Anda di halaman 1dari 49

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/269419556

Industri Pertambangan Di Indonesia

Book · December 2014


DOI: 10.13140/2.1.1212.5763

CITATIONS READS

0 8,575

1 author:

Ahmad ali Irfan ardiansyah


Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta
4 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Pengaruh Sarana berpikir ilmiah Siswa (bahasa, logika, dan matematika) terhadap prestasi belajar kimia pada materi hukum-hukum dasar kimia View project

All content following this page was uploaded by Ahmad ali Irfan ardiansyah on 13 December 2014.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Industri Pertambangan
Masa Lalu dan Masa Depan Indonesia
Kata Pengantar
Puji dan syukur di panjatkan ke-hadirat Allah SWT atas selesainya penulisan
buku ini. Shalawat serta salam yang senantiasa dicurahkan kepaa Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, keturunannya, dan para sahabatnya
hingga hari kiamat.

Buku ini berjudul PT. Freeport Indonesia, Masa Lalu dan Masa Depan
Indonesia , yang disusun berdasarkan referansi primer berupa buku-
buku, laporan terkait, dari hasil aktifitas akademisi dan referensi sekunder
yang berasal dari situs - situs resmi yang insyaallah dapat
dipertanggungjawabkan isinya, serta pihak yang mengetahui secara benar
peristiwa tersebut.

Buku ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi masyarakat dalam


mengenal sejarah serta mengetahui sejauh mana PT. Freeport Indonesia
telah melakukan penambangan di Papua, serta informasi-informasi
seputar kegiatan industri pertambangan di PT Freeport Indonesia lakukan.

Dengan terbitnya buku ini semoga masyarakta Indonesia memiliki literasi


tentang kebenaran fakta yang terjadi di ujung timur negeri Ini dan tidak
ada lagi salahpaham dalam pandangan masyarakat indonesia tentang
bahayanyaIndustri pertambangan,yang dilakukan secara bijak sehingga
masyarakat indonesia menyadari pentingnya lingkungan yang diberikan
Allah SWT bagi kelangsungan hidup kita.

Sekaligus mengingatkan kembali kepada puhak yang mempunyai


wewenang atas permasalahan ini, sehingga dapat dicari jalan keluarnya.
sehingga menjadikan Bangsa Indonesia merdeka seutuhnya sebagaimana
tercantum dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar 1945.

Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam menyusun dan


menerbitkan buku ini kami ucapkan terimakasih. Jazakumullah khoiron
katsiron.

Tangerang Selatan, 23 Oktober 2014

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar

Daftar Isi

Lokasi Umum......................................................................................1

Pejalanan Sejarah............................................................................. 2

Lokasi Spesifik....................................................................................8

Tenaga Kerja.....................................................................................12

Proses Produksi................................................................................15

Hasil Produksi...................................................................................27

Pembuangan Limbah.....................................................................30

Dampak Terhadap Lingkungan ekosistem................................36

Dampak Terhadap Lingkungan ekonomi...................................46

Dampak Terhadap Lingkungan Sosial.........................................53

Nasionalisasi PT Freeport ..............................................................57

DaftarPustaka
Buku Ini Aku Persembahkan kepada
Generasi Penerus Bangsa Indonesia,
agar selalu ingat perkataan Ir. Soekarno
akan kedaulatan bangsa di negeri sendiri.

Ku titipkan bangsa dan


negeri ini kepadamu.
Tambang
Ertsberg di
bagian bawah
dan Tambang
Grasberg di
bagian atas
tampak lebih
besar

Sumber: WALHI
LOKASI UMUM
PT. Freeport Indonesia merupakan perusahaan penambangan
emas yang berada di Tembagapura, Kabupaten Mimika,
Provinsi Papua. Industri ini memiliki luas wilayah kurang lebih
23.000 Ha dan sampai saat ini PT. Freeport Indonesia telah
melakukan ekplorasi di Papua terhadap dua tempat yaitu,
Tambang Ertsberg (1967-1988) dan Tambang Grasberg (1988-
Sekarang), di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Sumber: Google.com
1
2
1907
Pemerintah colonial belanda mengadakan
ekspedisi ke daerah bersalju pegunungan
bersalju yang dipimpin Dr. H. A. Lorentz

1919
Daerah tersebut dinyatakan sebagai
daerah yang dilindungi.
1936
Ahli Geologi Shell Jean-Jacques Dozy Endapan Bijih tembaga berupa bukit
PERJALANAN SEJARAH

melakukan ekspedisi dari Laut Arafuru setinggi 179 meter, pada ketinggian
hingga mencapai gletser Gunung 3000 meter dpl, berjumlah cadangan
Jayawijaya dan memberi nama Erstberg sekitar 30 Juta ton.
untuk gugusan batu karang indah 1960
setinggi 180 meter yang menjulang dari Ekspedisi PT. Freeport Indonesia yang
padang rumput Carstensz, warna biru- pertama kali dipimpin oleh Forbes Wilson
m e n a n d a k a n p e r k i r a a n a d a n y a dan Del Flint, yang menjelajah Erstberg.
kandungan tembaga berkualitas tinggi.

1963
Serah terima kekuasaan Netherlands Meskipun kekuasaan atas Irian barat
Nieue Guniea (Irian Barat) ke PBB, yang sudah dialihkan, tetapi rencana
kemudian memberikannya ke Indonesia. penambangan ditangguhkan karena
kebijakan rezim soekarno yang sangat
anti kapitalis asing.
1966
Bertepatan dengan pemberian Untuk mendorong Investasi Swasta,
wewenang kepresidenan dari rezim soeharto mengundang PT.
Soekarno ke Soeharto, perubahan Freeport ke Jakarta untuk membicarakan
mulai terasa. kontrak tambang di Erstberg.
1967
Kontrak karya (KK I) pertama kali Kesepakatan penambangan hanya
ditandatangani untuk masa 30 tahun. berupa Tembaga, Perak, dan
Dengan penandatanganan kontrak Molybdenum.
karya, maka PT Freeport Indonesia
menjadi kontraktor eksklusif tambang
Erstberg di atas wilayah 10 Km2.

Generasi I (1967-1968)
dengan masuknya PT Freeport Indonesia dan diberikan fasilitas
Tax Holiday selama tiga tahun.

Generasi II (1968-1976)
Dengan adanya keharusan divestasi maksimal 45%
jumlah produksi tembaga 5.000 ton/hari di Erstberg
3
4
1970
Pembangunan Proyek Skala
1972
Penuh.
Pengiriman 10.000 ton tembaga
dari tambang Erstberg pertama
kalinya ke jepang.
1973
Presiden Soeharto mengunjungi daerah PT Freeport Indonesia Mulai Produksi
operasi dan memberikan nama dengan teknik tambang terbuka (open pit
Tembagapura untuk kota baru PT. mining).
Freeport Indonesia.

Generasi III (1976-1985)


(LANJUTAN) PERJALANAN SEJARAH

Divestasi menjadi 5-51%, dan boleh joint venture.

1980
Pengoprasian tambang bawah tanah GBT

1981
PT FI mulai memperluas kegiatan
penambangan dengan tambang dalam
di daerah tersebut sejalan dengan
ditemukannya cadangan baru (under
mine) di gunung bijih timur.
1985
Penemuan cadangan tembaga bawah
tanah dibawah tambang bawah tanah
GBT

Generasi IV (1985-1986)
Diberlakukan perpajakan progresif.

1986
Peme rintah Indone s ia m e ne rim a
divestasi sebesar 8,5% dari PT FI.

Generasi V (1986-1996)
Perusahaan KK diharuskan mengadakan smelting di dalam negeri disamping
mengembangkan program pengembangan wilayah dalam upaya meningkatkan nolai
tambah bagi kepentingan nasional berdasarkan PP No. 20/1994

1987
Menemukan cadangan baru 100 Juta Ton.
jumlah produksi tembaga 22.000 ton/hari
di Erstberg.
5
6
1988
PT. Freeport Indonesia menemukan Tetapi tidak ada informasi yang jelas,
cadangan emas di Grastberg sejak kapan PT Freeport Indonesia mulai
menambang di kawasan Grastberg
1991
Luas penambangan Freeport bertambah PT. Freeport Indonesia mendapatkan
seluas 2,6 juta Ha yang disebut Blok B, kontrak karya baru (KK II) dengan izin
yang kemudian dilakukan eksplorasi operasi selama 30 tahun. Berikut
seluas 203.000 Ha. perpanjangan selama 10 tahun. Artinya,
Ditemukannya cadangan baru yang kontrak karya tersebut baru berakhir pada
sangat besar di daerah Grasberg pada tahun 2041. Cadangan 770 juta ton.
ketinggian 4000 meter dpl. hasil produksi tembaga 52.000 ton/hari
(LANJUTAN) PERJALANAN SEJARAH

1993
Ditemukannya cadangan baru 1,1 Milyar
Ton
1995
Freeport baru secara resmi mengakui Cadangan baru 2 Milyar Ton.
menambang emas di Papua setalah hasil produksi tembaga 125.000 ton/hari
(1973-1994) mengaku hanya sebagai
penambang tembaga. Jumlah volume
emas yang ditambang selama 21 tahun
tersebut tidak pernah diketahui public,
bahkan oleh orang papua sendiri.

