Papua, Maluku, dan Poso.
mengurung diri. Tingginya intensitas Mereka sadar bahwa setiap korban yang
hubungan-hubungan sosial berskala jatuh atau setiap orang yang disiksa
global membuat bangsa multikultural adalah sebuah pertanyaan terhadap
bukan hanya menghadapi potensi kemanusiaan. Setiap perbedaan
ledakan pluralisme dari dalam semata, yang dijadikan bahan konflik dan
melainkan juga tekanan keragaman penundukan adalah sebuah gugatan
dari luar. Terjadi tarikan global ke terhadap sikap kebangsaan. Setiap
arah perdamaian yang disertai oposisi kelemahan yang dieksploitasi menjadi
dan antagonisme. Di seluruh dunia, bahan cemooh dan kampanye politik
”politik identitas” (identity politics) yang adalah perendahan pada kekuatan jiwa
mengukuhkan perbedaan identitas merdeka Indonesia.
kolektif berbasis etnis, bahasa, dan Baiklah kita merujuk pada pesan
agama mengalami gelombang pasang. moral risalah Nurcholish Madjid
Tidak ada satu pun tokoh Indonesia (Cak Nur), salah satu di antara sekian
yang tidak paham mengenai tantangan pejuang kemanusiaan Indonesia
di atas. Sukarno, Sang Proklamator, yang memandang perbedaan sebagai
119
catatan penutup

rahmat, sejauh didasarkan pada berhadapan dengan apa yang


komitmen etis kebangsaan dalam dikatakan Bung Hatta sebagai
kerangka demokrasi konstitusional. jiwa-jiwa kerdil sebagian
Dalam Indonesia Kita, Cak Nur pemimpin kita (Madjid 2004:
mengungkapkan bahwa perbedaan 115–116).
yang tidak terolah, atau malah
mewujud menjadi pertarungan zero- Soal Indonesia adalah soal
sum-game dapat dimengerti sebagai mencintai. Mencintai berarti
“kekerdilan” dari kepemimpinan di berkembang bersama. Hal ini secara
dalam masyarakat. jelas dinyatakan dalam alinea IV
Pembukaan Undang-Undang Dasar
Para tokoh pendiri negara telah 1945. Tidak tanpa alasan jika dalam
merintis usaha penggalian alinea itu dinyatakan, “… melindungi
ide-ide terbaik untuk negara segenap bangsa Indonesia dan seluruh
dan bangsa Indonesia. Tetapi, tumpah darah Indonesia….”
sebagaimana dikemukakan Melindungi dapat diumpamakan
di atas, ide-ide itu belum seperti merawat dan mendidik anak.
semuanya terlaksana dengan Sepanjang pertumbuhan anak tersebut,
baik. Bagian-bagian yang telah perlindungan mutlak diperlukan.
terlaksana, khususnya wujud Seturut pertumbuhan umur, cara
negara Republik Indonesia melindunginya juga berkembang.
itu sendiri, merupakan modal Dalam tahap berikutnya,
utama bagi kita, sebagai kita mendapati “…memajukan
peninggalan baik para patriot kesejahteraan umum…” yang menjadi
nasionalis pendiri negara itu. upaya luas untuk membangun
Tetapi, bagian-bagian yang kehidupan bangsa yang adil dan
belum terlaksana, seperti sejahtera.
pembangunan nasional demi Berikutnya, “…mencerdaskan
maslahat umum dengan kehidupan bangsa…” menjadi upaya
keadilan dan kejujuran, mencintai yang penting, karena
merupakan sumber berbagai kehidupan terus berkembang,
krisis yang melanda kita dan generasi akan berganti. Amat
sekarang ini. Disebabkan oleh menarik bahwa para pendiri bangsa
faktor kemudaan yang juga tidak memilih “pintar”, “pandai”,
berarti kekurangmatangan “cerdik”, “cendekia”, tetapi memilih
kita semua sebagai bangsa kata “cerdas”. Cerdas mengandaikan
baru, ide-ide terbaik para kemampuan kategoris manusia,
pendiri negara itu, dalam yaitu menangkap pengetahuan dan
pelaksanannya sering mengolahnya, apa pun dan dari mana
120
indonesia zamrud toleransi