Generasi ke VI (1996-1997)
Perusahaan diizinkan melakukan depresiasi
dipercepat. Berdasarkan PP No. 34/1994

1998
Melakukan smelting Tembaga di Smelter Cadangan baru 2,5 Milyar Ton
gresik sebagai syarat meningkatkan
jumlah produksinya. (25% Konsentrat)
2000
MoU tentang sumber daya social Pembangunan tambang bawah tanah
ekonomi, HAM, hak ulayat, dan hak DOZ dimulai.
lingkungan hidup diumumkan oleh
pimpinan LEMASA (Lembaga Masyarakat
Suku Amungme), LEMASKO (Lembaga
Masyarakat Suku Lemasko), dan PT FI

2006-Sekarang
hasil produksi tembaga 246.500 ton/hari
7
LOKASI SPESIFIK
Ribuan tahun silam, Papua sebagai batas utara dari
lempengan tektonik Australia berbenturan dengan
lempengan Pasifik dan menghasilkan barisan pegunungan
yang membentang dari timur ke barat yang sebenarnya
adalah bagian lempengan yang terangkat akibat benturan
tadi, sehingga membentuk tulang punggung pulau
papua.
Sumber: Google.com

Bagian barat barisan pegunungan ini terletak di provinsi


Papua di Indonesia, dan dinamakan barisan Pegunungan
Sudirman, dimana pegunungan jayawijaya berada. Pada
kenyataannya PT FI bersinggungan langsung dengan Taman
Nasional Lorentz, dan daerah yang dicakup oleh kontrak Karya
PT FI dan Taman Nasional Lorentz sekarang berdampingan,
terbentang dari pegunungan Jayawijaya yang tertutup salju
ke arah selatan melalui lembah sungai Ajkwa dan Otomona
serta kipas alluvial (alluvial fans) menuju laut Arafuru yang
terbentang sekitar 65 km dari dasar pegunungan. Dataran
rendahnya sangat datar, dan muara Sungai Ajkwa mencapai
20 km kearah daratan.
Situs Tambang Freeport berada di puncak gunung yang
terletak pada ketinggian 4.270 meter dpl, dimana suhu
terendah dapat mencapai 2oC. kilang bijih tambang berada di
bawah situs tambang ini pada ketinggian sekitar 3.000 meter
dpl. Situs tambang ini menerima curah hujan tahunan yang
sebesar 4.000 mm hingga 5.000 mm, sedangkan kaki bukit
menerima curah hujan tahunan lebih tinggi, yaitu sebesar
12.100 mm dan suhu berkisar antara 18 oC hingga 30 oC.
dipantai suhu mencapai 38oC dan curah hujan sekitar 3.000
Sumber: PT Freeport Indonesia mm.

8 9
Dalam hal keanekaragaman hayati, kawasan Kontrak Karya PT
FI dan Taman Nasional Lorentz terdiri dari ekosistem yang
sama dan keduanya memiliki keanekaragaman hayati yang
terbaik dari yang terbaik . Indonesia diperkirakan
merupakan negara didunia yang paling kaya keanekaragaman
hayatinya, dan sekitar 50% dari keannekaragaman ini ada di
Provinsi Papua. Persilangan unik dari habitat-habitat ekologi
yang terdapat dalam Taman Nasional Lorentz dan daerah
Kontrak Karya PT FI adalah daerah yang paling beragam di
Papua, merupakan salah satu daerah yang paling tinggi
keanekaragaman hayatinya di dunia. Menurut Komite Warisan
Dunia PBB (United Nations World Heritage Committee)
Pada gambar sebelah kanan situs-situs dan Zona-Zona Utama
Ajkwa Deposition Area (ADA) huruf dengan warna merah.
Situs-situs sampel untuk daerah terkena dampak tailings dan
situs rujukan ditandai dengan huruf warna hijau
Daerah diblok hijau adalah pemukiman transmigrasi
Garis kuning menandai tanggul sungai di timur dan barat ADA.

Sumber: PT Freeport Indonesia

Asrama Penjunan merupakan sekolah berasrama yang


berlokasi di desa Wonosari. Timika dibangun dan dikelola
oleeh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungne dan
Kemoro (LPMAK) dengan menggunakan Dana Kemitraan
Freeport untuk Masyarakat
Sumber: WALHI
10 11
Tenaga Kerja
Berdasarkan publikasi PT FI dalam website resminya di
ptfi.co.id tentang ketenagakerjaan menyatakan bahwa salah
satu kebijakan mereka adalah untuk memberikan kesempatan
yang sama kepada seluruh masyarakat. PT Freeport Indonesia
(PT FI) juga menjunjung tinggi hak pekerja sesuai dengan
hukum yang berlaku di Indonesia. Mereka juga berkomitmen
untuk melindungi Hak Asasi Manusia dan sudah secara tegas
memberlakukan dan menegakkan kebijakan Hak Asasi
Manusia dan di dalam perusahaan mereka, diantaranya:
1. mereka memiliki komitmen dan kebijakan yang kuat dan
tegas terhadap Hak Asasi Manusia. Komitmen untuk
menyediakan peluang bagi pembangunan social,
pendidikan, dan ekonomi yang dinyatakan melalui
peraturan ketenagakerjaan social dan kebijakan Hak Asasi
Manusia.
2. Pada tahun 2013 PT Freport Indonesia mempekerjakan lebih
dari 12.000 karyawan langsung dan lebih dari 19.000
karyawan kontraktor.

63,71% non Papua


12.333 34,83% Papua Jumlah karyawan
orang 1,44% Asing
langsung PT FI

Jumlah karyawan
PT FI + Perusahaan
97,49% Indonesia 31.694
Mitra dan Kontraktor, 2,51% Asing orang
Termasuk Institut
Pertambangan Nemangkawi
(IPN)

12
3. Sejak tahun 1996 perusahaan telah mengganfakan jumlah
karyawan Papua. Dalam 10 tahun, jumlah karyawan Papua
di tingkat staf meningkat 4x lipat.

4. Karyawan Papua memegang fungsi strategis manajemen di


PT FI.
5. Pada tahun 2003 dibangun Institut Pertambangan
Nemangkawi (IPN) untuk memberikan kesempatan untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
maupun perilaku yang professional di bidang operasi dan
penunjangnya. Program magang 3 tahun dengan empat
bulan masa belajar off job dan 8 bulan on job. IPN mengikuti
standar nasional dan peraturan dari ESDM serta standar
internasional lainnya.

13
6. Meningkatkan karyawan staf wanita di PT FI dan Kontraktor.

7. PTFI berupaya menciptakan lingkungan kerja yang aman.


Dan kami menjadikan keselamatan sebagai budaya
dalam organisasi kami. Kami memiliki catatan terbaik dalam
industry sumber daya alam, tapi yang bagi kami adalah
tidak terjadinya kecelakaan.
8. PF FI dan SPSI telah menandatangani PKB XVII 2013-2015
secara resmi. Kedua pihak telah menyepakati seluruh aspek
substansial yang diatur dalam dokumen PKB ini.
Diantaranya adalah Presentase peningkatan upah pokok
pekerja, peningkatan aspek pensiun dan beberapa aspek
manfaat lainnya.

Sumber: PT Freeport Indonesia


14
Proses Produksi
Penambangan
Proses penambangan yang dilakukan oleh PT FI terdiri dari dua
cara, yaitu penambangan terbuka (open pit mining) dan
tambang bawah tanah dengan block caving.
Metode pertambangan terbuka dilakukan di Grasberg karena
keberadaan bijih tambang dekat dengan permukaan tanah
pegunungan, sebagian besar proses penambangan terbuka
melalui beberapa tahapan seperti, pengeboran, pemilahan,
peledakan, pengangkutan, dan penggerusan batuan bijih.
Pada tambang terbuka di Grasberg peralatan utama yang
digunakan adalah bor, shovel, dan truk besar untuk
menambang bahan tambang. Fungsi dari alat shovel adalah
untuk mengeruk bahan tambang hasil pengeboran pada
daerah-daerah di area tambang terbuka, dan
memindahkannya ke atas truk untuk dibawa keluar area
tambang terbuka. Setalah itu bijih masuk kedalam system arus
bijih dimana terdapat alat penghancur bijih dan diangkut
menggunakan ban berjalan (conveyor) dan ore pass menuju
pabrik pengolahan (mill) untuk diproses.

Sumber: Google.com
15
Bahan tambang diklasifikasikan berdasarkan nilai ekonoisnya perbandingannya menjadi 14:5 dan diperkirakan mulai 2014
menjadi batuan bijih dan batuan penutup Batuan penutup sampai masa akhir tambang terbuka perbandingan
(overburden) memiliki nilai ekonomis yang kecil yang overburden dan bijih tambang sebesar 11:5. Daerah-daerah
membungkus bijih tambang, jenis-jenis overburden terdiri pembuangan overburden kelak akan dihijaukan kembali saat
dari sejumlah jenis batu alam yang berbeda, termasuk tambang terbuka selesai dikerjakan.
gamping. Overburden dari tambang Grasberg yang telah Program yang kami Fokuskan adalah melakukan
dipisahkan diatur pembuangannya kedaerah-daerah yang peningkatkan produktifitas armada truk dan shovel,
sudah ditentukan, seperti padang rumput Cartensz atau pengeboran dan peladakan (drilling dan blasting),
dihancurkan dengan alat OHS (Overburden Handling System) Scorecard operator , pemeliharaan lokasi, pengurangan
pada jalan HEAT untuk ditempatkan di Wanagon Bawah di inventori, penjadwalan kerja, pelatihan supervise lapangan,
samping alat penimbun (stacker), perlu diketahui alat dan penggunaan kendaraan ringan. Selain itu dilakukan pula
penghancur bijih pada tambang Grasburg berupa satu unit identifikasi terhadap peluang pengurangan biaya. Salah
63 x 114 Krupp Gyratory Crusher (#6) dan satu unit 60 x satunya adalah tenaga kerja yang terpusat pada penyesuaian
113 Krupp Gyratory Crusher (#7) serta empat buah ore pass lokasi kerja, tingkat pembebanan tugas, dan intensitas latihan
dengan diameter 6 hingga 7 meter dengan tinggi 600 meter. untuk pekerja baru yang direkrut dari lembaga pelatihan kami.
Selama masa penambangan di grasburg, perbandingan
Pihak yang bekerjasama pada pertambangan terbuka di
antara overburden yang dipisahkan terhadap bijih memiliki
Grasberg ini diantaranya Drilltech/Sandvik yang melakukan
angka banding 10:4 dan mulai tahun 1990-2005
pengeboran dan memberikan pemeliharaan bor, Trakindo
CAT memberikan pemeliharaan truk.
Type Alat Ukuran Jumlah
Shovel
O&K RH200 30 m3 8
3
Bucyrus 495 42 m 4
3
P&H 4100 42 m 4
3
P&H 2800 34 m 6
Haul Truck
CAT 785 135 mt 11
CAT 793 220 mt 98
Sumber: Google.com
CAT 979 320 mt 12
Komatsu 930E 290 mt 27
Peralatan yang digunakan pada
tambang terbuka ini diantaranya
Peledak ANFO
tercantum pada tebel kiri.
Bor 10 x 10 x

Sumber: PT Freeport Indonesia 17 m

16 17
Metode penambangan bawah tanah yang
digunakan adalah block caving, yaitu
metode penambangan yang memiliki
efisiensi sumberdaya yang tinggi untuk
melakukan penambangan, dimana blok-
blok besar bijih di bawah tanah dipotong
dari bawah sehingga bijih tersebut runtuh
akibat gaya beratnya sendiri. Setelah
runtuh, bijih yang dihasilkan ditarik
dari drawpoint (titik Tarik) menuju alat Sumber: PT Freeport Indones
penghancur. Sumber: PT Freeport Indonesia
Metode penambangan bawah tanah yang digunakan adalah
block caving, yaitu metode penambangan yang memiliki
Selain itu PT FI juga berusaha mengembangkan cadangan Big
efisiensi sumberdaya yang tinggi untuk melakukan
Gossan, yang terletak lebih dekat dengan sarana pabrik
penambangan, dimana blok-blok besar bijih di bawah tanah
pengolahan, karena bentuk geometri dari cadangan ini, Big
dipotong dari bawah sehingga bijih tersebut runtuh akibat
Gossan sangat sesuai untuk ditambang secara selektif dengan
gaya beratnya sendiri. Setelah runtuh, bijih yang dihasilkan
menggunakan open stope with paste backfill . Bijih yang
ditarik dari drawpoint (titik Tarik) menuju alat
ditambang diangkut menuju pengolahan dengan
penghancur.
menggunakan sarana yang sama seperti bijih dari hasil block
Pada block cave DOZ. Alat LHD (loader) memindahkan lumpur cave DOZ. Stope adalah galian yang terbentuk ketika
bijih kedalam ore pass menuju saluran pelongsor. Kemudian mengambil bijih. Sebagian besar stope di Big Gossan kurang
lumpur bijih pada saluran terebut diangkut menggunakan lebih akan memiliki dimensi: Panjang 40 meter, lebar 20 meter,
truk-truk angkut AD-55 untuk dipindahkan ke alat penghacur dan tinggi 15 meter.
bijih berupa satu unit 54 x 77 Fuller Crusher. Di sana, bijih
yang telah dihancurkan dikirim ke pabrik pengolahan (mill)
melalui ban berjalan (conveyor).

Sumber: PT Freeport Indonesia Sumber: PT Freeport Indonesia


16 17
Pengembangan big gossan ini dimulai pada tahun 2005
hingga 2009 dan telah diperkirakan menghabiskan biaya $225
juta AS. Tambang ini mulai berproduksi pada tahun 2009 dan
mencapai produksi tertinggi 7000 ton/haru pada tahun 2011.
Big gossan diharapkan menghasilkan logam tambahan
sebesar kurang lebih 135 juta pon Cu dan 65.000 ons Au setiap
tahunnya. Cara penambangan open stope with paste
backfill dimulai dengan dibangunnya drift pada berbagai
tingkataan. Stoper di bor dan diledakkan dari atas, Bijih
tambang dibawahnya akan dijatuhkan kedalam ore pass
menuju alat penghancur. Kemudian dilakukan pengisian
kembali (backfill) terhadap rongga hasil Stope dengan
material overburden untuk menjaga stabilitas dan rongga
padat. Stope ditambang dengan urutan tertentu, dengan
stoping aktif pada berbagai tingkatan untuk memelihara
stabilitas geoteknis dan memaksimalkan pengambilan bijih,
metode ini memiliki biaya operasional yang lebih tinggi
karena terhadap semua bijih dilakukan peledakan dan rongga
yang terbentuk harus di backfill .
Peralatan yang digunakan pada tambang bawah tanah ini
diantaranya:
Rgnc Ukuran Jumlah
Pembelah batuan tidak bergerak 8
CAT Elphinstone LHD 3, 6, 8 cu yards 43
CAT Elphinstone Haul truck 16
Development Jumbos 8
Tamrock Commando (pemecah 7
sekunder)
Peralatan pendukung

20
Beberapa alat pendukung lain diantaranya: Manhaul, Scissor
lift, bolter, LHD loader, Jumbo Drill, AD55 Truck, dll
Dari kedua jenis produksi yang menghasilkan overburden
diperlukan alat penghancur OHS berupa Satu unit 64 x 114
Krupp Gyratory Crusher (#8) dan saru unit 60' x 89 Fuller
Gyratory Crusher (#5) dan stacker 150 meter semi-mobile
Krupp Stacker.

Sumber: PT Freeport Indonesia

21
Pengolahan Bubur konsentrat (slurry) yang terdiri dari bijih yang sudah halus
Kompleks pabrik pengolahan tambang ini berada di area MP 74, (hasil gilingan) dan air dicampur dengan larutan SIBX yang
pabrik ini menghasilkan konsentrat tembaga dan emas dari bijih mengandung reagen pengapung bijih logam ISBX, Isobutil
yang ditambang dengan melalui proses pemisahan mineral alcohol, Oreprep OTX-140, Hyperfolce A-237, dan Cytec S-7249.
berharga dari pengotor yang menutupinya. Langkah-langkah Reagen yang digunakan terdiri dari kapur, pembuih (frother) dan
utamanya adalah penghancuran, penggalian, pengapungan, dan kolektor. untuk selanjutnya dimasukkan kedalam serangkaian
pengeringan. Proses penghancuran dan penggilingan mengubah tangki pengaduk yang disebut dengan sel flotasi, dimana
bentuk besar bijih menjadi ukuran pasir halus yang 80% lebih kecil penambahan udara dipompa ke dalam slurry tersebut. Pembuih
seukuran dengan partikel kurang dari 200 m guna membentuk gelembung yang stabil, yang mengapung ke
membebaskan butiran yang mengandung tembaga dan emas, permukaan sel flotasi sebagai buih. Reagen kolektor bereaksi
sedangkan tailing memiliki ukuran yang berkisar antara 1.000 m . dengan permukaan partikel mineral sulfide logam berharga
Proses pengapungan (Flotasi) adalah proses pemisahan yang sehingga menjadikan permukaan tersebut bersifat menolak air
digunakan untuk menghasilkan konsentrat tembaga-emas. (hidropobik). Butir mineral sulfide yang hidrofobik tersebut
menempel pada gelembung udara yang terangkat dari zona-
Sumber: PT Freeport Indonesia
slurry ke dalam buih yang mengapung di
permukaan sel. buih yang bermuatan
mineral berharga. Reagen kolektor
bereaksi dengan permukaan partikel
mineral sulfide logam berharga
sehingga menjadikan permukaan
tersebut bersifat menolak air
(hidropobik). Butir mineral sulfide yang
hidrofobik tersebut menempel pada
gelembung udara yang terangkat dari
zona slurry ke dalam buih yang
mengapung di permukaan sel. buih
yang bermuatan mineral berharga
tersebut, menyerupai buih deterjen
metalik, meluap dari bibir atas mesin
flotasi kedalam palung (launders)
sebagai tempat pengumpulan mineral-
mineral berharga. Mineral berharga
yang terkumpul dalam palung tersebut
adalah 'konsentrat'.
22 23
Sumber: Google.com

Konsentrat (dalam bentuk slurry, 65% padat menurut berat)


dipompa ke Portsite melalui empat jaringan pipa slurry
sepanjang 115km. sesampainya di portsite , konsentrat ini
dikeringkan sampai kandungannya hanya 9% air dan
kemudian dikapalkan dan dijual. Disamping itu pasit yang tak
bernilai dikumpulkan di dasar sel flotasi yang terakhir sebagai
limbah yang disebut 'tailing' sebanyak 95-97% sisanya
dibuang. Tailing akhir ini disalurkan ke sungai Aghwagon
Timur, dan dialirkan ke sungai Aghwagon melalui sungai
Aghwagon barat. Sungai Aghwagon menuruni gunung dan
menyatu dengan sungai Otomona, yang membawa tailing ke
dataran rendah, disini tailingmemasuki kanal sungai Ajkwa
menuju suatu system pembuangan alami yang mengalir dari
mill menuju daerah pengendapan Ajkwa yang dimodifikasi
(ModADA). Ini disebut pembuangan limbah tailing ke sungai
(riverine tailing disposal).

Sumber: WALHI
24
Emas yang masih kasar dan bebas tidak bereaksi dengan baik
pada proses flotasi. Konsentrator Knelson, yang merupakan
sebuah system pengambilan dengan menggunakan gravitasi,
gaya sentrifugal untuk memisahkan dan mengambil emas
kasar dan bebas tersebut. Dengan demikian, pengambilan
emas dari bijih akan mengalami peningkatan secara
keseluruhan. Pabrik pengolahan bijih (Mill) ini mengolah bijih
dari tambang melalui daerah konsentrator utama yang terdiri
dari tiga konsentrator, yaitu:
1. Konsentrator Utara.Selatan dengan kapasitas
pengolahan 60.000 metrik ton/hari, konsentrator Utara
difungsikan pada tahun 1972 dan konsentrator selatan
difungsikan pada tahun 1991. Dengan spesifikasi:
· 8 Ball Mill 15,5 ft
· WEMCO 44 x 1500 ft3
· Outukumpu 16 x 1350 ft3 sel flotasi

Sumber: PT Freeport Indonesia


25
2. Konsentrator #3 (SAG #1) dengan kapasitas pengolahan Hasil Produksi
60.000 metrik ton/ hari, merupakan bagian dari proyek Tembaga yang ditambang oleh PT FI mengandung metal sulfide,
peningkatan 118K yang selesai pada tahun 1995. terutama pirit dan kalkopirit, kalkopirit sangat banyak terdapat
Dengan spesifikasi: dalam proses penambangan tembaga di pertambangan Grasberg.
· SAG 34 ft Mineral yang juga terkandung dalam buangan sulfur ini adalah besi
dan tembaga, dan sejumlah kecil logam berat lainnya. Sulfide
· 2 Ball Mill 20 ft sebenarnya stabil jika dia 'terkunci' di dalam bebatuan di bawah
· WEMCO 36 x 3000 ft3 sel flotasi tanah, tetapi ketika bebatuan digali, dihancurkan, dan diuraikan
3. K o n s e n t r a t o r # 4 ( S A G # 2 ) d e n g a n k a p a s i t a s menjadi elemen-elemennya, dia menjadi tidak stabil dan terurai
pengolahan150.000 metrik ton/ hari, konsentrator ini menjadi senyawa yang berbahaya bagi lingkungan yang disebut air
asam batuan (Acid Rock Drainage). Terbukanya dinding lubang
selesai dibangun pada tahun 1998 sebagai bagian dari
pertambangan, penggalian bawah tanah, pembuangan batu sisa
proyek peningkatan besar terakhir. Dengan spesifikasi:
tambang, dan tailing, semuanya dapat menjadi sumber ARD jika
· SAG 38 ft mengandung mineral sulfide.
· 4 Ball Mill 24 ft ARD adalah Proses oksidasi yang menghasilkan asam dan melepas
logam berat dari bentuk mineral, dan dapat menyebabkan polutan
· WEMCO 36 x 4500 ft3 sel flotasi
ini meninggalkan area pertambangan atau area pembuangan
Perlu diketahui bahwa tingkat kapasitas pengolahan dapat tailing dan mencemari lingkungan sekitarnya seperti dasar sungai
bervariasi berdasarkan kekerasan dan ukuran bijih, selain dan permukaan drainase air. Dampak ARD muncul secara tidak
pertimbangan ekonomis lainnya yang bisa saja langusng akibat lambatnya laju perubahan kesetimbangan dari
mengharuskan pengoperasian pada tingkat lebih rendah penghantar dan hasil reaksi ARD, dan bisa jadi dimanapun dilakukan
dalam rangka memaksimalkan nilai sumber daya secara penggalian batuan yang mengandung asam akan menimbulkan
keseluruhan. dampak jangka panjang.