pun asalnya. Cerdas juga mengandaikan karakteristik lingkungan alamnya,


interaksi timbal balik. Jika “pandai” sebagai negeri lautan yang ditaburi
amat bertumpu pada ukuran numerik, pulau-pulau, karakter keindonesiaan
ada dalam kerangka pengajaran, juga merefleksikan sifat lautan.
dan bersifat individu, maka “cerdas” Sifat lautan adalah menyerap dan
selalu bersifat kebersamaan. Anak membersihkan; menyerap tanpa
yang “pandai” sudah jelas mempunyai mengotori lingkungannya. Sifat lautan
keunggulan kognitif individual, tetapi juga dalam keluasannya mampu
secara kebersamaan atau sosial, ia menampung segala keragaman jenis
dapat menjadi orang yang eksklusif atau dan ukuran.
tidak tahu banyak. Inilah yang menjadi Karakter keindonesiaan juga
dasar utama mengapa pendiri bangsa merefleksikan sifat tanahnya yang
mendirikan pondasi “cerdas” dalam subur, terutama akibat debu muntahan
keindonesiaan. deretan pegunungan vulkanik. Tanah
Karena bangsa Indonesia hidup yang subur, memudahkan segala hal
dengan bangsa lain, dan juga terikat yang ditanam, sejauh sesuai dengan
kewajiban sebagai manusia untuk selalu sifat tanahnya, untuk tumbuh. Seturut
memperhatikan situasi kemanusiaan, dengan itu, karakter keindonesiaan
fondasi solidaritas dinyatakan dengan adalah kesanggupannya untuk
kalimat “… ikut melaksanakan menerima dan menumbuhkan. Di sini,
ketertiban dunia yang berdasarkan apa pun budaya dan ideologi yang
kemerdekaan, perdamaian abadi dan masuk, sejauh dapat dicerna oleh
keadilan sosial…” Hal ini mencerminkan sistem sosial dan tata nilai setempat,
pengalaman pendiri bangsa bahwa dapat berkembang.
perjuangan kemerdekaan Indonesia Dengan karakter seperti ini,
juga disertai solidaritas bangsa lain. mencintai Indonesia adalah masalah
Bangsa-bangsa seperti India, Mesir, yang amat besar, luas, dan bersifat
Australia, Syria, Ukraina, dan juga yang antargenerasi. Tongkat estafet upaya
lain, mempunyai peran penting dalam mencintai ini dilakukan secara baik dari
mengangkat upaya kermerdekaan pendiri terus sampai generasi ratusan
di tingkat internasional. Sebaliknya, tahun ke depan. Mohammad Hatta,
Indonesia berperan penting berjuang pendiri bangsa dan wakil presiden
untuk emansipasi bangsa-bangsa Indonesia pertama, terkenal dengan
seperti Aljazair, Tunisia, Sri Lanka ujarannya bahwa mencintai Indonesia
yang terjadi dan mengemuka ketika perlu cinta yang amat besar dan luas,
Konferensi Asia Afrika 1955. karena Indonesia juga amat bhineka,
Karakter keindonesiaan (Nusantara) besar, dan luas.
itu pertama-tama tercetak karena
pengaruh ekosistemnya. Sesuai dengan
121
catatan penutup