Sumber: WALHI
Terurainya pirit dan kalkopirit disebabkan oleh paparan oksigen dan
air, serta dipercepat oleh bakteri aerobic, acedopfilic iron dan
pengoksidasi sulfur seperti Acidithiobacillus ferooxidans. Di
Sumber: PT Freeport Indonesia samping menghasilkan asam dan melepas logam, proses oksidasi -

26 27
sulfide juga menghasilkan panas, ini sebabnya mengapa reaksi yang aktif terjadi dalam Pada decade awal 1990-an ditemukan cara
buangan limbah batuan di PT FI terpantau dalam keadaan sangat panas. Reaksi pirit ayng pemisahan yang merubah total industry
menghasilkan produk berupa ARD termasuk asam sulfat dan besi berwarna coklat logam, penemuan ini adalah pemisahan
kemerahan adalah sebagai berikut: dengan cara flotasi gelembung, yang
merupakan sebuah metode pemisahan yang
Oksidasi pirit: efisien dan ekonomis untuk digunakan di
Pirit + oksigen + air asam sulfat + besi (III) hidroksida pertambangan logam dasar. Metode ini dipilih
FeS2 + 15/4 O2 + 7/2H2O 2 H2SO4 + Fe(OH)3 oleh Freeport Indonesia karena
memungkinkan bijih kadar rendah dapat
Selain pirit, reaksi kalkopirit juga perlu dipahami karena dalam proses ini tembaga dapat diolah dengan ekonomis dan tidak
keluar dan mengkontaminasi lingkungan sekitar: dalam keadaan produksi asam yang menggunakan bahan kimia beracun. Proses ini
tinggi, seperti pada dinding lubang tambang dan pada dataran tinggi limbah batuan, merupakan proses fisika dimana bijih
tembaga dikeluarkan dalam bentuk kalkopirit langsung menjadi bentuk ionnya sebagai dihancurkan kemudian dicampur dengan
berikut: reagen berbasis alcohol didalam bak flotasi
(pengapungan). Melalui proses ini, mineral
Oksidasi kalkopirit dalam keadaan asam (pH < 5,5) yang mengandung tembaga dan emas
Kalkopirit + oksigen + air asam sulfat + ion tembaga + besi (III) hidroksida + ion sulfat
dipisahkan dalam bentuk konsentrat dari
CuFeS2 + 17/4O2 + 5/2H2O 2 H2SO4 + Cu2+ + Fe(OH)3 + SO42-
pertikel batuan yang tak mempunyai nilai
ekonomis. Konsentrat yang dihasilkan adalah
Dalam kondisi lingkungan yang netral atau pH tidak terlalu asam (pH > 5,5), sepeti yang
sebesar 3% dari bijih yang diolah, dan sisanya
diinginkan pada tempat pembuangan limbah batuan dan tailing masa depan di sungai
menjadi tailing.
Otomona ADA muara Ajkwa, tembaga tetap terlepas dari mineral kalkopirit, menjadi
tembaga (II) hidroksida, berikut reaksi oksidasinya: Sumber: PT Freeport In

Oksidasi kalkopirit dalam kondisi keasaman rendah atau netral (pH > 5,5)
Kalkopirit + oksigen + air asam sulfat + tembaga (II) Hidroksida + besi (III)
hidroksida
CuFeS2 + 7/4O2 + 9/2H2O 2 H2SO4 + Cu(OH)2 + Fe(OH)3

Tailing (pasir sisa tambang yang mengandung Silikat, Kalsit, dan Magnetit) dan konsentrat
(terdiri dari Kalkopirit, bornit, kalkonit, dan kovelit) adalah dua kata yang sangat dikenal di
Freeport Indonesia. Tahukah anda bagaimana proses terbentuknya tailing dan konsentrat?
Untuk lebih jelasnya kita akan menengok bagaimana proses pemisahan mineral yang
selama ini telah digunakan oleh Freeport Indonesia dari awal berdirinya di tahun 1967.

28 29
Pembuangan Limbah
PT FI memproduksi dua jenis limbah khusus, yang disebut tailing dan batuan limbah. Dari batuan yang digali dari pegunungan, lebih dari
separuhnya edalah overburden, yaitu bijih logam kualitas rendah yang menutupi kandungan logam kualitas lebih tinggi di bawahnya. Setelah
waste rock atau batuan limbah. Batuan limbah ini mengandung presentase mineral yang lebih rendah dari standar yang dipakai Freeport
untuk dapat diproses sebagai bijih tambang. Standar kualitas untuk pemrosesan bijih yang diterapkan Freeport memang dibuat lebih tinggi
daripada penambang lainnya yang setingkat di seluruh dunia. Tahun 2005, hampir seperempat milyar ton batu limbah dibuang (225 juta ton
menurut Enviromental Plan 2005 milik perusahaan), yang jika dirata-ratakan mencapai lebih dari 600.000 ton per hari. Kebanyakan dari
limbah tersebut memiliki kandungan tembaga yang di tambang lain akan dianggap cukup bernilai untuk diproses sebagai bijih. Sumber-
sumber lain memperkirakan sekitar 3-4 milyar ton batuan limbah akan dihasilkan dari penambangan terbuka Grasberg sampai tahun 2014.
Tipe kedua dari limbah adalah tailing, yang merupakan bijih halus dari kilang setelah proses ekstraksi
mineral yang bernilai komersial (tembaga, emas).
PT FI menggunakan system pengelolaan pembuangan tailing terkendali yang mengangkut tailing ke
suatu daerah yang telah ditentukan di kawasan dataran rendah dan pesisir, yang disebut ModADA
(Modified Ajkwa Deposition Area). Daerah pengendapan tersebut merupakan bagian dari bantaran
sungai yang direkayasa dan dikelola bagi pengendapan dan pengendalian tailing.
System ini membutuhkan tanggul untuk daerah
pengendapan dan terus dilakukan berbagai
pembangunan fisik, perbaikan system, pemeriksaan,
dan pemantauan. Di dalam ModADA juga ddilakukan
Sumber: PT Freeport Indonesia berbagai upaya untuk meningkatkan pengendapan
tailing. System ini dijalankan dibawah rencana
pengelolaaj sirsat komprehensif Freeport Indonesia,
yang disetujui oleh pemerintah Indonesia setelah
melakukan banyak studi teknis dan suatu proses
peninjauan ulang secara tahun-jamak. Apabila
pertambangan berakhir, sebuah penelitian-
memperlihatkan bahwa daerah
pengendapan ini dapat direklamasi
Sumber: Google.com dengan vegetasi alamiah atau dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian,
kehutanan, dan perikanan. PT FI juga PT FI
melibatkan pemangku kepentingan
dalam praktik pengelolaan sirsat ini. Salah

30 31
Sumber: Google,com Freeport memiliki masalah dengan aliran batuan asam yang
sudah diobservasi sejak 1993. Sumber ARD terbesar berasal
dari batuan sisa tambang di Grasberg, walaupun juga berasa
dari pekerjaan di bawah tanah dan dinding tambang terbuka
Grasberg dan ertsberg, hingga menyebabkan air berwarna
biru terang yang mengandung tembaga air di pertambangan
ertsberg yang sudah ditutup. Hampir semua batuan sisa
tambamg yang dihasilkan lubang galian tambang di Grasberg
dari tahun 1980-an sampai 2003, yang berjumlah 1.300 juta
satunya adalah program untuk mendaur ulang sirsat sebagai ton adalah jenis batuan pembentuk asam potensial (PAP-
bahan campuran beton dalam pembangunan prasarana local. Potentially Acid forming) dan banyak batuan sisa (batu kapur
Disamping itu juga sirsat digunakan untuk membangun sebanyak 25% dari jumlah keseluruhan batuan sisa
jembatan, kantor pemerintah, jalan, saluran drainase, dan pembentuk asam) yang dihasilkan untuk menetralisir ARD
mencetak sejumlah produk seperti batako, paving block, tidak mencukupi jumlahnya. Karena kebijakan Freeport dalam
penahan ombak, serta gorong-gorong. ambang batas kadar tembaga yang tinggi, PAP yang rendah
Selain limbah dalam bentuk sirsat atau 'tailing' ini, ada limbah dari periode ini mengandung tembaga sebanyak 450 kg/ton,
lain yaitu batuan penutup atau 'overburden' yang merupakan dan penelitian menunjukan sekitar 80% kandungan
bebatuan yang harus dipindahkan ke sisi untuk dapat tembaganya akan terurai dalam beberapa tahun. Batuan sisa
memperoleh akses pada bijih yang akan ditambang dan untuk tambang ini akan memproduksi ARD dalam waktu lebih dari
mengambil logam-logam berharga. Banyak logam terdapat satu decade dan akan terus berlanjut di masa depan sampai
bebas dialam dalam bentuk logam sulfide. Apabila bijih batas waktu yang tidak diketahui.
tambang dan batuan penutup yang mengandung sulfide
terpapar unsur-unsur tersebut, maka reaksi antara air, oksigen,
dan bakteri yang hadir secara alamiah berpotensi
menciptakan suasana air asam batuan. Air asam ini dapat
melarutkan logam-logam yang terkandung dalam batuan
penutup dan akan mengakibatkan dampak lingkungan yang
nyata pada system drainase air jika tidak dikelola dengan
semestinya. Atas wewenang rencana pengelolaan batuan
penutup yang disetujui pemerintah, Freeport Indonesia
menempatkan batuap penutup di daerah-daerah terkelola di
sekitar galian tambang terbuka Grasberg. Kemudian air asam
batuan dialirkan menuju ke lokasi pengolahan air asam di
MP74 untuk dinetralisasi dengan kapur. Sumber: Google,com
32 33
Cara yang paling efektif dan lebih mudah untuk mencegah Setelah melakukan joint venture dengan Rio Tinto PT FI
polusi tembaga dari batuan limbah di Freeport menurut diberikan izin untuk meningkatkan produksinya hingga
Enviromental Geochemistry International sebagai konsultan 300.000 ton per hari. Sejak tahun 1994 sebanyak 118.000 ton
pertambangan ini adalah dengan menghasilkan batuan perhari menjadi rata-rata terakhir 238.000 ton per hari. Tingkat
tambang yang lebih rendah. Ini bisa dilakukan dengan dua pembuangan limbah ini akan terus berlanjut hingga tahun
cara. Pertama, PT FI harus menghentikan pertambangan 2015 ketika penambangan menjadi hanya penambangan
terbuka, dan memindahkan batuan limbah ke lubang yang bawah tanah saja dan produksi tailing akan menurun menjadi
lebih lebar dan dalam. Pertambangan bawah tanah jelas sekitar 200.000 ton per hari hingga penambangan dihentikan
masuk akal, karenanya hal ini sudah dilakukan di beberapa pada tahun 2041.
tempat di Freeport (Big Gossan, kucing liar, DOZ, Grasberg
Block Cave) dan akan menjadi satu-satunya cara
pertambangan mulai tahun 2014-2041. Kedua, PT FI harus
memotong proses bijih mineral di tambang, artinya batuan
limbah tembaga akan diproses sebagai bijih besi, mengambil
tembaganya untuk dijual dan mengurangi limbah dan polusi
tembaga yang akan menjadi ARD (walaupun akan lebih
banyak menghasilkan tailing).
Kedua cara pengurangan ARD ini membutuhkan biaya yang
lebi tinggi dibandingkan cara yang dilakukan data ini dan
hampir tidak mungkin dilaksanakan tanpa paksaan dari pihak
luar seperti pemaksaan berdasarkan hukum lingkungan hidup
atau pengenaan pajak oleh pemerintah. Sangat disayangkan
PT FI lebih senang memilih cara pengurangan ARD dengan
menggunakan kapur sebagai penetralisir yang tersedia di
sekitar area petambangan.
Tingkat pembuangan tailing ini, yang hampir sama dengan
jumlah bijih logam yang terproses setiap harinya, relative
lebih rendah pada tambang Erstberg (1973-1991).

Sumber: PT Freeport Indonesia


34 35
Dampak Terhadap Lingkungan
Ekosistem
Kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan akibat
operasi pertambangan Freeport Indonesia di Papua dinilai
mencapai US$ 7,5 milyar, atau sekitar Rp 67,5 Triliun (kurs Rp
9.000 per US$). Kerugian itu hanya mencakup kerusakan
Sungai Ajkwa yang digunakan untuk membawa tailing
pertambangan ke daerah pengendapan ModADA. Menurut
keterangan Direktur Eksekutif Greeneconomics, Elfian Effendi
dalam Suara Pembaharuan selasa 9 Mei 2006 menyebutkan
bahwa pemulihan ekologi sungai harus dilakukan secara
bertahap untuk meminimalkan dampak yang akan terjadi.
Beliau juga mengatakan bahwa, dengan luas kerusakan yang
mencapai 43.451 Ha, diperkirakan pemulihannya menelan
biaya Rp 3,2 triliun per tahun. Pemulihan itu mencakup
pengaturan tata air, penyediaan air, pengendalian limbah, dan
sumber bahan makan. Selain itu menurut beliau biaya
restorasi yang harus dibayar PT FI adalah biaya rata-rata
berdasarkan standar internasional. Dan perkiraan biaya
restorasi tersebut adalah angka yang wajar, karena di Amerika
Serikat saja biaya rata-rata restorasi sungai mencapai US$ 8
milyar. Selain itu Analisis yang telah dilakukan
Greeneconomics menunjukan jika dilakukan penambahan
luas area tambang Freeport, maka potensi kerusakan sungai
akan lebih besar lagi karena saat ini kondisi sungai tersebut
sudah sangat perah, karena areal ekologi sungai yang akan
terganggu mencapai 663.225 Ha, yang mencakup wilayah
daerah aliran sungai di Minajerwi, Kamura, Otakawa Blumen,
di kawasan Taman Nasional Lorentz.

Sumber: PT Freeport Indonesia


36
Selain itu suku Kamoro yang merupakan salah satu suku yang
menetap di dataran rendah sejak dulu yang masyarakatnya
memiliki ketergantungan pada air sungai untuk
melangsungkan hidup mereka. Menurut antropologi UNCEN
dan ANU sebagian besar keluarga-keluarga suku Kamoro yang
menggunakan air sungai dalam kegiatan sehari-hari. Mulai
dari untuk mencuci dan sebagai sumber air minum utama. Di
samping itu, sungai Ajkwa yang bermuara di laut Arafuru juga
merupakan sumber air bagi makhluk hidup di Taman Nasional
Lorentz, yang letaknya berdampingan dengan kawasan
Kontrak Karya PT FI. Dari fakta tersebut tampak refleksi betapa
berharganya aliran sungai Ajkwa bagi kelangsungan hidup
manusia serta makhluk akuatik yang hidup di sungai mauoun
di laut Arafuru, sehingga penting sekali untuk menjaga
kualitas airnya.

Sumber: Goolge.com
37
Banyaknya persediaan logam yang terdapat di Grasberg lain yang menghabiskan biaya 50-60 sen.
memastikan bahwa umur tambang akan lama, sehingga akan Tindakan tersebut terjadi akibat penjagaan yang sangat lemah
lebih menguntungkan bagi Freeport untuk mempercepat terhadap lingkungan dan sumber daya alam dengan
memproses bijih logam dalam jumlah banyak setiap hari, membiarkan besarnya jumlah tembaga yang terbuang
biarpun logam yang dihasilkan tidak terlalu baik. Sekitar 14% mengingat pencemaran lingkungan dari tembaga yang luruh
kandungan tembaga dari bijih logam yang dihasilkan masuh dari batuan limbah dan tailing serta banyaknya bahan bakar
terdapat dalam tailing yang dibuang ke sungai. Disamping diesel yang digunakan (sekitar 360 juta liter per tahun) untuk
tembaga yang terbuang ke dalam tailing, banyak terdapat pembongkaran dan pengangkutan batu di Freeport. Selain
batuan yang mengandung tembaga yang telah ditambang tembaga terdapat juga kandungan emas didalam batuan
namun tidak diproses. Sebagian dari batuan yang ditambang limbah dan tailing yang mendorong masyarakat setempat
di Grasberg merupakan limbah batuan overburden, misalnya melakukan kegiatan tidak sehat dan membahayakan dengan
batu kapur, yang diangkat untuk melebarkan lubang galian memproses batuan limbah dan tailing ini untuk emperoleh
agar dapat melakukan penggalian lebih dalam dengan aman. kandungan emasnya. Ini juga telah memicu bentrokan antara
Sayangnya, sebagian batu tambang yang mengandung masyarakat dengan petugas keamanan tambang, dan
tembaga dengan kadar sedang terkadang dibuang sebagai menimbulkan masalah kesehatan dan keselamatan, belum
batuan limbah karena kapasitas pertambangan yang terbatas lagi resiko yang mungkin timbul di tempat pembuangan
lebih diutamakan untuk memproses hasil tambang yang batuan limbah setelah penutupan tambang nanti.
kadarnya lebih tinggi. Hal ini disebut keputusan ekonomis
yang disebut High Grading . Pada tahun 1996 dilaporkan Sumber: PT Freeport Indones
bahwa PT Freeport menetapkan ambang batas kadar bijih
logam untuk diproses sangat tinggi yaitu mencapai 0,85%
tembaga, yang dilaporkan sebagai nilai yang paling tinggi
diantara tambang tembaga di seluruh dunia. Ambang batas ini
menurun secara bertahap hingga mencapai rata-rata 0,45%
tembaga, tetapi angka ini masih terhitung tinggi dalam
standar industry, dan jauh lebih tinggi dibandingkan tambang
lain di sekitarnya seperti Ok Tedi yang memproses semua
kadar bijih logam hingga 0,2% tembaga. Dengan kata lain PT FI
hanya mengambil yang terbaik dari yang terbaik ,
meninggalan tembaga dalam jumlah yng cukup signifikan
dalam limbah batuan dan tailing. Dengan cara yang mereka
lakukan, Freeport dapat memaksimalkan keuntungannya dan
memproduksi tembaga hanya dengan biaya 10 sen setiap
pound-nya, dibandingkan dengan sebagian besar tambang -

38 39
Pembuangan tailing yang mengandung air asam batuan oleh Bukan hanya kehidupan didaratan, kehidupan dilaut juga
PT FI jelas telah memberikan dampak yang cukup serius bagi menjadi terganggu akibat adanya pembuangan limbah sisa
ekosistem sekitar, mulai dari perusakan habitat muara, operasional PT FI ini. Contohnya:
kontaminasi pada rantai makanan di muara khususnya bagi a. Larva Udang (Cardina sp)
spesies hewan dan tumbuhan yang berada sepanjang sungai
b. Udang Sungai Dewasa (Macrobarchium rosenbergii)
Ajkwa serta di Kawasan Taman Nasional Lorentz. Hal ini
c. Larva Ikan Minnow (Cyprinodont Variegatus dan
dikarenakan menurut WALHI tailing dari PT FI mengandung
tingkat racun logam yang tinggi seperti, Selenim (Se), Timbal Pimephales Promelas)
(Pb), Arsenik (As), Seng (Zn), Mangan (Mn), dan Tembaga (Cu). d. Ganggang Sungai (Chorella)
Konsentrat dari berbagai jenis logam tersebut ditemukan e. Embrio dan Larva Rainbow Fish (Metanoteania Spledida)
dalam tailing melampaui batas acuan US EPA dan Dan hewan tak bertulang belakang (Chammarus dan
pemerintahan Australia, Indonesia dan juga batas ilmiah Nassarius sp)
phytotoxicity.
Berdasarkan pada pengujian sampel di lapangan menunjukan
bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar tailing mengalami Informasi kualitas air tanah di area tambang dan batuan
penumpukan logam berat pada jaringan, dan hal ini yang limbah tidak diberikan oleh PT FI kepada pemerintah.
akhirnya menyebabkan bahaya bagi makhluk hidup di hutan Walaupun laporan tiga bulanan kepada pemerintah memang
yang memakannya. Beberapa jenis hewan (seperti burung memuat judul level air tanah dan kualitasnya namun
dan, mamalia) yang ditemukan telah terkontaminasi logam sayangnya data yang tercentum tidak menunjukan kadar
berat akibat dari tailing baik secara langsung maupun tidak keasaman dan kandungan logam di air tanah. Tulisan yang
langsung karena kandungannya melebihi ambang batas. tercantum tidak menyebutkan bahwa air dikumpulkan dari
Berikut ini adalah unggs atau burung yang didapati tempat yang menghasilkan air asam, misanya dekat NW
terkontaminasi logam berat: (www.walhi.or.id) Wanagon dan dites untuk menguji kadar tembaga, besi,
keasaman, dan daya konduksinya. Hasil tes tersebut tidak
a. Burung Raja Udang (king fisher)
disertakan di dalam laporan.
b. Burunga Maleo (brush turkey)
c. Burung Kipas (fantail)
d. Burung Kasuari
Sedangkan mamalia yang terancam bahaya logam berat dari
tailing adalah sebagai berikut:
a. Keluang pulau
b. Kelelawar
c. Kuskus Sumber: Google.com
d. Babi
40 41
Sumber: WALHI