Tradisi-tradisi yang
hingga kini masih berlangsung
di tengah kehidupan
berkomunitas merupakan
cara masyarakat
Nusantara untuk
membangun harmoni,
persaudaraan, kerja
sama, dan nilai positif
lainnya.
122
indonesia zamrud toleransi

daftar pustaka

Ahnaf, M. Iqbal, dkk. ed. 2016. Papua Mengelola dan Pengembangan Arkeologi
Keragaman: Pengalaman Warga Nasional, dan Yayasan Pustaka Obor
Kampung Wonorejo, Kabupaten Indonesia.
Keerom, Papua. Yogyakarta: Center
Davidson, Jamie S., David Henley, dan Sandra
for Religious and Cross-Cultural
Moniaga. 2010. Adat dalam Politik
Studies.
Indonesia. Jakarta: KITLV-Jakarta dan
Ali Ahmad, Haidlor ed. 2013. Survei Nasional Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Kerukunan Umat Beragama di
E.S. Agustanty dkk. 2007. “Bersatu Kita
Indonesia. Jakarta: Badan Litbang
Teguh di Tana Poso” dalam Alpha
dan Diklat Puslitbang Kehidupan
Amirrachman. 2007. Revitalisasi
Keagamaan Kementerian Agama
Kearifan Lokal. Jakarta : International
Republik Indonesia.
Center for Islam and Plularism (ICIP).
Bertrand, Jacques. 2012. Nasionalisme
dan Konflik Etnis di Indonesia. Fauzi, Arifatul Choiri. 2007. Kabar-kabar
Yogyakarta: Ombak. Kekerasan dari Bali, Yogyakarta: LKiS.

Bräuchler, Birgit ed. 2009. Reconciling Gilbert, Jeremy 2013. Common Ground:
Indonesia: Grassroots Agency for Democracy and Collectivity in an Age
Peace. London dan New York: of Individualism. London: Pluto Press.
Routledge.
Hefner, Robert W. 2001. The Politics of
Bräuchler, Birgit. 2015. The Cultural Dimension Multiculturalism Pluralism and
of Peace: Decentralization and Citizenship in Malaysia, Singapore,
Reconciliation in Indonesia. New York: and Indonesia. Honolulu: University
Palgrave Macmillan. oh Hawai’i Press.
Budiman, Hikmat ed. 2012. Kota- Hitchcock, Michael dan I Nyoman Darma
kota di Sumatra: Enam Kisah Putra. 2007. Tourism, Development
Kewarganegaraan dan Demokrasi. and Terrorism in Bali. Hampshire:
Jakarta: The Interseksi Foundation. Ashgate Publishing.
Chambert-Loir, Henri dan Hasan Muarif Hornbacher, Annette. 2009. “Global conflict in
Ambary. 2011. Panggung Sejarah: cosmocentric perspective: A Balinese
Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys approach to reconciliation,” dalam
Lombard. Jakarta: Ecole française Birgit Bräuchler ed. 2009. Reconciling
d’Extrême-Orient, Pusat Penelitian
123
daftar pustaka

Indonesia: Grassroots Agency for Membangun Kembali Indonesia.