Bimbunan batuan limbah tahun 2006 sudah lebih dari 1,5


milyar ton yang terdiri dari pecahan-pecahan batu dan akan
bertambah menjadi sekitar 3 milyar ton. Timbunan ini sangat
rawan terhadap erosi tanah dengan curah hujan sekitar 4.000-
5.000 mm yang turun setiap tahun di lokasi tambang. Erosi
terhadap timbunan limbah batuan ini memperparah muatan
tailing yang sudah bersedimen tinggi dan masuk ke dalam
aliran sungai. Dampak tambahan di sungai dataran tinggi ini
tidak didiskusikan atau dipedulikan dalam laporan tiga Sumber: Google.com
bulanan Freeport atau di dalam ERA, dan merupakan sebuah
Daerah berwarna merah muda diatas merupakan bagian dari
kelalaian yang sangat signifikan.
Taman Nasional Lorentz yang berada di Pulau Papua. di
sebelah barat taman nasional ini berbatasan langsung
dengan tambang Gresberg. sedangkan gambar peta di
sebelah kiri daerah berwarna merah muda adalah daerah
kontrak karya PT FI dan daerah berwarna krem adalah Taman
Nasional Lorentz, garis ungu menandakan batas taman
nasional yang lama, dan garis hijau menandakan batas taman
Sumber: Google.com nasional yang baru.

42 43
Telah terjadi beberapa kali longsor yang diakubatkan oleh Proses ekstraksi emas dan tembaga yang dilakukan Freeport
timbunan batuan limbah, termasuk di tempat pembuangan memakai bahan kimia berikut ini, yang dalam proporsi
batuan limbah di lembah Wanagon pada pukul 22.00 WIB, tertentu bisa terbuang ke lingkungan sekitar, bersamaan
tanggal 4 Mei 2000. Dalam kecelakaan ini, empat ratus ton dengan tailing dari lokasi pertambangan dan di pelabuhan
batuan limbah longsor dan masuk kedalam danau Wanagon Amampare selama proses peningkatan konsentrasi mineral:
yang menyebabkan gelimbang cukup besar menghantam · SIBX (Sodium Isobutil Xanthate)
danau. Gelombang setonggi 15 meter dan lumpur ARD · Oreprep OTX-140:
termasuk kandungan tembaga yang beracun secara tiba-tiba
Ø 70% C8-C10 Alcohol
meluncur menuju Sungai Wanagon, yang mengakibatkan
terbunuhnya empat orang di hilir sungai dan menyapu Ø 15% Polypropylene Glycol
sebagian hilir desa Banti. Investigasi yang dilakukan oleh Ø 12% C10-C16 Aldehydes/Ester
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) Ø 1-2% C5-C8 Alcohol
Indonesia bersama dengan Dirjen pertambangan sesudah · Hyperfloc A-237 (Anionic
musibah ini menemukan bahwa ketinggian dan kemiringan
Polyacrylamide)
gundukan batuan memang tidak mampu lagi menahan
bebannya jika hujan deras turun. · Cytec S-7249 (41% Sodium
Guyuran hujan deras pada berbagai celah diantara partikel Diisobutyl Dithiophosphate)
batuan limbah menyebabkan pemicu longsor awal. Factor lain · Isobutyl Alcohol Sumber: Google.com
yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang misalnya
gempa yang sering terjadi dan penurunan permukaan tanah Penduduk sekitar tepi sungai Amungme, desa Banti dan Waa
akibat metode block caving dalam pertambangan bawah mengeluh karena bau tidak sedap dari tailing melewati sungai
tanah. Tidak seperti cara yang umum dilakukan, dimana Aghawagon, yang diasumsikan berasal dari satu atau
terowongan digali dengan atap penahan, sedangkan block beberapa bahan kimia.setelah dilakukan penelitian terhadap
caving menggunakan material buangan untuk mengontrol air sungai di dekat desa Banti, beberapa dari bahan kimia yang
rubuhnya gua dan bijih logam dari atas. Jika banyak materi digunakan dalam proses produksi menerima screening
yang dipinndahm goncangan permukaan adalah hal yang quotients (SQs) yang tidak jauh dari 1, yang mengindikasikan
biasa terjadi. adanya bahaya dan harus diselidiki lebih lanjut, yakni:
· Sodium Diisobutyl Dithiophosphate SQ = 0,61
· Sodium Isobutil Xanthate SQ = 0,41
Walaupun kadar SQ paparan yang masih < 1, masih
dimungkinkan jika diperkirakan bahaya penuh itu diberikan
dalam bentuk informasi kepada penduduk yang suka mencari
Sumber: Google.com emas di Sungai Aghwagon.

44 45
Dampak Terhadap Lingkungan
Ekonomi
Secara umum operasionalisasi PT Freeport Indonesia di Timika
Papua telah menymbang banyak kerugian secara khusus dan
bagi Indonesia secara umum. Kerugian itu diantaranya:

1. PT FI telah melakukan penambangan emas tanpa izin


selama 30 tahun. Penambangan emas dilakukan pada
gunugn Erstberg selama 30 tahun tanpa izin
(berdasarkan kontrak karya I tidak ada kesepakatan
penambangan berupa emas, hanya tembaga, perak,
dan molybdenum)
2. PT FI hanya menambah pendapatan Pemerintah pusat
sebesar US$ 3,4 milyar (sampai dengan Desember 2013)
dan Pemerintah daerah sebesar US$ 7,7 milyar (dalam
bentuk infrasturktur). Pendapatan yang diperoleh
pemerintah terbilang tidak sebanding dengan
banyaknya sumber daya alam (berupa emas, perak, dan
tembaga) Indonesia yang dieksploitasi oleh PT FI dan
juga biaya kerusakan dan pencemaran lingkungan
yang harus ditanggung oleh pemerintah dikemudian
hari.
3. PT FI hanya menyumbang devisa yang sangat kecil bagi
negara. Jika dibandingkan dengan pendapatan
perusahaan selaku pengelola sumber daya alam dan
negara Indonesia. Karena pertama, selama masa
kontrak karya I sekitar 30 tahun terhitung dari tahun
1967-1991 perusahaan tidak membayar royalty -

46
sedikitpun kepada pemerintah Indonesia dan pada
kontrak karya II perusahaan baru membayar royalty,
royalty yang diberikan pun terbilang amat sangat
sedikit, yaitu sebanyak 1%-3,5% dari 100% untuk
tembaga dan 1% float fixed dari 100% untuk logam
mulia seperti emas dan perak. Royalty ini juga
bergantung pada harga konsentrat tembaga, serta
berat kotor produk. Yang kedua, untuk pajak (pajak
penghasilan juta dan lainnya) maupun deviden dan
retribusi terbilang sangat kecil (semuanya ini diklaim
perusahaan mencapai US$ 15,2 milyar sampai dengan
desember 2013)
4. PT FI belum mampu meningkatkan taraf kesejahteraan
masyarakat asli papua melalui penyerapan tenaga
kerjanya, menurut data Freeport, perusahaan mampu
menyediakan lapangan kerja dan mampu menyerap
tenaga kerja dengan mempekerjakan 12.000 kayawan
langsung dan 19.000 kontraktor. Namun jika dilihat
berdasarkan presentasenya hanya beberapa persen
saja masyarakat papua asli yang terkena dampak
langsung dari operasional (suku Kamoro) yang dapat
bekerja di perusahaan tersebut. Hal ini menjadikan
demonstrasi atau protes sering kali disekitar
perusahaan.
Keberadaan PT Freeport Indonesia tidak terlepas dari politik
akomondatif negara terhadap rezim tambang multinasional.
Paradigma pembangunan yang ingin dikejar oleh pemerintah,
menjadikan pemerintah gelap mata dan memasrahkan
sumber daya alam yang dimiliki negara kepada pihak asing.
Rezim telah lupa pada UUD 1945 yang mengamanahkan
bahwa cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara
(pasal 33 ayat 2). Rezim acuh tak acuh makna konstitusi yang
secara tegas menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan yang
47
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk
kemakmuran rakyat (pasal 33 ayat 3).
Sumber: Google.com

Rezim tidak mau memikirkan dampak langsung dan tidak


langsung dari konsesi pertambangan yang akan diberikan
kepada pihak asing. Dan hal itu harus dibayar mahal dari sisi
ekonomi dan non-ekonomi. Alangkah baiknya sector
pertambangan memberikan sumbangan yang signifikan
terhadap penerimaan pemerintah dalam Anggaran dan
Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal ini karena ekspor dan
harga komoditi tambang mahal. Sayangnya, dari sisi ekonomi
keuangan negara, sulit mengatakan kalau pertambangan
memberikan sumbangan yang signifikan dalam penerimaan
negara. Karena fakta mengatakan bahwa sector migas lebih
mendominasi. Kesalahan ini terjadi karena system royalty
yang ditandatangani bersama antara pemerintah dan PT
Freeport Indonesia dalam kontrak karya, sangat tidak
menguntungkan Indonesia, sehingga keuntungan yang
masuk ke kas negara sangat minim. Kondisi ini sangat jauh
berbeda dengan apa yang diterima PT FI, yang mendapatkan
bagi hasil yang jauh lebih besar. Dari system non-ekonomi,
harga diri dan kehormatan kita sebagai bangsa yang
bermartabat jelas telah tercabik-cabik kerena akses negated
dari eksploitasi yang dilakukan PT FI di belahan timur tanah air
kita.

48
Berikut ini perbandingan penerimaan negara dari sector migas
dan pertambangan (dalam triliun rupiah)
R_f s l Migas Pertambangan
2004 108,2 9,0
2005 137,7 17,7
2006 191,7 29,8
2007 186,6 37,3
2008 304,4 42,7

Sejak tahun 1998-2002 terlihat bahwa jumlah bahan tambang


yang dieksploitasi fluktuatif. Fluktuasi yang sangat tajam
terjadi pada eksploitasi emas. Pada tahun 1998, emas yang
diambil 91.045 kg dan tahun 1999 naik menjadi 92.235 kg.
namun, tahun 2000 mengalami penurunan sehingga menjadi
77.121 kg, kemudian naik drastic di tahun 2002. Situasi ini
dapat dimengerti karena harga emas di pasar internasional
tidak selalu stabil, sehingga perusahaan harus jeli
mempertimbangkan factor biaya produksi.

I mk mbgrg 1998 1999 2000 2001 2002 jumlah


(unit)
Konsentrat 2.640.040 2.605.180 2.522.670 2.209.640 2.283.220 12.260.750
(Dmt)
Tembaga 809.077 766.027 776.048 690.347 694.098 3.735.597
(Ton)
Emas (Kg) 91.045 92.235 77.121 103.308 77.821 441.530
Perak (Kg) 163.324 141.744 136.931 150.161 141.566 733.726

Produksi mineral dan logam dasar PT Freeport Indoesia

49
Dari hasil penjualan komoditasnya. PT Freeport Indonesia Dari tahun ke tahun Freeport terus mengeruk keuntungan dari
mendapatkan keuntungan yang sangat besar karena barang- tambang emas, perak, dan tembaga terbesar didunia.
barang tersebut termasuk barang mewah (lux), Terutama Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya
emas. Dari keuntungan yang diperolehnya, menurut PT FI, di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 agustus 2009).
mereka memberikan efek berantai (trickle down effects) Setiap harinya hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk
kepada pemerintah Indonesia, berupa manfaat ekonomi. PT menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa
Freeport Indonesia memberikan manfaat ekonomi, baik disamakan dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton
langsung maupun tidak langsung kepada pemerintah pusat, berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya (sepanjang 700
Provinsi papua dan Kabupaten Timika. Manfaat ekonomi km). keberadaan PT Freeport juga tidak banyak berkontribusi
tersebut diberikan dalam bentuk royalty, pajak, dividen, bagi masyarakat di Papua, dapat dilihat dari buruknya angka
retribusi, dan dukungan lainnya. PT FI mencatat bahwa selama kesejahteraan manusia di kabupaten Timika.
tahun 2008, mereka memberikan manfaat langsung mencapai Sumber: Google.com
US$ 1,2 milyar dan memberikan manfaat berupa
pembangunan infrastruktur penunjang di Timika, seperti
pembangkit listrik, pelabuhan, jalan, bandara, jembatan, dan
lain-lain.
Argumentasi tersebut hanya menjustifikasi untuk membuat
kita yakni bahwa mereka banyak berkontribusi untuk republic
ini. Namun, perlu dicatat bahwa sebuah badan usaha yang
melakukan aktifitas eksploitasi pertambangan di suatu
negara, akan sudah sepantasnya PT FI membayar royalty,
pajak, dividen, dan retribusi. Namun sayangnya, royalty yang
diterima oleh pemerintah Indonesia sangat timpang dengan
penghasilan yang dinikmati oleh PT FI. Berdasarkan kontrak
karya I yang ditandatangani pada tahun 1967 dan 1991,
pemerintah Indonesia hanya mendapatkan royalty sebesar
satu persen (1%).

Sumber: Google.com
50 51
Penduduk kabupaten Timika yang berlokasi di mana Freeport
berada, terdiri dari 35% penduduk asli dan 65% pendatang.
Pada tahun 2002, BPS mencatat sekitar 41% penduduk papua
dalam kondisi miskin, dengan komposisi 60% penduduk asli
dan sisanya pendatang. Pada tahun 2005, kemiskinan rakyat
papua mencapai 80,07% atau setara dengan 1,5 juta
penduduk. Hampir seluruh penduduk miskin Papua adalah
warga asli Papua. Jadi penduduk asli papua yang miskin
adalah lebih dari 66% dan umumnya tinggal di pegunungan
tengah, wilayah kontrak karya Freeport. Kepala biro Pusat
statistika provinsi papua J A Djarot Doentaso, menyatakan
data kemiskinan tahun 2006, bahwa setengah penduduk
Papua miskin (47,99%). Disamping itu, pendapatan
pemerintah daerah Papua demikian bergantung pada sector
pertambangan. Sejak tahun 1975-2002 sebanyak 50% lebih
dari PDRB Papua berasal dari pembayaran pajak, royalty, dan
bagi hasil sumberdaya alam tidak terbarukan, permasuk
perusahaan migas. Artinya ketergantungan pendapatan
daerah dari sector ekstraktif akan menciptakan
ketergantungan dan kerapuhan yang kronik bagi wilayah
Papua.

Sumber: Google.com
52
Dampak Terhadap Lingkungan
Sosial
Wilayah dataran tinggi sangat penting artinya bagi pemilik
tanah tradisional Amungme, baik secara praktis maupun
spiritual. Pemetaan yang dilakukan dengan berjalan kaki oleh
Universitas Cendrawasih di Papua dan Universitas Nasional
Australia, ditemani oleh pemilik tanah setempat
mengidentifikasi habitat dan nama Amungme untuk
penandaan local seperti puncak gunung, perbukitan, sungai,
dataran tinggi terbuka, dan lereng.
Sebagian besar daerah tersebut sekarang telah dihancurkan
atau benar-benar tidak boleh digunakan oleh suku-suku
tradisional. Total wilayah dataran tinggi yang ter,asuk daerah
pertambangan Grasberg dan wilayah pembuangan batuan
limbah adalah 12 Km2 pada Juni 2005 (PT FI 2005b). Selain area
yang secara langsung digunakan untuk penambangan,
banyak situs keramat dan tempat yang menghasilkan sudah
diubah menjadi lokasi bagi fungsi penunjang proses
pertambangan, seperti tempat pemrosesan tambang, lokasi
kerjam dan akomondasi pekerja.
Situs suci yang penting bagi suku Amungme telah
dihancurkan, seperti Danau Wanagon yang sekarang benar-
benar hilang dibawah timbunan batuan limbah Lembah
Wanagon.

Sumber: Google.com
53
Selain itu suku lain seperti suku Kamoro yang sebagian besar Setelah komnas HAM melakukan investigasi pelanggaran
bermata pencarian sebagai nelayan. Dikarenakan lingkungan HAM di daerah Timika dan sekitarnya, mereka
dataran rendah yang menjadi tempat masyarakat suku mengungkapkan bahwa selama 1993-1995 telah terjadi 6
kamoro mencari ikan, molusca, dan tambelo telah tercemar, jenis pelanggaran HAM, yang mengakibatkan 16 penduduk
maka masyarakat beralih mata pencaharian dengan berusaha terbunuh dan empat orang masih dunyatakan hilang.
untuk mencari sumber pendapatan lain. Dengan mencari Pelanggaran ini dilakukan baik oleh aparat keamanan PT FI
tempat lain yang letaknya lebih tinggi untuk bertani dan maupun pihak tentara Indonesia. Hampir seluruh kasus
beralih cara bercocok tanam. Disamping itu, mereka juga pelanggaran HAM terkait tambang Freeport tidak jelas
beralih mata pencaharian dengan menjadi peternak agar penyelesaiannya. Para pelaku kejahatan HAM ini umumnya
mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya untuk tidak ditemukan atau mendapat perlindungan sehingga lolos
makan dan memperolah penghasilan. dari jerat hukum. Keadilan bagi korban pelanggaran HAM
Kesenjangan social kerap terjadi, bahkan Pelanggaran Hak kasus-kasus Freeport tampaknya memang suatu hal yang
Asasi Manusia. Dari semua itu masyarakat memprotes atau aneh. Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan
melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk ketidak puasan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, namun
akan keberadaan PT FI di Papua. Protes ini diaplikasikan semakin banyak penduduk Papua yang menghubungkaan
masyarakat suku asli Papua dalam bentuk pemasangan patok- Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI,
patok silang pada lokasi operasional perusahaan, perusakan dan dalam sejumlah kasus kekerasan ini dengan
fasilitas dan penyanderaan mobil milik perusahaan. menggunakan fasilitas Freeport.
Dalam laporan keberlanjutan PT FI tahun 2012 mereka
menyatakan berkomitmen untuk mematuhi deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia, prinsip-prinsip UN Global
Compact, dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM serta
perundang-undangan lainnya yang berlaku. PTFI juga
mengklaim kasus-kasus yang sudah kami selesaikan sejak
2010 sampai 2012 adalah seperti terlihat dalam tabel berikut.
Kasus 2010 2011 2012 Total
Industrial 1 3 6 10
Kriminal 5 4 2 11
Diskriminasi 0 0 0 0
Intimidasi 0 0 0 0
Pelecehan seksual 1 1 2 4
Pelecehan Intelektual 1 2 0 3
Pencemaran Nama Baik 1 0 0 1 Sumber: Google.com
KDRT 0 2 9 11
54 55
Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah
bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis
HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160
orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975 1997 di
daerah tambang dan sekitarnya. Kasus pelanggaran HAM ini
tidak sesuai dengan sila kedua pancasila yang berbunyi
kemanusiaan yang adil dan beradab, karena seharusnya
mereka menghormati hak warga yang berada di sekitar
wilayah pertambangan Freeport bukan malah sebaliknya.
Pihak Freeport terkesan mengabaikan hak warga yang berada
disana, yang berakibat pada perlawanan warga terhadap
freeport..
Timika menjadi salahsatu tempat berkembangnya penyakit
mematikan, seperti HIV/AIDS. Telah terdata, Papua menjadi
lokasi dengan jumlah tertinggi penderita HIV/AIDS di
Indonesia. Di sisi lain, pendapatan pemerintah papua
demikian bergantung pada sector pertambangan. Sejak tahun
1975-2002 sebanyak 50 persen lebih PDRB papua berasal dari
pembayaran pajak, royalty dan bagi hasil sumber daya alam
tidak terbarukan, termasuk perusahaan migas. Artinya
ketergantungan pendapatan daerah dari sector ekstraktif
akan menciptakan ketergantungan dan kerapuhan yang
kronik bagi wilayah papua ke depannya.