Peace, New York: Routledge.
Nata, Abuddin dkk. 2016. Permata dari Surga:
Howe, Leo. 2005. The Changing World of Bali: Potret Kehidupan Beragama di
Religion, Society and Tourism. London Indonesia. Jakarta: Kementerian
dan New York: Routledge. Republik Indonesia bekerja sama
dengan UIN Syarif Hidayatullah
Klinken, Gerry van. 2007. Communal Violence
Jakarta.
and Democratization in Indonesia:
Small town wars. London dan New Robinson, Geoffrey. 2005. Sisi Gelap Pulau
York: Routledge. Dewata: Sejarah Kekerasan Politik,
Yogyakarta: LKiS.
Koentjaraningrat. 1964. Masyarakat Desa di
Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit Rosdiawan, Ridwan, dkk. 2007. “Merajut
Universitas Indonesia. Perdamaian di Kalimantan Barat”
dalam Revitalisasi Kearifan Lokal,
Koentjaraningrat. 1987. Pengantar Ilmu
Alpha Amirrachman, International
Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Center for Islam and Plularism (ICIP):
Lombard, Denys. 1996a. Nusa Jawa: Silang Jakarta.
Budaya: 1. Batas-batas Pembaratan.
Pendit, Nyoman S. 2001. Nyepi: Kebangkitan,
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Toleransi dan Kerukunan, Jakarta:
Lombard, Denys. 1996b. Nusa Jawa: Silang Gramedia Pustaka Utama.
Budaya: 2. Jaringan Asia. Jakarta:
Pringle, Robert. 2004. A Short History of Bali:
Gramedia Pustaka Utama.
Indonesia’s Hindu Realm. Crows Nest:
Lombard, Denys. 1996c. Nusa Jawa: Silang Allen & Unwin.
Budaya: 3. Warisan Kerajaan-kerajaan
Ricklefs, M.C. 2001. A History of Modern
Konsentris. Jakarta: Gramedia
Indonesia since c.1200: Third Edition.
Pustaka Utama.
Hampshire: Palgrave.
Latif, Yudi. 2011. Negara Paripurna: Historisitas,
Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern
Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila.
1200–2004. Jakarta: Penerbit
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Serambi.
Utama.
Sen, Amartya. 2005. The Argumentative Indian:
Latif, Yudi. 2014. Mata Air Keteladanan:
Writings on Indian Culture, History,
Pancasila dalam Perbuatan.
and Identity. London: Penguin Books
Bandung: Mizan.
Setia, Putu. 2014. Bali Menggugat. Jakarta:
Latif, Yudi. 2015. Revolusi Pancasila. Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia.
Mizan.
Simbolon, Parakitri T. 1995. Menjadi Indonesia:
Madjid, Nurcholish. 2004. Indonesia Kita.
Buku I. Jakarta: Kompas-Grasindo.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
bekerja sama dengan Universitas Soedjatmoko. 1994. Menjelejah Cakrawala:
Paramadina dan Perkumpulan Kumpulan Karya Visioner. Jakarta:
124
indonesia zamrud toleransi

Gramedia Pustaka Utama. Sedana Artha, http://ejournal.


undiksha.ac.id/index.php/JISH/
Soethama, Gde Aryantha. 2011. Jangan Mati
article/view/2178/1894
di Bali: Tingkah Polah Negeri Turis,
Jakarta: Penerbit Buku Kompas. “Apakah Agama Hindu Bali Modern Lahir
Suparlan, Parsudi. 2005. Sukubangsa dan dari Tantangan Pancasila dan
Hubungan antar-Sukubangsa. Islam?” oleh Nyoman Wijaya, http://
Jakarta: Penerbit YPKIK Press download.portalgaruda.org/
(Yayasan Pengembangan Kajian article.php?article=366850&val=5
Ilmu Kepolisian). 809&title=Apakah%20Agama%20
H indu% 20B ali% 20M o der n% 20
Susan, Novri. 2012. Negara Gagal Mengelola
Lahir%20dari%20Tantangan%20
Konflik: Demokrasi dan Tata Kelola
Pancasila%20dan%20Islam
Konflik di Indonesia, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. “Bangsawan Pikiran,” oleh Rosihan Anwar
Toer, Pramoedya Ananta. 1995. Arus Balik. , http://koloms.blogspot.
Jakarta: Hasta Mitra. co.id/2007/09/bangsawan-pikiran.
html
Toisuta, Hasbollah, dkk. 2007. “Damai…
Damai di Maluku!” dalam Alpha “Begini Lian Gogali Meredam Konflik Agama
Amirrachman. 2007. Revitalisasi di Poso,” https://m.tempo.co/read/
Kearifan Lokal. Jakarta : International n e ws / 2 0 1 3 / 0 8 / 2 0 / 0 5 8 5 0 5 8 6 2 /
Center for Islam and Plularism (ICIP). begini-lian-gogali-meredam-
konflik-agama-di-poso
Tomagola, Tamrin Amal. 2007. “Anatomi
Konflik Komunal di Indonesia: Kasus “Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman
Maluku, Poso dan Kalimantan 1998– Sukubangsa atau Kebudayaan?”
2002,” dalam Alpha Amirrachman. oleh Parsudi Suparlan dalam https://
2007. Revitalisasi Kearifan Lokal. etnobudaya.net/2014/09/11/
Jakarta : International Center for bhinneka-tunggal-ika-
Islam and Plularism (ICIP). keanekaragaman-sukubangsa-atau-
Vlekke, Bernard H.M. 2016. Nusantara. Jakarta: kebudayaan/
Kepustakaan Populer Gramedia. “Dewi Dja, Duta Kebudayaan Indonesia,”
Walzer, Michael 1997. On Toleration. London: http://1001indonesia.net/dewi-dja/
Yale University Press “Gedong Bagoes Oka, Tokoh Perdamaian
Artikel online dan Kerukunan Antaragama,”
ht t p :/ / 1001i ndo nesi a.net / i b u-
“Analisis Faktor Integratif Nyama Bali-Nyama
gedong-bagoes-oka/
Selam, Untuk Menyusun Baku
Panduan Kerukunan Masyarakat di “Gus Dur: Pembela Kaum Minoritas dan
Era Otonomi Daerah,” oleh I Made Kelompok yang Terpinggirkan,”
Pageh, Wayan Sugiartha, dan Ketut http://1001indonesia.net/gus-dur/
125
daftar pustaka