Sumber: Google.com
56
Nasionalisasi PT. Freeport Indonesia
Sebagai sasaran target nasionalisasi PT Freeport Indonesia,
argumentasi yang menguatkan wacana ini pertama, emas dan
tembaga yang dieksploitasi oleh PT Freeport Indonesia adalah
komodias strategis (strategic commodities) dan memiliki nilai
jual yang tinggi di pasar internasional. Kedua, secara
matematika-ekonomi, royalty yang diterima oleh pemerintah
aras eksploitasi emas dan tembaga yang dilakukan oleh PT
Freeport Indonesia sangat tidak logis, karena selama ini
pemerintah hanya mendapatkan keuntungan satu persen dari
total laba bersih yang diterima oleh PT Freeport Indonesia.
Ketiga, berbagai persoalan lingkungan, pelanggaran hukum
dan HAM, serta konflik social yang membelit PT Freeport
Indonesia di Timika Papua.

Pada awalnya Bung Karno sangat anti asing untuk menjarah


sumber daya alam Indonesia. Namun sangat disayangkan,
penguasa selanjutnya sangat bertolak-belakang dengan Bung
Karno.

Sumber: Google.com

57
Sumber: Google.com
Setelah kekuasaan berpindah tangan, Soeharto segera
mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya di
Indonesia, termasuk sector pertambangan. Pemerintahan
Orde Baru mengeluarkan UU No. 1 Tahun 1967 tentang
penanaman modal asing sebagai pintu masuk bagi
perusahaan asing. Selanjutnya, di bidang pertambangan,
untuk memberi jaminan bagi bekerjanya midal asing, rezim
orde baru mengeluarkan UU No. 11 Tahun 1967. Atas dasar UU
inilah, pemerintahan kemudian menandatangani kontrak
karya dengan PT Freeport Indonesia pada tahun 1967 dan
1991. UU No. 11 Tahun 1967 ini adalah UU pertambangan yang
sangat liberal dan akomondatif terhadap kepentingan
kapitalis asing, karena UU ini memberikan kekuasaan yang
sangat besar kepada pemerintah untuk mengambil tanah
rakyat atas nama konsesi pertambangan. Di samping itu,
pemerintah juga dapat menggusur pertambangan rakyat
yang telah ada sebelumnya, atas nama kepentingan negara.
Sayangnya UU ini tidak mengatur reklamasi wilayah bekas
tambang, sehingga perusahaan tidak merasa
bertanggungjawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan
reklamasi.
Selang 42 tahun setelah UU itu dikeluarkan, UU No. 11 Tahun
1967 direvisi menjadi UU No. 4 Tahun 2009. UU pengganti ini
hadir dengan wajah baru, yaitu menggunakan rezim -

58
rezim perizinan, bukan rezim kontrak karya sebagaimana yang
digunakan dalam UU sebelumnya. Inilah yang menjadi jiwa
dalam UU ini sehingga tidak ada lagi kontrak karya, tetapi
diganti dengan izin usaha pertambangan (IUP). Tetapi, UU ini
terlalu pragmatis karena tidak menjelaskan status kontrak
karya yang sudah ditandatangani sebelum UU baru ini
diberlakukan. Oleh sebab ini, PP No. 24 Tahun 2012, sebagai
derivasi dari UU No. 4 Tahun 2009 tidak bisa mengikat
perusahaan tambang multinasional yang telah menekan
kontrak, tarmasuk PT Freeport Indonesia.
Singkat kata Pemerintah harus bertindak tegas
Menasionalisasi PT Freeport Indonesia. Mengikuti jejak
Soekarno yang pernah menasionalisasi perusahaan-
perusahaan Belanda yang ada di Indonesia, melalui peraturan
pemerintah pengganti undang-undang tentang nasionalisasi
perusahaan milik belanda yang ada di Indonesia, pemerintah
orde lama melakukan nasionalisasi terhadap 38 perusahaan
tembakau di wilayah Jawa dan Sumatera, 205 aneka
perusahaan perkebunan dan industry, 22 aneka perusahaan
dan perkebunan di Sumatera dan Jawa, dan 12 aneka
perusahaan dan cabang perusahaan di Bandung.
Nasionalisasi PT Freeport Indonesia adalah salah satu usaha
untuk mengembalikan kedaulatan Indonesia atas bumi, air
dan seisinya. Kontrak karya bukanlah alasan untuk enggan
menasionalisasi PT Freeport Indonesia karena kedudukan
Kontraak karya tidak lebih tinggi dari Konstitusi. Banyak isu
yang dapat bangsa ini gunakan untuk mendesak PT Freeport
McMoran menjual saham PT Freeport Indonesia secara
keseluruhan kepada pemerintah Indonesia. Isu-isu tersebut
diantaranya:
·Isu Lingkungan
PT Freeport Indonesia melakukan penambangan dengan
dua system, yaitu penambangan terbuka (open-pit)

59
dengan menggunakan truk pengangkut dan sekop
listrik besar dan system tambang tertutup (block-
caving) pada tambang bawah tanah. Selama ini
kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh PT
Freeport Indonesia tentu tidak bisa dibenarkan secara
hukum. Terkai dengan masalah kerusakan lingkungan
ini, setidaknya terdapat beberapa aturan yang
dilanggar oleh PT Freeport Indonesia, yaitu UU No.14
Tahun 1999 tantang kehutannan, UU No. 23 Tahun 1997
tentang lingkungan Hidup, dan UU No. 2006 Tahun 2007
tentang penataan Ruang.

·Isu Pelanggaran HAM


Isu ini pertama kali dipicu sejak pertama kali PT Freeport
membuka petambangan Ertsberg pada tahun 1971 di
tanah Papua. PT Freeport Indonesia memindahan suku
Amungme dari wilayah mereka, ke kaki pegunungan
untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi tambang.
Semenjak ditandatanganinya Kontrak Karya I,
kehidupan suku Amungme, Kamoro, Damal, Dani, Mee,
dan Moni sangat terganggu. Karena bagi suku-suku
tersebut tanah Papua tidak hanya sekedar tempat
tinggal semata. Sayangnya sangat sedikit sumber yang
dapat memberikan informasi, apakah mereka
dipindahkan secara manusiawi, apakah tanah adat
mereka diganti secara adil dan beradab.
Disamping itu, PR FI menyewa TNI dan Polri untuk
mendukung pengamanan yang dilakukan oleh
pengaman swakarsa selama 2005. Hal ini tidak dapat
dijadikan pembenaran karena jelas bertentangan
dengan fungsi dan tugas aparat negara sebagaimana
diatur dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI dan UU
No. 2 Tahun 2002 tentang Polri.

60
· Isu Konflik Sosial.
Akibat kerakusan PT Freeport Indonesia yang setiap hari harus
mengeruk kekayaan tambang di Papua, tanpa memberikan
dampak yang berarti bagi masyarakat setepat, menyebabkan
munculnya gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang
pada awalnya hanya menuntut keadilan kepada pemerintah
pusat agar pembangunan dilakukan secara merata dan adil di
tanah Papua. Masyarakat Papua memiliki sumber daya alam
yang melimpah, amun mereka tidak dapat menikmatinya.
Setelah berkembang organisasi ini menuntut untuk merdeka
atau lepas dari Indonesia. Lebih dari itu sudah banyak
literature yang mengungkapkan bahwa kehadiran PT Freeport
Indonesia di Papua menghadirkan konflik social ditengah-
tengah masyarakat Papua. Maka dari itu, bangsa ini harus
mengambil langkah strategis dengan menasionalisasikan PT
Freeport Indonesia dan mengelolanya untuk kemakmuran
masyarakat Papua dan seluruh rakyat Indonesia.

61
Daftar Pustaka
Ahmad Daelami, Berkah dan Musibah yang Diciptakan PT.
Freeport Indonesia, (Yogyakarta: STIMIK AMIKOM
Yogyakarta, 2012)
Berita Kita media komunikasi komunitas Freeport Indonesia,
No 242-Juli (Timika: Corporate Communication
Departement PT Freeport Indonesia, 2014)
Dewi Aryani. Dr. M.Si, Kasus PT. Freeport Indonesia, Hilangnya
nurani pemerintah, diakses dari:
http://home.netvigator.com/~sadar/news/KasusPT.Free
portIndonesiaHilangnyaNuraniPemerintah.pdf
PT FI, Menghubungkan Dunia Laporan Berkarya Menuju
Pembangunan Berkelanjutan 2011, (Timika: PT FI, 2011)
PT Freeport Indonesia, Mengembangkan sumberdaya secara
berkelanjutan laporan keberlanjutan PT Freeport
Indonesia Tahun 2012, (Papua: PT FI, 2012)
Ratih Hamsky, Dampak operasional PT. Freeport pada
kehidupan suku Kamoro, (N.A:Universitas Mulawarman,
2014)
Ukar W. Soelistijo, Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan
PKM: Sains, Teknologi, dan Kesehatan, (Bandung:
Universitas Islam Bandung, 2012)
Wahyu Eko Yudiatmaja, Nasionalisasi PT. Freeport Indonesia,
diakses dari: http://wayuguci.com/wp-
content/uploads/2013/06/Nasionalisasi-PT-Freeport-
Indonesia.pdf
WALHI, Dampak Lingkungan Hidup Operasi Pertambangan
Tembaga dan Emas Freeport-Rio Tinto di Papua, (Jakarta:
WALHI, 2006)
W w w . w a y u g u c i . c o m / w p -
content/uploads/2013/06/Nasionalisasi-PT-Freeport-
Indonesia.pdf
www.PTFI.co.id/id/media/facts-about-freeport-indonesia
Tentang Penulis
Penulis lahir di tangerang 14 April 1993,
beliau tinggal bersama kedua orang tuanya
dan mempunyai seorang adik perempuan.
Pendidikan formal terakhir yang di terima
beliau sampai saat ini adalah SMA di SMA
Negeri 11 Tangerang.
Sekarang penulis sedang melanjutkan studinya di Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun 2011.
Selama masa studinya beliau mengikuti beberapa organisasi
yang ada di kampus diantaranya Unit Kegiatan Mahasiswa
Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah (UKM LDK
Syahid) dan ACE (Association of Chemistry Education) yang
merupakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kimia di
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sampai saat ini.
Karya tulis lain yang pernah ditulis beliau diantaranya Artikel
resensi dari jurnal penelitian internasional dalam bidang
kesehatan yang berjudul Hepatocellular Carcinoma Radiation
erapy: Review of Evidence and Future Opportunities (2013)
,Makalah Kimia Lingkungan: Pencemaran Disekitar Kita
(2013), Makalah Kimia Pangan: Lemak Trans (2013), Serta
Proyek Kimia Industri Biogas dari Eeceng Gondok sebagai
tim Produksi biogas. buku Jamu Cekok dari dulu hingga kini,
mengulas senyawa-senyawa kimia Jamu Cekok untuk
memenuhi tugas perkuliahannya.

View publication stats