“Hubungan Pela & Gandong Antara TIHULALE wahid%20institute.pdf


– KAILOLO,” http://www.tihulale.
“Lian Gogali, Perempuan Agen Perdamaian
com/2015/06/Hubungan-Pela-
Poso,” http://sorot.news.viva.co.id/
Gandong-Antara-TIHULALE-KAILOLO.
news/read/615289-lian-gogali-
html
perempuan-agen-perdamaian-poso
“Interaksi Sosial Antarumat Beragama di
“Medan sebagai Kota Pembauran Sosio
Perumahan Bumi Dalung Permai
Kultur di Sumatera Utara pada
Desa Dalung, Kuta Utara, Badung,”
Masa Kolonial Belanda,” oleh
oleh Aliffiati, http://ojs.unud.
Suprayitno, http://repository.
ac.id/index.php/kajianbali/article/
usu.ac.id/xmlui/bitstream/
view/15715/10492
handle/123456789/15303/
“Interaksi Sosial Masyarakat Etnik Cina his-agu2005-%20%281%29.
dengan Pribumi di Kota Medan pdf?sequence=1
Sumatera Utara,” oleh Erika
“Social Entrepreneur Terbaik 2011 Sofyan
Revida, http://repository.usu.ac.id/
Tan: Melawan Diskriminasi dengan
bitstream/123456789/15293/1/har-
Pembauran,” http://poty.sindonews.
sep2006-%20(4).pdf
com/dokumen/poty-2011-Sofyan-
“Intoleransi di kota Toleran Yogyakarta,” http:// Tan.pdf
crcs.ugm.ac.id/id/berita/8264/
“Soedjatmoko: Tokoh Intelektual Terkemuka
intoleransi-di-kota-toleran-
yang Dimiliki Indonesia,”
yogyakarta.html
http://1001indonesia.net/
“Keterangan Pers : Peristiwa Penyerangan soedjatmoko/
dan Pembakaran Rumah Ibadah
“Mendalami Filosofi ‘Satu Tungku Tiga Batu’
di Kota Tanjung Balai Provinsi
Sebagai Warisan Kearifan Lokal,”
Sumatera Utara,” oleh Komnas HAM
http://www.fak-fak.com/2014/11/
https://www.komnasham.go.id/
mendalami-filosofi-satu-tungku-
files/20160811-keterangan-pers-
tiga.html
peristiwa-penyerangan-$N8M.pdf
“Model Pendidikan Multikultural di ‘Sekolah
“Kuli Cina di Perkebunan Tembakau Sumatera
Pembauran’ Medan,” oleh Saliman,
Timur Abad 18,” oleh Guntur Arie
Taat Wulandari, dan Mukminan,
Wibowo, http://journal.um.ac.id/
http://journal.uny.ac.id/index.php/
index.php/sejarah-dan-budaya/
cp/article/view/2383/pdf
article/view/4786/2192
“Pengertian Pela dan Gandong Sebagai Budaya
“Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama/
Maluku,” http://pelagandong.
Berkeyakinan dan Intoleransi 2014,”
blogspot.co.id/2013/05/pengertian-
oleh The Wahid Institute, http://
pela-dan-gandong-sebagai.html
wahidinstitute.org/wi-id/images/
u p l o a d / d o k u m e n / l a p o ra n % 2 0 “Pesantren Desa Pegayaman, Meleburnya
kbb%202014%20-%20the%20 Jagat Bali dalam Kearifan Islam,” oleh
126
indonesia zamrud toleransi

Moh. Mashur Abadi, http://ejournal. pelopor-perdamaian


stainpamekasan.ac.id/index.php/
“Suster Brigitta Renyaan, Berjuang untuk
karsa/article/view/59/57
Kemanusiaan,” http://news.
“Prasangka terhadap Etnis Tionghoa di Kota liputan6.com/read/114775/suster-
Medan: Peran Identitas Nasional dan brigitta-renyaan-berjuang-untuk-
Persepsi Ancaman,”oleh Omar Khalifa kemanusiaan
Burhan dan Jefri Sani, dalam http://
“Toleransi Beragama dalam Praktik : Studi
download.portalgaruda.org/article.
Kasus Hubungan Mayoritas dan
php?article=152464&val=4107&titl
Minoritas Agama di Kabupaten
e=PRASANGKA%20TERHADAP%20
Buleleng,” oleh Cahyo Pamungkas,
ETNIS%20TIONGHOA%20DI%20
https://w w w.researchgate.
KOTA%20MEDAN:%20PERAN%20
net/publication/304213284_
I D E N T I TA S % 2 0 N A S I O N A L % 2 0
TOLERANSI_BERAGAMA_DALAM_
DAN%20PERSEPSI%20ANCAMAN
PRAK TIK_SOSIAL_Studi_Kasus_
“Proses Interaksi Salam-Sarane Pascakonflik Hubungan_Mayoritas_dan_
di Maluku,” oleh Hadi Basalamah, Minoritas_Agama_di_Kabupaten_
dipublikasi pada 9 April 2014 Buleleng
oleh Jurnal Tahkim dalam https://
“Unsur Pembangunan Karakter Bangsa
tahkimjurnalsyariah.wordpress.com/
dalam Kearifan Lokal Bali,” oleh
category/vol-iv-nomor-1/8-hadi-
Suci Budiwaty, http://repository.
basalamah/
gunadarma.ac.id/490/1/Unsur%20
“Realitas Pembauran Etnis Cina Di Pembangunan%20Karakter%20
Kota Medan,” oleh Rina Bangsa%20Dalam%20Kearifan%20
Manurung dan Lina Sudarwati, Lokal%20Bali_UG.pdf
h t t p : / / re p o s i to r y. u s u. a c. i d /
“Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda,
bitstream/123456789/15444/1/kph-
Kiprah Sekolah Pembauran di
jun2005-%20%284%29.pdf
Medan,” http://1001indonesia.net/
“Relasi Dayak – Madura di Retok,” http:// yayasan-perguruan-sultan-iskandar-
kristianusatok.blogspot. muda/
co.id/2008/05/relasi-dayak-madura-
di-retok.html

“Resolusi Konflik Berbasis Kearifan Lokal,”


http://www.lontarmadura.com/
resolusi-konflik-berbasis-kearifan-
lokal/#ixzz4GGC2ujQ6

“Suster Brigitta: Perempuan adalah Pelopor


Perdamaian,” http://www.
jurnalperempuan.org/tokoh/
suster-brigitta-perempuan-adalah-